Sunday, June 14, 2026
More

    Menjaga Manusia Tetap Manusia di Era AI

    MajalahDUTA.Com | Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) sedang mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berkomunikasi. Dalam hitungan detik, teknologi AI mampu menghasilkan tulisan, gambar, video, bahkan menjawab berbagai pertanyaan yang sebelumnya membutuhkan waktu dan proses panjang untuk dikerjakan.

    Namun, di balik berbagai kemudahan itu, tersimpan tantangan besar bagi dunia pendidikan. Pertanyaan penting yang muncul bukan lagi apakah AI bermanfaat atau tidak, melainkan bagaimana manusia menggunakan teknologi tersebut tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan kebijaksanaan.

    Pesan itulah yang disampaikan Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap saat Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII Tahun 2026 di Pontianak.

    “Untuk orang muda, saya berharap agar dengan bijak dan kritis memanfaatkan AI supaya jangan disesatkan,” ujarnya.

    Pesan singkat tersebut sesungguhnya menyentuh inti persoalan pendidikan di era digital. Kemampuan menggunakan teknologi tidak lagi cukup. Generasi muda juga dituntut memiliki kemampuan memilah informasi, memverifikasi kebenaran, dan mempertimbangkan dampak dari setiap teknologi yang digunakan.

    AI Membantu, Tetapi Tidak Menggantikan Proses Berpikir

    Dalam dunia pendidikan, AI menawarkan banyak peluang. Siswa dapat memperoleh penjelasan pelajaran dengan cepat, mahasiswa dapat mencari referensi lebih mudah, dan para pendidik dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

    Namun kemudahan ini dapat menjadi masalah ketika peserta didik mulai menggantungkan seluruh proses berpikirnya kepada mesin.

    Dokumentasi: Deeper dialog & Pertemuan Biarawan dan Biarawati Pertemuan Biarawan Biarawati & Peserta Nasional Menjaga Suara dan Wajah Manusia: Menjadi Imam dan Biarawan-wati (29 Mei 2026) Foto: Samuel.

    Dalam dialog bertema Menjaga Suara dan Wajah Manusia di Era Kecerdasan Buatan, Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Digital, Rosarita Niken Widiastuti, mengingatkan bahwa AI hanyalah alat bantu.

    “ChatGPT sungguh membantu kita, tetapi otaknya tetap harus dari kita. Kita ajak mereka berdiskusi, tetapi tidak menyerahkan proses berpikir kepada AI,” katanya.

    Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan jawaban yang benar, tetapi membentuk manusia yang mampu berpikir, menganalisis, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

    Jika siswa hanya menyalin jawaban dari AI tanpa memahami prosesnya, maka kemampuan berpikir kritis yang seharusnya berkembang justru dapat melemah.

    Tantangan Literasi Digital

    Pakar teknologi informasi Prof. Dr. Richardus Eko Indrajit menjelaskan bahwa teknologi saat ini tidak lagi sekadar membantu pekerjaan fisik manusia. AI telah masuk ke wilayah yang lebih dalam, yaitu ranah kognitif dan emosional.

    Teknologi kini mampu meniru suara, menghasilkan wajah yang tampak nyata, menciptakan video yang meyakinkan, bahkan menyusun argumen yang terdengar logis.

    Karikatur, Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap. (Gambar olahan by. Samuel)

    Situasi ini membuat literasi digital menjadi semakin penting. Peserta didik perlu memahami bahwa tidak semua informasi yang beredar di internet atau dihasilkan AI dapat dipercaya begitu saja.

    Kemampuan memeriksa fakta, membandingkan sumber, dan mempertanyakan informasi menjadi keterampilan dasar yang harus dimiliki generasi muda.

    Dalam konteks pendidikan, guru dan orang tua memiliki peran penting untuk mendampingi anak-anak dalam menggunakan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.

    Menjaga Keaslian Manusia

    Salah satu tantangan terbesar era digital adalah kecenderungan manusia menampilkan citra yang tidak sesuai dengan kenyataan. Media sosial dan algoritma sering mendorong seseorang untuk hanya menunjukkan sisi terbaik dirinya demi mendapatkan pengakuan dari orang lain.

    Fenomena ini dapat memengaruhi cara generasi muda memandang diri sendiri maupun orang lain.

    Karena itu, Prof. Eko menegaskan pentingnya menjaga otentisitas atau keaslian diri.

    “Kita tidak perlu takut memperlihatkan wajah dan suara kita yang penuh keterbatasan. Wajah dan suara kita adalah suci karena kita adalah gambar Allah,” katanya.

    Bagi dunia pendidikan, pesan ini mengandung makna penting bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari kemampuan menguasai teknologi, tetapi juga dari kemampuan mengenal dirinya sendiri, membangun karakter, dan menjalin relasi yang sehat dengan sesama.

    Pendidikan yang Memanusiakan

    Teknologi akan terus berkembang. AI kemungkinan akan menjadi bagian yang semakin tidak terpisahkan dari kehidupan manusia di masa depan. Namun pendidikan tetap memiliki tugas utama yang tidak dapat digantikan oleh mesin, yaitu memanusiakan manusia.

    Sekolah, keluarga, dan komunitas perlu membantu generasi muda mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, empati, serta tanggung jawab moral. Semua kemampuan tersebut merupakan fondasi yang membedakan manusia dari mesin.

    Karena itu, pesan Mgr. Samuel Oton Sidin menjadi relevan bagi dunia pendidikan saat ini. AI dapat menjadi sahabat belajar yang bermanfaat, tetapi hanya jika digunakan dengan kebijaksanaan.

    Kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan pertumbuhan karakter dan kedewasaan berpikir. Sebab pada akhirnya, yang menentukan masa depan bukanlah kecerdasan buatan, melainkan kecerdasan manusia dalam menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.*Samuel. 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles