Friday, April 24, 2026
More
    Home Blog Page 97

    Manusia Menjadi Dirinya dalam Homo Laborans

    Potret Abstrak Tentang Realitas Kerja Manusia

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA- Manusia menjadi dirinya sejauh dia keluar dari dirinya sendiri. Demikian salah satu kalimat sulit dari filsafat Existensialis yang dipelopori oleh Kierkegard, penduduk Kota Wina, Austria. Homo laborans adalah istilah yang berasal dari bahasa latin. Artinya secara umum adalah manusia pekerja. Kata homo adalah manusia, dan kemudian ada beberapa kata yang dipadangkan pada homo tersebut. Misalnya homo erectus, homo sapiens dsb.

    Kalimat sulit itu akan segera menjadi jelas kalau diterjemahkandengan kalimat populer. Misalnya begini: Seseorang yang bertukang dengan menggunakan materi kayu akan disebut “tukang kayu.” Demi kian juga seorang yang selalu memangkas rambut orang akan disebut: “Tukang pangkas.” Professi itu disebut dengan istilah “keluar dari dirinya sendiri.”

    Begitulah seorang menjadi tukang kayu dengan bertukang kayu. Seorang disebut pemain bola dengan berprofessi bermain bola.

    Filsafat Existensialis sangat menekankan penampilan orang sejajar dengan -pekerjaan dan karyanya. Dan dengan demikian pula filsafat yang dapat disebut filsafat kristen ini sangat menghargai karya tangan manusia.

    Penghargaan kekristenan atas pekerjaan manusia itu tidak dapat disebut berlebihan, karena di dalam Kitab Kejadian sendiri, Yahwe Allah menugaskan manusia berkarya dengan, menaklukkan bumi dan segala isinya.

    Karena itu pula, hakekat manusia begitu menyatu dengan pekerjaannya, sehingga manusia disebut makhluk yang bekerja, atau dalam bahasa latin disebut Homo Laborens.

    Memang pernah dulu, ‘bekerja” (laborare) dianggap hanya sepadan dengan status para budak dan kaum proletariat, karena bekerja itu sama dengan suatu kegiatan yang manual dan kotor serta tidak memerlukan kemampuan intelektualitas.

    Sedangkan kemampuan berfil safat, berfikir dianggap jauh lebih mulia dari bekerja.

    Zaman memanguntunglah, kiniberubah. “Bekerja” merupakan suatu hal yang bergengsi. Orang yang tidak “bekerja” merasa kikuk dan bersalah. Pekerjaan yang paling diinginkan ialah professi yang sedikit ‘kerja”-nya tetapi besar pendapatannya.

    Tetapi kalau hal itu tidak memungkinkan lagi, maka orang mau saja kerja apa saja asal “bekerja”, dan tidak menganggur. Dengan dibayar Rp 30 ribu Orang mau berbuat sesuatu yang nekat sekali pun, walau dia sadar hal itu tidak baik.

    Menggangur

    Sebab momok yang agak menakutkan bagi banyak orang ialah “menganggur” itu. Menganggur dianggap suatu hal yang sangat memalukan, karena selain dianggap kurang bernasib, juga dianggap sebagai suatu manifestasi ketidak mampuan atau impotensia berkarya dan tersingkir.

    Karena itu terkadang nampak anakanak orang kaya yang membuka usaha bukan demi mendapatkan untung atau uang -karena dia sudah terjamin dalam hal itutetapi demi demi sesuatu pengakuan masyarakat dan menenangkan diri dari rasa bersalah atas tuduhan parasit terhadap kekayaan orang-tuanya.

    Namun, walaupun bekerja adalah suatu gengsi, tujuan utama bekerja tidaklah pernah lepas sama sekali dari kepentingan mencari nafkah. Pekerjaan yang disebut professi itu kerap kali dijadikan orang sebagai patokan sperolehan seseorang.

    Professi yang juga sering disebut ‘masa bakti” atau ‘pembaktian” itu sebenarnya kerkapkali tidak mengandung isi apa yang pantas disebut dengan istilah berbakti.

    Karena tujuan utamanya adalah meraup perolehan sebanyak-banyaknya. Karena itu juga tidak heran cukup banyak yang memanfaatkan professinya sebagai sarana untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya dengan cara legal atau tidak. Dan bagaimana kalau seseorang yang merasa dirinya berbakti, atau pekerjaannya dipotong?

    Mungkin sekali orang akan merasakan kehilangan bukan hanya pekerjaannya, tetapi juga identitasnya dan harga dirinya itu mata gelap. Karena pekerjaannya yang disebut ‘laborens” itu ada nafkah, gengsi, dan prestasi dan kebanggaan.

    Dan reaksi atas intervensi dan distorsi atas karier dan professi seseorang tentu ada juga riak gelombang. Manusia memang manusia bekerja, “homo laborens’.

    Tetapi bekerja bukan hanya monopoli manusia, tetapi menurut filsafat INDIA juga dewa dewi MISALNYA DEWA SHIWA YANG DARI SIFAT ASLINYA ADALAH MERUSAK APA YANG SUDAH DIKERJAKAN DEWA-DEWA LAIN.

    Jalan Kemiskinan

    MajalahDUTA.Com, Spritualitas– Jalan kemiskinan dan penyangkalan diri (puasa), kepedulian dan tindakan cinta untuk kemanusiaan yang terluka (sedekah), dan dialog akrab dengan Bapa (doa) memungkinkan kita untuk menjelma iman yang tulus, harapan yang hidup, dan aktif amal.

    Paus Fransiskus

    Mohon Bimbingan Mu “Tuhan”

    DOA HARI INI, MajalahDUTA.Com– Allah Bapa sumber belas kasih, semoga kerahiman-Mu membersihkan dan menguatkan umat-Mu.

    Bimbinglah kami dengan rahmat-Mu, karena tanpa Engkau kami takkan mungkin selamat.

    Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa.

    Amin.

    Bagaimana Santo Yosep adalah model untuk memenuhi kehendak Allah

    Santo Yosep

    MajalahDUTA.Com, Spritualitas- Santo Yosep segera menanggapi panggilan Tuhan dan mengesampingkan ketakutannya untuk merangkul panggilannya. Sikap hati yang terbuka akan rencana Allah itu ditunjukkan dalam kepenuhannya untuk menerima apa yang Allah kehendaki.

    Meskipun dia tidak tahu apakah keputusannya baik untuknya namun dia memilih mendengarkan panggilan Allah dan dikuatkan oleh hati nurani yang menjembatani keberaniannya itu.

    Santo Yosep tetap menjadi teladan sempurna bagi kita dalam mengikuti kehendak Tuhan dalam hidup kita. Meskipun memiliki ketakutan dan kekhawatirannya sendiri, dia mengesampingkan semuanya untuk menanggapi bisikan Tuhan.

    Santo Yosep siap untuk menceraikan Bunda Terberkati dan melanjutkan hidupnya, tetapi ketika malaikat datang kepadanya untuk menyampaikan pesan Tuhan, dia segera mengubah haluan.

    Ketika Yusup terbangun dari tidurnya, dia melakukan seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan kepadanya; dia mengambil istrinya, tetapi tidak mengenalnya sampai dia melahirkan seorang putra; dan dia menyebut namanya Yesus.

    Matius 1:24-25

    Paus Benediktus XVI merenungkan kehidupan Santo Yosep dalam pesan Angelus pada tahun 2006, mengenang bagaimana kesetiaannya kepada Allah merupakan teladan sempurna bagi kita.

    “Dari teladan Santo Yosep kita semua menerima undangan yang kuat untuk melaksanakan dengan kesetiaan, kesederhanaan dan kerendahan hati tugas yang dipercayakan kepada kita.

    Saya memikirkan terutama ayah dan ibu dari keluarga, dan saya berdoa agar mereka selalu dapat menghargai keindahan hidup sederhana dan rajin, memupuk hubungan suami istri dengan hati-hati dan memenuhi dengan semangat misi pendidikan yang besar dan sulit,” ungkapnya.

    Santo Yosep menanggapi panggilan Tuhan dengan hati yang murah hati, rela mengesampingkan rencananya untuk mengejar rencana Tuhan.

    Teladannya mengingatkan kita akan tugas kita untuk tetap setia pada panggilan yang Tuhan telah panggil untuk kita, tidak membiarkan rasa takut menguasai kita, tetapi percaya pada rencana pemeliharaan Tuhan.

    Pembinaan Peserta Didik Katolik Kota Singkawang

    Kementerian Agama Republik Indonesia Kota Singkawang melalui biro Penyelenggara Katolik/BIMAS Katolik

    MajalahDUTA.Com, Singkawang- Kementerian Agama Republik Indonesia Kota Singkawang melalui biro Penyelenggara Katolik/BIMASKatolik mengadakan kegiatan pembinaan peserta didik Katolik Tingkat Sekolah Dasar, Menengah Pertama dan Menengah Atas (SD/SMP/SMA) se kota Singkawang 8/03/23.

    Kegiatan dengan tema “Pembinaan Iman sebagai Alur Moderasi dan Toleransi Beragama, dibuka oleh Kepala Kantor Kemenag Kota Singkawang, Drs.H.Muhlis, M.Pd. dalam sambutannya mengajak para peserta didik sebagai insan terpelajar untuk mengilhami nilai-nilai moderasi dan toleransi dalam terapan, baik dilingkungan sekolah maupun di masyarakat.

    Sementara itu, Ketua Panitia, Elisabet Eli Yohanis menjelaskan, dengan terselenggaranya kegiatan tersebut diharapkan mampu merefleksikan kesadaran diri sebagai citra Allah, membangun kebajikan dan menerapkan bermoderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari serta membantu dalam usahanya meningkatkan kehidupan rohani yang lebih baik dan menjadikan Peerta Didik Katolik yang unggul, mampu mengejawatahkan ajaran Iman kristianinya sebagai murid-murid Yesus dimasa revolusi mental sekarang ini.

    Kegiatan selama satu hari ini, menghadirkan narasumber diantara Kepala Kantor Kemenag Kota Singkawang, RD Victorius Reno,Pr.,RP. Yosep Ekatom, OFMCap, dan BNN Kota Singkawang.

    OPEN HOUSE dan TEMU ALUMNI SMP – St. Aloysius Gonzaga Nyarumkop

    MajalahDUTA.Com, Nyarumkop, 3/3/23.– Setiap tanggal 9 Maret dalam kalender liturgi Katolik merayakan Pelindung Santo Aloysius Gonzaga. Aloysius Gonzaga adalah Santo Pelindung Kaum Muda Katolik yang dilambangkan dengan seorang rohaniwan dan bunga Lili.

    Banyak sekolah-sekolah Katolik mengambil nama Santo Aloysius Gonzaga sebagai pelindung sekolahnya. Satu diantaranya adalah SMP Santo Aloysius Gonzaga Nyarumkop-Singkawang. Sekolah dengan Bercirikan religiusitas ini memberikan pelayanan pendidikan sekolah berasrama baik Putra dan Putri serta terbuka bagi masyarakat umum Singbebas (Singkawang,Bengkayang,Sambas) dan kabupaten kota lainnya di Kalimantan Barat.

    Mengambil tema “Menjadi Aloysian yang Kreatif dan Inovatif di Era Digital” akan menggelar serangkaian kegiatan diantaranya kompetisi antar Sekolah Dasar sekecamatan Singkawang Timur, Kecamatan, Monterado, dan Kecamatan Samalantan. Lomba Cura Personalis antar warga Sekolah, dan Temu alumni SMP Santo Aloysius Gonzaga, yang dikenal dengan SMP Timonong di era tahun 70-an.

    Menurut Ketua Panitia, Venansius, kegiatan dilaksanakan selama tiga hari ini (9-11 Maret 2023) melibatkan seluruh warga sekolah dan para orang tua/wali peserta didik.

    Dijelaskan oleh Venansius, harapannya, SMP Santo Aloysius Gonzaga semakin dikenal luas sebagai sekolah pendidikan Katolik terbaik dengan membentuk karakter peserta didik melalu kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

    Salah satu pembinaan karakter tersebut adalah melalui pendampingan Cura Personalis dan implementasi Kurikulum Merdeka untuk pengembangan bakat peserta didik di bidang seni musik dan budaya.

    Harapan selanjutnya adalah dukungan dari alumni berupa ide dan gagasan yg segar dan nyata dialami oleh para alumni sebagai barometer peningkatan mutu layanan pendidikan di SMP Santo Aloysius Gonzaga agar para Aloysian siap bersaing kedepannya terutama sebagai persiapan kita menyongsong ibu kota negara yg tidak jauh dari kita.

    melalui tema Menjadi Aloysian yg Kreatif dan Inovatif di Era Digital, kita mengajak para aloysian untuk melek teknologi dimana saat ini mereka pada halaman buku digital yang menjadi konsumsi masyarakat kedepan sehingga Aloysian juga mampu menghadapi arus teknologi digital yg terus berevolusi di masa yang akan datang.

     

    Dua Romo Diosesan Misa Perdana di Paroki St. Pius X Bengkayang

    Acara Ramah Tamah, Sumber Foto: Oyent Andreas – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Bengkayang – Romo Diosesan yang baru ditahbiskan mengadakan tour Misa Perdana di sejumlah Paroki di Keuskupan Agung Pontianak. Misa Perdana ini dimaksudkan untuk memperkenalkan diri dan mohon restu kepada seluruh umat dalam penggembalaannya. Bengkayang, 28/2/23.

    Di hadiri oleh ratusan umat, Misa Perdana didampingi Pastor Paroki, RD Subandi Selaku Pastor Paroki mengucapkan terima kasih dan bersyukur atas Perayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh dua RD Cristianus Atun dan Yakobus Pagar Witin.

    Baca Juga: Keadilan Ekologis bagi seluruh ciptaan

    “Kami dan beserta Umat Paroki Santo Pius X kepada Keuskupan Agung Pontianak atas peristiwa Misa Perdana ini dan bergembira memperoleh satu Imam baru yang akan berkarya di Paroki Santo Pius. Seperti diketahui Paroki Santo Pius X Bengkayang memiliki jangkauan pelayanan 13 Stasi”.

    Setelah Misa, acara dilanjutkan dengan acara ramah tamah bersama DPP, WKRI, serta umat dan dihadiri oleh Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak. Proficiat!.

    Keadilan Ekologis bagi seluruh ciptaan

    Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus

    MajalahDUTA.Com, Pontianak– “Keadilan Ekologis bagi seluruh ciptaan”. ( Semakin Mengasihi dan Lebih Peduli ).

    Saudara-saudari umat kristiani yang terkasih,

    Pada tgl. 22 Februari 2023,kita merayakan Hari Rabu Abu, hari dimulainya masa prapaskah yang lebih sering dikenal dengan“masa puasa” atau “masa tobat” selama 40 hari. Masa tobat adalah masa dimana kita semua diajak “untuk mengoyakan hati dan berbalik kepada Allah, Pencipta langit dan bumi” (Bdk.Yoel.2:12-18).

    Tobat adalah soal hati namun perlu diungkapkan dengan cara-cara yang nyata bukan hanya secara pribadi tetapi juga secara bersama-sama sebagai Keluarga Besar Umat Allah.

    Tobat diungkapkan dengan doa, pantang-puasa dan amal-kasih yang diarahkan kepada Allah Bapa Sang Pencipta. Bukan untuk pamer apalagi gengsi.

    Tahun ini tema APP Nasional adalah “Keadilan Ekologis bagi Seluruh Ciptaan”.

