Friday, May 1, 2026
More
    Home Blog Page 70

    Gereja Sebagai Kunci Pertama untuk Memperkuat Spiritualitas Masyarakat, Momen Persemian Gereja Trans SP I

    Foto: Trans SP I - Sumber Cinda KOMSOS Singkawang (10/12)

    MAJALAHDUTA.COM, BENGKAYANG– Bertempat di Gereja Katolik Santa Maria Trans SP I Capkala Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang pada 10 Desember 2023. Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus memberkati Gereja dan diresmikan langsung oleh Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis.

    Ini merupakan rangkaian kegiatan Uskup Agustinus dalam mengunjungi wilayah Capkala sejak 09-10 Desember 2023.

    Hari sebelumnya, Uskup memberkati Gereja Santo Marius Trans SP II dan malamnya meresmikan rumah singgah di Capkala, kemudian hari kedua Uskup Agustinus memberkati gereja Stasi Santa Maria di Trans SP I.

    Gereja mungil nan indah

    Gereja yang diberkati dan diresmikan ini tidaklah terlalu besar, gereja ini dirancang untuk sekitar 50an kepala keluarga. Tampilannya sederhana, sesuai dengan layaknya sebuah kapel ditengah desa. Warna yang enak dipandang selaras dengan bentuk bangunan. Interior dalam gereja dibuat sedemikian rupa sehingga keselarasan liturgis dan ruang menjadi warna tersendiri.

    Itulah yang Uskup Agustinus tekankan dalam penyambutannya. Dia sengaja menyinggung kaum-kaum pejabat yang kikir untuk rumah ibadah. Uskup Agustinus dengan tegas mengatakan, untuk masyarakat kampung justru mesti memberikan yang terbaik, bukan memberikan sisa.

    “Saya bangga dengan usaha umat yang luar biasa dengan jerih payahnya, mencari dana untuk pembangunan Gereja stasi ini. Memang untuk orang kampung harus berikan yang terbaik. Karena saya berasal dari kampung, maka saya tahu bahwa memberi untuk orang kecil harus lah terbaik,” tegas Uskup Agustinus (10/12).

    Menurutnya, banyak pemangku kepentingan mengalirkan dana hibah untuk gereja-gereja dengan setengah hati, sambil menyinggung pelangalamannya kepada orang yang katanya menyumbang untuk di salah satu stasi di Keuskupan Agung Pontianak.

    Foto: Uskup Agustinus tengah memberkati orang tua, sambil membagikan sedikit angpao kepada umat (10/12)

    Uskup Agustinus juga berterima kasih atas perhatian Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis yang selama peresmian daerah Bengkayang, tidak pernah absen satu kalipun.

    “Banyak-banyak pejabat, saya merasa nyaman dengan Pak Darwis ini,” kata Uskup Agustinus sambil senyum sembari memandang Bupati Darwis.

    Swadaya dan ketekunan umat

    Pastor Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang, Pastor Joseph Juwono OFMCap dengan bangga menyampaikan dalam sambutannya, tentang kegigihan dan ketekunan umat di ini untuk membangun gereja. Dia menceritakan bahwa di stasi inilah satu-satunya pemimpin umatnya adalah wanita.

    Pastor Joseph OFMCap juga menyinggung gambaran perkembangan stasi ini dimana cikal bakal gereja ini semula hanya terdiri dari beberapa kelompok keluarga kecil saja. Dia pun mengatakan khusus stasi ini, yang terlibat aktif dan konsisten untuk ke gereja hanya kaum ibu-ibu.

    “Jujur saya katakan Bapa Uskup, stasi ini adalah stasinya ibu-ibu. Karena merekalah yang lebih berperan aktif daripada bapak katoliknya. Oleh karena itu, stasi ini dinamakan stasi Santa Maria. Karena peran ibu-ibu lah sebagaimana teladan Santa Maria yang setia kepada jalan Tuhan hendaknya menjadi teladan juga untuk umat disini,” kata Pastor Joseph OFMCap.

    Dia juga tidak lupa untuk berterima kasih kepada para donatur dan semua pihak yang telah berpartisipasi dalam pembangunan Gereja ini.

    Sejalan dengan itu, Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya adanya rumah ibadah ini sebagai kunci pertama untuk membangun mental dan spritualitas agar masyarakat kuat dan tekun.

    Foto: Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis dan Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus membuka plang nama Stasi Santa Maria Trans SP 1 (10/12)

    Dekat dengan Jubata

    Hanya dengan dekat ‘Jubata’ (bahasa Dayak Kanayatn, artinya Tuhan) kualitas hidup kita akan menjadi lebih baik.  Dia juga berpesan kepada para bapak katolik untuk mulai aktif kembali dan mendampingi ibu katolik untuk kemajuan iman dan penguatan mental secara berkelanjutan.

    “Jangan sampai hanya ibu-ibu saja yang aktif, tetapi bapak katolik harus mendampingi dan turut terlibat untuk aktif melayani. Siapa lagi kalau bukan kita,” kata Darwis (10/12).

    Upacara pemberkatan dan peresmian gereka katolik Santa Maria Trans SP I ini dilanjutkan dengan penandatangan prasasti dan pembukaan plang nama sebagai tanda resmi digunakan dan dioperasikan untuk perkembangan iman.

    Kemudian acara puncak ditutup dengan ekaristi kudus bersama umat yang dipimpin oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, kemudian didampingi oleh Pastor Paroki Singkawang, Pastor Joseph Jowono OFMCap, Pastor Rekan ada Pastor Sambri OFMCap dan Pastor Daniel Zebua OFMCap.

    Seperti biasa, dimana Uskup Agustinus mengunjungi umatnya disana dia memberkati anak sekaligus membagikan angkao bagi anak-anak, tidak hanya itu, bahkan orang tua juga dibagikan kepada mereka sembari menerima berkat langsung oleh Uskup Agustinus.

    Penghujung acara, semua umat diajak untuk makan siang bersama dan karoke sambil menikmati minggu adven ke dua dengan udara dingin sepoi-sepoi di tengah desa waktu siang hari.

    By. Samuel- KOMSOSKAP
    Sumber: Liputan 

    Adanya Partisipasi Umat Capkala Pembangunan Rumah Singgah, Uskup Agustinus Beri Berkat dan Apresiasi

    Foto: Suasana pemberkatan Rumah Singgah di Gereja Stasi Gregorius Agung Capkala (KOMSOSKAP)

    MAJALAHDUTA.COM, Bengkayang – Masih dalam rangkaian yang sama, setalah pemberkatan Gereja Santo Marius di Trans SP II, kepulangan rombongan Uskup Agustinus menuju Capkala kurang lebih 1 jam, dengan perjalanan sebagian berbatu dan berlubang lumpur.

    Untung saja perjalanan kami tidak terjebak hujan. Namun tidak perlu khawatir, memang setiap pemberkatan Gereja bahkan kunjungan Uskup Agustinus biasanya hujan seolah tertahan diatas hingga berakhirnya acara.

    Lanjut lagi, karena kerinduan umat begitu besar kepada kehadiran Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus, maka sore hari tepat pukul 18.00 WIB pada Sabtu 09 Desember 2023 dilangsungkan perayaan ekaristi bersama umat Gereja Katolik Santo Gregorius Agung Capkala.

    Dulu gereja itu diberkati juga oleh Uskup Agustinus tepat pada 2 Juni 2018 dan diresmikan oleh Plt Bupati Bengkayang yang waktu itu oleh Agustinus Naon. Ternyata kenangan memori itu tersimpan hingga hari ini. Banyak umat yang merindukan lantunan pantun Uskup Agustinus, rindu juga dengan suara nyanyiannya.

    Foto: Kenangan Prasasti Pemberkatan Gereja Capkala (KOMSOSKAP)

    Oleh karenanya, Uskup Agustinus memberikan waktu dan hatinya hatinya untuk umat di Stasi Santo Gregorius Agung Capkala.

    Bagaikan sebuah peribahasa, sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Mengapa tidak? Usai pemberkatan Gereja di siang hari, kini usai perayaan ekaristi kudus bersama Bapa Uskup melanjutkan pemberkatan untuk Rumah Singgah persis di bawah Gereja Stasi Santo Gregorius Agung Capkala.

    Dalam sambutannya Uskup Agustinus mengapresiasi kinerja umat dalam usahanya membangun rumah singgah untuk para imam Paroki yang berkunjung di wilayah Capkala. Menurutnya, justru harus demikian karena ini juga merupakan tanggungjawab umat.

    “Bahkan pendidikan imam, makan imam dan fasilitas seharusnya umat terlibat untuk memikirkannya,” kata Uskup Agustinus (09/12).

    Sebagaimana yang diharapkan oleh sebagian besar umat, adanya rumah singgah ini nantinya diharapkan bisa memberikan ruang untuk imam beristirahat usai melayani di wilayah Capkala.

    Pesan Penting untuk Umat Capkala – ‘Gereja Jangan Sampai Kosong

    Tidak sedikit juga umat yang berharap dengan adanya rumah singgah di Capkala, para imam yang berkunjung dari paroki ke kampung bisa melayani lebih banyak tempat agar pendidikan tentang kegerejaan dapat terwartakan dengan merata.

    Dalam kesempatan yang sama itu juga, Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis menggarisbawahi tentang perhatian umat untuk para imam dan gereja.

    Seperti yang dia sampaikan di pada peresmian Gereja stasi Santo Marius di Trans SP II, juga dia sampaikan kepada umat stasi Gregorius Agung Capkala tentang keterlibatan umat untuk aktif dan turut membangun desa yang dimulai dari perangkat rohani.

    Foto: Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis tengah memberi kata sambutan menjelang berkat penutup (09/12)

    “Ame sampe tampat nang aya’ nian tiap minggunya nak barisi boh,” kata Darwis dalam bahasa Dayak Kanayatn berarti Gereja jangan sampai kosong.

    Makna lanjutan yang dia maksudkan tentu partisipasi kehadiran umat menjadi fondasi pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan.

    Rumah Singgah Capkala

    Pastor Paroki Santo Fransiskus Asisi Singkawang, Pastor Joseph Juwono OFMCap dengan tampak haru, dia mengucapkan terima kasih banyak kepada umat di Capkala yang dengan penuh perhatian memikirkan kebutuhan imam-imam paroki.

    Dia juga berharap semoga dengan adanya rumah singgah itu, pelayanan mereka semakin menyebar luas ke pelosok desa daerah Capkala.

    Jika dilihat, rumah singgah di sana tidaklah megah dan besar, namun secara desan dan tata ruang sudah cukup elegant. Ada dua kamar, satu kamar ber-AC, kemudian satu kamarnya dengan dua tempat tidur. Ruang tengah juga luas, ditambah adanya asesoris untuk dapur, lengkap wastafel, kompor dan satu toilet lengkap untuk mandi.

    Foto: Foto bersama usai berkat penutup, ada Uskup Agung Pontianak, Pastor Paroki Singkawang, Rekan Pastor Paroki Singkawang, Bupati Bengkayang, Sekda Bengkayang (09/12)

    By. Samuel – KOMSOSKAP
    Sumber: Liputan

     

    Kemanusiaan Melampaui Perbedaan Agama, Uskup Agustinus Resmikan Gereja yang Merangkai Kekuatan Bersama

    Foto: Uskup Agustinus memerciki Gedung Gereja Stasi Santo Marius didampingi oleh Pastor Rekan Paroki Singkawang, Pastor Sambri OFMCap (09/12/2023)

    MAJALAHDUTA.COM, Bengkayang– Jejak titian jalan dengan bumbu rontok gerigi jalan, membuat perjalanan menuju lokasi Trans SP. II di dareah Kabupaten Bengkayang lumayan terasa panjang. Ada mobil yang terjebak dibawah lubang kubahan air, ada juga motor yang terperangkap oleh bubur  jalan.

    Daerah ini memang sejatinya berada diwilayah Kabupaten Bengkayang oleh sebab itu, tak heran Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis menaruh perhatian khusus kepada setiap daerah-daerah terpencil diwilayahnya. Dengan momen dan kesempatan itu tak heran jika Darwis turut hadir dalam kegiatan Uskup Agustinus untuk memberkati Gereja Katolik Santo Marius Trans SP. II yang berada di Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang pada 09 Desember 2023.

    Dalam sambutan Pastor Paroki Pastor Joseph Juwono, OFMCap  mengucapkan banyak terima kasih kepada para donatur dan semua pihak yang telah berpartisipasi dalam pembangunan gereja ini.

    “Selama kunjungan saya di stasi ini, saya merasakan sebuah kerinduan yang besar dari umat untuk memiliki gereja. Sebagai penduduk trans dari berbagai tempat, kerinduan dan kehausan itu kini mereka buktikan dengan gotong royong membangun gereja stasi ini,” kata Pastor Joseph Juwono OFMCap.

    Foto: Bupati Bengkayang , Sebastianus Darwis tengah memberikan kata sambutan (09/12)

    Pemberkatan dan peresmian

    Pemberkatan dilakukan langsung oleh Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus dan diresmikan oleh Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis

    Pada pukul 10.00 wib dengan alunan musik tradisional khas Dayak Kanayatn maka  seperti acara sakral yang lainnya, ada dilakukan penyambutan tarian pembukaan oleh Orang Muda Katolik (OMK) yang datang dari stasi Capkala untuk turut berpartisipasi.

    Uskup Agustinus didampingi oleh Bupati Bengkayang beserta istri, dan seluruh umat mulai memasuki  Stasi Santo Marius usai pemotongan bambu oleh Uskup Agung Pontianak.

    Dalam pengakuannya, Uskup Agustinus dengan terang-terangan mengatakan Gereja itu tidak terlalu besar, namun ada serasi antara warna dan bentuk gereja yang dibuat oleh tangan-tangan kasih yang terlibat didalamnya.

    Dengan cat kuning dan list coklat, lonceng gereja tampak berada pada sisi kanan jika dilihat dari depan ditambah sayap kanopi terbentang dari dua sisi mendambah anggunnya gereja mungil itu.

    “Saya setuju, memang kita harus memiliki keterlibatan secara bersama-sama untuk membangun gereja ini. Kerja sama yang kompak membuat tampilan gereja stasi ini anggun,” tutur Uskup Agustinus (09/12).

    Dia juga menambahkan untuk memupuk iman Katolik memang harus ditunjukkan pula dengan perbuatan nyata dari hasil keteguhan iman yang dilakukan oleh umat stasi.

    Misalnya dengan bekerja dan gotong royong untuk membangun gereja. Hal itu justru gambaran cinta dan kesetiaan umat kepada Allah.

    “Dulu kalau saya masih kecil, gereja selalu disebut dengan tempat untuk sembayang. Kalau dilihat dari makna bahasanya dapat berarti tempat manusia untuk menyembah “Yang” besar, agung dan mulia,” kata Uskup Agustinus dalam homilinya (09/12).

    Dia juga mengukuhkan umat untuk tetap mengandalkan Tuhan apapun kondisinya. Sebagai lanjutan dari itu, Uskup Agustinus menggarisbawahi bahwa dalam ajaran Gereja Katolik terdapat rumusan iman kepada Kristus. Rumusan itu tidak lain merupakan rangkaian doa dalam kutipan syahadat para rasul dalam baitnya.

    Foto: Gereja tampak dari sudut kanan (09/12)

    “ ‘Aku percaya akan Roh Kudus, persatuan para kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan dan kehidupan kekal.’ Ini sangat jelas dikatakan bahwa kebermaknaan hidup kita dimulai dari penghayatan akan penderitaan hingga kematian agar menuju pada harapan untuk kehidupan kekal,” pungkas Uskup Agustinus dalam perayaan misa usai pemberkatan.

    Jangan biarkan gereja kosong

    Sebastianus Darwis yang sejatinya memiliki perhatian khusus untuk rumah ibadah apapun, selalu berpesan hal yang sama yakni jangan biarkan rumah ibadah itu kosong. Susah payah dibangun dengan gotong royong baik antara donatur dan umat, ataupun pemerintahan dan paroki.

    Menurut Darwis keberadaan gereja ini menjadi rangkaian perjalanan iman yang akan terukir di Trans SP II Bengkayang. Untuk itu, memang perlu dibuat sebuah rumah ibadah yang cukup menampung umat yang tinggal dan menetap di stasi ini.

    “Sebagai hadiah natal, saya juga sedang mengerjakan aliran listrik untuk daerah ini. Tapi ingat, jangan biarkan gereja kosong,” kata Darwis dalam sambutannya (09/12).

    Kegiatan hari itu dibumbui dengan kehadiran umat lain, baik Protestan maupun Islam. Hari itu tampak jelas bukan soal pagar yang dikaitkan dengan agama lagi, melainkan ini bicara tentang persaudaraan dalam kemanusiaan yang kebetulan berbeda agama. Untuk wilayah ini, jelas sekali perbedaan agama bukan menjadi masalah, tetapi justru sebagai rajutan kekuatan saudara dalam perbedaan keyakinan.

    By. Samuel – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak
    Sumber: Liputan di Trans SP II – Paroki Singkawang – Kab. Bengkayang

    Martir Vietnam Santo Simon Hoa, Dokter dan Walikota, Diakui oleh Santo Paus Yohanes Paulus II

    Orang Kudus Hari Ini : Santo Simon Phan Ðac Hòa, Martir - Paroki Santo ... Sumber: osj indonesia

    MAJALAHDUTA.COM, SPRITUALITAS– Hari ini, umat Katolik merayakan Martir Vietnam, Santo Simon Phan Ðac Hòa, yang lebih dikenal sebagai Santo Simon Hoa atau Santo Hoa.

    Hari ini pula umat Katolik merenungkan pengorbanan dan kesaksian iman Santo Simon Hoa, yang mengilhami generasi-generasi berikutnya untuk tetap teguh dalam iman dan pelayanan kepada sesama.

    Beliau adalah salah satu dari Para Martir Vietnam yang dikanonisasi oleh Santo Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 19 Juni 1988.

    Santo Simon Hoa bukan hanya seorang pelayan gereja, tetapi juga seorang dokter dan walikota yang berdedikasi, bekerja bersama para misionaris di vikariat apostolik Cochinchina, yang kini menjadi bagian dari Vietnam.

    Lahir pada tahun 1787 di Mai Vinh, Thua Thiên, Vietnam, Santo Simon Hoa mengabdikan hidupnya untuk melayani masyarakat dan mempraktikkan iman Katoliknya.

    Pada tanggal 12 Desember 1840, di An Hòa, Quang Nam, Vietnam, Santo Simon Hoa menghadapi takdirnya sebagai Martir Kristus, meninggal dengan lehernya terpenggal.

    Pengakuan Santo Paus Yohanes Paulus II terhadap Santo Simon Hoa pada 19 Juni 1988, memperkuat kehadiran spiritual dan inspirasi iman bagi umat Katolik di Vietnam dan seluruh dunia.

    Orang yang Tulus Memandang Wajah-Nya, Simaklah Kutipan Mazmur ini

    Foto Kecil Mazmur - Sumber: KitabSuci

    MAJALAHDUTA.COM, PENGUAT HARI- Kita tidak luput dari pengalaman yang melemahkan mental.

    Pengalaman itu membuat kita putus asa bahkan tidak lagi percaya dengan realitas dunia sekalipun itu baik untuk hidup.

    Dalam kondisi yang tak pantas ini, apakah kita masih memiliki harapan dengan suasana hati yang lebih berseri?

    Mari kita baca tiga kutipan Mazmur yang mungkin mengingatkan kita tentang perjuangan akan harapan cinta Tuhan.

    …orang yang bersih tanganya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia… (Mazmur 24: 4-5)

    ….Tuhan akan menyelesaikannya bagiku! Ya Tuhan, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!….
    (Mazmur 138:8)

    ….Sebab Tuhan adalah adil dan Ia mengasihi keadilan; orang yang tulus akan memandang wajah-Nya….
    (Mazmur 11:7)

     

     

    Paus Bersyukur untuk 60 Tahun Hubungan Diplomatik antara Vatikan dan Korea Selatan

    2023.11.26 Angelus (VATICAN MEDIA Divisione Foto) (Sumber: Vatikan Media)

    MAJALAHDUTA.COM, VATIKAN– Paus Fransiskus menyampaikan pesan kepada Uskup-uskup Korea dalam rangka peringatan 60 tahun hubungan diplomatik antara Republik Korea dan Takhta Suci.

    Paus berharap agar kedua pihak dapat terus mengembangkan hubungan persahabatan mereka dan bekerja sama untuk perdamaian dan rekonsiliasi di Semenanjung Korea.

    Paus Fransiskus mengirimkan pesan kepada Presiden Konferensi Waligereja Katolik Korea (CBCK), Uskup Matthias Ri Iong-Hoon dari Suwon, untuk menyampaikan “ucapan selamat yang tulus” dan jaminan “kedekatan spiritualnya” saat mereka merayakan 60 tahun hubungan diplomatik antara Republik Korea dan Takhta Suci.

    Korea Selatan dan Vatikan secara resmi menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1963.

    Sejak itu, hubungan keduanya tetap erat, dengan Paus Santo Yohanes Paulus II mengunjungi negara tersebut dua kali pada tahun 1984 dan 1989, dan Paus Fransiskus pada tahun 2014 dalam rangkaian Hari Pemuda Asia ke-6.

    Bekerja Sama untuk Perdamaian di Semenanjung Korea

    Peringatan tersebut ditandai dengan Misa syukur khusus yang dipimpin oleh Uskup Ri Iong-Hoon di Katedral Myeongdong di Seoul pada hari Senin.

    Dalam pesannya yang dibacakan selama perayaan oleh Nuncio Apostolik untuk Korea, Uskup Agung Fernando Duarte Barros Reis, Paus Fransiskus menyatakan harapannya agar Korea Selatan dan Takhta Suci terus mengembangkan hubungan persahabatan mereka dan bekerja sama untuk perdamaian dan rekonsiliasi di Semenanjung Korea.

    Rasa Syukur untuk Berbagai Anugerah yang Diterima Komunitas Katolik di Korea

    Paus menulis bahwa ia dengan senang hati “meresapi” rasa syukur Waligereja Korea yang disampaikan dalam Ekaristi yang khusyuk.

    “Khususnya, kita dapat bersyukur atas penyebaran Injil, pertumbuhan Gereja lokal, dan kontribusinya terhadap kesejahteraan masyarakat Korea,” kata Paus.

    Dia juga percaya bahwa “pengaruh ini akan terus menghasilkan buah budaya dan rohaniah, terutama bagi mereka yang terpinggirkan, miskin, dan tanpa harapan.”

    Kenangan Manis dari Perjalanan Apostolik 2014

    Paus Fransiskus dengan penuh kenangan mengingat Perjalanan Apostoliknya ke Seoul pada tahun 2014, terutama Misa yang dipimpinnya untuk beatifikasi Martir Korea yang,” katanya.

    “Dengan cinta kepada Yesus dan keinginan mereka untuk menyebarkan Kerajaan Tuhan, memberikan hidup mereka di tanah ini dan menanam benih bagi apa yang telah menjadi Gereja yang berkembang dan berkembang,” tambahnya.

    Antisipasi untuk WYD 2027 di Korea Selatan

    Paus juga menyatakan antisipasinya untuk Hari Pemuda Sedunia (WYD) 2027, berdoa agar para pemuda terus memberikan “kesaksian berharga untuk Kristus” saat mereka bersiap-siap untuk acara tersebut.

    Seoul telah dipilih sebagai tuan rumah WYD berikutnya, menjadikannya tuan rumah kedua di Asia setelah Filipina pada tahun 1995.

    Menutup pesannya, Paus Fransiskus menyerahkan “Negara ini kepada perantaraan Martir-martir Korea dan Maria, Bunda Gereja,” dan memberikan berkatnya sebagai jaminan rahmat dan perdamaian dalam Tuhan Yesus Kristus.

    Editor: Samuel-KOMSOS Keuskupan Agung Pontianak
    Sumber: Lisa Zengarini Vatikan News

    Paus Damasus dan Kasihnya pada Alkitab: Vulgata dan Iman Kristen

    Saint Damasus I, Pope – Saint of the Day from My Catholic Life! (Sumber: mycatholic.life)

    MAJALAHDUTA.COM, SPRITUALITAS- Semua pencinta Kitab Suci memiliki alasan untuk merayakan hari ini. Damasus adalah paus yang memerintahkan Santo Hieronimus untuk menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Latin, versi Vulgata dari Alkitab.

    Damasus menjadi seorang diaken berusia enam puluh tahun ketika ia terpilih menjadi uskup Roma pada tahun 366. Pemerintahannya ditandai oleh kekerasan sejak awal ketika kelompok lain memutuskan untuk memilih seorang paus yang berbeda.

    Kedua belah pihak mencoba menegakkan pilihannya melalui kekerasan.

    Meskipun pertempuran fisik berhenti, Damasus harus berjuang melawan lawan-lawannya sepanjang masa pemerintahannya.

    Damasus mungkin tidak memenangkan pertempuran ini secara langsung, tetapi ia memenangkan perang dengan memulai karya-karya yang bertahan lebih lama dari semua lawannya.

    Tidak hanya ia yang memerintahkan terjemahan Vulgata, tetapi juga mengubah bahasa liturgi Gereja dari bahasa Yunani ke bahasa Latin.

    Ia bekerja keras untuk melestarikan dan memulihkan kubah bawah tanah, kuburan para martir, dan relikui-relikui.

    Damasus adalah seorang penulis, meskipun ia tidak mengarang karya-karya teologis yang berjumlah banyak seperti penulis Kristen lainnya.

    Damasus lebih suka menulis epigram dalam bentuk puisi: ucapan singkat yang menangkap inti dari apa yang perlu dikatakan. Ia menulis banyak epigram tentang para martir dan orang kudus.

    Dan ia juga menulis satu tentang dirinya sendiri yang menunjukkan kerendahan hatinya dan rasa hormatnya terhadap para martir. Di sebuah kuburan Romawi terdapat kuburan paus yang ia bangun. Namun, satu-satunya yang tersisa dari dirinya di sana adalah ini: “Aku, Damasus, ingin dimakamkan di sini, tetapi aku takut mengganggu abu para orang suci ini.”

    Sebagai gantinya, ketika ia meninggal pada tahun 384, ia dimakamkan bersama ibu dan saudara perempuannya.

    Dari Dekrit Damasus (diatributkan kepada Damasus):

    Pengaturan nama-nama Kristus, bagaimanapun, sangat beragam: Tuhan, karena Ia adalah Roh; Firman, karena Ia adalah Allah; Anak, karena Ia adalah putra tunggal Bapa; Manusia, karena Ia lahir dari Perawan; Imam, karena Ia mempersembahkan diri-Nya sebagai korban; Gembala, karena Ia adalah pelindung; Cacing, karena Ia bangkit kembali; Gunung, karena Ia kuat; Jalan, karena ada jalan yang lurus melalui-Nya menuju hidup; Anak Domba, karena Ia menderita; Batu Penjuru, karena pengajaran adalah milik-Nya; Guru, karena Ia menunjukkan cara hidup; Matahari, karena Ia adalah Penerang; Kebenaran, karena Ia berasal dari Bapa; Hidup, karena Ia adalah Pencipta; Roti karena Ia adalah daging; Samarit, karena Ia adalah pelindung yang penuh belas kasihan; Kristus, karena Ia adalah yang diurapi; Yesus, karena Ia adalah juru damai; Anggur, karena kita ditebus oleh darah-Nya; Singa, karena Ia adalah raja; Batu Karang, karena Ia kokoh; Bunga, karena Ia adalah yang terpilih; Nabi, karena Ia telah mewahyukan apa yang akan datang.

    Dari Buku “Iman Para Bapa Awal” oleh William A. Jurgens, Hak Cipta 1970, Ordo Santo Benediktus, Collegeville, Minnesota

    Di Jejak-Nya:

    Kecintaan dan rasa hormat Damasus terhadap Kitab Suci terlihat dalam otorisasinya terhadap terjemahan Vulgata.

    Luangkan 30 menit hari ini untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci. Cobalah membuatnya sebagai kebiasaan harian.

    Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan menjaga sebuah Alkitab terbuka di sisi tempat tidur Anda dan membacanya saat pertama kali bangun di pagi hari dan sebelum tidur di malam hari.

    Editor: Redaksi
    Sumber: Berbagai Olahan

    Kunjungan Pangalima Pajaji ke kediaman Uskup Agustinus, Apa yang Terjadi?

    Kunjungan Pangalima Pajaji ke kediaman Bapa Uskup Agustinus di Gedung Keuskupan - Kamis, 7 Desember 2023

    MajalahDUTA.com – Kedatangan Pangalima Pajaji alias Agustinus Luki ke kediaman Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus pada pukul 17.00 WIB kemarin (07/12), tidak hanya sekadar perbincangan pribadi, namun juga dilanjutkan dengan ‘ngopi bareng’ di Keuskupan setempat.

    Pangalima Pajaji, yang sebelumnya menjadi viral karena pernyataan kontroversialnya di media, tiba di Pontianak untuk pertemuan pribadi dengan Uskup Agustinus, sebagaimana yang selalu Bapa Uskup tekankan bahwa bagaimana pun, mereka yang Katolik dengan latar belakang apapun, tetap lah anak-anaknya.

    Pertemuan ini terwujud setelah Pangalima Pajaji menghubungi Uskup Agustinus saat beliau masih berada di Labuan Bajo, atas permintaan pribadi lewat perantara salah satu pengurus umat di Paroki Jeruju Pontianak.

    Dalam pertemuan yang berlangsung di Keuskupan, Pangalima Pajaji, yang mengenakan kemeja merah panjang dan membawa dua tas hitam, memberikan sapaan pertama dengan kata-kata penuh makna.

    “Nian tama’ ka Rumah Jubata, (ini masuk ke Rumah Kediaman Tuhan),” sambil menghormati Uskup Agustinus seperti layaknya seorang anak yang mencium tangan ayahnya.

    Sapaan Hangat Bapa Uskup Agustinus

    Tampak Pangalima Pajaji bersalaman dengan Bapa Uskup Agustinus di Gedung Keuskupan – Kamis, 7 Desember 2023

    Obrolan pribadi antara keduanya berlangsung selama sekitar satu jam di taman Keuskupan, di mana Uskup Agustinus memberikan ruang untuk bicara lepas dan bebas. Usai pertemuan, dalam diskusi makan malam bersama KOMSOSKAP, Uskup Agustinus menyampaikan apresiasi atas kehidupan yang dijalani oleh Pangalima Pajaji.

