Sunday, May 3, 2026
More
    Home Blog Page 144

    Aksi Solidaritas Keuskupan Agung Pontianak Bersama KODAM XII Tanjungpura

    Pelepasan Pendistribusian logistik bantuan banjir Keuskupan Agung Pontianak bersama KODAM XII Tanjungpura oleh Mgr. Agustinus Agus – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Aksi Solidaritas Keuskupan Agung Pontianak bersama KODAM XII Tanjungpura Kolaborasi Distribusi Logistik Bantuan Banjir. Aksi ini di payungi oleh gerakan peduli dan melayani dari Keuskupan Agung Pontianak untuk membantu mereka yang terdampak banjir di wilayah Keuskupan Sintang dan Keuskupan Sanggau.

    Sinergisitas dalam belarasa untuk ikut terlibat dalam aksi kepedulian kemanusiaan bagi warga yang terdampak bencana banjir di dua wilayah itu TNI KODAM XII Tanjungpura dan Mgr Agustinus Agus Kolaborasi Distribusi Logistik Bantuan Banjir yang digalang melalui PSE-Caritas Keuskupan Agung Pontianak mulai pada 10 November 2021 lalu.

    Baca Juga: Kemanunggalan TNI dan Masyarakat Katolik: Uskup Agustinus Sampaikan Terima Kasih

    Sekitar pukul 07.15 WIB telah dilaksanakannya Pelepasan Pendistribusian logistik bantuan banjir Keuskupan Agung Pontianak bersama KODAM XII Tanjungpura oleh Mgr Agustinus Agus dilaksanakan pada Sabtu, 13 November 2021, di Pengembangan Sosial Ekonomi Caritas Keuskupan Agung Pontianak (PSE-Caritas KAP) beralamat Jl WR Supratman No 100 Pontianak.

    Aksi Solidaritas

    Pelepasan pendistiribusian ini dipimpin langsung oleh Mgr Agustinus Agus Uskup Agung Pontianak, didampingi oleh Mayor Andika Dandem Jasabekang KODAM  XII Tanjungpura bersama Br. Kris Tampajara, MTB sebagai Ketua Komisi PSE sekaligus Direktur Caritas Keuskupan Agung Pontianak. Hadir pula Pastor Saut Marulitua sebagai Administrator Paroki MRPD, Pastor Joshua, OFMCap Direktur Pertukangan-KAP ada juga Sr. Kresentia, SMFA dan Sr. Muthia, SMFA.

    Dalam kesempatan itu Uskup Agustinus menyampaikan bahwa penggalangan bantuan melalui PSE-Caritas Keuskupan Agung Pontianak sebelumnya sudah dibicarakan dan direncanakan melihat awal terjadinya bencana banjir.

    Melihat musibah banjir yang semakin parah maka Keuskupan Agung Pontianak melalui PSE-Caritas Keuskupan Agung Pontianak melakukan penggalangan bantuan untuk korban banjir yang terdampak di dua wilayah tersebut. Seperti yang diketahui beredarnya korban-korban banjir yang terjadi di media sosial dan sudah menyebar luas maka Mgr Agustinus Agus mengupayakan agar gerakan ini dilakukan dengan cepat untuk membantu korban.

    Baca Juga: Bagaimana Kita Ciptakan Gula di Jagoi Babang” Bincang Uskup Agustinus pada Bupati Bengkayang

    Bantuan-bantuan yang sebagaian sudah dikumpulkan itu akan didistirbusikan dan diberikan di dua wilayah Keuskupan yang terdampak yaitu Keuskupan Sintang dan Keuskupan Sanggau.

    “Hari ini pelepasan pendistribusian kolaborasi menggunakan truk KODAM XII Tanjungpura untuk pendistribusian tahap pertama akan diserahkan langsung dengan Keuskupan Sintang,” kata Mgr Agus.

    Uskup Agustinus Agus selalu mengingatkan semua anggota tim Caritas untuk selalu mengutamakan koordinasi baik dengan mereka yang menjadi donatur maupun partner yang menjadi kolaborasi.

    Kolaborasi

    “Terima kasih kepada donatur yang sudah memberikan bantuan lewat gerakan kemanusiaan ini, doa kami untuk para donatur yang baik hati,” ujar Mgr Agus.

    Adapun logistik yang dikirimkan bersama truk KODAM XII Tanjungpura hari ini ada 6 ton Beras, ada sebanyak 1.200 kotak Mie Instan, 1.200 liter dan beberapa bantuan yang berada di 5 armada lainnya.

    Tampak dua truk KODAM XII Tanjungpura bersama truk lainnya, yang berjejer di depan PSE-Caritas KAP untuk siap berangkat bersama rombongan menuju ke Keuskupan Sintang. Tepat Pukul 07.20 WIB, Uskup Agustinus Agus mengibarkan bendera Merah Putih sebagai simbolis kemanunggalan TNI Angkatan Darat KODAM XII Tanjungpura bersama Keuskupan Agung Pontianak untuk masyarakat.

    Kemanunggalan TNI dan Masyarakat Katolik: Uskup Agustinus Sampaikan Terima Kasih

    Peletakan Batu Pertama Pembangunan Pagar Gereja Paroki St. Paulus dari Salib Mandor -Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Mandor- Pangdam XII Tanjung Pura, Mayjen TNI Sulaiman Agusto, S.IP., M.M dan Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak meletakan batu pertama pembagunan pagar gereja Paroki St. Paulus dari Salib Mandor, dalam hal ini Pangdam diwakili oleh Widhioseno, S.E., M.Hum Brigjen TNI Irdam XII Tanjungpura, Senin, 08 November 2021.

    Kegiatan ini dihadiri oleh forkopimda Kabupaten Landak. Hadir juga Asintel Lantamal XII Pontianak Kolonel Marnir Yustinus Rudiman, Kanwil JKN Kalbar Edward Naigolan, Pastor Paroki, Kepala Bank Mandiri Kalbar, Julius Aho (pengusaha), tokoh agama dan tokoh masyarakat.

    Sebagai Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus sangat mendukung dan berterima kasih kepada Pangdam XII Tanjung Pura Mayjen Sulaiman Agusto, S.IP., M.M atas kemanunggalan TNI dan masyarakat khususnya masyarakat Katolik di Paroki Mandor.

    Baca Juga: Sapaan Kasih Mgr. Agustinus Agus Uskup Agung Pontianak pada Kunjungan Pangdam Mayjen TNI Sulaiman Agusto

    “Ini merupakan sinyal adanya kedekatan dan hubungan baik antara Keuskupan dan Kodam XII Tanjung Pura,” kata Mgr. Agus.

    Dalam sambutannya, Mgr Agustinus Agus juga menyampaikan syukur karena Kodam XII Tanjung Pura sudah merespon secara positif keinginan umat Katolik khususnya di Paroki St. Paulus dari Salib Mandor untuk menggunakan lahan milik TNI sebagai lahan yang digunakan secara bersama.

    Gereja Mandor menjadi Pusat Paroki

    Sehubungan dengan itu, Uskup Agung Pontianak mengisahkan secara singkat perkembangan umat dan gereja di wilayah Mandor tersebut. Dalam ceritanya itu Mgr Agustinus Agus mengatakan pada tanggal 15 April 2020 lalu Mandor resmi menjadi pusat Paroki, kalau di pemerintahan maka Paroki diibaratkan Kabupaten atau kecamatan.

    “Dulu Gereja Mandor hanya melayani umat yang ada di Mandor. Namun sekarang sebagai pusat paroki menjadi pusat untuk melayani seluruh umat katolik yang berada dalam wilayah kecamatan Mandor yang sampai saat ini ada 34 kampung dengan umat Katolik kurang lebih 14.000 orang, ” kata Uskup Agustinus.

    Uskup Agustinus menceritakan bahwa sebelumnya Mandor dilayani oleh Paroki Sungai Pinyuh, tetapi setelah menjadi Paroki, maka wilayah tersebut sebagian yang dari Sungai Pinyuh di ambil 15 Kampung kemudian ditambah 28 kampung yang dulu dilayani dari Paroki Pahauman.

    Baca Juga: Kepada Siapa Kita Mengadu,” Ungkap Mgr. Agus Depan TNI/Polri

    Uskup Agustinus melihat dan mengantisipasi kedepan bahwa lokasi gereja ini pasti tidak akan cukup. Karena selama ini tempat parkir hanya berada di area kecil sekitar gereja. Namun karena kegiatan dan umat yang semakin bertambah kemudian muncullah keinginan umat untuk melebarkan dan meluaskan gereja ini.

    “Untuk itulah, kami mengajukan permohonan kepada pihak TNI khususnya Kodam XII Tanjung Pura untuk bisa digunakan tempat ini sebagai tempat yang digunakan secara bersama-sama,” ujar Uskup Agustinus.

    Sejalan dengan itu, lahan yang dipakai hanya digunakan untuk lahan parkir. Dalam pembicaraan sebelumnya memang pihak Keuskupan bersedia untuk mempersiapkan seluruh material untuk membangun, jadi bukan hanya pagar tetapi termasuk tempat parkir.

    Kemanunggalan TNI dengan masyarakat dan umat Katolik

    Pada kesempatan itu juga Mgr Agustinus Agus mengaku bagi dirinya pribadi mungkin ini pertama kali terjadi. Karena adanya kerjasama yang nyata yaitu saling mendukung dan dalam hal ini adalah kemanunggalan TNI bersama masyarakat serta umat Katolik di Paroki St. Paulus dari Salib Mandor.

    Bagi Mgr Agustinus Agus hal itu bukan hanya sekedar pagar namun simbolis mengandung makna relasi yang lebih mendalam.

    Uskup Agung Pontianak menggarisbawahi bahwa peristiwa ini menunjukkan bahwa kehadiran TNI bersama masyarakat jauh lebih punya makna daripada sekedar tempat pagar dan tempat parkir.

    Baca Juga: Bagaimana Kita Ciptakan Gula di Jagoi Babang” Bincang Uskup Agustinus pada Bupati Bengkayang

    Menutup sambutannya, Mgr Agustinus Agus mengajak semua hadirin untuk berdoa bersama agar kebersamaan untuk rencana yang sudah ditetapkan dapat ditindak lanjuti demi kepentingan bersama.

    “Bukan hanya untuk masyarakat Katolik, tetapi untuk seluruh masyarakat Mandor khusus dimana antara TNI dan Masyarakat sungguh memiliki kerja nyata,” tambah Uskup Agustinus.

    Amanat Pangdam XII Tanjung Pura

    Usai sambutan dari Uskup Agung Pontianak, selanjutnya sambutan dari Widhioseno, S.E., M.Hum Brigjen TNI Irdam XII Tanjungpura yang membacakan dan menyampaikan pesan-pesan dari Pangdam XII Tanjung Pura.

    Dalam kesempatan itu Brigjen TNI Irdam Widhioseno menyampaikan atas nama Kodam XII Tanjung Pura yang mewaliki Pangdam XII Tanjung Pura, Mayjen TNI Sulaiman Agusto, S.IP., M.M menyampaikan mohon maaf karena Pangdam tidak bisa hadir dalam acara ini.

    “Namun seyogianya Pangdam sangat ingin hadir di Mandor tapi karena tugas dari komando atas maka dengan mohon maaf yang sebesar-besarnya beliau tidak bisa hadir dan diwakilkan kepada saya,” kata Brigjen TNI Irdam Widhioseno.

    Dalam sambutan yang dibacakan itu, dikatakan bahwa pertama-tama syukur kepada Tuhan yang Maha Esa karena tercapainya kesepakatan bersama antara Kodam XII Tanjung Pura dengan Keuskupan Agung Pontianak tentang penggunaan lahan dan lebih lagi untuk kepentingan bersama bagi masyarakat Paroki Mandor.

    Hal ini merupakan wujud nyata kebersamaan dan kesatuan sebagai bentuk dan bukti kemanunggalan TNI dengan Rakyat.

    Baca Juga: Peresmian Paroki dan Pelantikan Dewan Pastoral Paroki St Paulus dari Salib Mandor

    Berkaitan dengan penandatanganan perjanjian kesepakatan bersama, diharapkan masing-masing pihak bisa berkomitmen dan mengimplementasikan poin-poin dalam perjanjian bersama tersebut.

    Pangdam XII Tanjung Pura berharap dengan adanya pembangunan ini dapat memberikan rasa nyaman aman dan hikmah bagi jamaah saat beribadah sehingga bisa meningkatkan keimanan dengan Tuhan.

    Pangdam XII Tanjung Pura juga berdoa  semoga pembangunan ini bisa berjalan dengan lancar dan aman.

    “Mandor, 8 November 2021 Panglima Kodam XII Tanjung Pura dengan tertanda cap oleh Mayjen TNI Sulaiman Agusto, S.IP., M.M.,” dibaca oleh Brigjen TNI Irdam Widhioseno.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Berkati Pastoran St. Paulus dari Salib Paroki Mandor

    Setelah sambutan kegiatan itu ditandai dengan meletakan batu pertama pembangunan dan penandatanganan prasasti oleh Mgr Agustinus Agus sebagai Uskup Agung Pontianak dan di paraf oleh Brigjen TNI Irdam Widhioseno yang mewaliki Pandam XII Tanjung Pura disaksikan oleh tamu undangan dan tokoh masyarakat.

    Luas lahan yang nantinya akan digunakan secara bersama kurang lebih 200 meter persegi. Usai kegiatan Uskup Agustinus mengajak seluruh para tamu undangan untuk berfoto bersama kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah.

    Bagaimana Kita Ciptakan Gula di Jagoi Babang” Bincang Uskup Agustinus pada Bupati Bengkayang

    Pelantikan Dewan Pastoral Paroki santo Mikael Jagoi Babang oleh Mgr. Agustinus Agus - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com,Jagoi Babang – Mentari pagi dengan warna yang menguning seolah membuat setiap orang merasakan semangat yang disebarkan ke muka bumi. Tampak 6 gadis Dayak Bedayuh dengan baju dan penutup kepala khas wanita Dayak Bedayuh yang bersiap menyambut dengan tarian perarakan dari Gedung ‘Gereja Tua’ Paroki Santo Mikael Jagoi Babang, Minggu 30 Oktober 2021, pukul 10.00 Pagi.

    Perarakan diiringi dengan tarian dengan pose berjalan ke belakang sembari menghadap 69  Dewan Pastoral Paroki yang akan dilantik oleh Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak didampingi oleh Pastor Paroki, Pastor Fransiskus Forgione, OFMCap dan Pastor Rekan, Anselmus Dodi, OFMCap.

    Baca Juga: Kepada Siapa Kita Mengadu,” Ungkap Mgr. Agus Depan TNI/Polri

    Jagoi Babang di gambarkan sebagai sebuah kecamatan  berada di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Indonesia. Istimewanya wilayah Jagoi terletak di perbatasan Kalbar-Serawak (batas sebelah timur, kurang lebih 1 jam ke Kota Serawak).

    Sebelah utara Kecamatan ini berbatasan dengan Lundu, Sarawak Malaysia,sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Seluas dan kecamatan Siding, sebelah timur berbatasan dengan Serikin, Sarawak Malaysia.

    Ciptakan Gula di Jagoi Babang

    Dengan suara serak-serak basah, ditambah tatapan serius nan tajam Mgr Agustinus Agus mengisahkan perbincangannya dengan Sebastianus Darwis, Bupati Bengkayang untuk membuat terobosan baru di Kabupaten Bengkayang.

    Rencana ini disambut dengan antusias oleh Darwis dan turut menyuarakan promosi bahwa Jagoi akan menjadi destinasi wisata untuk Kabupaten Bengkayang. Hal itu Darwis sampaikan dalam sambutan di Paroki Monterado tempo hari (20 Juli 2021).

    Melihat pembangunan masyarakat di Jagoi Babang yang semakin merata, Mgr Agustinus Agus ‘meramal’ untuk kedepan Border antara Indonesia dengan Malaysia akan segera dibuka dan dengan itu peluang-peluang seperti itu harus ditangkap secara cepat.

    Bagi Uskup Agustinus wilayah dan posisi dari Paroki Jagoi Babang merupakan tempat yang ‘pas’ alias tepat untuk pembangunan cagar budaya dan sekaligus mendirikan patung Yesus Raksasa. Patung Yesus didirikan diatas Gong Raksasa. Bagi sebagian besar orang Dayak, sesuatu yang dirikan diatas gong artinya adalah orang yang di agungkan.

    Baca Juga: Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis Ungkapkan Wacana ‘Icon’ Patung Yesus Raksasa Bengkayang: Letaknya di Bukit Jagoi Babang

    Rencana Patung Yesus Raksasa akan berdiri diatas gong dan di bawah itu pula rencana akan berdiri destinasi budaya. Mgr Agustinus Agus berencana untuk mendirikan destinasi pameran seluruh suku yang ada di Kalimantan Barat untuk menjadi pameran dan promosi.

    Digambarkan oleh Mgr Agustinus Agus dalam diskusinya dengan Bupati Bengkayang ‘tempo hari’ ke ratusan umat pada misa minggu itu (30 Oktober 2021), ia berkata pada Bupati; “Eh, Darwis, mari kita ciptakan gula di Jagoi Babang,” katanya dihadapan ratusan umat dan 69 Dewan Pastoral Paroki yang dilantik.

    Usai perayaan misa, Mgr Agustinus Agus mengajak DPP baru yang baru untuk foto bersama sebagai kenangan akan kunjungan kali ini di Paroki Jagoi Babang. Eh tak disangka membludak umat mengantri untuk foto dengan Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus.

    “Ya meskipun panas dan sesak, tapi ini lah kesempatan saya bertemu dengan umat yang merindukan kunjungan seorang Uskup,” kata Mgr Agus sembari bergegas menuju aula usai padatnya umat yang mengantri.

    Kepada Siapa Kita Mengadu,” Ungkap Mgr. Agus Depan TNI/Polri

    Misa TNI/Polri bersama Mgr. Agustinus Agus - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Anjongan – Tampak baju motif loreng khas, yang dilengkapi dengan baret dengan warna yang disesuaikan dengan paduan warna hijau, hitam, dan coklat tua, yang akan semakin membuat para anggota TNI angkatan darat gagah berdiri di depan jalan masuk Gua Maria Anjongan.

    Disusul pula anggota lainya tentara angkatan udara memiliki warna biru loreng. Berbeda lagi dengan seragam angkatan laut yang memiliki warna putih. Kemudian dihadiri juga oleh Ibu Kapolda Nunuk Sigid Tri Hardjanto beserta anggota-anggota Polri dalam misa TNI/Polri bersama Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak pada 28 Oktober 2021, pukul 10.00 WIB.

    Baca Juga: Sapaan Kasih Mgr. Agustinus Agus Uskup Agung Pontianak pada Kunjungan Pangdam Mayjen TNI Sulaiman Agusto

    Sejak Uskup Agustinus bertugas diwilayah Keuskupan Agung Pontianak, melihat kondisi TNI Polri juga membutuhkan pendampingan rohani, maka sejak 30 April 2019, Mgr. Agustinus Agus mengangkat Pastor Laurentius Prasetyo, CDD dalam pengangkatan pastor TNI dan Polri untuk Keuskupan Agung Pontianak periode 2019-2022 dengan nomor 132.SK/Sekr-KAP/IV/2019.

    Dalam misa bersama TNI/Polri itu, Uskup menggambarkan bahwa dalam gereja Katolik perhatian-perhatian spesifik seperti ini ‘harus-lah’ dilihat secara ‘awas’ alias jeli. Bagi Uskup Agustinus Agus, TNI dan Polri juga manusia biasa. Mereka juga sering mengalami masa-masa kering dalam tugasnya. Terlebih, sebagai aparat caci makian bahkan ‘sumpah serapah’ masyarakat yang tidak mengerti sering mereka lahap.

    Perlakuan Khusus Gereja untuk TNI/Polri

    Sialnya tugas menegakkan keadilan dan melindungi rakyat kadang menjadi lazim termanipulasi dan tak jarang serangan mental menjadi mimpi buruk bagi mereka. Mgr. Agus juga mau agar TNI/Polri diperlakukan khusus dalam gereja Katolik maka dari itu sebagai kesempatannya memilih dan menetapkan Pastor untuk TNI dan Polri di Keuskupan Agung Pontianak.

    Pagi yang ‘sedu-sedan’ ditambah dengan iringan musik Maria, menambah suasana sakral mengigiring anggota masuk dalam keheningan batin pagi sebelum mulai misa. Perarakan dimulai dari rumah singgah gua Maria Anjongan. Disana Mgr. Agustinus Agus didampingi Pastor TNI/Polri Pastor Prasetyo CDD, Pastor Indra Lubis sebagai pastor paroki, dan Pastor Albert tamu dari Makassar.

    Baca Juga: Mgr. Agustinus Agus Berkunjung Ke Provinsialat Kapusin

    Uskup Agung Pontianak, Mgr  Agustinus Agus dalam renungannya dikatakan kepada siapakah kita (TNI/Polri) akan mengadu dikala menghadapi situasi mental dan masalah hidup yang membendung hidup. “Belum lagi soal atasan dan bawahan, termasuk masalah keluarga dan tempat tugas, kesempatan inilah saatnya kita mengadu kepada Bunda Maria,” kata Mgr. Agus.

    Uskup Agustinus juga mengisahkan peristiwa Pesta di Kana, dimana kala itu pesta yang kehabisan anggur dan Bunda Maria meminta Yesus terkait kekurangan anggur. Walaupun kata Yesus waktunya belum tiba, namun Yesus tetap membuat mukjizat mengubah air menjadi anggur karena permintaan Bunda-nya. Atas dasar itulah, lanjut Uskup Agustinus, “Bunda Maria adalah ibu kita semua, bahkan di kayu Salib Yesus berkata kepada muridnya; murid, inilah ibu mu, dan Yesus berkata kepada ibunya; ibu inilah anak mu,” ujarnya.

    Sejarah Gua Maria Anjongan

    Selain refleksi, Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus juga mengisahkan garis besar sejarah Gua Maria Anjongan.

    Mgr. Agustinus mengisahkan pada saat Gerakan G30S PKI tahun 1965 yang berdampak dalam situasi dan keamanan di Kalimantan Barat.

    Saat itu, pada tanggal 17 Oktober 1967 terjadi peristiwa yang dikenal dengan ‘demonstrasi’ orang Dayak dan orang Tionghua yang mengakibatkan banyak korban dan nyawa. Dengan kata lain terjadi pertumpahan darah dan tragedi ‘merah’ yang menyayat hati.

    Prihatin dengan peristiwa tersebut dan kerinduan besar akan kehidupan yang penuh kedamaian itulah yang menggerakan hati Pastor Isak Doera Pr (yang kemudian menjadi Uskup Sintang pada tahun 1977-1996), yang sejak Juni pada 1967 bertugas sebagai pastor tentara, kepala rohaniwan katolik (Rohat) dengan pangkat tituler “Mayor TNI” pada KODAM XII TANJUNGPURA, menyarankan kepada Antonius Leonardus van Aert (Pemimpin umat di Anjongan) dibantu oleh Simon Petrus (Katekis Paroki Katedral Santo Yosep Pontianak) untuk mencari tempat yang tepat, untuk membangun Gua Maria.

    Baca Juga: 75 Tahun Kongregasi Pasionis Berada di Indonesia

    Tempat tersebut dibangun bukan hanya dimaksudkan sebagai tempat ziarah tetapi diharapkan juga sebagai tempat mempertemukan kedua kelompok yang bertikai agar terciptalah perdamaian.

    Tanggal 29 April 1973 Mgr. Hieronymus Bumbun OFMCap pada saat itu masih pastor dan menjabat sebagai Vikjen Keuskupan Agung Pontianak, meresmikan dan memberkati Gua Maria Anjongan yang kemudian diberi nama ‘Maria Ratu Pencinta Damai”. Uskup Agung waktu itu, Mgr. Herculanus Joannes Maria van der Burgt, OFMCap (tanggal 31 Januari 1961- 2 July 1976).

    Sejak saat itulah Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan resmi digunakan oleh umat Katolik sebagai tempat ziarah. Pelayanan Pastoralnya, dilaksanakan oleh Pastor Herman Josep van Hulten, OFMCap yang bertugas di Paroki Menjalin (1964-1974).

    Sehubungan dengan adanya Gua Maria itu, Bpk. Antonius Leonardus van Aert memberi kesaksian: “Orang Tionghua dan etnis Dayak diberi kesempatan untuk saling bertemu dan memaafkan dibawah kaki Bunda Maria dan ternyata usaha ini berhasil.”

    Baca Juga: Benih untuk Gereja yang lebih setia

    Sebagai wujud syukur kepada Bunda Maria atas terciptanya kedamaian tersebut 27 Mei 2018 diresmikan dan diberkati Patung Raksasa, ‘Maria Ratu Pencinta Damai’ yang terletak di jalan masuk Gua Maria oleh Mgr. Agustinus Agus Uskup Agung Pontianak. Tertulis Anjongan 1 Oktober 2021, oleh Komsos Keuskupan Agung Pontianak.

    Kami Bangga

    Sebagai anggota aparat dalam kesan dari Mayor Czi Ignatius agung S.S.T KODAM XII/TPR mengaku bangga dengan adanya kegiatan misa berkumpul bersama seperti ini. Sebagai perwakilan anggota TNI Angkatan Darat ia berharap semoga kegiatan berkumpul bersama seperti ini harus ditingkatkan bahkan ia menghimbau agar setiap awal bulan semua anggota bisa membawa keluarga untuk berdoa bersama dalam setiap pertemuan.

    Sama dengan itu, Kompol Anton Waka Polres Mempawah juga mengungkapkan rasa terima kasih dan perasaan yang luar biasa itu dalam bentuk syukur serta terima kasih kepada Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus karena selain meluangkan waktu, Uskup Agustinus juga memberikan wejangan dan refleksi rohani kepada segenap yang hadir.

    Ada pula perwakilan dari Letda Laut (KH) Boin Nofetrus Sihotang dan Letkol Kal Yohanes Eko K, TNI Angkatan Udara yang mengungkapkan rasa bangga sekaligus syukur, karena mereka boleh dipersatukan dan dikuatkan lagi dalam satu iman.

    Sapaan Kasih Mgr. Agustinus Agus Uskup Agung Pontianak pada Kunjungan Pangdam Mayjen TNI Sulaiman Agusto

    Kunjungan silahturahmi Pangdam Mayjen TNI Sulaiman Agusto dengan tokoh katolik Mgr. Agustinus Agus – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak –  Dengan seragam lengkap beserta protokol, tepat pada Jumat (22/10/2021) Pangdam XII Tanjungpura Mayjen Sulaiman Agusto didampingi Dandim 1207 Pontianak, Kabintaldam XII Tanjungpura dan jajarannya mengunjungi tokoh Katolik Kalimantan Barat yakni Mgr Agustinus Agus Uskup Agung Pontianak, pukul 13.30 Wib.

    Baca Juga: 75 Tahun Kongregasi Pasionis Berada di Indonesia

    Kunjungan Pangdam Mayjen TNI Sulaiman Agusto dalam rangka kunjungan silahturahmi dalam hal ini bertemu dengan Uskup Agustinus untuk mempererat tali persaudaraan antara Gereja Katolik dan TNI Kalbar. Sebagai tuan rumah, Keuskupan Agung Pontianak menyambut hangat kedatangan kunjungan Pangdam Mayjen TNI Sulaiman bersama jajarannya.

    Dengan jubah Agung Uskup, Mgr Agustinus Agus lengkap didampingi Vikaris Jendral Keuskupan Agung Pontianak Pastor William Chang OFMCap. Hadir pula Sekretaris Keuskupan Agung Pontianak Pastor Barces CP, Pastor Paroki Katedral RD Alexius Alex termasuk Pastor Laurentius Prasetyo CDD sebagai pastor TNI/Polri.

    Penyambutan hangat itu dijamu pada meja makan Keuskupan dan tampak perbincangan ringan pun terjadi secara spontan dan jenaka. Jamuan dalam kunjungan silahturahmi itu bertambah cair ketika Uskup Agustinus melantunkan pantun sembari menawarkan tamu kehormatannya untuk ‘ngopi’ siang bersama.

    Baca Juga: Kasus yang Menimpa CU, Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus Beri Peringatan Keras

    Obrolan yang dikira akan singkat itu, ‘tak terasa’ pula dua jam sudah berlalu. Saat Mayjen TNI Sulaiman ‘menyirup’ penghujung kopi-nya, Uskup Agustinus pun bergegas mengambil buku Biografi nya ‘Anak Kampung Jadi Uskup Agung’ sebagai kenangan darinya. Kesempatan itu pula Uskup Agustinus berpesan dengan bisikan halus dan lemah lembut pada Pangdam.

    “Kenapa saya menulis ini? Agar tidak ada lagi istilah minder karena orang kampung. Baik Kampung maupun dari kota semua sama dihadapan Allah. Jadi adanya buku ini untuk mengingatkan bahwa; minder menjadi orang kampung,” tutur Uskup Agus.

    Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, segera jajaran Pangdam bersama Uskup Agung Pontianak menggunakan kesempatan itu untuk mengabadikan momen di Ruang tengah dan depan rumah Keuskupan.

    Sementara jajaran Pangdam lainnya menyiapkan kendaraan dinas, usai potret bersama itu gerakan langkah tenang Uskup Agustinus Agus mengantar Pangdam Mayjen TNI Sulaiman Agusto menuju mobil dinas, dan ‘masih’ tetap menunggu hingga sang Pandam memasuki mobil dinasnya sembari melambai tangan seolah melukiskan persaudaraan yang amat dalam. Sama halnya Pangdam dalam mobil-pun senyum sembari melampaikan tangan pada Bapa Uskup Agustinus Agus.

    75 Tahun Kongregasi Pasionis Berada di Indonesia

    75 Tahun Kongregasi Pasionis Berada di Indonesia- Foto oleh Pastor Ilwan, CP- Komisi Kominikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Kongregasi Pasionis pada tahun ini mengalami sukacita yang penuh makna. Sebab, telah genap 300 tahun usia Kongregasi Pasionis jika dihitung dari kelahirannya di Italia. Kongregasi Pasionis (disingkat CP) didirikan oleh Santo Paulus dari Salib.

    Kemudian khusus untuk konteks Indonesia, CP dinyatakan telah 75 tahun berada di Indonesia. Hitungan 75 tahun keberadaan CP di Indonesia didasarkan pada pertama kali misionaris CP dari Belanda menjejakkan kakinya di Indonesia pada 75 tahun silam. Yang kemudian dilanjutkan dengan kedatangan misionaris CP dari Italia.

    Misionaris dari Belanda yang pertama tiba di Indonesia adalah P. Bernardinus Knippenberg, CP, P. Canisius Pijnappels, CP dan P. Plechelmus Dullaert, CP. Mereka disebut misionaris dari Provinsi Materi Sanctae Spei Belanda. Sedangkan misionaris CP dari Italia yang pertama tiba di Indonesia adalah P. Marcello Di Pietro, CP dan P. Cornelio Serafini, CP. Mereka disebut Misionaris CP dari Provinsi Pieta Italia.

    Para misionaris dari Belanda mulai mewartakan Injil di Ketapang sejak bulan Juli 1946. Pada tahun 1954 misi Ketapang dinaikkan statusnya menjadi Prefektur Apostolik dengan perluasan wilayah ke daerah Sekadau dan Meliau (sekarang Keuskupan Sanggau). Tahun 1968, wilayah tersebut diserahkan kepada misionaris Italia yang tiba di Indonesia pada tahun 1961.

    Kongregasi Pasionis merayakan 75 tahun keberadaannya di Indonesia dengan penuh hikmat di Sekadau selama dua hari. Hari pertama (19 Oktober 2021) diisi dengan seminar bersama selama sehari. Seminar ini bertujuan untuk merefleksikan kembali karya-karya CP selama 75 tahun dengan menghadirkan narasumber dari awam maupun pastor-pastor CP sendiri. Selain merefleksikan sejarah, seminar ini juga mengupayakan diskusi tentang bagaimana CP ke depannya agar tetap efektif di tengah arus zaman.

    Hari kedua (20 Oktober 2021) dilaksanakan misa syukur 75 tahun CP yang dipimpin oleh Uskup Keuskupan Sanggau yang juga merupakan salah satu misionaris CP yang masih aktif berkarya di Indonesia sekaligus saksi sejarah CP di Indonesia. Dalam kesempatan itu, CP juga bersukacita karena seorang Pastor CP asal Indonesia yaitu P. Gabriel Asun, CP merayakan 25 tahun imamatnya. Dia adalah buah karya misi yang konkrit.

    Bupati Kabupaten Sekadau yang turut hadir dalam misa tersebut, dalam kata sambutannya mengenang misi CP yang sangat berjasa berkontribusi di dunia pendidikan selain menyebarkan Injil di tengah masyarakat Sekadau. Bupati Kabupaten Sekadau bangga karena 75 tahun CP dirayakan di wilayah kabupaten Sekadau.

    P. Nikodemus Jimbun, CP selalu provinsial CP untuk Indonesia menyatakan bahwa 75 tahun CP hadir di Indonesia selain sebagai peristiwa sejarah juga sebagai peristiwa iman.

    Setelah misa syukur di gereja paroki St. Petrus dan Paulus Sekadau, dilaksanakan acara ramah tamah di biara CP Sekadau. Kegiatan ini menurut P. Petrus David, CP tidak lepas dari kerjasama banyak pihak. Ucapan terimakasih disampaikan kepada semua pihak baik kepada pemerintah kabupaten Sekadau dan para donatur yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu.

    Tentu tidak lepas juga dari kerjasama dengan pihak Keuskupan dan P. Kristianus CP selalu pastor paroki Sekadau yang menyediakan fasilitas paroki untuk memperlancar kegiatan ini. Kegiatan ini berlangsung penuh makna dan tetap menjalankan protokol kesehatan sebagai wujud kerjasama Gereja dan negara dalam mengatasi wabah covid 19.

    Kasus yang Menimpa CU, Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus Beri Peringatan Keras

    Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Sebagai fraksi PDIP DPRD Kalbar dapil sanggau-sekadau Martinus Sudarno menyampaikan bahwa pada hari Selasa, 5 Oktober 2021, ia senang dikunjungi oleh Ketua Pengurus dan CEO CU Lantang Tipo. Dalam pertemuan itu mereka mengadukan terkait pemeriksaan oleh Dirkrimsus Polda Kalbar atas tuduhan pelanggaran bermacam ragam aturan.

    “Padahal menurut hemat saya bahwa CU di Kalbar telah berjuang puluhan tahun dan berhasil memberdayakan masyakat kampung dalam mengelola pendapatan, belanja dan ekonomi mereka,” kata Martinus Sudarno.

    Menurutnya, tak seharusnya CU yang nota bene milik anggota yang sebagian besar adalah masyarakat kecil diperlakukan seperti ini.

    “Saya prihatin ada pihak-pihak tertentu yang mau mengobok-obok dan mengkriminalisasikan CU di Kalimantan Barat. Mari kawan-kawan aktivis CU kita bersatu melawan ketidakadilan ini….!!!
    Merdeka….!!!” Tutupnya dalam pesan Via WA yang ditulisnya.

    Baca Juga: Mgr. Agustinus Agus Berkunjung Ke Provinsialat Kapusin

    Menanggapi issue miring tentang CU yang beredar, Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus terhadap menanggapi persoalan yang dihadapi CU, tertanggal Rabu, 6 Oktober 2021 dituliskan didalamnya bahwa sebagai tokoh Agama Katolik, Uskup Agus mengungkapkan keprihatinannya.

    “Menanggapi berita-berita tentang masalah yang dihadapi CU Keling Kumang, Lantang Tipo dan Pancur Kasih, saya sebagai Uskup Agung Pontianak merasa sangat prihatin,” kata Uskup Agus.

    Sebagai tokoh agama, Mgr Agustinus Agus menceritakan kronologis dan latarbelakang keberadaan eksistensi CU selama ini.

    Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus mengungkapkan lahirnya CU di Kalimantan Barat adalah atas inisiatif Gereja Katolik, oleh karena itu bukan secara kebetulan bahwa sebagai Tokoh Agama Katolik ia diundang untuk meresmikan Kantor Pusat CU Keling Kumang di Tapang Sambas, Kabupaten Sekadau, CU Lantang Tipo di Bodok Kabupaten Sanggau dan tahun 2021 yang lalu Kantor Pusat CU Pancur Kasih di Pontianak.

    Uskup Agustinus juga mengisahkan bahwa CU Lantang Tipo yang didirikan 2 Februari 1976, dengan 209.659 anggota, 667 karyawan dengan asset Rp.3,3 triliun lebih.

    Kemudian, CU Pancur Kasih, didirikan 28 Mei 1987, dengan 176.851 anggota, karyawan 428 org dan asset Rp.2,7 triliun.

    Lanjut lagi, CU Keling Kumang, didirikan 26 Maret 1993, dengan 190.232 anggota, 624 karyawan dan asset sebesar Rp.1,7 triliun.

    Melakukan misi kemanusiaan dalam hal ini adalah sektor ekonomi kepada masyarakat kalangan bawah.

    Option for the poor

    Dalam rilis yang ditulisnya, Uskup Agustinus menegaskan bahwa selama ini Gereja Katolik Kalimantan Barat menggagas lahirnya CU karena didorong atas keprihatinan gereja terhadap kelompok yang tersingkir, miskin dan terpinggirkan (Ajaran Sosial Gereja Katolik “ Option for the poor”) tanpa pandang bulu.

    Baca Juga: Doa Sang Pembawa Damai

    “Dalam perjalanan waktu, Gereja mengalami sendiri peran positif dan berbuah baik yang dilakukan oleh CU, terutama dalam masa pandemi ini,” kata Uskup Agus.

    Uskup Agustinus juga mengungkapkan selama ini Gereja menyadari bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini.
    Oleh karena itu, pihak gereja selalu pada posisi mengingatkan kalau ada yang salah atau keliru, atau tidak berjalan pada relnya.

    “Gereja menjauhi posisi mencari kesalahan. Kepentingan orang banyak (bonum commune) selalu di kedepankan,” kata Uskup Agus.

    Menutup pernyataannya, Uskup Agung Pontianak, mendoakan agar masalah yang dihadapi CU bisa diselesaikan dengan ber-keadilan dan penuh damai.

    Uskup Agustinus juga mendoakan agar pihak Kepolisian bisa melaksanakan tugas pokoknya: “mengayomi,melindungi,melayani masyarakat serta menegakan hukum”( UUD 1945,Ps.30 ayat 4).

    Mgr. Agustinus Agus Berkunjung Ke Provinsialat Kapusin

    Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus bersama Minister Provinsial Kapusin, Pastor Faustus Bagara, OFMCap beserta anggota Dewan Penasehatnya dan hadir juga Konselor General Ordo Kapusin yang bertugas di Roma, Italia, Pastor Victorius Dwiardy, OFMCap- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Kunjungan Uskup Agung Pontianak ini terkait dengan telah terpilihnya kepemimpinan pelayanan Ordo Kapusin Provinsi Santa Maria Ratu Para Malaikat Pontianak periode 2021-2024.

    Minister Provinsial Kapusin terpilih, Pastor Faustus Bagara, OFMCap mengatakan, sebenarnya sudah dijadwalkan akan bertemu dengan Uskup Agung Pontianak, tetapi justru Uskup telah lebih dahulu berkunjung ke Provinsialat Kapusin.

    “Sesungguhnya kami menjadwalkan hari ini (Selasa/5/10/21) untuk menghadap Bapak uskup, tetapi beliau justru mengunjungi dan menemui kami di Provinsialat,”  Pastor Bagara.

    Karena itu, lanjut Pastor Bagara, pertemuan ini adalah rahmat dan kegembiraan bagi kami para saudara Kapusin.

    Di kesempatan kunjungan ini, Mgr. Agustinus Agus membicarakan beberapa hal penting dengan para pimpiinan Kapusin yang baru terpilih terkait kepentingan Gereja di Keuskupan Agung Pontianak dan kepentingan banyak orang termasuk orang-orang kecil.

    “Saya sangat menghargai dan mensyukuri pertemuan ini yang penuh semangat kekeluargaan dan mengedepankan kepentingan Gereja dan orang banyak termasuk orang-orang kecil,” pungkas Mgr. Agustinus Agus.

    Mgr. Agustinus Agus juga menyampaikan secara singkat program Keuskupan Agung Pontianak serta apa yang menjadi keprihatinannya sebagai Uskup Agung Pontianak.

    Dibicarakan pula bagaimana secara bersama-sama membenahi Rumah Sakit Santo Antonius sehingga wajah gereja Keuskupan Agung Pontianak yang penuh kasih dalam melayani orang-orang kecil menjadi nampak dan dirasakan banyak orang.

    Kita sepakat dalam hal ini, kata Mgr. Agustinus Agus. Semangat persaudaraan  dan sikap keterbukaan antara pihak Keuskupan dan Ordo Kapusin harus di kedepankan.

    Mgr. Agustinus Agus secara pribadi sangat mensyukuri pertemuan ini. “Semoga membuahkan hasil yang baik bagi banyak orang,” tandas Mgr. Agustinus Agus mengutip istilah yang dipakai Pastor Victorius Dwiardy, OFMCap.

    Dalam pertemuan ini hadir juga Konselor General Ordo Kapusin untuk wilayah Asia-Pasifik, yang saat ini bertugas di Roma, Italia, Pastor Victorius Dwiardy, OFMCap beserta Wakil Minister Provinsial/Penasehat 1, Pastor Stephanus Gathot Purtomo, Penasehat 2, Pastor Andreas Derry, OFMCap, Penasehat 3, Pastor William Chang, OFMCap, Penasehat 4, Pastor John Wahyudi, OFMCap.

    Pertemuan yang penuh keakraban ini ditutup dengan santap siang bersama.

    Doa Sang Pembawa Damai

    XIR86563 St. Francis of Assisi (c.1182-1220) 1642 (oil on canvas) by Ribera, Jusepe de (lo Spagnoletto) (c.1590-1652); 200x162 cm; Monasterio de El Escorial, Spain; Giraudon; Italian, out of copyright

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Setiap tanggal 4 Oktober, Gereja Katolik memperingati hari Bapa St Fransiskus Assisi. Sosok ini dikenal karena warisan mutiara kebijaksanaannya.

    Orang suci yang juga populer dengan sebutan Si Miskin dari Assisi itu hidup dalam solidaritas radikal dengan orang miskin, menjadi musafir yang memberitakan Injil, menghidupi keutamaan kerendahan hati, kesederhanan, menjadi promotor dialog dengan kaum Muslim dan berusaha membangun kembali Gereja – baik secara harafiah maupun kiasan.

    Dia juga terkenal karena kedekatannya yang begitu dalam dengan binatang dan alam ciptaan. Karena itu, ia memperlakukan semuanya dengan penuh hormat dan perhatian. Ia menyebut mereka saudara-saudari.

    Teladannya mendorong kita untuk hidup sederhana, mengutamakan Allah sehingga kita selalu mengarah pada kehidupan yang damai dan lebih bermakna.

    Hidupnya menjadi panutan bagi banyak orang, termasuk bagi Paus Fransiskus yang kemudian memilih nama Fransiskus saat terpilih sebagai paus pada 2013.
    Hari ini, bertepatan dengan pesta orang suci ini, mari ambil waktu sejenak untuk mendaraskan

    Doa Damai St Fransiskus Assisi:

    Tuhan,
    jadikanlah aku pembawa damai,
    Bila terjadi kebencian,
    jadikanlah aku pembawa cinta kasih,
    Bila terjadi penghinaan,
    jadikanlah aku pembawa pengampunan,
    Bila terjadi perselisihan,
    jadikanlah aku pembawa kerukunan,
    Bila terjadi kebimbangan,
    jadikanlah aku pembawa kepastian,
    Bila terjadi kesesatan,
    jadikanlah aku pembawa kebenaran,
    Bila terjadi kecemasan,
    jadikanlah aku pembawa harapan,
    Bila terjadi kesedihan,
    jadikanlah aku sumber kegembiraan,
    Bila terjadi kegelapan,
    jadikanlah aku pembawa terang,
    Tuhan semoga aku ingin
    menghibur daripada dihibur,
    memahami daripada dipahami,
    mencintai daripada dicintai,
    sebab
    dengan memberi aku menerima,
    dengan mengampuni aku diampuni,
    dengan mati suci aku bangkit lagi,
    untuk hidup selama-lamanya.
    Amin.

    “Yesus Sahabat Seperjalan Kita” Tema Kegiatan Bulan Kitab Suci Nasional yang diusung dan diselenggarakan di Kampus AKPER AKBID

    AKPER Dharma Insan dan AKBID St Benedicta mengadakan lomba untuk memperingati sekaligus merayakan BKSN 2021 - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Setiap bulan September, umat Katolik memperingati Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Umat Katolik dianjurkan untuk semakin mendekatkan diri dengan kitab suci. Berita dilansir dari Div.Media-AKPERAKBID No:4/PUSKOM/MED/2021 pada 25 September 2021.

    BKSN umumnya diisi dengan beragam kegiatan, baik dalam lingkup lingkungan, wilayah, paroki, biara, atau komunitas. Kegiatan umumnya meliputi renungan bersama, pendalaman kitab suci, lomba membaca kitab suci, pameran buku dan kegiatan lainnya.

    Bulan Kitab Suci Nasional 

    Mengutip berbagai sumber, sejarah BKSN bisa dilihat jauh ke belakang saat Konsili Vatikan II (1962-1965). Dei Verbum, salah satu dokumen yang dihasilkan, berbicara tentang kitab suci. Para bapa Konsili menganjurkan jalan masuk menuju kitab suci agar dibuka selebar-lebarnya untuk kaum beriman. Dari sana, muncul-lah ajakan untuk tekun membaca kitab suci.

    Baca Juga: Semua Agama Saat ini Menghadapi Musuh yang Sama

    Untuk memperingati sekaligus merayakan BKSN ini pun AKPER Dharma Insan dan AKBID St Benedicta mengadakan lomba BKSN seperti menyanyikan mazmur, membaca kitab suci, dan gerak kitab suci. Kegiatan BKSN ini diselenggarakan selama 2 hari, pada hari Sabtu, 25 September 2021 dilanjutkan kembali hari Minggu, 26 September 2021. Kegiatan ini di kelola SEMA AKPER Dharma Insan dan AKBID St Benedicta bersama KAPELAN AKPER AKBID, bertindak sebagai Juri dalam kegiatan ini adalah Fr. Adrianus Antonius Budi, Sr. Agnes Osa, Fr. Yohanes Kandop bersama Romo Sabinus Lohin, CP selaku pengelola KAPELAN.

    TERBARU

    TERPOPULER