    Keadilan ekologis berarti adil terhadap sesama manusia (sosial) sekaligus adil terhadap ciptaan lainnya.

    Keadilan ekologis bertumpu pada prisip bahwa seluruh ciptaan saling terhubung dan tergantung satu sama lain.

    Bagi kita umat kristiani kepedulian akan keadilan ekologis bagi seluruh ciptaan adalah bagian dari pewartaan. Dalam Markus.16,15 dikatakan “Pergilah keseluruh dunia dan beritakan Injil kepada segala mahkluk”.

    Rusaknya lingkungan hidup mengakibat “krisis iklim”, dimana cuaca, musim hujan atau musim kemarau tidak bisa diperkirakan kapan akan terjadi. Dibumi Kalimantan Barat ini (mungkin juga untuk seluruh bumi Kalimantan, 3 tahun terakhir ini musim buah pun tidak menentu. Secara nyata ini tentu berdampak pada berkurangnya penghasilan bagi petani-petani  kecil di kampung-kampung, di pedesaan atau di pesisir pantai’.

    Dampak perubahan iklim berdampak pula pada menurunnya kualitas dan kuantias air dan tanah, punahnya keanekaragam hayati, berkurangnya luas dan kualitas hutan, memburuknya kesehatan, serta menurunnya kualitas dan kuantitas lahan pertanian.

    Kita sedih melihat kenyataan bahwa hutan yang  menjadi sumber hidup baik bagi manusia maupun hewan-hewan ( sumber air bersih, kayu untuk bahan bangunan, habitat bagi hewan-hewan baik yang ada didalam air darat dan udara) menjadi rusak akibat diolah dengan tidak memperhatikan aturan yang berlaku dan berkeadilan serta tidak dihargai hak-hak petani-petani asli khususnya yang tinggal dikawasan hutan.

    Bahkan hati kita miris ketika masyarakat miskin  yang tinggal dikawasan hutan dituding sebagai perusak lingkungan/pembakar hutan, yang ditindak secara tidak adil tanpa ada solusi/jalan keluar yang nyata dan berkeadilan serta berkesinambungan. Padahal apa yang mereka lakukan hanya demi sesuap nasi.

    Hati kita miris melihat kenyataan bahwa mereka diasingkan dari tanahnya sendiri yang sudah mereka huni sejak nenek-moyang mereka ratusan tahun yang lalu, seolah-olah tidak diperhitungkan.

    Saudara-saudari umat kristiani yang terkasih.

    Diantara segala ciptaan, manusia adalah satu-satunya mahluk yang diciptakan menurut citra Allah( Kej.1,27).

    Sebagai citra, atau gambar Allah, manusia adalah rekan kerja Allah dalam “mengusahakan dan memelihara ciptaan” ( bdk.Kej.2:15 ).

    Ketika para Missionaris katolik pertama berkarya di bumi Kalimantan, pada permulaan abad ke- 19, yang pertama-tama mereka lakukan selain membuka sekolah-sekolah dan rumah sakit, mereka juga membawa bibit karet unggul di daerah Sejiram, Kabupaten Kapuas Hulu. Mendirikan pelatihan pertanian bagi petani tradisional. Artinya sangat jelas bahwa para missionaries tersebut sudah melihat sangat jauh kedepan bahwa masyarakat yang tinggal di  kawasan hutan, tidak bisa bertahan dengan cara bertani yang tradisional dan memberikan jalan keluar yang nyata agar mereka terbebaskan dari belenggu kemiskinan.

    Perhatian dan kepedulian gereja nyata terhadap masalah-masah sosial-ekonomi sangat dirasakan, bukan hanya oleh orang katolik tetapi masyarakat lain tanpa membeda-bedakan.

    Saudara-saudari umat kristiani yang terkasih.

    Tuhan Yesus karena kasihnya yang tanpa batas, rela menderita dan wafat dikayu salib agar kita, manusia yang penuh dosa ini bisa diselamatkan.

    Kita hidup dan selamat karena kasih Tuhan.

    Dalam masa tobat ini, baiklah kita renungkan, bagaimana kita dapat membalas kasih Tuhan itu.

    Dalam Injil Mateus 25:40 dikatakan “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”.

    Dalam hubungannya dengan tema keadilan Ekologis bagi seluruh ciptaan, sebagai ungkapan kasih kita kepada Tuhan Yesus, maka sangat wajar kita juga dipanggil untuk lebih peduli dan dan lebih mengasih “saudara-saudariku yang menjadi korban dari ketidak adilan dalam “mengusahakan dan memelihara” ciptaan. Mereka ini juga bisa kita golongkan sebagai “saudaraku yang paling hina” karena pada kenyataannya mereka tidak dianggap atau diperhitungkan.

    Tentu ini sesuai dengan perandan kedudukan kita masing-masing dalam masyarakat, baik sebagai pribadi, maupun sebagai bagian dari kelompok-kelompok /lembaga/organisasi/institusi dan lain-lain. Sebut saja misalnya, selain pribadi, bisa juga sebagai keluarga, Paroki, Keuskupan, Lembaga-lembaga Pendidikan dari SD sampai Perguruan Tinggi, Rumah Sakit/Klinik Kesehatan, Lembaga Hidup Bhakti, dunia bisnis, Kelompok-kelompok/Komunitas gerakan.

    Semua diundang untuk lebih peduli dan lebih aktif lagi dalam melindungi alam ciptaan dan saudara-saudara “yang paling hina” yang rentan dan tersingkir akibat “krisis iklim” ini.

    Kita juga dipanggil untuk berani menyuarakan jeritan-jeritan dan membela orang-orang kecil yang menderita akibat kebijakan-kebijakan yang diambil dalam pengelolaan dan pemeliharaan alam ciptaan yang masih jauh dari “berkeadilan”.

    Dalam menjalani masa tobat ini, marilah kita renungkan kembali firman Tuhan ini:

    “Beginilah firman Tuhan: berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Yoel.2,12-13).

    Pontianak, pada Hari Rabu Abu,  22 Februari 2023, Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak.

    Padre Pio, Bernard dari Clairvaux dan Luka Bahu Kristus

    Padre Pio, Bernard of Clairvaux and the Shoulder Wound of Christ

    MajalahDUTA.Com- Dua orang suci yang agung dengan penuh doa, dan dengan rasa sakit, berbakti pada luka Sengsara Kristus, “tidak dicatat oleh manusia …”

    Apa persamaan mistik abad pertengahan St. Bernard dari Clairvaux dan biarawan modern St. Padre Pio? Demikian awalan naskah yang saya peroleh dari Aleteia tentang mistikus Padre Pio, Bernard dari Clairvaux terkait luka Kristus.

    Mereka berdua adalah orang suci, berbagi dalam upah kekal yang telah Tuhan siapkan untuk mereka. Tapi di luar itu, keduanya memiliki pengabdian yang tulus pada Luka Bahu Kristus.

    SAINT BERNARD DARI CLAIRVAUX, alias Santo Bernard merupakan kepala biara dan mistik Prancis yang membantu memperbarui Ordo Cistercian di abad ke-12, menceritakan dalam sejarah Clairvaux percakapan yang dia lakukan dengan Tuhan. Dia berdoa, bertanya kepada Yesus tentang penderitaan terbesarnya yang tidak tercatat; dan Tuhan menjawabnya:

    “Aku memikul Salib-Ku saat Aku memikul Salib-Ku di Jalan Kesedihan, Luka pedih yang lebih menyakitkan daripada yang lain, dan yang tidak dicatat oleh manusia. Hormati Luka ini dengan pengabdianmu, dan aku akan mengabulkan apa pun yang kau minta melalui kebajikan dan jasanya. Dan sehubungan dengan semua orang yang akan memuliakan Luka ini, Aku akan mengampuni mereka semua dosa ringan mereka dan tidak akan lagi mengingat dosa berat mereka.”

    ST PIO OF PIETRELCINA yang dikenal dengan Santo Padre Pio adalah biarawan Kapusin, imam dan mistikus. Ia meninggal pada tahun 1968. Padre Pio dikenal sebagai bapa pengakuan dan orang suci yang selama lebih dari 50 tahun menanggung luka Kristus (stigmata) di tangan dan kakinya.

    Dalam sebuah buku yang diterbitkan dalam bahasa Italia oleh biara St Pio, berjudul Il Papa e Il Frate, penulis Stefano Campanella melaporkan bahwa calon dari St Pio pernah melakukan percakapan yang sangat menarik dengan Karol Wojtyla, calon Paus St Yohanes Paulus II.

    Menurut Campanella, Fr Wojtyla bertanya kepada Padre Pio luka mana yang paling menyakitkan. Fr Wojtyla mengharapkan Padre Pio mengatakan bahwa itu adalah luka di dadanya; tetapi sebaliknya Padre Pio menjawab, “Ini adalah luka di bahu saya, yang tidak diketahui oleh siapa pun dan tidak pernah disembuhkan atau dirawat.”

    Pada tahun 2008, 40 tahun setelah kematian Padre Pio, penulis Frank Rega menulis tentang Padre Pio:

    “Pada suatu waktu Padra [sic] menceritakan kepada Frater Modestino Fucci, sekarang penjaga pintu di biara Padre Pio di San Giovanni Rotondo, Italia, bahwa rasa sakit terbesarnya terjadi ketika dia mengganti kaos dalamnya. Bruder Modestino, seperti Pastor Wojtyla, berpikir bahwa Padre Pio mengacu pada rasa sakit dari luka di dada. Kemudian, pada tanggal 4 Februari 1971, Bruder Modestino diberi tugas menginventarisasi semua barang di sel almarhum Padre di biara, dan juga barang-barangnya di arsip. Hari itu dia menemukan bahwa salah satu kaus dalam Padre Pio memiliki lingkaran noda darah di area bahu kanan.”

    Pada malam itu juga, Bruder Modestino meminta Padre Pio dalam doa untuk mencerahkannya tentang arti kaos dalam yang berlumuran darah itu. Dia meminta Padre untuk memberinya tanda jika dia benar-benar menanggung luka bahu Kristus. Kemudian dia pergi tidur, terbangun pada jam 1 pagi dengan rasa sakit yang luar biasa dan menyiksa di bahunya, seolah-olah dia telah diiris dengan pisau sampai ke tulang bahu. Dia merasa akan mati karena rasa sakit jika terus berlanjut, tetapi itu hanya berlangsung singkat. Kemudian ruangan itu dipenuhi dengan aroma wangi bunga surgawi – tanda kehadiran spiritual Padre Pio – dan dia mendengar suara berkata, “Inilah yang harus saya derita!”

    Lanjut lagi untuk St Bernard dari Clairvaux, setelah menerima pesan dari Kristus mengenai rasa sakit yang dialaminya di bahunya, berusaha untuk mengembangkan devosi kepada Luka Bahu Kristus, dan menulis doa ini:

    Doa untuk Luka Bahu Kristus

    Yesus yang paling pengasih, Anak Domba Allah yang lemah lembut, aku, seorang pendosa yang malang, salut dan menyembah Luka Mahakudus di Bahu-Mu tempat Engkau memikul Salib berat-Mu yang begitu merobek daging-Mu dan membeberkan Tulang-tulang-Mu sehingga menimbulkan penderitaan bagi-Mu lebih besar dari luka lain pada Tubuh-Mu yang Terberkati. Aku memuja-Mu, ya Yesus yang paling berduka; Aku memuji dan memuliakan-Mu, dan berterima kasih kepada-Mu atas Luka yang paling suci dan menyakitkan ini, memohon kepada-Mu dengan rasa sakit yang luar biasa itu, dan dengan beban yang menghancurkan dari Salib-Mu yang berat untuk berbelas kasihan kepadaku, orang berdosa, untuk mengampuni aku semua yang fana dan dosa ringan, dan menuntunku menuju Surga di sepanjang Jalan Salib-Mu. Amin. 

