Thursday, June 18, 2026
More
    Home Blog Page 105

    Tokoh Awal yang Memunculkan Filsafat

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA- Orang pertama yang memunculkan filsafat adalah para filsuf alam dari Yunani. Mereka adalah Thales dari Miletos, menurutnya alam semesta ini terdiri dari: air. Anaximenes, asal mula dan dasar alam semesta ini adalah apeiron (sesuatu yang tidak dapat dipahami atau dijelaskan/dirupakan).

    Menurut Anaximandros prinsip utama alam semesta ini terdiri dari air, api, tanah dan udara. Setelah muncul Socrates filsafat tidak lagi berbicara soal alam semesta, melainkan berbicara soal manusia.

    Socrates memulai babak baru di mana soal etika dan keutamaan menjadi pokok pemikirannya. Ia mulai mempertanyakan apa arti hidup manusia?

    Setelah itu muncullah Plato muridnya yang mulai membedakan antara doxsa dan episteme. Doxsa adalah pendapat pribadi yang belum teruji kebenarannya dan episteme adalah pengetahuan yang sudah diuji kebenarannya.

    Menurut Plato realitas di dunia ini hanyalah bayang-bayang, pantulan, fotokopian, maya, dari dunia yang sebenarnya. Dunia yang sesungguhnya adalah dunia “idea” yang tidak dapat berubah dan diubah.

    Dunia realitas ini sering kali berubah dan tidak menetap. Jadi esensinya adalah dunia “idea” dan bukan realitas. Aristoteles (384-322 sM) berbeda pendapat dengan gurunya Plato.

    Menurutnya dunia yang sesungguhnya adalah dunia realitas (esensi itu adalah realitas). Dunia realitas itu bisa dijelaskan dengan hukum causalitas dan abstraksi sementara dunia idea adalah dunia utopia yang tidak jelas keberadaannya apakah ada atau tidak. Sebab tidak bisa diverifikasi exitensinya.

    Menurut Aristoteles manusia adalah animal rasionale; animal simbolicum; homo faber (mahluk pekerja); homo ludens (mahluk yang suka bermain).

    Filsafat disebut juga sebagai ilmu yang merupakan bagian dari pengetahuan atau salah satu khazanah pengetahuan. Mengapa filsafat penting? Karena dunia manusia sekarang ini semakin ditentukan oleh IPTEK. Hampir dalam segala hal, mulai dari pola pikir, cara hidup dan kebutuhannya.

    Dapat dikatakan bahwa teknologi itu sudah menjadi bagian dari hidup manusia. Akibatnya muncul berbagai praktek pendewaan terhadap ilmu pengetahuan. Pada abad ke 18-19 muncul aliran Scienticum (Saintisme) yaitu ideologi yang berlebihan.

    Ideologi ini meyakini bahwa IPTEK adalah satu-satunya jalan kebenaran. Maka diluar yang sifatnya ilmiah, tidak benar dan harus dibasmi.

    Filsafat dan Pohon

    Rene Descartes menyamakan filsafat dengan pohon, yang memiliki akar, batang, dan rantingnya. Akar filsafat adalah ontologi atau metafisika (teori atau pandangan tentang kepastian realitas).

    Ilmu metafisika berusaha mewujudkan apakah realitas itu bersifat terbatas (finit) dan tidak terbatas (infinit) dalam ruang dan waktu. Apakah realitas itu imanen (dekat) atau transenden (jauh). Batangnya adalah epistemologi yaitu ilmu tentang pengetahuan. Bagaimana manusia bisa mengumpulkan pengetahuan.

    Apakah manusia pernah tahu sesuatu atau tidak pernah tahu sesuatu atau seluruhnya. Bagaimana menjelaskan perbedaan epistemology dan doxsa. Apakah opini sama dengan pengetahuan? Dan apa itu kebenaran? Kapan kita sadar bahwa kita telah mencapai kebenaran dan mengapa kita jatuh dalam kesalahan, lalu apa bedanya kebenaran dan kesalahan?

    Menurut Descartes filsafat adalah ilmu-ilmu praktis yang bermanfaat dan berguna untuk menyumbangkan kedamaian, dan kesejahteraan manusia. Ada empat cabang filsafat. Pertama, ilmu kedokteran, manfaatnya menjaga, memelihara, dan memulihkan kesehatan manusia. Kedua, ilmu Hukum manfaatnya berusaha mengatur, menertipkan interaksi manusia.

    Mengubah manusia dari lupus (serigala) menjadi socius (teman). Ketiga, ilmu mekanika (iptek) yaitu ilmu hukum alam yang memproduksi barang-barang dari alam. Descartes mengatakan bahwa manusia harus menjadi master of natur.

    Keempat, Ilmu teologi adalah ilmu yang membahas tentang Tuhan dan tujuan akhir hidup manusia.

    Manusia bukan hanya insan duniawi tapi juga insan rohani. Tujuan hidup manusia adalah mengatasi dunia ini agar mampu menuju kepada Allah dan memperoleh hidup surgawi. Itulah sebabnya filsafat disebut sebagai ibu; sumber dan akar dari segala ilmu pengetahuan yang ada.

    Filsafat merangkum dan mengintegrasikan semua pengetahuan manusia. Karena pada zaman Yunani hingga abad 19 filsuf adalah juga seorang ilmuwan.

    Bersambung…

    Penulis: Samuel/DUTA- KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Diramu dari berbagai sumber Buku dan internet

    Jalan Filsafat: Membuka Segala Kemungkinan dan Horizon

    Dokumentas Majalah DUTA - KOMSOS Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA – Semua kemungkinan yang ada diatas dunia dan sejauh masih bisa dipikirkan oleh manusia, maka kemungkinan itu boleh jadi benar-benar ada. Bahkan sejauh imajinasi mampu bayangkan kemungkinan itu pun bisa terjadi. Aneh bukan? Ya begitulah jalan unik dari cara pandang seorang filsuf.

    Melalui filsafat terjadi dentuman reformasi intelektual yang membawa manusia dari pemikiran mistis soal alam semesta menuju ke pemikiran rasional, sistematis, reflektif, kritis, analitis, tentang realitas dunia dan manusia.

    Filsafat juga membuka segala kemungkinan dan horizon baru, karena filsafat tidak terbatas oleh hal-hal yang empiris, sehingga filsafat disebut juga metafisika yaitu melampauhi yang fisik (tampak). Filsafat disebut juga mater scientiarum atau induk ilmu pengetahuan, karena dari filsafatlah lahir segala ilmu yang ada.

    Cinta Kebijaksanaan

    Secara etimologi kata filsafat berasal dari dua suku kata Yunani, philos (cinta) dan sophia (kebijaksanaan/wisdom).

    Jadi, philosophos adalah a lover of wisdom. Arti filsafat ini sering dikaitkan dengan ilmu teologi atau theophilia atau a lover of God. Kata “God” sering diidentikkan dengan “kebijaksanaan”.

    Akibatnya filsafat itu sering disamakan dengan teologi (filsafat melebur dalam teologi karena Allah dianggap sebagai sumber kebijaksanaan).

    Ada beberapa pertanyaan yang muncul seputar filsafat. Bagaimana kita mencintai kebijaksanaan? Socrates menjawab bahwa untuk mencintai kebijaksanaan, manusia harus mengenal dirinya sendiri.

    Dengan kata lain filsafat adalah buah atau hasil dari pengetahuan akan dirinya sendiri (gnothi sealfon). Apa arti pengetahuan akan diri (self to know) dan kapan orang mengenal diri? Sokrates menjawab bahwa seseorang mengenal dirinya kalau ia mengenal batas-batas dirinya sendiri (knowing the limit of the self). Ada tiga batas yang harus disadari oleh manusia.

    Pertama, batas epistemologis yaitu batas pengetahuan. Manusia harus sadar dan dapat membedakan antara benar dan salah, tahu dan tidak tahu, agar manusia mampu mempertanggungjawabkan semua tindakan, perbuatan dan pemikirannya terhadap diri sendiri dan orang lain.

    Kedua, batas etis yaitu batas tindakan, sikap dan perilaku. Manusia harus tahu mana tindakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan, mana yang jahat dan yang baik.

    Ketiga, batas eksistensial yaitu batas sikap atau hidup. Manusia harus sadar bahwa nasibnya tidak hanya ditentukan oleh dirinya sendiri, sebab nasib manusia juga ditentukan oleh faktor-faktor misterius yang ada dalam dirinya yang tidak mampu dipahami olehnya.

    Bersambung….

    Penulis: Samuel- DUTA/ KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Diramu dari berbagai refrensi buku dan internet

    Tiga Pokok dalam Persiapan Misa yang Melampaui batasan kita

    Fr. Paweł Rytel-Andrianik - published on 03/11/23- Aleteia

    MajalahDUTA.Com, Spritualitas- Yesus tidak dihalangi oleh begitu banyak hal yang menghalangi kita … (Jesus isn’t hindered by so many of the things that hinder us …)

    Injil untuk hari Minggu ini adalah Yohanes 4:5-42:

    1. Kata pengantar

    Yesus melintasi batas untuk bertemu orang lain. Bahkan dalam situasi yang ambigu, dia memiliki keberanian untuk melampaui. Dia melakukannya karena cinta. Pertemuan dengan wanita Samaria hanyalah salah satu contohnya.

    2. Kata kunci

    Yesus, lelah karena perjalanannya, duduk di sana di dekat sumur.
    Saat itu sekitar tengah hari.

    Seorang wanita Samaria datang untuk menimba air.

    Yesus berkata kepadanya, “Berilah Aku minum.” […]
    Perempuan Samaria itu berkata kepadanya,

    “Bagaimana Anda, seorang Yahudi, meminta saya, seorang wanita Samaria, untuk minum?”

    Mengapa Yesus tidak boleh berbicara dengan seorang wanita Samaria? Pertama, dalam tradisi Yahudi, laki-laki tidak boleh bertemu sendirian dengan perempuan yang bukan istrinya, apalagi di tempat terpencil.

    Kedua, hubungan antara orang Yahudi dan orang Samaria, sebagaimana dikomentari dalam Injil, sangat tidak bersahabat. Ketiga, wanita Samaria menghindari orang lain, itulah sebabnya dia datang ke mata air pada pukul enam, yaitu tengah hari.

    Tidak ada yang akan datang ke sumur pada waktu terpanas hari itu. Wanita Samaria itu malu dengan situasi hidupnya yang tidak teratur.

    Yesus ingin bertemu dengannya. Dia datang ke mata air pada siang hari untuk bertemu dengan seseorang yang terpinggirkan oleh komunitasnya dan yang mengasingkan diri. Bagi Yesus, setiap orang penting.

    Wanita itu meninggalkan tempayan airnya
    dan pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang,
    “Lihatlah seorang pria yang menceritakan semua yang telah saya lakukan.
    Mungkinkah dia adalah Kristus?”
    Mereka pergi ke luar kota dan mendatanginya.

    Perjumpaan dengan Yesus mengubah segalanya dalam kehidupan seorang wanita Samaria. Yesus mengubahnya. Dia tidak lagi malu pada dirinya sendiri tetapi bersaksi tentang Yesus. Dia menyentuh masalah sulit dalam hidupnya, bukan untuk menindasnya. Sentuhan Yesus pada luka kita membawa keselamatan dan kesembuhan. Wanita Samaria itu meninggalkan kendi dan berlari untuk memberi tahu orang lain tentang Yesus dengan gembira.

    3. Hari ini

    Yesus melampaui lingkungannya untuk mencari seseorang. Dia tidak dihalangi oleh prasangka sosial dan penilaian manusia, atau oleh kehidupan wanita Samaria yang tidak teratur.

    Dan bagaimana cara berbicara dengan orang di luar lingkaran saya? Apakah saya memiliki keberanian untuk membawa kabar baik Injil bahkan kepada orang-orang yang tidak bersahabat dengan saya?

    Contoh Kesetiaan Sejati

    Foto Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjungan (2023)

    MajalahDUTA.Com – Saudara-saudara seiman yang terkasih, saya ingin mengawali tulisan ini dengan beberapa pertanyaan:

    • Mengapa ada suami atau istri yang menyeleweng?
    • Mengapa ada orang yang beristri dua?
    • Mengapa ada suami-istri yang bercerai?
    • Mengapa sering terjadi penghianatan?
    • Mengapa ada pegawai yang dipecat?
    • Mengapa ada orang main kolusi dan korupsi?

    Pertanyaan di atas jawabannya bisa beragam berdasarkan cara pandang masing-masing. Tetapi ada satu hal yang pasti adalah keti daksetiaan.

    Sebenarnya ketidaksetiaan itu telah ada bersama adanya manusia di dunia ini.

    Namun ketidaksetiaan itu bukan berasal dari Allah. Oleh Allah pada waktu diciptakan, manusia dianugrahi kehendak bebas dan kebahagiaan.

    Tetapi dalam kenyataannya, manusia telah salah menggunakan kebebasan itu. Manusia tidak bertanggung jawab, tidak setia pada tugas dan paggilannya. Akibatnya, manusia jatuh dalam kedosaan.

    Saudara-saudara seiman yang terkasih, berdasarkan kalender liturgi, hari ini kita telah memasuki Minggu Masa Prapaska. Dari bacaan Kitab Suci, Mat 4 : 1 -11, Bacaan Pertama Rom 5 : 12-19, bacaan kedua Kej 2 : 9, 3:1-7 (boleh buka sendiri ya) kepada kita diketengahkan dua cara hidup yang saling bertolak belakang.

    Pertama, cara hidup yang mencerminkan kesetiaan. Sedangkan yang kedua, justru sebaliknya. Akibat godaan duniawi manusia lupa akan tugas dan tanggung jawabnya kepada Tuhan.

    Cara hidup yang kedua ini telah berlangsung cukup lama, yaitu dimulai sejak manusia pertama diciptakan.

    Hidup di dunia ini memang penuh tantangan. Terutama godaan atau tawaran yang kerap bertolak belakang dengan kehendak Tuhan.

    Boleh dikata godaan itu datang dari segala arah mata angin. Karena itu kita dituntut untuk mempersiapkan penangkalnya serta ekstra hati-hati menghadapi segala tawaran yang ada. Untuk itu sebagai umat beriman, kita diminta untuk mencontoh cara hidup Yesus.

    Tentang Kesetiaan

    Saudara-saudara terkasih, dalam bacaan Kitab Suci diatas, terkesan bahwa Yesus adalah orang sakti. Dalam situasi terjepit Ia mampu melawan godaan Iblis. Kepada-Nya iblis menawarkan hidup yang super istimewa, Misalnya menjadi seorang konglomerat, Popularitas dan kekuasaan.

    Tetapi dengan syarat, Yesus harus mengikuti perintahnya. Alasan penolakan Yesus hanya satu, yaitu kesetiaan.

    Sebenarnya, sejak semula Yesus diperkenalkan kepada bangsa-bangsa memang sebagai penguasa, seorang raja. Tetapi bukan penguasa atau raja duniawi. Demikian pula dengan kekayaan, Ia adalah sangat kaya. Bahkan kekayaanNya tidak dapat ditandingi oleh konglomerat mana pun di dunia ini.

    Untuk kesekian kalinya Yesus mengingatkan kita. Agar kita tidak menggantungkan hidup pada harta kekayaan duniawi. Melainkan kepada iman dan kepercayaan kepada Bapa di Surga. Karena Bapa merupakan sumber segalanya.

    Demikian juga menyangkut amal bhakti, supaya semuanya diarahkan kepadaNya. Karena itu marilah kita mencontoh cara hidup Yesus. Yaitu demi tugas dan tanggung jawab-Nya kepada Bapa di Surga, la taat dan setia kepada perintah Bapa-Nya. Karena kesetiaan-Nya itu, semua orang menjadi selamat dan dapat bersatu dengan Bapa di Surga.

    Saudara-saudara yang terkasih, pada masa Prapaska ini marilah kita masing-masing bercermin melihat diri sendiri.

    Apakah kita telah setia kepada Bapa di Surga seperti Yesus? “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematianNya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.

    Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.

    Nostalgia Santap Bubur Temu Kangen SMP Aloysius Gonzaga Nyarumkop

    Alumni berbincang bersama mantan Kepala Sekolah dan Gurunya

    MajalahDUTA.Com, Nyarumkop- Kisah masa lalu saat sekolah menjadi topik pembicaraan yang tidak pernah usang. Misalnya, bolos pelajaran matematika,berbagi contekan, pura-pura sakit perut karena tidak mengerjakan tugas, cinta lokasi dengan teman sekelas. Bahkan, bertutur kata soal teman yang tidak hadir ini pun semakin hangat ketika membahas masa-masa indah dengannya.

    Begitu pula dengan para alumni/alumne SMP Santo Aloysius Gonzaga Nyarumkop. Dari beberapa pantauan, mereka berbagi kisah saat-saat menyenangkan, baik suka maupun duka semasa mengenyam pendidikan baik sebagai warga asrama maupun non asrama. Banyak hal baik yang mereka temukan ketika mereka tamat dari sekolah ini.

    Seperti diberitakan sebelumnya, pergelaran Open House dan Temu Kangen Civitas Akademika Santo Aloysius Gonzaga Nyarumkop ini mengambil tema “Menjadi Aloysian yang Kreatif dan Inovatif di Era Digital”(DUTA, 3/3/23) menggelar sejumlah kegiatan dalam memeriahkan Perayaan Pelindung Sekolah, Santo Aloysius Gonzaga.

