Tuesday, May 12, 2026
More

    Memaknai Perayaan Natal

    Oleh: Juniardi Sucinda – Guru SMP Kristen Immanuel Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pendidikan– Karunia Tuhan atas dunia ini begitu indah ketika Ia menjamin keselamatan kita melalui firman-Nya. Kasih Allah yang telah dikaruniakan ini takkan berkesudahan dan tetap kekal abadi sampai selama-lamanya. Firman Allah bukan hanya sekedar ucapan, namun Firman itu Ia jadikan serupa dengan umat-Nya dan bisa berkata-kata serta memberkati, bisa menyentuh dan mengasihi kita.

    Firman itu ialah seorang anak manusia, sang Allah Putera, Yesus Kristus. Keselamatan dari Allah akan dicapai hanya lewat Sang Firman saja, Dia  satu persekutuan abadi bersama-sama Allah Bapa dan Roh Kudus.

    Penantian akan peringatan kelahiran Sang Firman sungguh membuat umat Kristiani dipenuhi pengharapan sepanjang tahun. Kebahagiaan terpancar ketika memasuki bulan Desember, keceriaan anak-anak menantikan kado-kado natal mereka. Natal, bagi saya adalah perayaan syukur atas kelahiran Sang Firman, Tuhan Yesus Kristus.

    Baca juga: Permasalahan Teknologi Informasi dalam Dunia Pendidikan dan Sekitarnya

    Merayakan Natal tidaklah perlu dengan kemewahan dan gegap gempita karena Yesus Kristus pada 2000 tahun yang lalu, lahir ke dunia ini dalam kesederhanaan. Natal bukanlah ajang untuk memamerkan kedigdayaan kita, namun untuk menunjung tinggi Iman Kristen lewat peribadatan yang khusyuk, perayaan natal adalah dengan memberikan tempat terbaik dalam hati kita bagi kedatangan Kristus. Kiranya natal kita rayakan dengan tiga hal, yaitu kesederhanaan, pengharapan dan kasih.

    Kesederhanaan adalah rela bersikap rendah hati dan apa adanya tanpa kemunafikan, meneladani kesederhanaan Kristus ketika mengajar para murid-Nya, demikian juga kita ketika menjadi bagian dari komunitas sosial, penting sekali kerendahan hati ini dijaga agar mampu menjadi pendengar yang baik, menawarkan solusi bagi kendala-kendala  dan mendidik siswa-siswi.

    Sederhana juga berarti menjaga tutur kata agar menjadi berkat yang juga berarti sebisa mungkin menghindari kata-kata yang tidak seharusnya terucap, menjaga perbuatan agar membawa manfaat dan menjadi teladan

    Pengharapan, ialah penyerahan diri yang seutuhnya kepada Tuhan dengan tanpa kecuali. Tidak ada kata lain yang dapat saya pilih selain “penyerahan” diri secara total kepada Tuhan Yesus sebab Dialah Allah yang menyerupakan diri seperti ciptaan-Nya. Natal adalah perayaan pengharapan karena telah jelas tertulis pada Amsal 23:18 “Karena masa depan akan ada dan harapanmu tidak akan hilang.” Oleh karena itu, segala daya upaya, pekerjaan dan tindakan serta usaha yang dilakukan harus senantiasa disertai dengan pengharapan kepada Tuhan saja.

    Kasih, Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus yaitu 2 Korintus 13:13 “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian”.

    Ayat ini sangat jelas menerangkan bahwa Tuhan Allah telah mengasihi manusia maka sudah selayaknya manusia mengasihi segala sesuatu yang ada dalam kehidupannya. Kasih tidak lain ialah suatu pikiran dan tindakan yang berlandaskan kecintaan pada alam ciptaan. Kecintaan kepada sesama manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan dan bahkan benda-benda peralatan hidup mesti diperlakukan atas dasar cinta.

    Maka, natal adalah peristiwa yang membuat manusia sadar bahwa segala hal didalam hidup kita perlu mendapat sentuhan kasih. Menumbuhkan kasih kepada semua orang mesti dilakukan setiap saat, karena hanya dengan kasihlah kehidupan kita menjadi layak dihadapan Tuhan.

    Baca juga: Sinergisitas Organisasi Advokat- Kemendibudristek, Perdayakan Dunia Pendidikan, Cegah Kriminalitas

    Maka dari itu, merupakan perayaan syukur kepada Allah, yang dengan penuh kebijaksanaan menghidupkan Sang Firman menjadi serupa dan dekat dengan umat-Nya, Sang Firman itu adalah Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Oleh karena itu, perayaan syukur ini dirayakan dengan kesederhanaan, pengharapan dan kasih.

     

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles