Saturday, May 2, 2026
More
    Home Blog Page 132

    Eksotisme Bromo: Tempat Healing Religius

    Eksotisme Bromo – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Yogyakarta – Berawal  dari pembincangan sederhana di ruang refter Wisma Syatikara, Yogyakarta, 6 Mei 2022, para formator Kursus Gabungan Novis (KGN) yang terdiri dari aneka kongregasi imam, bruder dan suster membicarakan rencana refresing  di akhir semester  pembelajaran bersama.

    Pertama kami ingin mengunjungi tempat wisata di Bali sebagai jendela destinasi dunia dan kedua, Labuan Bajo Manggarai, Flores NTT. Karena dari segi biaya begitu mahal maka secara spontan memilih Bromo sebagai pilihan terakhir. Ide ini disambut dengan senang hati oleh para pendamping KGN.

    Baca Juga: On Going Formation Prodiakon Dalam Gereja Katolik

    Para formator berangkat dari Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 2022. Adapun yang mengikut anjangsana ini adalah: Rm. Rukmono OMI, Sr. Hetty CB, Sr. Kolumba PBHK, Br. Neri MTB dan Br. Flavianus MTB. Sedangkan Sr. Immaculatien AK, Sr. Agatha BKK, Sr. Silvi MASF menunggu di Solo. Selama dalam perjalanan dengan melewati jalan Tol Solo-Surabaya, para pendamping tidak ada yang merasa ngantuk. Karena selain hiburan anekdot  gaya religius, rupanya pemandangan tebaran sawah dari Sragen hingga Probolinggo mampu menyegarkan mata kami  saat memandangnya dari dalam mobil yang kami tumpangi.

    Eksotisme Bromo

    Tanggal 9 Juni 2022, pukul 02.30 pagi, kami naik Jeep menuju gunung Bromo. Tempat pertama, kami berjibaku buki Kingkong. Kami menikmati udara yang begitu dingin. Sekitar ratusan para penikmat sunrise, sudah standby berselfi ria di salah satu spot, sembari menanti sinar matahari yang perlahan-lahan muncul di ufuk timur saat itu. Cahayanya di balik awan dan kabut tidak mengurangi decak kekaguman para pendaki gunung yang bukan hanya dari Indonesia saja tetapi juga wistawan mancanegara tak henti-henti merekam sinar matahari saat itu. Sinar matahari waktu itu mulai muncul pukul 05.00 pagi. Cahayanya yang sedikit temaram, memanjakan mata untuk tidak berkedip oleh karena sinarnya sangat unik.

    Selain itu perjumpaan dari aneka latar belakang budaya, bahasa dan ras di tengah suasana yang dingin saat itu, menjadi kenangan berharga dalam dinamika perjalanan panggilan para formatur dalam mendampingi para formandi milenial  saat ini.

    Therapy Healing

    Kami melihat  dan merasakan bahwa meskipun tempat- tempat wisata menarik di Bromo ini  hanya mengunjungi 4 lokasi umum saja yakni Gunung Penanjakan untuk melihat sunrise, Kawah Bromo, Padang Rumput Savanah dan Bukit Teletubies, akan tetapi sangat puas bagi kami.

    “Bagi saya kegiatan ini sangat menyenangkan dan menggembirakan, bukan hanya untuk memuji betapa indahnya Allah menciptakan alam semesta ini khusunya gunung Bromo, akan tetapi semacam therapi healing sangat bermanfaat bagi saya”. Ungkap Rm. Rukmono sembari mensharingkan pengalaman mendaki gunung lain di Pulau Jawa.

    Lanjut Rukmono “Saya bersyukur atas kebersamaan kita. Saling meneguhkan antar formator. Moment ini adalah saat penyembuhan dari kebenaran kita. Semoga di masa mendatang bisa diteruskan. Saya sungguh menjadi segar setelah acara tersebut, penuh inspirasi baru. Menjadi rileks sangat penting. Hanya ketika pikiran kita rileks, kita lebih tenang, sabar, dan produktif. Rileks tidak sama dengan santai, kalau santai ada unsur malasnya sehingga tidak produktif”. Ungkap Magister Novis OMI ini dengan mantap.

    Baca Juga: Berjalan Bersama untuk Bersaksi

    Sr. Silvia juga tidak ketinggalan mengungkapkan perasaan kegembiraannya dalam program wisata Bromo ini. “Saya di NTT sudah biasa naik gunung untuk mencari kayu api atau sekedar melihat indahnya bukit-bukit dan sabana di NTT. Namun saat di biara saya merasa moment ini sangat luar biasa. Ini kenangan terindah bagi magistra, karena bagi saya Bromo adalah gunung yang paling indah dan eksotis di Pulau Jawa”.

    Lanjut Sr. Silvia “Rekreasi doa tetap menjadi yang utama, susasana persaudaraan, kekeluarga, saling mendukung, sangat akrablah, semua bereksprsi dengan bebas hati. Saya juga sering mengajak para novis untuk berenang atau olah raga lainnya dalam menciptakan ruang kegembiraan dalam pola-pola pembinaan para formandinya di Kota Solo.

    “Kami secara berkala   bersama para novis naik gunung Ungaran.” Kata Sr. Immaculatien AK. “Di atas gununglah, kami merayakan ekaristi dan sharing bersama, rasanya memberi kenikmatan sendiri bagi para novis dari segala rutinitas tiap hari di ruang Novisiat.” Ujar Magistra AK ini dengan nada riang.

    Ruang Kontemplasi Alam

    “Pertama-tama saya pantas bersyukur kepada Tuhan yang sungguh luar biasa besar kasih-Nya kepada saya”. Ucap Sr. Immaculatien, AK.

    “Dari pengalaman kecil secara tak sengaja kala itu sampai terealisasi rekreasi “healing” bersama tanggal 8-9 Juni 2022 yang lalu. Saya merasa, Tuhan sangat mengerti sekali kerinduan kita dan Tuhan berkenan akan rencana baik kita, terbukti dengan mudahnya kita saling terlibat dan bersama mengusulkan pilihan tempat, tujuan, waktu yang sekiranya semua bias. Dan akhirnya diputuskan tanggal 8 Juni 2022, ditunjuk Ketua dan bendahara.” Lanjut Sr. Immaculatien

    Baca Juga: Paskah Bersama Kepolisian Resor Mempawah, Uskup Agustinus Sampaikan Refleksi Penderitaan

    Dilanjutkan kembali oleh Sr, Immaculatien “Secepat kilat tujuan dapat disepakati dan ketua bergerak cepat, dapat biro dan akhirnya mulai daftar intinya semua lancar, meski jujur biaya cukup mahal, semua dapat melewati proses harus ‘berembug’ secara terbuka dengan sikon komunitas masing-masing dan “clear” meski akhirnya tidak bisa semua teman bisa bergabung. Setelah kita bisa menikmati ternyata sensasi rasa persaudaraan dan kebersamaan yang terjalin dalam seluruh proses dan dinamika bersama tak bisa dan tak perlu lagi diperbandingkan dengan apapun juga, merasa senasib sepenanggunga. Luar biasa anugerah dapat merasakan dan menyatu dengan alam, perlahan mulai bersahabat dengan “sikon” semuanya, baik yang hidup maupun yang mati, lingkungan hidup /biotik dan abiotic. Luar biasa dapat secara nyata menikmati pergantian waktu, dari detik ke detik, menit ke menit, dari sikon dini hari sampai fajar mereka, dan benar-benar rasanya berhadapan dengan Ke-Mahakuasaan Sang Pencipta yang tiada bandingnya.  Sembah sujud syukur kepada-Mu Bapa-Putra dan Roh Kudus. Aku berhadapan dengan diriku, dengan teman, alam semesta dalam Dia. “Healing”, bersenang-senang bersama, “pelepasan segala kepenatan” berbuah sehat dan sukacita. Keindahan Bromo sangat mengagumkan, bisa dilanjutkan lagi acara “Healing” dalam kebersamaan ini.” Kenang Sr. Imma dengan penuh kagum.

    “Memang sangat perlu diupayakan ada acara rekreasi untuk pendamping, sebagai moment healing, melepas energi negatif dan menghirup energi positif dari alam dan dari kebersamaan”. Sambung Sr. Hetty.

    Nilai-Nilai Wisata Bromo

    Sr. Hetty CB, merasa bahwa  kegiatan wisata Bromo sebagai sebuah pengalaman mensyukuri kebesaran Allah yang mencipta dunia dengan indahnya sekaligus pengalaman yang menyadarkan betapa hidupku tergantung pada Allah. Ujar mantan anggota Dewan Umum ini dengan mantap.

    Para Magistra lain pun ikut melukiskan bahwa melalui eksotis Bromo alam berbicara dan hati merespon atas kekaguman karya lukisan Sang pencipta yang tak tertandingi.  Selain itu kegiatan sangat bermakna bagi kebersamaan para formator KGN Yogyakarta.

    “Syukur atas anugerah kasih Tuhan, dalam dan melalui terlaksananya acara dan kebersamaan kita, kesehatan (hambatan dapat diatasi dengan amat baik)”. Tulis Sr Immaculatien dalam pesanya secara pribadi dalam via WhatsApp.

    Baca Juga: Menilik Jejak Sejarah Kongregasi Bruder MTB

    Bagi nya persaudaraa dalam kegiatan ini sungguh tak tergantikan. “Kesatuan hati, semakin kenal dengan diri sendiri, sesama, alam semesta. Menghargai waktu, setiap detik perubahan adalah luar biasa membawa pesan-pesan sangat personal dan pem-baru-an. Selain itu dalam aspek budaya kita menerima dan mengenal budaya daerah baru dengan segala kearifan local mereka. Keramahtamahan dengan alam semesta, unik, menghormati, kekompakan, saling mendukung, kerjasama, tanggung jawab. Selalu butuh perjuangan untuk bisa menemukan sesuatu yang indah. Melawan dingin, menunggu, ngantuk, capek” Sharing Sr Imama kembali dengan penuh haru.

    “Menjadi sarana untuk healing, dan penyegaran rohani dengan menyatukan diri dengan alam yang luar biasa ciptaan Tuhan. Di alam inilah kita merasakan kebesaran Tuhan. Kita diajari oleh alam untuk berani berserah pada Tuhan. Kita dapat melaksanakan tugas dalam pembinaan, bukan karya kita tapi karya Tuhanlah dan kita membiarkan Tuhan untuk semakin luas memakai kita untuk menjadi alatNya. Dalam hal ini menyiapkan generasi muda untuk masa depan gereja dan kongregasi. Selain itu bagi dia rekreasi rohani formator diperlukan untuk saling meneguhkan dan menyemangati dalam tugas perutusan sebagai formator.  Saya sungguh bersyukur untuk kesempatan dan moment kebersamaan ini. Nilai yang didapatkan ialah persaudaraan, sukacita, kebersamaan, cinta kasih, kerendahan hati dan iman mendalam.” Sharing Sr. Agatha dengan semangat.

    On Going Formation Prodiakon Dalam Gereja Katolik

    Rekoleksi bersama prodiakon Paroki Santo Paulus Pringgolayan Yogyakarta – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Yogyakarta Kita tahu bahwa setiap orang pada dasarnya adalah umat Allah yang terlibat dalam berbagai karya dan kegiatan Gereja. Setiap orang dilayakkan dengan berbagai karismanya untuk terlibat dan aktif dalam ber-liturgi. Semoga tulisan ini menjadi tawaran untuk mengambil keputusan dengan bijaksana mengenai bagaimana menjadi umat, menjadi pelayan umat, menjadi prodiakon yang terlibat secara aktif, benar, dan bijaksana dalam berliturgi.

    Dalam rangka menyegarkan kembali pelayanan prodiakon Paroki Santo Paulus Pringgolayan Yogyakarta (Prodi Pringgo), tim pelayanan prodiakon di bawah kepala bidang liturgi mengadakan rekoleksi bersama, Minggu, 12 Juni 2022. Acara kerohanian ini berlangsung di Aula Novisiat Bruder MTB Jeruk Legi Bantul, Yogyakarta.

    Bapak Rewang selaku ketua prodi pringgo, dengan senang hati dalam mengikuti acara ini yang sudah lama dirindukan oleh sesama prodiakon. “Sejak resmi dilantik oleh Bapak Uskup dan ditambah lagi fenomena pandemic covid 19, hampir tidak pernah mengadakan acara rekoleksi bersama prodi pringgo, bahkan ada yang belum pernah bertatap muka antara wajah yang lama dan baru”. Kata Bpk. Rewang dalam sambutan pembukanya.

    Baca Juga: Berjalan Bersama untuk Bersaksi

    Menurut pegawai Rumah Sakit Panti Rapih ini, bahwa tujuan rekoleksi ini selain penyegaran dalam pelayanan para prodiakon, pertama-tama adalah menambah wawasan dalam pemahaman tugas prodiakon secara liturgis agar tidak menyimpang dari standar fungsi pelayanan prodiakon dalam lingkungan gereja Katolik khususnya di prodi pringgo tercinta.”

    “Masih banyak prodiakon yunior maupun senior ragu-ragu dan canggung bila menemukan banyak persoalan yang dihadapinya saat melayani umat, maka dengan acara ini kita berbagi/sharing agar saling menguatkan dan peneguhkan satu sama lain, sekaligus mengingakan kita bahwa tugas prodiakon bagian dari pelayanan altar yang tidak dianggap gampang atau mudah dalam melakukanya”. Ujarnya dengan penuh semangat.

    Kegiatan rekoleksi ini didampingi langsung oleh Rama Fl. Hartanto, Pr, dari pukul 8.30- 11.30 wib. Mantan ketua komisi komisi Liturgi DIY, sangat bersyukur dan kagum dengan kegiatan prodi pringgo, di mana masih ada waktu untuk berbagi pelayanan tentang hak ikhwal dalam tugas pelayanan di prodi pringgo salah satunya lewat rekoleki bersama.

    Menurut Rama (baca: Romo) Tanto, sebagai prodiakon tidak hanya sampai pada paham dasar liturgis, sejarah prodiakon, skill dan ktrampilanya, spiritualitasnya, akan tetapi bagaimana kehadiran prodiakon sebagai jembatan membawa Yesus (baca: menerimakan komuni) bagi umat Allah dalam lingkup pelayanannya di Paroki baik di wilayah, maupun lingkungan hendaklah dengan tetap sukacita dalam menjalaninya.

    Sayap Kiri Imam

    Kehadiran pelayanan prodi pringgo dalam pelayanan liturgis ibarat sayap burung merpati yang sama-sama terbang membawa rahmat bagi yang dilayani. Paroki pringgo dengan umat berjumlah 5000 lebih dilayani oleh 50 prodiakon, masih juga dirasai belum terjangkau dalam pelayanannya karena masih kurang dari segi jumlah pelayanan yang ada. Selain itu pelayanan ini sangat bervariati profil keseharian tugasnya di luar gereja. Ada yang masih aktif sebagai dosen, guru, kepala sekolah, pegawai medis, pengusaha, pensiunan pegawai hingga tokoh-tokoh yang masih aktif dalam pemerintahan. Mereka sangat antusias dalam melaksanakan tugasnya meskipun kadang-kadang lelah karena sering dipilih terus sebagai prodiakon oleh karena tidak ada umat yang mau ganti tugasnya. Misalnya, Bapak Ben Galus sebagai dosen dan penulis buku, hampir belasan tahun sebagai prodiakon meskipun aturanya hanya belangsung maksimal 2 periodi yakni, satu periode untuk 3 tahun.

    Prodiakon Berbagi Rasa

    Paroki Santo Paulus Pringgolayan saat ini berjumlah 29 lingkungan dan 5 wilayah tentu saja kehadiran prodiakon sangat membantu dalam pelayanan umat, baik dalam bidang kategorial maupun teritorial terutama dalam pelayanan nonsacramental. Mereka sebagai bapak ibu rumah tangga masih ada waktu untuk berbagi dengan tugas pelayananya dengan penuh heroik.

    “Sebenarnya kami harus jujur bahwa, kami para imam sangat terbantu dalam melaksanakan ekaristi, baik ekaristi harian, mingguan maupun dalam melayani misa di lingkungan, karena berkat pelayanan prodiakon semuanya jadi ringan dan lancar”. Pujian Rama Hartanto disambut dengan tepukan tangan meriah saat itu. Rama yang pernah tugas di paroki Klepu dan Banyumanik ini, ikut merasakan suka dukanya dalam pelayanan saat berhadapan dengan beragam umat dewasa ini.

    Baca Juga: Anggota Signis Indonesia Hadir dalam Festival Gawia Sowa di Jagoi Babang

    Menurut Direktur Domus Pacis Kentungan ini bahwa pelayanan prodiakon dewasa ini banyak sekali tantangan yang dihadapinya terutama dari segi waktu pelayanan, keterampilan berhomili, sikap dalam berliturgi dan ketulusan hati menerima masukan dari umat yang dilayaninya. Menyambung ungkapannya Bapak Joko dari Lingkungan Richardus mensharingkan juga tantangannya sebagai prodiakon. “Kalau saya pribadi materi dalam rekoleksi ini, belum tuntas menyelesaikan persoalan dalam tugas prodiakon di Pringgo, karna waktunya enggak cukup”. “Dan sebetulnya bagus sekali kalau kita sharing, dari beragam tantanganganya, misalnya yang ringan saja yakni sikap liturgi yang bijaksana dalam bertugas, cara memimpin ibadah hingga berhomili yang menarik dan singkat”. Ujar pensiunan pegawai SMA Santa Maria Yogyakarta ini melalui pesanannya via WhatsApp.

    Selain itu, Ibu Indah Nartani mensharingkan bahwa “kadang-kadang busana dan symbol atribut prodiakon belum ada standar yang pas, maka seringkali bingung mana busana liturgis prodiakon sesuai dengan standar liturgis yang sebenarnya”. Kata Dosen UST Yogyakarta ini dengan mantap.

    Selain itu ibu Indah yang juga peran aktif di bagian koordinasi lektor paroki ini, mengharapkan “kita tetap bersama-sama memberi masukan satu sama lain bukan hanya persoalan kelengkapan busana prodiakon, misalnya symbol salib di bagian bawah samir, perlu tidaknya menggunaka tali singel dan lain sebagainya, akan tetapi dengan penuh tajam dan jeli memberikan komuni pada umat yang belum saat atau layak menerima tubuh Kristus”. Pintanya dengan tegas.

    Bapak Rafael juga mengharapkan bahwa “meskipun tali singel dan Samir sebagai pelengkap Alba prodikon, tetap dilihat pakain ini sebagai nilai-nilai yang sangat mendalam kewibawaan seorang pelayan utusan Tuhan yang hadir di tengah umat dengan identitas dan tampil beda”. Pungkasnya dalam mendukung usulan dan masukan dari prodiakon lain perlu tidaknya memakai atribut tambahan.

    Baca Juga: Tari Jonggan Sambut Peserta Rapat SIGNIS ke-48 di Anjongan, Kalimantan Barat

    Menurut Dosen Sospol UGM ini bahwa “kita sudah bersedia menjadi pelayan, maka tetaplah setia memakai busana liturgis prodiakon yang pantas, wajar dan sesuai”. Usulan inipun dikuatkan oleh pendamping rekoleksi tentang busana liturgi yang bermakna dan bernilai kerohanian mendalam.

    Setelah usa sharing demi sharing, rangkaian rekoleksi ini ditutup dengan perayaan ekaristi meriah dan maka siang bersama di Novisiat MTB. Semuanya penuh gembira sebagaimana yel-yel awal pertemuan yang dibawakan oleh Bapak Ratno dalam ice breaking “Prodi Pringgo, Semangat!!, Melayani”!! Penuh Hati!! ”Bagi Kemuliaan!!” Akhirnya, semoga tema yang disusung “On Going Formation Prodiakon” menjadikan Prodiakon bisa menghidupi liturgi dengan bijaksana dalam tugas pelayananya tiap hari, baik dalam lingkup gereja, wilayah dan lingkungan. Bravo Prodiakon.

    Berjalan Bersama untuk Bersaksi

    Panitia Penyelenggara ikut memeriahkan Dies Natalis Pendikkat ke-60 – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Yogyakarta – Peziarahan iman umat Kristiani sampai detik ini tak akan perrnah padam sinarNya. Para pengikutNya tetap bercahaya dan bersaksi, bahwa Yesus lah jalan keselamatan menuju istana keabadian ketika kita berpaling dari dunia ini. Pernyataan reflektif ini menggugah semua orang yang terpesona dan terpikat  cara Yesus menarik orang untuk ikut di jalan terang kasihNya.

    2000 tahun lalu dua belas muridNya sudah memberi contoh dan teladan dari berbagai pengalaman mereka ketika ditangkap oleh Yesus. Misalnya saja panggilan Petrus dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Yesus mengatakan kepada Simon Petrus: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Matius 4:19). Ini adalah awal mula kisah Simon Petrus mengikut Yesus. Yesus memerintahkan Petrus untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai penjala ikan untuk menjadi penjala manusia.

    Baca Juga: Kardinal Cantalamessa: Ekaristi sama ekstensifnya dengan sejarah keselamatan

    Dalam perkembangan Gereja,  muncullah aneka cara hidup orang beriman untuk semakin mendekatkan diri dengan Yesus. Ada panggilan umum dan khusus. Panggilan umum ini mereka yang berkeluarga sebagai Gereja mini. Dari rahim mereka inilah meneruskan warisan iman kepada anak-anaknya. Sedangkan panggilan khusus adalah mereka yang mau hidup selibat untuk secara khusus menjadi seorang imam, suster, frater dan bruder mengabdi Allah dengan  penuh sukacita. Baik panggilan umum maupun khusus sama sama untuk mengabdi dan memuliakan dalam ruang yang beda.

