Sunday, May 3, 2026
More
    Home Blog Page 143

    Banjir Sintang, Sanggau & Sekadau : Suster Kongregasi SFIC Salurkan Bantuan Sembako

    Paket donasi untuk Sintang diserahkan melalui PSE-Caritas KAP

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Setiap memasuki  akhir tahun, banjir seolah menjadi “santapan” rutin saja.

    Fenomena alam yang mencekam ini menimbulkan serangan panik (panic attack) bagi masyarakat dunia khususnya di Indonesia.

    Bulan Oktober 2021 baru kemarin kita dikejutkan dengan bencana banjir parah melanda Kabupaten Sintang Kalbar.

    Sejak kamis (21/10) yang lalu banjir mengenangi Kabupaten Sintang.

    Banjir terjadi setelah hujan ekstrim dengan intensitas lebat mengguyur sehingga debit air dua sungai besar-Sungai Kapuas dan Melawi-sampai meluap.

    Banjir dengan curah hujan cukup lebat juga menggenangi dua Kabupaten lainnya yakni Kabupaten Sekadau dan Kabupaten Sanggau.

    Dilansir dari laman Detik.com, hingga Selasa (16/11), tercatat lebih dari 124 ribu orang terkena dampak banjir di Sintang, Kalbar;

    • warga terdampak mencapai 35.807 keluarga atau 124.497 jiwa
    • warga yang mengungsi berjumlah 7.545 keluarga atau 25.884 jiwa

    Hasrat solidaritas kemanusiaan datang dari berbagai penjuru.

    Ungkapan simpati, keprihatinan dan kepedulian berupa bantuan sembako terus mengalir guna meringankan duka masyarakat yang terdampak.

    SFIC Peduli

    Kongregasi Suster Fransiskus dari Perkandungan Tak Bernoda Bunda Suci Allah (SFIC) turut prihatin atas bencana yang melumpuhkan aksesbilitas masyarakat ini.

    Kongregasi SFIC Provinsi Indonesia membentuk tim solidaritas kemanusiaan dalam aksi “SFIC Peduli”

    Wadah aksi solidaritas ini terselenggara berkat kerjasama lembaga Justice,Peace,Integrity of Creation (JPIC) atau Keadilan, Kedamaian dan Keutuhan Ciptaan Kongregasi SFIC Indonesia.

    Berkolaborasi dengan unit karya  pendidikan di bawah naungan Yayasan Pengabdi untuk Sesama Manusia (YPSM).

    Gerakan peduli ini disampaikan melaui surat edaran dari pengurus Yayasan Pengabdi Sesama Manusia tertanggal 15 November 2021.

    “Dengan melestarikan budaya kerjasama dan gotongroyong kita sengaja ingin melibatkan partisipasi siswa/i dan orangtuanya untuk membantu sukarela.

    Dengan demikian sekolah kita semakin bias menjadi media dan sarana menanamkan pendidikan karakter.

    Murid diajak mengerti apa artinya berbagi, berbuat baik dan kebajikan,”kata Sekretaris YPSM Sr. Agusta Heni SFIC.

    Menurut Sr. Agusta Heni SFIC, penyaluran bantuan berupa paket sembako sebagai berikut:

    • 250 kg beras dan 25 dus mie instan untuk Sintang disalurkan melalui Pengembangan Sosial Ekonomi-Caritas Keuskupan Agung Pontianak (PSE-Caritas KAP) pada 17 November 2021.
    • Paket sembako untuk wilayah Sanggau, Lintang dan sekitarnya didistribusikan oleh Tim JPIC SFIC dan YPSM bersama karyawan unit pendidikan.

    Sr. Agusta Heni SFIC, anggota Dewan Pimpinan SFIC Provinsi Indonesia, mengatakan, pendistribusian sudah dilaksakan pada Sabtu, tanggal 20 November 2021.

    Rombongan para suster SFIC wilayah Pontianak, dan karyawan berangkat pagi hari menuju Sanggau mengiringi truk logistik berisikan 245 paket sembako.

    Bantuan berupa 210 paket beras dan mie instan disalurkan untuk masyarakat di pemukiman PT. Erna Kayu Tunu Sanggau Kapuas.

    Sedangkkan 35 paket beras dan mie instan disalurkan untuk masyarakat di kampung Lintang-tempat kelahiran Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak.

    Serah terima berlangsung di dermaga Sungai Kapuas Sanggau. Di sana sudah hadir perwakilan dari warga PT. Erna, Sr. Eligia SFIC untuk menerima paket-paket sembako.

    Paket sembako didistribusi secara estafet mengingat kondisi jalan menuju dermaga yang sempit dan hanya bisa dilalui dengan sebilah papan.

    Tiga buah transportasi longboat siap mengangkut paket-paket tersebut menuju pemukiman warga PT. Erna Kayu Tunu.

    Perjalanan menyusuri sungai Kapuas ditempuh dengan jarak sekitar 40 menit.

    Desolasi: Kesepian Rohani

    Ilustrasi: Momen Foto Jamnas Sekami 2018- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Ada yang mengatakan, “enak ya bisa hidup dalam keseharian yang rohani,” kata mereka yang merasa jarang berdoa. Tapi ada mereka yang sering berdoa-pun bisa mengatakan hal yang demikian: “saya sering berdoa, tetapi kenapa saya merasa kesepian,”?

    Menurut Santo Ignatius dari Loyola, dalam pengalaman doa, seseorang dapat mengalami dua keadaan yakni desolasi dan konsolasi.

    Apa itu desolasi dan konsolasi?

    Desolasi adalah kondisi dimana seseorang merasa kesepian rohani.

    Cirinya adalah orang yang perlahan makin jauh dari Tuhan dan terjebak dalam dosa (sering mengulang kesalahan yang sama atau lebih lagi melakukan dosa baru) yang makin dalam.

    Konsolasi adalah keadaan seseorang merasa mendapatkan penghiburan rohani. Biasanya mereka mau maju mendekat pada Tuhan. Selain itu mereka juga orang yang memiliki hubungan makin akrab dengan Tuhan dan terus memperbaiki dirinya.

    Tak selamanya seseorang mengalami pengalaman doa yang selalu sama baik desolasi maupun konsolasi. Kemudian bisa muncul pertanyaan yang lazim di kita dengar di kalangan gereja yakni:

    • Dimanakah Tuhan ketika kita mengalami kesepian yang amat mendalam?
    • Dimanakah Tuhan ketika kita terpuruk dalam kelemahan?
    • Ketika kita dalam penderitaan, masihkah ada Tuhan di sekitar kita?

    Pertanyaan macam ini seringkali kita teriakkan dalam hati ketika berdoa.

    Latihan rohani St Ignatius dari Loyola

    Santo Ignatius dari Loyola mengajarkan dalam Latihan Rohani (LR) 317 tergambarkan bahwa kesepian rohani adalah keadaan batin seseorang yang tampak dalam kecenderungan menjauh dari Tuhan.

    Hal ini dapat menggejala antara lain dalam menipisnya iman, harapan, dan kasih. St Ignatius juga menjelaskan bahwa gejala itu dirasakan pada kekacauan batin yang membuat orang berbuat hina dan mencari hal-hal duniawi, kenikmatan duniawi, kehilangan tanggung jawab, kekacauan membedakan yang pokok dan yang sampingan.

    Dalam perjalanan Latihan Rohaninya di hari 1-7, St Ignasius mengalami kelelahan, putus asa, dan kesendirian. Namun, kesetiaan dan keteguhan imannya dalam sepi itu yang justru berbuah dan meyakinkan ia bahwa Tuhan hadir.

    Dalam kesepian iman, Tuhan tetap hadir untuk menemani manusia, agar berani masuk dalam kenyataan ‘gelap’ dari kehidupan yang pernah dialami.

    Dalam kesendirian dan kesepian iman, seseorang akan mengalami rasa takut, karena hanya berhadapan dengan dirinya sendiri, yang seringkali dirasakan penuh dosa dan kesalahan.

    Desolasi cenderung melakoni

    Menurut Santo Ignatius Loyola desolasi bukanlah sekedar perasaan sedih atau kesepian. Seseorang bisa nampak gembira, namun sebenarnya sedang mengalami kesepian rohani yang luar biasa.

    Karenanya, seseorang yang sedang mengalami desolasi cenderung melakoni dan mengejar kebutuhan duniawi, seperti kegembiraan semu melalui hiburan malam, bersenang-senang dan lain sebagainya. Sebab, jika ia diam maka ia semakin merasakan kesedihan dalam desolasi.

    Pada waktu desolasi seperti ini, jangan sekali-kali membuat perubahan, tetapi teguh dan tetap dalam niat dan keputusan yang dipegang pada hari sebelum desolasi.

    Dalam desolasi biasanya orang sulit mempertimbangkan sesuatu secara tenang dan matang, sehingga keputusannya sering kali tidak tepat.

    Dalam kondisi ini juga roh jahat lebih dominan dalam diri manusia, sehingga apapun keputusan yang di ambil akan salah.

    Anjuran Santo Ignatius

    St. Ignatius menganjurkan setiap orang yang mengalami desolasi untuk berjuang mengubah diri menghadapi kesepian.

    Dengan melakukan beberapa hal-hal berikut:

    • Pertama, Agere Contra (Latin: Bertindak melawan atau bertindak sebaliknya), yaitu semangat melawan kecenderungan diri yang mulai malas, dengan berjuang secara tabah dan sabar.

    Jika seseorang semakin malas berdoa dan mencari kesenangan pribadi, maka orang itu harus menambah waktu berdoa dan matiraga.

    Jika orang diganggu untuk menjadi pemarah, ia harus berusaha menghentikan dan mengendalikan amarahnya. Melawan sikap yang mengarah pada keburukan dengan melakukan hal sebaliknya.

    • Kedua, orang yang mengalami desolasi, diajak untuk lebih tekun berdoa, meditasi, dan matiraga.

    Meski berat, semua itu perlu dilakukan agar kita tidak mencari kesenangan semu yang semakin menjauhkan kita dari Allah.

    Melalui doa, manusia dipersatukan dengan Allah, dengan demikian Allah sendirilah yang memberikan kekuatan.

    • Ketiga, dalam kesepian dapat pula merenungkan betapa manusia tanpa Allah tidak dapat berbuat apa-apa, tanpa bantuan Allah kita tidak dapat mengatasi kesepian itu.

    Semoga!!!

    Dari berbagai Sumber…

    Pastor Pius Pietrzyk, OP: Apakah gereja ‘Katolik independen’ benar-benar Katolik?

    Potret Gereja Katolik Paroki Pemangkat- (Ilustrasi) - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Internasional- Naskah ini saya angkat dari tulisan Pastor Pius Pietrzyk, OP yang menanggapi dari sebuah peristiwa seorang imam dalam sebuah gereja baru di Kansas City mengatakan mereka mendengar orang-orang yang merasa telah “dikucilkan” oleh Gereja Katolik.

    Beberapa media berita lokal di Kansas City baru-baru ini melaporkan sesuatu yang menyebut dirinya “Gereja Katolik Independen.”

    Artikel tersebut menggambarkannya sebagai bagian dari “gerakan Katolik independen” dan menunjukkan bahwa itu adalah bagian dari Gereja Katolik.

    Mungkin timbul pertanyaan: Apakah kelompok ini Katolik? Haruskah seorang Katolik menghadiri Gereja di sana?

    Inti dari pertanyaan ini adalah pertanyaan yang lebih dalam: Apa artinya menjadi Katolik?

    Beberapa orang akan mengatakan bahwa pembaptisanlah yang membuat seseorang menjadi Katolik. Dan ada beberapa kebenaran untuk itu.

    Gereja telah mengajarkan bahwa melalui pembaptisan seseorang menjadi anggota dari satu Gereja Yesus Kristus. Selain itu, baptisan sebagai seorang Katolik membuat seseorang tunduk pada hukum gerejawi Gereja.

    Lebih sekedar menerima babtisan

    Dalam tulisan Pastor Pius Pietrzyk, OP yang diterbitkan pada 16/11/21 di berita Aleteia dikatakan bahwa untuk menjadi Katolik lebih dari sekedar penerimaan baptisan.

    Menurutnya Ini adalah langkah pertama yang perlu, tetapi kepenuhan menjadi Katolik membutuhkan persekutuan dengan Gereja.

    Hukum kanon Gereja mewajibkan setiap orang Katolik untuk memelihara persekutuan penuh dengan Gereja. Gereja secara umum melihat kepenuhan persekutuan sebagai tiga bidang: iman, sakramen, dan pemerintahan.

    Artinya, untuk menjadi Katolik sepenuhnya menuntut seseorang untuk percaya pada kebenaran iman, untuk berpartisipasi dalam kehidupan sakramental, dan untuk tunduk pada pemerintahan Gereja yang sah, baik Paus maupun Uskupnya sendiri.

    Pada tataran iman, semua umat Katolik wajib menerima kebenaran-kebenaran wahyu dan kebenaran-kebenaran yang dikemukakan oleh Magisterium yang menyentuh iman dan kehidupan moral.

    Bahkan keraguan yang terus-menerus tentang kebenaran yang diyakini Gereja telah diwahyukan oleh Tuhan akan menjadi kegagalan untuk menempatkan diri dalam persekutuan penuh dengan Gereja dan akan membuat seseorang kurang sepenuhnya Katolik dalam pengertian itu.

    Gereja bukan hanya umat Allah

    Hal yang sama berlaku tentang pemerintahan. Gereja bukan hanya Umat Allah, tetapi suatu masyarakat lengkap yang disusun untuk kebaikan bersama.

    Gereja Latin yang telah merayakan Hari Raya Kristus Raja. Kristus benar-benar memerintah dan mengatur umat dan mereka yang ditahbiskan untuk pelayanan suci, terutama para uskup, mengatur Gereja atas nama-Nya.

    Dengan sengaja melepaskan diri dari otoritas sah yang mereka miliki di Gereja berarti melepaskan diri dari Gereja. Ini juga akan membuat seseorang kurang dari Katolik yang sejati.

    Kesulitan dengan apa yang disebut Gereja Katolik independen ini adalah bahwa mereka mempromosikan diri mereka sendiri sebagai memiliki sakramen-sakramen yang sah tetapi melakukannya disingkirkan dari iman dan pemerintahan Gereja.

    Pastor Pius Pietrzyk, OP mengatakan bahwa mereka menolak banyak proposisi iman dan terutama kehidupan moral yang selalu diyakini Gereja sebagai kebenaran yang diwahyukan.

    Selain itu, mereka dengan sengaja menolak untuk mengakui otoritas sah yang dimiliki Paus Fransiskus dan Uskup setempat atas mereka. Karena itu, mereka dengan tegas menolak persekutuan penuh dengan Gereja.

    Hindari kelompok-kelompok yang tidak jelas

    Pastor Pius Pietrzyk, OP mengisahkan sejarah kelompok ini di Kansas City membuat pemisahan ini dari Gereja semakin jelas.

    Di situs web mereka sendiri, mereka mengklaim keabsahan sakramen mereka karena imamat mereka berasal dari penahbisan oleh Emmanuel Milingo. Namun, Milingo dikucilkan oleh Paus pada tahun 2006 karena tidak mematuhi hukum Gereja.

    Bagaimana seseorang bisa mengaku sepenuhnya Katolik dari sumber yang diketahui publik dikucilkan – tetapi definisi di luar persekutuan?

    Apakah gereja-gereja “independen” seperti itu Katolik?

    Dalam arti bahwa baptisan mereka dan beberapa Sakramen mereka sah, ya. Tetapi mereka bukanlah Katolik dalam arti kata yang terbaik dan terdalam karena penolakan mereka terhadap kebenaran esensial dari iman dan pemerintahan Gereja yang sah.

    Sebagai umat Katolik yang ingin tetap berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja, Pastor Pius Pietrzyk, OP mengajak umat katolik untuk menghindari kelompok-kelompok seperti itu, bahkan ketika kita terus berdoa untuk akhirnya bersatu.

    Vatikan menyerukan penghentian pelanggaran hak-hak nelayan

    Potret Nelayan Cumi di Lokasi Perairan Laut Pulau Datok- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Prefek Dikasteri, Kardinal Peter Turkson untuk Mempromosikan Pembangunan Manusia Integral mengeluarkan pesan untuk Hari Perikanan Sedunia, yang akan diperingati pada hari Minggu, 21 November 2021.

    Berita yang diangkat oleh Robin Gomes pada 19 November 2021, 15:47 waktu Vatikan ini menitik beratkan pada seruan Vatikan terhapan penghentian pelanggaran hak dari nelayan.

    Dalam tulisannya itu Gomes memperhatikan masih terlalu banyak pelanggaran hak asasi manusia yang dialami nelayan di laut, Gereja Katolik menyerukan organisasi internasional, pemerintah, masyarakat sipil, para pemain yang berbeda dalam rantai pasokan dan LSM untuk bergabung untuk menghentikannya.

    Ajaran Magisterium Gereja Katolik

    Prefek Dikasteri Vatikan Kardinal Peter Turkson untuk Mempromosikan Pembangunan Manusia Integral, menurutnya mengikuti ajaran Injil dan Magisterium Gereja Katolik, Takhta Suci selalu menganjurkan penghormatan terhadap hak-hak tersebut.

    Kemudian hal itu adalah sebagai syarat awal bagi pembangunan sosial dan ekonomi suatu negara yang memajukan kebaikan bersama.

