Friday, April 24, 2026
More
    Home Blog Page 94

    Berbicara dengan hati dalam bersinode

    MajalahDUTA.Com, SEBAGAIMANA biasanya saya tekankan, “Dalam Gereja juga ada kebutuhan besar untuk mendengarkan dan saling mendengarkan satu sama lain. Ini menjadi persembahan yang paling berharga dan menghidupkan, yang dapat kita berikan satu sama lain.”[4] Artinya, mendengarkan tanpa prasangka, penuh perhatian dan terbuka, menghadirkan pembicaraan menurut gaya Tuhan, sambil memupuk keakraban, bela rasa, dan kelembutan.

    Ada sebuah kebutuhan mendesak dalam Gereja akan komunikasi yang mengobarkan hati, yang menyembuhkan luka, dan yang menyinari perjalanan saudara-saudari kita. Saya memimpikan komunikasi gerejawi yang sungguh memahami bagaimana membiarkan dirinya dibimbing oleh Roh Kudus dengan lembut, dan pada saat yang sama juga profetik, serta mengetahui bagaimana menemukan cara dan sarana pewartaan baru yang mengagumkan, untuk diwartakan pada milenium ketiga.

    Sebuah komunikasi menempatkan hubungan dengan Tuhan dan sesama–terutama yang paling membutuhkan–di pusat dan tahu bagaimana menyalakan api iman daripada mempertahankan identitas palsu diri sendiri.

    Inilah sebuah bentuk komunikasi yang dibangun atas kerendahan hati dalam mendengarkan dan parrhesia (bebas dan terbuka menyatakan kebenaran) dalam berbicara, yang tidak pernah memisahkan kebenaran dari kasih.

    Kita semua dipanggil untuk mencari, mewartakan, dan menghidupi kebenaran dengan kasih. Secara khusus, kita sebagai umat Kristiani didesak terus-menerus untuk menjaga lidah dari yang jahat. bdk. Mzm. 34:14.

    Bagian 3: PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-57 21 MEI 2023

    Komunikasi yang ramah

    MajalahDUTA.Com, BERKOMUNIKASI dengan ramah berarti siapa pun yang membaca atau mendengarkan kita, dituntun untuk menyambut keterlibatan kita dalam kegembiraan, ketakutan, harapan, dan penderitaan manusia di zaman kita.

    Mereka yang berbicara seperti ini mencintai orang lain karena mereka memiliki hati dan sungguh menjaga, melindungi, dan tidak melanggar kebebasan.

    Gaya seperti ini dapat kita lihat dalam diri “Sang Musafir Misterius” yang berdialog dengan para murid dalam perjalanan menuju Emmaus, sesudah tragedi Golgota.

    Yesus yang bangkit berbicara dari hati, sambil dengan rasa hormat, menemani perjalanan penderitaan mereka. Yesus juga menawarkan diri dengan penuh kasih, bukan memaksa untuk membuka pikiran mereka agar memahami makna terdalam atas apa yang terjadi. Akhirnya, dengan gembira mereka dapat bersaksi, bahwa hati mereka berkobar-kobar saat Dia berbicara di sepanjang perjalanan sambil menjelaskan makna

    Kitab Suci (bdk. Luk. 24: 32). Dalam sebuah periode sejarah yang ditandai polarisasi dan perten-tangan–bahkan sayangnya komunitas gerejawi pun tidak luput dari situasi ini–komitmen untuk berkomunikasi “dengan hati dan tangan terbuka” menjadi tanggung jawab semua, bukan hanya mereka yang berkarya di bidang komunikasi. Kita semua dipanggil untuk mencari, mewartakan, dan menghidupi kebenaran dengan kasih.

    Secara khusus, kita sebagai umat Kristiani didesak terusmenerus untuk menjaga lidah dari yang jahat (bdk. Mzm. 34: 14). Seperti yang diajarkan Kitab Suci, dengan lidah yang sama, kita dapat memuji Tuhan dan mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah (bdk. Yak. 3: 9). Perkataan buruk janganlah keluar dari mulut kita, “tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Ef. 4: 29). Acap kali percakapan yang bersahabat dapat membuka celah, bahkan pada hati yang sudah membatu sekalipun. Terkait dengan hal ini, kita dapat menemukan buktinya dalam salah satu literatur. Saya ingat cerita yang tertera di halaman yang tak terlupakan pada Bab 21 buku Promessi Sposi (sebuah novel karangan Alessandro Manzoni, yang dalam bahasa Inggris The Betrothed, ‘Bertunangan’).

    “Sekali kita mendengarkan orang lain dengan hati yang murni, kita juga akan mampu berbicara mengikuti kebenaran dalam kasih.” Bdk. Ef.4:15.

    Dalam kisah itu, Lucia berbicara dengan hati kepada Innominato (Yang Tidak Bernama) sampai orang itu merasa terlucuti dan tersiksa oleh krisis batin yang sungguh berguna bagi hidupnya. Dan pada akhirnya, dia menyerah pada kekuatan cinta yang lembut. Kita sebenarnya mengalami hal tersebut dalam masyarakat, di mana kebaikan bukan hanya masalah “etiket”, melainkan benar-benar menjadi penangkal yang sesungguhnya terhadap sesuatu yang dapat meracuni hati dan relasi manusia, yaitu kekejaman.

    Dalam dunia media, kita membutuhkan kekuatan cinta yang lembut seperti itu, agar komunikasi tidak menimbulkan iri hati yang menjengkelkan, memicu kemarahan yang mengarah pada konfrontasi, tetapi membantu orang untuk dengan tenang merefleksikan dan memaknai dengan kritis sekaligus penuh hormat terhadap realitas hidup mereka.

    “Hati menyatakan kebenaran tentang keberadaan kita dengan detaknya dan karena itulah seharusnya kita dengarkan,” Paus Fransiskus.

    Komunikasi dari hati ke hati: “Agar dapat berbicara dengan baik, cukuplah dengan mencintai secara baik” Salah satu contoh paling cemerlang dan tetap memikat hingga saat ini tentang “berbicara dengan hati”, dapat ditemukan dalam diri Santo Fransiskus de Sales, seorang Pujangga Gereja.

    Baru-baru ini, dalam rangka peringatan 400 tahun wafatnya, saya menulis tentang figur ini dalam Surat Apostolik Totum Amoris Est (‘Segalanya tentang Cinta’). Dekat dengan peringatan penting ini, (400 tahun wafat Santo Fransiskus de Sales), saya ingin menyebut satu peringatan lain pada tahun 2023 ini, yaitu 100 tahun penetapannya sebagai Santo Pelindung Jurnalis Katolik oleh Paus Pius XI melalui Ensiklik Rerum Omnium Perturbationem (Tentang Segala Gangguan) (26 Januari 1923).

    Fransiskus de Sales, Uskup Jenewa pada awal abad ke-17, merupakan seorang intelektual brilian, penulis hebat, dan teolog besar. Beliau hidup pada masa-masa sulit yang ditandai oleh perselisihan sengit dengan Calvinis. Sikapnya lemah-lembut dan manusiawi, serta memiliki kesabaran untuk berdialog dengan semua orang, terutama dengan mereka yang tidak sependapat dengannya.

    Lidah yang manis dan lembut

    Inilah yang membuat dirinya menjadi saksi luar biasa akan cinta Tuhan yang berbelas kasih. Tentang pribadinya, dapat dikatakan bahwa “tenggorokan yang manis mendapat banyak sahabat, dan keramahan diperbanyak oleh lidah yang manis lembut” (Sir. 6: 5). Terlebih lagi, salah satu pernyataannya yang paling terkenal, “hati berbicara kepada hati”, telah mengilhami banyak orang beriman, termasuk Santo John Henry Newman, yang menjadikannya sebagai moto hidup, “cor ad cor loquitur” (hati berbicara kepada hati). “Agar dapat berbicara dengan baik, cukuplah dengan mencintai secara baik”, adalah salah satu keyakinannya.

    Perkataan buruk janganlah keluar dari mulut kita, “tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” Ef.4:29

    Baginya, komunikasi tidak boleh direduksi menjadi suatu kepalsuan, yang saat ini mungkin kita sebut sebagai strategi marketing. Komunikasi merupakan cerminan jiwa, permukaan dari inti cinta yang tidak terlihat oleh mata. Bagi Santo Fransiskus de Sales, justru “di dalam hati dan melalui hati terjadi proses yang intens, hati-hati, dan menyatukan, yang di dalam proses ini kita datang untuk mengenal Tuhan”.

    [2] Melalui “mencintai dengan baik”, Santo Fransiskus berhasil berkomunikasi dengan Martino yang bisu-tuli, dan menjadi temannya. Oleh karena itu, dia juga dikenang sebagai pelindung bagi penyandang disabilitas dalam berkomunikasi. Berawal dari “kriteria cinta” inilah, melalui tulisantulisan dan kesaksian hidupnya, Uskup suci dari Jenewa itu mengingatkan bahwa “kita ini adalah apa yang kita komunikasikan”.

    Pokok tersebut menentang arus, seperti yang kita alami saat ini, khususnya di jejaring sosial. Komunikasi sering dieksploitasi sehingga dunia melihat kita seperti yang kita inginkan, bukan siapa kita sebenarnya. Santo Fransiskus de Sales menyebarkan banyak salinan tulisannya di komunitas Jenewa.

    Intuisi “jurnalistik” ini membuatnya memiliki reputasi yang dengan cepat melampaui batas keuskupannya, dan bahkan masih bertahan hingga hari ini. Menurut pengamatan Santo Paulus VI, tulisan-tulisannya merupakan bacaan yang “sangat menyenangkan, dapat menjadi panduan, dan menggerakkan”.

    [3] Kalau sekarang kita melihat dunia komunikasi, bukankah ini ciri-ciri yang harus ada dalam sebuah artikel, laporan, program televisi atau radio, atau unggahan di media sosial? Semoga mereka yang bekerja di bidang komunikasi terinspirasi oleh Santo yang lemah-lembut ini, mencari dan menyatakan kebenaran dengan berani dan bebas, serta menolak godaan untuk menggunakan ekspresi sensasional dan agresif.

    “Berkomunikasi dengan ramah berarti siapa pun yang membaca atau mendengarkan kita, dituntun untuk menyambut keterlibatan kita dalam kegembiraan, ketakutan, harapan, dan penderitaan manusia di zaman kita,” Paus Fransiskus.

    Bagian 2: PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-57 21 MEI 2023

     

    Pesan Paus dalam KOMSOS Se-Dunia: Bicara dengan Hati

    Dokumen KOMSOS se-Dunia

    MajalahDUTA.Com, KOMSOS– ‘‘Berbicara dari hati menurut kebenaran dalam kasih” Ef 4:15.

    SAUDARA-saudari terkasih, Setelah beberapa tahun terakhir ini kita merefleksikan tentang kata kerja “datang dan melihat” serta “mendengarkan” sebagai syarat untuk komunikasi yang baik, dalam Pesan untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-57 ini, saya ingin berfokus pada “berbicara dengan hati”.

    Hatilah yang mendorong kita untuk datang, melihat, dan mendengarkan. Dan, hati itu pulalah yang menggerakkan kita berkomunikasi secara terbuka dan ramah. Setelah kita berlatih mendengarkan, yang menuntut kita menunggu dan bersabar, serta tidak memaksakan sudut pandang kita dengan cara yang merugikan, akhirnya kita dapat masuk dalam dinamika dialog dan saling berbagi; tepatnya berkomunikasi dengan ramah.

    Sekali kita mendengarkan orang lain dengan hati yang murni, kita juga akan mampu berbicara mengikuti kebenaran dalam kasih (bdk. Ef. 4: 15). Kita tidak perlu takut mewartakan kebenaran, meskipun terkadang tidak nyaman, tetapi kita melakukannya dengan belas kasih dan dengan hati. Sebab, “program Kristiani–– sebagaimana ditulis Paus Benediktus XVI––adalah ‘hati yang melihat’.”[1] Hati menyatakan kebenaran tentang keberadaan kita dengan detaknya dan karena itulah seharusnya kita dengarkan.

    Kenyataan ini memampukan mereka yang mendengarkan pada gelombang yang sama, untuk merasakan detak jantung orang lain di dalam hatinya sendiri.

    Dengan demikian, keajaiban karena perjumpaan dapat sungguh terjadi, yaitu membuat kita saling memandang dengan kasih sayang, saling menerima kelemahan satu sama lain dengan rasa hormat, daripada menghakimi berdasarkan kabar angin serta menabur perselisihan dan perpecahan.

    Yesus memperingatkan kita bahwa setiap pohon dapat dikenali dari buahnya (bdk. Luk. 6: 44). “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik; dan orang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya” (ayat 45).

    Oleh karena itu, agar dapat mengomunikasikan kebenaran dengan kasih, seseorang perlu menyu-cikan hatinya. Hanya dengan mendengarkan dan berbicara melalui hati yang murni, kita dapat melihat melampaui apa yang tampak dan dapat mengatasi suara-suara tidak jelas yang dalam hal informasi, justru tidak membantu kita memahami dunia yang begitu kompleks.

    Seruan untuk berbicara dengan hati ini merupakan tantangan yang radikal bagi zaman kita, yang cenderung tidak peduli dan marah, bahkan kerap mengeksploitasi kebenaran dan menyebarkan informasi palsu.

    “Hatilah yang mendorong kita untuk datang, melihat, dan mendengarkan. Dan, hati itu pulalah yang menggerakkan kita berkomunikasi secara terbuka dan ramah,” Paus Fransiskus.

    Bagian 1: PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-57 21 MEI 2023

    Suster Fransiskus Dina Genap Satu Abad di Indonesia

    Foto bersama yang diambil dari altar menghadap umat- Sumber: Mgr. Agustinus Agus

    MajalahDUTA.Com, Medan– Perayaan Misa 100 Tahun Suster SFD digelar di Danau Toba Convention Hall pada Sabtu, 25 Maret 2023. Suster SFD merayakan perjalanan 100 tahun di Indonesia dengan mengusung tema “Persaudaraan Dina yang Bersatu di Hati, Dinamis, Bersemangat Missioner, dan Terbuka pada Perubahan Zaman”.

    Sebagai tanda sukacita atas peristiwa bersejarah itu, lilin pesta 100 tahun untuk merayakan syukur itu akan dinyalakan oleh Ministra Umum Kongregasi SFD Sr Imelda Tampubolon SFD.

    Misa dipimpin oleh Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, didampingi oleh Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, Uskup Banjarmasin, Mgr. Petrus Boddeng Timang, Uskup Keuskupan Agung Samarinda, Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF, Uskup Keuskupan Wetebula, Mgr. Edmund Woga CSSR, dan Vikjen Keuskupan Ketapang, Pastor Laurensius Sutadi Pr, serta puluhan imam yang turut ambil bagian dalam perayaan ekaristi syukur hari itu.

    Dalam homili yang dibawakan oleh Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, ia menjelaskan bahwa tanggal 17 April 2007 tarekat ini dimekarkan dengan tarekat yang berhukum Keuskupan atau Diosesan dengan wilayah provinsialat di Yogyakarta, yaitu Keuskupan Agung Semarang sampai sekarang ini. Uskup Robertus Rubiyatmoko juga menambahkan bahwa Suster SFD berkarya di banyak bidang, seperti pendidikan, asrama, panti asuhan, kesehatan, pastoral, panti jompo, dan lain sebagainya.

    Misi Suster SFD dibangun dengan prinsip kedinaan, yang menjadi ciri khas tarekat ini. Kedinaan adalah sikap hidup yang rendah hati, kesederhanaan, dan sebagainya, yang jelas berbeda dengan kehinaan. Suster SFD dikenal juga sebagai Suster Putri-Putri Bunda Maria. Bunda Maria memiliki cerminan dari kedinaan para suster, yang pertama ditunjukkan dalam sikap lepas bebas dan tak terikat oleh dunia, hidup apa adanya, dan tidak memikirkan diri sendiri, melainkan memikirkan orang lain.

    Kongregasi ini didirikan pada 26 Maret 1801 di Dongen, Belanda, oleh Muder Konstansia dan kawan-kawannya bersama satu Novis, satu Pos­tulan, dan tujuh anak asrama. Pada tahun 1923, Kongregasi menebarkan sayap untuk bermisi ke Indonesia atas undangan Perfektur Apostolic pertama di Padang, yaitu Mgr. Liberatus Cluts OFMCap. Tanggal 17 Maret 1923, misionaris pertama (Sr. Edmunda Mulder, Sr. Hildegardis de Wit, Sr. Salesia Hazelzet, Sr. Leo Pelkmans, Sr. Pu­dentiana Cuelenaere, dan Sr. Laurentine Pijnenburg) berangkat dari  Do­ngen,  dan  se­bu­lan  kemudian,  pada tanggal 17 April 1923  mereka tiba di Medan, Sumatera Utara.

    Syukur atas 100 Tahun di Indonesia

    “Hari ini kita beryukur dan berterima kasih, 100 tahun merupakan usia yang cukup panjang apalagi kalau dibandingkan dengan usia manusia. Usia 100 tahun adalah usia yang istimewa, karena faktanya ada 211 suster berkaul baik kekal maupun sementara dan semua tersebar di 38 komunitas atau biara di 11 Keuskupan, tersebar luas di Indonesia. Maka boleh dibilang SFD ini tampak seturut waktu semakin subur maka itulah keistimewaannya,” kata Uskup Robertus Rubiyatmoko.

    Dia juga menambahkan, Suster SFD berkarya dibanyak bidang misalnya pendidikan, asrama, panti asuhan, kesehatan, pastoral, panti jompo dan lain sebagainya. 100 tahun adalah bukti nyata bahwa ini merupakan tarekat yang dikehendaki oleh Allah karena kehadiran mereka diberkati dalam balutan penyelenggaraan ilahi. Untuk itu hari ini kita bersyukur bersama-sama karena memang ada alasannya.

    Kedinaan tidak sama dengan kehinaan, kedinaan adalah sikap hidup yang rendah hati, kesederhanaan dan sebagainya jelas berbeda dengan kehinaan. Maka ke-dina-an lah yang menjadi ke khasan Suster SFD yang perlu dikembangkan terus menerus.

    Suster SFD dikenal juga sebagai suster putri-putri Bunda Maria, dan Bunda Maria memiliki cerminan dari ke-dina-an dari para suster, yang pertama ke-dina-an dinampakkan dalam sikap lepas bebas dan tak terikat oleh dunia, hidup apa adanya bukan seadanya, tidak memikirkan diri sendiri justru memikirkan orang lain.

    Kedua, menjadi manusia yang beriman tangguh dan teguh, menjadi pribadi pendoa dan mengihidupi kesatuan dengan Kristus. Yang Ketiga, siap untuk bermisi dan menjalankan tugas perutusan kapanpun, dimanapun dan dengan siapapun. Yang Keempat adalah siap untuk berubah, berbenah untuk perubahan lebih baik dan menjadi orang yang responsif terhadap setiap kejadian hidup untuk membawa perubahan untuk manusia dan gereja melalui kedianaan.

    “Mari kita kita syukuri rahmat ini, dan kita hidupi kedinaan dalam Suster SFD untuk menjadi manusia perubahaan dalam sikap yang lepas bebas,” kata Uskup Robertus Rubiyatmoko sembari menutup homilinya.

    Tentang Suster Fransiskus Dina (SFD)

    Kongregasi SFD yang didirikan di Dongen Belanda dengan akte pendirian atau yang disebut dengan statuta SFD ditetapkan pada tanggal 23 Maret 1855 disebut sebagai Badan Pendidikan dan Pengajaran. Maka Pendidikan dan Pengajaran adalah misi utama para suster Missionaris ketika memulai misi di Indonesia maka dengan momen 100 tahun ini ditandai dengan penyusunan kurikulum ke-SFD-an dengan Maju SFD, Jaya SFD, Maju Pendidikan.

    Bapak Walikota Medan, M Bobby A Nasution, berterima kasih kepada kongregasi Suster SFD atas kedatangan mereka dan sudah membantu kemajuan pendidikan di kota Medan. Walikota juga menceritakan sedikit latar belakang tantangan yang mungkin pemerintah dan kongregasi bisa berjalan besama untuk memperbaiki terus-menerus pendidikan dan peradaban terlebih khusus di kota Medan.

    Menapaki langkah dalam pelayanan dalam 100 tahun

    Ministra Umum SFD, Sr Imelda Tampubolon SFD dalam sambutannya bersyukur atas undangan-undangan yang turut dalam perayaan syukur 100 tahun suster SFD. Suster Ministra juga mengakui bahwa dalam menapaki perjalanan kongregasi kadang mereka mengalami keberhasilan dan kemajuan, namun adakalanya kami merasa gagal dan kadang kami dituntut untuk berhenti dan berefleksi semua pengalaman itu kami bingkai dalam doa dan harapan yang baik.

    Diawali dengan tekat untuk menghadirikan kasih Allah, Suster dari Belanda dengan berani mendayung ke Indonesia untuk mengemban missi kemanusiaan dalam rahmat ilahi itu. Dalam rentang 100 tahun SFD hadir dan melayani di 11 keuskupan di Indonesia.

    Menutup sambutannya Sr Imelda Tampubolon SFD mengatakan bahwa usia 100 tahun di SFD di Indonesia karena Kasih Allah kami bisa bekerja bersama segala lapisan elemen kami mengucapkan terima kasih atas sudah menjadi teman seperjalanan itu, kami menghaturkan limpah terima kasih.

    Penulis: Samuel/DUTA-KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Liputan Online Live Streaming Akun KOMSOS Keuskupan Agung Medan

    Uskup Agustinus penuhi Undangan Suster SFD di Medan

    Dalam gambar: Mgr. Petrus Boddeng Timang, sebagai Uskup Banjarmasin Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap Uskup Keuksupan Agung Medan Mgr. Dr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung di Keuskupan Agung Semarang. Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung di Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Medan- Pada hari ini, 24 Maret 2023, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus tiba di Medan, Sumatera Utara untuk menghadiri perayaan 100 tahun hadir dan berkarya di Indonesia oleh Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina (SFD). Uskup Agustinus menerima undangan resmi dari Kongregasi SFD, yang merupakan salah satu kongregasi yang juga bertugas di wilayah Keuskupan Agung Pontianak.

    Kongregasi SFD didirikan di Belanda pada tahun 1851 oleh St. Arnold Janssen dan St. Joseph Freinademetz. Pada tanggal 17 Maret 1923, para misionaris SFD pertama kali tiba di Medan, Sumatera Utara, dan mulai berdakwah dan memberikan pelayanan kepada masyarakat di Indonesia. Kongregasi SFD telah berkontribusi dalam berbagai kegiatan external dan internal, termasuk pendidikan, kesehatan, dan karya sosial.

    Dalam undangan yang diterima oleh Uskup Agustinus, disebutkan bahwa Kongregasi SFD akan mengadakan perayaan puncak pada tanggal 25 Maret 2023 di Hotel Danau Toba International Medan, Sumatera Utara. Uskup Agustinus diundang untuk hadir dan memberikan doa serta dukungan kepada Kongregasi SFD dalam perayaan 100 tahun keberadaannya di Indonesia.

    Kehadiran Uskup Agustinus di perayaan ini menunjukkan dukungan dan apresiasi dari Keuskupan Agung Pontianak terhadap karya dan pelayanan yang telah dilakukan oleh Kongregasi SFD selama 100 tahun di Indonesia. Selain itu, kehadiran Uskup Agustinus juga menjadi momen untuk mempererat tali persaudaraan dan solidaritas antara Keuskupan Agung Pontianak dan Kongregasi SFD.

