Saturday, May 2, 2026
More
    Home Blog Page 135

    Mgr. Agus Adalah Inspirasi Panggilan!

    Kebersamaan Mgr. Agus dengan para Fraternya - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Uskup dari Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus boleh dikatakan sangat dikenal oleh banyak orang sebagai sosok yang ceria dan penuh semangat. Bagi Uskup Agus usia agaknya hanyalah angka belaka.

    Ya, pujian ini tentu tidak berlebihan jika melihat semangatnya dalam melayani umat, baik di Keuskupan Agung Pontianak, maupun di luar keuskupan Agung Pontianak. Semangat beliau dalam melayani sungguh total dan menginspirasi banyak orang.

    Perhatiannya untuk Frater-fraternya

    Dari sekian banyak aktivitas pastoral yang Uskup Agus lakukan, mungkin hanya sedikit orang yang tahu bahwa beliau juga sangat perhatian terhadap para fraternya, khususnya para frater yang berasal dari Keuskupan Agung Pontianak.

    Sejak beliau mengemban tugas sebagai Uskup Agung Keuskupan Agung Pontianak, beliau selalu memberikan perhatian yang lebih bagi para fraternya, baik yang sedang studi di Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII, Malang, maupun yang di STT Pastor Bonus Pontianak.

    Baca Juga: Sosialisasi TPE 2020, APP 2022 dan Program Kerja Dewan Paroki Sambas

    Tentang mengunjungi para frater yang sedang studi di Malang, menurut pengakuan beberapa frater Sintang, memang sejak ia menjabat sebagai uskup Sintang, beliau juga sering mengunjungi mereka. Perhatian Bapa Uskup terhadap para fraternya rupanya tidak pudar sama sekali, bahkan ketika beliau menjabat sebagai uskup agung Pontianak.

    Hanya saja, perhatian kini beralih dari frater Sintang kepada frater-frater Pontianak, tempat di mana ia mengemban tugas pengembalaannya saat ini.

    Salah satu moment yang tak akan terlupakan oleh para frater Pontianak adalah saat Bapa Uskup menyempatkan diri untuk rekreasi bersama mereka di Trawas, Mojokerto.

    Rekreasi ini terasa sangat spesial dan mengesankan, sebab di tengah pelbagai kesibukan beliau sebagai uskup, Uskup Agus rupanya masih mau meluangkan waktu untuk bersama-sama berekreasi bersama para frater. Ikut juga dalam kesempatan ini ketua UNIO Keuskupan Agung Pontianak, RD Alexius Mingkar.

    Momen tak terlupa

    Momen lain yang tak kalah mengesankan, ialah saat Uskup Agus memilih merayakan ulang tahunnya yang ke-71 bersama para frater di Malang.

    Pilihan ini tentu cukup mengejutkan, sebab siapa sangka seorang uskup agung mau merayakan ulang tahun jauh di tanah orang.

    Baca Juga: Paroki Salib Suci Ngabang Gelar Pembekalan Calon Anggota DPP Periode 2022-2025

    Perayaan ulang tahun ini berlangsung meriah di provinsialat suster pasionis (CP). Dalam kesempatan ini, turut serta para suster CP, staf formator dan para frater seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang, dan beberapa donatur.

    Ya, sosok Mgr. Agus memang sosok yang sangat inspiratif, khususnya bagi para frater projo K.A. Pontianak. Inspirasi ini bukan hanya terbatas pada kata-kata belaka, melainkan lebih kepada sikap dan gaya pastoral yang beliau tunjukkan. Mgr Agus adalah inpirasi panggilan!

    Sosialisasi TPE 2020, APP 2022 dan Program Kerja Dewan Paroki Sambas

    Foto bersama setelah kegiatan sosialisasi oleh DPP Sambas – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Sambas – Dewan Pastoral Paroki Kristus Raja Sambas menyelenggarakan Sosialisasi Tata Perayaan Ekaristi (TPE) 2020, Aksi Puasa Pembangunan Tahun (APP) 2022, serta Sosialisasi Program Kerja dewan pastoral Paroki pada Sabtu, 5 Maret 2022 di Aula Gedung Serbaguna Paroki Kristus Raja Sambas. Hadir dalam acara sosialisasi ini 72 Pengurus Umat dari seluruh stasi di Paroki Kristus Raja Sambas.

    Dalam sambutannya, Romo Cahyo selaku Ketua DPP Kristus Raja Sambas menyampaikan ucapan terima kasih, karena para pengurus umat telah menanggapi dengan baik, undangan dari DPP ini. Harapannya melalui sarana pertemuan ini, DPP Kristus Raja Sambas dan para pengurus umat dapat saling mendengarkan dan berbagi informasi, sehingga dapat saling meneguhkan dan menyemangati dalam karya pastoral di paroki dan stasi masing-masing.

    Baca Juga: Paroki Salib Suci Ngabang Gelar Pembekalan Calon Anggota DPP Periode 2022-2025

    Sebagai narasumber pada sosialisasi TPE 2020 adalah Rm. F. Cahyo Widiyanto OFMCap, yang sekaligus ketua DPP Kristus Raja Sambas. Untuk narasumber Sosialisasi APP 2022 adalah Bapak Maritus, S.Ag dan sebagai narasumber dalam Sosialisasi Program Kerja Paroki adalah Bapak Yosef Yasriadi dan Bapak Laurensius Naga.

    “TPE Indonesia 2020 adalah buah kerja sama dari perbagai pihak. Tujuan utama dari TPE baru adalah agar umat dapat semakin memahami ekaristi dengan baik, berpartisipasi dengan penuh menurut bagiannya dan semakin menyadari pengorbanan dan kasih Allah kepada umat-Nya. Harapan dengan adanya TPE baru adalah TPE ini sungguh menggerakkan dan menjadi motivasi umat untuk menyiapkan liturgi ekaristi dengan lebih baik, lebih benar, lebih indah, lebih hikmat” papar Rm. Cahyo Widiyanto.

    Pewan Pastoral Paroki

    Maksud pengadaan buku TPE Umat adalah terutama untuk  hal-hal yang berhubungan dengan bagian umat, misalnya  jawaban-jawaban umat, aklamasi, nyanyian-nyanyian yang  merupakan bagian Umat.

    Bagian umat ini (jawaban-jawaban, aklamasi) ada semua di  dalam buku TPE Umat, agar melalui buku ini, umat dapat  berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi. Karena itu, buku TPE  Umat tidak selengkap buku TPE Imam (tidak semua bagian Imam ada dalam buku TPE Umat).

    TPE umat ini mulai diberlakukan diseluruh Indonesia sejak 1 November 2021. Kita umat Katolik menggunakan TPE yang sama, karena kesadaran, bahwa kita ada gereja Katolik dengan ritus Latin. Maka sebagai tanda kesatuan dengan seluruh gereja, kita menggunakan buku TPE yang sama.

    Baca Juga: Kegiatan Donor Darah Paroki Katedral Santo Yosef Pontianak

    Buku TPE baru mengacu pada Buku Missale Romanum 2008 pada masa Paus Benediktus XVI.

    Seksi Liturgi dan Seksi Katekese yang bertanggung jawab dalam kegiatan pertemuan para pengurus umat di Paroki Kristus Raja Sambas ini berharap agar setelah mengikuti acara ini umat dapat merayakan ekaristi dengan benar, sebagaimana diajarkan oleh Gereja Katolik yang kudus, dapat mengisi masa Prapaskah dengan sungguh-sungguh dan akhirnya dapat terlibat dan berpartisipasi dalam seluruh kegiatan Paroki, sehingga Paroki Kristus Raja Sambas dapat menjadi Paroki yang hidup, maju dan berkembang.

    Paroki Salib Suci Ngabang Gelar Pembekalan Calon Anggota DPP Periode 2022-2025

    RP. Pius Barces, CP, Vikaris Yudisial Keuskupan Agung Pontianak – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Ngabang – Paroki Salib Suci Ngabang menggelar pembekalan bagi para calon Pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) Periode 2022-2025 di aula Maniamas Ngabang. Pembekalan dilaksanakan selama 3 hari, dari hari Jumat, 11 Maret 2022 sampai Minggu 13 Maret 2022 dan diikuti oleh para calon Anggota DPP, Pastor Paroki dan Para Suster KFS Ngabang.

    Hadir sebagai narasumber RP. Pius Barces, CP, Vikaris Yudisial Keuskupan Agung Pontianak.

    Baca Juga: Pembekalan Dewan Pastoral Paroki Kristus Raja Sambas Periode Tahun 2022-2024

    “Umat paroki menjadi dekat satu sama lain karena dipersatukan oleh cita-cita yang sama (mengikuti Yesus Kristus) pengutusan yang sama (menghadirkan kerajaan Allah) dan tujuan yang sama (keselamatan kekal). Dengan demikian umat paroki adalah umat terpilih yang dipanggil untuk membangun paguyuban alternatif (yang hidup atas dasar lain dibandingkan dengan masyarakat atau organisasi sosial pada umumnya).” demikian Pengantar yang disampaikan RP. Pius Berces, CP tentang sejarah pembentukan DPP pada sesi pertama pembekalan.

    Dewan Pastoral Paroki

    “Paroki adalah komunitas gerejawi yang pertama/dasar. Keluarga spiritual, sekolah iman, doa, yang pertama. Paroki adalah tempat pertama dalam berkarya cinta kasih; lembaga pertama dalam karya pastoral dan sosial, pusat kehidupan gerejawi. Paroki adalah sebuah komunitas umat beriman yang menghayati persekutuan dan partisipasi, mendengarkan Sabda Allah, bertumbuh dalam hidup Kristiani, beribadah dan berbagi dalam pelayanan berjangkauan luas (Gaudium Evangelii).

    Kegiatan Pembekalan yang dibuka langsung oleh Pastor Kepala Paroki Salib Suci Ngabang RP. Filipus. OFM CAP, diikuti dengan antusias oleh calon-calon anggota DPP yang sebagian besar di isi oleh orang-orang muda.

    Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus Melantik 71 DPP Paroki St. Pius X Bengkayang: Manajemen Paroki Harus Transparan

    “Ide tentang DPP sudah ada sejak Paus Pius XI, melalui Surat Edaran Quamvis Nostra aetate 27 Oktober 1936 dari Pius XI: DPP untuk memajukan dan mengembangkan serta mengkoordinasikan karya kerasulan paroki”.

    “Dasar teologis munculnya DPP itu dari prinsip communio dan partisipasi Umat Allah dalam hidup dan aktivitas gerejawi. Karena itu para anggota DPP adalah orang-orang beriman yang mau melibatkan diri secara aktif pada Gereja/paroki dan merasa menjadi bagian dari paroki. DPP lebih menjadi sebuah badan pelayanan dan rekomendatif terhadap Pastor Paroki (selaku Gembala umat dan penanggungjawab Paroki) dalam bidang pastoral (aktivitas dan pelayanan pastoral kepada umat paroki).” sambung Romo Barces saat menyampaikan materi tentang sejarah DPP.

    Pada hari kedua dipaparkan materi tentang sejarah DPP, Pedoman DPP Keuskupan Agung Pontianak, dilanjutkan dengan panduan penyusunan Program Kerja. Pada sesi ini Romo Barces mengajak semua peserta membentuk kelompok sesuai dengan bidang, kemudian setiap seksi dibimbing untuk membuat Rancangan Program Kerja sesuai Pedoman DPP Keuskupan Agung Pontianak.

    Pelayanan

    Diakhir sesi hari ke dua, semua bidang mempresentasikan Rancangan Program Kerja yang telah disusun kepada seluruh anggota DPP untuk dibahas bersama.

    Hari ketiga kegiatan Pembekalan calon anggota DPP, para peserta mengawali kegiatan dengan bersama-sama mengikuti misa pertama digereja di pimpin langsung oleh Romo Barces yang merupakan misa hari minggu Prapaskah ke 2.

    Baca Juga: Sidang Pleno Forum Kerjasama Religius Kalimantan Barat (FKRK) di Rumah Retret St. Fransiskus Assisi Tirta Ria Pontianak

    “Belum lama ini, Paus Fransiskus menerbitkan Anjuran Apostolik terbaru, yang disebut Amoris Laetitia atau Sukacita Kasih. Dokumen itu menekankan pentingnya ikatan kasih sayang dalam membangun keluarga harmonis” ujar Romo Barces saat menyampaikan materi di hari ketiga tentang Hukum Perkawinan Kanonik. Tanya jawab tentang perkawinan diakhir sesi diikuti oleh peserta dengan antusias.

    Rangkaian kegiatan pembekalan calon Anggota DPP, ditutup secara resmi oleh Pastor Kepala Paroki Salib Suci Ngabang RP. Filipus. OFM CAP dan diakhiri dengan ramah tamah.

    Kegiatan Donor Darah Paroki Katedral Santo Yosef Pontianak

    Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Dalam rangka memperingati Pesta Santo Yosef Pelindung Paroki Katedral, kami dari Sie Bapakat & OMK Katedral St Yosef Pontianak bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) akan mengadakan Kegiatan Donor Darah yang akan diselenggarakan sbb :

    Hari / Tanggal : Sabtu, 19 Maret 2022

    Tempat : Basement Gereja Katedral

    Waktu : Jam 08.00 pagi s/d Jam 11.00 siang

    Persyaratan Donor Darah:

    1. Dalam keadaan sehat walafiat dan tidak dalam keadaan sakit apapun juga
    2. Jika pernah terpapar covid-19, minimal 1 minggu setelah sembuh  (sembuh dari isoman)

    Demikian yang dapat kami sampaikan. Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua.

    Yuk “Ngulik”- Bareng Kapusin Pontianak

    Buruan Daftarkan diri Anda- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak- Kapusin Pontianak

    MajalahDUTA.Com,- Ngumpul lebih asik bersama saudara Kapusin Pontianak.

    Buruan daftarkan diri anda, di sana banyak hal-hal baru dan pastinya pengetahuan unik baru yang didapatkan dari cara hidup Santo Fransiskus Assisi.

    Yuk… Buruan daftarkan diri anda pada link berikut ini:

    Apasih Kapusin itu? 

    Sedikit penjelasan berdasarkan Web Resmi dari ORDO SAUDARA DINA KAPUSIN DI INDONESIA, bermula dari Santo Fransiskus yang mendirikan tiga ordo.

    Ordo pertama untuk laki-laki, ordo kedua, Klaris dan ordo ketiga untuk awam (regular dan sekular).

    Kemudian ordo pertama dibagi atas tiga ordo; Ordo Fratrum Minorum (OFM), Ordo Fratrum Minorum Konventual (OFM Conv) dan Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum (OFM Cap), yang biasa disebut dengan ordo Kapusin.

    Ketiganya menghidupi Anggaran Dasar yang sama yang disusun oleh Fransiskus Assisi yang disahkan oleh Paus Honorius III.

    Ordo Kapusin, dimulai oleh Matheus dari Bascio. Ordo kapusin resmi berdiri tgl 3 Juli 1528 dengan Bulla Religionis Zelus. Anggota ordo Kapusin terdiri dari klerus (imam) dan laicus yang biasa disebut bruder.

    Panggilan nama Kapusin awalnya berawal dari sorakan anak-anak yang melihat para saudara yang memakai jubah yang punya kap panjang dan runcing. Mereka meneriakkan : Scapucini!, Scapucini! (pakai kap).

    Dari teriakan inilah lahir nama Kapusin. Ordo Kapusin ini sudah tersebar luas ke seantero dunia.

    Kapusin tiba di Indonesia

    Missionaris Kapusin tiba di Indonesia pertama kalinya pada tahun 1905 di Singkawang (Kalimantan Barat).

