Saturday, May 18, 2024
More

    Perkembangan Iman di Paroki yang Baru

    (Tinjauan Eklesiologi Historis Perkembangan Iman Umat Di Paroki Ledo-Keuskupan Agung Pontianak)- Oleh: Petrus Pasalima (pasalimapetrus@gmail.com),- Dr. Antonius Denny Firmanto, M.Pd. (rm_deni@yahoo.com), - Dra. Nanik Wijiyati Aluwesia, M.A, S.Th.L3 (yulitaspm@gmail.com)- Sekolah Tinggi STFT Widya Sasana – Malang

    MajalahDUTA.Com, Pendidikan- Perkembangan Iman di Paroki yang Baru.

    Abstrak

    Fokus tulisan ini terletak pada tema pengaruh/dampak konteks eklesiologi pada zamannya terhadap pembentukan spiritualitas yang ada di keuskupan. Karya ini juga mengambil beberapa referensi lain serta wawancara untuk memperdalam pembahasannya. Peristiwa pokok yang diangkat dalam artikel ini adalah perkembangan iman umat Katolik yang berada di Paroki St. Agustinus dari Hippo-Ledo yang merupakan paroki baru di wilayah Keuskupan Agung Pontianak. Metodologi yang digunakan ialah membaca, merefleksikan, dan mewawancarai beberapa narasumber serta mencoba menemukan pokok permasalahannya. Ada tiga temuan dalam karya ini. Pertama, perkembangan iman umat di Keuskupan Agung Pontianak apakah berkembang atau tidak. Kedua, perlu diketahui bahwa Paroki St. Agustinus dari Hippo-Ledo adalah paroki yang baru saja diresmikan pada tanggal, 28 Agustus 2022 Ketiga, perkembangan  iman umat di Paroki Ledo menjadi tugas dari para imam dan para pengurus dewan pastoral paroki (DPP). Keempat, perkembangan iman umat yang berada di wilayah pedalaman harus mendapatkan perhatian penuh, karena stasi-stasi yang berada di pedalaman sebelumnya memang kurang mendapatkan kunjungan dari para imam. Perkembangan iman umat menjadi tanggung jawab dari setiap paroki, para imam yang bertugas di paroki harus mengedepankan pelayanan yang merata kepada umat yang berada di stasi-stasi pedalaman. Gereja hadir bersama umat, Gereja hadir sebagai pelayan umat, dan Gereja hadir sebagai pewarta sabda Allah kepada umat, sehingga Gereja mampu memberikan pelayanan kepada umat beriman dan mampu menjadi bagian dari perkembangan iman umat.

    Kata kunci: Paroki Ledo, Keuskupan Agung Pontianak, iman, persekutuan, perkembangan.

    PENDAHULUAN

    Gereja Katolik paroki St. Agustinus dari Hippo-Ledo berada di Kec. Ledo, Kab. Bengkayang. Paroki ini berada di wilayah Keuskupan Agung Pontianak. Paroki Ledo adalah paroki baru di Keuskupan Agung Pontianak yang di resmikan oleh Mgr. Agustinus Agus. Pada awalnya, Paroki Ledo secara administrasi masuk dalam wilayah Paroki St. Pius X Bengkayang dan bernama Stasi St. Petrus dan Paulus-Ledo. Paroki Bengkayang memang salah satu paroki yang besar dan luas di Keuskupan Agung Pontianak, sehingga paroki bengkayang dipecah menjadi beberapa paroki seperti Paroki Sanggau Ledo, Paroki Jagoi Babang dan yang terbaru adalah Paroki Ledo.

    Pada awal tahun 2022 yaitu bulan Januari, stasi Ledo pisah secara administrasi dengan Paroki Bengkayang dan menjadi kuasi Paroki St. Agustinus dari Hippo-Ledo. Kemudian Paroki Ledo diresmikan bersamaan dengan pelantikan Dewan Pastoral Paroki (DPP) oleh Mgr. Agustinus Agus, Uskup Keuskupan Agung Pontianak, pada tanggal, 28 Agustus 2020 yang bertepatan dengan peringatan St. Agustinus dari Hippo. Dengan demikian, Kecamatan Ledo secara sah telah memiliki paroki sendiri dan sudah tidak bergabung dengan paroki Bengkayang. Selain itu, umat Katolik yang ada di Ledo juga mulai mendapatkan pelayanan iman dari para imam Ordo Augutinian Recollects (OAR) yang berasal dari Filipina yaitu RP. Russell Lapidez, OAR selaku pastor kepala paroki dan ditemani RP. Jovy, OAR sebagai pastor rekan.

    Ordo Augutinian Recollects (OAR) inilah yang kemudian berkarya di paroki St. Agustinus Hippo di Ledo. Mereka kemudian membantu pelayanan di Ledo dan memberikan pelayanan iman kepada umat Katolik di Ledo, sehingga umat pun merasa bahwa mereka kemudian diperhatikan oleh Gereja Katolik. Dengan adanya pelayanan imam umat Katolik di Ledo ini, pertumbuhan iman umat juga menjadi semakin bertumbuh. Umat yang tadinya merindukan perjamuan Kudus kemudian merasa bahwa kerinduan mereka akan adanya perjamuan Ekaristi kudus pun sudah terpenuhi, sehingga iman umat kembali tumbuh dan akan terus bertumbuh karena adanya pelayanan iman dari para imam itu sendiri.

    Iman umat Katolik di wilayah Kec. Ledo kemudian menyambut dengan sangat antusias sekali tentang rencana pembangunan Gereja paroki ini, umat kemudian berbondong-bondong saling meneguhkan iman agar bersama-sama menyambut paroki baru ini. Gereja paroki St. Agustinus Hippo saat ini juga masih menggunakan Gereja lama sebagai tempat melaksanakan perayaan liturgi Ekaristi Kudus, karena untuk masalah pembangunan Gereja baru belum memiliki lahan yang kiranya cocok untuk dibangun sebuah paroki. Umat katolik di Ledo kini sedang berusaha untuk mencari tempat yang cocok untuk dibangun paroki, sehingga dewan pengurus paroki (DPP) berupaya bersama umat mencari lokasi tanah yang bagus untuk membangun paroki, sehingga umat bersama-sama saling bertukar pendapat dan pikiran.

    Dalam penulisan artikel ini, penulis ingin memberikan gambaran bagaimana perkembangan iman umat yang ada di wilayah Kec. Ledo yang masuk dalam wilayah Keuskupan Agung Pontianak. Umat Katolik di Ledo awalnya menjadi wilayah paroki St. Pius X Bengkayang, melihat perkembangan iman umat yang semakin berkemabang sangat pesat dan medan pastoral yang sangat sulit sedangkan tenaga imam yang hanya dua orang saja, sangatlah kurang.

    Banyak stasi-stasi pedalaman yang jarang mendapatkan pelayanan Ekaristi Kudus dan bahkan tidak pernah sama sekali. Hal inilah kemudian yang menjadi acuan untuk memekarkan paroki St. Pius X Bengkayang, sehingga berdirinyalah paroki St. Agustinus Hippo di Ledo. Inilah yang menjadi bukti bahwa perkembangan iman umat Katolik di Ledo sangatlah kuat akan kerinduan kehadiran Yesus Kristus dalam perayaan Ekaristi Kudus di stasi-stasi umat pedalaman. dengan adanya paroki ini membuat umat semakin menaruh harapan kepada para imam yang bertugas untuk senantiasa mengunjungi stasi-stasi terutama stasi yang berada di pedalaman

    Rumusan masalah dalam tulisan ini mencangkup beberapa pertanyaan, yaitu bagaimana perkembangan iman umat Katolik di wilayah Kec. Ledo setalah adanya Paroki ini? Bagaimana persekutuan umat beriman di Paroki Ledo? Lantas apa saja yang menajdi hambatan dalam pelayanan iman umat di stasi-stasi yang ada di Paroki Ledo? Bagaimana pertumbuhan  iman, pelayanan pastoral, dan pendampingan iman umat yang ada di Kesukupan Agung Pontianak dan Paroki Ledo? Dan bagaimana sejarah perkembangan iman umat beriman di Paroki Ledo? Inilah beberapa pertanyaan yang kiranya akan menjadi acuan dalam tulisan ini.

    METODE PENELITIAN

    Dalam studi kualitatif ini, penulis mencoba menghadirkan konstruksi ilmiah dari beberapa fakta yang saling berkaitan. Dalam hal ini penulis menggunakan studi kepustakaan dan wawancara beberapa narasumber. Proses dalam studi ini dilaksanakan melalui kajian terhadap buku, literatur, artikel ilmiah, internet, dan pola belajar serta hasil dari wawancara. Data dan temuan dari berbagai hasil penelitian serta kajian pustaka merupakan data dalam tulisan ini. Data tersebut selanjutnya diolah dan disintesis, sehingga menjadi sebuah kerangka informasi yang terstruktur secara ilmiah.

    HASIL PENELITIAN

    Pembinaan Iman Umat Katolik

    Pembinaan iman umat Katolik merupakan hal yang sangat penting, karena ini menyangkut pelayanan pastoral di suatu keuskupan yang ada. Gereja hadir ditengah-tengah umat dan menjadi pewarta bagi umat terkhusus di pedalaman yang jarang mendapatkan pelayanan pastoral. Karena sebagai faktor dalam sejarah, mulai abad pertengahan sifat khas dan hakikat Gereja sebagai persekutuan semakin dilupakan dan disingkirkan (Leonardus Samosir, 2017:25). Gereja harus kembali memberikan pelayanan kepada setiap umat tanpa memandang latar belakang dalam diri umat itu sendiri. Pembinanan iman umat Katolik kemudian menjadi sebuah visi dan misi dari setiap keuskupan, begitu juga pembinaan iman umat yang ada di wilayah Keuskupan Agung Pontianak. Sesuai dengan visi dari Keuskupan Agung Pontianak yaitu; Gereja Keuskupan Agung Pontianak sebagai keluarga Injili yang mengakar, mandiri, peduli, missioner, dan dalam bimbingan Roh Kudus mewujudkan keadilan, damai dan keutuhan ciptaan di tengah masyarakat yang beragam (William Chang, 2017).

    Dengan adanya visi tersebut, Keuskupan Agung Pontianak kemudian membangun relasi dengan umat yang beragam dan mewujudkan pelayanan iman umat Katolik secara merata tanpa memandang latar belakang umat. Pembinaan iman umat ini kemudian di laksanakan dengan adil tanpa memilih tempat atau lokasi mana yang cocok di berikan pelayanan, tetapi semua umat yang berada di setiap pelosok pun akan mendapatkan pelayanan iman umat. Iman umat Katolik harus selalu menjadi perhatian bersama, baik Uskup, para imam, kaum biarawan/biarawati, dan katekis semuanya terlibat dalam pembinaan iman umat Katolik yang ada di wilayah Keuskupan Agung Pontianak.

    Dengan adanya pembinaan iman umat ini, umat harus berani menampakan bahwa yang hidup dalam diri mereka sendiri adalah Yesus Kristus. Kesaksian itu diberikan oleh orang-orang Kristiani bukan hanya kepada orang-orang Kristiani, melainkan juga kepada diri mereka sendiri, untuk saling memperkuat dalam iman (Franz Magnis Suseno, 2004:20). Umat diminta untuk saling meneguhkan satu sama lain dalam mempertahankan imannya, karena melihat kenyataan yang ada, masih banyak umat-umat Katolik yang berada di pedalaman masih minim untuk mendapatkan kunjungan dari para imam. Dengan adanya rasa saling menguatkan, saling meneguhkan iman sesama umat, para katekis yang ada di setiap paroki kemudian terjun langsung demi memberikan pelayanan iman umat.

    Pembinaan iman umat di wilayah Keuskupan Agung Pontianak terus dihidupkan oleh para pelayan Gereja. Pembinaan dan pelayanan kepada umat melalui turne secara terjadwal dilakukan dua bulan sekali dan diusahakan semua stasi terkunjungi (Amon Stefanus & Shinta Setyaningrum, 2018:18). Para pelayanan iman umat ini kemudian melakukan pembinaan dan pelayanan kepada stasi yang ada di setiap paroki dimana pun stasi itu berada, semuanya harus mendapatkan pelayanan iman. Umat katolik yang ada di wilayah Keuskupan Agung Pontianak, menurut data statistic 2018, jumlah umat sebanyak 428.452 jiwa, sedangkan jumlah iamam 106, suster 410, dan bruder 52 (penakatolik.com). Dengan jumlah umat yang begitu banyak dan bisa saja menjadi bertambah tentu pembinaan iman umat Katolik semakin di perkuat dengan adanya penambahan jumlah pelayan Gereja.

    Pembinaan iman umat Katolik menjadi program kerja bagi seluruh Keuskupan, karena bagaimanapun pembinaan dan pelayanan iman umat harus menjadi prioritas bersama oleh para pelayan Gereja Katolik. Gereja harus hadir ditengah-tengah umat dan memberikan pelayanan dan pembinaan iman secara merata dan adil, karena umat sudah sangat merindukan adanya pelayanan dari para imam. Banyak stasi-stasi yang berada di wilayah pedalaman yang kurang mendapatkan pelayanan, bahkan tidak mendapatkan pelayanan selama satu tahun penuh. Menurut Jakaria (ketua stasi semayas), mengatakan bahwa kendala yang dialami oleh para imam ataupun pelayan katekis jika hendak melakukan kunjungan adalah medan jalan yang begitu sulit, informasi yang tidak mudah, dan kurangnya imam di paroki, dst.

    Oleh karena itu, para imam maupun katekis jika akan melakukan kunjungan ke stasi-stasi pedalaman mereka harus menginap sehari sebelumnya. Hal ini dilakukan agar mereka dapat meminimalisir waktu tempuh yang amat jauh dan medan jalan yang amat sulit dilalui. Kegiatan yang dilakukan bervariasi tergantung pada situasi yang ada, berbagai jenis kegiatan seperti memimpin ibadat atau perayaan Ekaristi Kudus pada hari minggu dan hari raya (Amon Stefanus & Shinta Setyaningrum, 2018:18). Jika lokasi kunjungan yang amat jauh, maka para pelayan ini harus menginap di stasi yang mereka tuju sehari sebelum melakukan kegiatan, hal ini tentu sering dilakukan karena mengingat banyaknya stasi di wilayah pedalaman yang sulit untuk dijangkau.

    Perkembangan Iman Umat Katolik Di Kecamatan Ledo

    Kecamatan Ledo berada di wilayah Kab. Bengkayang, Kalimantan Barat. Ledo merupakan wilayah yang tidak jauh dari Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas. Banyak kampung yang berada di pedalaman yang masuk dalam Kecamatan Ledo. Kecamatan Ledo sendiri memiliki 12 desa antara lain, Rodaya, Dayung, Lesabela, Jesape, Semangat, Serangkat, Tebuah Marong, Suka Jaya, Suka Damai, Sidai, Seles, Lomba Karya. Kehidupan masyarakat di kecamatan Ledo begitu rukun, karena berdampingan dengan berbagai suku dan budaya, ada suku Dayak, Melayu, Batak, Flores, dst. Namun, suku yang menjadi dominan yaitu suku Dayak dan Melayu. Kerukunan dan saling menghargai satu sama lain ini menjadi bagian yang paling disoroti, karena masyarakatnya mampu menunjukkan wajah Indonesia yang begitu toleransi.

    Kehidupan masyarakat di Ledo tidak lepas dari kebudayaan dan agama yang dianut oleh setiap orang, ada Katolik, Kristen, dan Islam. Namun, dalam pembahasan kali ini berfokus pada kehidupan umat Katolik yang ada di wilayah Ledo. Umat katolik yang ada di wilayah Ledo merupakan tanggung jawab dari Keuskupan Agung Pontianak. Dalam hal ini, Keuskupan Agung Pontianak terus melakukan pembinaan terhadap iman umat Katolik yang ada di setiap wilayah. Perkembangan iman umat Katolik di Ledo menjadi hal yang besar, karena pada tahun 2022 Kecamatan Ledo resmi memiliki Gereja Paroki St. Agustinus Hippo, hal ini tentu tidak lepas dari peran Gereja yang terus memberikan pelayanan dan pembinaan terhadap iman umat. Gereja Katolik terus memberikan pembinaan dan pelayanan kepada umat tanpa memandang kehidupan sosial. Siasat untuk menjaga dan melestarikan damai sangat diperlukan supaya Gereja dan masyarakat dapat berkembang dengan baik dari waktu ke waktu (William Chang, 2017:24)

    Perkembangan iman umat Katolik di Ledo semakin bertambah, meskipun stasi-stasi dipedalaman kurang mendapatkan pelayanan pastoral, namun, perkembangan iman sangat kuat. Sebelum Ledo memiliki paroki sendiri, Ledo masuk dalam wilayah pelayanan paroki Bengkayang, dimana para imam projo di paroki Bengkayang terus memberikan pelayanan yang maksimal kepada umat yang berada di wilayah Ledo, baik itu stasi yang mudah di jangkau maupun stasi yang berada di pedalaman, semunya harus mendapatkan pelayanan pastoral yang baik. Gereja hadir ditengah umat dan memberikan pelayanan kepada umat, inilah bentuk dari kepedulian Gereja kepada stasi-stasi yang berada di setiap wilayah terkhusus stasi yang berada di pedalaman sekalipun. Pada akhirnya kepedulian Gereja terhadap perayaan sakramen pun terus bertumbuh dan senantiasa hadir bersama umat beriman.

    Gereja Katolik Paroki St. Agustinus Hippo di Ledo saat ini sedang bertumbuh dan sedang membangun pembinaan kepada umat Katolik yang ada di wilayah Ledo, baik itu stasi-stasi yang nudah di jangkau maupun stasi-stasi yang berada di pedalaman semuanya akan mendapatkan pelayanan iman yang merata. Tenaga imam juga kemudian terus ditingkatkan dalam membantu pelayanan iman umat, Keuskupan Agung Pontianak sendiri berusaha menyediakan tenaga imam bagi paroki-paroki yang ada di wilayah Keuskupan Agung Pontianak. Hingga saat ini situasi “kekurangan imam” pun masih terjadi di hampir semua wilayah gerejani di Indonesia, dan situasi ini dinyatakan sebagai akibat krisis panggilan (Leonardus Samosir, 47). Untuk itulah besar harapan dari Gereja kepada paroki St. Agustinus Hippo di Ledo untuk mencetak calon imam yang baru, karena ini merupakan langkah awal dari paroki Ledo dalam membangun perkembangan iman umat Katolik agar tetap teguh dalam iman kepada Yesus Kristus.

    Peresmian Gereja Katolik Paroki St. Agustinus Dari Hippo Di Ledo

    Pada tanggal 28 Aguatus 2022 menjadi hari yang begitu bersejarah bagi segenap umat Katolik yang ada di wilayah Kec. Ledo, mengapa tidak? Karena hari tersebut merupakan hari peresmian Gereja Katolik Paroki St. Agustinus dari Hippo di Ledo Keuskupan Agung Pontianak, paroki yang dulu sudah dinantikan oleh umat Katolik di Ledo dan sudah melalui berbagai macam agar Ledo memiliki Paroki sendiri. Dalam wawancara dengan Pastor kepala Paroki Ledo yaitu RP. Russell Lavides, OAR, mengatakan      bahwa Ledo merupakan wilayah yang luas dan banyak stasi-stasi yang ada di pedalaman yang perlu menjadi perhatian Gereja. Ia juga melihat bahwa potensi dalam diri umat untuk bersama-sama membangun Gereja Paroki Ledo. Adapun harapan dari RP. Russell Lavides, OAR kepada umat yaitu, umat beriman yang ada di paroki Ledo mampu bertumbuh dalam iman dan ia percaya bahwa Roh Kudus akan selalu membimbing, melindungi, dan mengajar umat-umatnya supaya paroki Ledo ini akan berkembang di masa depan.

    Selain itu, ketua panitia peresmian yaitu Donatus Nonont Vanziru, berterimakasih kepada Mgr. Agustinus Agus selaku Uskup di Keuskupan Agung Pontianak karena telah meresmikan Gereja Paroki Ledo. Ia menambahkan bahwa harapan umat akan adanya paroki Ledo ini sangatlah besar, ia juga mengharapkan dengan adanya paroki Ledo ini, iman umat akan terus bertumbuh dan berkembang dimasa depan kelak. Pada 1 Januari 2022, stasi Ledo yang sebelumnya berada di wilayah paroki Bengkayang kini sudah pindah secara administrasi dari paroki bengkayang. Perkembangan awal umat yang beriman dengan banyaknya stasi membuat paroki Bengkayang salah satu wilayah yang notabene mayoritas umat Katolik (www.majalahduta.com). Hal inilah yang membuat Ledo memiliki paroki sendiri, karena Ledo juga memiliki umat yang beragama Katolik sangatlah banyak dan pelayanan juga kemudian terus ditingkatkan mengingat banyaknya umat di stasi-stasi pedalaman yang jauh.

    Peresmian Gereja paroki Ledo menjadi bukti bahwa iman umat di Ledo sangatlah kuat dan penuh gairah dalam mengembangkan imannya masing-masing. Harapan akan adanya Gereja paroki di Ledo menjadi harapan besar bagi umat, karena mayoritas umat yang ada di wilayah Ledo merupakan umat Katolik yang sangat kuat. Peresmian ini sudah dinantikan umat mulai dari awal bulan tahun 2022, bahwa umat berantusias menyambut peresmian ini. Perkembangan iman umat tidak lepas dari peran pemimpin gerejani Keuskupan Agung Pontianak, karya pastoral yang harus sampai pada umat dimana pun stasi itu berada. Berbagai macam kelompok doa dan komunitas nantinya akan muncul sendiri seiring berjalan dengan waktu di Gereja paroki Ledo. Diantaranya, komunitas itulah yang kemudian secara sadar menghadirkan sebuah kesatuan kasih Allah Tritunggal itu sendiri. Inilah yang nantinya juga akan membantu perkembangan iman umat Katolik yang ada di paroki Ledo.

    Kecamatan Ledo sendiri memiliki berbagai macam agama, ada Islam, Kristen, dan Katolik. Namun, semuanya hidup dalam kerukunan, saling membantu satu sama lain, karena dalam kehidupan manusia itu sendiri tidak dapat hidup sendiri tetapi ia juga memerlukan sosok individu yang lain. Inilah yang menjadi tugas baru bagi paroki Ledo agar mampu menjadi teladan bagi setiap umat dalam membangun kesatuan. Dengan demikian, Allah juga hadir dalam diri setiap umat Katolik yang senantiasa mewartakan kasih Allah yang begitu sempurna. Allah yang satu dan satu ajaran-Nya tentang kasih akan Allah serta sesama merupakan dasar pemersatu bagi semua agama (Eddy Kristiyanto. William Chang, 2014:123). Dengan hal inilah, iman umat Katolik di Ledo semakin kuat dalam mengembangkan imannya akan Kristus dan mampu menampilkan kasih Allah kepada sesama.

    Oleh karena itu, persmian Gereja Katolik Paroki St. Agustinus Hippo di Ledo harus senantiasa menjadi suatu kenangan yang amat indah dan perkembangan iman umat juga semakin kian berkembang. Inilah yang mampu membuat paroki Ledo nantinya menjadi suatu paroki dengan paguyuban umat yang kuat akan persatuan dalam Kristus. Persekutuan dalam Kristus ini berartu umat yang mendirikan  persekutuan bersama selalu menekankan persaudaraan dalam nama Kristus itu sendiri, sehingga persekutuan dalam nama Kristus menjadi berkembang di Paroki Ledo dengan penuh tekat. Dengan adanya paguyuban umat nantinya akan membuat paroki Ledo menjadi terus berkembang dalam iman dan mampu menerima setiap umat Katolik dimana pun baik itu dari stasi yang berada di sekitar paroki atau stasi-stasi yang berada di wilayah pedalaman sekalipun.

    Iman Yang Kuat Dalam Diri Umat Paroki Ledo

    Umat Katolik di paroki Ledo tentu sudah memiliki perkembangan iman yang baik, mengapa tidak? Karena pelayanan pastoral dalam Gereja Katolik yaitu mencapai berbagai stasi-stasi di mana pun tempatnya. Umat beriman harus kuat dalam iman dan mampu membawa diri menjadi pelyan bagi sesama tanpa memandang status dan derajat umat itu sendiri. Namun, umat Katolik yang ada di paroki Ledo harus mampu memilih dan memilah pelayanan mana yang baik, tanpa melanggar moralitas Gereja dan mampu memberikan pengajaran. Umat beriman perlu kritis dan waspada sebab apa yang kelihatannya secara publik baik dan mendatangkan manfaat bagi banyak orang belum tentu sesuai dengan iman Katolik karena unsur intrinsiknya mungkin tidak sesuai dengan iman dan moralitas Gereja (Cahyo Christanto, 2013:82).

    Umat Katolik di paroki Ledo sudah menantikan adanya Gereja Paroki sendiri, karena umat menyadari bahwa, jika Ledo terus berada di wilayah paroki Bengkayang tentu pelayanan pastoral di wilayah Ledo akan kurang karena Ledo sendiri memiliki wilayah yang cukup luas dan notabene umatnya beragama Katolik dan stasi-stasinya juga kebanyakan berada di daerah pedalaman. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa Gereja hadir bagi umat beriman dan memberikan pelayanan kepada umat yang lemah. Gereja pada dasarnya menolong mereka yang kecil, miskin, dan disingkirkan dari peraturan hidup sosial (Eddy Kristiyanto, 2014:28-29). Oleh karena itu, Gereja kemudian memberikan pelayanan kepada umat beriman kepada Yesus Kristus.

    Umat Katolik di Paroki Ledo kini merasa sangat bahagia dan menyambut dengan penuh sukacita, ini terlihat jelas dari antusiasme umat yang mengikuti perayaan Ekaristi peresmian Paroki St. Agustinus Hippo pada 28 Agustus 2022 dimana hari itu juga merupakan hari peringatan wajib St. Agustinus Hippo. Dengan adanya paroki ini, iman umat nantinya bisa semakin lebih baik dalam memperdalam iman kepada Yesus Kristus. Iman yang kuat dapat membuat umat Katolik tetap teguh dan kuat dalam persaudaraan sesama umat beriman yang ada di paroki Ledo. Perlu diketahui bahwa paroki Ledo memberikan nama pelindung kepada setiap stasi dengan nama pelindung yang baru agar nantinya gereja stasi tersebut dapat mengadakan pesta nama pelindung.

    Menurut Gregorius Genari selaku anggota dewan pastoral paroki (DPP) paroki Ledo mengatakan bahwa pemberian nama pelindung yang baru kepada setiap stasi di paroki Ledo adalah bentuk langkah awal dari pengembangan iman umat di stasi-stasi. Karena diharapkan setiap tahun ada gereja stasi akan memperingati atau pesta nama pelindung gereja stasi hal ini akan diadakan secara rutin setiap tahunnya supaya umat juga semangat dan teguh dalam iman. Dengan demikian pelayanan iman umat di stasi-stasi nantinya akan merata dan semua stasi-stasi akan mendapatkan jatah pelayanan dari para imam maupun para katekis yang ada di paroki Ledo. Pelayanan iman umat adalah tugas pokok Gereja dalam memberikan bimbingan dan pembinaan kepada umat.

    Umat Katolik Paroki St. Agustinus Hippo di Ledo hidup berdampingan dan rukun dengan umat yang beragama lainnya, karena Kecamatan Ledo sendiri tidak hanya memiliki umat Katolik tetapi juga ada Islam dan Kristen. Hal inilah yang membuat kerukunan antar umat beragama menjadi hal yang sangat kuat di wilayah paroki Ledo. Kekuatan iman akan Kristus membuat segenap umat paroki Ledo menjadi kuat dalam iman. Kuatnya persaudaraan antar umat di paroki Ledo membuat para umat untuk saling memberikan bimbingan kepada umat yang ada di berbagai stasi baik itu stasi yang mudah di jangkau maupun stasi yang berada di wilayah pedalaman.

    Dewan Pastoral Paroki Ledo

    Dewan Pastoral Paroki (DPP) Paroki St. Agustinus dari Hippo, Ledo merupakan organisasi pertama di paroki yang baru saja diresmikan. Dewan pastoral nantinya akan bertugas bersama dengan para imam yang ada di paroki St. Agustinus Ledo dalam pembinaan iman umat yang ada di setiap stasi. Dengan adanya dewan pastoral ini, pastor paroki RP. Russell, OAR berharap agar semua anggota saling bekerjasama dalam menjalankan fungsi tugas dengan penuh tanggung jawab. Adapun dibentuknya dewan pastoral ini juga membantu memberikan pelayanan iman kepada umat agar umat juga bertumbuh dalam iman akan Kristus. Dewan pastoral ini juga terdiri dari mereka yang terpilih dari berbagai stasi-stasi yang juga memiliki latar belakang berbeda-beda. Mereka di pilih untuk membantu pelayanan pastoral di paroki Ledo.

    Dewan pastoral ini juga merupakan bentuk keterbukaan Gereja kepada umat beriman dalam bekerjasama mengembangkan kemampuannya di bidang pastoral. Adapun para pengurus dewan pastoral ini sebelum menjalankan tugas mereka mendapatkan pembekalan yang diberikan langsung oleh sekretaris Keuskupan Agung Pontianak yaitu, RP. Pius Barces, CP pada tanggal 15-17 Juli 2022. Pembekalan ini diberikan bertujuan untuk para dewan pastoral dapat menjalankan tugas harian dengan baik dan efektif. Mereka nantinya akan terjun langsung sebagai seorang katekis yang akan melakukan berbagai kunjungan ke stasi-stasi yang ada di wilayah paroki Ledo. Dewan pastoral ini dilantik dan dikukuhkan oleh Mgr. Agustinus Agus selaku Uskup Keuskupan Agung Pontianak lewat surat keputusan yang dibacakan dihadapan umat Allah yang hadir pada misa persmian Paroki St. Agustinus Ledo sekaligus pelantikan dewan pastoral paroki.

    Dalam memperkuat iman umat di paroki Ledo, para dewan pastoral yang telah di lantik nantinya akan menjalankan fungsi tugas, adapun unsur kepengurusan ini meliputi dari pengurus harian, ketua-ketua bidang, dan seksi-seksi yang memang membantu pelayanan di paroki Ledo yang baru saja diresmikan pada tanggal 28 Agustus 2022. Mereka akan terjun langsung di lapangan bersama dengan umat beriman, mengatasi persoalan iman, memberikan bimbingan iman, dan menjadi pelayan bagi umat beriman. Tidak menutup kemungkinan bahwa, mereka juga akan menghadapi berbagai macam cobaan nantinya ketika terjun langsung bersama umat. Berbagai cobaan hidup membuat iman seorang umat Katolik pasti mengalami goyah, pegangan cara memperkuat iman Katolik berdasarkan sabda-sabda Tuhan digunakan sebagai acuan untuk terus kuat dalam menghadapi perjalanan hidup (insighttour.id).

    Dengan menjalankan fungsi dan tugasnya nanti, para dewan pastoral ini tentu akan terus diberikan pelajaran oleh pihak paroki, mengingat organisasi ini adalah organisasi yang pertama dai paroki yang baru saja dilantik. Mereka bersama-sama dengan para pastor paroki akan menjalankan tugas pastoral kepada umat beriman, hal inilah yang membuat dewan pastoral itu dibentuk agar mampu menjadi bagian dari pelayanan pastoral di paroki Ledo. Dalam menjalankan tugas nantinya mereka juga akan menghadapi berbagai tantangan. Tantangan tersebut berupa hambatan dalam bidang pendidikan, transportasi, sarana dan prasarana, gereja atau kapel di stasi belum ada, buku-buku doa, buku nyanyian dan sebagainya (Amon Stefanus. Shinta Setyaningrum, 19). Hal inilah yang akan menjadi hambatan dan tantangan tersendiri bagi para dewan pastoral yang nantinya akan terjun ke stasi-stasi.

    Oleh karena itu, dewan pastoral paroki (DPP) Paroki St. Agustinus Ledo nantinya akan menghadapi berbagai macam tentangan masalah yang tengah dihadapi oleh umat. Maka dengan adanya pembelakan sebelum menjalankan fungsi tugas adalah hal yang amat penting bagi para dewan pastoral. Mereka juga harus senantiasa membimbing umat di stasi-stasi, agar umat juga mampu menjadi pelayan sesama bagi umat beriman di stasi-stasinya masing-masing. Contoh kasus sederhana adalah tentang kemampuan umat dalam menjalankan tugas menjadi gembala bagi umat beriman lainnya. Hampir di setiap stasi kegiatan ibadat hari Minggu belum berjalan, masih tergantung pada kunjungan pastor atau katekis (Amon Stefanus. Shinta Setyaningrum, 19). Hal ini sudah menjadi masalah biasa, inilah yang mejadi salah satu tugas dewan pastoral untuk memberikan pendampingan bagi para ketua stasi-stasi.

    Bagaimana Cara Memperkuat Iman Katolik

    Iman umat katolik memang harus terus dikembangkan dan terus diberikan bimbingan terus-menerus. Sudah menjadi hal pokok bagi Gereja Katolik dalam mengembangkan tugas ini. Iman umat kepada Kristus harus terus dikembangan dalam diri umat agar iman umat tidak mudah goyah. Begitupun bagi perkembangan iman umat di paroki Ledo yang akan selalu diperkuatkan imannya kepada Yesus Kristus. Ada banyak cara atau ide dalam memperkuat iman umat Katolik di paroki Ledo. Karena itulah ada sebagian besar umat Katolik selalu memperlihatkan banyak kegiatan berguna untuk memperkuat iman (insighttour.id).

    Dalam memperkuat iman Katolik itu sendiri ada banyak cara. Seperti yang sudah dibahas yaitu dengan melakukan kunjungan rutin ke stasi-stasi, mempelajari alkitab, membuat pelatihan, dan pembinaan kepada umat, dan mengadakan berbagai acara yang sifatnya membantu memperkuat iman umat Katolik di paroki Ledo. Dari sinilah bisa di lihat ada beberapa komponen utama yang kemudian digunakan sebagai modal dasar umat Katolik dalam menambah imannya kepada Yesus Kristus (insighttour.id). Iman umat Katolik akan bertumbuh dan berkembang dalam diri para umat ketika umat juga merasakan bahwa apa yang menjadi kebutuhan mereka dapat dipenuhi oleh Gereja.

    Dalam memperkuat iman Katolik, Keuskupan Agung Pontianak dalam hal ini senantiasa memberikan pelatihan kepada umat untuk senantiasa mempunyai semangat perjuangan dalam pelayanan kepada para ketua stasi-stasi yang di berikan langsung oleh setiap paroki yang ada di Kesukupan Agung Pontianak. Melakukan kunjungan rutin ke stasi-stasi terkhusus stasi yang berada di wilayah pedalaman adalah tugas yang harus dijalani oleh para pelayan Gereja, para imam dan para katekis. Hal ini tentu akan memperkuat iman Katolik karena mereka meresa bahwa Gereja Katolik memperhatikan kebutuhan umat yang ada di stasi-stasi pedalaman.

    Dalam memperkuat iman Katolik, Gereja memberikan pelayanan dan pembinaan kepada umat Katolik, umat Katolik terutama umat paroki Ledo tentu sudah mempercayai Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat. Menjadi satu syarat utama di dalam pengembangan dan penambahan iman seseorang yakni selalu percaya akan Tuhan (insighttour.id). Hal ini nantinya akan terus tampak dalam kehidupan umat beriman dan senantiasa memberikan kesaksian kepada sesama umat beriman. Hampir pasti kesaksian itu bersumberkan dari Allah (Armada Riyanto, 2019:25). Kesaksian yang diwartakan oleh umat kepada umat diyakini semuanya berasal dari Allah itu sendiri. Oleh karena itu, dalam memperkuat iman umat tentu banyak cara yang bisa dilakukan, tinggal bagaimana lagi pihak Gereja Katolik terkhusus paroki Ledo dalam membangun dan memperkuat iman umat Katolik yang ada di berbagai stasi di paroki Ledo.

    Kehidupan yang dikembangkan dalam Gereja Perdana, hendaknya menjadi inspirasi bagi Gereja untuk terlibat secara aktif dalam pengembangan iman jemaat melalui peran serta Gereja dalam kegiatan kerohanian di keluarga, lingkungan maupun Gereja setempat (aendydasaint.com). Sudah menjadi tugas pokok bagi para pelayan Gereja dalam perkembangan iman umat. Umat Katolik yang akan mendapatkan pelayanan nantinya juga semakin mantap dalam mengimani Yesus Kristus. Oleh karena itu, umat Katolik harus mampu juga dalam mengembangkan iman mereka, sehingga biar bagaimana pun adanya masalah yang dihapai mampu dikerjakan atau diselesaikan secara bersama-sama dalam terang iman yang sama. Menjadi pewarta juga bagi umat sesama demi menjaga iman Katolik.

    Gereja Sebagai Umat Allah

    Gereja kerapkali dikatakan sebagai umat Allah. Pada hakikatnya Gereja sebagai Umat Allah merupakan persekutuan orang-orang yang percaya kepada Allah (Stevanus Danang Setiyono, Agustinus Supriyadi, 2018:48). Persekutuan ini didasarkan pada rahmat pembaptisan yang diterima oleh umat Katolik yang hal ini juga bisa dikatakan sama dengan Kristus. Persekutuan umat Allah dalam membangun relasi antr umat beriman sudah menjadi hal yang tak asing lagi, karena umat Katolik senantiasa membangun hubungan kepada sesama dan kepada Allah.

    Hubungan antra manusia dan Allah diadakan oleh Kristus dan dibagikan melalui sakramen-sakramen, karena itulah Gereja menjadi tanda dan sarana (Antonius Denny Firmanto, 2011:18). Istilah Umat Allah juga sangatlah tepat. Hal ini memang sangat sering digunakan. Sebutan Gereja sebagai umat Allah sendiri menampilkan bahwa persekutuan umat Allah yang ada di dalam tubuh Gereja adalah bersifat religius dan sangat bersifat sakral. Allah merupakan dasar Gereja yang senantiasa memberikan pelayan kepada umat beriman dan umat Allah senantiasa percaya kepada Allah.

    Ungkapan Hadisumarta tersebut ingin mengatakan kepada umat, bahwa Gereja sebagai Umat Allah, yaitu mendasarkan diri mereka kepada Allah. Dalam hal ini, untuk menjadi umat Allah, umat harus memberikan diri kepada Allah dan mendasari hidup sepenuhnya kepada Allah yang menjadi sumber pengharapan iman dan kasih itu sendiri. Gereja hadir ditengah-tengah umat beriman, termasuk Gereja Paroki St. Agustinus Ledo yang kemudian dapat hadir bersama dengan umat dalam mengembangkan iman umat. Umat paroki Ledo adalah umat Allah, mereka harus memberikan hidupnya kepada Allah dengan penuh pengharapan, karena Gereja yang disebut sebagai umat Allah adalah diri umat itu sendiri dimana mereka mendedikasikan hidup seutuhnya kepada Allah sebagai Juru Selamat umat manusia.

    Sebagai Tubuh Kristus, Gereja menjadi baik komunitas iman, harap dan kasih, maupun sebuah organisasi yang dipimpin oleh hierarki dan tampak secara konkret (Novry Dien, 2020:56). Gereja sebagai umat Allah juga tertuang dalam Lumen gentium pada sidang ke lima Konsili Vatikan II yang dilaksanakan tanggal 21 November 1964. Adanya sidang tersebut tidak terlepas dari arus pemikiran dan ajaran Gereja yang sebelumnya. Lumen gentium menjelaskan bahwa umat Allah yang dimaksud adalah sebuah partisipasi dalam tritugas Yesus, yakni memimpin, menguduskan dan mewartakan (Novry Dien, 2020:57). Gereja mengambil peran Yesus Kristus dalam hal memimpin dan mewartakan sabda Allah. Dalam Perjanjian Lama, Allah sendiri telah memilih Abraham dan semua keturunannya yaitu bangsa Isreael (bdk. Kej 12:1-9). Hal ini hendak mengatakan bahwa Allah menjadi Allah bagi bangsa Israel dan sebaliknya yaitu Israel menjadi hamba Allah.

    Adapun Gereja sebagai umat Allah, berarti Gereja sendiri telah menjadi pengganti Kristus dalam hal pewartaan kepada umat Allah. Inilah yang kemudian menjadi peran dari Gereja Katolik Paroki St. Agustinus Ledo yang berada dalam wilayah gerejani Keuskupan Agung Pontianak harus bekerjasama dalam menampilkan diri sebagai Gereja yang mementingan kepentingan umat beriman dalam mengembangkan iman Katolik. Gereja sebagai umat Allah, yaitu gereja yang memberikan pelayanan kepada umat beriman, menguduskan umat beriman dan menjadi tanda persatuan umat Allah (LG 1). Oleh karena itu, paroki Ledo juga hadir bersama umat, memberikan pendampingan iman umat beriman, meneguhkan iman umat, dan menguduskan serta menjadi tanda persatuan umat Allah.

    Oleh karena itu, Gereja sebagai umat Allah berarti Gereja yang mampu hadir di tengah-tengah umat beriman demi memberikan pelayanan dan bimbingan demi memperkuat iman umat dimana pun. Paroki Ledo juga hadir dan memberikan bimbingan iman Katolik kepada segenap umat tanpa memandang perbedaan. Gereja paroki Ledo yang berada dalam wilayah Keuskupan Agung Pontianak harus saling bekerjasama dalam mendidik umat beriman dalam mengimani Yesus sebagai seorang Juru Selamat. Persekutuan umat beriman juga harus selalu menjadi bagian dalam pelayanan bagi setiap stasi baik itu di stasi pedalaman maupun stasi yang mudah untuk di jangkau. Kehadiran paroki Ledo memberikan harapan bagi umat untuk merasakan pelayanan para imam yang merata. Selain itu, iman umat akan Kristus juga semakin diperdalam demi menjadi peribadi yang baik dan manjadi pribadi yang rela menolong sesama. Inilah yang menjadi tugas dari Paroki Ledo yang baru saja diresmikan oleh Mgr. Agustinus Agus, Uskup Keuskupan Agung Pontianak yang melihat bahwa potensi umat Katolik di Kec. Ledo mampu berkembang dalam iman.

    Gereja Yang Hadir di Tengah-tengah Antar Umat Beragama

    Gereja Paroki St. Agustinus Ledo berada di tengah-tengah umat beraga. Paroki yang baru diresmikan ini memang dikelilingi oleh tempat ibadah umat berama lain, tetapi kerukunan akan menjaga ketenangan adalah hal yang terpenting. Hidup toleransi dapat ditampilkan oleh Gereja yang berada di antara umat beragama lainnya. kehidupan umat beriman bersama umat lainnya juga saling menjaga kekompakan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi bersama. Gereja harus terbuka dan tidak boleh menutup diri dari umat yang beraga lain, sebagai ajaran agama yang berbeda, Gereja juga melakukan berbagai dialog keagamaan dengan agama lainnya.

    Keuskupan Agung Pontianak sendiri mengedepankan dialog agama dengan agama lainnya, dimana hal ini tentu menambah wawasan Gereja terhadap pandangan ajaran agama lainnya. Seperti sifat Gereja sendiri yaitu Gereja yang Universal yang berarti terbuka untuk umum dan tidak menutup diri dengan agama lainnya. Begitupun paroki Ledo yang juga mengedepankan kerukunan antar umat beragama dan tetap menjaga tali kasih persaudaraan antar umat beragama. Umat paroki Ledo sendiri sudah sangat lama hidup berdampingan antar umat beragama, mereka mampu menjaga toleransi yang kuat dalam kehidupan sehari-hari dan mampu menjadi sahabat bagi mereka yang memiliki pandangan berbeda.

    Gereja yang hadir di tengah-tengah umat beragama mampu membuka diri dengan luas dan mampu menerima siapapun yang ingin datang kepadanya. Gereja yang berada di tengah-tengah umat beragama menjadi pelayan dan selaligus menjadi bagian dari perkembangan umat. Paroki St. Agustinus dari Hippo-Ledo kemudian menjadi saksi dimana Gereja yang berdiri dan hadir di tengah-tengah umat beragama mampu menjadi sahabat bagi umat beragama. Di Keuskupan Agung Pontianak saja memiliki misi dalam mengembangkan perkembangan Gereja yang ada di setiap paroki agar mampu menjadi tonggak perdamaian dan menjadi Gereja yang mau berdialog dengan agama manapun. Kehadiran Gereja Paroki Ledo adalah bentuk dari perkembangan iman yang mampu menjaga kesenjangan umat beragama dan mampu menjadi tanda toleransi antar umat beragama.

    Paroki Ledo menjadi bagian dari kehidupan umat beriman dalam mengembangkan imannya, karena dalam menjadi umat yang beriman kepada Kristus pertama-tama yaitu mempercayai Kristus sebagai Sang Juru Selamat umat manusia. Hal ini tentu sudah menjadi dasar dari umat Katolik. Memiliki kepercayaan terhadap Kristus sang teladan cinta kasih adalah bagian dari kehidupan umat. Kristus sendiri mengajarkan hukum cinta kasih sebagai landasan hidup yang menerima pribadi yang lain dalam kehidupan umat beriman. Gereja yang berada di tengah-tengah umat beragama kemudian menjadi dasar dari kasih persaudaraan Kristus itu sendiri. Gereja menjadi bagian dari perdamaian antar umat beragama karena Gereja senantiasa membuka diri dan tidak pernah menutup diri dari umat beragama lainnya.

    Oleh karena itu, sebagai Gereja yang hadir dan berdiri di tengah-tengah umat beragama, Gereja Paroki St. Agustinus dari Hippo-Ledo yang masuk dalam wilayah Keuskupan Agung Pontianak menjadi dasar dari kehidupan umat beragama lainnya. Menurut RP. Jovy, OAR selaku pastor rekan di paroki Ledo mengatakan, bahwa Paroki Ledo berdiri di tengah-tengah umat beragama, umat disini saling tolong-menolong dan saling menjaga kerukunan antar umat. Paroki Ledo yang baru saja diresmikan merupakan bentuk kepedulian Mgr. Agustinus Agus, Uskup Keuskupan Agung Pontianak yang melihat bahwa iman umat beriman di Ledo adalah bentuk dari perkembangan iman umat Katolik yang senantiasa menjaga imannya, hal ini ia melihat dari tumbuhnya iman umat Katolik di tengah-tengah umat beragama lainnya. Harapannya kelak semoga kehadiran Paroki yang baru ini bisa menjadi dasar dari semakin bertumbuhnya iman umat yang berada di tengah-tengah umat beragama lainnya.

    Gereja Yang Melayani

    Gereja yang melayani merupakan bentuk dari Gereja yang hadir bersama umat, karena dimana Gereja itu berdiri disitulah sabda ada. Gereja memberikan pelayanan iman kepada umat dalam mengembangkan iman akan Kristus. Gereja kemudian hadir dan terbuka bagi setiap siapa saja, seperti sifat Gereja Universal. Kehadiran paroki Ledo sebagai bentuk dari melayani umat beriman yang ada di wilayah Kec. Ledo. Dalam homilli misa peresmian Paroki Ledo, Mrg. Agustinus Agus menekankan bahwa Gereja Ledo harus memberikan pelayanan umat di stasi-stasi dan memberikan pendampingan bagi umat untuk mendalami imannya. Para imam dan pengurus dewan pastoral paroki (DPP) diminta untuk saling bekerjasama dalam menjalankan tugas yang baru di paroki yang baru. Semua unsur harus terlibat bersama umat, karena Gereja harus menjadi pelayan bagi segenap umat beriman tanpa pilih-pilih umat di stasi mana yang harus di kunjungi tetapi semua stasi harus di kunjungi.

    Gereja yang melayani adalah Gereja yang siap memberikan pelayanan kepada umat beriman, karena banyak sekali stasi-stasi yang berada di daerah pedalaman yang kurang menjadapatkan pelayanan Gereja, hal ini sangat memprihatinkan. Umat stasi-stasi pedalaman yang sebelumnya kurang menadapatkan pelayanan iman nantinya akan selalu diprioritaskan, karena mereka sangat rindu akan adanya Ekaristi Kudus. Hal inilah yang menjadi acuan dari Paroki Ledo dalam menjalankan fungsi tugasnya yaitu menjadi pelayan dan menjadi pewarta sabda dari Allah, umat harus merasakan kehadiran Gereja dalam kehidupannya, karena umat jarang sekali dikunjungi oleh tenaga imam.

    Menjadi pelayan umat adalah bagian dari kehiduap Gereja, diamana Gereja memberikan pelayanan kepada umat beriman agar umat beriman juga merasakan bahwa mereka tidak pernah ditinggalkan oleh Gereja. Demikian juga halnya dalam perkembangan iman umat, Gereja lah yang menjadi peran di dalamnya, karena berkembangnya iman umat itu bisa di lihat dari kesigapan Gereja dalam memberikan pelayanan iman yang memadai. Gereka Paroki Ledo juga demikian dalam membantu perkembangan iman umat beriman, Gereja paroki Ledo harus hadir bersama umat dalam mengembangkan imannya masing-masing.

    Paroki Ledo menjadi peran penting dalam perkembangan iman umat kelak, terutama iman umat yang berada di stasi-stasi pedalaman. Banyaknya stasi-stasi di daerah pedalaman membuat paroki Ledo terus menhidupi pelayanan pastoral yang merata ke setiap stasi-stasi. Hal ini juga sejalan dengan visi Keuskupan Agung Pontianak yang mengedepankan Gereja yang hadir berasam umat beriman dalam mengembangkan imannya. Oleh karena itu, seperti yang sudah dijelaskan di atas, Gereja menjadi kunci pembinaan iman umat dalam mengembangkan iman. Gereja Paroki Ledo harus siap melayanai segala kebutuhan iman umat beriman, karena iman umat beriman dapat dilihat dari kinerja para pelayan Gereja dalam membimbing, mengajari, dan membantu umat dalam menghayati iman mereka kepada Yesus Kristus.

    Gereja harus peka terhadap kebutuhan umat beriman, Gereja harus siap melayani umat beriman di stasi-stasi pedalaman maupun stasi-stasi yang tidak berada di wilayah pedalaman. Memang dalam hal melayani tidak selalu mudah dan tidak selalu mulus, tentu para pelayan Gereja akan menghadapi berbagai rintangan dan hambatan yang ada. Antara lain, umat yang malas ke Gereja padahal di stasi semuanya beragama Katolik, kurangnya pendidikan umat juga menjadi kendala, dan kurangnya rasa keiman umat terhadap Kristus. Hal inilah yang menjadi hambatan dalam pelayanan, disinilah Gereja kemudian hadir dan peka terhadap kebutuhan umat beriman. Paroki Ledo juga harus menyadari akan kebutuhan umat beriman dan memberikan pelayanan yang memadai kepada umat beriman.

    Persekutuan Umat Beriman

    Persekutuan umat beriman merupakan bentuk dari perkembangan iman umat beriman itu sendiri, banyak sekali persekutuan umat beriman yang ada di setiap Paroki. Paroki sendiri memberikan sarana bagi persekutuan umat dalam mengembangkan imannya, di paroki yang baru terutama di paroki Ledo sendiri memiliki persekutuan umat yang cukup berkembang pesat jauh sebelum adanya paroki. Persekutuan umat ini menjadi hal yang terpenting bagi perkembangan iman umat dan paroki, mengapa demikian? Karena lewat persekutuan umat ini, umat beriman mampu menyalurkan kemampuannya dalam menata iman dan juga mau berkembang dalam iman.

    Umat paroki Ledo sendiri memiliki banyak persekutuan umat, ada persekutuan doa, keluarga Agustinus, persekutuan Bapakat, persekutuan legio maria, dst. Persekutuan inilah yang kemudian berkambang dan terus melakukan sosialisasi di stasi-stasi. Persekutuan umat sangat berperan penting dalam sejarah perkembangan Paroki Ledo yang kelak menciptakan penerus-penerus persekutuan umat yang memiliki kompeten dalam bidangnya masing-masing. Di paroki Ledo, persekutuan umat sendiri sudah ada sebelum adanya paroki, inilah bentuk dari perkembangan iman umat dalam menciptakan persekutuan yang terdiri dari orang-orang yang mau masuk dalam persekutuan itu sendiri. Paroki juga kemudian memberikan pendampingan bagi persekutuan umat beriman dalam perjalannya.

    Paroki hadir bersama umat, berarti paroki juga kemudian bertanggungjawab dengan perkembangan persekutuan umat itu sendiri. Keuskupan Agung Pontianak sendiri memang selalu memperhatikan persekutuan umat, terkadang Keuskupan Agung Pontianak melalui bidang persekutuan melakukan berbagai cara agar persekutuan umat ini tidak mudah berhenti, tetapi juga akan terus berjalan dan berkembang.

    Perhatian Gereja bagi persekutuan umat ini menjadi hal yang sangat penting, karena mengingat bahwa Gereja berperan di dalamnya untuk membantu persekutuan umat dalam memperkembangkan iman mereka sendiri, hal ini tentu sangat jelas bahwa Gereja hadir bagi persekutuan umat juga dalam mengembangkan imannya. Sebagai Gereja Paroki yang baru, paroki Ledo juga memperhatikan perkembangan umat dalam menciptakan persekutuan itu sendiri. Menurut RP. Russell, OAR, ia menegaskan bahwa Gereja Paroki Ledo akan senantiasa mendampingi persekutuan umat, Gereja hadir bersama mereka, karena mereka jugalah yang membantu kami (para imam) dalam perkembangan iman umat lainnya.

    Persekutuan umat adalah tonggak dalam perwartaan sabda, mereka juga akan melakukan kunjungan pastoral diberbagai stasi yang ada di wilayah paroki Ledo. Dengan adanya persekutuan umat ini juga membuat iman umat juga semakin kuat, umat beriman memang harus selalu diperhatikan oleh Gereja, karena Gereja hadir bersama umat beriman. Umat katolik yang berada di wilayah paroki Ledo ini memang memiliki persekutuan umat yang cukup besar. Oleh karena itu, adanya persekutuan umat ini juga mampu memberikan pelayanan kepada umat yang berada di pedalaman untuk menghayati iman mereka kepada Yesus Kristus.

    KESIMPULAN

    Gereja Katolik Paroki St. Agutinus dari Hippo-Ledo yang maduk dalam wilayah Keuskupan Agung Pontianak merupakan paroki yang baru saja berdiri dan baru di resmikan. Berdirinya paroki Ledo ini tentu tidak lepas dari peran para penggagas, yang diantaranya yaitu, Mgr. Agustinus Agus, pastor paroki Bengkayang yaitu RD. Subandi, pasor paroki Ledo RP. Russell Lapidez, OAR, dan masih banyak lagi. Paroki Ledo awalnya secara administrasi masih tergabung dalam Paroki St. Pius X Bengkayang. Namun, pada awal januari 2022, secara administrasi Stasi St. Petrus dan Paulus Ledo kemudian pisah dengan Paroki Bengkayang dan berubah nama menjadi Kuasi Paroki St. Agustinus dari Hippo dan kamudian diresmikan menjadi paroki pada tanggal 28 Agustus 2022.

    Banyak sekali kisah awal tentang bagaimana berdirinya paroki ini, tetapi penlis mencoba mencari beberapa sumber mengenai sejarah berdirinya. Paroki ini berdiri karena adanya kesadaran dari gerejani Kesukupan Agung Pontianak, dalam hal ini yaitu Mgr. Agustinus Agus yang merasa bahwa Ledo memang pantas memiliki paroki sendiri, mengingat paroki Bengkayang juga adalah paroki yang cukup besar. Besarnya wilayah paroki Bengkayang memang tidak cukup untuk dilayani oleh tenaga imam yang hanya berdua saja, perlu adanya evaluasi menganai hal ini, sehingga pada akhirnya Paroki Bengkayang di pecdah menjadi beberapa paroki, seperti paroki Sanggau Ledo, paroki Jagoi Babang, dan yang terbaru adalah paroki Ledo.

    Paroki Ledo memiliki banyak stasi-stasi yang berada di pedalaman dibandingkan stasi-stasi tidak berada di pedalaman. Stasi-stasi yang berada di pedalaman ini memang jarang sekali mendapatkan kunjungan dari para imam, bahkan mereka tidak mendapatkan kunjungan dari para imam bertahun-tahaun, atau bahkan setahun sekali. Namun, bagaimanapun hal ini tidak mudah membuat para umat untuk meninggalkan iman mereka kepada Kristus dan tidak meninggalkan iman Katolik. Meskipun ada beberapa umat yang kemudian akhirnya pindah atau memilih kepercayaan yang lain “pindah agama”, tetapi itu tidak banyak.

    Sejarah perkambangan iman umat di Paroki St. Agustinus Ledo memang tidak lepas dari pembinaan iman oleh para imam dan para katekis yang berusaha mengunjungi stasi-stasi yang jauh dan berada di daerah pedalaman. Kehadiran mereka bukan samata-mata hanya untuk memimpin ibadah, tetapi mereka juga datang dan hadir di tengah-tengah umat untuk memberikan pengajaran dan pembinaan yang berguna bagi kehiudpan umat, sehingga iman umat juga semakin di perkaya dengan adanya pendampingan tersebut yang membawa iman umat Katolik berkembang.

    Pendampingan iman umat juga perlu diperhatikan oleh para imam dan para pengurus dewan pastoral paroki (DPP), karena merekalah yang membantu berkembangnya iman umat Katolik yang ada di wilayah masing-masing paroki terkhusus paroki Ledo. Gereja yang hadir di tengah-tengah umat beragama ini memberikan pelayanan kepada umat Katolik, yang berada di tengah-tengah umat beragama. Perkembangan iman umat ini kemudian memberikan suatu gambaran bahwa di paroki tersebut sungguh berkembang dan bahkan lebih maju.

    DAFTAR PUSTAKA

    Buku

    Chang, William, edt. (2017). Visi-Misi Keuskupan Agung Pontianak 2016-2020 (program kerja). Jakarta: Obor.

    Chang, Eddy Kristiyanto. William, edt. (2014). Multikulturalisme; Kekayaan dan Tantangannya di Indonesia. Jakarta: Obor.

    Firmanto, Antonius Denny. (2011). Metodologi Penelitian Eklesiologi Kontekstual. Malang: Widya Sasana Publication.

    Kristiyanto, Eddy, edt. (2014). “Spiritualitas Sosial: Suatu Kajian Kontekstual. Yogyakarta: Kanisius.

    Riyanto, Armada. (2019). Menjadi Mencintai; Berfilsafat Teologis Sehari-hari. Yogyakarta: Kanisius.

    Samosir, Leonardus, edt. (2017). Gereja Yang Hadir di Sini dan Sekarang Seri 1. Jakarta: Obor.

    Setyaningrum, Amon Stefanus & Shinta, edt. (2018). Kisah-kisah Seru Para Katekis. Pontianak: Sandu Institut.

    Suseno, Franz Magnis. (2004):  Menjadi Saksi Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk. Jakarta: Obor.

    Internet

    https://penakatolik.com/2019/05/11/begitu-kontras-perbandingan-jumlah-imam-dan-umat-di keuskupan-agung-pontianak/, diakses, 18 Okt 2022, pukul. 09.42.

    https://www.majalahduta.com/2021/12/mulai-1-januari-2022-stasi-ledo-pisah-administrasi-dari-paroki-bengkayang.php, diakses, 21 Okt 2022, pukul. 08.30.

    https://aendydasaint.com/2019/09/10/iman-dan-kebersamaan-dalam-jemaat-catatan-penting/. diakses, 22 Okt 2022, pukul. 22.48.

    http://insighttour.id/cara-memperkuat-iman-katolik/, diakses, 22 Okt 2022, pukul. 21.00.

    Jurnal

    Christanto, Cahyo. (2013): “Iman Katolik Memandang Berbagai Praktik Terapi Alternatif,” Jurnal Teologi, Vol. 2, No. 1. 73 – 90.

    Dien, Novry. (2020).  “Gereja Persekutuan Umat Allah,” Media, Vol. 11, No. 1: 49 – 64.

    Supriyadi, Stevanus Danang Setiyono, Agustinus. (2018). “Katekese Kontekstual: Sarana Dalam Membangun Gereja Sebagai Umat Allah Di Paroki St. Hilarius Klepu,” Jurnal Pendidikan Agama Katolik, Vol. 20, No. 10: 42 – 56.

    Related Articles

    Stay Connected

    1,800FansLike
    905FollowersFollow
    7,500SubscribersSubscribe

    Latest Articles