Thursday, June 18, 2026
More

    Rahmat Allah Diberikan Cuma-Cuma dan Harus Dibagikan

    MajalahDUTA.Com | Di tengah dunia yang sering diwarnai perpecahan, ketidakpedulian, dan keputusasaan, pesan Paus Leo XIV menjadi pengingat bahwa Gereja dipanggil untuk terus menghadirkan wajah Allah yang berbelas kasih.

    Sebab rahmat Allah bukanlah hadiah yang disimpan, melainkan anugerah yang menemukan maknanya ketika dibagikan kepada sesama.

    Dalam doa Angelus yang dipimpinnya di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Paus Leo XIV mengajak umat beriman untuk merenungkan kembali kelimpahan rahmat Allah yang dianugerahkan secara cuma-cuma kepada manusia.

    Rahmat tersebut, tegas Paus, tidak boleh disimpan untuk diri sendiri, melainkan harus dibagikan kepada sesama melalui kasih, pengampunan, dan pelayanan.

    Bertolak dari Injil Matius (9:36–10:8), Paus mengajak umat melihat dunia dengan cara pandang Yesus. Dalam bacaan Injil itu, Yesus memandang orang banyak yang “lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala” dan hati-Nya tergerak oleh belas kasih.

    Menurut Paus Leo XIV, tatapan Yesus bukanlah tatapan yang sekadar melihat dari kejauhan. Yesus sungguh memandang manusia dengan kasih yang mendalam.

    Dia melihat berbagai penderitaan yang membelenggu kehidupan manusia masa kini, penindasan, kekerasan, luka-luka akibat perang, kehampaan yang lahir dari budaya konsumerisme, keluarga yang tercerai-berai, hingga kaum muda yang kehilangan arah karena terjebak dalam cita-cita dan janji-janji palsu.

    “Yesus melihat dan mengasihi kita,” ungkap Paus. Belas kasih Kristus menjadi tanda kedekatan Allah dengan umat manusia. Dalam diri Yesus, Allah hadir sebagai saudara yang memahami penderitaan manusia sekaligus sebagai Penebus yang ingin memulihkan dan menyelamatkan mereka.

    Karena itulah, ketika melihat banyak orang hidup seperti domba tanpa gembala, Yesus mengutus para murid-Nya untuk menjadi pembawa penghiburan dan harapan. Misi yang dahulu dipercayakan kepada para rasul itu, kata Paus, kini juga menjadi tugas setiap orang Kristen.

    “Umat Kristiani dipanggil untuk membawa kasih di tempat yang penuh kesengsaraan, harapan di tengah penderitaan, dan iman di tengah ketidakpercayaan,” ujarnya.

    Paus juga mengingatkan bahwa Injil menyebutkan nama kedua belas rasul, mulai dari Petrus hingga Yudas Iskariot. Penyebutan itu menunjukkan bahwa para pengikut Yesus pun tetap manusia yang rapuh dan dapat jatuh dalam pengkhianatan. Namun, kelemahan manusia tidak menghalangi daya hidup Injil.

    “Injil tetap menjadi sabda yang hidup dan benar sepanjang zaman. Ia tetap sama, namun selalu muda, segar, dan membebaskan,” kata Paus.

    Ketika Injil diwartakan dan sungguh dihidupi, lanjutnya, kuasa kejahatan akan kehilangan kekuatannya. Kebencian dapat dikalahkan oleh kasih, keputusasaan oleh harapan, dan kematian oleh kebangkitan Kristus.

    Paus Leo XIV kemudian menegaskan bahwa seluruh karya keselamatan Allah adalah anugerah.

    Tidak seorang pun dapat memperoleh rahmat karena jasa atau kemampuan dirinya sendiri.

    Rahmat adalah pemberian Allah yang melampaui segala ukuran manusia.

    “Karunia Yesus diberikan sepenuhnya secara gratis. Nilainya tidak dapat diukur, tidak dapat diperoleh karena jasa-jasa kita, dan tidak dapat dibeli,” tegasnya.

    “Rahmat itu memiliki nama yang indah, Allah Yang Maha Rahim, yang selalu mencari manusia di mana pun mereka berada dan menarik mereka kembali kepada-Nya.”

    Menutup renungannya, Paus mengajak umat untuk menjadi saksi Injil di tengah dunia dengan membagikan pengampunan Allah melalui pelayanan kepada kaum miskin, perhatian kepada mereka yang menderita, serta komitmen untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian.

    Melalui teladan Bunda Maria yang penuh rahmat, Paus berharap setiap orang beriman mampu menjawab panggilan Kristus dengan sukacita dan keberanian, sehingga rahmat yang diterima secara cuma-cuma dapat menjadi berkat bagi banyak orang.*Sam (Vatikan News).

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles