Sunday, May 17, 2026
More
    Home Blog Page 51

    Menghindari Perceraian dalam Zaman Postmodern, Ini Tips Pastor Pionius Hendi, OFMCap

    Duta, Pontianak | Di tengah derasnya arus modernisasi dan tantangan yang semakin kompleks dalam kehidupan perkawinan, perceraian menjadi masalah yang sering muncul. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada tahun 2023, Indonesia mengalami 463.654 kasus perceraian.

    Walaupun angka ini turun 10,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, angka tersebut tetap menunjukkan betapa rapuhnya institusi perkawinan di tengah perubahan sosial dan budaya yang terjadi.

    Pastor Pionius Hendi, OFMCap, dalam homilinya yang dipublikasikan pada Renungan Mingguan Kapusin Pontianak, memberikan sejumlah refleksi mendalam terkait hal ini, khususnya dalam konteks bacaan Injil yang dibacakan pada Minggu Biasa ke-27.

    Ia mengajak umat Kristen, khususnya mereka yang tengah menghadapi masalah dalam kehidupan perkawinan, untuk kembali kepada dasar-dasar keimanan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus dan Gereja Katolik.

    Perkawinan Sebagai Institusi Ilahi

    Pastor Pionius membuka homilinya dengan mengingatkan jemaat bahwa perkawinan bukanlah sekadar kontrak sosial antara dua individu, melainkan suatu institusi yang dirancang oleh Allah sendiri sejak awal penciptaan.

    Hal ini didasarkan pada Kitab Kejadian bab 2 ayat 18-24, di mana Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam untuk menjadi penolong baginya. Kehadiran seorang penolong merupakan anugerah terbesar dari Allah kepada manusia, yang menjadikan perkawinan antara pria dan wanita sebagai sesuatu yang suci dan unik di mata Allah.

    Pastor Pionius juga menegaskan bahwa Gereja Katolik, sejak awal, mengajarkan tiga ciri utama dalam perkawinan, yaitu: kesatuan (unitas), kekal (indissolubilis), dan terbuka terhadap kehidupan (fekunditas). Ketiga aspek ini bukan hanya sekadar nilai-nilai sosial, tetapi juga merupakan anugerah yang berasal dari Allah sendiri.

    Kesatuan (Unitas) – Perkawinan adalah kesatuan antara satu pria dan satu wanita. Keduanya dipersatukan tidak hanya untuk waktu sementara, melainkan untuk seumur hidup mereka. Oleh karena itu, perkawinan Katolik tidak bisa diakhiri kecuali oleh kematian.

    Kekal (Indissolubilis) – Sejak awal, perkawinan dimaksudkan untuk bersifat kekal. Tidak ada kuasa manusia yang bisa memisahkan apa yang telah dipersatukan oleh Allah, sebagaimana diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam Injil Markus.

    Terbuka terhadap Kehidupan (Fekunditas) – Perkawinan juga harus terbuka terhadap kehidupan. Anak-anak merupakan anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah kepada manusia, dan setiap pasangan dipanggil untuk menerima dan merawat kehidupan yang lahir dari persekutuan cinta mereka.

    Dengan pemahaman ini, Pastor Pionius mengajak umat untuk melihat bahwa perkawinan bukanlah hal yang dapat diputuskan begitu saja ketika menghadapi masalah. Sebaliknya, perkawinan adalah panggilan yang suci dan membutuhkan komitmen yang mendalam serta kesetiaan yang kokoh.

    Tantangan Perkawinan di Zaman Postmodern

    Pastor Pionius tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa kehidupan perkawinan saat ini penuh dengan tantangan. Dunia postmodern menghadirkan banyak godaan, baik dari dalam maupun dari luar, yang sering kali mengguncang stabilitas rumah tangga.

    Ia menyebutkan bahwa tantangan-tantangan ini dapat datang dalam berbagai bentuk: masalah ekonomi, ketidakcocokan karakter, hingga pengaruh media sosial yang kadang-kadang memicu perselingkuhan dan masalah kepercayaan.

    Namun, dalam menghadapi semua itu, Pastor Pionius mengingatkan bahwa komitmen adalah kunci utama.

    “Rambut kita bisa memutih, wajah kita bisa keriput, tubuh kita bisa melemah karena penyakit, tetapi satu yang tetap tinggal, yakni komitmen,” ujarnya.

    Komitmen berarti kesetiaan yang melampaui apa yang dapat kita lihat dan rasakan, karena didasarkan pada janji yang diucapkan di hadapan Allah dan sesama.

    Tips Menghindari Perceraian

    Dalam homilinya, Pastor Pionius memberikan beberapa tips praktis yang dapat membantu pasangan suami istri mempertahankan kehidupan rumah tangga mereka dan menghindari perceraian, terutama di tengah-tengah zaman yang penuh godaan ini:

    Komunikasi yang Jujur dan Terbuka – Pastor Pionius menekankan pentingnya komunikasi yang baik dalam setiap hubungan.

    Komunikasi yang jujur dan terbuka antara pasangan akan memberikan kelegaan dan membantu menyelesaikan masalah sebelum menjadi lebih besar.

    “Komunikasi bukan hanya tentang bagaimana kita mengatakan sesuatu, tetapi juga bagaimana kita membuktikan apa yang kita katakan,” jelasnya.

    Saling Mendengarkan dengan Empati – Mendengarkan dengan baik berarti memberikan ruang bagi pasangan untuk mengekspresikan perasaan dan pendapatnya.

    Pastor Pionius mengingatkan bahwa menjadi pendengar yang baik adalah salah satu cara untuk menunjukkan empati dan penghargaan terhadap pasangan. Ketika kita mendengarkan, kita bisa belajar dari apa yang disampaikan oleh pasangan dan merespons dengan cara yang tepat.

    Mengendalikan Emosi – Saat kita merasa benar, kadang-kadang keinginan untuk mendominasi percakapan muncul. Namun, Pastor Pionius mengingatkan pentingnya mengendalikan emosi dan memberikan kesempatan kepada pasangan untuk berbicara. Ketika salah, segera meminta maaf juga menjadi langkah penting dalam menjaga keharmonisan.

    Membuat Kompromi dan Saling Menghargai – Perkawinan adalah tentang kompromi. Kedua pihak harus belajar untuk saling menghargai dan menempatkan kepentingan pasangan di atas diri sendiri. Dengan kerendahan hati, kita membuka diri untuk menerima kemungkinan yang ada, baik yang positif maupun yang negatif.

    Memberikan Quality Time – Terakhir, Pastor Pionius menekankan pentingnya memberikan quality time baik untuk berdoa bersama maupun untuk menghabiskan waktu bersama pasangan. Quality time ini adalah momen berharga yang dapat memperkuat ikatan emosional dan spiritual di antara pasangan suami istri.

    Harapan untuk Masa Depan

    Di akhir homilinya, Pastor Pionius menyampaikan harapannya agar tips-tips yang diberikan dapat membantu umat, khususnya para pasangan, untuk semakin solid dan kuat dalam menghadapi godaan dan tantangan kehidupan perkawinan.

    Ia berharap bahwa dengan menerapkan prinsip-prinsip tersebut, perceraian tidak akan menjadi pilihan yang diambil dengan mudah ketika masalah datang.

    Sebaliknya, ia mendorong umat untuk selalu mengingat janji pernikahan yang telah diucapkan di hadapan Allah dan untuk terus berkomitmen pada kesetiaan dan cinta yang abadi.

    Melalui refleksi ini, Pastor Pionius mengajak kita semua untuk merenungkan kembali nilai-nilai perkawinan sebagai institusi ilahi yang suci dan tidak boleh diabaikan begitu saja.

    Sebagaimana Tuhan telah mempersatukan Adam dan Hawa sejak awal penciptaan, demikian pula setiap pasangan suami istri dipanggil untuk menjaga dan merawat persekutuan mereka dengan penuh cinta, kesetiaan, dan komitmen hingga akhir hayat. [S]

    San Agustin Partisipasi Late Summer School Program di TU Dresden, Jerman

    Penjajakan Kerja Sama dengan CIPSEM (Centre for International Postgraduate Studies of Enviornmental Management), TU Dresden (2024)

    Duta, Media Center San Agustin | Belum lama ini, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (San Agustin) kembali menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan pendidikan dan internasionalisasi dengan berpartisipasi dalam Late Summer School Program yang diselenggarakan oleh Technische Universität (TU) Dresden, Jerman, pada tanggal 21-26 September 2024.

    Kegiatan ini menjadi ajang bergengsi yang dihadiri oleh berbagai universitas dan organisasi dari beberapa negara, termasuk Jerman, Uzbekistan, Kazakhstan, Mozambik, Uganda, dan Israel.

    San Agustin diwakili oleh tiga delegasi utama, yakni Johanes Robini Marianto (Rektor), Kunto Nurcahyoko (Wakil Rektor Umum), dan Mustika Aji Hertanto (Dosen Pendidikan Bahasa Inggris).

    Kehadiran ketiganya mencerminkan dedikasi universitas dalam memperluas jejaring internasional dan meningkatkan kolaborasi akademik global.

    Late Summer School kali ini mengusung tema “SPARKLES,” yang merupakan singkatan dari:

    • Sustainability-focused
    • Pedagogy for Transformation
    • Advancing Wellbeing
    • Resources for Resilience
    • Knowledge Sharing
    • Learning Empowerment
    • Eco-friendly Practices
    • Social Responsibility

    “Salah satu seminar utama dalam program ini membahas isu-isu pendidikan dan keberlanjutan lingkungan di era modern,” tulis Kunto.

    Kunto juga menjelaskan bahwa diskusi tersebut menggarisbawahi pentingnya integrasi konsep keberlanjutan dalam kurikulum pendidikan global serta peran pendidikan dalam mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

    Sesi International Networking bersama alumni Borneo Mobility Program 2023/2024

    Para peserta seminar menyoroti bagaimana lembaga pendidikan dapat berkontribusi secara aktif dalam menjaga keseimbangan antara perkembangan teknologi dan kelestarian lingkungan.

    Selain itu, kegiatan-kegiatan lain dalam program ini meliputi workshop, diskusi, kunjungan ke sekolah-sekolah yang ada di Jerman, serta berbagai kegiatan networking yang bertujuan untuk memperkuat pengembangan internasionalisasi.

    “Dalam kesempatan ini, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo juga menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dan kerja sama dengan TU Dresden melalui Zentrum für Lehrerbildung, Schul- und Berufsbildungsforschung (ZLSB) dalam bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi dan Pertukaran Dosen-Staf-Mahasiswa,” kata Kunto.

    Penandatangan Kerja Sama dengan Zentrum für Lehrerbildung, Schul- und Berufsbildungsforschung (ZLSB), TU Dresden

    Pihak San Agustin dengan sikap yang sama bahwa kerja sama itu diharapkan dapat mengembangkan kualitas pendidikan dan riset di kedua institusi, dengan fokus pada peningkatan kualitas pengajaran dan penelitian.

    Romo Rektor, Pastor Johanes Robini Marianto, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis untuk mendukung visi universitas dalam menciptakan pendidikan yang unggul dan relevan dengan tantangan global.

    “Kami berharap, kerja sama ini terus berlanjut dan membawa manfaat yang signifikan bagi kedua pihak, terutama dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan riset,” kata Romo Robini OP.

    Partisipasi Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo dalam Late Summer School Program ini tidak hanya membuka peluang baru untuk kolaborasi internasional, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya universitas dalam menghadapi tantangan pendidikan di era globalisasi. [S].

    Laporan: Kunto – Dresden, Jerman, 27 September 2024.

    Uskup Valentinus: Mgr. Hieronymus Bumbun Tokoh Iman dan Inspirator Kemajuan Masyarakat Dayak di Kalimantan Barat

    Uskup Sanggau, Mgr. Valentinus Saeng, CP, dalam khotbahnya pada Misa Requiem Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFMCap, di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak - 01/10/2024. Dok. KOMSOSKAP

    Pontianak, MajalahDUTA.com | 2 Oktober 2024 – Uskup Keuskupan Sanggau, Mgr. Valentinus Saeng, CP, memimpin misa requiem di Gereja Katedral Pontianak untuk Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun OFMCap, sosok luar biasa yang telah dipanggil Bapa pada 30 September 2024 di Rumah Sakit Antonius Pontianak.

    Dalam khotbahnya, Mgr Valentinus memberikan kesaksian mendalam tentang betapa besar pengaruh Mgr Bumbun bagi umat Katolik khususnya di Kalimantan Barat, dan terutama bagi masyarakat Dayak.

    “Menghadap Tuhan pada hari Santo pelindungnya, Santo Hieronymus, bukanlah suatu kebetulan. Mgr Bumbun meninggal dunia pada pukul 21.15 WIB di hari peringatan ini, memberikan makna tersendiri bagi kita semua,” ujar Mgr Valentinus di awal pesannya.

    Mgr Valentinus menjelaskan bahwa bacaan Injil yang dibacakan pada misa malam itu, mengenai Khotbah di Bukit, adalah pedoman hidup Mgr Bumbun.

    Sebagai seorang gembala bagi ribuan umat di 12 kabupaten dan 2 kota madya di Kalimantan Bara, beliau menghadirkan pesan Kristus sebagai sumber harapan dan pembebasan, terutama bagi mereka yang berada di pedalaman dan yang terpinggirkan.

    Uskup Emeritus Mgr. Hieronymus Bumbun OFMCap bersama Saudarinya (Arsip Kapusin)

    Inspirasi bagi Masyarakat Dayak

    Mgr Bumbun tidak hanya dikenal sebagai uskup yang setia menjalankan tugasnya, tetapi juga sebagai figur yang memperjuangkan kemajuan masyarakat Dayak.

    “Dia adalah simbol harapan bagi banyak orang, khususnya orang Dayak yang hidup di pedalaman. Mgr Bumbun selalu menyuarakan bahwa kita bisa maju bersama, tidak ada yang mustahil jika kita bersatu dan berjuang,” kata Mgr Valentinus dengan tegas.

    Sebagai pemimpin, beliau mengatasi banyak tantangan dalam pelayanannya, baik secara spiritual maupun sosial. Kehadirannya sebagai orang kampung yang berhasil mencapai puncak pelayanan gereja, menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda Dayak.

    Dalam bingkai semangat perjalanan dan perjuangan yang menguras fisik, mengangkat harkat dan martabat orang kecil di pedalaman. – Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFMCap. Cr: Arsip Kapusin Pontianak.

    “Beliau orang kampung, tapi tidak kampungan. Dia adalah bukti bahwa asal-usul kita tidak membatasi pencapaian kita,” lanjut Mgr Valentinus.

    Warisan yang Tidak Pernah Padam

    Meskipun telah pensiun, Mgr Bumbun terus memberikan teladan bagi umat. Setelah pensiun, ia selalu mengarahkan pandangannya ke surga.

    “Dia tahu bahwa peristirahatannya di dunia ini akan berakhir, tetapi kehidupannya yang abadi bersama Tuhan akan terus berlanjut,” kata Mgr Valentinus.

    Karya dan pelayanan Mgr Bumbun, terutama dalam memperjuangkan keadilan, mengangkat mereka yang tertekan, dan mencerdaskan masyarakat Dayak, adalah warisan abadi yang akan terus menginspirasi banyak orang.

    Foto Lawas Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFMCap pimpin sebuah misa. Cr: Arsip Kapusin Pontianak

    “Beliau merupakan sosok yang menyatukan umat dan menjadi pendorong kemajuan, terutama bagi orang Dayak. Kita kehilangan seorang tokoh besar,” tambahnya.

    Di akhir misa, Mgr Valentinus dan para hadirin melepaskan Mgr. Bumbun dengan doa dan harapan terbaik umat Katolik. “Selamat jalan, Mgr. Bumbun. Jadilah pendoa bagi kami, sebagaimana engkau selalu menjadi penuntun kami di bumi ini.” [S].

    Jalan Pengabdian Uskup Emeritus Bumbun Menuju Kehidupan Kekal

    Kenangan - Foto Mgr. Emeritus Hieronymus Bumbun, OFMCap. bersama Paus Yohanes Paulus II (kiri). Cr: Arsip Kapusin Pontianak.

    Pontianak, MajalahDUTA.com | 2 Oktober 2024 – Uskup Emeritus Mgr. Hieronymus Bumbun, OFMCap, menjalani hidup dengan semboyan “Per aspera ad astra” — melalui jerih payah menuju bintang.

    Meskipun resmi pensiun pada Agustus 2014, pengabdian Mgr. Bumbun kepada umat terus berlanjut dengan penuh dedikasi hingga akhir hidupnya. Dalam masa pensiun, beliau tetap aktif melayani, menunjukkan kesetiaannya kepada Tuhan dan sesama.

    Setelah pensiun, Mgr. Bumbun tinggal di Persaudaraan Kapusin Paroki Gembala Baik Pontianak, menjalani kehidupan religius dengan taat. Pada 2020, beliau pindah ke Biara Kapusin St. Fransiskus di Jalan Pattimura, Pontianak.

    Meskipun fisiknya semakin menurun, banyak umat yang tetap datang kepada Mgr. Bumbun untuk meminta nasihat dan bantuan. Kesederhanaan dan ketabahannya menjadi teladan bagi banyak orang. Banyak penuturan secara lisan dari orang-orang terdekat yang mengenang beliau, mengatakan bahwa ia telah banyak “menyelamatkan” umat.

    Kenangan – Foto Mgr. Emeritus Hieronymus Bumbun, OFMCap. bersama jajaran para petinggi umat Katolik di lingkup Keuskupan Agung Pontianak. Cr: Arsip Kapusin Pontianak.

    Dalam usianya yang lanjut, Mgr. Bumbun masih melaksanakan perjalanan pelayanan panjang, terkadang mencapai ratusan kilometer. Meskipun tantangan fisik sangat berat, ia selalu melayani umat dengan senyuman dan kesabaran, tanpa keluhan. Ini mencerminkan kebesaran jiwanya dan semangat cinta kasih yang tulus.

    Pada 13 Juli 2024, kondisi kesehatan Mgr. Bumbun memburuk, dan ia dirawat di Rumah Sakit Charitas Bakti, kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Umum St. Antonius Pontianak. Selama hampir dua bulan, ia berjuang melawan sakit yang berat dengan penuh ketenangan dan kesabaran, meneladani semboyannya “Amor non amatur” — cinta yang tidak selalu dicintai.

    Tepat pada Peringatan St. Hieronymus, 30 September 2024, kesehatan Mgr. Bumbun semakin memburuk. Pada malam yang penuh doa dan ketenangan, pukul 21.12, Mgr. Bumbun dipanggil pulang oleh Sang Pencipta, mengakhiri perjalanan hidupnya yang penuh pengabdian. Ia meninggal dengan damai, dikelilingi keluarga dan umat yang mencintainya.

    Warisan kesederhanaan dan ketabahan Mgr. Bumbun akan terus hidup dalam hati banyak orang. Semangat pengabdiannya menjadi teladan abadi. Selamat jalan, Mgr. Bumbun. Terima kasih atas cinta dan pengorbananmu bagi gereja dan umat. [S].

    Mgr. Emeritus Bumbun, Sang Pelayan Kaum Terpinggirkan

    Dalam bingkai adat budaya dan ajaran cinta kasih - Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFMCap. Cr: Arsip Kapusin Pontianak.

