Sunday, May 3, 2026
More
    Home Blog Page 145

    Tahukah Anda? Semboyan Adil Ka’ Talino…

    Ilustrasi Foto- Momen Doa Syukur atas kelahiran Bayi- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Tahukah Anda, makna dari semboyan Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata? 

    Semboyan tersebut merupakan semboyan dari sub suku Dayak (Dayak Kanayatn) yang tinggi maknanya.

    Adil Ka’ Talino bagi orang Dayak merupakan sebuah bentuk keadilan dan kesetaraan. Dua poin ini berarti setiap orang penting dalam menata hubungan sosial diantara sesama manusia. Keadilan disini, dipandang sebagai aturan untuk mengatur distribusi yang seimbang antara hak yang diterima dan kewajiban yang diberikan.

    Bacuramin Ka’ Saruga mengandung makna sikap dan perilaku.

    Dimana dalam segala sikap dan perilaku harus mencerminkan nilai-nilai surgawi, yang dilandasi oleh nilai kasih dan ketulusan serta keuluhuran budi.

    Basengat Ka’ Jubata artinya berpasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada Sang Pencipta.

    Konteks ini maksudnya, setiap orang harus memiliki sikap akan iman dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Sang Kuasa dan Pencipta. Dari ini terlihat bahwa apa yang sesungguhnya menjadi hak Pencipta terhadap manusia dan kehiudupan bermasyarakat manusia itu sendiri.

    Latar belakang dari konteks ini yakni sebagai manusia yang ditandai dengan segala keterbatasan, sikap menyerahkan diri sepenuhnya merupakan suatu wujud pengharapan dan rasa takut kepada Maha Pencipta.

    Penyerahan diri disini adalah kesadaran akan kekurangan dan kelemahan sebagai manusia yang fana, kemudian yang tak bisa berbuat melebihi perbuatan dan kemampuan dari Sang Pencipta atau Yang Maha Kuasa (Jubata).

     

    Semua Agama Saat ini Menghadapi Musuh yang Sama

    Ilustrasi Foto: Lokasi Senakin- Seorang Pak Tua yang memandu Parkir- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Hidup di tengah masyarkat menuai banyak ragam persepsi dan multitafsir. Dalam masyarakat itu sendiri juga merupakan representasi dari kemajemukan yang menjadi sumber dari kekayaan dari hakikat keberadaan manusia itu sendiri.

    Dalam konteks ini, Civil society haruslah diwujudkan dalam tata kehidupan yang demokratis, kehidupan yang menjamin hak-hak warga seadil-adilnya tanpa membedakan unsur-unsur primordial (Primordialisme merupakan ikatan kesukuan yang berlebihan) apa pun. Primordialisme atau primordil berasal dari bahasa Latin “primus” yang artinya pertama dan “ordin” artinya ikatan.

    Jangan karena perbedaan suku, rasa, agama, dan budaya hal itu menjadi sumber kelaliman di antara sesama manusia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dikatakan bahwa kelaliman adalah sikap yang meliputi sikap-sikap kekejaman, kebengisan, kebiadaban, kebrutalan, keganasan, ketidakadilan, kezaliman, kejahatan, onar, kekurangajaran, rakus, serakah dan sikap tamak.

    Tetapi jika lorang yang menganggap atau bahkan mengakuinya bahwa perbedaan sebagai sumber kelaliman sama dengan menuduh Tuhan sumber kesengsaraan umat-Nya. Persoalan sosial di dalam masyarakat yang pluralis lebih karena adanya kesenjangan dan ketidakadilan, terutama ketidakadilan sosial ekonomi.

    Butuh simbol sebagai penguat

    Kemajemukan dalam kehidupan umat beragama, seseorang lebih sering mengedepankan simbol keagamaan daripada nilai-nilai keutamaannya. Sebagai contoh, sebagian orang sering mempersoalkan dan mempertentangkan hanya dari kebiasaan agama tertentu, misalnya kristen yang mengenakan asesoris rohani.  Kemudian karenanya hal ini pun masih ada orang yang terjebak dalam cara pandang yang sebenarnya bukan ‘esensial’,  bukan lebih menggali hal yang mendasar di balik ‘kemajemukan’ itu sendiri.

    Wawasan kebangsaan dan pengembangan civil society haruslah diwujudkan dalam tata kehidupan yang demokratis, kehidupan yang menjamin hak-hak warga seadil-adilnya tanpa membedakan unsur-unsur primordial apa pun. Jika hal ini tidak ditegakkan, akan terjadi keputusan kolektif yang mendalam, terutama di kalangan rakyat kecil.

    Jika keputusan kolektif ini terus dilayangkan, maka jangan heran akan ada terjadi pemberontakan dan perbantahan oleh kaum-kaum yang merasa ditindas.

    Selain itu gangguan dalam hubungan antarumat beragama, terutama disebabkan adanya prasangka, kecurigaan, perasaan takut, ditambah dengan ‘permainan politik’. Kalau hal ini dibiarkan terus-menerus, bukan saja merusak hubungan antarumat beragama, tetapi membawa perpecahan dalam kehidupan berbangsa.

    Potensi Konflik Sosial

    Sekarang yang menjadi masalah serta tantangan dasar dalam masyarakat adalah gejala adanya komunalisme. Menurut kamus bahasa Indonesia, komunialisme sendiri mengandung arti tentang paham atau ideologi yang mementingkan kelompok atau kebersamaan di dalam kelompok.

    Konflik-konflik sosial yang terjadi di berbagai daerah tidak bersifat religious dan ideologis, melainkan komunalistik. Tidak heran jika terjadi gejala sosio-psikologis, seseorang maupun kelompok orang tidak mampu menghayati diri sebagai ‘kita saudara sebangsa’ atau sama-sama manusia yang bermartabat.

    Konflik-konflik sosial yang kerap terjadi saat ini di Indonesia, hanya bisa diatasi kalau komitmen dasar pada demokrasi, pengakuan akan pluralitas (kemajemukan), dan inklusivisme dipegang teguh dan tidak dapat ditawar-tawar lagi.

    Setiap orang harus bersedia menerima pluralitas bangsa. Artinya, menerima cara hidup bersama dan sistem hukum yang mendasarinya dapat diterima semua komponen bangsa.

    Semua agama saat ini menghadapi musuh yang sama yakni atheisme modern, sekularisme, hedonism, materialism dan radikalisme serta semua pengaruh yang menjauhkan hubungan antarmanusia.

    Mistisisme Santo Antonius dari Padua

    Sharing Pengalaman Mistik- dalam devosi dengan Santo Antonius dari Padua

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Yuk ikuti sharing iman dengan mengusung tema “Mistisisme” (Pengalaman Mistik) dengan Santo Antonius dari Padua.

    Diskusi ini mengangkat konteks tentang pengalaman orang-orang yang pernah mengalami mukjizat setelah berdevosi dan mohon pertolongan dari Santo Antonius.

    Tema: Sharing & diskusi, Pengalaman iman, berkaitan dengan St. Antonius Padua
    (St. Antonius Padua, terkenal dengan santo penolong dalam kehilangan barang, dsb.)
    —————-
    Waktu: Jumat, 24 September 2021 / Jam 19.00 – selesai
    —————-
    Anda bisa ikut, berbagi pengalaman, dan berdiskusi bersama. (GOOGLE MEET)
    Bagi yang mau mendaftar, bisa kontak ke WhatsApp (081216748137), akan dikirim link

    Google Meet.
    Bagi yang mau ikut mendengar, bisa ikut di Youtube: Nedy Wijaya.

    Link: https://www.youtube.com/c/NedyWijaya448/about 
    Anda mau sharing, jadi berkat buat yang lain. Tuhan memberkati. Amin

    Riwayat Hidup Mgr. Joannes Van Hooydonk Uskup Breda 1782-1867 (Pendiri MTB)

    “Suis praefuit ac profuit Pastor et Pater “- Mgr. Joannes Van Hooydonk Pendiri Kongregasi Bruder Maria Tak Bernoda (Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Ada sebuah desa kecil di kota Ulvenhout, Nieuw Ginneken – Belanda; Nostel namanya. Dari desa yang tidak terkenal lahirlah seorang anak yang kelak berpengaruh di Keuskupan Breda, bernama Joannes van Hooydonk.

    Ia dilahirkan  2 Agustus 1782 dari pasangan petani Bapak Adriaan Michels van Hooydonk dan Ibu Sijke (Lucia) Pebergen. Bapak Adriaan merupakan figure bapak keluarga yang terpandang di Ulvenhout.  Selain sebagai petani Bapak Adriaan menjadi seorang pemimpin umat katolik di Ulvenhout.

    Usaha untuk meneguhkan iman umat van Hooydonk tua rajin mengajar agama dan mengajak umat untuk menghidupkan doa Rosario, penghormatan kepada sakramen, dsb. Dan sebelum meninggal pada tahun 1820 beliau menjadi seorang wakil walikota Nieuw Ginneken.

    Joannes van Hooydonk anak keempat dari enam bersaudara menghabiskan masa kecilnya bersama keluarga selama tujuh belas tahun.

    Menjadi rector di seminari

    Di samping bekerja membantu orang tuanya sebagai petani, van Hooydonk kecil dibiasakan dengan hidup kegamaan dan keutamaan Katolik dan aktif di gereja. Pada tahun 1799 ia belajar di Oosterhout memperdalam bahasa Latin. Satu tahun kemudian ia melanjutkan ke seminari di Ypelaar untuk belajar filsafat dan teologi dan persiapan menjadi imam.

    Pada tahun 1808 Joannes van Hooydonk ditahbiskan menjadi imam diosesan (projo) di Amsterdam. Setahun kemudian ditugasi sebagai professor teologi di seminari Ypelaar-Breda.

    Karena kesalehannya, kecerdasannya serta kecakapannya menyampaikan ilmu ditambah pandai bergaul dengan orang muda ia diangkat menjadi rector di seminari tersebut. Dan tahun 1817 ia memindahkan seminari ke Bovendonk.

    Ketika Vikaris Apostolik vikariat Breda, Adrianus van Dongen meninggal pada tahun 1926, pimpinan Gereja Katolik di Roma tanggal 1 Mei 1827 menetapkan Joannes van Hooydonk untuk  menggantikan-nya sebagai Administrator Apostolik Breda.

    Pada tanggal 18 Juni 1842 Joannes van Hooydonk diangkat sebagai pejabat Uskup Breda, dan tahun 1953 secara resmi Mgr van Hooydonk ditetapkan menjadi Uskup Breda yang pertama; sejak adanya reorganisasi hirarki gereja Katolik di Belanda.

    Semboyan yang dirumuskan untuk melaksanakan tugasnya ialah ‘Simpliciter et Confidenter’ – kesederhanaan dan kepercayaan. Di dalam semboyan tersebut beliau mengungkapkan seluruh kepribadiaanya dan gaya kepemimpinannya.

    Kesederhanaan mengandung arti sikap bersahaja dan rendah hati di hadapan orang.

    Semangat hidup  Fransiskan Ordo III

    Kepercayaan dipahami sebagai ungkapan relasi dengan sesama. Di dalamnya terkandung niat untuk menganggap-memperhitungkan-menghargai orang bagaimanapun adanya. Dengan kedua sikap ini Bapak Uskup mudah bergaul dengan siapa saja untuk membangun persudaraan; khususnya kepada orang kecil.

    Meskipun sebagai seorang imam projo Bapak Uskup berusaha  menghayati semangat hidup  Fransiskan Ordo III – persaudaraan sejati.

    Sebagai pemimipin keuskupan Bapak Uskup mulai menata kehidupan umat dan meningkatkan cara hidup para imam. Bapak Uskup mengajak imam-imamnya untuk mengembangkan hidup rohani dan penampilan yang sederhana, panggilan akan pelayanan umat dan kesetiaan akan. Beliau mewajibkan para imam untuk  mengikuti retret tahunan, meditasi setiap haridan dan bacaan KS.

    Pendidikan calon imam di seminari ditingkatkan kualitasnya.  Ia pun tidak henti-hentinya mengajak umat untuk giat kembali dengan doa Rosario, penghormatn terhadap sakaramen Mahakudus dan hati kudus Yesus dan mempraktekaan ajaran iman katolik.

    Paroki-paroki di Keuskupan Breda dihimbau untuk membentuk kelompok pendalaman kitab suci (bijblegenootschap). Hal ini dilakukan untuk membangun semangat Injili – belajar dari saudara-saudara Kristen Protestan.

    Cita-cita Bapa Uskup

    Perhatian lain yang hendak Bapak Uskup usahakan ialah menangani anak-anak terlantar; karena miskin maupun yatim piatu.  Beliau sangat prihatin dengan nasib mereka itu. Perhatian akan pendidikan terutama penidikan akhlak tidak ada, sehingga tidak mustahil mereka itu biasa dengan kenakalan dan tindakan asusila.

    Ada Yayasan kaum papa miskin untuk menangani anak-anak yang bermasalah tersebut, namun tenaga yang dapat memberikan perhatian  masih sangat terbatas. Cita-cita Bapa Uskup ialah menampung anak-anak yang terlantar dalam suatu asrama atau rumah yatim piatu. Di situ mereka dapat diberikan pembinaan dan pendidikan agama.

    Cita-cita dan gagasan untuk menampung anak terlantar dan yatim piatu serta memberikan pendidikan dan pembinaan merupakan dorongan Bapak Uskup untuk mendirikan kongregasi bruder di Huijbergen.

    Dengan semboyan Simpliciter et Confidinter, Mgr Joannes van Hoydonk mengembangkan keuskupan Breda dengan memberikan perhatian baik imam-imamnya maupun umatnya khususnya anak terlantar dan yatim piatu. Dengan penuh kelembutan dan kebaikan Bapa Uskup mulai memimpin dan membangun kembali umatnya.

    Umat keuskupan Breda memuji-muji dan bersyukur atas kehadiran dan kepemimpinan Mgr Joannes van Hooydonk sehingga mereka menyebut “Suis praefuit ac profuit Pastor et Pater “ – Ia adalah seorang gembala yang membimbing kawanan dan bapa yang melimpahkan berkatnya.

    Pembaktian diri Mgr van Hoydonk berakhir di Hoeven ketika Allah memanggilnya pada tanggal 25 April 1868.

    Catatan: Mgr van Hoydonk adalah Pendiri Kongregasi Bruder Maria Tak Bernoda) dari Negeri Belanda. 

     

    Pelatihan menulis berita dan Teknik Live Report RADIO

    Ketua Komsos Keuskupan Agung Pontianak- Paulus Mashuri-

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Pelatihan selama empat hari yang dimulai Jumat (17/9) dan berakhir Selasa (21/9) ini dilaksanakan di ruang redaksi Komsos Keuskupan Agung Pontianak dan diikuti 3 orang Mahasiswa/i Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan 2 orang siswa/i SMKN 9 yang sedang Magang di Radio Diah Rosanti.

    Pelatihan tersebut diberikan oleh Paulus Mashuri sebagai ketua Komsos-KAP dengan sesi-sesi seputar jurnalistik.

    Dalam pelatihan itu, peserta diajarkan cara praktis menulis berita STRAIGHT NEWS/HARD NEWS, SOFT NEWS, dan INDEPHT NEWS yang sering digunakan oleh media Online dan Radio.

    Paulus Mashuri juga mengajarkan peserta untuk belajar cara menggali berita atau informasi di lapangan terkaui dengan LIVE REPORT dengan menambahkan INSERT (pendapat) langsung dari narasumber di lapangan.

    Proficiat Pastor Faustus Bagara, OFMCap

    Pastor Bagara, OFMCap - Dokumentasi Foto Paroki Salib Suci Ngabang- Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Telah terpilih Minister Provinsial dan Dewan Penasehat OFMCap Periode 30 September 2021-2024 :

    Minister Provinsial: Sdr. Faustus Bagara, OFMCap.

    Vikaris Provinsial/Penasehat 1: Sdr. Stephanus Gathot Purtomo, OFMCap.

    Penasehat 2: Sdr. Andreas Adrianus Derry, OFMCap.

    Penasehat 3: Sdr. William Chang, OFMCap.

    Penasehat 4: Sdr. John Wahyudi, OFMCap.

    Proficiat, Pace e Bene…

    Benih untuk Gereja yang lebih setia

    Sumber: Church representatives attend the Warsaw conference on Monday (BP KEP)-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Perwakilan Gereja dari Eropa Tengah dan Timur mengakhiri hari kedua konferensi perlindungan di Warsawa, yang berupaya mengubah rasa sakit yang dialami oleh para penyintas pelecehan seksual klerus menjadi benih Gereja yang lebih setia.

    Peserta dari seluruh Eropa Tengah dan Timur pada hari Senin mengambil bagian dalam konferensi pengamanan hari kedua yang diadakan di Warsawa, Polandia.
    Acara yang diselenggarakan oleh Komisi Kepausan untuk Perlindungan Anak di Bawah Umur (PCPM) ini mengangkat tema “Misi Bersama Kita Melindungi Anak-anak Tuhan”.

    Ditolak dalam penderitaan

    Kardinal Seán Patrick O’Malley, OFMCap, membuka hari itu dengan perayaan Ekaristi, dan mengingat alasan para pemimpin Gereja dari seluruh Eropa Tengah dan Timur berpartisipasi dalam konferensi tersebut.

    “Kita berkumpul di sini karena begitu banyak saudara dan saudari kita telah menderita di tangan para klerus yang kejam yang telah melakukan tindakan jahat dengan menggunakan kantor mereka untuk melecehkan orang lain atau untuk menutupi pelecehan tersebut,” kata Kardinal dalam homili singkatnya di Misa .

    Dia menyesali berkali-kali bahwa para penyintas pelecehan seksual oleh imam telah “ditolak dalam penderitaan mereka ketika mereka berbicara.”

    Namun, Kardinal Amerika memuji keberanian para penyintas dan keluarga mereka untuk membiarkan rasa sakit mereka membantu Gereja melindungi orang lain dengan lebih baik.

    “Kami berdoa kepada Tuhan agar, dengan cara Tuhan yang bijaksana, penderitaan ini dapat menjadi benih Gereja yang lebih tangguh, lebih mencintai dan lebih setia, dengan rendah hati mengakui kesalahannya dan dengan teguh berkomitmen untuk mencari keadilan dan rekonsiliasi dengan mereka yang telah telah dilukai,” doa Kardinal O’Malley.

    Membayangkan model baru Gereja

    Pidato utama pertama Hari Kedua disampaikan oleh Mgr. Tomáš Halík, yang melayani di “gereja bawah tanah” selama dekade panjang penindasan komunis.
    Dia berbicara kepada 80-an peserta tentang “fenomena pelecehan dalam konteks yang lebih luas”.

    Mgr. Halík mengatakan Gereja di negara-negara pasca-komunis belum sepenuhnya mengatasi “klerikalisme” dan “kemenangan” yang sering mengakibatkan pelecehan seksual, serta pelecehan psikologis dan spiritual. Dia menambahkan bahwa penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang oleh anggota ulama adalah “penyakit sistem” dan bukan hanya individu.

    “Perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas dan hanya dapat diatasi dengan keberanian untuk mereformasi banyak masalah terkait tingkat pemahaman teologis, pastoral dan spiritual Gereja dan imamat,” katanya. “Tindakan disiplin saja tidak akan menyelesaikan masalah.”

    Melainkan, kata Mgr. Halík, Gereja hanya dapat mengatasi “krisis klerus” dengan merangkul pemahaman baru tentang perannya dalam masyarakat kontemporer.
    Model yang harus dilalui, ia menyimpulkan, termasuk “Gereja sebagai ‘umat peziarah Allah’ (communio viatorum), Gereja sebagai ‘sekolah kebijaksanaan Kristen’, Gereja sebagai ‘rumah sakit lapangan’, dan Gereja sebagai tempat perjumpaan, berbagi, dan rekonsiliasi.”

    Hukum Gereja dan otoritas sipil

    Panel sore hari kedua—yang membahas “Transparansi, Akuntabilitas, Tanggung Jawab”—disertai Prof. Myriam Wijlens dan Prof. Paweł Wiliński.

    Prof. Wijlens, seorang profesor hukum kanonik dan anggota PCPM, menyerukan refleksi teologis dan kanonik tentang tanggung jawab uskup diosesan untuk memberikan pencegahan, intervensi, keadilan, dan penyembuhan” bagi para penyintas pelecehan.
    Dia mengatakan pelecehan seksual klerus membuat anak-anak kehilangan martabat dan integritas seksual mereka, serta melukai iman Kristen mereka.

    Prof. Wiliński, seorang hakim Mahkamah Agung Polandia, menutup sesi sore dengan seruan agar Gereja memberlakukan undang-undang untuk melindungi hak-hak para penyintas pelecehan.

    Dia mengatakan sistem perlindungan prosedural yang efektif harus selalu berusaha untuk menjaga agar luka mereka tidak semakin parah yang diterima di tangan para pendeta.

     

    Kesehatan Masyarakat dalam Perspektif Global

    The Pontifical Academy for Life will take up the theme "Public Health in Global Perspective. Pandemic, Bioethics, Future" at its 2021 Assembly (AFP or licensors)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Sidang Akademi Kepausan untuk Kehidupan 2021, berlangsung 27-29 September dengan tema “Kesehatan Masyarakat dalam Perspektif Global. Pandemic, Bioethics, Future,” akan mencakup lokakarya yang menampilkan pembicara terkenal di dunia, termasuk pemenang Hadiah Nobel Dr Jules Hoffman, dan Dr David Barbe, presiden Asosiasi Medis Dunia.

    Dirilis dari Pontifical Academy for Life dituliskan bahwa Kesehatan Masyarakat dalam Perspektif Global. Pandemic, Bioethics, Future” merupakan tema Sidang Akademi Kepausan untuk Kehidupan 2021 yang akan berlangsung di situs dan online pada 27-28-29 September.

    Baca juga: Kehadiran Paus adalah hadiah nyata bagi Budapest

    Para akademisi, cendekiawan dan pakar dari lima benua akan berkumpul di Roma untuk membahas tidak hanya Covid-19 tetapi juga tantangan global yang ditimbulkan pandemi untuk distribusi pengobatan dan perawatan kesehatan yang lebih adil di dunia.

    Tema umum Majelis akan didiskusikan seperti biasa terutama dalam lokakarya yang terbuka untuk umum bagi mereka yang berpartisipasi secara online.

    Di antara para ahli yang dipanggil untuk berbicara akan ada – antara lain – Dr. Jules Hoffman (Penghargaan Nobel Kedokteran 2011), Dr. John Nkengasong (Direktur Pusat Pengendalian Penyakit, Kamerun), Dr. David Barbe (Presiden Asosiasi Medis Dunia), Dr. Carissa Etienne (Direktur Asosiasi Kesehatan Pan Amerika), Dr. Walter Ricciardi (Universitas Katolik Hati Kudus).

    Refleksi pengalaman masa pandemi

    Lokakarya ini bertujuan untuk merefleksikan pengalaman pandemi dari perspektif etika, menyoroti masalah medis, ekologi dan sosial yang menuntut tanggung jawab kita dan membutuhkan konversi perubahan mentalitas dan struktur.

    Tujuannya untuk memberikan kontribusi orisinal pada perdebatan penting tentang kesehatan masyarakat dan masalah yang disoroti oleh keadaan darurat kesehatan selaras dengan pembaruan masyarakat untuk masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.

    “Untuk menjaga kesehatan kita, pertama-tama kita harus hidup!” jelas Uskup Agung Vincenzo Paglia, Presiden Akademi Kepausan untuk Kehidupan.

    Baca juga: Biarawan Dominikan ini melakukan hal terbaik dari situasi yang sangat buruk

    Ia juga menambahkan untuk negara-negara Barat, prioritasnya adalah vaksin dan kita sebenarnya menyaksikan upaya vaksinasi terbesar yang pernah dibuat dalam sejarah. Namun, kita tidak boleh melupakan kebutuhan untuk membangun perawatan kesehatan yang adil dalam skala global.

    Topik yang menjadi pusat refleksi kita kemudian akan menjadi masa depan pengobatan dan perawatan kesehatan jika kita benar-benar ingin menunjukkan bahwa kita telah mengambil pelajaran dari pandemi Bagi sebagian besar penduduk dunia, selain vaksin, prioritasnya adalah akses nyata dan efektif ke perawatan, tetapi juga ke barang-barang yang “hanya” memungkinkan kita untuk hidup.

    Menanggapi krisis

    Penting untuk mengatasi tidak hanya kesenjangan vaksinasi tetapi juga akses yang tidak setara ke kesehatan masyarakat, menghilangkan hambatan seperti kurangnya fasilitas dan kelangkaan sumber daya untuk pengobatan.

    Uskup Agung Vincenzo Paglia menggarisbawahi bahwa pandemi telah menunjukkan kesenjangan ekonomi dan sosial yang besar dalam perawatan kesehatan.

    “Baru-baru ini, beberapa duta besar untuk Takhta Suci telah menekankan perlunya menanggapi krisis ini dengan langkah-langkah yang berguna untuk masa depan,” katanya.

    Uskup Vincenzo Paglia menyampaikan Vaksinasi sangat penting dalam perspektif perlindungan global terhadap Covid-19 tetapi isu utamanya menyangkut kemungkinan untuk benar-benar mengatasi ketidaksetaraan segera, dengan menerapkan kebijakan kesehatan global berdasarkan hak setiap orang untuk mengakses pengobatan.

    Dua momen

    Akan ada dua momen yang disediakan untuk Akademisi: audiensi dengan Paus Fransiskus pada pagi hari tanggal 27 September dan upacara penghargaan Guardian of Life yang baru didirikan.

    Penghargaan telah diberikan kepada Dr. Dale Recinella, seorang pendeta awam di penjara terbesar di Florida, yang akan menghadiri persidangan Majelis. Upacara penghargaan akan berlangsung pada malam 28 September.

    Program kerja lengkap diterbitkan di situs web Akademi Kepausan untuk Kehidupan: www.academyforlife.va

    Kehadiran Paus adalah hadiah nyata bagi Budapest

    Eduard Habsburg-Lothringen, Hungarian Ambassador to the Holy See- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Eduard Habsburg-Lothringen, Duta Besar Hongaria untuk Takhta Suci, menantikan kedatangan Paus Fransiskus di Budapest untuk Misa penutupan Kongres Ekaristi Internasional dan mengingat hubungan mendalam antara negaranya dan Eropa.

    Dirilis dari VatikanNews, ditulis oleh Delphine Allaire dan Linda Bordoni, dikatakan dalam tulisan itu saat rakyat Hongaria dan para peserta Kongres Ekaristi Internasional ke-52 yang berlangsung di Budapest bersiap untuk menyambut Paus Fransiskus pada hari Minggu untuk Misa penutupan. Kongres itu sendiri sedang berjalan lancar, dengan program Misa, konser, pameran, kesaksian yang kaya. , dan festival film.

    Penyelenggara Kongres menunjukkan bahwa pertemuan itu adalah kesempatan unik bagi lebih dari satu miliar umat Katolik di dunia untuk fokus pada sentralitas Ekaristi dalam kehidupan Kristen.

    Acara Budapest juga merupakan kesempatan untuk menemukan sejarah 1.100 tahun Hungaria tentang iman dan penghormatan terhadap tradisi, dan hubungan lama antara Gereja dan Negara di negara itu.

    Hadiah nyata

    Duta Besar Hongaria untuk Takhta Suci, Eduard Habsburg-Lothringen mengatakan kepada Delphine Allaire dari Radio Vatikan bahwa orang-orang Hongaria memandang kehadiran Paus di Budapest sebagai “hadiah yang nyata.”

    Besar Habsburg-Loghringen, mencatat bahwa setiap orang sangat menyadari fakta bahwa ini adalah sesuatu yang jarang dilakukan Paus. “Mereka senang, bahagia, dan bersemangat bahwa Bapa Suci datang mengunjungi Budapest untuk Kongres Ekaristi,” kata Duta.

    Kehadiran yang langka

    Duta juga menambahkan bahwa faktanya hal itu terjadi sekali dalam 140 tahun Kongres Ekaristi dan mereka memandang kehadiran Paus untuk merayakan Misa terakhir Kongres sebagai hadiah besar dan sebagai suatu kehormatan.

    Mengenai peran Gereja Katolik di negara tersebut, Dubes menjelaskan bersama dengan komunitas agama lain Gereja “sangat terlihat” di Negara Hongaria.

    Baca juga: Sisa-Sisa Martir Katolik Korea Ditemukan 230 Tahun Setelah Mereka Dieksekusi

    Hal itu adalah sebagian karena Konstitusi mereka menyatakan bahwa sementara Gereja dan Negara, maka tentu saja hal itu sangat jelas dibedakan satu sama lain.

    “Gereja dan Negara bekerja sama untuk kebaikan masyarakat,” tambahnya.

    Berarti gereja dan komunitas agama yang berbeda sangat hadir di ruang publik dan banyak sekolah yang dijalankan oleh gereja.

    “Anda akan melihat kehadiran para pemimpin agama di Hungaria sebagai sesuatu yang sangat normal. Sesuatu yang tidak sering Anda lihat di negara lain di bagian Eropa yang lebih barat,” catatnya.

    Orang Eropa yang Bangga

    Duta Besar Habsburg-Lothringen juga menyoroti hubungan yang mendalam antara Eropa dan Hongaria, menunjukkan bahwa negara itu berada di bagian yang sangat sentral dari Eropa – secara historis merupakan bagian dari Mitteleuropa – dan orang-orang benar-benar merasa mereka berada di jantung Benua itu.

    “Lucunya, orang kadang-kadang mengatakan Hongaria akan meninggalkan Uni Eropa dan saya selalu mengatakan kepadanya bahwa sangat sedikit negara di Eropa di mana antusiasme terhadap gagasan Eropa dan Uni Eropa setinggi di Hongaria, dan misalnya, di Polandia,” katanya.

    Hongaria, dia menekankan, “sangat, sangat sadar akan pentingnya proyek Eropa. Mereka sangat betah di Eropa, mereka seperti ‘jantung yang berdetak’ di Eropa.

    Baca juga: 5 Alasan Para Pencinta Lingkungan Harus Menyerukan Prinsip-Prinsip Katolik

    Sangat terikat dengan skenario ini adalah fakta bahwa Gereja Hongaria terhubung erat dengan Gereja di negara-negara Eropa lainnya di Eropa.

    Sesuatu, Duta Besar menyimpulkan, yang mungkin paling baik dilambangkan mungkin dengan fakta bahwa Kardinal Hungaria, Kardinal Peter Erdo, adalah Presiden Konferensi Waligereja Eropa selama bertahun-tahun.

    Sisa-Sisa Martir Katolik Korea Ditemukan 230 Tahun Setelah Mereka Dieksekusi

    Sumber: https://aleteia.org/2021/09/03/remains-of-korean-catholic-martyrs-discovered-230-after-they-were-executed/ - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Internasional – Ketiga martir itu dibeatifikasi oleh Paus Fransiskus dalam kunjungannya ke Korea Selatan pada tahun 2014. Berita ini dilansir dari portal berita Aleteia yang di publikasikan pada 3/9/2021.

    Jenazah para martir Katolik pertama dari Korea telah ditemukan lebih dari dua abad setelah mereka dieksekusi.

    Katolik dibawa ke Korea pada abad ke-17 oleh umat awam Korea yang telah menemukan iman dalam perjalanan mereka ke Cina dan Jepang. Itu menjadi mapan di semenanjung Korea pada abad ke-18. Ketika iman mulai menyebar, umat Katolik menghadapi penganiayaan di bawah dinasti Joseon, yang memerintah selama lebih dari 500 tahun.

    Baca Juga: Surat Bapa Suci Kepada Brother Gerard Francisco Timoner, O.P., Master Jenderal Order of Preachers

    Selama 100 tahun, sebanyak 10.000 umat Katolik menjadi martir di Korea. Baru pada tahun 1886 penganiayaan terhadap umat Katolik berakhir dengan penandatanganan perjanjian dengan Prancis.

    Tujuh tahun lalu, pada 2014, Paus Fransiskus melakukan perjalanan ke Korea Selatan untuk beatifikasi 125 martir Katolik. Tiga martir yang jasadnya ditemukan termasuk di antara mereka yang dibeatifikasi. Sebagai bukti kekuatan iman di tengah kesulitan, diperkirakan 800.000 orang menghadiri Misa beatifikasi.

    Jenazah ditemukan pada bulan Maret dalam rangka mengubah kuburan menjadi tempat perlindungan di dekat Jeonju, Selatan Seoul. Investigasi menggunakan catatan sejarah dan tes DNA mengarahkan para peneliti untuk menentukan bahwa sisa-sisa itu milik Paul Yun Ji-Chung, 32, dan James Kwon Sang-yeon, 40, yang dipenggal pada 1791, lapor AFP.

    Jenazah adik laki-laki Yun, Francis Yun Ji-heon, yang menjadi martir pada usia 37 tahun, sepuluh tahun setelah saudaranya dieksekusi, juga ditemukan.

    Baca Juga: Paus meminta para Dominikan untuk menjadi yang terdepan dalam pewartaan kabar suka cita

    “Kami telah menemukan sisa-sisa orang yang pertama kali menetapkan sejarah kemartiran bagi gereja kami, yang didirikan di atas darah para martir,” kata Uskup John Kim Son-Tae, kepala Keuskupan Jeonju, seperti dilansir AFP.

    Jenazah Francis Yun, “menunjukkan tanda-tanda pemotongan yang jelas,” kata keuskupan.

    Menurut uskup, catatan sejarah menunjukkan bahwa Paul Yun mempertahankan imannya sampai kematiannya.

    Dia “tersenyum seolah-olah dia sedang dalam perjalanan ke sebuah pesta” ketika dia diseret ke tempat eksekusi, kata uskup itu kepada AFP.

    “Dia dipenggal sambil memanggil “Yesus, Maria’,” katanya.

    Pada 2019, ada 5,6 juta umat Katolik di Korea Selatan, yang merupakan 11% dari populasi.

    TERBARU

    TERPOPULER