Sunday, June 14, 2026
More

    Mgr. Samuel Oton Sidin: Orang Muda Harus Bijak dan Kritis Memanfaatkan AI

    MajalahDUTA.Com | Masih hangat peristiwa mengenai pesan Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap tentang kaum muda untuk tetap sadar dalam menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara bijak dan kritis. Pesan tersebut disampaikannya saat ditemui di sela kegiatan Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII Tahun 2026 di Gedung Pasifikus, Pontianak, Jumat (29/5).

    “Untuk orang muda, saya berharap agar dengan bijak dan kritis memanfaatkan AI supaya jangan disesatkan,” kata Uskup Samuel.

    Dia mengajak generasi muda untuk memperhatikan ajaran dan nasihat Gereja mengenai perkembangan teknologi digital, khususnya dokumen Vatikan yang membahas kecerdasan buatan dan martabat manusia.

    “Perhatikan nasihat Bapa Suci dalam Antiqua et Nova yang baru saja dikeluarkan berkaitan dengan Artificial Intelligence. Pokoknya bijaklah memakai AI,” ujarnya.

    Pesan singkat tersebut sejalan dengan tema yang diangkat dalam sesi Deeper Dialog dan Pertemuan Biarawan-Biarawati bersama peserta nasional PKSN XIII 2026, yakni “Menjaga Suara dan Wajah Manusia: Menjadi Imam dan Biarawan-wati yang Otentik di Era AI.”

    Diskusi yang berlangsung di Gedung Pasifikus lantai 2 itu menghadirkan Mgr. Samuel Oton Sidin OFMCap, pakar teknologi informasi Prof. Dr. Richardus Eko Indrajit, dan Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Digital, Rosarita Niken Widiastuti.

    Acara dipandu oleh moderator Jose Marwoto dan diikuti oleh pengurus Bidang Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) serta para biarawan dan biarawati dari berbagai keuskupan di Indonesia.

    Dalam paparannya, Uskup Samuel menekankan bahwa perkembangan teknologi, termasuk AI, membutuhkan kebijaksanaan dan kerja sama berbagai pihak.

    Deeper dialog & Pertemuan Biarawan dan Biarawati – Pertemuan Biarawan Biarawati & Peserta Nasional Menjaga Suara dan Wajah Manusia: Menjadi Imam dan Biarawan-wati Yang Otentik di Era AI | Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap – Prof.Dr.Richardus Eko Indrajit- Rosarita Niken Widiastuti _ Peserta: BP Komsos KWI, para biarawan/I _Moderator : Jose Marwoto (29 Mei 2026) Dokumentasi: Samuel.

    Menurutnya, dampak teknologi sangat bergantung pada niat orang yang menggunakannya serta kemampuan masyarakat untuk memahami dan mengelolanya secara benar.

    “Harus ada kebijaksanaan dan kerja sama. Semua tergantung intensi yang menggunakan dan siapa pendengarnya. Karena ini juga bagian dari pendidikan,” katanya.

    Sementara itu, Prof. Richardus Eko Indrajit menyoroti munculnya berbagai fenomena sosial baru akibat perkembangan teknologi digital dan AI. Salah satunya adalah budaya kepalsuan (curated self), ketika seseorang hanya menampilkan sisi terbaik dirinya demi mendapatkan pengakuan dan validasi dari lingkungan digital.

    Dia mengingatkan bahwa iman Kristiani justru mengajarkan kejujuran dan otentisitas. Allah, katanya, menunjukkan diri-Nya secara nyata melalui peristiwa Inkarnasi dan Salib.

    “Solusi dari krisis antropologi ini bukan membuang atau memusuhi teknologi, melainkan membangun perjumpaan nyata. Yesus tidak pernah berpura-pura dalam bayangannya,” ujarnya.

    Prof. Eko juga mengingatkan bahaya echo chamber dan komunitas-komunitas toksik di media sosial yang dapat memengaruhi cara berpikir dan perasaan manusia. Menurutnya, wajah dan suara manusia memiliki nilai luhur karena manusia diciptakan menurut gambar Allah.

    “Kita tidak perlu takut memperlihatkan wajah dan suara kita yang penuh keterbatasan. Wajah dan suara kita adalah suci karena kita adalah gambar Allah,” tegasnya.

    Dia menjelaskan bahwa teknologi saat ini telah memasuki ranah kognitif dan emosional manusia. Jika dahulu teknologi lebih banyak membantu pekerjaan fisik, kini AI mulai menyentuh aspek berpikir, berimajinasi, bahkan memengaruhi emosi dan pengambilan keputusan manusia.

    Karena itu, literasi digital dan literasi AI menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam manipulasi informasi.

    “Teknologi digunakan untuk menguatkan perjumpaan, bukan mengurangi perjumpaan,” katanya.

    Senada dengan itu, Rosarita Niken Widiastuti (Niken) mengingatkan bahwa teknologi AI saat ini mampu memanipulasi foto, video, dan teks hanya dalam hitungan detik.

    Kemampuan tersebut membuka peluang besar untuk kreativitas, tetapi sekaligus menghadirkan ancaman berupa penipuan, disinformasi, dan hilangnya kemampuan berpikir kritis.

    “ChatGPT sungguh membantu kita, tetapi otaknya tetap harus dari kita. Kita ajak mereka berdiskusi, tetapi tidak menyerahkan proses berpikir kepada AI,” ujarnya.

    Niken menegaskan bahwa AI tidak memiliki hati nurani seperti manusia. Karena itu, hasil yang diberikan AI harus selalu diperiksa dan diverifikasi kembali. Dia juga mengingatkan pentingnya pendampingan penggunaan gawai dan AI bagi anak-anak yang belum mampu membedakan informasi yang benar dan yang salah.

    Dokumentasi: Deeper dialog & Pertemuan Biarawan dan Biarawati – Pertemuan Biarawan Biarawati & Peserta Nasional Menjaga Suara dan Wajah Manusia: Menjadi Imam dan Biarawan-wati Yang Otentik di Era AI | Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap – Prof.Dr.Richardus Eko Indrajit- Rosarita Niken Widiastuti _ Peserta: BP Komsos KWI, para biarawan/I _Moderator : Jose Marwoto (29 Mei 2026) Dokumentasi: Samuel.

    Menurutnya, tantangan terbesar di masa depan adalah ketika manusia secara perlahan menyerahkan kemampuan berpikirnya kepada mesin. Jika hal itu terjadi, kemampuan bernalar dan refleksi manusia dapat mengalami penurunan.

    “Pemikiran adalah karunia yang diberikan Allah kepada manusia. Karena itu jangan sampai kita menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI,” katanya.

    Dialog malam itu, peserta diajak melihat bahwa perkembangan kecerdasan buatan tidak perlu ditanggapi dengan ketakutan. Sebaliknya, teknologi harus digunakan sebagai sarana untuk membangun kehidupan yang lebih baik, memperkuat relasi antarmanusia, dan menghadirkan wajah serta suara manusia yang autentik di tengah dunia digital yang semakin kompleks.

    Pesan utama yang mengemuka sepanjang pertemuan adalah bahwa AI harus menjadi alat yang membantu manusia berkembang, bukan menggantikan martabat, kebebasan, dan tanggung jawab manusia sebagai pribadi yang diciptakan menurut gambar Allah.*Samuel. 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles