Sunday, May 3, 2026
More
    Home Blog Page 150

    Mgr. Agus dalam Kunjungan Di Ledo: Kehadiran Gereja Adalah Sahabat Pemerintah

    Kunjungan Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak bersama Sebastianus Darwis, S.E., M.M selaku Bupati Bengkayang, meninjau dan mengunjungi persiapan pemekaran Paroki Ledo - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Bengkayang – Kunjungan Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak bersama Sebastianus Darwis, S.E., M.M selaku Bupati Bengkayang untuk meninjau dan mengunjungi persiapan pemekaran untuk Paroki Ledo Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus Ledo, di Jalan Raya Ledo, Kabupaten Bengkayang pada Sabtu siang, 10 Juli 2021 menuai berkat untuk gereja Katolik Keuskupan Agung Pontianak.

    Baca Juga: Mgr. Agustinus Agus Ajak Umat untuk Menjaga ‘Nyawa’ dan ‘Jiwa’ Dimasa Pandemi

    Dalam pertemuan itu, Sebastianus Darwis selaku Bupati Bengkayang mengajak Uskup Agus untuk meninjau lokasi tanah Pemda yang ‘dijanjikan’ untuk ‘dihibahkan’ kepada Keuskupan Agung Pontianak dengan luas (4) empat hektare.

    Lokasi tanah hibah itu berada di Jl. Raya Ledo, Lesabela, Ledo, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat persis depan SMA N 1 Ledo.

    Bupati Dukung Adanya Pemekaran

    Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus menilai bupati Bengkayang sangat mendukung dan berani mengambil langkah untuk berubah serta berinovasi.

    “Bupati sudah melihat bagaimana kedepan membuat Kabupaten Bengkayang menjadi terdepan,” lanjut Uskup Agus. “Bupati sadar dengan tanda-tanda bahwa border itu dibuka, maka Kabupaten Bengkayang bisa menjadi potensial membuat daya tarik sehingga memungkinkan orang Malaysia, Sarawak akan menuju ke Bengkayang.”

    Baca Juga: Mgr. Agus: Covid-19 Ini Mengajarkan Kita, untuk Tidak Menggantungkan Diri dari Orang Lain

    Border adalah suatu jarak atau perbatasan antara daerah satu dengan lainnya dalam hal ini yang dimaksudkan Mgr. Agustinus Agus yakni batas antara Negara Indonesia dan Negara Malaysia.

    “Jadi sesuatu hal yang positif yakni dia berani membuat terobosan-terobosan,” kata Uskup pada 10/06/21.

    Langkah ini jelas bahwa bupati Bengkayang peduli dengan gereja dan mendukung pemekaran paroki.

    Semua dilakukan dalam konteks harapan untuk pembinaan umat yang lebih intensif sehingga orang lebih beriman.

    Baca Juga: Uskup Menjelaskan Tujuan Dokumen Ekaristi

    Melihat hal itu memang pemerintah sudah turut mendukung hal baik itu berupa dukungan atau menyiapkan tempat.

    “Menurut Sebastianus Darwis selaku bupati Bengkayang, ini cukup urusan bupati dengan penyerahan tanah sebesar 4 (empat) hektare dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkayang untuk Keuskupan Agung Pontianak,” kata Uskup.

    Gereja adalah sahabat pemerintah

    Sepintas lalu menurut informasi yang disampaikan oleh Sebastianus Darwis, bahwa tanah tersebut merupakan penanganan tanah dibawah diknas. Oleh karena itu Bupati akan cek terlebih dahulu.

    Baca Juga: Lebanon, surga bagi orang Kristen, berada dalam masalah besar

    “Saya juga tidak mau Bupati ada masalah, untuk itu tanah tersebut harus dicek kembali. Untuk melihat apakah ada sengketa atau tidak ada sengketa,” kata Uskup.

    Uskup beranggapan walaupun Sebastianus Darwis selaku Bupati Bengkayang mengatakan akan dihibahkan tanah seluas empat hektare, namun semua harus berdasarkan prosedur dan undang-undang yang berlaku.

    Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agus berterima kasih bahwa bupati Bengkayang sangat mengerti kebutuhan gereja. Menurut Uskup bagaimanapun gereja Katolik  dari dulu ingin kerja sama dengan pihak pemerintah.

    Baca Juga: Fr. Mikael Ardi Akhir Masa Top di STKIP Pamane Talino

    Dipihak lain, pemerintah juga menyadari bahwa  pemerintah juga tidak mampu untuk membina umat yang kecil. “Maka kehadiran gereja merupakan sahabat yang membantu pemerintah dalam mengajar masyarkat untuk beriman dengan baik dan ini adalah tugas pokok dari agama,” kata Uskup.

    Sejalan dengan itu, maka adanya tanah hibah tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah dalam menyiapkan sarananya agar pembinaan umat lebih intensif.

    “Jika merujuk dari Pancasila, dikatakan bahwa sila pertama berbunyi ‘Ketuhanan yang Maha Esa’, dan saya menilai itulah yang bupati Bengkayang amalkan,” tambah Uskup.

    Mgr. Agus: Covid-19 Ini Mengajarkan Kita, untuk Tidak Menggantungkan Diri dari Orang Lain

    Peletakan Batu Pertama Pembangunan Paroki St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus Simpang Tiga. Jumat pagi, 9 Juli 2021, pukul 10.00 WIB oleh Mgr. Agustinus Agus - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Landak – Peletakan Batu Pertama Pembangunan Paroki St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus Simpang Tiga sudah dilaksanakan pada Jumat pagi, 9 Juli 2021, pukul 10.00 WIB.

    Peletakan batu pertama pembangunan dimulai dengan pemberkatan sekaligus peletakan batu pertama oleh Mgr. Agustinus Agus sebagai Uskup Agung Pontianak. Selanjutnya peletakan pertama dimulai oleh Bupati Landak dr. Karolin Margret Natasa, kemudian diikuti Pastor Paroki RP. Albert Trinitas, CSE dan Camat Banyuke Hulu Andrew Gormico, S.IP, M.Si.

    Baca Juga: Mgr. Agustinus Agus Ajak Umat untuk Menjaga ‘Nyawa’ dan ‘Jiwa’ Dimasa Pandemi

    Upacara pemberkatan peletakan batu pertama pembangunan dimulai dengan penyerahan bantuan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Landak kepada panitia dengan nominal 500 juta rupiah. Penyerahan dana dilakukan langsung oleh Karolin selaku Bupati Landak didampingi Mgr. Agustinus Agus Uskup Agung Pontianak, RP. Albert Trinitas, CSE sebagai pastor paroki dan sejumlah umat yang menyaksikan.

    Penantian yang Sudah Lama

    Acara pagi itu dilaksanakan dengan protokol kesehatan dan pengawalan ketat dari aparat keamanan dan dihadiri oleh masyarakat undangan terbatas.

    Dalam sambutan  RP. Albert Trinitas, CSE dikatakan bahwa penantian yang sudah lama bagi umat Paroki St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus Simpang Tiga, terutama merindukan untuk memiliki gereja baru, akhirnya telah dimulai peletakan batu pertama pembangunan pada Jumat pagi, 9 Juli 2021.

    “Sejak berdirinya paroki ini dan sejak diberikan kepada komunitas kami Kongregasi Carmelitae Sancti Eliae (CSE) yang berkarya di Bandol, pada tahun 2012,” lanjut Pastor Albert. “Waktu itu wilayah ini diberikan kepada kami sebagai paroki. Dimana waktu itu masih kegembalaan Emeritus Mgr. Hieronymus Bumbun, OFMCap yang menjadi Uskup Agung Pontianak.”

    Baca Juga: Mgr Agustinus Agus: Kongregasi Suster SFIC Panen Calon Suster

    Pastor Albert mengisahkan bahwa kala itu, umat Simpang Tiga, Untang, Perigi dan Semade masih bagian dari Stasi Menjalin.

    “Saat itu kami mendirikan Aula. Berjalan dari tahun ke tahun, aula di sini sudah tak tertampung. Maka kerinduan kita untuk mendirikan gereja sudah mulai ada sejak tahun 2015,” katanya.

    Pastor Albert mengakui bahwa awalnya memang masih mau didirikan namun masih melihat animo umat, serta antusiasme dalam hidup menggereja.

    “Puji Tuhan kerinduan ini bisa terwujud, dan terima kasih kepada Mgr. Agustinus Agus yang mendukung kami untuk membangun gereja ini,” lanjut Pastor Albert. “Bukan hanya dukungan moral, tetapi juga finansial. Begitu juga dukungan dari pemerintah Kabupaten Landak yang selalu mendukung kami.”

    Bangga dengan Perkembangan Umat

    Selaku Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus berterima kasih atas inisiatif yang diambil oleh kongregasi CSE untuk membangun gereja dan memang sudah lama membicarakanya.

    Baca Juga: Kongregasi SFIC Provinsi Indonesia Terima 18 Postulan, 15 Novis, 3 Suster Kaul Perdana

    Keuskupan akan tetap mendukung serta sangat bangga dengan perkembangan umat yang ada di paroki-paroki.

    Mgr. Agus juga mengungkapkan di pihak lain, perkembangan tersebut harus didukung dengan dana yang memadai.

    “Sampai sekarang sejak saya datang ke Pontianak 2014, sudah ada 5 paroki baru, mulai dari karangan, jelimpo, jagoi Babang, Mempawah, Mandor dan tanggal 20 juli ini saya akan meresmikan Monterado sebagai paroki baru,” kata Uskup Agus.

    Covid-19 ini Mengajarkan Kita

    Dalam kesempatan itu juga, Mgr. Agus menyampaikan beberapa bulan yang lalu, Bupati Landak sudah meletakan batu pertama pembangunan di Meranti. “Saya sudah kesana melihatnya dan itu juga merupakan cikal bakal paroki baru,” kata Uskup Agus.

    Mgr. Agustinus Agus melihat sama seperti Meranti, jika ada gereja maka harus dibangun pastoran.

    “Oleh karena itu kalau pihak keuskupan yang ‘nampaknya seakan-akan kurang mendukung’ pembangunan daerah, bukan berarti tidak mendukung, tapi kita harus mengutamakan prioritas,” ujarnya.

    Baca Juga: Sebuah Konsep Pendidikan Berkarakter Dominikan

    Uskup juga mengingat kembali untuk Desember tahun 2020 yang lalu, telah dilaksanakannya peletakan batu pertama pembangunan tempat tinggal Uskup di Pontianak. “Dan itu juga membutuhkan dana,” lanjut Uskup Agus. “Keinginan saya jika pusat menjadi kuat tentu arah kita juga ke daerah-daerah, walaupun demikian tetap kita bantu, misalnya peletakan batu pertama gereja di Lingga dan membantu pembangunan. Dilain sisi saya juga masih membantu membangun menyelesaikan Gereja Pahauman.”

