Friday, April 24, 2026
More
    Home Blog Page 95

    Uskup Agustinus Tinjau Perkembangan Pembangunan Gereja Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang

    Uskup Agustinus kunjungi progres pembangunan Gereja Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang

    MajalahDUTA.Com, KUBU  RAYA- Uskup Agung Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, hari ini meninjau perkembangan pembangunan Gereja Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang di Jalan Trans Sungai Ambawang Desa Lingga.

    Dalam kunjungannya, Uskup Agustinus didampingi oleh Ketua KOMSOS Keuskupan Agung Pontianak, Paulus Mashuri, dan beberapa umat.

    Gereja Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang, dengan ornamen Dayak yang menawan, menampilkan tampilan putih yang elegant dan sederhana.

    Pastor Lukas Ahon CP, mantan Pastor Paroki Santo Fidelis, mengatakan bahwa paroki ini telah pisah dari Katedral sejak tahun 1976 yang awalnya dilayani oleh Ordo Kapusin. Namun, sejak pertengahan Maret 2002 hingga sekarang, paroki ini dilayani oleh Kongregasi Passionis.

    Uskup Agustinus juga membagikan postingan kunjungannya ke Instagram pribadinya untuk meninjau perkembangan proyek Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang.

    Dalam diskusinya bersama penulis awal tahun, Uskup Agustinus pernah menyinggung tentang progres pembangunan gereja ini. Uskup Agustinus berharap agar gereja ini cepat selesai dan dapat digunakan sebagai pusat dan administrasi paroki untuk wilayah Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya.

    Paroki ini menangani 6 wilayah, dengan tiga wilayah di antaranya berada di jalur utama Trans Kalimantan.

    Paroki Sungai Ambawang ini memiliki total 34 stasi, dan diharapkan gereja baru ini dapat menjadi pusat rohani dan aktivitas bagi umat di wilayah tersebut. Semoga dengan pembangunan gereja baru ini, semakin banyak umat yang dapat terlibat dalam aktivitas rohani dan sosial di wilayah sekitarnya.

    Penulis: Samuel – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.
    Sumber: Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus dan Wawancara Pastor Lukas Ahon CP. 

     

    Baksos Kill Covid-19 di Panti Asuhan Santo Yusup

    Potong kue dan potong tumpeng HUT ke-75 Panti Asuhan Santo Yusup Sindanglaya, Cipanas

    MajalahDUTA.Com– Kill Covid-19 mengadakan baksos untuk anak-anak di Panti Asuhan Santo Yusup (PASY).

    Adapun kegiatan baksos Kill Covid-19 digelar bertepatan dengan perayaan HUT ke-75 PASY di Sindanglaya, Cipanas.

    Menurut Ketua Umum Kill Covid-19 sekaligus pemerhati PASY Adharta Ongkosaputra, baksos Kill Covid-19 dimulai Sabtu, 18 Maret 2023 dengan mendampingi anak-anak PASY mulai dari gladi resik persiapan acara HUT ke-75 PASY yang dimulai dari Sabtu sore.

    “Kill Covid-19 menyediakan makanan sebanyak 300 roti untuk penghuni PASY,” kata Adharta kepada patadaily.id, Minggu (19/3/2023) di PASY.

    Adharta menjelaskan, acara baksos diteruskan pada Minggu, 19 Maret 2023 selepas Misa syukur perayaan HUT ke-75 PASY.

    “Bersama Pondok Tani Cianjur yang menyediakan sembako dalam paket, baksos berjalan lancar,” ucapnya.

    Sementara, lanjutnya Kill Covid-19 membagikan paket makanan ringan sebanyak 230 bungkus yang terdiri dari beberapa kue, biskuit coklat, Hydro coco, dan Pringles.

    Anak-anak PASY terlihat bahagia mendapat makanan ringan dari Kill Covid-19. Adharta bersyukur baksos berjalan lancar.

    Tak hanya itu, Kill Covid-19 juga melakukan donasi seberar Ro5 juta untuk PASY.

    “Terima kasih kepada teman-teman donatur yang telah membantu baksos HUT ke-75 Panti Asuhan Santo Yusup,” kata Sandra Olga, Ketua Baksos Kil Covid-19.

    Oleh: Admin DUTA
    Sumber: Gabriel Bobby – PATADaily.id  

    Uskup Agustinus Rayakan Pesta Santo Yoseph di Paroki Karangan Mempawah Hulu

    Uskup Agustinus bersama Pastor May OSJ diarakj menggunakan mobil hias menuju Gereja

    MajalahDUTA.Com, Mempawah- Paroki Santo Yusuf Karangan Mempawah Hulu, Minggu, 19 Maret 2023 – Ribuan umat Katolik dari berbagai stasi diwilayah berkumpul di Paroki Santo Yusuf Karangan Mempawah Hulu, untuk merayakan Pesta Santo Yoseph. Perayaan misa yang dipimpin oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, dan Pastor Paroki Karangan, Pastor May OSJ ini juga diiringi menggunakan mobil hias dan didampingi oleh oleh puluhan orang muda yang memainkan Drum Band serta sambutan tarian meriah khas Dayak Kanayatn.

    Kedatangan Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, disambut meriah oleh umat Paroki Santo Yusuf Karangan Mempawah Hulu. Dalam perayaan syukur Pesta Pelindung Paroki Santo Yoseph Karangan, Uskup Agustinus mendukung dan tentunya berharap semoga teladan Santo Yoseph suami Santa Maria itu bisa menjadi inspirasi dan penguat iman umat Katolik di Paroki Karangan.

    Kehadiran Uskup Agustinus tentunya mengajak umat Katolik untuk menjadi terang dan garam dalam segala proses pekerjaan dan menjadi bejana murni dalam pewartaan iman. Sebagaimana teladan Santo Yoseph suami dari Bunda Maria yang bekerja dengan tulus, menerima Maria sebagai istri dan membesarkan Yesus.

    “Kita semua harus menerapkan teladan Santo Yoseph dalam hidup kita sehari-hari, agar kita bisa menjadi saksi Kristus yang sejati,” doa dan harap Uskup Agustinus.

    Umat Paroki Santo Yusuf Karangan terlihat antusias mengikuti perayaan suci dalam perayaan ekaristi di Hari Santo Yoseph dimana Paroki Karangan juga dilayani oleh Missionaris Pastor Oblat Santo Yosep (OSJ) dari Filipina.

    Secuplik Sejarah Paroki Karangan

    Sedikit sejarah bahwa pada tanggal 19 Maret 2017 stasi Karangan telah resmi menjadi Paroki Santo Yusuf Karangan Mempawah Hulu yang akan menjadi tempat pembukaan Misi Pertama kongregasi OSJ di Negara Indonesia.

    Pada saat itu pemberkatan Paroki Santo Yusuf Karangan Mempawah Hulu dilaksanakan oleh Mgr.Agustinus Uskup Agung Pontianak yang  juga dihadiri oleh Superior General dan Provinsial Superior kongregasi Oblat Santo Yosep (OSJ).

    Perayaan hari ini juga dihadiri oleh ratusan umat Paroki Karangan yang datang dari stasi-stasi untuk memadati area sekitar gereja.

    Dengan demikian, perayaan misa Pesta Santo Yoseph di Paroki Santo Yusuf Karangan Mempawah Hulu, yang dipimpin oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus, dan Pastor Paroki Karangan, Pastor May OSJ, berlangsung dengan khidmat dan sukses.

    Para umat Katolik dan masyarakat setempat menyambut kehadiran mereka dengan antusiasme dan semangat yang tinggi, serta menunjukkan kesatuan dan persatuan dalam menguatkan iman.

    Penulis: Samuel- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.
    Sumber: Informasi dari Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus.

    Mengapa Kita Jangan Sampai tidak mengaku Dosa? Ini Penjelasannya

    Mimbar Agama Katolik- TVRI Kalimantan Barat

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- TVRI Kalimantan Barat menghadirkan Pastor Silvanus Ilwan CP dari konggregasi Passionis sebagai tamu di Mimbar Agama Katolik pada hari ini, 19 Maret 2023 yang dimulai pukul 10.00 – 11.00 WIB.

    Dalam wawancara yang berlangsung selama satu jam tersebut, Pastor Ilwan CP membahas tema besar tentang pertobatan dalam hal ini adalah SAKRAMEN TOBAT yang sangat penting untuk umat Katolik saat ini yang sedang dalam suasana Prapaskah.

    Dalam kesempatan ini, Pastor Ilwan CP mengingatkan pentingnya umat Katolik untuk mengaku dosa minimal dua kali dalam satu tahun dan jangan sampai tidak pernah mengaku dosa.

    Menurutnya, jika seseorang tidak pernah mengaku dosa secara terus menerus, sama saja seperti manusia yang memakai baju terus-menerus yang tidak pernah dicuci.

    Dalam acara ini, Paulus Mashuri selaku Ketua KOMSOS Keuskupan Agung Pontianak dan Saudari Yantika dari Radio Diah Rosanti Pontianak turut menjadi host dalam wawancara bersama Pastor Ilwan CP.

    Terdapat poin penting yang disampaikan oleh Pastor Ilwan CP mengenai peran penting pengakuan dosa dalam kehidupan umat Katolik.

    Semoga pengajaran ini dapat membantu umat Katolik dalam memperbaiki diri dan mempersiapkan hati menyambut Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus dalam perayaan paskah.

    Penulis: Samuel- DUTA/KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: TVRI Kalimantan Barat 

    Hasil dari Iman adalah Sukacita, Teladan Suci Santo Yoseph

    MajalahDUTA.Com, Denpasar– Hari ini, 19 Maret 2023, umat Katolik merayakan Santo Yoseph, suami St. Perawan Maria. Dalam rangka perayaan tersebut, Romo Hubery Hady Setiawan dan Ibu Susi sebagai host, menghadirkan sebuah podcast spesial di kanal YouTube OK Hari Ini dengan tema “Perayaan Santo Yoseph suami dari Bunda Maria”.

    Dalam podcast tersebut, Romo Hubery Hady Setiawan mengawali pembicaraannya dengan menyapa para pemirsa dan mengajak mereka dalam sebuah cerita tentang Santo Yoseph.

    Romo juga menjelaskan bahwa dalam liturgi Katolik, terdapat perayaan yang merayakan Santo Yoseph dalam tidurnya.

    Dalam diskusi itu, Romo Hady menjelaskan bahwa tidur Santo Yoseph tidak sama dengan tidur nyenyak, melainkan tidur yang dipenuhi dengan pemikiran tentang bagaimana jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Dalam mimpi, Santo Yoseph mendapat pencerahan tentang Maria yang mengandung di luar nikah.

    Dalam mimpinya, malaikat berkata, “Yoseph, perempuan yang akan kamu nikahi itu adalah perempuan yang baik-baik dan kudus. Yang sekarang sedang mengandung Yesus.” Setelah mendapat pencerahan tersebut, Yoseph pun menjemput Maria dan membawanya bersama-sama dalam perjalanan hingga kelahiran Yesus.

    Romo Hady juga menceritakan tentang perjalanan Santo Yoseph dan Santa Maria, di mana Santo Yoseph sangat sederhana, rendah hati, dan taat kepada Tuhan.

    Ia mengurus Yesus seperti darah dagingnya sendiri dan bekerja sebagai tukang kayu yang menghidupi Yesus dan Maria. Dalam kegembiraan bersama, Santo Yoseph menjadi teladan bagi kita semua untuk hidup dengan sukacita dan damai sejahtera.

    Dalam podcast ini, Romo Hady mengajak seluruh pemirsa untuk meneladani cara hidup Santo Yoseph yang sederhana dan taat kepada Tuhan. Romo juga menegaskan bahwa hasil dari iman adalah sukacita dan damai sejahtera.

    Penulis: Samuel- DUTA/KOMSOS KA Pontianak 
    Sumber: Channle Youtube Societas Santa Clara

    Seksi Keadilan & Perdamaian Paroki MBK Gelar Seminar Kesetaraan Gender Dalam Perspektif Teologis, Ajaran Sosial Gereja dan HAM

    Seksi Keadilan & Perdamaian Paroki MBK Gelar Seminar Kesetaraan Gender Dalam Perspektif Teologis, Ajaran Sosial Gereja dan HAM

    MajalahDUTA.Com, Jakarta– Berbicara soal kesetaraan gender, sudah sering menjadi perbincangan hangat di kalangan umat, berbagai masalah maupun kasus mengenai kesetaraan gender juga sudah seringkali terdengar, namun demikian untuk mengenal dan memahami kesetaraan gender dari sudut pandang Teologis, Ajaran Sosial Gereja dan Hak Azasi Manusia, maka pada Sabtu, 16 Maret 2023 bertempat di Auditorium Gedung Triasih lantai 6 Jakarta Barat, Seksi Keadilan & Perdamaian Paroki Tomang, Maria Bunda Karmel Kota Adm Jakarta Barat menyelenggarakan Seminar bertema: Kesetaraan Gender Dalam Perspektif Teologis, Ajaran Sosial Gereja dan HAM.

    Dalam Sambutannya, Ketua Seksi Keadilan dan Perdamaian Paroki MBK, Erasmus Nabith, bahwa acara ini diselenggarakan sebagai salah satu pelaksanaan program karya Seksi Keadilan dan Perdamian Paroki Tomang, yang dilatarbelakangi oleh adanya merespon permasalahan kesetaraan gender, seringkali terjadi di tengah kehidupan umat, akan tetapi seringkali pula umat dihadapkan pada masalah belum adanya pemahaman mengenai kesetaraan gender yang utuh dari sudut pandang teologis, ajaran sosial gereja dan Hak Azasi Manusia, untuk itulah melalui kegiatan seminar ini, pemahaman umat mengenai kesetaraan gender semakin utuh dan lengkap.

    “Kami sangat berharap dengan hadirnya dua narasumber yang sangat berkompeten, maka umat dapat merespon permasalahan kesetaraan gender dan dapat melakukan pencegahan terhadap terjadinya perilaku maupun tindakan yang menciderai kesetaraan gender tersebut, di kesempatan ini kami juga mendoakan untuk kesehatan Romo Adiprasodjo, Pr, yang sedianya beliau hadir di acara ini, namun karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan beliau hadir di acara ini, sehingga kehadiran beliau di ganti oleh Romo Stefanus Tommy Octora, Pr”, ucap Erasmus Nabith.

    Usai penyampaian sambutan dari Ketua Seksi Keadilan dan Perdamaian Paroki MBK, Erasmus Nabith, acara dilanjutkan dengan penyampaian sambutan perwakilan dari Dewan Paroki Harian yang disampaikan oleh Paulus Heru Wibowo Kurniawan.

    Dalam sambutannya, ia mengatakan sangat mengapresiasi penyelenggaraan Seminar ini, sebagai wahana untuk pencerahan, penyampaian informasi dan juga sekaligus mengedukasi umat, agar lebih mengerti serta memahami tentang kesetaraan gender beserta persoalannya, yang seringkali terjadi di tengah kehidupan umat beriman.

    “Kami atas nama Dewan Paroki Harian Gereja Maria Bunda Karmel, sangat mengapresiasi atas kerja keras rekan-rekan Seksi Keadilan & Perdamaian merancang, mempersiapkan hingga menyelenggarakan kegiatan Seminar ini, semoga kegiatan ini dapat bermanfaat bagi umat yang senantiasa ditumbuhkembangkan semangat kasihNya untuk semakin menghormati kemartabatan sesama dalam mewujudkan kesejahteraan bersama.”kata Paulus Heru Wibowo Kurniawan, yang sekaligus membuka dan memandu acara Seminar ini.

    Sementara itu, dalam paparan materinya, Romo Stefanus Tommy Octora, Pr menyampaikan soal pemahaman definisi kesetaraan gender, yang menurutnya pengertian kesetaraan tersebut, belum lah lengkap jika tidak ditambah dengan kata keadilan, sehingga sesungguhnya kata kesetaraan harus disandingkan menjadi keadilan, kemudian menjadi kesetaraan dan keadilan gender, mengapa demikian? Sebab masalah gender merupakan wacana dan pergerakan untuk mencapai kesetaraan peran, hak dan kesempatan antara laki-laki dan perempuan, karena itu juga perlunya pemahaman mengenai seks dan gender menjadi point penting dalam upaya menciptakan keadilan dan kesetaraan gender, sedangkan seks (jenis kelamin) merupakan pembagian sifat dua jenis kelamin secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Misalnya seorang laki- laki yang sifatnya adalah memiliki penis, memiliki jakun, dan memproduksi sperma. sedangkan untuk perempuan memiliki vagina, rahim, dan payudara yang tak lain untuk melahirkan, memproduksi sel telur, serta menyusui. Secara biologis alat tersebut tidak bisa dipertukarkan antara 11 laki- laki dan perempuan. Secara permanen tidak berubah dan merupakan ketentuan dari Tuhan atau yang juga disebut kodrat, dalam masyarakat perbedaan gender malahirkan ketidak adilan gender, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Ketidakadilan gender ini muncul ketika seseorang diperlakukan tidak adil hanya karena alasan perbedaan gender.

    “Namun ketidakadilan gender ini banyak dialami oleh perempuan sehingga banyak masalah ketidakadilan gender yang diidentikkan dengan masalah kaum perempuan, hal tersebut yang membuat laki-laki dan perempuan jauh dari kata setara. Ketidakadilan gender terwujud dalam kehidupan sehari-hari”ungkap Romo Stefanus Tommy Octora, Pr yang baru saja menyelesaikan study doktoralnya di Urbaniana Pontifical University, Rome.

    Lebih lanjut Romo Stefanus Tommy Octora, Pr, juga mengungkapkan meskipun Indonesia sudah memulai Gerakan emansipasi oleh RA Kartini pada beberapa puluh tahun silam, namun kenyataannya ketimpangan Gender Indonesia Tertinggi di ASEAN, Singapura Terendah (menurut data statistik BPS tahun 2021), sedangkan penyebab terjadinya ketimpangan gender itu adalah terjadinya Kekerasan, misalnya terjadi kekerasan dalam rumah tangga, suami menganiaya istri, istri menganiaya suami, dan itu terjadi dipicu oleh kurangnya memahami makna perkawinan yang merupakan salah satu sakramen kudus, yang harus dijaga kekudusannya melalui sikap saling mencintai, menyanyangi dan menghormati kemartabatan maupun peran suami-istri dalam ikatan kudus pernikahan, selain itu , ketimpangan Gender juga dipicu oleh Peminggiran, Stereotip yakni Stereotype itu sendiri berarti pemberian citra baku atau label kepada seseorang atau kelompok yang didasarkan pada suatu anggapan yang salah atau sesat. Namun seringkali pelabelan negatif ditimpakan kepada perempuan, misalnya,perempuan dianggap cengeng, suka digoda, perempuan tidak rasional, emosional, perempuan tidak bisa mengambil keputusan penting, Penomorduaan (Subordinasi) dan beban ganda.

    Sedangkan menurut pandangan Teologis, Romo Stefanus Tommy Octora, Pr mengatakan sejarah persepsi dan penafsiran yang keliru yang akhirnya memunculkan budaya ketidakadilan gender. Dari pembelajaran dan evaluasi sejarah muncullah pembaharuan persepsi dan tafsiran yang bisa menggambarkan Gereja sebagai sarana karya keselamatan Allah bagi semua umat manusia (laki-laki dan perempuan). Setelah Konsili Vatikan II, Gereja senantiasa menekankan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan setara menurut citra Allah (bdk. Kej. 1: 26-27). Keduanya setara martabat, walaupun berbeda secara biologis. Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi, memperkaya, membangun relasi kasih, dan mengembangkan kehidupan, sedangkan di dalam dokumen Gaudium et Spes (9, 29 & 60) menegaskan bahwa Konsili mengakui bahwa, berdasarkan kemampuan fisik yang berbeda-beda dan perbedaan daya intelektual dan moral, semua orang tidak sama. Ada perbedaan alamiah yang tidak dapat diabaikan.

    Namun, perbedaan-perbedaan itu bukanlah alasan untuk menindas atau mendiskriminasi, hal itu juga ditegaskan dalam dokumen Apostolicam Actuositatem yang menyebutkan Kesetaraan martabat sebagai orang-orang terbaptis menjadi dasar bagi kesetaraan dalam pelaksanaan tugas kerasulan antara laki-laki dan perempuan. Walaupun harus ditegaskan bahwa ada perbedaan tugas berdasarkan status dan jabatan dalam Gereja.

    Dewasa ini perempuan makin hari makin berperanan secara aktif dalam seluruh kehidupan masyarakat, maka pentinglah peran serta mereka yang lebih luas juga di dalam berbagai bidang kerasulan Gereia, Adapun di dalam penyelenggaraan FABC di Tokyo (1986), salah satu rekomendasinya menyebutkan 30% perempuan harus duduk dalam semua organisasi dan Dewan Gereja, Memberikan kompensasi yang adil bagi para perempuan yang bekeria dalam lingkungan Gereja, termasuk para biarawati, dan sebagainya.

    “Nah, tapi realitasnya hari ini, anehnya, dalam aktivitas menggereja, saya justru melihat, ibu-ibu yang nampak lebih aktif daripada bapak-bapak, ini saya alami mendatangi kegiatan di lingkungan, ibu-ibu itu membisikan, romo dapat salam dari bapak-bapak, ya, saya terima salamnya semoga bapak-bapak juga bisa meluangkan waktunya aktif mendampingi ibu-ibu dalam aktifitas pelayanan di gereja”tukas Romo Stefanus Tommy Octora, Pr
    Diakhir pemaparan materinya, Romo Stefanus Tommy Octora, Pr mengutip ungkapan yang disampaikan Mater et Magistra; Martabat manusia harus menjadi dasar, sebab dan tujuan dari semua upaya pengembangan masyarakat yang dijalankan oleh lembaga apa dan mana pun.

    Sementara itu, dalam paparan materinya, Dr. Nikolas Simanjuntak, S.H., M.H., mengungkapkan Kajian tentang gender memang tidak bisa dilepaskan dari kajian teologis, karena hampir semua agama mempunyai ajaran dan perlakuan khusus terhadap kaum perempuan. Kesan yang mengemuka, perempuan selalu ditempatkan dalam posisi di belakang laki-laki baik dalam acara ritual keagamaan maupun ranah soisal. Yang sering diperotes oleh kalangan perempuan adalah ketika kaum laki-laki menggunakan dalil keagamaan untuk melestarikan dominasi mereka atas kaum perempuan. Untuk tujuan di luar kepentingan agama melainkan kepentingan pribadi ataupun kelas-kelas tertentu dalam masyarakat.

    Selain itu, adanya persoalan ketimpangan gender yang diwujudkan dalam penindasan kaum perempuan, bukan hanya dalam peminggiran peran perempuan, melainkan juga terjadi dalam budaya, Hal ini disebabkan oleh budaya di masyarakat yang masih lebih menghargai perempuan untuk diam di rumah dibandingkan bekerja, rendahnya pengetahuan dan pemahaman perempuan akan hak-haknya, serta stigma yang masih berkembang di masyarakat bahwa perempuan sebagai kodratnya adalah lemah, dan laki–laki adalah kuat. Kesetaraan gender,

    Dengan demikian tetap diperjuangkan karena maraknya kasus ketidakadilan gender, termasuk di Indonesia, misalnya dalam penyebutan terhadap perempuan dengan sebutan Wanita ( = wani ditata : di dapur, di tempat tidur dsb) maka diperlukan suatu Langkah perubahan dan sekaligus pertobatan untuk tidak lagi menggunakan sebutan yang terkesan melecehkan dan menindas kaum perempuan, dengan tidak menggunakan istilah Wanita melainkan menggunakan istilah Perempuan, karena dengan menggunakan sebutan perempuan, maka itu bermakna mengakui dan menghormati kemartabatan kaum perempuan yang melekat pada Hak Azasi Manusianya.

    “Karena itu sudah saatnya kita melakukan pertobatan untuk selanjutnya melakukan Penegasan bersama sikap bertindak (affirmative) melakukan perlawanan terhadap “penindasan simbolis” baik secara kultural, historis, politis, hukum, sosial, ekonomis, terhadap kaum perempuan”ungkap Dr. Nikolas Simanjuntak, S.H., M.H.yang juga mantan Sekjen DPP ISKA (1997-2001).

    Selain itu, menurut Dr. Nikolas Simanjuntak, S.H., M.H, Kesetaraan gender merupakan salah satu hak asasi kita sebagai manusia. Hak untuk hidup secara terhormat, bebas dari rasa ketakutan dan bebas menentukan pilihan hidup tidak hanya diperuntukan bagi para laki-laki, perempuan pun mempunyai hak yang sama pada hakikatnya, kondisi inilah yang juga harus diupayakan dalam kehidupan umat beriman di gereja Katolik, sehingga tidak terjadi pelanggaran HAM dalam bentuk ketimpangan gender, serta menjadikan tanggungjawab bersama baik di kalangan klerus maupun awam untuk bersama-sama mencegah terjadinya ketimpangan gender dalam bentuk apapun.

    “Secara teologis, tadi sudah disampaikan oleh Romo Stefanus Tommy Octora, Pr, sedangkan dalam sudut pandang Hak Azasi Manusia, jelas sekali bahwa perilaku ketimpangan gender, itu melanggar HAM, dan tidak bisa ditolerir, harus dilawan dan dicegah”tukas Dr. Nikolas Simanjuntak, S.H., M.H

    Dalam acara yang di hadiri sebanyak 70 orang peserta, serta perwakilan dari DPH maupun dari perwakilan Wanita Katolik Cabang Paroki Tomang ini, nampak terlihat antusias peserta mengikuti dan menyimak materi yang disampaikan oleh dua narasumber tersebut, terbukti dengan adanya tiga penanya dan penanggap, yang mengemukakan tanggapannya kepada narasumber, kemudian oleh narasumber direspon dengan jawaban yang lugas, tegas dan tepat.

    Diakhir diskusi ini, Paulus Heru Wibowo Kurniawan sebagai moderator, menyampaikan kesimpulan diskusi, yakni bahwa Suara keberpihakan Gereja terkait permasalahan gender tertuang dalam magisterium dan kebijakan pastoral. Dokumen Gereja yang berbicara tentang perhatian kepada kaum perempuan cukup banyak, antara lain: Mater et Magistra, Gaudium et Spes (GS), dan Apostolicam Actuositate.

    Beberapa dokumen dari Federation Asian Bishops’ Conference (FABC) juga membahas tentang hal ini.

    Sedangkan dalam konteks Gereja Indonesia, KWI mengeluarkan Surat Gembala pada Desember 2004 bertema “Kesetaraan Perempuan dan Laki-Laki sebagai Citra Allah”. Keluarnya Surat Gembala ini menjadi salah satu bentuk ungkapan kepedulian dan dukungan Gereja Katolik Indonesia terhadap perjuangan kaum perempuan untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender.

    Surat Gembala ini menegaskan kembali bahwa Gereja Katolik Indonesia mendukung semua gerakan untuk menghapus berbagai bentuk eksploitasi dan kekerasan terhadap perempuan. Gereja bersedia untuk ikut serta dalam memfasilitasi penyediaan rumah yang aman bagi perempuan dan anak-anak korban kekerasan tanpa memandang agama, golongan, suku, dan aliran politik yang dianut.

    “Sedangkan dalam konteks HAM, seperti dikatakan Pak Nikolas, bahwa ketimpangan gender merupakan Tindakan pelanggaraan HAM yang tidak bisa ditolerir oleh siapapun, karena itu dengan adanya seminar ini yang telah menyampaikan berbagai pengertian maupun informasi masalah gender dan solusi diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran umat beriman untuk membangun Gerakan mencegah terjadinya ketimpangan gender baik di lingkungan gereja maupun di lingkungan di luar gereja, terima kasih”pungkas Paulus Heru Wibowo Kurniawan, yang sekaligus menutup acara Seminar Kesetaraan Gender dalam Perspektif Teologi, Ajaran Sosial Gereja dan HAM ini dengan doa penutup.

    (* ditulis oleh panpel Seminar diselenggarakan oleh Seksi Keadilan dan Perdamaian Paroki Tomang, MBK, Kota Adm Jakarta Barat).
    Sumber: Yatno- Nasional POS

    Doa sebagai Meditasi

    Doa sebagai Meditasi- Dokumentasi DUTA

    MajalahDUTA.Com, Featured– Meditasi adalah sebuah praktik spiritual yang bertujuan untuk mencapai kedamaian, kesadaran diri, dan kebahagiaan. Salah satu bentuk meditasi adalah doa sebagai meditasi.

    Doa sebagai meditasi melibatkan memusatkan pikiran dan hati pada Allah, Sang Pencipta, atau objek spiritual lainnya. Melalui doa, seseorang dapat merenungkan tentang sifat-sifat Allah, meminta bimbingan dan perlindungan, atau memohon pengampunan dosa-dosa.

    Dalam doa sebagai meditasi, tujuan utamanya adalah bukan meminta atau memohon, melainkan mengalami kedekatan dengan Tuhan melalui ketenangan dan ketakjuban. Dalam kondisi meditasi, seseorang mencoba untuk fokus pada hadirat Tuhan dan membiarkan pikiran bekerja secara alami untuk mencapai pengalaman spiritual.

    Konsentrasi dan fokus

    Praktik doa sebagai meditasi dapat memberikan manfaat kesehatan fisik dan mental yang signifikan, seperti mengurangi stres, meningkatkan konsentrasi dan fokus, serta meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan secara keseluruhan. Selain itu, doa sebagai meditasi dapat membantu seseorang merasa lebih dekat dengan Tuhan dan memperdalam hubungan spiritual dengan-Nya.

    Untuk memulai doa sebagai meditasi, ada beberapa langkah yang dapat diikuti. Pertama, pilihlah doa atau mantra yang sesuai dengan kebutuhan spiritual Anda. Kemudian, carilah tempat yang tenang dan nyaman untuk duduk.

    Setelah itu, mulailah dengan bernafas secara perlahan dan dalam, dan fokuskan perhatian pada doa atau mantra yang dipilih. Jangan biarkan pikiran terganggu oleh pikiran atau kekhawatiran lainnya, tetapi biarkan pikiran tetap terfokus pada doa atau mantra selama beberapa menit. Ulangi proses ini setiap hari selama beberapa menit.

    Dalam praktik doa sebagai meditasi, seseorang tidak perlu menjadi ahli dalam meditasi atau memiliki pengetahuan tentang teologi yang mendalam. Yang dibutuhkan hanyalah kepercayaan dan keyakinan pada Tuhan serta kemauan untuk merenungkan-Nya dengan pikiran dan hati yang terbuka.

    Dalam kesimpulan, doa sebagai meditasi adalah sebuah praktik spiritual yang dapat memberikan manfaat kesehatan fisik dan mental, serta membantu seseorang merasa lebih dekat dengan Tuhan. Dengan mengalami ketenangan dan ketakjuban dalam doa, seseorang dapat memperdalam hubungan spiritual dengan-Nya.

    Melibatkan pikiran, imajinasi, emosi dan hasrat

    Dalam konteks yang sama itu, Pastor Peter John Cameron OP dalam tulisannya “Prayer as meditation” diterbitkan pada 03/12/23 juga menjelaskan serupa dengan itu. Katekismus menjelaskan bahwa meditasi “melibatkan pikiran, imajinasi, emosi, dan hasrat”.

    Dia menjelaskan tentang, apakah manusia sedang mencari cara untuk berdoa yang “menerangi pikiran, membuat pemahaman bersinar, mengisi hati dengan sukacita, menenangkan amarah, menghilangkan amarah, mengusir kepahitan dan pikiran jahat, melenyapkan sifat lekas marah, mengusir kemalasan, dan mencairkan pikiran kita? pikiran jahat?” Itu, kata St. Yesaya sang Pertapa abad ke-5, adalah apa yang akan dilakukan meditasi. “Meditasi adalah cermin bagi pikiran dan cahaya bagi hati nurani. Darinya lahir kelembutan yang menghangatkan dan meluluhkan jiwa.”

    Dalam tulisannya juga dikutibnya Katekismus Gereja Katolik yang berbicara tentang meditasi sebagai “pencarian” di mana “pikiran berusaha memahami mengapa dan bagaimana kehidupan Kristiani, untuk mematuhi dan menanggapi apa yang diminta Tuhan” (2705). Meditasi “melibatkan pikiran, imajinasi, emosi, dan hasrat” untuk “memperdalam keyakinan iman kita, mendorong pertobatan hati kita, dan memperkuat keinginan kita untuk mengikuti Kristus” (2708).

    Ketika seseorang bermeditasi, maka ia harus diam dan menenangkan diri, menyerahkan diri ke Hadirat Tuhan. “Meditasi berarti menyadari suatu kebenaran sedemikian rupa sehingga terungkap di depan mata Anda sehingga Anda dapat menembusnya” (L. Giussani). Karena meditasi “menunjukkan kepada kita apa yang kita inginkan” (St. Bernard).

    Meditasi memerlukan pengingatan kembali dan perenungan. Paus Benediktus XVI mencatat bahwa meditasi “berarti ‘mengingat’ apa yang telah Allah lakukan dan tidak melupakan semua karunia-Nya kepada kita. Meditasi adalah cara di mana pikiran kita melakukan kontak dengan hati Tuhan.” Dan kontak itu memberikan penghiburan dan kekuatan bagi hati kita sendiri.

    Pastor Peter John Cameron OP juga menjelaskan tentang merefleksikan pengalaman meditasi yang mendalam, Hamba Tuhan Elisabeth Leseur, mendorong setiap orang:

    “Meditasi adalah pengumpulan diri ke dalam keberadaan seseorang yang paling dalam ke titik di mana, dalam membungkam hal-hal lahiriah, Tuhan ditemukan. Di sana Anda akan menemukan sumber segala kebaikan, kekuatan, dan keindahan—Tuhan. Di sana Anda akan memahami kelemahan Anda sendiri dan semua yang dapat Anda lakukan di bawah ini demi kebaikan,” tulis Pastor Peter John Cameron OP dalam Aleteia.

    Penulis: Samuel- DUTA/KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Olahan dari Aleteia 

    Kehadiran ChatGPT (Artificial Intelligence) dan Eksistensi Manusia? Dengarkan Pesan Romo Hari Suparwito SJ

    127# BINCANG MOTV "Ngobrolin Artificial Intelligence" bersama Rm. Hari Suparwito SJ

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Bersama dalam BINCANG MOTV “Ngobrolin Artificial Intelligence” bersama Romo Hari Suparwito SJ sebagai narasumber dan Romo Murti SJ sebagai Host dalam podcast MOTV di Channel Youtube SAV- USD (Audio Visual Training and Production Center). Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan kehadiran ChatGPT, teknologi Artificial Intelligence (AI) yang  bisa mengerjakan tugas yang selama ini hanya bisa dilakukan oleh manusia.

    Kemampuannya untuk mengumpulkan informasi dan menjawab dengan cepat pertanyaan yang diberikan membuat banyak orang kagum. Di masa depan diprediksi banyak pekerjaan akan dikerjakan oleh tenaga AI.

    Ada kekhawatiran teknologi Artificial Intelligence akan menggeser eksistensi manusia. Haruskah kita takut dan khawatir dengan kehadiran AI?

    Bincang MOTV kali ini akan mengupas tentang Artificial Intelligence (AI) bersama dengan Romo Hari Suparwito SJ, dosen Teknologi Informatika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

    Menurut Romo Hari SJ, Artificial Intelligence merupakan teknologi yang diciptakan oleh manusia yang keberadaannya bisa dipergunakan untuk kebaikan manusia.

    Kehadirannya semestinya menjadi tantangan bagi kita untuk semakin menjadi manusia. Semakin menumbuhkan aspek moral dan etika, empati dan kepedulian. Aspek-aspek yang tidak dimiliki oleh Artificial Intellegence.

    Jadilah Manusia seutuhnya

    Memasukin pertengahan diskusinya, Romo Hari SJ secara terang-terangan memberikan komentar tentang keberadaan AI maupun apapun teknologi dari dulu sampai sekarang selalu memiliki dua sisi. Apakah teknologi itu menguntukkan atau apakah teknologi itu bisa merugikan.

    “Saya selalu punya pikiran begini, kalau saya mau bicara tentang teknologi, itu kedepan misalnya sekarang itu komputer atau manusia? Bukan begitu,” kata Romo Hari SJ.

    Dia menegaskan bahwa jika boleh dikatakan kedepan, kalimat Romo Hari SJ akan mengubahnya menjadi kalimat “sekarang itu, atau kedepan itu adalah manusia dan komputer. Jadi artinya, kalau saya memakai ‘dan’ maka itu bukan sebuah ancaman, justru itu bagaimana kita memanfaatkannya,” kata Romo Hari SJ menjawab pertanyaan kekhawatiran tentang AI ke depan.

    Menurut Romo Hari SJ, orang-orang yang terancam adalah orang-orang yang tidak mau berubah. Lalu,” lanjut Romo Hari, supaya tidak terancam jadilah manusia”.

    “Mengapa saya katakan itu? AI sampai sekarang belum mempunyai emosi. Itulah yang membedakan manusia dan teknologi,” kata Romo Hari SJ sembari senyum lebar menjawab masalah tersebut.

    Dia juga menganalogikan secara teknis dalam bidang guru dan dosen,  Romo Hari SJ menegaskan untuk tidak menjadi pendidik yang ‘robot’, itu pasti dihantam oleh AI. Menurutnya yang paling penting adalah menjadi guru atau pendidik yang empati, dosen yang bisa mendekati anak-anak “kalau di Sanata Dharma itu ya berarti cerdas humanis,” tambah Romo Murti SJ sebagai Host dengan gelak tawa wawancara.

    Romo Hari SJ juga menggarisbawahi keterangannya yang menyangkut pola yang tidak AI miliki, sebagai pembeda dari AI dan manusia. Contoh konkret adalah bekerja dengan pekerjaan-pekerjaan yang berulang kemungkinan besar kedepan akan digantikan AI.

    Romo mencontohkan juga misalnya seorang perawat yang bekerja dengan penuh perhatian itulah yang tidak bisa digantikan oleh AI, kemudian akhirnya kata teknologi ‘dan’ manusia itu berjalan bersama di dalam kehidupan bermasyarakat.

    Menutup artikel ini, ada yang menarik dari kutipan kata Romo Hari SJ, dalam durasi yang ke 20 s/d 08 detik dan video seterusnya. Dia menggarisbawahi kalau misalnya robot sampai pada titik dimana kemampuan teknologi yang sudah bisa mendeteksi aroma dan perasaan tertentu seperti kita manusia. Sekarang kembali kemanusianya lagi, karena bagaimanapun juga kecerdasan buatan itu manusia yang menanamkannya ke sana.

    “Justru mereka dikatakan kecerdasan buatan karena mereka itu meniru kita. Ingat lho jangan kita yang meniru robot. Lalu persoalan akan kembali ke manusianya,” kata Romo Hari SJ.

    AI tak akan bisa menggantikan manusia

    Melihat obrolan dalam kanal Yotube ini, ada nilai-nilai yang bisa kita petik bersama-sama. Paling tidak garis besarnya bisa kita katakan bersma-sama bahwa keberadaan AI tidak akan bisa menggantikan keberadaan eksistensi manusia sebagai manusia yang utuh.

    Oleh karenanya, seturut apa yang ditegaskan oleh Romo Hari SJ, jadilah manusia jangan jadi robot. Sebab robot dalam hal ini AI menjiplak dan mempelajari data-data yang manusia berikan dari hasil kreasi manusia bukan malah sebaliknya manusia yang menjiplak apa yang disuguhkan oleh AI. Semoga!!!

    Penulis: Samuel- DUTA/KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Podcast- 127# BINCANG MOTV “Ngobrolin Artificial Intelligence” bersama Rm. Hari Suparwito SJ

    Ini adalah salah satu doa tertua untuk St. Joseph

    Renata Sedmakova / Shutterstock

    MajalahDUTA.Com, DOA– Doa kepada St. Joseph ini berasal dari abad ke-4 atau ke-5.

    Sementara devosi kepada St Yosef dapat ditelusuri kembali ke Gereja mula-mula, hanya ada segelintir doa dan gereja yang dipersembahkan kepadanya selama milenium pertama.

    Salah satu doa tertua untuk St. Joseph adalah prasasti singkat satu kalimat yang ditulis dalam bahasa Yunani.

    Buku abad ke-19, The Life and Glories of St. Joseph, mengenang doa singkat ini.

    Prasasti Yunani yang ditorehkan pada sebuah permata dari abad keempat atau kelima yang diungkapkan oleh Cavedoni berbicara banyak tentang keyakinan penuh kasih yang diberikan kepadanya oleh orang-orang Kristen mula-mula.

    Demikianlah bunyinya, “Wahai Yusuf, bantulah aku dalam pekerjaanku dan berilah aku rahmat.”

    Ini adalah salah satu dari sedikit doa yang dapat dilacak dengan pasti ke abad-abad awal Gereja, dan merupakan bukti bahwa devosi kepada St. Yosef hadir di antara orang-orang Kristen pertama.

    Penulis: Samuel – DUTA/KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Aleteia, Philip Kosloski – diterbitkan pada 17/03/23

    Uskup Agustinus: Gereja Sangat Peduli dengan Kalian TNI & Polri di Kalimantan Barat

    Pastor Yos Bintoro wawancarai Uskup Agustinus- Pagi hari di Gedung Pusat Pastoral Keuskupan Agung Pontianak dengan latar Gereja Katedral Santo Yoseph Pontianak pada Rabu15/03/2023

    MajalahDUTA.Com, Pontianak– Rabu pada 15 Maret 2023 sebelum keberangkatan Rombongan Kardinal Ignatius Suharyo, Pastor Yos Bintoro sempat mewawancarai Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus terkait pesannya kepada umat Katolik TNI dan Polri di Kalimantan Barat.

    Berdiri dilantai 7 Gedung Pastoral Keuskupan Agung Pontianak dengan latar Gereja Katolik Santo Yoseph Katedral Pontianak, video Pastor Yos Bintoro yang berdurasi 2 s.d 42 detik itu sarat akan harapan Uskup Agustinus kepada generasi muda khususnya untuk umat Katolik TNI dan Polri di Kalimantan Barat.

    Dalam cuplikan singkat itu Pastor Yos mengawali dengan sapaan pagi untuk netizen dan mengucapkan salam sehat berlimpah berkat “bersama saya dan Uskup Keuskupan Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus,” kata Pastor Yos.

    Pastor Yos juga sekalian menunjukkan latar yang digunakan yaitu Gereja Katolik Santo Yoseph Katedral Pontianak juga memuji Katedral Pontianak dan dia juga mengaku bahwa “mungkin ini gereja termegah di seluruh Indonesia, Katedral yang dihadirkan oleh Monsinyur Agustinus Agus. Katedral Gereja Santo Yoseph- kebetulan nama saya Santo Yoseph Monsinyur,” kata Pastor sembari membuka podcast singkat pagi hari itu (15/3).

    Dalam pengantar video Pastor Yos Bintoro juga menguncapkan banyak terima kasih dan mengapresiasi bahwa Uskup Agustinus seharian mendampingi rombongan Uskup TNI dan Polri.

    Mulai dari penjemputan ke bandara, mendampingi ke KODAM XII Tanjungpura, juga ikut ke Kapolda Kalimantan Barat dan tentunya menyajikan sajian penyambutan dari santap siang hingga acara ramah tamah usai perayaan ekaristi di malam pada Selasa (14/3).

    Pesan Uskup Agustinus

    “Monsinyur punya pesan kepada para tentara dan polisi seluruh Indonesia. Pesan Monsinyur kira-kira supaya kita yang berkarya di kedinasan dan juga menjaga kedaulatan dan keamanan negara betul-betul memiliki semangat Kristus,” tanya Pastor Yos kepada Uskup Agustinus.

    Momen itu Uskup Agustinus pertama-tama mengucapkan terima kasih atas kunjungan Kardinal sebagai Uskup khusus TNI dan Polri yang beragama katolik.

    Uskup Agustinus juga mengatakan sejak ada tawaran untuk membentuk ditingkat Keuskupan pastor yang khusus untuk umat katolik yang berada di TNI dan Polri sangat disambut baik oleh nya.

    “Karena saya menyadari kelompok ini sangat besar peranannya terutama bagi ketahanan negara, kok gereja sampai sekarang kurang perhatikan,” kata Uskup Agustinus.

    Oleh karenanya, lanjut Uskup Agustinus – beberapa tahun lalu di Pontianak juga didirikan tentu dengan plus dan minus nya. Tetapi menurut Uskup Agustinus paling tidak gerakan itu adalah bentuk kepedulian.

    “Dalam hal ini sebagai Uskup Agung Pontianak, bentuk kepedulian Keuskupan Agung Pontianak terhadap TNI dan Polri yang beragama Katolik. Karena bagaimanapun mereka juga umat kita bahkan peranannya lebih dari umat katolik yang biasa,” kata Uskup Agustinus.

    Lanjut dari itu, Uskup Agustinus berpesan kepada TNI dan Polri yang beragama Katolik khususnya yang ada di Pontianak Kalimantan Barat, untuk tetap yakin dan menegaskan bahwa gereja sangat memperhatikan kelompok itu.

    “Kami mendoakan kalian,” lanjut Uskup Agustinus, kita sekarang sedang mencari bentuk-bentuk gaya pastoral dan kebijakan pastoral seperti apa. Bentuk sekarang yang kita lihat adalah membuka juga Pastor TNI dan Polri. Tentu dengan kekurangan imam ini sesuatu yang menjadi polemik menjadi jelas tetapi kedepan pelayanan menjadi jelas, demikian yang bisa saya sampaikan, Gereja sangat peduli dengan kalian TNI dan Polri.

    Penulis: Samuel – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak
    Copyright: Majalah DUTA Keuskupan Agung Pontianak (Online)

    TERBARU

    TERPOPULER