Tuesday, June 16, 2026
More
    Home Blog Page 96

    Tahbisan Diakon Keuskupan Agung Pontianak Oleh Mgr. Agustinus Agus

    Foto Lima Diakon Bersama Mgr. Agustinus Agus, Para Imam dan Umat yang Hadir/Sumber foto: Doc. Komsos KAP – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Pontianak – Panggilan hidup membiara adalah cara hidup selibat (tidak menikah) yang dijalani oleh mereka yang terpanggil dan mengimani panggilannya untuk mengikuti Kristus secara total dan menyeluruh. Pada hari Jumat, 4 Agustus 2023 dilaksanakan Perayaan Ekaristi Tahbisan Diakon di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak. Selebran utama Perayaan Ekaristi Tahbisan Diakon adalah Yang Mulia Mgr. Agustinus Agus dan didampingi para imam di Keuskupan Agung Pontianak.

    Adapun kelima Frater yang di Tahbiskan oleh Mgr. Agustinus Agus menjadi Diakon adalah Fr. Andrianus Antonius Budi, Fr. Fransiskus Wuring, Fr. Martinus P, Fr. Mikael Ardi, dan Fr. Yohanes Paulus Arief Samara. Turut hadir adalah kedua orang tua dari masing-masing Frater, keluarga besar, kerabat, kenalan dan umat paroki katedral.

    Proses pentahbisan berjalan dengan penuh hikmat. Dalam homilinya, Mgr. Agustinus Agus menjelaskan bahwa tahbisan Diakon adalah tahbisan tingkat pertama bagi calon imam dalam Hierarki Gereja Katolik. Maka yang paling bawah adalah Diakon, di atasnya Imam (tahbisan Imamat), dan di atasnya lagi adalah Episkopal atau Uskup.

    Baca Juga: Tahbisan Dua Diakon Kongregasi CSE (Carmelitae Sancti Eliae)

    Bapa Uskup juga menyampaikan tiga tugas pokok seorang Diakon, yakni pelayan sabda, pelayan altar dan karya amal kasih gereja. Tapi yang fokus sebetulnya dan yang pertama adalah suatu ketika akan ditahbiskan menjadi imam.

    “Seorang Diakon memiliki tugas pokok, yaitu pelayan sabda, pelayan altar dan karya amal kasih gereja. Tetapi ada fokus dan harapan utama yakni suatu ketika akan ditahbiskan menjadi seorag imam.” Tutur Mgr. Agus

    Dalam kesempatan ini juga Mgr. Agus menyampaikan rencana akan dilaksanakannya tahbisan kelima Diakon menjadi Imam, yaitu pada 7 Februari 2024 mendatang.

    Tahbisan Diakon

    Sebelum berkat penutup Diakon, perwakilan orang tua dan Mgr. Agus menyampaikan sambutan. Setelah itu seluruh keluarga dan umat yang hadir diundang untuk mengikuti acara Ramah Tamah di Basement Gereja.

    Diakon Fransiskus Wuring menyampaikan sambutan mewakili empat orang temannya, dalam sambutannya Diakon Fransiskus Wuring menyampaikan ucapan syukur dan terima kasih atas rahmat tahbisan Diakon yang dianugerahkan kepada mereka melalui tangan terurap Mgr. Agustinus Agus mewakili gereja universal.

    Baca Juga: Misa Tahbisan Diakon: Menjawab Panggilan Yesus dan Menjadikan-Nya Kekuatan dalam Pelayanan

    “Syukur dan terima kasih pertama-tama kami haturkan kepada Allah Tritunggal Yang Maha Kudus, Bapa Putra dan Roh Kudus. Tuhan yang kami sembah, atas rahmat tahbisan diakonal yang dianugerahkan kepada kami berlima melalui tangan terurap Mgr. Agustinus Agus mewakili gereja universal” tuturnya.

    Diakon Fransiskus Wuring juga memaparkan bahwa Tahbisan Diakon adalah Rahmat yang sungguh luarbiasa yang dianugerahkan oleh Tuhan sebagai tanda cinta-Nya yang begitu besar kepada kita semua umat kudus-Nya.

    Penulis: Winda/Tim Komsos

    Kuatkanlah Hatimu, Berdirilah, Dia Memanggilmu

    KRK Gereja Paroki Stella Maris Siantan Menyambut Hari Minggu dengan Semangat Doa

    MajalahDUTA.Com, Siantan, 30 Juli 2023 – Gereja Paroki Stella Maris Siantan, bekerja sama dengan Pelayanan Doa St. Rafael, mengadakan Kebangunan Rohani Katolik(KRK) yang mengusung tema “Kuatkanlah Hatimu, Berdirilah, Dia Memanggilmu” (Markus 10:46-52).

    Kegiatan ini berlangsung pada hari Minggu, 30 Juli 2023, pukul 18.00 WIB di Gereja Paroki Stella Maris Siantan, Jalan Gusti Situt Mahmud No. 100.

    Pembicara yang dihadirkan dalam acara ini adalah Pastor Klementius Ruslin, CDD, seorang Imam Katolik yang akan sharring dan membagikan kisah karya Allah dengan pelayanan rohani. Beliau akan berbagi tentang ajaran dan pesan-pesan inspiratif yang akan memberikan penghiburan dan semangat baru bagi umat.

    Kegiatan ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Seluruh umat diundang untuk hadir dalam acara KRK ini. Acara ini diharapkan dapat menjadi momen yang memberkati dan menyatukan kita dalam doa dan pujian.

    Dalam menghadapi tantangan hidup di zaman ini,  refleksi rohani menjadi sarana penting bagi umat Katolik dalam memperkuat iman, mendapatkan penghiburan, dan merenungkan pesan-pesan suci yang terkandung dalam Alkitab. Selain itu, acara ini juga menjadi kesempatan bagi umat untuk memperdalam hubungan mereka dengan Tuhan dan sesama.

    KRK Santo Rafael mengajak semua umat Katolik, serta siapapun yang tertarik untuk mendalami iman dan mendapatkan semangat baru, dalam datang dan meramaikan acara Kebagunan Rohani Katolik. Pastikan untuk hadir pada hari Minggu, 30 Juli 2023, pukul 18.00 WIB di Gereja Paroki Stella Maris Siantan. )* Sam-DUTA.

    Kepemimpinan Dalam Organisasi OMK

    Pelatihan Kepemimpinan OMK oleh Fr. Fransesco Agnes Ranubaya dan Fr. Memet Saputra

    MajalahDUTA.Com- Seringkali organisasi Orang Muda di bawah naungan paroki-paroki yang disebut sebagai OMK (Orang Muda Katolik) dicap sebagai tukang parkir belaka. Padahal esensinya, OMK merupakan salah satu kelompok Kategorial di dalam Gereja yang dikhususkan untuk memperhatikan anak-anak muda sebagai Generasi Gereja dalam peziarahannya di dunia. Perhatian pada kaum muda di zaman ini tentu saja berbeda karena beriringan dengan derasnya arus perubahan zaman. Karena itu diperlukan pribadi-pribadi handal yang dipersiapkan sebagai kader pemimpin masa depan melalui organisasi yang disebut sebagai OMK ini.

    Pada hari Sabtu 15 Juli 2023 lalu, OMK Paroki Santo Carolus Boromeus Tembelina melaksanakan kegiatan yang mengangkat tema kepemimpinan. Penulis dipercayakan untuk memberikan materi mengenai kepemimpinan dalam organisasi OMK.

    Pertama-tama penulis menyebut kepemimpinan tersebut sebagai spiritualitas karena kepemimpinan di dalam organisasi OMK bukan semata-mata organisasi yang mencari keuntungan semata, melainkan organisasi yang didirikan oleh sekelompok kaum muda yang memiliki semangat yang sama untuk mengembangkan diri, memajukan Gereja, bangsa dan negara. Oleh karena itu, spiritualitas kepemimpinan di dalam OMK harus dinyalakan dari dalam sehingga cahaya yang menyala-nyala itu akan mampu menerangi dunia sebagaimana mandat Kristus sebagai Terang Dunia.

    Ada lima materi yang dibagikan penulis kepada para OMK Paroki Sto. Carolus Boromeus Tembelina yaitu mengenai Dasar Kepemimpinan, Organisasi OMK, Manajemen Organisasi, Proposal dan Laporan Pertanggungjawaban. Pertama-tama peserta diminta untuk mengetahui definisi kepemimpinan yang benar. Hal ini dikarenakan stereotipe banyak orang yang menganggap pemimpin sama dengan boss.

    Seorang boss memperlakukan anak buahnya sebagai pesuruh yang harus mampu melaksanakan apa yang diperintahkan sehingga menciptakan hubungan antara atasan dengan bawahan. Sementara seorang pemimpin memperlakukan orang yang dipimpinnya sebagai rekan seperjalanan di dalam organisasi sehingga menciptakan hubungan sinergis dalam mewujudkan tujuan organisasi. Setelah mengetahui dasar kepemimpinan, OMK juga harus mengetahui macam apa organisasi yang mereka geluti sehingga dapat organisasi menjadi darah dan daging atau organisasi yang mereka miliki seperti rumah sendiri.

    Mengenai Organisasi OMK dibahas pula perihal masalah-masalah kaum muda yang sedang menjadi fokus Gereja yaitu mengenai jati diri kaum muda, ketidakpastian masa depan dan hubungan-hubungan kaum muda yang bermakna. Selanjutnya bagaimana mempraktikkan dasar kepemimpinan dalam Manajemen Organisasi. Mengapa ada kepemimpinan dan manajemen dalam organisasi? Karena keduanya berjalan secara sinergis, dalam proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian dalam organisasi juga ada proses manajemen yang memberdayakan sumberdaya yang ada untuk mencapai tujuan organisasi agar berjalan secara efektif dan efisien. Materi tambahan yang penulis selipkan dalam latihan kepemimpinan ini adalah mengenai Proposal dan Laporan Pertanggungjawaban.

    Seringkali dua hal tersebut menjadi hal yang cukup penting dalam penyelenggaraan kegiatan, namun masalah lain yang kerap terjadi adalah sulitnya membuat laporan pertanggungjawaban setelah kegiatan terlaksana. Tujuan dari dua hal tersebut tidak lain adalah mendokumentasikan kegiatan secara rinci baik perencanaan, pengorganisasi, pengarahan dan pengawasan sehingga dapat menjadi acuan bagi pengurus organisasi selanjutnya dalam melaksanakan kegiatan serupa atau pengembangan kegiatan lainnya. Maka dari itu, kepemimpiunan organisasi OMK tidak hanya soal mampu mempengaruhi anggota untuk melaksanakan tujuan organisasi, tetapi juga pembelajaran untuk berani bertanggungjawab.

    Setelah pemaparan materi dari penulis, OMK Paroki Sto. Carolus Boromeus Tembelina mendengarkan beberapa patah kata dari Frater Memet terutama mengenai hal ikhwal tentang organisasi OMK. Frater Memet berpesan bahwa kegiatan OMK memberikan manfaat pertama tentu saja memperoleh teman yang banyak. Kedua militansi iman, seorang OMK harus memiliki militansi iman dan tidak goyah iman atau pindah agama. Frater Memet memberikan sebuah pandangan segar bagaimana menjadi seorang OMK yang militan.

    Dilemparkanlah pertanyaan,”Apakah kita boleh pindah agama?” Frater Memet menjelaskan kepada OMK Tembelina dengan ayat Injil Yohanes 14:6  yang mengatakan, ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”. Dengan demikian Frater Memet menegaskan bahwa tanpa Yesus, tidak ada jalan keselamatan sehingga tidak ada alasan bagi OMK untuk pindah-pindah agama. Selanjutnya ada pertanyaan lain,”Apakah kita boleh pindah gereja lain selain Katolik?” Frater Memet juga menegaskan melalui  Injil Matius 16:18 Yesus menyatakan: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Hal tersebut berarti bahwa Yesus mempercayakan Gereja yang didirikan-Nya kepada Petrus, Paus Pertama Umat Katolik dan kepada penggantinya. Tuhan tidak mengatakan akan mendirikan jemaat-jemaat-Ku (Gereja-Gerejaku) tetapi jemaat-Ku (Gereja-Ku: Tunggal). Sementara itu gereja lain didirikan oleh manusia bukan Yesus. Peneguhan iman tersebut tentu saja menggugah OMK Paroki Sto. Carolus Boromeus.

    Setelah latihan kepemimpinan, diadakan pemilihan pengurus OMK Paroki St. Carolus Boromues Tembelina. Hal ini disebabkan karena beberapa anggota terutama pengurus akan melanjutkan pendidikan paska SMA di luar Paroki Tembelina. Maka dipilihlah beberapa anggota yang menjadi pengurus baik kordinator maupun anggota. Karena adanya perpindahan Pastor Vikaris Paroki Sto. Carolus Boromeus RD Bonifasius Mite dengan RD Fransiskus Joko Umbara (Pastor Vikaris Paroki Sto. Mikael Simpang Dua), maka pembina OMK Paroki Sto. Carolus Boromeus sementara masih tetap Romo Boni hingga Romo Joko bertugas.

    Paroki Sto. Carolus Boromeus merupakan Paroki terdekat dari Kota Ketapang dengan beberapa stasi yang cukup dari pusat Paroki. Hal tersebut membuat beberapa anggota OMK harus pulang lebih awal untuk menghindari waktu pulang malam hari. Meskipun demikian, tidak menghentikan langkah perwakilan OMK di Stasi-stasi untuk hadir dalam pertemuan OMK Paroki Sto. Carolus Boromeus Tembelina. Sebagaimana penulis katakan dalam latihan kepemimpinan, untuk menjadi OMK zaman now, harus memiliki hati yang besar dengan cita rasa zaman now. Pertemuan tersebut menjadi bukti bahwa anggota OMK di Paroki Tembelina tersebut memiliki hati yang besar untuk membangun OMK. Tetap semangat ya gaes!

    Penulis & Narasumber: Fr. Fransesco Agnes Ranubaya
    Narasumber 2: Fr. Memet Saputra (Tahun Orientasi Pastoral Paroki Tembelina)
    Dokumentasi: Katarina Yanti

    Hari Lansia Sedunia ke-III Dirayakan Meriah di Paroki Kristus Raja Sambas

    Foto Bersama Pastor Paroki, Suster dan Kakek Nenek Lansia

    MajalahDUTA.Com – Sambas, 23 Juli 2023 – Gedung Serbaguna Paroki Kristus Raja Sambas dipenuhi semangat dan kebahagiaan pada perayaan Hari Lansia Sedunia yang ke-III. Kegiatan berlangsung pada hari Minggu, 23 Juli 2023, dan diadakan oleh Seksi Kerasulan Keluarga dari Dewan Pastoral Paroki (DPP) Kristus Raja Sambas dengan tema Rahmat-Nya Turun Temurun (Luk 1: 50).

    Para kakek dan nenek dari lingkungan Paroki Kristus Raja Sambas berkumpul untuk menghadiri misa khusus yang dipimpin oleh Pastor Paroki, RP Celestinus Joni, OFMCap. Perayaan ini juga diberkati dengan dukungan dari Orang Muda Katolik (OMK) Kristus Raja Sambas yang membentuk kelompok koor untuk memeriahkan acara.

    Dalam sambutannya, Pak Suherman sebagai perwakilan para lansia mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Seksi Kerasulan Keluarga DPP Kristus Raja Sambas atas perayaan khusus yang diadakan untuk mereka. Ia menyatakan, “Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seksi kerasulan keluarga dari DPP Kristus Raja Sambas, bahwa ternyata kami masih diingat, dan dirayakan khusus untuk para lansia sehingga kami dapat bersama-sama bersukacita dengan teman seusia kami yang tidak muda lagi, tapi rasanya menjadi semangat lagi.”

    Tak hanya berkat kata-kata penuh syukur, kakek dan nenek juga menerima pengurapan minyak suci dari Pastor sebagai penguatan bagi mereka dalam menjalani kehidupan dan memperkuat iman. Pastor Paroki mengungkapkan harapannya agar kakek dan nenek dapat menjadi teladan bagi generasi muda dalam tetap bahagia dan sehat hingga usia lanjut, sambil setia bersama Tuhan Allah. “Dalam kesempatan yang berbahagia ini, kakek dan nenek jangan merasa sendirian, karena Tuhan Allah selalu menyertai kakek dan nenek,” ucapnya dalam kata sambutannya.

    Usai perayaan misa, suasana ramah tamah menghangatkan suasana. Para kakek dan nenek menampilkan hiburan yang menghibur hati hadirin, memperlihatkan semangat dan kebahagiaan mereka dalam merayakan Hari Lansia Sedunia ke-III. Acara berlangsung dengan penuh sukacita, menghadirkan kebersamaan dan semangat persaudaraan di antara generasi yang berbeda usia dalam Gereja Katolik. (By. Yuni Fransiska-OMK Sambas).

    Kenangan Istimewa: Misa Pembukaan Tahun Ajaran Baru di SMA St. Petrus Ketapang dengan Kotbah Penuh Inspirasi

    Misa Pembukaan Tahun Ajaran 2023/2024 di Auditorium Susteran OSA Ketapang dipimpin oleh RD Laurensius Sutadi

    MajalahDUTA.Com- Liburan tahun ini merupakan hal yang istimewa sekalipun sempat mengalami kesedihan mendalam karena ayahanda tercinta meninggal dunia pada 10 Juni 2023. Namun banyak sekali hal yang memperteguh dukacita itu dengan hal-hal istimewa yang boleh dirasakan Frater Sesco. Perjumpaan dengan para siswa-siswi SMA St. Petrus Ketapang merupakan hal yang sangat istimewa di mana Frater Sesco dahulu pernah menjadi peserta didik pada angkatan yang pertama.

    Mengenang kisah cerita masa-masa di sekolah, RD Laurensius Sutadi memberikan tugas di dalam misa pembukaan tahun ajaran 2023/2024 pada tanggal 22 Juli 2023 pukul 09.00 pagi untuk memberikan kotbah dan kesaksian kepada adik-adik peserta didik SMA St. Petrus Ketapang. Tidak hanya peserta didik SMA St. Petrus Ketapang, turut hadir juga para peserta didik di sekolah-sekolah di bawah Yayasan Pelayanan Kasih Fatima (YPKF) yaitu TPA /Play Group/TK. Sta. Theresia Ketapang, SD Sta. Monika Ketapang, SMP St. Augustinuis Ketapang, dan SMK Santo Petrus Ketapang. Misa dilaksanakan di Auditorium OSA di antara Komplek SMA St. Petrus, RSIA Fatimah dan SMP Sto. Augustinus Ketapang. Gedung tersebut padat dipenuhi oleh para peserta didik beserta para guru dan staff dan Suster-suster OSA yang berkarya di persekolahan YPKF.

    Berikut isi Kotbah Frater Sesco dalam Misa Pembukaan Tahun Ajaran Baru:

    Romo Sutadi, Sr Kepala Sekolah, para suster, para guru dan staff karyawan serta adik-adik siswa siswi SMA St. Petrus Ketapang, selamat pagi.

    “Saya sangat bersyukur dan bangga bisa hadir di tengah-tengah anda sekalian sebagai seorang eks-siswa/alumni, rekan se-almamater, atau pribadi yang pernah hadir berjuang untuk menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas di sini.

    Saya merupakan siswa angkatan pertama yang lulus pada tahun 2008. Saat itu, kepala sekolahnya adalah pak Yan Paulus, guru-gurunya  pak Tigor, Bu Ida, pak Eko, pak Viven, sekda kita pak Alexander Willyo, pak Gumpol, pak Kartono, bu Sri, bu Nini, pak Jumpo, pak Firdaus, pak Sigit, pak Andre, pak Hendri (jika masih ada yang belum disebut mohon maaf). Beliau guru-guru yang luar biasa yang mengajar kami para peserta didik angkatan pertama. Saya sendiri masuk di kelas IPA karena dahulu saya pengen jadi dokter. Tetapi pada saat berjalannya waktu, saya mulai menyukai yang namanya komputer, berkat pak Eko waktu itu yang menjadi pendidik mata pelajaran TIK. Saya nyaris mengikuti hampir semua kegiatan ekstrakurikuler saat itu seperti paduan suara, pramuka, club asisten TIK, karatedo, bahkan OSIS. Pikiran saya waktu itu, saya ingin masa SMA saya menjadi masa SMA yang tak dapat dilupakan, keren, enerjik, aktif, dan bersemangat, mumpung masih muda (saat itu, walau saat inipun masih sama sih).

    2008 setelah SMA, saya melanjutkan studi di AMKI Ketapang mengambil jurusan yang sama. Namun dalam perjalanan waktu, saya melamar ke Bank Central Asia dan diterima bekerja pada tahun 2009, tetapi bentrok dengan kuliah sehingga saya harus berhenti kuliah. Di ujung kontrak tahun 2012, saya mencoba masuk Seminari Menengah St. Laurensius namun tidak lama hanya 6 bulan, saya berhenti karena terkena TBC. Saya menyembuhkan diri selama 6 bulan dan sembuh. Tetapi saya tidak bisa melanjutkan kembali ke Seminari Menengah karena orang tua tidak mengijinkan. Setelah itu di pertengahan tahun 2012 saya mendaftar di STMIK Widya Dharma Pontianak (Sekarang Universitas Widya Dharma) mengambil jurusan Sisten Informasi Komputer (ini karena pak Eko tadi tu) sehingga saya melanjutkan kembali cita-cita untuk menjadi dokter komputer. Sembari kuliah saya bekerja sebagai guru TIK di SD Swasta Katolik Marie Joseph Pontianak selama 5 tahun) merangkap sebagai Operator Sekolah dan Staff TU, plus tukang servis komputer.  Saya kemudian wisuda dan kembali ke Ketapang. Lalu bekerja di Nevada Ketapang Hotel, pertamanya sebafai Front Office, lalu kemudian dipromosikan sebagai staff E-Commerce di bagian Sales Marketing hingga tahun 2020. Di tahun yang sama di masa covid, saya masuk Seminari Menegah St. Laurensius lagi menjalani masa Tahun Orientasi Rohani. Lalu 2021 hingga sekarang saya masih dalan proses pendidikan di STFT WIdya Sasana Malang di semester 5.

    Romo Bapak Ibu dan khususnya adik-adik sekalian. Masa SMA adalah masa yang indah. Masa-masa ini takkan terulang kembali jika tidak dijalani dengan sungguh-sungguh. Selagi kalian masih SMA, buatlah sesuatu yang baik, ikutilah berbagai kegiatan untuk mengembangkan diri, nakal ok tapi jangan lupa diimbangi dengan hal-hal baik. Setiap dari kita pasti pernah melakukan kesalahan, tetapi kita juga punya kesempatan untuk memperbaikinya. Kita memang tidak memprediksi masa depan (bahkan menjadi imam inipun tak pernah disangka-sangka akan terjadi), walau masa depan tidak dapat diprediksi,tetapi kita bisa mempersiapkan masa depan itu dengan tangan kita. Saya sendiri hampir satu angkatan dari berbagai kelas, saya kenal dan bahkan adik-adik kelas sekalipun. Karena bagi saya pergaulan bukan soal gaya, tetapi bagaimana kamu bisa berteman dengan siapa saja tanpa ada batasan (adapun itu batasan yang wajar), sebisa mungkin di sini, di masa SMA bertemanlah sebanyak-banyaknya, karena suatu hri ketika kalian lulus dari sini, kalian akan tetap menjalin relasi dengan teman-teman alumni, angkatan lain bahkan bapak ibu guru kita. Saya berharap, dari SMA kita yang tercinta ini, lahir pemimpin-pemimpin baru yang dapat diandalkan, bahkan calon imam, calon suster. Karena tantangan di zaman ini bukan soal kekurangan orang untuk menjadi pemimpin dan pelayan Gereja, tetapi soal hati untuk menerima panggilan Tuhan. Untuk bapak ibu guru yang pernah mendampingi saya dan teman-teman alumni pertama saya ucapkan terima kasih. Untuk bapak guru yang menjadi pendidik saat ini, tetap bersemangat dan jangan jemu-jemu nya mendidik calon pemimpin masa depan, setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya, adik-adik di sini yang ingin mengikuti jejak sebagai guru, ingatlah mereka, bapak ibu guru, yang mendidik kalian dengan penuh kasih.

