Tuesday, April 28, 2026
More
    Home Blog Page 106

    Ornamen Suku Dayak Kanayatn dalam Gereja Katedral Keuskupan Agung Pontianak

    Gereja Katedral Keuskupan Agung Pontianak / Sumber Foto: Fr. Natanael, OFM Cap – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Pontianak – Sekilas mata melirik pada ornamen ini, pandangan pertama tentu akan tertuju pada ukiran burung enggangnya yang cukup besar dan yang bertengger di dua ujung tiang tersebut. Selain ornamen burung enggang yang  ada  di  atas  itu,  juga ada  ornamen – ornamen suku Dayak yang lainnya. Oleh karena itu, penting bagi kita melihat secara lebih jelas apa yang ada di tiang tersebut. Ornamen-ornamen yang ada itu tentu memiliki nilai dan makna serta apa yang mau dijelaskan melalui ukiran-ukiran yang indah itu.

    Ornamen-ornamen merupakan suatu simbolis untuk mengungkapkan sesuatu dari ornamen tersebut. Simbol merupakan bagian dari sistem tanda yang menjuk kepada sesuatu di luar dirinya. Ornamen-ornamen suku Dayak pada gerbang Gereja Katedral Keuskupan Agung Pontianak adalah simbol dari pandangan hidup orang suku Dayak mengenai alam semesta ini. Motif-motif pada gerbang tersebut berupa burung ruai, pakis atau akar, pucuk atau tunas rebung, gelang simpai, manusia, tempayan tajau, burung enggang dan perisai di antara dua tiang adalah simbol yang memiliki nilai historis dan makna filosofis. Dengan adanya ornamen- ornamen ini masyarakat Dayak Kanayatn dan umat Katolik mampu hidup berelasi dengan Tuhan dan manusia serta alam semesta dengan baik.

    Ornamen Sebagai simbol

    Ornamen-ornamen tersebut merupakan simbolis untuk mengungkapkan sesuatu dari ornamen tersebut. Simbol dari ornamen-ornamen yang ada gerbang itu lebih dari sekedar tanda. Berbicara tentang simbol, kata simbol diambil dari bahasa Yahudi yakni “symbollein” artinya mencocokkan. Jika memiliki arti “mencocokkan”, artinya menghubungkan dua entitas, maka bisa juga disebut symbola. Pada mulanya simbol adalah sebuah benda, tanda, atau sebuah kata yang berfungsi untuk saling mengenali dan dengan arti yang sudah dipahami oleh masyarakat. Maka tujuan dari sebuah simbol adalah untuk menghubungkan dan menggabungkan dua entitas. Oleh karena itu pengertian dari symbollein yakni dapat menggambarkan atau mengingatkan atau menunjuk kepada yang disimbolkan.

    Baca Juga: INKULTURASI SIMBOL-SIMBOL DALAM UPACARA “NYANGAHATN” MASYARAKAT DAYAK KANAYATN DALAM LITURGI GEREJA KATOLIK

    Ornamen-ornamen tradisional  dalam  masyarakat  Dayak  Kanayatn  dapat  dianggap sebagai  simbol-simbol  budaya  yang  mempresentasikan  nilai  historis  dan makna filosofis mengenai identitas orang dayak Kanayatn, apa yang dipersepsikan oleh mereka mengenai ornamen-ornamen tersebut. Kebudayaan dapat dipahami sebagai kerangka untuk beradaptasi terhadap ekosistem sosial budaya dan fisik. Namun kebudayaan juga bukan sesuatu yang konstan, selalu membuka peluang untuk berubah.  Suku dayak Kanayatn memiliki beberapa ornamen yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat dayak Kanayatn.

    Katedral Keuskupan Agung Potianak

    Keuskupan Agung Pontianak adalah salah satu Keuskupan yang besar di Indonesia. Keuskupan ini memiliki gereja Katedral yang berpusat di kota Pontianak, yakni gereja Katedral Paroki Santo Yosef Katedral Pontianak. Gereja Katedral Keuskupan Agung Pontianak itu merupakan simbol tahta uskup Keuskupan Agung Pontianak karena adanya sebuah Cathedra. Gereja Katedral Keuskupan Agung Pontianak yang ada saat ini diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat kala itu, yakni Drs. Cornelis, M.H tepatnya pada 19 Desember 2014, dan diberkati pada 19 Maret 2015 bertepatan dengan Pesta St. Yosef. Saat ini gereja Katedral Keuskupan Agung Pontianak itu ditangani secara parokial oleh imam Diosesan.

    Keberadaan gereja Katedral Keuskupan Agung Pontianak saat ini tidaklah lepas dari sejarah dan campur tangan kegembalaan para imam dari ordo Kapusin (OFMCap). Pada sejarahnya, pembangunan gereja Ketedral Keuskupan Agung Pontianak yang pertama dimulai sejak tahun 1908 oleh Prefek Apostolik Dutch Borneo Mgr. Pacificus Bos, OFMCap setelah membeli tanah untuk membangun gereja, pastoran, rumah yatim piatu, sekolah, pemakaman, dan susteran. Kemudian gereja tersebut diberkati pada 9 Desember 1909, sekaligus dengan pendiriana  paroki  secara  resmi.  Gereja  itu  diresmikan  menjadi  gereja  katedral  sejak  17 November 1918 seiring dengan ditahbiskannya Mgr. Jan Pacificus Bos, OFMCap menjadi Uskup Tituler Capitolias, merangkap Vikaris Apostolik Dutch Borneo, dan secara parokial berubah menjadi Paroki Katedral Pontianak.

    Seiring perkembangan umat dan keadaan fisik bangunan gereja awal yang sudah tidak layak, maka bangunan tersebut dirubuhkan pada tahun 2011 untuk dibangun gereja baru yang berkapasitas 3.000 orang. Gereja Katedral St. Yosef Pontianak lantas dibangun secara baru dengan perpaduan arsitektur Romawi dan Timur Tengah. Ornamen bernuansa Dayak mendominasi eksterior bangunan, dan interiornya didominasi nuansa khas Tionghoa berpadu dengan gaya klasik Eropa. Arsitektur gereja yang baru itu diirancang untuk semakin memperkuat kesan kekhasan umat Keuskupan Agung Pontianak yang multi etnis. Gereja Katedral Keuskupan Agung Pontianak yang sekarang ini juga sangat dikenal sebagai bangunan gereja Katolik terbesar dan termegah di Asia Tenggara.

    Suku Dayak Kanayatn

    Suku Dayak Kanayatn adalah salah satu subsuku yang ada di Indonesia, khususnya Kalimantan Barat. Kata Dayak awalnya ditulis Daya’ kemudian berjalannya waktu, kata ini disepakati dan diperbaiki, dan kata “Dayak” yang benar iyalah “Dayak” yang artinya daya atau hulu. Sedangkan Kanayatn artinya adalah Bukit. Maka Dayak Kanayatn adalah kelompok suku Dayak yang tinggal di Hulu atau di bukit. Rumah Radakng, bertani atau berladang, hidup dalam berkelompok, dan sebagai masyarakat yang hidup dalam adat adalah ciri khas dari suku ini.

    Pada mulanya suku Dayak Kanayatn sangat diidentikkan dengan penduduk di Kabupaten Landak yang mayoritas adalah orang Dayak dari sub suku Dayak Kanayatn. Mereka menyebut diri Kanayatn saat berhadapan dengan orang Dayak dari sub suku Dayak lain atau orang dari golongan suku bangsa yang berbeda. Dengan sesama orang Dayak di kabupaten Landak ada kecenderungan untuk mengidentifikasikan diri mereka dengan nama tempat pemukiman mereka. Masyarakat Dayak Kanayatn yang bermukim di daerah Bukit Telaga menyebut diri mereka sebagai orang Bukit.

    Masyarakat Dayak yang tinggal di daerah Sungai Mempawah menyebut diri mereka orang Mempawah, dan yang bermukim di Sungai Ambawang menyebut diri mereka urakng Ambawang. Dalam pergaulan antar masyarakat Dayak, misalnya orang Dayak Ambawang dengan orang Dayak Mempawah, mereka akan mengidentifikasi dirinya sebagai urakng diri’ atau orang kita. Orang Melayu mereka sebut orang Laut dan orang Cina disebut sobat. Selain itu terdapat pula sub-suku lainnya seperti Dayak Bakati’ dan Banyadu’ yang juga dapat disebut dalam golongan Dayak Kanayatn berdasarkan banyak persamaan dalam tradisi lisan dan hukum adat.

    Baca Juga: Menilik kembali perjalanan Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak 1909-2009

    Bahasa Kanayatn merupakan lingua franca bagi sub-sub suku Dayak yang terdapat di Kabupaten Pontianak dan Landak. Hal ini diduga karena Dayak Kanayatn merupakan kelompok induk dari sub-sub suku yang lain. Penyebaran bahasa Kanayatn jauh lebih luas dari bahasa-bahasa Dayak lainnya. Dalam konteks ini kehadiran sekolah misi agama Katolik di Nyarumkop merupakan faktor utama yang mendorong regionalisasi bahasa Kanayatn. Anak- anak yang berlatarbelakang bahasa ibu non-Kanayatn, memperoleh ketrampilan berbahasa Kanayatn lewat pergaulan mereka dengan anak-anak Kanayatn di persekolahan tersebut. Orang Kanayatn menghuni wilayah  pedalaman Kabupaten Pontianak  (sekarang termasuk  dalam wilayah Kabupaten Landak), Kabupaten Sambas, Kabupaten Sanggau dan Kota Pontianak. Jumlah keseluruhan orang Dayak Kanayatn diperkirakan 300.000 orang pada tahun 1997, hal ini berarti kurang lebih sepertiga dari populasi orang Dayak di Kalimantan Barat pada masa itu.

    Ornamen Suku Dayak Kanayatn dalam Gereja Katedral Pontianak

    Perpaduan motif burung ruai, pakis dan akar-akar: Burung ruai adalah burung terindah di Kalimantan. Selain indah, burung inipun dikenal sebagai burung yang sangat lincah, elok, dan menawan. Kemudian dipadukan dengan motif pakis dan akar-akar. Motif pakis atau paku merupakan tumbuhan yang mudah hidup di mana-mana, motif ini lebih menggambarkan kehidupan manusia, dilihat dari lekukan pada ujung daun mudanya hingga membentuk lingkaran. Gambarannya adalah terkadang manusia diposisi atas dan juga di bawah, terkadang mengalami perasaan senang dan juga sedih, dan bagaimana sikap sopan santun antara orang yang tua dan  yang muda. Inilah letak gambaran kehidupan manusia untuk selalu bersyukur atas apa yang diterima hingga menemukan titik terakhir yakni kematian. Kemudian motif akar, jika motif pakis mengangkat tentang bersyukur, maka motif akar lebih pada perjuangan hidup manusia. Akar pada umumnya mampu menembus dan menelusuri sesuatu untuk bertahan dan mencari kehidupan. Gambaran akar dalam mempertahankan budaya adalah akar memiliki peran penting untuk menyerap air (sumber kehidupan manusia) dan sebagai penopang tumbuhnya budaya di atas tanah.

    Motif-motif pada tiang: Pada tiang paling bawah terdapat kombinasi motif pakis, akar dan pucuk rebung. Motif-motif ini ditempatkan pada posisi bagian bawah setelah pondasi dasar, ini merupakan dasar dari prinsip hidup untuk terus berjuang, mempertahankan budaya. Kemudian di atas kombinasi motif tersebut terdapat juga motif gelang simpai, makna dari gelang simpai adalah ikatan persaudaraan, pertemanan. Selanjutnya motif manusia, motif ini biasanya disebut sebagai motif kamang yaitu menghadirkan roh leluhur dalam bentuk manusia. Roh yang dimaksud adalah roh dari nenek moyang yang dianggap pada masa itu memiliki peranan dalam kehidupan atau perjuang dalam masyarakat Dayak. Kemudian dilanjutkan dengan motif gelang simpai di bagian atas kepala manusia tersebut, mau menggambarkan bahwa suku Dayak memiliki ikatan yang erat dengan hukum adat, hukum alam dan hukum Allah, ini diperlihatkan dari ukiran tempayan tajau dengan lapisan motif naga. Tempayan tajau merupakan wadah untuk menyimpan atau menampung benda-benda berharga, bahkan dalam acara adat, tempayan ini dapat difungsikan sebagai pengganti manusia.  Dan ukiran naga memiliki lambang kebesaran atau kekuasaan dari dunia bawah yakni tanah dan air. Kemudian di  posisi  paling  puncak adalah  ukiran burung enggang.  Burung  enggang  adalah  sebagai lambang kehidupan, kesetiaan, perdamaian dan kepemimpinan, gambaran dari kesatuan alam dunia tempat makhluk hidup berada dan alam surgawi tempat Jubata (Tuhan) bertahta.

    Perisai atau tameng atau jabakng diletakkan pada bagian tengah atau di antara dua tiang. Pada perisai tersebut terdapat motif kamang. Kamang adalah roh-roh leluhur dari orang Dayak yang diaplikasikan pada perisai atau Tameng karena dipercaya dapat meningkatkan daya magis yang mampu membangkitkan semangat yang menyandangnya. Seluruh ornament yang ada itu terukir indah pada kayu ulin dengan pondasi yang telah dipermanenkan dengan disemen dan ada juga yang dibuat secara kuat dengan besi atau Teknik desain arsitektur masa kini.

    Relevansi Ornamen Suku Dayak dengan Gereja Katolik

    Keberadaan ornamen-ornamen suku Dayak Kanayatn yang terdapat pada bangunan arsitektur gereja Katedral Keuskupan Agung Pontianak sejatinya hendak menyatakan dimensi inkulturasi yang dihadirkan gereja bagi kehidupan umat beriman di Keuskupan Agung Pontianak. Nilai-nilai inkulturasi dimasukkan ke dalam seni bangunan gereja Katedral itu dengan tujuan agar umat beriman semakin menghayati iman Kekatolikan yang sejati seturut budaya dan kesenian setiap umat. Identitas umat katolik yang berada di Keuskupan Agung Pontianak menjadi semakin nyata berkat kehadiran ornamen-ornamen Dayak. Umat Katolik di Keuskupan Agung Pontianak jelas semakin terbantu untuk mengungkapkan iman yang sangat berkenaan dengan identitas mereka, baik itu yang beretnis, Tionghoa maupun yang terutama bagi mayoritas umat yang beretnis Dayak. Dengan demikian, kesatuan hidup beriman umat Katolik Keuskupan Agung Pontianak dengan identitas etnis dan budaya leluhur semakin meneguhkan iman umat serta memotivasi umat untuk setia dalam beriman secara kontekstual.

    Sumber Referensi

    Andasputra,  Nico  –  Julipin  Vincentius.  Mencermati  Dayak  Kanayatn.  Pontianak: Insitut Dayakologi Pontianak, 1997.

    Chang, William (Ed.). Kuntum Coklat di Tengah Belantara Borneo: Cukilan Cerita 100 Tahun Kapusin, Pontianak: [Tanpa tempat penerbit], 2005.

    Florus, Paulus, dkk (Ed.). Kebudayaan Dayak: aktualisasi dan Transformasi,  Pontianak: Insitut Dayakologi Pontianak, 1997.

    F. W. Dilliston The Power Of Symbols: Daya Kekuatan Simbol, Yogyakarta: Kanisius, 2006.

    H, Bambang Suta Purwana. Identitas Dan Aktualisasi Budaya Dayak Kanayatn di Kabupaten Landak Kalimantan Barat, Pontianak: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2007.

    Sejarah Ordo Saudara-saudara Dina Kapusin 1525-1990, Parapat: [Tanpa tempat penerbit],1990.

    Selamat Jalan Sr. Rufina Iyaik SFIC

    Kenangan dalam Potret- Sr. Rufina Iyaik SFIC

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Suster SFIC (Sororum Francisalium Ab Immaculata Conceptione A Beata Matre Dei) tengah berduka. Telah berpulang menghadap Bapa di surga, Sr. Rufina Iyaik SFIC di Rumah Sakit St. Antonius Pontianak pada Kamis, 1 Desember 2022 pukul 19.45 WIB.

    Misa arwah akan dilaksanakan pada hari Jumat, 2 Desember 2022 pukul 19.00 WIB dan Sabtu, 3 Desember 2022 pukul 19.00 WIB.

    Untuk misa Requiem akan dilaksanakan di kapel susteran St. Antonius Pontianak pada hari Minggu, 4 Desember 2022 pukul 09.00 WIB.

    “Menemanimu di saat-saat terakhir dan menyaksikanmu berpulang dg sangat tenang dihantar doa-doa dari para suster.
    Sr Rufina yg terkasih….selamat jalan.
    Kami mengasihimu, kau tau itu….
    kini cintamu pad Yesus telah sempurna adanya.
    Beristirahatlah dalam damai Tuhan.
    Doakan kami yg masih berziarah di dunia dan sampai bertemu kembali di Yerusalem surgawi,” Suster Serli Sigiro SFIC.

     

    Teologi Benediktus XVI bukan untuk masa lalu, tetapi berbuah untuk masa depan

    Pope Francis with Pope emeritus Benedict XVI (archive photo) (Vatican Media)

    MajalahDUTA.Com, Spritualitas- Pada upacara penghargaan Ratzinger Prize 2022, Paus Fransiskus menyoroti kontribusi signifikan dari para penerima – Pastor Michel Fédou SJ, dan Profesor Joseph H.H. Weiler – dan memuji penghargaan prestisius karena memberikan indikasi garis komitmen untuk studi dan kehidupan, yang harus ditawarkan kepada semua orang.

    Paus Fransiskus berbicara kepada para peserta pada upacara penghargaan Ratzinger Prize 2022 pada hari Kamis, di mana penerima tahun ini – Pastor Michel Fédou dan Prof. Joseph Halevi Horowitz Weiler – diberikan penghargaan bergengsi tersebut.

    Penghargaan Ratzinger yang diluncurkan pada tahun 2011, diberikan kepada para cendekiawan yang menonjol karena penelitian ilmiah mereka di bidang teologi, seperti Joseph Ratzinger/Paus Benediktus XVI. Selama bertahun-tahun, penerima termasuk komposer, seniman, dan penulis yang telah memberikan kontribusi penting bagi dunia seni yang berkaitan dengan agama Kristen.

    Kontribusi Benediktus XVI

    Dalam pidatonya, Paus Fransiskus menyapa mereka yang hadir pada acara tersebut, dan khususnya, dua penerima Penghargaan Ratzinger 2022. Paus Fransiskus kemudian menyoroti “kehadiran rohani dan pendampingan dalam doa” Paus emeritus Benediktus XVI untuk seluruh Gereja, dan menyoroti bahwa kesempatan itu menegaskan kembali kontribusi karya dan pemikiran teologisnya yang “terus berbuah dan bekerja.”

    Mengingat ulang tahun ke-60 pembukaan Konsili Vatikan II yang baru-baru ini diperingati, Paus Fransiskus menunjuk peran Pastor Joseph Ratzinger di Konsili, sebagai seorang ahli yang membantu pembuatan beberapa dokumennya; dan kemudian dalam panggilannya sebagai Paus Benediktus XVI untuk “memimpin komunitas gerejawi dalam implementasinya, baik bersama St. Yohanes Paulus II maupun [saat itu sebagai Gembala Gereja universal.”

    Bahkan baru-baru ini, kata Paus Fransiskus, Benediktus XVI masih ingin menggarisbawahi bagaimana Konsili secara abadi menjalankan fungsinya yang penting, karena memberi kita pedoman yang diperlukan untuk merumuskan kembali pertanyaan sentral tentang sifat dan misi Gereja di zaman kita (dalam pesannya untuk Simposium Internasional ke-10 Ratzinger Foundation, 7 Oktober 2022). Nyatanya, Benediktus XVI telah “membantu kami membaca dokumen-dokumen konsili secara mendalam, mengusulkan sebuah “hermeneutika reformasi dan kontinuitas.”

    Selain itu, kontribusi teologis Benediktus XVI ditawarkan melalui penerbitan Opera Omnia, edisi bahasa Jerman yang hampir selesai, sementara terjemahan dalam bahasa lain terus berkembang. “Kontribusi ini, memberi kita landasan teologis yang kuat bagi perjalanan Gereja: sebuah Gereja yang ‘hidup’, yang diajarkannya kepada kita untuk melihat dan hidup sebagai persekutuan, dan yang sedang bergerak – dalam “sinode” – dibimbing oleh Roh Gereja. Tuhan, selalu terbuka untuk misi mewartakan Injil dan melayani dunia tempat ia hidup.”

    Paus kemudian mendorong kerja sama antara Yayasan Vatikan yang dinamai Beato Yohanes Paulus I dan St. Yohanes Paulus II, serta Yayasan Joseph Ratzinger, mencatat bahwa pelayanan Yayasan Benediktus XVI ditempatkan dalam perspektif keyakinan bahwa magisterium dan pemikiran “tidak diarahkan ke masa lalu, tetapi berbuah untuk masa depan, untuk implementasi Konsili dan untuk dialog antara Gereja dan dunia saat ini, di bidang yang paling topikal dan diperdebatkan, seperti ekologi integral, hak asasi manusia, dan perjumpaan antara budaya yang berbeda.”

    Para penerima penghargaan

    Paus Fransiskus kemudian mengalihkan perhatiannya kepada para pemenang hadiah – Pastor Michel Fédou dan Prof. Joseph Halevi Horowitz Weiler – menunjuk pada pencapaian mereka di bidang studi dan pengajaran – bidang yang dianggap oleh Ratzinger “sangat penting.”

    Tentang Pastor Fedou

    Tentang Pastor Fédou Paus mencatat bahwa “ahli teologi Kristen” ini telah mendedikasikan hidupnya untuk belajar dan mengajar, khususnya karya Bapa Gereja Timur dan Barat dan perkembangan Kristologi selama berabad-abad. Selain itu, agar tidak memusatkan pandangannya hanya pada masa lalu, pengetahuannya tentang tradisi iman menyuburkan dalam dirinya pemikiran yang hidup, yang juga mampu menjawab isu-isu terkini di bidang ekumenisme dan dalam hubungan dengan agama-agama lain. Untuk Pastor Fédou, lanjut Paus, “kami mengakui dan memberikan penghormatan kepada pewaris yang gagah berani dan penerus tradisi besar teologi Prancis, yang telah memberi para penguasa Gereja status Pastor Henri De Lubac dan perusahaan budaya yang solid dan berani seperti The Sources. Chrétiennes, yang penerbitannya dimulai delapan puluh tahun yang lalu.”

    “Tanpa kontribusi teologi Prancis ini, kekayaan, kedalaman, dan keluasan refleksi yang dipupuk oleh Konsili Vatikan II tidak akan mungkin terjadi, dan kita harus berharap bahwa konsili ini akan terus menghasilkan buah bagi penerapannya dalam jangka panjang ,” kata Paus Fransiskus.

    Prof Weiler

    Paus Fransiskus juga memuji Prof. Weiler sebagai penganut agama Yahudi pertama yang dianugerahi penghargaan bergengsi itu. Paus menyambut baik hal ini, mencatat bahwa Benediktus XVI dengan tegas dan bangga menegaskan bahwa “tujuan dari karya teologis pribadinya sejak awal adalah berbagi dan mempromosikan semua langkah rekonsiliasi antara orang Kristen dan Yahudi yang diambil sejak Konsili.”

    Lebih lanjut Bapa Suci mencatat keharmonisan antara Benediktus XVI dan Prof. Weiler dalam isu-isu lain, termasuk hubungan antara iman dan nalar yuridis di dunia kontemporer; krisis positivisme yuridis dan konflik yang ditimbulkan oleh perluasan hak subjektif yang tidak terbatas; dan pemahaman yang tepat tentang pelaksanaan kebebasan beragama dalam budaya yang cenderung membuang agama ke ranah privat.

    Prof Weiler, kata Paus, tidak hanya melakukan studi mendalam tentang mereka, tetapi juga telah mengambil posisi berani, bergerak, bila perlu, dari tingkat akademik ke tingkat diskusi – atau ‘discernment’ – dalam mencari konsensus tentang nilai-nilai fundamental dan penyelesaian konflik demi kebaikan bersama.

    “Penghargaan ini, selain mewakili pengakuan yang memang layak, menawarkan indikasi garis komitmen, studi, dan kehidupan yang sangat penting, yang menimbulkan kekaguman dan permintaan kami untuk diusulkan menjadi perhatian semua orang.”

    Sebagai penutup, Paus Fransiskus mengulangi ucapan selamatnya kepada para penerima penghargaan dan berharap yang terbaik bagi mereka dalam melanjutkan usaha mereka. Dia juga memohon berkat Tuhan atas mereka, keluarga dan teman mereka, serta para anggota dan pendukung Ratzinger Foundation.

     

    Calon Imam dan Spiritualitas Adven

    RP. Basilius Soedibja, SJ. Prefek Kerohanian Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang

    MajalahDUTA.Com, Spritualitas- Malang (02/12/2022), Sekitar pukul 13.00, kami mewawancari RP Basilius Soedibja, SJ di kantornya berkaitan pemaknaan spiritualitas adven bagi calon imam.

    Meskipun sepuh, beliau sangat bersemangat dan aktif dalam membina para calon imam di Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang, khususnya dalam pembinaan kerohanian. Beliau berencana akan berangkat ke Jakarta untuk suatu urusan, meskipun demikian beliau menyanggupi untuk diwawancarai di tengah kesibukannya.

    Dari segi spiritual, Pastor Basilius Soedibja mengungkapkan bahwa masa Adven bukanlah momen yang istimewa bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia rohani. Namun, bagi mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk Tuhan itu, masa Adven adalah masa pengharapan dan sukacita karena Tuhan menjanjikan seorang Juruselamat bagi umat manusia. Juruselamat menjamin hidup bakti kita itu dalam perenungan masa Adven.

    Peristiwa harapan

    Masa Adven juga merupakan suatu peristiwa di mana kita dapat berharap kepada Tuhan dan hidup dalam pengharapan akan kehadiran Juruselamat, menjamin kehidupan yang taat kepada Tuhan.

    Para calon imam dapat merefleksikan masa Adven melalui berbagai cara. Pertama, ikuti liturgi gereja bersama-sama dan memaknai janji yang Tuhan berikan kepada kita. Kita dapat merefleksikannya dalam liturgi terutama pada bacaan Advent yang terdiri dari dua bagian. Bacaan pada Adven pertama dan kedua adalah gambaran akan akhir zaman.

    Masa Adven ketiga dan keempat lebih merupakan persiapan kehadiran Tuhan yang kita yakini dalam Natal. “Kita mempersiapkan hati untuk menyongsong sang penebus,” ungkap Romo Basilius.

    Baca juga: Spiritualitas Imam Projo (Diosesan) adalah Yesus sendiri

    Berkaitan dengan Adven dan karakter komuniter yang menjadi slogan tahunan seminari tinggi kali ini, ada beberapa hal yang dapat direnungkan. Pertama, penghayatan dalam ibadat-ibadat yang merupakan sumber iman kita.

    Ibadat Advent didasarkan pada keyakinan bahwa Tuhan menjanjikan seorang Penebus yang akan menyelamatkan umat manusia. Secara konkrit dapat terwujud dalam wujud suasana, harapan serta semangat ketika kita melaksanakan tugas-tugas yang kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

    Memaknai kehadiran Tuhan di dunia

    Romo Basilius menyampaikan beberapa tradisi-tradisi Adven yang dapat dilakukan oleh para calon Imam. Tradisi-tradisi tersebut dapat dilakukan dengan cara melakukan ibadat Korona yang dilakukan setiap Sabtu (ibadat sabda) di mana kita diingatkan kembali akan sabda Allah.

    Selain itu, kita dapat berdinamika melalui ibadat sabda Korona tersebut. Selain ibadat Korona, kita juga dapat melaksanakan Novena Kelahiran Tuhan.

    Umumnya, orang mempersiapkan hiasan-hiasan atau bentuk-bentuk visual estetis sebagai ungkapan kegembiraan dalam menyambut Natal.

    Baca juga: Buah, Keutamaan dan Semangat dalam menyelami Spritualitas Bruder Maria Tak Bernoda (MTB)

    Romo Bas menambahkan, “Saya mengikutsertakan Seminaris membuat gua-gua Natal dan hiasan-hiasannya, harapannya seminaris itu bisa memaknai kehadiran Tuhan di dunia,” kata Romo Basilius. Natal tidak hanya berarti ungkapan kegembiraan saja, melainkan untuk tujuan khusus di mana kita diingatkan akan maksud Tuhan yang datang ke dunia ini.

    Keprihatinan Tuhan terletak pada dosa-dosa manusia sehingga Ia mengutus Yesus Kristus ke dunia untuk menyelamatkan manusia. Aplikasinya, ketika kita diutus kelak, misi kita masing-masing nanti didasarkan atas misi Kristus yakni keselamatan manusia serta memberikan kabar gembira pada dunia.

     

    Hanya dialog dan perjumpaan yang dapat mengatasi konflik; Pesan Paus kepada Bartholomew

    Pope Francis and H.B. Batholomew I of Constantinople (Vatican Media)

    MajalahDUTA.Com, Berita- Delegasi Vatikan yang dipimpin oleh Kardinal Sandri mengunjungi Istanbul dalam rangka Pesta St. Andreas Rasul dan menyampaikan “kasih sayang persaudaraan” Paus Fransiskus kepada Patriark Ekumenis Konstantinopel Bartholomew.

    Dalam pertemuannya itu Bapa Paus mengatakan salah satu bidang kerja sama yang paling berhasil antara Patriarkat dan Gereja Katolik adalah dialog antaragama untuk mempromosikan perdamaian.

    Mengikuti tradisi lama, pada kesempatan Pesta St. Andreas Rasul hari ini, santo pelindung Konstantinopel, Paus Fransiskus telah mengirim delegasi ke Istanbul untuk menyampaikan salam dan jaminan “kasih sayang persaudaraan” kepada Patriark Ekumenis Bartolomeus.

    Pertukaran Delegasi tahunan

    Kunjungan tersebut merupakan bagian dari pertukaran Delegasi tahunan antara Takhta Suci dan Patriarkat untuk pesta pelindung mereka masing-masing, pada tanggal 29 Juni di Roma, Pesta Santo Petrus dan Paulus, dan pada tanggal 30 November di Istanbul.

    Dalam pesannya, Paus Fransiskus mencatat bahwa kunjungan ini adalah “ekspresi kedalaman ikatan” yang menyatukan Gereja Katolik dan Ortodoks Konstantinopel dan “tanda yang terlihat” dari “harapan yang disayangi untuk persekutuan yang lebih dalam”, yang katanya adalah “komitmen yang tidak dapat dibatalkan untuk setiap orang Kristen” serta “prioritas yang mendesak di dunia saat ini”.

    “Dunia saat ini sangat membutuhkan rekonsiliasi, persaudaraan, dan persatuan.”

    Perpecahan adalah akibat perbuatan dosa

    Paus lebih lanjut menyoroti kebutuhan untuk terus menganalisis alasan historis dan teologis pada asal mula perpecahan yang sedang berlangsung antara kedua Gereja “dalam semangat yang tidak bersifat polemik atau apologetik tetapi sebaliknya ditandai dengan dialog otentik dan keterbukaan timbal balik”.

    Demikian juga, lanjutnya, mereka harus “mengakui bahwa perpecahan adalah hasil dari tindakan dan sikap berdosa yang menghalangi karya Roh Kudus, yang membimbing umat beriman ke dalam kesatuan dalam keragaman yang sah”.

    Oleh karena itu mereka dipanggil “untuk bekerja menuju pemulihan persatuan di antara umat Kristiani tidak hanya melalui kesepakatan yang ditandatangani tetapi melalui kesetiaan pada kehendak Bapa dan membedakan dorongan Roh”.

    Baca juga: Dunia Membutuhkan Orang yang Dikuduskan Sebagai Seniman Perdamaian

    “Kita dapat bersyukur kepada Tuhan bahwa Gereja-Gereja kita tidak menyerah pada pengalaman perpecahan di masa lalu dan saat ini, tetapi, sebaliknya, melalui doa dan kasih persaudaraan berusaha untuk mencapai persekutuan penuh yang akan memampukan kita suatu hari nanti, pada waktu Tuhan, untuk berkumpul bersama di meja Ekaristi yang sama”

    Paus mengatakan bahwa saat mereka melakukan perjalanan bersama menuju tujuan persatuan, Gereja Katolik dan Patriarkat Ekumenis sudah bekerja sama untuk kebaikan bersama keluarga manusia di banyak bidang termasuk menjaga ciptaan, mempertahankan martabat setiap orang, memerangi bentuk-bentuk modern. perbudakan, dan mempromosikan perdamaian.

    Dialog dan perjumpaan adalah satu-satunya jalan yang layak untuk mengatasi konflik. Salah satu bidang kerja sama yang paling berhasil, kata pesan itu, adalah dialog antaragama.

    Paus mengingat secara khusus Perjalanan Apostoliknya ke Bahrain baru-baru ini dalam rangka Forum Dialog: Timur dan Barat untuk Hidup Berdampingan Manusia”, menegaskan sekali lagi bahwa “Dialog dan perjumpaan adalah satu-satunya jalan yang layak untuk mengatasi konflik dan segala bentuk kekerasan” .

    Doa untuk para korban serangan baru-baru ini di Istanbul

    Mengakhiri pesannya Paus Fransiskus mengenang para korban serangan teroris baru-baru ini di Istanbul pada 12 November, mempercayakan mereka pada belas kasihan Tuhan, sambil berdoa dia akan mengubah hati mereka yang melakukan atau mendukung tindakan jahat tersebut.

    Salam untuk Bartholomew selama Audiensi Umum hari Rabu

    Paus kembali menyapa “saudara terkasihnya” Bartholomew selama audiensi Umum hari Rabu. Setelah Katekese, dia meminta perantaraan Rasul Petrus dan Andreas untuk persatuan di antara orang Kristen dan perdamaian di dunia, terutama di “Ukraina yang tersiksa”.

    “Semoga perantaraan saudara suci Rasul Petrus dan Andreas segera memungkinkan Gereja untuk sepenuhnya menikmati persatuan dan kedamaiannya bagi seluruh dunia, terutama pada saat ini untuk Ukraina yang tersayang dan tersiksa, selalu dalam hati kita dan dalam doa kita.”

    Baca juga: Wajah Baru Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan

    Semoga St Andrew “mengajari kita untuk mencari Mesias di setiap saat dalam hidup kita dan mewartakan dia dengan sukacita kepada semua orang di sekitar kita”, katanya kemudian berbicara kepada para peziarah berbahasa Spanyol.

    Delegasi dari Vatikan

    Menurut Kantor Pers Takhta Suci, pesan Paus disampaikan kepada H.B. Batholomew oleh Kardinal Leonardo Sandri dan dibacakan pada akhir Liturgi Ilahi yang dipimpin oleh Patriark Ekumenis, Yang Mulia Bartholomew, di gereja Patriarkal St. George di Fanar.

    Prefek Emeritus Dikasteri untuk Gereja-Gereja Timur didampingi oleh Mgr. Andrea Palmieri, Wakil Sekretaris Dikasteri untuk Promosi Persatuan Kristiani.

    Setelah Liturgi dipimpin oleh Patriark Ekumenik, Delegasi Vatikan, bergabung dengan Nuncio Apostolik untuk Turki, Uskup Agung Marek Solczyński saat bertemu dengan Patriark dan mengadakan pembicaraan dengan Komisi Sinode yang bertanggung jawab atas hubungan dengan Gereja Katolik.

     

    Beato Dionisius dan Redemptus a Cruce, Martir di Indonesia

    Sebuah gambar devosional Beato Dionisius dan Redemptus, O.C.D. (Dionisius di sebelah kiri)- Sumber Foto: Wikipedia

    MajalahDUTA.Com, Sejarah– Pierre Berthelot – demikian nama Santo Dionisius – lahir di kota Honfleur, Prancis pada tanggal 12 Desember 1600. Ayahnya Berthelot dan Ibunya Fleurie Morin adalah bangsawan Prancis yang harum namanya. Semua adiknya: Franscois, Jean, Andre, Geoffin dan Louis menjadi pelaut seperti ayahnya.

    Sang ayah adalah seorang dokter dan nakoda kapal. Pierre sendiri semenjak kecil (12 tahun) telah mengikuti ayahnya mengarungi lautan luas; dan ketika berusia 19 tahun ia sudah menjadi seorang pelaut ulung. Selain darah pelaut, ia juga mewarisi dari ayahnya hidup keagamaan yang kuat, yang tercermin di dalam kerendahan hatinya, kekuatan imannya, kemurnian dan kesediaan berkorban.

    Baca juga: Konferensi internasional menelusuri sejarah Kanon Reguler di Gereja

    Ia kemudian memasuki dinas perusahaan dagang Prancis. Dalam rangka tugas dagang, ia berlayar sampai ke Banten, Indonesia. Tetapi kapalnya dibakar oleh saudagar-saudagar Belanda dari kongsi dagang VOC. Berkat pengalamannya mengarungi lautan, ia sangat pandai menggambar peta laut dan memberikan petunjuk jalan.

    Pierre kemudian bekerja pada angkatan laut Portugis di Goa, India. Namun ia senantiasa tidak puas dengan pekerjaannya itu. Ada keresahan yang senantiasa mengusik hatinya. Ia selalu merenungkan dan mencari arti hidup yang lebih mendalam. Ketika itu ia sudah berusia 35 tahun.

    Akan tetapi usia tidak menghalangi dorongan hatinya untuk hidup membiara. Ia diterima di biara Karmel. Namanya diubah menjadi Dionisius a Nativitate. Sekalipun ia sudah menjalani hidup membiara, namun ia masih beberapa kali menyumbangkan keahliannya kepada pemerintah, baik dengan menggambar peta maupun dengan mengangkat senjata membuyarkan blokade di Goa yang dilancarkan oleh armada Belanda (1636).

    Di biara Karmel itulah, ia bertemu dengan Redemptus a Cruce, seorang bruder yang bertugas sebagai penjaga pintu biara dan koster, penerima tamu dan pengajar anak-anak. Redemptus lahir di Paredes, Portugal pada tahun 1598 dari sebuah keluarga tani yang miskin namun saleh dan taat agama.

    Orangtuanya memberinya nama Thomas Rodriguez da Cunha. Semenjak usia muda, ia masuk dinas ketentaraan Portugis dan ditugaskan ke India. Ia kemudian menarik diri dari dinas ketentaraan karena ingin menjadi biarawan untuk mengabdikan dirinya pada tugas-tugas keagamaan. Ia diterima sebagai bruder di biara Karmel.

    Diutus ke Aceh, Indonesia 

    Suatu ketika Raja Muda di Goa bermaksud mengirim utusan ke Aceh, Indonesia, yang baru saja berganti sultan dari Sultan Iskandar Muda ke Sultan Iskandar Thani. Ia ingin menjalin hubungan persahabatan karena hubungannya dengan sultan terdahulu tidak begitu baik. Sebagai seorang bekas pelaut yang sudah pernah datang ke Banten, Dionisius ditunjuk sebagai almosenir, juru bahasa dan pandu laut.

    Oleh karena itu tahbisan imamatnya dipercepat. Dionisius ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1637 oleh Mgr. Alfonso Mendez. Bruder Redemptus dengan izinan atasannya ikut serta dalam perjalanan dinas itu sebagai pembantu.

    Baca juga: St. Faustina (1905-1938) Pencipta Devosi Rahmat Ilahi

    Pastor tentara Dionisius bersama rombongannya berangkat ke Aceh pada tanggal 25 September 1638 dengan tiga buah kapal: satu kapal dagang dan dua kapal perang. Penumpang kapal itu ialah: Don Fransisco de Sosa (seorang bangsawan Portugis), Pater Dionisius, Bruder Redemptus, Don Ludovico dan Soza, dua orang Fransiskan Rekolek, seorang pribumi dan 60 orang lainnya. Mereka berlabuh di Ole-Ole (kini: Kotaraja) dan disambut dengan ramah.

    Tetapi keramahan orang Aceh ternyata hanya merupakan tipu muslihat saja. Orang-orang Belanda telah menghasut Sultan Iskandar Thani dengan menyebarkan isu bahwa bangsa Portugis datang hanya untuk meng-katolik-kan bangsa Aceh yang sudah memeluk agama Islam. Mereka semua segera ditangkap, dipenjarakan, dan disiksa agar menyangkal imannya.

    Selama sebulan mereka meringkuk di dalam penjara dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Beberapa orang dari antara mereka meninggalkan imannya. Dionisius dan Redemptus terus meneguhkan iman saudara-saudaranya dan memberi mereka hiburan. Akhirnya di pesisir pantai tentara sultan mengumumkan bahwa mereka dihukum bukan karena berkebangsaan Portugis melainkan beriman KatoIik.

    Di tangan Algojo

    Maklumat sultan ini diterjemahkan oleh Dionisius kepada teman-temannya. Sebelum menyerahkan nyawa ke tangan para algojo, mereka semua berdoa dan Pater Dionisius mengambil salib dan memperlihatkan kepada mereka supaya jangan mundur, melainkan bersedia mengorbankan nyawa demi Kristus Yang Tersalib dan yang telah menebus dosa dunia, dosa mereka.

    Dionisius memohon ampun kepada Tuhan dan memberikan absolusi terakhir kepada mereka satu per satu. Segera tentara menyeret Dionisius dan mulailah pembantaian massal.

    Sepeninggal teman-temannya, Pater Dionisius masih bersaksi tentang Kristus dengan penuh semangat. Kotbahnya itu justru semakin menambah kebencian rakyat Aceh terhadapnya. Algojo-algojo semakin beringas untuk segera menamatkan riwayat Dionisius. Namun langkah mereka terhenti di hadapan Dionisius. Dengan sekuat tenaga mereka menghunuskan kelewang dan tombak akan tetapi seolah-olah ada kekuatan yang menahan, sehingga tidak ada yang berani.

    Segera kepala algojo mengirim utusan kepada sultan agar menambah bala bantuan. Dionisus berdoa kepada Tuhan agar niatnya menjadi martir dikabulkan. Dan permintaan itu akhirnya dikabulkan Tuhan. Dionisius menyerahkan diri kepada algojo-algojo itu. Seorang algojo – orang Kristen Malaka yang murtad – mengangkat gada dan disambarkan keras-keras mengenai kepala Dionisius, disusul dengan kelewang yang memisahkan kepala Dionisius dari tubuhnya.

    Baca juga: Membangun Kesadaran Umat

    Kemartiran Dionisius dengan kawan-kawannya disahkan Tuhan: mayat mereka selama 7 bulan tidak hancur, tetap segar seperti sedang tidur. Menurut saksi mata, jenazah Dionisius sangat merepotkan orang sekitarnya, karena setiap kali dibuang – ke laut dan tengah hutan – senantiasa kembali lagi ke tempat ia dibunuh.

    Akhirnya jenazahnya dengan hormat dimakamkan di Pulau Dien (‘pulau buangan’). Kemudian dipindahkan ke Goa, India. Martir-martir itu dibunuh pada tanggal 29 Nopember 1638. Bersama Redemptus, Dionisius digelarkan ‘beato’ pada tahun 1900.

    DOA MALAIKAT PELINDUNG

    DOA MALAIKAT PELINDUNG

    MajalahDUTA.Com, DoaDOA MALAIKAT PELINDUNG

    Allah Bapa yang Mahamulia, penyenggaraan-Mu sungguh mengagumkan. Malaikat dan manusia Kau panggil mengabdi Engkau. Semoga mereka yang berada di hadapan-Mu dan Mengabdi-Mu bagi kami menjadi duta sukacita-Mu dan pelindung kedamaian-Mu.

    Ya Malaikat Allah, engkau diutus oleh Allah untuk melindungi umat-Nya. Sudilah Engkau melindungi Saudara/I ku ……..(nama keluarga yang akan didoakan)terhadap semua bahaya yang membahayakan dirinya. Bila bahaya itu sudah dekat, sudilah Engkau melawannya demi keselamatannya, sedangkan bila bahaya itu masih jauh, bimbinglah ia menempuh jalan lain yang lebih aman.

    Semoga Engkau selalu mengingatkan saudaraku akan kebaikan dan jangan merelakan saudaraku melakukan hal-hal yang kurang berkenan pada Allah. Kalau saudaraku menghadapi godaan, mohonkanlah kekuatan dari Allah agar dia tidak goyah. Dan kalau saudaraku jatuh ke dalam dosa, sudilah engkau membimbing dia untuk bertobat.

    Ya Malaikat Pelinding, lindungilah saudaraku dalam ketenangan, dan jagalah dia bila dia tidur. Sudilah memberikan kekuatan bila lemah. Doakan saudaraku selalu, agar dapat mengamalkan hidup kristen dengan tulus hati. Mohonkanlah rahmat Allah bagi saudaraku, agar ia mampu menjadi pewarta kabar gembira seperti Malaikat Gabriel, Penumpas kejahatan seperti Malaikat Michael dan Pelindung kaum muda, Pasutri Muda, Tabib dan Pelindung Perjalanan seperti Malaikat Rafael.

    Ya Malaikatku, semoga saudaraku selalu mengikuti bimbinganMu. Dan bersama Engkau memperkenankan saudaraku selalu melambungkan pujian serta syukur kepada Allah dengan perantara Kristus, Tuhan kami.

    Amin…

    Lengkapi juga doa ini dengan doa dibawah ini:

    BAPA KAMI 1 x
    SALAM MARIA 3 x
    TERPUJILAH 1 x
    KEMULIAAN 1 x

    DOA DI DEPAN SALIB SAN DAMIANO

    Doa Fransiskan- DOA DI DEPAN SALIB SAN DAMIANO- KOMSOSKAP

    MajalahDUTA.Com, DOA- DOA DI DEPAN SALIB SAN DAMIANO

    Allah Yang Maha Tinggi dan penuh kemuliaan, terangilah kegelapan hatiku, dan berilah aku iman yang benar, pengharapan yang teguh, dan kasih yang sempurna; berilah aku, ya Tuhan, perasaan yang peka dan budi yang jernih agar aku mampu melaksanakan perintah-Mu yang kudus dan yang takkan menyesatkan.

    Amin….

    Bukan hanya berdoa saja…

    Bukan hanya berdoa saja- Renungan- KOMSOSKAP

    MajalahDUTA.Com, Renungan- Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga (Mat 7:21).

    Hidup manusia beriman yang baik, benar menghasilkan kebahagiaan dan sukacita adalah berdoa dan bekerja (Ora Et Labora) serta bekerja dan berdoa.

    Jadi bukan hanya berdoa saja atau sebaliknya saja hanya bekerja. Maka Tuhan Yesus lebih memuji orang yang melakukan kehendak Bapa di surga yakin percaya pada Bapa, diwujudkan dalam doa berseru kepada-Nya dan melakukan kehendak-Nya dengan, mendengarkan Tuhan, hidup benar, ikuti jalan Tuhan dan berbagi penuh damai.

    Tuhan memberkati.

    Relevansi Kata Healing dalam Konsep Kebahagiaan Menurut St. Agustinus

    Santo Agustinus dari Hippo- Sumber: Wikipedia

    MajalahDUTA.Com, Featured- Relevansi Kata Healing dalam Konsep Kebahagiaan Menurut St. Agustinus.

    PENDAHULUAN

    Kebahagiaan adalah suatu hal yang ingin dicapai oleh setiap orang, namun kebanyakan orang zaman sekarang tidak mengetahui bagaimana kebahagiaan tersebut bisa tercapai. Menurut kebanyakan orang, kebahagiaan dapat diraih dengan memanjakan diri atau lebih mengarahkan ke hal-hal yang dapat membuat mereka senang. Dalam ajaran Agustinus yang mengatakan bahwa kebahagiaan adalah bersatunya antara manusia dengan Allah, dalam hal ini dapat dimengerti dengan baik.

    Bahwa, kebahagiaan sejati pada dasarnya ketika manusia berhasil menemukan Allah yang hadir dalam hidup manusia. Kebahagiaan adalah suatu pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri yang mempunyai sebuah energi yang positif dalam dirinya sendiri, seperti halnya kesenangan dan sebuah zona nyaman.

    Permasalahan yang sering dijumpai ketika mendapatkan orang-orang yang sedang bersedih, lebih memutuskan dengan namanya Healing, Healing yang dimaksudkan sebagian orang adalah keluar dan mencari kebahagiaan agar mereka bisa melupakan masalah yang didapati.

    Namun, apabila pengertian Healing kita terjemahkan dalam KBBI. Kata Healing diartikan sebagai penyembuhan diri dalam hal Psikologi. Namun kebanyakan orang lebih memusatkan kebahagiaan duniawi nya sendiri ketimbang memikirkan kebahagiaan rohaninya. Tanpa disadari, dengan memaknai kebahagiaan rohani dalam menempuh hidup dengan mencari Tuhan maka, kebahagiaan duniawi juga akan terpenuhi.

    A. Kebahagiaan

    Kebahagiaan adalah suatu bentuk umum dalam mengekspresikan diri dalam bentuk wujud gembira, senang atau meliputi suasana hati yang bahagia, dan ketenteraman hidup. Kebahagiaan dapat dirujuk pada sebuah perasaan yang mengacu dalam dirinya yang tidak muncul satu perasaan. Suasana hati yang gembira merupakan suatu keinginan dari dalam diri manusia, karena manusia hidup, ingin mencapai sebuah kebahagiaan. Tanpa adanya kebahagiaan maka kehidupan yang dilalui akan terasa penuh dengan kekosongan. Aliran energi yang positif dan dapat membuat manusia merasakan adanya sebuah perasaan senang yang berlebihan sehingga aliran negatif pun dapat dihilangkan.

    Dalam diri manusia, tidak hanya ada sebuah kebahagiaan saja, melainkan masih ada namanya sebuah perasaan sedih yang mungkin bisa terjadi kapan saja. Perasaan sedih bisa terjadi karena melalui konflik yang terjadi antara sesama manusia. Dengan adanya perasaan sedih yang dirasakan, dapat mengganggu kesehatan mental dalam diri manusia dan hal ini perlu diperhatikan secara khusus. Dengan kesehatan mental yang buruk. Maka, kehidupan manusia tidak akan menemukan sebuah kebahagiaan yang diinginkan, sehingga perlulah sebuah perbaikan terhadap diri manusia.

    Dalam proses menemukan kebahagiaan juga tidaklah mudah. Kebahagiaan yang seperti apa yang diinginkan dalam diri manusia sehingga mereka dapat dikatakan sebagai makhluk yang bahagia. Kebahagiaan yang didapatkan juga tidak menjamin dapat bertahan begitu lama dalam hidup manusia.

    Karena kebahagiaan tersebut bisa saja hilang kapan saja ketika perasaan negatif dalam diri tumbuh dan perlahan-lahan menguasai perasaan hati yang lagi senang. Kebahagiaan memang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia, karena manusia hidup untuk menemukan kebahagiaannya. Pada teori penciptaan, manusia merupakan salah satu bentuk ciptaan yang paling baik dari semua ciptaan yang ada di bumi.

    Kebahagiaan didapatkan, ketika seseorang berhasil menghargai dirinya sendiri, yang berani menerima dirinya dengan segala kekurangan yang ada tanpa harus membatasi dan mempunyai sebuah rasa kepercayaan yang cukup untuk berani menerima pernyataan di atas. Namun kebanyakan orang, tidak pernah berani untuk menerima segala kondisi yang ada dalam dirinya sendiri. Ketika harus berjumpa dengan seseorang yang melebihi dari dirinya. Mulailah timbul sebuah rasa kurang percaya diri, sehingga timbul sebuah pemikiran yang mengatakan bahwa dirinya lebih buruk dari orang yang ia jumpai.

    Baca juga: Menelaah Pikiran Dr. P.A van der Weij Tentang Dunia Kayangan Plato

    Keberanian dalam menerima diri tanpa disadari membuka gerbang berikutnya untuk menemukan sebuah kebahagiaan. Yaitu mampu untuk bersikap optimis. Dengan mampu bersikap optimis setiap individu dapat menghadirkan diri untuk mempunyai pandangan hidup yang lebih tepat untuk masa depannya atau membayangkan dirinya sukses dan selalu bahagia.

    Sikap Optimis yang didapatkan mampu membawa sebuah energi yang positif dalam diri manusia. Energi yang ditimbulkan mampu membuat seseorang lebih percaya diri dalam menghadapi situasi yang seolah-olah dapat membuatnya menjadi kurang optimis. Dengan optimis seseorang mampu untuk memotivasi pada dirinya sendiri. Semua yang ada di hadapannya juga dapat diselesaikan dengan baik dan melihat sesuatu dari sebuah pemikiran yang positif.

    Kebahagiaan yang hadir dalam diri manusia mampu membuat seseorang untuk lebih mengendalikan dirinya sendiri. Dengan kekuatan dan kelebihan yang ada dalam diri, membuat seseorang berhasil lebih baik dalam hal pekerjaan ataupun yang lainnya. Dengan mampu mengendalikan dirinya sendiri mereka akan merasa lebih bahagia.

    B. Kebahagiaan Dalam Pandangan Agustinus.

    Setiap manusia pasti menginginkan sebuah kebahagiaan dalam hidupnya, manusia mulai belajar dan mulai mencari dalam kehidupan, kebahagiaan seperti apa yang dapat diperolehnya. Agustinus memulai pertanyaan refleksi dalam menemukan kebahagiaan yang ia cari melalui ingatan. Melalui sebuah kata ingatan Agustinus mengatakan, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dapat dilihat secara jelas dan nyata melalui panca indra penglihatan manusia. Melainkan, sudah ada sejak manusia dilahirkan. Sehingga Agustinus beranggapan bahwa Kebahagiaan dan Tuhan sudah ada dalam ingatannya.

    Kehidupan yang bahagia didapatkan melalui sebuah sukacita dari kebenaran. Karena dalam kebahagiaan terdapat relasi yang kuat di dalamnya, hubungan tersebut adalah kebahagiaan dan kebenaran yang menjadi satu kesatuan, yaitu Tuhan sendiri. Dari hal tersebut muncul sebuah pertanyaan, mengapa manusia tidak bahagia? Ketidak-bahagiaan manusia datang karena manusia tidak pernah mencintai pencipta-Nya secara tulus, atau mencintainya secara rendah, dan lebih mencintai dirinya sendiri, dan tanpa disadari dari hal itu manusia sampai sekarang masih mencari sebuah kebahagiaan yang seperti apa yang mereka inginkan.

    Menurut Agustinus, Manusia bebas dalam memilih kehendak. Antara memilih mengarahkan diri kepada Tuhan atau lebih menjauhkan diri kepada Tuhan. Kejahatan yang timbul di dalam manusia dikarenakan kehendak bebas dalam diri manusia yang menjauhkan diri terhadap Tuhan, sehingga melakukan penyimpangan dan menolak untuk mengikuti kehendak Tuhan. Hal tersebut berbanding terbalik dengan kehendak bebas manusia yang memusatkan pada kehendak Tuhan. Sehingga, hal tersebut membawa manusia menemukan kebaikan selama hidupnya.

    Allah merupakan kebahagiaan yang ada dalam diri manusia, yang dapat dilihat dari dua sudut pandang, sudut pandang objektif dan sudut pandang subjektif. Dalam sudut pandang objektif meletakkan Allah sebagai nilai yang tertinggi dalam kehidupan manusia, dan menyerahkan sepenuhnya atas kehendak yang dilakukan Allah dan diterima dengan baik oleh manusia. Keselarasan dalam menyatukan kedua sudut pandang tersebut dapat membantu manusia untuk menemukan kebahagiaan yang melalaui dorongan hati, yaitu cinta kasih melalui Allah.

    Kebahagiaan dalam Tuhan bagi Agustinus menimbulkan sebuah kebaikan. Kebaikan yang hadir didapatkan melalui rahmat yang diberikan Tuhan. Apabila manusia melalaikan kehendak Tuhan maka timbullah sebuah kejahatan dalam diri, kejahatan juga tidak bisa dikatakan berasal dari hal yang positif ataupun Tuhan. Kejahatan hadir dalam diri manusia karena kehendak yang menjauh dari Tuhanlah, sehingga hal tersebut muncul dan perlahan-lahan menyelimuti dalam diri.

    Baca juga: Jenazah Para Kudus yang Tidak Rusak

    Menurut Agustinus kekurangan dari kebaikan disebut sebagai ketidak-teraturan atau kehendak yang tidak diarahkan kepada Tuhan. Sehingga dapat dimengerti bahwa Dosa merupakan kekurangan dari sebuah keteraturan. Dosa yang ada dalam diri manusia membuat manusia tidak bisa hidup bahagia, kehendak yang tidak diarahkan kepada Tuhan menyebabkan manusia tidak menemukan kebahagiaan sejatinya. Karena menurut Agustinus Kebahagiaan hadir dikarenakan manusia dapat memusatkan atau bersatu dalam Tuhan dan melakukan kehendaknya sesuai dengan rahmat dan cinta kasih yang diberikan Tuhan kepada manusia. Apabila manusia lebih memilih untuk jatuh ke dalam dosa maka, tingkatan kebenaran yang dicintainya masih rendah. Karena kebenaran yang sejati terdapat dalam Tuhan yang merupakan pencipta manusia dan memiliki nilai tertinggi yang luhur.

    C. Hati Nurani Sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan.

    Manusia selalu memiliki pengalaman yang berkaitan dengan hati nurani dan mungkin saja pengalaman itu adalah perjumpaan dengan moralitas sebagai kenyataan hidup. Sulit untuk menunjukkan pengalaman lain yang dengan begitu terus terang menyingkapkan dimensi etis dalam hidup kita. Karena itu pengalaman tentang hati nurani itu merupakan jalan masuk yang tepat untuk suatu studi mengenai permasalahan etika.

    Hati nurani sendiri dapat dikatakan sebagai Instansi dalam diri kita yang menilai tentang moralitas perbuatan-perbuatan kita, secara langsung, kini, dan disini. Dengan hati nurani kita maksudkan penghayatan tentang baik dan buruk berhubungan dengan tingkah laku kita. Hati nurani memerintahkan atau melarang seseorang untuk melakukan sesuatu. Ia tidak berbicara tentang yang umum, melainkan tentang situasi yang sangat konkret. Apabila seseorang meragukan hati nuraninya dan tidak mengikutinya, berarti seseorang tersebut menghancurkan pribadinya sendiri serta melakukan penghianatan martabat terdalam hidupnya.

    Hati nurani juga adalah kesadaran moral yang membuat kita menyadari yang baik dan buruk dalam perilaku kita. Oleh karena itu dapat Hati Nurani dapat membawa seseorang dan membimbing segala perbuatannya dalam bidang kehidupan. Hati nurani juga masih ada kaitannya dengan arti kata kesadaran, dalam hati nurani berlangsung juga penggandaan yang sejenis, jadi bukan saja manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang bersifat moral, tapi ada juga yang turut mengetahui tentang perbuatan-perbuatan moral Manusia. Dalam diri manusia, seperti ada sebuah instansi yang dapat menilai dan membimbing semua perbuatan-perbuatan yang manusia lakukan dari segi moral. Kenyataan itu diungkapkan dengan baik melalui kata latin Conscientia.

    Didalam “KGK 1779” Hati nurani adalah keputusan akal budi, dimana manusia mengerti apakah satu perbuatan konkret yang ia rencanakan, sedang dilaksanakan atau sudah terlaksanakan, baik atau buruk secara moral. Didalam lubuk hati nuraninya, manusia menemukan hukum yang tidak bisa disangkal oleh dirinya sendiri, melainkan harus ditaatinya. Hati nurani ialah inti manusia yang paling rahasia, sanggar sucinya; di situ ia seorang diri bersama Allah, yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya.

    Didalam lubuk hati seseorang bekerjalah hati nurani. Pada waktu tertentu ia memberi sebuah perintah untuk melakukan yang baik dan mengelakkan perbuatan yang jahat. Ia juga dapat menilai keputusan konkret, dimana Ia menyetujui perbuatan yang baik dan menolak sebuah perbuatan yang jahat. Memberikan sebuah kesaksian tentang arti kebenaran dalam hubungan dengan kebaikan tertinggi, yaitu Allah, oleh siapa manusia ditarik, dan hukum-hukum siapa manusia terima. Manusia yang bijaksana dapat mendengarkan suara Allah, yang berbicara didalamnya.

    Sabda Tuhan merupakan terang yang membentuk suara hati, yang harus kita terapkan dalam hidup kita dalam iman dan doa, oleh bimbingan Roh Kudus, dibantu oleh kesaksian ataupun nasihat orang lain dan juga oleh pengajaran Gereja. Hati Nurani adalah sebuah kemampuan Akal Budi manusia yang memiliki dua fungsi yang unik dan saling berkaitan dalam suatau gerakkan yang dinamis dan harmonis. Hati Nurani keputusan akal budi dimana manusia mengerti apakah satu perbuatan konkret yang ia rencanakan. Fungsi praktis Hati Nurani ini yang membuat Thomas Aquinas juga menyebutnya sebagai akal budi praktis yang dibimbing oleh keutamaan kebijaksanaan.

     D. Healing

    Siapakah yang mau hidup didunia dengan penuh penderitaan, sedangkan hakekat manusia diciptakan untuk menemukan sebuah kebahagiaan. Tidak ada satupun manusia yang ingin hidup diatas penderitaan. Banyak orang melakukan segala cara untuk menemukan kebahagiaan mereka. Meskipun sekedar dengan jalan-jalan bersama teman, ataupun menghabiskan waktu untuk mengisi minat yang diinginkan. Isitlah healing dalam Bahasa gaul menjadi salah satu tren yang sangat digemari oleh kalangan orang-orang. Walaupun banyak begitu tidak banyak orang yang paham akan arti kata tersebut.

    Healing adalah kegagalan dalam suatu hal, terpuruk dan kelelahan dalam segi emosional dan sesuatu hal yang tidak diinginkan dapat terjadi kapan saja dalam hidup seseorang. Kata healing tersebut lebih diarahkan kepada penyembuhan diri pribadi, baik luka batin atau merasa disakiti. Proses penyembuhan yang terjadi juga tidak sedemikian rupa terjadi berkat diri sendiri. Melainkan, berkat bantuan orang lain dalam penyembuhan tersebut.

    Masalah kehidupan yang dirasakan manusia seolah-olah merupakan beban yang paling berat dalam menjalani kehidupan. Namun, apakah kesadaran yang mereka miliki dapat membantu mereka berpikir, bahwa di luar sana masih banyak orang-orang yang merasa lebih berat hidupnya. Dalam menyembuhkan diri, dan menemukan kebahagiaannya, banyak orang rela untuk keluar dan memanjakan diri mereka, agar masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik.

    Menemukan kebahagiaan dalam self healing merupakan hal yang dilakukan oleh setiap orang, Healing dapat membantu menemukan solusi ketika dalam keadaan sulit. Keadaan sulit tersebut tidak akan dapat berjalan dengan lancar apabila Healing tidak dimaknai dengan mendalam dalam menemukan kebahagiaan. Terkadang ketika orang-orang sedang melakukan Healing namun ketika sudah selesai dengan apa yang ia lakukan. Maka masalah tersebut kembali lagi.

    Baca Juga: Meminjam Kata Santo Fransiskus: Bila Terjadi Penghinaan, Jadikanlah Kita Pembawa Damai

    Hidup yang bermakna merupakan salah satu akses jalan menuju kepada kebahagiaan. Kehidupan yang bermakna tidak luput dari adanya faktor-faktor pendukung. Semisalnya, hubungan antar satu sama lain yang menimbulkan dampak harmonis, saling mengerti, saling menghormati dan membuat banyak sekali manfaat dalam kehidupan di sekitar. Maka dari itu seseorang akan mendapatkan namanya kebahagiaan hidup. Apabila Healing dilakukan dengan tepat dan benar. Walaupun kata Healing masih sangat awam untuk dimengerti, namun apabila langkah-langkah yang dilakukan sudah tepat. Maka kebahagiaan yang dikarenakan Healing akan didapatkan.

    E. Relevansi antara kebahagiaan menurut Agustinus dan Pengertian kata Healing.

    Agustinus sangat baik dalam merumuskan arti kata kebahagiaan yang tidak hanya merujuk dalam perkara duniawi, namun Agustinus dapat mengolahnya ke dalam hal yang Rohani. Dengan menemukan Allah, manusia bisa merasakan namanya kebahagiaan sejati dengan mengikuti kehendak yang diberikan Tuhan kepada hidup manusia. Kehidupan manusia pada dasarnya tidak luput dari berbagai hal yang dapat membuat mereka jatuh ke dalam dosa. Dikarenakan, kehendak bebas yang mereka punya sehingga manusia bebas dalam memilih kehendak tanpa harus memikirkan kehendak yang Tuhan berikan kepada manusia.

    Ketika seseorang yang mengalami penderitaan dalam hidupnya atau memiliki tekanan emosional yang mampu membawa mereka merasa terpuruk. Maka, solusi yang paling tepat adalah dengan Healing atau lebih melakukan penyembuhan dalam diri dengan keluar dan melupakan apa yang terjadi. Namun, apabila direfleksikan dengan sangat mendalam, hal tersebut tidak seutuhnya dapat terselesaikan. Melainkan akan masih membekas dalam diri dan sewaktu-waktu dapat timbul kembali dan menyelimuti diri seseorang dalam keterpurukannya.

    Dengan bantuan konsep kebahagiaan yang dirumuskan oleh Agustinus. Healing bisa dilakukan dengan bersamaan sambil menemukan Tuhan yang ada dalam diri manusia. Seperti halnya melakukan wisata rohani ataupun lebih mengarah ke hal-hal yang positif yang dapat membantu manusia menemukan Tuhan. Dengan melakukan Healing yang dilakukan bersamaan untuk melakukan kehendak Tuhan. Pasti hasilnya akan sangat baik. Kebanyakan orang melalaikan akan hal ini, kenapa hal yang berbau Rohani harus disangkutpautkan dengan proses Healing. Sebuah pertanyaan yang sangat menarik untuk dijawab. Dengan melakukan proses Healing yang dilakukan bersamaan dengan yang berbau Rohani akan lebih terasa maknanya ketika kita mampu menyelesaikan atau menyembuhkan diri kita terhadap luka yang dirasakan. Dengan bantuan kehendak Tuhan yang diberikan. Mampu membuat manusia pulih secara menyeluruh. Seperti yang tercantum dalam ayat alkitab. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan”.

    Agustinus dapat menemukan Tuhan, ketika ia mampu menemukan Tuhan dalam segala perkara yang dialaminya. Maka Agustinus mengatakan bahwa, kebahagiaan akan didapatkan ketika kita berhasil menemukan Tuhan di dalam diri kita. Dengan bantuan Tuhan maka semua penderitaan yang kita rasakan akan diberikan kelegaan dan sangat membantu untuk lebih matang dalam mempersiapkan diri untuk terus menaburkan kebahagiaan terhadap orang lain.

    KESIMPULAN

    Dalam kehidupan manusia, semua orang menginginkan namanya sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan yang didapatkan juga merujuk pada diri sendiri yang mampu melaksanakannya dengan baik. Namun, tidak semua kebahagiaan itu bisa dirasakan. Dibalik kebahagiaan pasti ada namanya sebuah penderitaan. Penderitaan yang dirasakan juga merupakan salah satu hal yang tidak ingin dalam hidup manusia. Dengan berbagai cara yang dilakukan manusia berusaha untuk mengobati hal tersebut dan menemukan kebahagiaannya tersendiri.

    Dalam pengertian Kebahagiaan yang disampaikan oleh Agustinus adalah sebuah proses penyatuan diri kepada kehendak Allah untuk menemukan kebahagiaan sejati. Agustinus mengatakan hal demikian untuk membantu setiap manusia mampu menemukan kebahagiaan sejatinya di dalam melakukan kehendak Tuhan. Walaupun demikian kebanyakan orang tidak menyadari akan hal ini. Ketika mereka merasa dalam hal yang sulit hal terutama yang mereka lakukan adalah Healing atau melakukan penyembuhan dan menemukan kebahagiaannya sendiri.

    Manusia selalu memiliki pengalaman yang berkaitan dengan hati nurani dan mungkin saja pengalaman itu adalah perjumpaan dengan moralitas sebagai kenyataan hidup. Dengan hati nurani kita maksudkan penghayatan tentang baik dan buruk berhubungan dengan tingkah laku kita. Hati nurani memerintahkan atau melarang seseorang untuk melakukan sesuatu. Ia tidak berbicara tentang yang umum, melainkan tentang situasi yang sangat konkret. Sabda Tuhan merupakan terang yang membentuk suara hati, yang harus kita terapkan dalam hidup kita dalam iman dan doa, oleh bimbingan Roh Kudus, dibantu oleh kesaksian ataupun nasihat orang lain dan juga oleh pengajaran Gereja. Hati Nurani adalah sebuah kemampuan Akal Budi manusia yang memiliki dua fungsi yang unik dan saling berkaitan dalam suatu gerakkan yang dinamis dan harmonis.

    Proses Healing sebenarnya dapat dilakukan dengan mengikuti pengertian kebahagiaan menurut Agustinus yang mengatakan bahwa kebahagiaan sejati hadir ketika manusia menemukan Tuhan. Healing yang dilakukan juga bisa dikolaborasikan bersamaan dengan menemukan Tuhan. Salah satu contoh dengan melakukan Healing ke hal-hal yang berbau rohani, atau menghabiskan waktu dalam melakukan kehendak Tuhan.

    Pemaknaan hidup dapat terjadi ketika seseorang menemukan kebahagiaannya, namun kebahagiaan tersebut tidak luput dari kerja tangan Tuhan yang membantu manusia menemukannya. Dengan berhasil melakukan kehendak yang diinginkan Tuhan terhadap dalam diri manusia. Maka pemaknaan hidup tersebut tidak akan sia-sia ketika mendapatkan sebuah kebahagiaan. Proses Healing dengan memaknai kebahagiaan menurut Agustinus sangatlah cocok apabila manusia ingin hidup penuh dengan kebahagiaan. Karena Tuhan mampu membawa manusia menemukan kebahagiaan sejatinya apabila, manusia benar-benar mau menerima Tuhan dan melakukan kehendak yang diinginkan.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    Bahagia. Pada KBBI Daring. Diakses 16 April 2022, dari https://kbbi.web.id/bahagia.

    Copleston, Frederick, A History of Philosophy, Volume II: Medieval Philosophy, Images Books, New York, 1993.

    Adi, F X Prathama. “Kajian Kosmologi Menurut Aurelius Agustinus Dalam,” n.d., 1–109.

    Asmana, Abi. “Augustinus : Kebahagiaan Dan Transendensi.” legal and general knowledge, 2020. https://legalstudies71.blogspot.com/2017/10/augustinus-kebahagiaan-dan-transendensi.html.

    Fuad, Muskinul. “Psikologi Kebahagiaan Manusia.” KOMUNIKA: Jurnal Dakwah Dan Komunikasi 9, no. 1 (2017): 114–32. https://doi.org/10.24090/komunika.v9i1.834.

    Gusmulyadi, Hendri. “Healing Itu Artinya Apa Ya Dalam Bahasa Gaul? Cek Apa Itu Atau Arti Healing Disini.” TRIBUNPEKANBARU.COM, 2022. https://www.msn.com/id-id/berita/other/healing-itu-artinya-apa-ya-dalam-bahasa-gaul-cek-apa-itu-atau-arti-healing-disini/ar-AATLyoj.

    Kurniasih, Wida. “Pengertian Optimis, Ciri-Ciri Dan 5 Manfaatnya.” gramedia blog, 2021. https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-optimis/.

    Rahmasari, Diana. Self Healing Is Knowing, 2020.

    Riadi, Muchlisin. “Kebahagiaan (Happiness) – Pengertian, Aspek, Ciri Dan Faktor Yang Mempengaruhi.” kajian pustaka, 2021.   https://www.kajianpustaka.com/2021/09/kebahagiaan-happiness.html.

    Bertens, K. ETIKA. jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum, 1993.

    Listiati, Ingrid. “Tentang Suara Hati.” Katolisitas.org, 2018. https://katolisitas.org/tentang-suara-hati/.

    Phang, Benny. Andai Kautahu Karunia Allah. Malang: Karmelindo, 2020.

    TERBARU

    TERPOPULER