Tuesday, January 20, 2026
More

    Semua Agama Saat ini Menghadapi Musuh yang Sama

    By Samuel

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Hidup di tengah masyarkat menuai banyak ragam persepsi dan multitafsir. Dalam masyarakat itu sendiri juga merupakan representasi dari kemajemukan yang menjadi sumber dari kekayaan dari hakikat keberadaan manusia itu sendiri.

    Dalam konteks ini, Civil society haruslah diwujudkan dalam tata kehidupan yang demokratis, kehidupan yang menjamin hak-hak warga seadil-adilnya tanpa membedakan unsur-unsur primordial (Primordialisme merupakan ikatan kesukuan yang berlebihan) apa pun. Primordialisme atau primordil berasal dari bahasa Latin “primus” yang artinya pertama dan “ordin” artinya ikatan.

    Jangan karena perbedaan suku, rasa, agama, dan budaya hal itu menjadi sumber kelaliman di antara sesama manusia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dikatakan bahwa kelaliman adalah sikap yang meliputi sikap-sikap kekejaman, kebengisan, kebiadaban, kebrutalan, keganasan, ketidakadilan, kezaliman, kejahatan, onar, kekurangajaran, rakus, serakah dan sikap tamak.

    Tetapi jika lorang yang menganggap atau bahkan mengakuinya bahwa perbedaan sebagai sumber kelaliman sama dengan menuduh Tuhan sumber kesengsaraan umat-Nya. Persoalan sosial di dalam masyarakat yang pluralis lebih karena adanya kesenjangan dan ketidakadilan, terutama ketidakadilan sosial ekonomi.

    Butuh simbol sebagai penguat

    Kemajemukan dalam kehidupan umat beragama, seseorang lebih sering mengedepankan simbol keagamaan daripada nilai-nilai keutamaannya. Sebagai contoh, sebagian orang sering mempersoalkan dan mempertentangkan hanya dari kebiasaan agama tertentu, misalnya kristen yang mengenakan asesoris rohani.  Kemudian karenanya hal ini pun masih ada orang yang terjebak dalam cara pandang yang sebenarnya bukan ‘esensial’,  bukan lebih menggali hal yang mendasar di balik ‘kemajemukan’ itu sendiri.

    Wawasan kebangsaan dan pengembangan civil society haruslah diwujudkan dalam tata kehidupan yang demokratis, kehidupan yang menjamin hak-hak warga seadil-adilnya tanpa membedakan unsur-unsur primordial apa pun. Jika hal ini tidak ditegakkan, akan terjadi keputusan kolektif yang mendalam, terutama di kalangan rakyat kecil.

    Jika keputusan kolektif ini terus dilayangkan, maka jangan heran akan ada terjadi pemberontakan dan perbantahan oleh kaum-kaum yang merasa ditindas.

    Selain itu gangguan dalam hubungan antarumat beragama, terutama disebabkan adanya prasangka, kecurigaan, perasaan takut, ditambah dengan ‘permainan politik’. Kalau hal ini dibiarkan terus-menerus, bukan saja merusak hubungan antarumat beragama, tetapi membawa perpecahan dalam kehidupan berbangsa.

    Potensi Konflik Sosial

    Sekarang yang menjadi masalah serta tantangan dasar dalam masyarakat adalah gejala adanya komunalisme. Menurut kamus bahasa Indonesia, komunialisme sendiri mengandung arti tentang paham atau ideologi yang mementingkan kelompok atau kebersamaan di dalam kelompok.

    Konflik-konflik sosial yang terjadi di berbagai daerah tidak bersifat religious dan ideologis, melainkan komunalistik. Tidak heran jika terjadi gejala sosio-psikologis, seseorang maupun kelompok orang tidak mampu menghayati diri sebagai ‘kita saudara sebangsa’ atau sama-sama manusia yang bermartabat.

    Konflik-konflik sosial yang kerap terjadi saat ini di Indonesia, hanya bisa diatasi kalau komitmen dasar pada demokrasi, pengakuan akan pluralitas (kemajemukan), dan inklusivisme dipegang teguh dan tidak dapat ditawar-tawar lagi.

    Setiap orang harus bersedia menerima pluralitas bangsa. Artinya, menerima cara hidup bersama dan sistem hukum yang mendasarinya dapat diterima semua komponen bangsa.

    Semua agama saat ini menghadapi musuh yang sama yakni atheisme modern, sekularisme, hedonism, materialism dan radikalisme serta semua pengaruh yang menjauhkan hubungan antarmanusia.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles