Borneo Student Mobility Program Batch 3, Menggali Budaya Kalimantan! (2024)
Duta, Media Center San Agustin | Belum lama ini, laporan dari International Office pada 21 Oktober 2024 – Borneo Student Mobility Program Batch 3 dibuka secara resmi oleh Pradipta Annurwanda, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Inisiatif dari Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo ini memberikan kesempatan kepada pelajar asing untuk magang mengajar di sekolah-sekolah di Ngabang, sekaligus mengenal kekayaan budaya Kalimantan, berpartisipasi dalam kegiatan kemahasiswaan, serta kelas Bahasa Indonesia.
Berdasarkan laporan International Office, Dian Febrianti salah satu peserta, Maximilian Maerz dari Technische Universität Dresden, Jerman, akan mengeksplorasi Indonesia melalui kuliner, gaya hidup, permainan tradisional, olahraga, dan bela diri dalam kelas sit-in.
Diterima dengan hangat melalui tari-tarian khas Dayak, Max menyampaikan harapannya untuk mendapatkan pengalaman yang signifikan selama program ini.
Dua batch sebelumnya telah sukses, dengan mahasiswa TU Dresden membangun hubungan yang baik dengan mahasiswa San Agustin dan masyarakat setempat.
“San Agustin berharap Batch 3 akan memberikan manfaat serupa, meskipun setiap pengalaman pasti memiliki tantangan yang berbeda,” tulisnya.
Program cultural exposure ini bertujuan untuk menjembatani perbedaan budaya antara dua masyarakat.
San Agustin mengundang peserta untuk hadir dengan pikiran terbuka dan semangat belajar, sehingga bersama-sama mereka dapat membangun hubungan berbasis sinergitas yang yang saling menginspirasi. [S] Laporan Dian Febrianti (International Office)
San Agustin Pionir Pembelajaran Berbasis Artificial Intelligence, Siap Mencetak Generasi Unggul (2024)
Duta, Media Center San Agustin | Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (San Agustin) menunjukkan komitmennya terhadap pendidikan masa depan melalui penyelenggaraan Global Classroom bersama Unimas, dengan tema Teacher 5.0 – The Future of Learning.
Kegiatan ini dirancang untuk mempersiapkan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menghadapi tantangan teknologi modern yang akan memperkaya keterampilan pedagogis mereka.
Meski berada di Landak, San Agustin terus berupaya menghadirkan pendidikan berkualitas yang setara dengan kota-kota besar.
Sebagai universitas satu-satunya di kawasan tersebut, San Agustin berperan penting dalam mencetak guru-guru berkompeten yang siap bersaing secara global.
Partisipasi mahasiswa yang tinggi tidak terlepas dari daya tarik pemateri, Khuah Chee Man, seorang dosen senior Unimas yang ahli dalam pedagogi berbasis teknologi, termasuk AI.
Wawasan dan pengalaman beliau dalam bidang ini memberikan inspirasi bagi para mahasiswa, sehingga mendorong antusiasme mereka untuk ikut serta dan memperluas pengetahuan tentang teknologi pendidikan terkini.
Kerjasama dengan Unimas menegaskan bahwa kolaborasi antar-universitas dapat melampaui batas wilayah.
San Agustin berharap sinergi ini menjadi langkah awal dalam menjalin lebih banyak kolaborasi dengan institusi pendidikan lainnya di masa mendatang. [S] Laporan: Dian Febrianti (International Office)
Penelitian Perubahan Iklim: Seorang Periset asal Jerman, Carla Hermanussen Pilih SMA di Ngabang sebagai Lokasi Riset (2024)
Duta – Media Center San Agustin, Landak | Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo baru-baru ini berperan sebagai fasilitator bagi Carla Hermanussen (TU Dresden), seorang ahli geografi asal Jerman, dalam melaksanakan penelitian di dua SMA di Ngabang.
Penerimaan periset asing merupakan bentuk komitmen San Agustin terhadap SDG’s, dengan fokus kerja Climate Change.
Laporan yang ditulis International Office, Dian Febrianti menuliskan bahwa dalam kunjungan tersebut, Oxtapius Tawarik dan Selly Serlina, dosen dan mahasiswa Program Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), berperan sebagai penerjemah dan pendamping Carla dalam pertemuan dengan pihak SMAN 1 Ngabang dan SMAS Maniamas.
Di kedua sekolah tersebut, Carla mengamati langsung proses pembelajaran di kelas, khususnya mata pelajaran geografi.
Selain itu, Carla juga melakukan wawancara mendalam dengan para guru terkait persepsi mereka mengenai perubahan iklim.
“Kegiatan penelitian ini disambut hangat oleh pihak sekolah dan para siswa. Sebagai bentuk apresiasi, Carla memberikan cendera mata berupa peta dan totebag kepada pihak sekolah,” tulis Dian Febrianti.
Hasil penelitian Carla diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam hal pemahaman yang lebih baik mengenai dampak perubahan iklim di tingkat lokal, khususnya di kalangan generasi muda.
“Temuan-temuan dari penelitian ini juga dapat menjadi dasar bagi pengembangan kurikulum pendidikan yang lebih relevan dengan isu-isu lingkungan saat ini,” tulis Dian. [S]
Duta, Vatikan | Rabu (23/10/2024) – Paus Fransiskus, mengabulkan permintaan Uskup Bogor Mgr Pascalis Bruno Syukur OFM (62) untuk tidak diangkat sebagai kardinal. Meski ini bukan kali yang pertama terjadi tetapi keputusan tersebut tetap mengejutkan, terutama bagi umat Katolik di Indonesia dan masyarakat pada umumnya.
“Berita tersebut mengejutkan,” kata Ketua KWI/Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC yang diminta komentarnya.
Keputusan Paus itu diberitakan Vatican News, hari Selasa (22/10). Paus Fransiskus, hari Minggu (6/10) setelah Doa Angelus (Malaekat Tuhan) mengumumkan pengangkatan 21 kardinal, salah satunya, Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM. Menurut rencana, pengangkatan secara resmi akan dilakukan pada 7 Desember mendatang.
Pada 21 November 2013, Paus Fransiskus menunjuknya sebagai Uskup Bogor dan ditahbiskan pada 22 Februari 2014. Ia memilih mottonya sebagai Uskup Magnificat anima mea dominum yang berarti “Jiwaku memuliakan Tuhan” (Luk1:46).
Kata Direktur Kantor Pers Vatikan, Matteo Bruni, Mgr Paskalis mengajukan untuk tidak diangkat menjadi kardinal karena, masih ingin lebih bertumbuh lagi dalam kehidupan imam; masih ingin bertumbuh lagi dalam pelayanan kepada Gereja; dan masih ingin bertumbuh lagi dalam pelayanan kepada umat Allah.
Ini bukan kali ini terjadi, seorang calon kardinal minta untuk tidak diangkat. Dua tahun lalu, Paus Fransiskus menerima permintaan Uskup Belgia Lucas Van Looy untuk tidak diangkat menjadi kardinal. Menurut Vatican News, saat itu, permintaan Uskup Lucas Van Looy itu diajukan setelah pengumuman pengangkatannya memicu kritik karena ia tidak selalu bereaksi cukup tegas terhadap tuduhan pelecehan seksual.
Pada saat itu, Presiden Konferensi Waligereja Belgia, Kardinal Jozef De Kesel, dan seluruh uskup di Belgia “menghargai keputusan Uskup Van Looy.”
Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM. (Foto: Wikipedia)
Keputusan Mengejutkan
Meski permintaan untuk tidak diangkat menjadi kardinal pernah terjadi, tetapi keputusan Mgr Paskalis tetap mengejutkan.
Mgr Anton yang sedang menghadiri Sinode di Roma bersama Uskup Pangkal Pinang Mgr Adrianus Sunarko OFM, mengatakan berita itu mengejutkan. Namun Mgr Anton menambahkan, “Kita hargai keputusan Mgr Paskalis. Pasti Mgr Paskalis tahu yang terbaik bagi dirinya, bagi keuskupannya, dan bagi Gereja pada umumnya. Kita doakan.”
Hal yang sama dikatakan Superior Jenderalaà Kongregasi Para Misionaris Keluarga Kudus (MSF) Romo Agustinus Purnama Sastrawijaya MSF, yang tinggal di Roma. “Berita ini sangat mengejutkan. Mungkin ada alasan mendasar yang disampaikan Mgr Paskalis”, sehingga Paus mengabulkan permintaannya.
Kata Mgr Anton, “Yang paling bisa menjelaskan (mengapa meminta kepada Paus untuk tidak dilantik) hanya Mgr Paskalis sendiri.”
“Kita prihatin,” kata Romo Purnama.
Sinode adalah sebuah peristiwa di mana para uskup di seluruh dunia berkumpul, bermusyawarah, berbagi pengalaman iman, harapan, cinta dan keprihatinan bagi seluruh Gereja. Tetapi, sinode kali ini berbeda. Karena melibatkan kaum awam dan perempuan untuk membantu memetakan masa depan Gereja Katolik.
Hak Prerogatif
Pengangkatan seorang kardinal merupakan hak prerogratif Paus. Karena itu, hanya Paus pula yang memiliki kewenangan untuk mengurungkan pengangkatan itu, misalnya, atas permintaan calon kardinal, seperti Mgr Paskalis atau menolak pengunduran diri atau memberhentikan atau memecat seorang kardinal dari jabatannya karena suatu sebab.
Seseorang yang diangkat Kardinal tidak harus selalu menjabat Uskup sebelumnya. Pengangkatan seorang tokoh Gereja menjadi Kardinal tidak melalui proses ritual tahbisan. Misalnya, Paus Fransiskus mengangkat Timothy Radcliffe, seorang pastor Dominikan Inggris menjadi kardinal.
Juga, dalam setiap negara tidak harus selalu satu jumlah Kardinalnya. Bisa satu, tapi juga bisa lebih dari satu. Jabatan Kardinal bukan terjadi karena tahbisan, melainkan semata-mata karena diangkat oleh Paus, karena berbagai alasan yang hanya Paus sendiri yang tahu.
Tidak seperti uskup, yang ada masa pensiunnya, yakni setelah berusia 75, kardinal tidak mengenal pensiun. Melekat seumur hidup.
Tetap Tiga
Dengan dikabulkannya permintaan Mgr Paskalis itu, jumlah kardinal di Indonesia belum jadi bertambah menjadi empat, salah satunya sudah meninggal dunia. Yakni, Justinus Kardinal Darmojuwono Pr (lahir di Godean, Yogyakarta, 2 November 1914 – 1994). Ia diangkat menjadi kardinal oleh Paus Paulus VI, pada 26 Juni 1967, saat menjabat sebagai Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang.
Dua kardinal lainnya: Yang kedua adalah Julius Riyadi Darmaatmadja SJ (lahir di Jagang, Muntilan, Jateng, 20 Desember 1934 -….). Paus Yohanes Paulus II, pada 26 November 1994, mengangkat Uskup Agung Keuskupan Semarang ini, menjadi kardinal. Pada tahun 1996, Kardinal Darmaatmadja dipindah menjadi Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta. Kardinal Darmaatmadja yang pernah menjadi provinsial Jesuit, ambil bagian dalam konklaf tahun 2005 yang akhirnya memilih Kardinal Joseph Ratzinger menjadi paus, yang bergelar Paus Benediktus XVI.
Kardinal ketiga dari Indonesia adalah Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo (lahir Sedayu, Yogyakarta, 9 Juli 1950 – …). Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta ini, diangkat menjadi kardinal oleh Paus Fransiskus pada 5 Oktober 2019. Sebelum menjadi Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta, Kardinal Suharyo adalah Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang (1997 – 2009).
Jumlah Kardinal
Saat ini, ada 235 kardinal. Dari jumlah tersebut, 122 kardinal di antaranya adalah cardinal electors (kardinal yang memiliki hak pilih dan dipilih saat konklaf karena berusia di bawah 80 tahun). Semestinya, setelah 7 Desember 2024, jumlah kardinal 256 orang, karena 6 Oktober lalu mengumumkan mengangkat 21 kardinal.
Tetapi dengan keputusan yang minta untuk tidak diangkat, maka kardinal baru 20. Maka nantinya jumlah kardinal seluruhnya 255 orang, yang 140 orang di antaranya adalah cardinal electors (Rilis KBRI Takhta Suci). [S] – Perhimpunan Wartawan Katolik Indonesia.
Duta, Vatikan | Paus Fransiskus memimpin Misa Kanonisasi untuk 14 Orang Suci baru, termasuk 11 martir yang terbunuh di Suriah karena menolak meninggalkan iman mereka, dan menjunjung tinggi kesaksian Kristen mereka dengan mencatat bahwa mereka menjalani cara pelayanan Yesus.
Pastor Manuel Ruiz López dan tujuh orang rekannya, saudara Francis, Mooti, dan Raphael Massabki, Pastor Joseph Allamano, Suster Marie Leonie Paradis, dan Suster Elena Guerra, yang dikanonisasi oleh Paus Fransiskus pada hari Minggu, masing-masing mencontohkan kebajikan heroik dan memberikan kesaksian tentang kekudusan dalam panggilan unik mereka.
Seperti yang disampaikan Paus pada Misa Kanonisasi di Lapangan Santo Petrus pada Hari Misi Sedunia, bahwa orang-orang kudus baru ini menjalani kehidupan sesuai dengan cara Yesus yakni ‘pelayanan’.
“Iman dan kerasulan yang mereka laksanakan tidak memuaskan hawa nafsu duniawi dan haus kekuasaan, tetapi sebaliknya, mereka menjadikan diri mereka pelayan bagi saudara-saudarinya, kreatif dalam berbuat baik, tabah dalam kesulitan, dan murah hati sampai akhir,” kata Paus.
Paus mencatat bahwa kesaksian mereka mengundang umat Kristiani untuk mengindahkan undangan Yesus untuk melayani, bukan untuk mencari kemuliaan.
Dapatkah kamu meminum cawan yang Aku minum?’
Mengambil petunjuk dari bagian Injil Markus, Paus mengajak umat Kristiani untuk merenungkan pertanyaan mendalam yang Yesus ajukan kepada murid-murid-Nya, Yakobus dan Yohanes: “Apakah yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” dan “Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Aku minum?” Pertanyaan-pertanyaan ini, kata Paus Fransiskus, menyoroti keinginan-keinginan tersembunyi kita dan menyingkirkan segala ilusi kepentingan pribadi.
Bapa Suci menjelaskan bahwa melalui pertanyaan-pertanyaan ini, Yesus memanggil kita menuju hubungan yang lebih dalam dengan-Nya.
Bapa Paus Fransiskus juga mengatakan bahwa Yakobus dan Yohanes meskipun murid-murid yang setia, mendekati Yesus dengan harapan yang berakar pada kemuliaan duniawi, mencari kehormatan dan kedudukan berkuasa.
Mereka mendambakan tempat di sebelah kanan dan kiri-Nya dalam kemuliaan-Nya, membayangkan seorang Mesias yang menang yang akan memerintah dengan penuh kuasa. Namun, lanjut Paus, pemahaman mereka keliru.
“Yesus tidak berhenti pada permintaan mereka, Dia menyelidiki lebih dalam, menyingkapkan keinginan di balik kata-kata mereka. Dia menantang mereka, seperti Dia menantang kita, untuk melihat melampaui ambisi manusia,” kata Paus.
Seorang Raja yang datang untuk melayani
Paus Fransiskus mengingatkan, Mesias yang sejati bukanlah raja yang penuh kekuasaan dan dominasi, melainkan Raja-Hamba yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, bahkan sampai mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib.
Dia juga menambahkan bahwa gambaran yang Yesus tunjukkan kepada murid-murid-Nya merupakan perubahan radikal dari gagasan duniawi tentang kekuasaan.
“Di sebelah kanan dan kiri-Nya tidak akan ada singgasana, tetapi dua penjahat akan disalibkan di samping-Nya, menderita dan mati bersama-Nya dalam kehinaan,” katanya.
Bapa Paus Fransiskus menekankan bahwa kematian ini adalah cawan yang dibicarakan Yesus—kehidupan penuh kasih, baptisan penderitaan dan pelayanan.
Dia menegaskan bahwa jalan sejati kemuridan bukanlah jalan untuk berusaha mendominasi, tetapi jalan untuk belajar melayani.
“Mereka yang mengikuti Kristus, jika mereka ingin menjadi besar, harus melayani,” tambahnya.
Paus Fransiskus mengakhiri dengan menjunjung tinggi teladan dari 14 Orang Suci yang dikanonisasi pada hari Minggu, mengatakan bahwa mereka adalah pria dan wanita yang hidup bukan untuk kemuliaan mereka sendiri tetapi untuk kemuliaan Tuhan, menjadikan diri mereka pelayan bagi saudara-saudari mereka.
Dia mengundang umat Kristiani untuk berdoa melalui perantaraan mereka.
“Agar kita juga dapat mengikuti Kristus, mengikuti-Nya dalam pelayanan, dan menjadi saksi harapan bagi dunia,” tutup Paus Fransiskus. [S] Berdasarkan laporan Linda Bordoni 20 Oktober 2024, 11:34 Waktu Vatikan.
Duta, Landak | Di era digital saat ini, literasi digital menjadi salah satu kemampuan esensial yang harus dikuasai oleh para pendidik.
Transformasi pendidikan berbasis teknologi tidak hanya meningkatkan efektivitas pembelajaran, tetapi juga mendorong terciptanya lingkungan belajar yang lebih interaktif dan menarik bagi peserta didik.
Setidaknya, itu merupakan garis besar laporan yang disampaikan oleh Ketua Tim Pengapdian Kepada Masyarakat (PKM) Kunto Nurcahyoko dari Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (San Agustin).
Untuk menjawab tantangan itu, mereka menyelenggarakan sebuah program pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan untuk memberdayakan guru-guru SMP di Kabupaten Landak.
Program dengan tajuk “Pemberdayaan Guru SMP Kabupaten Landak melalui Pemanfaatan Game-Based Learning dan Cloud Computing untuk Meningkatkan Literasi Digital Guru,” dilaksanakan dari bulan September hingga Oktober 2024.
Program yang dipimpin dosen San Agustin Kunto Nurcahyoko, bersama rekan dosen lainnya yakni Rudi Hartono dan Pradipta Annurwanda dibantu dua mahasiswa, Citi Putri dan Yohanes Abxy Pebriyanto yang dimana kegiatan itu merupakan bagian hibah kompetitif Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat tahun pendanaan tahun 2024.
Menurut Kunto tujuan utama program tersebut adalah semakin meningkatkan literasi digital para guru SMP yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Zona Kecamatan Jelimpo melalui pelatihan penggunaan teknologi dengan berbasis game-based learning dan cloud computing.
Kompetensi Digital Guru
Dalam laporan itu, salah satu fokus utama dari program adalah memberikan pendampingan kepada para guru mengenai penggunaan cloud computing dalam pembelajaran dan administrasi sekolah.
Dalam beberapa sesi pendampingan yang diselenggarakan, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan teoritis, tetapi juga keterampilan praktis untuk mengaplikasikan teknologi ini secara langsung.
“Para peserta diperkenalkan dengan berbagai platform teknologi, termasuk Google Workspace, yang mencakup aplikasi seperti Google Docs, Google Drive, dan Google Classroom,” tulis Kunto dalam laporannya.
Menurut tim PKM San Agutin terdapat 27 guru tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Dalam sesi pertama, mereka diberikan pemahaman menyeluruh tentang pentingnya cloud computing dan bagaimana teknologi bisa mendukung proses belajar-mengajar serta mempermudah pengelolaan administrasi sekolah.
Sesi kedua, mulai dengan praktik kelompok dimana peserta terlibat menerapkan teori yang telah dipelajari.
Mereka diajak untuk berkolaborasi menggunakan Google Workspace dalam menyusun dokumen bersama dan berdiskusi mengenai tantangan-tantangan yang mungkin mereka hadapi dalam implementasi teknologi ini di sekolah masing-masing.
Harapan Guru Daerah Pinggiran
Meskipun sebagian besar peserta berasal dari daerah pinggiran kota di daerah Kabupaten Landak, semangat peserta untuk menguasai literasi digital sangat tinggi. Ketua MGMP Zona Jelimpo, Dede Melda, mengapresiasi program tersebut.
“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi peserta dalam mentransformasi metode pembelajaran,” ujar Dede Melda.
Dia menambahkan dengan menggunakan game-based learning, siswa menjadi lebih aktif dan tidak mudah bosan.
Respon positif juga datang dari pesetra lain yaitu Damai Yanti. Peserta berharap pelatihan ini bisa terus diadakan dengan materi seperti gamifikasi dan cloud computing.
Teknologi digital sangat membantu peserta dalam menyampaikan materi di kelas, meskipun berasal dari daerah pinggiran.
Peluang dan Pembelajaran Inovatif
Pemanfaatan teknologi seperti cloud computing dan game-based learning semakin membuka peluang baru bagi para guru di Kabupaten Landak untuk menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif.
Hal ini diakui oleh salah satu pemateri, Rudi Hartono, yang melihat antusiasme dan fokus para peserta selama pelatihan berlangsung.
Salah satu indikator guru yang melek teknologi adalah kesungguhannya dalam mengintegrasikan pembelajaran dengan kemajuan teknologi.
Dalam pelatihan itu, peserta diminta untuk menyelesaikan tugas kelompok menggunakan GoogleDocs dan Game-based learning, dan mereka berhasil menyelesaikannya dengan baik. Ini adalah bukti bahwa guru-guru di sana siap untuk beradaptasi dengan teknologi baru.
Masa Depan Pendidikan yang Lebih Baik
Keberhasilan program tak lepas dari dukungan berbagai pihak. Ketua tim PKM, Kunto Nurcahyoko, menyampaikan terima kasih kepada DRTPM Kemendikbudristek yang telah mendanai program ini, serta kepada Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Landak, dan MGMP Zona Jelimpo.
“Pelatihan ini diharapkan dapat memberikan dampak yang positif, tidak hanya bagi guru-guru peserta, tetapi juga bagi siswa yang akan merasakan manfaat dari pembelajaran berbasis teknologi,” kata Kunto dalam laporannya.
Dia juga melihat bahwa literasi digital guru yang semakin baik akan mendorong terwujudnya pendidikan yang lebih inovatif dan menarik.
Sebagai dosen yang masuk ke pedalaman, Kunto menilai program pelatihan literasi digital seperti itu bertujuan untuk berkontribusi pada peningkatan kapasitas guru-guru di Kabupaten Landak dan membuka jalan bagi penerapan teknologi yang lebih luas dalam dunia pendidikan.
“Proses pembelajaran yang berbasis teknologi tidak hanya relevan di perkotaan, tetapi juga di daerah-daerah pinggiran, seperti yang dibuktikan oleh semangat para guru,” tambah Kunto.
Dia berharap agar program serupa dapat terus berlanjut dan membawa pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik. [S] – Laporan Ketua PKM San Agustin, Kunto Nurcahyoko.
sosialiasi pada kelompok wanita tani Gundaleng Sejahtera (2024)
Duta – Media Center San Agustin, Landak | Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) bersama LPPM Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo meluncurkan program pemberdayaan berbasis masyarakat dengan skema Kebun Sehat Hemat Lokasi, (30 Agustus 2024).
Program ini menyasar kelompok wanita tani (KWT) di Dusun Ayo Gundaleng, Desa Senakin, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak. Proyek ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan di sekitar perkebunan sawit melalui pelatihan budidaya tanaman hidroponik, yang lebih sehat dan efisien.
Program bertajuk “Kebun Sehat Hemat Lokasi” dipimpin oleh Siskariyanti, M.Pd, dosen PJKR, dengan tim anggota yang terdiri dari Jack Suman Rulis Manurung, M.Pd., Sarita Indah Sari, S.P., M.P., serta mahasiswa Herodemus dari program studi PJKR.
Mereka mengadakan pelatihan bagi kelompok wanita tani Gundaleng Sejahtera, yang terdiri dari 20 anggota dan sejumlah perwakilan masyarakat lain, dengan total peserta mencapai 35 orang.
Kegiatan pelatihan dimulai pada 30 Agustus 2024 dan diresmikan oleh Kepala Desa Senakin, Marius, S.Sos. Juga hadir dalam acara tersebut Bapak Tamrin, S.ST. dari Badan Penyuluhan Pertanian Sengah Temila, serta beberapa perangkat desa lainnya.
Pelatihan itu berfokus pada pemanfaatan lahan kosong di sekitar rumah untuk bercocok tanam sayuran dengan metode hidroponik, sebuah teknik pertanian yang tidak menggunakan media tanah, melainkan air yang mengandung nutrisi.
Tujuan dari Program
Program bertujuan untuk mendorong para ibu rumah tangga di Dusun Ayo Gundaleng agar lebih mandiri dalam mencukupi kebutuhan sayuran sehari-hari.
Sistem hidroponik dipilih karena mudah diterapkan, tidak memerlukan lahan yang luas, serta minim penggunaan pestisida, sehingga menghasilkan sayuran yang lebih sehat.
Dalam pelatihan ini, peserta diajarkan cara bercocok tanam menggunakan peralatan sederhana seperti baki, ember, dan pipa paralon.
Pelatihan dan Pendampingan
Kelompok wanita tani dilatih secara intensif mengenai metode budidaya hidroponik, mulai dari teknik perakitan hingga perawatan tanaman.
Mereka juga diberikan pemahaman tentang manfaat hidroponik dalam jangka panjang, khususnya untuk mengatasi masalah keterbatasan lahan.
Hasil yang diharapkan adalah adanya peningkatan ketahanan pangan di kalangan rumah tangga, sekaligus potensi produksi skala kecil yang dapat menambah pendapatan keluarga.
sosialiasi pada kelompok wanita tani Gundaleng Sejahtera (2024)
Hasil Pelatihan
Setelah pelatihan, KWT Gundaleng Sejahtera berhasil merakit perangkat hidroponik sederhana di pekarangan rumah masing-masing.
Dengan total 312 lubang tanam yang tersebar di 15 pipa paralon dan beberapa ember serta baki, para peserta kini mampu menanam berbagai jenis sayuran seperti kangkung.
Hasil panen awal menunjukkan bahwa hidroponik dapat menjadi solusi praktis dan sehat bagi kebutuhan sayur-mayur keluarga di lingkungan perkebunan sawit tersebut.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Pelatihan hari itu dilaporkan oleh dosen San Agustin, mereka mengatakan bahwa kegiatan itu memberikan dampak positif, tidak hanya dalam hal peningkatan keterampilan para ibu rumah tangga, tetapi juga dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Dengan memanfaatkan lahan sempit dan peralatan sederhana, masyarakat dapat memproduksi sayuran sehat secara mandiri.
Selain itu, hasil panen yang berlebih juga membuka peluang bagi KWT untuk memasarkan sayuran secara kecil-kecilan.
Program Kebun Sehat Hemat Lokasi itu diharapkan menjadi contoh bagi kelompok tani lain di wilayah tersebut, mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pertanian ramah lingkungan. [S/ berdasarkan laporan Siska Dosen PJKR San Agustin].
Pastor Fransiskus Yosnianto OFMCap (Vikjen Keuskupan Agung Pontianak baru)
Duta, Pontianak | Belum lama ini, 16 Oktober 2024, Keuskupan Agung Pontianak resmi mengangkat Pastor Fransiskus Yosnianto, OFMCap sebagai Vikaris Jenderal baru.
Keputusan ini tertuang dalam Surat Keputusan Uskup Agung Pontianak Nomor 333.SK/SKR.KAP/X/2024, yang ditandatangani oleh Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak.
Keputusan itu dibuat setelah Pastor William Chang OFMCap, yang sebelumnya menjabat sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak, ditarik kembali oleh Ordo Kapusin Pontianak untuk menjalankan tugas baru.
Ucapan dari Uskup Agustinus (2024)
Dalam Surat Keputusan tersebut, Uskup Agustinus menyampaikan rasa terima kasih atas dedikasi dan pelayanan Pastor William selama ini.
Pastor Fransiskus Yosnianto dianggap memenuhi kualifikasi untuk jabatan baru tersebut dan akan menjabat untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.
Sebagai Vikarius Jenderal, Pastor Fransiskus akan menjalankan tugas berdasarkan Injil, Kitab Hukum Kanonik, serta Visi dan Misi Keuskupan Agung Pontianak.
Surat Keputusan Diberlakukan Sejak Penetapan
Surat Keputusan itu berlaku efektif sejak 16 Oktober 2024. Uskup Agustinus juga menekankan bahwa jika terdapat kekeliruan dalam penetapan itu, segala sesuatu akan diubah sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Pastor William Chang (Konselor Asia Pasifik) dan Pastor Yanto (Vikjen Keuskupan Agung Pontianak) (2024)
Tembusan Surat Keputusan
Surat Keputusan dari Keuskupan Agung Pontianak tersebut juga disampaikan kepada pihak-pihak terkait, yaitu Minister Propinsial Kapusin Pontianak, Pastor Kepala Paroki se-Keuskupan Agung Pontianak, serta Ketua UNIO Keuskupan Agung Pontianak, untuk diketahui dan dilaksanakan.
Dengan diangkatnya Pastor Fransiskus Yosnianto sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak yang baru, Uskup Agustinus tentu berharap keberlanjutan pelayanan pastoral akan terus berjalan dengan baik dan sesuai dengan visi keuskupan. [S]
Sidang Senat Terbuka, Institut Shanti Buana gelar Wisuda untuk Sarjana, Kalbar (2024)
Duta, Bengkayang ISB | Institut Shanti Bhuana menyelenggarakan prosesi wisuda bagi 4 Program Studi yaitu Wisuda Program Sarjana Program Studi Manajemen, Kewirausahaan, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, dan Program Studi Teknologi Informasi yang dilaksanakan pada Hari Kamis, 10 Oktober 2024, pukul 08.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB di Gedung Auditorium Santo Yosef Salib Institut Shanti Bhuana Bengkayang.