    Motto sekolah kita, Integra Et Aetate, menjadi pribadi yang seutuhnya itu sungguh-sungguh dihidupi, karena tantangan di zaman ini kita harus benar benar menjadi orang yang berintegritas supaya kuat menghadapi tantangan zaman. Sebagaimana Maria Magdalena yang memiliki integritas atau pribadi yang utuh dalam bentuk mengasihi Yesus sehingga diperkenankan untuk berjumpa dengan Yesus yang bangkit. Seluruh isi hati kita harus mengagungkan Kristus, sebagaimana dalam bacaan pertama disebut penyair Kidung Agung sebagai kekasih hati yang dicari-cari dan akhirnya ditemukan.

    Demikian dari saya sebagai alumnus SMA St. Petrus. Saya bangga pernah belajar dan berjuang di sini. Dan kenangan di sekolah ini takkan pernah saya lupakan karena banyaaaaaaak sekali hal baik yang terjadi sehingga saya bisa berada di hadapan Romo, bapak ibu guru dan adik-adik sekalian.

    Kalau ada jarum yang patah

    Jangan simpan di dalam peti

    Kalau ada kata yang salah

    Jangan simpan di dalam hati

    Biji salak biji selasih

    Cukup sekian dan terima kasih

    Tuhan memberkati kita”

    Bercermin dari masa-masa di SMA, suka dan duka serta banyak hal baik yang dirajut, Frater Sesco mengimpikan semoga banyak pula alumni dari SMA St. Petrus yang terpanggil sebagai imam, suster atau bruder dan pemimpin Gereja di masa depan. Berawal dari hal kecil, mencita-citakan hal besar kemudian Tuhan arahkan kepada panggilan-Nya. Hal tersebut bukan semata-mata kebetulan belaka melainkan rencana Tuhan yang pada suatu saat akan indah pada waktunya.

    Penulis: Fr. Fransesco Agnes Ranubaya

    Misa Tahun Ajaran Baru SMA PL Santo Yohanes Ketapang: Setia Seperti Maria Magdalena

    Misa Pembukaan Tahun Ajaran 2023/2024 di SMA PL St. Yohanes dipimpin oleh Mgr. Pius Riana Prapdi

    MajalahDUTA.Com, – Sabtu 22 Maret 2023, merupakan hari yang baik bagi SMA Pangudi Luhur Santo Yohanes di mana para guru bersama para peserta didik membuka awal tahun ajaran baru dengan mengadakan misa syukur sekaligus pemberkatan panggung di tengah-tengah halaman sekolah. Misa tersebut dipimpin oleh Mgr. Pius Riana Prapdi bersama sejumlah para imam (RD Fransiscus Suandi, RD Yosef Kaju, RP Sepo, CP beserta para Frater Keuskupan Ketapang yang telah melaksakan masa TOP, yang akan memulai masa TOP dan Frater yang sedang berlibur di Ketapang.

    Suasana misa yang dihadiri seluruh guru dan siswa SMA PL St. Yohanes tersebut sangat khidmat dan berjalan lancar. Cuaca yang sangat cerah membuat perayaan misa berjalan dengan kondusif. Rangkaian kegiatan tersebut diawali dengan misa kemudian ramah tamah kepada para tamu undangan.

    Memiliki Cinta Tuhan

    Dalam homili, Mgr. Pius Riana Prapdi melemparkan pertanyaan yang cukup menarik,”Dalam bacaan Injil, Maria Magdalena pagi-pagi benar mengunjungi kuburan, kalau kita? Setelah bangun tidur pagi-pagi apakah yang kita lihat?” Serentak semua menjawab,”HP (Handphone)”.

    Cinta akan Yesus menggugah Maria Magdalena untuk menemui Yesus yang telah wafat. Sehingga pada akhirnya Maria Magdalena menjadi orang pertama yang melihat penampakan Yesus.

    “Sesungguhnya, bukan Maria Magdalena yang menemukan Yesus, tetapi Yesuslah yang menemukan Maria Magdalena,” ungkap Mgr. Pius. Demikian juga setiap orang Katolik harus meneladani Maria Magdalena yang memiliki cinta akan Tuhan Yesus, sehingga Yesus menemukan kita semua di dalam kasih-Nya.

    Uskup Ketapang juga mengatakan bahwa sekalipun; sembari memohon maaf agar hal ini tidak terjadi, Mgr Pius melanjutkan, sekalipun seorang Katolik meninggalkan Tuhan Yesus, suatu hari kelak ia akan kembali kepada-Nya. Mgr. Pius menjelaskan bahwa Pembabtisan merupakan hal yang takkan pernah hilang sekalipun orang tersebut meninggalkan Yesus karena rahmat pembabtisan adalah kekal.

    Berkaitan dengan bacaan pertama, pelantun syair Kidung Agung bertanya-tanya di manakah jantung hatinya? Mgr. Pius kemudian mengatakan bahwa jantung hati kita semua adalah Yesus Kristus.

    Di akhir berkat penutup, Mgr. Pius mengatakan bahwa jadwal pesawat dimajukan untuk menghadiri persiapan kegiatan Orang Muda Katolik Sedunia (World Youth Day) di Lisbon, Portugal dengan dua utusan OMK Keuskupan Ketapang.  Setelah melaksanakan Misa, para pelayan altar turun dan menuju ke ruangan yang telah disediakan untuk bersantap snack bersama.

    Penulis: Fr. Fransesco Agnes Ranubaya

    Warna Berkat Perjalanan Menuju Batu Ampar Desa Sungkung III

    Gereja Stasi Santo Fransiskus Asisi Dusun Batu Ampar Desa Sungkung III

    MajalahDUTA.Com, Bengkayang – Pada 16 Juli 2023 diukir kembali sejarah baru yakni peresmian dan pemberkatan Gereja Katolik Santo Fransiskus Asisi Stasi Batu Ampar Paroki Mikhael Jagoi Babang Keuskupan Agung Pontianak Desa Sungkung III Kecamatan Siding Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat, diberkati oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus dan diresmikan oleh Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis.

    Uskup Agustinus berangkat dari Entikong tanggal 15 Juli 2023 melewati Desa Suruh Tembawang, Dusun Pool dan Dusun Senutul baru tiba ke Batu Ampar Sungkung III tepat pada pukul 13.30 WIB. Kemudian disusul oleh rombongan Bupati di sore harinya.

    Warna Berkat perjalanan menuju ke Bantu Ampar

    Berangkat pagi dari Entikong ke Batu Ampar, rombongan Uskup Agustinus disuguhkan dengan wadah alam yang terbilang tak mudah. Kami menyusuri pegunungan, menaki dari kampung satu ke kampung yang lain. Sungguhpun katanya lewat Entikong lebih dekat, tetap saja jalan lumpur dan batu tidak terelakkan.

    Ada satu warna yang kami lihat dari perjuangan perjalanan kami waktu itu yakni magisnya tenaga ojek (umat Batu Ampar) yang dengan gagah tanpa sedikit keluhan melalui wadah alam itu. Pendakian kami memakan waktu 4 jam perjalanan. Tidak terelakkan juga, Uskup Agustinus juga tergelincir akibat jejak jalan yang tak jelas itu.

    Pendakian kami hingga berada dipunjak gunung yang penuh dengan hamparan batu itulah Batu Ampar masuk dalam Desa Sungkung III. Dari sana kami beristirahat hampir 30 menit menghela nafas sambil menikmati angin sayup-sayup yang sedikit demi sedikit menurunkan tensi panas dan keram kaki kami waktu itu (14 Juli 2023).

    “Alam yang sulit ini mengajarkan umat disini untuk tangguh dan tak mudah menyerah. Semangat itulah yang saya salut dari umat-umat disini,” ujar Uskup Agustinus sembari memasak daging spesial untuk umat Batu Ampar.

    Peresmian dan pemberkatan Gereja Stasi Batu Ampar

    Ketua umat, Damianus (46) mengaku memang sudah lama merindukan gereja stasi ini untuk diberkati. Akhirnya penantian mereka-pun dikabulkan oleh Uskup Agustinus. Gereja Stasi Santo Fransiskus Asisi Batu Ampar itu sungguh didirikan diatas batu- sesuai nama kampung mereka yaitu Batu Ampar.

    Memang semua perumahan didirikan diatas batu dengan fondasi sedikit tanah gunung dan pasir. Melihat kemegahan alam itu, Uskup Agustinus menyuarakan kisah iman tentang kesetiaan kepada Tuhan. Cerita itu Uskup Agustinus bawa dalam homilinya. Poin yang disampaikan Bapa Uskup yaitu peranan iman akan membuahkan sukacita dan berkat. Oleh karenanya Gereja stasi yang telah diresmikan dan diberkati itu hendaknya berbuah juga untuk pembangunan mental dan semangat rohani untuk umat setempat.

    “Saya yakin, dan menyaksikan sendiri bahkan untuk akses perjalanan menuju kampung ini terbilang tidak mudah, karena alam yang sulit ini membentuk ketangguhan mental dan batin begitupun iman. Saya doakan agar gereja ini menjadi berkat untuk umat disini,” kata Uskup Agustinus dalam homilinya.

    Sebagai Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis menegaskan bahwa perhatian pemerintah akan tetap memperjuangkan akses menuju semua kampung yang berada di Sungkung.

    Dalam sambutan peresmiannya, Darwis menggarisbawahi bahwa peran pemerintah harus selalu bersinergis dan berjalan bersama dengan Gereja, dengan cara itulah iman, dan pembangunan akan bersinergis bersama dalam menyongsong kemajuan baik dari segi pendidikan dan infratruktur.

    Menutup sambutannya, Uskup Agustinus meneguhkan umat Batu Ampar untuk tetap mengedepankan hidup rohani hal itu dia tunjukkan dengan sumbangan Patung Bunda Maria yang kemudian akan diletakkan persis dibelakang Gereja sebagai bentuk terima kasihnya kepada Bunda Maria akan pertolongan dan doa sucinya dalam setiap perjalanan iman yang dilaluinya.

    Uskup Agustinus menghadiahkan sebuah patung ukuran manusia dan meminta umat yang sebelumnya bergotong royong membangun stasi tanpa tukang. Ukuran Gereja Stasi itu tidak terlalu besar namun sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan rohani mereka di dusun Batu Ampar tersebut.

    Ada 92 kepala keluarga dengan 456 jiwa, Gereja Stasi itu dibangun dengan besar 15 x 9 Meter yang dimungkinkan untuk 200 hingga 300 umat. Namun begitu tidaklah masalah untuk umat disana, karena dengan berdirinya gereja stasi untuk ke tiga kalinya ini sesudah rumah balai pertemuan dan kapel kecil, gereja seukuran itu sudah sangat melegakan mereka. Ditambah kehadiran Bupati Bengkayang dan Uskup Agung Pontianak. (Samuel-DUTA).

    Ketua JPIC Kalimantan Memberikan Semangat dalam Persiapan Temu INFO JPIC Indonesia

    Chat WA Grub INFO JPIC

    MajalahDUTA.Com, Pontianak, Sabtu, 15 Juli 2023 – Pastor Pionius Hendi OFMCap, Ketua JPIC Kalimantan, memberikan semangat kepada seluruh anggota INFO JPIC Indonesia dalam persiapan menyambut Temu INFO JPIC Indonesia yang akan diselenggarakan di Keuskupan Agung Pontianak pada tanggal 19 hingga 25 Agustus 2023 mendatang. Melalui Chat WA Grub INFO JPIC, Pastor Pionius mengirimkan sapaan hangat kepada para anggota dan memberikan informasi penting bahwa pendaftaran akan segera ditutup.

    “Selamat pagi semuanya. Tetap semangaaat ya! Terima kasih banyak kepada para Saudara/i yang telah mendaftarkan diri untuk ikut kegiatan INFO JPIC Indonesia di Pontianak pada tanggal 19-25 Agustus 2023. Sore ini pendaftaran akan ditutup,” ujar Pastor Pionius Hendi OFMCap.

    Temu INFO JPIC Indonesia merupakan acara penting bagi JPIC Indonesia, sebuah lembaga yang berfokus pada advokasi dan kegiatan sosial untuk mempromosikan keadilan, perdamaian, dan keutuhan penciptaan. Acara tersebut diadakan sebagai sarana bagi anggota INFO JPIC Indonesia dari seluruh wilayah untuk bertemu, berbagi pengalaman, serta memperluas jaringan kerjasama dalam upaya mencapai tujuan bersama.