    Meski LANSIA tetap Semangat

    MajalahDUTA.Com, Santa Clara- Siapa bilang lansia tidak berguna? Kalimat disamping ini merupakan sepenggal syair dari Opa yang saya terima dari via WhatsApp dengan mengcover sebuah lagu tembang kenangan yang liriknya diganti sembari memainkan orgen tunggal.

    Salut dan genius. Saya pikir inilah ungkapan yang cocok untuk lelaki Lansia yang tidak disebut namanya itu. Pada 7 Januari 2023 video pendek dari via WhatsApp dengan durasi kurang lebih 1.36 detik itu saya tonton. Tampak dalam video tersebut Opa dengan enjoy dan sedemikian luwesnya memainkan orgen tunggal membawakan lagu  “BALADA PELAUT MELKY GOESLAW, Vol.6 karya Bung Deny. Lagu itu rilisan tahun 70an kalau sekarang kita bilang lagu Tembang Kenangan.

    Harusnya lirik pertama dalam lagu itu; “Siapa bilang pelaut mata keranjang, dan seterusnya……” namun Opa kaca mata dan enerjik itu menyanyikannya dengan lantunan lirik cover khusus Lansia. Terlihat memang video tersebut sudah dibagikan via WhatsApp berkali-kali. Dalam keterangannya sebetulnya itu adalah video dari Tiktok @johansuwandi960.

    Dugaan saya entah itu kakeknya atau sanak keluarganya yang sudah Lansia. Namun itu bukanlah menjadi sorotan utama dalam artikel ini. Video dengan durasi 1.36 detik itu sungguh sarat dengan makna. Liriknya tajam, lugas dan mungkin bisa menyindir generasi muda.

    Tulisan ‘Semangat Opa’di atas video tersebut menunjukkan kualitas semangat dari ‘semangat Opa kaca mata’ itu saat ia muda. Bisa dibayangkan kalau lagu itu sebenarnya adalah sindirian untuk kaum muda saat ini, wow- saya kira sangat pas dijadikan pukulan telak kepada mereka yang menghabiskan masa mudanya dengan berfoya-foya atau ‘mageran’ istilah keren.

    Lirik yang Opa nyanyikan tidak lagi mewakili dirinya sebagai lansia, namun nyanyian itu merupakan simbolisasi dari semangatnya hingga generasi lansia pun tetap semangat. Spirit yang mereka wariskan sungguh bukan sekedar nyanyian biasa, tetapi simbolisasi dari integritas, kejujuran dan pengalaman yang mampu mereka hadirkan lewat lirik pendek itu.

    Mari kita simak lirik yang dinyanyikan Opa hebat itu:

    Siapa bilang lansia tidak berguna,

    Bangun pagi sembahyang, tuk anak cucu

    Siapa bilang lansia hanya hiasan,

    Meskipun tua tetap diperlukan

    Banting tulang sudah sejak remaja

    Meski hujan, meski panas tidak masalah

    Siapa bilang lansia hanya meminta

    Jangan percaya orang punya cerita

    Reff: mengapa harus malu, mengapa haru loyo

    Rambut putih, kulit keriput tidak masalah

    Biar umur tinggal bonus, biar lutut harus dibungkus

    Tapi LANSIA tetap semangat di hari tua.

    Yang menarik di alinea yang terakhir, mungkin pembuat video itu sadar betul dengan kata lansia yang dibuatnya dengan huruf kapital. Jelas pesan video tersebut mau menegaskan bahwa mereka Oma dan Opa sudah melalui masa-masa sulit  di masa lalu mereka. Meskipun lansia apalagi ‘umur tinggal bonus,’ begitu salah satu liriknya, tetapi LANSIA (dengan huruf Kapital), tetap semangat di hari tua.

    TERBARU

    TERPOPULER