MajalahDUTA.com, Pontianak – Sekilas mata melirik pada ornamen ini, pandangan pertama tentu akan tertuju pada ukiran burung enggangnya yang cukup besar dan yang bertengger di dua ujung tiang tersebut. Selain ornamen burung enggang yang ada di atas itu, juga ada ornamen – ornamen suku Dayak yang lainnya. Oleh karena itu, penting bagi kita melihat secara lebih jelas apa yang ada di tiang tersebut. Ornamen-ornamen yang ada itu tentu memiliki nilai dan makna serta apa yang mau dijelaskan melalui ukiran-ukiran yang indah itu.
Ornamen-ornamen merupakan suatu simbolis untuk mengungkapkan sesuatu dari ornamen tersebut. Simbol merupakan bagian dari sistem tanda yang menjuk kepada sesuatu di luar dirinya. Ornamen-ornamen suku Dayak pada gerbang Gereja Katedral Keuskupan Agung Pontianak adalah simbol dari pandangan hidup orang suku Dayak mengenai alam semesta ini. Motif-motif pada gerbang tersebut berupa burung ruai, pakis atau akar, pucuk atau tunas rebung, gelang simpai, manusia, tempayan tajau, burung enggang dan perisai di antara dua tiang adalah simbol yang memiliki nilai historis dan makna filosofis. Dengan adanya ornamen- ornamen ini masyarakat Dayak Kanayatn dan umat Katolik mampu hidup berelasi dengan Tuhan dan manusia serta alam semesta dengan baik.
Ornamen Sebagai simbol
Ornamen-ornamen tersebut merupakan simbolis untuk mengungkapkan sesuatu dari ornamen tersebut. Simbol dari ornamen-ornamen yang ada gerbang itu lebih dari sekedar tanda. Berbicara tentang simbol, kata simbol diambil dari bahasa Yahudi yakni “symbollein” artinya mencocokkan. Jika memiliki arti “mencocokkan”, artinya menghubungkan dua entitas, maka bisa juga disebut symbola. Pada mulanya simbol adalah sebuah benda, tanda, atau sebuah kata yang berfungsi untuk saling mengenali dan dengan arti yang sudah dipahami oleh masyarakat. Maka tujuan dari sebuah simbol adalah untuk menghubungkan dan menggabungkan dua entitas. Oleh karena itu pengertian dari symbollein yakni dapat menggambarkan atau mengingatkan atau menunjuk kepada yang disimbolkan.
Ornamen-ornamen tradisional dalam masyarakat Dayak Kanayatn dapat dianggap sebagai simbol-simbol budaya yang mempresentasikan nilai historis dan makna filosofis mengenai identitas orang dayak Kanayatn, apa yang dipersepsikan oleh mereka mengenai ornamen-ornamen tersebut. Kebudayaan dapat dipahami sebagai kerangka untuk beradaptasi terhadap ekosistem sosial budaya dan fisik. Namun kebudayaan juga bukan sesuatu yang konstan, selalu membuka peluang untuk berubah. Suku dayak Kanayatn memiliki beberapa ornamen yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat dayak Kanayatn.
Katedral Keuskupan Agung Potianak
Keuskupan Agung Pontianak adalah salah satu Keuskupan yang besar di Indonesia. Keuskupan ini memiliki gereja Katedral yang berpusat di kota Pontianak, yakni gereja Katedral Paroki Santo Yosef Katedral Pontianak. Gereja Katedral Keuskupan Agung Pontianak itu merupakan simbol tahta uskup Keuskupan Agung Pontianak karena adanya sebuah Cathedra. Gereja Katedral Keuskupan Agung Pontianak yang ada saat ini diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat kala itu, yakni Drs. Cornelis, M.H tepatnya pada 19 Desember 2014, dan diberkati pada 19 Maret 2015 bertepatan dengan Pesta St. Yosef. Saat ini gereja Katedral Keuskupan Agung Pontianak itu ditangani secara parokial oleh imam Diosesan.
Keberadaan gereja Katedral Keuskupan Agung Pontianak saat ini tidaklah lepas dari sejarah dan campur tangan kegembalaan para imam dari ordo Kapusin (OFMCap). Pada sejarahnya, pembangunan gereja Ketedral Keuskupan Agung Pontianak yang pertama dimulai sejak tahun 1908 oleh Prefek Apostolik Dutch Borneo Mgr. Pacificus Bos, OFMCap setelah membeli tanah untuk membangun gereja, pastoran, rumah yatim piatu, sekolah, pemakaman, dan susteran. Kemudian gereja tersebut diberkati pada 9 Desember 1909, sekaligus dengan pendiriana paroki secara resmi. Gereja itu diresmikan menjadi gereja katedral sejak 17 November 1918 seiring dengan ditahbiskannya Mgr. Jan Pacificus Bos, OFMCap menjadi Uskup Tituler Capitolias, merangkap Vikaris Apostolik Dutch Borneo, dan secara parokial berubah menjadi Paroki Katedral Pontianak.
Seiring perkembangan umat dan keadaan fisik bangunan gereja awal yang sudah tidak layak, maka bangunan tersebut dirubuhkan pada tahun 2011 untuk dibangun gereja baru yang berkapasitas 3.000 orang. Gereja Katedral St. Yosef Pontianak lantas dibangun secara baru dengan perpaduan arsitektur Romawi dan Timur Tengah. Ornamen bernuansa Dayak mendominasi eksterior bangunan, dan interiornya didominasi nuansa khas Tionghoa berpadu dengan gaya klasik Eropa. Arsitektur gereja yang baru itu diirancang untuk semakin memperkuat kesan kekhasan umat Keuskupan Agung Pontianak yang multi etnis. Gereja Katedral Keuskupan Agung Pontianak yang sekarang ini juga sangat dikenal sebagai bangunan gereja Katolik terbesar dan termegah di Asia Tenggara.
Suku Dayak Kanayatn
Suku Dayak Kanayatn adalah salah satu subsuku yang ada di Indonesia, khususnya Kalimantan Barat. Kata Dayak awalnya ditulis Daya’ kemudian berjalannya waktu, kata ini disepakati dan diperbaiki, dan kata “Dayak” yang benar iyalah “Dayak” yang artinya daya atau hulu. Sedangkan Kanayatn artinya adalah Bukit. Maka Dayak Kanayatn adalah kelompok suku Dayak yang tinggal di Hulu atau di bukit. Rumah Radakng, bertani atau berladang, hidup dalam berkelompok, dan sebagai masyarakat yang hidup dalam adat adalah ciri khas dari suku ini.
Pada mulanya suku Dayak Kanayatn sangat diidentikkan dengan penduduk di Kabupaten Landak yang mayoritas adalah orang Dayak dari sub suku Dayak Kanayatn. Mereka menyebut diri Kanayatn saat berhadapan dengan orang Dayak dari sub suku Dayak lain atau orang dari golongan suku bangsa yang berbeda. Dengan sesama orang Dayak di kabupaten Landak ada kecenderungan untuk mengidentifikasikan diri mereka dengan nama tempat pemukiman mereka. Masyarakat Dayak Kanayatn yang bermukim di daerah Bukit Telaga menyebut diri mereka sebagai orang Bukit.
Masyarakat Dayak yang tinggal di daerah Sungai Mempawah menyebut diri mereka orang Mempawah, dan yang bermukim di Sungai Ambawang menyebut diri mereka urakng Ambawang. Dalam pergaulan antar masyarakat Dayak, misalnya orang Dayak Ambawang dengan orang Dayak Mempawah, mereka akan mengidentifikasi dirinya sebagai urakng diri’ atau orang kita. Orang Melayu mereka sebut orang Laut dan orang Cina disebut sobat. Selain itu terdapat pula sub-suku lainnya seperti Dayak Bakati’ dan Banyadu’ yang juga dapat disebut dalam golongan Dayak Kanayatn berdasarkan banyak persamaan dalam tradisi lisan dan hukum adat.
Baca Juga: Menilik kembali perjalanan Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak 1909-2009
Bahasa Kanayatn merupakan lingua franca bagi sub-sub suku Dayak yang terdapat di Kabupaten Pontianak dan Landak. Hal ini diduga karena Dayak Kanayatn merupakan kelompok induk dari sub-sub suku yang lain. Penyebaran bahasa Kanayatn jauh lebih luas dari bahasa-bahasa Dayak lainnya. Dalam konteks ini kehadiran sekolah misi agama Katolik di Nyarumkop merupakan faktor utama yang mendorong regionalisasi bahasa Kanayatn. Anak- anak yang berlatarbelakang bahasa ibu non-Kanayatn, memperoleh ketrampilan berbahasa Kanayatn lewat pergaulan mereka dengan anak-anak Kanayatn di persekolahan tersebut. Orang Kanayatn menghuni wilayah pedalaman Kabupaten Pontianak (sekarang termasuk dalam wilayah Kabupaten Landak), Kabupaten Sambas, Kabupaten Sanggau dan Kota Pontianak. Jumlah keseluruhan orang Dayak Kanayatn diperkirakan 300.000 orang pada tahun 1997, hal ini berarti kurang lebih sepertiga dari populasi orang Dayak di Kalimantan Barat pada masa itu.
Ornamen Suku Dayak Kanayatn dalam Gereja Katedral Pontianak
Perpaduan motif burung ruai, pakis dan akar-akar: Burung ruai adalah burung terindah di Kalimantan. Selain indah, burung inipun dikenal sebagai burung yang sangat lincah, elok, dan menawan. Kemudian dipadukan dengan motif pakis dan akar-akar. Motif pakis atau paku merupakan tumbuhan yang mudah hidup di mana-mana, motif ini lebih menggambarkan kehidupan manusia, dilihat dari lekukan pada ujung daun mudanya hingga membentuk lingkaran. Gambarannya adalah terkadang manusia diposisi atas dan juga di bawah, terkadang mengalami perasaan senang dan juga sedih, dan bagaimana sikap sopan santun antara orang yang tua dan yang muda. Inilah letak gambaran kehidupan manusia untuk selalu bersyukur atas apa yang diterima hingga menemukan titik terakhir yakni kematian. Kemudian motif akar, jika motif pakis mengangkat tentang bersyukur, maka motif akar lebih pada perjuangan hidup manusia. Akar pada umumnya mampu menembus dan menelusuri sesuatu untuk bertahan dan mencari kehidupan. Gambaran akar dalam mempertahankan budaya adalah akar memiliki peran penting untuk menyerap air (sumber kehidupan manusia) dan sebagai penopang tumbuhnya budaya di atas tanah.
Motif-motif pada tiang: Pada tiang paling bawah terdapat kombinasi motif pakis, akar dan pucuk rebung. Motif-motif ini ditempatkan pada posisi bagian bawah setelah pondasi dasar, ini merupakan dasar dari prinsip hidup untuk terus berjuang, mempertahankan budaya. Kemudian di atas kombinasi motif tersebut terdapat juga motif gelang simpai, makna dari gelang simpai adalah ikatan persaudaraan, pertemanan. Selanjutnya motif manusia, motif ini biasanya disebut sebagai motif kamang yaitu menghadirkan roh leluhur dalam bentuk manusia. Roh yang dimaksud adalah roh dari nenek moyang yang dianggap pada masa itu memiliki peranan dalam kehidupan atau perjuang dalam masyarakat Dayak. Kemudian dilanjutkan dengan motif gelang simpai di bagian atas kepala manusia tersebut, mau menggambarkan bahwa suku Dayak memiliki ikatan yang erat dengan hukum adat, hukum alam dan hukum Allah, ini diperlihatkan dari ukiran tempayan tajau dengan lapisan motif naga. Tempayan tajau merupakan wadah untuk menyimpan atau menampung benda-benda berharga, bahkan dalam acara adat, tempayan ini dapat difungsikan sebagai pengganti manusia. Dan ukiran naga memiliki lambang kebesaran atau kekuasaan dari dunia bawah yakni tanah dan air. Kemudian di posisi paling puncak adalah ukiran burung enggang. Burung enggang adalah sebagai lambang kehidupan, kesetiaan, perdamaian dan kepemimpinan, gambaran dari kesatuan alam dunia tempat makhluk hidup berada dan alam surgawi tempat Jubata (Tuhan) bertahta.
Perisai atau tameng atau jabakng diletakkan pada bagian tengah atau di antara dua tiang. Pada perisai tersebut terdapat motif kamang. Kamang adalah roh-roh leluhur dari orang Dayak yang diaplikasikan pada perisai atau Tameng karena dipercaya dapat meningkatkan daya magis yang mampu membangkitkan semangat yang menyandangnya. Seluruh ornament yang ada itu terukir indah pada kayu ulin dengan pondasi yang telah dipermanenkan dengan disemen dan ada juga yang dibuat secara kuat dengan besi atau Teknik desain arsitektur masa kini.
Relevansi Ornamen Suku Dayak dengan Gereja Katolik
Keberadaan ornamen-ornamen suku Dayak Kanayatn yang terdapat pada bangunan arsitektur gereja Katedral Keuskupan Agung Pontianak sejatinya hendak menyatakan dimensi inkulturasi yang dihadirkan gereja bagi kehidupan umat beriman di Keuskupan Agung Pontianak. Nilai-nilai inkulturasi dimasukkan ke dalam seni bangunan gereja Katedral itu dengan tujuan agar umat beriman semakin menghayati iman Kekatolikan yang sejati seturut budaya dan kesenian setiap umat. Identitas umat katolik yang berada di Keuskupan Agung Pontianak menjadi semakin nyata berkat kehadiran ornamen-ornamen Dayak. Umat Katolik di Keuskupan Agung Pontianak jelas semakin terbantu untuk mengungkapkan iman yang sangat berkenaan dengan identitas mereka, baik itu yang beretnis, Tionghoa maupun yang terutama bagi mayoritas umat yang beretnis Dayak. Dengan demikian, kesatuan hidup beriman umat Katolik Keuskupan Agung Pontianak dengan identitas etnis dan budaya leluhur semakin meneguhkan iman umat serta memotivasi umat untuk setia dalam beriman secara kontekstual.
Sumber Referensi
Andasputra, Nico – Julipin Vincentius. Mencermati Dayak Kanayatn. Pontianak: Insitut Dayakologi Pontianak, 1997.
Chang, William (Ed.). Kuntum Coklat di Tengah Belantara Borneo: Cukilan Cerita 100 Tahun Kapusin, Pontianak: [Tanpa tempat penerbit], 2005.
Florus, Paulus, dkk (Ed.). Kebudayaan Dayak: aktualisasi dan Transformasi, Pontianak: Insitut Dayakologi Pontianak, 1997.
F. W. Dilliston The Power Of Symbols: Daya Kekuatan Simbol, Yogyakarta: Kanisius, 2006.
H, Bambang Suta Purwana. Identitas Dan Aktualisasi Budaya Dayak Kanayatn di Kabupaten Landak Kalimantan Barat, Pontianak: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2007.
Sejarah Ordo Saudara-saudara Dina Kapusin 1525-1990, Parapat: [Tanpa tempat penerbit],1990.




