Sunday, June 14, 2026
More

    Belajar Berjalan di Tengah Zaman AI

    MajalahDUTA.Com | Di tengah hiruk-pikuk perbincangan tentang kecerdasan buatan (AI), RP. Andreas Kurniawan, OP memilih memulai refleksinya dengan sesuatu yang tampak sederhana: seorang anak kecil yang sedang belajar berjalan.

    Bukan grafik teknologi, bukan statistik perkembangan AI, melainkan sebuah lukisan karya Vincent van Gogh yang menggambarkan langkah pertama seorang anak menuju pelukan orang tuanya.

    Pilihan itu bukan tanpa alasan.

    Dalam Seminar Nasional PKSN XIII di Pontianak, Romo Andre mengajak peserta melihat bahwa pertanyaan terbesar di era kecerdasan buatan sesungguhnya bukanlah seberapa cerdas mesin dapat dibuat, melainkan apakah manusia masih mampu mempertahankan kemanusiaannya.

    Peserta pelatihan konten PKSN XIII Pontianak saat mendikusikan konsep sebelum eksekusi. Foto: Komsos KAP

    Dari sudut pandang budaya, pertanyaan itu menjadi semakin relevan. Sebab budaya pada dasarnya adalah cara manusia memberi makna pada hidupnya.

    Ia lahir dari perjumpaan, ingatan, simbol, cerita, seni, dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Teknologi dapat membantu menyebarkannya, tetapi tidak dapat menggantikan sumbernya.

    Lukisan First Steps, after Millet yang dijadikan titik berangkat seminar itu menyimpan pesan yang dalam. Van Gogh melukisnya ketika dirinya sedang bergulat dengan kesepian dan luka batin.

    Namun di tengah kerapuhan itu, ia justru memilih menghadirkan keluarga, kasih, rumah, dan harapan.

    Di situlah seni berbicara. Seni tidak sekadar menampilkan bentuk, tetapi menghadirkan jiwa manusia.

    Seperti dikatakan Van Gogh tentang pelukis yang dikaguminya, Jean-François Millet, bahwa Millet melukis “suara jiwa manusia.”

    Dalam dunia yang semakin dipenuhi algoritma, pesan itu terasa semakin penting. AI dapat menghasilkan gambar, menulis puisi, menciptakan musik, bahkan meniru suara manusia.

    Namun kemampuan teknis itu belum tentu menghadirkan pengalaman manusiawi yang menjadi dasar lahirnya kebudayaan.

    Romo Andre mengingatkan bahwa peradaban manusia dibangun bukan hanya oleh kecerdasan, tetapi juga oleh imajinasi bersama.

    Berpose di depan rumah Cagar Budaya Melayu di Kampung Wisata Caping, Kota Pontianak, Jumat (29/05/2026). Foto: Komsos KAP

    Agama, hukum, uang, negara, dan berbagai bentuk kehidupan sosial lahir dari kemampuan manusia mempercayai makna yang dibangun secara kolektif.

    Karena itu, tantangan budaya pada zaman AI bukan sekadar menghadapi teknologi baru. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga ruang bagi refleksi, kontemplasi, dan relasi manusia yang menjadi sumber makna.

    Dalam pemaparannya, Romo Andre menggambarkan paradoks zaman digital. Manusia memiliki ribuan koneksi, tetapi sering kehilangan perjumpaan yang nyata.

    Kita dapat berbicara tanpa henti, tetapi semakin sulit mendengarkan. Kita dapat menjadi viral, tetapi tidak selalu benar. Kita mempunyai banyak pengikut, tetapi kehilangan wajah manusia.

    Fenomena itu tidak hanya soal komunikasi tetapi juga merupakan gejala budaya. Ketika segala sesuatu diukur dengan kecepatan, perhatian manusia menjadi dangkal.

    Ketika algoritma menentukan apa yang kita lihat setiap hari, perlahan-lahan cara berpikir dan cara merasakan kita pun ikut dibentuk.

    Dalam konteks itulah Romo Andre mengutip pesan Paus Leo XIV tentang pentingnya menjaga wajah dan suara manusia. Wajah dan suara bukan sekadar identitas fisik.

    Di dalamnya terkandung keunikan pribadi dan pantulan kasih Allah yang tidak dapat direduksi menjadi data digital.

    Budaya manusia selalu bertumbuh dari wajah dan suara yang nyata. Dari cerita yang dituturkan seorang nenek kepada cucunya.

    Dari lagu yang diwariskan turun-temurun. Dari bahasa daerah yang menyimpan ingatan kolektif suatu komunitas. Dari doa yang diucapkan bersama. Dari tatapan mata yang menghadirkan pengertian tanpa kata.

    AI dapat meniru semua bentuk luar itu. Namun, seperti ditegaskan Romo Andreas, AI tidak memiliki kehadiran, hati nurani, kasih, maupun kesaksian hidup.

    Memang AI dapat menghasilkan ekspresi, tetapi tidak mengalami kehidupan yang melahirkan ekspresi tersebut.

    Karena itu, kebudayaan manusia tidak pernah dapat direduksi menjadi sekadar informasi. Ada dimensi kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman, relasi, penderitaan, harapan, dan cinta.

    Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Agustinus Tri Budi Utomo (Mgr Didik). Foto: Komsos KAP

    Santo Thomas Aquinas menyebutnya sebagai perbedaan antara pengetahuan dan kebijaksanaan. AI mungkin unggul dalam informasi dan kalkulasi, tetapi kebijaksanaan tetap merupakan wilayah manusia.

    Pada akhirnya, seminar ini menghadirkan sebuah refleksi yang sangat budaya sekaligus sangat manusiawi. Di tengah perlombaan membuat mesin semakin pintar, manusia diajak kembali mengingat apa yang membuat dirinya sungguh manusia.

    Mungkin suatu hari AI mampu menciptakan karya seni yang menakjubkan. Mungkin ia mampu menghasilkan gambar yang lebih sempurna daripada pelukis mana pun. Namun seperti penutup refleksi Romo Andreas, hanya manusia yang dapat menemani manusia lain belajar berjalan.

    Dan mungkin, di situlah kebudayaan selalu menemukan rumahnya, pada kemampuan manusia untuk hadir bagi sesama manusia. Bukan sebagai algoritma, melainkan sebagai pribadi yang memiliki wajah, suara, hati, dan martabat.*Samuel (Sumber: Seminar Nasional PKSN 2026 – Rm. Andre, OP).

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles