Friday, May 1, 2026
More
    Home Blog Page 122

    JPIC: Organisasi Peduli Semesta

    Hari ini telah resmi dipilihnya Kepengurusan Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) Kalimantan Barat. Ketua: Pastor Pionius Hendi, OFMCap Wakil: Bruder Gerardus, MTB Sekretaris: Suster Priska, SFC Bendahara: Suster Loysa, SFD Humas: Suster Zenobia, SMFA Liturgi: Suster Anna, KFS Media: Sdr. Samuel, OFS

    MajalahDUTA.COm, Pontianak- Pada sore yang cerah pada Selasa 6 september 2022, bertempat di Biara Susteran Kongregasi Fransiskanes Sambas (KFS), jalan Pancasila Pontianak, telah disepakati terbentuknya badan pengurus Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) Fransiskan-Fransiskanes Kalimantan Barat.

    Sebuah organisasi dibawah naungan Gereja yang bergerak dibidang lingkungan hidup dan isu sosial.

    Baca juga: Persaudaraan Kontradus OFS Pontianak: Fransiskan Ada Jalan Hidup

    Rapat kecil yang dipimpin oleh Bruder Gerardus, MTB itu mendapuk Pastor Pionius Hendi, OFM. Cap sebagai ketua. Nantinya organisasi JPIC untuk wilayah Kalimantan Barat ini berfokus pada isu pengelolaan sampah yang berpotensi merusak lingkungan hidup.

    Adapun susunan kepengurusan Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) Fransiskan-Fransiskanes Kalimantan Barat adalah sebagai berikut:

    Pastor Pionius Hendi, OFM. Cap (ketua); Bruder Gerardus, MTB (Wakil Ketua); Suster Priska, SFIC (Sekretaris); Suster Maria Loysa Saragih, SFD (Bendahara).

    Baca juga: Museum Kapusin, Pusaka Dayak & Tionghua di Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang

    Serta, anggota bidang Humas dipercayakan kepada suster dari kongregasi SMFA, Liturgi dipercayakan kepada suster dari kongregasi KFS dan bidang Multimedia dipercayakan kepada Saudara Samuel, OFS.

    Kepengurusan yang beru terbentuk ini mengemban tugas untuk penyelenggaraan temu aktivis JPIC seluruh Indonesia yang akan diselenggarakan di Kota Pontianak pada bulan Agustus 2023.

    Pastor Pio mengatakan bahwa akan berkoordinasi dengan Bapa Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus dan Pemerintah Daerah terkait agenda yang akan dilaksanakan. Kiranya Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) Fransiskan-Fransiskanes Kalimantan Barat membawa angin segar bagi pelestarian alam ciptaan.

    Tentang Teks Amos 5:4-6 dan Penafsiran Teks

    Tentang Teks Amos 5:4-6 dan Penafsiran Teks

    MajalahDUTA.Com, BKSN, (Series II & III)– Teks Amos 5:4-6 (4) Sebab beginilah firman TUHAN kepada kaum Israel: “Carilah Aku, maka kamu akan hidup! (5) Janganlah kamu mencari Betel, janganlah pergi ke Gilgal dan janganlah menyeberang ke Bersyeba, sebab Gilgal pasti masuk ke dalam pembuangan dan Betel akan lenyap.” (6) Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup, supaya jangan Ia memasuki keturunan Yusuf bagaikan api, yang memakannya habis dengan tidak ada yang memadamkan bagi Betel.

    Penafsiran Teks

    Konteks Am. 5:4-6 merupakan salah satu bagian dari rangkaian yang panjang Am. 5:1-17 yang berisikan kumpulan seruan kepada orang Israel agar bertobat. Seruan ini dimulai dengan undangan awal pada ay. 1-2 yang menubuatkan tentang hal buruk yang akan menimpa Israel jika mereka tidak bertobat.

    Secara bertahap, Tuhan meminta mereka untuk meninggalkan berhala dan mencari Dia (ay. 4-6), melakukan keadilan (ay. 7-13), mencari yang baik dan membenci yang jahat (ay. 15-16), sebelum tibanya hari Tuhan (ay. 16-17).

    Baca juga: Allah Sumber Harapan untuk Menangkis Mentalitas Keagamaan Palsu

    Karena itu, Am. 5:4-6 merupakan ajakan untuk meninggalkan segala yang lain untuk hanya mencari Tuhan sebagai satusatunya harapan dan pegangan hidup orang Israel.

    Perikop ini tersusun dengan baik. Pada ay. 4 dan 6 disebutkan ungkapan “carilah Tuhan, maka kamu akan hidup”.

    Kedua ayat ini membungkus ay. 5 yang berkonsentrasi pada larangan untuk mencari tempattempat yang mengalihkan perhatian orang Israel dari pertemuan sejati dengan Tuhan. Ketiga tempat itu, yakni Betel, Gilgal, dan Bersyeba, memang dikenal sebagai tempat-tempat untuk mempersembahkan kurban.

    Baca juga: Mendalami Teks dari Nabi Amos dan Nabi Hosea

    Betel yang berarti “rumah Allah” merupakan sebuah tempat kudus yang sudah lama dikenal sejak Yakub (Kej. 28:10-22; 31:13; 35:7). Sebelum adanya kenisah di Yerusalem, Betel menjadi tempat di mana orang mempersembahkan kurban. Samuel sendiri mengunjungi tempat ini setiap tahun (1Sam. 7:16; 10:3).

    Ketika kerajaan Israel terpecah menjadi dua, Betel menjadi tempat kebaktian bagi masyarakat di kerajaan bagian utara. Sayangnya, di tempat kudus ini didirikan patung anak lembu emas (1Raj. 12:28-30). Itulah sebabnya para nabi memberikan kritik bahwa di sana berlangsung praktik penyembahan berhala (Hos. 10:5; Yer. 48:13).

    Salah satu larangan untuk pergi ke Betel terungkap di Am. 5:5 ini. Gilgal merupakan tempat berkumpulnya orang Israel ketika mereka menyeberangi Sungai Yordan untuk merebut tanah Kanaan (Yos. 4:19).

    Di tempat ini pula mereka menyunat orang-orang Israel yang belum disunat agar mereka dikuduskan (Yos. 5:9). Untuk mengenang penyeberangan Sungai Yordan, mereka lalu mendirikan dua belas batu peringatan di tempat ini (Yos. 4:20).

    Jadi, Gilgal mengingatkan orang Israel akan peralihan dari Mesir memasuki Tanah Perjanjian. Sementara itu, Bersyeba merupakan nama tempat di bagian paling selatan, yang biasanya bersamaan dengan Dan di utara dipakai sebagai penanda wilayah Israel dalam ungkapan “dari Dan sampai Bersyeba” (Hak. 20:1). Abraham pernah tinggal di sini (Kej. 22:19), demikian juga Ishak (Kej. 28:10), sedangkan Yakub berhenti di sini untuk mempersembahkan kurban (Kej. 46:1).

    Penyebutan nama tempat-tempat itu bermaksud mengingatkan orang Israel bahwa Tuhan tidak dapat dicari di tempat-tempat tertentu dengan harapan kosong.

    Baca juga: Allah sebagai Harapan Hidup Baru

    Yang paling penting adalah keterbukaan hati dalam mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Itulah sebabnya ungkapan “carilah Tuhan” disebutkan dalam perikop ini dua kali.

    Dengan menyatakan ungkapan “carilah Tuhan, maka kamu akan hidup” sampai dua kali, perikop ini sebenarnya mau menegaskan bahwa hanya Tuhanlah yang menjamin kehidupan. Iman yang sejati terletak dalam pencarian akan Tuhan dan semangat untuk meninggalkan berhala-berhala yang menjadi kesenangan diri sendiri.

    Allah Sumber Harapan untuk Menangkis Mentalitas Keagamaan Palsu

    “Carilah Aku, maka kamu akan hidup!” (Am. 5:4).

    MajalahDUTA.Com, BKSN- (Series I Pendahuluan) – “Carilah Aku, maka kamu akan hidup!” (Am. 5:4). Tidak pernah dibayangkan sebelumnya bahwa kemunculan wabah Covid-19 akan amat memengaruhi kehidupan dan kegiatan keagamaan.

    Gereja sendiri mengalami hal yang sama. Di masa-masa sulit tersebut, terutama di tahun 2020, perayaan-perayaan sakramen dan sakramental tidak dapat dilaksanakan dengan baik.

    Pelayanan sakramen bahkan ditangguhkan demi menghindarkan terjadinya kerumunan yang dapat berakibat pada penyebaran yang lebih masif dari wabah tersebut.

    Perayaan besar seperti Paskah dan Natal di tahun tersebut dilakukan dengan protokol yang amat ketat, sehingga hanya beberapa orang saja yang bisa mengikutinya secara langsung.

    Dalam situasi seperti itu, Gereja memperkenankan umat untuk mengikuti perayaan Ekaristi dan perayaan lainnya melalui tayangan televisi maupun media daring.

    Baca juga: Mendalami Teks dari Nabi Amos dan Nabi Hosea

    Kebijakan ini mungkin bukan yang terbaik, tetapi perlu sebagai upaya tanggap darurat di samping upaya lain seperti penyebaran teks-teks ibadat agar keluarga-keluarga dapat berdoa atau beribadat di rumah masing-masing.

    Lambat laun, orang mulai terbiasa mengikuti kegiatan ibadat atau perayaan Ekaristi melalui fasilitas streaming dari internet. Ada aspek positif yang bisa muncul dari hal ini, namun praktik demikian bisa memunculkan pemahaman yang salah akan perayaan bersama dari komunitas gerejawi.

    Orang bisa-bisa menjadi mapan dengan pola seperti itu dan menjadi enggan untuk mengikuti perayaan Ekaristi secara langsung, padahal persatuan yang intim dengan Tuhan dalam komuni pada perayaan Ekaristi tidak dapat tergantikan oleh perayaan secara daring atau melalui fasilitas streaming.

    Hal lain yang bisa jadi muncul adalah tidak lagi merasa terikat pada persekutuan iman dengan sesama anggota jemaat. Orang bisa jadi lebih memilih (dan bisa juga membentuk) komunitas-komunitas sendiri yang menjauhkan mereka dari persatuan dengan jemaat parokinya.

    Persatuan dengan jemaat merupakan perwujudan dari persekutuan di dalam Tuhan, yang merangkum semua orang dari segala lapisan dan golongan, termasuk dengan mereka yang mungkin tidak kita inginkan. Persekutuan iman meminta kehadiran dan kebersamaan setiap anggota jemaat.

    Yesus Kristus sendiri hadir dalam kebersamaan dengan keluarga Nazaret. Injil Lukas menulis, “Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka” (Luk. 2:51).

    Ini berarti Yesus juga tinggal bersama semua orang sekampung-Nya dan berjuang bersama dengan mereka. Jemaat perdana juga saling meneguhkan satu sama lain dengan berkumpul dan berdoa bersama (Kis. 2:41-47). Kebersamaan tersebut menjadikan mereka kuat dalam iman kepada Tuhan.

    Baca juga: Allah sebagai Harapan Hidup Baru

    Hal yang sama telah dibuat Maria bersama para rasul. Setelah Yesus naik ke surga, mereka pun berkumpul bersama dan berdoa (Kis. 1:12-14). Di tengah situasi pandemi, kekuatan iman kita dan persatuan kita dengan Gereja diharapkan tetap kokoh.

    Ketika menghadapi tantangan yang amat besar yang mengancam keberadaan mereka, para rasul memilih untuk berkumpul dan berdoa. Sebagaimana mereka, semangat berdoa dan kebersamaan hendaknya menjadi andalan utama kita dalam menghadapi masa yang serba tidak pasti ini.

    Semangat seperti ini akan membantu kita untuk menemukan kehadiran Tuhan di dalam kehidupan pribadi kita masing-masing.

    Pada aspek yang lebih dalam, apakah perubahan-perubahan yang terjadi selama pandemi ini membantu orang untuk makin mendekatkan diri kepada Tuhan dan meningkatkan kepeduliannya kepada sesama?

    Kehidupan keagamaan yang sejati terletak pada pengenalan yang semakin intens dan mendalam akan Tuhan, yang juga menjadi nyata dalam hidup harian. Kepedulian kepada sesama adalah salah satu praktik paling nyata dari iman dan kehidupan keagamaan yang sejati.

    Baca juga: Pandemi dan Hidup Baru & Pandemi dan Harapan Hidup Baru

    Pada pertemuan pertama ini, kita diajak untuk melihat kembali praktik kehidupan keagamaan kita selama masa pandemi. Apakah kita cukup setia pada ajaran dan tata cara yang diajarkan Gereja kepada kita?

    Apakah kita sungguh-sungguh mencari Tuhan di tengah perubahanperubahan cara dan sarana dalam beribadah kepada-Nya? Ataukah kita hanya menjalankan tata cara beribadah kita, sedangkan hati kita jauh dari-Nya? Apakah sikap hidup kita menampakkan iman kita yang nyata?

    Becermin pada teks Am. 5:4-6, kita dituntun untuk mencari Tuhan agar kita tetap hidup, baik kini maupun kelak.

    Mendalami Teks dari Nabi Amos dan Nabi Hosea

    Nabi Amos dan Nabi Hosea - BKSN 2022

    MajalahDUTA.Com, BKSN- Selama Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2022 ini kita akan mendalami empat subtema yang semuanya berhubungan dengan hidup baru yang diharapkan.

    Keempat subtema tersebut adalah hidup keagamaan yang sejati, hidup yang adil, hidup yang berdasarkan kasih setia Allah, dan hidup yang penuh dengan kerahiman Allah. Kita akan mengambil teks-teks inspiratif dari kitab Amos dan Hosea. Kedua nabi ini, Hosea dan Amos, aktif berkarya pada pertengahan abad VIII SM.

    Nabi Amos

    Amos merupakan seorang peternak domba dari Tekoa, dekat Betlehem (Am. 1:1), di bagian selatan Israel. Profesi lain dari Amos adalah pemetik buah ara (Am. 7:14).

    Meskipun demikian, ia dipanggil Tuhan menjadi nabi dan bernubuat di wilayah utara Israel. Ia diperkirakan berkarya pada masa pemerintahan Raja Yerobeam II di Kerajaan Utara (760-750 SM) dan Raja Uzia di Kerajaan Selatan (783-743 SM). Pada periode ini, bangsa Israel mengalami kemajuan dan kemakmuran.

    Wilayah kerajaan makin diperluas dan perdagangan makin berkembang. Sayangnya, kemajuan dan kemakmuran ini mendatangkan mentalitas konsumerisme, ketidakadilan sosial, kemerosotan moral, dan hidup keagamaan yang palsu.

    Mereka yang berkuasa dan kaya memakai keunggulan mereka demi kemapanan hidup mereka sendiri. Terjadi penindasan dan ketidakpedulian terhadap masyarakat kecil. Ibadah mereka yang kelihatannya dipenuhi dengan kurban bakaran tidak sesuai dengan praktik hidup harian yang amat jauh dari kebenaran dan keadilan.

    Amos tampil untuk membela hak orang-orang kecil. Ia mengecam terjadinya ketidakadilan sosial, kemerosotan moral, materialisme, dan hidup keagamaan yang palsu. Ia sendiri dianggap gila dan aneh karena mewartakan keruntuhan dan kehancuran Israel di tengah keadaan yang makmur dan kuat.

    Nabi Hosea

    Nabi Hosea, yang namanya berarti “Tuhan adalah keselamatan”, berasal dari wilayah utara dan berkarya di Kerajaan Utara, sezaman dengan Amos.

    Pelayanannya tampaknya berakhir beberapa tahun sebelum kehancuran ibu kota Israel, Samaria, pada tahun 722 SM. Karena sezaman dengan Nabi Amos, situasi yang dihadapinya pun sama.

    Hosea berkonsentrasi pada kehidupan religius orang Israel yang mengalami penurunan drastis. Tema utama dari pewartaannya adalah cinta kasih Allah dan pengkhianatan manusia atas cinta Allah tersebut.

    Baca juga: Allah sebagai Harapan Hidup Baru

    Ia memakai term “zina” (misalnya Hos. 2:1) untuk mengungkapkan ketidaksetiaan Israel terhadap Tuhan. Perkawinannya sendiri dengan seorang pelacur yang bernama Gomer merupakan simbol dari upaya Tuhan untuk memanggil kembali Israel yang tidak setia. Nama anak-anaknya juga menegaskan hal yang sama.

    Secara berturut-turut nama anak-anaknya adalah Yizreel yang berarti “Tuhan menabur” (Hos. 1:4), Lo-Ruhama yang berarti “tidak disayangi” (Hos. 1:6), dan Lo-Ami yang berarti “bukan umat-Ku” (Hos. 1:9).

    Meskipun memberikan banyak kecaman dan kritik terhadap praktik hidup keagamaan yang tidak benar yang berujung pada hukuman, Hosea juga berupaya memberikan jalan keluar. Ia menubuatkan bahwa Israel akan dipulihkan, dan antara Tuhan dan Israel akan terjalin kembali relasi seperti seorang bapak dan anak, atau suami dan istri (Hos. 1:10; 2:15).

    Semuanya itu bergantung pada kesediaan orang Israel untuk kembali kepada Tuhan atau tidak.

    Subtema

    Kedua nabi tersebut memainkan peranan khas dalam sejarah Kerajaan Utara atau Israel. Nabi Amos hadir sebagai seorang pengkritik dalam kehidupan sosial. Ia melihat ketidakadilan dan hal-hal yang dangkal dari kehidupan iman.

    Dua perikop dari kitab Amos, yaitu Am. 5:4-6 dan Am. 5:14-17, menjadi perikop yang didalami dalam pertemuan pertama dan kedua. Sementara itu, Hosea berkonsentrasi membenahi relasi antara umat Israel dan Tuhan, yang kelihatannya sudah tidak baik. Orang Israel tidak lagi mengandalkan Tuhan.

    Baca juga: Allah Sumber Harapan Baru

    Mereka malah berpaling kepada dewa-dewi lain, padahal Tuhan sudah menunjukkan kerahiman dan belas kasihan-Nya kepada mereka, juga berkenan menerima mereka lagi jika mereka berbalik kepada-Nya.

    Dari kitab Hosea, kita akan mendalami subtema ketiga dan keempat, yang berbicara tentang Allah yang setia dan yang penuh dengan kerahiman. Dua teks yang dipilih adalah Hos. 6:1-6 dan Hos. 11:1-11.

    Pertemuan-pertemuan

    1. Allah Sumber Harapan untuk Menangkis Mentalitas Keagamaan Palsu (Am. 5:4-6).
    2. Allah Sumber Harapan untuk Melawan Ketidakadilan (Am. 5:14-17).
    3. Allah Sumber Harapan karena Kasih Setia-Nya (Hos. 6:1-6).
    4. Allah Sumber Harapan karena Kerahiman-Nya (Hos. 11:1-11).

    Pada pertemuan pertama, kita akan mendalami subtema: Allah Sumber Harapan untuk Menangkis Mentalitas Keagamaan Palsu.

    Tidak dapat disangkal bahwa selama masa pandemi ini, kehidupan iman kita sungguh diguncang. Menanggapi hal itu, berbagai cara dibuat untuk meningkatkan relasi dengan Allah.

    Baca juga: Metaverse: Semangat mendengarkan dengan telinga hati

    Meskipun demikian, ada yang secara salah memahami dan menjalankan hidup keagamaannya, bahkan ada pula yang memilih cara-cara lain yang bertentangan dengan iman yang dianutnya.

    Seruan Amos di Am. 5:4-6, membantu kita semua untuk melihat dan mengevaluasi kembali mentalitas hidup keagamaan kita yang bisa saja jauh dari yang diharapkan.

    Pada zamannya, orang Israel berupaya membina relasi dengan Tuhan, tetapi mereka tidak menemui-Nya. Itulah sebabnya, melalui Amos, Tuhan dua kali meminta orang Israel untuk mencari-Nya. Kita pun diajak untuk mencari dan mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh.

    Pada pertemuan kedua, kita diajak untuk mendalami subtema: Allah Sumber Harapan untuk Melawan Ketidakadilan. Wabah Covid-19 mengakibatkan terciptanya kesenjangan sosial. Yang miskin menjadi kian miskin, sementara ada segelintir orang yang menikmati keuntungan dari wabah ini.

    Selain itu, terdapat pula ketidakadilan sosial lainnya yang menimbulkan kerentanan dalam relasi sosial. Seruan Tuhan melalui Amos agar umat mencari keadilan dan meninggalkan kejahatan merupakan seruan yang sangat relevan bagi situasi kita sekarang ini.

    Ketidakadilan akan memisahkan relasi satu sama lain dan dengan Tuhan sendiri. Hidup baru adalah hidup yang ditandai dengan merajanya keadilan dan bertumbuhnya kebaikan. Pada pertemuan ketiga, kita akan mendalami subtema: Allah Sumber Harapan karena Kasih Setia-Nya.

    Baca juga: Makna Logo BKSN 2022

    Selama pandemi, Allah kelihatan diam dan tidak menunjukkan kuasa-Nya, tetapi sesungguhnya Ia tetap bekerja dan menuntun umat manusia kepada jalan keselamatan.

    Melalui Nabi Hosea, Allah meminta agar umat Israel setia kepada-Nya. Ia sendiri setia kepada umat-Nya dan terus berupaya agar relasi kasih setia itu tidak putus.

    Bagi Allah, yang terpenting adalah kasih setia, bukannya kurban persembahan. Hidup yang baru adalah hidup yang dipenuhi dengan kasih satu sama lain karena menyadari bahwa setiap pribadi dikasihi Tuhan.

    Pada pertemuan keempat, kita akan mendalami subtema: Allah Sumber Harapan karena Kerahiman-Nya. Di tengah perjuangan dan keputusasaan akibat wabah Covid-19, kerahiman Allah sepertinya hilang dan tidak dirasakan oleh umat.

    Kematian dan kehilangan yang tragis membuat orang merasa tidak lagi menemukan sosok Allah yang berbelaskasihan. Melalui Nabi Hosea, Allah menyatakan bahwa Ia menarik kita dengan tali kesetiaan.

    Sama seperti Ia tidak menyerahkan bangsa Israel ke dalam penderitaan akibat musuh, Ia juga tidak akan membiarkan kita, umat-Nya, terus menderita dalam hidup kita.

    Allah yang maharahim terus berjalan bersama kita dan menuntun kita dengan tali kesetiaan menuju kebebasan sejati.

    Allah sebagai Harapan Hidup Baru

    Allah sebagai Harapan Hidup Baru- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, BKSN- Ketika pandemi berlangsung, orang bertanya: Di manakah Allah? Mengapa Ia sepertinya diam?

    Malah ada yang mungkin berpikir bahwa Allah sedang mencobai umat-Nya. Ada juga yang merasa bahwa semuanya ini terjadi karena dosa manusia atau sikap serakah kita.

    Melalui pandemi, Tuhan mengajarkan kepada manusia agar menyadari aspek-aspek yang hilang dari kesibukan mereka, salah satunya bahwa orang kurang memperhatikan dirinya sendiri, sesamanya, dan bahkan Tuhan.

    Di saat dunia terus berjuang menemukan vaksin yang cocok, harapan satu-satunya adalah Allah. Allah melampaui segala zaman; Allah terus berjalan bersama umat-Nya dalam segala situasi; dan Allah setia berjuang bersama umat manusia. Dialah sumber pengharapan kita agar berkat penyelenggaraan-Nya, situasi yang memilukan ini dapat dipulihkan.

    Baca juga: Makna Logo BKSN 2022

    Dalam dunia Perjanjian Lama, Allah selalu menjadi harapan dimulainya hidup yang baru. Kita bisa menemukan hal ini, misalnya, dalam kitab Hakim-hakim. Ketika orang Israel baru menetap di Tanah Perjanjian, mereka menaruh harapan kepada Tuhan agar menuntun mereka menjalani hidup yang baru.

    Namun, mereka sering terlena, jatuh ke dalam dosa, sehingga mendapatkan hukuman. Ketika mereka berteriak meminta pertolongan, mereka pun ditolong lagi oleh Tuhan. Pola seperti ini terus berlanjut, terutama ketika orang Israel terlena kembali dan menjauh dari Tuhan.

    Kisah pembuangan menghadirkan juga contoh tentang harapan yang besar kepada Allah untuk dimulainya hidup yang baru.

    Baca juga: Pandemi dan Harapan Hidup Baru

    Sebelumnya, orang Israel menjalani keseharian hidup tanpa mau mendengarkan suara Tuhan yang diwartakan melalui para nabi. Pada akhirnya mereka kalah, hancur, dan diasingkan dari tanah mereka sendiri. Demikianlah mereka dibuang ke Babel karena dosa-dosa mereka.

    Di saat seperti itu, dalam keadaan tidak berdaya, Allah menjadi harapan satu-satunya bagi mereka untuk memulai hidup baru. Warta seperti ini sering terungkap dalam kitab para nabi.

    Baca juga: Pewahyuan Allah: Allah Datang untuk Menjumpai Manusia

    Allah selalu memberikan harapan akan hidup baru. Kehadiran Yesus ke dunia juga membuka wawasan dan harapan akan hidup baru. Kedatangan Yesus merupakan keinginan dan inisiatif Allah agar semua orang memperoleh kebahagiaan kekal. Jaminan akan keselamatan kekal dinyatakan oleh kedatangan-Nya.

    Harapan untuk memasuki langit dan bumi yang baru pun terbuka. Yesus sendiri bahkan sudah memulainya dengan mewartakan kebaikan agar di dunia pun orang sudah merasakan kebahagiaan hidup.

    Pada masa pemulihan pascapandemi ini, kita diajak untuk menggantungkan hidup kita pada Tuhan. Dia yang melintasi segala zaman menjadi sumber harapan bagi kita, umat-Nya, dalam melewati masa-masa sulit sekarang ini, sebab Dia tahu mana yang terbaik, tahu juga akan masa depan yang terbentang di hadapan kita.

    Sebagaimana Dia menemani para murid mengarungi danau yang diterjang angin kencang (lih. Mat. 14:22-33), Dia juga pasti berjalan bersama kita melewati badai pandemi ini.

    Dia turut menolong kita menghadapi berbagai gelombang yang menerjang iman kita; Dia mengarahkan kita kepada hidup baru yang lebih baik. Dialah satu-satunya sumber harapan kita dalam menjalani hidup baru.

    Persaudaraan Kontradus OFS Pontianak: Fransiskan Ada Jalan Hidup

    Pertemuan untuk Persaudaraan St.Konradus untuk bulan Agustus 2022- Dirumah Sdr Y.Tuparman.OFS.

    MajalahDUTA.Com, Pontianak (4/9) – merupakan hari pertemuan rutin saudara-saudari Ordo Fransiskan Sekular  (OFS) persaudaraan Santo Conradus.

    Pertemuan bulanan ini diadakan dikediaman saudara Yohanes Tuparman, OFS. Pertemuan kali ini menjadi istimewa ketika persaudaraan Santo Conradus mendapat kunjungan dari Minister Regio OFS Kalimantan, yaitu saudara Herman Yosef Anem, OFS.

    Kunjungan ini merupakan implementasi dari Anggaran Dasar dan Konstitusi OFS, bahwa pelayan regio mengunjungi saudara-saudari di persaudaraan lokal.

    Pembahasan pada pertemuan kali ini mencakup rencana naik jenjang para saudara, mulai dari jenjang aspiran ke postulant maupun jenjang postulan ke novis.

    Baca juga: Kapitel Ordo Fransiskan Sekular Regio Kalimantan

    Pembicaraan lain juga mencakup mencari cara paling efektif untuk memberikan pendidikan iman kepada pada saudara. Percakapan melebar ke berbagai hal seputar hidup menggereja dan hidup fransiskan.

    Fransiskan sesungguhnya bukan hanya sekedar kumpulan orang yang meneladani santo Fransiskus, melainkan sebuah ideologi, sebuah jalan hidup.

    Para saudara OFS dituntut menjalani hidup dalam terang injil dan ajaran Kristus seturut teladan Santo Fransiskus dari Asisi. Kehidupan yang dijalani haruslah hidup yang taat, miskin dan murni.

    Baca juga: Kepemimpinan yang melayani

    Anggota OFS tidak tinggal didalam bangunan biara sebagaimana biarawan-biarawati awam religius, justru lingkungan masyarakat, lingkungan pekerjaan dan lingkungan bangsa negara merupakan biara bagi seorang OFS.

    Sebagai sebuah ordo resmi dalam Gereja Katolik, OFS merupakan organisasi yang mewadahi umat beriman. OFS adalah organisasi lintas negara yang berpusat di Roma, Italia. Maka, meskipun ordo awam, namun OFS adalah organisasi / lembaga hidup bakti yang setara dengan ordo-ordo lain didalam Gereja.

    Pandemi dan Harapan Hidup Baru

    Hidup Baru- Bulan Kitab Suci Nasional 2022

    MajalahDUTA.Com, BKSN- Telah disebutkan bahwa pandemi mengubah segalanya. Semua orang berusaha beradaptasi dengan situasi ini dan berusaha mempertahankan kehidupan dengan sekuat tenaga, sembari berharap semoga pandemi cepat berlalu.

    Salah satu yang muncul dari proses adaptasi ini adalah solidaritas sesama manusia. Di sana-sini, kita temukan orang yang saling berbagi agar sesamanya tidak merasa sendirian atau merasa ditinggalkan. Solidaritas ini menjadi antitesis dari perlakuan yang dianggap kurang bermartabat terhadap orang yang terdampak Covid-19.

    Orang akhirnya menyadari bahwa martabat manusia patut dihargai. Segala sesuatu bisa runtuh, hilang, atau berganti, namun harkat dan martabat manusia harus tetap dijunjung tinggi dalam situasi apa pun.

    Baca juga: Pandemi dan Hidup Baru

    Pola-pola pendekatan terhadap manusia mungkin bisa berubah terutama karena situasi pandemi, namun orang mesti tetap menghargai aspek kemanusiaan setiap individu. Pandemi yang sudah mulai mereda memberikan harapan akan hidup baru.

    Harapan ini bukan hanya sekadar menjalani kehidupan dengan protokol new normal, melainkan harapan yang berhubungan dengan peningkatan kualitas hidup, relasi sosial, dan relasi dengan Allah.

    Peningkatan kualitas hidup yang dimaksud berkaitan erat dengan meningkatnya pendapatan yang berpengaruh pada terjaminnya kebutuhan untuk hidup yang lebih baik.

    Selama masa pandemi, keadaan ekonomi memang runtuh. Banyak usaha bahkan bangkrut atau tidak dapat memenuhi biaya operasionalnya sendiri. Karena itu, semua orang mengharapkan suasana hidup baru yang lebih memberikan kepastian dalam kehidupan ekonomi, sehingga kualitas kehidupan menjadi lebih baik.

    Baca Juga: Makna Logo BKSN 2022

    Harapan hidup yang baru juga berhubungan dengan relasi sosial. Selama masa pandemi, aspek ini mendapatkan tantangan yang besar. Relasi sosial tidak dapat berjalan dengan semestinya. Semua komunikasi interpersonal tidak dapat sepenuhnya dijalankan secara langsung.

    Hal ini berpengaruh pada keakraban, kedekatan, dan pengenalan yang lebih baik terhadap sesama. Situasi menjadi lebih buruk ketika orang terpapar Covid-19, sebab ia malah dijauhi atau disingkirkan dari pergaulan.

    Karena itu, dalam situasi pemulihan pascapandemi, orang mulai saling mencari dan membina kembali relasi yang terputus. Semua berharap agar relasi dengan orang lain tetap berjalan dengan baik, meskipun mungkin melalui instrumen media sosial atau media komunikasi.

    Adaptasi terhadap cara berelasi mau tidak mau dimulai agar relasi tetap terjalin. Dalam bidang kerohanian, banyak orang mulai merasa bahwa diri mereka tidak berarti apa-apa. Mereka lemah dan tidak berdaya, serta memerlukan pertolongan Tuhan yang mahakuasa agar dapat melewati masa-masa sulit ini.

    Meskipun ada yang acuh tak acuh dengan urusan kerohanian, dalam kenyataan dapat dilihat bahwa aneka cara dibuat oleh berbagai pihak untuk membantu mempertahankan dan meningkatkan relasi dengan Tuhan.

    Di sana-sini muncul kelompok-kelompok media sosial yang membahas hal-hal rohani, membagikan pesan rohani, dan sebagainya. Hidup baru dimulai dengan kesadaran baru akan kekecilan diri di hadapan Tuhan yang mahakuasa.

    Pandemi dan Hidup Baru

    Foto: Kumpulan Kata Mutiara Harapan Hidup dari Tokoh-Tokoh Terkenal

    MajalahDUTA.Com, BKSN- Sejak akhir tahun 2019, situasi dunia diombang-ambingkan oleh virus Corona yang mengakibatkan pandemi Covid-19. Virus ini mengubah banyak sekali perilaku manusia dalam berbagai bidang kehidupan.

    Pola relasi interpersonal pun berubah dengan adanya pembatasan-pembatasan dan ketentuan untuk menjaga jarak.

    Sentuhan fisik yang dahulu dirasakan sebagai ekspresi paling dalam dan paling dekat dalam sebuah persahabatan, kini diadaptasi dengan cara baru yang pada awalnya terasa risi dan aneh.

    Senyuman dan gerak-gerik mulut yang mengekspresikan isi hati secara nonverbal kini tidak lagi dapat dilihat dengan baik karena terbungkus masker. Kita tidak mengetahui apakah orang itu tersenyum atau sedang serius, sehingga perkataan seseorang dapat disalahtafsirkan.

    Baca juga: Makna Logo BKSN 2022

    Pola-pola interaksi tersebut hanyalah salah satu dari sekian banyak perubahan yang dialami pada masa pandemi ini.

    Dalam bidang ekonomi, misalnya, kita mengalami bahwa sistem ekonomi mulai berubah dari sistem tradisional yang mengandalkan pertemuan personal kepada sistem daring dan perantaraan pihak ketiga. Hal ini berakibat pada menurunnya jumlah kunjungan ke toko-toko fisik dan meningkatnya pengangguran.

    Kesenjangan ekonomi pun perlahan-lahan tercipta. Seiring dengan hal ini, ketidakadilan muncul dalam kehidupan bermasyarakat yang disebabkan oleh jurang ekonomi antara yang kaya dan yang miskin.

    Perubahan juga terjadi dalam kehidupan religiositas dan keagamaan. Orang beriman diminta untuk mematuhi protokol kesehatan, sehingga tidak lagi terdapat kerumunan orang di tempat atau rumah ibadah. Gereja-gereja kita menjadi tidak penuh seperti sebelumnya.

    Mesti diakui secara jujur bahwa keadaan ini ditanggapi secara berbeda oleh umat beriman. Bagi sebagian orang yang imannya suam-suam kuku, kehadiran Covid-19 menjadi alasan yang tepat untuk meninggalkan aktivitas rohani, yang berakibat mereka semakin jauh dari Tuhan.

    Baca juga: Allah Sumber Harapan Baru

    Sebaliknya, bagi mereka yang memiliki kehidupan iman yang jujur, Covid-19 menjadi tantangan bagi perkembangan iman. Karena itu, berbagai kreativitas diciptakan agar kehidupan iman tetap terjaga, misalnya dengan mengikuti streaming perayaan Ekaristi, menciptakan jejaring sosial untuk berdoa atau berbagi firman Tuhan, berdoa di dalam rumah bersama anggota keluarga, dan sebagainya.

    Kini, pada tahun 2022 ini, kita sudah mulai terbiasa dengan situasi pandemi. Kita mulai memasuki fase baru, yaitu hidup secara baru. Kita tidak lagi memiliki pola-pola kehidupan seperti sebelumnya, sebab kita mulai membangun kehidupan kita sembari berdamai dengan situasi yang ada.

    Orang-orang mulai terbiasa dan cepat tanggap dengan tuntutan-tuntutan berperilaku yang berkaitan dengan penanggulangan penyebaran virus. Tidak ada lagi kepanikan seperti sebelum-sebelumnya, meskipun varian baru virus ini kemudian bermunculan. Kewaspadaan tetap ada, tetapi tidak terjadi lagi kepanikan yang berlebihan di kalangan masyarakat.

     

    Allah Sumber Harapan Baru

    Kata Pengantar Buku BKSN 2022- R.P. Albertus Purnomo OFM - Ketua Lembaga Biblika Indonesia

    MajalahDUTA.Com, BKSN 2022- Dalam sebuah wawancara dengan jurnalis Italia, Lorena Bianchetti, di acara A Sua immagine yang disiarkan pada hari Jumat Agung 2022 di stasiun TV Italia, RAI 1, Paus Fransiskus menyinggung pentingnya harapan.

    Beliau mengatakan bahwa di tengah berkecamuknya perang di Ukraina dan tragedi lainnya di seluruh dunia, Paskah ini seharusnya membuat kita tetap menjaga harapan kita kendatipun itu sulit terpenuhi dalam waktu yang singkat.

    Paus Fransiskus mendesak umat beriman untuk tidak pernah kehilangan harapan: “Keinginan saya adalah jangan kehilangan harapan. Harapan yang nyata tidak pernah mengecewakan.

    Ajakan Paus Fransiskus tersebut selaras dengan tema Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2022, yaitu Allah Sumber Harapan Hidup Baru, dengan ayat emas: “Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup” (Am. 5:6).

    Baca juga: Makna Logo BKSN 2022

    Dewan Pimpinan Lembaga Biblika Indonesia (LBI) mengangkat tema ini dengan mempertimbangkan tren situasi aktual sekarang. Di tengah wabah Covid-19 yang masih muncul di sejumlah tempat di belahan dunia dan secara khusus di Indonesia, ketakutan dan kekhawatiran yang sebelumnya melanda masyarakat kita perlahan-lahan mulai mereda.

    Gencarnya vaksinasi yang digalakkan pemerintah tampaknya telah mampu menciptakan kekebalan kelompok terhadap penyakit ini.

    Aktivitas sosial dan perekonomian pun mulai bergerak normal kembali. Ini menandakan harapan masyarakat untuk kembali bangkit dari problem dan kekecewaan karena pandemi sudah mulai merekah.

    Namun, penting juga dicatat bahwa persoalan di dunia ini tidak pernah berhenti. Ketika pandemi Covid-19 sudah mulai teratasi, dunia tiba-tiba dikejutkan dengan perang yang terjadi di Ukraina, yang pasti akan berdampak pada aktivitas manusia di tingkat internasional, baik secara ekonomi, politik, maupun sosial.

    Entah secara langsung atau tidak langsung, kita sebagai bagian dari warga dunia pasti akan terkena dampak dari perang ini. Kita tentu saja berharap agar perang di Ukrania segera selesai, sehingga tercipta tatanan kehidupan dunia yang penuh kedamaian dan keadilan.

    BKSN 2022 mengajak kita sebagai umat Gereja Katolik di Indonesia untuk merenungkan kembali sosok Allah sebagai sumber harapan hidup baru bagi orang beriman. Secara khusus, kita akan merenungkan dan merefleksikan tentang harapan ini berdasarkan perikop-perikop yang diambil dari kitab Nabi Amos dan Hosea.

    Mengapa kita menggunakan perikop dari kedua kitab tersebut? Jawabannya tidak lepas dari visi dan misi LBI tahun 2021-2025. Pada tanggal 29 Agustus sampai 2 September 2021, LBI menyelenggarakan Pertemuan Nasional secara virtual dengan tema Singa Telah Mengaum: Mendengarkan Warta Dua Belas Nabi.

    Tema ini diangkat karena melihat kenyataan bahwa kitab nabi-nabi kecil masih terasa asing bagi umat Katolik pada umumnya. Karena itulah LBI menganggap perlu memperkenalkan kitab-kitab tersebut kepada umat.

    Baca juga: Pesta Pelindung Gereja Katolik Santo Agustinus Senakin

    Umat diajak untuk sedikit demi sedikit membaca kitab dua belas nabi kecil, sehingga dapat memetik pesan dan inspirasinya yang bermanfaat bagi perkembangan iman. Selaras dengan itu, disepakati bahwa tahun 2022 merupakan tahun di mana kita bersama-sama mempelajari inspirasi sabda Allah dari Nabi Amos dan Hosea.

    Bersama dengan Nabi Amos dan Hosea, kita akan merefleksikan dan mempelajari tentang bagaimana menumbuhkan harapan untuk menangkis mentalitas keagamaan palsu, untuk melawan ketidakadilan, untuk mengenal kasih setia Allah, dan untuk mengenal Allah yang penuh kerahiman.

    Meskipun bisa jadi tema-tema yang dipilih ini terasa kurang relevan dengan situasi dan kondisi aktual masyarakat di tingkat paroki maupun lingkungan di masing-masing keuskupan, paling tidak tematema ini dipastikan mampu menjadi batu loncatan sekaligus inspirasi untuk berbagi pengalaman iman berdasarkan sabda Allah dalam Kitab Suci.

    Dengan selalu berkumpul dalam kelompok basis atau lingkungan untuk merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, kita sesungguhnya sedang memelihara tradisi unggul yang dipraktikkan oleh Gereja Perdana dahulu.

    Memang, untuk sharing Kitab Suci, idealnya kita hadir berkumpul sambil membaca Kitab Suci secara normal atau dengan kata lain mengadakan pertemuan secara luring. Akan tetapi, jika prokes masih diinstruksikan oleh pemerintah, sharing Kitab Suci dalam sebuah pertemuan virtual kiranya tidak menjadi masalah.

    Baca juga: Pertemuan Reformasi Kuria ditutup dengan fokus pada Yobel Harapan 2025

    Yang terpenting adalah bahwa dalam pertemuan tersebut, kita dapat menggali pesan kehidupan dari setiap perikop yang kita dalami bersama. Walaupun memahami Kitab Suci itu tidak mudah, sekurang-kurang kita pasti akan menemukan satu pesan yang berdampak bagi perkembangan dan kemajuan hidup rohani kita.

    Akhirnya, kami mengucapkan limpah terima kasih untuk R.P. Petrus Cristologus Dhogo SVD yang telah menyiapkan gagasan pendukung sebagai dasar dan panduan bagi BKSN 2022. Ucapan terima kasih juga kami tujukan kepada para delegatus sekaligus ketua Komisi Kerasulan Kitab Suci keuskupan-keuskupan di Regio Nusa Tenggara (Nusra) yang menyusun bahan untuk pertemuan-pertemuan kelompok mingguan.

    Semoga dengan BKSN 2022 ini, kita semakin diteguhkan untuk tetap setia dalam menjalankan tugas dan panggilan kita sebagai orang Kristen dan murid Yesus Kristus, yang selalu percaya bahwa Allah adalah sumber harapan hidup baru. Tuhan memberkati kita semua.

    Makna Logo BKSN 2022

    Makna Logo PKSN 2022

    MajalahDUTA.Com, Pekan Kitab Suci Nasional- Poster BKSN 2022 terbagi menjadi empat figur utama, yakni:

    1. Figur tiga manusia.

    Yang paling kanan adalah Nabi Amos, yang digambarkan sedang dalam posisi menegur orang lain dan sedang membangunkan orang itu lewat telinganya.

    Yang paling kiri adalah Nabi Hosea, yang digambarkan dalam posisi mengajak dan menopang orang lain agar mau bangkit dan bergerak.

    Kedua posisi ini sesuai dengan keempat perikop yang menjadi bahan permenungan BKSN 2022: Dua perikop dari Nabi Amos bercirikan teguran dan peringatan, sedangkan dua perikop dari Hosea bercirikan ajakan dan pengharapan.

    2. Cahaya dengan empat warna.

    Ini menggambarkan empat subtema BKSN 2022, yakni harapan untuk menangkis mentalitas keagamaan palsu, harapan untuk melawan ketidakadilan, harapan untuk mengenal kasih setia Allah, dan harapan untuk mengenal Allah yang penuh kerahiman.

    Cahaya yang tampak memancar dari horizon terjauh melambangkan harapan yang tidak dapat disamakan dengan sekadar optimisme.

    Harapan selalu melampaui prediksi manusia dan juga menginspirasi perjuangan hidup manusia. Ada intervensi Tuhan di dalamnya.

    3. Dua lingkaran yang saling berhadapan.

    Lingkaran pertama adalah lubang hitam yang melambangkan kematian, penderitaan, musibah, dosa, dan kejahatan.

    Lingkaran kedua adalah lingkaran putih yang tampak tidak penuh, tetapi memengaruhi latar sehingga tampak lebih terang. Lingkaran putih ini melambangkan begitu besar dan agungnya rencana keselamatan Tuhan di dunia.

    Bahkan dalamnya penderitaan dan kematian yang dilambangkan oleh lubang hitam tidak sebanding dengan kebesaran kasih setia Tuhan.

    4. Tema BKSN 2022 dan kutipan utama Kitab Suci.

    Tema BKSN 2022 adalah Allah Sumber Harapan Hidup Baru, sedangkan kutipan utamanya adalah “Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup” (Amos 5:6).

    Tema ini secara utuh diilustrasikan dalam keseluruhan gambar. Tuhan menegur kejahatan manusia, tetapi sekaligus memberikan harapan baru melalui para nabi.

    Alih alih membiarkan umat-Nya terus berada dalam kegelapan, Ia membangkitkan mereka untuk hidup baru.

    TERBARU

    TERPOPULER