    Saudara yang pertama tiba di sana adalah: Pastor Pacificus Bos dari Uden yang kemudian jadi Uskup pertama Pontianak, kemudian ada Pastor Eugenius dari Reijen, Pastor Beatus dari Dennenburg, Pastor Camillus dari Pannendern, Bruder Wilhelmus dari Oosterhout dan Theodoricus dari Uden.

    Sekilas catatan tentang Mgr Jan Pacificus Bos yang diterjemahkan dan ditulis ulang dari tulisan Nobessito

    Mgr. Jan Pacificus Bos, O.F.M. Cap, pelopor dakwah Katolik di Kalimantan. Lahir di Uden, Belanda, 9 September 1864 dan meninggal di Pontianak, 21 Maret 1937.

    Mgr Jan Pacificus Bos adalah misionaris Katolik pertama di Kalimantan atau Kalimantan

    Jan merintis Keuskupan Agung Pontianak, yang sekarang menjadi salah satu keuskupan terbesar di Asia Tenggara.

    Pada 21 Maret 1937, genap 80 tahun yang lalu, Jan Pacificus Bos meninggal di Pontianak. Beliau adalah Bapak Misi Kalimantan, wakil Paus di tanah Kalimantan.

    Wajah lelaki tua berjenggot saat menerima sumbangan dari masyarakat Dayak. Jumlahnya adalah 5.000 gulden, terdiri dari 5 buah seribu. Jan, begitu nama depannya, tersentuh melihat ketulusan orang Dayak yang rela menyisihkan uang untuk membantu misi Katolik di Kalimantan. Secara spontan dan berkilau, dia berkata:

    “Ini lebih seperti saya daripada penampilan Masa Kecil Yesus!” Kata Jan seperti dikutip dari buku Indonesianization, From the Catholic Church in Indonesia to the Catholic Church of Indonesia karya Huub J.W.M. Boelaars (2005:389).

    Pemimpin Kapusin dari Belanda

    Jan Pacificus Bos adalah orang Belanda sejati. Lahir di sebuah kota bernama Uden pada tanggal 9 September 1864. Meskipun berasal dari Eropa, Jan mendedikasikan separuh hidupnya ke tanah kuno yang disebut Borneo, salah satu pulau terbesar di Nusantara, yang sebagian besar didominasi oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tanggal dua puluhnya. -perjalanan abad.

    Sejak muda, Jan sudah memilih jalan Tuhan dengan mengabdikan dirinya di gereja. Pada usia 23 tahun, ia terus diterima sebagai anggota Ordo Kapusin, salah satu Ordo Fransiskan (pengikut Fransiskan Assisi) dalam otoritas Katolik. Ordo tersebut secara resmi bernama Ordo Saudara Dina Kapusin atau disingkat Ordo Kapusin.

    Dalam Encyclopedia of the Church yang disusun oleh Adolf Heuken (1993: 17) disebutkan bahwa Ordo Kapusin terpilih Jan Pacificus Bos mulai berkembang di Eropa sejak tahun 1525 dan dipimpin oleh sejumlah pengikut Fransiskus dari Italia tenggara, dan sempat memicu polemik. dalam penampilan awal.

    Sesuai dengan namanya, kapusin bukanlah ordo mayoritas dalam keluarga Katolik, bahkan pengikutnya hanya berjumlah sekitar 11.000 orang pada tahun 2005. Namun, orang-orangnya sangat militan dan total. Mereka menghindari segala bentuk kekayaan dan kehormatan dan memilih melayani anak-anak kecil yang bermasalah (R. Kurris, Pelangi dalam Bukit Barisan, 2006: 202).

    Dan itulah yang dilakukan Jan Pacificus Bos. Melayani dan mengabdikan dirinya untuk rakyat kecil, bahkan sampai ke pedalaman Kalimantan hingga akhir hayatnya.

    Wakil Paus di Kalimantan

    “Pergilah, beritakanlah pertobatan kepada semua orang,” adalah pesan Paus Innosensius III kepada Fransiskus pada tahun 1209.

    Jan Pacificus Boss berkesempatan mengikuti jejak Santo Fransiskus hampir 700 abad kemudian. Pada 21 September 1889, Jan ditahbiskan menjadi imam dan sejak 1903 memimpin Provinsi Kapusin Belanda (Karel Steenbrin, Catholic in Indonesia, 1808-1942: A Documented History, 2014: 556).

    Dua tahun kemudian, pada 10 April 1905, ia diangkat sebagai Prefek Apostolik Borneo (Borneo Olandese) di Hindia Belanda (Indonesia). Jan yang masih berada di Belanda pun siap meninggalkan kampung halamannya untuk mewartakan konversi di tempat yang tentunya sulit dibayangkan, Kalimantan.

    Sebagai catatan, prefek apostolik adalah posisi untuk memimpin prefektur apostolik. Prefektur apostolik adalah wilayah karena keadaan khusus yang belum ditetapkan ke dalam keuskupan. Seorang prefek apostolik memimpin prefektur apostolik yang ia emban atas nama Paus di Vatikan. Dengan demikian, Jan Pacificus Bos adalah wakil kepausan di Kalimantan.

    Prefektur Apostolik Borneo sendiri dibentuk pada 11 Februari 1905 dan Jan adalah pemimpin pertamanya. Jan Pacificus Bos resmi menjalankan jabatannya pada tanggal 30 November 1905 sejak menginjakkan kaki di Singkawang dengan didampingi oleh 3 orang imam dan dua orang frater yang datang bersamanya dari Belanda.

    Delegasi Vatikan di Kalimantan bagikan infografis dan menjadi Bapak Misi di Kalimantan

    Sulit dibayangkan bagaimana perjuangan Jan Pacificus Bos dalam menyiarkan dakwah di Kalimantan saat itu.

    Ia adalah misionaris Katolik pertama di Kalimantan dan tentunya harus menghadapi perlawanan yang berpotensi sangat kuat, baik dalam kontak dengan Melayu-Muslim, maupun dengan orang Dayak yang sebagian besar masih menganut ajaran nenek moyang mereka, dan tentu saja kondisi liar kembali ditantang.

    Usaha Jan di Kalimantan tidak sia-sia. Kurang dari 3 tahun setelah ia resmi menjabat sebagai Prefek Apostolik Kalimantan, didirikanlah gereja yang mungkin merupakan yang pertama di Kalimantan.

    Dipelopori pada 8 Agustus 1908, gereja ini mulai digunakan sejak 9 Desember 1909, dan disebut Gereja Saint Joseph.

    Belakangan, gereja tersebut berkembang menjadi Katedral Saint Yoseph.

    Tahun 1912 Misionaris Kapusin mulai berkarya di Pulau Sumatera.

    Kapusin Propinsi Indonesia semakin hari semakin berkembang dengan jumlah anggota yang semakin banyak.

    Pada tanggal 2 Februari 1994 kapusin Indonesia dimekarkan menjadi tiga propinsi, yakni Propinsi Kapusin Kalimantan, Propinsi Kapusin Sibolga dan Propinsi Kapusin Medan.

     

    Aksi Puasa Pembangunan Tahun 2022 Keuskupan Agung Pontianak

    Poster APP 2022 KAP - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Shalom, sahabat KOMSOS Keuskupan Agung Pontianak yang terkasih dalam Tuhan.

    Masa Prapaskah bagi kita umat Katolik juga ditandai dengan adanya Aksi Puasa Pembangunan atau yang disingkat dengan APP.

    Tahun ini, tema APP 2022 KAP adalah “ Yesus Menyembuhkan dan Memulihkan Kehidupan”

    Mari bersama-sama dengan gereja lokal di Keuskupan Agung Pontianak, kita wujudkan APP 2022 dalam aksi-aksi yang nyata dan bermanfaat bagi kehidupan.

    ‘Atas nama Tuhan, hentikan pembantaian ini!’- Doa Paus perang di Ukraina

    A Ukrainian woman in front of the Volnovakha hospital destroyed from the bombardments-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com,- Mengingat para korban di Ukraina, Paus Fransiskus membuat seruan tulus lainnya untuk gencatan senjata di negara yang dilanda perang itu. Berita yang dirilis oleh berita Vatikan pada 13 Maret 2022, 12:24 waktu Vatikan dituliskan dalam berita tersebut diakhir Minggu Angelus, Paus Fransiskus mengingat bahwa umat beriman baru saja berdoa kepada Perawan Maria, karena kota yang menyandang namanya “Mariupol” telah “menjadi kota para martir dalam perang mengerikan yang melanda Ukraina.”

    Kengerian atas kebiadaban pembunuhan anak-anak dan orang tak berdosa dari warga sipil yang tidak bersenjata diungkapkan Paus Fransiskus. Perbuatan yang menyerukan agresi orang-orang bersenjata tidak dapat diterima sebelum kota menjadi kuburan.

    Sebagaimana bahwa Agresi Militer merupakan tindakan perusakan atau penyerangan suatu wilayah atau tempat yang biasanya bertujuan untuk merebut kedaulatan atau Kesejahteraan sebuah Negara.

    “Dengan rasa sakit di hati saya, saya menggabungkan suara saya dengan suara rakyat biasa, yang memohon diakhirinya perang,” kata Paus.

    “Atas nama Tuhan, biarkan tangisan mereka yang menderita didengar dan biarkan pengeboman dan serangan berhenti! Biarkan ada fokus yang nyata dan tegas pada negosiasi, dan biarkan koridor kemanusiaan menjadi efektif dan aman. Atas nama Tuhan, saya meminta Anda: hentikan pembantaian ini!”

    Kristus Hadir dalam mereka

    Paus meminta banyak orang yang telah melarikan diri dari Ukraina untuk disambut, dengan mengatakan “Kristus hadir” di dalam mereka.

    Dia juga mengungkapkan rasa terima kasihnya atas jaringan solidaritas yang besar yang telah muncul sebagai tanggapan atas jutaan orang yang melarikan diri dari perang di Ukraina.

    Paus meminta agar semua keuskupan dan komunitas agama meningkatkan upaya mereka dalam berdoa untuk perdamaian.

    “Tuhan hanyalah Tuhan kedamaian. Dia bukan dewa perang, dan mereka yang mendukung kekerasan mencemarkan nama-Nya.”

    Sebagai penutup, Paus Fransiskus mengundang semua orang yang hadir di Lapangan Santo Petrus untuk berdoa dalam keheningan bagi mereka yang menderita dan agar Tuhan mengubah hati menjadi tekad yang teguh untuk perdamaian.

    Metaverse: Semangat mendengarkan dengan telinga hati

    Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia - KOMSOS KWI

    MajalahDUTA.Com, – Sahabat KOMSOS yang terkasih. Dalam semangat mendengarkan dengan telinga hati.

    Mari kita diskusikan bersama perkembangan yang sedang terjadi.

    Dalam metaverse. Apa sih metaverse? Metaverse secara singkat bisa dijelaskan sebagai komunitas virtual yang saling terhubung dan tak memiliki ujung.

    Dalam sesi ini nanti akan ditelaah lebih dalam dan bagaimana generasi saat menyikapinya.

    Mari bergabung dalam diskusi bersama pada Jumat, 18 Maret 2022 nanti.

    Adapun narasumber yang hadir nanti diantaranya ada Prof Richardus Eko Indrajit sebagai narasumber pertama.

    Kemudian untuk narasumber kedua ada Rm Mutiara Andalas SJ dan selanjutnya sebagai narasumber yang ketiga diisi oleh Frans Budi Santika.

    Jangan lewatkan, KOMSOS Listening series bersama KOMSOS KWI.

    Mari dan ajaklah komsos-komsos paroki dan anak-anak KOMSOS kita.

    Barangkali ada yang berminat dan mau ikut.

    Kardinal Cantalamessa: Ekaristi sama ekstensifnya dengan sejarah keselamatan

    Cardinal Raniero Cantalamessa (ANSA)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com- Dalam renungannya untuk Prapaskah tahun 2022 ini, pengkhotbah untuk Kepausan berfokus pada Ekaristi dalam sejarah keselamatan, menyoroti pentingnya karya Roh Kudus dalam Liturgi Sabda dan liturgi Ekaristi.

    Dalam homilinya Kardinal Cantalamessa mengungkapkan selain banyak kejahatan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19, setidaknya ada satu efek positif dari sudut pandang iman.

    “ Hal itu membuat kita, sadar akan kebutuhan kita akan Ekaristi dan kekosongan yang diciptakan oleh kekurangannya,” kata Kardinal.

    Dalam artikel yang ditulis oleh Pastor Benedict Mayaki SJ yang diterbitkan pada 11 Maret 2022, 12:00 waktu Vatikan News, Pastor Benerdict Mayaki SJ mengulas pikiran dari Kardinal Cantalamessa saat Kardinal homili pada awal masa prapaskah.

    Keajaiban Ekaristi

    Dalam Khotbah Prapaskah pertamanya untuk tahun 2022 ini, Kardinal Raniero Cantalamessa, yang merupakan Pengkhotbah Rumah Tangga Kepausan, mengundang orang-orang Kristen untuk ‘menemukan kembali keajaiban Ekaristi’.

    Baginya, karena setiap kemajuan kecil dalam pemahaman Ekaristi dapat diterjemahkan ke dalam kemajuan dalam kehidupan rohani orang tersebut hingga komunitas gerejawi.

    Kardinal Cantalamessa mengatakan, berbicara tentang Ekaristi di masa pandemi covid19, dan sekarang di tengah kengerian perang, tidak berarti mengalihkan pandangan umat Allah dari realitas dramatis yang manusia alami.

    Justru dalam peristiwa ini, Kardinal mau mengingatkan untuk mampu melihat bahwa peristiwa itu lebih membantu manusia dalam melihat dari “yang lebih tinggi dan lebih baik”.
    “Sudut pandang yang kurang kontingen” karena Ekaristi “menawarkan kita kunci yang benar untuk interpretasi sejarah,” kata Kardinal (berdasarkan berita yang dirilis oleh Vatikan News pada 11 Maret 2022, Pukul 12.00 waktu Vatikan).

    Ekaristi dalam sejarah keselamatan

    Kardinal juga menjelaskan bahwa ekaristi bersamaan dengan sejarah keselamatan dan hadir dalam Perjanjian Lama sebagai figur, dalam Perjanjian Baru sebagai sebuah peristiwa, dan di jaman sekarang yaitu jaman Gereja adalah sebagai Sakramen.

    Dalam Homilinya, Kardinal sedikit menguraikan dari Perjanjian Lama yang didalamnya ada contoh Ekaristi sebagai “figur” termasuk manna (include the manna), pengorbanan Melkisedek dan pengorbanan Ishak.

    Selanjutnya dengan kedatangan Kristus dan misteri kematian serta kebangkitan-Nya, Ekaristi menjadi “peristiwa”, yang terjadi dalam sejarah – peristiwa unik yang terjadi sekali dan tidak dapat diulang.

    Kemudian pada masa Gereja, Ekaristi hadir dalam tanda roti dan anggur, yang ditetapkan oleh Kristus.

    Memperbarui dan merayakan

    Selaras dengan penjelasan itu, Kardinal juga menjelaskan dalam praktiknya ada perbedaan antara acara dan sakramen.

    Hal itu terletak pada perbedaan antara sejarah dan liturgi. Untuk menelusuri hubungan antara kurban salib dan Misa, Santo Agustinus membedakan antara dua kata kerja: “memperbarui” dan “merayakan.”

    “Dalam terang ini, Misa memperbaharui peristiwa salib dengan merayakannya (bukan mengulanginya) dan merayakannya dengan memperbaruinya (bukan hanya mengingatnya),” terang Kardinal Cantalamessa.

    Selanjutnya dalam sejarah hanya ada satu Ekaristi yaitu Ekaristi yang dilaksanakan oleh Yesus dengan hidup dan mati-Nya.

    Di sisi lain, menurut sejarah, berkat sakramen, ada “sebanyak Ekaristi yang telah dirayakan dan akan dirayakan sampai akhir dunia.

    Kardinal menggarisbawahi yakni melalui sakramen Ekaristi, manusia secara misterius menjadi sejaman dengan peristiwa itu karena “hadir bagi manusia dan umat pada peristiwa itu.

    Liturgi Sabda, Doa Syukur Agung

    Berfokus pada Ekaristi sebagai sakramen, Kardinal Cantalamessa mengeksplorasi perkembangan Misa dalam tiga bagian: Liturgi Sabda, liturgi Ekaristi (Kanon atau Anaphora), dan Komuni, menambahkan pada bagian akhir, refleksi tentang ibadat Ekaristi di luar Massa.

    Kardinal menegaskan bahwa pada hari-hari awal Gereja, Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi tidak dirayakan di tempat yang sama dan pada saat yang sama ketika para murid berpartisipasi dalam kebaktian di Bait Suci tempat mereka membaca Alkitab.
    “Membacakan mazmur dan doa, lalu pulang setelah itu untuk berkumpul untuk memecahkan roti. Praktek ini ditinggalkan menyusul permusuhan dari komunitas Yahudi dan para murid tidak lagi pergi ke Bait Suci untuk membaca dan mendengarkan Kitab Suci melainkan memperkenalkannya ke tempat-tempat ibadah Kristen mereka sendiri, menjadikannya Liturgi Sabda yang mengarah ke Ekaristi, Doa,” imbuh Kardinal Cantalamessa.

    Kardinal Cantalamessa juga menerangkan tentang membaca Kitab Suci dalam Liturgi yang dapat membantu umat untuk mengenal lebih baik Dia yang menghadirkan diri-Nya dalam pemecahan roti.

    Lalu setiap kali menyingkapkan aspek misteri yang akan umat terima maka itulah yang menonjol dalam pengalaman murid-murid di Emaus ketika mereka mengenali Yesus dalam pemecahan roti.

    Bukan hanya menjadi pendengar

    Kata-kata Alkitab yang diucapkan dan kisah-kisahnya yang diceritakan kembali dalam Misa, dihidupkan kembali sedemikian rupa sehingga apa yang diingat menjadi nyata dan hadir “saat ini”, “hari ini”; dan manusia bukan hanya pendengar Sabda tetapi dipanggil untuk menempatkan diri di tempat orang-orang dalam cerita itu.

    Setidaknya itulah gambaran yang disampaikan oleh Kardinal Cantalamessa melanjutkan homilinya.

    Setalah itu, Kardinal Cantalamessa juga mengatakan saat diwartakan selama liturgi, Kitab Suci bertindak dengan cara yang melampaui penjelasan dan mencerminkan bagaimana Sakramen bertindak.

    Menurutnya teks-teks yang diilhami ilahi memiliki kekuatan penyembuhan yang telah menyebabkan beberapa peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Gereja, sebagai akibat langsung dari mendengarkan bacaan selama Misa.

    Misalnya, Gerakan Fransiskan dimulai di Assisi ketika seorang pemuda yang baru bertobat dan temannya pergi ke gereja dan Injil hari itu adalah Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jangan membawa apa pun untuk perjalanan, jangan membawa tongkat, atau karung, atau makanan, atau uang, dan janganlah seorang pun mengambil jubah kedua” (Luk 9:3).

    Persiapan homili bagi imam

    Kardinal Cantalamessa menyoroti Liturgi Sabda sebagai “sumber daya terbaik yang kita miliki untuk menjadikan Misa sebagai perayaan yang baru dan menarik setiap kali kita merayakannya.”

    Dalam hal ini, lebih banyak waktu dan doa perlu dicurahkan dalam persiapan homili.

    Dia menggarisbawahi bahwa mengandalkan pengetahuan dan preferensi pribadi seseorang untuk mempersiapkan homili dan kemudian berdoa kepada Tuhan untuk menambahkan Roh-Nya ke dalam pesan adalah metode yang baik tetapi “tidak bersifat kenabian.”

    Sebaliknya untuk menjadi kenabian, langkah pertama adalah meminta “Tuhan untuk firman yang ingin Dia katakan,” kemudian konsultasi buku, para Bapa Gereja, guru, dan penyair.

    Dengan cara itu, menurut Kardinal Cantalamessa bukan lagi “Firman Tuhan untuk melayani pembelajaran [Anda], tetapi pembelajaran [Anda] untuk melayani Firman Tuhan.”

    Pekerjaan Roh Kudus

    Kardinal Cantalamessa mengatakan bahwa perhatian pada Firman Tuhan saja tidak cukup, “kuasa dari atas” harus turun padaNya.

    Dia mengatakan karena tindakan Roh Kudus tidak terbatas hanya pada saat konsekrasi saja selama Ekaristi, demikian juga kehadiran Roh sangat diperlukan untuk Liturgi Sabda dan persekutuan.

    Selanjutnya Kardinal Cantalamessa menjelaskan bahwa Kitab Suci “harus dibaca dan ditafsirkan dengan bantuan Roh yang sama yang melaluinya itu ditulis” (Dei Verbum, 12).

    Dalam Liturgi Sabda, tindakan Roh Kudus “dilaksanakan melalui urapan rohani yang ada dalam pembicara dan pendengar”.

    “Urapan diberikan oleh kehadiran Roh; dan berkat baptisan dan pengukuhan – dan bagi sebagian orang, penahbisan imam dan uskup – kita telah memiliki urapan yang terpatri dalam jiwa kita dalam karakter yang tak terhapuskan (2 Kor 1, 21-22),” terang Kardinal.

    Melalui iman

    Kardinal Cantalamessa juga melanjutkan kotbahnya dengan menerangkan tentang urapan yang tidak bergantung pada imam untuk menciptakannya, tetapi sebenarnya juga bergantung pada imam untuk menghilangkan rintangan yang mencegah pancaranNya.

    Seperti wanita dalam Injil (Mrk 14:3) yang memecahkan toples pualam dan wewangian memenuhi rumah.

    “Kita harus memecahkan vas pualam: vas itu adalah “kemanusiaan kita, diri kita, kadang-kadang intelektualisme kita yang gersang” melalui iman, doa, dan permohonan yang rendah hati,” katanya.

    Dalam terang ini Kardinal Cantalamessa menegaskan agar imam harus meminta urapan sebelum memulai khotbah atau tindakan penting dalam pelayanan Kerajaan. Urapan ini tidak hanya diperlukan bagi pengkhotbah untuk mewartakan Sabda Tuhan secara efektif, tetapi juga bagi pendengar untuk menyambutnya.

    Dia juga mengatakan hal itu bukan berarti pelatihan manusia tidak berguna; itu, bagaimanapun, tidak cukup.

    “Guru batinlah yang benar-benar mengajar, Kristus dan ilham-Nya yang mengajar. Ketika ilham dan urapan-Nya kurang, kata-kata eksternal hanya membuat kebisingan yang tidak berguna,” terang Kardinal Cantalamessa.

    Ajaran para wanita Pujangga Gereja menawarkan terang dan harapan bagi dunia

    St Theresa of Avila, the first woman to be declared a Doctor of the Church - Vatikan News- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com- Dalam sebuah pesan kepada para peserta konferensi internasional tentang Doktor Wanita Gereja dan Rekan Pelindung Eropa, Paus Fransiskus mengatakan bahwa ajaran para santa ini sangat tepat waktu karena kedalaman dan relevansinya yang awet dan bertahan lama.

    Paus Fransiskus mencontohkan seperti Santa Teresa dari Avila, Santa Catherine dari Siena, Santa Thérèse dari Lisieux dan Santa Hildegard dari Bingen.

    Kemudian ada juga Santa Bridget dari Swedia dan Santa Theresa Benedicta dari Salib.
    “Menyoroti beberapa elemen yang membentuk feminitas itu begitu penting bagi Gereja dan dunia,” kata Paus Fransiskus pada hari Selasa (8 Maret 2022).

    Cahaya dan harapan untuk dunia

    Dalam sebuah pesan untuk konferensi akademis internasional tentang Doktor Wanita Gereja dan Co-Pelindung Eropa, Paus mengungkapkan bahwa ajaran-ajaran utama mereka (Santa-santa)… sangat tepat waktu karena kedalaman dan relevansinya yang bertahan lama.
    Termasuk di dalam keadaan sekarang, ajaran itu dapat menawarkan cahaya dan harapan untuk dunia kita yang terfragmentasi dan terpecah belah.

    Paus Fransiskus mencatat bahwa semua wanita ini memberikan kesaksian hidup kudus.

    Belajar untuk patuh kepada Roh Kudus melalui kasih karunia baptisan dan mendapatkan kekuatan dari kasih Allah yang memenuhi hati mereka.

    Feminitas yang diperlukan

    Paus Fransiskus menggarisbawahi bahwa Dunia saat ini mengakui bahwa martabat dan nilai intrinsik yang dianugerahkan Pencipta kepada manusia dipulihkan oleh ajaran dari para wanita kudus itu.

    “Dalam Doctors of the Church and Patrons of Europe, kita dapat melihat elemen yang membentuk feminitas yang begitu penting bagi Gereja dan dunia, termasuk “keberanian untuk menghadapi kesulitan; kapasitas untuk menjadi praktis; keinginan alami untuk mempromosikan apa yang paling indah dan manusiawi menurut rencana Tuhan; dan visi kenabian yang berpandangan jauh ke depan tentang dunia dan sejarah,” terang Paus.

    Paus Fransiskus juga menyoroti cinta mereka yang besar kepada Gereja dan Paus, sambil mengakui panggilan mereka untuk membantu memperbaiki dosa dan penderitaan di zaman di mana mereka hidup.

    Kekudusan feminin

    Paus mengakhiri pesannya dengan harapan bahwa konferensi dapat membuktikan insentif untuk mempromosikan “’kekudusan feminin’ yang membuat Gereja dan dunia begitu bermanfaat.”

    Diolah dari artikel Christopher Wells- Pada 08 Maret 2022, 19:04 waktu Vatikan.

    TERBARU

    TERPOPULER