Saturday, May 2, 2026
More
    Home Blog Page 134

    Mengapa Bunda Maria dari Fatima Hanya Menyebut Rusia?

    Sumber foto: Aleteia – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontinak

    MajalahDUTA.Com, Rusia – Bunda Maria dari Fatima muncul pada 13 Mei 1917, hanya beberapa bulan setelah revolusi dimulai di Rusia yang akan menyebar ke seluruh dunia.

    Bagi banyak orang muda yang lahir selama 30 tahun terakhir, mungkin aneh bahwa Bunda Maria dari Fatima secara khusus menyebutkan pertobatan Rusia. Sampai saat ini, tidak ada alasan khusus dalam 30 tahun terakhir mengapa Rusia harus dipilih di antara semua negara.

    Namun, ketika dimasukkan ke dalam konteks sejarah, alasan di balik seruan Bunda Maria ke Rusia mulai lebih masuk akal.

    1917

    Selama Perang Dunia I, orang-orang Rusia kelaparan dan ekonomi mereka berantakan. Tentara mereka bukan tandingan Jerman dan menyebabkan banyak korban. Hal ini meningkatkan permusuhan terhadap pemerintah dan keinginan untuk solusi.

    Baca Juga: Doa Meminta Tuhan Mengirimkan Malaikat Untuk Melindungi Keluargamu

    Kerusuhan meletus di Rusia, termasuk apa yang sekarang disebut “Revolusi Februari” (Rusia pada saat itu menggunakan Kalender Julian). Itu terjadi pada 8 Maret 1917, dan menyebabkan turun tahta Tsar Nicholas II pada 15 Maret 1917.

    Itu adalah awal dari gerakan yang lebih besar, karena memfasilitasi kebangkitan Vladimir Lenin ke tampuk kekuasaan. Lenin adalah murid Karl Marx dan siap untuk memperkenalkan versinya sendiri tentang Marxisme di Rusia, dimulai dengan revolusi sosialis.

    Versi komunismenya akan menghancurkan Rusia selama beberapa dekade mendatang dan akan menyebar ke berbagai negara lain di seluruh dunia.

    Misalnya, pada tahun 1921 Cina menganut paham komunis, yang secara langsung dipengaruhi oleh revolusi yang terjadi di Rusia.

    Ketika Bunda Maria dari Fatima muncul pada 13 Mei 1917, dunia menyadari Revolusi Februari, tetapi tidak menyadari kebangkitan komunis ke tampuk kekuasaan yang akan mencengkeram dunia.

    Kata-kata Bunda Maria Fatima

    Baru pada tanggal 13 Juli 1917 Bunda Maria muncul, dia berbicara kepada anak-anak di Fatima tentang Rusia.

    Untuk mencegah [Perang Dunia lain], saya akan datang untuk meminta konsekrasi Rusia kepada Hatiku yang Tak Bernoda dan Komuni silih pada hari Sabtu pertama.

    Jika orang memenuhi permintaan saya, Rusia akan bertobat dan dunia akan damai. Jika tidak, dia [Rusia] akan menyebarkan kesalahannya ke seluruh dunia, memprovokasi perang dan penganiayaan terhadap Gereja. Orang baik akan menjadi martir, Bapa Suci akan menderita banyak, dan berbagai bangsa akan dihancurkan.

    Baca Juga: Perang Di Ukraina: Paus Fransiskus Pergi Ke Kedutaan Rusia Untuk Menyatakan Keprihatinan

    “Pada akhirnya Hatiku Yang Tak Bernoda akan menang. Bapa Suci akan menguduskan Rusia untukku; itu akan diubah dan periode perdamaian tertentu akan diberikan kepada dunia. Di Portugal, dogma Iman akan selalu dijaga.”Anak-anak kecil di Fatima tidak akan pernah memikirkan kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh pemerintah Rusia dan filosofi komunisnya terhadap dunia.

    Namun, itulah yang terjadi ketika Perang Dunia II menghancurkan kehidupan dan mengantarkan teror baru di bawah Uni Soviet.

    Kabar baiknya adalah bahwa masa depan tidak ditentukan dan kita dapat mempengaruhi dunia menjadi lebih baik, dimulai dengan panggilan Bunda Maria untuk, “penebusan dosa, penebusan dosa, penebusan dosa!.”

    Doa Meminta Tuhan Mengirimkan Malaikat untuk Melindungi Keluargamu

    Sumber foto: Aleteia - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontinak

    MajalahDUTA.Com – Mintalah kepada Tuhan dengan doa ini untuk mengirim malaikat untuk menjaga dan melindungi semua orang di keluarga anda.

    Terkadang kita mungkin merasa sangat rentan terhadap serangan fisik atau spiritual dan kita mungkin menginginkan bantuan malaikat. Tuhan selalu sangat murah hati dan jika kita meminta-Nya mengirim malaikat untuk melindungi keluarga kita, Dia pasti akan menjawab doa kita.

    Kita mungkin tidak melihat para malaikat yang mengelilingi kita, tetapi mereka selalu bersama kita, terus-menerus menjaga kita dari potensi bahaya yang tidak kita ketahui.

    Berikut adalah doa dari Ritual Romawi yang bisa dipanjatkan untuk meminta Tuhan mengirimkan malaikat untuk melindungi keluarga anda.

    Dengarkan kami, Tuhan, Bapa yang kudus,

    Tuhan yang Mahakuasa dan Abadi;

    dan dengan murah hati kirimkan malaikat suci-Mu

    dari surga untuk menjaga, untuk menghargai,

    untuk melindungi, untuk mematuhi,

    dan untuk membela semua yang tinggal

    di rumah ini.

    Melalui Kristus Tuhan kita. Amin.

    Berkarya untuk Uskup Agustinus, Pinus Merasa Sangat Dihargai

    Pinus (51) Seniman Patung, ukir dan lukis - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com,- Mempawah – Serasa mukjizat sebagai seorang seniman yang kurang lebih tiga tahun ini bisa bekerja untuk Keuskupan. Semua karya patung, aksesoris budaya dan ukiran bisa dipersembahkan untuk Rumah Retret Santo Johanes Paulus II Anjongan. Setidaknya, itulah pengakuan yang Pinus (51) ungkapkan sebagai seorang seniman, di rumah kediamannya Desa Sambora, Kabupaten Mempawah pada Sabtu pagi, 26/03/2022.

    Sedari Pinus kecil, kebiasaan untuk seni patung, lukis dan pahat yang ia geluti, kini diusia genap 51 tahun semua karya bisa dikenal berkat berkarya untuk Keuskupan Agung Pontianak terutama menangani pematungan di Rumah Retret Anjongan. Memang itulah yang Pinus impikan selama ini yaitu agar bisa berkarya untuk karya Gereja dan turut ambil bagian dalam mengukir sejarah.

    Baca Juga: Mgr. Agus Adalah Inspirasi Panggilan!

    Di pagi cerah pada Sabtu pagi 26 Maret pukul 07.37 WIB di Desa Sambora, di rumah Hijau tua kediamannya, Pinus menceritakan semua pengalamannya hingga impian agar bisa berkarya untuk banyak orang terlebih untuk Gereja dan sejarah. Ayah dari lima anak ini sudah menggeluti seni sedari umur-umur masih SD dan hal itu ia sadari betul. Selama Pinus berkarya, ia dibantu oleh 5 sahabat lainnya, namun yang membantunya untuk pembuatan patung dan panggilan mendesak ada 2 orang yang ia gandeng.

    Berkat teladan dari sang ayah yang gemar mengoleksi barang-barang antik dan membuka jasa foto pada tahun 1976, Pinus justru menduplikat semangat itu dalam kecintaannya pada kesenian patung, ukir dan lukis.

    Punya Lima Anak Berbakat

    Kini seniman otodidak ‘kampung’ dari Sambora ini mendedikasikan diri sepenuhnya di bidang kesenian dan meskipun begitu, Pinus bersama istri Seselia Ita (50), berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga bekerja.

    Diantaranya anak putri pertama Tila (26) yang kini sudah bekerja di Rumah Sakit Umum Vinsentius Singkawang dan Deden (25) yang saat ini usai menyelesaikan sekolah tingginya, kini ia fokus pada bidang karya kesenian lukis, pahat dan patung dalam mengikuti jejak Pinus.

    Adapun anak ketiganya bernama Hendra (19) sekarang sedang berkuliah di Universitas Widya Dharma Pontianak – Informatika yang kini masuk semester 4, disusul dua adiknya Jeko (15) menginjak kelas 1 SMP di Mandor kemudian paling kecil yang akrab dipanggil Milau (9) sudah menginjak kelas 4 SD di Sambora.

    Baca Juga: Saya Senang Berkarya di Rumah Retret St. Johanes Paulus II Anjongan

    Bagi Pinus dan Ita, anak-anak adalah buah hati serta semangat yang selalu mewarnai ingatan saat bekerja. Karena anak-anak itulah, mereka memiliki semangat dalam berkarya saat mengingat-ingat anak mereka unik dengan karakter dan bakat masing-masing. Sebagai orang tua Pinus tidak memaksakan kehendak jiwa senimannya pada anak-anaknya, tetapi apapun keahlian yang dimiliki anak pasti mereka dukung.

    Karya Patung di Rumah Retret Anjongan

    Saat ini Pinus sedang mengerjakan beberapa aksesoris untuk miniatur Keraton Melayu di Rumah Retret Santo Johanes Paulus II Anjongan yang ditugaskan oleh Uskup Agustinus sebagai seniman utama dari pembangunan tersebut.

    Adapun beberapa patung ukuran 1,6 meter hingga patung yang besarnya 2 meter sudah berdiri di Rumah Retret Anjongan diantaranya ada 2 patung Mikael sebagai penjaga gerbang masuk, 2 Patung Leluhur Dayak (laki-laki dan perempuan), Rosario dario Raksasa di depan Gua Maria Anjongan, 1 fondasi Patung Santo Johanes Paulus II dengan ukiran kayu Tebelian besar, dua tiang kayu tebelian, 2 tiang tangga, 1 kolam dengan ornamen alami batu, 1 buah Nanas Raksasa samping rumah Keraton dan beberapa aksesoris lainnya untuk Rumah Retret.

    Bapa Uskup-lah Seniman Sejati itu

    Dalam perbincangan pagi bersama Pinus, ia justru mengakui bahwa yang sebenarnya ide ‘nyeleneh awal itu justru Uskup Agustinus. Misalnya patung leluhur yang selama ini tidak pernah dipikirkan oleh seniman Patung Dayak.

    “Orang buat patung Dayak, umumnya kan pakai mandau dan perisai, tapi ide Bapa Uskup ini justru unik. Saya diberikan gambaran bahwa patung Dayak justru patung yang bekerja sebagai peladang, karena memang itulah ciri khas dari Dayak ‘yang notabene’ peladang,” kata Pinus.

    Pinus mengaku sebenarnya ia hanya mengeksekusi dari ide yang dipikirkan oleh Uskup Agustinus, justru ide briliant yang tak pernah terbayangkan olehnya. Bahkan Pinus mengakui jika melihat dari segi pola pikir dan ide secara seni, maka Uskup Agustinus adalah pegagas utama dari terobosan ide ‘nyeleneh’ itu.

    Baca Juga: Jarot Winarno: Persatuan Kita Utamakan, Pluralitas Kita Junjung Tinggi

    Selama ini, Pinus mengakui setiap ide Uskup Agustinus selalu menggandung pesan moral, misalnya bagaimana seorang Dayak mengghargai leluhurnya. Untuk itu Uskup Agustinus bangun patung leluhur Dayak. Dilain sisi Uskup Agustinus juga menghargai toleransi dan peninggalan leluhur dari tiga etnis di Kalimantan Barat, untuk itu Uskup Agustinus membangun Rumah Betang, Rumah Tionghoa dan Rumah Melayu.

    “Bapa Uskup pernah bercerita dengan saya, untuk memulai jalan ribuan meter, kita harus memulainya dari langkah pertama. Salah satu langkah pertamanya adalah menghargai leluhur yang sudah mendahului kita,” kata Pinus.

    “Oh, saya baru tahu maksud Bapa Uskup”

    Perbincangan pagi di awal Sabtu pagi Pinus kembali menggarisbawahi bahwa sesungguhnya tugasnya adalah merealisasikan ide dan imajinasi Uskup Agustinus. Maksudnya, karya seni yang ada di Anjongan semua memiliki pesan dan makna yang mendalam. Sementara Pinus sendiri yang adalah sebagai seorang seniman pun, tidak berpikir sejauh ide Uskup Agustinus.

    “Dan kalau selesai, ohhh, saya baru tahu maksud beliau itu ini,” ucap Pinus dengan suara halusnya.

    Pinus berharap terutama orang muda yang memang tertarik mengembangkan seni, termotivasi untuk berkarya dan tidak putus asa. Baginya seniman sejati adalah seniman yang harus selalu berkarya terlepas dihargai atau tidak.

    Pinus juga merasa sebenarnya ia sudah menikmatinya sampai pada 51 tahun, dan itu sudah terlambat baginya. Namun ia percaya bahwa emas akan tetaplah emas, meski sekalipun ia ditengah lumpur. Suatu saat pasti emas itu akan dicari dan ditemukan oleh orang.

    Baca Juga: Urgensinya Membaca Bagi Orang Muda Katolik

    Pesan Pinus untuk orang muda bahwa yang paling terpenting yaitu mengasah kemampuan dan melakukannya dengan fokus.

    Kendati demikian, Pinus pun kadang dilema dengan pujian orang. Menurutnya semakin manusia itu dipuji, harusnya manusia semakin hati-hati. Karena semakin orang dikenal, justru biasasnya orang dituntut semakin sempurna oleh yang lain, sementara belum tentu apa yang dilakukan sempurna.

    Menutup diskusi pagi itu, Pinus mengaku bahwa selama ini setelah bertemu dengan Uskup Agustinus, Pinus merasa sangat dihargai sebagai seorang seniman dilain sisi, karena Uskup Agustinus lah selama ini yang memperkenalkan karya-karya tangannya.

    Jarot Winarno: Persatuan Kita Utamakan, Pluralitas Kita Junjung Tinggi

    Bupati dan Forkompinda Foto Bersama Dengan Peserta Diskusi – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Sintang – Bupati Sintang, dr. H. Jarot Winarno, M.Med.Ph membuka kegiatan Komunikasi Sosial Kemasyarakatam antar mahasiswa se-Kabupaten Sintang, yang mengangkat tema “Antisipasi Konflik Sosial Melalui Pendekatan Kearifan Lokal”, di Aula Kampus Universitas Kapuas Sintang, (Selasa pagi, 22/3/2022).

    Hadir pada kegiatan tersebut Dandim 1205/Sintang Letkol Inf. Kukuh Suharwiyono dan Asisten 1 Setda Sintang, Sy. Yasser Arafat selaku pemateri, Kaja,S.Sos.M.Si Wakil Rektor Unka Sintang, Dandenpom, para mahasiswa/i dari berbagai kampus yang ada di Sintang dan tamu undangan lainnya.

    Dalam sambutannya, Bupati Sintang Jarot Winarno menyampaikan bahwa Indonesia terdiri dari 17 ribu pulau, 2000 suku bangsa, 600 bahasa, tetapi founding fathers sudah meletakan dasar bahwa kita harus bersatu melalui nation state serta tahun 1928 dengan gerakan sumpah pemuda, 36 utusan membangun nation state.

    Baca Juga: Sabangi Sintang Daud Cino Yordan Mohon Dukungan Doa

    “Persatuan kita utamakan, pluralitas kita junjung tinggi. Suku-suku seperti Jawa, Dayak, Melayu, Bali dan yang lain semuanya ada. Sintang adalah miniatur Indonesia. Sintang dominan Budaya Dayak, Melayu, Jawa, dan yang lainya. Membentuk budaya yang saling berhubungan. Tidak ada persatuan kalau bukan karena perbedaan budaya. Dua tahun yang lalu sebelum pandemi, saya menghadiri gawai Dayak di desa-desa, semua berupaya menjaga hubungan baik antara manusia dan puyang gana serta Tuhan Yang Maha Kuasa” terang Bupati Sintang

    “Kita juga perlu menjaga hubungan baik dengan alam sekitar kita. Semua harus saling menjaga hubungan baik antar sesama manusia. Tidak ada yang membeda-bedakan. Dari sisi agama, kita memang berbeda. Tetapi saya mengambil sikap untuk meningkatkan harkat martabat manusia. Saya ingat pesan Paus Fransiskus bahwa kita mendaki gunung yang tinggi, orang lain yang berbeda-beda, semuanya mendaki menuju puncak. Jadi agamapun sama, kita berbeda dalam ibadah, secara hakikat sama, memanusiakan manusia” terang Bupati Sintang

    Persatuan

    Bupati Sintang juga menerangkan bahwa tidak ada konflik sosial karena berbeda. Yang ada adalah konflik sosial terjadi karena terjadi ketidakadilan. Ada yang merasa diperlakukan tidak adil, maka terjadi konflik. Kita harus mengantisipasi terjadinya konflik karena tanah, atau konflik yang lain seperti petani dengan perusahaan perkebunan. Kebun masyarakat tiba-tiba menjadi HGU tanpa pernah ada komunikasi. Ketidakadilan bisa menimbulkan konflik.

    Kaja,S.Sos,M.Si Wakil Rektor II Universitas Kapuas menyampaikan bahwa UNKA Sintang menyambut baik kegiatan yang dilaksanakan oleh Badan Kesbangpol Sintang yang menyasar kalangan mahasiswa.

    Baca Juga: Mgr. Agus Adalah Inspirasi Panggilan!

    “Sampai saat ini, kita masih mendengar istilah intoleransi. Maka kami sependapat bahwa Indonesia ini terdiri dari 13 ribu pulau dengan latar belakang suku,budaya dan tradisi yang berbeda. Bermacam keyakinan dan kepercayaan yang ada. Maka harus dipupuk dengan baik, jika tidak maka akan menjadi ancaman bagi suatu negara. Maka komunikasi sosial kemasyarakatan harus dilaksanakan” terang Kaja

    Wakil Rektor II Universitas Kapuas Sintang itu juga menyampaikan bahwa di kampus, ada berbagai macam organisasi dan tingkah pola. Maka mahasiswa sebagai penerus bangsa, mereka tidak boleh dirusak oleh paham radikalisme. Serta isu yang mengatakan bahwa pemuda Indonesia harus dihancurkan dengan narkoba. Narkoba bertujuan menghancurkan kaum muda. Kami prihatin dengan kondisi ini, seringkali mahasiswa terlibat hal yang tidak baik.

    “Demo boleh, tapi jangan sampai merugikan kita sendiri dan daerah. Generasi ini harus terus dilatih menuju hal yang baik. Saya menyarankan, kita jangan hanya menjadi juru kritik bagi negara, tetapi marilah kita memberikan sumbangsih dan saran bagi pemerintah. Tidak pernah orang sukses karena mengkritisi, tetapi orang sukseslah yang  sering dikritisi” terang Kaja.

    Kusnidar Kaban Kesbangpol menyampaikan maksud dan tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk mewujudkan koordinasi, keterpaduan, dan sinergisitas antar seluruh instansi vertikal, daerah dan elemen masyarakat yang ada di Kabupaten Sintang.

    Baca Juga: Bupati Sintang Lantik 8 Camat & 111 Pejabat Struktural Lain

    “Juga sebagai ajang silahturahmi elemen masyarakat khususnya mahasiswa agar tetap hidup rukun, tentram dan harmonis. Serta mengefektifkan komunikasi sesama anak bangsa agar semakin kompak, kuat dan bersatu dalam mengisi pembangunan bagi bangsa dan  negara. Kita juga ingin mendapatkan keterampilan dalam rangka hidup nyaman” terang Kusnidar

    Manfaat komunikasi sosial adalah membantu mengeluarkan watak negatif dalam diri kita sehingga kita bisa mengungkapkan apa yang kita rasakan dan saling membantu menyelesaikan masalah. Keterampilan dalam relasi satu dengan yang lainya.

    “Tema komunikasi sosial tahun 2022 ini adalah antisipasi konflik sosial melalui pendekatan kearifan lokal. Peserta adalah perwakilan mahasiswa dari UNKA, STKIP PK, STAIMA, Stikes Kapuas Raya, Poltekes Negeri sintang, Universitas Muhammadyah, dan STT Khatulistiwa, perwakilan organisasi kemahasiswaan yang ada” ungkap Kusnidar

    Bupati Sintang Lantik 8 Camat & 111 Pejabat Struktural Lain

    Prosesi Pelantikan oleh Bupati Sintang, dr. H. Jarot Winarno, M. Med. PH – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Sintang – Promosi dan mutasi ini pasti menyisakan kekecewaan. Yang belum dipromosi, pasti ada yang kecewa, tetapi silahkan nyanyi lagunya Iwan Fals yakni sabar, sabar dan tunggu (ungkapan Bupati Sintang saat memberikan sambuatan)

    Bupati Sintang dr. H. Jarot Winarno, M. Med. PH mengukuhkan, melantik dan mengambil sumpah/janji jabatan bagi 119 Pejabat Struktural di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Sintang di Pendopo Bupati Sintang pada (Senin, 21/3/ 2022)

    Dari 119 Pejabat Struktural di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Sintang yang dikukuhkan, dilantik dan diambil sumpah/janji, terdapat 34 pejabat eselon III a dengan posisi Camat, Kepala Bagian dan Sekretaris Dinas/Badan, 56 pejabat eselon III b dengan posisi Kepala Bidang dan Sekretaris Kecamatan dan 29 orang pejabat eselon IVa.

    Baca Juga: Sabangi Sintang Daud Cino Yordan Mohon Dukungan Doa

    Bupati Sintang  dr. H. Jarot Winarno dalam amanahnya menyampaikan bahwa salam nusantara menjadi salam kita mulai saat ini karena Ibu Kota Nusantara sudah dipindah ke Kalimantan.

    “Promosi dan mutasi adalah hal yang biasa. Promosi menunjukan bahwa ada apresiasi dari pimpinan atas kinerja saudara selama ini. Sedangkan mutasi dalam rangka penyegaran dan kadang-kadang karena ada hal lain seperti hasil pemeriksaan inspektorat dan catatan dari BPK. Itulah mutasi dan promosi” terang Bupati Sintang

    Janji Jabatan

    “Yang mendapatkan promosi, layak anda syukuri. Bersyukur jangan lama-lama, cukup dua hari. Setelah itu, siap bekerja. Karena selanjutnya banyak sekali kerjaan seperti menstabilkan harga minyak goreng, cabe, kedelai serta sembilan bahan pokok menjelang bulan Puasa Ramadhan. Juga masalah bencana. Saat ini sedang musim pancaroba, tadi malam hujan deras dan menyebabkan banjir” terang Bupati Sintang.

    “Sebentar lagi kemarau panjang. Peraturan Bupati Sintang tentang tata cara membuka lahan bagi masyarakat Kabupaten Sintang sudah kita revisi. Kita mengutamakan hukum adat setempat. Nanti, camat harus segera mensosialisasikan Perbup ini kepada seluruh masyarakat mengenai membuka lahan. Kemudian ada juga masalah lain seperti penertiban lokasi pembangunan waterfront. Satuan Polisi Pamong Praja dan Kecamatan Sintang harus memperhatikan ini” terang Bupati Sintang.

    “Camat saya minta mengamankan kebijakan Pemkab Sintang serta kerja sama kita dengan Kantor Kementerian Agama, Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri Sintang dalam menyelesaikan masalah administrasi kependudukan di pedalaman.  Persidangan sudah bisa dilakukan di kecamatan. Tidak perlu lagi datang ke kota Sintang untuk sidang masalah beda nama dan sebagainya. Semua demi mendekatkan pelayanan kepada masyarakat” terang Bupati Sintang

    Baca Juga: Beruntung: Mereka yang Sudah Menyiapkan Diri

    “Pembelajaran tatap muka juga harus diatur disemua satuan pendidikan. Pandemi belum berakhir dan akan berubah menjadi endemi. Corona masih ada. 2 tokoh kita meninggal karena corona. Protokol kesehatan masih terus diingatkan. Vaksinasi agar dipacu terus. Vaksinasi yang aman harus 70 persen, kita baru 58 persen. Vaksin yang dosis kedua belum baik” terang Bupati Sintang

    Mari kita syukuri semuanya. Bekerjalah dengan giat untuk melayani masyarakat.  Hanya tersisa 2 tahun lagi saya  menjabat, tetapi bapak ibu masih lama, jadi bekerjalah dengan giat, mudah-mudahan Tuhan menyertai kalian semua” terang Bupati Sintang.

    Dari 14 kecamatan yang ada di Kabupaten Sintang, ada 8 camat yang diisi dan diganti yakni

    1. Kusmara Amijaya, S. Sos, M. Si dipromosikan menjadi Camat Kelam Permai.
    2. Tatang Supriyatna, S. STP, M. Si dipromosikan menjadi Camat Sintang.
    3. Inu, S. Sos, M. Si dipromosikan menjadi Camat Sepauk.
    4. Mariono, S. STP dipromosikan menjadi Camat Tempunak.
    5. Jonny, S. Sos, M. Si dipromosikan menjadi Camat Binjai Hulu.
    6. Petrianus, SH dipromosikan menjadi Camat Ketungau Tengah.
    7. Yudius, S. Sos, M. Si dipromosikan menjadi Camat Kayan Hulu.
    8. Titus, SE dipromosikan menjadi Camat Ambalau.

    Sabangi Sintang Daud Cino Yordan Mohon Dukungan Doa

    Daud Cino Yordan bersama Bapak Jarot, Bupati Sintang - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Sintang – Pertandingan Semifinal Kejuaran Bola Volly PBVSI CUP tahun 2022 Kab. Sintang antar club, pada Jumat malam, 18 Maret 2022 di Indoor Apang Semangai Sintang, kedatangan tamu istimewa, yakni Juara Dunia Tinju Profesional, Daud “Cino” Yordan bersama Bupati Sintang, Jarot Winarno.

    Kehadiran petinju 34 tahun tersebut pun mendapat antusias para penonton yang hadir di Indoor Apang Semangai Sintang.

    “Selamat bertanding kepada para pemain, jaga dan junjung sportivitas yang tinggi. Semoga kejuaran bola Volly PBVSI CUP tahun 2022 kabupaten sintang ini sukses dan lancar” ucap Daud, saat diberi kesempatan oleh panitia kegiatan untuk memberikan sambutan.

    Dukungan Doa

    “Terima kasih atas sambutannya saya bangga dan senang bisa hadir langsung disini menyaksikan pertandingan semifinal bola volly ini. Selamat dan sukses untuk panitia” tambah Daud.

    Daud pun menyampaikan bahwa dirinya akan kembali naik ring pada 3 Juni 2022 mendatang di Thailand melawan Panya Uthok, petinju tuan rumah. Untuk itulah, secara khusus dirinya memohon doa dan dukungan dari masyarakat Kab. Sintang agar pada pertandingan tersebut ia bisa menang dan kembali menjadi juara.

    Baca Juga: Urgensinya Membaca Bagi Orang Muda Katolik

    “Mohon doa restunya semoga saya bisa menang dan menjadi juara” kata Daud.

    Kehadiran Daud di Indoor Apang Semangai sekitar 30 menit itupun tak disia-siakan oleh para penonton. Sesaat setelah tiba dan duduk bersama Bupati Sintang, Daud pun dipanggil oleh para penonton yang meminta untuk berswafoto, dan ia pun langsung menghampiri penonton yang sedang duduk di tribun indoor tersebut.

    Petinju yang saat ini menjabat sabagai Ketua Umum KONI Kab. Kayong Utara ini tiba di Kab. Sintang pada Kamis, 17 Maret 2022 kemarin, saat menghadiri undangan resepsi pernikahan Bupati Kayong Utara di Nanga Serawai, Kec. Serawai.

    Beruntung: Mereka yang Sudah Menyiapkan Diri

    Samuel| Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, SuaraDUTA- Serangkaian peristiwa besar yang setiap kali terjadi pada manusia, tentunya manusia selalu mengalami apa yang disebut dengan rasa takut.

    Katakanlah ketika terjadi pandemi covid-19 diseluruh dunia saat ini, awal terjadinya pandemi covid19 menimbulkan ketakutan bahkan peristiwa yang baru-baru terjadi yaitu gencatan senjata di Ukraina oleh Russia hampir dan berpotensi untuk membuat dunia terancam, termasuk pula ketakutan yang menyertai kita.

    Jika dilihat dari sudut pandang lain misalnya secara ekonomi, barangkali; barang yang kita beli ini tidak bisa kita jual atau barangkali (pengusaha) jadi takut tidak bisa membayar gaji pegawai karena ekonomi berhenti ditambah dengan PSBB.

    Kemudian situasinya bisa berkembang menjadi lebih jauh. “ ini adalah potensi rasa takut yang belum tentu menjadi kenyataan.

    Namun perlu diwaspadai, ketakutan itu bisa menjadi kenyataan setelah beberapa bulan atau jangka waktu tertentu maka masuklah ia yang awalnya hanya prasangka kemudian menjadi rill yaitu ketakutan yang kemudian menjadi rasa sakit.

    Takut adalah pontensial

    Alangkah sepinya hidup tanpa warna, namun kebanyakan warna juga berpotensi membuat manusia bingung dan bimbang.

    Kebimbangan bisa terjadi saat ia (kita, mereka, atau saya) mengalami kondisi ketakutan atas ketidakpastian tujuan dan arah. Meskipun awalnya ketakutan bermuara dari persepsi peribadinya.

    Kata kuncinya adalah “takut adalah potensial dan sakit adalah rill

    Namun demikian ada pepatah yang mengungkapkan demikian: “Merasa sakit itu normal, mengatasinya adalah sebuah prestasi. Tetapi ada juga kata bijak lain yang menggambarkan tentang kesakitan, bunyinya demikian, “sebelum rasa sakit seseorang melebihi rasa takutnya maka sesungguhnya manusia itu belum mau berubah.”

    Alangkah indahnya jika kita bisa merasakan rasa sakit dan dapat diatasi sampai tuntas. Namun celakanya saat ia hendak mengatasi rasa sakitnya kemudian muncul rasa sakit yang baru. Memang kebanyakan dari kita melihat hal itu sebagai bentuk siklus atau mungkin ada pendapat lain?

    Dari fenomena itu jika dilihat lebih dalam yang dibutuhkan manusia dalam kondisi saat itu adalah sikap perubahan. Dalam mencapai sebuah perubahan tentunya, manusia membutuhkan energi yang menggerakkan manusia atau orang itu sendiri. Saat-saat terhimpit atau dilema itulah biasanya muncul energi (mungkin saja kondisi keterpaksaan) yang menuntut harus ada perubahan.

    Ini sesungguhnya disebut dengan energi perubahan. Energi perubahan itu justru datang dalam situasi seperti ini.

    Bukankah kita harus berubah sebelum waktunya tiba. Namun kadang kita selalu menyangkal dan mengatakan itu tidak benar atau mengatakan itu terlalu kecil. Kita katakan itu tidak terjadi pada diri kita dan masih banyak contoh sebagainya.

    Sebetulnya kondisi ini bisa masuk dalam suatu wilayah perubahan.

    Tentunya kita membutuhkan komitmen (jika tidak maka tidak memulai ), konsistensi (tidak selesai) dan tentunya mau melakukan sesuatu yang tidak mudah ( mau yang mudah maka akan digerus oleh kompetisi).

    Perubahan butuh kecerdasan

    Belum lama ini, saya melihat paparan yang disampaikan oleh seorang Profesor ternama di Indonesia dan juga sudah menulis karya-karya pikirannya dengan buku yang ia terbitkan. Adapun buku yang pernah saya baca diantaranya ada Self Driving, Agility “Bukan Singa yang Mengembek” dan #MO “Sebuah Dunia Baru yang Membuat Orang Gagal Paham” – siapa lagi kalau bukan Prof Rhenald Kasali.

    Dalam akun youtube Rumah Perubahannya dengan Judul “Future Inteligence” – Prof Rhenald Kasali menjelaskan ada enam jenis kecerdasan baru yang dibutuhkan untuk kondisi-kondisi seperti saat ini.

    “Saya tidak tahu apakah anda percaya atau tidak pada ucapan Jack Ma yang mengatakan pada tahun 2030, bahwa 80% perdagangan dunia akan melalui e-commerce. Tapi saya melihat kemungkinan besar bisa saja bergerak lebih cepat dan lebih awal,” kata Prof Rhenald Kasali.

    Rhenal Kasali menjelaskan diperlukannya kecerdasan-kecerdasan untuk menangkap kesempatan ini. Menurutnya kita boleh percaya dan boleh tidak. Jika orang percaya maka mereka harus mempersiapkan diri jauh-jauh hari.

    Sejumlah Psikologi menemukan post pandemi Covid-19 ini memerlukan 6 kecerdasan baru. Kecerdasan pertama disebut dengan “Technological Intellingence”- yaitu kecerdasan bagaimana memanfaatkan, mengikuti dan menggunakan teknologi, oleh karena itulah anak-anak mulai dari sekarang harus dilatih untuk terbiasa menggunakan teknologi.

    Kecerdasan kedua yaitu “Contextual Intellingence” – karena bekerjanya dibelakang teknologi maka sering kali orang yang tidak paham konteks dimana dia berada. “Contextual Intellingence” juga harus dilatih dalam kehidupan rill.

    Selanjutnya bagian ketiga kecerdasan yang disebut sebagai “Social & emotional Intelligence“- hal ini sangat diperlukan karena sekarang banyak sekali anak-anak yang sejak kecil hanya aktif didepan teknologi dan akbhirnya tidak memiliki kecerdasan emosional untuk merespon atau menghadapi orang-orang disekitarnya dan dengan beragam perilaku.

    Kemudian keempat ada kecerdasan yang disebut “Generative Intelligence” – yaitu kecerdasan untuk menangkap kesempatan atau peluang betapa banyak kesempatan muncul didunia rill ini, tetapi banyak diantara kita tidak bisa menangkap kesempatan-kesempatan itu.

    Selanjutnya ada kecerdasan yang disebut sebagai “Explorative transformational intelligence” – kecerdasan untuk mengeksplore berbagai kesempatan tadi dan kemudian melakukan transformasi terutama anda yang berada didunia lama.

    Sedangkan kecerdasan yang keenam disebut sebagai “Moral Intelligence” – yaitu kecerdasan untuk bekerja menggunakan nilai-nilai yang berlaku secara universal. So, pada dasarnya untuk mencapai puncak yang paling tinggi apakah itu sebagai ilmuwan, jurnalis/wartawan, organisasi, pengusaha, apakah itu sebagai pegawai atau sebagai pimpinan perusahaan yang diperlukan bukan semata-mata pengetahuan saja.

    Integritas

    Dari pemaparan diatas, mungkin saja manusia boleh sangat cerdas tetapi kuncinya adalah apakah mereka dapat dipercaya atau tidak. Untuk itu maka terdapat nilai-nilai yang disebut sebagai integritas.

    Kemudian integritas inilah basis karakter yang membuat mereka (manusia, kita, anda dan saya) dapat dipercaya atau tidak maka hanya mereka yang siap dan yang mampu mendapatkan kesempatan ini.

    Mari kita hadapi pasca covid-19 ini dengan kewaspadaan tetapi tentu saja tetap harus menyiapkan diri untuk siap menatap perubahan dengan harapan baru. Kemudian akhirnya siapa yang beruntung adalah mereka yang sudah menyiapkan diri jauh-jauh hari.

    Urgensinya Membaca Bagi Orang Muda Katolik

    Juniardi Sucinda – Guru SMP Kristen Immanuel Pontianak

    MajalahDUTA.Com, SuaraDUTA- Membaca seringkali identik dengan seseorang yang duduk pada posisi yang sama dalam waktu puluhan menit hingga dalam hitungan jam sembari menatap buku atau layar smartphone yang menampilkan e-book. Tentu, seperti kita yang tidak terbiasa maka kegiatan membaca akan sangat membosankan.

    Sebelum membahasnya lebih jauh, ada baiknya kita melihat pengertian membaca dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, disebutkan bahwa membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati).

    Oleh karena itu, membaca yang dimaksud dalam tulisan ini adalah membaca karya tulis, misalnya buku, artikel, opini dan lain sebagainya, baik itu secara online maupun karya tulis berbentuk fisik.

    Berdasarkan data yang dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, tingkat literasi (salah satunya membaca) siswa Indonesia  berada pada peringkat 62 dari 70 negara yang disurvei.

    Dari data ini kita punya gambaran bahwa betapa rendahnya tingkat literasi dalam hal ini minat baca dikalangan siswa Indonesia, barangkali bisa juga menjadi gambaran masyarakat Indonesia secara umum.

    Fondasi ideologis

    Literasi membaca punya kaitan erat dengan kesejahteraan sebuah negara. Literasi sendiri berasal dari kata literatus  yang berarti orang yang belajar. Membaca adalah salah satu proses belajar.

    Suatu fenomena sosial maupun natural akan lebih baik jika telaah oleh mereka yang sudah membaca terlebih dahulu, sehingga ia punya ‘kekuatan’ untuk menginterpretasikan suatu masalah dan memberikan kemungkinan-kemungkinan solusi yang bisa diambil.

    Bayangkan jika para pendiri negara ini dahulu bukan pembaca (buku), tentu pada zaman itu konteksnya adalah pembaca buku atau media massa, maka bisa saja negara Republik Indonesia hari ini tidak punya fondasi ideologis yang kuat, bahkan penamaan Indonesia itu sendiri mesti ada proses ‘membaca’ yang serius, demikian juga ketika memilih bentuk negara Republik, mengorganisir orang-orang untuk setuju dengan bentuk republik tersebut.

    Membaca berarti berusaha mencari tahu akan suatu hal, tentu dimulai dari hal-hal yang diminati oleh seseorang.

    Dunia digital

    Pada zaman yang serba digital ini, ada begitu banyak kesempatan untuk membaca tentang berbagai hal dari sumber mana pun. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak membaca.

    Media sosial membanjiri Indonesia dengan berbagai informasi, sering kali kita mendengar pemberitaan mengenai orang-orang yang menyebar berita hoax atau mungkin membuat tuduhan dan hujatan kepada pihak tertentu tanpa membaca berita secara utuh, melainkan hanya membaca judulnya saja, maka itu artinya literasi dalam hal ini membaca menjadi sesuatu yang amat penting.

    Membaca sangat penting, itu mutlak, setidaknya menurut saya. Tentu juga orang muda katolik, membaca mestinya menjadi suatu kebiasaan yang mesti dilatih setiap hari, apalagi kita diperhadapkan dengan smartphone yang bisa memberikan kita bahan bacaan dengan jutaan tema.

    Gereja yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik itu bisa berdiri dan eksis mempengaruhi dunia hingga hari ini, salah satunya karena kekuataan intelektual pada teolog terkemuka, sebut saja misalnya Santo Agustinus dan Santo Dominikus. Intelektualitas itu mereka asah dari membaca, salah satunya.

    Ajaran-ajaran Gereja Katolik masih diterima dan relevan dengan zaman yang terus berubah, tentu tidak lepas dari usaha Gereja menghadapi dan “membina” dunia agar terus berada dalam jalan Kristus. Oleh karena itu, salah satu tugas yang paling penting bagi orang muda katolik adalah membaca, apapun itu, baca.

    Perkaya pengetahuanmu dengan membaca, teruslah belajar, dari buku hingga media elektronik.

    Mengapa? Karena Gereja bisa tetap bertahan jika ditopang juga oleh intelektualitas umat, khususnya kaum mudanya.

    Memuji Ayah yang Selalu Ada

    Ayah yang selalu ada – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, – Ayah yang baik diremehkan justru karena mereka tabah dan dapat diandalkan. Artikel ini dilansir dari portal berita Aleteia oleh Fr. Michael Rennier dan dipublikasikan pada 13/3/2022.

    Ayah saya adalah tipe pria yang memakai kaus kaki dengan sandal. Saya tidak ingat apakah dia pernah memakai ponsel di dalam sarung yang menggantung diikat pinggang celana khaki-nya, tapi sepertinya itu hal yang mungkin dia lakukan. Kepekaan fashion, sejauh itu pernah ada tidak pernah berubah. Setidaknya selama 40 tahun sekarang, dia selalu berpakaian dengan cara yang sama persis, gaya yang kita sebut “Ayah Suburban”.

    Anda semua tahu gaya yang saya bicarakan. Ini adalah penampilan pria yang hampir tidak pernah membeli pakaian sendiri karena semua penghasilannya didedikasikan untuk anak-anak mereka. Mereka berbelanja untuk lemari pakaian mereka dilorong tawar-menawar sebuah toko kotak besar setahun sekali sehingga mereka memiliki cukup uang untuk mengirim anak-anak mereka ke kelas dansa, mendaftarkan mereka untuk mengikuti perkemahan musim panas, dan pergi ke perguruan tinggi.

    Baca Juga: Ajaran para wanita Pujangga Gereja menawarkan terang dan harapan bagi dunia

    Tampilan ayah itu lucu, dan sekarang saya sendiri adalah seorang ayah, putri remaja saya mulai tanpa henti mengejek saya untuk versi saya sendiri, tetapi itu adalah gaya yang mengungkapkan cinta pengorbanan yang kuat. Para ayah yang berjalan-jalan mengenakan celana pendek kargo dan sepatu kets putih kikuk ini adalah pahlawan.

    Ayah tidak pernah berubah. Ayah saya sendiri bangun pada jam yang sama setiap pagi, melakukan rutinitas paginya, pergi ke kantor, pulang dan melatih salah satu tim olahraga kami, dan kemudian menonton setengah episode Star Trek sebelum tertidur. Hari demi hari, dia melakukan pekerjaannya dan menghabiskan waktu bersama keluarganya. Lelucon konyolnya tidak pernah berubah. Potongan rambutnya tidak pernah berubah. (Dia memang bereksperimen dengan kumis di awal 90-an. Anggap saja itu tidak berhasil.) Dia masih membaca biografi pahlawan perang Amerika yang sama. Satu-satunya hal yang benar-benar berubah tentang dirinya adalah, sekitar usia 50 tahun, dia menemukan bahwa dia menyukai kopi. Dia sekarang menggambarkan kegagalannya untuk menghargai kopi di usia yang lebih muda sebagai, “Salah satu penyesalan terbesar dalam hidup saya.”

    Ayah Suburban

    Saudara-saudara saya dan saya, dalam perjalanan ke perguruan tinggi dan pindah ke berbagai kota untuk pekerjaan, mungkin telah pindah rumah belasan kali. Ayah kami telah membantu kami masing-masing bergerak, setiap saat. Jika saya memiliki proyek rumah yang tidak dapat saya tangani, dia membawa peralatannya dan membantu saya. Dia membantu saya menyelesaikan ruang bawah tanah rumah saya. Dia membantu saya mengganti semua dinding. Suatu kali, dia menunjukkan kepada saya cara melepas pintu mobil saya untuk mengganti motor jendela. Dia membantu saya keluar secara harfiah setiap kali saya bertanya. Itu tidak pernah berubah.

    Hidup adalah angin puyuh perubahan, hal-hal yang hilang dan diperoleh. Kami meninggalkan rumah untuk kota baru, beralih karier, memulai keluarga. Perubahan politik, perubahan budaya pop, perubahan mode, anak-anak tumbuh dan menjauh. Lingkungan terus berubah saat orang masuk dan keluar, bisnis buka sementara bisnis lain tutup. Sulit untuk menemukan pijakan yang mantap di dunia yang serba cepat ini.

    Baca Juga: Kardinal Cantalamessa: Ekaristi sama ekstensifnya dengan sejarah keselamatan

    Ayah yang baik, menurut saya, diremehkan justru karena mereka tabah dan dapat diandalkan. Sangat mudah untuk menerima begitu saja. Akhir pekan ini, misalnya, kita merayakan pesta St. Yosef. Dalam Alkitab, Joseph memiliki beberapa momen dimana dia adalah protagonis. Misalnya, mimpinya membawa keluarganya ke Mesir atau keputusan tegas yang diambilnya untuk melindungi Maria dan melanjutkan dengan menikahinya. Selain itu, dia agak memudar ke latar belakang. Dia tidak banyak bicara, kurang lebih menghilang pada saat Yesus menjadi dewasa.

    St. Yosef

    Namun demikian, saya merasakan kehadirannya yang mantap dan kebapaka nya. Sepanjang masa kanak-kanak Kristus, dia pasti ada disana mengikuti rutinitasnya, bekerja, menceritakan lelucon klise, tertidur seperti jarum jam di dini hari, membawa keluarga untuk beribadah.

    Saya memikirkan ayah yang tabah seperti batu di lautan badai. Mereka adalah pelabuhan keselamatan. Sebagai seorang anak, saya bebas untuk berani dan mengambil risiko karena saya tahu ayah saya akan selalu ada untuk membantu. Sekarang sebagai orang dewasa, kepercayaan padanya tidak berubah.

    Dalam iman rohani saya, juga, dan tujuan saya sendiri untuk menjadi ayah yang baik bagi anak-anak saya. Kehadiran St. Yosef yang tenang sangat menghibur. Di gereja paroki kami, dia selalu ada disana, patungnya tepat di sebelah Maria. Dia memegang alat-alat dari perdagangan pertukangannya, siap untuk pergi bekerja lagi di lain hari. Dia tahu siapa dia. Dia adalah seorang ayah, tabah seperti bintang utara.

    Intelektual Ortodoks Rusia: Maafkan kami atas apa yang dilakukan Rusia hari ini!

    Sumber foto: Aleteia – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontinak

    MajalahDUTA.com, Rusia – Andrei dan Karina Chernyak mengecam agresi Rusia di Ukraina dan mengungkapkan komunitas Ortodoks Rusia yang menentang perang Putin. Berita ini dilansir dari portal berita Aleteia oleh Katolicka Agencja Informacyjna pada 03/06/22.

    Saya merasakan sakit, kepahitan, ketakutan, rasa malu dan kemarahan atas apa yang dilakukan Rusia hari ini di Ukraina,” Karina dan Andrei Chernykh, aktivis dan intelektual Ortodoks yang berbasis di Moskow saat ini di Vilnius, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Katolik Polandia, KAI. “Kami merasa sangat menyesal atas orang-orang Ukraina yang sekarat, terutama anak-anak dan juga untuk orang-orang Rusia yang dituntun tanpa alasan ke kematian mereka oleh orang gila. Ini adalah tragedi bagi kedua negara: Ukraina dan Rusia,” tambah mereka.

    KAI: Bagaimana Anda — sebagai orang Kristen Ortodoks Rusia — memandang serangan tentara Rusia terhadap negara Ukraina yang merdeka?

    Karina dan Andrei Czerniakow: Kami merasakan sakit, pahit, takut, malu dan marah yang disebabkan oleh apa yang terjadi. Rasanya hampir mustahil untuk dipercaya. Kami tidak tahu bagaimana membantu orang Ukraina dalam situasi ini selain dengan doa. Semua pikiran kami bersama Ukraina sekarang dan kami menyadari bahwa ini adalah tragedi bagi kedua negara, Ukraina dan Rusia. Bangsa kita adalah saudara dan tragedi ini memisahkan kita dan akan terus memecah kita selama beberapa dekade, mungkin selama beberapa generasi. Kami merasa sangat kasihan kepada mereka yang harus menderita melalui serangan gencar ini, serangan udara ini. Kami sangat menyesal atas orang-orang Ukraina yang sekarat, terutama anak-anak dan juga untuk orang-orang Rusia yang sekarat tanpa alasan, yang dibunuh oleh orang gila.

    Bagaimana Anda menafsirkan pidato Vladimir Putin, di mana ia sebenarnya tidak hanya menyangkal hak kemerdekaan Ukraina, tetapi juga menuduh bahwa Ukraina adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Rusia dan diperintah oleh Nazi yang harus dihilangkan?

    Pidato Vladimir Putin bagi kita adalah ocehan orang yang belum dibaca. Mereka adalah omong kosong mengerikan yang dipenuhi oleh propaganda, propaganda yang menawarkan Rusia jalan ke depan yang tidak jelas. Propaganda memiliki efek yang sangat kuat pada otak orang. Banyak orang Rusia, sayangnya sangat banyak, mempercayainya. Itu serupa di Jerman Hitler di mana propaganda menanam omong kosong ideologis di kepala orang. Hari ini hal yang sama terjadi di Rusia.

    Baca Juga: Kegiatan Donor Darah Paroki Katedral Santo Yosef Pontianak

    Apa makna Ukraina bagi Anda? Bagaimana seharusnya status dan perannya di kawasan Eropa ini?

    Ukraina adalah negara yang kami sayangi. Kami memiliki banyak orang yang dekat dengan kami di sana, sayang kami, yang penting bagi kami sepanjang hidup kami. Kami berhutang budi kepada banyak dari mereka karena mereka adalah tuan dan guru kami. Ini adalah negara yang indah dengan budaya yang indah, mandiri dan kaya. Ukraina harus benar-benar memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri, termasuk hak untuk bergabung dengan NATO atau Uni Eropa. Bagaimanapun, Ukraina dapat memainkan peran yang sangat penting dalam budaya seluruh Eropa dan dalam politik Eropa. Itu hanya perlu diizinkan untuk melakukannya.

    Bagaimana kita dapat mengevaluasi sikap Patriarkat Moskow dan Patriarkat Kirill sendiri terhadap agresi terhadap Ukraina?

    Sangat menyakitkan bagi kami karena Gereja Ortodoks, tempat kami berasal, tidak memprotes agresi. Baik Gereja secara keseluruhan maupun Patriarkat Kirill sendiri tidak melakukannya. Agresi ini merupakan pelanggaran terhadap semua perintah Allah. Agresi ini merupakan pelanggaran terhadap semua perintah Allah.

    Apa yang menjelaskan kurangnya kecaman atas agresi ini oleh para uskup Ortodoks Rusia?

    Fusi Rusia antara Gereja dan Negara. Takut akan beberapa sanksi gereja atau kurangnya minat pribadi. Namun, ini tidak berlaku untuk semua uskup dan semua imam. Banyak, terutama para imam, telah maju dengan suara protes mereka. Juga, beberapa uskup tidak setuju dengan apa yang terjadi, meskipun mereka tidak mengatakannya secara terbuka. Para pembangkang ini memimpin doa khusyuk (novena) untuk rekonsiliasi dan untuk penghentian perang yang mengerikan ini.

    Baca Juga: Aksi Puasa Pembangunan Tahun 2022 Keuskupan Agung Pontianak

    Apa yang dilakukan kalangan Ortodoks lain di Rusia, seperti lingkaran mantan murid Fr. Aleksandr Mienia, milik Anda, pikirkan tentang situasi ini?

    Kita tidak dapat berbicara tentang semua lingkaran Ortodoks di Rusia; ada jalinan pendapat yang berbeda dan beragam. Kami hanya dapat berbicara tentang lingkaran kami sendiri, dekat dengan kami, di mana, sayangnya, ada juga pendapat yang berbeda, meskipun sebagian besar teman kami, saudara dan saudari Kristen kami mengutuk perang, berdoa untuk perdamaian dan melakukan apa yang mereka bisa untuk rekonsiliasi dan bantuan bagi mereka yang menderita di Ukraina.

    Apakah ada orang Kristen Ortodoks di Rusia yang mengambil inisiatif untuk menghentikan perang, membantu Ukraina, atau menunjukkan solidaritas dengannya?

    Enam ribu orang Rusia telah dipenjara karena berpartisipasi dalam aksi piket dan protes menentang perang. Setiap upaya, bahkan tanpa tanda-tanda protes, selalu digagalkan, dan orang-orang yang berpartisipasi dimasukkan ke dalam penjara. Karena itu, saya tidak tahu apa lagi yang bisa dilakukan. Itu benar-benar berbeda di AS, ketika ribuan orang berbicara menentang perang di Vietnam, tetapi tidak ada yang menangkap mereka di sana.

    Enam ribu orang Rusia telah dipenjara karena berpartisipasi dalam aksi piket dan protes menentang perang.

    Di negara kita banyak orang, meskipun mereka tidak setuju dengan kebijakan Putin, takut untuk turun ke jalan dengan protes, tetapi mereka berdoa untuk itu karena dalam hati mereka ingin perang berhenti, mereka menginginkan perdamaian. Mereka mengalami rasa malu, simpati untuk Ukraina dan rasa bersalah.

    Saya tahu bahwa orang-orang Rusia ini ingin membantu Ukraina secara materi, tetapi tidak mungkin mengirim uang, mereka ingin menerima pengungsi, tetapi mereka tidak melarikan diri ke Rusia, mereka ingin mengirim bantuan kemanusiaan, tetapi ini juga tidak. Mungkin. Karena itu, kami tidak melihat kemungkinan bantuan. Itu hanya mungkin dari luar Rusia. Orang-orang dari seluruh dunia mengumpulkan barang-barang, pakaian hangat, uang, makanan, untuk membantu orang Ukraina di negara mereka dan juga mereka yang terpaksa pergi ke luar negeri.

    Baca Juga: ‘Atas nama Tuhan, hentikan pembantaian ini!’- Doa Paus perang di Ukraina

    Sebagai orang Kristen di Rusia, pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada orang Kristen lain di Eropa dan di dunia?

    Pertama-tama, Putin dan lingkaran terdekatnya sama sekali bukan milik Rusia. Tolong jangan berpikir bahwa ini adalah agresi seluruh Rusia. Kita ingat kata-kata seorang imam Italia, Fr. Romano Scalfi, yang merupakan pendiri dan direktur “Rusia Cristiana” dan melakukan banyak hal untuk memulihkan Kekristenan, Ortodoksi di Rusia. Pastor Romano sesaat sebelum kematiannya (wafat 2016) berkata: “Terlepas dari segalanya, cintai Rusia”.

    Terlepas dari segalanya, cintai Rusia

    Saya tidak tahu seberapa banyak dia meramalkan semua mimpi buruk yang terjadi hari ini dan apa lagi yang mungkin dibawa Rusia ke dunia. Tapi ungkapan, “Terlepas dari segalanya, cintai Rusia,” bagi saya adalah tanda bahwa dia bisa meramalkan kemungkinan itu. Rusia tidak hanya Putin, tetapi juga Pushkin, Tolstoy, musisi, pelukis, budaya Rusia yang luas dan banyak orang yang baik dan sopan, serta orang-orang Kristen Ortodoks yang percaya. Saya membayangkan bahwa jika Pdt. Alexander Mien masih hidup hari ini, kata-katanya akan bergema keras: “Perang Niet!”

    Kami juga ingin menambahkan bahwa kami sangat menginginkan hal seperti ini tidak pernah terjadi lagi di Eropa atau di seluruh dunia.

    Maafkan kami!

    Pewawancara: Marcin Przeciszewski

    TERBARU

    TERPOPULER