Friday, June 5, 2026
More
    Home Blog Page 33

    Lingkungan dan Suasana Baru

    Perbincangan bersama Martinus, 8/10/2025. Kampus II Pontianak

    Duta, Pontianak | Langkah awal selalu terasa mendebarkan, apalagi ketika harus memulai sesuatu di tempat yang benar-benar baru.

    Hal itu juga dirasakan oleh Martinus, seorang karyawan baru yang baru saja bergabung di sebuah kampus swasta di Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II Pontianak alias Unika San Agustin.

    Hari pertamanya berkerja masih terasa di dunia baru baginya.

    “Saya bangun pagi-pagi sekali karena takut terlambat pada hari pertama saya berkerja. Rasanya agak gimana gitu pertama kali dilingkungan baru, agak canggung sedikit,” ujarnya sambil tertawa pada 8 Oktober 2025 lalu.

    Namun rasa canggung itu tak bertahan lama. Sambutan dan candaaan hangat dari rekan-rekan barunya membuat Martinus cepat merasa diterima di lingkungan baru.

    “Saya bersyukur, teman-teman di sini ramah semua. Mereka tidak segan bantu waktu saya masih bingung soal sistem kerja,” kata Martin, (08/10/2025).

    Martinus mengaku, hal paling menarik dari lingkungan kerjanya adalah suasana yang positif dan terbuka serta beberapa candaan yang cukup lucu, serta memiliki selera humor yang sama. Setiap karyawan saling menyapa.

    “Kelihatannya sederhana, tapi itu yang membuat saya mulai tidak merasa canggung,” katanya sambil tersenyum tipis.

    Meski begitu, beradaptasi tentu tak semudah membalikkan telapak tangan.  Namun menurutnya ia masih harus menyesuaikan diri dengan ritme kerja dan budaya yang baru.

    “Saya belajar banyak tentang bagaimana berkomunikasi dengan tim, mengatur waktu, dan menjaga profesionalitas. Semua hal kecil itu penting bagi saya” ujarnya.

    Saat ditanya soal tujuan kedepan Martinus menjawab dengan nada yang masih kurang yakin “Untuk kedepan sih sepertinya saya masih ingin terus belajar, memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan saya, dan ingin terus mengembangkan diri. Tempat kerja baru adalah awalan dari buku kosong dibab hidup saya,” tuturnya.

    Bagi Martinus, lingkungan baru dan suasana baru adalah perjalanan nyata untuk bertumbuh dan menemukan kenyamanan di tengah perubahan diera ini. Setiap langkah, meski kecil, adalah bagian dari proses menuju versi terbaik dari dirinya sendiri.

    *Penulis (Yendi Kurniawan) merupakan Mahasiswa Semester 3 Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II Pontianak. (Sam).

    Kuliah Pakar Prodi D3 Keperawatan San Agustin

    Foto bersama: Sub-tema _ Kemampuan yang harus dimiliki Seorang Perawat dalam Keperawatan Onkologi (2025)

    Duta, Pontianak | Fakultas Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Pontianak merupakan salah satu fakultas yang fokus pada pendidikan vokasi di bidang kesehatan.

    Fakultas ini menaungi dua program studi utama, yaitu D-III Keperawatan dan D-III Kebidanan, yang telah terakreditasi “Baik Sekali” oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes).

    Sebagai bagian dari pengembangan keterampilan mahasiswa, Fakultas Kesehatan secara aktif menyelenggarakan praktik klinik di berbagai fasilitas layanan kesehatan, salah satunya adalah Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalimantan Barat untuk praktik keperawatan jiwa.

    Adapun Visi dan Misi Prodi Keperawatan yaitu Unggul di bidang Degenerative Care di tingkat Nasional dan Internasional berdasarkan Tradisi Intelektual Dominikan yang diterangi Iman Kristiani, tahun 2030.

    Cristy Aprilia Evifania (Mahasiswa Semester 3) – 2025

    Adapun juga misi dari Prodi Keperawatan, menyelenggarakan pendidikan keperawatan yang kompeten dan terampil yang berorientasi pada pemberdayaan individu, keluarga dan komunitas., menyelenggarakan Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang unggul dalam bidang degenerative care dan dapat menyelesaikan berbagai masalah kesehatan yang berkembang di masyarakat, menjalin kerjasama dengan stakeholder dan institusi terkait dalam upaya peningkatan dan pengembangan penelitian.

    Pengabdian masyarakat dan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, menyelenggarakan tata kelola program studi yang bermoral, berkarakter, akuntabel, transparan, berkeadilan, kreatif, inovatif, dan berlandaskan Tradisi intelektual Dominican.

    Naning Dara Puspita
    (Mahasiswa Semester 3)- 2025

    Kuliah pakar merupakan kuliah yang dilakukan oleh seseorang yang banyak dianggap sebagai sumber tepercaya atas teknik maupun keahlian tertentu yang bakatnya untuk menilai dan memutuskan sesuatu dengan benar, baik, maupun andal sesuai dengan aturan dan status oleh sesamanya ataupun khayalak dalam bidang khusus tertentu. Kuliah pakar yang diselenggarakan saat ini adalah berkaitan dengan keperawatan.

    Program Studi DIII Keperawatan Fakultas Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo berhasil melaksanakan Kuliah Pakar dengan tema: “Update Tatalaksana Keperawatan Pre, Intra, dan Post Pasien Kemoterapi”.

    Dalam kesempatan ini Agnes Dwiana Widi Astuti, S. SiT., M.Kes sebagai dekan Fakultas Kesehatan menyampaikan kata sambutan, “Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan kasih-Nya, kita semua dapat berkumpul bersama dalam acara Kuliah Pakar dengan tema “Update Tatalaksana Keperawatan Pre, Intra, dan Post Pasien Kemoterapi.”

    Saya mengucapkan terima kasih kepada panitia, dosen, narasumber, dan seluruh mahasiswa yang telah mempersiapkan acara ini dengan baik. Kegiatan ini sangat penting karena dapat menambah pengetahuan kita semua tentang peran perawat dalam mendampingi pasien yang menjalani kemoterapi.

    Perawat memiliki peran besar, tidak hanya dalam memberikan perawatan fisik, tetapi juga dalam mendukung pasien secara mental dan emosional selama proses pengobatan.

    Dengan memahami tatalaksana sebelum, saat, dan setelah kemoterapi, diharapkan mahasiswa dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dan profesional di masa depan.

    Saya berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat, menambah wawasan, dan menjadi pengalaman berharga bagi seluruh peserta. Semoga acara ini berjalan lancar dan menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus belajar dan berkembang di bidang keperawatan”.

    Kegiatan itu dilaksanakan pada tanggal 19 September 2025, bertempat Aula Lantai 4 Fakultas Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.

    Adapun perawat praktisi di ruang kemotrapi bernama  Ners. Hapizani, S.Kep bersama Ns. Yuliana Juraidi, S.Kep. Dalam bagian penyampaian, beliau menjelaskan dengan detail langkah-langkah yang harus dilakukan diambil perawat sebelum kemoterapi, termasuk asesmen kondisi pasien, pendidikan tentang prosedur, dan persiapan psikologis.

    Selama fase intra, perawat harus melakukan pemantauan yang ketat, memastikan keamanan pasien, dan mempersiapkan diri untuk mengatasi efek samping yang mungkin muncul selama terapi.

    Sementara pada fase post-kemoterapi, fokus perawatan diarahkan pada pemantauan kondisi klinis, manajemen efek samping, serta memberikan pendidikan berlanjutan kepada pasien dan keluarganya agar dapat melakukan perawatan mandiri di rumah.

    Dalam sesi tanya jawab berlangsung sangat aktif. Ada tiga mahasiswa yang mengajukan pertanyaan terkait materi yang disampaikan.

    Mahasiswa menanyakan tentang “Bagaimana kanker bisa sampai ke stadium akhir? kemudian narasumber menjawab kanker bisa sampai ke stadium akhir karena sel kanker terus tumbuh dan menyebar tanpa terdeteksi sejak awal. Awalnya hanya di satu organ, lalu menyerang jaringan sekitar dan akhirnya menyebar ke organ lain (metastasis) melalui darah atau getah bening.

    Keterlambatan diagnosis dan pengobatan membuat kanker berkembang hingga stadium akhir”. Setelah itu ada mahasiswa bertanya terkait “Jika ada ibu hamil yang baru 1 bulan diagnosa kanker, langkah apa yang harus diambil kita sebagai perawat? lalu narasumber menjawab, sebagai perawat, langkahnya adalah memberi dukungan emosional, edukasi tentang kondisi dan pengobatan, mendampingi rujukan ke dokter spesialis, memantau kondisi ibu dan janin, serta melibatkan keluarga dalam perawatan dan pengambilan keputusan”.

    Pertanyaan terakhir dari mahasiswa, yaitu “ketika kondisi pasien tidak bisa kemotrapi, jadi bagaimana tindakan yang harus diambil? Jika pasien tidak bisa menjalani kemoterapi, tindakan yang harus diambil adalah memberikan perawatan paliatif, yaitu fokus pada mengurangi gejala, mengontrol nyeri, memberi dukungan emosional dan spiritual, serta meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya.”

    Dari materi tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagai perawat, kita harus memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien kanker.

    Perawat berperan penting dalam memberikan perawatan menyeluruh mulai dari sebelum, saat, hingga setelah kemoterapi, dengan tetap memperhatikan kondisi fisik dan psikologis pasien. Selain itu, perawat juga harus mampu memberikan edukasi, dukungan emosional, serta menjaga keselamatan dan kualitas hidup pasien agar proses pengobatan dapat berjalan optimal.

    Kuliah pakar hari itu diikuti oleh seluruh citivitas Program Studi Keperawatan termasuk dosen.  Kehadiran peserta dihadiri 269 orang dengan antusias tinggi sepanjang kegiatan. Selain itu, salah suatu mahasiswa memberi persembahan lagu berupa suatu nyanyian.

    Melalui kuliah pakar ini,  mahasiswa memperoleh pengetahuan terbaru tentang praktik keperawatan onkologi, terutama dalam tatalaksana kemoterapi yang berfokus pada keselamatan pasien dan kualitas hidup.

    Selain itu, kegiatan ini juga memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk terus meningkatkan pengetahuan, keterampilan terutama komunikasi terapeutik, dan menumbuhkan profesionalisme sebagai calon perawat yang mampu bersaing secara global.

    Ditulis oleh: Cristy, Naning, Usu, Tim C’San – Falkutas Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II Pontianak (S).

     

    Kuliah Serasa di Rumah Sendiri

    Yani (kiri) dan Kornelia Rani (Kanan) - Mahasiswi Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agutinus Hippo, Kampus II Pontianak. (2025)

    Duta, Pontianak | Suasana kekeluargaan dan semangat belajar yang tinggi menjadi kesan pertama bagi Yani, mahasiswi semester satu program studi Akademik dan Perbankan (AKUB) di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Pontianak.

    Dalam wawancara yang dilakukan, Yani mengungkapkan rasa syukurnya bisa menjadi bagian dari kampus yang menurutnya nyaman, ramah, dan mendukung proses pembelajaran mahasiswa.

    “Kesan saya sangat menyenangkan dan berkesan. Lingkungan kampusnya terasa nyaman, dosen-dosennya ramah dan sangat membantu mahasiswa dalam memahami materi perkuliahan. Selain itu, suasana kekeluargaan di antara teman-teman juga terasa erat, sehingga saya cepat beradaptasi dan termotivasi untuk belajar lebih giat,” ujarnya, (11 Oktober 2025 Asrama St. Katarina Siena).

    Baca juga: Farmakologi Itu Seru Banget! Mahasiswa Keperawatan Febih Yowola Giri Ceritakan Pengalaman Belajarnya

    Sebagai mahasiswa baru, Yani merasakan perbedaan besar antara belajar di SMA dan di perguruan tinggi. Ia menilai, kuliah menuntut tingkat kemandirian yang lebih tinggi dibanding masa sekolah.

    “Di SMA, guru lebih banyak mengarahkan dan mengingatkan siswa, sedangkan di kampus mahasiswa dituntut untuk lebih mandiri dalam mengatur waktu dan mencari materi tambahan. Selain itu, cara belajar di kampus lebih banyak diskusi dan analisis, bukan hanya mendengarkan penjelasan dosen,” jelasnya.

    Yani juga menilai suasana belajar di kampus sangat kondusif dan interaktif. Fasilitas yang lengkap serta metode pengajaran yang melibatkan mahasiswa membuat proses perkuliahan terasa hidup dan menyenangkan.

    “Dosen memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berpendapat serta bertanya. Kelas terasa interaktif dan penuh semangat, terutama ketika membahas hal-hal yang berkaitan langsung dengan dunia kerja dan praktik lapangan,” tambahnya.

    Mahasiswi yang dikenal rajin dan bersemangat ini juga menyampaikan harapannya selama menempuh pendidikan di jurusan AKUB. Ia ingin memanfaatkan masa kuliah untuk memperdalam ilmu keuangan dan perbankan sekaligus mengasah keterampilan profesional yang dibutuhkan di dunia kerja.