    Selain Uskup Agung Pontianak hadir pula uskup-uskup undangan lainnya yang siap untuk mengikuti acara esok hari. Perayaan itu tentulah menjadi momen yang spesial bagi Kongregasi SFD dan masyarakat di sekitar Sumatera Utara untuk merayakan 100 tahun karya dan pelayanan dari para suster SFD di Indonesia.

    Penulis: Samuel- DUTA/KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus

    Kaderisasi Komunitas Tritunggal Mahakudus: “Evangelisasi Oikos”

    Sumber Foto: Acuan/ Suasana pemberian materi untuk pembekalan pendampingan Sel/ Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Pada hari Rabu, 22 Maret 2023, sekitar 45 orang peserta yang terdiri dari para pelayan sel, wakil pelayan sel, dan anggota aktif yang menjadi kaderisasi dalam komunitas Tritunggal Mahakudus, mengikuti kegiatan pelatihan pelayan sel.

    Kegiatan itu berlangsung di kediaman Ibu Lily Jln. Sakura no. 88 Pontianak. Di mulai pada pukul 10.00 WIB dengan diawali registrasi para peserta, kemudian dilanjutkan acara pujian dan workshop oleh tim panitia penyelenggara.

    Sesi pertama diisi dengan materi Evangelisasi Oikos dan Metode Evangelisasi Oikos yang disampaikan oleh saudara Herianus Nuryadi. Dalam materi ini, saudara Herianus menjelaskan bahwa keluarga dalam arti yang lebih luas dapat merujuk pada siapa saja yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti teman, lingkungan kerja, dan lingkungan gereja.

    Metode evangelisasi oikos yang dianjurkan adalah dengan mewartakan kabar sukacita melalui kesaksian hidup masing-masing.

    Sesi selanjutnya diisi oleh saudari Anasari, yang membahas tentang Sel Komunitas dan Pertemuan Sel. Dalam materinya, saudari Anasari menekankan pentingnya kualitas daripada kuantitas dalam sebuah sel komunitas, dan bahwa Tuhan harus menjadi pegangan dasar dalam berkomunitas untuk pertumbuhan, perkembangan, dan pemberian diri dalam kelompok kecil.

    Pertemuan sel disini lebih kepada tempat para anggota untuk sharing bersama, wadah untuk berlatih, bertumbuh, dan mendekatkan diri kepada Tuhan dalam kelompok kecil.

    Setelah sesi Sel Komunitas dan Pertemuan Sel, dilanjutkan dengan makan siang bersama dan diskusi singkat untuk workshop yang sudah terbagi menjadi 4-5 kelompok. Setiap kelompok masing-masing peserta diberikan tugas untuk seperti pada saat pertemuan sel dilakukan.

    Setelah workshop selesai, acara dilanjutkan dengan pujian dan sesi Pelayan Sel, Refleksi, dan Pemuridan Kristiani yang dipimpin oleh saudara Fridolin Deolito. Materi ini lebih menekankan pada pentingnya menghayati dan memahami kehidupan seorang murid serta sebagai seorang Yesus Sang Guru dalam kehidupan kita di dunia ini.

    Kegiatan pelatihan pelayan sel ini khusus untuk para pelayan sel, wakil pelayan sel, dan anggota aktif yang menjadi kaderisasi untuk setiap sel dalam komunitas Tritunggal Mahakudus.

    Sel dewasa dan sel muda/mudi yang hadir dalam kegiatan ini antara lain sel Santa Angela, sel Santo Yosef, sel Theresia Benedicta dari Salib, sel Santa Faustina, sel Theresia Lisieux, sel Santa Maria, sel Santo Yohanes Don Bosco, sel Santa Maria Magdalena de Pazzi, sel Nabi Elia, sel Santo Rafael wilayah Ambawang 1, sel Santa Theresia Lisieux wilayah Ambawang 1, sel Nabi Elia wilayah Ambawang 1.

    Penulis: Samuel-DUTA/KOMSOS KA Pontianak
    Reporter: Heriyanto- DUTA/KOMSOS KA Pontianak

    Provinsial Dominikan Filipina Pastor Filemon Jr Dela Cruz OP Kunjungi Rumah Santo Tomas Aquino di Surabaya

    We thank God for the successful of canonical visitation of our Father Provincial, Rev. Fr. Filemon Jr Dela Cruz to Rumah Santo Tomas Aquino, Surabaya.

    MajalahDUTA.Com, Surabaya- Provinsial Dominikan Filipina Pastor Filemon Jr Dela Cruz OP pada Senin 20 Maret 2023, mengunjungi Rumah Santo Tomas Aquino di Surabaya, Dominikan merupakan sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang pelayanan keagamaan dan spesialis pendidikan.

    Kunjungan ini disampaikan melalui postingan Facebook Dominikan Indonesia yang diteruskan dari postingan Diakon Agustinus Agus Hermawan pada hari yang sama.

    Dalam postingannya, Diakon Agustinus Agus Hermawan mengutip ayat dari kitab Matius 1:16-24 yang mengenai Santo Yusuf, suami dari Bunda Maria. Dia menuliskan bahwa mimpi hanyalah awal, dan prestasi membutuhkan tindakan yang konkret. Kehendak Tuhan harus selalu menjadi pedoman dalam langkah dan upaya kita.

    Diakon Agustinus Agus Hermawan juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Tuhan atas kunjungan kanonik Pastor Filemon Jr Dela Cruz OP ke Rumah Santo Thomas Aquino. Dia berharap bahwa pelayanan mereka akan diberkati dan impian mereka akan berbuah untuk kemuliaan Kerajaan Tuhan.

    Kehadiran Provinsial Dominikan Filipina Pastor Filemon Jr Dela Cruz OP, di sana menunjukkan bahwa dalam satu keluarga tersebut mendapatkan perhatian yang sama pula dalam satu ikatan imamat dimana saat ini dia yang menjadi nahkoda dari imam-imam Dominikan yang ada di Indonesia karena masih bagian dari Provinsi Filipina. Salam dari keluarga besar Dominikan.

    Penulis: Samuel- DUTA/KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Dominikan Indonesia 

    Untuk Kebaikan Anak Cucu Kita pada Masa Mendatang

    Potret Bersama>: Rekoleksi bersama Pastor Toni OFMCap di Paroki Gembala Baik Pontianak (Sumber Foto: Panitia Rekoleksi)

    MajalahDUTA.Com, Pontianak– Pesan dari judul diatas diungkapkan oleh Pastor Toni Tantiono OFMCap yang disampaikannya saat memberikan rekoleksi masa Prapaskah untuk lingkungan Paroki Gembala Baik Senghie Pontianak.

    Pada Rabu 22 Maret 2023, Paroki Gembala Baik Pontianak mengadakan rekoleksi Masa Prapaskah dengan tema “Manusia, Penguasa Alam?”. Rekoleksi itu dihadiri sekitar 158 peserta dari Wilayah Paroki Gembala Baik Senghie Pontianak dan sejumlah aktivis di Paroki.

    Acara dimulai pada pukul 08.00 dengan registrasi peserta dan dibuka oleh MC sebagai moderator yang dilanjutkan dengan tim pujian hingga doa pembukaan yang hikmat.

    Narasumber pada rekoleksi ini diberikan oleh Imam Fransiskan yakni Pastor Paulus Toni Tantiono OFMCap yang juga sebagai pastor Rekan di Paroki.

    Dalam pesannya, Pastor Toni OFMCap menekankan pentingnya berlaku taat pada aturan yang berlaku terutama dalam melakukan perbuatan yang benar dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Konteks ini tentu didasarkan pada keadaan lingkungan hidup, terlebih Pastor Toni OFMCap menghimbau agar umat selalu berjaga-jaga dan turut terlibat dalam menjaga keutuhan ciptaan terlebih untuk umat di Paroki Gembala Baik Senghie ini.

    “Tujuannya adalah untuk kebaikan anak cucu kita pada masa mendatang,” kata Pastor Toni OFMCap.

    Kegiatan ini bertujuan untuk membantu peserta merenungkan kembali makna dan tujuan hidup sebagai umat manusia, dan sebagai penguasa alam, bagaimana tanggung jawab manusia dalam menjaga dan memelihara lingkungan hidup.

    Di sisi lain kegiatan itu selaras dengan pesan teladan Bapa Serafik Fransiskus Assisi dalam menjaga keutuhanciptaan serta bagaimana melakukan perbuatan baik untuk menjalankan tugas sesuai dengan peran masing-masing dalam kehidupan beragama dan sosial.

    Acara tersebut dihadiri oleh peserta dari Wilayah Paroki Gembala Baik Senghie Pontianak, termasuk di antaranya ada DPH, DPP Pleno, Pengurus Wilayah, dan Lingkungan. Ada pula para aktivis Paroki seperti lektor, pemazmur, kelompok KKI, Koor, Legio Maria, Senakel, Prodiakon, Katekumen, krismawan/i dan sebagainya.

    Semua peserta tampak khusyuk dan serius larut dalam penjelasan sang narasumber, meskipun kegiatan tersebut terlaksana secara singkat tetapi antusias umat dapat terlihat dari jumlah mereka yang turut menghadiri kegiatan tersebut. Semoga, Pace e Bene.