    Pontianak, Majalah Duta – Dikenal di seluruh kalangan umat Katolik di Kalimantan Barat, Mgr. Hieronymus Bumbun, OFMCap, adalah seorang uskup yang mengabdikan hidupnya demi melayani mereka yang berada di pinggiran masyarakat.

    Penuh kasih dan perhatian, itulah beliau yang menjadikan kaum miskin dan terpinggirkan sebagai fokus utama pelayanannya di Keuskupan Agung Pontianak, Kalimantan Barat. Sepanjang hidupnya, ia tanpa henti berupaya meningkatkan taraf hidup mereka yang kurang beruntung, terutama dari kelompok etnis Dayak, Tionghoa, serta masyarakat lokal lainnya.

    Lahir pada 5 Agustus 1937 di Menawai Tekam, Sekadau, Kalimantan Barat, Mgr. Bumbun tumbuh dalam keluarga besar dengan 17 saudara, dan merupakan anak yang ke-11. Pendidikan dasarnya ia tempuh di Sekolah Rakyat Nyarumkop, di mana ia kemudian menerima baptisan pada tahun 1950.

    Sejak usia muda, panggilan hidupnya sebagai imam mulai terlihat, dan ia pun memutuskan untuk melanjutkan studi di seminari hingga akhirnya ditahbiskan sebagai imam pada 22 Juli 1967.

    Menurut catatan Konselor General Ordo Saudara Dina Kapusin untuk Wilayah Asia-Pasifik, Pastor William Chang, OFMCap, setelah menyelesaikan studi lanjut di Universitas Gregorian di Roma, Mgr. Bumbun kembali ke Kalimantan dan memulai pelayanan pastoral di berbagai paroki, termasuk di Sanggau dan Batang Tarang.

    Kepekaannya terhadap penderitaan umat membuatnya diangkat sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak pada tahun 1972, sebelum diangkat menjadi Uskup Auksilier dan akhirnya Uskup Agung Pontianak pada tahun 1977.

    Selama lebih dari tiga dekade memimpin Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Bumbun dikenal sebagai sosok uskup yang dekat dengan umatnya. Ia sering terjun langsung ke pelosok untuk mendengar keluhan dan kebutuhan umat, terutama mereka yang tinggal di daerah pedalaman. Bukan hanya memberikan pelayanan rohani, Mgr. Bumbun juga berperan aktif dalam memperbaiki taraf hidup masyarakat melalui pendidikan dan kolaborasi lintas budaya.

    Dalam bingkai semangat perjalanan dan perjuangan yang menguras fisik, mengangkat harkat dan martabat orang kecil di pedalaman. – Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFMCap. Cr: Arsip Kapusin Pontianak.

    Menurut arsip Kapusin Pontianak, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Mgr. Bumbun adalah keragaman etnis dan budaya masyarakat di wilayah keuskupannya. Untuk itu, ia mengembangkan pendekatan pastoral multikultural yang menghargai kekayaan tradisi lokal serta identitas budaya dari berbagai kelompok etnis. Ia percaya bahwa pesan Injil Yesus Kristus bisa disampaikan tanpa harus mengesampingkan nilai-nilai budaya setempat.

    Mgr. Bumbun juga memiliki komitmen yang tinggi dalam mengemban misi evangelisasi di daerah-daerah terpencil. Ia melihat pentingnya menghadirkan Kabar Baik bagi mereka yang belum mengenal Kristus, meskipun jarak dan tantangan komunikasi sering kali menjadi hambatan. Namun, semangatnya tidak pernah surut untuk menjangkau mereka yang paling membutuhkan.

    Dengan mayoritas umat yang bergantung pada pertanian dan perkebunan untuk hidup, Mgr. Bumbun menyadari pentingnya pendidikan bagi generasi muda. Ia mendorong keluarga untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke kota, membuka kesempatan bagi mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik. Ini sejalan dengan visinya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah keuskupannya.

    Bagi Mgr. Bumbun, gereja tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pengembangan sosial dan pendidikan. Ia selalu mengajak umat untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang dapat membantu mereka keluar dari kemiskinan. Di bawah kepemimpinannya, gereja di Keuskupan Agung Pontianak menjadi tempat yang memperkuat solidaritas dan kebersamaan antarumat.

    Kesederhanaan hidup Mgr. Bumbun tercermin dalam cara ia berkomunikasi dengan umatnya. Ia selalu menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, sehingga pesan-pesan spiritual yang ia sampaikan dapat diterima oleh semua kalangan, tanpa memandang latar belakang pendidikan atau status sosial.

    Hingga akhir masa pelayanannya sebagai Uskup Agung Pontianak, Mgr. Bumbun tetap menjadi simbol cinta kasih dan pelayanan yang tanpa pamrih. Ia tidak hanya meninggalkan jejak berupa bertambahnya jumlah paroki dan pelayanan gereja yang semakin berkembang, tetapi juga keteladanan dalam mengabdi kepada mereka yang terpinggirkan.

    Sosoknya akan selalu dikenang sebagai seorang gembala setia yang dengan tulus hati melayani umat di Kalimantan Barat. [S].

    Amor Non Amatur, Cinta dalam Pelayanan Uskup Dayak Pertama

    Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFMCap. Cr: Arsip Kapusin Pontianak.

    Pontianak, MajalahDUTA.com – Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, O.F.M. Cap, seorang pemimpin spiritual yang teguh akan imannya, dan bukan sekedar itu saja, ia juga menjadi simbol perjalanan sejarah umat Katolik di Kalimantan Barat.

    Sebagai putra asli Dayak, beliau mencatatkan dirinya sebagai Orang Dayak pertama yang diangkat menjadi Uskup—sebuah pencapaian besar yang tak hanya mengharumkan nama suku dan identitasnya, tetapi juga menegaskan peran penting masyarakat Dayak dalam sejarah Gereja Katolik di Indonesia.

    Terlahir pada 5 Agustus 1937 di Menawai, Belitang Hilir, Sekadau, Kalimantan Barat (dahulu: Sanggau, sebelum berdiri Kabupaten Sekadau – sebagai pemekaran dari Kabupaten Sanggau), jejak hidup Mgr. Bumbun dipenuhi dedikasi yang tulus terhadap umatnya.

    Ditahbiskan menjadi imam pada 22 Juli 1967, perjalanan spiritualnya terus berkembang hingga mencapai puncak ketika pada 19 Desember 1975, ia diangkat sebagai Uskup Auxilier Pontianak dengan gelar Uskup Tituler Capra. Pengangkatan ini menjadi tonggak sejarah, bukan hanya bagi Mgr. Bumbun, tetapi juga bagi seluruh umat Dayak yang melihatnya sebagai bukti pengakuan atas kontribusi besar mereka dalam gereja.

    Pada 27 Mei 1976, Mgr. Bumbun resmi ditahbiskan menjadi Uskup, diiringi oleh tokoh-tokoh terkemuka dalam gereja seperti Uskup Agung Semarang Kardinal Justinus Darmojuwono, serta Uskup Ketapang dan Uskup Agung Medan.

    Moto yang dipilihnya, “Amor Non Amatur,” yang berarti “Cinta yang Tidak Dicintai,” mencerminkan sikap hidupnya yang penuh dengan pengorbanan dan cinta tanpa pamrih, bahkan ketika cinta tersebut tidak selalu terbalas. Filosofi ini menjadi dasar dalam setiap langkah pelayanannya, memperlihatkan komitmen beliau dalam menghadapi berbagai tantangan dengan ketenangan dan keteguhan hati.

    Kepemimpinan Mgr. Bumbun semakin diperkuat ketika pada 26 Februari 1977, beliau ditunjuk menjadi Uskup Agung Pontianak, menggantikan Mgr. Herculanus Joannes Maria van der Burgt, OFMCap, yang telah meninggal dunia.

    Perjalanan Imamat Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFMCap. Cr: Arsip Kapusin Pontianak.

    Selama lebih dari tiga dekade, Mgr. Bumbun membimbing umat di Pontianak dengan bijaksana dan penuh kasih. Di tengah-tengah itu, dari 1982 hingga 1990, beliau juga menjalankan tugas sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Sanggau, menyeimbangkan tanggung jawabnya di dua keuskupan dengan ketelitian dan kepemimpinan yang luar biasa.

    Setelah hampir empat dekade mengabdi sebagai Uskup Agung, pada 3 Juni 2014, Tahta Suci menerima pengunduran dirinya. Meski tak lagi menjabat, semangat pelayanan Mgr. Bumbun tak pernah pudar.

    Di masa pensiunnya, beliau masih aktif memimpin Misa Tridentin dan melanjutkan pengabdiannya di biara Ordo Kapusin di Pontianak, tempat beliau terus menjalani hari-hari dengan doa dan refleksi mendalam.

    Sebagai Uskup Dayak pertama, Mgr. Bumbun bukan hanya mencetak sejarah bagi komunitasnya, tetapi juga menjadi panutan bagi banyak generasi muda. Kehadirannya dalam Gereja Katolik menyiratkan pesan kuat bahwa dari mana pun asal usul seseorang, mereka memiliki peluang untuk berkontribusi bagi gereja dan masyarakat.

    Jejak hidupnya akan terus dikenang sebagai simbol dedikasi dan cinta yang tulus, memberi inspirasi bagi siapa pun yang mengenal kisah hidupnya. Warisan kepemimpinannya akan tetap abadi di hati mereka yang pernah disentuh oleh keteladanan dan cinta kasih yang beliau bagikan. [S]

    PJ Gubernur Harrison, Melayat ke Persemayaman Uskup Emeritus Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun

    PJ Gubernur Kalbar (2024)

    Duta, Pontianak | Penjabat Gubernur Kalimantan Barat, dr. Harisson, M.Kes, hadir memberikan penghormatan terakhir kepada Uskup Emeritus Pontianak, Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFMCap, di Gereja Katedral Santo Yoseph Pontianak, Selasa pagi (01/10).

    Kedatangannya disambut oleh Uskup Agung Pontianak saat ini, Mgr. Agustinus Agus, serta Provinsial Kapusin Pontianak, Pastor Faustus Bagara, OFMCap.

    Harisson, dengan langkah tenang didampingi Uskup Agustinus, menghampiri persemayaman Uskup Emeritus yang telah berjasa besar bagi perkembangan rohani dan sosial masyarakat Kalimantan Barat.

    Kehadirannya merupakan wujud kepedulian pemerintah Kalbar terhadap gereja, serta penghargaan atas pengabdian Mgr. Hieronymus yang tak kenal lelah melayani umat dan mendukung kemajuan provinsi.

    Dalam kunjungan tersebut, sebelumnya Harisson tentu mengenal sosok yang telah pergi itu. Sebagaimana yang digaungkan sebagaimana kepergian Uskup Emeritus Hieronymus merupakan kehilangan besar, tidak hanya bagi gereja Katolik, tetapi juga bagi masyarakat Kalimantan Barat.

    Dalam berbagai catatan arsip Keuskupan dan Kapusin dituliskan bahwa Uskup Emeritus Mgr. Hieronymus Bumbun OFMCap adalah sosok pemimpin ‘bajik’ yang ‘bijak’.

    Uskup Emeritus Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, yang wafat pada Senin malam, 30 September 2024, di Rumah Sakit Santo Antonius Pontianak, telah meninggalkan jejak mendalam dalam pembangunan sosial dan spiritual di Kalimantan Barat. [S].

    Dari Tanah Dayak ke Tahta Gereja, Jejak Kepemimpinan Mgr. Hieronymus Bumbun

    Duta, Pontianak| Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, O.F.M. Cap, bukan hanya seorang gembala gereja yang saleh dan penuh pengabdian, tetapi juga merupakan sosok yang bersejarah dalam kehidupan umat Katolik di Kalimantan Barat.

    Sebagai putra asli Dayak, beliau adalah Orang Dayak pertama yang diangkat menjadi Uskup, sebuah pencapaian monumental yang mengangkat martabat dan peran penting masyarakat Dayak dalam Gereja Katolik di Indonesia.

    Dilahirkan pada tanggal 5 Agustus 1937 di Menawai, Belitang Hilir, Sekadau, Kalimantan Barat, perjalanan hidup Mgr. Bumbun penuh dengan dedikasi dan pelayanan yang tiada henti. Ditahbiskan menjadi imam pada 22 Juli 1967, beliau terus menunjukkan komitmen luar biasa dalam pelayanan pastoralnya.

    Puncaknya, pada tanggal 19 Desember 1975, ketika beliau diangkat sebagai Uskup Auxilier Pontianak dengan gelar Uskup Tituler Capra. Pengangkatan ini menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Gereja Katolik di Indonesia, di mana seorang anak Dayak pertama kali menduduki jabatan yang begitu terhormat di kalangan gereja.

    Pada tanggal 27 Mei 1976, Mgr. Bumbun ditahbiskan menjadi Uskup, disahkan oleh tokoh-tokoh penting gereja seperti Uskup Agung Semarang, Kardinal Justinus Darmojuwono, Pr, serta Uskup Ketapang dan Uskup Agung Medan.

    Dalam tugasnya sebagai Uskup, beliau mengemban moto “Amor Non Amatur” yang berarti “Cinta yang Tidak Dicintai”, sebuah frasa yang menggambarkan semangat pengorbanan dan cinta kasih yang tulus kepada sesama, bahkan di tengah tantangan yang besar.

    Karir pastoralnya terus berlanjut dengan pengangkatan beliau sebagai Uskup Agung Pontianak pada tanggal 26 Februari 1977, menggantikan Mgr. Herculanus Joannes Maria van der Burgt, OFMCap, yang wafat pada tahun sebelumnya. Mgr. Bumbun menghadapi tugas ini dengan kebijaksanaan dan ketulusan, memimpin Keuskupan Agung Pontianak selama lebih dari tiga dekade.

    Selain itu, selama delapan tahun, sejak 8 Juni 1982 hingga 22 Januari 1990, beliau juga menjalankan tugas sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Sanggau, menunjukkan kepemimpinan yang luar biasa dalam mengelola dua keuskupan.

    Uskup Emeritus Mgr. Hieronymus Bumbun OFMCap bersama Saudarinya (Arsip Kapusin)

    Setelah hampir 40 tahun melayani sebagai Uskup Agung, pada tanggal 3 Juni 2014, Tahta Suci menerima pengunduran diri Mgr. Bumbun. Pengunduran diri ini menandai akhir dari perjalanan panjang seorang pemimpin yang telah mendedikasikan hidupnya bagi umat.

    Kepemimpinan Keuskupan Agung Pontianak kemudian diteruskan oleh Mgr. Agustinus Agus, Pr. Namun, meski telah pensiun, Mgr. Bumbun tidak berhenti melayani. Beliau tetap aktif memimpin Misa Tridentin di Pontianak dan menjalani hari-hari di biara Ordo Kapusin, tempat beliau terus hidup dalam doa dan pelayanan.

    Kehadiran Mgr. Bumbun dalam Gereja Katolik, terutama sebagai Uskup Dayak pertama, tidak hanya menorehkan sejarah bagi masyarakat Dayak, tetapi juga memberikan inspirasi bagi generasi muda Dayak dan Indonesia pada umumnya.

    Kearifan lokal yang beliau bawa ke dalam pelayanan pastoralnya menunjukkan bahwa siapa pun, dari latar belakang budaya atau suku mana pun, dapat memberikan kontribusi yang besar bagi gereja dan masyarakat.

    Warisannya akan terus hidup dalam kenangan umat, serta dalam hati banyak orang yang pernah disentuh oleh kehadiran dan pelayanannya. [S].

    Misa Requiem Uskup Emeritus Hieronymus OFMCap

    Pontianak, Senin 30 September 2024

    Duta, Pontianak | Pada 30 September 2024 – Keuskupan Agung Pontianak mengumumkan bahwa Mgr. Hieronymus Herculanas Bumbun OFMCap, Uskup Emeritus Keuskupan Agung Pontianak telah dipanggil ke rumah Bapa di Surga pada tanggal 30 September 2024 pukul 21.12 WIB di Rumah Sakit Santo Antonius, Pontianak.

    Jenazah almarhum akan disemayamkan di Gereja Katedral Pontianak. Berikut adalah jadwal Misa Requiem untuk menghormati Mgr. Hieronymus:

    1. Selasa, 1 Oktober 2024 pukul 18.30 WIB, dipimpin oleh Mgr. Valentinus Saeng, CP, Uskup Keuskupan Sanggau.
    2. Rabu, 2 Oktober 2024 pukul 18.30 WIB, dipimpin oleh Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, Uskup Keuskupan Sintang.
    3. Kamis, 3 Oktober 2024 pukul 09.00 WIB, Misa Pelepasan Jenazah akan dipimpin oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus.

    Setelah misa, pemakaman akan dilaksanakan di Pemakaman St. Yusup, Sungai Raya, Pontianak.

    Demikian pengumuman ini disampaikan. Atas perhatian dan doa dari seluruh umat, kami ucapkan terima kasih.

    Keuskupan Agung Pontianak,
    Mgr. Agustinus Agus
    Uskup Agung Pontianak

    BREAKING NEWS: Uskup Emeritus Hieronymus Bumbun Wafat, Keuskupan Agung Pontianak Berduka

    Uskup Emeritus Keuskupan Agung Pontianak - Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, O.F.M. Cap. (HIDUP/Y.Prayogo)

    PONTIANAK, MajalahDUTA.com – Penuh rasa duka, Keuskupan Agung Pontianak mengumumkan bahwa Uskup Emeritus Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, O.F.M. Cap. telah dipanggil ke hadirat Allah Bapa yang Maha Kuasa pada Senin, 30 September 2024, sekitar pukul 21.15 WIB di Rumah Sakit Santo Antonius Pontianak.

    Uskup berusia 87 tahun tersebut telah menerima perawatan intensif dalam beberapa waktu terakhir. Mgr. Hieronymus Bumbun ditahbiskan menjadi imam pada 27 Juli 1967 dan diangkat menjadi Uskup Agung Pontianak pada 26 Februari 1977. Sepanjang masa pelayanannya, beliau telah membaktikan hidupnya untuk membimbing umat Katolik di Pontianak dan sekitarnya, serta memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan Gereja.

    Pada tahun 2014, beliau menyelesaikan tugasnya sebagai Uskup Agung Pontianak dan menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Mgr. Agustinus Agus, yang kini menjabat sebagai Uskup Agung Pontianak. Mgr. Hieronymus dikenal sebagai seorang pemimpin rohani yang penuh cinta kasih dan dedikasi dalam menjalankan panggilan imamatnya.

    Kenangan dalam Turne Uskup Emeritus Keuskupan Agung Pontianak – Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, O.F.M. Cap. – Semasa muda.

    Beliau adalah sosok yang setia mengabdikan dirinya bagi umat dan Gereja di Keuskupan Agung Pontianak hingga akhir hayatnya.

    Informasi lebih lanjut mengenai persemayaman jenazah dan prosesi pemakaman akan disampaikan oleh pihak Ordo Kapusin Pontianak dalam waktu dekat.

    Semoga arwah beliau beristirahat dalam kedamaian abadi di sisi Tuhan. Rest in Peace, Mgr. Hieronymus Bumbun, O.F.M. Cap. [S]

    TERBARU

    TERPOPULER