Friday, April 24, 2026
More
    Home Blog Page 104

    Mari Dengarkan Pesan Natal 2022 dari Uskup Agung Pontianak

    Mgr. Agustinus bersama Nunsio Mgr. Piero Pioppo - Foto: Komsos Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- “Pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain” (Matius.2,12). Saudara-saudariku umat kristiani yang terkasih, Sejak 2 minggu terakhir ini suasana Parayaan Natal sudah sangat terasa dimanamana. Selama hampir 2 tahun kegiatan perayaan Natal yang ditandai dengan maraknya pernak-pernik, lampu-lampu hias dan lagu-lagu Natal seakan-akan berhenti, dalam rangka menyongsong Hari Raya Natal 25 Desember 2022 kegiatan-kegiatan tersebut mulai marak kembali. Hal yang sangat wajar dan memang semuanya itu merupakan ungkapan lahiriah atas lahir Yesus ke dunia untuk membebaskan kita dari belenggu dosa, dan membuka jalan lebar-lebar bagi kita umat manusia yang penuh dosa untuk memperoleh hidup yang kekal bersama Bapa di surga.

    Orang-orang bijak dari Timur, yang memiliki segala-galanya belum merasa puas sebelum menemukan kanak-kanak Yesus untuk menyembahnya. Dengan dituntun oleh bintang mereka menemukan Kanak-kanak Yesus dan mempersembahkan harta terbaik yaitu, emas kemenyan dan mur.

    Perjumpaan dengan Yesus membuat mereka meyakini bahwa masa depan mereka menjadi jelas. Tidak ada keragu-raguan lagi. Yesuslah Sang Penyelamat yang mereka cari. Keyakinan inilah yang memampukan mereka untuk kembali“ ke negerinya melalui jalan lain” (Mt.2,12). Mereka menemukan cara hidup baru, meninggalkan cara hidup yang lama setelah bertemu dengan Yesus. Sama seperti dalam usaha mencari Sang Penyelamat mereka “berjalan bersama-sama”, Demikian juga dengan berjalan bersama-sama mereka kembali kenegerinya.

    Saudara-saudariku umat kristiani yang terkasih, Pengalaman ketiga orang bijak dengan berjalan bersama-sama mencari kanakkanak Yesus dan berhasil dengan tuntunan bintang, walaupun bukan tanpa

    kesulitan dan rintangan, mengajak kita, umat kristiani untuk melakukan hal yang sama. Berjalan bersama orang lain tanpa membeda-bedakan, agama, suku, golongan, budaya, status social, pangkat atau jabatan, dalam mencari kebenaran, menemukan kehendak Allah, menghadapi tantangan dalam hidup kita.

    Dalam kebersamaan semacam ini, kita akan mempu membangun peradaban kasih di tengah masih menguatnya tindakan kekerasan, merajut kerukunan ditengah merebaknya sikap intoleransi, mempopulerkan budaya jujur ditengah masih maraknya tindakan kejahatan korupsi dan penyakit-penyakit masyarakat yang lain. Dengan berjalan bersama, kita bisa mengembangkan hidup berpolitik yang beretika dalam menghadapi pesta demokrasi tahun 2024.

    Dengan berjalan bersama-sama kita dimampukan untuk “pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat” membangun kembali kehidupan dari keterpurukan dalam berbagai bidang akibat pandemi COVIP-19.

    Tentu berjalan bersama-sama mengandaikan adanya sikap saling menerima, mendengarkan, dan menghargai teman seperjalanan.

    Berjalan bersama-sama mensyarat akan adanya pikiran yang positif terhadap teman seperjalanan. Hilangkan pikiran negative atau prasangka buruk terhadap sesama. Hendaknya ada suasana penuh kedamaian serta persaudaraan dalam kebersamaan tersebut.

    Saudara-saudariku umat kristiani yang terkasih,

    Perayaan Natal juga adalah perayaan akan kasih Allah yang tanpa batas terhadap kita umat manusia yang penuh dosa dengan mengutus PutraNya Yesus Kristus kedunia “yang telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia(Flp.2,7) demi menyelamatkan kita, umat manusia. Allah mau berdamai dengan manusia, tanpa jasa dari pihak manusia.

    Kita sebagai pengikutNya juga dipanggil untuk berani menjadi hamba bagi sesama. Kita semua dipanggil untuk berjalan bersama-sama mereka yang menderita akibat penyakit, bencana alam, perang, tindakan kekerasan, ketidak adilan atau pun diakibatkan rusaknya lingkungan hidup.

    Kita semua dipanggil untuk menjadi sahabat dan berjalan bersama-sama saudarasaudari kita yang meringkuk dalam penjara, saudara-saudari kita yang tinggal di Panti-panti Asuhan, yang terpisah dari sanak keluarganya akibat tidak mendapat kasih.

    Mari kita sambil merayakan Natal tahun 2022 ini dengan penuh kegembiraan dan suka cita, ingat dan peduli juga akan saudara-saudara kita ini.

    Mari kita saling menguatkan dan mendoakan agar kita mampu menjadi sahabat dan berjalan bersama-sama terutama bagi mereka yang menderita, agar kita sungguh-sungguh boleh menjadi berkat yang menyelamatkan bagi mereka. SELAMAT HARI RAYA NATAL 25/12/ 2022 dan TAHUN BARU 2023

    Pontianak, 17 Desember 2022

    Mgr Agustinus Agus
    Uskup Agung Pontianak

    Perkembangan Iman di Paroki yang Baru

    Perkembangan Iman di Paroki Ledo

    MajalahDUTA.Com, Pendidikan- Perkembangan Iman di Paroki yang Baru.

    Abstrak

    Fokus tulisan ini terletak pada tema pengaruh/dampak konteks eklesiologi pada zamannya terhadap pembentukan spiritualitas yang ada di keuskupan. Karya ini juga mengambil beberapa referensi lain serta wawancara untuk memperdalam pembahasannya. Peristiwa pokok yang diangkat dalam artikel ini adalah perkembangan iman umat Katolik yang berada di Paroki St. Agustinus dari Hippo-Ledo yang merupakan paroki baru di wilayah Keuskupan Agung Pontianak. Metodologi yang digunakan ialah membaca, merefleksikan, dan mewawancarai beberapa narasumber serta mencoba menemukan pokok permasalahannya. Ada tiga temuan dalam karya ini. Pertama, perkembangan iman umat di Keuskupan Agung Pontianak apakah berkembang atau tidak. Kedua, perlu diketahui bahwa Paroki St. Agustinus dari Hippo-Ledo adalah paroki yang baru saja diresmikan pada tanggal, 28 Agustus 2022 Ketiga, perkembangan  iman umat di Paroki Ledo menjadi tugas dari para imam dan para pengurus dewan pastoral paroki (DPP). Keempat, perkembangan iman umat yang berada di wilayah pedalaman harus mendapatkan perhatian penuh, karena stasi-stasi yang berada di pedalaman sebelumnya memang kurang mendapatkan kunjungan dari para imam. Perkembangan iman umat menjadi tanggung jawab dari setiap paroki, para imam yang bertugas di paroki harus mengedepankan pelayanan yang merata kepada umat yang berada di stasi-stasi pedalaman. Gereja hadir bersama umat, Gereja hadir sebagai pelayan umat, dan Gereja hadir sebagai pewarta sabda Allah kepada umat, sehingga Gereja mampu memberikan pelayanan kepada umat beriman dan mampu menjadi bagian dari perkembangan iman umat.

    Kata kunci: Paroki Ledo, Keuskupan Agung Pontianak, iman, persekutuan, perkembangan.

    PENDAHULUAN

    Gereja Katolik paroki St. Agustinus dari Hippo-Ledo berada di Kec. Ledo, Kab. Bengkayang. Paroki ini berada di wilayah Keuskupan Agung Pontianak. Paroki Ledo adalah paroki baru di Keuskupan Agung Pontianak yang di resmikan oleh Mgr. Agustinus Agus. Pada awalnya, Paroki Ledo secara administrasi masuk dalam wilayah Paroki St. Pius X Bengkayang dan bernama Stasi St. Petrus dan Paulus-Ledo. Paroki Bengkayang memang salah satu paroki yang besar dan luas di Keuskupan Agung Pontianak, sehingga paroki bengkayang dipecah menjadi beberapa paroki seperti Paroki Sanggau Ledo, Paroki Jagoi Babang dan yang terbaru adalah Paroki Ledo.

    Pada awal tahun 2022 yaitu bulan Januari, stasi Ledo pisah secara administrasi dengan Paroki Bengkayang dan menjadi kuasi Paroki St. Agustinus dari Hippo-Ledo. Kemudian Paroki Ledo diresmikan bersamaan dengan pelantikan Dewan Pastoral Paroki (DPP) oleh Mgr. Agustinus Agus, Uskup Keuskupan Agung Pontianak, pada tanggal, 28 Agustus 2020 yang bertepatan dengan peringatan St. Agustinus dari Hippo. Dengan demikian, Kecamatan Ledo secara sah telah memiliki paroki sendiri dan sudah tidak bergabung dengan paroki Bengkayang. Selain itu, umat Katolik yang ada di Ledo juga mulai mendapatkan pelayanan iman dari para imam Ordo Augutinian Recollects (OAR) yang berasal dari Filipina yaitu RP. Russell Lapidez, OAR selaku pastor kepala paroki dan ditemani RP. Jovy, OAR sebagai pastor rekan.

    Ordo Augutinian Recollects (OAR) inilah yang kemudian berkarya di paroki St. Agustinus Hippo di Ledo. Mereka kemudian membantu pelayanan di Ledo dan memberikan pelayanan iman kepada umat Katolik di Ledo, sehingga umat pun merasa bahwa mereka kemudian diperhatikan oleh Gereja Katolik. Dengan adanya pelayanan imam umat Katolik di Ledo ini, pertumbuhan iman umat juga menjadi semakin bertumbuh. Umat yang tadinya merindukan perjamuan Kudus kemudian merasa bahwa kerinduan mereka akan adanya perjamuan Ekaristi kudus pun sudah terpenuhi, sehingga iman umat kembali tumbuh dan akan terus bertumbuh karena adanya pelayanan iman dari para imam itu sendiri.

    Iman umat Katolik di wilayah Kec. Ledo kemudian menyambut dengan sangat antusias sekali tentang rencana pembangunan Gereja paroki ini, umat kemudian berbondong-bondong saling meneguhkan iman agar bersama-sama menyambut paroki baru ini. Gereja paroki St. Agustinus Hippo saat ini juga masih menggunakan Gereja lama sebagai tempat melaksanakan perayaan liturgi Ekaristi Kudus, karena untuk masalah pembangunan Gereja baru belum memiliki lahan yang kiranya cocok untuk dibangun sebuah paroki. Umat katolik di Ledo kini sedang berusaha untuk mencari tempat yang cocok untuk dibangun paroki, sehingga dewan pengurus paroki (DPP) berupaya bersama umat mencari lokasi tanah yang bagus untuk membangun paroki, sehingga umat bersama-sama saling bertukar pendapat dan pikiran.

    Dalam penulisan artikel ini, penulis ingin memberikan gambaran bagaimana perkembangan iman umat yang ada di wilayah Kec. Ledo yang masuk dalam wilayah Keuskupan Agung Pontianak. Umat Katolik di Ledo awalnya menjadi wilayah paroki St. Pius X Bengkayang, melihat perkembangan iman umat yang semakin berkemabang sangat pesat dan medan pastoral yang sangat sulit sedangkan tenaga imam yang hanya dua orang saja, sangatlah kurang.

    Banyak stasi-stasi pedalaman yang jarang mendapatkan pelayanan Ekaristi Kudus dan bahkan tidak pernah sama sekali. Hal inilah kemudian yang menjadi acuan untuk memekarkan paroki St. Pius X Bengkayang, sehingga berdirinyalah paroki St. Agustinus Hippo di Ledo. Inilah yang menjadi bukti bahwa perkembangan iman umat Katolik di Ledo sangatlah kuat akan kerinduan kehadiran Yesus Kristus dalam perayaan Ekaristi Kudus di stasi-stasi umat pedalaman. dengan adanya paroki ini membuat umat semakin menaruh harapan kepada para imam yang bertugas untuk senantiasa mengunjungi stasi-stasi terutama stasi yang berada di pedalaman

    Rumusan masalah dalam tulisan ini mencangkup beberapa pertanyaan, yaitu bagaimana perkembangan iman umat Katolik di wilayah Kec. Ledo setalah adanya Paroki ini? Bagaimana persekutuan umat beriman di Paroki Ledo? Lantas apa saja yang menajdi hambatan dalam pelayanan iman umat di stasi-stasi yang ada di Paroki Ledo? Bagaimana pertumbuhan  iman, pelayanan pastoral, dan pendampingan iman umat yang ada di Kesukupan Agung Pontianak dan Paroki Ledo? Dan bagaimana sejarah perkembangan iman umat beriman di Paroki Ledo? Inilah beberapa pertanyaan yang kiranya akan menjadi acuan dalam tulisan ini.

    METODE PENELITIAN

    Dalam studi kualitatif ini, penulis mencoba menghadirkan konstruksi ilmiah dari beberapa fakta yang saling berkaitan. Dalam hal ini penulis menggunakan studi kepustakaan dan wawancara beberapa narasumber. Proses dalam studi ini dilaksanakan melalui kajian terhadap buku, literatur, artikel ilmiah, internet, dan pola belajar serta hasil dari wawancara. Data dan temuan dari berbagai hasil penelitian serta kajian pustaka merupakan data dalam tulisan ini. Data tersebut selanjutnya diolah dan disintesis, sehingga menjadi sebuah kerangka informasi yang terstruktur secara ilmiah.

    HASIL PENELITIAN

    Pembinaan Iman Umat Katolik

    Pembinaan iman umat Katolik merupakan hal yang sangat penting, karena ini menyangkut pelayanan pastoral di suatu keuskupan yang ada. Gereja hadir ditengah-tengah umat dan menjadi pewarta bagi umat terkhusus di pedalaman yang jarang mendapatkan pelayanan pastoral. Karena sebagai faktor dalam sejarah, mulai abad pertengahan sifat khas dan hakikat Gereja sebagai persekutuan semakin dilupakan dan disingkirkan (Leonardus Samosir, 2017:25). Gereja harus kembali memberikan pelayanan kepada setiap umat tanpa memandang latar belakang dalam diri umat itu sendiri. Pembinanan iman umat Katolik kemudian menjadi sebuah visi dan misi dari setiap keuskupan, begitu juga pembinaan iman umat yang ada di wilayah Keuskupan Agung Pontianak. Sesuai dengan visi dari Keuskupan Agung Pontianak yaitu; Gereja Keuskupan Agung Pontianak sebagai keluarga Injili yang mengakar, mandiri, peduli, missioner, dan dalam bimbingan Roh Kudus mewujudkan keadilan, damai dan keutuhan ciptaan di tengah masyarakat yang beragam (William Chang, 2017).

    Dengan adanya visi tersebut, Keuskupan Agung Pontianak kemudian membangun relasi dengan umat yang beragam dan mewujudkan pelayanan iman umat Katolik secara merata tanpa memandang latar belakang umat. Pembinaan iman umat ini kemudian di laksanakan dengan adil tanpa memilih tempat atau lokasi mana yang cocok di berikan pelayanan, tetapi semua umat yang berada di setiap pelosok pun akan mendapatkan pelayanan iman umat. Iman umat Katolik harus selalu menjadi perhatian bersama, baik Uskup, para imam, kaum biarawan/biarawati, dan katekis semuanya terlibat dalam pembinaan iman umat Katolik yang ada di wilayah Keuskupan Agung Pontianak.

    Dengan adanya pembinaan iman umat ini, umat harus berani menampakan bahwa yang hidup dalam diri mereka sendiri adalah Yesus Kristus. Kesaksian itu diberikan oleh orang-orang Kristiani bukan hanya kepada orang-orang Kristiani, melainkan juga kepada diri mereka sendiri, untuk saling memperkuat dalam iman (Franz Magnis Suseno, 2004:20). Umat diminta untuk saling meneguhkan satu sama lain dalam mempertahankan imannya, karena melihat kenyataan yang ada, masih banyak umat-umat Katolik yang berada di pedalaman masih minim untuk mendapatkan kunjungan dari para imam. Dengan adanya rasa saling menguatkan, saling meneguhkan iman sesama umat, para katekis yang ada di setiap paroki kemudian terjun langsung demi memberikan pelayanan iman umat.

    Pembinaan iman umat di wilayah Keuskupan Agung Pontianak terus dihidupkan oleh para pelayan Gereja. Pembinaan dan pelayanan kepada umat melalui turne secara terjadwal dilakukan dua bulan sekali dan diusahakan semua stasi terkunjungi (Amon Stefanus & Shinta Setyaningrum, 2018:18). Para pelayanan iman umat ini kemudian melakukan pembinaan dan pelayanan kepada stasi yang ada di setiap paroki dimana pun stasi itu berada, semuanya harus mendapatkan pelayanan iman. Umat katolik yang ada di wilayah Keuskupan Agung Pontianak, menurut data statistic 2018, jumlah umat sebanyak 428.452 jiwa, sedangkan jumlah iamam 106, suster 410, dan bruder 52 (penakatolik.com). Dengan jumlah umat yang begitu banyak dan bisa saja menjadi bertambah tentu pembinaan iman umat Katolik semakin di perkuat dengan adanya penambahan jumlah pelayan Gereja.

    Pembinaan iman umat Katolik menjadi program kerja bagi seluruh Keuskupan, karena bagaimanapun pembinaan dan pelayanan iman umat harus menjadi prioritas bersama oleh para pelayan Gereja Katolik. Gereja harus hadir ditengah-tengah umat dan memberikan pelayanan dan pembinaan iman secara merata dan adil, karena umat sudah sangat merindukan adanya pelayanan dari para imam. Banyak stasi-stasi yang berada di wilayah pedalaman yang kurang mendapatkan pelayanan, bahkan tidak mendapatkan pelayanan selama satu tahun penuh. Menurut Jakaria (ketua stasi semayas), mengatakan bahwa kendala yang dialami oleh para imam ataupun pelayan katekis jika hendak melakukan kunjungan adalah medan jalan yang begitu sulit, informasi yang tidak mudah, dan kurangnya imam di paroki, dst.

    Oleh karena itu, para imam maupun katekis jika akan melakukan kunjungan ke stasi-stasi pedalaman mereka harus menginap sehari sebelumnya. Hal ini dilakukan agar mereka dapat meminimalisir waktu tempuh yang amat jauh dan medan jalan yang amat sulit dilalui. Kegiatan yang dilakukan bervariasi tergantung pada situasi yang ada, berbagai jenis kegiatan seperti memimpin ibadat atau perayaan Ekaristi Kudus pada hari minggu dan hari raya (Amon Stefanus & Shinta Setyaningrum, 2018:18). Jika lokasi kunjungan yang amat jauh, maka para pelayan ini harus menginap di stasi yang mereka tuju sehari sebelum melakukan kegiatan, hal ini tentu sering dilakukan karena mengingat banyaknya stasi di wilayah pedalaman yang sulit untuk dijangkau.

    Perkembangan Iman Umat Katolik Di Kecamatan Ledo

    Kecamatan Ledo berada di wilayah Kab. Bengkayang, Kalimantan Barat. Ledo merupakan wilayah yang tidak jauh dari Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas. Banyak kampung yang berada di pedalaman yang masuk dalam Kecamatan Ledo. Kecamatan Ledo sendiri memiliki 12 desa antara lain, Rodaya, Dayung, Lesabela, Jesape, Semangat, Serangkat, Tebuah Marong, Suka Jaya, Suka Damai, Sidai, Seles, Lomba Karya. Kehidupan masyarakat di kecamatan Ledo begitu rukun, karena berdampingan dengan berbagai suku dan budaya, ada suku Dayak, Melayu, Batak, Flores, dst. Namun, suku yang menjadi dominan yaitu suku Dayak dan Melayu. Kerukunan dan saling menghargai satu sama lain ini menjadi bagian yang paling disoroti, karena masyarakatnya mampu menunjukkan wajah Indonesia yang begitu toleransi.

    Kehidupan masyarakat di Ledo tidak lepas dari kebudayaan dan agama yang dianut oleh setiap orang, ada Katolik, Kristen, dan Islam. Namun, dalam pembahasan kali ini berfokus pada kehidupan umat Katolik yang ada di wilayah Ledo. Umat katolik yang ada di wilayah Ledo merupakan tanggung jawab dari Keuskupan Agung Pontianak. Dalam hal ini, Keuskupan Agung Pontianak terus melakukan pembinaan terhadap iman umat Katolik yang ada di setiap wilayah. Perkembangan iman umat Katolik di Ledo menjadi hal yang besar, karena pada tahun 2022 Kecamatan Ledo resmi memiliki Gereja Paroki St. Agustinus Hippo, hal ini tentu tidak lepas dari peran Gereja yang terus memberikan pelayanan dan pembinaan terhadap iman umat. Gereja Katolik terus memberikan pembinaan dan pelayanan kepada umat tanpa memandang kehidupan sosial. Siasat untuk menjaga dan melestarikan damai sangat diperlukan supaya Gereja dan masyarakat dapat berkembang dengan baik dari waktu ke waktu (William Chang, 2017:24)

    Perkembangan iman umat Katolik di Ledo semakin bertambah, meskipun stasi-stasi dipedalaman kurang mendapatkan pelayanan pastoral, namun, perkembangan iman sangat kuat. Sebelum Ledo memiliki paroki sendiri, Ledo masuk dalam wilayah pelayanan paroki Bengkayang, dimana para imam projo di paroki Bengkayang terus memberikan pelayanan yang maksimal kepada umat yang berada di wilayah Ledo, baik itu stasi yang mudah di jangkau maupun stasi yang berada di pedalaman, semunya harus mendapatkan pelayanan pastoral yang baik. Gereja hadir ditengah umat dan memberikan pelayanan kepada umat, inilah bentuk dari kepedulian Gereja kepada stasi-stasi yang berada di setiap wilayah terkhusus stasi yang berada di pedalaman sekalipun. Pada akhirnya kepedulian Gereja terhadap perayaan sakramen pun terus bertumbuh dan senantiasa hadir bersama umat beriman.

    Gereja Katolik Paroki St. Agustinus Hippo di Ledo saat ini sedang bertumbuh dan sedang membangun pembinaan kepada umat Katolik yang ada di wilayah Ledo, baik itu stasi-stasi yang nudah di jangkau maupun stasi-stasi yang berada di pedalaman semuanya akan mendapatkan pelayanan iman yang merata. Tenaga imam juga kemudian terus ditingkatkan dalam membantu pelayanan iman umat, Keuskupan Agung Pontianak sendiri berusaha menyediakan tenaga imam bagi paroki-paroki yang ada di wilayah Keuskupan Agung Pontianak. Hingga saat ini situasi “kekurangan imam” pun masih terjadi di hampir semua wilayah gerejani di Indonesia, dan situasi ini dinyatakan sebagai akibat krisis panggilan (Leonardus Samosir, 47). Untuk itulah besar harapan dari Gereja kepada paroki St. Agustinus Hippo di Ledo untuk mencetak calon imam yang baru, karena ini merupakan langkah awal dari paroki Ledo dalam membangun perkembangan iman umat Katolik agar tetap teguh dalam iman kepada Yesus Kristus.

    Peresmian Gereja Katolik Paroki St. Agustinus Dari Hippo Di Ledo

    Pada tanggal 28 Aguatus 2022 menjadi hari yang begitu bersejarah bagi segenap umat Katolik yang ada di wilayah Kec. Ledo, mengapa tidak? Karena hari tersebut merupakan hari peresmian Gereja Katolik Paroki St. Agustinus dari Hippo di Ledo Keuskupan Agung Pontianak, paroki yang dulu sudah dinantikan oleh umat Katolik di Ledo dan sudah melalui berbagai macam agar Ledo memiliki Paroki sendiri. Dalam wawancara dengan Pastor kepala Paroki Ledo yaitu RP. Russell Lavides, OAR, mengatakan      bahwa Ledo merupakan wilayah yang luas dan banyak stasi-stasi yang ada di pedalaman yang perlu menjadi perhatian Gereja. Ia juga melihat bahwa potensi dalam diri umat untuk bersama-sama membangun Gereja Paroki Ledo. Adapun harapan dari RP. Russell Lavides, OAR kepada umat yaitu, umat beriman yang ada di paroki Ledo mampu bertumbuh dalam iman dan ia percaya bahwa Roh Kudus akan selalu membimbing, melindungi, dan mengajar umat-umatnya supaya paroki Ledo ini akan berkembang di masa depan.

    Selain itu, ketua panitia peresmian yaitu Donatus Nonont Vanziru, berterimakasih kepada Mgr. Agustinus Agus selaku Uskup di Keuskupan Agung Pontianak karena telah meresmikan Gereja Paroki Ledo. Ia menambahkan bahwa harapan umat akan adanya paroki Ledo ini sangatlah besar, ia juga mengharapkan dengan adanya paroki Ledo ini, iman umat akan terus bertumbuh dan berkembang dimasa depan kelak. Pada 1 Januari 2022, stasi Ledo yang sebelumnya berada di wilayah paroki Bengkayang kini sudah pindah secara administrasi dari paroki bengkayang. Perkembangan awal umat yang beriman dengan banyaknya stasi membuat paroki Bengkayang salah satu wilayah yang notabene mayoritas umat Katolik (www.majalahduta.com). Hal inilah yang membuat Ledo memiliki paroki sendiri, karena Ledo juga memiliki umat yang beragama Katolik sangatlah banyak dan pelayanan juga kemudian terus ditingkatkan mengingat banyaknya umat di stasi-stasi pedalaman yang jauh.

    Peresmian Gereja paroki Ledo menjadi bukti bahwa iman umat di Ledo sangatlah kuat dan penuh gairah dalam mengembangkan imannya masing-masing. Harapan akan adanya Gereja paroki di Ledo menjadi harapan besar bagi umat, karena mayoritas umat yang ada di wilayah Ledo merupakan umat Katolik yang sangat kuat. Peresmian ini sudah dinantikan umat mulai dari awal bulan tahun 2022, bahwa umat berantusias menyambut peresmian ini. Perkembangan iman umat tidak lepas dari peran pemimpin gerejani Keuskupan Agung Pontianak, karya pastoral yang harus sampai pada umat dimana pun stasi itu berada. Berbagai macam kelompok doa dan komunitas nantinya akan muncul sendiri seiring berjalan dengan waktu di Gereja paroki Ledo. Diantaranya, komunitas itulah yang kemudian secara sadar menghadirkan sebuah kesatuan kasih Allah Tritunggal itu sendiri. Inilah yang nantinya juga akan membantu perkembangan iman umat Katolik yang ada di paroki Ledo.

    Kecamatan Ledo sendiri memiliki berbagai macam agama, ada Islam, Kristen, dan Katolik. Namun, semuanya hidup dalam kerukunan, saling membantu satu sama lain, karena dalam kehidupan manusia itu sendiri tidak dapat hidup sendiri tetapi ia juga memerlukan sosok individu yang lain. Inilah yang menjadi tugas baru bagi paroki Ledo agar mampu menjadi teladan bagi setiap umat dalam membangun kesatuan. Dengan demikian, Allah juga hadir dalam diri setiap umat Katolik yang senantiasa mewartakan kasih Allah yang begitu sempurna. Allah yang satu dan satu ajaran-Nya tentang kasih akan Allah serta sesama merupakan dasar pemersatu bagi semua agama (Eddy Kristiyanto. William Chang, 2014:123). Dengan hal inilah, iman umat Katolik di Ledo semakin kuat dalam mengembangkan imannya akan Kristus dan mampu menampilkan kasih Allah kepada sesama.

    Oleh karena itu, persmian Gereja Katolik Paroki St. Agustinus Hippo di Ledo harus senantiasa menjadi suatu kenangan yang amat indah dan perkembangan iman umat juga semakin kian berkembang. Inilah yang mampu membuat paroki Ledo nantinya menjadi suatu paroki dengan paguyuban umat yang kuat akan persatuan dalam Kristus. Persekutuan dalam Kristus ini berartu umat yang mendirikan  persekutuan bersama selalu menekankan persaudaraan dalam nama Kristus itu sendiri, sehingga persekutuan dalam nama Kristus menjadi berkembang di Paroki Ledo dengan penuh tekat. Dengan adanya paguyuban umat nantinya akan membuat paroki Ledo menjadi terus berkembang dalam iman dan mampu menerima setiap umat Katolik dimana pun baik itu dari stasi yang berada di sekitar paroki atau stasi-stasi yang berada di wilayah pedalaman sekalipun.

    Iman Yang Kuat Dalam Diri Umat Paroki Ledo

    Umat Katolik di paroki Ledo tentu sudah memiliki perkembangan iman yang baik, mengapa tidak? Karena pelayanan pastoral dalam Gereja Katolik yaitu mencapai berbagai stasi-stasi di mana pun tempatnya. Umat beriman harus kuat dalam iman dan mampu membawa diri menjadi pelyan bagi sesama tanpa memandang status dan derajat umat itu sendiri. Namun, umat Katolik yang ada di paroki Ledo harus mampu memilih dan memilah pelayanan mana yang baik, tanpa melanggar moralitas Gereja dan mampu memberikan pengajaran. Umat beriman perlu kritis dan waspada sebab apa yang kelihatannya secara publik baik dan mendatangkan manfaat bagi banyak orang belum tentu sesuai dengan iman Katolik karena unsur intrinsiknya mungkin tidak sesuai dengan iman dan moralitas Gereja (Cahyo Christanto, 2013:82).

    Umat Katolik di paroki Ledo sudah menantikan adanya Gereja Paroki sendiri, karena umat menyadari bahwa, jika Ledo terus berada di wilayah paroki Bengkayang tentu pelayanan pastoral di wilayah Ledo akan kurang karena Ledo sendiri memiliki wilayah yang cukup luas dan notabene umatnya beragama Katolik dan stasi-stasinya juga kebanyakan berada di daerah pedalaman. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa Gereja hadir bagi umat beriman dan memberikan pelayanan kepada umat yang lemah. Gereja pada dasarnya menolong mereka yang kecil, miskin, dan disingkirkan dari peraturan hidup sosial (Eddy Kristiyanto, 2014:28-29). Oleh karena itu, Gereja kemudian memberikan pelayanan kepada umat beriman kepada Yesus Kristus.

    Umat Katolik di Paroki Ledo kini merasa sangat bahagia dan menyambut dengan penuh sukacita, ini terlihat jelas dari antusiasme umat yang mengikuti perayaan Ekaristi peresmian Paroki St. Agustinus Hippo pada 28 Agustus 2022 dimana hari itu juga merupakan hari peringatan wajib St. Agustinus Hippo. Dengan adanya paroki ini, iman umat nantinya bisa semakin lebih baik dalam memperdalam iman kepada Yesus Kristus. Iman yang kuat dapat membuat umat Katolik tetap teguh dan kuat dalam persaudaraan sesama umat beriman yang ada di paroki Ledo. Perlu diketahui bahwa paroki Ledo memberikan nama pelindung kepada setiap stasi dengan nama pelindung yang baru agar nantinya gereja stasi tersebut dapat mengadakan pesta nama pelindung.

    Menurut Gregorius Genari selaku anggota dewan pastoral paroki (DPP) paroki Ledo mengatakan bahwa pemberian nama pelindung yang baru kepada setiap stasi di paroki Ledo adalah bentuk langkah awal dari pengembangan iman umat di stasi-stasi. Karena diharapkan setiap tahun ada gereja stasi akan memperingati atau pesta nama pelindung gereja stasi hal ini akan diadakan secara rutin setiap tahunnya supaya umat juga semangat dan teguh dalam iman. Dengan demikian pelayanan iman umat di stasi-stasi nantinya akan merata dan semua stasi-stasi akan mendapatkan jatah pelayanan dari para imam maupun para katekis yang ada di paroki Ledo. Pelayanan iman umat adalah tugas pokok Gereja dalam memberikan bimbingan dan pembinaan kepada umat.

    Umat Katolik Paroki St. Agustinus Hippo di Ledo hidup berdampingan dan rukun dengan umat yang beragama lainnya, karena Kecamatan Ledo sendiri tidak hanya memiliki umat Katolik tetapi juga ada Islam dan Kristen. Hal inilah yang membuat kerukunan antar umat beragama menjadi hal yang sangat kuat di wilayah paroki Ledo. Kekuatan iman akan Kristus membuat segenap umat paroki Ledo menjadi kuat dalam iman. Kuatnya persaudaraan antar umat di paroki Ledo membuat para umat untuk saling memberikan bimbingan kepada umat yang ada di berbagai stasi baik itu stasi yang mudah di jangkau maupun stasi yang berada di wilayah pedalaman.

    Dewan Pastoral Paroki Ledo

    Dewan Pastoral Paroki (DPP) Paroki St. Agustinus dari Hippo, Ledo merupakan organisasi pertama di paroki yang baru saja diresmikan. Dewan pastoral nantinya akan bertugas bersama dengan para imam yang ada di paroki St. Agustinus Ledo dalam pembinaan iman umat yang ada di setiap stasi. Dengan adanya dewan pastoral ini, pastor paroki RP. Russell, OAR berharap agar semua anggota saling bekerjasama dalam menjalankan fungsi tugas dengan penuh tanggung jawab. Adapun dibentuknya dewan pastoral ini juga membantu memberikan pelayanan iman kepada umat agar umat juga bertumbuh dalam iman akan Kristus. Dewan pastoral ini juga terdiri dari mereka yang terpilih dari berbagai stasi-stasi yang juga memiliki latar belakang berbeda-beda. Mereka di pilih untuk membantu pelayanan pastoral di paroki Ledo.

    Dewan pastoral ini juga merupakan bentuk keterbukaan Gereja kepada umat beriman dalam bekerjasama mengembangkan kemampuannya di bidang pastoral. Adapun para pengurus dewan pastoral ini sebelum menjalankan tugas mereka mendapatkan pembekalan yang diberikan langsung oleh sekretaris Keuskupan Agung Pontianak yaitu, RP. Pius Barces, CP pada tanggal 15-17 Juli 2022. Pembekalan ini diberikan bertujuan untuk para dewan pastoral dapat menjalankan tugas harian dengan baik dan efektif. Mereka nantinya akan terjun langsung sebagai seorang katekis yang akan melakukan berbagai kunjungan ke stasi-stasi yang ada di wilayah paroki Ledo. Dewan pastoral ini dilantik dan dikukuhkan oleh Mgr. Agustinus Agus selaku Uskup Keuskupan Agung Pontianak lewat surat keputusan yang dibacakan dihadapan umat Allah yang hadir pada misa persmian Paroki St. Agustinus Ledo sekaligus pelantikan dewan pastoral paroki.

    Dalam memperkuat iman umat di paroki Ledo, para dewan pastoral yang telah di lantik nantinya akan menjalankan fungsi tugas, adapun unsur kepengurusan ini meliputi dari pengurus harian, ketua-ketua bidang, dan seksi-seksi yang memang membantu pelayanan di paroki Ledo yang baru saja diresmikan pada tanggal 28 Agustus 2022. Mereka akan terjun langsung di lapangan bersama dengan umat beriman, mengatasi persoalan iman, memberikan bimbingan iman, dan menjadi pelayan bagi umat beriman. Tidak menutup kemungkinan bahwa, mereka juga akan menghadapi berbagai macam cobaan nantinya ketika terjun langsung bersama umat. Berbagai cobaan hidup membuat iman seorang umat Katolik pasti mengalami goyah, pegangan cara memperkuat iman Katolik berdasarkan sabda-sabda Tuhan digunakan sebagai acuan untuk terus kuat dalam menghadapi perjalanan hidup (insighttour.id).

    Dengan menjalankan fungsi dan tugasnya nanti, para dewan pastoral ini tentu akan terus diberikan pelajaran oleh pihak paroki, mengingat organisasi ini adalah organisasi yang pertama dai paroki yang baru saja dilantik. Mereka bersama-sama dengan para pastor paroki akan menjalankan tugas pastoral kepada umat beriman, hal inilah yang membuat dewan pastoral itu dibentuk agar mampu menjadi bagian dari pelayanan pastoral di paroki Ledo. Dalam menjalankan tugas nantinya mereka juga akan menghadapi berbagai tantangan. Tantangan tersebut berupa hambatan dalam bidang pendidikan, transportasi, sarana dan prasarana, gereja atau kapel di stasi belum ada, buku-buku doa, buku nyanyian dan sebagainya (Amon Stefanus. Shinta Setyaningrum, 19). Hal inilah yang akan menjadi hambatan dan tantangan tersendiri bagi para dewan pastoral yang nantinya akan terjun ke stasi-stasi.

    Oleh karena itu, dewan pastoral paroki (DPP) Paroki St. Agustinus Ledo nantinya akan menghadapi berbagai macam tentangan masalah yang tengah dihadapi oleh umat. Maka dengan adanya pembelakan sebelum menjalankan fungsi tugas adalah hal yang amat penting bagi para dewan pastoral. Mereka juga harus senantiasa membimbing umat di stasi-stasi, agar umat juga mampu menjadi pelayan sesama bagi umat beriman di stasi-stasinya masing-masing. Contoh kasus sederhana adalah tentang kemampuan umat dalam menjalankan tugas menjadi gembala bagi umat beriman lainnya. Hampir di setiap stasi kegiatan ibadat hari Minggu belum berjalan, masih tergantung pada kunjungan pastor atau katekis (Amon Stefanus. Shinta Setyaningrum, 19). Hal ini sudah menjadi masalah biasa, inilah yang mejadi salah satu tugas dewan pastoral untuk memberikan pendampingan bagi para ketua stasi-stasi.

    Bagaimana Cara Memperkuat Iman Katolik

    Iman umat katolik memang harus terus dikembangkan dan terus diberikan bimbingan terus-menerus. Sudah menjadi hal pokok bagi Gereja Katolik dalam mengembangkan tugas ini. Iman umat kepada Kristus harus terus dikembangan dalam diri umat agar iman umat tidak mudah goyah. Begitupun bagi perkembangan iman umat di paroki Ledo yang akan selalu diperkuatkan imannya kepada Yesus Kristus. Ada banyak cara atau ide dalam memperkuat iman umat Katolik di paroki Ledo. Karena itulah ada sebagian besar umat Katolik selalu memperlihatkan banyak kegiatan berguna untuk memperkuat iman (insighttour.id).

    Dalam memperkuat iman Katolik itu sendiri ada banyak cara. Seperti yang sudah dibahas yaitu dengan melakukan kunjungan rutin ke stasi-stasi, mempelajari alkitab, membuat pelatihan, dan pembinaan kepada umat, dan mengadakan berbagai acara yang sifatnya membantu memperkuat iman umat Katolik di paroki Ledo. Dari sinilah bisa di lihat ada beberapa komponen utama yang kemudian digunakan sebagai modal dasar umat Katolik dalam menambah imannya kepada Yesus Kristus (insighttour.id). Iman umat Katolik akan bertumbuh dan berkembang dalam diri para umat ketika umat juga merasakan bahwa apa yang menjadi kebutuhan mereka dapat dipenuhi oleh Gereja.

    Dalam memperkuat iman Katolik, Keuskupan Agung Pontianak dalam hal ini senantiasa memberikan pelatihan kepada umat untuk senantiasa mempunyai semangat perjuangan dalam pelayanan kepada para ketua stasi-stasi yang di berikan langsung oleh setiap paroki yang ada di Kesukupan Agung Pontianak. Melakukan kunjungan rutin ke stasi-stasi terkhusus stasi yang berada di wilayah pedalaman adalah tugas yang harus dijalani oleh para pelayan Gereja, para imam dan para katekis. Hal ini tentu akan memperkuat iman Katolik karena mereka meresa bahwa Gereja Katolik memperhatikan kebutuhan umat yang ada di stasi-stasi pedalaman.

    Dalam memperkuat iman Katolik, Gereja memberikan pelayanan dan pembinaan kepada umat Katolik, umat Katolik terutama umat paroki Ledo tentu sudah mempercayai Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat. Menjadi satu syarat utama di dalam pengembangan dan penambahan iman seseorang yakni selalu percaya akan Tuhan (insighttour.id). Hal ini nantinya akan terus tampak dalam kehidupan umat beriman dan senantiasa memberikan kesaksian kepada sesama umat beriman. Hampir pasti kesaksian itu bersumberkan dari Allah (Armada Riyanto, 2019:25). Kesaksian yang diwartakan oleh umat kepada umat diyakini semuanya berasal dari Allah itu sendiri. Oleh karena itu, dalam memperkuat iman umat tentu banyak cara yang bisa dilakukan, tinggal bagaimana lagi pihak Gereja Katolik terkhusus paroki Ledo dalam membangun dan memperkuat iman umat Katolik yang ada di berbagai stasi di paroki Ledo.

    Kehidupan yang dikembangkan dalam Gereja Perdana, hendaknya menjadi inspirasi bagi Gereja untuk terlibat secara aktif dalam pengembangan iman jemaat melalui peran serta Gereja dalam kegiatan kerohanian di keluarga, lingkungan maupun Gereja setempat (aendydasaint.com). Sudah menjadi tugas pokok bagi para pelayan Gereja dalam perkembangan iman umat. Umat Katolik yang akan mendapatkan pelayanan nantinya juga semakin mantap dalam mengimani Yesus Kristus. Oleh karena itu, umat Katolik harus mampu juga dalam mengembangkan iman mereka, sehingga biar bagaimana pun adanya masalah yang dihapai mampu dikerjakan atau diselesaikan secara bersama-sama dalam terang iman yang sama. Menjadi pewarta juga bagi umat sesama demi menjaga iman Katolik.

    Gereja Sebagai Umat Allah

    Gereja kerapkali dikatakan sebagai umat Allah. Pada hakikatnya Gereja sebagai Umat Allah merupakan persekutuan orang-orang yang percaya kepada Allah (Stevanus Danang Setiyono, Agustinus Supriyadi, 2018:48). Persekutuan ini didasarkan pada rahmat pembaptisan yang diterima oleh umat Katolik yang hal ini juga bisa dikatakan sama dengan Kristus. Persekutuan umat Allah dalam membangun relasi antr umat beriman sudah menjadi hal yang tak asing lagi, karena umat Katolik senantiasa membangun hubungan kepada sesama dan kepada Allah.

    Hubungan antra manusia dan Allah diadakan oleh Kristus dan dibagikan melalui sakramen-sakramen, karena itulah Gereja menjadi tanda dan sarana (Antonius Denny Firmanto, 2011:18). Istilah Umat Allah juga sangatlah tepat. Hal ini memang sangat sering digunakan. Sebutan Gereja sebagai umat Allah sendiri menampilkan bahwa persekutuan umat Allah yang ada di dalam tubuh Gereja adalah bersifat religius dan sangat bersifat sakral. Allah merupakan dasar Gereja yang senantiasa memberikan pelayan kepada umat beriman dan umat Allah senantiasa percaya kepada Allah.

    Ungkapan Hadisumarta tersebut ingin mengatakan kepada umat, bahwa Gereja sebagai Umat Allah, yaitu mendasarkan diri mereka kepada Allah. Dalam hal ini, untuk menjadi umat Allah, umat harus memberikan diri kepada Allah dan mendasari hidup sepenuhnya kepada Allah yang menjadi sumber pengharapan iman dan kasih itu sendiri. Gereja hadir ditengah-tengah umat beriman, termasuk Gereja Paroki St. Agustinus Ledo yang kemudian dapat hadir bersama dengan umat dalam mengembangkan iman umat. Umat paroki Ledo adalah umat Allah, mereka harus memberikan hidupnya kepada Allah dengan penuh pengharapan, karena Gereja yang disebut sebagai umat Allah adalah diri umat itu sendiri dimana mereka mendedikasikan hidup seutuhnya kepada Allah sebagai Juru Selamat umat manusia.

    Sebagai Tubuh Kristus, Gereja menjadi baik komunitas iman, harap dan kasih, maupun sebuah organisasi yang dipimpin oleh hierarki dan tampak secara konkret (Novry Dien, 2020:56). Gereja sebagai umat Allah juga tertuang dalam Lumen gentium pada sidang ke lima Konsili Vatikan II yang dilaksanakan tanggal 21 November 1964. Adanya sidang tersebut tidak terlepas dari arus pemikiran dan ajaran Gereja yang sebelumnya. Lumen gentium menjelaskan bahwa umat Allah yang dimaksud adalah sebuah partisipasi dalam tritugas Yesus, yakni memimpin, menguduskan dan mewartakan (Novry Dien, 2020:57). Gereja mengambil peran Yesus Kristus dalam hal memimpin dan mewartakan sabda Allah. Dalam Perjanjian Lama, Allah sendiri telah memilih Abraham dan semua keturunannya yaitu bangsa Isreael (bdk. Kej 12:1-9). Hal ini hendak mengatakan bahwa Allah menjadi Allah bagi bangsa Israel dan sebaliknya yaitu Israel menjadi hamba Allah.

    Adapun Gereja sebagai umat Allah, berarti Gereja sendiri telah menjadi pengganti Kristus dalam hal pewartaan kepada umat Allah. Inilah yang kemudian menjadi peran dari Gereja Katolik Paroki St. Agustinus Ledo yang berada dalam wilayah gerejani Keuskupan Agung Pontianak harus bekerjasama dalam menampilkan diri sebagai Gereja yang mementingan kepentingan umat beriman dalam mengembangkan iman Katolik. Gereja sebagai umat Allah, yaitu gereja yang memberikan pelayanan kepada umat beriman, menguduskan umat beriman dan menjadi tanda persatuan umat Allah (LG 1). Oleh karena itu, paroki Ledo juga hadir bersama umat, memberikan pendampingan iman umat beriman, meneguhkan iman umat, dan menguduskan serta menjadi tanda persatuan umat Allah.

    Oleh karena itu, Gereja sebagai umat Allah berarti Gereja yang mampu hadir di tengah-tengah umat beriman demi memberikan pelayanan dan bimbingan demi memperkuat iman umat dimana pun. Paroki Ledo juga hadir dan memberikan bimbingan iman Katolik kepada segenap umat tanpa memandang perbedaan. Gereja paroki Ledo yang berada dalam wilayah Keuskupan Agung Pontianak harus saling bekerjasama dalam mendidik umat beriman dalam mengimani Yesus sebagai seorang Juru Selamat. Persekutuan umat beriman juga harus selalu menjadi bagian dalam pelayanan bagi setiap stasi baik itu di stasi pedalaman maupun stasi yang mudah untuk di jangkau. Kehadiran paroki Ledo memberikan harapan bagi umat untuk merasakan pelayanan para imam yang merata. Selain itu, iman umat akan Kristus juga semakin diperdalam demi menjadi peribadi yang baik dan manjadi pribadi yang rela menolong sesama. Inilah yang menjadi tugas dari Paroki Ledo yang baru saja diresmikan oleh Mgr. Agustinus Agus, Uskup Keuskupan Agung Pontianak yang melihat bahwa potensi umat Katolik di Kec. Ledo mampu berkembang dalam iman.

    Gereja Yang Hadir di Tengah-tengah Antar Umat Beragama

    Gereja Paroki St. Agustinus Ledo berada di tengah-tengah umat beraga. Paroki yang baru diresmikan ini memang dikelilingi oleh tempat ibadah umat berama lain, tetapi kerukunan akan menjaga ketenangan adalah hal yang terpenting. Hidup toleransi dapat ditampilkan oleh Gereja yang berada di antara umat beragama lainnya. kehidupan umat beriman bersama umat lainnya juga saling menjaga kekompakan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi bersama. Gereja harus terbuka dan tidak boleh menutup diri dari umat yang beraga lain, sebagai ajaran agama yang berbeda, Gereja juga melakukan berbagai dialog keagamaan dengan agama lainnya.

    Keuskupan Agung Pontianak sendiri mengedepankan dialog agama dengan agama lainnya, dimana hal ini tentu menambah wawasan Gereja terhadap pandangan ajaran agama lainnya. Seperti sifat Gereja sendiri yaitu Gereja yang Universal yang berarti terbuka untuk umum dan tidak menutup diri dengan agama lainnya. Begitupun paroki Ledo yang juga mengedepankan kerukunan antar umat beragama dan tetap menjaga tali kasih persaudaraan antar umat beragama. Umat paroki Ledo sendiri sudah sangat lama hidup berdampingan antar umat beragama, mereka mampu menjaga toleransi yang kuat dalam kehidupan sehari-hari dan mampu menjadi sahabat bagi mereka yang memiliki pandangan berbeda.

    Gereja yang hadir di tengah-tengah umat beragama mampu membuka diri dengan luas dan mampu menerima siapapun yang ingin datang kepadanya. Gereja yang berada di tengah-tengah umat beragama menjadi pelayan dan selaligus menjadi bagian dari perkembangan umat. Paroki St. Agustinus dari Hippo-Ledo kemudian menjadi saksi dimana Gereja yang berdiri dan hadir di tengah-tengah umat beragama mampu menjadi sahabat bagi umat beragama. Di Keuskupan Agung Pontianak saja memiliki misi dalam mengembangkan perkembangan Gereja yang ada di setiap paroki agar mampu menjadi tonggak perdamaian dan menjadi Gereja yang mau berdialog dengan agama manapun. Kehadiran Gereja Paroki Ledo adalah bentuk dari perkembangan iman yang mampu menjaga kesenjangan umat beragama dan mampu menjadi tanda toleransi antar umat beragama.

    Paroki Ledo menjadi bagian dari kehidupan umat beriman dalam mengembangkan imannya, karena dalam menjadi umat yang beriman kepada Kristus pertama-tama yaitu mempercayai Kristus sebagai Sang Juru Selamat umat manusia. Hal ini tentu sudah menjadi dasar dari umat Katolik. Memiliki kepercayaan terhadap Kristus sang teladan cinta kasih adalah bagian dari kehidupan umat. Kristus sendiri mengajarkan hukum cinta kasih sebagai landasan hidup yang menerima pribadi yang lain dalam kehidupan umat beriman. Gereja yang berada di tengah-tengah umat beragama kemudian menjadi dasar dari kasih persaudaraan Kristus itu sendiri. Gereja menjadi bagian dari perdamaian antar umat beragama karena Gereja senantiasa membuka diri dan tidak pernah menutup diri dari umat beragama lainnya.

    Oleh karena itu, sebagai Gereja yang hadir dan berdiri di tengah-tengah umat beragama, Gereja Paroki St. Agustinus dari Hippo-Ledo yang masuk dalam wilayah Keuskupan Agung Pontianak menjadi dasar dari kehidupan umat beragama lainnya. Menurut RP. Jovy, OAR selaku pastor rekan di paroki Ledo mengatakan, bahwa Paroki Ledo berdiri di tengah-tengah umat beragama, umat disini saling tolong-menolong dan saling menjaga kerukunan antar umat. Paroki Ledo yang baru saja diresmikan merupakan bentuk kepedulian Mgr. Agustinus Agus, Uskup Keuskupan Agung Pontianak yang melihat bahwa iman umat beriman di Ledo adalah bentuk dari perkembangan iman umat Katolik yang senantiasa menjaga imannya, hal ini ia melihat dari tumbuhnya iman umat Katolik di tengah-tengah umat beragama lainnya. Harapannya kelak semoga kehadiran Paroki yang baru ini bisa menjadi dasar dari semakin bertumbuhnya iman umat yang berada di tengah-tengah umat beragama lainnya.

    Gereja Yang Melayani

    Gereja yang melayani merupakan bentuk dari Gereja yang hadir bersama umat, karena dimana Gereja itu berdiri disitulah sabda ada. Gereja memberikan pelayanan iman kepada umat dalam mengembangkan iman akan Kristus. Gereja kemudian hadir dan terbuka bagi setiap siapa saja, seperti sifat Gereja Universal. Kehadiran paroki Ledo sebagai bentuk dari melayani umat beriman yang ada di wilayah Kec. Ledo. Dalam homilli misa peresmian Paroki Ledo, Mrg. Agustinus Agus menekankan bahwa Gereja Ledo harus memberikan pelayanan umat di stasi-stasi dan memberikan pendampingan bagi umat untuk mendalami imannya. Para imam dan pengurus dewan pastoral paroki (DPP) diminta untuk saling bekerjasama dalam menjalankan tugas yang baru di paroki yang baru. Semua unsur harus terlibat bersama umat, karena Gereja harus menjadi pelayan bagi segenap umat beriman tanpa pilih-pilih umat di stasi mana yang harus di kunjungi tetapi semua stasi harus di kunjungi.

    Gereja yang melayani adalah Gereja yang siap memberikan pelayanan kepada umat beriman, karena banyak sekali stasi-stasi yang berada di daerah pedalaman yang kurang menjadapatkan pelayanan Gereja, hal ini sangat memprihatinkan. Umat stasi-stasi pedalaman yang sebelumnya kurang menadapatkan pelayanan iman nantinya akan selalu diprioritaskan, karena mereka sangat rindu akan adanya Ekaristi Kudus. Hal inilah yang menjadi acuan dari Paroki Ledo dalam menjalankan fungsi tugasnya yaitu menjadi pelayan dan menjadi pewarta sabda dari Allah, umat harus merasakan kehadiran Gereja dalam kehidupannya, karena umat jarang sekali dikunjungi oleh tenaga imam.

    Menjadi pelayan umat adalah bagian dari kehiduap Gereja, diamana Gereja memberikan pelayanan kepada umat beriman agar umat beriman juga merasakan bahwa mereka tidak pernah ditinggalkan oleh Gereja. Demikian juga halnya dalam perkembangan iman umat, Gereja lah yang menjadi peran di dalamnya, karena berkembangnya iman umat itu bisa di lihat dari kesigapan Gereja dalam memberikan pelayanan iman yang memadai. Gereka Paroki Ledo juga demikian dalam membantu perkembangan iman umat beriman, Gereja paroki Ledo harus hadir bersama umat dalam mengembangkan imannya masing-masing.

    Paroki Ledo menjadi peran penting dalam perkembangan iman umat kelak, terutama iman umat yang berada di stasi-stasi pedalaman. Banyaknya stasi-stasi di daerah pedalaman membuat paroki Ledo terus menhidupi pelayanan pastoral yang merata ke setiap stasi-stasi. Hal ini juga sejalan dengan visi Keuskupan Agung Pontianak yang mengedepankan Gereja yang hadir berasam umat beriman dalam mengembangkan imannya. Oleh karena itu, seperti yang sudah dijelaskan di atas, Gereja menjadi kunci pembinaan iman umat dalam mengembangkan iman. Gereja Paroki Ledo harus siap melayanai segala kebutuhan iman umat beriman, karena iman umat beriman dapat dilihat dari kinerja para pelayan Gereja dalam membimbing, mengajari, dan membantu umat dalam menghayati iman mereka kepada Yesus Kristus.

    Gereja harus peka terhadap kebutuhan umat beriman, Gereja harus siap melayani umat beriman di stasi-stasi pedalaman maupun stasi-stasi yang tidak berada di wilayah pedalaman. Memang dalam hal melayani tidak selalu mudah dan tidak selalu mulus, tentu para pelayan Gereja akan menghadapi berbagai rintangan dan hambatan yang ada. Antara lain, umat yang malas ke Gereja padahal di stasi semuanya beragama Katolik, kurangnya pendidikan umat juga menjadi kendala, dan kurangnya rasa keiman umat terhadap Kristus. Hal inilah yang menjadi hambatan dalam pelayanan, disinilah Gereja kemudian hadir dan peka terhadap kebutuhan umat beriman. Paroki Ledo juga harus menyadari akan kebutuhan umat beriman dan memberikan pelayanan yang memadai kepada umat beriman.

    Persekutuan Umat Beriman

    Persekutuan umat beriman merupakan bentuk dari perkembangan iman umat beriman itu sendiri, banyak sekali persekutuan umat beriman yang ada di setiap Paroki. Paroki sendiri memberikan sarana bagi persekutuan umat dalam mengembangkan imannya, di paroki yang baru terutama di paroki Ledo sendiri memiliki persekutuan umat yang cukup berkembang pesat jauh sebelum adanya paroki. Persekutuan umat ini menjadi hal yang terpenting bagi perkembangan iman umat dan paroki, mengapa demikian? Karena lewat persekutuan umat ini, umat beriman mampu menyalurkan kemampuannya dalam menata iman dan juga mau berkembang dalam iman.

    Umat paroki Ledo sendiri memiliki banyak persekutuan umat, ada persekutuan doa, keluarga Agustinus, persekutuan Bapakat, persekutuan legio maria, dst. Persekutuan inilah yang kemudian berkambang dan terus melakukan sosialisasi di stasi-stasi. Persekutuan umat sangat berperan penting dalam sejarah perkembangan Paroki Ledo yang kelak menciptakan penerus-penerus persekutuan umat yang memiliki kompeten dalam bidangnya masing-masing. Di paroki Ledo, persekutuan umat sendiri sudah ada sebelum adanya paroki, inilah bentuk dari perkembangan iman umat dalam menciptakan persekutuan yang terdiri dari orang-orang yang mau masuk dalam persekutuan itu sendiri. Paroki juga kemudian memberikan pendampingan bagi persekutuan umat beriman dalam perjalannya.

    Paroki hadir bersama umat, berarti paroki juga kemudian bertanggungjawab dengan perkembangan persekutuan umat itu sendiri. Keuskupan Agung Pontianak sendiri memang selalu memperhatikan persekutuan umat, terkadang Keuskupan Agung Pontianak melalui bidang persekutuan melakukan berbagai cara agar persekutuan umat ini tidak mudah berhenti, tetapi juga akan terus berjalan dan berkembang.

    Perhatian Gereja bagi persekutuan umat ini menjadi hal yang sangat penting, karena mengingat bahwa Gereja berperan di dalamnya untuk membantu persekutuan umat dalam memperkembangkan iman mereka sendiri, hal ini tentu sangat jelas bahwa Gereja hadir bagi persekutuan umat juga dalam mengembangkan imannya. Sebagai Gereja Paroki yang baru, paroki Ledo juga memperhatikan perkembangan umat dalam menciptakan persekutuan itu sendiri. Menurut RP. Russell, OAR, ia menegaskan bahwa Gereja Paroki Ledo akan senantiasa mendampingi persekutuan umat, Gereja hadir bersama mereka, karena mereka jugalah yang membantu kami (para imam) dalam perkembangan iman umat lainnya.

    Persekutuan umat adalah tonggak dalam perwartaan sabda, mereka juga akan melakukan kunjungan pastoral diberbagai stasi yang ada di wilayah paroki Ledo. Dengan adanya persekutuan umat ini juga membuat iman umat juga semakin kuat, umat beriman memang harus selalu diperhatikan oleh Gereja, karena Gereja hadir bersama umat beriman. Umat katolik yang berada di wilayah paroki Ledo ini memang memiliki persekutuan umat yang cukup besar. Oleh karena itu, adanya persekutuan umat ini juga mampu memberikan pelayanan kepada umat yang berada di pedalaman untuk menghayati iman mereka kepada Yesus Kristus.

    KESIMPULAN

    Gereja Katolik Paroki St. Agutinus dari Hippo-Ledo yang maduk dalam wilayah Keuskupan Agung Pontianak merupakan paroki yang baru saja berdiri dan baru di resmikan. Berdirinya paroki Ledo ini tentu tidak lepas dari peran para penggagas, yang diantaranya yaitu, Mgr. Agustinus Agus, pastor paroki Bengkayang yaitu RD. Subandi, pasor paroki Ledo RP. Russell Lapidez, OAR, dan masih banyak lagi. Paroki Ledo awalnya secara administrasi masih tergabung dalam Paroki St. Pius X Bengkayang. Namun, pada awal januari 2022, secara administrasi Stasi St. Petrus dan Paulus Ledo kemudian pisah dengan Paroki Bengkayang dan berubah nama menjadi Kuasi Paroki St. Agustinus dari Hippo dan kamudian diresmikan menjadi paroki pada tanggal 28 Agustus 2022.

    Banyak sekali kisah awal tentang bagaimana berdirinya paroki ini, tetapi penlis mencoba mencari beberapa sumber mengenai sejarah berdirinya. Paroki ini berdiri karena adanya kesadaran dari gerejani Kesukupan Agung Pontianak, dalam hal ini yaitu Mgr. Agustinus Agus yang merasa bahwa Ledo memang pantas memiliki paroki sendiri, mengingat paroki Bengkayang juga adalah paroki yang cukup besar. Besarnya wilayah paroki Bengkayang memang tidak cukup untuk dilayani oleh tenaga imam yang hanya berdua saja, perlu adanya evaluasi menganai hal ini, sehingga pada akhirnya Paroki Bengkayang di pecdah menjadi beberapa paroki, seperti paroki Sanggau Ledo, paroki Jagoi Babang, dan yang terbaru adalah paroki Ledo.

    Paroki Ledo memiliki banyak stasi-stasi yang berada di pedalaman dibandingkan stasi-stasi tidak berada di pedalaman. Stasi-stasi yang berada di pedalaman ini memang jarang sekali mendapatkan kunjungan dari para imam, bahkan mereka tidak mendapatkan kunjungan dari para imam bertahun-tahaun, atau bahkan setahun sekali. Namun, bagaimanapun hal ini tidak mudah membuat para umat untuk meninggalkan iman mereka kepada Kristus dan tidak meninggalkan iman Katolik. Meskipun ada beberapa umat yang kemudian akhirnya pindah atau memilih kepercayaan yang lain “pindah agama”, tetapi itu tidak banyak.

    Sejarah perkambangan iman umat di Paroki St. Agustinus Ledo memang tidak lepas dari pembinaan iman oleh para imam dan para katekis yang berusaha mengunjungi stasi-stasi yang jauh dan berada di daerah pedalaman. Kehadiran mereka bukan samata-mata hanya untuk memimpin ibadah, tetapi mereka juga datang dan hadir di tengah-tengah umat untuk memberikan pengajaran dan pembinaan yang berguna bagi kehiudpan umat, sehingga iman umat juga semakin di perkaya dengan adanya pendampingan tersebut yang membawa iman umat Katolik berkembang.

    Pendampingan iman umat juga perlu diperhatikan oleh para imam dan para pengurus dewan pastoral paroki (DPP), karena merekalah yang membantu berkembangnya iman umat Katolik yang ada di wilayah masing-masing paroki terkhusus paroki Ledo. Gereja yang hadir di tengah-tengah umat beragama ini memberikan pelayanan kepada umat Katolik, yang berada di tengah-tengah umat beragama. Perkembangan iman umat ini kemudian memberikan suatu gambaran bahwa di paroki tersebut sungguh berkembang dan bahkan lebih maju.

    DAFTAR PUSTAKA

    Buku

    Chang, William, edt. (2017). Visi-Misi Keuskupan Agung Pontianak 2016-2020 (program kerja). Jakarta: Obor.

    Chang, Eddy Kristiyanto. William, edt. (2014). Multikulturalisme; Kekayaan dan Tantangannya di Indonesia. Jakarta: Obor.

    Firmanto, Antonius Denny. (2011). Metodologi Penelitian Eklesiologi Kontekstual. Malang: Widya Sasana Publication.

    Kristiyanto, Eddy, edt. (2014). “Spiritualitas Sosial: Suatu Kajian Kontekstual. Yogyakarta: Kanisius.

    Riyanto, Armada. (2019). Menjadi Mencintai; Berfilsafat Teologis Sehari-hari. Yogyakarta: Kanisius.

    Samosir, Leonardus, edt. (2017). Gereja Yang Hadir di Sini dan Sekarang Seri 1. Jakarta: Obor.

    Setyaningrum, Amon Stefanus & Shinta, edt. (2018). Kisah-kisah Seru Para Katekis. Pontianak: Sandu Institut.

    Suseno, Franz Magnis. (2004):  Menjadi Saksi Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk. Jakarta: Obor.

    Internet

    https://penakatolik.com/2019/05/11/begitu-kontras-perbandingan-jumlah-imam-dan-umat-di keuskupan-agung-pontianak/, diakses, 18 Okt 2022, pukul. 09.42.

    https://www.majalahduta.com/2021/12/mulai-1-januari-2022-stasi-ledo-pisah-administrasi-dari-paroki-bengkayang.php, diakses, 21 Okt 2022, pukul. 08.30.

    https://aendydasaint.com/2019/09/10/iman-dan-kebersamaan-dalam-jemaat-catatan-penting/. diakses, 22 Okt 2022, pukul. 22.48.

    http://insighttour.id/cara-memperkuat-iman-katolik/, diakses, 22 Okt 2022, pukul. 21.00.

    Jurnal

    Christanto, Cahyo. (2013): “Iman Katolik Memandang Berbagai Praktik Terapi Alternatif,” Jurnal Teologi, Vol. 2, No. 1. 73 – 90.

    Dien, Novry. (2020).  “Gereja Persekutuan Umat Allah,” Media, Vol. 11, No. 1: 49 – 64.

    Supriyadi, Stevanus Danang Setiyono, Agustinus. (2018). “Katekese Kontekstual: Sarana Dalam Membangun Gereja Sebagai Umat Allah Di Paroki St. Hilarius Klepu,” Jurnal Pendidikan Agama Katolik, Vol. 20, No. 10: 42 – 56.

    Inkulturasi Musik Liturgi Dari Budaya Dayak Dalam Liturgi Ekaristi Di Seminari Tinggi San Giovanni XXIII – Malang

    Inkulturasi Musik Liturgi Dari Budaya Dayak- (Musik Kenong Dayak Kanayatn yang dimainkan untuk mengiringi sebuah perayaan) - Foto Ilustrasi

    MajalahDUTA.Com, Jurnal/Pendidikan– Inkulturasi Musik Liturgi Dari Budaya Dayak Dalam Liturgi Ekaristi Di Seminari Tinggi San Giovanni XXIII – Malang

    PENDAHULUAN

    Inkulturasi musik liturgi dalam perayaan liturgi Ekaristi merupakan bentuk dari keterbukaan Gereja terhadap nilai-nilai budaya setempat. Gereja hadir ditengah-tengah umat untuk mewartakan sabda bahagia. Dengan adanya musik inkulturasi dalam liturgi Ekaristi diharapakan bahwa umat semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, karena dengan musik inkulturasi Gereja juga mengajak umat untuk menuju rahmat keselamatan, yaitu Yesus Kristus Sang Penyelamat Sejati yang senantiasa ada dengan umat.

    Inkulturasi musik dayak dalam liturgi Ekaristi memang bukan menjadi hal yang baru, karena dalam buku Madah Bhakti juga telah tersedia Inkulturasi musik dayak. Inkulturasi musik dayak ini sudah menjadi hal umum bagi umat untuk menyanyikannya, terlebih pada perayaan liturgi Ekaristi di Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII – Malang. Para Frater seminari Tinggi Giovanni XXIII kerapkali membawakan musik inkulturasi dalam perayaan liturgi Ekaristi, termasuk inkulturasi musik dayak itu sendiri. Lantas, bagaimana pandangan Gereja Katolik terhadap musik inkulturasi dibawakan dalam perayaan liturgi Ekaristi?. Hal inilah yang menjadi salah satu bentuk pokok yang ingin dihabas dalam artikel ini.

    Pandangan Gereja terhadap Musik Inkulturasi Dalam Liturgi Ekaristi

    Inkulturasi sesuai dengan penegasan Konsili Vatikan II (1962-1965) bahwa, gereja Katolik agar membuka diri dan menerima unsur-unsur kebudayaan setempat sejauh unsur-unsur kebudayaan itu tidak secara prinsipil bertolak belakang dengan ajaran agama Katolik.[1] Tujuan dari inkulturasi musik liturgi sendiri yaitu, umat berusaha mengungkapkan pernyataan imannya, serta berusaha menciptakan perayaan liturgi yang selaras dengan kebudayan setempat dengan lewat lagu-lagu inkulturasi yang dinyanyikan.

    Salah satu kebudayaan yang sering dipakai dalam liturgi ekaristi, yakni musik-musik Dayak yang sering dipakai untuk mengiringi prosesi ekaristi.[2] Lagu-lagu dayak yang sebelumnya sudah pernah diproduksi, kemudian dikembangkan kembali dengan dicampur ayat perikop kitab suci di dalam liriknya, sehingga terciptalah ikulturasi musik dayak. Akhirnya, semoga upaya Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta untuk menuju ke inkulturisasi musik gereja Indonesia dapat berhasil memadukan semangat kebudayaan asli dengan semangat Injil yang (lebih) benar.[3]

    Dalam musik liturgi, inkulturasi berarti usaha menciptakan bentuk-bentuk musik baru yang bermutu tinggi dan luhur, yang mengena pada orang beriman yang mengikuti perayaan liturgi Ekaristi.[4] Dalam hal ini Gereja juga memberikan ruang bagi para seniman musik liturgi untuk terus mengembangkan bakatnya dalam menciptakan inkulturasi musik liturgi sesuai dengan budaya setempat.

    Inkulturasi Musik Dayak Di Seminari Tinggi San Giovanni XXIII – Malang

    Seminari Tinggi San Giovani xxiii merupakan tempat pembinaan bagi para calon imam diosesan yang berasal dari seluruh keuskupan yang ada di Kalimantan, Keuskupan Malang dan Keuskupan Bali, total semuanya ada 10 Keuskupan. Seminari Tinggi San Giovanni xxiii merupakan bentuk kebinekaan, karena di dalamnya berkumpul orang-orang yang berasal dari berbagai daerah, yaitu Suku Flores, Jawa, Bali, Batak, Thionghoa, dan Dayak. Dengan adanya jumlah para calon imam yang berasal dari berbagai suku ini, Seminari Tinggi San Giovanni xxiii pun tidak luput dari nuansa kebudayaan yang cukup kental di dalamnya. Salah satu nuansa kebudayaan yang ada di Seminari Tinggi San Giovanni xxiii ini adalah inkulturasi musik dayak dalam perayaan liturgi Ekaristi.

    Inkulturasi musik liturgi, terkhusus budaya dayak memang sudah menjadi hal yang biasa di Seminari Tinggi Giovanni xxiii, mengingat para Frater yang berada di dalamnya juga rata-rata berasal dari berbagai keuskupan yang ada di Kalimantan. Dengan jumlah tersebut membuat para Frater kemudian membawakan inkulturasi musik liturgi bergaya budaya dayak dalam perayaan liturgi Ekaristi di Seminari Tingggi Giovanni xxiii – Malang. Hal tersebut juga memberikan warna tersendiri bagi para Frater, karena selain membawakan inkulturasi musik dayak, mereka juga dapat memperkenalkan kepada umat tentang budaya dayak di dalamnya.

    Pengunaan inkulturasi musik budaya dayak yang kerapkali digunakan di Seminari Tinggi Giovanni xxiii. Musik liturgi telah menjadi warga musik dunia yang demikian kaya.[5] Inkulturasi musik dalam budaya dayak dalam perayaan liturgi Ekaristi pada umumnya dinyanyikan di dalam Gereja Katolik yang ada di Kalimantan. Namun, itu adalah pemikiran yang keliru, sebab inkulturasi musik dalam liturgi bisa dinyanyikan di berbagai daerah, karena ini merupakan musik liturginya Gereja yang terbuka dengan kebudayaan yang ada. Seminari Tinggi San Giovanni xxiii adalah bentuk dari keberagaman suku dan bahasa, dengan membawakan inkulturasi musik dayak dalam perayaan liturgi Ekaristi para Frater juga mengenalkan budayanya kepada umat dan mampu membawa umat menghayati lagu iman tersebut.

    Kesimpulan

    Dari pembahasan yang ada di atas, dapat disimpulkan bahwa inkulturasi musik liturggi Gereja Katolik sudah ada sejak Konsili Vatikan II. Dimana Gereja menetapkan peraturannya bahwa Gereja harus terbuka terhadap kebudayaan setempat dimana Gereja tersebut berdiri. Gereja hadir dan membawa umat untuk mengenal Kristus lewat kebudayaan setempat dengan inkulturasi musik liturgi. Gereja juga membuka peluang bagi kebudayaan agar bisa masuk di dalam perayaan liturgi Ekaristi, karena Gereja Katolik juga berada ditengah-tengah umat yang ada diberbagai wilayah yang mempunyai corak budaya sendiri.

    Inkulturasi musik dayak menjadi salah satu dari berbagai inkulturasi musik liturgi yang berasal dari berbagai wilayah. Inkulturasi musik dayak merupakan bentuk dari Gereja yang hadir selalu ditengah umat beriman. Gereja Katolik terbuka bagi kebudayaan lewat inkulturasi musik liturgi. Begitu juga dengan para Frater di Seminari Tinggi San Giovanni xxiii yang memiliki kebudayaan dan bahasa yang berbeda-beda, sehingga inkulturasi musik dayak dalam perasayaan Ekaristi di dalamnya menjadi salah satu bentuk Gereja Katolik yang terbuka terhadap budaya yang ada.

    Melalui inkulturasi musik dayak tersebut pada hakikatnya ingin mempertemukan umat pada Kristus yang diimani. Begitupun di Seminari Tinggi San Giovanni xxiii, para Frater juga membawakan inkulturasi musik liturgi sebagai bentuk iringan perayaan liturgi Ekaristi.

    Relevansi

    Inkulturasi musik tradisional dalam perayaan liturgi Ekaristi memang menjadi hal yang sangat baik. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa Gereja Katolik harus bisa terbuka terhadap budaya setempat dimana Gereja tersebut berdiri. Inkulturasi musik liturgi tidak harus dinyanyikan di daerah tertentu yang sesuai dengan budaya setempat, tetapi pada kenyataannya inkulturasi musik liturgi bisa dinyanyikan diberbagai daerah yang memiliki kebudayaan yang berbeda. Salah satunya yaitu inkulturasi musik dayak yang bisa dinyanyikan diberbagai daerah manapun, asal mampu membawa umat menghayati imannya lewat nyanyian yang dibawakan, termasuk di Seminari Tinggi San Giovanni xxiii yang ada di Malang, Jawa Timur.

    Inkulturasi musik dayak bisa dinyanyikan di daerah mana saja, termasuk inkulturasi musik budaya lainnya dalam perayaan liturgi Ekaristi, selama musik yang dibawakan itu mampu membawa umat dalam penghayatan imannya. Gereja Katolik lebih terbuka kepada budaya setempat, unsur-unsur budaya bisa masuk ke dalam Gereja Katolik, sehingga banyak dari bangunan gereja Katolik mengikuti bangunan budaya daerah setempat. Inkulturasi dalam Gereja Katolik mampu berbaur bersama umat dan memberikan nuansa yang indah, sehingga umat mampu menghayati imannya dalam Kristus.

    [1] Emerensiana Jeri, “Inkulturasi Musik Dayak dalam Liturgi Ekaristi di Gereja Maria Ratu Pencinta Damai Air Upas-Ketapang” (https://stp2013blog.wordpress.com/2016/06/14/inkulturasi-musik-dayak dalam-liturgi-ekaristi-di-gereja-maria-ratu-pencinta-damai-air-upas-ketapang/), diakses: 04 Oct 2022: 18.20 WIB.
    [2] Ibid.,
    
    [3] Yoseph Yapi Taum, “RASA RELIGIOSITAS ORANG FLORES: Sebuah Pengantar ke Arah Inkulturisasi Musik Liturgi,” ACADEMIA: 7.
    
    [4] Florensius widodo yulianto, “Kajian Etnomatika terhadap inkulturasi musik suku dayak kanayatn serta sosialisasinya di kalangan peserta didik sekolah mengah atas,” (Yogyakarta: USD, 2019): 51.
    
    [5] Suryanugraha, “Melagukan Liturgi Menyanyikan Misa,” (yogakarta: Kanisius, 2015): 13.

    DAFTAR PUSTAKA

    Jeri, Emerensiana. “Inkulturasi Musik Dayak dalam Liturgi Ekaristi di Gereja Maria Ratu Pencinta Damai Air Upas-Ketapan.” (https://stp2013blog.wordpress.com/2016/06/14/inkulturasi-musik-dayak dalam liturgi-ekaristi-di-gereja-maria-ratu-pencinta-damai-air-upas-ketapang/), diakses: 04 Oct 2022: 18.20 WIB.
    Taum, Yoseph Yapi. “RASA RELIGIOSITAS ORANG FLORES: Sebuah Pengantar ke Arah Inkulturisasi Musik Liturgi,” ACADEMIA: 1 – 7.

    Suryanugraha. Melagukan Liturgi Menyanyikan Misa. yogakarta: Kanisius, 2015.

    yulianto, Florensius widodo. Kajian Etnomatika terhadap inkulturasi musik suku dayak kanayatn serta sosialisasinya di kalangan peserta didik sekolah mengah atas. Yogyakarta: USD, 2019.

    Penggunaan Nama Panca Marga, Di ijinkan Ketua LVRI Hanya Kepada PPM Di bawah Kepemimpinan Berto Izaak Doko

    Penggunaan Nama Panca Marga, Di ijinkan Ketua LVRI Hanya Kepada PPM Di bawah Kepemimpinan Berto Izaak Doko

    MajalahDUTA.Com- Jakarta, Penggunaan nama Panca Marga hanya atas seijin dan persetujuan Ketua Umum DPP LVRI dan ijin tersebut sudah diberikan kepada Pemuda Panca Marga (PPM) pimpinan sdr Berto Izaak Doko, jika ada organisasi lain yang menggunakan Panca Marga maka perlu dipertanyakan keabsahannya.

    Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Legiun Veteran Republik Indonesia (DPP LVRI) dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Wakil Ketua Umum DPP LVRI Letjen TNI Purn Muzani Syukur pada pembukaan Rakernas dan Rapimnas PPM di Hotel Pandanaran Simpang Lima Semarang, Senin (5/12/2022) kemaren lusa.

    Ketum LVRI juga menyampaikan bahwa misi PPM antara lain adalah mendukung misi LVRI dalam melestarikan Jiwa, Semangat dan Nilai Juang 1945.

    “PPM harus mampu meningkatkan semangat patriotisme, idealisme dan rasa setia kawan serta melindungi anggotanya dari pengaruh-pengaruh negative, baik secara ideologi, sosial dan budaya, dan juga tetap menjaga/memelihara kehormatan PPM dan kode etik LVRI,” ujar Ketum LVRI.

    Baca juga: PJ Gubernur Instruksikan Jakpro Segera Buat LP Keuangan Formula E, Demi Selamatkan Kredibilitas Pemprov DKI Jakarta

    Diakhir sambutannya sebelum membuka secara resmi Rakernas dan Rapimnas PPM, Ketum LVRI mengingatkan bahwa Negara Indonesia didirikan atas dasar Pancasila bukan yang lainnya dan Negara Indonesia adalah milik bersama rakyat Indonesia, bukan milik sebagian golongan.

    “LVRI adalah organisasi pejuang pengawal setia NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, artinya kita wajib menjaga NKRI dalam koridor perjuangan,” tegasnya.

    Dalam keterangannya Ketum PPM Berto menyampaikan bahwa Rakernas dan Rapimnas telah menghasilkan beberapa rekomendasi baik internal maupun eksternal.

    Berkaitan dengan Undang-Undang Dasar 1945, bahwa dalam perjalanannya terjadi perubahan atau amandemen yang dinilai menjauhkan dari cita-cita para pendiri bangsa menjadikan Indonesia Negara Medeka, Berdaulat, Maju dan Sejahtera, maka forum Rakernas dan Rapimnas merekomendasikan agar PPM membentuk Tim Khusus untuk melakukan kajian untuk mengembalikan UUD 1945 seperti awalnya diundangkan, sebagai bentuk tanggung jawab PPM kepada Bangsa dan Negara.

    “PPM sebagai pewaris nilai-nilai kemerdekaan harus proaktif menyampaikan masukan atau koreksi yang konstruktif untuk meluruskan, sebagai upaya mengembalikan UUD ’45 kedalam bentuk semula, demi kedaulatan, keutuhan serta kemakmuran rakyat Indonesia, sebagaimana mengutip statement LVRI bahwa UUD saat ini bukan 1945 lagi namun 2002,” tegas Berto.

    Lebih lanjut Ketum PPM Berto juga menyampaikan bahwa Rakernas dan Rapimnas 2022 telah merekomendasikan SIkap Politik PPM adalah Menganut Politik Negara yang artinya akan menjaga dan mengawal Pemerintahan yang sah dan konstitusional beserta kebijakan-kebijakannya.

    “Terkait dengan sikap politik kita, sebagai anak atau keturunan Veteran/Pejuang Kemerdekaan yang berhimpun dalam organisasi PPM tentu memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya dalam konteks politik, namun sebagai pewaris Jiwa, Semangat dan Nilai-juang 1945, maka PPM harus mampu menjadi Perekat Bangsa,” kata Berto.

    “Tentunya PPM sangat menghargai dan menghormati hak politik anggota dan pengurusnya secara personal,” imbuhnya.

    Baca juga: Komisi I DPR RI Didesak Inisiasi Hak Angket Dugaan Korupsi Pengadaan Tower BTS

    Sedangkan Rekomendasi tentang JSN’45, meminta kepada PP PPM untuk segera membakukan materi JSN’45 serta menjadikan program berkelanjutan dalam mensosialisasikan dan mengimplementasikan khususnya kepada Pimpinan Daerah PPM se Indonesia serta umumnya kepada masyarakat luas melalui berbagai saluran termasuk bidang pendidikan baik formal maupun informal, sebagai bentuk sinergitas PPM dengan LVRI.

    Rakernas dan Rapimnas PPM tahun 2022 dikiuti oleh peserta dan peninjau dari 30 Pimpinan Daerah PPM tingkat Provinsi dari seluruh Indonesia.

    Rangkaian acara Rakernas dan Rapimnas PPM yang dimulai 4 Desember hingga 6 Desember 2022 diawali pada Minggu (4/12/2022) dengan Upacara Ziarah dan Doa di Taman Makam Pahlawan Nasional Giri Tunggal Kota Semarang dan kunjungan ke Rumah Yatim Piatu sekaligus penyaluran santunan.

    Sebelum acara pembukaan, Senin (5/12/2022) pagi diisi dengan sosialisasi Jiwa, Semangat dan Nilai-nilai Juang 1945 (JSN’45) oleh Kadep Pewarisan JSN’45 DPP LVRI Mayjen TNI Mar Purn Nono Sukarno dan Karo Laks Pewarisan JSN’45 Letkol Inf Purn Totok Suroto.

    Sementara pesan KAPOLRI terkait Kebhinekaan dan Kebangsaan untuk menjaga NKRI khususnya menjelang Pemilu 2024 disampaikan oleh Wadirpolitik Baintelkam Polri Kombes Pol Yohanes Agus Rijanto.

    Rakernas dan Rapimnas PPM 2022 juga diisi dengan sesi pengarahan oleh Ketua Umum PPM Periode 1983 -1989 Joesoef Faizal, Ketua Umum PPM Periode 1992 – 2002 Djoko Purwongemboro, Sekretaris Dewan Pertimbangan Pusat (WANTIMPUS) PP PPM Soeryo Soesilo dan Anggota Wantimpus PP PPM Nehri Mangkuto Ameh.

    Memaknai Perayaan Natal

    Memaknai Perayaan Natal- Juniardi

    MajalahDUTA.Com, Pendidikan– Karunia Tuhan atas dunia ini begitu indah ketika Ia menjamin keselamatan kita melalui firman-Nya. Kasih Allah yang telah dikaruniakan ini takkan berkesudahan dan tetap kekal abadi sampai selama-lamanya. Firman Allah bukan hanya sekedar ucapan, namun Firman itu Ia jadikan serupa dengan umat-Nya dan bisa berkata-kata serta memberkati, bisa menyentuh dan mengasihi kita.

    Firman itu ialah seorang anak manusia, sang Allah Putera, Yesus Kristus. Keselamatan dari Allah akan dicapai hanya lewat Sang Firman saja, Dia  satu persekutuan abadi bersama-sama Allah Bapa dan Roh Kudus.

    Penantian akan peringatan kelahiran Sang Firman sungguh membuat umat Kristiani dipenuhi pengharapan sepanjang tahun. Kebahagiaan terpancar ketika memasuki bulan Desember, keceriaan anak-anak menantikan kado-kado natal mereka. Natal, bagi saya adalah perayaan syukur atas kelahiran Sang Firman, Tuhan Yesus Kristus.

    Baca juga: Permasalahan Teknologi Informasi dalam Dunia Pendidikan dan Sekitarnya

    Merayakan Natal tidaklah perlu dengan kemewahan dan gegap gempita karena Yesus Kristus pada 2000 tahun yang lalu, lahir ke dunia ini dalam kesederhanaan. Natal bukanlah ajang untuk memamerkan kedigdayaan kita, namun untuk menunjung tinggi Iman Kristen lewat peribadatan yang khusyuk, perayaan natal adalah dengan memberikan tempat terbaik dalam hati kita bagi kedatangan Kristus. Kiranya natal kita rayakan dengan tiga hal, yaitu kesederhanaan, pengharapan dan kasih.

    Kesederhanaan adalah rela bersikap rendah hati dan apa adanya tanpa kemunafikan, meneladani kesederhanaan Kristus ketika mengajar para murid-Nya, demikian juga kita ketika menjadi bagian dari komunitas sosial, penting sekali kerendahan hati ini dijaga agar mampu menjadi pendengar yang baik, menawarkan solusi bagi kendala-kendala  dan mendidik siswa-siswi.

    Sederhana juga berarti menjaga tutur kata agar menjadi berkat yang juga berarti sebisa mungkin menghindari kata-kata yang tidak seharusnya terucap, menjaga perbuatan agar membawa manfaat dan menjadi teladan

    Pengharapan, ialah penyerahan diri yang seutuhnya kepada Tuhan dengan tanpa kecuali. Tidak ada kata lain yang dapat saya pilih selain “penyerahan” diri secara total kepada Tuhan Yesus sebab Dialah Allah yang menyerupakan diri seperti ciptaan-Nya. Natal adalah perayaan pengharapan karena telah jelas tertulis pada Amsal 23:18 “Karena masa depan akan ada dan harapanmu tidak akan hilang.” Oleh karena itu, segala daya upaya, pekerjaan dan tindakan serta usaha yang dilakukan harus senantiasa disertai dengan pengharapan kepada Tuhan saja.

    Kasih, Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus yaitu 2 Korintus 13:13 “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian”.

    Ayat ini sangat jelas menerangkan bahwa Tuhan Allah telah mengasihi manusia maka sudah selayaknya manusia mengasihi segala sesuatu yang ada dalam kehidupannya. Kasih tidak lain ialah suatu pikiran dan tindakan yang berlandaskan kecintaan pada alam ciptaan. Kecintaan kepada sesama manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan dan bahkan benda-benda peralatan hidup mesti diperlakukan atas dasar cinta.

    Maka, natal adalah peristiwa yang membuat manusia sadar bahwa segala hal didalam hidup kita perlu mendapat sentuhan kasih. Menumbuhkan kasih kepada semua orang mesti dilakukan setiap saat, karena hanya dengan kasihlah kehidupan kita menjadi layak dihadapan Tuhan.

    Baca juga: Sinergisitas Organisasi Advokat- Kemendibudristek, Perdayakan Dunia Pendidikan, Cegah Kriminalitas

    Maka dari itu, merupakan perayaan syukur kepada Allah, yang dengan penuh kebijaksanaan menghidupkan Sang Firman menjadi serupa dan dekat dengan umat-Nya, Sang Firman itu adalah Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Oleh karena itu, perayaan syukur ini dirayakan dengan kesederhanaan, pengharapan dan kasih.

     

    Jampidsus Didesak Bongkar Konspirasi Jahat Di Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Tower BTS

    Jampidsus Didesak Bongkar Konspirasi Jahat Di Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Tower BTS

    MajalahDUTA.Com, Jakarta- Diperoleh informasi yang menyebutkan Kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam penyediaan infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) 4G dan infrastruktur pendukung paket 1, 2, 3, 4, dan 5 BAKTI Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) tahun 2020 sampai dengan 2022, pada perkembangan penangannannya oleh Kejaksaan Agung melalui Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Pekan lalu, telah memasuki tahapan pemeriksaan kembali 10 orang terkait, dari kesepuluh saksi satu di antaranya merupakan Direktur Utama (Dirut) dari BAKTI yaitu Anang Achmad Latif (AAL), hal ini artinya adanya dugaan terhadap keterlibatan orang dalam di Kemenkominfo yang terindikasi munculnya persengkongkolan jahat untuk memenangkan kepentingan pihak perusahaan pelaksana proyek tersebut, yang justru membawa malapetaka bagi masyarakat, demikian disampaikan H. Galuh Sunarya Koordinator Komunitas Korban Proyek Pengadaan Tower BTS kepada awak media, Jumat, 16/12/2022 di Jakarta.

    “Kami menduga titik awal terjadinya tragedy kasus dugaan korupsi Mega Proyek senilai trilyunan rupiah tersebut, adanya konspirasi jahat untuk mengatur proyek tersebut agar dapat meraup keuntungan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.” Ungkap H Galuh.

    Menurut H Galuh, selain adanya dugaan konspirasi jahat tersebut, dari hasil penelusuran dan pengamatan, pihaknya menemukan fakta bahwa Proyek pengadaan tower BTS ini melanggar aturan, tidak memiliki Ijin Mendirikan Bangunan dan juga tidak mendapatkan ijin dari Warga, namun tetap dilanjutkan pembangunannya, meskipun saat ini ada yang macet, hal ini diindikasikan adanya tindakan gratifikasi ke pejabat setempat diduga dilakukan oleh pihak kontraktor dan juga diduga oleh pihak Kemenkominfo, sehingga terjadi gratifikasi dan bahkan secara sistematis melalui structural birokrasi dan melalui cara-cara yang korupsi maupun manipulatif, kondisi tersebut, terlihat pada kualitas perangkat yang disediakan oleh pihak kontraktor, ternyata kualitasnya buruk, tidak memadai dan bahkan membahayakan kehidupan warga.

    “Jadi hasil konspirasi itu, jelas menghasilkan suatu pekerjaan yang bukan hanya tidak layak, melainkan juga membahayakan kehidupan masyarakat, hal inilah yang mestinya juga menjadi perhatian Jampidsus Kejagung dalam melakukan penanganan kasus ini”tukas H. Galuh.

    Untuk itulah, lanjut H Galuh, pihaknya sangat berharap Jampidsus, tidak hanya focus penanganan kasus ini dari sisi besarnya nilai kerugian negara saja, melainkan juga memperhatikan sisi dampak yang ditimbulkan oleh kasus dugaan korupsi proyek pengadaan tower BTS tersebut, yang dialami oleh masyarakat, yang tinggal berada lokasi pekerjaan proyek tersebut, yang sampai saat ini tidak ada rasa tanggungjawab baik dari Kemenkominfo maupun pihak Kontraktor, untuk memberikan kompensasi kepada warga yang menderita akibat proyek hasil Konspirasi jahat.

    “Kami sudah sampaikan surat pengaduan ke Jampidsus Kejagung, agar segera membongkar konspirasi jahat tersebut, yang diduga adanya keterlibatan Jhonny G Plate sebagai Menkominfo bersama koleganya sesama satu partai yakni Partai Nasdem, kapan donk, pak, mereka ini diperiksa, akibat kasus ini, kami warga justru jadi korbannya”pungkas H Galuh.

    Makna Rumah Betang Panjang Bagi Suku Dayak Sebagai Kearifan Lokal Di Tengah Arus Modernisasi

    Frater Marsianus Andriawan/ Mahasiswa Filsafat di Pematang Piantar, Sumut – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Sumut – MAKNA RUMAH BETANG PANJANG BAGI SUKU DAYAK SEBAGAI KEARIFAN LOKAL DI TENGAH ARUS MODERNISASI

    Abstraksi

    Rumah betang panjang merupakan rumah yang memiliki ciri khas tersendiri yang dimiliki oleh suku Dayak yang ada di Kalimantan. Rumah betang panjang ini, menjadi pusat kebudayaan adat dan ritual oleh suku Dayak. Di mana rumah betang panjang ini juga masih dihuni oleh orang-orang Dayak sebagai tempat tinggal mereka dibeberapa daerah yang ada di Kalimantan, khususnya daerah yang ada di Kalimantan Barat. Walau begitu banyak rumah betang panjang yang dimiliki oleh suku Dayak, namun ciri khas yang pasti tidak akan hilang, yaitu panjang dan tinggi.Bagi orang Dayak yang bertempat tinggal di Rumah betang panjang ini memiliki makna dan fungsi sosial bagi mereka sendiri dan sesama, yaitu rasa persaudaraan dan saling tolong menolong yang kuat tetap mereka pertahankan dengan teguh. Rumah betang panjang menjadi pusat bagi orang-orang Dayak menjalankan kebudayaan dan ritualnya, karena rumah betang panjang sendiri masih dipercaya memiliki sifat yang magis bagi orang Dayak. Misalnya saja mengenai bentuk dan tangga untuk menaikinya. Hal ini dipercaya bahwa bentuk dan tangga memiliki makna spiritual yang membuat kita setelah kematian nanti bisa sampai kepada sang pencipta (Penompa).

    Kata Kunci: Rumah Betang, Rumah Panjang, Bentuk Fisik, Tempat Hunian, Pusat Organisasi Sosial, Sekolah Non-Formal, Seni, Tradisi, Religius, Estetika.

    Pengantar

    Apabila mendengar nama rumah betang panjang, maka orientasi pikiran sebagian besar orang pasti akan langsung tertuju kepada sebuah bangunan yang tinggi, panjang, memiliki bilik-bilik dan di dalamnya ada begitu banyak orang suku Dayak dengan ciri khas tertentu. Memang gambaran rumah betang panjang kurang lebih demikian. Akan tetapi bila kita menelisik lebih jauh tentang makna dari rumah betang panjang, maka pembahasan kita tidak lagi hanya terorientasi pada bentuk fisik saja, melainkan lebih dalam dari itu, yakni sebagai salah satu simbol dan jati diri orang Dayak.

    Saat ini, di beberapa tempat masih bisa dijumpai rumah betang panjang, namun keberadaan masyarakat Dayak yang masih tinggal di rumah betang panjang sudah tidak banyak lagi. Ada yang memilih untuk tinggal di rumah tunggal (membangun rumah di luar rumah betang panjang). Ada juga yang kondisi rumah betang panjang sudah sangat memprihatinkan sehingga tidak layak lagi di huni. Dan, ada juga rumah betang panjang yang sudah runtuh, rata dengan tanah akibat tidak ada perawatan. Intinya, keberadaan rumah betang panjang kini sudah mulai langka.

    Makna Rumah Betang Panjang

    Rumah betang panjang merupakan rangkaian tempat tinggal yang sambung-menyambung sehingga memanjang karah samping kiri dan kanan yang telah dikenal hampir oleh seluruh orang Dayak. Rumah panjang memberikan makna tersendiri bagi penghuninya. Bagi masyarakat Dayak, rumah betang panjang adalah pusat kebudayaan mereka, karena hampir seluruh kegiatanm hidup mereka berlangsung di sana.[i] Pada saat ini, banyak penilaian mengenai eksistensi rumah betang panjang yang dianggap tidak cocok dengan kehidupaan masyarakat sekarang ini. rumah betang panjang dinilai sebagai sesuatu yang menjadi penghambat kemajuan dan pembangunan.

    Menurut Michael R. Dove dalam bukunya Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia dalam Modernisasi, mengatakan: “dalam konteks studi dan perencanaan pembangunan di Indonesia, kesan komunalisme atas rumah betang panjang suku Dayak kadang-kadang dianggap sebagai suatu kekurangan, pada waktu tertentu sebagai keuntungan dan terkadang sebagai gabungan dari keduanya…”.[ii]

    Pada tingkat pemerintahan provinsi di Indonesia, bentuk organisasi rumah betang panjang secara jelas dianggap menjadi masalah. Para pejabat provinsi mengeluhkan atas rumah panjang. Rumah betang panjang dikatakan “menjemukan, “kotor” karena masalah higiene dan sanitasi dan “berbahaya” (karena adanya ancaman penyaki dan bahaya kebakaran yang tidak disengaja). Bila dilihat terkadang kritikan ini bersifat subjektif. Karena masalah higiene, sanitasi dan kesehatan tidak lebih buruk di sebuah rumah betang panjang dibandingkan dengan sebuah desa yang terdiri dari rumah-rumah untuk kediaman satu keluarga. Api bukan menjadi ancaman besar di tengah hutan rimba Kalimantan yang banyak hujannya.[i] Hal ini menjadi tampak jelas bahwa alasan-alasan untuk menjelekkan rumah betang panjang, jelas sangat merugikan bagi kehidupan budaya komunal masyarakat Dayak.

    Bentuk Fisik Rumah Betang Panjang

    Proses pembangunan rumah betang panjang berbeda dengan proses pembangunan rumah pada umumnya. Pada zaman dahulu pembangunan rumah betang panjang masih menggunakan bahan-bahan yang sangat tradisional, mulai dari kayu sebagai bahan utama, pasak untuk mengkaitkan tiap-tiap kayu (sebagai pengganti paku) dan atap masih menggunakan anyaman daun enau atau sirap (atap dari kepingan kayu belian).[i] Namun bila kita melihat pembangunan rumah betang panjang pada zaman ini, maka kita bisa melihat hampir seluruh konstruksi bangunan menggunakan beton dan bahan modern lainnya. Selain itu juga, bila dahulu pengerjaan pembangunan rumah betang panjang bisa memakan waktu yang lama, maka kini pembangunan itu bisa lebih singkat karena didukung oleh alat-alat bangunan yang canggih.

    Namun demikian, apabila melihat bentuk fisik bangunan rumah betang panjang, baik itu tradisional, maupun modern, kita akan menemukan banyak kesamaan. Hal ini dikarenakan sejak awal pembangunan rumah betang panjang (tradisional), hingga modern seperti sekarang ini, bentuk fisik bangunan rumah betang panjang hampir seluruhnya sama, yakni berciri panjang dan tinggi.

    Rumah betang panjang merupakan rumah dengan rentetan bilik yang sambung menyambung menjadi satu kesatuan. Secara umum, banyaknya bilik yang ada di rumah betang tergantung seberapa banyak keluarga yang tinggal di situ. Ketinggian tiang-tiang penyangga (pilar) dari tanah ke lantai bangunan sekitar 6-8 meter. Hal ini bertujuan untuk mencegah gangguan dari binatang-binatang buas dan dari serangan musuh.[i] Selain itu pada masa lalu, sebagian besar masyarakat Dayak membangun rumah betang tidak terlalu jauh dari pinggiran sungai. Dengan bentuk bangunan yang tinggi akan lebih aman bila suatu ketika air sungai meluap dan banjir melanda.

    Bagian berikutnya yang menjadi ciri fisik dari rumah betang panjang adalah ada dua ruangan di dalam rumah betang yang masing-masing bagian memiliki fungsi tersendiri, yakni serambi di bagian luar dan bilik di bagian dalam. Bilik merupakan sebuah ruangan tempat tinggal keluarga yang dibatasi oleh sekat-sekat yang bisa dibuka pasang. Satu kepala keluarga menempati satu bilik. Luas dari tiap-tiap bilik sangat bervariasi untuk tiap-tiap daerah. Biasanya, sebelum proses pembangunan, ada kesepakatan dari seluruh warga berkaitan dengan luas untuk tiap-tiap bilik. Di dalam bilik itu terbagi lagi menjadi beberapa bagian kecil. Satu ruangan kecil sebagai kamar tempat tidur, ada satu ruangan untuk keluarga berkumpul (sejenis ruang keluarga) dan ada dapur di bagian belakang.[ii] Bila ada perayaan besar seperti Gawai, upacara kematian atau perkawinan, sekat-sekat yang ada di dalam tiap-tiap bilik itu akan dibuka sehingga akan menjadi satu ruangan yang luas yang bisa menampung seluruh tamu yang datang.[iii]

    Kemudian, bagian lain yang ada di rumah betang panjang adalah serambi. Serambi merupakan satu ruangan yang luas tanpa sekat. Dari ujung ke ujung hanya ada satu hamparan ruangan terbuka. Fungsi dari serambi ini adalah sebagai tempat untuk pertemuan adat, bekerja, bertukar pikiran, belajar aneka keterampilan, ibadat-ibadat, dan lain-lain. Karena serambi adalah ruangan terbuka, maka setiap orang bisa saling berjumpa dan berkomunikasi satu dengan yang lain. Apa bila ada perayaan-perayaan besar, serambi berfungsi sebagai pusat dari perayaan tersebut.[iv]

    Rumah betang panjang adalah rumah dengan model satu atap dengan satu pintu masuk dan keluar. Oleh karena itu. Meskipun di dalam rumah betang panjang ada banyak bilik, namun hanya ada satu tangga untuk bisa keluar dari rumah menuju ke tanah. Inilah yang menjadi kekhasan dari rumah ini. Perlu dipahami bahwa satu pintu dengan satu tangga ini dibuat bukan tanpa makna apa pun. Tangga untuk keluar masuk rumah betang pun bukan seperti tangga biasa pada umumnya. Bentuk tangga selalu dibuat menyerupai bentuk tubuh manusia. Ada bagian tangan dan kepala di bagian atas tangga tersebut. Hal ini selain memiliki makna seni, juga memiliki makna religius. Dalam sistem kepercayaan tradisional masyarakat suku Dayak, satu tangga itu menyimbolkan bagaimana perjalanan jiwa manusia setelah mati akan berjalan naik menuju kembali kepada sang pencipta (Penompa). Sementara satu pintu menyimbolkan hanya ada satu yang menciptakan semua yang ada di dunia ini, dia itulah yang memberi, menjaga, dan melindungi. Dia itulah yang disebut sebagai Penompa (pencipta/pembentuk).[i]

    Rumah Betang Panjang Sebagai Tempat Hunian

    Sebelum mengenal sistem perumahan tunggal, masyarakat suku Dayak pada masa lalu hidup bersama di dalam satu kelompok masyarakat dengan satu rumah hunian bersama, yakni rumah betang panjang.[ii] Masyarakat Dayak pada saat itu masih memiliki naluri untuk selalu hidup bersama secara berdampingan dengan warga masyarakat lainnya. Mereka senang akan hidup yang damai dan harmonis dalam sebuah komunitas rumah betang panjang sehingga berusaha terus bertahan dengan rumah panjang mereka. Harapan ini di dukung oleh kesadaran setiap individu untuk menyelaraskan kepentingannya dengan kepentingan bersama. Kesadar ini dilandasi oleh alam pikiran religio-magis, yang menganggap bahwa setiap warga mempunyai nilai dan kedudukan serta hak hidup yang sama dalam lingkungan masyarakatnya.[i]

    Sebagai sebuah rumah hunian, rumah betang panjang mempunyai peranan sebagai pemersatu untuk menjaga ikatan persaudaraan dan juga menjadi simbol identitas diri suku tersebut. Di dalam rumah betang panjang itu bila ada kegiatan, maka kegiatan itu akan dilakukan secara bersama-sama. Semangat gotong royong dan persatuan masih sangat terasa kental di dalamnya. Sebagai sebuah identitas diri, keberadaan rumah betang panjang menjadi simbol eksistensi sebuah kelompok masyarakat.[i] Sebab, di dalam rumah betang panjang itu ada sebuah struktur masyarakat seperti layaknya sebuah sistem kemasyarakatan pada umumnya. Ada perangkat-perangkat organisasi yang memiliki fungsinya masing-masing. Dan, perlu diketahui bahwa meskipun rumah betang itu memiliki bentuk yang kurang lebih sama, namun tata kelola sistem kemasyarakatan tetap berdiri sendiri (otonom) sesuai dengan wilayah di mana rumah betang itu didirikan.

    Kehidupan di dalam rumah betang panjang selalu didasarkan pada rasa kekeluargaan dan kebersamaan. Pola pemukiman rumah betang panjang erat hubungannya dengan sumber-sumber makanan yang disediakan oleh alam sekitarnya, seperti lahan untuk berladang, sungai yang banyak ikan dan hutan-hutan yang dihuni binatang buruan.[ii] Tidak ada keluarga yang terlalu menonjol di dalam hal kekayaan. Apa bila ada memiliki kelebihan, maka mereka akan membagikan kepada yang kekurangan. Begitu juga apabila ada orang atau keluarga yang mendapatkan binatang buruan maka, mereka akan membagikan hasil buruan itu satu dengan yang lain.[iii]

    Apabila ada waktu senggang di siang hari, umumnya ibu-ibu atau wanita akan mengerjakan kerajinan tangan seperti menenun atau menjahit sambil berbagi cerita satu dengan yang lain. Sementara itu bapak-bapak atau para lelaki, mereka biasanya mengerjakan alat-alat kerja seperti parang, jarai, membuat jala atau bubu.[iv] Hal ini biasa dilakukan sebagai bentuk keakraban dan persaudaraan sebagai satu keluarga yang berhimpun dan berlindung di bawah atap yang sama yaitu di rumah betang panjang.

    Namun, di sisi yang lain meski hidup di dalam rumah betang di dasarkan pada nilai-nilai kebersamaan, rumah betang panjang juga terbuka untuk tiap-tiap keluarga menjaga ruang privasi mereka masing-masing. Kenyataan ini tergambar jelas dari aturan yang diberlakukan untuk tiap penghuni bilik, yakni tidak sembarang orang boleh keluar masuk bilik orang lain tanpa izin. Kecuali apabila ada perayaan tertentu, sekat bilik akan dibuka, dan orang boleh untuk berpindah dari bilik yang satu ke bilik yang lain dengan lebih leluasa.[i]

    Rumah Betang Panjang Sebagai Pusat Organisasi Sosial

    Masyarakat suku Dayak memang tidak mengenal sistem masyarakat bertingkat (kasta) seperti yang dikenal oleh beberapa suku bangsa seperti di Bali atau di Jawa. Namun sebagai sebuah kelompok masyarakat, struktur-struktur organisasi tetaplah ada. Hal ini bertujuan untuk mengatur tata kelola hidup bersama di rumah betang panjang, agar tercipta ketertiban dan kenyamanan di antara keluarga-keluarga yang tinggal di dalamnya. Ada struktur masyarakat, sistem politik dan sistem hukum adat yang tersusun rapi dan khas.[ii]

    Dalam menentukan dan memilih struktur kepengurusan masyarakat yang ada di rumah betang panjang, biasanya diadakan musyawarah bersama seluruh penghuni rumah betang yang telah dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Dari musyawarah tersebut kemudian ditentukanlah orang yang dianggap cakap dan mampu untuk kemudian dipilih menjadi ketua suku yang akan memimpin seluruh keluarga yang ada di rumah betang panjang itu. Selain memilih ketua suku, musyawarah ini juga memilih struktur pengurus masyarakat lainnya seperti pemimpin upacara ritual religius dan ketua adat yang menjadi penegak hukum adat; serta mengawasi dan memutuskan perkara-perkara adat.[iii]

    Rumah Betang Panjang sebagai Sekolah non-formal bagi kebudayaan, Seni dan Tradisi

    Pada zaman dahulu, ketika sekolah-sekolah formal masih sangat langka dan sulit untuk dijangkau. Kehadiran rumah betang bisa dibilang menjadi pilar utama bagi orang-orang Dayak untuk belajar berbagai macam pengetahuan, terlebih terkait dengan nilai-nilai kebudayaan, bentuk-bentuk kerajinan tangan dan kesenian, serta kearifan lokal lainnya.[iv] Mereka belajar sebagaimana seharusnya bekerja, namun sekaligus juga mencintai dan menghargai alam sebagai ibu yang memberikan kehidupan kepada mereka. Belajar menggunakan kearifan lokal untuk bertahan hidup dan melanjutkan kehidupan. Singkat kata, rumah betang panjang menjadi sekolah non-formal bagi warganya.[v]

    Kenyataan bahwa rumah betang panjang menjadi sekolah non-formal ini bisa dilihat dari kebiasaan warga yang ada di rumah betang ketika waktu sedang senggang. Pada siang hari, sebagian dari mereka ada yang mengerjakan kerajinan tangan, seperti anyaman dan menenun. Ada juga yang mengerjakan alat-alat pertanian. Ada juga yang bernyanyi dan bermain musik. Sementara itu, ketika malam hari, anak-anak mendengarkan kisah-kisah dongeng rakyat dari para nenek, sementara orang-orang tua yang laki-laki duduk bersama di serambi, saling bertukar pikiran sambil meminum tuak.[vi]

    Kegiatan-kegiatan semacam ini merupakan salah satu model pendidikan non formal yang diwariskan oleh para orang tua kepada generasi sesudahnya dan hal itu hanya bisa di dapat apabila mereka masih tinggal di rumah betang panjang. Secara mandiri dan tanpa teori mereka belajar membuat kerajinan, kesenian dan memelihara tradisi serta nilai-nilai kebudayaan yang selama ini telah diwariskan dari generasi ke generasi.

    Makna Religius dari Rumah Betang Panjang

    Orang Dayak sering dikaitkan orang yang lekat dengan unsur supranatural atau manusia magic. Perspektif ini muncul ketika orang di luar suku Dayak membaca atau mendengar kisah-kisah tentang orang Dayak yang mampu mengalahkan musuh-musuhnya tanpa menyentuh dan tanpa kelihatan, punya ilmu kebal, dan lain-lain. Intinya orang Dayak dianggap sebagai orang yang sakti.[i] Sebetulnya perspektif semacam itu tidak berimbang dan cenderung menciptakan fobia bagi orang-orang yang tidak mengenal orang Dayak.

    Religiusitas orang Dayak bukan melulu berkaitan dengan praktek-praktek supranatural semacam itu. Dalam peribadatan ritual tradisional orang Dayak, ada nilai-nilai moral yang sangat ditekankan. Sebagai contoh, sebelum orang Dayak membangun rumah betang panjang, mereka harus terlebih dahulu mengadakan sebuah ritual tradisional, memohon izin kepada Penompa agar memberkati dan melindungi tanah yang akan digunakan, bagi rumah yang akan dibangun dan bagi orang-orang yang akan berdiam di dalamnya. Contoh lain adalah ketika hendak membuka hutan untuk dijadikan ladang, ada ritual-ritual yang dilakukan sebagai cara mereka memberikan penghormatan kepada alam dan mohon restu kepada Penompa. Intinya religiusitas orang Dayak adalah religiusitas yang membatin. Sebab, baik manusia maupun alam adalah sama-sama berasal dari Penompa.[ii]

    Sekarang, apabila berbicara tentang aspek religius dari rumah betang panjang, kita bisa mendalami itu dari bentuk fisik dari rumah tersebut. Secara umum, rumah betang panjang selalu memiliki ciri yang khas, yakni tinggi, besar, panjang, memiliki satu pintu dan memiliki satu tangga sebagai jalur lintasan orang masuk dan keluar. Mengapa ciri fisik semacam itu hanya dimiliki oleh rumah betang panjang? Berdasarkan tinjauan antropologis rumah betang panjang merupakan rumah sekaligus ‘kampung’ bagi setiap sub suku Dayak. Di dalamnya mereka berlindung, bernaung dan hidup. Selain itu, di dalam rumah betang panjang itu juga penerusan tradisi, seni budaya, adat-istiadat, ritual keagamaan, dan lain-lain di selenggarakan[iii]

    Sementara berdasarkan tinjauan religiusnya, rumah betang panjang merupakan sebuah gambaran kehidupan manusia setelah kematian. Bentuk rumah yang menjulang tinggi melukiskan bagaimana ketika manusia itu mati, roh akan meninggalkan badan dan berjalan naik menuju kehidupan yang baru bersama dengan Penompa. Perjalanan naik menuju ke kehidupan itu dilukiskan dengan tangga rumah betang panjang yang bentuknya menyerupai manusia. Sedangkan, satu pintu sebagai jalur keluar masuk itu mempunyai makna, hanya manusia yang mampu hidup selaras dan bersahabat dengan alam dan sesama yang boleh berjalan melewati pintu itu dan masuk ke dalam kehidupan abadi bersama dengan Penompa.

    Estetika Rumah betang

    Rumah betang memiliki unsur estetikanya, yaitu dari bentuk fisik yang memanjang dan memiliki pintu keluar di tengah, hal ini sama dengan estetik dalam keseimbangan formal, yaitu keseimbangan pada dua pihak berlawanan dari satu poros dan memiliki sifat yang statis.[iv] Estetika lain juga terdapat dalam ukiran-ukiran pahat motif Dayak yang terdapat di dalam tiang rumh betang dan di dinding pada sebuah rumah, hal ini sama dengan stilisasi dalam estetika.[v] Masih banyak estetika yang terdapat dalam rumah betang yang tidak ditampilkan, karena bagi orang Dayak memang ada hal yang tidak sembarangan orang bisa melihatnya, karena bisa mengakibatkan sakit atau sebagainya.

    Penutup

    Rumah betang menjadi bukti adanya sejarah bagi keberlangsungan hidup orang Dayak pada zaman dulu. Dimana rumah betang panjang mempunyai peranan penting dalam mengembangkan rasa solidaritas dan kekeluargaan serta semangatgotong royong di antara suku Dayak. Satu motto yang melekat bagi orang-orang Dayak yang ada di Kalimantan Barat khususnya, yaitu: “Adil Ka` Talino Bacuramin Ka Saruga, Basengat Ke` Jubata” artinya, adil terhadap sesama manusia, memandang ke surga dan hidup berserah kepada yang Maha kuasa.[i]

    Kebudayaan yang seiring dengan waktu mulai tergerus oleh modernisasi, keberadaan rumah betang yang dianggap sudah tidak cocok lagi bagi zaman ini perlahan-lahan mulai ditinggalkan. Namun, kita perlu ingat bahwa saat ini “ada” karena ada sejarah, oleh sebab itu, kebudayaan akan rumah betang panjang yang baik, yang pernah dihidupi oleh nenek moyang kita  harus kita tingkatkan. Dengan demikian, rasa kecintaan akan kebudayaan asli kita akan semakin menggelora dan semakin lestari di bumi Indonesia kita ini.

    [1] Paulus Florus, dkk., Kebudayaan Dayak: Aktualisasi dan Transformasi (Jakarta: Gramedia, 1994), hlm. 204.

    [1] Paulus Florus, dkk., Kebudayaan Dayak: Aktualisasi …, hlm. 205.

    [1] Paulus Florus dkk., Kebudayaan Dayak: Aktualisasi …, hlm. 205.

    [1] Michael R. Dove, Sistem Perladangan Di Indonesia (Yogyakarta: Gajahmada University Press, 1998), hlm. 56.

    [1]  Soenaptpo, dkk. Arsitektur Tradisional Daerah Kalimantan Barat (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986), hlm. 169.

    [1] Soenaptpo, dkk. Arsitektur Tradisional…, hlm. 171.

    [1] Herman Josef van Hulten, Hidupku Di Antara Suku Dayak (Jakarta: Grasindo, 1992), hlm. 159.

    [1] Soenaptpo, dkk. Arsitektur Tradisional…, hlm. 173.

    [1] Tjilik Riwut, Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1993), hlm. 98.

    [1] Y. C. Thambun Anyang, Kebudayaan dan Perubahan Daya Taman Kalimantan dalam Arus Modernisasi (Jakarta: Grasindo, 1998), hlm. 78.

    [1] Paulus Florus dkk., Kebudayaan Dayak: Aktualisasi …, hlm. 206.

    [1]. John Bamba, Mozaik Dayak: Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat (Pontianak: Institut Dayakologi, 2008), hlm. 120.

    [1] Paulus Florus dkk., Kebudayaan Dayak: Aktualisasi …, hlm. 206

    [1]Herman Josef van Hulten, Hidupuku Di Antara …, hlm. 163.

    [1] Tjilik Riwut, Kalimantan Membangun …, hlm. 106.

    [1] John Bamba et al., Mozaik Dayak: Keberagaman …, hlm. 124.

    [1] Fridolin Ukur, Tantang-Djawab Suku Dajak (Djakarta: BPK Gunung Mulia, 1971), hlm. 57.

    [1] Fridolin Ukur, Tantang-Djawab…, hlm. 58.

    [1] Herman Josef Van Hulten, Hidupku Di Antara …, hlm. 163.

    [1] Tjilik Riwut, Kalimantan Membangun …, hlm. 110.

    [1] Tjilik Riwut, Kalimantan Membangun …, hlm. 112.

    [1] Herman Josef van Hulten, Hidupku Di Antara …, hlm. 165.

    [1] Tjilik Riwut, Kalimantan Membangun …, hlm. 112.

    [1] Soenaptpo et al., Arsitektur Tradisional …, hlm. 175.

    [1] Lingga Agung, Pengantar dan Konsep Estetika (Yogyakarta: Kanisius, 2017), hlm. 13.

    [1] Lingga Agung, pengantar dan Konsep…, hlm. 7.

    [1] Nico Andasputra dan Vincentius Julipin, Mencermati Dayak Kanayatn (Pontianak: Institute of Dayakology Researc and Development, 1997), hlm. 51.

    Daftar Pustaka

    Agung, Lingga. Pengantar Sejarah dan Konsep Estetika. Yogyakarta. Kanisius. 2017.

    Anyang, Thambun Y. C. Kebudayaan Perubahan Daya Taman Kalimantan dalam Arus Modernisasi. Jakarta: Grasindo. 1998.

    Bamba, John (ed). Mozaik Dayak (Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat). Pontianak: Institut Dayakologi. 2008.

    Dove, Michael R. Sistem Perladangan di Indonesia. Yogyakarta: Gajahmada University Press. 1988.

    Florus, Paulus dkk. Kebudayaan Dayak: Aktualisasi dan Transformasi. Jakarta: Grasindo. 1994.

    Julipin, Vincentius and Nico Andasputra. Mencermati Dayak Kanayatn. Pontianak: Institute of Dayakology Research and Development. 1997.

    Hulten, Herman Josef. Hidupku di Antara Suku Dayak. Jakarta: Grasindo. 1992.

    Ukur, Fridolin. Tantang-Djawab Suku Dajak. Djakarta: BPK Gunung Mulia. 1971.

    Wuryanto, Herry Soenaptpo dkk. Arsitektur Tradisional Daerah Kalimantan Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1986.

    Outbound Akhir Semester Siswa Kelas VI SD Plus Gembala Baik Pontianak

    Siswa Kelas VI dan Bapak/Ibu Guru SD Plus Gembala Baik – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Sungai Kakap – Akhir semester menjadi moment yang sangat berharga, sangat disayangkan jika hanya dilewatkan begitu saja. Maka sekolah mengambil peran untuk mengisi akhir semester yang menyenangkan dengan belajar, bermain dan berpetualang.

    SD Plus Gembala Baik Pontianak mengadakan kegiatan Outbound untuk kelas VI di Taman Agrowisata Rekadena Sungai Kakap, Kubu Raya pada Kamis (8/12/2022).

    Kegiatan Outbound merupakan kegiatan yang menyenangkan karena pada dasarnya Outbound adalah pembelajaran yang dapat dilakukan baik di alam terbuka atau tertutup. Adapun bentuk permainan yang dilaksanakan, yaitu menggabungkan antara kemampuan fisik, kecerdasan serta kekuatan mental.

    Outbound SD Plus Gembala Baik 

    Nah hal – hal ini lah yang ingin dikenalkan, dibentuk, dan ditanamkan dalam diri siswa/siswi kelas VI SD Plus Gembala Baik. Sebagai salah satu bekal bagi mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya, yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP).

    Baca Juga: Peserta Didik SD Plus Gembala Baik Mewakili Kalbar dalam PESPARANI Katolik Nasional II, Meraih Medali Emas

    Kegiatan di koordinir oleh bapak/ibu wali kelas VI dan tim pramuka bekerja sama dengan pihak Taman Agrowisata Rekadena untuk mendampingi siswa/i melaksanakan kegiatan Outbound di alam terbuka. Kegiatan Outbound diisi dengan games, Flyingfox, dan Wall Climb.

    Menutup kegiatan bapak/ibu guru diwakili oleh Mis Imelda menyampaikan ucapan terima kasih kepada anak-anak.

    “Mis Imelda mewakili bapak/ibu guru mengucapkan terima kasih kepada anak-anak semua atas kesediaannya mengikuti kegiatan Outbound dan terima kasih atas kerja sama kalian semua selama mengikuti kegiatan. Kegiatan Outbound ini khusus untuk kalian anak-anak kelas VI.”

    “Satu hal lagi pesan Mis untuk kalian anak-anak kelas VI. Jangan lupa, jadikan kegiatan ini kenang-kenangan bersama teman-teman kalian. Karena tidak akan terulang untuk kedua kalianya. kalaupun kalian ikut Outbound lagi pasti rasa nya akan berbeda” tambah Mis Imelda.

    Baca Juga: Perayaan HUT PGRI Ke-77 Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak: Tulang Punggung Untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Adalah Guru

    Pihak Rekadena juga mengucapkan terima kasih telah mempercayakan mereka untuk membimbing siswa-siswi melaksanakan Outbound dan menyampaikan permohonan maaf.

    “Saya kak Angga mewakili pihak Taman Agrowisata Rekadena mengucapkan terima kasih kepada bapak/ibu guru semua yang telah mempercayakan anak-anak kelas VI SD Plus Gembala Baik melaksanakan Outbound. Dan kami juga memohon maaf atas pelayanan, tindakan dan tutur kata yang kurang berkenan. Semoga berikutnya kita dapat berjumpa kembali dilain kesempatan.”

    FSAB Muda : Hari Anti Korupsi Dunia 2022, Momentum Memassifkan Pembudayaan Anti Korupsi Wujudkan Indonesia Pulih Bersatu Lawan Korupsi”

    FSAB Muda : Hari Anti Korupsi Dunia 2022, Momentum Memassifkan Pembudayaan Anti Korupsi Wujudkan Indonesia Pulih Bersatu Lawan Korupsi”

    MajalahDUTA.COM, Jakarta- Hari Anti Korupsi International, diperingati setiap tanggal 9 Desember, untuk peringatan di tahun 2022 ini mengambil tema “Indonesia Pulih Bersatu Lawan Korupsi”. Melalui tema ini, KPK ingin mengajak dan memperkuat peran serta masyarakat dalam upaya memerangi korupsi, tentunya ajakan KPK tersebut juga merupakan perwujudan dari Gerakan pembudayaan anti korupsi yang dapat dimaknai sebagai upaya membangun suatu budaya kesadaran masyarakat untuk melawan ancaman bahaya latent korupsi, yang membahayakan keberlangsungan tatanan nilai-nilai kehidupan masyarakat, demikian disampaikan Anne Sarjono anggota Forum Silahturahmi Anak Bangsa (FSAB)Muda, saat dihubungi awak media, Jumaat, 9 Desember 2022 di Jakarta.

    “Terbentuknya sikap pembudayaan anti korupsi dapat dianggap semacam bensin yang akan menggerakkan motor tatanan hukum yang ada, bahwa tanpa motor penggerak ini maka pranata hukum itu akan menjadi lembaga yang mati belaka, karena itulah sangat diperlukan langkah konkrit untuk membangun budaya anti korupsi melalui terbentuknya perilaku dalam pelayanan masyarakat yang transparan, kridibel dan akuntabel”ucap Anne Sarjono.

    Menurut Anne, dalam Gerakan pembudayaan anti korupsi, tidaklah semudah yang dibayangkan, dikarenakan adanya berbagai permasalahan yang dihadapinya, diantaranya adalah masalah keimanan yang juga terkait dengan mentalitas masyarakat masih mudah tergiur oleh gaya hidup hedonism maupun konsumerisme, kemudian minimnya keteladanan atau role model dari seorang figur kepemimpinan yang membudayakan anti korupsi, serta masih terlihat lemahnya penegakkan hukum terhadap korupsi, bahkan masih terkesan hukum tajam kebawah tumpul keatas bahkan dari kalangan, sehingga kondisi menyebabkan keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum sepenuhnya efektif dalam pencegahan dan pemberantasan Korupsi, yang masih terkesan tebang pilih terhadap penanganan kasus korupsi, dan juga pengawalan penuntasan dari pencegahan sampai penghukuman pada koruptor belum memberikan efek jera, karena itu diperlukan adanya evaluasi kinerja dari KPK maupun dari aparat hukum lainnya untuk melakukan perubahan lebih efektif agar jumlah Koruptor dapat lebih berkurang.

    Selain itu, lanjut Anne, diperlukan adanya Strategi preventif yakni merupakan upaya pencegahan agar seseorang tidak terjerumus ke dalam prilaku korupsi. Termasuk di dalam strategi ini adalah meningkatkan kesadaran terhadap bahaya korupsi melalui penyuluhan-penyuluhan hokum, baik di lingkungan masyarakat maupun lingkungan pendidikan. Begitu juga dengan meningkatkan keimanan akan adanya hari perhitungan amal (yaumul hisab) di akhirat kelak, bahwa seluruh amal perbuatan manusia akan dimita pertanggung jawabannya oleh Allah SWT, kemudian strategi deduktif, Strategi ini dimaksudkan untuk membuat sistem deteksi dini atas tindakan korupsi sehingga apabila ada indikasi perbuatan korupsi akan dengan cepat terdeteksi sehingga tidak sampai kepada tindakan korupsi yang lebih besar.

    “Serta menerapkan strategi represif, dengan menerapkan penegakkan supremasi hukum, bagi para koruptor, sehingga dapat menimbulkan efek jera bagi koruptor agar tidak korupsi lagi, dan bagi masyarakat, akan merasa takut atau malu apabila melakukan tindak pidana korupsi dalam bentuk apapun”tukas Anne.

    Hal Senada juga disampaikan Bimo, kepada awak media yang menghubunginya, ia mengatakan Dengan semakin terbukanya informasi, terlihat adanya peningkatan dalam kesadaran anti-korupsi di masyarakat. Sebagian masyarakat mulai menggunakan media sosial untuk memviralkan kasus2 pungli yang mereka alami. Ini seharusnya menjadi momentum untuk semakin meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai permasalahan tersebut

    “ Saya melihat bahwa korupsi di Indonesia masih sangat luas dan sistematis. Menurut Transparency International Indonesia, dikutip dari laman Tempo, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia berada di peringkat 96 dari 180 negara. Masih perlu kerja yang jauh lebih keras lagi untuk memberantas korupsi dan meningkatkan kesadaran anti-korupsi di masyarakat”ungkap Bimo yang juga anggota FSAB Muda kepada awak media, Jumaat, 9/12/2022 di Jakarta.

    Menurut Bimo, KPK memiliki peranan yang penting dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. KPK telah berhasil menangani banyak kasus korupsi yang terjadi, baik di instansi pemerintahan di pusat maupun di daerah, dan juga di berbagai instansi swasta, dari informasi yang diperoleh, Saat ini KPK juga telah menjalankan tiga strategi dalam pemberantasan korupsi. Pertama, melalui pendekatan pendidikan masyarakat.

    Hal tersebut bertujuan untuk mencapai masyarakat yang bebas dari budaya korupsi, dari adanya keinginan melakukan korupsi menjadi tidak ingin melakukan korupsi karena mengetahui bahaya korupsi. Kedua adalah dengan pendekatan pencegahan melalui perbaikan sistem.

    “Akan tetapi, saya melihat kalau KPK masih kurang efektif dalam mengkampanyekan gerakan anti-korupsi, khususnya di akar rumput, untuk itulah di Peringatan Hari Anti Korupsi International ini dapat menjadi momentum untuk memasifkan Gerakan pembudayaan anti korupsi agar dapat mewujudkan Indonesia Pulih Bersatu Lawan Korupsi”pungkas Bimo.

    Philofestid 2022 dan Mimpi Orang Muda Indonesia yang Semakin Kritis

    Philofestid 2022 dan Mimpi Orang Muda Indonesia yang Semakin Kritis

    MajalahDUTA.COM, Pontianak- Tahun ketiga. Iya, ini tahun ketiga penyelenggaraan PhilofestID. Sebagai sebuah Festival Filsafat Jalanan, PhilofestID lahir dari kegelisahan komunitas-komunitas Filsafat yang menyebar di seluruh Indonesia pada tahun 2020. Ketika Pandemi Covid-19 melanda Indonesia saat itu, komunitas-komunitas Filsafat bermunculan di permukaan media sosial. Ini dampak langsung dari terbatasnya perjumpaan secara fisik.

    Ada belasan komunitas Filsafat dan pegiat Filsafat yang berkumpul di grup Whatsapp saat itu. Betang Filsafat salah satunya. Pertanyaan yang menyeruak adalah: bagaimana cara mendiseminasikan Filsafat ke banyak orang muda di Indonesia? Romo Joni, SCJ (@romo_koko) melihat internet sebagai media yang sangat tepat dalam mendiseminasikan Filsafat kepada orang muda. Komunitas-komunitas dan para pegiat Filsafat setuju. Martin Suryajaya, Kang Syarif dan rekan-rekan komunitas lainnya sepakat bahwa gebrakan awalnya adalah dengan merayakan Filsafat. Lahirlah PhilofestID!

    Seingat saya, ada banyak usulan nama untuk festival ini. Intinya satu: Filsafat harus dirayakan, didiseminasikan dan dinikmati oleh banyak orang muda di Indonesia. Di tahun pertama (2020), komunitas Jakarta yang menjadi Tuan Rumah dan bertanya: Bagaimana Dunia Setelah Pandemi? Di tahun kedua (2021), komunitas-komunitas mulai bertanya tentang Filsafat Indonesia, Filsafat Nusantara. Komunitas Malang yang menjadi Tuan Rumah saat itu. Kedua PhilofestID (2020 dan 2021) dilaksanakan secara 100% online.

    Mimpi Orang Muda yang Semakin Kritis

    Di tahun 2022, Betang Filsafat (Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo) menjadi Tuan Rumah PhilofestID 2022. Kampus II Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (Jln. Merdeka No. 55 Pontianak) menjadi tempat dimana PhilofestID 2022 dilaksanakan.

    Berbeda dengan PhilofestID 2020 dan 2021, PhilofestID kali ini dilaksanakan secara hybrid (offline dan online) dari 10-17 Desember 2022. Secara online, peserta PhilofestID cukup banyak. Ribuan. Namun secara offline? Entah.

    Jawaban saya mungkin terdengar pesimis. Bukan itu concern saya. Ketika ditunjuk menjadi ketua Panitia dan Tuan Rumah PhilofestID 2022, di kepala saya muncul banyak pertanyaan. Salah satunya adalah: bagaimana caranya memperkenalkan Filsafat kepada kaum muda di Kalimantan Barat? Betang Filsafat adalah sebuah komunitas Filsafat kecil dan masih baru. Secara nasional, banyak orang menantikan kajian-kajian Filsafat seperti ini. Secara offline? Di Pontianak? Saya belum punya data pastinya terkait ketertarikan kaum muda terhadap Filsafat. Lantas, bagaimana PhilofestID 2022 akan dilaksanakan di Pontianak secara hybrid? Apakah mungkin?

    Saya tetap meng-iya-kan permintaan komunitas-komunitas Filsafat tersebut agar Betang Filsafat menjadi Tuan Rumah PhilofestID 2022. Mimpi saya, orang muda Kalimantan Barat bisa menjadi semakin kritis. Memperkenalkan Filsafat kepada orang muda Kalimantan Barat adalah hal yang saya impikan sejak pertama kali mengabdi di sini. Daya kritis kaum muda bisa terbentuk lewat Filsafat.

    Peradaban berjalan karena manusia bertanya. Inovasi hadir karena manusia bertanya. Kreativitas terbentuk karena manusia bertanya. Pertanyaan menjadi sangat penting. Daya kritis seharusnya menjadi nadi setiap manusia. Dan hal-hal inilah yang menjadi mimpi PhilofestID: menjadikan orang muda semakin kritis.

    Kritis Di Ambang Krisis

    Filsafat hidup. Ia lahir dan bertumbuh sejalan dengan peradaban manusia. Kelahiran kesadaran mengandaikan di saat yang bersamaan kelahiran Filsafat. Karena itulah Filsafat kemudian hadir dalam setiap tangis dan derita, tawa dan bahagia manusia.

    Dalam perjalanan panjang peradaban manusia, stabilitas dan krisis berjalan seumpama roda. Pada titik tertentu, manusia mengalami stabilitas yang mengarah pada kecemerlangan peradaban. Pada titik lainnya, manusia krisis dan berada di titik nadir kemanusiaan. Di titik lainnya, stabilitas dan krisis berjalan beriringan, seakan-akan ketika manusia mulai merasa stabil di situ krisis mulai siap menerkam.

    Pada titik-titik ini, manusia berefleksi. Manusia tidak pernah berhenti memahami dan memaknai hidupnya, Ujung dan refleksi ini adalah penyadaran diri dan perubahan.

    Tiga tahun ke belakang, dunia dilanda bencana. Pandemi Covid-19 menghantam kehidupan manusia nyaris tanpa ampun. WHO mencatat ada 16,6 juta orang meninggal akibat Covid-19 di seluruh dunia hingga Mei 2022. Kehidupan berubah total. Ekonomi dunia jatuh. Jarak justru menjadi jalan keselamatan. Media sosial hadir sebagai jembatan untuk komunikasi sekaligus disharmonisasi.

    Pada Februari 2022, Perang Rusia-Ukraina meletus. Banyak pihak menyebut perang ini sebagai gerbang menuju Perang Dunia III. Negara-negara adidaya mau terlibat, namun tampak “malu-malu kucing”. Sebagai ekportir utama dunia untuk minyak mentah, seed oil, jagung, gandum hingga gas alam cair (LNG), perang antara kedua negara ini mengakibatkan inflasi parah di banyak negara. Rantai pasok dunia menjadi kacau. Kemiskinan meningkat. Persoalan kemanusiaan mencuat. Religiusitas manusia dipertanyakan.

    Dunia di ambang krisis.

    PhilofestID 2022 hadir dengan pertanyaan “peradaban dunia akan ke mana?” Di ambang krisis, nalar manusia harus menjadi semakin kritis. Mematikan nalar sama dengan mematikan peradaban manusia. Filsafat mengambil peran penting di sini. Di hadapan krisis, manusia semestinya kritis!

    Salam Filsafat!

    TERBARU

    TERPOPULER