    Panggilan Yang Unik

    Dari aneka panggilan yang ada, ternyata belum banyak yang melirik secara jeli  bahwa dalam perkembangan Gereja Katolik  hingga saat ini, yakni: panggilan ‘’Katekis”. Mereka inilah yang disebut  guru agama yang secara khusus dipakai oleh Allah untuk membantu imam dalam  berbagai kegiatan yang membuat orang bergabung dalam Gereja Katolik. Katekislah menjadi juru kunci untuk mengenal Injil itu sendiri. Dari merekalah lahir banyak orang untuk masuk dalam kerajaanNya dan menjadi keluarga Allah baru. Bahkah lewat pengajaran mereka baik di sekolah, di lingkungan menggereja ada yang terpikat menjadi religius. Berkat kekuatan kata-katanya dalam perwartaan dan  pengajaran katekesenya, sukacita Injil  mampu menghipnotis banyak orang untuk bertobat dan menerima, dan mengakui Yesus. Mereka membawa banyak orang kepada Yesus untuk di selamatkan dan mengakui Yesus sebagai satu-satunya juru selamat dunia.

    Lahirlah Lembaga Keketik

    Untuk menjembatan antara kebutuhan umat dan pelayanan  dalam mewartakan Injil, enam puluh tahun lalu tepatnya tahun 1960 lahirlah sebuah lembaga untuk mencetak tenaga katekis yang bukan amatiran tetapi katekis akademik dan professional. Lembaga ini didirikan oleh P. Heselaars SJ sebagai Pusat Kateketik Indonesia. Lembaga ini memproduksi berbagai kegiatan-kegiatan antara lain: menerbitkan buku-buku, mengadakan panataran para guru dan ceramah-ceramah untuk kelompok-kelompok kategorial lainnya.

    Pada tanggal 1 Agustus 1962, Yayasan Akademi Kateketik Katolik Indonesia (AKKI) didirikan untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi Kateketik. Pada tahun 1968, Pusat Kateketik beserta AKKI berpindah tempat dari Jl. P. Senopati 20 ke Jl. Abubakar Ali 1, Yogyakarta. Tanggal 31 Maret 1971, AKKI berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Kateketik Pradnyawidya. Tahun 1985, Sekolah Tinggi Filsafat Kateketik Pradnyawidya dimulai program sarjana satu (S1).

    Kemudian tanggal 14 Februari 1995, STFK Pradnyawidya merger dengan Universitas Sanata Dharma, sehingga berubah menjadi Fakultas Ilmu Pendidikan Agama (FIPA), Jurusan Pendidikan Agama Katolik, Program Studi Pendidikan Agama Katolik. Di tahun1999, FIPA USD berubah menjadi program studi “Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik” (IPPAK) dan menjadi bagian FKIP USD.  Karena perkembangan kurikulum begitu dinamis, maka tahun 2003 IPPAK mengajukan akreditasi, mendapat peringkat A, sampai sekarang. Pada tanggal 27 September 2019 Prodi (Program Studi) IPPAK berubah menjadi Pendidikan Keagamaan Katolik (Pendikkat) hingga sekarang. Jumlah alumni yang dicetak dari lembaga ini sebanyak 1100 guru agama.

    Alumni Angkat Bicara

    Dalam menyambut Dies Natalis Pendikkat Ke 60, para alumni lintas angkatan angkat bicara. Beragam respon mereka memperkaya dan meneguhkan bagi lembaga dan para panitia yang menyelenggarkan gawe natalis kali ini.  “Bagi saya Dies Natalis Pendikkat ke 60 kali ini  menjadi saat yg tepat bagi kita untuk merayakan dengan penuh syukur kehadiran “Ibu” yang telah membesarkan kita.  Sharing Ibu  Noria dalam menanggapi acara spektakuler ini. Menurut katekis purna karya Keuskupan Agung Pontianak ini, “PRADNYAWIDYA memberikan ilmu hidup, itu yg kuakui”. “Matahatiku justru terbuka luas melihat betapa Kalimantan Barat (Kalbar)  itu Gereja masa depan. “Memahami manusia dan budaya Kalbar itu justru kudapati di bangku kuliah. Ketika berkeliling dari kampung ke kampung, semua ini menjadi bekal yg menyemangati perjalananku”. Ungkap alumni angkatan 1985 ini dengan penuh bangga.

    Baca Juga: Yaqut Cholil Qoumas – Kemenag Bersama Para Uskup Indonesia di Ambon, Ada Apa?

    Bagi putri Dayak Kalimantan Barat ini menilai lembaga Pendidikan sebagai muara semangat untuk hidupnya. Banyak nilai-nilai yang menghidupi ajaran para Dosen bagi mahasiswa. Bahkan sangat diharapkan tetap berkelanjutan dari generasi ke generasi.  “Ini khas kampus kita.”  “Tidak didapat di kampus lain” Puji Noria dengan nada gembira. Bagi dia para dosen yang direpresentasi oleh para imam Yesuit, kehadiran mereka ibarat seperti “gembala mengenal domba-dombanya, itu yang kukagum dari para dosenku saat itu.”  “Dan tiap orang dikenal dengan kekhasannya, didukung untuk berkembang sesuai dengan potensinya. Sungguh kubersyukur atas semua ini.”’ Kenang Wanita yang pernah diundang ke Vatikan dalam memperkenal budaya dan adat Dayak dalam Gereja Katolik Kalbar. Bagi dia filosif kata PRADNYAWIDYA, menjadi pintar dan bijak, seturut pesan Injil,  cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. “TAK PADAM SINARNYA” memberi makna pada nilai juang yang tinggi,  bahwa hidup yang indah ini dihadapkan pada aneka kondisi,  kadang seperti berada dalam sebuah gua, maka temukan secercah sinar,  yang menjadi petunjuk untuk keluar. Papar Sang Mantan Ketua Penyelenggara Filial Nyarumkop – Malang dan Pensiunan KOMKAT KAP ini dengan nada riang.

    Motivasi Memilih Pendikkat

    Suster Marlin RVM, mempunyai pengalaman unik kuliah di lembaga ini.  Pertama-tama dia bersyukur atas diadakannya Dies Natalis ke-60 ini. Bagi dia Dies Natalis kali ini begitu banyak program dan kegiatan yang sifatnya mengakrabkan dan mengikat persaudaraan sebagai Alumni, dosen dan mahasiswa yang masih kuliah aktif  di lembaga tercinta ini. Dia mengharapkan agar peran serta anggota terutama luar daerah lebih digalakan terutama pendataan dan program rencana awal jauh sebelum hari H, terutama pemberian penyegaran Roh katekis. Lebih menjangkau yang tidak terjangkau. Bagi kerja keras Panitia, salut dan ditingkatkan. Pesan Religius yang saat ini sebagai Pembina Asrama di pedalaman NTT. “Motivasi saya belajar di lembaga ini amat sederhan dan tidak elegan.” Yang utama adalah belajar budaya dan karakter dari budaya lain selain di dalam daerah sendiri (NTT) juga program reach out RVM belum dikenal di daerah luar Nusra & Bali. Pemberdayaan tenaga katekis menjawab kebutuhan umat yang kompleks”. Jujur Wanita Kelahiran Flores ini dengan mantap.

    Menurut alumni 2002 ini bahwa selama kuliah dulu dengan segala macam ilmu yang didapat sangat membantu dan mendukung profesinya  kita ini. “Sangat membantu yang terutama pengalaman saya adalah ketangguhan dan kegigihan menjadi pewarta kabar baik yang tanpa pamrih.” “BERIMAN, BERILMU, DEDIKASI dan BEREMPATI”. “Semua mata kuliah sangat berguna dan relevan ketika peranan Katekese Umat disesuaikan dengan budaya setempat”. Sabda yang menyatu dengan budaya, membawa perubahan dan pertobatan”. Papar Sr Marlin ini dengan sukacita.

    Baca Juga: Paskah Bersama Kepolisian Resor Mempawah, Uskup Agustinus Sampaikan Refleksi Penderitaan

    Menurutnya ada harapan bahwa melalui pesta tahun ini dapat  menjaring alumni dan  pendikkat sudah banyak hal  yang sudah dilakukannya”. “Selain itu saatnya lembaga ini lebih memperkenalkan diri melalui jejaring di setiap wilayah keberadaan alumni melalui kegiatan yang terprogram jelas tahunan atau seberapa banyak sesuai kesepakatan dan memilih pengurus dalam wilayah tersebut di setiap daerah seluruh Nusantara agar terorganisir dengan baik.” Pinta Ibu asrama Putra dan putri serta Pemimpin Komunitas dan tenaga Pastoral Paroki ini dengan nada harap.  Dia juga menggaris bawahi bahwa  kita bisa melakukan Kegiatan terprogram yang sudah dibuat oleh panitia Dies Natalis. entah temu alumni, entah penyegaran atau seminar dll disesuaikan kebutuhan.” Untuk memperlancar tentu ada iuran wajib anggota bulanan dan  Kampus Pendikkat pusat tetap menjadi Narasumber dan promotor dalam kegiatan ini. Tandas Putri Suku Lamahelot Flores ini dengan tegas. Bagi dia ada banyak nilai-nilai yang di dapat dari lembaga ini yakni: Semangat dan rela berkorban, Tangguh dalam bersaksi dan memberikan ilmu yang dimiliki dengan pelayanan hati seorang hamba. Nilai bekerja tanpa upah, bekerja dengan upah seorang Murid.

    Tanpa Lelah Melayani Tuhan

    Raimundus Aladim, memberi tanggapan bahwa Dies Natalis Pendikkat ke-60, merupakan suatu kebanggaan dan anugerah yang luar biasa baginya. “Saya bangga karena dalam situasi zaman dewasa ini, lembaga ini masih terus eksis dan selalu memberikan warna dalam karya pelayanan Gereja Katolik di Indonesia.” Kata Alumni 2001 ini dengan penuh haru. Lanjutnya “selain itu moment ini sebagai anugerah yang luar biasa bagi saya secara pribadi bisa menjadi bagian dari lembaga ini.” “Hal ini memberikan motivasi khusus untuk terus tanpa lelah melayani Tuhan di zaman sekarang yang semakin banyak rintangan dan tantangannya. Pungkasnya dengan nada riang. “saya mengharapkan mendapatkan out put atau hasil dari kegiatan Dies Natalis ini apapun bentuknya sebagai bekal bagi saya dalam karya pelayanan yang sedang saya jalani saat ini. Pinta Aladim guru agama SMAN 01 Putusibau Kalbar ini dengan mantap.

    Motivasi yang mendorongnya kuliah di lembaga ini adalah: ingin mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan memiliki ciri khas Katolik yang kuat, ingin menjadi guru agama atau katekis yang memiliki spiritualitas dan kompetensi yang mumpuni dalam karya pelayanan Gereja dan ingin mengembangkan diri sepenuhnya sehingga dapat menemukan jati diri yang sesungguhnya dan menjadi manusia yang utuh. Baginya tidak bisa dipungkiri bahwa ilmu dan semua dinamika yang dialaminya selama menjalani kuliah di lembaga ini, sangat membantu dan mendukung profesinya saat ini. “Saya yakin sepenuhnya bahwa saya menjadi seperti sekarang ini karena proses yang saya lewati ketika saya menimba ilmu di lembaga ini.”Akunya dengan polos.

    Putra Dayak Kelahiran Sejiram ini melihat bahwa banyak nilai-nilai yang kita tanamkan sebagai alumni. Baginya selama di lapangan dia sangat  berkembang dan tak bosan-bosan mencari inovasi-inovasi baru yang sesuai dengan perkembangan zaman dengan tetap berpegang teguh pada visi dan misi lembaga ini. “Tenaga guru agama dan katekis masih sangat dibutuhkan terutama di daerah-daerah karena umat yang membutuhkan pelayanan juga masih banyak.” Sharing alumni ini. Maka baginya, dia terus merawat nilai-nilai yang ditanamkan sebagai alumni yakni kejujuran, persaudaraan, solidaritas, kreativitas, semangat maju terus, dan semangat pantang menyerah.

    Dies Natalis Lebih Terasa Gaungnya

    Selain itu di lain kesempatan Br. Sigit. MSF ikut menanggapi Dies Natalis Pendikkat ke 60 bahwa, Hut kali ini luar biasa gaungnya. “Secara usia sudah dewasa dan matang”. Maka produk dari lembaga ini juga banyak produktif  tidak hanya awam tetapi juga kaum religius baik bruder maupun suster bahkan Romo.”Ujar Penyuka Olah raga THS-THM ini dengan nada serius.

    Menurut tenaga Pastoral dan Pengelola Wisma Emaus Keuskupan Tanjung Selor, Dies Natalis kali ini, menjadi kesempatan untuk refleksi bersama demi perkembangan kampus  tercinta ini Pendikkat sudah memberi banyak sumbangsih bagi perkembangan Gereja dan juga pribadi banyak alumni dan alumnus. Proficiat untuk Pendikkat yang ke 60. “Saya berharap tetap semangat dalam menjalankan tugas besar ini”. Pintanya kepada para Panitia penyelenggara.. “Semoga Dies Natalis menjangkau seluruh alumnus dan alumni  Pendikkat di manapun  berada. Syukur bisa berkumpul dalam persaudaraan yang hangat.” Pesan putra asli Menoreh Sendang Sono ini dengan tegas. Adapun motivasinya kuliah di lembaga ini. “Pertama-tama, karena saya seorang religious yang melaksanakan kaul ketaatan.” “Saya diutus untuk belajar kateketik supaya bisa berpastoral di tengah umat.” Yang kedua, secara pribadi saya sudah sejak kecil mendengar nama besar Sanata Dharma ini membuat saya bangga bisa kuliah di sini. “Tentu saja bagi saya ilmu yang saya dapat dari Pendikkat sangat berguna, sangat membantu dan menginspirasi setiap pelayanan dan perutusan saya saat ini. “Saya merasa sungguh dibesarkan oleh Pendikkat dan karenanya saya sungguh bersyukur dan berterimakasih atas bimbingan dari para dosen dan perjumpaan dengan banyak teman. Apalagi saat ini saya berkarya di Keuskupan Tanjung Selor, ini sangat membantu dan mendukung karya saya untuk berjalan bersama umat”. Ungkap penyuka makan daging ular ini dengan nada riang.

    Baca Juga: Rapat SIGNIS Indonesia ke-48 Digelar di Keuskupan Agung Pontianak

    Selain itu dia memberi masukan bagi Lembaga ini agar ditingkatkan kualitas kurikulum pendikkat, kualitas para dosen pengajar, fasilitas pendukung Pendidikan di Pendikkat, serta Keempat menjaring para calon mahasiswa yang baik, unggul dan siap dibentuk di pendikkat. Sigit pun merasa bangga banyak nilai yang dikembangkan saat ini. Dia bangga tetap menjaga nama baik pendikkat harus jaga dan mempromosikan Pendikkat keanak-anak muda lewat karya saat ini. Selain itu dia merencana untuk mengirimkan putra daerah dari Tanjung Selor dan juga anggota tarekat  religius agar bisa bergabung dengan Lembaga tercinta ini.

    Tema Dies Natalis Yang Menginspirasi

    Tema Dies Natalis ke 60 kali ini “Berjalan Bersama untuk Bersaksi” Melalui tema tersebut kita berharap dapat tercapai tujuan: Terbentuknya jejaring dan sinergi untuk menyegarkan dan mewujudkan misi berjalan bersama yang rapuh melalui aksi, refleksi  dan selebrasi. Adapun kegiatan Dies Natalis ke 60 ini adalah: Sejalan dengan tema, tujuan dan latar belakang diadakannya Dies Natalis Pendikkat ke-60, maka akan diadakan kegiatan-kegiatan untuk mengimplementasikan tema tersebut. Kegiatan Dies Natalis ini mencakup tiga kegiatan besar yaitu: Aksi, Refleksi dan Selebrasi.  Kegiatan bersifat tawaran, maka masing-masing korwil menyesuaikan dengan kebutuhan dan situasi setempat.

    Aksi  Yang Nyata

    Aksi akan dilaksanakan sebelum puncak acara Dies Natalis. Pada kegiatan aksi ini terfokus pada tiga aspek garapan: Gereja, masyarakat dan Ekologi. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan tawaran, maka dalam pelaksanaan disesuaikan dengan situasi kebutuhan masyarakat sekitar. Tiga Kegiatan yang direncakan oleh panitia adalah:  Pertama, kegiatan menggereja Gereja yakni,  Beasiswa untuk calon katekis, Kaderisasi pendamping PIA, PIR, OMK, PA,  membangun jejaring alumni, dll. Kedua, kegiatan Masyarakat dengan Donor darah, pengobatan gratis, bakti sosial, dll dan ketiga, Gerakan Ekologi: Menanam pohon, pengolahan sampah, kerja bakti lingkungan, dll. Selain itu ada hari Refleksi. Dalam kegiatan refleksi ini, ada kegiatan yang  dilaksanakan secara sentral dari pusat yaitu seminar, penulisan buku dan buku kateketik, sedangkan untuk kegiatan retret dan  rekoleksi dapat dilakukan dimasing-masing regio, dan sifatnya adalah tawaran.

    Agenda Untuk Alumni

    Dies Natalis ini sudah dirancang oleh panitia dengan baik, agar para alumni bisa hadir dan menyaksikan secara langsung maupun lewat online. Agenda tersebut yaitu: Jumat, 29 juli 2022 dengan rekoleksi sehari alumni dengan tema:  Berjalan bersama untuk bersaksi Pk 08.00 Tempat kampus Hybrid. Sabtu, 30 juli 2022 Seminar Nasional dengan tema berjalan bersama untuk bersaksi Pk 08.00 tempat auditorium kampus secara Hybrid dengan target peserta: 400 alumni.  Sabtu, 30 juli 2022 Pk 17.00-21.00. Nostalgia angkringan alumni |Nostalgia|Temu kangen, tempat kampus: Stand2 Target: 100 orang. Minggu, 31 juli 2022 Temu alumni |Semiformal |Lintas Angkatan|pembentukan pengurus Pk 08.00 -11.00 tempat auditorium kampus, Hybrid TP: 300 orang dan Minggu, 31 juli 2022 Misa syukur, Pk 11.30 Tempat auditorium kampus secara hybrid. Akhirnya “sekali Pendikkat tetap Pendikkat, Tak Padam SinarNya.”

    Anggota Signis Indonesia Hadir dalam Festival Gawia Sowa di Jagoi Babang

    Gawia Sowa- Jagoi Babang (Foto ini adalah Suku Dayak Sebujit)- Doc KOMSOS KAP

    Bengkayang- Anggota Signis Indonesia beserta para Observer yang telah selesai melaksanakan sidang tahunan ke 48 di Wisma Rumah Retret Santo Yohanes Paulus II Anjongan, bersama Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak, menyaksikan secara langsung acara gawai suku Dayak Bidayuh sekaligus menyaksikan peresmian Boli Panggah Bupokat Kampung budaya Bung Kupu’ak, Kabupaten Bengkayang. Acara pembukaan diresmikan oleh Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis SE., MM, pada Jumat 3 Juni 2022.

    Hadir dalam acara tersebut Uskup Keuskupan Agung Pontianak, sejumlah pejabat pemerintah provinsi, Bupati dan Wakil Bupati Bengkayang, Ketua Tim penggerak PKK Kabupaten Bengkayang, Ketua dan beberapa anggota DPRD, Ketua DAD Kabupaten Bengkayang, Camat, tokoh adat dan masyarakat.

    Baca juga: https://www.majalahduta.com/2022/06/rd-anthonius-steven-l-ajak-jalan-bersama-menuju-kemandirian-finansial-dalam-rapat-signis-indonesia-ke-48.php

    Gawia Sowa merupakan ritual ucapan terima kasih atas panen serta limpahan rezeki yang diterima.

    Dalam sambutannya, Bupati Bengkayang mengatakan, Pemerintah Kabupaten Bengkayang terus mendukung agar kedepannya acara ini bisa dibuat lebih atraktif, dan melalui instansi terkait, pemerintah juga memiliki komitmen yang kuat untuk terus mendorong dan memberdayakan potensi yang ada agar tetap lestari dan dapat dimanfaatkan perekonomian masyarakat Jagoi Babang dan sekitarnya.

    Bung Kapuak dinobatkan sebagai kampung adat terpopuler pada tahun 2019 oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

    Pastor Babey, Ketua Komisi Komunikasi Sosial Denpasar Bali mengungkapkan bahwa mereka tidak pernah menyangka akan menyaksikan pesta panen yang luar biasa menakjubkan dan bisa membuat merinding saat menyaksikan ritual adatnya. “Tradisi yang bisa menyatukan banyak orang seperti ini sayang jika diabaikan. Bukan gawai biasa, tetapi menyatukan kita dari berbagai wilayah bahkan anggota Signis dari seluruh Indonesia hadir menyaksikan acara ini.”

    Kunjungi: https://www.instagram.com/komsoskap/

    Di kesempatan yang sama, Pastor Renaldo, dari Komsos Keuskupan Agung Jakarta mengingatkan kaum milenial untuk tidak lupa bahwa Indonesia terlahir dari suku-suku dan adat yang ada di dalamnya. Hal ini menurutnya menjadi kekayaan Indonesia.

    “Upacara adat yang luar biasa ini tidaklah banyak lagi, dan salah satunya ada di sini dan patut kita pertahankan.”

    RD Anthonius Steven L. Ajak Jalan Bersama Menuju Kemandirian Finansial dalam Rapat SIGNIS Indonesia ke-48

    SIGNIS INDONESIA - RAPAT ANGGOTA SIGNIS INDONESIA KE 48 DI KEUSKUPAN AGUNG PONTIANAK

    Mempawah – Cahaya dari timur perlahan muncul dan waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB. Keramaian perlahan mulai memecah keheningan di Rumah Retret St. Johanes Paulus II Anjongan (31/05).

    Terdengar sapaan, “selamat pagi,” saling bersahut-sahutan di sepanjang perjalanan dari penginapan ke ruang makan. Para peserta diikuti panitia lokal berbondong memasuki ruang makan dengan letupan keceriaan yang menyapa siapa pun yang berpapasan. Hari ke-2 Rapat SIGNIS Indonesia ke-48 akhirnya pun dimulai dengan sarapan bersama pada pukul 07.00 WIB.