    Sebagai pemuncak kegiatannya, warga sekolah dan alumni disuguhkan aneka hiburan, penyerahan juara lomba tingkat Sekolah Dasar, dan yang tidak kalah menariknya, para alumni diajak santap malam ala asrama dengan menikmati bubur nasi ala Pak Lelen (trending di masanya) membuat suasana menjadi lebih akrab antar alumni bersama warga sekolah.

    Menurut Isidorus alumni 93, kedepannya kegiatan ulang tahun pelindung sekolah Santo Aloysius Gonzaga ini tetap berkelanjutan dengan melibatkan para alumni, “Kami berterima kasih dan memberikan apresiasi kepada pihak sekolah yang sudah mengemas acara pelindung sekolah dengan melibatkan Sekolah Dasar dengan berbagai perlombaan sebagai akses nilai plus SMP Santo Aloysius Gonzaga Nyarumkop yang berdiri pada tahun 1951 bereksistensi hingga saat ini.

    Isidorus berharap, event Open House dan Temu Kangen SMP Santo Aloysius Gonzaga Nyarumkop menjadi Kalender Permanen tiap tahunnya. Agar para alumni/alumne dapat mengatur jadwal untuk dapat hadir bersama ALOYSIAN berbagi rasa, berbagi informasi, serta muatan edukasi lainnya, tutur alumni asal Bengkayang ini.

    Sementara itu, hal senada juga disampaikan Sumardi alumni angkatan 85 mengucapkan Terima kasih kepada penyelenggara kegiatan, kita (alumni)bergembira dan bersukacita bersama peserta didik lintas generasi dalam perayaan ini.

    Hal serupa juga disampaikan Ajai alumni asal Pusat Damai-Sanggau, merasa bersyukur atas kesuksesan para alumni yang pernah menempa pendidikan di SMP Aloysius Gonzaga Nyarumkop ini. *

    Tentang Homo Laborans

    Foto Karl Marx - Secuplik Selayang Pandang Homo Laborans

    MajalahDUTA.Com, Featured– Dalam Encycklopedia Americana kata labor di definisikan sebagai badan atau jasmani, selain itu juga dikatakan sebagai usaha mental manusia untuk mencapai suatu objek yang lain di luar kesenangannya sendiri.

    Homo laborans adalah istilah yang berasal dari bahasa latin. Artinya secara umum adalah manusia pekerja. Kata homo adalah manusia, dan kemudian ada beberapa kata yang dipadangkan pada homo tersebut. Misalnya homo erectus, homo sapiens dsb.

    Pernyataan ini mau menjelaskan bahwa labor itu adalah sebuah tindakan yang tujuannya bukan ke dalam tetapi ke luar. Tindakan itu bersifat memberi dan melayani. Artinya meskipun dikatakan sebagai pekerja, kata labor bisa dikatakan juga sebagai aktualisasi diri.

    Manusia hanya dapat mengenal potensi dirinya lewat sebuah tindakan yang nyata. Tindakan itu tentu saja mengarah ke pekerjaan.

    Istilah kata labor dalam Ensyclopedia Americana ini selanjutnya dijelaskan sebagai sebuah kata kerja yang memberi tekanan pada kerja keras secara manual (manual oil), tapi tentu saja istilah ini mereduksi istilah labor sendiri, jika hanya sebatas kerja keras secara manual. Istilah lain dapat dimasukkan juga, misalnya sebuah usaha mental.

    Kata usaha telah mengantikan kata labor. Usaha (effort) bisa memiliki banyak pengertian.

    Zaman Industri modern mengutamakan tenaga atau otot (muscle) untuk kepentingannya. Zaman ini mempekerjakan ribuan orang untuk mengelola industri. Pada saat itu perubahan social terjadi. Manusia diarahkan untuk bekerja, menjadi buruh pabrik, karyawan, perakit dan pencipta.

    Sebelum zaman industri ini manusia masih belum bekerja seoptimal mungkin. Mereka masih hidup dalam dunia bermain dan menuntut ilmu pengetahuan. Tetapi justru terjadi sebaliknya di zaman industri, manusia menjadi budak pekerjaan. Hampir sepanjang hari manusia bekerja dan bekerja. Bahkan waktu untuk dirinya dan keluarganya tidak ada lagi karena semua waktunya dipakai untuk bekerja.

    Secuplik Konsep Marx dengan Homo Laborans

    Marx melihat manusia sebagai mahluk material. Ia adalah filsuf materialis. Dia mendefinisikan hidup manusia dalam bentuk materi. Manusia pada umumnya bekerja untuk mencapai dan mengenal identitasnya sebagai manusia.

    Menurutnya secara esesnsial manusia bukanlah mahluk yang mampu mencipta secara rasional, manusia juga bukanlah anak-anak dewa-dewa (Tuhan), atau mahluk politik. Manusia menunjukkan identitasnya berdasarkan pada apa yang dia lakukan. Mereka adalah apa yang mereka lakukan (they are what they do). Dan apa yang mereka lakukan itu adalah untuk mempertahankan hidupnya dari dunia sekitarnya.

    Segala hal tentang mereka, termasuk kesadaran mereka dan pengertian mereka terhadap alam dan kepercayaan mereka kepada Tuhan itu secara langsung adalah hasil dari apa yang mereka lakukan secara fisik dalam hidup mereka sehari-hari. Maka dia mengatakan manusia adalah mahluk pekerja atau homo laborans (a working human).

    Lingkungan itu membentuk hidup manusia masuk ke dalam relasi dengan manusia lain dan memiliki kebebasan kehendak. Relasi itu membentuk manusia untuk bekerja sama dengan yang lain. Hubungan sosial ini juga memperngaruhi opini setiap individu.

    Bahwa opini mereka tidak berdasarkan pada apa yang mereka pikirkan dalam diri mereka sendiri. Tetapi cenderung dipengaruhi oleh lingkungan dan tuntutan pekerjaan.

    Maka apa yang mereka kerjakan, bukan karena keinginan mereka. Mungkin sekali karena keterpaksaan dari kondisi atau situasi yang mendesak. Jika tidak bekerja mereka tidak hidup. Maka jika marx mengatakan bahwa pekerjaan adalah wujud dari aktualisasi diri manusia, menjadi tidak berfungsi lagi. Bahwa pekerjaan sebagai sarana untuk membuktikan identitas manusia sepertinya tidak terpenuhi.

    Pekerjaan itu membuat kita menghadapi kenyataan hidup, kita menjadi aktif, dan kita menyadari diri kita sebagai manusia dan berdasarkan proses hidup yang real kita mendemonstrasikan perkembangan refleksi ideolologi. Ideologi yang kita bentuk dalam pikiran kita menjadikannya sebuah kebutuhan, meluhurkannya sebagai bagian dari proses hidup. Moralitas, religiositas, metaphysika, dan semua ideologi dan bentuk-bentuk pergaulan mereka dibentuk oleh kesadaran mereka.

    Manusia mengembangkan produki materi dan selalu berhubungan dengan materi, materi itu mengubah hidup manusia.

    Melalui pikiran, materi itu diubah. Maka manusia berpikir dan menghasilkan apa yang mereka pikirkan. Hidup tidak ditentukan oleh kesadaran, tapi kesadaran ditentukan oleh hidup.

    Dengan kata lain, identitas manusia dan kesadaran manusia sebagai mahluk yang ber-identitas ditentukan oleh pekerjaan. Melalui materi individu berhadapan dengan hidup yang nyata.

    Sistem Pekerjan di Zaman Modern

    `Manusia teralienasi dari dirinya sendiri baik itu secara pisikis dan psikologi muncul dari situasi sistem pekerjan di zaman modern. Sejak para pekerja tidak mengetahui apa hasil yang mereka kerjakan. Ketika manusia bekerja sebagai perpanjangan tangan dari mesin-mesin.

    Sejak manusia membenci apa yang ia lakukan. Kemudian manusia tidak memiliki hidup mereka. Sejak manusia menjadi bagian dari mesin. Manusia ada untuk dirinya sendiri sebagai objek yang teralienasi.

    Sejak manusia menyadari dirinya sendiri sebagai sesuatu yang dianggap rendah. Mereka tidak mendapatkan cinta atau kesenangan atau bahkan pengakuan. Sebagai mahluk yang teralienasi, para buruh modern, tidak memiliki identitas diri sebagai homo laboran.

    Bagi Marx manusia bekerja untuk mengenal siapa dirinya. Identitas manusia terungkap lewat pekerjaannya. Baginya pekerjaan itu membawa manusia pada kepuasan. Dengan syarat manusia tahu apa yang dikerjakan dan fungsinya untuk apa. Hasil pekerjaan itu menunjukkan identitas manusia sebagai manusia.

    Itulah arti homo laboran bagi marx yang sesungguhnya. Maka manusia ditentukan oleh apa yang dialakukan. Pekerjaan manusia menunjukkan identitasnya sebagai mahluk yang memiliki identitas. Pekerjaan itu memiliki makna penting dalam hidup manusia.

    Manusia Menjadi Dirinya dalam Homo Laborans

    Potret Abstrak Tentang Realitas Kerja Manusia

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA- Manusia menjadi dirinya sejauh dia keluar dari dirinya sendiri. Demikian salah satu kalimat sulit dari filsafat Existensialis yang dipelopori oleh Kierkegard, penduduk Kota Wina, Austria. Homo laborans adalah istilah yang berasal dari bahasa latin. Artinya secara umum adalah manusia pekerja. Kata homo adalah manusia, dan kemudian ada beberapa kata yang dipadangkan pada homo tersebut. Misalnya homo erectus, homo sapiens dsb.

    Kalimat sulit itu akan segera menjadi jelas kalau diterjemahkandengan kalimat populer. Misalnya begini: Seseorang yang bertukang dengan menggunakan materi kayu akan disebut “tukang kayu.” Demi kian juga seorang yang selalu memangkas rambut orang akan disebut: “Tukang pangkas.” Professi itu disebut dengan istilah “keluar dari dirinya sendiri.”

    Begitulah seorang menjadi tukang kayu dengan bertukang kayu. Seorang disebut pemain bola dengan berprofessi bermain bola.

    Filsafat Existensialis sangat menekankan penampilan orang sejajar dengan -pekerjaan dan karyanya. Dan dengan demikian pula filsafat yang dapat disebut filsafat kristen ini sangat menghargai karya tangan manusia.

    Penghargaan kekristenan atas pekerjaan manusia itu tidak dapat disebut berlebihan, karena di dalam Kitab Kejadian sendiri, Yahwe Allah menugaskan manusia berkarya dengan, menaklukkan bumi dan segala isinya.

    Karena itu pula, hakekat manusia begitu menyatu dengan pekerjaannya, sehingga manusia disebut makhluk yang bekerja, atau dalam bahasa latin disebut Homo Laborens.

    Memang pernah dulu, ‘bekerja” (laborare) dianggap hanya sepadan dengan status para budak dan kaum proletariat, karena bekerja itu sama dengan suatu kegiatan yang manual dan kotor serta tidak memerlukan kemampuan intelektualitas.

    Sedangkan kemampuan berfil safat, berfikir dianggap jauh lebih mulia dari bekerja.

    Zaman memanguntunglah, kiniberubah. “Bekerja” merupakan suatu hal yang bergengsi. Orang yang tidak “bekerja” merasa kikuk dan bersalah. Pekerjaan yang paling diinginkan ialah professi yang sedikit ‘kerja”-nya tetapi besar pendapatannya.

    Tetapi kalau hal itu tidak memungkinkan lagi, maka orang mau saja kerja apa saja asal “bekerja”, dan tidak menganggur. Dengan dibayar Rp 30 ribu Orang mau berbuat sesuatu yang nekat sekali pun, walau dia sadar hal itu tidak baik.

    Menggangur

    Sebab momok yang agak menakutkan bagi banyak orang ialah “menganggur” itu. Menganggur dianggap suatu hal yang sangat memalukan, karena selain dianggap kurang bernasib, juga dianggap sebagai suatu manifestasi ketidak mampuan atau impotensia berkarya dan tersingkir.

    Karena itu terkadang nampak anakanak orang kaya yang membuka usaha bukan demi mendapatkan untung atau uang -karena dia sudah terjamin dalam hal itutetapi demi demi sesuatu pengakuan masyarakat dan menenangkan diri dari rasa bersalah atas tuduhan parasit terhadap kekayaan orang-tuanya.

    Namun, walaupun bekerja adalah suatu gengsi, tujuan utama bekerja tidaklah pernah lepas sama sekali dari kepentingan mencari nafkah. Pekerjaan yang disebut professi itu kerap kali dijadikan orang sebagai patokan sperolehan seseorang.

    Professi yang juga sering disebut ‘masa bakti” atau ‘pembaktian” itu sebenarnya kerkapkali tidak mengandung isi apa yang pantas disebut dengan istilah berbakti.

    Karena tujuan utamanya adalah meraup perolehan sebanyak-banyaknya. Karena itu juga tidak heran cukup banyak yang memanfaatkan professinya sebagai sarana untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya dengan cara legal atau tidak. Dan bagaimana kalau seseorang yang merasa dirinya berbakti, atau pekerjaannya dipotong?

    Mungkin sekali orang akan merasakan kehilangan bukan hanya pekerjaannya, tetapi juga identitasnya dan harga dirinya itu mata gelap. Karena pekerjaannya yang disebut ‘laborens” itu ada nafkah, gengsi, dan prestasi dan kebanggaan.

    Dan reaksi atas intervensi dan distorsi atas karier dan professi seseorang tentu ada juga riak gelombang. Manusia memang manusia bekerja, “homo laborens’.

    Tetapi bekerja bukan hanya monopoli manusia, tetapi menurut filsafat INDIA juga dewa dewi MISALNYA DEWA SHIWA YANG DARI SIFAT ASLINYA ADALAH MERUSAK APA YANG SUDAH DIKERJAKAN DEWA-DEWA LAIN.

    Jalan Kemiskinan

    MajalahDUTA.Com, Spritualitas– Jalan kemiskinan dan penyangkalan diri (puasa), kepedulian dan tindakan cinta untuk kemanusiaan yang terluka (sedekah), dan dialog akrab dengan Bapa (doa) memungkinkan kita untuk menjelma iman yang tulus, harapan yang hidup, dan aktif amal.

    Paus Fransiskus

    Mohon Bimbingan Mu “Tuhan”

    DOA HARI INI, MajalahDUTA.Com– Allah Bapa sumber belas kasih, semoga kerahiman-Mu membersihkan dan menguatkan umat-Mu.

    Bimbinglah kami dengan rahmat-Mu, karena tanpa Engkau kami takkan mungkin selamat.

    Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa.

    Amin.

    Bagaimana Santo Yosep adalah model untuk memenuhi kehendak Allah

    Santo Yosep

    MajalahDUTA.Com, Spritualitas- Santo Yosep segera menanggapi panggilan Tuhan dan mengesampingkan ketakutannya untuk merangkul panggilannya. Sikap hati yang terbuka akan rencana Allah itu ditunjukkan dalam kepenuhannya untuk menerima apa yang Allah kehendaki.

    Meskipun dia tidak tahu apakah keputusannya baik untuknya namun dia memilih mendengarkan panggilan Allah dan dikuatkan oleh hati nurani yang menjembatani keberaniannya itu.

    Santo Yosep tetap menjadi teladan sempurna bagi kita dalam mengikuti kehendak Tuhan dalam hidup kita. Meskipun memiliki ketakutan dan kekhawatirannya sendiri, dia mengesampingkan semuanya untuk menanggapi bisikan Tuhan.

    Santo Yosep siap untuk menceraikan Bunda Terberkati dan melanjutkan hidupnya, tetapi ketika malaikat datang kepadanya untuk menyampaikan pesan Tuhan, dia segera mengubah haluan.

    Ketika Yusup terbangun dari tidurnya, dia melakukan seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan kepadanya; dia mengambil istrinya, tetapi tidak mengenalnya sampai dia melahirkan seorang putra; dan dia menyebut namanya Yesus.

    Matius 1:24-25

    Paus Benediktus XVI merenungkan kehidupan Santo Yosep dalam pesan Angelus pada tahun 2006, mengenang bagaimana kesetiaannya kepada Allah merupakan teladan sempurna bagi kita.

    “Dari teladan Santo Yosep kita semua menerima undangan yang kuat untuk melaksanakan dengan kesetiaan, kesederhanaan dan kerendahan hati tugas yang dipercayakan kepada kita.

    Saya memikirkan terutama ayah dan ibu dari keluarga, dan saya berdoa agar mereka selalu dapat menghargai keindahan hidup sederhana dan rajin, memupuk hubungan suami istri dengan hati-hati dan memenuhi dengan semangat misi pendidikan yang besar dan sulit,” ungkapnya.

    Santo Yosep menanggapi panggilan Tuhan dengan hati yang murah hati, rela mengesampingkan rencananya untuk mengejar rencana Tuhan.

    Teladannya mengingatkan kita akan tugas kita untuk tetap setia pada panggilan yang Tuhan telah panggil untuk kita, tidak membiarkan rasa takut menguasai kita, tetapi percaya pada rencana pemeliharaan Tuhan.

    TERBARU

    TERPOPULER