Saturday, May 2, 2026
More
    Home Blog Page 136

    Suara damai dan harapan Paus, dalam puing-puing Mosul hingga puing-puing di Ukraina

    Pope Francis in Mosul, Iraq, on 7 March 2021- Diangkat kembali dari artikel Andrea Tornielli Vatikan News- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.

    MajalahDUTA.Com- Paus Fransiskus memulai tahun kesepuluh kepausannya. Peringatan itu secara dramatis ditandai dengan kengerian perang di jantung Eropa.

    Sangat mengejutkan untuk mendengarkan kembali beberapa kata yang diucapkan oleh Paus setahun yang lalu, selama perjalanan apostolik yang paling penting dan berani dari kepausannya: perjalanan ke Irak.

    Peristiwa ini juga menunjukkan kunjungan yang sangat diinginkannya, terlepas dari risiko dan hambatan yang berasal dari masalah keamanan yang sangat besar dari perjalanan seperti itu, terutama bagi mereka yang berpartisipasi dalam perayaan dan pertemuan.

    Melawan segala rintangan, pada bulan Maret 2021, Paus Fransiskus melakukan ziarah itu, salah satu impian St. Yohanes Paulus II yang tidak pernah terwujud, untuk menunjukkan kedekatannya dengan semua korban fundamentalisme, untuk memberikan dorongan kepada jalan sulit rekonstruksi negara, untuk mengulurkan tangan kepada banyak Muslim damai yang ingin hidup damai dengan orang Kristen dan dengan anggota agama lain.

    Puncak perjalanan kunjungan

    Puncak dari perjalanan itu adalah kunjungan, oleh Uskup Roma, ke kota Mosul yang penuh puing-puing.

    Pada kesempatan itu, Paus Fransiskus berkata, “Hari ini kita semua mengangkat suara kita dalam doa kepada Tuhan Yang Mahakuasa untuk semua korban perang dan konflik bersenjata. Di sini, di Mosul, konsekuensi tragis perang dan permusuhan terlalu nyata. Betapa kejamnya itu. adalah bahwa negara ini, tempat lahirnya peradaban, seharusnya terkena pukulan yang begitu biadab, dengan hancurnya tempat-tempat ibadah kuno dan ribuan orang – Muslim, Kristen, Yazidi, yang dimusnahkan dengan kejam oleh terorisme, dan lainnya – dipindahkan secara paksa atau dibunuh!”

    Satu tahun kemudian, sekali lagi, konsekuensi tragis dari perang kotor di Ukraina, yang secara munafik didefinisikan sebagai “operasi militer khusus,” berada di depan mata dunia, dengan beban rasa sakit, penderitaan, tubuh orang-orang yang tidak bersalah terkoyak, anak-anak terbunuh, keluarga terpecah, jutaan pengungsi terpaksa meninggalkan segalanya untuk menghindari bom, kota-kota berubah menjadi medan perang, rumah-rumah dihancurkan dan dibakar.

    Paus juga menyampaikan bahwa masih ada hati yang terluka, mereka yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk sembuh.

    Kali ini perang sudah dekat. Itu tidak jauh seperti yang ada di Irak, di mana Paus Wojtyla – tanpa diindahkan – telah secara nubuat memohon, dengan sia-sia, bahwa itu tidak dilakukan. Sebuah perang yang mengubah tanah Abraham menjadi tangki septik terorisme.

    Perang adalah “petualangan tanpa pengembalian”.

    Paus menyampaikan, kali ini kebencian dan kekerasan tidak bisa diselubungi teori tentang “benturan peradaban”, tidak ada hubungannya dengan motivasi agama fiktif.

    Kali ini, di dua front ada pria dan wanita yang memiliki iman Kristen yang sama dan baptisan yang sama. Menghadapi malapetaka yang disebabkan oleh agresi tentara Rusia di Ukraina, dan eskalasi perang yang berisiko menyeret dunia ke dalam konflik nuklir, tidak mudah menemukan tanda-tanda harapan.

    Keyakinannya bahwa persaudaraan lebih tahan lama daripada pembunuhan saudara

    Pada kesempatan itu, Paus Fransiskus juga menegaskan seperti setahun yang lalu di Mosul keyakinannya bahwa persaudaraan lebih tahan lama daripada pembunuhan saudara.

    Paus Fransiskus menegaskan bahwa harapan lebih kuat daripada kebencian, bahwa perdamaian lebih kuat daripada perang, “bahkan hari ini, terlepas dari semua, adalah mungkin untuk berharap,” kata Paus.

    Memohon kepada Tuhan untuk karunia perdamaian, tanpa pernah berhenti mencari dan mengejarnya, tanpa meninggalkan kebutuhan bisnis yang terlewat untuk mendapatkan gencatan senjata dan awal dari negosiasi yang sebenarnya.

    Paus Fransiskus mengingatkan jika manusia menginginkan perdamaian, maka manusia harus mempersiapkan perdamaian, bukan perang. Diperlukan keberanian dan kreativitas untuk menempuh jalan baru untuk membangun koeksistensi antar bangsa yang tidak berdasarkan balance of force dan deterrence.

    “Hari ini adalah mungkin untuk berharap dengan melihat gelombang besar solidaritas yang telah memancar dalam hitungan hari dan kemurahan hati negara-negara seperti Polandia, yang telah membuka pintu mereka bagi jutaan pengungsi,” kata Paus (di Mosul, Iraq, pada 7 Maret 2021).

    Satu tahun yang lalu, pada pertemuan antaragama di Dataran Ur, Paus Fransiskus berkata: “Kalau begitu, dari mana perjalanan perdamaian dapat dimulai? Dari keputusan untuk tidak memiliki musuh. Siapa pun yang berani menatap bintang, siapa pun yang percaya pada Tuhan, tidak memiliki musuh untuk dilawan.

    Dia hanya memiliki satu musuh untuk dihadapi, musuh yang berdiri di pintu hati dan mengetuk untuk masuk.

    Musuh itu adalah kebencian. Sementara beberapa orang mencoba memiliki musuh lebih dari sekadar bertemanlah, sementara banyak yang mencari keuntungan mereka sendiri dengan mengorbankan orang lain, mereka yang melihat bintang-bintang janji, mereka yang mengikuti jalan Tuhan, tidak dapat melawan seseorang, tetapi untuk semua orang.

    Jalan menuju perdamaian

    Paus telah mengajarkan kepada umatnya bahwa jalan menuju perdamaian dimulai dengan perlucutan senjata hati.
    mereka tidak dapat membenarkan segala bentuk pemaksaan, penindasan dan penyalahgunaan kekuasaan; mereka tidak dapat mengambil sikap berperang.” Dalam sembilan tahun masa kepausannya ini.

    Menyebut diri seorang pengikut Kristus berarti menjadi milik manusia yang diciptakan Tuhan, yang mengizinkan dirinya untuk dibunuh di kayu salib demi cinta.

    “Memilih untuk menjadi korban yang tak berdaya, selama dua ribu tahun dia telah meminta kita untuk berada di pihak yang tertindas, dari mereka yang diserang, yang dikalahkan, yang terakhir, dari yang dibuang Dia meminta kita untuk menabur perdamaian, tidak pernah kebencian, perang atau kekerasan,” pesan Paus Fransiskus.

    Catatan: Diangkat kembali dari artikel Andrea Tornielli Vatikan News.

    Misa peringatan kanonisasi: Paus mengajak untuk ‘Doa mengubah dunia’

    Celebration at the Jesuit Church of the Most Holy Name of Jesus, "the Gesù" in Rome- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com- Paus Fransiskus menghadiri Misa di Gereja Yesuit Nama Tersuci Yesus, yang dikenal sebagai “Ges,” di Roma, pada peringatan 400 tahun kanonisasi St Ignatius dari Loyola, St Francis Xavier, St Teresa of Jesus, St Isidore Petani, dan St Philip Neri.

    Artikel ini ditulis oleh Christopher Wells dalam berita Vatikan News pada 12 Maret 2022, 18:47 waktu Vatikan.

    Dalam tulisan itu, Paus Fransiskus pada hari Sabtu melakukan perjalanan ke jantung kota Roma pada hari Sabtu, ke Ges, gereja induk ordo Jesuit di Roma, di mana ia menghadiri Misa dan berkhotbah pada peringatan 400 tahun kanonisasi pendiri Serikat.

    St Ignatius dari Loyola dikanonisasi pada 12 Maret 1622, bersama dengan sesama Yesuit Francis Xavier, Teresa dari Avila, St Isidore si Petani, dan St Philip Neri, yang dikenal sebagai Rasul Kedua Roma.

    Bapa Suci memberikan homili selama Misa untuk Minggu Kedua Prapaskah, merenungkan kisah Injil tentang Transfigurasi Tuhan. Dia berfokus pada empat tindakan Yesus dalam Injil: Yesus “mengambil” murid-murid-Nya bersama-Nya; Dia “naik” gunung; Dia berdoa; dan Dia “tetap.”

    Berbicara dengan Allah

    Dalam homilinya, Bapa Suci mencatat bahwa Yesus mengambil para murid sebagai sebuah komunitas, menunjukkan kepada kita bahwa kita adalah bagian dari Gereja, dan memanggil kita untuk membentuk dan membina persekutuan.

    “Yesus memilih murid-murid-Nya, termasuk diri kita sendiri, dan membawa kita ke gunung suci-Nya untuk diubah rupa oleh kasih-Nya,” kata Paus.

    Paus Fransiskus juga menggarisbawahi bahwa orang-orang kudus yang hari jadinya kita rayakan hari ini adalah “pilar-pilar persekutuan,” dan mengundang kita semua untuk “menghargai keindahan karena telah ‘diambil,’ disatukan, oleh Yesus.

    Naik ke atas

    Dalam konteks yang Paus sampaikan, dikatakannya juga kata kerja kedua adalah “naik.”
    Bapa Paus melihat bahwa jalan Yesus adalah salah satu pendakian, bukan keturunan, itu bukan jalan yang mudah, tetapi perjalanan yang sulit. Hal itu berarti pergi ke ekstrem, ke ujung bumi, dan tidak tetap statis.

    “Bagi murid-murid Yesus, sekarang bukan waktunya untuk tidur, untuk membiarkan jiwa kita dibius, dibius oleh budaya konsumerisme dan individualistis saat ini,” kata Paus.

    Sebaliknya, seperti yang kita pelajari dari St Teresa dari Avila, kita dipanggil untuk melampaui diri kita sendiri, untuk menyadari bahwa Allah menyatakan diri-Nya melalui perjuangan saudara-saudari kita.

    Berdoa

    Paus Fransiskus mencatat bahwa Transfigurasi adalah pengalaman yang lahir dari doa: Yesus naik gunung untuk berdoa.

    “Hari ini, kita bisa bertanya pada diri sendiri tentang kehidupan doa kita sendiri,” kata Paus.

    Apakah kita berdoa hanya karena kebiasaan?

    Atau apakah kita menyadari bahwa doa benar-benar mengubah dunia. “Berdoa berarti mengubah kenyataan,” kata Paus. Itu adalah “misi aktif, syafaat yang konstan… [doa] tidak jauh dari dunia, tetapi mengubah dunia.”

    Bapa Suci mengundang umat untuk bertanya pada diri kita sendiri, “Apakah doa membenamkan kita dalam perubahan ini? Apakah itu mengubah situasi kita?” Doa, katanya, “menyalakan api misi, mengobarkan kembali kegembiraan kita” dan mengilhami kita untuk “bermasalah” bagi mereka yang menderita.

    Secara khusus, dia berkata, “Mari kita juga bertanya pada diri sendiri bagaimana kita membawa perang saat ini ke dalam doa kita.”

    Dia kemudian menunjuk contoh Philip Neri, yang doanya mengilhami dia untuk membantu anak-anak Roma; atau St Isidore, yang membawa pekerjaan pertaniannya ke dalam doa.

    Untuk tetap Setia

    Menyimpulkan tiga tindakan pertama Yesus, Paus mengatakan bahwa, “Mengambil setiap hari secara baru panggilan pribadi kita dan sejarah komunitas kita; kemudian naik menuju ketinggian yang ditunjukkan Tuhan kepada kita; dan berdoa untuk mengubah dunia tempat kita tenggelam ini.”

    Namun, katanya, ada juga kata kerja keempat dalam Injil hari ini: tetap. Di akhir Transfigurasi, kata Paus, Yesus tetap tinggal. Di zaman sekarang ini, katanya, kita sering fokus pada hal-hal sekunder, pada apa yang berlalu, melupakan apa yang tersisa. Namun, dalam Transfigurasi, kesaksian tentang Tuhan mengingatkan apa yang penting. “Betapa pentingnya,” kata Paus, “bagi kita untuk bekerja di hati kita, sehingga mereka dapat membedakan antara hal-hal Tuhan yang tersisa, dan hal-hal duniawi yang berlalu!”

    Dia mengakhiri homilinya dengan doa agar St Ignatius dapat membantu kita melestarikan kearifan sebagai harta yang selalu abadi bagi gereja dan dunia – harta yang memungkinkan kita untuk melihat kembali segala sesuatu di dalam Kristus.

    Ucapan Syukur untuk Orang Suci

    Pada akhir Misa – yang dirayakan oleh Pemimpin Umum Serikat Yesus, Pater Arturo Sosa – sebuah upacara singkat berlangsung di kapel St Ignatius. Di hadapan relik lima orang kudus yang hari jadinya diperingati, para pemimpin komunitas mereka bersyukur kepada Tuhan atas karunia kesucian mereka.

    Ibadah ditutup dengan doa:

    Ya Tuhan, di dalam orang-orang kudus-Mu Isidore si Petani, Ignatius dari Loyola,
    Francis Xaverius, Teresa dari Yesus, dan Philip Neri,
    beri kami keberanian orang yang rendah hati,
    keberanian mereka yang percaya,
    kesederhanaan orang miskin dalam roh,
    dan semangat para prajurit yang dilucuti,
    agar kami mengizinkanmu untuk menang
    dan untuk membimbing Gereja Anda dan dunia
    menuju Pentakosta baru rahmat dan damai sejahtera, persekutuan.

    Di masa pandemi, perang,
    tetapi juga harapan, jadikanlah kami orang-orang kudus,
    sesuai keinginan dan keinginan.

    Semoga kehendak-Mu yang kudus terjadi, selalu dan dalam diri kita masing-masing.

    Uskup Agustinus Ucapkan Belasungkawa Kepergian Bupati Pertama Bengkayang

    Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Amsterdam Uskup Keuskupan Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus mengucapkan belasungkawa atas kepergian mantan Bupati Bengkayang yang pertama Drs.Yakobus Luna.Msi yang merupakan ayahanda dari Darwis Bupati Bengkayang sekarang.

    Setelah mendengar kabar duka dari Bengkayang Kalimantan Barat, Indonesia kemudian Uskup Agustinus langsung mengucapkan belasungkawanya menggunakan via WA (WhatsApp).

    Dalam pesan WhatsApp yang disampaikan Uskup Agustinus dari Amsterdam pada 11 Maret 2022, menuliskan pesan demikian.

    “Turut berduka yg mendalam serta berdoa atas telah dipanggilnya Bpk.Drs.Yakobus Luna.Msi Ayahanda  Bpk.Darwis Bupati Bengkayang ke rumah Bapak di surga. Doa saya juga utk keluarga besar yg ditinggalkan, agar tetap teguh dalam iman menerima kenyataan ini. Amsterdam, 11 Maret 2022,” oleh Mgr. Agustinus. Agus.

    Dalam pesan dari Amsterdam itu, Uskup Agustinus mendoakan agar keluarga besar yang ditinggalkan tetap teguh dalam iman untuk menerima kenyataan itu.

    Rest in peace, Yakobus Luna.

    Sidang Pleno Forum Kerjasama Religius Kalimantan Barat (FKRK) di Rumah Retret St. Fransiskus Assisi Tirta Ria Pontianak

    Rangkaian Kegiatan Sidang Pleno FKRK – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Kelompok jaringan kerjasama antar tarekat religius se-Provinsi Kalbar kembali menggelar pertemuan bersama.

    “Wadah ngobar” alias ngobrol bareng lintas tarekat religius ini diberi nama FKRK (Forum Kerjasama Religius Kalimantan Barat).

    Anggota forum ini terdiri dari berbagai Kongregasi, Ordo, Tarekat yang berkarya di Kalimantan Barat.

    Anggota FKRK ada dan tersebar di empat keuskupan: Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Sintang, dan Keuskupan Ketapang.

    32 tarekat religius

    Saat ini tercatat ada 32 jumlah Kongregasi, Ordo, Tarekat yang ada di Kalbar. Terdiri dari:

    • 12 tarekat imam;
    • 2 tarekat bruder;
    • 18 kongregasi suster.

    Merekat berkarya dibidang pendidikan, sekolah, asrama dan pembinaan generasi muda, sosial kemanusiaan, pastoral kategorial, dan pastoral parokial.

    Baca Juga: FKRK: Evaluasi & Progja Panitia Sidang Pleno FKRK Masa Bakti 2021-2024

    Adapun maksud dan tujuan dibentuknya FKRK adalah untuk:

    • Membina kerjasama yang semakin erat antar tarekat religius.
    • Saling meneguhkan dalam hidup dan karya berdasarkan kolegialitas dalam meningkatkan pelayanan bagi Gereja dan masyarakat.
    • Berefleksi bersama berdasarkan spiritualitas tarekat masing-masing agar semakin mampu menyesuaikan kehadiran tarekat di tengah ke-bhinnekaan NKRI

    FKRK ini biasanya mengemban tugas kepengurusan dalam periode tiga tahun. Setelah masa bakti berakhir, maka kepengurusan akan dipilih kembali.

    Badan pengurus FKRK lintas Ordo, Kongregasi religius ini diwakili oleh para Provinsial, Pemimpin Umum Kongregasi atau Ordo yang ada di Kalimantan Barat.

    Badan Pengurus FKRK dipilih dalam sidang pleno yang dihadiri oleh perwakilan dari setiap Kongregasi, Ordo, Tarekat.

    Bertempat di Rumah Retret St. Fransiskus Assisi Tirta Ria Pontianak, 5 Maret 2022 dilaksanakan kegiatan untuk pemilihan kepengurusan FKRK yang baru.

    Baca Juga: Surat Gembala APP Keuskupan Agung Pontianak 2022 “Kita Hanyalah Debu dan Akan Kembali Menjadi Debu (Kejadian 3: 19)”

    Berikut beberapa agenda dalam rapat pleno pemilihan pengurus FKRK yang baru yakni:

    • Seminar Pendalaman Sinode Keuskupan Agung Pontianak 2021-2023
    • Laporan Pertanggungjawaban Program Kerja kepengurusan FKRK:
    • Laporan umum FKRK.
    • Laporan keuangan FKRK.
    • Laporan BPA (Badan Pembina Asrama).
    • Laporan KGN (Kursus Gabungan Novis).
    • Sidang pleno pemilihan pengurus FKRK masa bakti 2022-2025
    • Perayaan Ekaristi Penutupan

    Dalam pengantar, Ketua FKRK Br. Rafael MTB, menyampaikan bahwa kepengurusan periode 2018-2021 telah berakhir, maka perlu diadakan pemilihan kepengurusan yang baru.

    “Sebenarnya sidang pleno pemilihan pengurus baru FKRK sudah direncanakan pada 15 Juni 2021 yang lalu. Namun berhubung pandemi, rencana tersebut terpaksa ditunda dan akhirnya baru bisa dilaksanakan pada 5 Maret 2022.

    Bruder Pemimpin Umum Kongregasi Bruder MTB (Maria Tak Bernoda) ini menyampaikan bahwa selama mengemban tugas kepengurusan FKRK (periode 2018-2021) ada beberapa program yang tidak bisa dilaksanakan (vakum) karena pandemi.

    “Dua tahun berjalan program-program masih berjalan, namun karena pandemi terpaksa tertunda. Inilah saat yang tepat untuk mengadakan pemilihan kepengurusan FKRK yang baru. Semoga program kerja yang belum terlaksanakan bisa dilanjutkan oleh pengurus yang baru,” harapnya.

    Baca Juga: Peresmian Gedung Baru UWDP: Tonggak Penting Sejarah Perguruan Tinggi Widya Dharma

    Para peserta yang hadir berjumlah 67 terdiri dari para provinsial tarekat, formator, perwakilan tarekat, karya pendidikan, rumah sakit, rumah pembinaan/retret, dan asrama.

    Mengingat situasi masih pandemi, Panitia Sidang Pleno FKRK menghimbau kepada seluruh peserta agar wajib mentaati protokol kesehatan (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan)

    Juga demi menjaga keamanan dari penularan virus Covid-19, panitia mewajibkan swab antigen untuk seluruh peserta satu jam sebelum kegiatan dimulai.

    Petugas swab antigen dari tenaga kesehatan Rumah Sakit St. Antonius Pontianak

    Seminar Pendalaman Sinode Keuskupan Agung Pontianak 2021-2023

    Guna memberikan kesempatan kepada seluruh umat Allah untuk mengambil keputusan dengan cermat secara bersama tentang bagaimanakah melangkah maju pada jalan menuju sebuah Gereja yang lebih sinodal di masa depan (poin 1 tujuan sinode).

    Pengurus FKRK bersama panitia memutuskan perlu diadakan semacam seminar pendalaman Sinode Keuskupan Agung Pontianak 2021-2023.

    Panitia mendapuk Pastor Prof. Dr. William Chang, OFMCap sebagai pembicara.

    Menurut Vikjen Keuskupan Agung Pontianak dari Ordo Fransiskan Kapusin Pontianak ini, sangatlah penting bagi kita sebagai warga Gereja, khususnya di wilayah Keuskupan Agung Pontianak ini, paham dan menghayati semangat dari sinode dengan tajuk “Persekutuan, Peran Serta, dan Pengutusan” dalam aspek hidup kerohanian dalam suatu konteks hidup sosial, kebudayaan, dan politik.

    Poin penting “jantung” dalam sinode tingkat keuskupan ini, kata dia, adalah mendengarkan Allah dengan mendengarkan satu dengan yang lain, yang diilhami oleh Sabda Allah.

    Baca Juga: Rapat Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Para pengurus Dewan Stasi Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang

    Kita saling mendengarkan untuk bisa dengan lebih baik mendengarkan suara Roh Kudus yang berbicara dalam dunia dewasa ini

    “Kita harus secara personal menjangkau mereka yang berada di daerah-daerah pinggiran, mereka yang telah meninggalkan Gereja, mereka yang jarang atau tidak pernah menunaikan iman-kepercayaannya, mereka yang dicengkam kemiskinan atau peminggiran, pengungsi, mereka yang disingkirkan, mereka yang tidak bersuara, dll,” demikian ungkapnya.

    Sidang Pleno Pemilihan Pengurus FKRK 2022-2025

    Setelah menimba semangat sinode dalam seminar, kegiatan pun berlanjut dengan sidang pleno untuk memilih kepengurusan FKRK yang baru.

    Dalam sidang itu, Minister Provinsial Kapusin Provinsi Pontianak Pastor Faustus Bagara OFMCap terpilih sebagai ketua FKRK periode 2022-2025.

    Berikut ini jajaran badan pengurus FKRK periode 2022-2025 terpilih:

    • Ketua: Pastor Faustus Bagara OFMCap.
    • Sekretaris: Sr. Yulita Imelda SFIC.
    • Bendahara: Br. Rafael MTB.
    • Anggota: Sr. Kristina Unau SMFA, Sr. Ignasia OSA, dan Sr. Elisa KFS.

    Proficiat kepada pengurus FKRK terpilih periode 2022-2025. Terima kasih disampaikan kepada pengurus FKRK periode 2018-2021.

    Kegiatan ini ditutup dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Pastor Prof. Dr. William Chang, OFMCap selaku selebran utama. Hadir pula di altar konselebran Direktur Rumah Retret Tirta Ria Pontianak Pastor Stephanus Gathot OFMCap dan Minister Provinsial Kapusin Provinsi Pontianak, Pastor Faustus Bagara OFMCap.

    Surat Gembala APP Keuskupan Agung Pontianak 2022 “Kita Hanyalah Debu dan Akan Kembali Menjadi Debu (Kejadian 3: 19)”

    Gereja Katedral Santo Yosep Pontianak – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Berikut ini isi Surat Gembala Keuskupan Agung Pontianak 2022 dalam masa puasa yang diawali dengan Hari Rabu Abu.

    Saudara-saudari umat kristiani yang terkasih, kembali kita memasuki masa puasa.

    Seperti tahun-lahun sebelumnya dan semua sudah mengetahuinya, masa puasa selalu diwarnai suasana mati-raga, ulah tapa dan semangat doa sebagai ungkapan bahwa dihadapan Allah kita hanyalah debu dan akan kembali menjadi debu (Kej 3: 19) penuh dosa dan perlu melakukan pertobatan.

    Didalam masa puasa kita diajak untuk merenungkan apakah praktek hidup keagamaan kita sudah sesuai dengan apa yang kita imani.

    Masa puasa selalu ditandai dengan kegiatan “pantang dan puasa”.

    Keyakinan bahwa kita ini, hanya debu dan pendosa yang akibatnya adalah hubungan dengan Tuhan Sang Pencipta menjadi putus dan kita menjadi jauh dari keselamatan, ini yang seharusnya menjadi dasar bagi kita dalam mengisi masa puasa ini.

    Pengalaman 2 tahun hidup bersama Covid-19 makin menegaskan apa artinya bahwa kita ini “hanyalah” debu. Dihadapan Tuhan kita semua sama, “hanyalah debu”. Sesudah Covid-19 mulai bisa ditanggulangi, pecah perang antara Rusia dan Ukraina.

    Dewasa ini banyak sekali bahan yang mudah diakses melalui media elektronik yang bisa membantu kita sampai kepada kesadaran bahwa kita, umat manusia hanyalah “debu. Hanya dengan kerendahan hati kita mampu sampai kesadaran ini! Bukankah Tuhan sudah merendahkan diri serendah-rendahnya (Filipi 2:7) untuk menyelamatkan kita umat manusia.

    PSE Regio Kalimantan telah menetapkan Tema Aksi Puasa Pembangunan 2022 adalah “Yesus Menyembuhkan dan Memulih Kehidupan”.

    Sebagai pengikut-pengikut Yesus kita semua dipanggil untuk menyembuhkan setiap orang dari penyakitnya dan dengan pulihnya kesehatannya maka dia bisa melakukan seperti sediakala. Tentu saja peran kita tergantung dari talenta yang kita miliki. sekecil apapun peren kita yang kita berikan secara tulus, Tuhan pasti menghargainya.

    Kita mungkin termasuk sebagian besar masyarakat yang harus bersyukur karena tidak mengalami dampak langsung dari mewabahnya Covid-19.

    Dipihak lain, ungkapan keprihatinan dan belarasa sebagai pengikut Kristus sangat layak dan pantas dinampakan secara nyata terhadap orang-orang yang terdampak langsung Covid-19.

    Seperti tahun yang sudah-dudah, kegiatan dalam rangka masa puasa, tidak banyak mengalami perubahan baik yang bersifat ritual maupun yang bersifat seremonial. Ada kegiatan pengumpulan derma APP, pantang dan puasa, mengikuti ritual Jalan Salib dan sebagainya. Masa puasa adalah masa bagi umat kristiani merupakan ungkapan pertobatan. Dan tanda penyangkalan diri dan tanda keinginan untuk ambil bagian dalam pengorbanan Kristus di Kayu Salib. Sebagai silih dosa-dosa kita dan demi keselamatan dunia.

    Masa puasa adalah masa untuk mawas diri dan akhirnya berani mengatakan bahwa “aku ini memang debu dan akan kembali menjadi debu”.

    Tentu semua orang dipanggil untuk menjadi kudus, namun tetap menghadapi banyak tantangan dalam hidup. Tuhan tidak menuntut yang muluk-muluk atau yang luar biasa.

    Kita lihat contoh-contoh dalam Kitab Suci, persembahan dari jandi miskin dihragai karena diberikan dari kekurangannya. (Mk 12, 41-44).

    Contoh lain “aku berkata kepadamu, apa yang tidak kamu lakukan kepada salah seorang saudaraku yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untukku (Mt 25: 40). Tuhan hadir dalam wujud yang sering tidak kita kenal.

    Oleh karena itu ada baiknya untuk dipikirkan, kalau selama ini karya amal dan sedekah kita salur lewat panitia paroki, dalam masa puasa kali ini, tanpa mengabaikan kewajiban, kita dapat salurkan kapan saja dan dimana saja contohnya pada saat sedang minum-minum kopi kemudian kita melihat orang yang membutuhkan tanpa mempertimbangkan latar belakang kita bisa membantu mereka, atau bisa saja ditempat kita bekerja membantu rekan kerja yang sedang mengalami kesulitan dan banyak lagi yang dapat kita lakukan untuk berbuat amal kasih terhadap sesama.

    Mari kita memasuki masa puasa 2022 ini dengan semboyan “tiada  hari tanpa amal kasih”.

    Badai Covid-19 belumlah berlalu!

     

    Pontianak, pada Hari Rabu Abu, 2 Maret 2022

    Tertanda

    Mgr. Agustinus Agus

    Uskup Agung Pontianak

    Duta Besar Inggris: Tidak Ada Harapan Atau Perdamaian Tanpa Suara Perempuan

    Salah satu relawan wanita yang menyiapkan materi untuk pertahanan Ukraina, membuat hati dengan tangannya, di Odessa, Ukraina (ANSA) - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Internasional – Duta Besar Inggris Chris Trott berbicara tentang pentingnya mempromosikan perempuan sebagai mediator perdamaian dan dialog, terutama mengingat kengerian yang terjadi di Ukraina. Berita ini dirilis dari portal berita Vatican News yang diterbitkan pada 7 Maret 2022 Oleh Francesca Merlo.

    Tujuan dari seminar yang berjudul “Gereja dan Masyarakat: Perempuan sebagai Pembangun Dialog”, adalah untuk menyoroti pesan yang sangat kuat bahwa “itu penting, ketika Anda membangun dialog dalam bentuk apa pun dalam masyarakat, dan khususnya dalam proses perdamaian, bahwa Anda melibatkan perempuan dalam dialog itu sejak awal dan disetiap tingkat, agar dialog itu berhasil”.

    Duta Besar Inggris untuk tahta Suci Chris Trott, yang kedutaannya mendukung Caritas Internationalis dalam seminar bersama yang menandai Hari Perempuan Internasional pada tanggal 8 Maret, berbicara kepada Vatican News sebelum acara tersebut, menjelaskan tujuannya dalam menekankan vitalitas perempuan sebagai pembangun harapan, disemua konteks dan diseluruh masyarakat.

    Mediator perdamaian

    Duta Besar Trott mencatat bahwa ketika semua pikiran kita beralih ke perang di Ukraina, “tidak ada keraguan sama sekali bahwa perempuan memiliki peran penting untuk dimainkan baik dalam menanggapi krisis dan kemudian dalam upaya mencari solusi untuk krisis itu”.

    Baca Juga: Perang Di Ukraina: Paus Fransiskus Pergi Ke Kedutaan Rusia Untuk Menyatakan Keprihatinan

    Perempuan harus mengambil bagian tidak hanya dengan duduk mengelilingi meja, atau di baris kedua, tambahnya. “Suara mereka pertama-tama harus didengarkan saat Anda merancang proses dan solusi Anda”, dan “perempuan kemudian harus diberdayakan untuk berpartisipasi dalam diskusi yang sebenarnya”.

    Ukraina

    Tetyana Stawynchy, Presiden Caritas Ukraina juga akan berbicara kepada peserta seminar tersebut, dan menurut Duta Besar Trott dia akan dapat memberikan “wawasan kritis tentang situasi yang sangat hidup”, mencatat bahwa sehubungan dengan Ukraina, serta informasi yang jelas dan sangat baik, ada juga sangat banyak disinformasi. “Mendengar dari seseorang di lapangan akan sangat kuat”, katanya, dan mendengar dia mengadvokasi keterlibatan perempuan dalam dialog… “pesan yang saya harap dunia akan mendengarnya”, tambahnya.

    Korban kejahatan perang

    Duta Besar Trott kemudian berbicara tentang kejahatan pemerkosaan yang keji yang digunakan sebagai senjata perang. “Ini benar-benar menjijikkan. Perempuan, anak perempuan dan anak laki-laki adalah korban dari ini dan itu harus dihentikan. Komunitas internasional harus bersatu dan membuat suaranya benar-benar jelas bahwa ini sama sekali tidak dapat diterima”.

    Menghentikan kejahatan ini sulit, “karena perang itu sendiri sama sekali tidak dapat diterima”, tetapi menggunakan pemerkosaan sebagai senjata perang adalah sesuatu yang tidak boleh kita lakukan. bertoleransi di abad ke-21, pungkasnya.

    Terakhir, Duta Besar Trott mengucapkan selamat Hari Perempuan “Untuk Semua Perempuan”.

    Perang Di Ukraina: Paus Fransiskus Pergi Ke Kedutaan Rusia Untuk Menyatakan Keprihatinan

    Doa untuk Perdamaian – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Internasional – Paus Fransiskus menghabiskan lebih dari setengah jam di kedutaan Rusia di Via della Conciliazione di Roma pada jumat pagi. Sehari sebelumnya, Kardinal Pietro Parolin meminta ruang yang lebih besar untuk negosiasi. Berita ini dirilis dari portal berita Vatican News yang diterbitkan pada 25 Februari 2022 Oleh Salvatore Cernuzio.

    Paus Fransiskus ingin mengungkapkan keprihatinannya tentang perang di Ukraina ketika dia pergi ke markas besar Kedutaan Besar Rusia untuk Tahta Suci. Dipimpin oleh Duta Besar Alexander Avdeev, sekitar tengah hari pada jumat pagi. Dia tiba dengan mobil putih dan tetap berada di gedung di Via della Conciliazione selama lebih dari setengah jam, sebagaimana dikonfirmasi oleh direktur Kantor Pers Vatikan, Matteo Bruni.

    Banding di audiensi Umum

    Paus Fransiskus dengan cermat mengikuti perkembangan situasi di negara Eropa timur, yang telah diserang sejak malam 24 Februari, di mana banyak orang telah terbunuh dan terluka. Sudah di Audiensi Umum pada hari Rabu, sebelum invasi Rusia dimulai, Paus telah mengungkapkan “kesedihan besar di dalam hatinya” atas situasi yang memburuk di negara itu.

    Baca Juga: Paus ke Malta untuk berdoa serta bertemu migran

    Paus menghimbau “kepada mereka yang memiliki tanggung jawab politik untuk memeriksa hati nurani mereka dengan serius di hadapan Tuhan, yang adalah Tuhan perdamaian dan bukan Tuhan perang.” Dan dia meminta orang percaya dan orang yang tidak percaya untuk bersatu dalam doa bersama untuk perdamaian 2 Maret mendatang, Rabu Abu, dengan berdoa dan berpuasa. “Yesus mengajari kita bahwa ketidakberdayaan yang kejam dari kekerasan dijawab dengan senjata Tuhan, dengan doa dan puasa.” Kata Paus. “Saya mengundang semua orang untuk menjadikan 2 Maret, Rabu Abu, Hari Puasa untuk Perdamaian. Saya mendorong orang percaya dengan cara khusus untuk mendedikasikan diri mereka secara intens untuk berdoa dan berpuasa pada hari itu. Semoga Ratu Damai menjaga dunia dari kegilaan perang.”

    Pernyataan Kardinal Parolin

    Namun, kemarin, “di saat-saat paling gelap” bagi Ukraina, Kardinal Sekretaris Negara, Pietro Parolin, merilis sebuah pernyataan menyusul dimulainya “operasi militer” Rusia di wilayah Ukraina. Mengingat seruan mendesak Paus, kardinal mencatat bahwa “skenario tragis yang ditakuti semua orang sayangnya menjadi kenyataan,” tetapi bersikeras, “masih ada waktu untuk niat baik, masih ada ruang untuk negosiasi, masih ada tempat untuk pelaksanaan kebijaksanaan yang dapat mencegah dominasi kepentingan partisan, menjaga aspirasi sah setiap orang, dan menyelamatkan dunia dari kebodohan dan kengerian perang.”

    Kardinal Parolin mengakhiri pernyataannya, dengan mengatakan, “Sebagai orang percaya, kita tidak kehilangan harapan akan secercah hati nurani dari mereka yang memegang kekayaan dunia di tangan mereka. Dan kami terus berdoa dan berpuasa, seperti yang akan kami lakukan pada Rabu Abu ini untuk perdamaian di Ukraina dan diseluruh dunia.”

    Rapat Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Para pengurus Dewan Stasi Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang

    Kegiatan Rapat DPP dan pengurus dewan stasi Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Sungai Ambawang – Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang mengadakan kegiatan Rapat Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Para pengurus Dewan Stasi.

    Kegiatan yang di laksanakan di Gedung Serba Guna Stasi Santa Klara – Korek ini dihadiri oleh sejumlah Dewan Pastoral Paroki, Pengurus Dewan Stasi dan Pengurus Kategorial yang ada di Paroki Sungai Ambawang. Kegiatan tersebut dilaksanakan selama 3 Hari, dimulai dari Jumat 26 s/d Minggu 28- Februari- 2022.

    Ada beberapa agenda yang dibahas dalam kegiatan pertemuan kali ini diantaranya membahas, Seputar Perkawinan Bermasalah, Job Description Dewan Stasi, Sinode Paroki, Sosialisasi APP 2022, dan Evaluasi Program Kerja DPP. Serta diadakan juga Liturgi Tobat Oleh Pastor Kepala Proki Sungai Ambawang.

    Baca Juga: Peresmian Gedung Baru UWDP: Tonggak Penting Sejarah Perguruan Tinggi Widya Dharma

    Sebelum mengikuti kegiatan pertemuan tersebut seluruh peserta diwajibkan untuk cek kesehatan atau Swab yang ditangani langsung oleh pihak Puskesmas Lingga.

    Ketua Harian Dewan Pastoral Paroki Bpk. Martinus., S.Ag. M.Si dalam kesempatan ini memberi materi yang berkaitan dengan Job Description Dewan Stasi dan Penegasan batas-batas Stasi yang ada di Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang.

    Pelayanan

    Pastor Paroki  Lukas Ahon B. CP menyampaikan tujuan dari kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap 2 kali dalam setahun di Paroki Sungai Ambawang ini.

    “Dalam rangka menata pelayanan Dewan Paroki & Dewan Satasi terhadap umat stasi, umat paroki yang dipercayakan kepada mereka. Maka dari itu dalam pertemuan kali ini kita membicarakan Struktur Organisasi Dewan Stasi dengan Job Description nya. Karena selama ini segalanya diurus oleh Ketua Dewan Stasi sendiri. Padahal dalam Struktur Pengurus Dewan stasi sudah ada Pengurus Inti dan Seksinya masing-masing namun tidak berjalan dengan baik. Setelah melihat itu maka Dewan Pastoral Paroki dalam pertemuan kali ini juga membahas Job Description Dewan Stasi. Pastor paroki juga Berharap melalui Materi Job Description yang diberikan Struktur Organisasi Dewan Stasi dapat menjalankan tugas dengan baik. Dan bekerja sama dalam menjalankan program-program yang telah dibuat sesuai dengan Job Description nya masing-masing” papar pastor Lukas Ahon

    Kegiatan tersebut ditutup dengan Misa Kudus yang di pimpin oleh Pastor Kepala Paroki dan dilanjutkan dengan sosialisasi BIDUK oleh Ketua Tim Sensus Umat Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang Pius Asiang.

    Peresmian Gedung Baru UWDP: Tonggak Penting Sejarah Perguruan Tinggi Widya Dharma

    Peresmian Gedung Fransiskus Asisi Universitas Widya Dharma Pontianak – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Dalam sambutan Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji sependapat dengan  Uskup Agustinus yang disampaikan dalam sambutannya bahwa masyarakat tidak bisa mengabaikan pendidikan, (Sabtu pagi 26/02/2022).

    Dengan kata lain pendidikan adalah tonggak utama dalam pembangunan sumber daya masyarakat. Apalagi Provinsi Kalimantan Barat sebenarnya memiliki potensi yang besar terlebih jika dikaitkan dengan isu pemindahan Ibu Kota Indonesia di Kalimantan.

    Universitas Widya Dharma Pontianak alias UWDP sekarang resmi memiliki gedung baru dan telah diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji dengan nama Gedung Fransiskus Asisi. Gedung tersebut memiliki 10 lantai yang menelan biaya kurang lebih sebesar Rp 40 miliar belum termasuk isi sarananya.

    Dalam sambutan Ketua Yayasan Widya Dharma, Policarpus Widjaja Tandra (79) menjelaskan secuplik sejarah terbentuknya Universitas Widya Dharma Pontianak yang kini sudah berusia 39 tahun yang telah berjuang dan kini sudah menjadi Universitas ditambah dengan gedung baru yang telah diresmikan.

    Sejarah Singkat

    Awalnya Universitas Widya Dharma Pontianak memiliki nama yakni Perguruan Tinggi Widya Dharma yang bermula dari pertemuan Pekan Pastoral II Keuskupan Agung Pontianak. Uskup dari Keuskupan Agung Pontianak saat itu Emeritus Mgr Hieronymus Bumbun OFMCap yang menghimbau agar Gereja Katolik berpartisipasi dalam pembangunan daerah Kalimantan Barat.

    Himbauan tersebut bukan tanpa dasar, karena adanya  Konsili Vatikan II yang menyerukan agar Gereja menjawab tantangan zaman dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

    Baca Juga: Peresmian Rumah Adat Dayak “Tampun Juah” Kabupaten Sintang

    Karena itu Kalimantan Barat sangat membutuhkan kader-kader Katolik dalam dunia pendidikan yang relatif ketinggalan dikala itu.

    Sejalan dengan cerita ini kemudian semua orang dari suku, kondisi ekonomi, dan latar belakang apapun, berdasarkan martabatnya selaku pribadi, harus mendapat hak yang sama dan tidak dapat diganggu gugat dalam mendapatkan pendidikan.

    Seusai Pekan Pastoral II tersebut Mgr Hieronymus Bumbun melalui Vikjen Pastor Petrus Rostandy OFMCap (Almarhum) bersama sejumlah tokoh umat yang berkecimpung dalam politik, pemerintahan, dan pendidikan mengadakan pertemuan untuk menjajaki kemungkinan mendirikan perguruan tinggi Katolik di Pontianak.

    Karena para peserta pertemuan menyadari bahwa kehadiran sebuah perguruan tinggi Katolik dapat membantu pemerintah dalam mengatasi ledakan lulusan SMA yang akan melanjutkan pendidikan dan kelak menjadi kader pembangunan dalam masyarakat.

    Kemudian sebagai realisasi dari pemikiran tersebut maka pada 12 November 1983, Fasifikus Petrus Djuman kemudian Polycarpus Widjaja Tandra (sekarang ketua Yayasan UWDP) dan Piet Andjioe Nyangun, mewakili para peserta pertemuan menghadap Notaris Tommy Tjoa Kheng Liet SH untuk mendirikan yayasan yang diberi nama Yayasan Widya Dharma dengan Akte Pendirian bernomor 111 tertanggal 12 November 1983.

    Baca Juga: Satu Bahasa Satu Suara Bahas Sinode di Paroki St. Agustinus dan Matias Darit

    Setelah mendapatkan Izin Operasional dari Kopertis Wilayah II di Palembang dan melakukan persiapan semestinya, perkuliahan pertama dimulai tanggal 1 September 1986.

    Mengingat Yayasan Widya Dharma belum memiliki gedung sendiri, maka untuk menyelenggarakan perkuliahan, Yayasan Widya Dharma meminjam dan menyewa ruangan SMA Soegijopranoto dan SMP Susteran SFIC untuk melangsungkan kuliah mahasiswa kala itu.

    Tonggak Penting

    Sejalan dengan perjalanan waktu kala itu kemudian berdirilah dua akademi pertama adalah Akademi Sekretari dan Manajemen kemudian jurusan Akademi Ilmu Administrasi. Inilah tonggak pertama sejarah Perguruan Tinggi Widya Dharma.

    Lanjut dari itu tonggak penting kedua dapat dikaitkan dengan momentum penyerahan Yayasan Widya Dharma kepada Ordo Kapusin Regio Kalimantan Barat.

    Pada tahun 1987, setelah melewati Rapat Pleno Dewan Pengurus, atas nama Yayasan Widya Dharma  Petrus Djuman selaku Ketua dan Polycarpus Widjaja Tandra yang kala itu selaku Sekretaris melalui surat resmi Dewan Pengurus Yayasan Widya Dharma Pontianak tertanggal 7 Desember 1987, menyampaikan pernyataan bahwa berdasarkan mandat rapat yayasan telah diputuskan untuk menyerahkan hak pengelolaan dan kepemilikan semua aset Yayasan Widya Dharma kepada Ordo Kapusin Regio Kalimantan Barat.

    Dengan penyerahan itu maka segala hak, kekayaan, dan hutang piutang (aktiva dan pasiva) Yayasan Widya Dharma  Pontianak terhitung tanggal 27 Desember 1987 beralih dari pengurus lama kepada Ordo Kapusin Regio Kalimantan Barat.

    Pada 02 Februari 1986

    Ordo Kapusin Regio Kalimantan Barat tepat pada 02 Februari 1986 melakukan perombakan susunan pengurus dengan Pastor Secundus van Donzel OFMCap sebagai Ketua, kemudian Polycarpus Widjaja Tandra sebagai Wakil Ketua, ditambah dengan anggota lainnya seperti Sr Jean Marie SFIC sebagai Sekretaris dan Pastor Petrus Rostandy OFMCap sebagai Bendahara.

    Berhubung Pastor Secundus kala itu sebagai Ketua Yayasan kemudian dimutasikan menjadi pembina di Seminari Tinggi di Sumatera Utara pada akhir 1988, maka Polycarpus Widjaja Tandra dipilih menjadi Ketua Yayasan yang adalah seorang awam dan salah satu pendiri yayasan yang masih dipertahankan oleh Dewan Pembina untuk menjadi Ketua Yayasan hingga sekarang.

    Perkembangan pesat

    Sejalan dengan perkembangan pendidikan untuk tahap ini dapat dikatakan bahwa tonggak ketiga adalah perkembangan pesat yang ditunjukkan dengan pembangunan gedung-gedung milik Yayasan dan pendirian Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi, Sekolah Tinggi Ilmu Komputer dan Akademi Bahasa Asing.

    Tahap itu terjadi sekitar tahun 2000 dan beberapa tahun berikutnya. Untuk itu setelah kurang lebih 15 tahun berdiri, Perguruan Tinggi Widya Dharma telah melebarkan sayapnya, fasilitas modern pembelajaran telah tersedia, berbagai prodi baru pun didirikan.

    Selain pembangunan gedung-gedung kampus, yayasan juga tidak lupa membangun sumberdaya manusianya. Kualitas dan kompetensi dosen terus ditingkatkan melalui pemberian beasiswa untuk studi lanjut ke jenjang S2 dan S3.

    UWDP miliki 15.300 lulusan

    Saat ini Yayasan Widya Dharma Pontianak telah memiliki seorang dosen berjabatan fungsional Profesor dan tujuh dosen bergelar doktor. Di akhir tahun 2020 akan tambah lima dosen bergelar Doktor.

    Tahun depan akan lulus lima dosen lagi yang bergelar Doktor. Sementara dosen bergelar S2 dari berbagai ilmu berjumlah 107 dosen. Jumlah wisudawan sejak 1990 hingga sekarang berjumlah 15.300 lulusan.

    Dalam perkembangan waktu  dengan perjuangan dan keringat tahap selanjutnya yang menambah nilai dari UWDP saat ini yakni pada poin tonggak keempat.

    Baca Juga: Paus ke Malta untuk berdoa serta bertemu migran

    Tonggak keempat ini adalah tentang pendirian Universitas Widya Dharma Pontianak. Wacana menyatukan STIE, STMIK, ABA, dan ASM Widya Dharma menjadi Universitas Widya Dharma Pontianak bermula dari paparan kebijakan dari Dirjen Kelembagaan dan Kerjasama Kemenristekdikti, Patdono Suwignjo untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pengelolaan pendidikan tinggi pada Maret 2017 dalam Forum Rapat Anggota APTIK di Unika Atma Jaya Makassar.

    Dalam merespons hal itu Yayasan Widya Dharma Pontianak kemudian membentuk panitia untuk mengkaji kemungkinan penyatuan keempat institusi perguruan tinggi Widya Dharma.

    Setelah melewati berbagai proses akhirnya SK pendirian Universitas Widya Dharma Pontianak terbit pada akhir tahun 2019. Dengan status baru itu perguruan tinggi Widya Dharma Pontianak akan memasuki tahap baru yang lebih menantang.

    Cita-cita dan tanggungjawab

    Menutup sambutannya Polycarpus Widjaja Tandra menyampaikan bahwa penyelenggaraan perguruan tinggi yang baik merupakan cita-cita dan tanggung jawab bersama masyarakat.

    Untuk itu baginya dibutuhkan perpaduan dan kerjasama antara penyelenggara pendidikan dan orang tua mahasiswa dalam mewujudkan perguruan tinggi yang bermutu.

    Sebagai pengelola Yayasan Widya Dharma Pontianak, mereka (Yayasan Widya Dharma Pontianak) menetapkan langkah-langkah strategis untuk terus membenahi diri, beradaptasi dengan perubahan, kemajuan, dan tuntutan zaman dalam proses penyelenggaraan pendidikan.

    Gedung Fransiskus Asisi

    Peresmian gedung ini mengambil nama dari Santo Fransiskus Asisi yang merupakan Bapa pendiri ordo Kapusin yang dikenal dengan saudara dina alias mendikan. Sesuai dengan Spritualitas Santo Fransiskus Assisi yang memperhatikan orang kecil dan orang yang terbelakang maka UWDP berharap dapat mengemban semangat yang sama dalam bidang pendidikan.

    Gubernur Kalbar Sutarmidji mengapresiasi upaya serta peranan UWDP yang selama ini sudah berkontribusi untuk memajukan pendidikan di provinsi Kalimantan Barat. Poin dalam apresiasi itu yakni  dalam hal pengembangan sumber daya manusia.

    Baca Juga: Misa Pembukaan Muskomda ke-IX Pemuda Katolik Kalimantan Barat oleh Mgr Agustinus Agus

    Bagi Sutarmidji tidak ada cara lain untuk memajukan pembangunan Kalimantan Barat selain jalan pendidikan. Sejalan dengan itu, Sutarmidji berharap gedung baru dapat lebih banyak mencetak generasi-generasi yang lebih baik dan mampu bersaing.

    “Sebenarnya kita ini mampu bersaing dengan orang, semakin banyak Universitas di Kalimantan Barat semakin baik. Apalagi Bapa Uskup Agustinus punya visi yang sama pula dalam hal pendidikan,” kata Gubernur Sutarmidji.

    Nilai saja tidak cukup

    Dalam kesempatan yang sama pula, Uskup Keuskupan Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus menegaskan pentingnya peranan pendidikan. Dalam sambutannya itu, Uskup Agustinus menekankan bahwa pendidikan hendaknya tidak dilihat untuk satu kalangan saja tetapi justru untuk berbagai kalangan.

    Untuk itu, Uskup Agustinus menilai dan berdoa kepada Universitas Widya Dharma Pontianak yang miliknya Ordo Kapusin yang sudah melaksankan misi kemanusiaan ini tetap terus mengedepankan nilai kemanusiaan dalam pendidikan.

    “Orang tidak cukup bagus dalam hal akademik saja, tetapi ilmu pengetahuan harusnya berperan nyata ditengah tantangan jaman,” kata Uskup Agustinus.

    Baca Juga: Vaksinasi Booster Di Gereja Katedral Santo Yoseph Pontianak

    Uskup Agustinus juga menggarisbawahi, untuk lulusan dari Universitas jangan hanya berharap untuk menunggu PNS saja, tetapi justru haruslah menggunakan ilmu untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

    Karena sejalan dengan itu Universitas Widya Dharma Pontianak sudah memiliki jurusan Manajemen Bisnis dan Teknologi Informasi yang memang saat ini dan kedepan terus dibutuhkan oleh masyarakat.

    Menutup sambutannya, Uskup Agustinus berharap dan mendoakan agar Universitas Widya Dharma semakin diberkati dan semakin maju dalam usaha untuk meraih visi dan misi yang telah digagas oleh Yayasan Widya Dharma.

    Peresmian Rumah Adat Dayak “Tampun Juah” Kabupaten Sintang

    Peresmian Rumah Adat Dayak “Tampun Juah” Kabupaten Sintang- KomsosKAP

    MajalahDUTA.Com, Sintang- Bupati Sintang , H Jarot Winarno melakukan Launching (operasional) Rumah Betang Kabupaten Sintang, di Jalan Kelam Desa Jerora 1 Kecamatan Sintang, (Selasa 1/3/2022).

    Dalam acara itu dihadiri oleh Uskup dari Keuskupan Sintang Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap, Ketua DPRD Sintang, Florensius Ronny, Dandim 1205 Sintang Letkol Inf Letkol Inf.Kukuh Suharwiyono, Kapolres Sintang AKBP Tommy Ferdian, Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Sintang Jeffray Edward, Mantan Wakil Bupati Sintang Ignasius Juan, Askiman Ketua MABM Sintang H Ade Kartawijdaya, anggota Forkopimda Kabupaten lainya.

    Hadir pula Pengurus ISKA Kabupaten Sintang dan Perwakilan Organisasi Masyarakat, Kepala OPD di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Sintang, tokoh Masyarakat, tokoh Adat dan tokoh Agama lainnya.

    Penyambutan rombongan

    Saat di tiba tangga rumah Betang tersebut, Bupati sintang dan rombongan disambut dengan acara ritual Adat Dayak yang dipandu oleh Bapak Linang kepala Adat Dayak Desa Jerora 1 dan Agen selaku Hakim Adat Dayak dari Forum Ketemenggungan Adat Dayak Kabupaten Sintang.

    Sebelum naik tangga Rumah Betang acara didahului dengan pengguntingan pita oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang Yosepa Hasnah, kemudian rombongan naiki tangga dan masuk ke bilik Rumah Betang dengan iringan tarian Dayak dari Sanggar Sebeji Sintang.

    Dalam sambutannya, Bupati Sintang menyampaikan sangat bangga bisa melakukan launching operasional rumah betang Kabupaten Sintang.

    Menurut Jarot Winarno,rumah betang ini megah, melewati sejarah panjang penuh masalah dan prasangka.

    “Dengan adanya Launching ini, jangan ada prasangka lagi diantara kita, tegas Bupati Sintang yang disambut rius tepung tangan tamu undangan yang hadir. Semuanya kita bangun sebaik-baiknya,” katanya.

    Rumah betang ini simbol dan memiliki filosofis yang tinggi seperti semangat gotong royong yang ada dalam Masyarakat Dayak terang Bupati Sintang.

    Masyarakat Suku Dayak sebagai masyarakat yang terbesar di Kabupaten Sintang bisa memupuk kebersamaan diantara masyarakat Kabupaten Sintang yang lainnya.

    Lex Populi Suprema Lex Esto yang berarti kemanusiaan merupakan hukum tertinggi. Maka dari itu, kemanusiaan kita dahulukan. Solidaritas tanpa batas kita utamakan” terang Bupati Sintang.

    Rumah Betang ini akan dikelola oleh Disporapar Sintang. Kita akan membenahi tata ruang seperti taman, pagar dan halaman.

    “Silakan bermusyawarah untuk menentukan nama Betang ini, bersama Dewan Adat Dayak Kabupaten Sintang. Semoga Rumah Betang ini bermanfaat bagi kita semua,” ujar Bupati Sintang.

    “Tampun Juah”

    Launching Rumah Betang Dayak Kabupaten Sintang ini yang awal pembangunannya telah dilakukan peletakan batu pertama oleh bupati Sintang Milton Crosby pada Senin 24/8/2015.

    Saat itu tempat itu diberi nama Rumah Betang Tampun Juah. Dalam tradisi masyarakat Dayak Ibanic Group “Tampun Juah” adalah sebuah kawasan permukiman awal yang tertua masyarakat Dayak Kalbar sebelum menyebar ke seluruh wilayah Kalimantan Barat.

    Kemudian daerah negara tentangga Serawak-Malaysia yang saat ini masih memiliki bukti sejarah yang berlokasi di Dusun Segumon Desa Desa Lubuk Sabuk Kecamatan Sekayam kabupaten Sintang.

    Ketua DAD Kab.Sintang Jeffrary Edward, SE,M.Si dalam sambutannya menyampaikan adanya Betang ini merupakan kerinduan masyarakat Dayak Kab. Sintang.

    Dengan selesainya pembangunan Betang ini sangat dinantikan, karena selama ini kita selalu menggunakan fasilitas umum yakni lingkungan Stadion Baning Sintang, Sehingga kita bersyukur, launching operasional bisa dilaksanakan.

    “Kita sudah lihat, Rumah Betang ini sudah siap digunakan, dengan perjalanan panjang dan proses yang banyak, hingga akhirnya kita bisa menikmati keindahan Rumah Betang ini,” kata Jeffrary Edward.

    Memang masih banyak fasilitas pendukung yang masih harus dibangun, maka saya selaku Ketua DAD Kab.Sintang, berharap kepada Pemkab Sintang untuk terus memberikan komitmen dalam rangka menyelesaikan kekurangan yang ada.

    Pengelolaan Rumah Betang

    Pengelola Rumah Betang ini adalah Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Sintang. Namun penggunaannya akan banyak oleh masyarakat adat Dayak.

    Kami siap bekerjasama dengan Pemkab Sintang tentang tatacara penggunaan Rumah Betang supaya tertata dengan baik dan tidak ada kesalahpahaman dalam memanfaatkan Betang. Yang bisa menggunakan Betang ini tidak hanya masyarakat adat Dayak saja, tetapi semua elemen masyarakat Kabupaten Sintang” tegas Jeffrary Edward.

    Saya mengajak masyarakat Dayak Kab Sintang untuk mendukung Pemkab Sintang, kita jaga Rumah Betang ini. kalau pandemi sudah menurun, kami merencanakan untuk melaksanakan Gawai Dayak di Rumah Betang ini untuk pertama kalinya. Tapi kita lihat kondisi yang ada dahulu.

    DAD Kabupaten Sintang sudah melaksanakan musyawarah DAD di 14 Kecamatan.

    Mereka juga sudah terlibat dalam penanganan korban banjir saat itu. Kepengurusan DAD Kabupaten Sintang tahun ini berakhir.

    “Jadi kita akan siapkan Musyawarah DAD Tingkat Kabupaten Sintang,” terang Jeffrary Edward.

    DAD Kabupaten Sintang mendukung Pemkab Sintang dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia masyarakat adat Dayak di Kabupaten Sintang dalam hal pendidikan dan di birokrasi pada jajaran Pemkab Sintang.

    Jeffray Edward juga meminta agar pembangunan di pelosok dan daerah terpencil agar terus dilakukan. Sebab, mereka menerima laporan dari masyarakat akan masalah investasi perkebunan kelapa sawit.
    “Saya harap Pemkab Sintang untuk memberikan solusi yang menguntungkan kedua belah pihak,” tuturnya.

    Di akhir sambutan nya Ketua DAD Kabupaten Sintang mengatakan bahwa tahun 2022 adalah masa berakhir kepengurusannya.

    Jeffray berpesan kepada seluruh masyarakat Dayak untuk menjaga ketertiban, kedamaian dan keamanan Kabupaten Sintang, sehingga pembangunan yang dilakukan di Kabupaten Sintang bisa dilaksanakan dengan baik.

    Simbolis Kunci

    Penyerahan Secara Simbolis Kunci Rumah Betang dari Stephen Saroenandus Kabid Penyehatan Lingkungan dan Tata Bangunan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Sintang kepada Bupati Sintang Jarot Winarno dan selanjutnya diserahkan kepada Kepala Dinas Olahraga dan Pariwisata, Kabupaten Sintang selaku pengelola Rumah Betang Kabupaten Sintang.

    Menurut Stephen Saroenandus Kepala Bidang Penyehatan Lingkungan dan Tata Bangunan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Sintang memiliki luas lahan 2,7 hektar.

    Bangunan Rumah Betang itu adalah jenis bangunan konstruksi beton bertulang. Dua lantai dan luas bangunan 3. 024 meter persegi dengan17 bilik.

    “Fasilitas pendukung yang ada saat ini adalah WC satu unit, listrik 16. 500 watt, dan air bersih berupa sumur bor satu unit,” terang Stephen Saroenandus.

    Dia juga mengatakan bahwa Rumah Betang itu dibangun dengan pendanaan APBD Kabupaten Sintang 4 tahap mulai 2015, 2017, 2018 dan 2019 dengan total dana 11,5 milyar.

    Stephen Saroenandus mengaku bahwa mereka telah menyiapkan perencanaan penataan kawasan rumah Betang dengan jumlah dana yang dibutuhkan 7 milyar. Kemudian itu nantinya dipergunakan untuk menata halaman dan yang lainnya.

    Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang, Yosepa Hasnah selaku penanggungjawab Launching Operasional Betang Kabupaten Sintang menyampaikan bahwa beroperasinya Rumah Betang tersebut sudah lama didambakan oleh masyarakat Suku Dayak Kabupaten Sintang.

    Yosepa Hasnah mengucapkan terima kasih kepada jajaran Pemkab Sintang yang sudah membangun Betang itu.

    “Mulai dari Kepemimpinan Bupati Sintang Milton Crosby sampai dr. H. Jarot Winarno serta DPRD Kabupaten Sintang yang secara konsisten mengakomodir dana pembangunan Rumah Betang ini,” kata Yosepha Hasnah.

    Yosepa Hasnah menjelaskan bahwa Rumah Betang tersebut mulai dibangun sejak tahun 2015 namun belum semua fasilitas selesai dibangun masih ada pekerjaan yang harus dilakukan hingga selesai.

    Hal yang belum selesai yakni seperti penataan halaman, pagar dan yang lain untuk diselesaikan.

    “Oleh sebab itu, kami mengharapkan agar penyelesaian fasilitas pendukung bisa dilakukan dengan menyesuaikan kondisi keuangan Pemkab Sintang,” harapnya.

    Menutup sambutannya Yosepa Hasnah berharap bahwa dengan launching operasional rumah Betang yang sudah ada itu, mereka bisa menggunakan dengan baik untuk kegiatan adat istiadat dan budaya sudah bisa dilaksanakan disini.

    Yosepa Hasnah mengingatkan bahwa dalam pengoperasian wadah tersebut harus tetap melaksanakan protokol kesehatan secara ketat.

    Pemberkatan Rumah Betang

    Setelah selesai acara launching, kemudian dilanjutkan dengan Pemberkatan Rumah Betang Kabupaten Sintang oleh Uskup Keuskupan Sintang Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap.

    Uskup Samuel didampingi Pastor Paroki Kristus Raja Katedral Sintang RD Florensius Abong kemudian memimpin Ibadat Pemberkatan Rumah Betang Kabupaten Sintang di Desa Jerora Satu Kecamatan Sintang.

    Dalam homilinya Uskup Samuel menyampaikan Betang tersebut adalah Betang yang sangat kuat dan kokoh sebagai sebuah bangunan.

    “Betang ini boleh kuat namun keimanan kita sebagai orang Kristen tidak kuat. Maka tidak ada artinya,” kata Uskup Samuel.

    Uskup Samuel juga menekankan peran penting dari arti Betang yang indah, kokoh dan kuat haruslah merasuk pada jiwa dan iman agar tetap kuat dalam Kristus Sang Penyelamat Sejati.

    Prosesi pemberkatan Rumah Betang Dayak Kabupaten Sintang itu ditandai dengan pemercikan air kudus ke semua ruang dan areal betang oleh Uskup Sintang.

    Usai mememerciki Rumah Betang, Uskup Samuel berpesan kepada umat untuk saling mendukung dan saling menguatkan, agar tangguh dalam menghadapi segala sesuatu.

    “Dan akhirnya boleh Berjaya bersama Tuhan dalam kehidupan abadi di surga,” kata Uskup Samuel.

    TERBARU

    TERPOPULER