    Usai menyarap, peserta diajak berkumpul untuk mengabadikan momen di beberapa titik foto di Rumah Retret St. Johanes Paulus II, Kec. Anjongan, Kab. Mempawah, Kalimantan Barat.

    BACA JUGA: https://www.majalahduta.com/2022/05/tari-jonggan-sambut-peserta-pertemuan-signis-ke-48-di-anjongan-kalimantan-barat.php

    Mata yang silau akibat cahaya matahari tidak menyurutkan senyuman dan tawa para peserta.

    Tidak cukup dengan kamera panitia, tangan-tangan peserta pun ikut menyodorkan handphone pribadinya seolah ingin langsung memamerkan momen kebersamaan itu kepada yang lain.

    Beberapa menit sebelum waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB, peserta diarahkan menuju ruang rapat untuk memulai agenda Hari Studi.

    “Rapat anggota tahunan kali ini agak unik, tidak dibuat seperti sebelum-sebelumnya. Salah satu yang baru adalah Hari Studi,” jelas RD. Anthonius Steven Lalu, Ketua Badan Pengurus SIGNIS Indonesia dari Keuskupan Agung Manado.

    Ia mengaku mengadaptasi kegiatan baru ini dari rapat SIGNIS Asia. Namun, berbeda dengan SIGNIS Asia yang mengadakannya hingga tiga hari, Hari Studi dalam Rapat Anggota Tahunan SIGNIS Indonesia ke-48 ini dilakukan dalam satu hari yang terbagi menjadi tiga sesi.

    “Tapi kalau SIGNIS Asia malah Hari Studinya lebih panjang yaitu tiga hari, business meeting-nya cuman satu hari. Kita coba pelan-pelan mengadaptasi supaya ada peningkatan kapasitas untuk semua,” lanjutnya.

    Sembari menunggu narasumber bersiap, sebagai moderator, RD. Anthonius Steven Lalu yang kerap dipanggil Romo Steven mengawali kegiatan dengan sharing seputar rapat SIGNIS Indonesia ke-48 ini. Salah satu yang dibicarakan yaitu mengenai tema rapat.

    Romo Steven bercerita, “Bertahun-tahun kita di komsos kalau bertemu, banyak yang mengeluh tentang dukungan finansial. Inilah latar belakang terbentuknya tema rapat tahun ini.”

    Seturut dengan tema Rapat Anggota Tahunan SIGNIS Indonesia ke-48, “Berjalan Bersama Menuju Kemandirian”, Romo Steven mengajak para peserta untuk berjalan bersama menuju kemandirian finansial.

    Menjawab keresahan tersebut, SIGNIS Indonesia menghadirkan tiga pemateri yang mengisi tiga sesi pada Hari Studi, antara lain:

    1. Bernadetta Widiandayani selaku Sekretaris SIGNIS Asia,
    2. Pastor Yustinus Nana Sujana, Osc., seorang imam yang berpengalaman dalam hal fund-raising, dan
    3. Frangky Parengkuan, , MM., AWM., CRGP., AEPP, seorang Business Coach.

    BACA JUGA: https://www.majalahduta.com/2022/05/dibuka-rapat-signis-indonesia-ke-48-di-keuskupan-agung-pontianak.php

    Lewat tiga narasumber dengan tiga solusi yang berbeda, para peserta diharapkan dapat merenungkan, bersyukur, serta berani menginisiasi langkah perubahan demi terciptanya kemandirian finansial.

    Sebelum mempersilahkan narasumber mengambil alih, Romo Steven mengingatkan peserta, “Jangan lupa kita bergembira dan bersukacita!” – *Mel

    Tari Jonggan Sambut Peserta Rapat SIGNIS ke-48 di Anjongan, Kalimantan Barat

    Tarian Jonggan Sebagai Tarian Pembukaan Signis Indonesia ke 48 di Keuskupan Agung Pontianak

    Mempawah – Matahari mulai menunjukkan waktunya untuk mengakhiri hari, di waktu yang sama juga terlihat enam gadis mengenakan pakaian merah-merah dan selempang gaun nan lembut didampingi dua pria gagah dengan berkalungkan gigi taring di leher nya.

    Satu dari lelaki itu mengenakan senjata Tangkit’n (senjata berbentuk parang yang digunakan untuk perang ataupun berladang), sementara lelaki yang satu membawa persembahan lengkap dengan beras yang siap ditabur untuk menyambut sang tamu kehormatan.

    Kunjungi juga: https://www.instagram.com/komsoskap/

    Tamu kehormatan yang dimaksud yaitu anggota rapat tahunan SIGNIS Indonesia ke-48 yang diselenggarakan di Keuskupan Agung Pontianak persis di Rumah Retret St. Johanes Paulus II Anjongan.

    Dalam momen itulah Presiden SIGNIS Indonesia, RD. Anthonius Steven Lalu beserta seluruh peserta sebanyak 30 orang, diantaranya 22 imam dan 8 orang perwakilan disambut dengan tarian khas Dayak Kanayatn wilayah Kabupaten Mempawah.

    Khas dari Suku Dayak Kanayatn Bukit  

    Orang Muda Katolik se-Paroki St. Christophorus Sungai Pinyuh mempersembahkan tarian Jonggan untuk menyambut kedatangan peserta pertemuan SIGNIS ke-48.

    Sebelumnya para peserta telah disambut langsung di Bandar Udara Supadio dengan pengalungan syal kain tenun khas Dayak Kanayatn Kalimantan Barat.

    Setiba di Rumah Retret St. Johanes Paulus II Anjongan, sambutan turut dimeriahkan dengan tarian Jonggan.

    Tarian Jonggan merupakan salah satu hiburan masyarakat yang telah menjadi tradisi asli kebudayaan masyarakat Dayak Kanayatn.

    Nama Jonggan sendiri diambil dari Bahasa Dayak Kanayatn sub bahasa Ba-Ahe yang berarti ‘joget’ atau ‘menari’.

    Baca juga: https://www.majalahduta.com/2022/05/dibuka-rapat-signis-indonesia-ke-48-di-keuskupan-agung-pontianak.php

    Jonggan biasanya ditarikan  oleh para wanita Dayak Kanayatn yang kerap disebut sebagai ‘We Jonggan’.

    Gerakan dalam tarian ini menggambarkan rasa syukur dan suka cita masyarakat Dayak Kanayatn. Salah satunya adalah syukur atas panen padi yang melimpah pemberian Jubata atau Tuhan dalam acara adat Gawe Naik Dango.

    Sebagai bentuk syukur dan suka cita yang diiringi oleh alunan musik tradisional dengan lagu Jonggan berjudul “Male’en” maka dilampiaskanlah dalam gerak menari dan berjoget bersama.

    Tarian penyambutan  ini merupakan sebuah tradisi penting dalam menyambut tamu apabila berkunjung ke tanah Borneo terutama di tanah tempat di mana Suku Dayak Kanayatn tinggal.

    Maksud dan tujuan tarian sambutan Jonggan yaitu untuk menyampaikan tanda selamat datang kepada para tamu melalui ritual adat dan gerak tari bahwa mereka diterima dengan sangat baik.

    Tarian Jonggan sendiri terdiri dari beberapa ritual adat, yaitu ritual adat Batapukng Tawar, Natak Tarekng, dan Naburatn Baras Kuning.

    Batapukng Tawar” memiliki makna adat meminta keselamatan kepada Jubata agar para penari dan peraga adat dapat menjalankan ritual adat dengan lancar.

    “Natak Tarekng”

    Ritual adat “Natak Tarekng” atau “Pemotongan Bambu” sebagai simbolisasi membuka pagar dan bermakna bahwa para tamu resmi  secara adat memasuki tempat kegiatan berlangsung.

    Pemotongan bambu harus dilakukan dalam sekali tebasan tangkitn (sebutan untuk senjata khas suku Dayak Kanayatn) hingga bambu tersebut terbelah menjadi dua.

    Terakhir, ritual adat “Naburatn Baras Kuning” atau “Penaburan Beras Kuning” sebagai simbolisasi keberkatan dan keselamatan.

    Makna ritual tersebut untuk membersihkan jalanan dan tempat yang akan dilewati sehingga para tamu mendapatkan keselamatan dan dijauhkan dari segala hal yang menghalangi berjalannya kegiatan tersebut.

    Masyarakat Dayak Kanayatn yang menarikan Jonggan juga berharap dengan kedatangan para tamu, masyarakat Dayak Kanayatn di sekitarnya dapat beroleh berkat dari Jubata. *Mel/S

    Rapat SIGNIS Indonesia ke-48 Digelar di Keuskupan Agung Pontianak

    Foto: Panitia Lokal Rapat Signis 48 - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    Mempawah – Sempat berlangsung secara online alias daring karena pandemi, kali ini rapat anggota tahunan para komunikator profesional Katolik yang tergabung dalam SIGNIS Indonesia kembali digelar secara langsung.

    Keuskupan Agung Pontianak dipercayai sebagai tuan rumah untuk kedua kalinya setelah tahun 2006 lalu. Pada kesempatan kali ini, tema yang diusung adalah “Berjalan Bersama Menuju Kemandirian”.

    Baca juga: https://www.instagram.com/mgr.agus/

    Uniknya, Rapat Anggota Tahunan SIGNIS Indonesia ke-48 digelar pada 30 Mei-3 Juni 2022 di 2 lokasi yang berbeda di Kalimantan Barat.

    Sejak 30 Mei hingga 2 Juni 2022, rapat dilakukan di Rumah Retret St. Johanes Paulus II Anjongan, Kecamatan Mempawah, Kalimantan Barat. Pada 3 Juni, penutupan kegiatan akan diselenggarakan di Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang sembari mengikuti Gawai Suku Dayak Bedayuh.

    Menjadi tuan rumah yang baik

    Sebanyak 30 peserta dari total 33 anggota aktif SIGNIS Indonesia dari berbagai daerah di seluruh Indonesia hadir meramaikan rapat tahunan yang diadakan bertepatan dengan Bulan Maria ini. Para peserta merupakan perwakilan tiap bidang Komunikasi Sosial (komsos) yang tergabung dalam keanggotaan SIGNIS Indonesia termasuk radio, tv, dan media lainnya serta orang awam.

    Sebagai tuan rumah Uskup Keuskupan Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus turut menyambut kedatangan peserta. Menurutnya sidang Signis ke 48 ini adalah sebuah momentum dan kesempatan untuk promosi tentang kilas Keuskupan Agung Pontianak.

    Lihat juga: https://www.majalahduta.com/2022/05/paskah-bersama-kepolisian-resor-mempawah-uskup-agustinus-sampaikan-refleksi-penderitaan.php

    “Sebagai tuan rumah, kita harus berikan yang terbaik untuk tamu-tamu dari luar terlebih yang datang sebagian besar yakni imam perwakilan Komsos, Radio, Studio yang notabene adalah media Katolik, untuk terlibat mempromosikan Keuskupan kita,” ujar Uskup Agustinus (Senin 30 Mei 2022).

    Pertemuan Rapat Signis ke 48 ini dihadiri oleh perwakilan SIGNIS Asia, Bernadetta Widiandayani serta Pst. Yustinus Nana Sujana, Osc., dan Frangky Parengkuan selaku business coach juga turut hadir sebagai pemateri di Hari Studi pada Rapat Anggota Tahunan SIGNIS Indonesia ke-48 ini.

    Melihat antusias peserta, sebagai ketua panitia Sr. Maria Seba SFIC berharap semoga para penggiat media khususnya dalam mewartakan kabar suka cita Injil mampu menjadi komunikator Gereja yang menerjemahkan bahasa-bahasa Injil ke dalam bahasa yang mudah dipahami masyarakat.

    Kilas SIGNIS

    SIGNIS sendiri merupakan sebuah asosiasi para komunikator profesional Katolik yang diakui oleh Takhta Suci dengan total 100-an anggota yang tersebar di seluruh dunia. Asosiasi non-profit ini membantu Gereja dalam karya perwataan injil melalui radio, televisi, cinema,  video, media edukasi, internet, atau karya-karya jurnalistik dan teknologi baru lainnya.

    Terbentuk sejak November 2001, SIGNIS merupakan gabungan dari 2 organisasi, yaitu International Catholic Organization for Cinema and Audiovisual (OCIC) dan International Catholic Association for Radio and Television (UNDA). *Mel/S

    Paskah Bersama Kepolisian Resor Mempawah, Uskup Agustinus Sampaikan Refleksi Penderitaan

    Paskah Bersama Kepolisian Resor Mempawah – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Mempawah – Bertempat di Rumah Retret St. Johanes Paulus II Anjongan pada Kamis, 28 April 2022 bersama 40-an peserta dari personel Kepolisian Resor Mempawah dan keluarga berlangsung secara hikmat.

    Acara Paskah bersama dipimpin oleh Uskup Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus didampingi Ketua Komisi Kerawam Keuskupan Agung Pontianak, RD. Rupinus Kehi.

    Dalam homilinya Uskup Agustinus menekankan semangat dan kebahagiaan dari sebuah penderitaan. Sejumlah personel kepolisian Resor Mempawah diingatkan Uskup Agustinus untuk tegar dalam mengemban tugas negara. Uskup Agustinus juga melihat bahwasanya menjadi personel kepolisian tidak semudah yang terlihat oleh mata.

    Tengah kotbahnya, Uskup Agustinus mengingatkan bahwa penderitaan adalah representasi kedaulatan Allah. Kedaulatan Allah adalah ajaran Alkitab bahwa segala sesuatu berada di bawah kekuasaan dan kendali Tuhan, dan tidak ada yang terjadi tanpa arah atau izin-Nya.

    Uskup Agustinus menekankan bahwa Tuhan bekerja bukan hanya beberapa banyak hal tetapi segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendak-Nya termasuklah penderitaan.

    Baca Juga: Hut Ke-660 Kota Sintang: Membangun Kebersamaan Dalam Perbedaan

    Seperti apa pun penyebab penderitaan menimbulkan rasa sakit fisik dan emosional pada manusia, semua itu tidak akan pernah melebihi kadaulatan Allah.

    Bagi Uskup Agustinus, tugas kepolisian justru hadir hingga bekerja ditengah masyarakat menjadi tonggak (benteng) paling depan untuk membereskan persoalan masyarakat.

    “Kadang-kadang mereka berkorban untuk meninggalkan anak dan istri dirumah demi tugas. Bagi Uskup Agustinus, itulah bagian dari penderitaan. Penderitaan justru harus menjadikan kita lebih dekat dengan Allah,” kata Uskup Agustinus.

    Paskah: Perayaan Besar Katolik

    Perayaan Paskah bersama pagi itu, dimulai persis pukul 11. 00 WIB, disana semua personel Kepolisian nasrani yang bertugas dalam wilayah Kabupaten Mempawah dikumpulkan dalam satu payung yakni puncak perayaan ekaristi secara Katolik.

    Perayaan Paskah bersama itu dihadiri oleh Polsek Jungkat, Polsek Pinyuh, Polsek Anjongan, Polsek Toho, dan Polsek Mempawah Hilir bersama jajaran masing-masing.  Hadir pula Wakapolres Mempawah KOMPOL Anton Satriadi, SIK. MH bersama jajarannya.

    Uskup Agustinus juga menjelaskan sebenarnya puncak perayaan tertinggi di gereja Katolik adalah perayaan Paskah. Karena dalam peristiwa Paskah itu sangat jelas dijelaskan tentang terminologi tentang  ‘Credo’ – doa “Aku Percaya”.

    Baca Juga: Yaqut Cholil Qoumas – Kemenag Bersama Para Uskup Indonesia di Ambon, Ada Apa?

    Dengan ‘perangai’ dan ‘riak’ canda Uskup Agustinus, beliau mengatakan kalau Yesus yang mati tidak bangkit, rugi kami jadi pastor.

    Karena ada kebangkitan badan dan hidup kekal itulah, inti dari iman Katolik.

    “Dulu waktu bujang, aku ini ganteng dan cewek-cewek juga banyak yang naksir,” tutur jenaka Uskup Agustinus.

    Jamuan Bapa Uskup

    Hal yang menarik dari perayaan Paskah bersama siang itu, AIPDA Aloysius, SH  merupakan seorang Protestan yang telah bertugas selama 14 tahun (2008 – 2022) di Polsek Jungkat –  mengaku terharu dengan jamuan Uskup Agustinus.

    Selama ini, dan untuk pertama kalinya Aloysius bertemu dengan Bapa Uskup dengan lembut melayani mereka secara langsung di Rumah Retret Anjongan.

    Lebih-lebih menurutnya, Uskup Agustinus adalah sosok yang ramah, hangat bahkan untuk pertama kalinya serasa orang tua baginya.

    Apalagi dengan suasana Anjongan yang tenang seolah mencerminkan keheningan yang seolah menghantarnya masuk dalam kedamaian batin. Ya, begitulah pengakuan dari  AIPDA Aloysius, SH saat diwawancarai.

    Selaras dengan apa yang dialami oleh IPTU Roberd Suryanto, S.Pd.K – selaku Kapolsek Anjongan.

    Sebagai Kapolsek Anjongan, IPTU Roberd Suryanto yang juga seorang Protestan bersyukur dengan diadakannya kegiatan Paskah bersama Uskup Agung Pontianak. Bagi IPTU Roberd selama tiga tahun bertugas di Anjongan, IPTU Roberd mengaku selama ini merasa terbantu dengan kehadiran sosok Uskup Agustinus.

    Baca Juga: Perayaan 25 Tahun Imamat 3 Imam MSC, Uskup Agustinus Ingatkan untuk Wartakan Kabar Gembira

    Baginya Uskup Agustinus adalah orang tua selain pandai dan ‘lihai’ dalam trik komunikasi dari hati ke hati, Bapa Uskup juga terbuka dan asik diajak untuk berdiskusi.

    “Selama 3 tahun bertugas di Polsek Anjongan saya merasa sangat terbantu dengan sosok Uskup Agustinus. Beliau adalah orang tua kami, beliau pengayom yang bijaksana,” tutur IPTU Roberd.

    Dalam kesempatan yang sama pula, sebagai Wakapolres Mempawah KOMPOL Anton Satriadi, SIK. MH mengucap syukur kali ini dapat terlaksanakannya Paskah bersama. Ia berharap kegiatan seperti ini harus terus dikembangkan dan ditingkatkan. Menurutnya selain untuk refleksi diri, ini juga menjadi momen saling sapa antar saudara seiman, saling menguatkan dan saling mendoakan.

    Usai misa perayaan Paskah bersama, kemudian dilanjutkan dengan foto bersama dan santap siang bersama di aula tempat makan Rumah Retret St. Johanes Paulus II Anjongan.

    Hut Ke-660 Kota Sintang: Membangun Kebersamaan Dalam Perbedaan

    Rangkaian acara HUT Ke-660 Kota Sintang – Komisi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Sintang Peraturan Daerah Kabupaten Sintang Nomor 11 Tahun 2015 tentang Hari Jadi Kota Sintang, menyebutkan, bahwa dalam rangka menumbuh kembangkan rasa persatuan dan kesatuan, membangun kebanggaan daerah dan mendorong semangat memiliki serta memajukan daerah, perlu mengetahui Hari Jadi Kota Sintang. Keberadaan Kota Sintang merupakan sebuah proses sejarah yang panjang dari adanya wilayah dan pemerintahan yang memiliki struktur dan sistem sesuai perkembangan zamannya, perlu adanya suatu payung hukum untuk menetapkan momentum perpindahan pusat Pemerintahan dari Kerajaan Sepauk ke Sintang yang jatuh pada tanggal 10 Mei 1362; dan untuk memberikan pedoman dan acuan bagi masyarakat Kota Sintang pada saat ini dan seterusnya, maka perlu ditetapkan Hari Jadi yang merupakan bagian dari perjalanan sejarah Kota Sintang.

    Dengan penetapan hari jadi kota Sintang ini, telah memberikan kejelasan dan kepastian hukum bagi Pemerintah Daerah dan masyarakat Kota Sintang mengenai mulai berdirinya Kota Sintang yang bertujuan memberikan rasa memiliki warga kota terhadap kotanya sekaligus dapat lebih meningkatkan peran serta masyarakat dalam mengisi pembangunan, menyebarluaskan dan mendorong keikutsertaan seluruh masyarakat kota Sintang dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan dengan segala aspeknya.

    Dalam Peringatan hari jadi kota Sintang, Pemerintah Daerah berkewajiban mengikutsertakan potensi masyarakat melalui koordinasi instansi terkait, dan pembiayaan atas penyelenggaraan Peringatan Hari Jadi Kota Sintang dapat menjadi beban APBN, APBD Provinsi, APBD Kabupaten Sintang, dan/atau sumber lain yang sah dan tidak mengikat.

    Baca Juga: Peresmian Rumah Adat Dayak “Tampun Juah” Kabupaten Sintang

    Beragam ungkapan atas perayaan Hut ke-660 kota Sintang tahun 2022 ini, maraknya pemasangan twibbonize HUT ke-660 kota sintang oleh para netizen dari berbagai elemen masyarakat Sintang di media sosial (group Whatsaap, IG, facebook), ada juga pantun spontan muncul dari bapak Oktavianus Kabid di Badan Pengelola Perbatasan kab.Sintang yang berbunyi: “Pagi hari Membeli Kentang, Membeli Kentang di Pasar Raja, Dirgahayu Kota Sintang, Semoga Aman, Sehat Sentosa”.

    Dan menurut mantan sekcam kecamatan Ketungau Hulu  ini, “dengan HUT kota sintang, harus kita sadari bahwa sintang rumah bersama, maka diperlukan seorang pemimpin yang mampu menata dan menjadi agen penggerak perubahan sosial disegala bidang” ungkapnya.

    Dengan harapan Sintang bisa bertumbuh dan berkembang dari desa menuju kota, dan salah satunya adalah dengan cara menunjuk dan memfungsikan putera daerah setempat yang memenuhi syarat untuk menjadi agen perubahan sosial, ungkap Oktavianus yang sudah 32 tahun bertugas di kecamatan Ketungau hulu ini.

    Proses Sejarah

    Menurut Anggota DPR RI, dari Fraksi Partai Golkar, Dapil 2 kalbar, Dr. Drs Adrianus Asia Sidot, M.Si, mengatakan bahwa “kota Sintang harus menjadi pusat perkembangan bagi wilayah timur Kalbar, kemajuan di kota Sintang menurut Adrianus akan memberikan dampak ganda bagi pembangunan di wilayah timur provinsi Kalimantan barat. Dijelaskannya kota Sintang harus mampu mengoptimalkan peluang dan potensi yang dimilikinya baik dari potensi sumber daya manusia maupun sumber daya alam, bravo dan dirgahayu ke 660” ungkap bupati landak periode 2003-2008 & 2011-2016 ini.

    Bupati Sintang periode 2000-2005, Drs. Elyakim Simon Djalil, MM, mengungkapkan “Sintang adalah kota yang memiliki posisi strategis di sektor Timur provinsi Kalbar, posisi ini merupakan pusat pengembangan pembangunan, pusat distribusi dan pusat pelayanan bagi hinterlandnya. Karena itulah pada masa kepemimpinannya dulu pernah disusun suatu konsep yang disebut “SINTANG RAYA”, karena posisi strategisnya” ungkapnya.

    Maka menurut mantan dosen APDN Pontianak ini, penting bagi seluruh masyarakat Sintang untuk bersama-sama, bahu-membahu membangun Sintang ke depan. Sintang dengan beraneka keberagamannya, patut kita jaga persatuan dan kesatuan seluruh anak bangsa, demi terciptanya Sintang yang aman, damai, tertib, makmur, ramah dan tentram. “DIRGAHAYU SINTANG”, tuturnya.

    Budi Tariu tokoh pemuda asal kecamatan Sepauk mengucapkan selamat hari jadi ke-660 “semoga hari jadi kota Sintang yang kita cintai ini sebagai momentum simbol persatuan persaudaraan kita semua suku, ras dan agama yang ada di Sintang, sehinga kota Sintang yang sejahtera aman dan tentram dapat tercapai, sebagai kekuatan dalam membangun kabupaten Sintang secara adil dan merata sehingga menjadi kabupaten yang bisa kita banggakan” ungkapnya.

    Baca Juga: Bupati Sintang Lantik 8 Camat & 111 Pejabat Struktural Lain

    “Wajah kebersihan kota Sintang harus diwujudkan yang mencerminkan aura positif dan penuh energik, dan harapannya agar para pemimpin di kabupaten Sintang bisa menjadi contoh dan teladan masyarakat. Majulah kotaku dan terwujudlah sebuah cita-cita mulia agar kota Sintang kelak berubah menjadi ibukota provinsi KAPUAS RAYA yang kita nantikan. Dirgahayu – Gayu Nyiru – Kotaku SINTANG” ungkap Budi tariu.

    Ketua forum Ketemenggungan Adat Dayak Kabupaten Sintang, Drs. Andreas Calon, mengutarakan, “jika mengikuti sejarah berdiri kota Sintang penuh dinamika dan melibatkan seluruh etnis, suku dan agama yang hidup di Sintang masa itu. Harapan ke depan perlu dilibatkan semua etnis, suku dan agama saat mempersiapkan perayaan hari jadi kota Sintang ini, dan masalah ini sudah kami sampaikan saat rapat di ruang rapat sekda Sintang, ada kurang lebih 16 suku di kabupaten sintang ini perlu dilibatkan secara aktif,” ungkapnya.

    Andreas, S.Th selaku ketua ASAP (Asosiasi Anak Peladang) kabupaten Sintang mengatakan bahwa “hari jadi kota Sintang adalah milik kita semua yang ada di kota Sintang ini, maka sepantasnya lah semua suku dilibatkan langsung untuk memeriahkan HUT kota Sintang ini, ungkapnya. Namun menurutnya bahwa hari jadi kota Sintang terkesan hanya di dominasi kaum yang tua, tanpa melibatkan kaum muda. Saya juga sudah pelajari kalau kedatangan JUBAIR di kota Sintang itu sebenarnya bukan 660  tahun yang lalu tapi lebih tua satu abad, yakni 760, dan menururut pengamatannya perayaan hari jadi kota Sintang masih terkesan belum melibatkan seluruh elemen masyarakat Sintang, dan kedepan hal tersebut harus menjadi evaluasi” uangkapnya.

    Yustinus, S.Pd.M.AP, ketua ISKA (Ikatan Sarjana Katolik Indonesia) Kabupaten Sintang, mengatakan bahwa “dengan perayaan hari jadi kota sintang ke-660 ini, harus bisa menjadi sebuah momentum energik dan dinamis yang semakin membawa masyarakat Sintang untuk semakin bersemangat dalam membangun keberagaman dan kebersaman di segala bidang,” tegasnya

    Ketua Ikatan Cendiakiawan Dayak Nasional (ICDN) Kabupaten Sintang, Sopian, S.Sos,M.Si, mengapresiasi perayaan Hut kota sintang ke-660 ini, karena ini bisa dijadikan moment untuk merekatkan persatuan dan kesatuan semua unsur yang ada di kabupaten Sintang.

    “Dengan Hut kota Sintang, kita angkat kembali budaya kehidupan sosial yang pernah diwariskan para leluhur sehingga nilai-nilai kerukunan dan kedamaian dijadikan tempat yang indah bagi anak cucuk kita” ungkapnya.

    “Kita harus menjaga daerah Sintang ini, kita harus tolak budaya-budaya luar yang bertentangan dengan budaya leluhur kita, seperti paham-paham radikalisme, paham intoleransi dan lainnya, dan menurut tokoh muda Dayak Uut Danum ini, semua elemen Sintang harus bersatu padu baik penduduk lokal maupun pendatang, dan harus diingat bahwa ada pepatah mengatakan “Dimana Tanah di Pijak di Situ Langit di Junjung” harus nyata” lanjut dosen Fisip Unka Sintang ini.

    Budaya Kehidupan Sosial

    “Hari jadi kota Sintang tidak cukup hanya diisi dengan bentuk perayaan seremonial saja” ungkap Drs. A.Tilla,M.Si selaku Dewan Pakar Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Kab. Sintang.

    “Kedepan perlu diprogramkan semacam sejenis kajian sejarah yang melibatkan semua unsur, datangkan ahli sejarah, saksi-saksi sejarah yang memiliki data dan fakta tentang berdirinya kota sintang” tambahnya.

    Menurut A.Tilla, kita masih harus mereview ulang sejarah Sintang, supaya kita tidak membuat cerita sejarah yang terkesan putus-putus, dan atau adanya perilaku narasi yang menghilangkan fakta sejarah.

    Melanjutkan keterangannya, mantan kepala dinas pariwisata kabupaten Sintang, menjelaskan perlu secara bersama atas dasar objektifitas dan kekeluargaan untuk melakukan pelurusan sejarah, seperti yang dapat diperoleh dari penuturan orang-orang tua bahwa di dalam museum Dara Juanti itu (sekarang Istana Alukaromah) pernah disimpan peninggalan sejarah berupa: 1). Tempayan lemak babi; 2). Meriam Mangku Malik; 3).Sirat Mangku Malik (dan informasi yang kami peroleh bukan sirat mangku Malik, tetapi milik Jubair), namun peninggalan itu tidak terlihat lagi. Menurutnya hal-hal seperti ini perlu kita cermati dan sikapi secara arif dan bijak tanpa bermaksud apa-apa, namun semata meluruskan sejarah supaya diketahui dan dipahami oleh generasi saat ini dan akan datang.

    “Upaya-upaya membuat duplikasi perlu dipikirkan oleh semua stakeholder Sintang” tegas kepala dinas pariwisata Sintang.

    “Tempat pemandian Dara Juanti dan makam Jubair yang terkesan kurang terurus perlu ada kebijakan renovasi. Meriam Mangku Malik sebagai emas kawin seorang tokoh asal Embaloh Kapuas Hulu dengan keponakan Dara Juanti perlu dijajaki rimbanya. Termasuk lokasi patung Putung Kempat (Putung Kempat adalah leluhur pendiri kota Sintang), Sumur garam di Dusun Suak Desa Manis Raya Kec. Sepauk, Situs Pangeran Muda anak Pangeran Kuning, Situs Perang Pandung atau Perang Mensiku, Situs Perang Raden Paku, situs Perang Panggi Rugguk dan Rangas (dari Batang Tuk Sungai Jungkit, yang bermuara ke sungai Belitang melewati desa Ensabang kec. Sepauk, Desa Ratu Damai-Ampuk, Desa Sejirak, Desa Baung Sengatap kec. Ketungau hilir), termasuk situs Bukit Kujau yang memilik garis sejarah dan cerita terhadap adanya kota sintang perlu diperhatikan sarana dan prasarana, dalam kacamata pariwisata” tegas A.Tilla.

    Baca Juga: Yaqut Cholil Qoumas – Kemenag Bersama Para Uskup Indonesia di Ambon, Ada Apa?

    Menurut cerita Bukit Kujau yang ada di Kecamatan Sepauk & Kec. Tempunak, merupakan situs pra sejarah asal mula penduduk daerah Sintang dimana hidup dan berdiam sepasang suami yang bernama SABUNG (EMBUN) MANGULUR dan istrinya PUKAT MENGAWAN yang memiliki 7 orang anak, yakni;

    • Puyang Gana (meninggal sebelum lahir),
    • Belang Pinggang;
    • Terentang Temanai;
    • Suluh Duik;
    • Buku Labuk;
    • PUTUNG KEMPAT;
    • Buih Nasi.

    Dari berbagai sumber dan cerita rakyat (folklore) diperoleh informasi bahwa PUTUNG KEMPAT adalah seorang Dayak yang menikah dengan Aji Melayu (saat ini makam Aji Melayu ada di Sepauk). Pernikahan Putung Kempat dengan Aji Melayu menurunkan Dayang Lengkong nikah dengan Patuh Selatung yang menurunkan putri bernama Dayang Randung, yang nikah dengan Adipati Selatung menurunkan Abang Panjang yang menurunkan Demong Karang, Demong Karang menurunkan Demong Kara (raja ke-6 kerajaan Sepauk) kemudian menurunkan Demong Irawan yang menurunkan Dara Juanti. Dara Juanti memiliki saudara laki-laki yang bernama Demong Nutup (Jubair 2), yang merantau ke jawa dalam wilayah kerajaan Majapahit, dan kepergian nya ini membuat Dara Juanti pernah mengganti kedudukannya sebagai petinggi karajaan Sintang masa itu, kemudian Dara Juanti menyusul kepergian saudaranya tersebut ke jawa, yang pada akhir atas peristiwa inilah Dara Juanti bisa bertemu dan akhirnya nikah dengan Patih Logender (jawa) dari karabat Kerajaan Majapahit.

    Rektor Universitas Kapuas Sintang, Dr. Antonius, S.Hut.MP, mengatakan bahwa perayaan Hut ini harus bisa membuat Sintang sebagai kota yang mampu mencatat peristiwa-peristiwa di setiap waktu, yang dapat menjadi petunjuk perubahan peradaban bagi setiap generasi.

    “Bahkan hingga kapanpun sepatut dan selayaknya setiap peristiwa sejarah  terdokumen dengan baik dan valid” ungkapnya.

    Menurut Doktor lingkungan alumni Brawijaya Malang ini, Sejarah yang baik dan benar tentu akan menjadi penyemangat untuk terus berkarya di Bumi Senentang ini. Selain itu yang terpenting makna perayaan Hut kota Sintang tahun 2022 ini harus menjadi perekat keberagaman elemen masyarakat Sintang tanpa terkecuali. “Keberagaman adalah suatu keniscayaan” tegas Antonius Putera Dayak Sintang ini.

    Baca Juga: Misa Minggu Panggilan Paroki Kristus Raja Sambas Pada Hari Minggu Doa Panggilan Sedunia Ke -59

    F.X. Murniyanto, S.Sos.M.Si salah seorang tokoh adat Dayak Uut Danum Sintang, mengungkapkan bahwa dengan perayaan hari jadi kota Sintang, harus terus mawas diri di semua level baik warga masyarakat, pejabat pemerintah termasuk TNI dan POLRI. Galang dan perkuat terus persatuan dan kesatuan kita orang Sintang dalam keberagaman, jangan mudah terpengaruh oleh pengaruh pihak luar Sintang yang cendrung ingin membuat kegaduhan, Sintang welcome untuk kemajuan dan perubahan, tapi bukan meniadakan tradisi-tradisi masyarakat Sintang yang sudah membumi selama ini. “Penyelenggara dan pejabat buat kebijakan yang populis untuk warga Sintang” tegas mantan camat Ambalau ini.

    Perayaan Hut kota Sintang ke-660 pada 10 Mei 2022 mengusung tema: BANGSA yang artinya “MEMBANGUN KEBERSAMAAN DALAM PERBEDAAN”.  Perayaan meliputi tiga acara di 3 lokasi, yakni; Upacara Peringatan Hari Jadi, jam 08.00 WIB di halaman kantor Bupati Sintang, Ziarah dan Launching Museum Pusaka Ningrat, jam 09.30 WIB di Istana Al Mukarramah Kesultanan Sintang, dan dilanjutkan Saprahan, jam 12.00 WIB, di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Sintang.

    Bupati sintang dr.H. Jarot Winarno yang didampingi unsur Forkompimda, saat sebagai inspektur upacara pada perayaan HUT kota Sintang ke-660 (Selasa, 10/5/2022) di Halaman Kantor Bupati Sintang, yang diikuti peserta upacara menggunakan pakaian dan busana adat masing-masing. Upacara perayaan diawali dengan perarakan Sultan Sintang Pangeran Prabu Kesuma Negara VI Pangeran Raden Barry Danu Brata Perdana yang didampingi Permaisuri membawa replica Burung Garuda (replica Burung Garuda ini salah satu bukti hantaran Patih Logender ketika meminang Dara Juanti), dan juga oleh Sultan Hamid II Pontianak Replica Burung Garuda ini dijadikan idenya ketika masa Pemerintahan Presiden RI Soekarno menyelenggarakan sejenis sayembara untuk membuat Lambang Negara Garuda Pancasila masa itu.

    “Kita harus terus merawat warisan yang diberikan figur Jubair Irawan 1 yang pernah punya cita-cita menyatukan perbedaan di Sintang melalui simbol dengan menempatkan lokasi pusat kerajaan Sintang pada pertemuan alur sungai Kapuas dan alur sungai Melawi yang saling bertentangan dan Lokasi itu dinamakan Senentang yang menjadi Sintang” tegas Bupati Sintang dr.H. Jarot Winarno.

    Baca Juga: Peletakan Batu Pertama Asrama Bhineka, Uskup Agustinus Berikan Pembangunan Terbaik untuk Anak Kampung

    Jarot Winarno mengajak masyarakat Sintang untuk lebih banyak berkorban dari pada menuntut. Banyaklah berkarya daripada membuat masalah, lakukan silahturahmi yang diistilahkan beliau dengan “RANDAU GAOK”, daripada bertikai membuat konflik atau kegaduhan.

    “Keragamaan dan perbedaan bumi Sintang sejak dari dahulu sudah ada, jangan dijadikan persoalan lagi di masa ini dan akan datang. Karena masih dalam suasan Idul Fitri 1443/2022M dengan hati yang tulus saya mengucapkan selamat hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah bagi umat Muslim yang merayakannya, dan mohon maaf lahir dan batin untuk kita semua” ungkap Jarot Winarno.

    Perayaan HUT Sintang diikuti serangkaian acara, yakni; pemotongan tumpeng oleh Bupati Sintang yang diserahkan kepada Sultan Sintang,  penyerahan piagam perhargaan dari Kemendagri kepada Bupati Sintang yang disampaikan Kepala Badan Kesbangpol kabupaten Sintang, Kusnidar,S.Sos,MM, penghargaan ini sebagai bukti Sintang sudah membentuk Gugus Tugas Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Kab. Sintang. Kegiatan perayaan dilanjutkan ziarah dengan menaburkan bunga di makam Jubair Irawan 1 yang berlokasi di Kelurahan Kapuas Kiri Hilir Kecamatan Sintang.

    Terkait makam Jubair Irawan 1, diusulkan oleh H.Ade Kartawijaya  selaku ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) kabupaten Sintang supaya pemda kabupaten Sintang membuat sebuah prasasti yang bertuliskan “Disini dimakamkan Pendiri kota Sintang, hari Jadi kota Sintang 10 Mei 1362 Masehi, dan juga bisa dibuat lambang makam Hindu, karena masa itu Jubair Irawan pemeluk agama Hindu.

    Kemudian kegiatan perayaan dilanjutkan dengan penanda tanganan prasasti penggunaan operasional Museum Pusaka Ningrat Istana Al-Mukarramah Kesultanan Sintang. Adanya Museum ini merupakan CSR dari PT Pertamina, dalam keterangannya Gusti Sumarman, SH selaku kerabat Keraton Sintang mengutarakan pembangunan museum ini selama 6 bulan dan koleksinya seperti Lambang Burung Garuda, barang-barang hantaran pinangan Patih Logender kepada Dara Juanti, ada Gong, ada 6 pucuk meriam, mata uang, dan koleksi-koleksi foto.

    Sebagai acara puncak dari kegiatan perayaan HUT kota Sintang ke-660, dilanjutkan makan bersama yang disebut dengan istilah “SAPRAHAN”, dihadiri unsur Forkompimda kabupaten Sintang, Sekda Sintang, Wakil ketua DPRD Sintang, pimpinan OPD kabupaten Sintang, ketua Tim Penggerak PKK kabupaten Sintang, Tokoh Adat, Tokoh perwakilan lintas etnis. Dan menurut keterangan sekda Kabupaten Sintang selaku ketua panitia, Dra.Yosepha Asnah, M.Si mengatakan perayaan HUT kota Sintang ke 660 ini, panitia juga menyelenggarakan seminar di Rumah Adat Melayu Tepak Sireh di Jl.Y.C,Oevang Oeray Sintang, serta kegiatan diskusi-diskusi di Rumah Betang Dayak “Tampun Juah” yang berlokasi di Desa Jerora 1 jalan Kelam Sintang.

    Misa Minggu Panggilan Paroki Kristus Raja Sambas Pada Hari Minggu Doa Panggilan Sedunia Ke -59

    Misa Minggu Panggilan Paroki Kristus Raja Sambas - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Sambas – Tuaian begitu banyak, namun pekerja sedikit (Luk 10 : 2). Hal ini terjadi dalam banyak bidang, tak terkecuali dalam Hidup Bhakti. Menjadi seorang imam adalah sebuah panggilan hidup bahagia.  Dengan menjadi imam, kita diajak menjadi hidup lebih kudus, lebih total melayani Allah bersama umat, lebih mampu membangun komitmen untuk hidup lebih setia, taat, dan tidak terikat pada hal-hal duniawi.

    Hidup menjadi semakin seperti Yesus Sang Gembala Baik. Hari ini 8 Mei 2022 gereja merayakan hari minggu panggilan sedunia ke–59. Adapun tema hari minggu panggilan sedunia ke-59 adalah: Kita Semua Di Panggil Menjadi Sahabat Seperjalanan.

    Baca Juga: Secuplik Tentang Kongregasi Fransiskanes Sambas (KFS)

    Tak kalah penting juga di paroki Kristus Raja Sambas  pada misa hari minggu Doa Untuk Panggilan sedunia ke-59, Misa dipimpin oleh Pastor Masseo Clinton OFMCAP, pada  tanggal  8/5/2022  seksi panggilan mengadakan misa panggilan dengan menampilkan anak-anak Misioner yang menggunakan kostum biarawan biarawti cilik, berkaloborasi dengan kauam awan cilik dari kalangan pemerintahan, abdi negara, para penari untuk memperkenalkan kepada anak misioner kehidupan biarawan biarawan/biarawati, ordo dari berbagai tarekat lembaga hidup bakti.

    Gembala Baik

    Kita bersama-sama bergandengan tangan menuju gereja yang hidup, bahwa pilihan itu pada akhirnya satu tujuan yang sama mencari kerajaan Allah di tengah dunia dan perkembangan zaman ini oleh sebab itu dalam gereja katolik harus tetap menjaga dan melestarikan kekayaan iman dengan pilihan hidup seperti berikut ini :

    1. Pilihan hidup khusus mengereja menjadi pastor, suster, bruder, dan frater.
    2. Dan panggilan hidup berkeluarga.

    Dengan kekayaan ini Gereja katolik diseluruh dunia memperingati dan merayakan hari doa mohon panggilan sedunia. Hal ini, patut kita syukuri dalam gereja, karena panggilan hidup bakti merupakan panggilan khusus dan menjadi penting demi kelangsungan hidup dan karya misi gereja.

    Mari kita bersama bergandengan tangan dan berjalan bersama dalam mewujudkan “Menuju Gereja Sinode: Persekutuan, Partisipasi, dan Misi.

    Panggilan

    Menjaga dan melestarikan kekayaan-kekayaan dalam gereja sampai ke anak cucu kita, menjaga iman, menanamkan iman sejak dini dan memperkenalkan kekayaan dalam hidup dan pelayanan gereja kepada anak-anak kita dan terus memotivasi anak-anak muda untuk ikut ambil bagian dalam hidup mengereja.

    Baca Juga: Yaqut Cholil Qoumas – Kemenag Bersama Para Uskup Indonesia di Ambon, Ada Apa?

    Mengingat benih panggilan biasanya tumbuh subur di kalangan mereka, yang mulai mengambil bagian tugas pelayanan dalam lingkungan Gereja sejak mereka masih usia anak. Memperkenalkan kepada anak-anak dan remaja tentang gambaran kehidupan/profil dari biarawan/biarawati. Hal ini secara tidak langsung menumbuhkan cita-cita untuk menjadi pastor, bruder dan suster.

    Karena tanggung jawab tumbuh suburnya panggilan hidup bhakti bukan hanya seorang imam, suster, atau bruder saja, tetap juga tanggung jawab setiap umat kristiani.

    TERBARU

    TERPOPULER