Thursday, June 18, 2026
More
    Home Blog Page 104

    Hasil dari Iman adalah Sukacita, Teladan Suci Santo Yoseph

    MajalahDUTA.Com, Denpasar– Hari ini, 19 Maret 2023, umat Katolik merayakan Santo Yoseph, suami St. Perawan Maria. Dalam rangka perayaan tersebut, Romo Hubery Hady Setiawan dan Ibu Susi sebagai host, menghadirkan sebuah podcast spesial di kanal YouTube OK Hari Ini dengan tema “Perayaan Santo Yoseph suami dari Bunda Maria”.

    Dalam podcast tersebut, Romo Hubery Hady Setiawan mengawali pembicaraannya dengan menyapa para pemirsa dan mengajak mereka dalam sebuah cerita tentang Santo Yoseph.

    Romo juga menjelaskan bahwa dalam liturgi Katolik, terdapat perayaan yang merayakan Santo Yoseph dalam tidurnya.

    Dalam diskusi itu, Romo Hady menjelaskan bahwa tidur Santo Yoseph tidak sama dengan tidur nyenyak, melainkan tidur yang dipenuhi dengan pemikiran tentang bagaimana jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Dalam mimpi, Santo Yoseph mendapat pencerahan tentang Maria yang mengandung di luar nikah.

    Dalam mimpinya, malaikat berkata, “Yoseph, perempuan yang akan kamu nikahi itu adalah perempuan yang baik-baik dan kudus. Yang sekarang sedang mengandung Yesus.” Setelah mendapat pencerahan tersebut, Yoseph pun menjemput Maria dan membawanya bersama-sama dalam perjalanan hingga kelahiran Yesus.

    Romo Hady juga menceritakan tentang perjalanan Santo Yoseph dan Santa Maria, di mana Santo Yoseph sangat sederhana, rendah hati, dan taat kepada Tuhan.

    Ia mengurus Yesus seperti darah dagingnya sendiri dan bekerja sebagai tukang kayu yang menghidupi Yesus dan Maria. Dalam kegembiraan bersama, Santo Yoseph menjadi teladan bagi kita semua untuk hidup dengan sukacita dan damai sejahtera.

    Dalam podcast ini, Romo Hady mengajak seluruh pemirsa untuk meneladani cara hidup Santo Yoseph yang sederhana dan taat kepada Tuhan. Romo juga menegaskan bahwa hasil dari iman adalah sukacita dan damai sejahtera.

    Penulis: Samuel- DUTA/KOMSOS KA Pontianak 
    Sumber: Channle Youtube Societas Santa Clara

    Seksi Keadilan & Perdamaian Paroki MBK Gelar Seminar Kesetaraan Gender Dalam Perspektif Teologis, Ajaran Sosial Gereja dan HAM

    Seksi Keadilan & Perdamaian Paroki MBK Gelar Seminar Kesetaraan Gender Dalam Perspektif Teologis, Ajaran Sosial Gereja dan HAM

    MajalahDUTA.Com, Jakarta– Berbicara soal kesetaraan gender, sudah sering menjadi perbincangan hangat di kalangan umat, berbagai masalah maupun kasus mengenai kesetaraan gender juga sudah seringkali terdengar, namun demikian untuk mengenal dan memahami kesetaraan gender dari sudut pandang Teologis, Ajaran Sosial Gereja dan Hak Azasi Manusia, maka pada Sabtu, 16 Maret 2023 bertempat di Auditorium Gedung Triasih lantai 6 Jakarta Barat, Seksi Keadilan & Perdamaian Paroki Tomang, Maria Bunda Karmel Kota Adm Jakarta Barat menyelenggarakan Seminar bertema: Kesetaraan Gender Dalam Perspektif Teologis, Ajaran Sosial Gereja dan HAM.

    Dalam Sambutannya, Ketua Seksi Keadilan dan Perdamaian Paroki MBK, Erasmus Nabith, bahwa acara ini diselenggarakan sebagai salah satu pelaksanaan program karya Seksi Keadilan dan Perdamian Paroki Tomang, yang dilatarbelakangi oleh adanya merespon permasalahan kesetaraan gender, seringkali terjadi di tengah kehidupan umat, akan tetapi seringkali pula umat dihadapkan pada masalah belum adanya pemahaman mengenai kesetaraan gender yang utuh dari sudut pandang teologis, ajaran sosial gereja dan Hak Azasi Manusia, untuk itulah melalui kegiatan seminar ini, pemahaman umat mengenai kesetaraan gender semakin utuh dan lengkap.

    “Kami sangat berharap dengan hadirnya dua narasumber yang sangat berkompeten, maka umat dapat merespon permasalahan kesetaraan gender dan dapat melakukan pencegahan terhadap terjadinya perilaku maupun tindakan yang menciderai kesetaraan gender tersebut, di kesempatan ini kami juga mendoakan untuk kesehatan Romo Adiprasodjo, Pr, yang sedianya beliau hadir di acara ini, namun karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan beliau hadir di acara ini, sehingga kehadiran beliau di ganti oleh Romo Stefanus Tommy Octora, Pr”, ucap Erasmus Nabith.

    Usai penyampaian sambutan dari Ketua Seksi Keadilan dan Perdamaian Paroki MBK, Erasmus Nabith, acara dilanjutkan dengan penyampaian sambutan perwakilan dari Dewan Paroki Harian yang disampaikan oleh Paulus Heru Wibowo Kurniawan.

    Dalam sambutannya, ia mengatakan sangat mengapresiasi penyelenggaraan Seminar ini, sebagai wahana untuk pencerahan, penyampaian informasi dan juga sekaligus mengedukasi umat, agar lebih mengerti serta memahami tentang kesetaraan gender beserta persoalannya, yang seringkali terjadi di tengah kehidupan umat beriman.

    “Kami atas nama Dewan Paroki Harian Gereja Maria Bunda Karmel, sangat mengapresiasi atas kerja keras rekan-rekan Seksi Keadilan & Perdamaian merancang, mempersiapkan hingga menyelenggarakan kegiatan Seminar ini, semoga kegiatan ini dapat bermanfaat bagi umat yang senantiasa ditumbuhkembangkan semangat kasihNya untuk semakin menghormati kemartabatan sesama dalam mewujudkan kesejahteraan bersama.”kata Paulus Heru Wibowo Kurniawan, yang sekaligus membuka dan memandu acara Seminar ini.

    Sementara itu, dalam paparan materinya, Romo Stefanus Tommy Octora, Pr menyampaikan soal pemahaman definisi kesetaraan gender, yang menurutnya pengertian kesetaraan tersebut, belum lah lengkap jika tidak ditambah dengan kata keadilan, sehingga sesungguhnya kata kesetaraan harus disandingkan menjadi keadilan, kemudian menjadi kesetaraan dan keadilan gender, mengapa demikian? Sebab masalah gender merupakan wacana dan pergerakan untuk mencapai kesetaraan peran, hak dan kesempatan antara laki-laki dan perempuan, karena itu juga perlunya pemahaman mengenai seks dan gender menjadi point penting dalam upaya menciptakan keadilan dan kesetaraan gender, sedangkan seks (jenis kelamin) merupakan pembagian sifat dua jenis kelamin secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Misalnya seorang laki- laki yang sifatnya adalah memiliki penis, memiliki jakun, dan memproduksi sperma. sedangkan untuk perempuan memiliki vagina, rahim, dan payudara yang tak lain untuk melahirkan, memproduksi sel telur, serta menyusui. Secara biologis alat tersebut tidak bisa dipertukarkan antara 11 laki- laki dan perempuan. Secara permanen tidak berubah dan merupakan ketentuan dari Tuhan atau yang juga disebut kodrat, dalam masyarakat perbedaan gender malahirkan ketidak adilan gender, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Ketidakadilan gender ini muncul ketika seseorang diperlakukan tidak adil hanya karena alasan perbedaan gender.

    “Namun ketidakadilan gender ini banyak dialami oleh perempuan sehingga banyak masalah ketidakadilan gender yang diidentikkan dengan masalah kaum perempuan, hal tersebut yang membuat laki-laki dan perempuan jauh dari kata setara. Ketidakadilan gender terwujud dalam kehidupan sehari-hari”ungkap Romo Stefanus Tommy Octora, Pr yang baru saja menyelesaikan study doktoralnya di Urbaniana Pontifical University, Rome.

    Lebih lanjut Romo Stefanus Tommy Octora, Pr, juga mengungkapkan meskipun Indonesia sudah memulai Gerakan emansipasi oleh RA Kartini pada beberapa puluh tahun silam, namun kenyataannya ketimpangan Gender Indonesia Tertinggi di ASEAN, Singapura Terendah (menurut data statistik BPS tahun 2021), sedangkan penyebab terjadinya ketimpangan gender itu adalah terjadinya Kekerasan, misalnya terjadi kekerasan dalam rumah tangga, suami menganiaya istri, istri menganiaya suami, dan itu terjadi dipicu oleh kurangnya memahami makna perkawinan yang merupakan salah satu sakramen kudus, yang harus dijaga kekudusannya melalui sikap saling mencintai, menyanyangi dan menghormati kemartabatan maupun peran suami-istri dalam ikatan kudus pernikahan, selain itu , ketimpangan Gender juga dipicu oleh Peminggiran, Stereotip yakni Stereotype itu sendiri berarti pemberian citra baku atau label kepada seseorang atau kelompok yang didasarkan pada suatu anggapan yang salah atau sesat. Namun seringkali pelabelan negatif ditimpakan kepada perempuan, misalnya,perempuan dianggap cengeng, suka digoda, perempuan tidak rasional, emosional, perempuan tidak bisa mengambil keputusan penting, Penomorduaan (Subordinasi) dan beban ganda.

    Sedangkan menurut pandangan Teologis, Romo Stefanus Tommy Octora, Pr mengatakan sejarah persepsi dan penafsiran yang keliru yang akhirnya memunculkan budaya ketidakadilan gender. Dari pembelajaran dan evaluasi sejarah muncullah pembaharuan persepsi dan tafsiran yang bisa menggambarkan Gereja sebagai sarana karya keselamatan Allah bagi semua umat manusia (laki-laki dan perempuan). Setelah Konsili Vatikan II, Gereja senantiasa menekankan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan setara menurut citra Allah (bdk. Kej. 1: 26-27). Keduanya setara martabat, walaupun berbeda secara biologis. Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi, memperkaya, membangun relasi kasih, dan mengembangkan kehidupan, sedangkan di dalam dokumen Gaudium et Spes (9, 29 & 60) menegaskan bahwa Konsili mengakui bahwa, berdasarkan kemampuan fisik yang berbeda-beda dan perbedaan daya intelektual dan moral, semua orang tidak sama. Ada perbedaan alamiah yang tidak dapat diabaikan.

    Namun, perbedaan-perbedaan itu bukanlah alasan untuk menindas atau mendiskriminasi, hal itu juga ditegaskan dalam dokumen Apostolicam Actuositatem yang menyebutkan Kesetaraan martabat sebagai orang-orang terbaptis menjadi dasar bagi kesetaraan dalam pelaksanaan tugas kerasulan antara laki-laki dan perempuan. Walaupun harus ditegaskan bahwa ada perbedaan tugas berdasarkan status dan jabatan dalam Gereja.

    Dewasa ini perempuan makin hari makin berperanan secara aktif dalam seluruh kehidupan masyarakat, maka pentinglah peran serta mereka yang lebih luas juga di dalam berbagai bidang kerasulan Gereia, Adapun di dalam penyelenggaraan FABC di Tokyo (1986), salah satu rekomendasinya menyebutkan 30% perempuan harus duduk dalam semua organisasi dan Dewan Gereja, Memberikan kompensasi yang adil bagi para perempuan yang bekeria dalam lingkungan Gereja, termasuk para biarawati, dan sebagainya.

    “Nah, tapi realitasnya hari ini, anehnya, dalam aktivitas menggereja, saya justru melihat, ibu-ibu yang nampak lebih aktif daripada bapak-bapak, ini saya alami mendatangi kegiatan di lingkungan, ibu-ibu itu membisikan, romo dapat salam dari bapak-bapak, ya, saya terima salamnya semoga bapak-bapak juga bisa meluangkan waktunya aktif mendampingi ibu-ibu dalam aktifitas pelayanan di gereja”tukas Romo Stefanus Tommy Octora, Pr
    Diakhir pemaparan materinya, Romo Stefanus Tommy Octora, Pr mengutip ungkapan yang disampaikan Mater et Magistra; Martabat manusia harus menjadi dasar, sebab dan tujuan dari semua upaya pengembangan masyarakat yang dijalankan oleh lembaga apa dan mana pun.

    Sementara itu, dalam paparan materinya, Dr. Nikolas Simanjuntak, S.H., M.H., mengungkapkan Kajian tentang gender memang tidak bisa dilepaskan dari kajian teologis, karena hampir semua agama mempunyai ajaran dan perlakuan khusus terhadap kaum perempuan. Kesan yang mengemuka, perempuan selalu ditempatkan dalam posisi di belakang laki-laki baik dalam acara ritual keagamaan maupun ranah soisal. Yang sering diperotes oleh kalangan perempuan adalah ketika kaum laki-laki menggunakan dalil keagamaan untuk melestarikan dominasi mereka atas kaum perempuan. Untuk tujuan di luar kepentingan agama melainkan kepentingan pribadi ataupun kelas-kelas tertentu dalam masyarakat.

    Selain itu, adanya persoalan ketimpangan gender yang diwujudkan dalam penindasan kaum perempuan, bukan hanya dalam peminggiran peran perempuan, melainkan juga terjadi dalam budaya, Hal ini disebabkan oleh budaya di masyarakat yang masih lebih menghargai perempuan untuk diam di rumah dibandingkan bekerja, rendahnya pengetahuan dan pemahaman perempuan akan hak-haknya, serta stigma yang masih berkembang di masyarakat bahwa perempuan sebagai kodratnya adalah lemah, dan laki–laki adalah kuat. Kesetaraan gender,

    Dengan demikian tetap diperjuangkan karena maraknya kasus ketidakadilan gender, termasuk di Indonesia, misalnya dalam penyebutan terhadap perempuan dengan sebutan Wanita ( = wani ditata : di dapur, di tempat tidur dsb) maka diperlukan suatu Langkah perubahan dan sekaligus pertobatan untuk tidak lagi menggunakan sebutan yang terkesan melecehkan dan menindas kaum perempuan, dengan tidak menggunakan istilah Wanita melainkan menggunakan istilah Perempuan, karena dengan menggunakan sebutan perempuan, maka itu bermakna mengakui dan menghormati kemartabatan kaum perempuan yang melekat pada Hak Azasi Manusianya.

    “Karena itu sudah saatnya kita melakukan pertobatan untuk selanjutnya melakukan Penegasan bersama sikap bertindak (affirmative) melakukan perlawanan terhadap “penindasan simbolis” baik secara kultural, historis, politis, hukum, sosial, ekonomis, terhadap kaum perempuan”ungkap Dr. Nikolas Simanjuntak, S.H., M.H.yang juga mantan Sekjen DPP ISKA (1997-2001).

    Selain itu, menurut Dr. Nikolas Simanjuntak, S.H., M.H, Kesetaraan gender merupakan salah satu hak asasi kita sebagai manusia. Hak untuk hidup secara terhormat, bebas dari rasa ketakutan dan bebas menentukan pilihan hidup tidak hanya diperuntukan bagi para laki-laki, perempuan pun mempunyai hak yang sama pada hakikatnya, kondisi inilah yang juga harus diupayakan dalam kehidupan umat beriman di gereja Katolik, sehingga tidak terjadi pelanggaran HAM dalam bentuk ketimpangan gender, serta menjadikan tanggungjawab bersama baik di kalangan klerus maupun awam untuk bersama-sama mencegah terjadinya ketimpangan gender dalam bentuk apapun.

    “Secara teologis, tadi sudah disampaikan oleh Romo Stefanus Tommy Octora, Pr, sedangkan dalam sudut pandang Hak Azasi Manusia, jelas sekali bahwa perilaku ketimpangan gender, itu melanggar HAM, dan tidak bisa ditolerir, harus dilawan dan dicegah”tukas Dr. Nikolas Simanjuntak, S.H., M.H

    Dalam acara yang di hadiri sebanyak 70 orang peserta, serta perwakilan dari DPH maupun dari perwakilan Wanita Katolik Cabang Paroki Tomang ini, nampak terlihat antusias peserta mengikuti dan menyimak materi yang disampaikan oleh dua narasumber tersebut, terbukti dengan adanya tiga penanya dan penanggap, yang mengemukakan tanggapannya kepada narasumber, kemudian oleh narasumber direspon dengan jawaban yang lugas, tegas dan tepat.

    Diakhir diskusi ini, Paulus Heru Wibowo Kurniawan sebagai moderator, menyampaikan kesimpulan diskusi, yakni bahwa Suara keberpihakan Gereja terkait permasalahan gender tertuang dalam magisterium dan kebijakan pastoral. Dokumen Gereja yang berbicara tentang perhatian kepada kaum perempuan cukup banyak, antara lain: Mater et Magistra, Gaudium et Spes (GS), dan Apostolicam Actuositate.

    Beberapa dokumen dari Federation Asian Bishops’ Conference (FABC) juga membahas tentang hal ini.

    Sedangkan dalam konteks Gereja Indonesia, KWI mengeluarkan Surat Gembala pada Desember 2004 bertema “Kesetaraan Perempuan dan Laki-Laki sebagai Citra Allah”. Keluarnya Surat Gembala ini menjadi salah satu bentuk ungkapan kepedulian dan dukungan Gereja Katolik Indonesia terhadap perjuangan kaum perempuan untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender.

    Surat Gembala ini menegaskan kembali bahwa Gereja Katolik Indonesia mendukung semua gerakan untuk menghapus berbagai bentuk eksploitasi dan kekerasan terhadap perempuan. Gereja bersedia untuk ikut serta dalam memfasilitasi penyediaan rumah yang aman bagi perempuan dan anak-anak korban kekerasan tanpa memandang agama, golongan, suku, dan aliran politik yang dianut.

    “Sedangkan dalam konteks HAM, seperti dikatakan Pak Nikolas, bahwa ketimpangan gender merupakan Tindakan pelanggaraan HAM yang tidak bisa ditolerir oleh siapapun, karena itu dengan adanya seminar ini yang telah menyampaikan berbagai pengertian maupun informasi masalah gender dan solusi diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran umat beriman untuk membangun Gerakan mencegah terjadinya ketimpangan gender baik di lingkungan gereja maupun di lingkungan di luar gereja, terima kasih”pungkas Paulus Heru Wibowo Kurniawan, yang sekaligus menutup acara Seminar Kesetaraan Gender dalam Perspektif Teologi, Ajaran Sosial Gereja dan HAM ini dengan doa penutup.

    (* ditulis oleh panpel Seminar diselenggarakan oleh Seksi Keadilan dan Perdamaian Paroki Tomang, MBK, Kota Adm Jakarta Barat).
    Sumber: Yatno- Nasional POS

    Doa sebagai Meditasi

    Doa sebagai Meditasi- Dokumentasi DUTA

    MajalahDUTA.Com, Featured– Meditasi adalah sebuah praktik spiritual yang bertujuan untuk mencapai kedamaian, kesadaran diri, dan kebahagiaan. Salah satu bentuk meditasi adalah doa sebagai meditasi.

    Doa sebagai meditasi melibatkan memusatkan pikiran dan hati pada Allah, Sang Pencipta, atau objek spiritual lainnya. Melalui doa, seseorang dapat merenungkan tentang sifat-sifat Allah, meminta bimbingan dan perlindungan, atau memohon pengampunan dosa-dosa.

    Dalam doa sebagai meditasi, tujuan utamanya adalah bukan meminta atau memohon, melainkan mengalami kedekatan dengan Tuhan melalui ketenangan dan ketakjuban. Dalam kondisi meditasi, seseorang mencoba untuk fokus pada hadirat Tuhan dan membiarkan pikiran bekerja secara alami untuk mencapai pengalaman spiritual.

    Konsentrasi dan fokus

    Praktik doa sebagai meditasi dapat memberikan manfaat kesehatan fisik dan mental yang signifikan, seperti mengurangi stres, meningkatkan konsentrasi dan fokus, serta meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan secara keseluruhan. Selain itu, doa sebagai meditasi dapat membantu seseorang merasa lebih dekat dengan Tuhan dan memperdalam hubungan spiritual dengan-Nya.

    Untuk memulai doa sebagai meditasi, ada beberapa langkah yang dapat diikuti. Pertama, pilihlah doa atau mantra yang sesuai dengan kebutuhan spiritual Anda. Kemudian, carilah tempat yang tenang dan nyaman untuk duduk.

    Setelah itu, mulailah dengan bernafas secara perlahan dan dalam, dan fokuskan perhatian pada doa atau mantra yang dipilih. Jangan biarkan pikiran terganggu oleh pikiran atau kekhawatiran lainnya, tetapi biarkan pikiran tetap terfokus pada doa atau mantra selama beberapa menit. Ulangi proses ini setiap hari selama beberapa menit.

    Dalam praktik doa sebagai meditasi, seseorang tidak perlu menjadi ahli dalam meditasi atau memiliki pengetahuan tentang teologi yang mendalam. Yang dibutuhkan hanyalah kepercayaan dan keyakinan pada Tuhan serta kemauan untuk merenungkan-Nya dengan pikiran dan hati yang terbuka.

    Dalam kesimpulan, doa sebagai meditasi adalah sebuah praktik spiritual yang dapat memberikan manfaat kesehatan fisik dan mental, serta membantu seseorang merasa lebih dekat dengan Tuhan. Dengan mengalami ketenangan dan ketakjuban dalam doa, seseorang dapat memperdalam hubungan spiritual dengan-Nya.

    Melibatkan pikiran, imajinasi, emosi dan hasrat

    Dalam konteks yang sama itu, Pastor Peter John Cameron OP dalam tulisannya “Prayer as meditation” diterbitkan pada 03/12/23 juga menjelaskan serupa dengan itu. Katekismus menjelaskan bahwa meditasi “melibatkan pikiran, imajinasi, emosi, dan hasrat”.

    Dia menjelaskan tentang, apakah manusia sedang mencari cara untuk berdoa yang “menerangi pikiran, membuat pemahaman bersinar, mengisi hati dengan sukacita, menenangkan amarah, menghilangkan amarah, mengusir kepahitan dan pikiran jahat, melenyapkan sifat lekas marah, mengusir kemalasan, dan mencairkan pikiran kita? pikiran jahat?” Itu, kata St. Yesaya sang Pertapa abad ke-5, adalah apa yang akan dilakukan meditasi. “Meditasi adalah cermin bagi pikiran dan cahaya bagi hati nurani. Darinya lahir kelembutan yang menghangatkan dan meluluhkan jiwa.”

    Dalam tulisannya juga dikutibnya Katekismus Gereja Katolik yang berbicara tentang meditasi sebagai “pencarian” di mana “pikiran berusaha memahami mengapa dan bagaimana kehidupan Kristiani, untuk mematuhi dan menanggapi apa yang diminta Tuhan” (2705). Meditasi “melibatkan pikiran, imajinasi, emosi, dan hasrat” untuk “memperdalam keyakinan iman kita, mendorong pertobatan hati kita, dan memperkuat keinginan kita untuk mengikuti Kristus” (2708).

    Ketika seseorang bermeditasi, maka ia harus diam dan menenangkan diri, menyerahkan diri ke Hadirat Tuhan. “Meditasi berarti menyadari suatu kebenaran sedemikian rupa sehingga terungkap di depan mata Anda sehingga Anda dapat menembusnya” (L. Giussani). Karena meditasi “menunjukkan kepada kita apa yang kita inginkan” (St. Bernard).

    Meditasi memerlukan pengingatan kembali dan perenungan. Paus Benediktus XVI mencatat bahwa meditasi “berarti ‘mengingat’ apa yang telah Allah lakukan dan tidak melupakan semua karunia-Nya kepada kita. Meditasi adalah cara di mana pikiran kita melakukan kontak dengan hati Tuhan.” Dan kontak itu memberikan penghiburan dan kekuatan bagi hati kita sendiri.

    Pastor Peter John Cameron OP juga menjelaskan tentang merefleksikan pengalaman meditasi yang mendalam, Hamba Tuhan Elisabeth Leseur, mendorong setiap orang:

    “Meditasi adalah pengumpulan diri ke dalam keberadaan seseorang yang paling dalam ke titik di mana, dalam membungkam hal-hal lahiriah, Tuhan ditemukan. Di sana Anda akan menemukan sumber segala kebaikan, kekuatan, dan keindahan—Tuhan. Di sana Anda akan memahami kelemahan Anda sendiri dan semua yang dapat Anda lakukan di bawah ini demi kebaikan,” tulis Pastor Peter John Cameron OP dalam Aleteia.

    Penulis: Samuel- DUTA/KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Olahan dari Aleteia 

    Kehadiran ChatGPT (Artificial Intelligence) dan Eksistensi Manusia? Dengarkan Pesan Romo Hari Suparwito SJ

    127# BINCANG MOTV "Ngobrolin Artificial Intelligence" bersama Rm. Hari Suparwito SJ

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Bersama dalam BINCANG MOTV “Ngobrolin Artificial Intelligence” bersama Romo Hari Suparwito SJ sebagai narasumber dan Romo Murti SJ sebagai Host dalam podcast MOTV di Channel Youtube SAV- USD (Audio Visual Training and Production Center). Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan kehadiran ChatGPT, teknologi Artificial Intelligence (AI) yang  bisa mengerjakan tugas yang selama ini hanya bisa dilakukan oleh manusia.

    Kemampuannya untuk mengumpulkan informasi dan menjawab dengan cepat pertanyaan yang diberikan membuat banyak orang kagum. Di masa depan diprediksi banyak pekerjaan akan dikerjakan oleh tenaga AI.

    Ada kekhawatiran teknologi Artificial Intelligence akan menggeser eksistensi manusia. Haruskah kita takut dan khawatir dengan kehadiran AI?

    Bincang MOTV kali ini akan mengupas tentang Artificial Intelligence (AI) bersama dengan Romo Hari Suparwito SJ, dosen Teknologi Informatika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

    Menurut Romo Hari SJ, Artificial Intelligence merupakan teknologi yang diciptakan oleh manusia yang keberadaannya bisa dipergunakan untuk kebaikan manusia.

    Kehadirannya semestinya menjadi tantangan bagi kita untuk semakin menjadi manusia. Semakin menumbuhkan aspek moral dan etika, empati dan kepedulian. Aspek-aspek yang tidak dimiliki oleh Artificial Intellegence.

    Jadilah Manusia seutuhnya

    Memasukin pertengahan diskusinya, Romo Hari SJ secara terang-terangan memberikan komentar tentang keberadaan AI maupun apapun teknologi dari dulu sampai sekarang selalu memiliki dua sisi. Apakah teknologi itu menguntukkan atau apakah teknologi itu bisa merugikan.

    “Saya selalu punya pikiran begini, kalau saya mau bicara tentang teknologi, itu kedepan misalnya sekarang itu komputer atau manusia? Bukan begitu,” kata Romo Hari SJ.

    Dia menegaskan bahwa jika boleh dikatakan kedepan, kalimat Romo Hari SJ akan mengubahnya menjadi kalimat “sekarang itu, atau kedepan itu adalah manusia dan komputer. Jadi artinya, kalau saya memakai ‘dan’ maka itu bukan sebuah ancaman, justru itu bagaimana kita memanfaatkannya,” kata Romo Hari SJ menjawab pertanyaan kekhawatiran tentang AI ke depan.

    Menurut Romo Hari SJ, orang-orang yang terancam adalah orang-orang yang tidak mau berubah. Lalu,” lanjut Romo Hari, supaya tidak terancam jadilah manusia”.

    “Mengapa saya katakan itu? AI sampai sekarang belum mempunyai emosi. Itulah yang membedakan manusia dan teknologi,” kata Romo Hari SJ sembari senyum lebar menjawab masalah tersebut.

    Dia juga menganalogikan secara teknis dalam bidang guru dan dosen,  Romo Hari SJ menegaskan untuk tidak menjadi pendidik yang ‘robot’, itu pasti dihantam oleh AI. Menurutnya yang paling penting adalah menjadi guru atau pendidik yang empati, dosen yang bisa mendekati anak-anak “kalau di Sanata Dharma itu ya berarti cerdas humanis,” tambah Romo Murti SJ sebagai Host dengan gelak tawa wawancara.

    Romo Hari SJ juga menggarisbawahi keterangannya yang menyangkut pola yang tidak AI miliki, sebagai pembeda dari AI dan manusia. Contoh konkret adalah bekerja dengan pekerjaan-pekerjaan yang berulang kemungkinan besar kedepan akan digantikan AI.

    Romo mencontohkan juga misalnya seorang perawat yang bekerja dengan penuh perhatian itulah yang tidak bisa digantikan oleh AI, kemudian akhirnya kata teknologi ‘dan’ manusia itu berjalan bersama di dalam kehidupan bermasyarakat.

    Menutup artikel ini, ada yang menarik dari kutipan kata Romo Hari SJ, dalam durasi yang ke 20 s/d 08 detik dan video seterusnya. Dia menggarisbawahi kalau misalnya robot sampai pada titik dimana kemampuan teknologi yang sudah bisa mendeteksi aroma dan perasaan tertentu seperti kita manusia. Sekarang kembali kemanusianya lagi, karena bagaimanapun juga kecerdasan buatan itu manusia yang menanamkannya ke sana.

    “Justru mereka dikatakan kecerdasan buatan karena mereka itu meniru kita. Ingat lho jangan kita yang meniru robot. Lalu persoalan akan kembali ke manusianya,” kata Romo Hari SJ.

    AI tak akan bisa menggantikan manusia

    Melihat obrolan dalam kanal Yotube ini, ada nilai-nilai yang bisa kita petik bersama-sama. Paling tidak garis besarnya bisa kita katakan bersma-sama bahwa keberadaan AI tidak akan bisa menggantikan keberadaan eksistensi manusia sebagai manusia yang utuh.

    Oleh karenanya, seturut apa yang ditegaskan oleh Romo Hari SJ, jadilah manusia jangan jadi robot. Sebab robot dalam hal ini AI menjiplak dan mempelajari data-data yang manusia berikan dari hasil kreasi manusia bukan malah sebaliknya manusia yang menjiplak apa yang disuguhkan oleh AI. Semoga!!!

    Penulis: Samuel- DUTA/KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Podcast- 127# BINCANG MOTV “Ngobrolin Artificial Intelligence” bersama Rm. Hari Suparwito SJ

    Ini adalah salah satu doa tertua untuk St. Joseph

    Renata Sedmakova / Shutterstock

    MajalahDUTA.Com, DOA– Doa kepada St. Joseph ini berasal dari abad ke-4 atau ke-5.

    Sementara devosi kepada St Yosef dapat ditelusuri kembali ke Gereja mula-mula, hanya ada segelintir doa dan gereja yang dipersembahkan kepadanya selama milenium pertama.

    Salah satu doa tertua untuk St. Joseph adalah prasasti singkat satu kalimat yang ditulis dalam bahasa Yunani.

    Buku abad ke-19, The Life and Glories of St. Joseph, mengenang doa singkat ini.

    Prasasti Yunani yang ditorehkan pada sebuah permata dari abad keempat atau kelima yang diungkapkan oleh Cavedoni berbicara banyak tentang keyakinan penuh kasih yang diberikan kepadanya oleh orang-orang Kristen mula-mula.

    Demikianlah bunyinya, “Wahai Yusuf, bantulah aku dalam pekerjaanku dan berilah aku rahmat.”

    Ini adalah salah satu dari sedikit doa yang dapat dilacak dengan pasti ke abad-abad awal Gereja, dan merupakan bukti bahwa devosi kepada St. Yosef hadir di antara orang-orang Kristen pertama.

    Penulis: Samuel – DUTA/KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Aleteia, Philip Kosloski – diterbitkan pada 17/03/23

    Uskup Agustinus: Gereja Sangat Peduli dengan Kalian TNI & Polri di Kalimantan Barat

    Pastor Yos Bintoro wawancarai Uskup Agustinus- Pagi hari di Gedung Pusat Pastoral Keuskupan Agung Pontianak dengan latar Gereja Katedral Santo Yoseph Pontianak pada Rabu15/03/2023

    MajalahDUTA.Com, Pontianak– Rabu pada 15 Maret 2023 sebelum keberangkatan Rombongan Kardinal Ignatius Suharyo, Pastor Yos Bintoro sempat mewawancarai Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus terkait pesannya kepada umat Katolik TNI dan Polri di Kalimantan Barat.

    Berdiri dilantai 7 Gedung Pastoral Keuskupan Agung Pontianak dengan latar Gereja Katolik Santo Yoseph Katedral Pontianak, video Pastor Yos Bintoro yang berdurasi 2 s.d 42 detik itu sarat akan harapan Uskup Agustinus kepada generasi muda khususnya untuk umat Katolik TNI dan Polri di Kalimantan Barat.

    Dalam cuplikan singkat itu Pastor Yos mengawali dengan sapaan pagi untuk netizen dan mengucapkan salam sehat berlimpah berkat “bersama saya dan Uskup Keuskupan Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus,” kata Pastor Yos.

    Pastor Yos juga sekalian menunjukkan latar yang digunakan yaitu Gereja Katolik Santo Yoseph Katedral Pontianak juga memuji Katedral Pontianak dan dia juga mengaku bahwa “mungkin ini gereja termegah di seluruh Indonesia, Katedral yang dihadirkan oleh Monsinyur Agustinus Agus. Katedral Gereja Santo Yoseph- kebetulan nama saya Santo Yoseph Monsinyur,” kata Pastor sembari membuka podcast singkat pagi hari itu (15/3).

    Dalam pengantar video Pastor Yos Bintoro juga menguncapkan banyak terima kasih dan mengapresiasi bahwa Uskup Agustinus seharian mendampingi rombongan Uskup TNI dan Polri.

    Mulai dari penjemputan ke bandara, mendampingi ke KODAM XII Tanjungpura, juga ikut ke Kapolda Kalimantan Barat dan tentunya menyajikan sajian penyambutan dari santap siang hingga acara ramah tamah usai perayaan ekaristi di malam pada Selasa (14/3).

    Pesan Uskup Agustinus

    “Monsinyur punya pesan kepada para tentara dan polisi seluruh Indonesia. Pesan Monsinyur kira-kira supaya kita yang berkarya di kedinasan dan juga menjaga kedaulatan dan keamanan negara betul-betul memiliki semangat Kristus,” tanya Pastor Yos kepada Uskup Agustinus.

    Momen itu Uskup Agustinus pertama-tama mengucapkan terima kasih atas kunjungan Kardinal sebagai Uskup khusus TNI dan Polri yang beragama katolik.

    Uskup Agustinus juga mengatakan sejak ada tawaran untuk membentuk ditingkat Keuskupan pastor yang khusus untuk umat katolik yang berada di TNI dan Polri sangat disambut baik oleh nya.

    “Karena saya menyadari kelompok ini sangat besar peranannya terutama bagi ketahanan negara, kok gereja sampai sekarang kurang perhatikan,” kata Uskup Agustinus.

    Oleh karenanya, lanjut Uskup Agustinus – beberapa tahun lalu di Pontianak juga didirikan tentu dengan plus dan minus nya. Tetapi menurut Uskup Agustinus paling tidak gerakan itu adalah bentuk kepedulian.

    “Dalam hal ini sebagai Uskup Agung Pontianak, bentuk kepedulian Keuskupan Agung Pontianak terhadap TNI dan Polri yang beragama Katolik. Karena bagaimanapun mereka juga umat kita bahkan peranannya lebih dari umat katolik yang biasa,” kata Uskup Agustinus.

    Lanjut dari itu, Uskup Agustinus berpesan kepada TNI dan Polri yang beragama Katolik khususnya yang ada di Pontianak Kalimantan Barat, untuk tetap yakin dan menegaskan bahwa gereja sangat memperhatikan kelompok itu.

    “Kami mendoakan kalian,” lanjut Uskup Agustinus, kita sekarang sedang mencari bentuk-bentuk gaya pastoral dan kebijakan pastoral seperti apa. Bentuk sekarang yang kita lihat adalah membuka juga Pastor TNI dan Polri. Tentu dengan kekurangan imam ini sesuatu yang menjadi polemik menjadi jelas tetapi kedepan pelayanan menjadi jelas, demikian yang bisa saya sampaikan, Gereja sangat peduli dengan kalian TNI dan Polri.

    Penulis: Samuel – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak
    Copyright: Majalah DUTA Keuskupan Agung Pontianak (Online)

    Kardinal Suharyo: Pelayanan Kasih dan Semangat Cinta Tanah Air

    Foto Bersama Usai Perayaan Ekaristi TNI POLRI di Gereja Katedral Pontianak

    MajalahDUTA.Com- Pontianak, Kunjungan Uskup TNI/ Polri Kardinal Ignatius Suharyo menegaskan tentang Sejarah antara Gereja dan Negara Republik Indonesia tak pernah terpisahkan. Bersama rombongannya, VIKJEN TNI-POLRI Romo Kolonel Sus Yoseph Maria Marcelinus Bintoro, Tim Dewan Pastoral Romo Yohanes Radityo Wisnu Wicaksono, Ketua Tim Dewan Pastoran Keuskupan TNI-POLRI Brigjen TNI Pontius Gunung Sarasmoro, Ketua Tim Dewan Antar Lembaga Kombes Pol Fx. Surya Kumara, Bendahara Keuskupan TNI-POLRI Letkol Laut (S) B.Yules Verne,S.E.,M.Tr.A.P.,CHRMP dan Sekretaris Keuskupan TNI-Polri Kapten Caj Ardedi.

    Kunjungan kedatangan hari Selasa 14 Maret 2023 disambut oleh Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus bersama rombongan tim panitia penyambutan dari Pontianak. Sebagai Uskup Agung Pontianak Uskup Agustinus tidak hanya mendampingi Kardinal dalam Perayaan misa melainkan mendampingi Kardinal Suharyo dalam kunjungan ke KODAM XII Tanjung Pura dan KAPOLDA Kalimantan Barat.

    Sambutan hangat dari KODAM XII Tanjung Pura yang disambut oleh perwakilan dari Pangdam yakni Brigjen TNI Kus Arisena.

    Dalam kunjungan itu, Kardinal Suharyo didampingi Uskup Agustinus menyampaikan salam dan sekaligus bersilahturahmi dengan Pangdam dalam kunjungan kali ini. Kardinal menjelaskan beberapa tahun lalu persisnya 2018 pernah juga diadakan acara yang serupa yaitu perayaan misa ekaristi untuk lingkungan TNI Polri di aula KODAM XII Tanjungpura.

    Kunjungan pertama itu kemudian dilanjutkan dengan santap siang bersama di Keuskupan Agung Pontianak persis di aula Pasifikus (belakang Gereja Santo Joseph Katedral Pontianak). Hingga pukul setengah dua dan kemudian selanjutnya menuju ke KAPOLDA Kalimantan Barat bersilahturahmi bersama Irjen Pol Suryanbodo Asmoro pada siang hari persis pukul 14.00 wib hingga selesai.

    Usai itu, barulah tepat pada pukul 17.30 WIB perayaan ekaristi itu dilaksanakan bersama Uskup TNI Polri Kardinal Ignasius Suharyo didampingi Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus bersama 12 imam yang mendampingi.

    Teladan pengampunan dari Yesus

    Dalam awal homilinya, Kardinal Suharyo mengucapkan terima kasih kepada seluruh imam yang ikut konselebran dan umat sipil yang turut serta memeriahkan perayaan ekaristi pada malam itu (14 Maret 2023).

    “Kehadiran Para Pastor dan umat sekalian pasti membesarkan hati dan menguatkan umat katolik dalam lingkungan TNI dan POLRI dan keluarga dan bagi umat semua,’ ujar Kardinal Suharyo.

    Dalam renungannya Kardinal menegaskan tentang dahsyatnya kasih Yesus yang sempurna. Kardinal Suharyo juga berharap agar setiap insan dapat meneladani sikap pengampunan yang diajarkan oleh Yesus sendiri kepada pengikutNya.

    “Sementara kasih manusia, tidak ada yang sempurna dan kita, dengan cara hidup apapun dan profesi apapun, mempunyai panggilan yang sama yaitu bertumbuh menuju kesempurnaan kasih. Itulah yang diajarkan gereja yang secara resmi. ‘Siapapun kita dengan cara apapun yang kita tempuh dan apapun status kita tujuan kita sama yaitu bertumbuh menuju kesempurnaan kasih,” tutur Kardinal Suharyo.

    Bersukacitalah dan Bergembiralah

    Manusia memiliki keterbatasan, kasihnya juga terbatas tetap saja mempunyai panggilan menuju kesempurnaan. Itulah yang juga diajarkan oleh Bapa Paus Fransiskus di dalam anjuran apostolik yang berjudul “Bersukacitalah dan Bergembiralah Panggilan Menuju Kesucitan pada Zaman Moderen Sekarang”,” lanjut Kardinal.

    Dalam homilinya Kardinal Suharyo mengutip sebuah cerita yang dicontohkan Paus Fransiskus tentang kesempurnaan kasih. Demikian ceritanya.

    Paus menjelaskan jangan berpikir terlalu tinggi untuk maknai dan memahami panggilan itu. Dia memberikan contoh yang sangat sederhana yaitu Seorang Ibu.

    Seorang Ibu pergi kepasar dan bertemu dengan sahabatnya di pasar, pada satu titik mereka mulai pada kondisi menggosip (menggosip adalah bicara jelek tentang orang lain). Lalu ibu itu katakan tidak, saya tidak mau bicara demikian tentang orang yang dibicarakan.

    Paus katakan satu langkah lebih maju untuk menuju kesempurnaan.

    Kemudian seorang ibu yang sudah lelah, mau mendengarkan anaknya yang sedang memiliki masalah dan mau curhat dengan ibu. Ibunya mendengarkannya. Paus mengatakan satu langkah lagi lebih maju untuk menuju kesempurnaan.

    Selanjutnya ibu itu dikala merasa gelisah dan memiliki beban hidup yang tak ia mengerti, ia mengambil Rosario dan berdoa mohon doa suci dari Bunda Maria, kemudian Paus katakan satu langkah lebih maju untuk menuju kesempurnaan.

    Contoh terakhir yang disampaikan oleh Paus Fransiskus, ketika ibu itu keluar rumah kemudian ia bertemu seorang pengemis dijalan, dan ia menyapanya dengan kalimat yang memberkati, Paus katakan satu langkah lebih maju untuk menuju kesempuraan kasih.

    Kardinal Suharyo mengatakan dalam homilinya dalam kehidupan sehari-hari ada banyak kesempatan manusia untuk menuju kasih yang lebih sempurna.

    Uskup Umat Katolik di Lingkungan TNI dan Polri, Monsigneur Ignatius Kardinal Suharyo didampingi Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus memimpin Perayaan Ekaristi Umat Katolik TNI Polri (Ordinariatus Castrensis Indonesia/OCI) di Pontianak yang diikuti 78 anggota TNI AD beserta keluarga, 102 anggota Polda Kalbar beserta keluarga, 24 anggota Pangkalan TNI AU Supadio beserta keluarga, dan 2 anggota Lantamal XII Pontianak beserta keluarga, Selasa (14/3).

    Semangat Cinta Tanah Air

    Dalam sambutan Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus menyampaikan serangkaian kegiatan Kardinal Suharyo dari kedatangan, Kunjungan ke KODAM dan KAPOLDA.

    Uskup Agustinus juga mengundang Pastor Kolonel Yos Bintoro untuk memberkenalkan rombongan dari Jakarta. Uskup Agustinus juga mengenalkan Pastor Yos juga sebagai imam projo yang dari pertama masuk menjadi prajurit tentara angkatan udara.

    Dalam taklimat sebelum diakhirinya Perayaan Ekaristi, Pastor Yos Bintoro  selaku Wakil Uskup OCI mengharapkan peran serta umat Katolik TNI dan Polri menghidupi paguyuban beriman beriman dalam wadah pelayanan OCI yang ikut mendukung rawat rohani, bimbingan dan pembinaan mental rohani Katolik di lingkungan TNI dan Polri Pontianak.

    Semoga personel TNI dan Polri dapat melaksanakan tugas yang baik dengan berpedoman pada kekuatan bimbingan Tuhan, makin cinta tanah air dan semakin melaksanakan tugas pokok  fungsi dengan mengedepankan semangat belarasa dan jiwa korsa atau esprit de corps,” kata Pastor Yos Bintoro lulusan Sekolah Prajurit Perwira Karir tahun 1997 yang sekarang menyandang pangkat Kolonel Angkatan Udara.

    Pahlawan Nasional Katolik

    Kardinal Suharyo dalam sambutannya juga menyebutkan bahwa salah satu bentuk untuk memperoleh tahapan kasih menuju kesempurnaan lewat profesi yakni menghidupi rasa cinta akan tanah air dan berjuang terus untuk melanjutkan warisan iman yang telah ditorehkan oleh pahlawan nasional Katolik dari Angkatan Darat, Ignatius Slamet Riyadi;  Angkatan Laut, Yos Sudarso;  Angkatan Udara, Agustinus Adisutjipto; dan Kepolisian RI, Karel Satsuitubun.

    “Ketiga pahlawan nasional dan 1 pahlawan revolusi ini melengkapi 2 pahlawan nasional dari rohaniwan Katolik, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ dan awam Katolik, Ignatius Joseph Kasimo,” kata Kardinal Suharyo.

    Menutup sambutanya Kardinal juga mendoakan semua prajurit dan khususnya umat Katolik yang berada di lingkungan TNI POLRI untuk tetap dalam penghayatan hidup yang diemban dalam profesi mereka.  Sebab kekuatan pemberian hidup jiwa raga bagi kedaulatan akan keselamatan bangsa negara ini menjadi teladan sekaligus menjadikan umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri siap mengabdi dan berbakti untuk bangsa dan negara.

    Usai perayaan ekaristi itu kemudian dilanjutkan dengan acara ramah-tamah dan sambung rasa umat TNI Polri dengan Kardinal Suharyo serta para pendamping bersama rombongan Uskup Kardinal terdiri dari, Brigjen (Purn) Pontianus Gunung Sarasmoro (TNI AD), Kombes Pol FX Surya Kumara (Polri), Letkol Laut (S) Yules Verne (TNI AL) dan Kapten Caj Robertus Ardedi (TNI AD). Diikuti oleh sejumlah umat yang turut dalam perayaan ekaristi sore itu, acara ramah tamah diwarnai dengan kemeriahan sajian dari Tim Musik KOMSOS Keuskupan Agung Pontianak.

    Penulis: Samuel – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak
    Liputan: 14 Maret 2023

    Cara Manusia Berfilsafat

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA- Sebenarnya manusia berfilsafat dengan banyak cara. Tidak ada batas dan patokan untuk berfilsafat. Meskipun demikian ada beberapa hal yang sering menjadi ciri khas filsafat dalam mencari kebenarannya.

    Berpikir rasional dan masuk akal adalah langkah awal dalam berfilsafat. Kemudian menghasilkan permenungan yang mendalam terhadap segala yang dipikirkannya.

    Pemikiran tersebut dilengkapi dengan cara berpikir “holistik” yang sifatnya menyeluruh atau universal. Dalam arti, filsafat tidak berpikir dalam satu bidang dan ilmu tertentu, sebab jika demikian maka akan menimbulkan kecenderungan mendewakan yang satu dan menindas yang lain. Seperti yang terjadi di zaman berjayanya sains.

    Para kaum rasionalisme mengklaim bahwa realitas ini bekerja secara rasional, logis, objektif, karena itu rasio manusia mampu memahami segala hal.

    Konsekuensinya adalah segala hal yang gaib, misterius, ilahi atau irasional tidak ada, paling banter “belum diketahui”. Jadi keyakinan religius (agama) atau prinsip “credo quia impossible” (saya percaya karena tidak mungkin [percaya terhadap Allah yang tidak dapat dibuktikan secara rasional]) dianggap omong kosong.

    Filsafat mencoba mencegah cara-cara berpikir seperti ini yang menganggap bahwa yang benar hanyalah yang memiliki standar-standar yang jelas, dalam arti “clara et distincta” (jelas dan tegas).

    Cara berpikir seperti ini cenderung mereduksi arti kehidupan itu sendiri. Segala hal yang ada di dunia ini tidak dapat dipahami hanya secara rasional saja. Ada banyak hal yang tidak dapat dilihat secara rasional juga tapi nyata dan dapat dirasakan.

    Maka muncullah tokoh-tokoh filsafat yang menentang dominasi sains.

