Thursday, February 12, 2026
More

    Kepada Siapa Kita Mengadu,” Ungkap Mgr. Agus Depan TNI/Polri

    Oleh: Samuel-MajalahDUTA

    MajalahDUTA.Com, Anjongan – Tampak baju motif loreng khas, yang dilengkapi dengan baret dengan warna yang disesuaikan dengan paduan warna hijau, hitam, dan coklat tua, yang akan semakin membuat para anggota TNI angkatan darat gagah berdiri di depan jalan masuk Gua Maria Anjongan.

    Disusul pula anggota lainya tentara angkatan udara memiliki warna biru loreng. Berbeda lagi dengan seragam angkatan laut yang memiliki warna putih. Kemudian dihadiri juga oleh Ibu Kapolda Nunuk Sigid Tri Hardjanto beserta anggota-anggota Polri dalam misa TNI/Polri bersama Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak pada 28 Oktober 2021, pukul 10.00 WIB.

    Baca Juga: Sapaan Kasih Mgr. Agustinus Agus Uskup Agung Pontianak pada Kunjungan Pangdam Mayjen TNI Sulaiman Agusto

    Sejak Uskup Agustinus bertugas diwilayah Keuskupan Agung Pontianak, melihat kondisi TNI Polri juga membutuhkan pendampingan rohani, maka sejak 30 April 2019, Mgr. Agustinus Agus mengangkat Pastor Laurentius Prasetyo, CDD dalam pengangkatan pastor TNI dan Polri untuk Keuskupan Agung Pontianak periode 2019-2022 dengan nomor 132.SK/Sekr-KAP/IV/2019.

    Dalam misa bersama TNI/Polri itu, Uskup menggambarkan bahwa dalam gereja Katolik perhatian-perhatian spesifik seperti ini ‘harus-lah’ dilihat secara ‘awas’ alias jeli. Bagi Uskup Agustinus Agus, TNI dan Polri juga manusia biasa. Mereka juga sering mengalami masa-masa kering dalam tugasnya. Terlebih, sebagai aparat caci makian bahkan ‘sumpah serapah’ masyarakat yang tidak mengerti sering mereka lahap.

    Perlakuan Khusus Gereja untuk TNI/Polri

    Sialnya tugas menegakkan keadilan dan melindungi rakyat kadang menjadi lazim termanipulasi dan tak jarang serangan mental menjadi mimpi buruk bagi mereka. Mgr. Agus juga mau agar TNI/Polri diperlakukan khusus dalam gereja Katolik maka dari itu sebagai kesempatannya memilih dan menetapkan Pastor untuk TNI dan Polri di Keuskupan Agung Pontianak.

    Pagi yang ‘sedu-sedan’ ditambah dengan iringan musik Maria, menambah suasana sakral mengigiring anggota masuk dalam keheningan batin pagi sebelum mulai misa. Perarakan dimulai dari rumah singgah gua Maria Anjongan. Disana Mgr. Agustinus Agus didampingi Pastor TNI/Polri Pastor Prasetyo CDD, Pastor Indra Lubis sebagai pastor paroki, dan Pastor Albert tamu dari Makassar.

    Baca Juga: Mgr. Agustinus Agus Berkunjung Ke Provinsialat Kapusin

    Uskup Agung Pontianak, Mgr  Agustinus Agus dalam renungannya dikatakan kepada siapakah kita (TNI/Polri) akan mengadu dikala menghadapi situasi mental dan masalah hidup yang membendung hidup. “Belum lagi soal atasan dan bawahan, termasuk masalah keluarga dan tempat tugas, kesempatan inilah saatnya kita mengadu kepada Bunda Maria,” kata Mgr. Agus.

    Uskup Agustinus juga mengisahkan peristiwa Pesta di Kana, dimana kala itu pesta yang kehabisan anggur dan Bunda Maria meminta Yesus terkait kekurangan anggur. Walaupun kata Yesus waktunya belum tiba, namun Yesus tetap membuat mukjizat mengubah air menjadi anggur karena permintaan Bunda-nya. Atas dasar itulah, lanjut Uskup Agustinus, “Bunda Maria adalah ibu kita semua, bahkan di kayu Salib Yesus berkata kepada muridnya; murid, inilah ibu mu, dan Yesus berkata kepada ibunya; ibu inilah anak mu,” ujarnya.

    Sejarah Gua Maria Anjongan

    Selain refleksi, Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus juga mengisahkan garis besar sejarah Gua Maria Anjongan.

    Mgr. Agustinus mengisahkan pada saat Gerakan G30S PKI tahun 1965 yang berdampak dalam situasi dan keamanan di Kalimantan Barat.

    Saat itu, pada tanggal 17 Oktober 1967 terjadi peristiwa yang dikenal dengan ‘demonstrasi’ orang Dayak dan orang Tionghua yang mengakibatkan banyak korban dan nyawa. Dengan kata lain terjadi pertumpahan darah dan tragedi ‘merah’ yang menyayat hati.

    Prihatin dengan peristiwa tersebut dan kerinduan besar akan kehidupan yang penuh kedamaian itulah yang menggerakan hati Pastor Isak Doera Pr (yang kemudian menjadi Uskup Sintang pada tahun 1977-1996), yang sejak Juni pada 1967 bertugas sebagai pastor tentara, kepala rohaniwan katolik (Rohat) dengan pangkat tituler “Mayor TNI” pada KODAM XII TANJUNGPURA, menyarankan kepada Antonius Leonardus van Aert (Pemimpin umat di Anjongan) dibantu oleh Simon Petrus (Katekis Paroki Katedral Santo Yosep Pontianak) untuk mencari tempat yang tepat, untuk membangun Gua Maria.

    Baca Juga: 75 Tahun Kongregasi Pasionis Berada di Indonesia

    Tempat tersebut dibangun bukan hanya dimaksudkan sebagai tempat ziarah tetapi diharapkan juga sebagai tempat mempertemukan kedua kelompok yang bertikai agar terciptalah perdamaian.

    Tanggal 29 April 1973 Mgr. Hieronymus Bumbun OFMCap pada saat itu masih pastor dan menjabat sebagai Vikjen Keuskupan Agung Pontianak, meresmikan dan memberkati Gua Maria Anjongan yang kemudian diberi nama ‘Maria Ratu Pencinta Damai”. Uskup Agung waktu itu, Mgr. Herculanus Joannes Maria van der Burgt, OFMCap (tanggal 31 Januari 1961- 2 July 1976).

    Sejak saat itulah Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan resmi digunakan oleh umat Katolik sebagai tempat ziarah. Pelayanan Pastoralnya, dilaksanakan oleh Pastor Herman Josep van Hulten, OFMCap yang bertugas di Paroki Menjalin (1964-1974).

    Sehubungan dengan adanya Gua Maria itu, Bpk. Antonius Leonardus van Aert memberi kesaksian: “Orang Tionghua dan etnis Dayak diberi kesempatan untuk saling bertemu dan memaafkan dibawah kaki Bunda Maria dan ternyata usaha ini berhasil.”

    Baca Juga: Benih untuk Gereja yang lebih setia

    Sebagai wujud syukur kepada Bunda Maria atas terciptanya kedamaian tersebut 27 Mei 2018 diresmikan dan diberkati Patung Raksasa, ‘Maria Ratu Pencinta Damai’ yang terletak di jalan masuk Gua Maria oleh Mgr. Agustinus Agus Uskup Agung Pontianak. Tertulis Anjongan 1 Oktober 2021, oleh Komsos Keuskupan Agung Pontianak.

    Kami Bangga

    Sebagai anggota aparat dalam kesan dari Mayor Czi Ignatius agung S.S.T KODAM XII/TPR mengaku bangga dengan adanya kegiatan misa berkumpul bersama seperti ini. Sebagai perwakilan anggota TNI Angkatan Darat ia berharap semoga kegiatan berkumpul bersama seperti ini harus ditingkatkan bahkan ia menghimbau agar setiap awal bulan semua anggota bisa membawa keluarga untuk berdoa bersama dalam setiap pertemuan.

    Sama dengan itu, Kompol Anton Waka Polres Mempawah juga mengungkapkan rasa terima kasih dan perasaan yang luar biasa itu dalam bentuk syukur serta terima kasih kepada Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus karena selain meluangkan waktu, Uskup Agustinus juga memberikan wejangan dan refleksi rohani kepada segenap yang hadir.

    Ada pula perwakilan dari Letda Laut (KH) Boin Nofetrus Sihotang dan Letkol Kal Yohanes Eko K, TNI Angkatan Udara yang mengungkapkan rasa bangga sekaligus syukur, karena mereka boleh dipersatukan dan dikuatkan lagi dalam satu iman.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles