Saturday, February 14, 2026
More

    Paus yang Teraniaya, Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik Tuduhan Terhadap Santo Paus Silverius?

    Setiap tahun, pada hari pesta santo Silverius, warga pulau Ponza menggelar tradisi yang mereka sebut : La Festa di San Silverio.

    MAJALAHDUTA.COM, 2 Desember 2023 – Cerita dramatis kehidupan Santo Paus Silverius, paus ke-58, menggugah perhatian dunia dengan intrik politik, perang kekuasaan, dan pengorbanan yang mengesankan.

    Terpilih pada masa yang kacau-balau, Silverius I menghadapi ujian besar dalam kepemimpinannya yang diwarnai oleh perseteruan politik, konflik agama, hingga penghianatan.

    Santo Paus Silverius lahir sekitar tahun 480 di Frosinone, Campania Italia, sebagai putra Paus Hormisdas.

    Sejak usia belia, ia telah memberikan pengabdian penuh bagi Gereja.

    Awalnya hanya seorang Subdiakon biasa, takdirnya berubah ketika paus sebelumnya, Agapitus I, wafat pada tanggal 22 April 536.

    Sede vacante (takhta kepausan yang kosong) memunculkan intrik politik antara Kerajaan Bizantium dan Kerajaan Ostrogoth, dengan Ratu Theodora dari Konstantinopel berusaha mengorbitkan Diakon Agung Vigilius sebagai paus.

    Namun, Raja bangsa Ostrogoth saat itu, Theodahad, menentang keras Vigilius dan berhasil memastikan terpilihnya Silverius sebagai paus baru.

    Tuduhan

    Terpilihnya seorang Subdiakon menjadi Paus menjadi kontroversial, dan ia dituduh menyuap Raja Theodahad.

    Namun, tuduhan ini terbukti palsu setelah kesaksian dari beberapa klerus saleh.

    Paus Silverius memimpin Gereja Katolik pada masa yang penuh tantangan.

    Ketika Kaisar Justinianus Agung memulai kampanye untuk merebut kembali Italia dari Ostrogoth, Silverius menentang keras bidaah Monofisitisme, memperkuat konflik antara Bizantium dan Ostrogoth.

    Situasi semakin rumit dengan pembunuhan Raja Theodahad oleh Vitiges, yang kemudian menghancurkan kota Roma.

    Dalam kekacauan tersebut, Jenderal Flavius Belisarius dari Bizantium berhasil merebut Roma pada tanggal 9 Desember 536.

    Ratu Theodora memerintahkan penahanan Paus Silverius dengan tuduhan bersekongkol dengan bangsa Goth.

    Pada Maret 537, Silverius ditangkap, diasingkan ke Patara, Lycia, dan Diakon Vigilius diangkat sebagai paus baru.

    Namun, di pengasingannya, Silverius bertemu Uskup Patara yang menyadari bahwa ia telah difitnah.

    Kasus ini dibawa kehadapan Kaisar, dan setelah penyelidikan, Silverius dinyatakan tak bersalah.

    Kaisar memutuskan untuk mengembalikan takhta kepausan kepadanya. Namun, sebelum Silverius dapat kembali ke Roma, ia diculik oleh pendukung Vigilius dan dibuang ke pulau Ponza.

    Penderitaan yang tak Manusiawi

    Di pulau terpencil ini, Santo Paus Silverius mengalami penderitaan yang tak manusiawi dan akhirnya wafat pada tanggal 20 Juni 537.

    Meskipun tradisi menyebutkan kematiannya akibat kelaparan, ada spekulasi bahwa ia dibunuh atas perintah Vigilius.

    Namun, keberadaan makamnya di pulau Ponza menjadi bukti keabadiannya.

    Setiap tahun, pada tanggal 20 Juni, warga pulau Ponza merayakan La Festa di San Silverio untuk mengenang Santo Paus Silverius sebagai pelindung mereka.

    Sebuah tradisi yang dimulai dengan misa dan diikuti oleh perarakan patung Santo Silverio di atas miniatur perahu, menjadi tanda penghormatan terhadap seorang pemimpin yang teraniaya namun tetap setia pada imannya.

    Editor: Sam – KOMSOS 
    Sumber: Berbagai Olahan

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles