Saturday, May 18, 2024
More

    Preman Berbaik Hati

    Oleh: Bruder Flavianus MTB

    Cerpen-MajalahDUTA.Com- “Seharian aku mencari kost, semuanya ditolak bang,” Kata Boy mengawali percakapan  di malam itu.

    “Terus apa urusan dengan saya?” Sahut Tino dengan nada tidak bersahabat.  “Lho… kamu khan udah lama kuliah di sini bang!”

    “Bagi saya, tidak ada satu kesan yang menarik,  bahwa abang mau membantu saya!” “Apa aku harus balik ke daerahku?” Timpa Boy sambil menendang lemari pakaian yang sudah tidak layak di pakai lagi.

    Malam itu Boy tidak bisa tidur. Ia gelisah karena sudah satu bulan menumpang di tempat tinggalnya Tino, yang sudah lama kuliah di kota itu. Ia merasa malu dan tidak tahu bagaimana caranya agar segera mendapat kost sehingga ia bebas dari pergumulan diri sebagai mahasiswa baru di kota itu.

    Pagi-pagi pukul 07.30 wib, Tino bangun cepat-cepat. Dia tidak biasanya bangun awal. Pada hal sebelum pandemic covid 19, dia malas bangun. Untung saja kuliah online. Tidak semestinya harus buru-buru mandi dan sarapan. Belum lagi sibuk mengambil makalah yang sering dititipkan di tempat  foto copy langgananya.

    Sambil menikmati secangkir kopi kapal api dan mengisap rokok elektrik (baca: vape) kesukanyaa, tiba-tiba ia melihat Boy dengan tidur pulas. “ Hemm… sedang mimpi apa  dia ya?”  Bathin Tino sambil membuka pesanan  di grup WhatsApp melihat teman-teman yang sudah registrasi ujian skripsi  di tengah pandemi.  Tino semakin bingung. Skripsinya sudah lama, tidak ada lagi respon dari dosen pembimbingnya. Entah bab berapa saja yang harus diperbaikinya lagi.

    “Woy….., bangunlah sekarang! “ Sudah jam 10.. Boy?”. Pinta Tino dengan nada jengkelnya. Tino pun  sedikit tidak fokus antara memperhatikan Boy atau  sedang galau, karena teman-temannya hampir 80 % sudah mau pendadaran alias ujian skripsi. Tangan Tino tidak karuan mengotak atik jarinya di depan laptop yang hampir warnanya berubah jadi orange. Maklum kamarnya tiap hari membakar dupa dan kemenyam dari produk kapitalis perusak paru-paru dan ekologi.

    “…Wuah…ahh… segar rasanya udara pagi ini?”  teriakan Boy ini  tidak mengagetkan Tino. Boy pura-pura memuji kamar tidur mereka yang berukuran 3×2 meter persegi. Lantaran asapnya seperti sedang mendupa sang dewi fortuna.  “Boy sering  begitu ya, kalau bangun pagi mirip kicau love bird yang berkicau 24 jam karena belum ada yang kencan neh?” Nada canda dan rayuan Tino tidak memancing Boy untuk memperlebar ruang  berdebat mengapa harus terlambat bangun pagi di saat itu.

    ***

     “Bang Tino?” Sapa Boy dengan ramah. “Apa lagi topik hari ini?” Tanya Boy sambil menikmati secangkir kopi susu buatan Tino. “Bang kemarin saya lewat depan kost, ada nada sumbang yang membuat saya tidak mau ceritakan kepada abang”. Kata Boy sambil menatap Tino dengan serius. “ Maksudnya apa sich?” Sahut Tino dengan tidak sabar. “Aku ingin bicara bang!” Pinta Boy dengan nada serius. “Saya sudah tiga bulan tinggal di tempat abang!” “Sudah terlalu lama buat aku bang”.

    “Selama ini abang sudah membantu saya lebih dari yang saya pikirkan”. Jujur  Boy tentang kebaikan Tino. “Barang kali ini saatnya, saya membuka cerita!” Agaknya sich menyinggung perasaan abang?” “Tapi lebih baik saya jujur apa adanya!” “Dari pada menyiksa bathin bang!”

    Tino tidak gubris dengan kata-kata yang keluar dari lelaki berkumis tipis itu. Karena dia tetap konsen dengan skripsinya yang belum tahu kapan selesainya. Tino tidak tertarik dengan namanya isu berbau  LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) feminisme dan maskulinitas dibahan berduan.  Bagi dia topik itu buang jauh jauh dari otaknya. Boy mendengar gosib pemilik kost, bahwa mereka dua adalah sepasang kekasih yang sudah melanggar norma masyarakat sebagai anak-anak kost pada umumnya. Alias pasangan gay.

    Kurang lebih 30 menit Boy menceritkannya. Tak satu katapun yang keluar dari Tino. Tino membisu dan sekali lagi isu itu tidak menarik untuk meresponnya. Bahkan menanggapi isu yang tidak jelas baginya.  Ibarat bunyi guntur di siang hari. Tidak tahu  dari mana getaran dasar suaranya.  Akan tetapi, dalam hati ia memuji atas kejujuran Boy dalam mengungkapakan perasaanya apa yang menjadi pergumulan dirinya tinggal bersama Tino. Cuma Tino, pura-pura tidak mau bahas lebih luas lagi apa yang terjadi dengan berita tersebut. “..

    “Hemm hari gini masih percaya berita hoaks ya?… Eh Boy.. cerdaslah secara intelektual!”  “Pagi pagi  gini,  bikin abang naik tensi aja lho!”  “Topik kamu tuh bikin abis energi positif dalam diriku lho! “Kalau ga benar ngapain ditanggapi! “ Titik !… “Mulai hari ini jangan bicara sensentif gituan dengan saya!” “Ruang tidur orang  kog diatur oleh tentangga!”  “Kalau ga benar ya diam saja kan?” “Habis Perkara!” Tino mengisap sebatang rokok L.A Menthol dengan menghirup kuat kuat. Dia  tidak bisa menerima  obrolan di saat itu.

    ****

    “…Gubrak..!!” bunyi meja setinggi lutut kaki dari hadapan Tino. Boy kaget dan takut. Karena Tino sebelumnya tidak seperti itu. “Abang marahkah!”. Sahut Boy dengan penuh keheranan. “Sekarang kamu mandi cepat!” Perintah Tino dengan tegas. Boypun dengan segera menikmati dua ember air yang bisa menyegarkan pikirannya, karena  pagi pagi sudah mendapat kopi pahit. Rupanya kejujuran itu bisa membuat masalah baru bagi Boy. Tino dengan Boy, diam sepanjang hari. Mereka tidak saling sapa. Siletium magnum.

    Mereka seharian bermotor tanpa berbicara, sambil mencari kost yang pantas buat si Boy. “Jangan menyentuh aku!”  Pinta Tino dengan tegas. “Bang ada apa sich?” “Awas jatuh lho?” Goda  si Boy sambil melirik kaca spion bagian kanan apakah Tino marah benaran terhadapnya.  “Kita enggak ada ansurasi,  jika kita mengalami kecelakaan demi sebuah kamar kost!. Tino pura-pura senyum dan sengaja untuk memancing kemarahan Boy.

    ***

     “Permisi bu!” Sapa Boy dengan sopan. “Bu mau nanya, di sini masih ada kamar kosongkah?” “Wah mas masuk aja dulu”. Ajak si ibu muda itu dengan senyum yang merekah.  Boy begitu senang. Ia  berpikir,  inilah  saatnya menikmati kost sendiri. “Saatnya saya harus keluar dari ketergantungan dengan Tino”. Bathinya sambil menatap Tino.

    “Mas, boleh saya minta KTP-nya?” pinta ibu kost dengan ramah. Selang 10 menit tiba tiba ibu kost  menghampiri mereka. “Mas… maaf ya, kami udah lama tidak menerima mas-mas dari daerah yang kami anggap mengganggu kohesi sosial kami di sini!”. “ Maksud Ibu bagaimana ya?” Timpal Boy dan Tino bersamaan.

    “Saya tidak bisa berterus terang sama kalian!”  “Jujur mas ini bukan ruang berjumpaan diskusi mas!”. Silakan mas cari kost lain!”  “Maaf ya mas, saya lanjutkan kerjaan saja!”  “Permisi! Pamit ibu itu dengan segera dari hadapan mereka berdua.

    Pada pukul 16.00 mereka lelah dan tiba-tiba bunyi menggelegar  guntur saat itu, membuat mereka ingin cepat-cepat cari tempat aman. Bunyi alam itu seakan-akan memberi isyarat kepada mereka tentang misteri kehidupan manusia di muka bumi ini dalam relasi dan bersaudara.

    Tino mengajak Boy untuk berteduh di sebuah warung yang sering mahasiswa nongkrong untuk sekedar makan bakso atau nge-teh di sore hari.

    “Boy,.. kamu mau makan apa?” Pinta Tino dengan ketus. “Terserah apa aja yang ada bang!” Sahut Boy sambil melap dahinya yang sudah terlanjur basah kuyup dari tetesan air hujan yang mengelinding dari helem baunya Tino.

    Selesai makan, Tino mengajaknya   untuk berdikusi tentang penolakan warga terhadap Boy. “Bu permisi, boleh ga nambah kopi lagi ya? “ Ijinkan kami untuk beberapa jam di sini bu?” Pinta Tino dengan sopan. “Monggo Om… silakan, senang kog Om!” Sahut Bu Nining, sambil merapihkan tempe dan tahu bacem yang sudah menjadi jajanan murah di kota itu.

    Boy semakin bingung. “Bang kenapa ibu itu panggil Om?” “Biasanya disapa mas bang?” “Haaaaaa… haaaa!. Tino tidak gubris pertanyaan yang lebay itu. Tetapi untuk Boy tetap ingin dijelaskan apa perbedaam om dan mas bagi dia pendatang baru di kota itu. “Haaaaa…aaaa Boy! Haaaa, kamu itu aneh?” Haaaaa… gitu aja dipersoalkan?” Tino menjelaskan  bahwa kalau disapa om, biasanya tanda hormat bagi orang asing. Dan bisa saja ditelisik diri mereka yang secara fisik dari warna kulit, rambut bahkan bahasanya sudah dikategori bukan orangnya atau warganya. Boy semakin bingung dengan penjelasan Tino yang tidak masuk akal baginya.

    Tino mengajak Boy untuk semakin serius bercerita tentang penolakan terhadap Boy. Tipe Boy ini memang bukan kategori wajah yang humanis. Tetapi hatinya lembut dan ramah. Bagi Tino, Boy harus cepat menyesuikan diri di mana kita berada di muka bumi ini. Ibarat peribahasa dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Artinya hendaklah patuh pada adat dan aturan yang berlaku di tempat yang kita kunjungi/tinggali.

    Tino pun mulai menceritakan kisah yang menohok baginya dalam politik identitas di kota itu. Menurut cerita Tino, bahwa sekitar tahun 2003 di sebuah Selokan air, dekat tempat  tinggalnya terjadi sebuah konflik yang serem. Gara-gara rebut lahan parkir. Mungkin  juga mempersoalkan urusan perut.  Nyawa  sesamapun melayang tragis. “Kasihan  ya waktu itu mereka meninggal secara tidak manusiawi!”  “Seperti hewan gitu? “  Hemmm mungkin hewan masih terhormat,  kalau dibantai jika memang manusia ingin menghabis hewan itu untuk jadi lauk!” Tutur Tino sambil menatap Boy yang makin sore wajahnya makin ketakutan ada apa dengan warga yang menolaknya.

    Lanjut Tino, bahwa menurut saksi mata saat itu ada ketidakadilan kasus yang menimpa warga tetangganya. “Pokoknya saya kasihanlah Boy!”  “Usia mereka masih produktif mati sia-sia lagi!”  “Begitulah kalau sudah disemat preman, matinya pun tidak diakui sebagai bagian dari masyarakat yang layak menghuni di muka bumi ini!” Cerita Tino semakin menyakinkan Boy bahwa itu benar benar kisah nyata.    “Sure…  Boy, mereka mati tidak wajar!” Tino mengangkat kedua jarinya symbol bahwa dia tidak bohong. “Hemm… mungkin menyakitkan orang-orang yang ditinggakannya, karena tidak tahu mengapa keluarganya dicap sebagai preman dengan dibantai tanpa perikemanusiaan!” Tutup Tino, sambil mereguk kopinya yang tinggal ampasnya lagi.

    ”Bang.. kisahnya kog bikin aku penasaran?” Tanya Boy dengan mendesak supaya diceritakan ke pokok persoalan yang sebenarnya. Ketika Boy mendengar alur kisahnya,  ia juga mulai memikirkan dirinya bahkan curiga dengan Tino.  Jangan-jangan narasi yang dibagun Tino, hanya untuk mengelabui persoalan dalam diri Tino sendiri. Tino pun melanjutkan kisah pilu itu.

    Menurut Tino, di sebuah kafe, tiba-tiba ada seorang berbadan tegap menghampiri para penjaga parkir dengan tidak sopan. Mereka ini  sudah lama diberi kepercayaan mengamankan kafe 24 jam.  Si tukang pukul itu tanpa basa basi meminta KTP dengan kasar.  Jelas saja si penjaga itu takut dan heran. Karena selama 5 tahun kafe itu berdiri, tidak ada  tamu yang perilakunya jauh dari seorang pribadi yang santun dan terhormat sebagaimana tamu awam lainnya.

    Kata Tino waktu itu, demi menyelamat nyawanya ia cepat cepat lari ke dalam Kafe dan menelpon ketua kelompok mereka. Dalam sekejap ketua kelompok penjaga ini menghunus pisaunya hingga si badan tegap ini terkapar tak berdaya. Keesokan harinya peristiwa itu cepat viral di mass media dengan gambar gambar berbau kekerasan. Dua hari kemudian, ditangkaplah sekelompok pemuda yang diduga menghabis teman mereka.  Mereka dijemput dengan paksa.

    Tanpa diadili sebagaimana layaknya  praktik hukum sipil yang tepat bagi masyarakat pada umumnya. Mereka langsung dicebloskan ke dalam penjara, tanpa manusiawi. Di penjara inilah mereka diberondol senjata misterius. Sampai hari ini tidak tahu apakah yang menembak preman atau orang lain. Keluarga, istri dan anak mereka tidak tahu. Karena ditangkap malam hari. Isi berita pun menggelinding narasi yang menyakitkan  bahwa si preman itu merebut bahan rejeki orang yang berjasa bagi negeri ini.

    Mendengar kisah itu pun,  Boy semakin bingung. “Eh bang.. saya makin enggak percaya kisah ini?” Lanjut Boy, “Hem, ya preman itu siapa? “Apakah si badan tegap itu atau penjaga parkir?”. Tanya Boy dengan nada kritis. “Nah… ini dia!”. Sambung Tino sambil memuji Boy yang sudah mulai kritis dari kisah tersebut.

    Dari kisah  tersebut, rupanya Tino diam-diam membuat sebuah penelitian dengan mempersoalkan mengapa stereotip tentang preman masih dipelihara oleh masyarakat di  kota itu. Mengapa orang-orang yang tidak sama dengan mereka langsung dicap preman. Bahkan kalau tampangnya tidak menarik, langsung disemat sebagai preman.

    Bagi Tino persoalan ini perlu dibongkar. Sampai kapan pun kita tidak maju karena belum bisa menerima keberagaman diri seorang menjadi kekayaan dalam hidup bersama. Perlu ada standar yang baku tentang preman. Sebab menurut Tino orang yang tampangnya ganteng, cakep dan berdasi bisa saja di sebut preman. Mana kala mereka merebut hak rakyat kecil. Mereka menguasa tanah dan segala harta dengan tidak adil. Menurut dia inilah preman kelas kakap di negeri ini.

    “Bang apakah kisah ini yang membuat Bang Tino juga menjadi persoalan baru dalam menyelesaikan skripsi?” Tanya Boy semakin memojok dirinya. Tino memang tidak mau mengakui secara jujur bahwa dalam tulisan skripsinya hanya ingin membela para penjaga atau tukang parkir yang sudah mendapat stereotip dari masyarakat yang membelenggu nasib tukang parkir. Bagi Tino, sampai kapan pun di masyarakat kita berbincang soal masalah preman tidak pernah berakhir. Dan  mengapa stereotip tentang preman lebih dilihat dari penampilan fisik ketimbang perilakunya yang jahat.

    Narasi preman semacam dipelihara dalam pikiran masyarakat yang ingin menghindari dari relasi antara mereka golongan superior dan inferior. Jadi diskriminasi sosial selalu muncul dari stereotip yang ada dalam diri seseorang  baik yang tinggal dalam bingkai masyarakat pluralis maupun multikultur di mana saja kita tinggal di negeri ini. Stereotip itu sudah melekat dalam diri kita.

    ****

            Keesokan harinya Boy lari dari Kost  Tino tanpa pamit. Tino seharian mencari Boy. Namun tidak satu tetangga pun yang bisa memberitahu kemana  si rambut ikal dan kulit itam manis itu bersembunyi. “Ah.. saya merasa bersalah!” Kesal Tino sendirian di ruang kamarnya yang sudah bau apek.

    Tiga tahun kemudian,  Boy tiba tiba hadir di hadapan Tino. Secara tidak kebetulan,  waktu itu ada acara Dies Natalis ke-20 kampus mereka berkuliah. Tino kaget, karena Boy berada di atas panggung dalam pentas seni bertajuk “ Seni Serasi Dalam Keberagaman”. Boy membawa berapa  puisi  bertema tentang perlawanan berbau anti rasisme, menolak stereoptif yang mengarah politik identitas memecahkan kesatuan bangsa. Malam itu Boy dengan diiringi  kelompok musical berteriak dengan lantang di hadapan ribuan mahasiswa, dosen dan alumni. Tepukan tangan bergemuruh di ruang auditorium itu, semakin membuat malam itu miliknya si Boy.

    Setelah usai pentas seni, Tino mengajak Boy untuk mendengar kisah apa yang terjadi setelah ia lari dari kostnya si Tino. “Bang.. saya pikir kita terlalu tenggelam bicara stereotip dan rasis yang berlebihan lho?” Buka Boy menghantar Tino untuk memberi ruang berdiskusi semi intelektual organik.

    Dalam kisah Boy, bahwa selama ini terjadi salah paham karena kita terlalu terbelenggu dengan pikiran kita sendiri.  Menurut Boy yang sudah duduk di bangku kuliah tingkat 4 ini bahwa sejak zaman prasejarah, pengalaman diskriminasi sosial  merupakan  masalah biasa yang dialami oleh manusia dalam hidup bersama di masyarakat.

    Dalam kajian postmoderen, persoalan diskriminasi mungkin tidak menarik lagi untuk diperdebatkan, apa lagi diskriminasi ras terlalu sensitif dan naif untuk dibahas di ruang akademik maupun publik. Kata Boy sambil menatap Tino yang sudah lama tidak kuliah  gara-gara skripsi yang berbau rasisme.

    “Begini ya bang, kita sadar bahwa cara pikiran kita pun tidak bisa memaksa kepada orang lain soal stereotip”.  Akan tetapi, ketika masalah tersebut dibahas dalam ranah kajian akademik,  maka kita dapat menemukan ruang dan akar persoalan mengapa diskriminasi  sosial khususnya tentang preman selalu muncul di tengah masyarakat?”

    “Menurut saya bang,  diskursus sosial diskriminasi sosial itu  sangat erat dengan relasi kuasa, konstruksi sosial, kelas sosial, resistensi, hegemoni dan politik identitas  dalam hidup bersama!”. “Misalnya, saya sendiri kadang-kadang  tidak siap mengoreksi identitas saya sebagai Indonesia Timur!”

    “Abainya kita bang,  karena kita sendiri tidak fair dalam mengkontruksi sejarah identitas kita masing-masing!” “Makanya  kita sering terjadi terjebak untuk mengglorifikasi identitas kita masing-masing sebagai terhebat?” Inilah permasalahan terbesar dalam relasi kita selama ini!”   “Jujur bang, kita terpaku pada keegoaan intelektual kita!”

    “Wah.. hebat kamu Boy! “Malam ini kita kuliah tanpa bayar? Pujian Tino semakin Boy mengajaknya  untuk melihat banyak aspek tentang hidup manusia dalam kehidupan di negeri ini. Menurut catatan Boy, Si Tino tergoda dengan kesombongan intelektualnya. Dia semacam anti sosial. Kostnya saja sepi. Dia  tidak mau bergaul dengan teman-teman dari pulau lain.

    Menurut observasi Boy bahwa Tino kehilangan satu dimensi analisis diri yang justru dekat dengan  diri Tino. Tino tidak berani menganalisis identitasnya sendiri. Tino mengabaikan kecacatan, ketidaksempurnaan itu.  Justru Tino menjadi tidak adil, tidak fair.  Justru menjadikan Tino sedang menciptakan rasis secara tak sadar dalam tulisan skripsinya.

    ***

            “Eh.. Tino.. maaf ya, aku harus bongkar masalah ini!” Masalah  Apa Boy? Tino semakin kaget karena Boy bisa melebih cara berpikirnya tentang bagamana membangun opini  untuk tidak memecahkan masyarakat kita sebagai warga yang humanis di negeri tercinta ini.

    Boy mengisahkan waktu dia mencari kost sendirian tanpa Tino, ia mengajak diskusi dengan pemilik indeks kost. Boy mengyakinkan, bahwa tampang dia memang seperti preman. namun hatinya berhelo kitty. Nyatanya ibu kost selama tiga tahun sangat terbantu dengan kehadiran si Boy. Cucunya yang duduk di SMP makin pintar dengan ilmu matematika. Boy mengajarnya dengan humanis bahkan tanpa bayar.

    Ibu kost pun menganggap Boy seperti anaknya sendiri.  Bahkan selama 3 tahun ia tidak membayar kost tempat tinggalnya.Ternyata kata preman itu hanya hoaks bagi Boy.  Mulai saat itu Boy dengan ruang bathin merdeka, meminta Tino untuk memberi semat baru kepadanya dengan menyandang “Preman Berbaik Hati.” ***

    Related Articles

    Stay Connected

    1,800FansLike
    905FollowersFollow
    7,500SubscribersSubscribe

    Latest Articles