Friday, April 24, 2026
More
    Home Blog Page 96

    Kardinal Suharyo: Pelayanan Kasih dan Semangat Cinta Tanah Air

    Foto Bersama Usai Perayaan Ekaristi TNI POLRI di Gereja Katedral Pontianak

    MajalahDUTA.Com- Pontianak, Kunjungan Uskup TNI/ Polri Kardinal Ignatius Suharyo menegaskan tentang Sejarah antara Gereja dan Negara Republik Indonesia tak pernah terpisahkan. Bersama rombongannya, VIKJEN TNI-POLRI Romo Kolonel Sus Yoseph Maria Marcelinus Bintoro, Tim Dewan Pastoral Romo Yohanes Radityo Wisnu Wicaksono, Ketua Tim Dewan Pastoran Keuskupan TNI-POLRI Brigjen TNI Pontius Gunung Sarasmoro, Ketua Tim Dewan Antar Lembaga Kombes Pol Fx. Surya Kumara, Bendahara Keuskupan TNI-POLRI Letkol Laut (S) B.Yules Verne,S.E.,M.Tr.A.P.,CHRMP dan Sekretaris Keuskupan TNI-Polri Kapten Caj Ardedi.

    Kunjungan kedatangan hari Selasa 14 Maret 2023 disambut oleh Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus bersama rombongan tim panitia penyambutan dari Pontianak. Sebagai Uskup Agung Pontianak Uskup Agustinus tidak hanya mendampingi Kardinal dalam Perayaan misa melainkan mendampingi Kardinal Suharyo dalam kunjungan ke KODAM XII Tanjung Pura dan KAPOLDA Kalimantan Barat.

    Sambutan hangat dari KODAM XII Tanjung Pura yang disambut oleh perwakilan dari Pangdam yakni Brigjen TNI Kus Arisena.

    Dalam kunjungan itu, Kardinal Suharyo didampingi Uskup Agustinus menyampaikan salam dan sekaligus bersilahturahmi dengan Pangdam dalam kunjungan kali ini. Kardinal menjelaskan beberapa tahun lalu persisnya 2018 pernah juga diadakan acara yang serupa yaitu perayaan misa ekaristi untuk lingkungan TNI Polri di aula KODAM XII Tanjungpura.

    Kunjungan pertama itu kemudian dilanjutkan dengan santap siang bersama di Keuskupan Agung Pontianak persis di aula Pasifikus (belakang Gereja Santo Joseph Katedral Pontianak). Hingga pukul setengah dua dan kemudian selanjutnya menuju ke KAPOLDA Kalimantan Barat bersilahturahmi bersama Irjen Pol Suryanbodo Asmoro pada siang hari persis pukul 14.00 wib hingga selesai.

    Usai itu, barulah tepat pada pukul 17.30 WIB perayaan ekaristi itu dilaksanakan bersama Uskup TNI Polri Kardinal Ignasius Suharyo didampingi Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus bersama 12 imam yang mendampingi.

    Teladan pengampunan dari Yesus

    Dalam awal homilinya, Kardinal Suharyo mengucapkan terima kasih kepada seluruh imam yang ikut konselebran dan umat sipil yang turut serta memeriahkan perayaan ekaristi pada malam itu (14 Maret 2023).

    “Kehadiran Para Pastor dan umat sekalian pasti membesarkan hati dan menguatkan umat katolik dalam lingkungan TNI dan POLRI dan keluarga dan bagi umat semua,’ ujar Kardinal Suharyo.

    Dalam renungannya Kardinal menegaskan tentang dahsyatnya kasih Yesus yang sempurna. Kardinal Suharyo juga berharap agar setiap insan dapat meneladani sikap pengampunan yang diajarkan oleh Yesus sendiri kepada pengikutNya.

    “Sementara kasih manusia, tidak ada yang sempurna dan kita, dengan cara hidup apapun dan profesi apapun, mempunyai panggilan yang sama yaitu bertumbuh menuju kesempurnaan kasih. Itulah yang diajarkan gereja yang secara resmi. ‘Siapapun kita dengan cara apapun yang kita tempuh dan apapun status kita tujuan kita sama yaitu bertumbuh menuju kesempurnaan kasih,” tutur Kardinal Suharyo.

    Bersukacitalah dan Bergembiralah

    Manusia memiliki keterbatasan, kasihnya juga terbatas tetap saja mempunyai panggilan menuju kesempurnaan. Itulah yang juga diajarkan oleh Bapa Paus Fransiskus di dalam anjuran apostolik yang berjudul “Bersukacitalah dan Bergembiralah Panggilan Menuju Kesucitan pada Zaman Moderen Sekarang”,” lanjut Kardinal.

    Dalam homilinya Kardinal Suharyo mengutip sebuah cerita yang dicontohkan Paus Fransiskus tentang kesempurnaan kasih. Demikian ceritanya.

    Paus menjelaskan jangan berpikir terlalu tinggi untuk maknai dan memahami panggilan itu. Dia memberikan contoh yang sangat sederhana yaitu Seorang Ibu.

    Seorang Ibu pergi kepasar dan bertemu dengan sahabatnya di pasar, pada satu titik mereka mulai pada kondisi menggosip (menggosip adalah bicara jelek tentang orang lain). Lalu ibu itu katakan tidak, saya tidak mau bicara demikian tentang orang yang dibicarakan.

    Paus katakan satu langkah lebih maju untuk menuju kesempurnaan.

    Kemudian seorang ibu yang sudah lelah, mau mendengarkan anaknya yang sedang memiliki masalah dan mau curhat dengan ibu. Ibunya mendengarkannya. Paus mengatakan satu langkah lagi lebih maju untuk menuju kesempurnaan.

    Selanjutnya ibu itu dikala merasa gelisah dan memiliki beban hidup yang tak ia mengerti, ia mengambil Rosario dan berdoa mohon doa suci dari Bunda Maria, kemudian Paus katakan satu langkah lebih maju untuk menuju kesempurnaan.

    Contoh terakhir yang disampaikan oleh Paus Fransiskus, ketika ibu itu keluar rumah kemudian ia bertemu seorang pengemis dijalan, dan ia menyapanya dengan kalimat yang memberkati, Paus katakan satu langkah lebih maju untuk menuju kesempuraan kasih.

    Kardinal Suharyo mengatakan dalam homilinya dalam kehidupan sehari-hari ada banyak kesempatan manusia untuk menuju kasih yang lebih sempurna.

    Uskup Umat Katolik di Lingkungan TNI dan Polri, Monsigneur Ignatius Kardinal Suharyo didampingi Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus memimpin Perayaan Ekaristi Umat Katolik TNI Polri (Ordinariatus Castrensis Indonesia/OCI) di Pontianak yang diikuti 78 anggota TNI AD beserta keluarga, 102 anggota Polda Kalbar beserta keluarga, 24 anggota Pangkalan TNI AU Supadio beserta keluarga, dan 2 anggota Lantamal XII Pontianak beserta keluarga, Selasa (14/3).

    Semangat Cinta Tanah Air

    Dalam sambutan Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus menyampaikan serangkaian kegiatan Kardinal Suharyo dari kedatangan, Kunjungan ke KODAM dan KAPOLDA.

    Uskup Agustinus juga mengundang Pastor Kolonel Yos Bintoro untuk memberkenalkan rombongan dari Jakarta. Uskup Agustinus juga mengenalkan Pastor Yos juga sebagai imam projo yang dari pertama masuk menjadi prajurit tentara angkatan udara.

    Dalam taklimat sebelum diakhirinya Perayaan Ekaristi, Pastor Yos Bintoro  selaku Wakil Uskup OCI mengharapkan peran serta umat Katolik TNI dan Polri menghidupi paguyuban beriman beriman dalam wadah pelayanan OCI yang ikut mendukung rawat rohani, bimbingan dan pembinaan mental rohani Katolik di lingkungan TNI dan Polri Pontianak.

    Semoga personel TNI dan Polri dapat melaksanakan tugas yang baik dengan berpedoman pada kekuatan bimbingan Tuhan, makin cinta tanah air dan semakin melaksanakan tugas pokok  fungsi dengan mengedepankan semangat belarasa dan jiwa korsa atau esprit de corps,” kata Pastor Yos Bintoro lulusan Sekolah Prajurit Perwira Karir tahun 1997 yang sekarang menyandang pangkat Kolonel Angkatan Udara.

    Pahlawan Nasional Katolik

    Kardinal Suharyo dalam sambutannya juga menyebutkan bahwa salah satu bentuk untuk memperoleh tahapan kasih menuju kesempurnaan lewat profesi yakni menghidupi rasa cinta akan tanah air dan berjuang terus untuk melanjutkan warisan iman yang telah ditorehkan oleh pahlawan nasional Katolik dari Angkatan Darat, Ignatius Slamet Riyadi;  Angkatan Laut, Yos Sudarso;  Angkatan Udara, Agustinus Adisutjipto; dan Kepolisian RI, Karel Satsuitubun.

    “Ketiga pahlawan nasional dan 1 pahlawan revolusi ini melengkapi 2 pahlawan nasional dari rohaniwan Katolik, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ dan awam Katolik, Ignatius Joseph Kasimo,” kata Kardinal Suharyo.

    Menutup sambutanya Kardinal juga mendoakan semua prajurit dan khususnya umat Katolik yang berada di lingkungan TNI POLRI untuk tetap dalam penghayatan hidup yang diemban dalam profesi mereka.  Sebab kekuatan pemberian hidup jiwa raga bagi kedaulatan akan keselamatan bangsa negara ini menjadi teladan sekaligus menjadikan umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri siap mengabdi dan berbakti untuk bangsa dan negara.

    Usai perayaan ekaristi itu kemudian dilanjutkan dengan acara ramah-tamah dan sambung rasa umat TNI Polri dengan Kardinal Suharyo serta para pendamping bersama rombongan Uskup Kardinal terdiri dari, Brigjen (Purn) Pontianus Gunung Sarasmoro (TNI AD), Kombes Pol FX Surya Kumara (Polri), Letkol Laut (S) Yules Verne (TNI AL) dan Kapten Caj Robertus Ardedi (TNI AD). Diikuti oleh sejumlah umat yang turut dalam perayaan ekaristi sore itu, acara ramah tamah diwarnai dengan kemeriahan sajian dari Tim Musik KOMSOS Keuskupan Agung Pontianak.

    Penulis: Samuel – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak
    Liputan: 14 Maret 2023

    Cara Manusia Berfilsafat

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA- Sebenarnya manusia berfilsafat dengan banyak cara. Tidak ada batas dan patokan untuk berfilsafat. Meskipun demikian ada beberapa hal yang sering menjadi ciri khas filsafat dalam mencari kebenarannya.

    Berpikir rasional dan masuk akal adalah langkah awal dalam berfilsafat. Kemudian menghasilkan permenungan yang mendalam terhadap segala yang dipikirkannya.

    Pemikiran tersebut dilengkapi dengan cara berpikir “holistik” yang sifatnya menyeluruh atau universal. Dalam arti, filsafat tidak berpikir dalam satu bidang dan ilmu tertentu, sebab jika demikian maka akan menimbulkan kecenderungan mendewakan yang satu dan menindas yang lain. Seperti yang terjadi di zaman berjayanya sains.

    Para kaum rasionalisme mengklaim bahwa realitas ini bekerja secara rasional, logis, objektif, karena itu rasio manusia mampu memahami segala hal.

    Konsekuensinya adalah segala hal yang gaib, misterius, ilahi atau irasional tidak ada, paling banter “belum diketahui”. Jadi keyakinan religius (agama) atau prinsip “credo quia impossible” (saya percaya karena tidak mungkin [percaya terhadap Allah yang tidak dapat dibuktikan secara rasional]) dianggap omong kosong.

    Filsafat mencoba mencegah cara-cara berpikir seperti ini yang menganggap bahwa yang benar hanyalah yang memiliki standar-standar yang jelas, dalam arti “clara et distincta” (jelas dan tegas).

    Cara berpikir seperti ini cenderung mereduksi arti kehidupan itu sendiri. Segala hal yang ada di dunia ini tidak dapat dipahami hanya secara rasional saja. Ada banyak hal yang tidak dapat dilihat secara rasional juga tapi nyata dan dapat dirasakan.

    Maka muncullah tokoh-tokoh filsafat yang menentang dominasi sains.

    Misalnya F Nietszche mengatakan bahwa sains adalah upaya keras untuk mendasarkan segala hal secara harafiah dan logis, tapi defakto sebenarnya tidak lebih dari metafor-metafor yang mati. Karena sains melihat persamaan dalam perbedaan.

    Sains justru memaksakan persamaan dalam hal-hal yang sungguh tidak sama. Maka baginya sains itu mandul. Lihatlah penyimpulan terhadap binatang mamalia, sebenarnya banyak hal yang tidak sama di antara binatang-binatang ini, ikan paus dengan kelinci, yang sama hanyalah sifatnya yang mamalia, tapi sesungguhnya binatang ini sangat berbeda.

    Filsafat juga menggunakan metode “hermeneutik filosofis” yaitu berfilsafat dengan cara menafsir.

    Heidegger mengatakan bahwa hidup manusia adalah menafsir, sebab tidak ada di dunia ini yang tanpa tafsiran, bahkan manusia tidak dapat hidup tanpa menafsir.

    Setiap tafsir selalu mengandung pra-pemahaman; pra-sangka, dan istilah pra- inilah yang memungkinkan penafsiran. Sebuah objek dapat menimbulkan banyak penafsiran bagi setiap orang yang memandangnya.

    Oleh karena itu segala hal itu hanyalah tafsiran yang suatu saat akan disangkal oleh tafsiran yang lain. Contoh yang jelas akhir-akhir ini adalah planet Pluto yang dieliminasi dalam lingkungan tata surya.

    Maka sains bukanlah pengetahuan murni tanpa pra-sangka. Sains hanyalah salah satu bentuk cara berpikir.

    Sebenarnya banyak hal di dunia ini yang sifatnya “Lebenswelt” artinya kesatuan dasar berpikir manusia dan realitas itu, pada dasarnya inarticulate exhaustively, tidak bisa dirumuskan secara total.

    Akhirnya dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah sebuah proses pencarian identitas mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (alam semesta). Dan ini hanya dapat diperoleh lewat permenungan dan abstraksi.

    Di mana manusia ke luar dari kesempitan berpikir dan berani berpikir secara universal atau global. Segala hal dilihat dalam perspektif mendasar.

    Apa esensi dari segalanya dan untuk apa itu ada serta mengapa dia ada dan hubungannya dengan keberadaan manusia.

    Penulis: Samuel- DUTA/KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Berbagai sumber, buku Filsafat yang diramu

    Asalan yang Mendorong Manusia selalu bersentuhan dengan Filsafat

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA– Manusia berfilsafat karena manusia ingin tahu rahasia alam semesta dan segala peristiwa yang ada di dalamnya. Why is there something rather there nothing (mengapa ada sesuatu dan bukannya ketiadaan semata).

    Mengapa ada manusia; mengapa ada kematian; penderitaan; ketidakadilan; kejahatan? Kemudian pertanyaanya berlanjut “Apa penyebab adanya segala sesuatu? Apa penyebab penderitaan dan keberadaan manusia?

    Setelah itu manusia mulai bertanya “apa arti segala sesuatu?” apa arti perang, penderitaan, hidup manusia, kedamaian, kematian dsb.

    Dalam wilayah ini manusia tidak lagi bertanya mengenai “penyebab” tapi “mengapa ada kematian” Apa tujuan hidup?

    Apa makna di balik penderitaan? Apakah penderitaan itu memanusiakan manusia atau sebaliknya?

    Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong manusia untuk berfilsafat.

    Kehausan manusia untuk mencari jawaban terhadap segala hal yang dipertanyakannya. Dalam berfilsafat manusia tidak terbatas terhadap hukum-hukum alam dan kitab suci manapun.

    Berbeda dengan ilmu-ilmu empiris yang membatasi dirinya pada bidangya masing-masing seturut hukum dan aturannya.

    Sementara filsafat selalu mencari kemungkinan-kemungkinan baru yang memungkinkan penciptaan-penciptaan baru.

    Baca Lanjutannya….

    Penulis: Samuel- DUTA/KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Berbagai sumber, buku Filsafat yang diramu

    Kapan ya kita berfilsafat?

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA- Hampir semua refrensi menyebutkan filsafat bermula dari sebuah pertanyaan. Ada beberapa hal yang merangsang manusia untuk berfilsafat diantaranya: ketakjuban.

    Saat manusia takjub terhadap peristiwa-peristiwa alam, gaib dan segala sesuatu yang memungkinkan manusia untuk kagum.

    Bagi Plato pengamatan terhadap bintang-bintang, matahari, dan lagit merangsang manusia untuk melakukan penelitian. Padangan ini semakin diperjelas oleh Aristoteles. Menurutnya karena takjub manusia mulai berfilsafat.

    Sementara Immanuel Kant ( abad 18) menyatakan bukan hanya takjub terhadap alam ini, melainkan dia juga terpukau memandang hukum moral dalam hatinya, sebagaimana tertulis di batu nisan kuburannya: coelum stellatum supra me, lex moralis intra me (bintang di langit di atasku, tapi hukum moral ada di bawahku).