    “Oleh sebab itu, selama perjuangan kemanusiaan, keadilan dan perdamaian tidak akan salah,” kata Uskup Agustinus (07/12).

    Uskup Agustinus menyoroti pentingnya memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, perdamaian, kasih, dan pengorbanan, sejalan dengan surat pastoral Paus yang menekankan hal serupa.

    “Hidup, berbicara, dan bertindak tanpa kekerasan bukanlah menyerah, kehilangan, atau melepaskan apapun, tetapi bercita-cita untuk segala sesuatu,” kata paus dalam pesan video yang dirilis 30 Maret.

    Meski memberikan apresiasi, Uskup Agustinus juga memberikan peringatan kepada Pangalima Pajaji agar berhati-hati terhadap potensi penyalahgunaan ketokohannya untuk kepentingan kelompok tertentu.

    Pada akhir perbincangan, Uskup Agustinus menekankan bahwa semua talenta yang diberikan oleh Tuhan harus diungkapkan dengan kebaikan dan cinta kasih. Sebagai tambahan, dia merujuk pada panggilan Paus Fransiskus untuk doa bersama bagi budaya tanpa kekerasan dan perdamaian, serta pengurangan penggunaan senjata dalam dunia ini.

    “Kalau semua dari Tuhan, tentulah harus diungkapkan dengan kebaikan dan cinta kasih, ” tambah Uskup Agustinus (07/12).

    Oleh: Samuel, Julio – KOMSOS Keuskupan Agung Pontianak

    Imakulata dan Katekismus Gereja Katolik: Pemahaman akan Kesucian Maria

    Bunda Maria, Model Evangelisasi (Sumber: parokiriti)

    MAJALAHDUTA.COM, SPRITUALITAS– Santa Perawan Maria yang paling diberkati, sejak saat pertama konsepsinya, oleh anugerah dan hak istimewa dari Allah Yang Maha Kuasa dan berkat jasa Yesus Kristus, Juruselamat umat manusia, dilepaskan dari segala noda dosa asal.”

    Pada tahun 1854, deklarasi resmi oleh Paus Pius IX dalam “Ineffabilis Deus,” dengan tegas mengklarifikasi keyakinan yang telah lama dipegang oleh Gereja bahwa Maria dikandung tanpa dosa asal.

    Maria dianugerahi hak istimewa ini karena peran uniknya dalam sejarah sebagai Ibu Allah. Artinya, dia menerima karunia keselamatan dalam Kristus sejak saat konsepsinya.

    Meskipun Maria unik dalam seluruh umat manusia karena lahir tanpa dosa, Gereja mengangkatnya sebagai teladan bagi seluruh umat manusia dalam kesuciannya dan kemurniannya serta kesiapannya menerima Rencana Allah untuknya.

    Setiap orang dipanggil untuk mengenali dan merespons panggilan Allah terhadap panggilan hidup mereka sendiri guna menjalankan Rencana Allah untuk hidup mereka dan memenuhi misi yang telah dipersiapkan bagi mereka sejak sebelum awal waktu.

    “Jadilah kehendak-Mu,” kata Maria, sebagai respons terhadap sapaan Malaikat Gabriel, adalah respons yang diperlukan bagi semua orang Kristen terhadap Rencana Allah.

    Solemnitas Konsepsi Tanpa Noda adalah waktu untuk merayakan sukacita besar anugerah Allah kepada umat manusia dalam Maria dan mengakui dengan lebih jelas kebenaran bahwa setiap manusia telah diciptakan oleh Allah untuk memenuhi misi tertentu yang hanya bisa dia penuhi.

    “firman Tuhan datang kepadaku dengan kata-kata berikut: ‘Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau dilahirkan, Aku telah menguduskan engkau; Aku telah menetapkan engkau menjadi seorang nabi bagi bangsa-bangsa.'” (Yeremia 1:5-6)”,

    Maria Immaculata. (Sumber: abebooks)

    Katekismus Gereja Katolik menjelaskan hal ini sebagai berikut:

    490 Untuk menjadi ibu Juruselamat, Maria “diperkaya oleh Allah dengan karunia yang sesuai dengan peran seperti itu.” Malaikat Gabriel pada saat pengumuman menyapa Maria sebagai “penuh kasih karunia”.

    Bahkan, agar Maria dapat memberikan persetujuan imannya yang bebas terhadap pengumuman panggilannya, diperlukan agar dia sepenuhnya dihembuskan oleh kasih karunia Allah.

    491 Seiring berjalannya waktu, Gereja semakin menyadari bahwa Maria, “penuh kasih karunia” melalui Allah, telah ditebus sejak saat konsepsinya. Itulah yang diakui oleh dogma Konsepsi Imakulata, seperti yang dinyatakan oleh Paus Pius IX pada tahun 1854:

    Perawan Maria yang paling Diberkati adalah, sejak saat pertama konsepnya, oleh sebuah anugerah dan hak istimewa yang luar biasa dari Allah Yang Maha Kuasa dan karena jasa Yesus Kristus, Juruselamat umat manusia, dilestarikan dari segala noda dosa asal.

    Apakah ini berarti Maria tidak pernah berdosa?

