Friday, May 29, 2026
More

    Ketika Bernyanyi, Anda Sedang Berdoa

    MajalahDUTA.Com |  Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan lomba koor gereja yang diikuti oleh sejumlah kelompok paduan suara dari berbagai paroki di Keuskupan Pontianak.

    Kegiatan ini menjadi ajang mempererat persaudaraan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan musik liturgi di gereja. Lomba koor tersebut menghadirkan tiga dewan juri, yakni Lisa A. Riyanto, Pastor Ambrosriadi, dan Clara Vania Avelie.

    Kehadiran para juri disambut hangat oleh seluruh peserta dan umat yang hadir.

    Suasana semakin meriah ketika Lisa dan Avelie turut menyanyikan lagu bersama peserta dan umat.

    Adapun peserta yang mengikuti lomba terdiri dari Paroki Menjalin, Paroki Gembala Baik, Koor Santa Sesilia MRPD Pontianak, dan Koor Fransiskus Keuskupan Pontianak.

    Setiap peserta menampilkan kemampuan terbaik mereka dalam membawakan lagu-lagu liturgi gereja dengan penuh penghayatan.

    Dalam pengumuman hasil perlombaan, Paroki katedral Santo Yosef Pontianak berhasil meraih Juara satu.

    Sementara pengumuman juara lainnya disambut meriah oleh para peserta dan pendukung yang memenuhi lokasi kegiatan.

                                         Tampak Potret Para Dewan Juri(28/5/2026 – Foto: Enjelika)

    Selain menjadi ajang perlombaan, kegiatan ini juga menghadirkan pesan rohani yang mendalam.

    Dalam arahannya, Pastor Ambrosriadi menegaskan bahwa nyanyian liturgi bukan sekadar penampilan seni, melainkan bentuk doa yang dipersembahkan kepada Tuhan.

    Pastor menjelaskan bahwa lagu-lagu liturgi seperti “Tuhan Kasihanilah Kami”, “Gloria”, hingga lagu “Kemuliaan” harus dinyanyikan dengan penuh penghayatan dan ekspresi iman.

    Menurutnya, setiap anggota paduan suara harus menyadari bahwa saat bernyanyi, mereka sedang berdoa dan mengajak seluruh umat untuk ikut berdoa bersama.

    “Ketika kalian bernyanyi, kalian sedang berdoa dan membawa orang lain ikut berdoa,” ungkap Pastor Ambrosriadi, (28/5/2026).

    Dia juga mengingatkan agar syair lagu liturgi tidak diubah sembarangan demi kepentingan musik semata. Pastor menegaskan bahwa musik harus melayani isi syair dan pesan doa yang terkandung di dalam lagu, sehingga makna liturgi dan ajaran gereja tetap terjaga.

    Di akhir arahannya, Pastor Ambrosriadi berharap seluruh pelayan musik gereja dapat menjadikan nyanyian sebagai sarana doa yang hidup, sehingga setiap umat yang mendengarkan dapat semakin dekat dengan Tuhan melalui pujian dan penyembahan yang dibawakan.(*)

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles