Friday, June 19, 2026
More
    Home Blog Page 106

    Pembinaan Peserta Didik Katolik Kota Singkawang

    Kementerian Agama Republik Indonesia Kota Singkawang melalui biro Penyelenggara Katolik/BIMAS Katolik

    MajalahDUTA.Com, Singkawang- Kementerian Agama Republik Indonesia Kota Singkawang melalui biro Penyelenggara Katolik/BIMASKatolik mengadakan kegiatan pembinaan peserta didik Katolik Tingkat Sekolah Dasar, Menengah Pertama dan Menengah Atas (SD/SMP/SMA) se kota Singkawang 8/03/23.

    Kegiatan dengan tema “Pembinaan Iman sebagai Alur Moderasi dan Toleransi Beragama, dibuka oleh Kepala Kantor Kemenag Kota Singkawang, Drs.H.Muhlis, M.Pd. dalam sambutannya mengajak para peserta didik sebagai insan terpelajar untuk mengilhami nilai-nilai moderasi dan toleransi dalam terapan, baik dilingkungan sekolah maupun di masyarakat.

    Sementara itu, Ketua Panitia, Elisabet Eli Yohanis menjelaskan, dengan terselenggaranya kegiatan tersebut diharapkan mampu merefleksikan kesadaran diri sebagai citra Allah, membangun kebajikan dan menerapkan bermoderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari serta membantu dalam usahanya meningkatkan kehidupan rohani yang lebih baik dan menjadikan Peerta Didik Katolik yang unggul, mampu mengejawatahkan ajaran Iman kristianinya sebagai murid-murid Yesus dimasa revolusi mental sekarang ini.

    Kegiatan selama satu hari ini, menghadirkan narasumber diantara Kepala Kantor Kemenag Kota Singkawang, RD Victorius Reno,Pr.,RP. Yosep Ekatom, OFMCap, dan BNN Kota Singkawang.

    OPEN HOUSE dan TEMU ALUMNI SMP – St. Aloysius Gonzaga Nyarumkop

    MajalahDUTA.Com, Nyarumkop, 3/3/23.– Setiap tanggal 9 Maret dalam kalender liturgi Katolik merayakan Pelindung Santo Aloysius Gonzaga. Aloysius Gonzaga adalah Santo Pelindung Kaum Muda Katolik yang dilambangkan dengan seorang rohaniwan dan bunga Lili.

    Banyak sekolah-sekolah Katolik mengambil nama Santo Aloysius Gonzaga sebagai pelindung sekolahnya. Satu diantaranya adalah SMP Santo Aloysius Gonzaga Nyarumkop-Singkawang. Sekolah dengan Bercirikan religiusitas ini memberikan pelayanan pendidikan sekolah berasrama baik Putra dan Putri serta terbuka bagi masyarakat umum Singbebas (Singkawang,Bengkayang,Sambas) dan kabupaten kota lainnya di Kalimantan Barat.

    Mengambil tema “Menjadi Aloysian yang Kreatif dan Inovatif di Era Digital” akan menggelar serangkaian kegiatan diantaranya kompetisi antar Sekolah Dasar sekecamatan Singkawang Timur, Kecamatan, Monterado, dan Kecamatan Samalantan. Lomba Cura Personalis antar warga Sekolah, dan Temu alumni SMP Santo Aloysius Gonzaga, yang dikenal dengan SMP Timonong di era tahun 70-an.

    Menurut Ketua Panitia, Venansius, kegiatan dilaksanakan selama tiga hari ini (9-11 Maret 2023) melibatkan seluruh warga sekolah dan para orang tua/wali peserta didik.

    Dijelaskan oleh Venansius, harapannya, SMP Santo Aloysius Gonzaga semakin dikenal luas sebagai sekolah pendidikan Katolik terbaik dengan membentuk karakter peserta didik melalu kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

    Salah satu pembinaan karakter tersebut adalah melalui pendampingan Cura Personalis dan implementasi Kurikulum Merdeka untuk pengembangan bakat peserta didik di bidang seni musik dan budaya.

    Harapan selanjutnya adalah dukungan dari alumni berupa ide dan gagasan yg segar dan nyata dialami oleh para alumni sebagai barometer peningkatan mutu layanan pendidikan di SMP Santo Aloysius Gonzaga agar para Aloysian siap bersaing kedepannya terutama sebagai persiapan kita menyongsong ibu kota negara yg tidak jauh dari kita.

    melalui tema Menjadi Aloysian yg Kreatif dan Inovatif di Era Digital, kita mengajak para aloysian untuk melek teknologi dimana saat ini mereka pada halaman buku digital yang menjadi konsumsi masyarakat kedepan sehingga Aloysian juga mampu menghadapi arus teknologi digital yg terus berevolusi di masa yang akan datang.

     

    Dua Romo Diosesan Misa Perdana di Paroki St. Pius X Bengkayang

    Acara Ramah Tamah, Sumber Foto: Oyent Andreas – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Bengkayang – Romo Diosesan yang baru ditahbiskan mengadakan tour Misa Perdana di sejumlah Paroki di Keuskupan Agung Pontianak. Misa Perdana ini dimaksudkan untuk memperkenalkan diri dan mohon restu kepada seluruh umat dalam penggembalaannya. Bengkayang, 28/2/23.

    Di hadiri oleh ratusan umat, Misa Perdana didampingi Pastor Paroki, RD Subandi Selaku Pastor Paroki mengucapkan terima kasih dan bersyukur atas Perayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh dua RD Cristianus Atun dan Yakobus Pagar Witin.

    Baca Juga: Keadilan Ekologis bagi seluruh ciptaan

    “Kami dan beserta Umat Paroki Santo Pius X kepada Keuskupan Agung Pontianak atas peristiwa Misa Perdana ini dan bergembira memperoleh satu Imam baru yang akan berkarya di Paroki Santo Pius. Seperti diketahui Paroki Santo Pius X Bengkayang memiliki jangkauan pelayanan 13 Stasi”.

    Setelah Misa, acara dilanjutkan dengan acara ramah tamah bersama DPP, WKRI, serta umat dan dihadiri oleh Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak. Proficiat!.

    Keadilan Ekologis bagi seluruh ciptaan

    Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus

    MajalahDUTA.Com, Pontianak– “Keadilan Ekologis bagi seluruh ciptaan”. ( Semakin Mengasihi dan Lebih Peduli ).

    Saudara-saudari umat kristiani yang terkasih,

    Pada tgl. 22 Februari 2023,kita merayakan Hari Rabu Abu, hari dimulainya masa prapaskah yang lebih sering dikenal dengan“masa puasa” atau “masa tobat” selama 40 hari. Masa tobat adalah masa dimana kita semua diajak “untuk mengoyakan hati dan berbalik kepada Allah, Pencipta langit dan bumi” (Bdk.Yoel.2:12-18).

    Tobat adalah soal hati namun perlu diungkapkan dengan cara-cara yang nyata bukan hanya secara pribadi tetapi juga secara bersama-sama sebagai Keluarga Besar Umat Allah.

    Tobat diungkapkan dengan doa, pantang-puasa dan amal-kasih yang diarahkan kepada Allah Bapa Sang Pencipta. Bukan untuk pamer apalagi gengsi.

    Tahun ini tema APP Nasional adalah “Keadilan Ekologis bagi Seluruh Ciptaan”.

    Keadilan ekologis berarti adil terhadap sesama manusia (sosial) sekaligus adil terhadap ciptaan lainnya.

    Keadilan ekologis bertumpu pada prisip bahwa seluruh ciptaan saling terhubung dan tergantung satu sama lain.

    Bagi kita umat kristiani kepedulian akan keadilan ekologis bagi seluruh ciptaan adalah bagian dari pewartaan. Dalam Markus.16,15 dikatakan “Pergilah keseluruh dunia dan beritakan Injil kepada segala mahkluk”.

    Rusaknya lingkungan hidup mengakibat “krisis iklim”, dimana cuaca, musim hujan atau musim kemarau tidak bisa diperkirakan kapan akan terjadi. Dibumi Kalimantan Barat ini (mungkin juga untuk seluruh bumi Kalimantan, 3 tahun terakhir ini musim buah pun tidak menentu. Secara nyata ini tentu berdampak pada berkurangnya penghasilan bagi petani-petani  kecil di kampung-kampung, di pedesaan atau di pesisir pantai’.

    Dampak perubahan iklim berdampak pula pada menurunnya kualitas dan kuantias air dan tanah, punahnya keanekaragam hayati, berkurangnya luas dan kualitas hutan, memburuknya kesehatan, serta menurunnya kualitas dan kuantitas lahan pertanian.

    Kita sedih melihat kenyataan bahwa hutan yang  menjadi sumber hidup baik bagi manusia maupun hewan-hewan ( sumber air bersih, kayu untuk bahan bangunan, habitat bagi hewan-hewan baik yang ada didalam air darat dan udara) menjadi rusak akibat diolah dengan tidak memperhatikan aturan yang berlaku dan berkeadilan serta tidak dihargai hak-hak petani-petani asli khususnya yang tinggal dikawasan hutan.

    Bahkan hati kita miris ketika masyarakat miskin  yang tinggal dikawasan hutan dituding sebagai perusak lingkungan/pembakar hutan, yang ditindak secara tidak adil tanpa ada solusi/jalan keluar yang nyata dan berkeadilan serta berkesinambungan. Padahal apa yang mereka lakukan hanya demi sesuap nasi.

    Hati kita miris melihat kenyataan bahwa mereka diasingkan dari tanahnya sendiri yang sudah mereka huni sejak nenek-moyang mereka ratusan tahun yang lalu, seolah-olah tidak diperhitungkan.

    Saudara-saudari umat kristiani yang terkasih.

    Diantara segala ciptaan, manusia adalah satu-satunya mahluk yang diciptakan menurut citra Allah( Kej.1,27).

    Sebagai citra, atau gambar Allah, manusia adalah rekan kerja Allah dalam “mengusahakan dan memelihara ciptaan” ( bdk.Kej.2:15 ).

    Ketika para Missionaris katolik pertama berkarya di bumi Kalimantan, pada permulaan abad ke- 19, yang pertama-tama mereka lakukan selain membuka sekolah-sekolah dan rumah sakit, mereka juga membawa bibit karet unggul di daerah Sejiram, Kabupaten Kapuas Hulu. Mendirikan pelatihan pertanian bagi petani tradisional. Artinya sangat jelas bahwa para missionaries tersebut sudah melihat sangat jauh kedepan bahwa masyarakat yang tinggal di  kawasan hutan, tidak bisa bertahan dengan cara bertani yang tradisional dan memberikan jalan keluar yang nyata agar mereka terbebaskan dari belenggu kemiskinan.

    Perhatian dan kepedulian gereja nyata terhadap masalah-masah sosial-ekonomi sangat dirasakan, bukan hanya oleh orang katolik tetapi masyarakat lain tanpa membeda-bedakan.

    Saudara-saudari umat kristiani yang terkasih.

    Tuhan Yesus karena kasihnya yang tanpa batas, rela menderita dan wafat dikayu salib agar kita, manusia yang penuh dosa ini bisa diselamatkan.

    Kita hidup dan selamat karena kasih Tuhan.

    Dalam masa tobat ini, baiklah kita renungkan, bagaimana kita dapat membalas kasih Tuhan itu.

    Dalam Injil Mateus 25:40 dikatakan “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”.

    Dalam hubungannya dengan tema keadilan Ekologis bagi seluruh ciptaan, sebagai ungkapan kasih kita kepada Tuhan Yesus, maka sangat wajar kita juga dipanggil untuk lebih peduli dan dan lebih mengasih “saudara-saudariku yang menjadi korban dari ketidak adilan dalam “mengusahakan dan memelihara” ciptaan. Mereka ini juga bisa kita golongkan sebagai “saudaraku yang paling hina” karena pada kenyataannya mereka tidak dianggap atau diperhitungkan.

    Tentu ini sesuai dengan perandan kedudukan kita masing-masing dalam masyarakat, baik sebagai pribadi, maupun sebagai bagian dari kelompok-kelompok /lembaga/organisasi/institusi dan lain-lain. Sebut saja misalnya, selain pribadi, bisa juga sebagai keluarga, Paroki, Keuskupan, Lembaga-lembaga Pendidikan dari SD sampai Perguruan Tinggi, Rumah Sakit/Klinik Kesehatan, Lembaga Hidup Bhakti, dunia bisnis, Kelompok-kelompok/Komunitas gerakan.

    Semua diundang untuk lebih peduli dan lebih aktif lagi dalam melindungi alam ciptaan dan saudara-saudara “yang paling hina” yang rentan dan tersingkir akibat “krisis iklim” ini.

    Kita juga dipanggil untuk berani menyuarakan jeritan-jeritan dan membela orang-orang kecil yang menderita akibat kebijakan-kebijakan yang diambil dalam pengelolaan dan pemeliharaan alam ciptaan yang masih jauh dari “berkeadilan”.

    Dalam menjalani masa tobat ini, marilah kita renungkan kembali firman Tuhan ini:

    “Beginilah firman Tuhan: berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Yoel.2,12-13).

    Pontianak, pada Hari Rabu Abu,  22 Februari 2023, Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak.

    Padre Pio, Bernard dari Clairvaux dan Luka Bahu Kristus

    Padre Pio, Bernard of Clairvaux and the Shoulder Wound of Christ

    MajalahDUTA.Com- Dua orang suci yang agung dengan penuh doa, dan dengan rasa sakit, berbakti pada luka Sengsara Kristus, “tidak dicatat oleh manusia …”

    Apa persamaan mistik abad pertengahan St. Bernard dari Clairvaux dan biarawan modern St. Padre Pio? Demikian awalan naskah yang saya peroleh dari Aleteia tentang mistikus Padre Pio, Bernard dari Clairvaux terkait luka Kristus.

    Mereka berdua adalah orang suci, berbagi dalam upah kekal yang telah Tuhan siapkan untuk mereka. Tapi di luar itu, keduanya memiliki pengabdian yang tulus pada Luka Bahu Kristus.

    SAINT BERNARD DARI CLAIRVAUX, alias Santo Bernard merupakan kepala biara dan mistik Prancis yang membantu memperbarui Ordo Cistercian di abad ke-12, menceritakan dalam sejarah Clairvaux percakapan yang dia lakukan dengan Tuhan. Dia berdoa, bertanya kepada Yesus tentang penderitaan terbesarnya yang tidak tercatat; dan Tuhan menjawabnya:

    “Aku memikul Salib-Ku saat Aku memikul Salib-Ku di Jalan Kesedihan, Luka pedih yang lebih menyakitkan daripada yang lain, dan yang tidak dicatat oleh manusia. Hormati Luka ini dengan pengabdianmu, dan aku akan mengabulkan apa pun yang kau minta melalui kebajikan dan jasanya. Dan sehubungan dengan semua orang yang akan memuliakan Luka ini, Aku akan mengampuni mereka semua dosa ringan mereka dan tidak akan lagi mengingat dosa berat mereka.”

    ST PIO OF PIETRELCINA yang dikenal dengan Santo Padre Pio adalah biarawan Kapusin, imam dan mistikus. Ia meninggal pada tahun 1968. Padre Pio dikenal sebagai bapa pengakuan dan orang suci yang selama lebih dari 50 tahun menanggung luka Kristus (stigmata) di tangan dan kakinya.

    Dalam sebuah buku yang diterbitkan dalam bahasa Italia oleh biara St Pio, berjudul Il Papa e Il Frate, penulis Stefano Campanella melaporkan bahwa calon dari St Pio pernah melakukan percakapan yang sangat menarik dengan Karol Wojtyla, calon Paus St Yohanes Paulus II.

    Menurut Campanella, Fr Wojtyla bertanya kepada Padre Pio luka mana yang paling menyakitkan. Fr Wojtyla mengharapkan Padre Pio mengatakan bahwa itu adalah luka di dadanya; tetapi sebaliknya Padre Pio menjawab, “Ini adalah luka di bahu saya, yang tidak diketahui oleh siapa pun dan tidak pernah disembuhkan atau dirawat.”

    Pada tahun 2008, 40 tahun setelah kematian Padre Pio, penulis Frank Rega menulis tentang Padre Pio:

    “Pada suatu waktu Padra [sic] menceritakan kepada Frater Modestino Fucci, sekarang penjaga pintu di biara Padre Pio di San Giovanni Rotondo, Italia, bahwa rasa sakit terbesarnya terjadi ketika dia mengganti kaos dalamnya. Bruder Modestino, seperti Pastor Wojtyla, berpikir bahwa Padre Pio mengacu pada rasa sakit dari luka di dada. Kemudian, pada tanggal 4 Februari 1971, Bruder Modestino diberi tugas menginventarisasi semua barang di sel almarhum Padre di biara, dan juga barang-barangnya di arsip. Hari itu dia menemukan bahwa salah satu kaus dalam Padre Pio memiliki lingkaran noda darah di area bahu kanan.”

    Pada malam itu juga, Bruder Modestino meminta Padre Pio dalam doa untuk mencerahkannya tentang arti kaos dalam yang berlumuran darah itu. Dia meminta Padre untuk memberinya tanda jika dia benar-benar menanggung luka bahu Kristus. Kemudian dia pergi tidur, terbangun pada jam 1 pagi dengan rasa sakit yang luar biasa dan menyiksa di bahunya, seolah-olah dia telah diiris dengan pisau sampai ke tulang bahu. Dia merasa akan mati karena rasa sakit jika terus berlanjut, tetapi itu hanya berlangsung singkat. Kemudian ruangan itu dipenuhi dengan aroma wangi bunga surgawi – tanda kehadiran spiritual Padre Pio – dan dia mendengar suara berkata, “Inilah yang harus saya derita!”

    Lanjut lagi untuk St Bernard dari Clairvaux, setelah menerima pesan dari Kristus mengenai rasa sakit yang dialaminya di bahunya, berusaha untuk mengembangkan devosi kepada Luka Bahu Kristus, dan menulis doa ini:

    Doa untuk Luka Bahu Kristus

    Yesus yang paling pengasih, Anak Domba Allah yang lemah lembut, aku, seorang pendosa yang malang, salut dan menyembah Luka Mahakudus di Bahu-Mu tempat Engkau memikul Salib berat-Mu yang begitu merobek daging-Mu dan membeberkan Tulang-tulang-Mu sehingga menimbulkan penderitaan bagi-Mu lebih besar dari luka lain pada Tubuh-Mu yang Terberkati. Aku memuja-Mu, ya Yesus yang paling berduka; Aku memuji dan memuliakan-Mu, dan berterima kasih kepada-Mu atas Luka yang paling suci dan menyakitkan ini, memohon kepada-Mu dengan rasa sakit yang luar biasa itu, dan dengan beban yang menghancurkan dari Salib-Mu yang berat untuk berbelas kasihan kepadaku, orang berdosa, untuk mengampuni aku semua yang fana dan dosa ringan, dan menuntunku menuju Surga di sepanjang Jalan Salib-Mu. Amin. 

    Meski LANSIA tetap Semangat

    MajalahDUTA.Com, Santa Clara- Siapa bilang lansia tidak berguna? Kalimat disamping ini merupakan sepenggal syair dari Opa yang saya terima dari via WhatsApp dengan mengcover sebuah lagu tembang kenangan yang liriknya diganti sembari memainkan orgen tunggal.

    Salut dan genius. Saya pikir inilah ungkapan yang cocok untuk lelaki Lansia yang tidak disebut namanya itu. Pada 7 Januari 2023 video pendek dari via WhatsApp dengan durasi kurang lebih 1.36 detik itu saya tonton. Tampak dalam video tersebut Opa dengan enjoy dan sedemikian luwesnya memainkan orgen tunggal membawakan lagu  “BALADA PELAUT MELKY GOESLAW, Vol.6 karya Bung Deny. Lagu itu rilisan tahun 70an kalau sekarang kita bilang lagu Tembang Kenangan.

    Harusnya lirik pertama dalam lagu itu; “Siapa bilang pelaut mata keranjang, dan seterusnya……” namun Opa kaca mata dan enerjik itu menyanyikannya dengan lantunan lirik cover khusus Lansia. Terlihat memang video tersebut sudah dibagikan via WhatsApp berkali-kali. Dalam keterangannya sebetulnya itu adalah video dari Tiktok @johansuwandi960.

    Dugaan saya entah itu kakeknya atau sanak keluarganya yang sudah Lansia. Namun itu bukanlah menjadi sorotan utama dalam artikel ini. Video dengan durasi 1.36 detik itu sungguh sarat dengan makna. Liriknya tajam, lugas dan mungkin bisa menyindir generasi muda.

    Tulisan ‘Semangat Opa’di atas video tersebut menunjukkan kualitas semangat dari ‘semangat Opa kaca mata’ itu saat ia muda. Bisa dibayangkan kalau lagu itu sebenarnya adalah sindirian untuk kaum muda saat ini, wow- saya kira sangat pas dijadikan pukulan telak kepada mereka yang menghabiskan masa mudanya dengan berfoya-foya atau ‘mageran’ istilah keren.

    Lirik yang Opa nyanyikan tidak lagi mewakili dirinya sebagai lansia, namun nyanyian itu merupakan simbolisasi dari semangatnya hingga generasi lansia pun tetap semangat. Spirit yang mereka wariskan sungguh bukan sekedar nyanyian biasa, tetapi simbolisasi dari integritas, kejujuran dan pengalaman yang mampu mereka hadirkan lewat lirik pendek itu.

    Mari kita simak lirik yang dinyanyikan Opa hebat itu:

    Siapa bilang lansia tidak berguna,

    Bangun pagi sembahyang, tuk anak cucu

    Siapa bilang lansia hanya hiasan,

    Meskipun tua tetap diperlukan

    Banting tulang sudah sejak remaja

    Meski hujan, meski panas tidak masalah

    Siapa bilang lansia hanya meminta

    Jangan percaya orang punya cerita

    Reff: mengapa harus malu, mengapa haru loyo

    Rambut putih, kulit keriput tidak masalah

    Biar umur tinggal bonus, biar lutut harus dibungkus

    Tapi LANSIA tetap semangat di hari tua.

    Yang menarik di alinea yang terakhir, mungkin pembuat video itu sadar betul dengan kata lansia yang dibuatnya dengan huruf kapital. Jelas pesan video tersebut mau menegaskan bahwa mereka Oma dan Opa sudah melalui masa-masa sulit  di masa lalu mereka. Meskipun lansia apalagi ‘umur tinggal bonus,’ begitu salah satu liriknya, tetapi LANSIA (dengan huruf Kapital), tetap semangat di hari tua.

    Indikasi Perang Intelejen Asing Jelang Pilpres 2024, Harus Di waspadai

    Indikasi Perang Intelejen Asing Jelang Pilpres 2024, Harus Di waspadai

    MajalahDUTA.Com, Jakarta- Pada 2014 silam kedua negara AS dan RRC mendukung Capres yang sama, yaitu Joko Widodo, Incumbent Gubernur DKI Jakarta, akan tetapi Konstelasi politik jelang Pilleg/Pilpres Indonesia 2024 sudah jauh sekali (signifikan) berubah drastis, demikian dikatakan Setyoko Pengamat Politik kepada nasionalpos.com

    “Kini, menghadapi perhelatan Pilpres Indonesia 2024 yang satu tahun ke depan — sepertinya sulit dibuktikan, namun dapat dirasakan adanya indikasi perang intelijen AS versus RRC tersebut.” Ungkap Setyoko

    Menurut Setyoko, AS dan RRC dinilai punya kepentingan dalam Pilpres Indonesia 2024, dirinya menduga 2 negara ini punya kepentingan dan agenda besar menjadikan Indonesia sebagai mitra strategis mereka. AS maupun RRC pasti butuh Indonesia. Itu wajar, karena Indonesia memiliki sumber kekayaan alam yang sangat melimpah.

    Lebih lanjut Setyoko mengatakan Jadi, wajar AS dan RRC punya kepentingan di setiap Pilpres Indonesia, kita bisa lihat 2 periode Presiden Joko Widodo berkuasa, bagaimana dekatnya Indonesia dengan RRC, sementara pada saat yang sama AS belum tentu enjoy/happy melihat kedekatan RI — RRC. AS bahkan menginginkan RI jauhi RRC, dekati Israel. Pada saat kampanye Pilpres 2024 mendatang yang akan berlangsung selama 75 hari mulai 28 November 2023 hingga 10 Februari 2024, dipastikan akan banyak pendapat yang mengatakan akan terjadi perang intelijen dalam Pilpres Indonesia 2024.

    “Beberapa pendapat dari berbagai pihak, mengkhawatirkan tentang kemungkinan keterlibatan badan-badan intelijen, baik itu badan intelijen dalam negeri maupun intervensi badan intelijen asing.”ucap Setyoko

    Setyoko juga mengungkapkan bahwa Yang lebih menggetarkan lagi kata sejumlah pengamat politik/intelijen, ada intelijen asing yang turun tangan dan atau jemput bola ke Indonesia, kabarnya kekuatan-kekuatan asing tersebut, diduga mencoba menarik BIN, TNI, dan Polri untuk mendukung Paslon tertentu. 2024 adalah tahun politik, selain berlangsung Pilpres Indonesia adalah agenda penyelenggaraan terpenting di Indonesia, setelah Pilleg DPR/DPD RI. Kedua agenda tersebut adalah bagian dari implementasi sistem demokrasi yang dianut negara Indonesia.

    “Ihwal penyelenggaraan Pilleg biasanya tak diributkan soal keterlibatan intelijen, namun pada event Pilpres Indonesia 2024 justru kemungkinan perang intelijen asing disebut-sebut lebih riuh terlibat. Banyak yang kemudian menyederhanakan dan atau berspekulasi keterlibatan intelijen baik sebagai organisasi maupun pribadi/personal.” tukas Setyoko.

    Tentu, imbuh Setyoko, sangat disayangkan sesungguhnya menyebut intelijen demikian entengnya, padahal Intelijen bisa didefinisikan, yaitu: a. Intelijen Sebagai Pengetahuan; b. Intelijen Sebagai Kegiatan; c. Intelijen Sebagai Organisasi; Penggunaan ilmu intelijen seperti pembentukan opini, negative campaign memang nampaknya telah digunakan, namun penggunaan black campaign nampaknya belum terlihat. Akan tetapi, dinilai masih dalam tahap yang wajar–bukan sebagai sebuah hasil operasi intelijen dalam lingkup besar yang terencana dengan apik/matang.

    Contoh operasi intelijen yang sukses adalah pola pemenangan Capres Donald Trumph oleh pihak Telik Sandi Rusia pada perhelatan Pilpres AS akhir 2016 silam, yang mana disinyalir kuat bahwa Markas Besar Partai Demokrat, dan E-Mail dari Capres Partai Demokrat Hillary Clinton itu diintersepsi/disadap oleh agen-agen intelijen Rusia.

    “Jadi, soal kemungkinan adanya monitoring serta ikhtiar mempengaruhi dari pihak telik sandi asing sangat memungkinkan terjadi pada perhelatan Pilpres Indonesia 2024 mendatang. Hal ini yang sangat mendesak untuk diwaspadai agar agen-agen telik sandi Indonesia dan elite politik Indonesia tidak sampai terbina (tergalang) dan membocorkan rahasia NKRI kepada kekuatan-kekuatan asing tersebut.”ucap Setyoko.

    Setyoko juga mengingatkan agar semua ikhtiar infiltrasi dan atau penetrasi pihak telik sandi asing jelas sangat terkait dengan kepentingan nasional (national interest) negaranya masing-masing. Pada prinsipnya aktivitas sebuah kantor perwakilan diplomatik atau Kedubes asing selain mewakili sebuah negara, juga melakukan aktivitas apa yang biasa disebut dalam bahasa intelijen sebagai Pulin, Puldat, dan atau Pulbaket. Intinya, Kedubes asing itu adalah sebuah intelligence station.

    Maka dari itu, lanjut Setyoko, yang lebih mendesak kini bagi para bakal capres-cawapres sebaiknya harus ekstra hati-hati dengan adanya bisikan dan atau masukan yang nampaknya baik–tetapi kemudian justru menyesatkan atau menimbulkan polemik yang merugikan citranya sebagai Paslon Pilpres 2024 mendatang.

    Awalnya nampak baik-baik saja, tapi justru mengarahkan dan atau mendorong seseorang (capres atau cawapres) tercebur dalam perangkap, kejeblos dalam lubang got. Sangat mendesak, selain waspada perlu aksi kontra-intelijen–mendatang prioritaskan pengamanan pribadi, pengamanan informasi, pengamanan alutsistel, pengamanan aktivitas, dll, agar masing-masing Paslon terhindar dari unsur-unsur pendadakan strategis.

    “Pendadakan strategis di sini tentunya bersifat multi dimensi, bukan sekedar kepentingan politik elektoral sebetulnya. Lebih dari itu, ideologi, ekonomi, budaya, dan banyak aspek lainnya, karena itu sebaiknya bacapres, parpol, masyarakat dan bahkan Badan Intelijen Negara agar lebih mewaspadai adanya indikasi perang intelejen asing yang bisa berimplikasi menggerogoti kedaulatan NKRI “pungkas Setyoko.

    Memaknai Peristiwa Kecil

    Misa Orang Kudus Sancta Clara 11 Agustus 2022-Bersama: RD Hubert Hady Setiawan

    MajalahDUTA.Com, Santa Clara- Tepat pada 11 Agustus 2022, Societas Sancta Clara telah mengadakan perayaan misa syukur perayaan Hari Orang Kudus Santa Clara bersama Opa-Oma yang dipimpin oleh RD Hubert Hady Setiawan. Dalam perayaan misa tersebut RD Hubert Hady Setiawan mengajak seluruh umat yang hadir untuk mendoakan intensi-intensi pribadi, wujud doa bagi kesehatan, keselamatan, kebahagian, kesucian jiwa dan mendoakan Opa-Oma, komunitas Societas Sancta Clara bersama Yayasan Tangan Kasih Mulia.

    Dalam sambutan pembuka misa, RD Hubert Hady Setiawan mengungkapkan bahwa Santa Clara adalah seorang santa yang luar biasa. Kehadiran Santa Clara ditunggu oleh keluarga besarnya, kecantikannya membahana hingga ke desa-desa, juga kecerdasannya. Santa Clara dalam pergaulan kesehariannya juga mengenal Santo Fransiskus Assisi yang kebetulan bertemu dengan pemuda itu (Santo Fransiskus Asissi).

    Menurut RD Hubert Hady Setiawan, mungkin awalnya Santa Clara menghindari Santo Fransiskus Asissi. Karena Fransiskus dikenal agak nakal dan suka menggangu gadis-gadis yang cantik. Namun setelah beberapa saat mereka berpisah, sempat Santo Fransiskus di penjara Perugia dan berubah menjadi pribadi yang saleh. Mengagumkan karena ‘pergoncangannya’ luar biasa, dari kenakalan menjadi kebajikan dan pandai berkotbah.

    “Dan yang paling mengagumkan bagi Santa Clara adalah bagaimana anak orang kaya ini (Santo Fransiskus) hidup dari mengemis dan ingin memerdekakan semuanya,” kata RD Hubert Hady Setiawan.

    Siapa yang pernah masuk penjara?

    Memulai homilinya RD Hubert Hady Setiawan bertanya kepada sejumlah Oma-Opa dan Suster yang hadir dalam misa, demikian bunyinya; “Saudara-saudari yang terkasih, siapa yang pernah masuk penjara?” tanya Pastor.

    Dari rekaman video, sontak semua umat binggung dan sempat bertanya ulang. Namun ditegaskan kembali oleh RD Hubert Hady Setiawan dengan bertanya; “siapa yang pernah masuk penjara, baik itu pelayanan kah, atau kunjungan yang penting pernah masuk ke dalam penjara,” ulang RD Hubert Hady Setiawan sembari senyum-senyum sambil menatap Oma-Opa.

    Kemudian RD Hubert Hady Setiawan dengan nada lembut bertanya lagi dengan Suster: “Suster, apa bedanya tinggal di penjara dengan di biara?” tanyanya lagi.

    Kemudian suster lansia itupun menjawab dengan semangatnya dan tampak berapi-api dengan bahasa yang santun: “jadi kalau di penjara hanya berkunjung, ada rasa iba dan berdoa, tapi kalau di biara senang sekali, bahagia,” jawab suster lansia itu.

    “Hmmm, (dengan nada dalam dan memahami), siapa yang mau ikut ke biara? Nanti bungkus-bungkus pakaian dan masih punya kesempatan, ” jawab Pastor dan tanya balik kepada umat?

    Dalam pemerenungannya RD Hubert Hady Setiawan menyampaikan kepada umat sekalian. Bahwa seseorang yang pernah dipenjara dan keluar kemudian mendirikan biara itulah Fransiskus Asissi. Bapa Fransiskus Asissi tahu persis apa bedanya penjara dan biara.

    Coba sekarang kita tanya Pak Andre; “Pak Andre, apasih bedanya penjara dengan rumah bapak?. Bagaimana bangunan dalam penjara?” tanya RD Hubert Hady Setiawan.

    Pak Andre: “Sama-sama ada terbatas. Di Penjara dia dibatasi oleh aturan yang ada disana, situasi yang ada disana, dan bahkan ada orang-orang yang hanya melihat dari kejauhan, bahkan merasakan sinar matahari saja jarang. Dia hanya bisa melihat tetapi tidak bisa berjemur. Berjemur itu kemewahan. Sedangkan di biara terbatas juga tetapi atas kehendak diri dalam kebebasan, berbeda sekali begitu Romo,” katanya sambil memperagakan apa yang dibicarakan.

    Kemudian RD Hubert Hady Setiawan melanjutkan renungannya dengan mengambil contoh di Indonesia saat ini sedang ramai diperbincangkan tentang topik Ferdy Sambo. Selama 24 jam pemberitaan nonstop tentang pemberitaannya di media massa. Menurut RD Hubert Hady Setiawan, sampai saat ini sebetulnya masyarakat tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.

    “Kita orang luar hanya bisa ‘mereka-rekakan’ bahkan menghakimi. Dan sebenarnya kita tidak pernah tahu,” katanya.

    “Begitu juga kehidupan kita,” lanjut Pastor,  “yang tahu kehidupan kita hanya diri kita sendiri. Orang lain hanya bisa melihat dengan kaca mata dan ukuran mereka saja. Namun semuanya bukan tergantung dengan kata orang.”

    Perubahan hidup dalam pemaknaan rohani

    Santo Fransiskus yang latar belakangnya adalah orang yang nakal. Dia adalah seniman dan suka dengan gadis yang cantik-cantik, dan tentunya Santa Clara melihat itu bukanlah sebuah idola atau sebagainya. Santo Fransiskus terkenal dengan gonta-ganti pacar, mabok-mabokan, berfoya-foya. Dia berubah bersama dengan pengalaman rohaninya,  karena Tuhan ada dalam dirinya.

    Meranjak remaja Dia ingin menjadi Serdadu, kenapa?- tanya RD Hubert Hady Setiawan kemudian.

    Karena seorang serdadu bisa merubah hidupnya, ya seperti Ferdy Sambo-lah kira-kira. Bisa menguasai ini dan ini ditambah lagi banyak orang yang melirik karena seragamnya penuh dengan bintang-bintang. Dan pada waktu itu ada peperangan 1202 (November) Pecah perang antara Perugia dan Assisi. Fransiskus yang bertempur di pihak Assisi menjadi tawanan perang di penjara Perugia. Dimana-mana penjara tetap sama, bahkan ada yang lebih sadis. Namun karena pengalamannya dan pertemuannya dengan Tuhan secara spiritual, membuat ia terbebas dari belenggu dunia.

    Hal yang kecil, mulai Santo Fransiskus dilakukan namun bukan berarti hal kecil itu tidak bermakna. Menutup homilinya RD Hubert Hady Setiawan berharap semoga di masa lansia ini Oma-Opa selalu diberkahi dan diberikan kebahagiaan dalam hidup sebagaimana memaknai hidup dari hal yang kecil.

    Kisah Santa Clara (Klara)

    Klara dilahirkan sekitar tahun 1193 di Assisi, Italia. Ia hidup pada jaman St. Fransiskus dari Assisi. Klara menjadi pendiri suatu ordo religius para biarawati yang disebut “Ordo Santa Klara (Klaris), OSCl” Ketika Klara berusia delapan belas tahun, ia mendengarkan khotbah St. Fransiskus. Hatinya berkobar dengan suatu hasrat yang kuat untuk meneladaninya. Ia juga ingin hidup miskin serta rendah hati demi Yesus. Jadi suatu malam, ia melarikan diri dari rumahnya.

    Di sebuah kapel kecil di luar kota Assisi, Klara mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. St. Fransiskus menggunting rambutnya dan memberinya sehelai jubah coklat kasar untuk dikenakannya. Untuk sementara waktu, Klara tinggal bersama para biarawati Benediktin hingga biarawati lainnya bergabung dengannya. Orangtua Klara mengupayakan segala usaha untuk membawanya pulang ke rumah, tetapi Klara tidak mau kembali. Tak lama kemudian Agnes, adiknya yang berusia lima belas tahun, bergabung dengannya. Para gadis yang lain pun ingin pula menjadi pengantin Kristus. Jadi, sebentar saja sudah terbentuklah suatu komunitas religius kecil.

    St.Klara dan para biarawatinya menjalani pola hidup asketis yang ketat. Mereka tidak mengenakan sepatu, tidak pernah makan daging, tinggal di sebuah rumah sederhana dan hidup dalam keheningan dan tidak berbicara hampir sepanjang waktu. Namun demikian, para biarawati itu amat bahagia karena mereka merasa Yesus dekat dengan mereka.

    Suatu ketika sepasukan tentara yang beringas datang untuk menyerang Kota Assisi. Mereka telah merencanakan untuk menyerang biara terlebih dahulu. Meskipun sedang sakit parah, St. Klara minta untuk dibopong ke altar. Ia menempatkan Sakramen Mahakudus di tempat di mana para prajurit dapat melihat-Nya. Kemudian Klara berlutut serta memohon kepada Tuhan untuk menyelamatkan para biarawati. “Ya Tuhan, sudilah melindungi para biarawati yang saat ini tidak dapat aku lindungi,” doanya. Suatu suara dari hatinya terdengar berbicara: “Aku akan selalu menempatkan mereka dalam perlindungan-Ku.” Bersamaan dengan itu, suatu kegentaran hebat meliputi para prajurit dan mereka segera lari pontang-panting.

    St. Klara menjadi priorin (=pemimpin) di biaranya selama empatpuluh tahun. Duapuluh sembilan tahun dari masa itu dilewatkannya dengan menderita sakit. Meskipun demikian, St. Klara mengatakan bahwa ia penuh sukacita sebab ia melayani Tuhan. Sebagian orang khawatir para biarawati tersebut menderita sebab mereka teramat miskin. “Kata mereka kita ini terlalu miskin, tetapi dapatkah suatu hati yang memiliki Allah yang Mahakuasa sungguh-sungguh miskin?”

    St. Klara wafat pada tanggal 11 Agustus 1253. Hanya dua tahun kemudian ia dinyatakan kudus oleh Paus Alexander IV.

    Penyatuan pengalaman, kekuatan, dan lahirkan harapan

    Paus bertemu dengan Federasi Penyakit Langka Italia (UNIAMO) di Clementine Hall (Vatican Media)

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Bertemu dengan delegasi Federasi Penyakit Langka Italia (UNIAMO), Paus Fransiskus mendorong organisasi tersebut untuk melanjutkan advokasinya untuk layanan kesehatan yang lebih berkualitas dan inklusif bagi mereka yang terkena dampak.

    Paus Fransiskus pada hari Senin menyambut delegasi Federasi Penyakit Langka Italia (UNIAMO), aliansi nirlaba lebih dari 150 asosiasi yang bekerja sama untuk meningkatkan kehidupan orang yang hidup dengan penyakit langka, mendukung keluarga mereka, dan mengadvokasi mereka hak dengan membangun jaringan dengan pemangku kepentingan utama, termasuk pembuat kebijakan.

    Dalam sambutannya Paus menyoroti nilai-nilai yang mendasari kerja Federasi. Nilai pertama adalah berbagi yang terangkum dalam semboyannya “Mari Bersatu” (UNIAMO), yaitu menyatukan pengalaman, kekuatan, dan harapan.

    Pada awalnya, berbagi adalah “keharusan” bagi mereka yang terkena penyakit langka dan keluarga mereka yang perlu merujuk pada asosiasi yang menyatukan orang-orang yang menghadapi masalah yang sama, yang mengetahui gejala, terapi, dan pusat perawatan.

    Perlahan, bagaimanapun, itu “menjadi pilihan”, pada dasarnya karena dua alasan. Salah satu alasannya adalah kesadaran bahwa itu membantu dan menawarkan setidaknya solusi praktis sementara.

    “Alasan lain, adalah penemuan “kesenangan hubungan antarmanusia” dan kebaikan yang diperoleh dari persahabatan baru dengan orang-orang yang dapat bersama-sama membantu memikul beban situasi sulit,” lanjut Paus.

    Nilai fundamental kedua yang diwujudkan oleh UNIAMO adalah potensinya untuk memberikan kontribusi bagi kebaikan bersama, dan khususnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di tingkat nasional dan daerah.

    Menurut Paus Fransiskus, “politik yang baik” juga bergantung pada kontribusi asosiasi, yang, pada isu-isu tertentu, “memiliki pengetahuan dan perhatian yang diperlukan untuk orang-orang yang berisiko diabaikan” dan terpinggirkan.

    Ini bukan masalah mengklaim bantuan untuk kategori tertentu, “tetapi berjuang agar tidak ada yang dikecualikan dari layanan kesehatan, tidak ada yang didiskriminasi, atau dihukum,” tegas Paus, mengacu juga pada bidang penelitian ilmiah. .

    “(Organisasi) seperti milik Anda dapat menekan kami untuk mengatasi hambatan nasional dan komersial untuk berbagi hasil penelitian ilmiah, sehingga dapat mencapai tujuan yang saat ini tampak sangat jauh.”

    Paus Fransiskus lebih jauh mengatakan bahwa, dengan memberikan suara “kepada banyak orang yang, sendirian, tidak dapat membuat diri mereka didengar” asosiasi seperti UNIAMO tidak hanya meminta dukungan, tetapi juga memberikan kontribusi penting kepada lembaga publik, dengan kontak keahlian mereka, dan yang terpenting, orang-orang yang mau bekerja untuk kebaikan bersama

    “Dalam berinteraksi dengan institusi, di berbagai tingkatan, Anda tidak hanya meminta, tetapi juga memberi: pengetahuan, kontak, dan terutama orang, yang dapat membantu untuk kebaikan bersama, jika mereka bekerja dalam semangat pelayanan sipil.”

    Oleh karena itu, Paus menyimpulkan dengan mendorong jaringan Italia untuk melanjutkan komitmennya dan memohon Perawan Maria Terberkati untuk menemani setiap orang dan keluarga yang terkena penyakit langka.

    Kelembutan hati kita, adalah pewartaan kasih Tuhan

    Paus Fransiskus pada Audiensi Umum mingguan (Vatican Media)

    MajalahDUTA.Com- Pada Audiensi Umum mingguan, Paus Fransiskus merenungkan pewartaan Kristiani tentang kedekatan Allah, dan mendorong kita untuk menarik kekuatan dari hubungan kita dengan Yesus untuk mewartakan Injil bersama dalam kelemahlembutan. Tulisan ini dirilis pada 15 Februari 2023, 09:18 waktu Vatikan yang ditulis oleh reporter berita Vatikan Devin Watkins.

    Menarik dalam pesan yang disampaikan oleh Paus Fransiskus. Dalam Audiensinya Paus melanjutkan rangkaian katekese tentang semangat penginjilan—semangat apostolik—pada Audiensi Umum hari Rabu.

    Ia merenungkan “wacana misionaris” yang Yesus berikan kepada murid-murid-Nya dalam Injil Matius (10:7-16) segera setelah Ia memanggil mereka.

    Paus mencatat bahwa Yesus memanggil 12 Rasul “agar mereka dapat bersama-Nya dan Dia dapat mengutus mereka untuk berkhotbah.” Dia menunjuk pada tindakan ganda “bersama” dan “keluar” dalam panggilan Yesus, dengan mengatakan aktivitas misionaris Kristen dimulai dengan perjumpaan dengan Kristus dan bergerak keluar.

    “Bersaksi tentang Dia berarti memancarkan Dia. Namun, jika kita tidak menerima terang-Nya, kita akan padam. Jika kita tidak menghadiri-Nya, kita akan menanggung diri kita sendiri alih-alih Dia, dan semuanya akan sia-sia.” Ia menambahkan bahwa Yesus mengutus murid-murid-Nya segera setelah memanggil mereka, yang menunjukkan bahwa pengalaman misionaris merupakan bagian integral dari pembinaan Kristiani.

    Kasih Allah yang diberikan secara cuma-cuma

    Paus Fransiskus kemudian merenungkan tiga aspek pewartaan Kristiani: mengapa, apa, dan bagaimana mewartakan.

    “Yesus, menjabarkan “mengapa” dalam beberapa kata singkat: “Kamu telah menerima dengan cuma-cuma, berikan dengan cuma-cuma. Cinta yang diberikan Tuhan dengan cuma-cuma memenuhi kita dan kita secara alami terdorong untuk berbagi cinta itu dengan orang lain,” kata Paus.

    Kedekatan Tuhan

    Dia mencatat bahwa “apa” dari pewartaan kita berkaitan dengan dekatnya kerajaan surga. Aspek terpenting dari khotbah, adalah bahwa “Tuhan sudah dekat”.

    “Lebih mudah menasihati orang untuk mencintai Tuhan daripada membiarkan diri kita dicintai oleh-Nya,” tegas Paus.

    Paus mengatakan pewartaan Kristiani harus mengutamakan Tuhan, sementara kita membiarkan diri kita dibentuk oleh kasih dan tindakan-Nya.

    Kelemahlembutan dalam berdakwah

    Paus Fransiskus kemudian berbicara panjang lebar tentang “bagaimana” mewartakan, yang dia catat merupakan bagian yang lebih panjang dari wacana misionaris Yesus sendiri.

    “Dia memberi tahu kita bahwa sikap, gaya itu penting untuk memberikan kesaksian. Mari kita dengarkan bagaimana Dia ingin kita menjadi: ‘Aku mengutus kamu seperti domba di antara serigala.’”

    “Yesus, tidak pernah meminta kita menghadapi serigala dengan argumen tandingan atau pembelaan iman yang dipersiapkan dengan baik. Sebaliknya, Yesus memberi tahu murid-murid-Nya untuk “lemah lembut dan polos, rela berkorban,” kata Paus.

    Dan Dia pada gilirannya akan melindungi anak domba-Nya dari serigala, tetapi hanya jika mereka tetap lemah lembut seperti anak domba.

    Kesatuan misionaris

    Sebagai kesimpulan, Paus Fransiskus mencatat bahwa Yesus berkata untuk pergi misi bersama tanpa bekal materi atau keduniawian, hanya percaya pada Penyelenggaraan Tuhan.

    “Gereja apostolik sepenuhnya misioner, dan menemukan kesatuannya dalam misi,” katanya. “Jadi: majulah, lemah lembut dan baik seperti anak domba, tanpa keduniawian, bersama-sama.”

    TERBARU

    TERPOPULER