    Penulis: Samuel- Jurnalis DUTA/KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Jerems Leonardus Heryanto – Reporter DUTA/KOMSOS KA Pontianak

    Pelantikan Pengurus OMK Sambas Masa Bakti 2023-2024

    ORANG MUDA KATOLIK (OMK) KRISTUS RAJA SAMBAS “Pelantikan Pengurus OMK Sambas Masa Bakti 2023-2024”

    MajalahDUTA.Com, Sambas, 19 Maret 2023 – Pelantikan Pengurus Orang Muda Katolik (OMK) Kristus Raja Sambas telah berhasil dilaksanakan dengan baik dan lancar pada hari Minggu, 19 Maret 2023. Acara yang dihadiri oleh Pastor Moderator OMK (P. Benedetto Benno, OFMCap), Pendamping OMK (Sr. M. Luciana, KFS, Sr. M. Stella, KFS, dan Susana Modesta), serta para pengurus inti dan anggota OMK Kristus Raja Sambas, dan umat di Gereja Kristus Raja Paroki Sambas tersebut merupakan bentuk syukur atas rahmat dan karunia Allah Bapa di Surga.

    Sebanyak 27 orang pengurus OMK Kristus Raja Sambas secara resmi dilantik oleh P. Moderator OMK dan disaksikan oleh segenap umat yang hadir dalam misa ketiga sore pukul 17.00 WIB. Dalam kesempatan tersebut, Pastor Moderator memberikan pesan bahwa pengurus yang telah dilantik harus selalu semangat untuk melayani bukan untuk dilayani.

    OMK sendiri merupakan sarana bagi para pemuda dan pemudi Katolik untuk mengembangkan diri melalui program-program kerja yang telah dibentuk dengan cara bersinergi antar pengurus dan seluruh anggota OMK di Paroki Kristus Raja Sambas, serta berkoordinasi dengan Dewan Pastoral Paroki untuk mengembangkan Gereja tercinta, Gereja Kristus Raja Sambas.

    Dalam kata sambutannya, Ketua OMK Kristus Raja Sambas mengajak para pengurus untuk bekerjasama dengan bahu-membahu menjalankan organisasi OMK yang mereka cintai. Para pengurus OMK Kristus Raja masa bakti 2023-2024 diharapkan dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya, didampingi oleh Tuhan.

    Oleh: Yuni Fransiska- OMK Sambas
    Sumber lain: IG  @omkkristusrajasambas

    Gelar Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) Ke-5 lintas Komisariat GMNI Landak

    Media center DPC GMNI Landak

    MajalahDUTA.Com, Landak- Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Landak mengelar Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) Ke-5 lintas Komisariat GMNI Landak mengangkat tema “Membentuk Karakter yang Revolusioner dan Progresif Berdasarkan Marhaenisme” dengan jumlah 50 orang peserta, Rabu (22/03/2023).

    Kegiatan di hadirkan pula Ketua DPC GMNI Landak Bung Jerri dan Sekretaris DPC GMNI Landak Sarinah Tri Eva Lestari berserta jajaran pengurus cabang dan pengurus Komisariat Perjuangan Bung Frans berserta jajaran, Komisariat Kebugaran Jasmani Bung Iyus berserta jajaran dan Komisariat Patih Gumantar Sarinah Kridayanti berserta jajaran.

    Kegiatan terselengara di Sekretariat DPC GMNI Landak yang di buka langsung oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kalimantan Barat Bung Syamsu.

    Bung Jerri dalam sambutan menyampaikan, bahwa kegiatan PPAB ini bukan hanya sebagai kegiatan pengkaderan biasa, melainkan kegiatan PPAB ini adalah bentuk semangat gerakan dalam Dies Natalis Ke-69 Tahun GMNI.

    “Kami gelar PPAB Ke-5 sebagai langkah kongkrit semangat gerakan dalam Dies Natalis Ke-69 Tahun GMNI, maka dari itu angka lima romawi kami buat berbentuk angka 6 dan 9, jelasnya.

    Bung Jerri juga menyampaikan PPAB kali ini diselengarakan mengangkat tema “Membentuk Karakter Yang Revolusioner dan Progresif Berdasarkan Marhaenisme” guna membentuk setiap kader GMNI yang mampu menjadi pengaruh besar menuju era kesejahteraan rakyat kecil yang tertindas dalam gempuran zaman saat ini.

    “Mampu untuk membentuk internal di lingkaran masyarakat menuju era kesejahteraan rakyat dari berbagai gempuran zaman saat ini. Mampu menempatkan diri sebagai pemimpin yang berkeinginan untuk maju bersama rakyat”

    Diakhir Bung Jerri mengajak seluruh anggota dan kader untuk bersama-sama Menyemarakan Salam GMNI dengan tegas dan penuh semangat Gerakan.

    Penulis: Media center DPC GMNI Landak

    TERBARU

    TERPOPULER