    Selanjutnya masuk pada kondisi ketidakpuasan. Ketidakpuasan boleh dikategorikan bagian ke dua dari sebuah fenomena dimulainya manusia berfilsafat.

    Hal itu didasarkan saat manusia tidak puas akan jawaban dari mitos-mitos terhadap segala pertanyaanya. Oleh karenanya manusia mulai mencari jawaban yang meyakinkan dirinya dan bersifat pasti. Akhirnya lambat laun manusia mulai berpikir secara rasional.

    Akibatnya akal budi mulai berperan. Maka otomatislah filsafat melahirkan ilmu baru dari pertanyaan yang tak memuaskan itu.

    Disisi lain biasanya sebuah sistem yang mapan pun dapat dirobohkan dari pertanyaan-pertanyaan baru oleh filsafat. Karena filsafat selalu dimulai dengan hasrat bertanya.

    Hasrat bertanya membuat manusia mempertanyakan segalanya. Pertanyaan-pertanyaan yang diwujudkan itu tidak hanya sekedar terarah pada wujud sesuatu, melainkan juga terarah pada dasar dan hakikatnya.

    Inilah salah satu yang menjadi ciri khas filsafat. Mempertanyakan segala sesuatu dengan cara berpikir radikal, sampai ke akar-akarnya, tetapi juga bersifat universal.

    Setelah hal yang luar biasa, ketidakpuasan dan hasrat sudah dijawab, masih ada satu lagi poin pokok yang memacu dimulainya sebuah aktivitas berfilsafat yakni keraguan.

    Pertanyaan yang diajukan untuk memperoleh kejelasan yang pasti pada hakikatnya merupakan suatu pernyataan tentang adanya atau apriori (keraguan atau ketikdakpuasan dan kebingungan) di pihak manusia yang bertanya.

    Keraguan ini merangsang manusia untuk terus bertanya. Kemudian menggiring manusia untuk berfilsafat.

    Bersambung…

    Penulis: Samuel- DUTA/KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Diramu dari berbagai sumber (buku & Internet), diskusi

    Tokoh Awal yang Memunculkan Filsafat

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA- Orang pertama yang memunculkan filsafat adalah para filsuf alam dari Yunani. Mereka adalah Thales dari Miletos, menurutnya alam semesta ini terdiri dari: air. Anaximenes, asal mula dan dasar alam semesta ini adalah apeiron (sesuatu yang tidak dapat dipahami atau dijelaskan/dirupakan).

    Menurut Anaximandros prinsip utama alam semesta ini terdiri dari air, api, tanah dan udara. Setelah muncul Socrates filsafat tidak lagi berbicara soal alam semesta, melainkan berbicara soal manusia.

    Socrates memulai babak baru di mana soal etika dan keutamaan menjadi pokok pemikirannya. Ia mulai mempertanyakan apa arti hidup manusia?

    Setelah itu muncullah Plato muridnya yang mulai membedakan antara doxsa dan episteme. Doxsa adalah pendapat pribadi yang belum teruji kebenarannya dan episteme adalah pengetahuan yang sudah diuji kebenarannya.

    Menurut Plato realitas di dunia ini hanyalah bayang-bayang, pantulan, fotokopian, maya, dari dunia yang sebenarnya. Dunia yang sesungguhnya adalah dunia “idea” yang tidak dapat berubah dan diubah.

    Dunia realitas ini sering kali berubah dan tidak menetap. Jadi esensinya adalah dunia “idea” dan bukan realitas. Aristoteles (384-322 sM) berbeda pendapat dengan gurunya Plato.

    Menurutnya dunia yang sesungguhnya adalah dunia realitas (esensi itu adalah realitas). Dunia realitas itu bisa dijelaskan dengan hukum causalitas dan abstraksi sementara dunia idea adalah dunia utopia yang tidak jelas keberadaannya apakah ada atau tidak. Sebab tidak bisa diverifikasi exitensinya.

    Menurut Aristoteles manusia adalah animal rasionale; animal simbolicum; homo faber (mahluk pekerja); homo ludens (mahluk yang suka bermain).

    Filsafat disebut juga sebagai ilmu yang merupakan bagian dari pengetahuan atau salah satu khazanah pengetahuan. Mengapa filsafat penting? Karena dunia manusia sekarang ini semakin ditentukan oleh IPTEK. Hampir dalam segala hal, mulai dari pola pikir, cara hidup dan kebutuhannya.

    Dapat dikatakan bahwa teknologi itu sudah menjadi bagian dari hidup manusia. Akibatnya muncul berbagai praktek pendewaan terhadap ilmu pengetahuan. Pada abad ke 18-19 muncul aliran Scienticum (Saintisme) yaitu ideologi yang berlebihan.

    Ideologi ini meyakini bahwa IPTEK adalah satu-satunya jalan kebenaran. Maka diluar yang sifatnya ilmiah, tidak benar dan harus dibasmi.

    Filsafat dan Pohon

    Rene Descartes menyamakan filsafat dengan pohon, yang memiliki akar, batang, dan rantingnya. Akar filsafat adalah ontologi atau metafisika (teori atau pandangan tentang kepastian realitas).

    Ilmu metafisika berusaha mewujudkan apakah realitas itu bersifat terbatas (finit) dan tidak terbatas (infinit) dalam ruang dan waktu. Apakah realitas itu imanen (dekat) atau transenden (jauh). Batangnya adalah epistemologi yaitu ilmu tentang pengetahuan. Bagaimana manusia bisa mengumpulkan pengetahuan.