Rektor Institut Shanti Bhuana, Romo Marianus Dinata Alnija, S.S., M.Hum. dalam sambutannya menyampaikan pesan kepada winisuda untuk terus menjunjung tinggi nilai-nilai Integritas yang menjadi Spirit Roh dasar dari Institut Shanti Bhuana, sehingga dalam setiap karir dan kehidupan tetap berpegang pada etika dan moral yang baik.
Romo mengharapkan agar nilai-nilai Integritas dapat di bawa dalam dunia kerja. Kemudian, Romo juga menyampaikan kepada winisuda agar dapat menjadi teladan dan menunjukkan pada dunia kualitas lulusan dari Institut Shanti Bhuana melalui sikap dan tindakan.
Dia juga mengingatkan bahwa sekarang pada winisuda bukan hanya membawa sebuah gelar akademis tetapi sebuah tanggung jawab yang harus dibuktikan ditengah peradaban, pergumulan dunia dan juga dimanapun berada.
Lulusan Prodi Manajemen (2024)
Deum Amare Et Amatum Facere
Pada kesempatan ini juga Romo Yohanes Indra Kusuma CSE selaku pendiri Yayasan Santo Yohanes Salib menyampaikan sambutanya secara online. Pertama-tama dalam sambutannya dia mengucapkan selamat kepada winisuda.
Dalam kesempatan itu, Romo Yohanes CSE pesankan kepada winisuda bahwa seperti motto yang terdapat pada patung Yesus depan kampus Institut Shanti Bhuana Deum Amare Et Amatum Facere.
Lulusan Prodi Teknologi Informasi (2024)
”Kamu telah mengalami kasih Allah maka setelah ini kamu juga nanti akan ikut menyebarkan kasih Allah sehingga semakin banyak orang juga yang akan mengenal Allah, seperti kamu sendiri telah mengalami kasih Allah maka apa yang kamu terima berikanlah juga kepada orang lain dan dengan demikian kamu akan menjadi berkat bagi orang lain dan Tuhan akan memakai kamu sebagai alat-alatnya untuk mewartakan kasih Tuhan kepada saudara-saudarai yang kamu jumpai dalam tempat kerjamu dan tempat dimana kegiatanmu masing-masing,” katanya.
Lulusan Prodi Kewirausahaan (2024)
Dia juga berharap agar para lulusan Institut Shanti Bhuana dapat menjadi lulusan yang memiliki nilai-nilai Integritas di dalam dunia kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari serta dapat menjadi berkat bagi orang lain.
Berdasarkan laporan dari Anggelia Deli dan Felisitas Viktoria Melati, momen wisuda hari itu dipenuhi dengan antusiasme yang tinggi, baik dari para wisudawan, keluarga mereka, maupun tamu undangan yang hadir.
Menurut catatan dalam laporan merek, momen wisuda hari itu juga dapat ditonton secara online melalui chanel Youtube Institut Shanti Bhuana, karena acara wisuda disiarkan langsung (live streaming).
Pada momen wisuda itu juga ada serangkaian acara yang dilakukan seperti tarian pembukaan dan tarian persembahan acara wisuda yang dibawakan oleh UKM Seni Tari Institut Shanti Bhuana, Persembahan lagu dari alumni Institut Shanti bhuana dan juga pada kegiatan wisuda ini terdapat koor yang dibawakan oleh UKM Seni Suara Institut Shanti Bhuana. [S]_Laporan: Anggelia Deli & Felisitas Viktoria Melati.
Lukisan Johann Georg Melchior Schmidtner | Domain Publik
Duta, Pontianak | Ribuan orang Katolik mengalami pembebasan dari masalah dengan menggemakan novena yang Tak Pernah Gagal Kepada Perawan Maria Sang Pembuka Simpul Masalah.
Bagaimana kita memulai konsistenitas doa ini? Untuk menunjukkan kepada kita misi yang diberikan kepada Perawan Maria oleh Putranya, seorang seniman Johann Melchior Georg Schmittdner melukis Maria Sang Pembuka Simpul dengan cara elegant dan penuh keanggunan.
Sejak tahun 1700, lukisannya telah dihormati di Gereja St. Petrus di Perlack, Augsburg, Jerman.
Lukisan ini awalnya terinspirasi oleh meditasi Santo Irenaeus (Uskup Lyon dan menjadi martir pada tahun 202) berdasarkan pada persamaan yang dibuat oleh Santo Paulus antara Adam dan Kristus. Santo Irenaeus, pada gilirannya, membuat perbandingan antara Hawa dan Maria, dengan mengatakan: “Hawa, dengan ketidaktaatannya, mengikat simpul aib bagi umat manusia; sedangkan Maria, dengan ketaatannya, melepaskannya”.
Lukisan: Johann Melchior Dinglinger (Wikipedia)
Apa makna simpul itu?
Ada masalah dan pergumulan yang kita hadapi yang tidak kita lihat solusinya… simpul-simpul perselisihan dalam keluarga Anda, kurangnya pengertian antara orang tua dan anak-anak, rasa tidak hormat, kekerasan, simpul-simpul luka yang dalam antara suami dan istri, tidak adanya kedamaian dan sukacita di rumah.
Ada juga simpul-simpul kesedihan dan keputusasaan dari pasangan yang berpisah, bubarnya keluarga, simpul-simpul anak laki-laki atau perempuan pecandu narkoba, sakit atau terpisah dari rumah atau Tuhan, simpul-simpul alkoholisme, praktik aborsi, depresi, pengangguran, ketakutan, kesendirian… Ah, simpul-simpul kehidupan kita!
Betapa mereka mencekik jiwa, menghancurkan kita dan mengkhianati sukacita hati dan memisahkan kita dari Tuhan.
Hari demi hari, semakin banyak umat Kristiani berlutut untuk berdoa kepada-Nya begitu mereka bertemu dengan Bunda Kasih yang Indah.
Banyak keluarga telah berdamai! Banyak penyakit telah disembuhkan! Banyak pasangan telah kembali ke Gereja! Banyak pekerjaan telah diberikan!
Banyak pertobatan telah terjadi! Banyak umat Katolik telah berlutut berdoa dan bersyukur atas rahmat yang diterima dari Bunda kita yang manis.
Karena alasan itu, Maria yang melepaskan ikatan, yang dipilih oleh Tuhan untuk menghancurkan kejahatan dengan kakinya, datang kepada kita untuk menyatakan Dirinya.
Ia datang untuk menyediakan pekerjaan, kesehatan yang baik, untuk mendamaikan keluarga, karena Ia ingin melepaskan ikatan dosa-dosa kita yang mendominasi kehidupan kita, sehingga – sebagai putra-putra Raja – kita dapat menerima janji-janji yang disediakan bagi kita sejak kekekalan. Ia datang dengan janji-janji kemenangan, kedamaian, berkat dan rekonsiliasi.
Kemudian, terbebas dari ikatan kita – dipenuhi dengan kebahagiaan, kita dapat menjadi kesaksian tentang Kekuatan Ilahi di dunia ini, seperti potongan hati Tuhan atau botol-botol kecil parfum yang memancarkan belas kasihan dan cinta kepada sesama kita.
Seperti duta besar Yesus Kristus dan Perawan kasih yang adil, kita dapat menyelamatkan mereka yang menangis tanpa penghiburan, mereka yang kesepian, terikat dengan ikatan, yang tidak memiliki Tuhan, tidak memiliki Ayah atau Ibu.
Bunda Matahari Terbit, Tak Bernoda, Pembela kita, Penolong di saat-saat sulit, Bunda Allah dan yang dijadikan oleh-Nya sebagai Bunda kita, demikianlah Maria, Sang Pembuka Simpul diperkenalkan.
Di atas segalanya, Ia datang sebagai Ratu Belas Kasih, yang mengetahui segala hal tentang kita, yang berbelas kasih kepada kita dan bergegas menyelamatkan kita, berdoa bagi kita masing-masing kepada Yesus-Nya yang terkasih.
Siapakah Maria, Sang Pembuka Simpul?
Doa ini merupakan salah satu devosi favorit Paus Fransiskus. Paus Fransiskus sangat mencintai Perawan Maria yang Terberkati dengan gelarnya sebagai “Pembuka Simpul.” Namun, bagi banyak orang gelar ini agak aneh dan asing.
Lukisan tersebut menampilkan gambar Bunda Maria yang sedang memegang pita panjang dan melepaskan simpul-simpulnya. Sang pelukis tersebut konon terinspirasi oleh bagian berikut dari “Against Heresies” karya St. Irenaeus dari Lyons.
Demikian pula ikatan ketidaktaatan Hawa telah dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ketidakpercayaannya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya.
Dengan mengingat hal ini, Maria kemudian dimohon melalui doa populer untuk melepaskan simpul-simpul dalam kehidupan kita sendiri.
Di tangan-Mu tidak ada simpul yang tidak dapat dilepaskan. Bunda yang perkasa, dengan rahmat dan kekuatan syafaat-Mu bersama Putra-Mu dan Pembebas-Ku, Yesus, ambillah simpul ini ke dalam tangan-Mu hari ini.
Paus Fransiskus menemukan lukisan ini saat bepergian ke Jerman dan ia membawa devosi tersebut bersamanya saat kembali ke Argentina.
Menurut Catholic Herald, “[Paus Fransiskus] membeli kartu pos lukisan tersebut di kapel Jerman tempat lukisan tersebut dipajang dan membawanya ke Argentina sekitar tahun 1980-an [dan] sebelum menjadi Paus Fransiskus, ia mengukir gambar Maria ini pada piala yang ia berikan kepada Paus Benediktus XVI.”
Itu adalah pengabdian yang indah, yang menyerahkan kehidupan kita yang terikat ke dalam tangan Ibu kita, percaya bahwa ia memiliki kemampuan untuk melepaskan apa yang kita pikir telah hilang. [S] – Berdasarkan Sumber Aleteia & The Holy Rosary.