    Keuskupan Agung Pontianak dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan Temu INFO JPIC Indonesia kali ini, menandakan peran yang signifikan yang dimainkan oleh Kalimantan dalam upaya mewujudkan keadilan dan perdamaian di Indonesia. Selama acara berlangsung, sejumlah kegiatan dan diskusi akan dilaksanakan, mencakup isu-isu sosial, lingkungan, dan hak asasi manusia.

    Dalam pesannya, Pastor Pionius juga memberikan penghiburan kepada mereka yang tidak dapat ikut serta dalam Temu INFO JPIC Indonesia tersebut. “Untuk yang tidak ikutan, see you next time. Tetap berjuang demi kebaikan dan dunia yang lebih baik. Pace e bene!” kata Pastor Pionius Hendi OFMCap.

    Dengan penutupan pendaftaran pada sore ini, Pastor Pionius mengingatkan anggota JPIC Indonesia yang belum mendaftar agar segera melakukannya. Ia mengajak mereka untuk terus bersemangat dalam perjuangan demi kebaikan dan dunia yang lebih baik. Temu INFO JPIC Indonesia di Pontianak akan menjadi momen berharga dalam memperkuat upaya bersama dalam mencapai tujuan keadilan dan perdamaian di Indonesia.

    Bagi peserta yang telah mendaftar, Pastor Pionius mengimbau mereka untuk mempersiapkan diri dengan baik. Ia berharap mereka dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan memperluas jaringan kerjasama. Temu INFO JPIC Indonesia di Pontianak akan menjadi platform yang tepat untuk memperjuangkan nilai-nilai keadilan, perdamaian, dan keutuhan penciptaan di tengah tantangan zaman.

    Dengan semangat yang penuh harapan, Pastor Pionius Hendi OFMCap mengakhiri pesannya, mendorong seluruh anggota INFO JPIC Indonesia untuk terus berjuang demi menciptakan dunia yang lebih baik.]* Samuel OFS. 

    Perayaan Satu Tahun Biara Ocso Di Penggadungan Paroki Tembelina

    Misa Perayaan Satu Tahun Biara OCSO di Penggadungan dipimpin oleh RD Zakarias Lintas

    MajalahDUTA.Com, Ketapang– Pada 13 Juli 2022 tahun lalu, Biara OCSO didirikan dan diresmikan di lokasi pedalaman Kalimantan, tepatnya di wilayah Penggadungan, Kecamatan Sungai Melayu, Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Dan pada tanggal yang sama di tahun ini, Biara OCSO di Penggadungan genap berusia 1 (satu) tahun.

    Misa Perayaan Satu Tahun Pemberkatan Biara OCSO tersebut dilaksanakan dengan sederhana di Biara Pertapaan dengan Konselebran RD Zakarias Lintas, Pastor Paroki Santo Carolus Boromeus Tembelina, dua orang Frater Projo (termasuk penulis) dan beberapa orang undangan lainnya. Seperti yang diketahui, Pertapaan Trappist di Penggadungan saat ini dihuni oleh tiga anggota pertapa yaitu Fr. Mario OCSO, Fr. Johan OCSO dan Fr. Plasidus OCSO yang telah melayani umat dalam mencicipi hidup rohani di wilayah Paroki Tembelina Keuskupan Ketapang.

    Dalam homili, Romo Lintas bercerita bagaimana beliau bersama umat memikirkan bagaimana membangun sebuah kapel. Lalu mereka datang dan berkata,”Pastor saya punya seng 10 lembar, seng itu beli kepada saya saja.” Kemudian yang seorang lagi datang dan berkata,”Saya punya kayu belian 10 batang, nanti Pastor beli dengan saya saja,” tuturnya. Pemikiran untuk membuat kapel dijadikan kesempatan untuk mencari uang dengan menjual apa yang ada. Untuk membangun sebuah kapel saja orang sudah mau mencari untung.

    Apalagi disuruh untuk ikut serta aktif dalam membangun jemaat. Seringkali gedung Gereja atau pusat Paroki sering dijadikan tempat untuk mencari untung sejak zaman dahulu hingga sekarang. Bahkan dalam Alkitab dituliskan bahwa di zaman Yesus, di Yerusalem Bait Allah dijadikan tempat berdagang. Hal ini merupakan sebuah tantangan bagi umat Katolik bagaimana membangun umat menjadi Gereja atau membangun umat menjadi Bait Allah seperti Yesus Kristus yang mengatakan bahwa Bait Allah adalah diri-Nya sendiri.

    Perayaan Ekaristi ini merayakan 1 (satu) tahun diberkatinya Biara atau kehadiran para biarawan OCSO di Pegadungan dengan mengambil tema Perayaan Pemberkatan Basilika Lateran. Melalui perayaan ini diharapkan di sekitar biara tersebut tubuh Kristus dapat dibangun sebagai umat Allah dan tubuh Kristus. Sebagai perwujudan Kristus Sang Penyelamat yang mampu membawa keselamatan bagi semua orang yang ada di sekitar. Agar lebih mampu menghadirkan keselamatan Tuhan, dimohonkan agar Tuhan juga selalu campur tangan dalam proses pengembangan. Romo Lintas juga berharap dengan kehadiran para Rahib juga menghadirkan Tubuh Kristus, menghadirkan keselamatan, menghadirkan kesejahteraan, menghadirkan Kerajaan Allah yaitu Kerajaan Kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus.

    Ketiga Frater OCSO membagikan cerita selama setahun hidup dan melayani umat di Penggadungan. Fr. Mario OCSO mengatakan bahwa untuk menapaki dunia baru bukanlah sesuatu yang mudah alasannya ialah harus meninggalkan pola hidup “Jawa” kemudian memasuki pola baru yang awalnya tidak masuk akal tetapi harus tetap dijalani. Contoh sepele misalkan cara menanam di kebun, kemudian soal makanan, kebiasaan yang ada di Jawa benar-benar harus ditinggalkan dan hidup dalam dunia baru. Hal inilah yang menjadi semangat untuk bertobat.

    Tidak ada sesuatu yang kekal di dunia ini, tetapi bertobat dengan sesuatu yang baru bukan berarti meninggalkan cara lama atau suatu tradisi kuat, tetapi bagaimana menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri. “Saya tetap OCSO tetapi dengan cita rasa Kalimantan”, ungkapnya.

    Selanjutnya Fr. Johan OCSO bercerita bahwa meskipun awalnya kesulitan menyesuaikan diri karena situasi yang berbeda dari keadaan di Jawa, seperti cuaca yang cukup membakar pada siang hari sehingga cukup menguras keringat pada saat bertugas di kebun. Soal budaya dan makanan, Fr. Johan tidak terlalu mengalami kesulitan,”Segala yang ada di sini juga ada Jawa juga ada yang mirip-mirip, karena di sini daerah trans sehingga tidak terlalu jauh kebudayaan yang ada di sini,” ungkap Fr. Johan.

    Karena faktor usia, Fr. Johan sedikit mengalami kesulitan tidur,”Jika ada suara sedikit saja, saya sudah terbangun”. Meskipun usia Fr. Johan sudah tua, tetapi beliau mengungkapkan bahwa tidak mengalami sakit fisik yang berarti. Mengenai bercocok tanam, Fr. Johan mengungkapkan bahwa kadar asam dalam tanah begitu tinggi, sehingga ada beberapa tanaman yang ketika ditanam, keliatannya tumbuh subur, tapi lama kelamaan mati. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Fr. Johan yang bertugas di kebun.

    Fr. Plasidus OCSO mengungkapkan kegembiraanya selama berada di Pertapaan Penggadungan. Belajar dari pengalaman saat berada di tiga Komunitas yaitu di Rawaseneng, komunitas Lamanabi, hingga di Penggadungan ini, Fr. Plasidus belajar banyak dalam suka duka dan merefleksikan pengalaman selama berkomunitas di tiga komunitas tersebut. Oleh karena itu, Fr. Plasidus merasa tidak kesulitan karena sangat cepat untuk menyesuaikan diri.

    Pertapaan Trappist OCSO di Penggadungan telah memberikan warna baru bagi umat di sekitar. Para pertapa menciptakan suasana rohani di tengah hutan tropis wilayah Penggadungan sehingga menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menimba pengalaman rohani. Selain itu, pertapaan OCSO di Penggadungan juga memiliki peternakan ayam, bebek, serati, angsa, kelinci hingga babi yang diternakkan dengan sangat baik. Selain itu, tersedia juga kebun buah, pohon buah hutan tropis, pohon-pohon kayu belian, dan segala macam tanaman yang dirawat dengan baik oleh para pertapa. Tidak jauh dari komunitas, ada Gua Maria yang didirikan sebagai tempat untuk berdoa bagi umat yang ingin berdoa melalui perantaraan Bunda Maria sehingga jarak yang ditempuh untuk berziarah rohani tidak terlalu jauh, anda bisa datang berkunjung dan berdoa di Biara OCSO Penggadungan.

    Di rumah komunitas Penggadungan terdapat ruang kapel untuk doa ibadat harian dan misa, ada kamar para pertapa dan juga untuk tamu, dapur yang terbuka dengan alam, suasana yang tenang dan jauh dari keramaian membuat pertapaan OCSO di Penggadungan sangat baik bagi para umat yang ingin mencicipi hidup rohani ala pertapaan trappist OCSO di Pegadungan ini.

    Penulis: Fr. Fransesco Agnes Ranubaya

    Pengabdian kepada Masyarakat Melalui Baksos KEWAKA FISIP UNTAN 2023 di Desa Langan Kec. Belimbing Kab. Melawi

    Foto bersama Baksos KEWAKA FISIP UNTAN 2023 di Desa Langan Kec. Belimbing Kab. Melawi

    Majalah DUTA – Kewaka merupakan organisasi keagamaan Katolik yang berada di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura Pontianak. Kewaka sendiri sudah terbilang dewasa dengan perjalanan kurang lebih 29 tahun mengabdi di kampus dan di masyarakat. Organisasi ini memiliki 7 divisi dan pengurus inti yang terdiri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara, serta divisi pembinaan, Germas, Mikat, Kewirausahaan, Kerohanian, Komunikasi dan Informasi, serta Kesekretariatan.

    Bakti Sosial merupakan salah satu program kerja besar Kewaka yang diadakan oleh divisi Germas. Program ini melibatkan mahasiswa dan masyarakat untuk saling berinteraksi, belajar, dan berbagi. Bakti Sosial diadakan setiap tahun sebagai tindakan nyata mahasiswa FISIP dalam menjunjung tri dharma perguruan tinggi. Kegiatan ini juga menjadi laboratorium khusus bagi mahasiswa FISIP untuk berbakti dan mengabdi kepada sesama.

    Bakti Sosial tahun ini mengusung tema “Mengabdi dengan Kasih dan Semangat Melayani dalam Persekutuan Tuhan dengan Solidaritas Persaudaraan dan Kekerabatan dalam Kristus.” Tema ini mengartikan bahwa pengabdian dan semangat Katolik menjadi dasar bagi kami dalam melayani sesama. Kegiatan ini berlangsung selama 8 hari, mulai dari tanggal 19 sampai 26 Juni 2023, di Desa Langan, Kecamatan Belimbing, Kabupaten Melawi.

    Adapun agenda yang kami laksanakan selama kegiatan baksos sebagai berikut: pembuatan plang batas desa, pembuatan tempat sampah, pembuatan saluran irigasi, bina iman anak Katolik, lokakarya, kebersihan lingkungan, photobooth desa wisata, pengecatan gereja, pembuatan plang balai adat dan doa rosario bersama di malam hari. Puji Tuhan, semua agenda yang kami laksanakan berjalan lancar sesuai dengan yang diinginkan.

    Kegiatan ini tidak dapat terlaksana tanpa kerjasama antara masyarakat dan Kewaka. “Kami hadir di tengah masyarakat untuk mengimplementasikan pengetahuan dan juga belajar langsung dari masyarakat,” ujar Ketua Panitia, Saudara William. “Kami sangat terharu dengan masyarakat Desa Langan yang telah menerima kami selama 8 hari. Pengalaman ini sangat berkesan, seperti kata Tan Malaka, ‘Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan memiliki cita-cita sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali,'” tambah Ketua Kewaka, Febrian Aditya Saputra. (Albertus Chandra – Penulis, disunting Majalah DUTA)

    TERBARU

    TERPOPULER