    Misalnya F Nietszche mengatakan bahwa sains adalah upaya keras untuk mendasarkan segala hal secara harafiah dan logis, tapi defakto sebenarnya tidak lebih dari metafor-metafor yang mati. Karena sains melihat persamaan dalam perbedaan.

    Sains justru memaksakan persamaan dalam hal-hal yang sungguh tidak sama. Maka baginya sains itu mandul. Lihatlah penyimpulan terhadap binatang mamalia, sebenarnya banyak hal yang tidak sama di antara binatang-binatang ini, ikan paus dengan kelinci, yang sama hanyalah sifatnya yang mamalia, tapi sesungguhnya binatang ini sangat berbeda.

    Filsafat juga menggunakan metode “hermeneutik filosofis” yaitu berfilsafat dengan cara menafsir.

    Heidegger mengatakan bahwa hidup manusia adalah menafsir, sebab tidak ada di dunia ini yang tanpa tafsiran, bahkan manusia tidak dapat hidup tanpa menafsir.

    Setiap tafsir selalu mengandung pra-pemahaman; pra-sangka, dan istilah pra- inilah yang memungkinkan penafsiran. Sebuah objek dapat menimbulkan banyak penafsiran bagi setiap orang yang memandangnya.

    Oleh karena itu segala hal itu hanyalah tafsiran yang suatu saat akan disangkal oleh tafsiran yang lain. Contoh yang jelas akhir-akhir ini adalah planet Pluto yang dieliminasi dalam lingkungan tata surya.

    Maka sains bukanlah pengetahuan murni tanpa pra-sangka. Sains hanyalah salah satu bentuk cara berpikir.

    Sebenarnya banyak hal di dunia ini yang sifatnya “Lebenswelt” artinya kesatuan dasar berpikir manusia dan realitas itu, pada dasarnya inarticulate exhaustively, tidak bisa dirumuskan secara total.

    Akhirnya dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah sebuah proses pencarian identitas mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (alam semesta). Dan ini hanya dapat diperoleh lewat permenungan dan abstraksi.

    Di mana manusia ke luar dari kesempitan berpikir dan berani berpikir secara universal atau global. Segala hal dilihat dalam perspektif mendasar.

    Apa esensi dari segalanya dan untuk apa itu ada serta mengapa dia ada dan hubungannya dengan keberadaan manusia.

    Penulis: Samuel- DUTA/KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Berbagai sumber, buku Filsafat yang diramu

    Asalan yang Mendorong Manusia selalu bersentuhan dengan Filsafat

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA– Manusia berfilsafat karena manusia ingin tahu rahasia alam semesta dan segala peristiwa yang ada di dalamnya. Why is there something rather there nothing (mengapa ada sesuatu dan bukannya ketiadaan semata).

    Mengapa ada manusia; mengapa ada kematian; penderitaan; ketidakadilan; kejahatan? Kemudian pertanyaanya berlanjut “Apa penyebab adanya segala sesuatu? Apa penyebab penderitaan dan keberadaan manusia?

    Setelah itu manusia mulai bertanya “apa arti segala sesuatu?” apa arti perang, penderitaan, hidup manusia, kedamaian, kematian dsb.

    Dalam wilayah ini manusia tidak lagi bertanya mengenai “penyebab” tapi “mengapa ada kematian” Apa tujuan hidup?

    Apa makna di balik penderitaan? Apakah penderitaan itu memanusiakan manusia atau sebaliknya?

    Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong manusia untuk berfilsafat.

    Kehausan manusia untuk mencari jawaban terhadap segala hal yang dipertanyakannya. Dalam berfilsafat manusia tidak terbatas terhadap hukum-hukum alam dan kitab suci manapun.

    Berbeda dengan ilmu-ilmu empiris yang membatasi dirinya pada bidangya masing-masing seturut hukum dan aturannya.

    Sementara filsafat selalu mencari kemungkinan-kemungkinan baru yang memungkinkan penciptaan-penciptaan baru.

    Baca Lanjutannya….

    Penulis: Samuel- DUTA/KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Berbagai sumber, buku Filsafat yang diramu

    Kapan ya kita berfilsafat?

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA- Hampir semua refrensi menyebutkan filsafat bermula dari sebuah pertanyaan. Ada beberapa hal yang merangsang manusia untuk berfilsafat diantaranya: ketakjuban.

    Saat manusia takjub terhadap peristiwa-peristiwa alam, gaib dan segala sesuatu yang memungkinkan manusia untuk kagum.

    Bagi Plato pengamatan terhadap bintang-bintang, matahari, dan lagit merangsang manusia untuk melakukan penelitian. Padangan ini semakin diperjelas oleh Aristoteles. Menurutnya karena takjub manusia mulai berfilsafat.

    Sementara Immanuel Kant ( abad 18) menyatakan bukan hanya takjub terhadap alam ini, melainkan dia juga terpukau memandang hukum moral dalam hatinya, sebagaimana tertulis di batu nisan kuburannya: coelum stellatum supra me, lex moralis intra me (bintang di langit di atasku, tapi hukum moral ada di bawahku).

    Selanjutnya masuk pada kondisi ketidakpuasan. Ketidakpuasan boleh dikategorikan bagian ke dua dari sebuah fenomena dimulainya manusia berfilsafat.

    Hal itu didasarkan saat manusia tidak puas akan jawaban dari mitos-mitos terhadap segala pertanyaanya. Oleh karenanya manusia mulai mencari jawaban yang meyakinkan dirinya dan bersifat pasti. Akhirnya lambat laun manusia mulai berpikir secara rasional.

    Akibatnya akal budi mulai berperan. Maka otomatislah filsafat melahirkan ilmu baru dari pertanyaan yang tak memuaskan itu.

    Disisi lain biasanya sebuah sistem yang mapan pun dapat dirobohkan dari pertanyaan-pertanyaan baru oleh filsafat. Karena filsafat selalu dimulai dengan hasrat bertanya.

    Hasrat bertanya membuat manusia mempertanyakan segalanya. Pertanyaan-pertanyaan yang diwujudkan itu tidak hanya sekedar terarah pada wujud sesuatu, melainkan juga terarah pada dasar dan hakikatnya.

    Inilah salah satu yang menjadi ciri khas filsafat. Mempertanyakan segala sesuatu dengan cara berpikir radikal, sampai ke akar-akarnya, tetapi juga bersifat universal.

    Setelah hal yang luar biasa, ketidakpuasan dan hasrat sudah dijawab, masih ada satu lagi poin pokok yang memacu dimulainya sebuah aktivitas berfilsafat yakni keraguan.

    Pertanyaan yang diajukan untuk memperoleh kejelasan yang pasti pada hakikatnya merupakan suatu pernyataan tentang adanya atau apriori (keraguan atau ketikdakpuasan dan kebingungan) di pihak manusia yang bertanya.

    Keraguan ini merangsang manusia untuk terus bertanya. Kemudian menggiring manusia untuk berfilsafat.

    Bersambung…

    Penulis: Samuel- DUTA/KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Diramu dari berbagai sumber (buku & Internet), diskusi

    TERBARU

    TERPOPULER