Friday, May 1, 2026
More
    Home Blog Page 71

    Apakah Semangat ‘Teman Seperjalanan’ Ini Bisa Terus Berkobar, Pasca PRYD 2023?

    Betapa antusias dan semangat yang ditunjukkan salah satu perwakilan dari OMK yang ada di Dekanat Pontianak Raya - Pasca Misa Penutupan / Foto Bersama Panitia PRYD 2023

    MajalahDUTA.com – Dengan berakhirnya Pontianak Raya Youth Day 2023 yang berlangsung begitu cepat, kegiatan yang diselenggarakan pada tanggal 2 hingga 3 Desember 2023 di RRC Sungai Ambawang ditutup dengan perayaan misa. Misa penutupan ini, yang juga merayakan masa adven pertama tahun 2023, dilaksanakan pada hari Minggu (03/12/2023).

    Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak, memimpin langsung perayaan misa penutupan bersama pastor pendamping OMK Dekanat Pontianak Raya dan beberapa pastor paroki. Semua peserta dan panitia hadir dalam misa kudus ini, didukung oleh petugas liturgi yang mewakili masing-masing paroki.

    Potret Mgr. Agus bersama para pastor pendamping dan peserta PRYD 2023 – Misa Penutupan PRYD 2023 di Aula Utama RRC Sungai Ambawang

    Dalam homilinya, Bapa Uskup memberikan semangat kepada seluruh panitia dan peserta sebagai generasi muda Katolik yang menjadi penerus. Misa penutupan Pontianak Raya Youth Day 2023, diadakan pada Minggu siang (03/12/2023) di Rumah Retret Costantini Sungai Ambawang.

    Bapa Uskup menekankan bahwa semangat anak muda di Dekanat Pontianak Raya begitu besar dan antusias. Di akhir khotbahnya, beliau juga mengucapkan terima kasih atas kerjasama semua pihak yang telah memungkinkan suksesnya kegiatan yang diikuti oleh 164 peserta dari berbagai paroki tersebut.

    Para peserta bersalaman dengan Mgr. Agus – Misa Penutupan PRYD 2023 di Aula Utama RRC Sungai Ambawang

    “Terima kasih anak muda! Saya katakan, generasi kalian saat ini lebih baik dari generasi saya, karena fasilitas yang tentu sudah jauh lebih baik, begitupula kalian semua harus menjadi generasi yang lebih baik,” demikian kata Uskup Agustinus.

    Beliau mendorong agar semangat tersebut tidak hanya berhenti pada kegiatan PRYD, melainkan dapat terus berkembang ke tahap yang lebih tinggi. Bapa Uskup juga menyatakan keyakinan bahwa generasi muda Katolik saat ini seharusnya menjadi generasi yang lebih baik.

    Meriahnya sayonara, kebersamaan antara panitia dan peserta yang tampak tidak berbatas – Misa Penutupan PRYD 2023 di Aula Utama RRC Sungai Ambawang

    “Semangat yang telah ditunjukkan sekarang ini harus menjadi pendorong kita untuk terus berkembang sebagai generasi Katolik yang lebih baik,” lanjutnya.

    Sebagai penutup acara, Pontianak Raya Youth Day 2023 resmi ditutup dengan pemukulan gong oleh Bapa Uskup dan para Pastor. Momen ini diikuti dengan sesi foto bersama dan salam perpisahan. Harapannya, kegiatan selama dua hari ini dapat menanamkan semangat ‘teman seperjalanan’ dalam kehidupan sehari-hari bagi semua peserta dan panitia yang terlibat, apalagi dengan dimulainya masa adven pertama.

    Editor: Julio Ronaldi, Andreas Jefri – Tim KOMSOS KAP
    Bersama Yunita Swan, Kristianti Monica Cherly – dari Paroki Stella Maris Pontianak

    Bagaimana Para Lulusan Dominikan Batch 1 Merayakan Kelulusan Mereka dengan Rasa Syukur yang Mendalam?

    Syukuran Kelulusan Wisuda Anak Dominika Batch 1 Berkumpul dalam Rasa Syukur dan Berkat Tuhan Landak, 29 November -2023 Lokasi: Biara Suster OP

    MAJALAHDUTA.COM, BERITA LANDAK- Komunitas Dominika Dominican Youth merayakan momen bersejarah dengan menggelar syukuran kelulusan wisuda anak Dominikan bacth 1.

    Acara ini dihadiri oleh suster-suster OP, anak-anak Dominikan Batch 2 dan 3, serta para anggota Dominika Batch 1 yang telah lulus wisuda.

    Bernego menuliskan, dalam suasana yang penuh kebersamaan dan rasa syukur, acara ini diselenggarakan di Biara Suster OP.

    “Para lulusan dan tamu undangan berkumpul untuk merayakan hari raya peringatan syukur atas kelulusan teman-teman mereka. Semangat persaudaraan dan rasa syukur kepada Tuhan mengisi setiap sudut acara ini,” tulis Bernego.

    Acara dimulai dengan sambutan hangat dari perwakilan suster-suster OP yaitu Sr. Charito, yang menyampaikan ucapan selamat kepada para lulusan atas pencapaian mereka.

    Mereka juga mengajak semua yang hadir untuk bersama-sama mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan yang telah melindungi dan memberkati perjalanan pendidikan para lulusan.

    Selanjutnya, dalam suasana yang penuh rohani, dilakukan renungan Kristen yang menginspirasi dan memotivasi para lulusan.

    Renungan ini mengingatkan mereka akan pentingnya bersyukur atas segala berkat dan kesuksesan yang diberikan Tuhan selama perjalanan kuliah mereka.

    Acara syukuran kelulusan ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni dari anak-anak Dominikan Batch 2 dan 3.

    “Mereka menampilkan tarian, musik,  yang menggambarkan perjalanan mereka dalam mencapai kelulusan. Semua penampilan tersebut mencerminkan bakat dan dedikasi mereka dalam bidang seni dan hiburan,” tambah Bernego.

    Tidak hanya itu, dalam suasana yang penuh kebersamaan, para lulusan dan tamu undangan berdoa bersama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

    Doa-doa itu mengungkapkan rasa terima kasih atas berkat dan bimbingan-Nya selama perjalanan pendidikan mereka.

    Setelah acara, semua yang hadir berkumpul untuk makan malam bersama, saling berbagi cerita, dan mengenang kenangan indah selama masa kuliah.

    Semua orang tampak mensyukuri dan berterima kasih atas peran Tuhan yang telah melindungi dan memberkati mereka sepanjang perjalanan mereka.

    Syukuran kelulusan wisuda anak Dominikan Batch 1 menjadi momen yang sarat dengan rasa syukur dan berkat Tuhan.

    Para lulusan siap melangkah ke dunia nyata dengan penuh semangat dan keyakinan bahwa Tuhan akan terus melindungi dan membimbing mereka.

    Syukuran kelulusan wisuda anak Dominikan bacth 1 merupakan momen yang penuh dengan rasa syukur, berkat Tuhan, dan semangat persaudaraan.

    Menurut pantauan Bernego, acara itu tidak hanya menjadi perayaan atas kelulusan para lulusan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk bersyukur atas segala berkat yang telah diberikan Tuhan selama perjalanan pendidikan mereka.

    Kebersamaan dan kekeluargaan

    Dalam suasana yang penuh kebersamaan, para lulusan dan tamu undangan merayakan hari raya peringatan syukur dengan penuh kegembiraan di Biara Suster OP.

    Renungan rohani, pertunjukan seni, dan doa bersama menjadi bagian tak terpisahkan dalam acara ini, mengingatkan semua yang hadir akan pentingnya bersyukur dan mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidup.

    Selain itu, para lulusan juga merasa terinspirasi oleh kakak tingkat mereka, Dominika Batch 1, yang telah menyelesaikan perjalanan pendidikan mereka.

    Neraca syukur mereka terhadap kakak tingkat tersebut adalah sebagai teladan yang menginspirasi dan memotivasi mereka untuk mengikuti jejak mereka dalam mencapai kesuksesan.

    Potret Bersama dalam Perayaan Syukuran Wisuda (29/11)

    Dengan berkat Tuhan dan semangat persaudaraan yang kuat, para lulusan Dominika Made 1 siap melangkah ke dunia nyata dengan keyakinan dan semangat yang tinggi.

    “Mereka mengucapkan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan yang telah melindungi dan membimbing mereka sepanjang perjalanan pendidikan,” tutup Bernego dalam laporannya kepada Redaksi KOMSOSKAP.

    Perayaan syukuran kelulusan wisuda anak Dominika Made 1 menjadi awal yang indah bagi para lulusan dalam menggapai impian dan mencapai kesuksesan di masa depan.

    Dengan rasa syukur dan kebersamaan yang terjaga, mereka tampak belajar untuk menjadi teladan bagi generasi berikutnya.

    Kesimpulan ini menambahkan bahwa perayaan syukuran kelulusan wisuda anak Dominika Made 1 adalah awal yang indah bagi para lulusan untuk mencapai impian mereka dengan rasa syukur dan semangat persaudaraan.

    Editor: Samuel – KOMSOS
    Sumber: Bernego – KOMSOS Family

     

    Bagaimana Keteguhan Iman Santa Bibiana Menginspirasi di Tengah Penganiayaan yang Kejam?

    ( Photo : Saint Bibiana - Shrine and wax figure of Saint Viviane in the Saint-Sulpice church of Fougeres )

    MAJALAHDUTA.COM, SPRITUALITAS – Dalam rentang masa penganiayaan Kristen pada abad keempat, kisah Santo Flavian, Santa Dafrosa, dan putri mereka, Santa Bibiana, menjadi contoh keberanian dan keteguhan iman di tengah keterpurukan.

    Martir-martir ini menorehkan jejak pengorbanan dan kesetiaan dalam perjuangan mereka menghadapi penganiayaan yang kejam.

    Santo Flavian, awalnya seorang pejabat di Roma, beralih menjadi Kristen yang taat. Saat Kaisar Yulianus menganiaya umat Kristen, Flavian ditangkap, disiksa, dan dijebloskan ke dalam penjara.

    Kaisar memerintahkan agar dahinya dicap dengan besi panas bertuliskan “BUDAK,” sebelum akhirnya dibuang ke Acquapendente, Tuscany, Italy, di mana ia wafat sebagai seorang martir.

    Santa Dafrosa, istri Santo Flavian, juga harus merasakan kepahitan penganiayaan.

    Dijadikan tahanan di rumahnya sendiri, ia menolak meninggalkan kehidupan Kristen yang saleh.

    Akhirnya, Dafrosa dihukum mati dengan cara dipenggal kepala. Saat dieksekusi, senyum kemenangan terukir di wajahnya, menunjukkan keberanian dan keteguhan iman yang mempesona.

    Tragis dan menyayat hati

    Kisah tragis juga menimpa Santa Demetria, saudari Santa Bibiana, yang tewas seketika ketakutan sebelum masuk tahanan.

    Namun, Bibiana dan Demetria, yang ditinggalkan bersama-sama, memasrahkan diri mereka kepada Tuhan dalam doa, meski segala milik mereka dirampas.

    Santa Bibiana dihadapkan pada ujian yang lebih berat ketika dia diserahkan kepada pelacur bernama Rufina.

    Tugas Rufina adalah memurtadkan dan membuat Bibiana jatuh dalam dosa.

    Namun, keteguhan Bibiana membuatnya tidak tergoyahkan, bahkan ketika dibawa ke rumah penampungan orang gila. Tidak ada upaya Rufina yang berhasil, dan Bibiana tetap mempertahankan kesuciannya.

    Akhirnya, Santa Bibiana dibawa kembali ke pengadilan dan didera hingga mati dengan cambuk timah.

    Jenazahnya dikebumikan secara diam-diam oleh seorang imam di samping makam ibu dan saudarinya pada malam hari.

    Sekitar tahun 467, pada masa Paus Simplisius, sebuah gereja dibangun di atas makam para martir wanita ini.

    Gereja kecil itu kemudian direnovasi pada tahun 1224 oleh Paus Honorius III dan masih berdiri hingga hari ini, dikenal sebagai Gereja Santa Bibiana, yang berlokasi di 154 Via Giovanni Giolitti, Roma, Italia.

    Gereja ini menjadi tempat suci yang mengenang perjuangan dan pengorbanan keluarga martir ini selama masa penganiayaan Kristen.

    Editor: Sam-KOMSOS
    Sumber: Berbagai Olahan

    Paus yang Teraniaya, Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik Tuduhan Terhadap Santo Paus Silverius?

    Santo Paus Silverius - Sumber: Katakombe

    MAJALAHDUTA.COM, 2 Desember 2023 – Cerita dramatis kehidupan Santo Paus Silverius, paus ke-58, menggugah perhatian dunia dengan intrik politik, perang kekuasaan, dan pengorbanan yang mengesankan.

    Terpilih pada masa yang kacau-balau, Silverius I menghadapi ujian besar dalam kepemimpinannya yang diwarnai oleh perseteruan politik, konflik agama, hingga penghianatan.

    Santo Paus Silverius lahir sekitar tahun 480 di Frosinone, Campania Italia, sebagai putra Paus Hormisdas.

    Sejak usia belia, ia telah memberikan pengabdian penuh bagi Gereja.

    Awalnya hanya seorang Subdiakon biasa, takdirnya berubah ketika paus sebelumnya, Agapitus I, wafat pada tanggal 22 April 536.

    Sede vacante (takhta kepausan yang kosong) memunculkan intrik politik antara Kerajaan Bizantium dan Kerajaan Ostrogoth, dengan Ratu Theodora dari Konstantinopel berusaha mengorbitkan Diakon Agung Vigilius sebagai paus.

    Namun, Raja bangsa Ostrogoth saat itu, Theodahad, menentang keras Vigilius dan berhasil memastikan terpilihnya Silverius sebagai paus baru.

    Tuduhan

    Terpilihnya seorang Subdiakon menjadi Paus menjadi kontroversial, dan ia dituduh menyuap Raja Theodahad.

    Namun, tuduhan ini terbukti palsu setelah kesaksian dari beberapa klerus saleh.

    Paus Silverius memimpin Gereja Katolik pada masa yang penuh tantangan.

    Ketika Kaisar Justinianus Agung memulai kampanye untuk merebut kembali Italia dari Ostrogoth, Silverius menentang keras bidaah Monofisitisme, memperkuat konflik antara Bizantium dan Ostrogoth.

    Situasi semakin rumit dengan pembunuhan Raja Theodahad oleh Vitiges, yang kemudian menghancurkan kota Roma.

    Dalam kekacauan tersebut, Jenderal Flavius Belisarius dari Bizantium berhasil merebut Roma pada tanggal 9 Desember 536.

    Ratu Theodora memerintahkan penahanan Paus Silverius dengan tuduhan bersekongkol dengan bangsa Goth.

    Pada Maret 537, Silverius ditangkap, diasingkan ke Patara, Lycia, dan Diakon Vigilius diangkat sebagai paus baru.

    Namun, di pengasingannya, Silverius bertemu Uskup Patara yang menyadari bahwa ia telah difitnah.

    Kasus ini dibawa kehadapan Kaisar, dan setelah penyelidikan, Silverius dinyatakan tak bersalah.

    Kaisar memutuskan untuk mengembalikan takhta kepausan kepadanya. Namun, sebelum Silverius dapat kembali ke Roma, ia diculik oleh pendukung Vigilius dan dibuang ke pulau Ponza.

    Penderitaan yang tak Manusiawi

    Di pulau terpencil ini, Santo Paus Silverius mengalami penderitaan yang tak manusiawi dan akhirnya wafat pada tanggal 20 Juni 537.

    Meskipun tradisi menyebutkan kematiannya akibat kelaparan, ada spekulasi bahwa ia dibunuh atas perintah Vigilius.

    Namun, keberadaan makamnya di pulau Ponza menjadi bukti keabadiannya.

    Setiap tahun, pada tanggal 20 Juni, warga pulau Ponza merayakan La Festa di San Silverio untuk mengenang Santo Paus Silverius sebagai pelindung mereka.

    Sebuah tradisi yang dimulai dengan misa dan diikuti oleh perarakan patung Santo Silverio di atas miniatur perahu, menjadi tanda penghormatan terhadap seorang pemimpin yang teraniaya namun tetap setia pada imannya.

    Editor: Sam – KOMSOS 
    Sumber: Berbagai Olahan

    Jejak Pontianak Raya Youth Day 2023 di Rumah Retret Constantini Ambawang, Apakah akan Menjadi Pemacu Semangat?

    OMK Santo Carolus Paroki Keluarga Kudus - Dalam Persiapan PRYD (01/12) Ambawang

    MAJALAHDUTA.COM, 1 Desember 2023 – Tepat sehari sebelum kegiatan berlangsung, para pemuda-pemudi Katolik yang tergabung dari berbagai Paroki di Keuskupan Agung Pontianak, menggelar persiapan dalam rangka Pontianak Raya Youth Day yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yaitu 2 dan 3 Desember 2023 dan berlokasi di Rumah Retret Constantini Ambawang.

    Gladi resik yang dilakukan pada H-1 jelang acara dan persiapan dilakukan di Aula Utama Rumah Retret Costantini atau yang akrab disebut RRC tersebut.

    Tim KOMSOS Keuskupan Agung Pontianak memang menjadi salah satu tim peliputan dalam acara yang diusung untuk orang muda se Kota Raya Pontianak.

    Dalam Pontianak Raya Youth Day alias (PRYD) menurut misi pertama yakni mengumpulkan semua orang muda dengan usungan tema yang dianggap kekinian.

    Di dalamnya  membangun kreativitas, pembinaan iman, mental, dan spiritual kaum muda. Acara ini juga diharapkan menjadi momen yang memperkuat semangat persaudaraan dan pelayanan, sambil mengajak peserta untuk lebih peka terhadap lingkungan hidup.

    Rangkaian kegiatan

    Pada 2 Desember 2023, Misa Pembukaan akan dilaksanakan pada pukul 09.00 WIB di Aula Utama, dilanjutkan Opening Ceremony atau upacara pembukaan yang dilaksanakan sebelum rangkaian kegiatan utama dimulai.

    Hari pertama akan dilangsungkan sesi tentang “Yesus Teman Seperjalan”, dilanjutkan dengan Games, Doa Malam, dan Pentas Seni OMK Got Talent pada malam harinya.

    Sejumlah sanggar yang telah melakukan persiapan, mereka berasal dari berbagai paroki, antara lain Katedral Pontianak, MRPD, Stella Maris, Hieronymus, Santa Sesilia, Santo Agustinus, Delta Kapuas, Keluarga Kudus, dan Bunda Maria Jeruju.

    Berdasarkan pantauan oleh tim media Majalah DUTA, mereka telah menyiapkan penampilan musik, drama, dan tarian tradisional khas Suku Dayak.

    Di hari kedua nantinya masih akan ada sesi lanjutan. Kali ini sesi tersebut bertema “OMK Teman Seperjalanan”.

    Setelah itu juga akan ada misa yang dipimpin langsung oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus.