    Ya. Karena cara penebusan diterapkan pada Maria pada saat konsepnya, dia tidak hanya dilindungi dari dosa asal tetapi juga dosa pribadi. Katekismus menjelaskan:

    493 Para Bapa Gereja dalam tradisi Timur menyebut Ibu Allah sebagai “Yang Maha Kudus” (Panagia), dan merayakannya sebagai “bebas dari setiap noda dosa, seolah-olah dibentuk oleh Roh Kudus dan dibentuk sebagai makhluk baru”. Dengan anugerah Allah, Maria tetap bebas dari setiap dosa pribadi sepanjang hidupnya. “Jadilah padaku menurut firman-Mu…”

    Paus Yohanes Paulus II mencatat:

    Dalam merenungkan misteri ini dengan perspektif Maria, kita dapat mengatakan bahwa “Maria, di samping Anaknya, adalah gambaran sempurna kebebasan dan pembebasan manusia dan alam semesta.

    Sebagai Ibu dan Teladan, Gereja harus melihat kepada-Nya untuk memahami dengan sempurna arti misi-nya sendiri”

    Mari kita tetap fokus pada Maria, ikon Gereja peziarah dalam perjalanan sejarah yang suci tetapi dalam perjalanan menuju tujuan yang mulia di Yerusalem surgawi, di mana ia [Gereja] akan bersinar sebagai Pengantin Anak Domba, Kristus Tuhan.

    Bagaimana bersama Bunda Maria, kita ditemani untuk mencapai Kebahagiaan Surgawi? Mereka yang meninggal dalam pertemanan dengan Allah dan dengan demikian pergi ke surga akan dibebaskan dari segala dosa dan noda dosa.

    Kita semua akan menjadi “suci” (bahasa Latin, immaculatus = “tanpa noda”) jika kita tetap setia pada Allah.

    Bahkan dalam kehidupan ini, Allah membersihkan kita dan melatih kita dalam kekudusan, dan jika kita meninggal dalam pertemanannya tetapi belum sempurna disucikan, Dia akan menyucikan kita di tempat penyucian dan membuat kita suci.

    Editor: Redaksi
    Sumber: Berbagai olahan

    Kisah Keajaiban Santo Nikolas: Penyelamat Gadis Miskin dan Pelaut Terjebak Badai

    Oración A San Nicolas De Bari: Todo Lo Que Debes Aprender Sobre Ella (Sumber: hablemosdereligion)

    MAJALAHDUTA.COM, SPRITUALITAS– Dalam banyak gereja di seluruh dunia, Santo Nikolas sangat dihormati dan dianggap sebagai santo yang luar biasa suci.

    Dia lahir di abad ke-4 dan menjadi Uskup Myra di Asia Kecil.

    Cerita-cerita tentang kehidupan dan mukjizatnya menjadi legenda yang terkenal.

    Santo Nikolas lahir dalam keluarga Kristen yang saleh.

    Meskipun kehilangan orang tuanya dalam wabah penyakit saat masih muda, dia tumbuh menjadi pemuda yang saleh dan berbakat.

    Di bawah bimbingan pamannya yang merupakan Uskup Patara, dia menjadi imam dan kemudian diangkat sebagai uskup.

    Salah satu kisah terkenal Santo Nikolas adalah ketika dia menyelamatkan tiga gadis miskin dari nasib buruk.

    Seorang ayah yang miskin ingin menjual ketiga putrinya ke dalam pelacuran karena tidak mampu memberikan mahar pernikahan.

    Santo Nikolas melemparkan kantong emas ke dalam rumah mereka secara rahasia, menyelamatkan gadis-gadis itu dari nasib yang mengerikan.

    Santo Nikolas juga dikenal karena keberaniannya dalam membela iman Kristen. Dia bahkan menghadapi penganiayaan dan dipenjarakan bersama orang-orang Kristen lainnya.

    Namun, ketika Kaisar Konstantinus naik tahta dan memeluk agama Kristen, penganiayaan berakhir, dan Santo Nikolas dibebaskan.

    Legenda Santo Nikolas (Sumber: ntdindonesia)

    Selain itu, Santo Nikolas terlibat dalam perdebatan teologis penting dalam Gereja, terutama dalam menentang ajaran sesat yang disebut Arianisme.

    Kontribusinya dianggap sangat berharga dalam menjaga kesucian iman Kristen.

    Santo Nikolas juga menjadi pelindung pelaut dan anak-anak.

    Dikatakan bahwa dia muncul dalam mimpi para pelaut yang terjebak dalam badai dan menyelamatkan mereka.

    Ia juga dikenal karena memberikan hadiah kepada anak-anak miskin pada hari Natal.

    Ketika Santo Nikolas meninggal, jasadnya dikuburkan di Myra, dan kemudian diangkut ke Bari, Italia, di mana dia tetap menjadi objek penghormatan dan keajaiban.

    Legenda tentang Santo Nikolas menjalar ke seluruh dunia, dan banyak gereja dan gereja yang didedikasikan untuknya.

    Hingga saat ini, Santo Nikolas dihormati sebagai pelindung banyak kelompok, termasuk pelaut, anak-anak, dan tahanan.

    Ia adalah sosok yang dianggap luar biasa suci dan masih dikenang setiap tanggal 6 Desember dalam perayaan Santo Nikolas.

    Editor: Redaksi
    Sumber: Berbagai Olahan

    TERBARU

    TERPOPULER