    “Saya berharap bisa memahami dengan baik ilmu keuangan dan perbankan, mengembangkan keterampilan profesional, serta menjadi lulusan yang kompeten dan siap bersaing di dunia kerja. Saya juga ingin memperoleh pengalaman berharga melalui praktik, magang, dan kegiatan organisasi yang mendukung karier saya ke depan,” tuturnya.

    Yani berharap agar semangat mahasiswa baru Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo terus tumbuh menjadi generasi muda berkarakter, profesional, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

    Penulis (Kornelia Rani) adalah Mahasiswi Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II Pontianak. (Sam).

    Makrab HIMAGRI 2025: Merajut Kebersamaan, Membangun Solidaritas

    Makrab HIMAGRI 2025: Merajut Kebersamaan, Membangun Solidaritas (2025)

    Duta, Pontianak | Kebersamaan bukan sekadar hadir bersama, tetapi tentang bagaimana antara hati saling terhubung dan tumbuh dalam satu semangat yang sama.

    Hal itulah yang tercermin dalam kegiatan Malam Keakraban (Makrab) Himpunan Mahasiswa Agribisnis (HIMAGRI) Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo yang sukses dilaksanakan pada 3–4 Oktober 2025, mulai pukul 15.30 WIB hingga 12.00 WIB keesokan harinya, di kampus III Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo yang beralamat di jalan raya Ngabang Km 14.

    Dengan mengusung tema “Merajut Kebersamaan, Membangun Solidaritas”, kegiatan ini menjadi ruang bagi seluruh anggota HIMAGRI baik mahasiswa baru maupun angkatan atas untuk mempererat hubungan, memperkuat semangat kekeluargaan, serta menanamkan nilai-nilai kebersamaan yang menjadi dasar organisasi mahasiswa agribisnis.

    Makrab HIMAGRI 2025: Merajut Kebersamaan, Membangun Solidaritas

    Makrab HIMAGRI 2025 dibuka secara resmi oleh Kepala Program Studi Agribisnis, Bapak Polikarpus Payong, S.P., M.P. Dalam sambutannya, beliau memberikan apresiasi atas semangat dan kekompakan mahasiswa HIMAGRI dalam menjaga tradisi positif yang mempererat rasa kekeluargaan di lingkungan kampus.

    Mahasiswa Agribisnis harus bisa menumbuhkan solidaritas dan kerja sama sejak di bangku kuliah. Dunia pertanian membutuhkan jiwa kolaboratif dan tangguh. Kegiatan seperti makrab ini adalah tempat kita belajar hal itu secara nyata,” ujar Kaprodi Agribisnis.

    Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan perkenalan antaranggota dari berbagai angkatan. Suasana akrab dan penuh semangat langsung terasa, mencairkan jarak antara mahasiswa baru dan senior.

    Rangkaian acara hari pertama diisi dengan berbagai games kebersamaan dan aktivitas kelompok yang dirancang untuk menumbuhkan kerja sama, komunikasi, dan rasa saling percaya. Tawa dan semangat peserta menghiasi setiap kegiatan, mulai dari permainan estafet, lomba kekompakan, hingga diskusi ringan seputar kehidupan kampus dan dunia agribisnis.

    Permainan tersebut bukan hanya sekadar hiburan, melainkan sarana untuk belajar memahami arti kebersamaan dalam organisasi. Dari kerja sama itulah muncul solidaritas yang menjadi dasar HIMAGRI terus berkembang.

    Selain itu, panitia juga menghadirkan sesi diskusi dan refleksi bertajuk “Mahasiswa Agribisnis Sebagai Generasi Tangguh Pertanian Indonesia”, di mana peserta diajak untuk menumbuhkan kesadaran akan peran mereka dalam menghadapi tantangan sektor pertanian modern.

    Menjelang malam, seluruh peserta berkumpul di sekitar api unggun, simbol kehangatan dan persaudaraan. Cahaya api yang menari di tengah gelap malam seolah menggambarkan semangat HIMAGRI yang menyala dalam kebersamaan.

    Malam api unggun menjadi momen puncak makrab. Para peserta saling berbagi kisah, tawa, bahkan pesan-pesan haru yang memperkuat rasa kekeluargaan. Tidak ada perbedaan antara junior dan senior semua melebur dalam satu semangat HIMAGRI yang sama.

    Api yang menyala di tengah malam mencerminkan semangat mahasiswa Agribisnis yang tidak mudah padam, meskipun menghadapi tantangan dalam perjalanan akademik maupun organisasi. Melalui kegiatan api unggun, seluruh peserta diajak untuk lebih akrab, saling mengenal, dan menumbuhkan solidaritas antarangkatan maupun antaranggota HIMAGRI.,” ungkap Lili sebagai Wakil Ketua Himagri.

    Keesokan harinya, Sabtu, 4 Oktober 2025, suasana pagi dimulai dengan jalan santai bersama di sekitar area kegiatan. Aktivitas ini menjadi momen penyegaran setelah semalam penuh kegiatan, sekaligus mempererat keakraban antaranggota dalam suasana santai.

    Tawa dan obrolan ringan menghiasi perjalanan. Beberapa peserta bahkan tampak saling bercanda dan berfoto bersama, mengabadikan momen kebersamaan yang akan dikenang lama.

    Setelah jalan santai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian kesan dan pesan dari panitia serta peserta. Ketua panitia makrab menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi, terutama kepada Kaprodi Agribisnis yang turut hadir membuka acara, serta kepada semua anggota HIMAGRI yang antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan.

    Kami sangat bersyukur karena seluruh kegiatan berjalan lancar dan penuh makna. Melalui makrab ini, kami ingin mengingatkan kembali bahwa HIMAGRI bukan hanya organisasi, tetapi rumah tempat kita belajar bersama dan membangun solidaritas,” ujar Pianus Tutuk Ketua Himagri.

    Peserta pun menyampaikan rasa bangga dan haru karena bisa menjadi bagian dari kegiatan yang memperkuat hubungan kekeluargaan di antara mahasiswa Agribisnis.

    Makrab HIMAGRI 2025 resmi ditutup pada pukul 12.00 WIB, ditandai dengan doa dan ucapan syukur bersama. Meski tanpa nyanyian mars, semangat dan senyum para peserta sudah cukup menggambarkan keberhasilan acara ini.

    Kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam bahwa solidaritas dan kebersamaan bukan sekadar slogan, tetapi nilai yang hidup di setiap anggota HIMAGRI.