    “Memang acara orang muda mesti menjadi pokok dan topik utama di zaman sekarang, apalagi mereka pasti memiliki kerinduan untuk bertemu. Oleh sebab itu penting sekali kegiatan ini di dukung,” kata Uskup Agustinus dalam perbincangan sore bersama tim media DUTA pada (25/11/2023) di Anjongan.

    Misa tersebut dijadwalkan pukul 13.30 WIB. Setelah misa, akan diadakan Closing Ceremony yang menutup perhelatan ini.

    Pontianak Raya Youth Day diadakan bukan tanpa maksud.

    Terselenggaranya kegiatan ini diharapkan dapat menjadi peristiwa penting yang memberikan kontribusi positif dalam hal kreativitas, iman, mental, dan spiritualitas bagi generasi muda Katolik, khususnya yang ada di Keuskupan Agung Pontianak.

    Editor: Sam – Redaksi
    Sumber: Jul, Andre- Tim KOMSOSKAP 

    Little Brother Charles of Jesus: Konversi Spiritual yang Mengubah Hidup

    Charles de Foucauld fratello universale - Sumber: claudiopace

    MAJALAHDUTA.COM, SPRITUALITAS- Venerable Charles de Foucauld, yang dikenal sebagai Little Brother Charles of Jesus Charles Eugene, (Vicomte de) Foucauld, lahir pada tahun 1858 dan meninggal pada tahun 1916 pada usia 58 tahun.

    Charles menjadi yatim piatu saat berusia enam tahun, dan ia serta saudara perempuannya dibesarkan oleh kakek mereka.

    Saat berusia lima belas tahun, tidak lama setelah menerima Komuni Pertamanya, Charles berhenti menjadi seorang Kristen dan menjadi seorang agnostik.

    Pada tahun 1878, kakeknya meninggal.

    Kasih sayang terhadap kakeknya mencegah Charles melakukan hal-hal terburuk, tetapi setelah kematian kakeknya, Charles mulai “hidup”.

    Setelah menerima warisannya, ia mulai hidup dalam kemewahan.

    Pada suatu waktu, ia tinggal di Paris, di mana ia menyewa apartemen dekat sepupunya, Marie de Bondy. Marie, yang pertama kali muncul dalam kehidupannya ketika ia berusia sebelas tahun, adalah seorang wanita muda yang sangat spiritual.

    Secara perlahan, melalui teladan Marie, pemuda yang ceria dan ceroboh ini mulai berubah. Agamanya, ketika ia kembali menemukan Allah, adalah sebuah kedisiplinan pribadi yang tinggi dan kasih kepada Pribadi Yesus Kristus.

    L’ermite et religieux français ( Sumber: Leparisein)

    Mengenai konversinya, Charles mengatakan, “Saat saya menyadari bahwa Allah ada, saya tahu bahwa saya tidak bisa hidup untuk selain Dia.”

    Untuk sementara waktu setelah kembali ke sakramen-sakramen, Charles hidup sebagai seorang biarawan Trappist.

    Meskipun ia dikenang sebagai seorang religius yang teladan, keyakinan tumbuh bahwa ini bukan panggilannya. Setelah dikeluarkan dari sumpah sementaranya, Charles pergi ke Tanah Suci di mana ia menjadi pelayan bagi para biarawati Clare Miskin.

    Ibu Elizabeth, yang merupakan Suster Superior dari para biarawati Clare ini, adalah seorang wanita yang bijaksana.

    Dia membantu Charles menyadari bahwa ia harus menjadi seorang imam agar dapat melayani Allah dengan lebih baik.

    Charles menyelesaikan studinya untuk imamat dan ditahbiskan pada tahun 1901.

    Pada tahun yang sama, ia pergi ke Aljazair untuk menjalani kehidupan sebagai pertapa di gurun.

    Little Brother Charles of Jesus, begitu ia menyebut dirinya sendiri, menciptakan dan menuliskan rencana untuk dua ordo religius. Anggota-anggota dari ordo-orang ini akan menjalani kehidupan yang didasarkan pada kehidupan Yesus di Nazaret.

    Pada saat kematian Brother Charles, kontak-kontak misiannya dan rancangan-rancangan untuk ordo religius baru belum menghasilkan hasil yang terlihat.

    Pada tahun 1916, saat tinggal di antara suku Tuareg yang ganas di Tamanrasset, Charles de Foucauld tewas dalam usaha memberi peringatan kepada dua tentara Arab tentang bahaya dari sekelompok pemberontak Senussi.

    Hidup Charles de Foucauld seperti benih dalam Alkitab yang harus mati sebelum tumbuh menjadi tanaman yang sehat. Dalam dua puluh tahun setelah kematiannya, muncul tiga kongregasi yang mengambil inspirasi, tujuan, dan Aturan mereka dari Charles de Foucauld.

    Kelompok-kelompok ini adalah Little Brothers of Jesus, Little Sisters of the Sacred Heart, dan Little Sisters of Jesus yang tinggal dalam kelompok kecil di seluruh dunia, memberitakan dengan kehidupan yang mereka jalani.

    Dua ordo lainnya, yang didirikan kemudian, mengikuti warisan Little Brother Charles of Jesus.

    Setiap kelompok ini berdasarkan apostolatnya pada gagasan-gagasan dari ordo-orang yang telah direncanakan oleh martir gurun ini, tetapi tidak sempat dia lihat.

    Pengetahuan tentang kehidupan Charles de Foucauld telah tersebar di seluruh Gereja. Setelah penyelidikan awal, semuanya hasilnya positif, dan ia dinyatakan sebagai Venerable pada tanggal 13 April 1978.

    Editor: Redaksi
    Sumber: Berbagai Olahan

    Pertemuan Tahunan Legio Maria Komisium Pontianak Santa Perawan yang Setia Keuskupan Agung Pontianak

    Pertemuan Rapat Tahunan Legio Maria – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Kubu Raya – Pertemuan rapat tahunan diadakan pada tanggal 11 dan 12 November di aula Tirtaria Pontianak. Rapat diadakan selama 2 hari yang dihadiri oleh ketua Presidium Antonius Pranata, ketua Senatus Erwin Rinaldi, PR Senatus Pastor Antonius Didit Soepartono PR, PR komisium Pastor Yosef Astono Aji OFM.Cap, dan Pastor Wiliam Chang, OFM.Cap serta dihadiri oleh dewan Kuria, Presidium, Perwira dan para peserta Legio Maria Komisium Pontianak Santa Perawan yang Setia Keuskupan Agung Pontianak. Kegiatan hari pertama dimulai dari pukul 13.00 WIB hingga pukul 21.45 WIB dan di hari kedua kegiatan dilaksanakan dari pagi pukul 07.00 WIB sampai pukul 14.30 WIB.

    Sambutan hangat diberikan oleh ketua Presidium, Antonius mengatakan bahwa reuni tahunan yang diadakan tahun ini merupakan yang terbesar karena dihadiri sekitar 400 orang peserta yang mana sebelumnya pasca covid-19 kegiatan reuni tahunan diadakan secara terbatas. Ia juga menyampaikan harapannya semoga dengan diadakan acara reuni tahunan ini menjadi titik awal sebagai legioner, titik awal sebagai komisium Pontianak untuk terus mengembangkan semangat dari Legio Maria.

    Baca Juga: Audiensi Mgr Agustinus Agus dalam Safari Kanvas dalam rangka hut 100 th Legio Maria

    Masing-masing Kuria memang masih ada yang secara garis besar perkembangannya sedikit pelan, pelan tapi pasti dan ada yang baik sehingga patut disyukuri serta ada yang sangat baik itu menjadi anugerah berkat bagi kita semua. Legioner diajak untuk bisa menggaungkan doa bukan hanya untuk para legioner saja tetapi juga untuk semua, memupuk kebersamaan dan kesetian, serta mengembangkan legio Maria di daerah masing-masing.

    Kata sambutan diberikan pada ketua senatus dari Jakarta, Erwin Rinaldi mengingatkan tugas utama para legioner yaitu sebagai bala tentara Maria yang harus memerangi kuasa jahat dan semua godaan duniawi serta tetap setia menjadi legioner dimana pun berada. Dilanjutkan oleh PR Senatus Pastor Didit sambutannya mengenai anggota legio tidak hanya diisi oleh opa oma saja tetapi juga diisi oleh orang-orang muda dengan didampingi, dicari jangan disakiti dan membawa kebersamaan semangat pelayanan kasih dimanapun kita berada.

    Kata Sambutan

    PR Komisium oleh Pastor Yosef Astono Aji OFM.Cap juga memberikan sambutan pada acara reuni tahunan tersebut menyampaikan 2 hal yang menjadi acuannya, yang pertama yaitu umat katolik diwilayah Kal-Bar umunya mempunyai semangat kerohanian yang tinggi. Mereka sangat terlibat dalam kehidupan meng-gereja, maka organisasi-organisasi Katolik yang ada di Kal-Bar termasuk kerasulan awam Legio Maria berkembang terus. Kedua, koordinasi Legio Maria di Wilayah Komisium Santa Maria Perawan yang Setia saat ini sangat baik.

    Baca Juga: Harapan Pastor, Ketua Komisium dan Anggota dalam Momen Perayaan Acies Legio Maria Komisium Santa Maria Perawan yang Setia

    Relasi antar dewan yang lebih tinggi dengan dewan yang di bawahnya menjawab dengan sangat baik. Dewan komisium aktif terlibat dengan kuria-kuria daerah, dari berbagai presidium dalam kota maupun luar kota Pontianak. Terbinanya relasi yang baik dengan alat-alat komunikasi yang ada mulai dari telepon maupun internet dan lain-lain serta kunjungan kerja langsung yang dilakukan baik pemimpin rohani maupun perwira, dewan yang lebih tinggi dan dewan yang ada di bawahnya.

    Maka dengan cara tersebut Legio Maria dengan wilayah kerja komisium menjadi begitu solid dan aktif berjalan bersama dengan sangat baik membawa misi Legio Maria. Semoga pada tahun berikutnya Legio Maria semakin maju dan berkembang baik dari jumlah maupun kualitas sebagai rasul-rasul awam yang memang dibutuhkan oleh gereja katolik untuk merasul diantara umat. Harapan PR Komisium pada pertemuan reuni tahunan ini semoga para legioner dapat memberikan semangat baru sebagai tentara Maria untuk menghadirkan kasih Yesus kepada sesama umat manusia, makin erat dan bersatu menjadi garam dan terang dunia serta saling berbagi pengalaman iman.

    Perkenalan Legio Maria

    Legio Maria merupakan organisasi kerasulan awam Katolik dengan restu Gereja serta bimbingan yang kuat Maria Tak Bernoda, Pengantar segala Rahmat atau yang disebut indah bagai bulan, terang bagai matahari dan dahsyat bagi setan dan kaki tangannya bagaikan bala tantara siap tempur, telah menggabungkan diri yaitu ke dalam suatu laskar untuk bertempur dalam peperangan abadi antara Gereja melawan dunia dan kekuatan jahatnya. Frank Duff ialah tokoh yang mendirikannya, pada tanggal 7 September 1921 di Dublin, Irlandia Utara dan telah disetujui oleh 6 Paus terakhir, mulai dari Paus XI hingga dengan saat ini dan disahkan oleh konsili Vatikan II.

    Provinsi Gerejawi Pontianak dengan komisium Santa Maria Perawan yang Setia yang memiliki 5 kuria sebagai daerah dan juga ada 1 dari ketapang dengan beberapa presidium. Lima kuria yang dimiliki yaitu kuria Sintang, kuria Sanggau, kuria Sekadau, kuria Serawai, kuria Ketapang serta presidium yang tergabung di bawah komisium Pontianak diantaranya Kota Pontianak, Kubu Raya dan Ketapang.

    Baca Juga: Seminar Mariologi: Peserta Diajak Mengerti Peranan Bunda Maria

    Total yang ada di presidium yang sudah dissensus pertahun 2023 yaitu 49 presidium dengan jumlah 830-an anggota legioner, namun ada penambahan 6 presidium dan pasti juga bertambah pula anggotanya. Total paroki ada 122 namun karya pelayanan belum sesuai dengan jumlah paroki yang ada. Terdapat 3 kabupaten yang belum memiliki legio Maria yaitu kabupaten Landak, Bengkayang dan Mempawah.

    Sesi perkenalan Legio Maria tersebut mengambil 3 tantangan ialah masih ada daerah yang belum memiliki Legio Maria, kedua masih ada pastor yang belum mengetahui Legio Maria, dan yang ketiga kurangnya keterlibatan aktif kalangan anak muda di dalam Legio Maria. Anggota legio yang hadir hanya sedikit saja yang memiliki anggota muda di dalam tiap presidium, terlihat ada 2 anak kecil yang paling muda diantara para legioner hadir pada pertemuan reuni tahunan tersebut. Sebagian besar diisi atau dihadiri oleh anggota yang sudah lanjut usia. Namun, semangat mereka membara layaknya pasukan tantara, legioner ini disebut sebagai bala tentara Maria.

    Penulis: Yantika/Tim Komsos KAP

    Bergerak Bersama Rayakan Merdeka Belajar: Zaman Sekarang Tidak Cukup Menjadi Guru Yang Biasa-Biasa Saja

    Unit SD Plus Gembala Baik Bersama Pastor Yanto – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Pontianak – Memeriahkan Hari Guru Nasional Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak mengadakan seminar dan perayaan bersama seluruh unit yang bernaung di Yayasan Pendidikan Gembala Baik. Mulai dari unit Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas.

    Seminar diisi oleh seorang Psikolog, Maria Nolaola, S.Psi.,M.Psi.,Psikologi dengan tema “Problematika Siswa dan Penanganan Stress Guru”. Maria menjelaskan dan memaparkan materi di depan seluruh tenaga pendidik dan kependidikan Yayasan Pendidikan Gembala Baik yang bertempat di Aula Gedung SMP Reguler.

    Baca Juga: Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak: Selamat Berpesta Para Fransiskan dan Fransiskanes

    Pastor Nobertus Desiderius, OFM Cap selaku sekretaris Yayasan mewakili pihak Yayasan membuka seminar sekaligus menyampaikan kata sambutan. Dalam sambutannya pastor Desi menyampaikan motivasi dan apresiasi kepada tenaga pendidik dan kependidikan Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak.

    “Saya berterima kasih atas dedikasi dan pelayanan kita semua untuk Yayasan Pendidikan Gembala Baik yang kita cintai. Bapak/ibu tenaga pendidik dan kependidikan, kita adalah bagian penting untuk mewujudkan tujuan mulia bangsa kita, mencerdaskan bangsa. Karena peran guru adalah pengharapan paling penting untuk mencerdaskan anak bangsa. Maka, sangat penting bagi kita untuk merefleksikan dan terus menggali kompetensi yang ada di dalam diri kita” ujar pastor Desi.

    Hari Guru Nasional

    Materi diawali dengan sharing bapak/ibu guru dari masing-masing unit, tentang permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh guru dalam mendidik siswa/i dari setiap jenjang. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dan terakhir ditutup dengan sesi tanya jawab.

    Acara dilanjutkan dengan misa syukur memperingati Hari Guru Nasional ke-78. Misa dipimpin oleh Pastor Fransiskus Yosnianto, OFM Cap. Diiringi tarian pembukaan dan tarian persembahan dari siswa.

    Dalam homilinya pastor Yanto selaku pastor paroki St. Sesilia dan dewan Pembina Yayasan Pendidikan Gembala Baik menyampaikan mengenai tugas dan peran guru dalam dunia Pendidikan saat ini.

    Baca Juga: Perayaan HUT PGRI Ke-77 Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak: Tulang Punggung Untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Adalah Guru

    “Di zaman sekarang ini tidak cukup hanya menjadi guru yang biasa-biasa saja dan asal ada melainkan harus memiliki kompetensi dan dedikasi. Menjalani profesi sebagai seorang pendidik masa kini senantiasa diharapkan mampu mengikuti perkembangan zaman. Bapak/ibu guru harus mampu mengupgrade diri supaya dapat memberikan pendidikan yang inovatif dan kreatif kepada anak didik kita” papar pastor Yanto.

    Setelah misa kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dan pemotongan kue Ulang Tahun PGRI. Kata sambutan diawali oleh ketua panitia, Perwakilan Guru, dan Pastor Yanto yang mempersembahkan misa.

    Acara diakhiri dengan pembagian bingkisan untuk semua tenaga pendidik dan kependidikan, foto bersama per unit dengan pastor Yanto, makan siang dan sayonara.

    Penulis: Winda/Tim Komsos KAP

    Dayak Ganteng kata Pangalima Jilah dalam Vlognya dengan Uskup Agustinus

    Foto: Vlog Pangalangok Jilah bersama Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus (24/11/2023) di Rumah Betang Anjongan/ Sumber: TikTok Pangalangok Jilah

    MAJALAHDUTA.COM, MEMPAWAH– MAMASII merupakan upacara adat Suku Dayak Taman, yang dilakukan sebagai penghormatan dan penghargaan kepada Tokoh yang diberjasa dan dihormati serta sukses dalam hidupnya.

    Kebetulan kegiatan Mamasii ini dilaksanakan setelah pembangunan Rumah Betang di Kompleks Rumah Retret Santo Johanes Paulus II Anjongan yang merupakan niat Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus sedari awal menginginkan agar Rumah Betang dibuat dengan acara adat Suku Dayak Taman.

    Lebih spesial lagi, meskipun Uskup Agustinus berlatar belakang Dayak Pompangk, namun dia sangat berjasa dengan Suku Dayak Taman.

    Sesepuh Dayak Taman, Kaphat mengatakan dalam sambutannya bahwa Uskup Agustinus juga ada membangun dan memiliki Bilik di rumah Betang (Soo Langke) Baligundi di Sibau Hulu makanya Uskup tidak segan mengaku sebagai tokoh Dayak Taman atau suku Taman.

    Menurut Kaphat, Uskup Agustinus Agus sangat besar kepeduliannya terhadap kehidupan budayak Dayak Taman Kapus Hulu, baik sebagai tokoh katolik dan juga sebagai salah satu tokoh Dayak Taman yang peduli terhadap kelestarian adat dan budaya Taman yang ada.

    “Perlu saya sampaikan bahwa Uskup Agustinus ini sewaktu menjadi Uskup di Sintang oleh almarhum ayahanda Daili bin Dadap telah diangkat anak secara resmi atau diakui sebagai anak. Ayahanda Daili bin Dadap ini berasal dari desa Ariung Mendalam atau Semangkok Kecamatan Putussibau Utara,” katanya, (24/11).

    Kaphat juga menambahkan bahwa Uskup Agustinus juga sudah 2 atau 3 kali melaksanakan Gawai Mandung membunuh kerbau atau sapi sesuai dengan adat Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu.

    Selain sosok Uskup Agung Pontianak, dia memiliki perhatian khusus untuk kebudayaan baik Tionghua, Dayak dan Melayu, hal itu tampak dalam pembangunan Rumah Retret Anjongan dengan corak sejarah dan kebhinekaan.

    Dimana-mana, Uskup Agustinus selalu mengatakan tanpa nenek moyang, kita tidak mungkin bisa ada sampai saat ini. Untuk itu hargailah orang tua.

    “Hargailah orang tua kita, jangan sampai kita kualat,” tutur Uskup Agustinus dalam perbincangan sore dengan wartawan Keuskupan (25/11).

    Foto: (Kiri: Pangalima Jilah Ketua Pasukan Merah Bangkule Rajangk) – (Kanan: Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus) – Sumber: Dokumentasi KOMSOS Keuskupan Agung Pontianak

    Mamasii dan Perayaan Ulang Tahun umur ke 74 Uskup Agustinus

    Kegiatan terlaksana pada 24 November 2023 pukul 14.30 WIB yang dimulai dengan perarakan dari Gereja Katolik di Stasi St. Yosep Anjungan kemudian diarak dengan Paruu Tambe atau Sampan Hias adalah sampan Besar yang di Hias dengan Kain Panggar atau kain yang diukir motif Suku Dayak Taman, Daun Kelapa Muda, Ginggilang, Gilingirik Dung Riribu, Papanji dan Bendera adat.

    Meskipun di hulu umumnya menggunakan perahu, untuk di Mempawah senidiri menggunakan mobil yang dihiasi seperti perahu. Perarakan dimulai dengan melewati pasar Anjongan hingga ke Gua Maria Ratu Pencinta Damai dan sampai pada muara Rumah Betang di Rumah Retret Santo Johanes Paulus II Anjongan.

    Sepanjang perjalanan dibunyikan Tabuhan untuk mengiring jalannya Paruu Tambe mulai dari berangkat hingga sampai tujuan.

    Sesampainya di lokasi semua orang yang akan di Mamasii, menurut tata cara Adat Taman Prosesi Mumpang yaitu melintangkan kayu yang masih baru dengan ukuran yang disesuaikan dan di letakkan pada tempat yang sudah tersedia dan posisi yang pantas menurut Adat Taman dengan beberapa orang yang memegang kayu Umpang.

    Umpang tersebut di Potong oleh Tamu disertai suhuhan minuman Air Maram atau minuman sejenisnya yang sudah diakui dalam prosesi Mumpang Adat Taman.

    Dalam undangan tertera mereka yang memotong Umpang diantaranya ada Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, sesepuh Masyarakat Dayak Taman dan Tokoh Adat Dayak Kalimantan Barat Drs. S. Massarady Kaphat.

    Ada Rektor Seminari Tinggi Keuskupan Agung Pontianak, Pastor Edmund Nantes OP, ketua real estate Indonesia, Totok Lucida selaku Donatur, Bupati Kabupaten Bengkayang Sebastianus Darwis, Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat dari Fraksi PDIP Perjuangan Paulus Mursalim, ada juga Ketua DPRD Kalbar Periode 2019-2024, M Kebing, hadir juga dari Kongregasi Passionis Pastor Sabinus Lohin CP, dari Ordo Kapusin ada Pastor Fredrick Samri OFMCap, Pastor Paroki Katedral Pontianak Pastor Alexius Alex, bagian  keuangan Keuskupan Agung Pontianak Pastor Andreas Kurniawan OP, ada juga Andre dan Asong selaku Donatur.

    Vlog Pangalima Jilah TBBR dan Uskup Agustinus

    Uskup Agustinus sempat diberikan ucapan ulang tahun oleh Pangalima Jilah lewat pesan WA secara personal. Dalam pesan tersebut Pangalima Jilah mengucapkan selamat ulang tahun untuk Uskup. Kemudian Uskup Agustinus menjawab dan menanyakan posisi Pangalangok Jilah dimana.

    Uskup Agustinus dalam pesannya jika Pak Jilah bisa hadir, tentu dia sangat senang. Begitulah kira-kira warna bahasa Uskup Agustinus.

    Memang sore hari persisnya saat Uskup Agustinus usai memotong Umpang, Pangalima Jilah secara personal hadir untuk mendampingi Uskap Agustinus mengadakan Mamasii, (24/11).

    Dalam vlog pribadi Pangalima Jilah (Akun Tiktok Pangalangok Jilah), dia sempat meminta saran Uskup Agustinus dan harapannya tentang kebudayaan yang bertepat dengan ulang tahun.

    “Saya senang bahwa dalam rangka ulang tahun saya, diadakan upacara Mamasi salah satu budaya pada Suku Dayak Taman. Saya sengaja mengadakan adat ini, terutama supaya kaum-kaum kita tahu acara nenek moyang dan menghargai nenek moyangnya,” kata Uskup Agustinus.

    Uskup Agustinus melanjutkan pesannya dengan menitikberatkan bahwa siapapun kita, tetaplah kita ada karena orang tua.

    “Kita itu lahir dari orang tua, dan kakek-nenek, maka melalui budaya ini saya pribadi selaku uskup, sangat menghormati Adat Budaya, yang sungguh-sungguh juga mendukung keagamaan. Banyak adat-adat yang lebih baik, lebih luhur tentu setiap budaya punya ciri khasnya,” tambah Uskup Agustinus.

    Uskup Agustinus juga berterima kasih kepada Pangalima Jilah karena turut hadir dalam ulang tahunnya yang ke 74 bertepat dengan acara adat Mamasii. Dia juga mengajak kaum muda untuk melestarikan adat dan budaya untuk mendukung perdamaian.

    “Terima kasih, kita ini sama-sama nama Agustinus. Saya (Uskup) Agustinus Agus, dia Agustinus Jilah haha,” tutup Uskup Agustinus dalam vlog Pangalagok Jilah.

    Sambutan hangat juga dilontarkan Pangalima Jilah kepada Uskup Agustinus dengan mengungkapkan kalimat ‘luar biasa’.

    “Luar biasa Uskup. Dayak Ganteng Uskup,” kata Pangalima Jilah.

    Mamasii yang diadakan di Anjongan ini merupakan, kegiatan penghargaan kepada orang-orang pilihan yang pantas diberikan penghormatan secara adat diantaranya ada kepala atau panglima perang, para Hulu Balang, para Pejuang yang gagah berani.

    Pejabat tinggi Negara atau Pemerintahan yang banyak berjasa kepada Nusa dan bangsa tanpa cacat cela.

    Tokoh-tokoh masyarakat yang termasyhur serta banyak yang berjuang membela kepentingan rakyat dan tokoh pilihan karena jasa mereka.

    Kegiatan ditutup dengan tarian masal dan dilanjutkan dengan makan malam bersama.

    Oleh: Samuel – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak
    Sumber: Liputan Mamasii dan Perayaan Ulang Tahun umur 74 Tahun Uskup Agustinus di Anjongan Kalimantan Barat 

    Teladan Kepemimpinan Cerdas Rohani dan Kemurahan Hati dari Santo Filemon

    Actualidade Religiosa: Filémon e o Novo Homem em Cristo (Sumber: actualidadereligiosa)

    MAJALAHDUTA.COM, SPRITUALITAS– Santo Filemon merupakan seorang santo Kristen yang dikenal karena kisahnya yang terkait dengan surat Paulus kepada Filemon dalam Perjanjian Baru di Alkitab.

    Peringatan Santo Filemon jatuh pada tanggal 22 November. Berikut adalah ringkasan kisahnya:

    Latar Belakang: Filemon adalah seorang Kristen yang tinggal di Kolose, sebuah kota di wilayah yang sekarang bagian dari Turki modern. Dia dikenal sebagai seorang tuan tanah yang baik dan seorang pemimpin dalam jemaat Kristen di Kolose.

    Onesimus, Budak yang Kabur: Salah satu aspek terpenting dalam kisah Santo Filemon adalah tentang seorang budak bernama Onesimus yang melarikan diri dari Filemon dan menjadi budak yang kabur. Onesimus kemudian bertemu dengan Santo Paulus, yang saat itu sedang dalam tahanan di Roma.

    Pertobatan Onesimus: Selama waktu bersama Santo Paulus, Onesimus mendengarkan ajaran Kristen dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

    Dia kemudian menjadi seorang Kristen yang beriman.

    Surat Paulus kepada Filemon: Santo Paulus menulis surat kepada Filemon untuk memohon agar menerima kembali Onesimus sebagai seorang saudara Kristen, bukan sebagai seorang budak.

    Surat ini, yang terdapat dalam Perjanjian Baru dengan nama “Surat kepada Filemon,” adalah salah satu surat pribadi Santo Paulus.

    Perdamaian dan Kesatuan: Surat kepada Filemon menggambarkan tekad Santo Paulus untuk memediasi perdamaian antara Filemon dan Onesimus, dan untuk menegaskan pentingnya persaudaraan Kristen yang melampaui status sosial.

    Dia bahkan menawarkan untuk mengganti segala kerugian yang mungkin ditimbulkan oleh perbuatan Onesimus.

    Penerimaan dan Kesatuan Kembali: Tidak banyak yang diketahui secara pasti tentang nasib akhir Santo Filemon, tetapi dalam tradisi Kristen, diterima bahwa Filemon menerima kembali Onesimus sebagai saudara Kristen, bukan sebagai budak, dan keduanya hidup dalam kesatuan sebagai anggota jemaat di Kolose.

    Kisah Santo Filemon menekankan nilai-nilai persaudaraan Kristen, perdamaian, dan penerimaan kembali, serta kesediaan untuk mengubah hubungan sosial yang ada dalam konteks iman Kristiani.

    Meskipun kisah ini singkat, pesannya tentang kasih dan pemulihan hubungan tetap relevan dalam kehidupan Kristen.

    Keteladanan Santo Filemon dapat diambil dari kisah yang terkait dengan hubungannya dengan Onesimus, seorang budak yang kabur, dan surat yang ditulis oleh Santo Paulus kepada Filemon. Beberapa nilai dan pelajaran yang dapat diambil dari keteladanan Santo Filemon adalah:

    Kemurahan Hati: Santo Filemon menunjukkan kemurahan hati ketika dia menerima kembali Onesimus, budak yang melarikan diri. Dia tidak membalas dengan kebencian atau dendam, tetapi dengan kasih dan belas kasihan.

    Ini mengajarkan kita tentang pentingnya memberikan kesempatan kedua dan berpikiran terbuka kepada mereka yang telah melakukan kesalahan.

    Persaudaraan Kristen: Melalui tindakannya menerima kembali Onesimus sebagai saudara Kristen, bukan sebagai budak, Santo Filemon menggarisbawahi pentingnya persaudaraan Kristen yang melampaui status sosial atau budak-tuan tanah.

    Ini mengajarkan kita tentang persatuan dan kesetaraan dalam Kristus.

    Kehidupan Berdasarkan Kasih: Keteladanan Santo Filemon mengilustrasikan prinsip Kristiani bahwa kita seharusnya hidup berdasarkan kasih.

    Kasih itu tidak hanya dalam kata-kata, tetapi juga dalam tindakan nyata, seperti yang ditunjukkan oleh Santo Filemon dalam menerima kembali Onesimus dengan tangan terbuka.

    Kepemimpinan dalam Iman: Sebagai seorang pemimpin dalam jemaat Kristen di Kolose, Santo Filemon memberikan contoh kepemimpinan yang baik dalam iman.

    Dia mempraktikkan iman Kristen dalam kehidupan sehari-hari dan memimpin dengan kasih sayang dan teladan.

    Kepatuhan Terhadap Ajaran Kristus: Melalui tindakannya, Santo Filemon mematuhi ajaran Kristus tentang pengampunan, kasih sayang, dan persaudaraan. Dia menjalani ajaran-ajaran tersebut dalam situasi nyata dalam hidupnya.

    Keteladanan Santo Filemon mengajarkan kita tentang pentingnya kemurahan hati, persaudaraan Kristen, dan kasih dalam hidup kita sebagai orang-orang Kristen.

    Kisahnya mengingatkan kita untuk mengamalkan nilai-nilai Kristiani dalam semua aspek kehidupan kita dan menjadi teladan dalam hubungan kita dengan sesama.

    Surat kepada Filemon, beberapa pesan yang bisa dianggap sebagai “kata-kata mutiara” yang menginspirasi adalah:

    1. “Kasih dan belas kasihan itu adalah kunci untuk menyambut kembali yang pernah pergi.”
    2. “Persaudaraan sejati adalah ketika kita melihat satu sama lain sebagai saudara dalam Kristus, bukan sebagai budak atau tuan tanah.”
    3. “Kemurahan hati adalah kekuatan yang melampaui dendam.”
    4. “Dalam Kristus, kita semua adalah sama di mata Tuhan.”
    5. “Ketika kita hidup berdasarkan kasih, kita mencerminkan karakter Kristus dalam dunia ini.”

    Sementara Santo Filemon mungkin tidak memiliki banyak kata-kata terkenal, kisah hidup dan tindakannya yang melayani sebagai teladan cinta, pengampunan, dan persaudaraan dalam iman Kristen dapat menjadi sumber inspirasi yang kuat bagi umat Kristen.

    Editor: Samuel – KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Berbagai Olahan

    TERBARU

    TERPOPULER