    Sebagai Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus berharap umat mendukung maksimal, apa yang bisa dibantu, sebab kekuatan gereja adalah kebersamaan.

    “Covid-19 ini mengajar kita untuk mampu mandiri, gereja tidak mungkin lagi hidup dari derma,” lanjut Uskup. “Jadi kadang-kadang, begitu ketika tidak ada orang ke gereja lagi derma anjlok sampai 80%.”

    Baca Juga: Komunitas PSM STKIP Pamane Talino: “Stand For Humanity”

    Uskup Agus menggarisbawahi kemandirian haruslah mutlak, karena gereja sekarang tidak bisa hidup lagi dari donatur, maka apapun harus diberdayakan misalnya daerah ini ada sawah dan kolam ikan maka beradayakanlah.

    “Covid-19 ini mengajarkan kita, untuk tidak menggantungkan diri dari orang lain,” kata Mgr. Agus.

    Bupati Landak Apresiasi Langkah Pembangunan Paroki

    Sebagai Bupati Landak dr. Karolin Margret Natasa mengapresiasi panitia dan umat yang telah bersusah payah untuk memulai pembangunan gereja di Simpang Tiga.

    Bupati berharap dengan adanya gereja, maka pembinaan dan pembangunan iman dan umat menjadi lebih baik lagi dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan dan kemajuan di Kabupaten Landak.

    Selaras dengan apa yang disampaikan oleh Mgr. Agustinu Agus, Katolik juga melihat bahwa saat ini masayarkat sedang berada di zaman yang luar biasa. Dimasa yang tidak normal banyak hal yang saat ini sedang dikhawatirkan.

    Baca Juga: Pengen Kuliah Kampus Terbaik, Kami Solusinya

    “Kita khawatir dengan kondisi pandemi Covid-19 (penyakitnya), karena itu berdampak juga dengan pertumbuhan ekonomi,” lanjut Bupati. “Apalagi masyarakat, gereja saja mengalami imbas dari situasi pandemi karena banyak orang tak bisa bergerak.”

    Zona merah

    Bupati juga menyampaikan untuk beberapa daerah seperti daerah yang terdampak zona merah, karena itu membuat perubahan yang luar biasa pada dunia dan masyarakat.

    “Namun dengan demikian tak menyurutkan iman kita, karena Tuhan akan hadir dan menguatkan kita semua,” kata Bupati.

    Dengan itu bersama Pastor Paroki dan umat, meski pelan namun pasti akan menyelesaikan pembangunan maka dari Pemerintahan Daerah Kabupaten Landak menyiapkan anggaran dasar, berasal dari anggaran APBD Landak, sebesar 500 juta rupiah.

    Baca Juga: Kardinal Parolin menandai peringatan kematian 1.300 tahun St. Odile

    “Sebenarnya pengen ngasi lebih, Cuma uangnya enggak ada,” ujar Karolin.

    Karolin berharap mudah-mudahan dengan adanya modal itu paling tidak sudah bisa untuk modal awal menancap tiang.

    “Karena ini anggaran pemerintah, maka kami sangat mengharapkan panitia menggunakannya dengan baik kemudian pada bulan Desember sudah menyerahkan laporan keuangan dengan nanti dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.

    Mgr. Agustinus Agus Ajak Umat untuk Menjaga ‘Nyawa’ dan ‘Jiwa’ Dimasa Pandemi

    Pelantikan 44 anggota Dewan Pastoral Paroki St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus Simpang Tiga, pada Jumat pagi, 9 Juli 2021 - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Landak – Mgr. Agustinus Agus meminta para Dewan Pastoral Paroki St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus, Simpang Tiga yang beralamat di Semade, Banyuke Hulu, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat untuk memerangi budaya ketidakpedulian terutama di masa pandemi Covid-19.

    Baca Juga: Pengumuman Pelaksanaan Misa di Paroki Katedral Santo Yosef

    Perubahan datang dari kehidupan yang selaras dengan ciptaan, di bawah tanda pandemi Covid-19 saat ini justru sebagai umat tidak hanya saling menjaga nyawa namun harus menjaga jiwa. Hal ini Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus ungkapkan dalam pelantikan 44 anggota Dewan Pastoral Paroki St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus Simpang Tiga, pada Jumat pagi, 9 Juli 2021.

    Melayani dengan Akal Budi

    Dalam homilinya, Mgr. Agustinus Agus mengisahkan peranan teknologi dalam membantu menyelaraskan perkembangan keadaan sekaligus menghimbau untuk cermat dalam menggunakan teknologi tersebut.

    “Cermat yang dimaksud disini adalah pintar untuk membaca tanda-tanda zaman. Maka dari itu sebagaimana dikatakan dalam Kitab Suci yaitu ‘tulus seperti merpati, licik seperti ular.” Lanjut Mgr. Agus. “Licik yang dimaksud disini yaitu bermakna positif, lebih tepatnya menggunakan akal budi dalam melayani dan bekerja.”

    Diantara banyaknya tafsiran tentang perkataan tersebut, Mgr. Agus menyederhanakannya bahwa dalam kondisi pandemi Covid-19, sebagai anggota DPP untuk periode 2021-2024 harus mampu untuk membaca tanda-tanda zaman.

    Baca Juga: Paus pulih secara normal; Minggu ‘Angelus’ dari rumah sakit

    “Jangan kemudian karena zaman, semangat melayani menurun karena dimanjakan oleh sajian misa online ditengah pandemi,” lanjut Uskup. “Ini bukan berarti boleh ngumpul dalam kerumunan, namun justru kesempatan ini digunakan untuk mengoptimalisasikan diri dan memaksa umat secara sadar menghayati iman di tengah krisis dunia.”

    Sebagai Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agus juga curhat bahwa tidak sedikit juga orang yang ingin menjatuhkan karena kebijakan yang dibuat olehnya, terutama dalam masa pandemi Covid-19. Namun disisi lain, Mgr. Agus mempertahankan simbol-simbol dari esensi gereja.

    Menjaga nyawa dan jiwa

    Selaras dengan berita tersebut, Mgr. Agustinus Agus mengungkapkan bahwa yang paling penting dimasa pandemi Covid-19 saat ini, peranan umat harus nyata dan memiliki dampak positif yang besar baik dari perkembangan iman maupun kesehatan.

    Baca Juga: Kongregasi SFIC Provinsi Indonesia Terima 18 Postulan, 15 Novis, 3 Suster Kaul Perdana

    “Bagaimana caranya menjaga nyawa ditengah pandemi Covid-19? Hal yang mudah adalah mendukung pemerintah untuk kampanye suntik vaksin dan tetap mengenakan protokol kesehatan,” tambah Uskup. “Dilain sisi, sebagai umat katolik jangan sampai kehilangan esensi ‘kekatolikkannya’, karena selain menjaga nyawa, umat Kristiani juga harus menjaga jiwa. Karena dengan itulah, dasar iman dan simbolik dari iman akan Kristus.”

    Pengumuman Pelaksanaan Misa di Paroki Katedral Santo Yosef

    Sumber: Pengurus Gereja dan Papa Miskin Dewan Pastoral Paroki Katedral St. Yosef Pontianak. – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Menanggapi intruksi Wali Kota Pontianak dan Satgas Penanganan Covid-19 serta demi mendukung program pemerintah tentang PPKM, dengan ini disampaikan hal-hal tentang pelaksanaan misa pada Hari Sabtu dan Minggu tanggal 10 dan 11 Juli 2021 sebagai berikut:

    1. Pada hari Minggu tanggal 11 Juli 2021 Misa Kudus di Gereja katedral hanya dilaksanakan 1 (satu) kali, yakni misa bersama umat dan live streming pada pukul 08.30;
    2. Sementara misa pertama pada hari Sabtu sore tanggal 10 Juli 2021 pukul 18.00 serta misa ketiga dan keempat pada hari Minggu tanggal 11 Juli 2021 pukul 16.00 dan 19.00 ditiadakan;
    3. Misa pada minggu berikutnya tergantung keputusan bersama antara Para Tokoh Agama dengan Pihak Pemerintah dalam pelaksanaan ibadat di masa PPKM;
    4. Semua keputusan ini merupakan hasil pembicaraan antara Bapak Uskup Keuskupan Agung Pontianak, Pastor Paroki Katedral Santo Yosef Pontianak dan Pihak Pemerintah yang terkait.

    Demikian pengumuman ini disampaikan untuk diketahui dan dilaksanakan. Terima Kasih.

    Paus pulih secara normal; Minggu ‘Angelus’ dari rumah sakit

    Rome's Gemelli Hospital where Pope Francis underwent surgery on July 4, 2021. (AFP or licensors)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Vatikan- Setelah operasi 4 Juli di Rumah Sakit Gemelli Roma, Paus Fransiskus pada hari Kamis kembali bekerja dan merayakan Misa bersama mereka yang membantunya.

    Dirilis dari Staf reporter Berita Vatikan dikatakan bahwa Paus Fransiskus “menghabiskan hari yang tenang”, Kamis, dengan “kemajuan klinis yang normal”. “Dia terus makan secara teratur dan melanjutkan perawatan yang dijadwalkan,” Matteo Bruni, direktur Kantor Pers Takhta Suci, mengatakan dalam sebuah pernyataan singkat pada hari Jumat.

    Baca juga: Paus ungkapkan Perawatan kesehatan adalah misi yang menyatukan sains dan kepenuhan umat manusia

    Bapa Suci pulih secara normal setelah operasi yang dijadwalkan untuk “stenosis divertikular usus besar” pada hari Minggu di Rumah Sakit Gemelli Roma.

    Dalam pembaruannya tentang pemulihan Paus, Bruni mengatakan dia “berjalan di koridor dan melanjutkan pekerjaannya, bergantian dengan saat-saat membaca teks”. Kamis sore, “ia merayakan Misa Kudus di kapel apartemen pribadinya” di rumah sakit, “dihadiri oleh semua orang yang membantunya selama dirawat di rumah sakit”.

    Membaca doa Angelus

    Setelah sedikit peningkatan suhu pada malam sebelumnya, Bapa Suci tidak mengalami demam lagi.

    Bruni mengatakan bahwa pada hari Minggu, Paus akan membacakan doa Angelus dari lantai 10 rumah sakit. “Bapa Suci berterima kasih atas banyak pesan kasih sayang dan kedekatan yang dia terima setiap hari dan meminta agar kita terus berdoa untuknya,” tambahnya.

    Setelah operasi, Minggu malam, Bruni mengatakan Paus “diharapkan tetap berada di rumah sakit selama kurang lebih tujuh hari, kecuali ada komplikasi”. Stenosis divertikular usus besar adalah penyempitan (stenosis) usus karena “divertikula”, atau kantong atau kantung, yang terbentuk di dinding usus besar yang mempersempit salurannya. Selama operasi yang berlangsung sekitar 3 jam, Paus menjalani “hemikolektomi kiri”, yaitu pengangkatan usus besar yang turun.

    Bagaimana Seorang Imam Menyelamatkan Kota Prancis dari Pengeboman di Perang Dunia II

    Sumber: https://aleteia.org/2021/07/03/how-a-priest-saved-a-french-town-from-bombing-in-world-war-ii/ - Komisi Komunikasi sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Internasional – Ketika kotanya akan dibom, Fr. Aubourg mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkannya. Pada tanggal 6 Juni 1944, D-Day yang terkenal, serangan pasukan Sekutu di pantai Normandia, adalah awal dari salah satu operasi militer paling tangguh dalam sejarah. Keberhasilan operasi ini, yang diberi nama Overlord, bergantung pada hasil perang melawan Hitler dan Third Reich.

    Tetapi pertempuran yang terjadi di pedesaan Normandia dan kota-kota di wilayah itu membawa kehancuran. Rouen, Caen, Lisieux, Le Havre. Banyak kota di Normandia yang lebih dari 50% hancur dan ribuan warga sipil kehilangan nyawa mereka.

    Baca Juga: Kongregasi SFIC Provinsi Indonesia Terima 18 Postulan, 15 Novis, 3 Suster Kaul Perdana

    Mengejutkan karena kelihatannya mengingat lokasi geografisnya—hanya beberapa mil dari pantai D-Day—Bayeux adalah salah satu dari sedikit kota yang selamat. “Keajaiban” ini disebabkan oleh seorang imam Benediktin, Fr. Aubourg (1887-1967).

    Keajaiban

    Dia pernah menjadi biarawan di Biara Solesmes (terkenal di dunia karena nyanyian Gregorian) dan pada saat pendaratan D-Day adalah Frater komunitas Suster Cinta Kasih di Saint-Vigor-le-Grand, sebuah desa berbatasan dengan Bayeux. Di gerbang Bayeux, jembatan Saint Loup dihancurkan, dan Jerman menunggu untuk menyergap. Kemungkinan hasilnya adalah Sekutu akan mengebom kota.

    Namun, pada malam tanggal 6-7 Juni 1944, Fr. Aubourg mendengar suara, seolah-olah Jerman meninggalkan posisi mereka. Keesokan harinya, sangat awal setelah merayakan Misa, Fr. Aubourg bergegas memberi tahu Sekutu tentang perkembangan ini.

    Baca Juga: Kardinal Parolin menandai peringatan kematian 1.300 tahun St. Odile

    Setelah ditugaskan untuk pelayanan di Isle of Wight selama beberapa tahun (setelah meninggalkan Biara Solesmes), Fr. Aubourg berbicara bahasa Inggris dengan sangat baik. Oleh karena itu dia dengan cepat mengumumkan kepada para perwira Inggris bahwa Jerman telah meninggalkan kota.

    Biarawan Benediktin

    Awalnya curiga, mereka memeriksa informasi imam untuk memastikannya. Setelah jelas bahwa dia benar, keputusan dibuat: Bayeux tidak akan dibom.

    Dalam sepucuk surat tertanggal 20 Juni 1959 yang disampaikan oleh Fr. Soltner, arsiparis biara Saint-Pierre de Solesme, dan di mana situs web Prancis Ouest-France melaporkan beberapa tahun yang lalu, Fr. Aubourg mengingat episode ini. “Saya telah disebut sebagai penyelamat Bayeux, tetapi saya tidak dapat mengatakan apakah saya telah menyelamatkan Bayeux,” katanya kepada para imam di Solesmes.

    Baca Juga: Sebuah Konsep Pendidikan Berkarakter Dominikan

    “Saya hanya tahu bahwa pada pagi hari tanggal 7 Juni 1944, selama Pertempuran Normandia, saya mempertaruhkan hidup saya untuk memperingatkan Inggris, yang telah mendarat sehari sebelumnya dan dihentikan lima kilometer (sekitar 3 mil) jauhnya, bahwa mereka dapat memasuki Bayeux, yang ditinggalkan Jerman pada malam hari. Dan nyatanya, tank Sekutu tiba satu jam kemudian. “

    Kongregasi SFIC Provinsi Indonesia Terima 18 Postulan, 15 Novis, 3 Suster Kaul Perdana

    Kongregasi SFIC Provinsi Indonesia Terima 18 Postulan, 15 Novis, 3 Suster Kaul Perdana. – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Di tengah situasi mencekam akibat wabah pandemi Covid-19 yang semakin masif, lonjakan panggilan dengan penambahan anggota baru bagi Kongregasi yang baru saja merayakan HUT ke-177 tahun berdirinya (24 Juni 1844-2021) di Veghel-Belanda ini justru meningkat.

    Kabar bungah ini terjadi bertepatan dengan perayaan Pesta St. Thomas Rasul dalam Kalender Liturgi Gereja, pada Sabtu, 3 Juli 2021 yang lalu.

    Prosesi penerimaan 18 Postulan, 15 Novis dan 3 suster novis berkaul perdana ini dibawa dalam perayaan Ekaristi di aula Rumah Retret Wisma Immaculata Pontianak yang dipimpin oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, didampingi oleh Pastor Ambrosius Pr, Pastor Elenterius SVD dan Pastor Yosef Astono Aji OFMCap.

    Baca Juga: Komunitas PSM STKIP Pamane Talino: “Stand For Humanity”

    Namun perayaan syukur pesta kebiaraan Kongregasi SFIC tahun ini masih berlangsung dalam suasana berbeda- ketat protokol kesehatan.

    Tidak ada undangan yang disebarkan. Misa pun disiarkan secara live streaming melalui kanal youtube; SFIC INDONESIA.

    Perayaan Syukur

    Langkah ini merupakan alternatif terbaik sehingga para suster SFIC yang berada di luar kota Pontianak, bahkan di luar negeri bisa mengikuti misa dan acara kebiaraan ini melalui nirkabel (online).

    Berikut nama-nama 18 aspiran yang diterima masuk sebagai postulan SFIC:

    • Monika Anni asal paroki Malaikat Agung St. Mikael Simpang Dua, Keuskupan Ketapang
    • Prisila Pebi Melenia asal paroki St. Yohanes Pemandi Pahauman, Keuskupan Agung Pontianak
    • Meliyanti Sari asal paroki St. Mikael Monterado, Keuskupan Agung Pontianak
    • Marsiana Anjeli asal paroki St. Alfonsus Maria De Liguori Bonti, Keuskupan Sanggau
    • Afra Diktari / Lara asal paroki St. Fidelis Sungai Ambawang, Keuskupan Agung Pontianak
    • Teodora / Ecin asal paroki St. Yusuf Mempawah Hulu Karangan, Keuskupan Agung Pontianak
    • Benadikta Angela / Lina asal paroki Salib Suci Ngabang, Keuskupan Agung Pontianak
    • Krisna Teresia Tampubolon asal paroki St. Petrus dan Paulus Keuskupan Agung Medan
    • Anastasia Tasia asal paroki Gembala Yang Baik Kuala Dua / Kembayan, Keuskupan Sanggau
    • Maria Aliana asal paroki St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus Lintang Kapuas, Keuskupan Sanggau
    • Rosalia Agata asal paroki St. Agustinus dan Mattias Darit, Keuskupan Agung Pontianak
    • Zaneta Nicola Inez asal paroki Santo Petrus dan Paulus Menjalin, Keuskupan Agung Pontianak
    • Putri Tarigas asal paroki St. Paulus dari Salib Mandor, Keuskupan Agung Pontianak
    • Yanti Sinarti Dina asal paroki St. Nikolaus dan Roh Kudus-Pacar, Keuskupan Ruteng
    • Anastasia Lisa asal paroki St. Fransiskus Asisi Pakumbang, Keuskupan Agung Pontianak
    • Hertina Yesi asal paroki St. Alfonsus Maria de Liguori Bonti, Keuskupan Sanggau
    • Brigita Yolanda asal paroki St. Christophorus Sui Pinyuh, Keuskupan Agung Pontianak
    • Natalia Lilit asal paroki St. Petrus dan Paulus Menjalin, Keuskupan Agung Pontianak

    Baca Juga: Pengen Kuliah Kampus Terbaik, Kami Solusinya

    Pada saat yang sama juga berlangsung pula upacara penerimaan 15 novis, dan tiga Suster berkaul perdana.

    Berikut 15 postulan yang diterima sebgai novis adalah:

    • Anastasia Trisnawati dengan nama biara Sr. Giovani Trisnawati
    • Yulita Rosdiati dengan nama biara Sr. Aurelia Rosdiati
    • Maria Francisca Dwi Hartiningtyas dengan nama biara Sr. Louis Marie
    • Anastasia Anjeli dengan nama biara Sr. Ignatia Anjeli
    • Yulita Pa’ong dengan nama biara Sr. Yosephio Pa’ong
    • Florentina Ola Griana dengan nama biara Sr. Florentina Ola
    • Cinda Farida dengan nama biara Sr. Claudia Cinda
    • Paula Adevita Dede dengan nama biara Sr. Paula Adevita
    • Tarsisia Ranata Tiara dengan nama biara Sr. Tarsisia Ranata Tiara
    • Elisabet Elita dengan nama biara Sr. Regina Elita
    • Emilia Maya Anggela dengan nama biara Sr. Elfrida Anggela
    • Resi Agricolatera dengan nama biara Sr. Agricola Resi
    • Aprianti Sari Apra dengan nama biara Sr. Zitalia Sari
    • Nerdawati dengan nama biara Sr. Hildegardis Nerdawati
    • Te’ek dengan nama biara Sr. Rafaella Te’ek

    Baca Juga: Mgr Agustinus Agus: Kongregasi Suster SFIC Panen Calon Suster

    Tiga suster novis mengikrarkan kaul pertama dan tugas perutusan sebagai berikut:

    • Geselle Indrisari di tempatkan di komunitas St. Anna Pahauman untuk tugas di keuangan Sekolah
    • Giacinta Marsedes di tempatkan di komunitas St. Wilibrordus Pontianak untuk tugas membantu di dapur komunitas
    • Gemma Batu Salu di tempatkan di komunitas St. Fransiskus Asisi Singkawang untuk tugas   membantu di Panti Lepra Alverno

    Dalam sambutan Suster Provinsial SFIC Indonesia, Sr. Yulita Imelda mengatakan sungguh bersyukur kepada Tuhan yang masih menghendaki kelangsungan karya kongregasi SFIC dengan menambah jumlah anggota baru dan terus   mengirim orang – orang yang oleh karena rahmat Allah tergerak hati untuk mengabdikan diri dan mempersembahkan seluruh hidupnya hanya untuk Tuhan.

    “Semoga Tuhan meneguhkan apa yang telah Dia mulai dalam diri para calon dan suster muda kita, sebagai penerus masa depan kongregasi.”

    Baca Juga: Uskup Menjelaskan Tujuan Dokumen Ekaristi

    Berkat doa dan dukungan kita, mereka dimampukan untuk tetap setia pada cita – cita mulia dan mampu terbuka pada bimbingan Roh Kudus dalam pembinaan diri agar dapat semakin mencintai panggilan hidup membiara sebagai SFIC,”ungkap suster yang pernah diutus oleh Dewan Pimpinan General untuk belajar mendalami Spiritualitas Fransiskan di FISC (Franciscan International Study Centre ) di Canterbury, UK ( United Kingdom – London),

    Sedangkan Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus dalam homilinya menegaskan bahwa setiap keputusan panggilan itu mengandung kepercayaan iman.

    Mengutip dari Injil Yohanes (20:24-29) mengisahkan keraguan dan ketidakpercayaan St. Tomas.

    kepercayaan iman

    Uskup yang baru merayakan tahbisan episkopal ke-21 pada 6 Februari 2021 yang lalu ini mengatakan bahwa karakter St. Tomas juga ada dalam setiap pribadi manusia.

    Baca Juga: Kardinal Parolin menandai peringatan kematian 1.300 tahun St. Odile

    “Para aspiran yang akan memasuki masa postulan, novis dan juga yang akan berkaul ini pasti merasa ragu ketika memutuskan. Namun belajar dari pribadi St. Tomas yang pada awalnya juga ragu, namun akhirnya menjadi rasul yang unggul dalam iman kepercayaan,”ungkap Monsinyur.

    Mgr. Agus juga menegaskan bahwa dipanggil berarti menjadi orang spesial/istimewa. Namun menjadi istimewa membutuhkan pengorbanan yang disertai iman kepercayaan kepada Tuhan.

    “Kepercayaan itu bagi saya bahwa jika Tuhan mau pasti jadi, jika langkah ini benar Tuhan pasti membantu. Yakinlah bahwa kamu adalah orang istimewa dan jadilah diri sendiri,”ungkap Monsinyur menutup homilinya.  Proficiat untuk para suster SFIC.

    Komunitas PSM STKIP Pamane Talino: “Stand For Humanity”

    Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta,Com, Landak- Kamis malam 1 Juli 2021, bertempat di auditorium Perpustakaan STKIP Pamane Talino.

    Kegiatan yang bertemakan Stand For Humanity yaitu berdiri tegak untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang diselenggarakan oleh Komunitas Paduan Suara Mahasiswa (PSM) PATA, yang dihadiri Rufinus Albert ketua STKIP Pamane Talino, Marselus Suarta Kasmiran WK III bidang kemahasiswaan, Dosen serta Staff dan Mahasiswa yang ikut serta memeriahkan.

    Adapun kegiatan yang dilaksanakan penampilan tarian adat dayak, stand up comedy, puisi, nyanyian dan penampilan puisi dari Rufinus Albert Ketua STKIP Pamane Talino sebagai penutup dipenghujung kegiatan.

    Menyuarakan keprihatinan

    Kegiatan berlangsung dengan lancar dengan menerapkan protokol kesehatan, untuk mengindahkan keselamatan kesehatan supaya selalu tetap terjaga.

    “Kita (segenap komunitas PSM) hendak berdiri dan menyuarakan keprihatinan kita terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang semakin memudar, media kita menyalurkan itu semua adalah dengan dan melalui kegiatan ini. Singkatnya, kami mau menjadi saksi yang berdiri tegak untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya Iko Logam pembina komunitas PSM STKIP Pamane Talino.

    Baca juga: Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid Santa Benedicta Pontianak Periode 2021-2022

    Dengan adanya kegiatan itu mereka berharap agar manusia semakin menyadari bahwa nilai kemanusiaan yang hilang, akan meruntukan manusia itu sendiri, maka kesadaran untuk saling menegakkan nilai kemanusiaan itu harus muncul. Hal ini menyangkut soal masa depan komunitas dapat diterima sebagai bagian dari UKM STKIP Pamane Talino.

    Melihat situasi dunia

    Komunitas konsisten untuk selalu menyelenggarakan acara-acara yang seperti ini sebagai media penyaluran bakat dan minat mahasiswa.

    “Kami mengangkat tema ini karena melihat situasi didunia yang pada saat ini butuh semangat untuk terus maju dari keterpurukan karena keadaan. Tujuan kegiatan ini bermaksud agar kedepannya kami bisa diterima sebagai UKM PSM di STKIP Pamane Talino. Sekarang usaha pertama kami adalah kegiatan ini kami tunjukkan exsistensi kami disini/kehadiran kami sebagai Komunitas dapat mengembangkan bakat dan minat mahasiswa khususnya,” kata Yulita Oktavia selaku ketua komunitas.

    Baca juga: Pengen Kuliah Kampus Terbaik, Kami Solusinya

    Tujuannya dari penyelenggaraan kegiatan ini pertama-tama adalah sebagai media penyuaraan (segenap Komunitas PSM) terhadap persoalan masa kini, bertitik tolak dari tema penyelenggaraan yakni “Stand For Humanity“.

    Tema ini di angkat dan dituangkan dalam bentuk yg berbeda. Yakni melalui kreativitas seni yang dimiliki oleh para Mahasiswa khususnya. Poin pertama yang ingin di raih tentunya adalah mau menyampaikan bentuk keprihatinan kita terhadap persoalan sosial-humanis yang tampak sudah sampai di ambang batas ketidakwajaran.

    Pengen Kuliah Kampus Terbaik, Kami Solusinya

    -Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta, Pontianak- Buat adik adik SMA, SMK, sederajat

    Yang ingin jadi Guru, Perawat, Bidan Yuk merapat ikuti Expo ini:

    Banyak  informasi menarik dalam kegiatan tersebut diantaranya sekma tentang kuliah dengan biaya murah.

    Pihak yayasan juga akan menjelaskan kuliah dengan peluang kerja tinggi.

    Selaras dengan itu, Keuskupan Agung Pontianak sudah mengelola penuh dengan standar professional kampus. Untuk itu bagi mereka yang ingin kuliah di kampus terbaik bisa lansung menghubungi kontak yang tertera di poster.

    Mgr Agustinus Agus: Kongregasi Suster SFIC Panen Calon Suster

    Sumber: Majalah DUTA- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Pontianak- Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus dalam kesempatan homilinya di Aula Immaculata mengucapkan selamat kepada Kongregasi Suster “Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei” yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Suster-Suster Fransiskus dari Perkandungan Tak Bernoda Bunda Suci Allah” alias Suster SFIC.

    Mgr Agustinus Agus merayakan misa penerimaan 18 aspiran Suster SFIC masuk Postulan, 15 Postulan  menerima jubah kebiaraan dan 3 Suster SFIC menerima kaul pertama. Misa syukur dilaksanakan pada Sabtu, 3 Juli 2021 di Jl. A.R. Hakim 104, Pontianak aula Immaculata.

    Baca juga: Kardinal Parolin menandai peringatan kematian 1.300 tahun St. Odile

    “Sekarang masa pandemi covid-19, dimana banyak kegaduhan dan kesulitan, namun Kongregasi Suster SFIC justru menuai,” kata Mgr Agus.

    “Dalam hidup, semua orang mengalami keraguan sama halnya dengan calon suster tentu akan mengalami rasa ragu-ragu,” lanjut Mgr Agus. “Begitu anda mencari kesempurnaan, maka anda sudah salah melangkah. Bagi saya iman dalam hidup adalah esensi yang sangat penting dan tiap hari kita membutuhkannya.”

    Sehubung dengan bacaan injil hari itu, Mgr Agustinus Agus mengutib tentang perkataan Yesus kepadanya Tomas yang berbunyi: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (TB Yoh 20:29).

    Setiap langkah harus didasarkan iman

    Homilinya, Mgr Agus mengisahkan pengalamannya saat vaksin pertama kali didengungkan, sebagai Pemimpin Umat Katolik di Pontianak, Kalimantan Barat, Mgr Agus dengan usia 71 tahun, memberikan contoh dan ikut mengkampanyekan dukungan Katolik kepada Pemerintah.

    Baca juga: Uskup Menjelaskan Tujuan Dokumen Ekaristi

    “Banyak yang takut kala itu, namun justru saat itulah kesempatan bahwa gereja juga harus mengambil peran dalam penyadaran pentingnya vaksin kepada masyarakat,” tambah Mgr Agus. “Salah satu peristiwa ini saya mau menyampaikan bahwa langkah yang kita ambil setiap hari, harus mengandung unsur kepercayaan dan itulah iman.”

    Harapan baru Kongregasi Suster SFIC

    Provinsial Kongregasi Suster SFIC, Sr. Yulita Imelda SFIC bersyukur dengan kehadiran postulan, novis dan tiga suster yang mengucapkan kaul sementaranya. Suster Yulita, melihat bahwa ini adalah sebuah kesempatan baru dan tantangan baru apalagi ditengah pandemi Covid-19. “Merekalah bibit dan gerenasi penerus Suster SFIC ,” ujarnya.

    Pada kesempatan itu pula, Sr Yulita mengumumkan untuk ke tiga suster yang menerima kaul sementara.

    Baca juga: Suster SFIC (Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei) dalam Karya Kerasulan di Lingkungan Gereja Paroki Pontianak

    Sr Yulita menyampaikan kepada tiga suster kaul sementara bahwa, mereka sudah memiliki sayap yang mulai tumbuh. “Dan mesti meninggalkan kenyamanan yang ada di Novisiat dan terbang dengan sayap yang sudah mulai tumbuh,” katanya.

    “Jadi sudah waktunya untuk belajar terbang dan belajar serta mencari pengalaman ditempat yang baru,” imbuhnya kepada tiga suster yang menerima kaul sementara.

    Berkat penutup

    Upacara misa syukur yang dipimpin oleh Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak didampingi oleh RP. Yosep Astono Aji, OFMCap, RP Elenterius, SVD dan RD Ambrosisus, ditutup dengan berkat melalui tangan Uskup Agung Pontianak.

    Kemudian dilanjutkan dengan foto bersama calon suster dan suster SFIC, kemudian santap siang bersama.

    TERBARU

    TERPOPULER