    Makrab HIMAGRI 2025: Merajut Kebersamaan, Membangun Solidaritas (2025)

    Melalui kegiatan sederhana namun bermakna ini, HIMAGRI kembali membuktikan diri sebagai wadah yang memupuk semangat kolaborasi dan kebersamaan di kalangan mahasiswa Agribisnis.

    *Penulis (Pianus Tutuk / Ketua Himpunan Mahasiswa Agribisnis) adalah mahasiswa aktif Agribisnis semester 5 di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus 3 Plasma 2, Fakultas Sains Dan Teknologi (Ngabang, Kabupaten Landak)- (Sam). 

    Farmakologi Itu Seru Banget! Mahasiswa Keperawatan Febih Yowola Giri Ceritakan Pengalaman Belajarnya

    Foto: Sese Selonika Mahasiswi AKUB Pontianak, tengah wawancarai Febih (2025)

    Duta, Pontianak | Semangat belajar tampak jelas dari Febih Yowola Giri (19), mahasiswi semester 3 Program Studi Keperawatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (Kampus II Pontianak), yang baru saja mengikuti perkuliahan Farmakologi bersama dosen Elisabeth.

    Dalam wawancara, Febih mengungkapkan bahwa ia sangat menikmati proses belajar di mata kuliah tersebut.

    “Farmakologi itu seru banget!” ujarnya antusias (10/10/2025).

    Menurut Febih, mata kuliah farmakologi membuka wawasan baru tentang cara kerja obat di dalam tubuh manusia—mulai dari bagaimana obat masuk, diproses, hingga akhirnya dikeluarkan oleh tubuh. Ia juga belajar mengenai efek obat, baik yang menguntungkan maupun efek samping yang perlu diwaspadai.

    Baca juga: Etika dan Litersai Finansial di Kampus

    “Melalui farmakologi, kami diajak memahami sisi ilmiah di balik setiap tindakan medis. Jadi, bukan hanya menghafal nama obat, tapi benar-benar mengerti bagaimana obat bekerja,” jelasnya.

    Febih juga mengatakan bahwa mata kuliah itu membuatnya semakin tertarik memperdalam pengetahuan tentang interaksi obat dan peran perawat dalam pemberian terapi farmakologis.

    Febih menilai pembelajaran yang diterapkan dosen sangat menarik karena menghubungkan teori dengan praktik di dunia nyata.

    Rutinitas Padat Mahasiswa Keperawatan

    Sebagai mahasiswa aktif, Febih menjalani rutinitas harian yang padat. Ia sudah berada di kampus sejak pukul 07.50 pagi dan biasanya baru selesai kuliah sekitar pukul 16.00. Jika ada tambahan mata kuliah atau praktikum, kegiatan bisa berlanjut hingga pukul 17.00.

    Namun, padatnya jadwal perkuliahan tidak membuatnya langsung pulang ke rumah. Febih memilih untuk tetap aktif mengikuti berbagai kegiatan kampus.

    “Biasanya setelah kuliah saya ikut kegiatan UKM dan juga aktif di Himpunan Mahasiswa Keperawatan (HIMA),” tuturnya.

    Baginya, menjadi mahasiswa bukan hanya soal hadir di kelas dan mengerjakan tugas, tetapi juga tentang mengembangkan kemampuan organisasi dan memperluas relasi. Aktivitas di HIMA dan UKM menjadi wadah baginya untuk belajar bekerja sama, berkomunikasi, dan memimpin.

    Tantangan dan Semangat

    Di balik kesibukan itu, Febih mengakui bahwa tantangan terbesar selama menempuh pendidikan keperawatan adalah menyeimbangkan teori dan praktik.

    Dunia keperawatan, katanya, menuntut mahasiswa untuk tidak hanya memahami teori dari buku, tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung saat praktik di rumah sakit.

    Selain itu, jadwal yang padat dan tanggung jawab terhadap pasien menuntutnya untuk disiplin dalam mengatur waktu.

    “Semua tantangan itu justru membentuk mental dan karakter saya untuk menjadi calon perawat yang tangguh dan profesional,” ujarnya dengan semangat.

    Pesan untuk Sesama Mahasiswa

    Di akhir wawancara, Febih menyampaikan pesan inspiratif bagi teman-teman mahasiswa lainnya.

    “Jangan pernah lelah belajar dan berbuat baik. Menjadi perawat bukan hanya tentang ilmu, tapi tentang hati yang mau melayani,” katanya.

    Ia juga berpesan agar semua mahasiswa, apa pun jurusannya, tetap bersemangat dalam menuntut ilmu.

    “Yang penting dijalani dengan sungguh-sungguh, karena setiap ilmu yang kita pelajari pasti bermanfaat bagi orang lain,” pungkasnya.

    *Penulis (Nika) adalah Mahasiswa Akademik Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pntianak Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, (Sam).

    Etika dan Litersai Finansial di Kampus

    Gambar: Anjeli Mahasiswa AKUB Pontianak, Jumat, 10 oktober 2025 15.30 WIB

    Duta, Pontianak | “Saya pikir hal terpenting yang perlu ditanamkan pada mahasiswa itu bukan hanya aspek akademik, tetapi juga etika. Karena jika tidak ada etika, setinggi apapun pendidikan kita, itu sama saja tak berbuah makna,” ungkap Yuliana (40) dalam wawancara pada Jumat (10/10/2025).

    Yuliana, S.E.,M.M. (40) Wakil Direktur I Bidang Akademik dan Kurikulum AKUB GAK Pontianak. Menurutnya, “etika bukanlah sesuatu yang hanya berlaku di lingkungan kampus, melainkan bekal hidup yang akan menyertai seseorang di dunia kerja dan dalam masyarakat luas”.

    Kepada pewawancara (Anjeli), ia menekankan bahwa etika harus terus dipelajari dan direfleksikan dalam keseharian.

    Dalam sesi wawancara, (Anjeli) tidak hanya menyinggung soal etika, melainkan juga sejumlah persoalan nyata yang tengah dihadapi mahasiswa AKUB.

    Persoalan apa yang paling mendesak?

    Finansial….. Kata Yuliana, pengelolaan keuangan adalah salah satu tantangan terbesar mahasiswa.

    Sejak SMA, seseorang sudah mulai belajar mengatur uangnya, namun ketika memasuki dunia perkuliahan, pemahaman itu harus lebih matang. Untuk itu, ia akan memfokuskan upaya melalui Kelompok Studi Pasar Modal (KPSM) agar mahasiswa AKUB memiliki literasi finansial yang lebih baik.