    Dia membuat pernyataan dalam sebuah pernyataan dalam rangka Hari Perikanan Sedunia yang akan diperingati pada hari Minggu, 21 November.

    Perayaan Hari Perikanan Sedunia berfungsi sebagai pengingat penting bahwa kita harus fokus pada mengubah cara dunia mengelola perikanan global untuk memastikan stok yang berkelanjutan.

    Sejalan dengan ekosistem yang sehat sekaligus memperjuangkan dan melindungi hak asasi nelayan.

    Kardinal Turkson mencatat bahwa Hari Perikanan Sedunia dirayakan untuk pertama kalinya pada tahun 1998 oleh komunitas nelayan yang ingin menyoroti cara hidup di sektor perikanan.

    Mereka mempekerjakan jumlah pekerja terbesar yang menghasilkan salah satu komoditas pangan yang paling banyak diperdagangkan seluruh dunia yakni terutama ikan.

    Pelanggaran hak asasi

    Menurut Vatikan selama Hari Perikanan Sedunia ini Gereja ingin memusatkan perhatian manusia pada sektor perikanan industri atau komersial yang sudah terlalu lama terjerat, dalam jaring masalah dan tantangan terkait pelanggaran hak asasi manusia di laut.
    Kemudian diperparah dengan adanya pandemi Covid-19 dan membuat kehidupan nelayan dan keluarganya semakin bermasalah.

    Kardinal Turkson mengakui upaya berkelanjutan yang dilakukan oleh organisasi internasional untuk menerapkan berbagai konvensi dan kesepakatan mengenai kondisi kerja, keselamatan di laut dan penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan dan tidak diatur (IUU).

    Ia menyayangkan, seringkali ketika kapal penangkap ikan meninggalkan perairan tenang pelabuhan, para nelayan menjadi sandera keadaan yang sangat sulit dipantau karena bermil-mil jauhnya dari daratan.

    Awak kapal tidak dapat datang ke darat secara teratur karena kapal penangkap ikan tidak meninggalkan daerah penangkapan ikan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

    Sebanyak 24.000 kematian per tahun

    Nelayan mengalami ancaman dan intimidasi oleh nakhoda dan petugas. Mereka dipaksa bekerja tanpa henti siang dan malam untuk menangkap ikan sebanyak mungkin dalam segala cuaca, kondisi yang menyebabkan kelelahan dan kecelakaan kerja.

    Kardinal Turkson mencatat bahwa usia rata-rata armada perikanan industri dunia adalah lebih dari 20 tahun.

    “Dengan lebih dari 24.000 kematian dalam setahun, kita dapat mendefinisikan industri perikanan, industri yang mematikan,” lanjutnya, bahwa sedikit atau tidak ada kompensasi yang ditawarkan kepada keluarga dan kerabat almarhum, yang mayatnya segera dikuburkan di sungai alias tengah laut.

    Dia menyatakan keprihatinan atas keselamatan nelayan, yang rata-rata usia di armada penangkapan ikan industri dunia lebih dari 20 tahun. Kondisi di dalam kapal tidak manusiawi, dengan dapur dan pantry (tempat penyimpanan makanan) yang kotor, tangki air yang berkarat, air minum yang terbatas dan kualitas makanan yang buruk dan tidak memadai.

    Menyebutkan bahaya lainnya, Kardinal Turkson mengatakan bahwa karena perburuan liar di perairan nasional, terkadang terjadi bentrokan bersenjata, dengan kapal disita dan awaknya ditangkap.

    Pemilik meninggalkan mereka di negara asing tanpa upah kembali dan tidak ada harapan repatriasi.

    Kadang-kadang, awak kapal juga tidak dibayar lembur, dengan agen menahan sebagian dari gaji sampai akhir kontrak.

    Pemilik kapal penangkap ikan yang tidak bermoral juga terlibat dalam penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan dan tidak diatur, kegiatan kriminal transnasional, seperti perdagangan orang dan perbudakan, serta penyelundupan obat-obatan dan senjata.

    Upaya Gereja

    Kardinal Peter Turkson mengatakan Takhta Suci mengutuk pelanggaran hak asasi manusia para nelayan dan menyerukan transformasi industri perikanan yang menempatkan di pusat kepentingannya, penghormatan terhadap hak asasi manusia dan hak buruh mereka.

    Dia Mengutip kata Paus Fransiskus dalam ensiklik- Fratelli tutti: “Kita tidak bisa acuh tak acuh terhadap penderitaan; kita tidak bisa membiarkan siapa pun menjalani hidup sebagai orang buangan. Sebaliknya, kita harus merasa marah, tertantang untuk keluar dari isolasi nyaman kita dan diubah oleh kontak kita dengan penderitaan manusia.”

    Karena itu, dia meminta para imam dan sukarelawan dari pelayanan pelabuhan Stella Maris Gereja Katolik untuk melanjutkan misi belas kasih.

    Terutama untuk menyambut para nelayan dan melihat wajah mereka yang menderita seperti Yesus Kristus serta memberi mereka dukungan spiritual serta material.

    Uskup Agustinus: Pengalaman itu-lah yang membentuk kita

    Foto ini diambil ketika misa Natal bersama di Rutan Bengkayang , terlihat dalam foto ini bahwa Uskup sebagai gembala umat tidak segan -segan mendatangi narapidana secara personal- Komsoskap

    Pontianak | Senin, 22 November 2021

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Sekali waktu, (26 Desember 2017 lalu) Uskup Agustinus mengunjungi rutan kelas II B Bengkayang, saat itu masih nuansa natal, dimana banyak orang yang merayakan hari natal di rumah dan kunjungan ke rumah sahabat atau kerabat. Hari natal adalah hari yang harusnya bergembira dan berbagi sukacita, ya kira-kira begitulah sekilas keindahan natal yang harusnya kita rayakan.

    Pada hari natal ke dua, saat itu kebetulan Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan dipanggil Sam ikut berjalan bersama Mgr Agustinus Agus untuk merayakan natal di Kabupaten Bengkayang.

    Tidak disangka Uskup Agustinus sudah menjadwalkan kedatanganya untuk merayakan natal bersama penghuni rutan kelas II B Bengkayang.

    Tercatat dalam jurnal harian rumah tahanan Negara kelas II B Bengkarang saat itu kapasitas sebanyak 217 orang dengan isi rutan sebanyak 197 orang, tahanan ada 41 orang, dan narapidana sebanyak156 orang.

    Mgr. Agustinus Agus spontan mengadakan misa natal bersama dengan para penghuni rutan.

    Isak tangis di Rutan

    Masih hangat dalam ingatan, ketika Uskup Agustinus melangkah masuk mengunjungi rutan. Mata narapidana kala itu sontak tertuju ke sosok orang tua yang berkarisma itu dengan tatapan penuh harapan dan senyuman yang menggugah hati.

    Tangannya tidak segan-segan merangkul para narapidana kala itu. Tampak hampir semua mata berkaca-kaca membisu tanpa suara. Hanya tatapan mata mereka lah yang seolah menceritakan isi hati saat itu.

    Tercetus kalimat dari seorang narapidana saat itu, “bagaimana mungkin seorang pembesar Gereja Katolik di Kalimantan Barat yakni seorang Uskup Agung Pontianak mau mengunjungi dan memimpin perayaan suci natal bersama kami para tahanan,” ujarnya (nama dirahasiakan).

    Namun itulah gayanya Uskup Agus, ia tidak segan untuk datang dan memberi penghiburan kepada mereka yang sedang mengalami proses hukuman.

    Tangisan semakin besar saat uskup memberkati mereka non-Katolik. ‘Merinding’ momen gila yang saya rasakan sebagai seorang jurnalis yang ikut gaya Uskup Agus.

    Begitu total ia melayani tanpa memandang siapa dan dari mana orang itu berasal.

    Setiap orang memiliki kesempatan

    Dalam homilinya Mgr Agustinus Agus mengatakan bahwa setiap orang membutuhkan kesempatan berbuat baik dimanapun ia berada dan dalam kondisi apapun ia berada.

    “Kadang-kadang manusia terlalu muluk dengan apa yang sebetulnya bukan prioritas utama, sehingga apa yang diberikan dan diserahkan terkait dengan hidup merupakan bagian yang tidak terlepas dari moral hidup,” kata Uskup Agus.

    Uskup Agustinus juga menyatakan bahwa bagi mereka yang melakukan tindak kriminal dan bagi mereka yang terlanjur masuk dalam rumah tahanan, mau atau tidak ia mesti menanggung masa hukuman yang sudah ditetapkan sesuai dengan ketentuan hukum.

    “Dalam proses masa hukuman yang mereka jalani, tentunya ada perasaan yang sangat sulit untuk mereka terima,” lanjut Uskup Agustinus.

    “Kebutuhan dan keperluan setiap orang memang berbeda,” lanjut Uskup Agus, “karena perbedaan itulah setiap manusia memiliki kebebasan untuk mendapatkannya dan menggunakan kebebasan hidup itu tadi.”

    “Tetapi apa akibatnya bagi mereka yang tidak menggunakan kebebasan itu dengan sebaik mungkin? Tentu ada ganjarannya, lantas mereka yang sudah masuk dalam sel tahanan harus dicap sebagai kriminal bahkan lebih parahnya adalah sebagai sampah masyarakat?”
    “Tentu tidak, mereka masuk dalam tahanan bukan juga sepenuhnya kesalahan mereka,” kata Mgr Agustinus Agus.

    Pengaruh lain diluar kontrol

    Melihat kondisi narapidana saat itu, Mgr Agustinus Agus meneguhkan mereka dengan memberikan semangat hidup baru untuk memulai dan melakukan kebaikan untuk semua orang.

    Uskup Agustinus juga melihat bahwa perbuatan mereka juga ada karena pengaruh lain yang tak terduga.

    Menurutnya mungkin edukasi yang kurang, kesadaran pribadi, pengaruh lingkungan, kurangnya perhatian dan didikan orang tua, maupun keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan membuat mereka terjerumus dalam hal yang tidak mereka inginkan.
    Menutup Homilinya Uskup Agustinus Agus berdoa agar natal itu memberikan semangat baru bagi semua yang berkumpul.

    Natal adalah kelahiran baru, lahir roh baru dan serba baru, jadi kasih Tuhan tidak terpengaruh oleh tembok, jarak dan waktu. Lakukanlah kebaikan, mulai sekarang dan jadikan dirimu terang, pesannya.

    Uskup Agustinus Agus mengatakan dalam berkat penutupnya bunyinya demikian “setiap manusia pasti tidak terlepas dari masalah hidup, dan masalah itu jangan pernah kita lewatkan. Justru karean itu adalah sebuah pengalaman, dan karena Pengalaman itu-lah yang membentuk manusia.”

    Hari ini tepat pada 22 November 2021, Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak genap berumur 72 tahun. Selamat ulang tahun Bapa Uskup Agustinus Agus, kami selalu mendoakan Bapa Uskup dalam tugas dan pelayanannya.

    Congratulation Bishop Isaac Martienz, MSA

    Pastor Isaac, MSA - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan– Mendengar kabar Pastor Isaac Martienz, MSA menjadi Uskup di Cajamarca adalah sebuah kabar yang mengharukan sekaligus bangga.

    Banyak pengalaman dan kebersamaan yang menjadi titik balik berpikir hingga kenangan yang menjadi catatan iman saat bersama beliau di Pontianak Indonesia 8 tahun silam.

    Pastor Isaac Martienz ya memiliki hidung mancung, berkaca-mata, kulit coklat ala bule yang bukan berkulit putih. Tubuh yang tidak terlalu tinggi dengan perut yang agak ‘luas’.

    Gaya bicara bahasa Indonesianya kala itu tampak memang masih terbata-bata namun sangat lembut, itu cukup memberikan kesan pertama yang unik dan dirindukan.

    Kenangan yang masih jelas diingatan yakni kesan saat bersama saat beliau di Pakumbang.
    Sambutannya yang ramah dan hangat dengan anak-anak yang membuatnya menjadi rebutan orang untuk ber-foto selfie.

    Kemudian meskipun bahasa kami terbata-bata (Spanyol, Inggris dan Indonesia) rasanya kami disatukan dalam satu rahmat dan persaudaraan yakni dalam pelayanan.

    Berkat dan doa dari tangannya 

    Momen paling spesial sebelum perpisahan kami di kala pulangnya beliau ke Kanada, Pastor Isaac memberikan berkat dengan tangannya sembari mendoakan.

    Pada tanggal 23 Oktober 2021 bulan lalu, Pastor Isaac resmi menjadi Uskup di Keuskupan Cajamarca. Keuskupan Cajamarca (bahasa Latin: Caiamarcen(sis)) adalah sebuah keuskupan yang terletak di kota Cajamarca, provinsi gerejawi Trujillo, Peru.

    Congratulation Bishop Isaac Martienz, MSA salam dan doa dari kami semua yang mendukung anda.

    Bunda Teresa dipilih masuk dalam Kalender oleh Para Uskup AS

    DeepGreen | SHUTTERSTOCK - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, – Para uskup Amerika Serikat memilih untuk menjadikan tanggal 5 September sebagai peringatan opsional untuk menghormati St. Teresa dari Calcutta, tulisan ini diangkat oleh Philip Kosloski yang diterbitkan pada 21/11/21.

    Dalam tulisan tersebut dikatakan selama pertemuan tahunan USCCB minggu lalu, para uskup memberikan suara 213-0, dengan satu abstain, untuk menjadikan tanggal 5 September pada kalender liturgi sebagai peringatan opsional untuk menghormati St. Teresa dari Calcutta.

    Ini akan memungkinkan para imam di Amerika Serikat untuk mempersembahkan Misa untuk mengenang Bunda Teresa pada tanggal 5 September, yang merupakan peringatan tahunan kematiannya.

    Menurut Arlington Catholic Herald, “Kebijakan komite, yang ditetapkan pada tahun 1992, mensyaratkan empat syarat untuk pencantuman orang-orang kudus dan orang-orang yang diberkati dalam kalender A.S. : Mereka harus dicantumkan pada kalender yang tepat keuskupan setidaknya selama lima tahun; ‘kultus’ calon ‘harus ada di sejumlah besar keuskupan, lebih luas dari wilayah atau wilayah negara’; kandidat harus pernah bertugas di Amerika Serikat; dan prasasti baru biasanya memiliki peringkat peringatan opsional.”

    Ketika orang-orang kudus secara resmi dikanonisasi, sangat sedikit dari mereka yang ditempatkan pada apa yang disebut “Kalender Umum”, yang digunakan oleh seluruh Ritus Roma Gereja Katolik di seluruh dunia.

    Biasanya orang-orang kudus hanya dirayakan di negara asal mereka, kecuali “pemujaan” mereka (pengabdian kepada mereka dan doa untuk syafaat mereka) tersebar luas di seluruh dunia.

    “Kultus” orang setempat

    St. Yohanes Paulus II adalah contoh serupa, karena hari rayanya pada tanggal 22 Oktober ditambahkan oleh para uskup Amerika Serikat pada tahun 2012.

    Sebelumnya, itu hanya sebuah pesta yang dirayakan di tempat-tempat seperti Roma atau Polandia. Kelompok uskup lokal lainnya harus memilih untuk menambahkannya ke kalender mereka juga.

    Ini juga berarti bahwa hari raya dan orang-orang kudus dirayakan secara berbeda di tempat lain di dunia.

    Misalnya, di Malta Gereja merayakan Kapal Karam St. Paul di Malta pada tanggal 1 Februari sebagai hari kewajiban suci dan Irlandia merayakan (tidak mengherankan) pesta St. Patrick sebagai hari suci.

    Praktek ini mengakui “kultus” orang-orang kudus setempat, daripada memaksakan berbagai orang kudus pada Kalender Umum.

    Terkadang orang-orang kudus dikenal secara universal di seluruh dunia, itulah sebabnya mereka dirayakan di mana-mana. Namun, seringkali orang-orang kudus hanya dikenal secara lokal, itulah sebabnya mereka tetap hanya ada di kalender lokal.

    Paus mendorong kaum muda untuk betah di rumah dan menjadi protagonis di Gereja

    Pope Francis at Sunday Angelus with World Youth Day participants (Vatican Media)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Paus Fransiskus menyapa kaum muda di seluruh dunia yang memperingati Hari Pemuda Sedunia keuskupan yang dirayakan pada Hari Raya Kristus Raja ini.

    Dia mendorong mereka untuk merasa betah di Gereja dan menjadi protagonis (peran utama) dalam membantu Gereja dalam misinya untuk menghayati dan mewartakan Injil dalam kehidupan dan komunitas.

    Pada akhir Angelus Minggu, Paus Fransiskus menyapa orang-orang muda di seluruh dunia yang merayakan Hari Pemuda Sedunia, yang secara tradisional diadakan pada Hari Raya Kristus Raja.

    Dua anak berusia sembilan belas tahun dari Keuskupan Roma berdiri di kedua sisi Paus saat ia muncul untuk pengangkatan hari Minggu di Lapangan Santo Petrus. Dia memberikan mikrofon kepada salah satu dari mereka yang menyapa orang-orang muda di hari istimewa ini.

    Baca Juga: Aksi Solidaritas Keuskupan Agung Pontianak Bersama KODAM XII Tanjungpura

    Paus mendorong kaum muda untuk merasa betah di Gereja dan menjadi protagonis hari ini, bagian integral dari misi mewartakan Kabar Baik. Dia menyampaikan salam “dengan sepenuh hati” kepada semua orang muda, mendorong mereka untuk mengingat pada Pesta Kristus Raja ini, bahwa “memerintah adalah untuk melayani”, mendorong semua orang untuk mengulangi kata-kata itu.

    Berpastoral dalam segala elemen

    Pikirannya kemudian beralih ke Hari Perikanan Sedunia hari ini di mana ia meminta perhatian kepada mereka yang bekerja di bidang ini dalam kondisi sulit atau bahkan kerja paksa.

    Dia juga memberikan penghormatan kepada pelayanan pastoral yang diberikan oleh imam Stella Maris, sebuah lembaga Gereja Katolik yang menawarkan perawatan praktis dan pastoral untuk semua pelaut.

    Karena hari ini juga menandai Hari Peringatan Sedunia untuk Korban Lalu Lintas Jalan, Paus Fransiskus juga menyerukan doa bagi para korban kecelakaan di jalan dan mereka yang bekerja untuk mencegahnya.

    Baca juga: MOU & Peletakan Pondasi Pembangunan The Luxury Colletion Labuan Bajo Resort

    Dia juga menyuarakan dorongannya pada inisiatif yang terjadi di Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertujuan untuk kontrol yang lebih besar atas perdagangan senjata.
    Akhirnya, Paus memberikan penghormatan kepada Beato Fr. Jan Franciszek Macha, dibeatifikasi kemarin di Katowice, Polandia, dibunuh dalam kebencian terhadap iman pada tahun 1942 selama penganiayaan terhadap Gereja selama rezim Nazi.

    Dalam kegelapan penjara, dia menemukan di dalam Tuhan kekuatan dan kerendahan hati untuk menghadapi kalvari itu, kata Paus, dan semoga kemartirannya menjadi benih bagi kita semua yang kaya akan harapan dan kedamaian.

    Sebagian Warga Sintang Masih Mengungsi, BPBD Operasikan Lima Pos Lapangan

    Update Situasi Banjir di Kabupaten Sintang – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Sintang – Banjir masih melanda Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, hingga malam ini, Sabtu (13/11). Pantauan BPBD setempat debit air bertahan meski telah turun 10 sampai dengan 15 cm pada Jumat kemarin. Kondisi tersebut membuat sebagian warga bertahan di pos pengungsian.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang menginformasikan banjir masih merendam beberapa kecamatan di wilayahnya. Sebanyak 12 kecamatan terdampak banjir yang disebabkan meluapnya debit air Sungai Kapuas dan Sungai Melawi. Wilayah Kabupaten Sintang berada di pertemuan dua sungai besar itu, atau biasanya disebut ‘sakatiga.’

    “Sampai dengan hari ini, kondisi debit air turun yang terpantau di Sungai Kapuas dan Melawi,” ujar petugas BPBD Kabupaten Sintang Fidelis Asdi, pada Sabtu petang (13/11).

    Ia menyampaikan bahwa pihaknya selalu memonitor kondisi ketinggian air di sekitar dua kawasan sungai besar tersebut.

    Baca Juga: Aksi Solidaritas Keuskupan Agung Pontianak Bersama KODAM XII Tanjungpura

    Situasi banjir yang merendam beberapa kecamatan ini masih menyebabkan sebagian warga mengungsi ke pos pengungsian. BPBD telah mengoperasikan lima pos lapangan untuk melayani kebutuhan dasar warga, seperti asupan makanan dan pelayanan kesehatan. Kelima pos lapangan berada di kawasan Tugu Bambu, Pos Lantas, Media Center, Ujung Jembatan Kapuas dan Kantor Camat Sintang, sedangkan pos komando berada di Kantor BPBD Kabupaten Sintang.

    “Kami setiap hari melakukan pelayanan di pos lapangan,” ujar Fidelis.

    Data pada hari ini, Sabtu (13/11), pukul 17.00 WIB, sebanyak 10.381 KK atau 33.221 jiwa masih mengungsi. Mereka berasal dari 9 kecamatan yang terdampak banjir sejak 21 Oktober 2021 lalu. Warga yang mengungsi tersebar di 32 pos pengungsian yang dioperasikan BPBD setempat. Pos pengungsian tersebut didukung 24 dapur umum yang dioperasikan tim gabungan di bawah komando BPBD Kabupaten Sintang. Laporan BPBD menyebutkan sejumlah pos pengungsian maupun dapur umum ini tersebar di 12 kecamatan, khususnya titik-titik yang aman dari genangan air.

    Sementara itu, jumlah populasi terdampak, BPBD Kabupaten Sintang mencatat sebanyak 29.623 KK atau 88.148 jiwa. Masyarakat terdampak ini tersebar di 12 kecamatan, antara lain Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir, Binjai Hulu, Sintang, Sepauk, Tempunak, Ketungau Hilir, Dedai, Serawai, Ambalau, Sei Tebelian dan Kelam Permai.

    Pantauan BPBD setempat menyebutkan wilayah yang terdampak paling tinggi berada di Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir dan Sintang.

    Banjir yang melanda banyak kecamatan ini telah menelan korban jiwa dua orang dan kerugian material seperti jembatan rusak berat sebanyak 5 unit dan rusak sedang 1 unit.

    Menyikapi kondisi sejak awal terjadinya banjir, pemerintah daerah yang dipimpin oleh BPBD Kabupaten Sintang telah melakukan upaya penanganan darurat bencana. Pemerintah daerah pun telah melakukan perpanjangan status tanggap darurat untuk bencana banjir, angin puting beliung dan tanah longsor hingga 16 November 2021. Di sisi lain, BNPB terus melakukan manajemen darurat pos komando di kabupaten ini.

    MOU & Peletakan Pondasi Pembangunan The Luxury Colletion Labuan Bajo Resort

    MOU dan Peletakan Pondasi Pertama Pembangunan The Luxury Collection Labuan Bajo Resort - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Labuan Bajo – Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) bekerja sama Marriott International bangun Resort di Labuan bajo. Adapun Nama resort tersebut yakni “The Luxury Colletion Labuan Bajo Resort”.

    Turut hadir juga pada momen peletakan pondasi pertama pembangunan The Luxury Collection Labuan Bajo Resort yakni, Wakil Bupati Yulianus Weng, Uskup Agung pontianak Mgr. Agustinus Agus, Uskup Denpasar, Mgr. Silvester San, perwakilan Marriott International serta unsur Luxury Resort.

    Tamu khusus dihadiri mantan Kapolri yaitu Badrodin, hadir pula forkompinda Kabupaten Labuan Bajo ada Kapolres dan pihak Keuskupan Ruteng diwakili oleh Vikjend.

    Mewakili KWI hadir pula Rm. Bambang SJ sebagai Direktur FAI (Fortuna Agata Indonesia), kemudian Mgr. Silvester San Ketua Dewan Moneter KWI dan Mgr.Agustinus Agus anggota Dewan Moneter KWI.

    Hotel ini milik KWI bekerja sama dengan beberapa pihak. Dikeloa oleh PT Fortuna Paradiso Optima PT milik KWI yang Dirut nya adalah Iwan Sumarta.

    Upaya pihak KWI membangun resort di Labuan Bajo mendapat sambutan positif dari Pemkab Manggarai Barat.

    Baca Juga: Aksi Solidaritas Keuskupan Agung Pontianak Bersama KODAM XII Tanjungpura

    Ini merupakan hotel Marriot yang ke – 132 di dunia. Oleh karena itu tadi hadir perwakilan Marriot yang di Jakarta. Seyogyanya tadi hadir Bupati Manggarai Barat (Labuan Bajo, ibu kota nya) tetapi mendadak berhalangan hadir sehingga diwakili oleh Wakil Bupati.

    Pada momen peletakan pondasi pertama pembangunan Resort Luxury di Kawasan Binongko, Rabu (17/11/2021), Wakil Bupati Yulianus Weng mengaku senang bahwasanya dimasa sulit karna COVID-19 masih ada pihak yang ingin membangun resort di Labuan Bajo, apalagi resort ini ada nama Labuan Bajo-nya.

    Menurut Wakil Bupati, selama ini banyak pihak yang ingin membangun hotel di Labuan Bajo namun beberapa saja yang ada realisasinya.

    Pemerintah menyampaikan terima kasih kepada investor yang membangun hotel di sini. Ia berharap pembangunan hotel ini dapat memperhatikan kearifan lokal dan budaya lokal Manggarai Barat serta berdampak menyejahterakan masyarakat lokal yang ada di wilayah kabupaten ini, kata Wabup Yulianus Weng.

    Ia juga memberi jaminan kepada wisatawan akan rasa aman dan nyaman dari segi kesehatan selama berada di Labuan Bajo.

    Menurutnya pasca Labuan Bajo di tetapkan sebagai kawasan strategis pariwisata nasional yang Superprioritas, pembangunan nampak luarbiasa maju sekali, dampaknya banyak wisatawan yang mulai berdatangan .

    “Kami jamin bahwa wisatawan tidak ada yang terdampak COVID-19 setelah pulang dari Labuan Bajo. Semua petugas hotel dan yang berkecimpung di dunia pariwisata sudah di vaksin tahap II,” kata Wabup Yulianus Weng.

    Baca Juga: Kemanunggalan TNI dan Masyarakat Katolik: Uskup Agustinus Sampaikan Terima Kasih

    Ia menjelaskan,data hingga hari kemarin progres Vaksinasi di Manggarai Barat sudah mencapai 71,8% sementara di kota Labuan Bajo sendiri, progresnya 127,9%. “Tidak usah takut ke Labuan Bajo, COVID-19 sudah aman,” ujarnya optimis.

    Selain itu ia menjelaskan stabilitas keamanan juga terjamin,kami bekerja sama dengan semua pihak, kepolisian, Dandim, FKUB dan stakeholder lainya, semua aman disini, kata Wabup Weng.

    Di tempat yang sama, mewakili KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus mengatakan, gereja tidak banyak berharap dari Derma saja, harus ada usaha yang menghasilkan. Usaha ini bisa mensuport gereja dari segi vinansial.

    MOU dengan General Manager Marriot Hotel

    Uskup Agung Pontianak ini berharap, usaha kita membawa dunia ke Labuan Bajo bekerja sama Marriott International, kita harapkan dunia sadar dan dunia mulai melihat dan terjadi efek ganda yang berlipat- lipat untuk masyarakat di Labuan Bajo dan di Indonesia umumnya.

    Semoga dukungan Pemkab Manggarai Barat NTT dan keberlanjutanya bisa membawa persahabatan dan kebaikan kepada sesama.

    Uskup menambahkan, resort yang terletak di kawasan Binongko tersebut di bangun di atas lahan seluas 15700 meter persegi dengan fasilitas 18 villa serta 30 kamar.

    Selain peletakan fondasi pertama Hotel, juga ditandatangani MOU dengan General Manager Marriot Hotel. Pihak KWI sudah melakukan penandatangan perjanjian kerja sama antara Marriott International dengan pihak The Luxury Collection Labuan Bajo Resort.

    Penandatangan tersebut berlangsung di ballroom Ayana Hotel. Nantinya Resort itu di kelola oleh PT.Fortuna Paradiso Optima, jelas Uskup Agustinus Agus.

    Mgr Agustinus Agus menyampaikan bahwa lokasi tersebut terletak ditanah 15 000 m2 di darat dan 15.000 m2 di laut. Diharapkan pada bulan April 2022 pengerjaannya sudah bisa dimulai pembangunan.

    TERBARU

    TERPOPULER