Tuesday, May 12, 2026
More
    Home Blog Page 115

    FSAB: Peringatan Sumpah Pemuda ke 94, Momentum Pererat Persatuan Membangun Bangsa Di Era Teknologi 4.0

    FSAB: Peringatan Sumpah Pemuda ke 94, Momentum Pererat Persatuan Membangun Bangsa Di Era Teknologi 4.0

    MajalahDUTA.Com, Jakarta– Peristiwa Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta, 94 tahun silam selalu memberikan pelajaran kepada bangsa Indonesia tentang cara menyikapi perbedaan seperti perbedaan suku, agama, ras dan kultur.

    Perbedaan tersebut telah menjadi kekuatan bangsa Indonesia, bukan sebagai faktor yang melemahkan. Sejarah telah menunjukkan bahwa, pilihan Pemuda waktu itu telah menjadi tonggak kuat menuju kemerdekaan, demikian disampaikan Suryo Susilo Ketua Forum Silahturahmi Anak Bangsa (FSAB) kepada wartawan, Jumaat, 28/10/2022 di Jakarta.

    “Saat itu, peran Pemuda dalam mempelopori membangun visi kebangsaan dengan Sumpah Pemuda 1928 yang diikuti dengan rangkaian pergerakan-pergerakannya telah mengantarkan pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ini fakta sejarah yang bahkan telah tercatat dengan tinta emas sepanjang masa, dan perjuangannya harus diteruskan oleh generasi muda dalam situasi kekinian” ucap Suryo Susilo.

    Baca juga: KPK Didesak Periksa Segera Menkominfo & Audit Investigasi Proyek Pengadaan Tower BTS

    Terkait dengan Tema Peringatan Hari Sumpah Pemuda Tahun 2022 ini, lanjut Suryo, tema tersebut dapat dimaknai sebagai suatu tekad dalam menghadapi atau menjawab kondisi negara di era sekarang, yang juga menjadi tantangan bagi generasi milineal, setidaknya ada lima isu utama yang menjadi tantangan pemuda saat ini, antara lain radikalisme, perpecahan kesatuan, narkoba, lemahnya nasionalisme, hingga ketahanan keluarga. Selain itu Generasi sekarang punya banyak tantangan dalam lanskap ke-Indonesia-an, kebinekaan, hingga menjaga relasi budaya di negeri ini. Potensi konflik yang besar, ketimpangan ekonomi, hingga tantangan intoleransi sangat nyata. “Karena itu generasi sekarang ini bukan hanya di bekali ilmu pengetahuan dan teknologi, namun juga dibekali penanaman nilai-nilai moral Pancasila sebagai ideologi negara, serta sudah selayaknya generasi muda memiliki semangat, kerja keras, gotong royong, dan rela berkorban dalam konteks kekinian. Dengan begitu, lahir generasi milenial yang inovatif, adaptif dan konsisten dengan gagasannya, serta tentunya semangat Sumpah Pemuda dapat dijadikan motivasi dalam meningkatkan kedisplinan dan kualitas generasi muda Indonesia untuk memantapkan landasan pembangunan nasional.” tukas Suryo.

    Sementara itu, dihubungi secara terpisah, Anne salah seorang cucu pejuang umat Muslim Kartosuwiryo, saat dimintai pendapatnya terkait dengan tantangan pemuda di era sekarang, ia mengatakan bahwa Momentum Sumpah Pemuda, 94 tahun silam, merupakan tonggak utama dalam sejarah pergerakan Kemerdekaan Republik Indonesia, yang dianggap sebuah kristalisasi semangat untuk cita-cita berdirinya Negara Republik Indonesia, salah seorang yang hadir dalam pertemuan sumpah pemuda tersebut berada diantara 74 peserta dan turut mengikrarkan itu adalah Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo. “Itu adalah fakta sejarah yang tidak boleh dihilangkan dan dilupakan oleh siapapun bahkan oleh generasi sekarang, bahwa kehadiran tokoh SekarMadji Maridjan Kartosuwiryo membuktikan di pertemuan tersebut tidak ada sekat agama, suku dan ras, serta tidak ada perbedaan pandangan politik, semua berikrar suci satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia” tukas Anne kepada awak media yang menghubunginya, Jum’at, 28/10/2022 di Jakarta.

    Menurut Anne, berkaitan dengan posisinya sebagai generasi milineal yang hidup di era revolusi industri generasi keempat yang bisa diartikan sebagai adanya ikut campur sebuah sistem cerdas dan otomasi dalam industry, serta digerakkan oleh data melalui teknologi machine learning.

    Baca juga: Negara Harus Hadir Selesaikan Konflik, Satukan Organisasi Advokat Dalam Satu Wadah

    Adapun secara singkat, pada Industry 4.0, pelaku industri membiarkan komputer saling terhubung dan berkomunikasi satu sama lain untuk akhirnya membuat keputusan tanpa keterlibatan manusia. Kombinasi dari sistem fisik-cyber, Internet of Things (IoT), dan Internet of System, mau tidak mau kondisi tersebut, telah menjadi tantangan masa kini yang harus siap dihadapi dan dipersiapkan, sehingga dapat mencetak para pemimpin generasi milenial.

    “Untuk menghadapi tantangan tersebut, maka jadilah pemuda pemudi yang tidak hanya pintar, cerdas atau berdayasaing tinggi tetapi jadilah pemimpin pemuda pemudi yang bijaksana, karena pintar saja kita akan kalah oleh mesin dengan chip tapi bijaksana itu cerdas secara spiritual dan emosi menggunakan hati, serta cedas pemikiran yang Visioner (“Hati tidak dimiliki oleh mesin”), “ tegas Anne.

    Selain itu, tantangan yang tak kalah pentingnya, lanjut Anne, adalah mengenai bela negara dalam bentuk meningkatkan kualitas bangsa melalui kreativitas, ketaatan hukum, serta menjunjung nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya yang tercermin dengan profil Pelajar Pancasila, dengan Membentuk Iman dan Taqwa pada Agama yang dianut oleh individu. Seperti yang tertuang dalam sila pertama Pancasila, pengamalan terhadap sila ini diwujudkan dengan manusia beragama. Artinya, memiliki agama yang diakui serta menanamkan nilai-nilai yang sesuai kebenaran dari ajaran agama tersebut. Manusia yang beragama adalah manusia yang dapat memahami agama dengan benar dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, serta membentuk mental dan fisik yang sehat, tangguh. Ketika kita paham dan tahu dengan benar apa yang dikerjakan untuk membela negara, maka mental dan fisik yang tangguh sangat diperlukan. Tidak mudah terkecoh dengan keadaan yang dipengaruhi oleh perasaan pribadi, namun lebih kepada ketahanan yang terwujud dengan setiap terpaan atau tantangan yang dihadapi.

    “Ya, intinya, pemuda sekarang ini dihadapkan pada kompleksitas permasalahan, yang suka tidak suka harus dihadapi dan dicari solusi, disinilah dibutuhkan ketahanan kepribadian yang kokoh, tangguh dan tentunya memiliki jiwa leadership dalam memimpin diri sendiri maupun kelompok. Jiwa kepemimpinan akan terasah ketika seseorang mulai dipercayakan suatu kepercayaan tertentu, dan tentunya jiwa kepemimpinan itu dilandasi pada pemahaman terhadap nilai-nilai terkadung dalam agama dan juga Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia” ucap Anne yang juga Anggota FSAB Muda.

    Hal senada juga disampaikan Mayang salah seorang cucu pahlawan revolusi Mayjend DI Panjaitan, saat dihubungi awak media, ia mengatakan bahwa situasi saat ini, sebagai generasi muda, hendaknya menjadi pelopor mempererat persatuan dalam bingkai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika agar bisa meraih cita cita membangun bangsa.

    “Dengan menjunjung nilai persatuan kita dapat membangun bangsa. Marilah kita menjadi pemuda yang berprestasi, berinovasi, berkolaborasi, kreatif, mengispirasi untuk mengharumkan bangsa Indonesia” tutur Mayang yang juga penggiat sosial kepada awak media, Jum’at, 28/10/2022 di Jakarta.

    Baca juga: Imam harus dekat dengan umat, Begitu Pesan Paus Fransiskus

    Terkait dengan tantangan pemuda di era perkembangan tekonologi digital ini, menurut Mayang, bahwa perkembangan teknologi ini, realitasnya juga berdampak negatif pada kehidupan generasi muda, yang terkesan lebih terlihat masa bodo, cuek, malas dan melupakan / tidak menghargai apa yang sudah di bangun oleh para founding fathers. Mereka lebih cepat menanggapi apa yang ada di sosial media tanpa menyaring terlebih dahulu informasi yang diterima sehingga menimbulkan perbedaan pemikiran yang berujung konflik, hal ini jika dibiarkan akan bisa menghancurkan masa depan bagi generasi muda dan juga masa depan bangsa Indonesia.

    “Karena itulah, di momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ini, saat untuk melakukan refleksi, evaluasi dan juga mencari problem solving, yang menurut saya, itu dapat ditemukan pada pendidikan dan ajaran agama. Pendidikan dan ajaran agama adalah hal terpenting dalam menghadapi segala ancaman ancaman luar, belajar dari apa yang sudah pernah terjadi di masa lalu dan bagaimana pemuda dapat menyikapinya, tentu dengan dasar negara kita yaitu Pancasila.” pungkas Mayang yang juga Anggota FSAB Muda dan seorang entrepreneur.

    Lahirnya Persekolahan Katolik Nyarumkop

    Pastor Marcellus dan Kepala Distrik Nyarumkop

    MajalahDUTA.Com, Sejarah- Menurut data arsip dan catatan Pastor Kapusin Missionaris, lahirnya Persekolahan Katolik Nyarumkop sebenarnya bermula dari robohnya sekolah dan asrama di kampung Pelanjau, di hulu sungai Sebangkau sekitar 10 km dari kota Singkawang.

    Peristiwa itu terjadi pada tahun 1911. Semua penghuni asrama lari akibat wabah penyakit, yang menyebabkan dua orang anak asrama meninggal secara mendadak. Sejak itu, Misi Katolik mulai memikirkan lokasi sekolah dan asrama baru. Pastor Marcellus OFMCap (Pastor Missionaris Belanda) dipilih untuk melaksanakan tugas itu.

    Baca juga: Catatan Fransiskan: Sejarah Katolik di Keuskupan Agung Pontianak

    Tokoh Pionir tulen

    “Pater Marcellus cocok untuk tugas itu,” demikian kesan rekannya mengenang peranan tokoh pionir tulen ini. Dikatakan pula, ia selalu bekerja dengan seluruh pribadinya.

    Ia tidak menuntut banyak untuk dirinya sendiri dan selalu mencari kemungkinan yang baru guna memajukan penduduk.

    Karena sifat-sifatnya itu, ia menjadi perintis pembukaan stasi-stasi di Kalimantan Barat. Beberapa kali ia membuka stasi. Setelah ia merasa bahwa stasi sudah cukup maju, ia menyerahkannya kepada Pastor yang lain. Pastor Marcellus mulai lagi dengan tugas baru.

    Baca juga: Dari Emrio Hingga Regio, Sejarah OFS Kalimantan Santa Elisabet dari Hungaria

    Nyarumkop adalah sebuah kampung Dayak, terletak di arah timur kota Singkawang. Pastor Marcellus tiba di sana pada tanggal 3 September 1916.

    Dengan bantuan Bruder Timoteus, ia mendirikan sebuah pondok sebagai tempat tinggal. Kemudian, ia mulai membangun rumah sekolah. Kedua orang Kapusin pergi ke hutan, menebang pohon pohon dan tanpa banyak mengubah mereka langsung menancapkan sebagai tiang-tiang.

    Beridirilah pastoran pertama Nyarumkop

    Mereka menganyam bambu untuk dinding dan daun sagu untuk dijadikan atap. Setelah itu, mereka mencari kayu ke hutan dan menancapkannya di lantai sekolah untuk dijadikan bangku.

    Pada saat sekolah mulai menerima murid-murid pertama, terjadi keunikan, “Tiangtiang sekolah dan bangku-bangku sekolah tumbuh dan bertunas, sebab kayu masih hidup!’.

    Pada tahun 1917, Pastor Marcellus membeli beberapa ekor sapi dan keretanya. Di daerah Patengahan ia membeli pula sebuah rumah.

    Ramuan rumah diangkutnya ke Nyarumkop untuk membangun rumah pastor dan rumah sembahyang. Berdirilah pastoran yang pertama dan kemudian pastoran ini bertahan sampai tahun 1959.

    Sekolah ternyata kurang memberikan harapan, disebabkan orang Dayak masih banyak yang takut dengan ancaman Sultan Sambas.

    Baca juga: Sejarah berdirinya Seminari Tinggi Interdiosesan Antonino Ventimiglia

    Jumlah murid sampai tahun 1920-an tidak lebih dari 25 orang. Selain itu, penduduk kampung Nyarumkop dan sekitarnya hidup dalam keadaan yang sulit. Dikisahkan, waktu kerja di ladang mulai, orang tua memerlukan tenaga anak-anak di rumah.

    Jadi, mereka tidak muncul di sekolah. Lagi pula, anak-anak yang sebelumnya bebas seringkali tidak tahan dengan peraturan sekolah. Mereka lari ke kampung dan menyembunyikan dirinya ketika pastor datang mencari mereka.

    Lanjut Part 2…

    Keselamatan

    Keselamatan Umat Manusia

    MajalahDUTA.Com, Renungan- “Sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” demikian orang bertanya kepada Yesus. Namun Tuhan Yesus memilih untuk tidak menjawab secara langsung pertanyaan itu.

    Sebaliknya, Ia mengajarkan hal yang lebih penting, yaitu bagaimana agar kita dapat diselamatkan. Sebenarnya, pertanyaan serupa juga ditanyakan orang di jaman ini. Nah, jika kita mempunyai pertanyaan seperti itu, warta Injil hari ini mengingatkan kita, bahwa hal yang lebih penting menurut Tuhan Yesus adalah: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu.

    Berjuang agar kita dapat masuk dalam bilangan orang-orang yang diselamatkan. Daripada mempertanyakan sedikit atau banyakkah orang yang diselamatkan dan siapa-siapa sajakah mereka, lebih baik kita masing-masing berjuang agar pada akhirnya kita dapat diselamatkan.

    Sebab rahmat keselamatan yang dari Tuhan mensyaratkan kerjasama dan perjuangan dari pihak kita yang menerima rahmat itu.

    Sabda Yesus dalam Injil hari ini menjadi dasarnya. Yaitu keselamatan yang kita terima oleh iman, tetap harus dibuktikan dengan perjuangan, dengan perbuatan nyata yang menunjukkan iman kita.

    Baca juga: Kardinal Cantalamessa: Ekaristi sama ekstensifnya dengan sejarah keselamatan

    Rahmat keselamatan itu bukanlah sesuatu yang diberikan secara otomatis, karena asal mengucap “aku percaya” tanpa perjuangan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Tuhan Yesus mengajarkan bahwa iman harus dibarengi dengan kerja keras, yang membuat orang dapat bertahan menghadapi berbagai cobaan dan godaan. Dengan kata lain, sebagai murid Kristus kita harus tahan menghadapi berbagai kesulitan hidup dan penderitaan.

    Pencobaan, yang diizinkan Tuhan untuk terjadi dalam kehidupan kita, seharusnya kita maknai sebagai “didikan Tuhan” yang jangan sampai membuat kita putus asa, tetapi menjadikan kita semakin kuat dalam iman, agar “menghasilkan buah kebenaran yang memberi damai kepada mereka yang dilatih-Nya.”

    Marilah kita meresapkan sabda Tuhan hari ini, dan melihat bagaimana Tuhan telah hadir dan menopang kita sampai saat ini. Ia memberkati dan meneguhkan kita, namun kadang juga menegur kita, jika kita berbuat kesalahan.

    Tuhan membuka jalan bagi kita, walaupun sering kali, itu mensyaratkan kerja keras kita juga. Semoga sabda Tuhan hari ini membuka mata hati kita, dan supaya kita tetap teguh beriman, walau sedang mengalami kesulitan dan penderitaan.

    Marilah kita melaksanakan perintah Tuhan, “Berjuang untuk dapat masuk melalui pintu yang sempit itu” yang membawa kita kepada keselamatan kekal.

    Para uskup mohon perdamaian dalam perang berkecamuk di Ukraina

    Setelah serangan udara di wilayah Mykolaiv, Ukraina

    MajalahDUTA.Com, Ukraina- Dengan perang yang berkecamuk di Ukraina, Perdamaian adalah tema sentral dari pertemuan para pemimpin Konferensi Waligereja dari Eropa Tengah dan Timur yang baru saja selesai di Budapest.

    Mereka berkumpul di ibu kota Hongaria tak lama setelah perdana menteri Hongaria membuka pusat peringatan untuk mendiang Kardinal József Mindszenty.

    Konferensi Waligereja Hongaria mengatakan bahwa ketuanya András Veres membawa pesan Konsili Vatikan II ke konferensi uskup regional dua hari di Budapest.

    Dikatakan: “Perdamaian bukanlah sekadar tidak adanya perang atau pemeliharaan sederhana keseimbangan kekuatan antar kekuatan, juga tidak dapat dipaksakan atas perintah kekuasaan yang absolut. Ini disebut dengan benar dan tepat yakni pekerjaan tentang keadilan.”

    Baca juga: Imam harus dekat dengan umat, Begitu Pesan Paus Fransiskus

    Michael Wallace Banach sebagai nuncio apostolik untuk Hongaria mencatat bahwa Gereja adalah institusi yang mencintai perdamaian. Perwakilan Vatikan juga bertanya-tanya: “Apa yang dilakukan Gereja untuk perdamaian?” Menurutnya ini adalah pertanyaan yang harus bergema di hati orang-orang.

    Seruannya mendorong Gintaras Grusas uskup agung Vilnius, agar meminta semua orang “berdoa bagi perdamaian” di dekat Ukraina dan seluruh Eropa. Panggilan untuk berdoa itu disambut hangat oleh Kardinal Mario Grech sekretaris jenderal Sinode Para Uskup yang menyoroti pentingnya Perdamaian.

    Para peserta konferensi juga merayakan Misa di Basilika Santo Stefanus yang terkenal di Budapest oleh Kardinal Hongaria Péter Erd dan bertemu dengan Presiden Hongaria Katalin Novák.

    Mereka berdoa di negara di mana pihak berwenang mengatakan sekitar 1,5 juta pengungsi Ukraina tiba dari negara tetangga Ukraina yang dilanda perang. Meskipun sebagian besar melewati Hongaria, ribuan juga ditampung di sini, dengan dukungan gereja.

    Pusat baru memperingati Cardinal Mindszenty

    Pertemuan itu terjadi setelah Perdana Menteri Hongaria Viktor Orbán membuka pusat baru pada hari Minggu untuk memperingati mendiang Kardinal József Mindszenty dari Hongaria di kota Zalaegerszeg, Hongaria.

    Itu juga terjadi ketika Hongaria mengingat Revolusi 1956 yang hancur melawan pemerintahan Soviet di mana Kardinal Mindszenty memainkan peran penting.

    Baca juga: Paus Fransiskus Mengingatkan bahwa Kesatuan dan kedekatan dengan Kristus membawa sukacita sejati

    Perdana menteri memandang Mindszenty sebagai simbol oposisi tanpa kompromi terhadap fasisme selama Perang Dunia Kedua dan komunisme di Hongaria.

    Setelah delapan tahun penjara karena keyakinan dan pandangan politiknya, Mindszenty dibebaskan dalam Revolusi 1956 dan diberikan suaka politik oleh kedutaan Amerika Serikat di Budapest, tempat ia tinggal selama lima belas tahun.

    Dia akhirnya diizinkan meninggalkan Hongaria pada tahun 1971 dan meninggal di pengasingan pada tahun 1975 di Wina, Austria.

    Dililis 27 Oktober 2022, 16:46 Waktu Vatikan oleh: Stefan J. Bos.

    Paus Fransiskus Mengingatkan bahwa Kesatuan dan kedekatan dengan Kristus membawa sukacita sejati

    Paus Fransiskus bertemu dengan para imam dan religius Madagaskar yang tinggal di Roma (Vatican Media)

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Paus Fransiskus mendorong para imam Madagaskar dan pria dan wanita religius yang tinggal di Roma untuk membentuk keluarga rohani yang bersatu, berpusat pada kasih Kristus, dan sukacita yang Tuhan berikan.

    Menurut Bapa Paus, pengalaman pribadi dan komunitas umat beriman tentang pentahbisan kepada Kristus adalah bukti bahwa hidup dapat dijalani secara berbeda dalam terang Injil, yang memberikan sukacita sejati.

    Paus menyampaikan ini kepada para imam, biarawan dan biarawati Madagaskar yang tinggal di Roma, di Vatikan pada hari Kamis.

    Sebelumnya pada pagi yang sama, Paus Fransiskus menerima para uskup Madagaskar pada kesempatan kunjungan ‘ad Limina Apostolorum’ mereka ke Roma dan Paus menyapa Presiden Konferensi Waligereja yang juga hadir pada pertemuan ini.

    Baca juga: Inti Pokok Konsili Vatikan II “Gaudium et Spes”

    Bapa Suci mengunjungi Madagaskar pada September 2019, selama Kunjungan Apostoliknya di sana, serta ke Mauritius dan Mozambik.

    Paus mengungkapkan kegembiraannya untuk memiliki pertemuan dan menyebutnya sebagai kesempatan untuk mengenal para religius lebih baik serta memahami lebih jelas harapan-harapan mereka sebagai orang-orang yang ditahbiskan dalam misi di Roma.

    “Kehadiran Anda hari ini, sementara para Uskup Anda sedang dalam kunjungan ad limina, merupakan ekspresi persekutuan doa Anda dengan perjalanan spiritual yang mereka lakukan di makam Rasul Petrus dan Paulus,” kata Paus Fransiskus.

    Kesatuan dan persatuan

    Keberhasilan misi ini Bapa Paus mengingatkan bahwa semua itu bergantung pada persatuan yang mereka kembangkan di antara mereka sendiri dan para imam mereka, termasuklah kesaksian yang mereka bawa ke masyarakat.

    “Mengejar kepentingan pribadi, ‘virus keegoisan’ ini, mengancam koeksistensi damai antara orang-orang, seperti antara putra dan putri dari negara yang sama. Persatuan ini sangat penting,” tegas Bapa Paus.

    Sukacita Kristus

    Menghadapi situasi ini, pengalaman pribadi dan komunitas tentang konsekrasi kepada Kristus adalah bukti bahwa hidup dapat dijalani secara berbeda dalam terang Injil, yang memberikan sukacita sejati.

    Oleh karena itu, Bapa Paus mendorong mereka untuk selalu berjalan bersama dan menjadikan kehadiran mereka di Roma sebagai kesempatan berharga untuk memperkaya dan memperbaharui iman dalam jejak figur besar orang-orang kudus dan pria dan wanita suci yang telah mendahului mereka.

    Bentuk keluarga spiritual yang besar

    Bapa Paus mendorong mereka untuk membentuk keluarga spiritual yang besar serta memiliki sikap menghormati, mencintai dan mendukung satu sama lain. Semua itu dikemas dan menjadi tanda harapan bagi Gereja-Gereja khusus mereka dan untuk Madagaskar.

    Baca juga: Museum Vatikan: Karya Belas Kasih

    Bapa Suci mengakhiri dengan mempercayakan semua orang sebelum dia kepada Bunda Terberkati. Berdoa agar Maria menjadi perantara bagi mereka, Bapa Suci memohon berkat Tuhan atas Gereja di Madagaskar dan seluruh bangsa, dan meminta mereka untuk berdoa baginya.

    “Semoga Bunda Maria membantu Anda untuk setia menjaga identitas Anda sebagai imam, pria dan wanita religius di tengah perubahan zaman ini,” harap Bapa Paus.

    Dirilis pada 27 Oktober 2022, 12:03 Waktu Vatikan- Oleh: Deborah Castellano Lubov Koresponden VatikanNews.

    KPK Didesak Periksa Segera Menkominfo & Audit Investigasi Proyek Pengadaan Tower BTS

    KPK Didesak Periksa Segera Menkominfo & Audit Investigasi Proyek Pengadaan Tower BTS

    MajalahDUTA.Com, Jakarta- Terkait dengan dugaan peristiwa pidana atau pelanggaran hukum dalam proyek pengadaan dan pembangunan tower Base Transceiver Station (BTS) oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo), usai mengadukan masalah tersebut ke DPR RI, kemudian mendesak terbentuknya Panitia Khusus untuk mengusut dan membongkar tuntas siapapun yang terlibat dalam persoalan tersebut, yang diharapkan di inisiasi Komisi III DPR RI, namun untuk kali ini generasi milineal yang tergabung dalam Koalisi Gerakan Jihad Berantas Korupsi mengadukan dugaan peristiwa pidana atau pelanggaran hukum dalam proyek pengadaan tower Base Transceiver Station (BTS) Ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dikarenakan mencium adanya indikasi korupsi maupun kolusi pada pelaksanaan proyek tersebut, demikian disampaikan Abizar Rojul (20) juru bicara dalam Koalisi Gerakan Jihad Berantas Korupsi ( KG-JBK) kepada awak media, Kamis, 27 Oktober 2022 di Jakarta.

    “ Ya, memang perjuangan untuk membongkar kasus korupsi di negeri ini, tidaklah mudah, seperti lingkaran setan, tapi alhamdulilah kami sebagai generasi milineal di negeri ini, tetap Istiqomah di jalan Allah SWT berjuang berjihad bongkar berbagai kasus dugaan korupsi, utamanya pada proyek pengadaan dan pembangunan tower Base Transceiver Station (BTS) oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo)”ungkap Abizar Rojul (20).

    Baca juga: Gereja Katolik Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Berkomitmen Menjaga Komunikasi

    Menurut Abizar Rojul (20), dirinya mencium adanya dugaan penyalahgunaan wewenang atau adanya dugaan Korupsi Kebijakan oleh Menkominfo Jhonny G Plate melalui pemberian lisensi atau rekomendasi kepada perusahaan bernama Fiberhome ternyata belum berpengalaman membangun BTS sehingga proyek mangkrak di Kalbar adalah bukti dari Fiberhome belum berpengalaman dalam pembangunan proyek BTS, sehingga berakibat sangat menguntungkan pihak perusahaan tersebut, namun sangat merugikan negara, yang mengakibatkan munculnya situasi darurat kebutuhan teknologi informasi internet bagi masyarakat, terutama yang berada di pedesaan maupun daerah pedalaman, mereka terutama anak-anak sekolah Yang dimasa pandemic covid-19, harus menjalani proses belajar mengajar melalui during, akibat pelaksanaan proyek yang amburadul tersebut, sehingga tidak bisa terlayani kebutuhannya terhadap jaringan internet, selain itu diduga indikasi tindak pidana Korupsi dalam proyek tersebut, berlangsung Terstruktur Sistematis dan Massif, diduga perilaku koruptif tersebut terjadi dari mulai perencanaan, pengganggaran, (mungkin saja terjadi mark-up )proses tender pelaksana proyek tidak transparan sampai dengan pelaksanaan di lapangan.

    “Karena itu kasus ini tidak bisa didiamkan dan hanya di periksa oleh pihak Kejaksaan Agung saja, tapi KPK pun harus turut membongkarnya bahkan seluruh aparat hukum di negeri ini harus membongkarnya, memeriksa dan menghukum para pihak yang terlibat dalam proyek ini, terutama Menkominfo yang juga diduga melakukan Korupsi Kebijakan ”tukas Abizar Rojul (20).

    Baca juga: Agung Praptono Jadi Ketua DPD PUTRI Jakarta

    Senada dengan pendapat Abizar Rojul, Dawud Fahim coordinator Gerakan Pemuda Muslim Anti Rasuah yang juga tergabung dalam Koalisi Gerakan Jihad Berantas Korupsi ( KG-JBK), kepada wartawan, ia mengatakan berkaitan dengan permasalahan hukum pada proyek pengadaan tower BTS, maka dirinya menyampaikan pengaduan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi RI, agar sesuai kewenangan yang dimiliki oleh KPK untuk melakukan audit investigasi baik terhadap adanya dugaan pelanggaran hukum yang disinyalir juga adanya tindak pidana korupsi dalam perencanaan, penganggaran serta pelaksanaan proyek pengadaan tower Base Transceiver Station (BTS) oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo), maupun terhadap adanya dugaan Korupsi Kebijakan oleh Menkominfo Jhonny G Plate yang menguntungkan pihak perusahaan bernama Fiberhome, melainkan juga merugikan negara.

    “Ya, kami sangat berharap dan bahkan mendesak agar KPK melakukan Audit Investigasi terhadap dugaan permasalahan hukum pada proyek pengadaan tower BTS, dan juga segera memeriksa Menkominfo, ya, kalau KPK pun mendiamkan kasus ini, kami khawatir rakyat akan menilai bahwa pemberantasan Korupsi di negeri ini, hanya basa-basi, ”pungkas Dawud Fahim.

    Imam harus dekat dengan umat, Begitu Pesan Paus Fransiskus

    Paus Fransiskus mendengarkan pertanyaan dari seorang seminaris selama pertemuan dengan para seminaris dan imam yang belajar di Roma (Vatican Media)

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Dalam percakapan dengan para seminaris dan imam yang belajar di Roma, Paus Fransiskus membahas banyak topik: dari gaya imam yang penuh kasih, dipanggil untuk dekat dengan orang-orang, hingga bimbingan rohani.

    Dialog panjang berlangsung pada hari Senin di Aula Paulus VI antara Paus Fransiskus dengan para seminaris dan imam yang belajar di Roma. Sepanjang pertemuan, Paus ditanyai sepuluh pertanyaan.

    Menjadi Imam yang baik

    Menanggapi pertanyaan tentang konkretitas belas kasihan, Paus menyatakan bahwa perlu mempelajari bahasa isyarat yang mengungkapkan kedekatan dan kelembutan. Ini juga berlaku saat memberikan homili, katanya. “Biarkan ekspresi menjadi lengkap”.

    Paus Fransiskus berbicara tentang tiga bahasa yang mengungkapkan “kedewasaan seseorang: bahasa kepala, bahasa hati, dan bahasa tangan” dan mendesak mereka untuk belajar mengekspresikan diri dalam tiga bahasa ini, “bahwa saya pikirkan apa yang saya rasakan dan lakukan, rasakan apa yang saya pikirkan dan lakukan, lakukan apa yang saya rasakan dan pikirkan”.

    Harus berhubungan dengan umat Tuhan

    Kepada mereka yang bertanya kepadanya bagaimana menjalani imamat tanpa kehilangan “bau domba” yang harus sesuai dengan pelayanan imamat, Paus Fransiskus menjawab bahwa bahkan jika seseorang terlibat dalam studi atau dalam pekerjaan Kuria “penting untuk mempertahankan kontak dengan umat, dengan umat Allah yang setia, karena ada urapan umat Allah: mereka adalah domba-domba.

    Dengan kehilangan bau domba, dengan menjauhkan diri dari mereka, Anda bisa menjadi ahli teori, teolog yang baik, filsuf yang baik, pejabat kurial yang sangat baik yang melakukan semua hal” tetapi Anda akan kehilangan “kemampuan untuk mencium bau domba”. domba”. Paus kemudian mengulangi apa yang disebutnya prinsip empat “kedekatan” para imam: kedekatan dengan Tuhan melalui doa, kedekatan dengan uskup, kedekatan dengan para imam lain, dan kedekatan dengan umat Tuhan: “Jika tidak ada kedekatan dengan umat Allah, Anda bukan imam yang baik.”

    Imamat bukanlah komoditas

    Paus kemudian berbicara tentang para imam yang menjalankan imamat seolah-olah itu adalah pekerjaan, dengan jam kerja yang ditentukan; pendeta resmi, yang mencari ketenangan.

    “Imamat adalah pelayanan suci kepada Tuhan”, jelas Paus, “pelayanan yang Ekaristi adalah tingkat tertingginya, itu adalah pelayanan kepada masyarakat”. Dia kemudian membahas topik “pendaki pendakian”, mereka yang bertujuan untuk berkarier untuk diri mereka sendiri, mengundang mereka untuk berhenti: “Pendaki, pada akhirnya, adalah pengkhianat, dia bukan pelayan. Dia mencari miliknya sendiri dan kemudian tidak berbuat apa-apa untuk orang lain”.

    Iringan rohani

    Dalam dialog luas yang dikembangkan di Aula Paulus VI, Paus Fransiskus juga menekankan pentingnya bimbingan rohani – namun, ia mencatat bahwa ia lebih suka istilah “pendampingan rohani” – yang tidak wajib tetapi membantu dalam perjalanan hidup, dan yang baik untuk mempercayakan kepada orang lain selain pengakuannya.

    Baca juga: Misi rahasia Gereja: Diplomasi Vatikan

    Paus menekankan bahwa yang penting adalah bahwa ini adalah dua peran yang terpisah. “Anda pergi ke bapa pengakuan sehingga dia dapat mengampuni dosa-dosa Anda. Anda pergi ke pembimbing spiritual untuk memberitahunya hal-hal yang terjadi di dalam hati Anda, emosi spiritual, kegembiraan, kemarahan, dan apa yang terjadi di dalam hati Anda. Anda”. Penting untuk didampingi, untuk menyadari bahwa Anda perlu didampingi, untuk “mengklarifikasi hal-hal”, untuk mengenali bahwa Anda membutuhkan seseorang untuk membantu Anda memahami emosi spiritual Anda, kata Paus.

    Tidak setiap pertanyaan memiliki jawaban

    Mengambil petunjuk dari sebuah pertanyaan tentang dialog antara sains dan iman, Paus pertama-tama mengundang para imam untuk terbuka terhadap pertanyaan para sarjana dan kecemasan orang-orang dan mahasiswa, untuk mendengarkan, dan untuk selalu menjaga sikap positif, terbuka, dan sikap rendah hati.

    “Menjadi rendah hati, memiliki iman tidak berarti memiliki jawaban atas segalanya”, kata Paus. percaya pada Yesus Kristus ada di jalan”, jelasnya. Paus juga merekomendasikan agar selalu menjaga dialog terbuka dengan sains, bahkan jika seseorang tidak memiliki jawaban, dan jika ada, mengarahkan orang yang belum dapat dijawabnya kepada mereka yang dapat memberikan klarifikasi lebih lanjut. Dialog mengatakan “Saya tidak bisa menjelaskan ini kepada Anda, tetapi Anda harus pergi ke para ilmuwan ini, kepada orang-orang ini yang mungkin akan membantu Anda”, kata Paus.

    Jatuh dan bangkit kembali

    Menanggapi pertanyaan lain, Paus menggambarkan hidup sebagai “ketidakseimbangan yang berkelanjutan”, karena itu berarti berjalan di antara banyak kesulitan, jatuh, dan bangun.

    Dia mendorong pendengarnya untuk tidak takut akan hal itu dan untuk membedakan, sebaliknya, dalam ketidakseimbangan sehari-hari, karena “dalam ketidakseimbangan, ada gerakan Tuhan yang mengundang Anda untuk sesuatu, keinginan untuk berbuat baik”. “Mengetahui bagaimana hidup dalam ketidakseimbangan” mengarah pada “keseimbangan yang berbeda”, “keseimbangan dinamis” yang diatur oleh Tuhan.

    Kerawanan Internet

    Selama pertemuan dengan para imam dan seminaris, Paus juga berbicara tentang hubungannya dengan teknologi dan ketidaknyamanannya dengan alat digital modern. Dia menceritakan bagaimana, sebagai hadiah, dia menerima telepon seluler segera setelah dia ditahbiskan menjadi uskup di Argentina, menggunakannya untuk satu panggilan telepon kepada saudara perempuannya, dan segera mengembalikannya.

    Baca juga: Alam pun Berbicara

    “Ini bukan dunia saya, tetapi Anda harus menggunakannya”, katanya kepada mereka yang hadir, meskipun dengan hati-hati. Paus Fransiskus menekankan bahaya internet, seperti pornografi digital, yang menghadirkan godaan bagi banyak orang, termasuk agama. “Itu melemahkan jiwa. Itu melemahkan jiwa. Iblis masuk dari sana: melemahkan hati imam”, dia memperingatkan.

    Korban dalam menghadapi perang

    Menanggapi seorang imam Ukraina, Paus mengatakan bahwa Gereja, seperti seorang ibu, menderita dalam menghadapi perang “karena perang adalah kehancuran anak-anak”. Gereja, lanjut Paus, “harus menderita, menangis, berdoa. Gereja harus membantu orang-orang yang memiliki akibat buruk, yang kehilangan rumah mereka, atau luka perang, kematian … Gereja adalah seorang ibu, dan peran pertama-tama adalah adalah kedekatan dengan orang-orang yang menderita”.

    Kemudian, berbicara langsung kepada imam muda yang menanyakan pertanyaan itu kepadanya, Paus mengakhiri dengan mengatakan, “Kalian sangat menderita, umat kalian, saya tahu, saya dekat. Tetapi berdoalah untuk para penyerang, karena mereka lebih banyak menjadi korban seperti Anda tidak dapat melihat luka di jiwa mereka, tetapi berdoalah, berdoalah agar Tuhan mempertobatkan mereka dan kedamaian akan datang”.

    Dirilis pada 26 Oktober 2022, 12:48 Waktu Vatikan/staf Berita Vatikan.

    Gereja Katolik Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Berkomitmen Menjaga Komunikasi

    MajalahDUTA.Com, Berita- PRESS RELEASE, No. Humas KAJ 013 2110 2022, Gereja Katolik Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) berkomitmen untuk menjaga komunikasi dan membangun kebersamaan dalam membangun bangsa dengan seluruh komponen dari berbagai latar belakang. Pada tanggal 28 September 2022.

    Kardinal Ignatius Suharyo (Uskup KAJ) menerima kunjungan Gubernur DKI Jakarta Bapak Anies Baswedan di Gereja Katedral.

    Dalam kunjungan ini Gubernur Anies Baswedan menyampaikan pamitan bahwa masa tugasnya akan berakhir sebagai Gubernur DKI dan ucapan terima kasih atas kontribusi umat katolik dalam kerjasama banyak pihak bagi kebaikan bersama.

    Sebagai pemimpin umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta dan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, Kardinal Ignatius Suharyo sering menerima tamu dan beraudiensi dengan banyak tokoh dari berbagai latar belakang.

    Baca juga: Dari Emrio Hingga Regio, Sejarah OFS Kalimantan Santa Elisabet dari Hungaria

    Dan selaras dengan prinsip bahwa Gereja Katolik tidak berpolitik praktis, maka dalam pertemuan dan kegiatan tersebut tidak pernah membahas persoalan politik praktis, termasuk dalam pertemuan dengan Bapak Anies Baswedan.

    Terkait beredarnya potongan Video yang berjudul :

    “Uskup Katolik Se Jabodetabek Deklarasi Dukung Anies Presiden”, kami tegaskan bahwa hal tersebut tidak benar.

    Gereja Katolik Indonesia tetap menjaga netralitas dan mendorong proses politik dapat dijalankan dengan menjunjung prinsip dan etika yang diabdikan bagi bonum commune (kebaikan bersama).

    Demikian disampaikan sebagai klarifikasi untuk menghindari kesimpangsiuran informasi akibat beredarnya video tersebut.

    Semoga dapat dimaklumi dan kami mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga kondusivitas kehidupan publik. Di Jakarta, 21 Oktober 2022. Tertanda Rm. V. Adi Prasojo, Pr, Sekjen Keuskupan Agung Jakarta.

    Dari Emrio Hingga Regio, Sejarah OFS Kalimantan Santa Elisabet dari Hungaria

    Arsip OFS Regio Kalimantan Santa Elisabet dari Hungaria

    MajalahDUTA.Com, Sejarah- Sejarah merupakan bukti dari keberlangsungan hidup yang dialami hari ini, setidaknya belajar dari sejarah adalah salah satu bentuk reflektif paling ampuh untuk bertindak lebih baik dalam menatap masa depan yang baik. Dalam artikel ini saya akan menceritakan paling tidak data rentetan potret rekaman jejak Ordo Fransiskan Sekuler di Pontianak.

    Embrio OFS muncul di Pontianak karena perhatian dan gagasan seorang imam Kapusin yaitu Pastor Bart Yanssen OFMCap (Almarhum, missionaris Kapusin Belanda) sebagai pengikut Bapa Serafik Santo Fransiskus Assisi.

    Sebagaimana yang ditulis oleh Santo Bonaventura dalam menggambarkan Bapa Santo Fransiskus Assisi, “Hatinya luluh ketika melihat orang miskin dan lemah tak berdaya. Kepada mereka, yang tidak dapat ia berikan sesuatu, ia menunjukkan sikap belarasanya kepada mereka.”

    Santo Fransiskus mendikan (ordo perminta) memang tak punya ‘harta’ duniawi selayaknya untuk dibagi-bagi. Tetapi ia memiliki harta yang melimpah ruah dengan belarasa dan teladan hidupnya. “Kefransiskanan semesta tidak pernah akan mati… segala sesuatu membangun simfoni yang merdu. Allah adalah sang konduktor agung,” demikian kata Leonardo Boff dalam Ratapan Bumi, Jeritan Orang Miskin.

    Ordo Fransiskan Sekular atau Ordo Awam Fransiskan dan biasa juga disebut Ordo Fransiskan Ketiga (bahasa Latin: Ordo Franciscanus Saecularis, singkatan pos-nominal O.F.S.; juga disebut Ordo Sekuler Ketiga).

    Baca juga: Menukil Kembali Sejarah Ordo Fransiskan Sekuler (Ordo Awam Fransiskan)

    OFS adalah sebuah asosiasi kaum awam yang saleh didirikan pada tahun 1222 di kota Bologna, Italia oleh Santo Fransiskus dari Assisi. Ordo ini dibuat atas permintaan orang-orang yang telah menikah, yang ingin hidup seperti biarawan Fransiskan tanpa memasuki suatu ordo keagamaan.

    Dalam perjalanan sejarah, banyak kelompok dari Ordo Fransiskan Ketiga telah menjadi institut Vita consacrata. Asosiasi awam fidelis ini mengikuti Konsili Vatikan II dengan menggunakan nama Ordo Fransiskan Sekuler.

    Bermula 17 Maret 1993 digagas Pastor Bart Yanssen OFMCap

    Persaudaraan Ordo Fransiskan Sekuler (OFS) Kalimantan Barat khususnya Pontianak dimulai tanggal 17 Maret 1993 oleh Pastor Bart Yanssen OFMCap yang pada saat itu menjabat sebagai propinsial Kapusin kalimanatan. Catatan ini diambil berdasarkan Buku SEJARAH PERJALANAN ORDO FRANSISKAN SEKULAR INDONESIA- 1983-2007 yang disalin oleh Saudari Emerinciana Randang OFS persaudaraan Santo Conradus Pontianak.

    Bersama dengan Pastor Benetius OFMCap selaku Sekertaris Jendral OFS Internasional yang berkedududkan di Roma.

    Pada saat itu terdaftar 75 orang yang ingin mengenal riwayat hidup dan seamangat Bapa serafik Santo Fransiskus Assisi. Dibimbing oleh Pastor Johan OFMCap , Pastor Surip OFMCap dan Br. Anton Sawin OFMCap. Namun dalam perjalanannya tinggal 3 orang.

    Karena dianggap masih kurang peminat,maka dalam kunjungan Sekretaris Jendral OFS Internasional Pastor Benetius OFMCap, atas Prakarsa Saudara Yohanes Toteng OFS dan Bruder Anton Sawin OFMCap kemudian mengundang melalui Pastor paroki serta umat yang bersimpati pada tanggal 17 Maret 1995.

    Maka terdaftarlah anggota baru sejumlah 45 orang diantaranya 10 orang dari Paroki Ngabang.

    Untuk pembinaan lebih lanjutdiadakan pembicaraan dengan Pastor Samuel Sidin OFMCap selaku Propinsial Kapusin Kalimantan. Dari itu ditunjuklah saat itu Pastor Sekundus OFMCap selaklu Pendamping Rohani Persaudaraan Ordo Fransiskan Sekuler (OFS) Santo Condradus Pontianak, dengan susunan kepengurusan sementara sebagai berikut:

    ⦁ Minister: Sdr. Yohanes Tonteng OFS
    ⦁ Wakil Minister: Sdr. Gerald Hasibuan OFS
    ⦁ Sekretaris: Sdr. Ignatius Sutowijayadi OFS
    ⦁ Bendahara: Sdr. Gaspar Desso Esso OFS
    ⦁ Anggota: Sdr. F.A.M. Gunawan.H. OFS

    Pasang dan surut dampak kerusuhan 1997

    Berjalannya waktu persis pada 13 Januari 1997, Bruder Anton Sawin OFMCap dan Saudara Yohanes Tonteng OFS selama dua minggu mengikuti pelatihan bersama para frater dan saudara-saudara Regio Sumatra di Nangahuta, Pematang Siantar yang diberikan oleh Pastor Benetius OFMCap selaku Sekjen OFM Internasional.

    Perjalanan selanjutnya, persaudaraan mengalami pasang surut akibat dari kerusuhan tanhun 1997, dimana para saudara saudari dari paroki Ngabang tidak bisa melanjutkan keikutsertaannya.

    Kemudian baru awal tahun 2002 kembali dimulai dengan membentuk persaudaraan OFS di paroki Ngabang denagan koordinator Saudara P.K.Kamisin Bs untuk mencatat penunjukan dari Pastor Propinsial Kapusin Kalimantan.

    Saat itu diproses sementara, dan kemudian Pastor Paroki Ngabang untuk mendampingi para saudara OFS disana.

    Selanjutnya Saudara M.P.Panjaitan OFS, Saudara F.Kauheng OFS dan Saudara Jemat OFS dikirim untuk mengikuti kursus ke-Fransiskan-an. Kegiatan tersebut bersamaan dengan para pastor, bruder dan suster di Laverna Sanggau Kapuas selama seminggu.

    Persetujuan Uskup Agung Pontianak (Emeritus Mgr. Hieronymus Bumbun OFMCap)

    Kemudian pada 7 – 10 Februari 2000, Saudara Y. Tonteng OFS , Saudara M.P.Panjaitan OFS, Saudara Kauheng OFS, Saudara Sutowijayadi OFS dan Saudari E.M.Suyati OFS mengikuti kapitel nasional OFS di Muntilan Jawa Tengah.

    Sebelum itu, pada bulan Maret 1998 diadakan panggilan kembali dan terdaftar 35 orang anggota baru.

    Tanggal 10 – 13 Agustus 1999 oleh Dewan Nasional Saudara F.X.Subroto OFS dan Saudari V.Sudiyanti OFS, dengan persetujuan Uskup Agung Pontianak yang kala itu Emeritus Mgr.Hieronymus Bumbun OFMCap.

    Dari sanalah secara resmi berdiri Persaudaraan Kondradus Pontianak dengan pendamping rohani Pastor Secundus OFMCap dan Pastor Bonifasius OFMCap dengan 21 anggota yang terdiri: 7 orang Profesi Kaul Kekal, 7 orang Profesi Sementara, 3 orang Novis dan 4 orang Postulant.

    Periode 2001-2004

    Sampai saat itu pembinaan masih berlanjut diselenggarakan di aula Paroki Gembala Baik, di bawah bimbingan Pendamping rohani Pastor Secundus OFMCap dan Pastor Bonifasius OFMCap termasuk pastor tamu lain sebagai narasumber untuk tema tertentu.

    Agar semua kegiatan terkoordinir dengan baik, maka dipilih Dewan Regio Kalimantan Periode Desember 2001-2004 dan terpilih :

    ⦁ Pendamping Rohani: Pastor Innocentius OFMCap
    ⦁ Minister: Saudara Y.Tonteng OFS
    ⦁ Wakil Minister: Saudara M.P. Panjaitan OFS
    ⦁ Sekretaris: Saudara Gaspar Desso Isso OFS
    ⦁ Bendahara: Saudara F.Kauheng OFS

    Agenda Pertemuan

    Semua anggota OFS, setiap minggu pertama dalam bulan mengadakan pertemuan di Biara Kapusin Santo Lorenzo bersama Pendamping Rohani, untuk tukar informasi, doa atau ibadat siang dan makan bersama.

    Agenda berikutnya yakni setiap minggu ketiga dalam bulan, rutin diadakan pertemuan secara bergilir dirumah anggota, untuk lebih memperkenalkkan OFS kepada keluarga dan masyarakat sekitar.

    Baca juga: Unik, Cara Hidup dan Pandangan Filosofis Teladan Fransiskan: Berbagi dalam Temu OFS Regio Kalimantan (Pontianak)

    Selanjutnya bersama dengan para pastor, bruder dan suster dalam perayaan perayaan tertentu menghadiri tahbisan Diakon atau Imam, retret, kunjungan kerumah sakit terutama jika ada anggota atau keluarga anggota yang sakit.

    Ada juga kunjungan ke panti jompo, kunjungan ke suster Slot di Singkawang dan Sarikan di Toho dan pertemuan hingga retret di Biara, bahkan pernah mengadakan pertemuan di perkebunan Kapusin Sanggau Ledo, Bengkayang.

    Kegiatan perorangan umumnya dilakukan dalam kunjungan ke panti jompo, katekumen dan kegiatan di paroki masing-masing. Dengan itu kehadiran saudara-saudari dalam setiap kali pertemuan (minggu pertama dan ketiga) fluktuatif sekitar 15 – 16 orang. Ketidakhadiran lebih disebabkan tugas keluar kota atau keluar daerah.

    Mandiri Secara Finansial

    Sedari awal dibentuknya persaudaraan Santo Condradus hingga saat ini, biaya kegiatan masih tergantung pada iuran wajib dan sukarela setiap bulan para anggota.

    Untuk skala besar misalnya untuk menghadiri Kapitel Nasional memohon sumbangandari Yayasan Katolik, rumah sakit Katolik dan perorangan dari umat, atau sama-sama mencari dana namun tidak mengikat.

    Baca juga: Persaudaraan Kontradus OFS Pontianak: Fransiskan Ada Jalan Hidup

    Untuk yang akan datang, diharapkan terus mengupayakan peluang-peluang usaha yang dapat memberikan penghasilan sehingga OFS dapat mandiri dalam bidang keuangan.

    Pembinaan yang berkelanjutan

    Pada awalnya semua saudara-saudari pendahulu Ordo Fransiskan Sekuler di Pontianak terbantu oleh para Pastor Kapusin, bruder MTB dan suster SFIC. Namun tenaga-tenaga itu menyusut karena para Pastor terpakai untuk paroki-paroki, sekolah dan STT, dsb.

    Kemudian sejak 1997 sampai sekarang OFS telah mengalami 3 kali pergantian Pendamping rohani,yaitu: Pastor Bonifasius OFMCap (meninggal dunia), Pastor Secundus OFMCap (meninggal dunia), Pastor Innocentius Sialim OFM Cap (pindah tugas), Pastor Erwin OFM Cap (pindah tugas), Pastor Yosef Astono Aji OFMCap (pindah tugas) dan sekarang Pastor Ferdinand OFM Cap.

    Emrio pertama dimulai dari OFS Persaudaraan Conradus Pontianak hingga berkembanglah yang kini menjadi Regio Kalimantan Santa Elisabet dari Hungaria.

    Di dalam Regio Kalimantan saat ini ada OFS Persaudaraan Lokal Santo Conradus Pontianak, OFS Persaudaraan Lokal Santo Ludovikus IX Pontianak, OFS Persaudaraan Lokal Santo Padre Pio Pontianak dan OFS Embrio Persaudaraan Lokal Santo Conradus Singkawang yang kini sudah resmi menjadi persaudaraan sendiri dengan nama OFS Persaudaraan Santa Anggela Merici.

    Menukil Kembali Sejarah Ordo Fransiskan Sekuler (Ordo Awam Fransiskan)

    Potret Ordo Fransiskan Sekuler Persaudaraan Kalimantan (Pontianak)- Dokumen OFS Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Sejarah- Ordo Fransiskan Sekular atau Ordo Awam Fransiskan dan biasa juga disebut Ordo Fransiskan Ketiga (bahasa Latin: Ordo Franciscanus Saecularis, singkatan pos-nominal O.F.S.; juga disebut Ordo Sekuler Ketiga).

    OFS merupakan sebuah asosiasi kaum awam yang saleh didirikan pada tahun 1222 di kota Bologna, Italia oleh Santo Fransiskus dari Assisi. Ordo ini dibuat atas permintaan orang-orang yang telah menikah, yang ingin hidup seperti biarawan Fransiskan tanpa memasuki suatu ordo keagamaan.

    Dalam perjalanan sejarah, banyak kelompok dari Ordo Fransiskan Ketiga telah menjadi institut Vita consacrata.

    Asosiasi awam fidelis ini mengikuti Konsili Vatikan II dengan menggunakan nama Ordo Fransiskan Sekuler.

    Siapa-kah OFS?

    Secara singkat bahwa Ordo Fransiskan Sekular (Ordo Franciscanus Saecularis) dijelaskan sebagai Ordo bagi para awam atau sekuler yang menghidupi Injil di dunia ini seturut teladan Santo Fransiskus (tahun 1221).

    Kemudian Ordo awam ini memiliki ADRT yang disahkan oleh Tahta Suci (Kepausan) di Roma (1289-1978) dan memiliki anggota kurang lebih 1.400 orang di seluruh Indonesia (data tahun 2018).

    Baca juga: Unik, Cara Hidup dan Pandangan Filosofis Teladan Fransiskan: Berbagi dalam Temu OFS Regio Kalimantan (Pontianak)

    Uniknya, ordo ini bersifat internasional, nasional, regio dan lokal kemudian ordo yang otonom (berdiri sendiri) dalam hierarki gereja Katolik, bukan kategorial gereja seperti Legio Mariae, KTM, WKRI dll. Tetapi anggota OFS boleh menjadi anggota kategorial gereja.

    Pendiri OFS merupakan Santo Fransiskus dari Assisi sendiri dengan penghayatan hidup dalam pertobatan terus menerus sesuai dengan karya dan profesinya.

    Siapa yang boleh menjadi anggota OFS?

    Pria atau Wanita dewasa yang berusia 17 tahun ke atas. Dibabtis secara Katolik, berprofesi sebagai apapun (guru, dosen, mahasiswa, petani, usahawan/wirausaha, dokter dan lain sebagainya).

    Kemudian bersedia mentaati aturan dan cara hidup OFS berdasarkan ADRT dan bersedia mengikuti pendidikan berdasarkan jenjang (Aspiran, Postulan, Novis dan Berkaul Kekal) dan Imam Projo.

    OFS saat ini

    Ordo Fransiskan Sekuler Internasional di Vatikan, Roma — tersebar di hampir setiap negara. OFS Nasional di Jakarta, Indonesia (9 Regio) dan OFS Regio Kalimantan Sta. Elisabeth dari Hungaria.

    Regio Kalimantan Santa Elisabeth dari Hungaria terdiri dari OFS Persaudaraan Lokal Santo Conradus Pontianak, OFS Persaudaraan Lokal Santo Ludovikus IX Pontianak, OFS Persaudaraan Lokal Santo Padre Pio Pontianak dan OFS Embrio Persaudaraan Lokal Santo Conradus Singkawang yang kini sudah resmi menjadi persaudaraan sendiri dengan nama OFS Persaudaraan Santa Anggela Merici.

    Penjenjangan OFS

    Ordo Fransikan Sekuler sama dengan Ordo biarawan-biarawati lainnya, yakni memiliki tahapan-tahapan sebelum menerima profesi kaul kekal. Mulai dari Aspiran biasanya Jenjang perkenalan atau masa tinjau selama 6 bulan.

    Baca juga: Persaudaraan Kontradus OFS Pontianak: Fransiskan Ada Jalan Hidup

    Kemudian Postulan merupakan biasanya selama 1 tahun, disana calon OFS akan masuk masa pembinaan. Setelah itu lanjut pada jenjang Novis umumnya ditempuh selama 2 tahun. Masa novis merupakan masa Pendidikan dan Penguatan. Kemudian jika sudah siap, anggota OFS akan masuk jenjang Berkaul Kekal (Profesi Kekal).

    Keistimewaan OFS

    Jika telah menjadi anggota OFS (berkaul kekal), maka nama saudara-saudari tercatat di Sekretariat Jendral OFS di Vatikan, Roma.

    Ketika anggota OFS meninggal dunia, tidak hanya persaudaraan lokal yang mendoakan keselamatannya, tetapi seluruh anggota OFS yang di seluruh dunia. Pace e Bene, Semoga!!!.

    TERBARU

    TERPOPULER