    Saat ditanya soal ambisi kar ir, Yuliana berkata bahwa sejak dulu ia tak terlalu mengejar karir tinggi. Bukan berarti ia tidak ingin berkembang, melainkan ia menyadari bahwa setiap pencapaian butuh proses. Menurutnya, ambisi bukan jalan tunggal menuju sukses, sebab Tuhan sudah mengatur takdir masing‑masing individu.

    Bagi Yuliana, keluarga adalah sumber inspirasi terbesar. Namun, ia meyakini bahwa motivasi sejati harus berasal dari diri sendiri.

    “Kalau kita tidak bisa memotivasi diri sendiri, bagaimana kita bisa memotivasi orang-orang terdekat kita?” tuturnya.

    Melihat ke lima tahun mendatang khususnya bagi mahasiswa Keuangan dan Perbankan, Yuliana menyebut bahwa selain pendidikan akademis dan non-akademis, penguasaan soft skills dan kompetensi tambahan sangat krusial. Angkatan 2024, yang menjalani kurikulum baru, diperkenalkan lebih awal dengan dunia pasar modal melalui KPSM.

    Baca juga: Dari Teori ke Praktik, Mendidik Perawat, Menanamkan Empati

    Tujuannya bukan agar mahasiswa menjadi trader semata, melainkan agar mereka memiliki keterampilan yang dapat bersaing secara nasional maupun internasional. Nantinya, mahasiswa dapat memperoleh sertifikat efek-efek keuangan dari perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Edukasi dari BEI atau program seperti SLTI ke PAMI adalah modal luar biasa yang kalian miliki,”ujar Yuliana.

    Menurut Yuliana, dengan ilmu dan sertifikat tersebut, mahasiswa tak lagi mencari kerja; melainkan perusahaan—termasuk dari 940 perusahaan terdaftar di BEI—akan mencari mereka. Terlebih bagi mereka yang ingin berkarir di bidang keuangan atau perbankan, sesuai dengan program studi mereka, peluang itu sangat terbuka lebar.

    * Penulis (Anjeli) adalah Mahasiswa Keuangan dan Perbankan, Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak (Sam)

    Dari Teori ke Praktik, Mendidik Perawat, Menanamkan Empati

    Dari Teori ke Praktik, Mendidik Perawat, Menanamkan Empati (2025)

    Duta, Pontianak, 13 Oktober 2025 | Menjadi pendidik di bidang keperawatan bukan sekadar profesi, melainkan sebuah panggilan hati. Hal inilah yang diungkapkan oleh  Ns. Dwi Kurniasih, M.Kep., dosen Program Studi D3 Keperawatan, dalam wawancara bersama Yuliana Aling, mahasiswa kelas 3B.

    Sebagai tenaga pendidik (dosen),  Dwi menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi, yang mencakup pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia menekankan bahwa proses belajar tidak hanya sebatas teori di kelas, tetapi juga harus diimbangi dengan praktik dan pembentukan karakter.

    “Mahasiswa keperawatan perlu memiliki empati dan etika yang kuat, karena itulah fondasi utama dalam dunia pelayanan kesehatan,” ujar Dwi (07/10).

    Dalam kesehariannya, beliau aktif meneliti berbagai isu kesehatan, di antaranya kesehatan reproduksi remaja dan penanganan nyeri dismenorea. Sementara itu, kegiatan pengabdian masyarakat kerap dilakukan melalui edukasi kesehatan di sekolah-sekolah dan posyandu remaja, terutama pada masa libur semester.

    Kolaborasi menjadi kunci dalam setiap aktivitasnya. Dwi bekerja sama dengan dosen lain, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta mitra dari rumah sakit, puskesmas, dan sekolah. Dengan cara ini, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman langsung di lapangan sekaligus berkontribusi bagi masyarakat.

    “Kami ingin mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memahami kebutuhan masyarakat dan menjadi bagian dari solusi,” tambahnya.

    Proses pembelajaran teori dilakukan di kampus, sedangkan kegiatan praktik berlangsung di laboratorium keperawatan dan lahan praktik seperti rumah sakit dan puskesmas.

    Untuk penilaian, beliau menitikberatkan pada kemampuan mahasiswa berpikir kritis, berkomunikasi efektif, dan menerapkan teori dalam konteks nyata.

    Sebagai dosen, Dwi juga mencontohkan pentingnya pengembangan diri berkelanjutan. Ia rutin mengikuti pelatihan, seminar, dan publikasi ilmiah, agar selalu mengikuti perkembangan ilmu keperawatan terkini.

    “Dunia kesehatan terus berubah. Karena itu, dosen juga harus terus belajar agar bisa memberikan pembelajaran yang relevan dan bermakna,” tuturnya.

    Melalui dedikasinya,  Dwi berharap dapat melahirkan generasi perawat yang profesional, berempati, dan berjiwa sosial tinggi — insan yang tidak hanya cakap secara keterampilan, tetapi juga tulus dalam pelayanan kepada sesama.

    Penulis: Yuliana Aling (Kelas 3B), Akademi Keuangan dan Perbankan, (Sam).

    PELANTIKAN DIREKSI RSU. SANTO ANTONIUS PONTIANAK

    Jajaran Direksi RSU. St. Antonius Pontianak periode 2025-2029 yang dilantik (8/10/2025)

    DUTA, PONTIANAK | Rabu, 8 Oktober 2025, bertempat di Aula Santo Leopoldo, Rumah Sakit Umum Santo Antonius (RSU Santo Antonius) Pontianak melangsungkan acara Pelantikan Direksi Baru untuk masa bakti 2025 – 2029. Acara ini menjadi momen penting dalam perjalanan rumah sakit yang dikelola oleh Yayasan Dharma Insan Pontianak, sekaligus menandai komitmen kuat terhadap peningkatan mutu tata kelola dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

    Segenap undangan yang menghadiri pelantikan Direksi RSU. St. Antonius Pontianak (8/10/2025 – Foto : Talino)

    Pelantikan ini dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Pengurus Yayasan Dharma Insan Pontianak Nomor 1091/YDI/RSSA/UP/SK/2025 tertanggal 30 September 2025, yang menetapkan susunan direksi sebagai berikut:

    1. dr. Petrus Juntu, Sp.OG (Direktur Utama)
    2. dr. Anton Suwito, Sp.OG (Direktur Pelayanan)
    3. Sr. Marselina, SFIC, S.Kep., Ners., M.Kep (Direktur Keperawatan)
    4. dr. Andreas Erick Haurisa, Sp.JP, FIHA (Direktur SDM dan Umum)
    5. P. Kusmas, OFMCap., MM (Direktur Keuangan dan Perencanaan)

    Sebelum prosesi pelantikan, terlebih dahulu ditayangkan video mengenai safety briefing, dilanjutkan dnegan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars RSU Santo Antonius Pontianak.

    Tampak Jajaran Direksi RSU. St. Antonius Pontianak duduk sederetan bersama Ketua Yayasan Dharma Insan (8/10/2025 – Foto: Talino))

    Selanjutnya dibacakan Surat Keputusan Yayasan Dharma Insan tentang pemberhentian dan pengangkatan Direksi RSU Santo Antonius Pontianak oleh sekretaris Yayasan Dharma Insan, Sr. Muthia Lestari, SMFA.

    Pengucapan janji dan pembacaan berita acara pelantikan direksi serta penandatangan berita acara dipimpin oleh P. Dr. Faustus Bagara Darmawan, OFMCap (Ketua Pengurus Yayasan Dharma Insan), disaksikan oleh RD. Alexius Alex (Wakil Ketua Yayasan), dan RP. Amandus Ambot, OFMCap (anggota dewan pengawas).

    Seleksi Terbuka dan Transparan

    Penunjukan jajaran direksi periode ini merupakan hasil dari proses seleksi terbuka dan ketat yang diselenggarakan oleh Yayasan Dharma Insan bersama Dewan Pengawas RSU Santo Antonius. Proses ini terbuka bagi kandidat internal maupun eksternal rumah sakit, selama memenuhi kriteria yang telah ditentukan.

    dr. Petrus Juntu, Sp.OG – Direktur Utama RSU. St. Antonius Pontianak menandatangani berita acara pelantikan (8/10/’2025 – FotoL:Talino)

    Setiap calon direksi menjalani serangkaian tahapan seleksi secara transparan, mulai dari  wawancara, presentasi visi, misi, serta rencana kerja di hadapan Dewan Pengawas dan pihak Yayasan. Proses ini menjadi bagian dari uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) untuk memastikan terpilihnya pemimpin yang memiliki kompetensi, integritas, serta komitmen pelayanan yang tinggi.

    Pesan dan Harapan Direktur Utama

    Dalam sambutan perdananya, dr. Petrus Juntu, Sp.OG, selaku Direktur Utama yang baru dilantik, menyampaikan rasa syukur dan kesadaran akan tanggung jawab besar yang kini diemban oleh seluruh jajaran direksi.

    “Setiap unit pelayanan harus mampu bekerja secara terarah dan terukur, sesuai dengan visi dan misi rumah sakit. Kita harus tetap melangkah maju meskipun menghadapi badai dan gelombang yang dahsyat,” ujar dr. Juntu.

    RP. Dr. Faustus Bagara Darmawan, OFMCap (Ketua Pengurus Yayasan Dharma Insan) menandatangani berita acara pelantikan (8/10/2025 – Foto: Talino)

    Ia juga menyoroti tantangan dunia kesehatan yang semakin kompleks serta pentingnya kolaborasi dan inovasi lintas lini dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

    Salah satu fokus strategis ke depan adalah menghadirkan layanan BPJS Kesehatan di RSU Santo Antonius, sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu agar dapat mengakses layanan kesehatan yang layak dan bermartabat.

    Kata dr. Juntu, sebagai salah satu rumah sakit Katolik tertua dan terbesar di Kalimantan Barat, RSU Santo Antonius Pontianak berkomitmen untuk terus menjadi institusi pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kasih, keadilan, dan profesionalisme.

    Mgr. Agustinus Agus (Ketua Dewan Pembina Yayasan Dharma Insan) menyampaikan pesan dan harapan untuk direksi yang terpilih (8/10/2025 – Foto: Talino))

    dr. Juntu berharap kepada semua pihak yang terlibat dalam pelayanan di RSU. Santo Antoinus menjadikan moment pelantikan direksi ini menjadi titik tolak pembaruan serta penguatan visi misi rumah sakit dalam menjawab tantangan pelayanan kesehatan secara holistik.

    “Dengan dukungan dari seluruh civitas hospitalia, tenaga medis, keperawatan, staf penunjang, serta berbagai pemangku kepentingan, RSU Santo Antonius optimis untuk terus tumbuh menjadi rumah sakit pilihan utama masyarakat Kalimantan Barat dan sekitarnya,”tegasnya.

    Harapan dari Ketua Pengurus Yayasan Dharma Insan

    Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Yayasan Dharma Insan Pontianak, RP. Dr. Faustus Bagara Darmawan, OFMCap, turut memberikan sambutan yang menekankan pentingnya kepemimpinan berbasis nilai moral dan spiritualitas.

    “Kami percaya bahwa pemimpin yang dipilih melalui proses yang terbuka dan adil akan memiliki komitmen moral yang kuat terhadap tanggung jawabnya. Rumah sakit ini bukan sekadar institusi layanan kesehatan, tetapi juga perpanjangan tangan dari misi kemanusiaan dan pelayanan kasih,” tegas RP. Dr. Faustus Bagara

    Foto bersama usai prosesi pelantikan (8/10/2025 – Foto:Talino))

    Ia juga menyoroti bahwa tantangan dunia kesehatan di masa kini dan mendatang tidak hanya membutuhkan kecakapan teknis dan manajerial, tetapi juga kepekaan sosial dan jiwa pelayanan. Maka dari itu, sinergi antara nilai-nilai Katolik, profesionalisme, dan semangat melayani harus terus menjadi fondasi yang tak tergantikan.

    “Harapan kami, RSU Santo Antonius tetap menjadi tempat di mana kasih dan penyembuhan berjalan beriringan. Mari kita jadikan rumah sakit ini sebagai rumah harapan bagi semua yang datang dengan luka, sakit, dan harapan akan kesembuhan,” tambahnya.

    Pernyataan Ketua Dewan Pembina Yayasan Dharma Insan

    Mgr. Agustinus Agus, Ketua Pembina Yayasan Dharma Insan Pontianak, juga turut memberikan arahannya dalam acara tersebut. Ia menegaskan pentingnya menjadikan rumah sakit sebagai sarana perwujudan kasih Kristiani yang nyata, tidak hanya melalui pelayanan medis yang bermutu, tetapi juga melalui kehadiran yang menguatkan secara spiritual.

    “Rumah sakit Katolik bukan hanya tempat menyembuhkan tubuh, tetapi juga tempat menyentuh jiwa. Saya berharap para direksi yang baru dilantik dapat menjalankan tugasnya dengan penuh semangat pelayanan, rendah hati, dan cinta kasih yang nyata,” ungkap Mgr. Agustinus.

    Dalam rangka mengoptimalkan pencapaian misi dan visi Rumah Sakit Santo Antonius, Mgr. Agustinus Agus menekankan pentingnya sinodalitas antara Direksi, Yayasan, dan Dewan Pengawas. Kolaborasi yang erat antara ketiga pihak ini, menurutnya, menjadi kunci utama dalam mewujudkan tujuan awal pendirian rumah sakit yang telah lama menjadi harapan bagi masyarakat.

    Mgr. Agustinus Agus menyampaikan bahwa sinodalitas bukan hanya sekadar kerjasama administratif, namun lebih dari itu, sebuah keterpaduan yang mengharmoniskan setiap keputusan yang diambil demi kepentingan bersama. Beliau menggambarkan hubungan ini ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, di mana masing-masing pihak saling melengkapi dan memperkuat peran satu sama lain. #Paul

    Seminar Kitab Suci BKSN 2025 di UNIKA Santo Agustinus Hippo Tekankan Relasi Pribadi dengan Allah

    Seminar BKSN, 2025 - Kampus Utama Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo. (Lokasi. Rusunawa)

    Duta, Landak | Dalam rangka Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025, tim Kapelan Kampus Utama Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Ngabang menyelenggarakan Seminar Kitab Suci bertema “Allah Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup”.

    Acara berlangsung pada Kamis, 25 September 2025, pukul 16.00–17.30 WIB di Rusunawa Asrama kampus.

    RP. Adrianus Dilan, CP., S.Fil., M.Fil., selaku ketua Kapelan Kampus sekaligus penanggung jawab kegiatan, mengajak mahasiswa berperan aktif baik sebagai panitia maupun peserta.

    Dalam rangka, seminar BKSN 2025. Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo. (2025)

    Ia berharap seluruh peserta mengikuti seminar dengan saksama agar dapat menghayati iman secara lebih mendalam.

    Seminar dimoderatori oleh Michael Carlos Kodoati, S.Fil., S.H., M.Fil., Kepala Lembaga Pengembangan Humaniora dan Religiusitas (LENTERA) San Agustin. Dengan panduan yang komunikatif dan kontekstual, suasana seminar menjadi hidup; mahasiswa pun antusias berdiskusi, bertanya, dan berbagi pengalaman.

    Narasumber utama, RP. Petrus Yuniarto, CP., S.Fil., S.Th.L.—yang juga Ketua Senat UNIKA Santo Agustinus Hippo—menekankan pentingnya “Relasi Aku dengan Allah”.

    Ia mengajak peserta merenungkan dua sikap hidup: manusia yang menjauh dari Tuhan dan manusia yang hidup dalam takut akan Tuhan.

    Seminar dalam rangka Bulan Kitab Suci Nasioanal, 2025.

    Menurutnya, pilihan antara kebaikan dan kejahatan membawa konsekuensi rohani dan praktis yang tercermin dalam doa, kasih kepada Tuhan, serta arah hidup yang dipilih.

    “Bahkan ketika seseorang berkata tidak punya tujuan, itu sudah merupakan pilihan: hidup tanpa arah,” tegas imam lulusan Licensiat Teologi Pastoral dari University of Santo Tomas, Manila, Filipina.

    Seminar ini dihadiri 136 mahasiswa yang aktif menyimak, berdiskusi, dan bertanya. Turut hadir Wakil Rektor III UNIKA Santo Agustinus Hippo, Tri Natalia Urada, S.I.Kom., M.I.Kom., yang memantau jalannya kegiatan, serta Suster Roshelle Grace Aguila, OP, anggota tim Kapelan asal Bicol, Filipina, yang mendampingi panitia dan mahasiswa.

    Suasana, BKSN di Rusunawa, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, (Kampus Utama) 2025.

    Menutup seminar, RP. Petrus Yuniarto mengajak peserta membangun relasi dengan Allah melalui kehadiran dalam Perayaan Ekaristi harian, devosi pribadi, konseling rohani, dan penerimaan Sakramen Tobat.

    Ia menegaskan bahwa pertobatan memulihkan hubungan manusia dengan Allah, yang telah mendamaikan kita melalui Sengsara, Wafat, dan Kebangkitan Kristus.

    Bacaan Kitab Suci dari Maleakhi 3:13–18 menjadi dasar ajakan ini: takut akan Tuhan bukanlah rasa takut yang menindas, melainkan hormat dan kasih seorang anak kepada Bapa. Dalam kasih-Nya, Allah terus membimbing manusia untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar, menuju surga dan kehidupan kekal.*S. 

    Bahasa Indonesia Sebagai Penopang Karakter dan Jati Diri Generasi Muda

    Drs. Suardi, M.Pd - Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak - Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.

    Duta, Pontianak | Di tengah derasnya arus globalisasi dan ledakan teknologi komunikasi, bahasa kerap dipandang hanya sebagai alat praktis untuk menyampaikan pesan. Pandangan ini keliru. Bahasa, khususnya bahasa Indonesia, bukan sekadar medium berbicara atau menulis; ia adalah rumah kebudayaan, cermin moral, dan fondasi pembentukan karakter generasi penerus bangsa. Tanpa kesadaran mendalam terhadap peran ini, kita akan menyaksikan degradasi identitas nasional yang pelan tetapi pasti.

    Sejak Sumpah Pemuda 1928, bahasa Indonesia telah diikrarkan sebagai bahasa persatuan. Pengakuan itu kemudian ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 36 dan 36C yang menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan menuntut perlindungan hukum. Artinya, bahasa Indonesia tidak hanya memiliki nilai praktis, tetapi juga martabat konstitusional. Ia mengikat lebih dari 700 kelompok etnis dalam satu simpul identitas. Dari Aceh hingga Papua, bahasa Indonesia menjadi jembatan komunikasi yang memungkinkan kita menyebut diri sebagai bangsa, bukan sekadar kumpulan suku.

    Namun, di era modern, posisi ini kian diuji. Fenomena “gengsi berbahasa asing” menjadi pemandangan sehari-hari. Di media sosial, ruang kuliah, hingga obrolan santai, campur-campur bahasa Inggris kerap dianggap keren, sementara bahasa Indonesia dipandang kuno. Generasi muda, termasuk pelajar dan mahasiswa, merasa lebih percaya diri bila menaburkan istilah asing, seolah mutu intelektual diukur dari seberapa banyak kata serapan barat yang bisa diselipkan. Di sisi lain, bahasa gaul yang lahir dari kreativitas urban juga sering jauh dari kaidah tata bahasa yang baik dan benar. Gejala ini bukan sekadar perubahan selera, tetapi refleksi krisis kebanggaan terhadap jati diri.

    Padahal, penguasaan bahasa Indonesia yang baik memiliki fungsi jauh lebih besar daripada sekadar gaya bicara. Bahasa yang terstruktur menuntun pikiran yang teratur. Seseorang yang mampu menulis dan berbicara secara logis biasanya juga berpikir sistematis. Dari sinilah karakter terbentuk: kesabaran untuk merangkai kalimat dengan cermat, kejujuran dalam mengekspresikan gagasan, dan kesopanan dalam memilih kata. Sebaliknya, penggunaan bahasa secara serampangan sering berbanding lurus dengan pola pikir yang semrawut.

    Pakar pendidikan Mulyasa menegaskan bahwa bahasa Indonesia berperan sebagai penunjang pembangunan sosial, politik, dan budaya. Ia bukan hanya sarana komunikasi, tetapi wadah ekspresi emosi, harapan, dan gagasan yang kemudian mewujud menjadi tindakan.

    Artinya, penguasaan bahasa berkorelasi langsung dengan kapasitas intelektual dan emosional. Dalam konteks mahasiswa, pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi seharusnya tidak dipandang sebagai mata kuliah formalitas, melainkan proses pembentukan karakter. Melatih keterampilan menyimak menumbuhkan sikap setia dan menghargai pendapat orang lain. Membaca dengan teliti mengasah ketajaman analisis. Berbicara dan menulis dengan teratur melatih keberanian menyampaikan ide secara jernih, sekaligus mengajarkan tanggung jawab terhadap kata-kata sendiri.

    Fungsi ganda bahasa Indonesia—sebagai cermin kepribadian dan alat pemersatu—membuatnya memiliki peran strategis dalam pengembangan bangsa. Pertama, bahasa adalah identitas moral. Ungkapan “bahasa menunjukkan bangsa” bukan sekadar pepatah. Ketika masyarakat terbiasa berbahasa dengan santun, teratur, dan jelas, citra bangsa pun terangkat. Kedua, bahasa Indonesia adalah perekat kebhinnekaan. Di tengah keragaman suku, agama, dan budaya, ia menyediakan ruang perjumpaan yang memungkinkan kita saling memahami tanpa kehilangan akar lokal. Ketiga, bahasa adalah wahana pewarisan pengetahuan dan budaya. Melalui bahasa Indonesia, cerita rakyat, tembang, dan ilmu pengetahuan dapat diteruskan lintas generasi. Dan keempat, bahasa menumbuhkan identitas nasional: rasa bangga sekaligus kesadaran bahwa kita bagian dari sejarah bersama.

    Gorys Keraf, pakar linguistik Indonesia, menambahkan dimensi penting lain: kejujuran dan kejelasan dalam berbahasa mencerminkan kejernihan berpikir. Struktur kalimat yang rapi melatih logika. Penggunaan gaya bahasa yang bervariasi menumbuhkan daya tarik dan imajinasi, menumbuhkan kepercayaan diri, bahkan kemampuan persuasif. Lebih jauh, penguasaan bahasa yang baik adalah wujud sikap kebangsaan, mengingat bahasa Indonesia sendiri lahir dari semangat persatuan.

    Jika kita hubungkan seluruh pemikiran itu dengan realitas sekarang, tantangan terbesar generasi muda bukan hanya godaan untuk meninggalkan bahasa Indonesia, tetapi juga kehilangan kesadaran bahwa bahasa adalah alat pembentukan budi pekerti. Sopan santun, integritas, dan kejujuran bukan hanya diajarkan dalam mata pelajaran moral, tetapi juga ditanamkan melalui kebiasaan berbahasa. Ketika seseorang terbiasa menyusun kalimat dengan hormat dan tepat, ia belajar menghargai lawan bicara. Ketika ia berupaya menulis dengan jujur dan tidak memelintir fakta, ia melatih diri untuk berpikir etis.

    Apa yang harus dilakukan? Pertama, dunia pendidikan perlu menempatkan pelajaran bahasa Indonesia sebagai penguatan karakter, bukan sekadar penguasaan tata bahasa. Pembelajaran harus kreatif: mengajak mahasiswa berdiskusi, berdebat dengan argumen yang terstruktur, dan menulis esai yang bernas.

    Kedua, pemerintah dan lembaga kebudayaan mesti memperluas ruang apresiasi bahasa Indonesia di media digital—dari film, musik, hingga konten media sosial—sehingga generasi muda melihat bahasa Indonesia bukan sebagai beban, melainkan kebanggaan. Ketiga, keluarga memiliki peran tak tergantikan. Orang tua yang membiasakan komunikasi santun dan kaya kosakata di rumah memberi teladan paling awal dan paling efektif.

    Kita juga perlu menanggapi realitas globalisasi secara cerdas. Menguasai bahasa asing tentu penting dalam dunia kerja dan ilmu pengetahuan. Tetapi, kebanggaan terhadap bahasa sendiri tidak boleh tergadaikan. Sikap ideal adalah dwibahasa yang sehat: piawai berbahasa asing untuk menjangkau dunia, tetapi kukuh mencintai bahasa Indonesia sebagai pijakan identitas. Sebagaimana pepatah, “Orang yang kehilangan bahasa ibunya ibarat pohon yang kehilangan akar.” Tanpa akar itu, kita akan mudah tercabut dari tanah sejarah.

    Akhirnya, peran bahasa Indonesia dalam pembentukan karakter generasi muda bukan teori belaka. Ia adalah realitas yang kita alami setiap hari. Dari cara mahasiswa menulis skripsi, anak sekolah menanggapi guru, hingga percakapan santai di ruang publik, bahasa membentuk kebiasaan, kebiasaan membentuk watak, dan watak membentuk peradaban. Jika kita abai, peradaban itu rapuh; jika kita peduli, bahasa Indonesia akan terus menjadi pilar bangsa yang kokoh.

    Di era global, identitas tidak perlu dipertentangkan dengan keterbukaan. Justru, semakin kita akrab dengan dunia, semakin penting menegaskan siapa kita. Dan salah satu cara paling nyata untuk menegaskannya adalah dengan mencintai, memelihara, dan menghidupkan bahasa Indonesia dalam tutur, tulisan, dan tindakan sehari-hari. Bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi; ia adalah jiwa bangsa. Menjaganya berarti menjaga diri kita sendiri.

    Penulis: Drs. Suardi, M.Pd. 
    Penyunting: Samuel, S.E., M.M. 

    TERBARU

    TERPOPULER