    Apakah manusia pernah tahu sesuatu atau tidak pernah tahu sesuatu atau seluruhnya. Bagaimana menjelaskan perbedaan epistemology dan doxsa. Apakah opini sama dengan pengetahuan? Dan apa itu kebenaran? Kapan kita sadar bahwa kita telah mencapai kebenaran dan mengapa kita jatuh dalam kesalahan, lalu apa bedanya kebenaran dan kesalahan?

    Menurut Descartes filsafat adalah ilmu-ilmu praktis yang bermanfaat dan berguna untuk menyumbangkan kedamaian, dan kesejahteraan manusia. Ada empat cabang filsafat. Pertama, ilmu kedokteran, manfaatnya menjaga, memelihara, dan memulihkan kesehatan manusia. Kedua, ilmu Hukum manfaatnya berusaha mengatur, menertipkan interaksi manusia.

    Mengubah manusia dari lupus (serigala) menjadi socius (teman). Ketiga, ilmu mekanika (iptek) yaitu ilmu hukum alam yang memproduksi barang-barang dari alam. Descartes mengatakan bahwa manusia harus menjadi master of natur.

    Keempat, Ilmu teologi adalah ilmu yang membahas tentang Tuhan dan tujuan akhir hidup manusia.

    Manusia bukan hanya insan duniawi tapi juga insan rohani. Tujuan hidup manusia adalah mengatasi dunia ini agar mampu menuju kepada Allah dan memperoleh hidup surgawi. Itulah sebabnya filsafat disebut sebagai ibu; sumber dan akar dari segala ilmu pengetahuan yang ada.

    Filsafat merangkum dan mengintegrasikan semua pengetahuan manusia. Karena pada zaman Yunani hingga abad 19 filsuf adalah juga seorang ilmuwan.

    Bersambung…

    Penulis: Samuel/DUTA- KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Diramu dari berbagai sumber Buku dan internet

    Jalan Filsafat: Membuka Segala Kemungkinan dan Horizon

    Dokumentas Majalah DUTA - KOMSOS Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA – Semua kemungkinan yang ada diatas dunia dan sejauh masih bisa dipikirkan oleh manusia, maka kemungkinan itu boleh jadi benar-benar ada. Bahkan sejauh imajinasi mampu bayangkan kemungkinan itu pun bisa terjadi. Aneh bukan? Ya begitulah jalan unik dari cara pandang seorang filsuf.

    Melalui filsafat terjadi dentuman reformasi intelektual yang membawa manusia dari pemikiran mistis soal alam semesta menuju ke pemikiran rasional, sistematis, reflektif, kritis, analitis, tentang realitas dunia dan manusia.

    Filsafat juga membuka segala kemungkinan dan horizon baru, karena filsafat tidak terbatas oleh hal-hal yang empiris, sehingga filsafat disebut juga metafisika yaitu melampauhi yang fisik (tampak). Filsafat disebut juga mater scientiarum atau induk ilmu pengetahuan, karena dari filsafatlah lahir segala ilmu yang ada.

    Cinta Kebijaksanaan

    Secara etimologi kata filsafat berasal dari dua suku kata Yunani, philos (cinta) dan sophia (kebijaksanaan/wisdom).

    Jadi, philosophos adalah a lover of wisdom. Arti filsafat ini sering dikaitkan dengan ilmu teologi atau theophilia atau a lover of God. Kata “God” sering diidentikkan dengan “kebijaksanaan”.

    Akibatnya filsafat itu sering disamakan dengan teologi (filsafat melebur dalam teologi karena Allah dianggap sebagai sumber kebijaksanaan).

    Ada beberapa pertanyaan yang muncul seputar filsafat. Bagaimana kita mencintai kebijaksanaan? Socrates menjawab bahwa untuk mencintai kebijaksanaan, manusia harus mengenal dirinya sendiri.

    Dengan kata lain filsafat adalah buah atau hasil dari pengetahuan akan dirinya sendiri (gnothi sealfon). Apa arti pengetahuan akan diri (self to know) dan kapan orang mengenal diri? Sokrates menjawab bahwa seseorang mengenal dirinya kalau ia mengenal batas-batas dirinya sendiri (knowing the limit of the self). Ada tiga batas yang harus disadari oleh manusia.

    Pertama, batas epistemologis yaitu batas pengetahuan. Manusia harus sadar dan dapat membedakan antara benar dan salah, tahu dan tidak tahu, agar manusia mampu mempertanggungjawabkan semua tindakan, perbuatan dan pemikirannya terhadap diri sendiri dan orang lain.

    Kedua, batas etis yaitu batas tindakan, sikap dan perilaku. Manusia harus tahu mana tindakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan, mana yang jahat dan yang baik.

    Ketiga, batas eksistensial yaitu batas sikap atau hidup. Manusia harus sadar bahwa nasibnya tidak hanya ditentukan oleh dirinya sendiri, sebab nasib manusia juga ditentukan oleh faktor-faktor misterius yang ada dalam dirinya yang tidak mampu dipahami olehnya.

    Bersambung….

    Penulis: Samuel- DUTA/ KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Diramu dari berbagai refrensi buku dan internet

    Tiga Pokok dalam Persiapan Misa yang Melampaui batasan kita

    Fr. Paweł Rytel-Andrianik - published on 03/11/23- Aleteia

    MajalahDUTA.Com, Spritualitas- Yesus tidak dihalangi oleh begitu banyak hal yang menghalangi kita … (Jesus isn’t hindered by so many of the things that hinder us …)

    Injil untuk hari Minggu ini adalah Yohanes 4:5-42:

    1. Kata pengantar

    Yesus melintasi batas untuk bertemu orang lain. Bahkan dalam situasi yang ambigu, dia memiliki keberanian untuk melampaui. Dia melakukannya karena cinta. Pertemuan dengan wanita Samaria hanyalah salah satu contohnya.

    2. Kata kunci

    Yesus, lelah karena perjalanannya, duduk di sana di dekat sumur.
    Saat itu sekitar tengah hari.

    Seorang wanita Samaria datang untuk menimba air.

    Yesus berkata kepadanya, “Berilah Aku minum.” […]
    Perempuan Samaria itu berkata kepadanya,

    “Bagaimana Anda, seorang Yahudi, meminta saya, seorang wanita Samaria, untuk minum?”

    Mengapa Yesus tidak boleh berbicara dengan seorang wanita Samaria? Pertama, dalam tradisi Yahudi, laki-laki tidak boleh bertemu sendirian dengan perempuan yang bukan istrinya, apalagi di tempat terpencil.

    Kedua, hubungan antara orang Yahudi dan orang Samaria, sebagaimana dikomentari dalam Injil, sangat tidak bersahabat. Ketiga, wanita Samaria menghindari orang lain, itulah sebabnya dia datang ke mata air pada pukul enam, yaitu tengah hari.

    Tidak ada yang akan datang ke sumur pada waktu terpanas hari itu. Wanita Samaria itu malu dengan situasi hidupnya yang tidak teratur.

    Yesus ingin bertemu dengannya. Dia datang ke mata air pada siang hari untuk bertemu dengan seseorang yang terpinggirkan oleh komunitasnya dan yang mengasingkan diri. Bagi Yesus, setiap orang penting.

    Wanita itu meninggalkan tempayan airnya
    dan pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang,
    “Lihatlah seorang pria yang menceritakan semua yang telah saya lakukan.
    Mungkinkah dia adalah Kristus?”
    Mereka pergi ke luar kota dan mendatanginya.

    Perjumpaan dengan Yesus mengubah segalanya dalam kehidupan seorang wanita Samaria. Yesus mengubahnya. Dia tidak lagi malu pada dirinya sendiri tetapi bersaksi tentang Yesus. Dia menyentuh masalah sulit dalam hidupnya, bukan untuk menindasnya. Sentuhan Yesus pada luka kita membawa keselamatan dan kesembuhan. Wanita Samaria itu meninggalkan kendi dan berlari untuk memberi tahu orang lain tentang Yesus dengan gembira.

    3. Hari ini

    Yesus melampaui lingkungannya untuk mencari seseorang. Dia tidak dihalangi oleh prasangka sosial dan penilaian manusia, atau oleh kehidupan wanita Samaria yang tidak teratur.

    Dan bagaimana cara berbicara dengan orang di luar lingkaran saya? Apakah saya memiliki keberanian untuk membawa kabar baik Injil bahkan kepada orang-orang yang tidak bersahabat dengan saya?

    Contoh Kesetiaan Sejati

    Foto Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjungan (2023)

    MajalahDUTA.Com – Saudara-saudara seiman yang terkasih, saya ingin mengawali tulisan ini dengan beberapa pertanyaan:

    • Mengapa ada suami atau istri yang menyeleweng?
    • Mengapa ada orang yang beristri dua?
    • Mengapa ada suami-istri yang bercerai?
    • Mengapa sering terjadi penghianatan?
    • Mengapa ada pegawai yang dipecat?
    • Mengapa ada orang main kolusi dan korupsi?

    Pertanyaan di atas jawabannya bisa beragam berdasarkan cara pandang masing-masing. Tetapi ada satu hal yang pasti adalah keti daksetiaan.

    Sebenarnya ketidaksetiaan itu telah ada bersama adanya manusia di dunia ini.

    Namun ketidaksetiaan itu bukan berasal dari Allah. Oleh Allah pada waktu diciptakan, manusia dianugrahi kehendak bebas dan kebahagiaan.

    Tetapi dalam kenyataannya, manusia telah salah menggunakan kebebasan itu. Manusia tidak bertanggung jawab, tidak setia pada tugas dan paggilannya. Akibatnya, manusia jatuh dalam kedosaan.

    Saudara-saudara seiman yang terkasih, berdasarkan kalender liturgi, hari ini kita telah memasuki Minggu Masa Prapaska. Dari bacaan Kitab Suci, Mat 4 : 1 -11, Bacaan Pertama Rom 5 : 12-19, bacaan kedua Kej 2 : 9, 3:1-7 (boleh buka sendiri ya) kepada kita diketengahkan dua cara hidup yang saling bertolak belakang.

    Pertama, cara hidup yang mencerminkan kesetiaan. Sedangkan yang kedua, justru sebaliknya. Akibat godaan duniawi manusia lupa akan tugas dan tanggung jawabnya kepada Tuhan.

    Cara hidup yang kedua ini telah berlangsung cukup lama, yaitu dimulai sejak manusia pertama diciptakan.

    Hidup di dunia ini memang penuh tantangan. Terutama godaan atau tawaran yang kerap bertolak belakang dengan kehendak Tuhan.

    Boleh dikata godaan itu datang dari segala arah mata angin. Karena itu kita dituntut untuk mempersiapkan penangkalnya serta ekstra hati-hati menghadapi segala tawaran yang ada. Untuk itu sebagai umat beriman, kita diminta untuk mencontoh cara hidup Yesus.

    Tentang Kesetiaan

    Saudara-saudara terkasih, dalam bacaan Kitab Suci diatas, terkesan bahwa Yesus adalah orang sakti. Dalam situasi terjepit Ia mampu melawan godaan Iblis. Kepada-Nya iblis menawarkan hidup yang super istimewa, Misalnya menjadi seorang konglomerat, Popularitas dan kekuasaan.

    Tetapi dengan syarat, Yesus harus mengikuti perintahnya. Alasan penolakan Yesus hanya satu, yaitu kesetiaan.

    Sebenarnya, sejak semula Yesus diperkenalkan kepada bangsa-bangsa memang sebagai penguasa, seorang raja. Tetapi bukan penguasa atau raja duniawi. Demikian pula dengan kekayaan, Ia adalah sangat kaya. Bahkan kekayaanNya tidak dapat ditandingi oleh konglomerat mana pun di dunia ini.

    Untuk kesekian kalinya Yesus mengingatkan kita. Agar kita tidak menggantungkan hidup pada harta kekayaan duniawi. Melainkan kepada iman dan kepercayaan kepada Bapa di Surga. Karena Bapa merupakan sumber segalanya.

    Demikian juga menyangkut amal bhakti, supaya semuanya diarahkan kepadaNya. Karena itu marilah kita mencontoh cara hidup Yesus. Yaitu demi tugas dan tanggung jawab-Nya kepada Bapa di Surga, la taat dan setia kepada perintah Bapa-Nya. Karena kesetiaan-Nya itu, semua orang menjadi selamat dan dapat bersatu dengan Bapa di Surga.

    Saudara-saudara yang terkasih, pada masa Prapaska ini marilah kita masing-masing bercermin melihat diri sendiri.

    Apakah kita telah setia kepada Bapa di Surga seperti Yesus? “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematianNya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.

    Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.

    Nostalgia Santap Bubur Temu Kangen SMP Aloysius Gonzaga Nyarumkop

    Alumni berbincang bersama mantan Kepala Sekolah dan Gurunya

    MajalahDUTA.Com, Nyarumkop- Kisah masa lalu saat sekolah menjadi topik pembicaraan yang tidak pernah usang. Misalnya, bolos pelajaran matematika,berbagi contekan, pura-pura sakit perut karena tidak mengerjakan tugas, cinta lokasi dengan teman sekelas. Bahkan, bertutur kata soal teman yang tidak hadir ini pun semakin hangat ketika membahas masa-masa indah dengannya.

    Begitu pula dengan para alumni/alumne SMP Santo Aloysius Gonzaga Nyarumkop. Dari beberapa pantauan, mereka berbagi kisah saat-saat menyenangkan, baik suka maupun duka semasa mengenyam pendidikan baik sebagai warga asrama maupun non asrama. Banyak hal baik yang mereka temukan ketika mereka tamat dari sekolah ini.

    Seperti diberitakan sebelumnya, pergelaran Open House dan Temu Kangen Civitas Akademika Santo Aloysius Gonzaga Nyarumkop ini mengambil tema “Menjadi Aloysian yang Kreatif dan Inovatif di Era Digital”(DUTA, 3/3/23) menggelar sejumlah kegiatan dalam memeriahkan Perayaan Pelindung Sekolah, Santo Aloysius Gonzaga.

    Sebagai pemuncak kegiatannya, warga sekolah dan alumni disuguhkan aneka hiburan, penyerahan juara lomba tingkat Sekolah Dasar, dan yang tidak kalah menariknya, para alumni diajak santap malam ala asrama dengan menikmati bubur nasi ala Pak Lelen (trending di masanya) membuat suasana menjadi lebih akrab antar alumni bersama warga sekolah.

    Menurut Isidorus alumni 93, kedepannya kegiatan ulang tahun pelindung sekolah Santo Aloysius Gonzaga ini tetap berkelanjutan dengan melibatkan para alumni, “Kami berterima kasih dan memberikan apresiasi kepada pihak sekolah yang sudah mengemas acara pelindung sekolah dengan melibatkan Sekolah Dasar dengan berbagai perlombaan sebagai akses nilai plus SMP Santo Aloysius Gonzaga Nyarumkop yang berdiri pada tahun 1951 bereksistensi hingga saat ini.

    Isidorus berharap, event Open House dan Temu Kangen SMP Santo Aloysius Gonzaga Nyarumkop menjadi Kalender Permanen tiap tahunnya. Agar para alumni/alumne dapat mengatur jadwal untuk dapat hadir bersama ALOYSIAN berbagi rasa, berbagi informasi, serta muatan edukasi lainnya, tutur alumni asal Bengkayang ini.

    Sementara itu, hal senada juga disampaikan Sumardi alumni angkatan 85 mengucapkan Terima kasih kepada penyelenggara kegiatan, kita (alumni)bergembira dan bersukacita bersama peserta didik lintas generasi dalam perayaan ini.

    Hal serupa juga disampaikan Ajai alumni asal Pusat Damai-Sanggau, merasa bersyukur atas kesuksesan para alumni yang pernah menempa pendidikan di SMP Aloysius Gonzaga Nyarumkop ini. *

    Tentang Homo Laborans

    Foto Karl Marx - Secuplik Selayang Pandang Homo Laborans

    MajalahDUTA.Com, Featured– Dalam Encycklopedia Americana kata labor di definisikan sebagai badan atau jasmani, selain itu juga dikatakan sebagai usaha mental manusia untuk mencapai suatu objek yang lain di luar kesenangannya sendiri.

    Homo laborans adalah istilah yang berasal dari bahasa latin. Artinya secara umum adalah manusia pekerja. Kata homo adalah manusia, dan kemudian ada beberapa kata yang dipadangkan pada homo tersebut. Misalnya homo erectus, homo sapiens dsb.

    Pernyataan ini mau menjelaskan bahwa labor itu adalah sebuah tindakan yang tujuannya bukan ke dalam tetapi ke luar. Tindakan itu bersifat memberi dan melayani. Artinya meskipun dikatakan sebagai pekerja, kata labor bisa dikatakan juga sebagai aktualisasi diri.

    Manusia hanya dapat mengenal potensi dirinya lewat sebuah tindakan yang nyata. Tindakan itu tentu saja mengarah ke pekerjaan.

    Istilah kata labor dalam Ensyclopedia Americana ini selanjutnya dijelaskan sebagai sebuah kata kerja yang memberi tekanan pada kerja keras secara manual (manual oil), tapi tentu saja istilah ini mereduksi istilah labor sendiri, jika hanya sebatas kerja keras secara manual. Istilah lain dapat dimasukkan juga, misalnya sebuah usaha mental.

    Kata usaha telah mengantikan kata labor. Usaha (effort) bisa memiliki banyak pengertian.

    Zaman Industri modern mengutamakan tenaga atau otot (muscle) untuk kepentingannya. Zaman ini mempekerjakan ribuan orang untuk mengelola industri. Pada saat itu perubahan social terjadi. Manusia diarahkan untuk bekerja, menjadi buruh pabrik, karyawan, perakit dan pencipta.

    Sebelum zaman industri ini manusia masih belum bekerja seoptimal mungkin. Mereka masih hidup dalam dunia bermain dan menuntut ilmu pengetahuan. Tetapi justru terjadi sebaliknya di zaman industri, manusia menjadi budak pekerjaan. Hampir sepanjang hari manusia bekerja dan bekerja. Bahkan waktu untuk dirinya dan keluarganya tidak ada lagi karena semua waktunya dipakai untuk bekerja.

    Secuplik Konsep Marx dengan Homo Laborans

    Marx melihat manusia sebagai mahluk material. Ia adalah filsuf materialis. Dia mendefinisikan hidup manusia dalam bentuk materi. Manusia pada umumnya bekerja untuk mencapai dan mengenal identitasnya sebagai manusia.

    Menurutnya secara esesnsial manusia bukanlah mahluk yang mampu mencipta secara rasional, manusia juga bukanlah anak-anak dewa-dewa (Tuhan), atau mahluk politik. Manusia menunjukkan identitasnya berdasarkan pada apa yang dia lakukan. Mereka adalah apa yang mereka lakukan (they are what they do). Dan apa yang mereka lakukan itu adalah untuk mempertahankan hidupnya dari dunia sekitarnya.

    Segala hal tentang mereka, termasuk kesadaran mereka dan pengertian mereka terhadap alam dan kepercayaan mereka kepada Tuhan itu secara langsung adalah hasil dari apa yang mereka lakukan secara fisik dalam hidup mereka sehari-hari. Maka dia mengatakan manusia adalah mahluk pekerja atau homo laborans (a working human).

    Lingkungan itu membentuk hidup manusia masuk ke dalam relasi dengan manusia lain dan memiliki kebebasan kehendak. Relasi itu membentuk manusia untuk bekerja sama dengan yang lain. Hubungan sosial ini juga memperngaruhi opini setiap individu.

    Bahwa opini mereka tidak berdasarkan pada apa yang mereka pikirkan dalam diri mereka sendiri. Tetapi cenderung dipengaruhi oleh lingkungan dan tuntutan pekerjaan.

    Maka apa yang mereka kerjakan, bukan karena keinginan mereka. Mungkin sekali karena keterpaksaan dari kondisi atau situasi yang mendesak. Jika tidak bekerja mereka tidak hidup. Maka jika marx mengatakan bahwa pekerjaan adalah wujud dari aktualisasi diri manusia, menjadi tidak berfungsi lagi. Bahwa pekerjaan sebagai sarana untuk membuktikan identitas manusia sepertinya tidak terpenuhi.

    Pekerjaan itu membuat kita menghadapi kenyataan hidup, kita menjadi aktif, dan kita menyadari diri kita sebagai manusia dan berdasarkan proses hidup yang real kita mendemonstrasikan perkembangan refleksi ideolologi. Ideologi yang kita bentuk dalam pikiran kita menjadikannya sebuah kebutuhan, meluhurkannya sebagai bagian dari proses hidup. Moralitas, religiositas, metaphysika, dan semua ideologi dan bentuk-bentuk pergaulan mereka dibentuk oleh kesadaran mereka.

    Manusia mengembangkan produki materi dan selalu berhubungan dengan materi, materi itu mengubah hidup manusia.

    Melalui pikiran, materi itu diubah. Maka manusia berpikir dan menghasilkan apa yang mereka pikirkan. Hidup tidak ditentukan oleh kesadaran, tapi kesadaran ditentukan oleh hidup.

    Dengan kata lain, identitas manusia dan kesadaran manusia sebagai mahluk yang ber-identitas ditentukan oleh pekerjaan. Melalui materi individu berhadapan dengan hidup yang nyata.

    Sistem Pekerjan di Zaman Modern

    `Manusia teralienasi dari dirinya sendiri baik itu secara pisikis dan psikologi muncul dari situasi sistem pekerjan di zaman modern. Sejak para pekerja tidak mengetahui apa hasil yang mereka kerjakan. Ketika manusia bekerja sebagai perpanjangan tangan dari mesin-mesin.

    Sejak manusia membenci apa yang ia lakukan. Kemudian manusia tidak memiliki hidup mereka. Sejak manusia menjadi bagian dari mesin. Manusia ada untuk dirinya sendiri sebagai objek yang teralienasi.

    Sejak manusia menyadari dirinya sendiri sebagai sesuatu yang dianggap rendah. Mereka tidak mendapatkan cinta atau kesenangan atau bahkan pengakuan. Sebagai mahluk yang teralienasi, para buruh modern, tidak memiliki identitas diri sebagai homo laboran.

    Bagi Marx manusia bekerja untuk mengenal siapa dirinya. Identitas manusia terungkap lewat pekerjaannya. Baginya pekerjaan itu membawa manusia pada kepuasan. Dengan syarat manusia tahu apa yang dikerjakan dan fungsinya untuk apa. Hasil pekerjaan itu menunjukkan identitas manusia sebagai manusia.

    Itulah arti homo laboran bagi marx yang sesungguhnya. Maka manusia ditentukan oleh apa yang dialakukan. Pekerjaan manusia menunjukkan identitasnya sebagai mahluk yang memiliki identitas. Pekerjaan itu memiliki makna penting dalam hidup manusia.

    TERBARU

    TERPOPULER