Sunday, May 17, 2026
More
    Home Blog Page 48

    San Agustin Hadirkan Keajaiban Natal di Pontianak, Bersamaan dengan Dekorasi Yulitide Season ke-6

    Suasana Dekorasi malam depan Kampus II San Agustin Pontianak. (2024)

    Duta, Pontianak | Sebelum baca artikel ini, boleh-lah sambil anda dengar instrumen piano ‘First Noel’ agar lebih hikmat saja, hehe.

    Pontianak bersiap menyambut semarak Yulitide Season ke-6 yang digelar Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo di Kampus II, Jl. Merdeka No. 55.

    Tahun ini, tema “Berjalan Bersama Menuju Cahaya Baru” membawa sentuhan magis dan reflektif, menciptakan perpaduan apik antara spiritualitas, keindahan lokal, dan semangat kebersamaan.

    “Kami ingin kampus ini menjadi simbol cahaya baru pendidikan di Kalimantan Barat,” ujar RD. Rupinus Kehi, yang akrab disapa Pastor Kehi, Sekretaris Jenderal universitas sekaligus penggagas utama acara.

    Ribuan lampu menghiasi kampus, menciptakan nuansa spektakuler yang memikat siapa saja yang melintas. Namun, Pastor Kehi mengingatkan, “Jangan hanya terpukau oleh cahayanya. Lihatlah bintang di atas lampu, simbol Tuhan yang menjadi pemandu harapan bagi kita semua.”

    Name Tag, Pastor Kehi (SEKJEN) San Agustin

    Pesona Hutan Kalimantan di Kampus

    Dekorasi tahun ini mengangkat konsep “Beauty Jungle of Borneo” yang terinspirasi dari keindahan hutan Kalimantan.

    Area kampus diubah menjadi taman bercahaya yang lebat dengan ratusan lampu.

    “Ini adalah bagian dari kampanye Laudato Si, mengingatkan kita untuk merawat alam sebagai anugerah Tuhan,” kata Pastor Kehi.

    Ia bahkan sudah merencanakan dekorasi tahun depan untuk menampilkan tiang besar menyerupai pohon raksasa.

    Mahasiswa sebagai Jantung Perayaan

    Persiapan dimulai sejak 11 November 2024, melibatkan penuh partisipasi mahasiswa.

    “Mahasiswa adalah jantung kampus ini. Kehadiran mereka adalah alasan kita ada,” tegas Pastor Kehi. Proses dekorasi menjadi momen untuk mempererat kebersamaan di tengah kesibukan akademik.

    “Lampu tanpa pohon tidak menarik, dan pohon tanpa lampu tidak lengkap. Begitu pula dengan kita. Bersama, kita menciptakan sesuatu yang indah,” tambahnya.

    Hasilnya? Setiap sudut kampus kini menjadi tempat dokumentasi favorit, baik oleh mahasiswa maupun pengunjung. “Melihat mereka mengabadikan momen dengan gembira, saya yakin keindahan ini bukan hanya soal estetika, tetapi juga membawa makna spiritual,” ujarnya.

    Pesan Inklusivitas untuk Semua

    Pastor Kehi juga menggarisbawahi pentingnya semangat Natal yang inklusif. Ia terinspirasi oleh pesan Menteri Agama yang menyerukan agar Natal dirayakan tanpa diskriminasi.

    “Natal itu bukan hanya untuk umat Kristiani, tetapi untuk semua. Kita semua berbagi matahari yang sama, oksigen yang sama, dan tanah yang sama,” katanya.

    Tidak hanya menyentuh hati, dekorasi ini juga dirancang dengan prinsip keberlanjutan. “Sebagian besar bahan akan digunakan kembali tahun depan. Jadi, meskipun tampak boros listrik, ini dilakukan dengan tanggung jawab,” jelasnya.

    Wawancara Pastor Kehi, Jumat 29 November 2024.

    Puncak Acara: 11 Desember 2024

    Puncak perayaan Yulitide Season akan berlangsung pada Rabu, 11 Desember 2024, (dibukanya acara) dengan kehadiran Wakil Gubernur terpilih dan tokoh masyarakat. “Come and See!” menjadi undangan terbuka bagi semua untuk merasakan keajaiban cahaya dan kedamaian Natal di kampus ini.

    Selain dekorasi yang memukau, suasana di bawah “hujan lampu” dirancang untuk memberikan ketenangan dan momen refleksi mendalam.

    “Lampu-lampu ini memandu kita masuk ke dalam, ke sebuah perjalanan menuju cahaya baru yang penuh harapan,” tutup Pastor Kehi.

    Sebagai penutup, mari kita nikmati keajaiban natal setiap tahunnya. (*S).

    Momen Krisantus Temui Bapa Uskup Agus, Perkuat Sinergi Pasca Quick Count Pilkada

    Krisantus, Calon Wakil Gubernur Kalimantan Barat jabat dan cium tangan Uskup Agustinus dalam audiensinya ke kediaman Bapa Uskup di Gedung Keuskupan Agung Pontianak, Kamis, 28 November 2024 malam. - Dokumentasi KOMSOS KAP.

    Pontianak, Majalah DUTA | Jumat, 29 November 2024 – Krisantus, S.Ip., M.Si., calon Wakil Gubernur Kalimantan Barat yang telah dipastikan menang berdasarkan hasil quick count, melakukan kunjungan kehormatan ke Keuskupan Agung Pontianak pada malam Kamis, 28 November 2024. Kunjungan ini berlangsung sekitar pukul 18.15 WIB dan disambut langsung oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus. Dalam kesempatan tersebut, hadir juga Pastor Rupinus Kehi, Pastor Kerawam Keuskupan Agung Pontianak, serta Bendahara Keuskupan, Romo Andreas Kurniawan, OP.

    Kunjungan ini merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya saat masa kampanye Pilkada, di mana Krisantus dan calon Gubernur, Ria Norsan, meminta doa restu dari Uskup Agustinus. Suasana kunjungan kali ini berlangsung akrab, penuh rasa syukur, dan refleksi atas perjalanan politik yang telah dilalui.

    Dalam wawancara eksklusif dengan media KOMSOS Keuskupan, Krisantus menyampaikan pandangannya mengenai hasil quick count. “Capaian ini sungguh luar biasa, menunjukkan bahwa masyarakat Kalimantan Barat semakin cerdas dalam menentukan pilihannya. Semangat Bhineka Tunggal Ika tercermin dari keputusan rakyat yang beragam namun tetap satu dalam memilih pemimpin,” ujarnya.

    Foto dua orang tokoh Kalimantan Barat -Krisantus, Calon Wakil Gubernur Kalimantan Barat dan Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus. Kamis, 28 November 2024 malam. – Dokumentasi KOMSOS KAP.

    Uskup Agustinus Agus memberikan apresiasi atas kerja keras Krisantus selama masa kampanye. Ia menyoroti semangat Krisantus yang sering melakukan blusukan hingga ke pelosok desa untuk memahami langsung kebutuhan masyarakat.

    “Krisantus ini pemimpin yang tidak lupa kacang pada kulitnya. Ia turun langsung menyusuri jalan-jalan kecil dan menemui masyarakat di kampung-kampung. Ini adalah teladan bagi semua pemimpin bahwa kepemimpinan sejati dimulai dari kerendahan hati,” ungkap Uskup.

    Lebih lanjut, Uskup Agustinus juga berpesan agar Krisantus tetap memperhatikan masyarakat kecil, terutama di pedalaman Kalimantan Barat, dalam masa pemerintahannya kelak.

    “Saya tentu mendoakan yang terbaik bagi siapapun, termasuk Krisantus, agar terus membawa perubahan positif, mengutamakan sektor kesehatan, pendidikan, dan ekonomi bagi mereka yang membutuhkan,” tambahnya.

    Kunjungan malam itu tampak sebagai momen penting untuk membahas sinergi antara pemimpin daerah dan Gereja dalam mendorong pembangunan berkelanjutan. Krisantus menegaskan komitmennya untuk terus berkolaborasi dengan berbagai pihak demi Kalimantan Barat yang lebih maju dan inklusif.

    Audiensi Krisantus – seorang Calon Wakil Gubernur Kalimantan Barat yang unggul di Quick Count Pilkada 2024, langsung temui Bapa Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus di Gedung Keuskupan Agung Pontianak, Kamis, 28 November 2024 malam. – Dokumentasi KOMSOS KAP

    Setelah berbincang, Krisantus menikmati makan malam bersama, sebuah tradisi yang Uskup Agustinus lakukan pada siapapun, sebagai dukungan Gereja terhadap para pemimpin yang memiliki visi membangun.

    Hasil quick count Pilkada Kalimantan Barat tahun ini menunjukkan prestasi besar bagi para pemimpin Katolik. Selain Krisantus sebagai Wakil Gubernur, sejumlah tokoh Katolik juga dipastikan terpilih di 14 kabupaten/kota, di antaranya:

    1. Bupati Kapuas Hulu: Fransiskus Diaan, SH, MA
    2. Bupati Sintang: Gregorius Herkulanus Bala
    3. Bupati Sekadau: Aron, SH
    4. Bupati Sanggau: Yohanes Ontot, M.Si
    5. Bupati Landak: Carolin Margret Natasa, MH
    6. Bupati Bengkayang: Sebastianus Darwis, SE, MM
    7. Wakil Bupati Sanggau: Susana Herpena, M.Si
    8. Bupati Ketapang: Alexander Willy D.S.Stp, M.Si
    9. Wakil Bupati Melawi: Malin, SH

    Hasil hitung cepat ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap visi kepemimpinan yang inklusif, adil, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama. Kunjungan Krisantus ke Keuskupan Agung Pontianak, baik menjelang maupun setelah pilkada, menurut Uskup Agustinus, jelas mencerminkan simbol harapan baru bagi Kalimantan Barat, di mana pemimpin yang tidak melupakan asal-usulnya akan terus diberkati dalam upaya mengedepankan kepentingan masyarakat luas.

    (*Sam)

    Dari Panti Asuhan ke Perusahaan, Transformasi PT Grafilin Desa Putera

    Pendiri ST. Grafika, Bruder Corsini-Anik bersama siswa sedang mengawasi mesin potong. - Dokumentasi PT. Grafilin Desa Putera.

    Pontianak, Majalah DUTA | Kamis, 28 November 2024 – Kepedulian terhadap masyarakat yang kurang beruntung telah melahirkan lembaga pendidikan yang bertujuan untuk memastikan generasi muda semakin cemerlang, serta bisnis grafika yang telah memberikan layanan kepada banyak orang. Semua ini dilakukan demi kesejahteraan bersama.

    Indonesia bukanlah pusat perdagangan internasional atau kekuatan militer besar selama Perang Dunia II. Meskipun Jepang menduduki Indonesia dari tahun 1942 hingga 1945, tidak ada pertempuran besar yang terjadi di negara ini. Namun, perekonomian Indonesia, baik secara global maupun nasional, terganggu oleh kekalahan Jepang. Beberapa ahli berpendapat bahwa sebelum peristiwa Pearl Harbor, Amerika Serikat sudah bertekad untuk berperang melawan Jepang karena khawatir Jepang akan membatasi akses mereka terhadap sumber daya yang ada di Hindia Belanda.

    Perang Dunia II jelas mengganggu perekonomian Indonesia, yang harus pulih dari pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan (1945-1949), serta pemulihan yang lambat dari Depresi tahun 1930-an. Selama periode 1949-1965, pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat minim. Namun, antara tahun 1958-1965, pertumbuhan ekonomi menurun akibat ketidakstabilan politik dan kebijakan ekonomi yang tidak tepat.

    Dampak Perang Dunia II dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan membuat kondisi masyarakat Indonesia semakin sulit, terutama bagi kaum miskin. Banyak anak-anak yang hidup dalam keadaan memprihatinkan, kurang perhatian, dan bahkan telanjang, banyak di antaranya adalah yatim piatu.

    Kondisi yang memprihatinkan ini menggugah hati para Bruder dari Kongregasi Budi Mulia, Santa Perawan Maria dari Lourdes, dan Perhimpunan Vincentius Jakarta. Mereka teringat akan sejarah pendirian kongregasi mereka. Kongregasi Budi Mulia didirikan oleh seorang imam bernama Stefanus Modestus Glorieux, yang lahir pada 3 Mei 1802, di Sint Denis, Belgia.

    Setelah ditahbiskan, Glorieux ditempatkan di Paroki Ronse sebagai imam pembantu. Di sana, ia menyaksikan kemiskinan yang melanda masyarakat akibat perang Revolusi Prancis. Untuk mengatasi masalah ini, ia mendirikan Kongregasi Suster Belas Kasih untuk membantu kaum perempuan.

    Pada 25 November 1830, Kongregasi Budi Mulia didirikan di Ronse, Belgia. Pada tahun 1844, ketika Belanda mengalami kemiskinan dan penyakit, kongregasi ini merasa terpanggil untuk memperluas pelayanan mereka ke sana. Banyak Bruder dikirim untuk membantu mereka yang menderita, hingga akhirnya pelayanan ini menjangkau Indonesia.

    Dengan semangat pendiri yang berkomitmen untuk menyelamatkan orang-orang miskin dan memuliakan Allah, Kongregasi Budi Mulia, Santa Perawan Maria dari Lourdes, dan Perhimpunan Vincentius Jakarta sepakat untuk mendirikan Panti Asuhan Desa Putera pada 30 Juni 1947. Sejak saat itu, Desa Putera terus berkembang.

    Seiring berjalannya waktu, Desa Putera mendirikan lembaga pendidikan, termasuk sekolah dasar yang terus berkembang. Pada tahun 1950, Desa Putera memulai usaha penjilidan buku yang diperluas oleh Bruder Basilides, BM. Beberapa mesin cetak diperoleh dari sumbangan perusahaan.

    Awalnya, mesin-mesin ini digunakan oleh anak-anak panti asuhan untuk melatih keterampilan percetakan mereka dan mencari pendapatan bagi Panti Asuhan. Bruder Corsini, BM, dan Bruder Basilides, BM, mengajarkan keterampilan ini kepada 12 anak panti asuhan. Pada tahun 1968, Bruder Eulogus, BM, dikirim dari Belanda ke Desa Putera dengan membawa mesin cetak. Dua tahun kemudian, pada tahun 1970, Sekolah Menengah Kejuruan Grafika Desa Putera dibuka.

    Kerja sama dengan Jerman dan Belanda, terutama dalam hal mesin cetak, sangat membantu perkembangan Sekolah Teknik Menengah Grafika. Instruktur dan karyawan diajarkan semangat kerja, disiplin, dan manajemen yang baik untuk mendukung perkembangan SMK Grafika Desa Putera.

    Desa Putera mencapai tonggak sejarah dalam dunia percetakan dengan dibukanya Graphic Training Center (GTC) pada tahun 1993. Hingga kini, SMK Grafika Desa Putera menjadi salah satu sekolah favorit di Jakarta dan Indonesia.

    PT Grafilin Desa Putera, yang awalnya merupakan unit praktikum percetakan SMK Grafika Desa Putera, kini telah bertransformasi menjadi perusahaan. Awalnya, unit ini hanya digunakan untuk pelatihan siswa dalam praktik kegrafikaan. Namun, seiring waktu, unit ini mulai menerima pesanan cetakan dari berbagai lembaga dan individu.

    Pendapatan dari pesanan cetakan digunakan untuk mendukung biaya praktikum siswa, yang sebagian besar adalah anak-anak Panti Asuhan Desa Putera, serta untuk perawatan mesin cetak yang diperoleh dari sumbangan luar negeri. Selain itu, pendapatan ini juga digunakan untuk membiayai tenaga pendidik dan instruktur.

    Seiring perkembangan zaman dan regulasi, unit ini dituntut untuk semakin profesional dalam bisnis. Peraturan perpajakan yang semakin baik dan kesadaran masyarakat untuk membayar pajak mendukung perubahan ini.

    Sebagai hasilnya, unit praktikum percetakan SMK Grafika Desa Putera berubah menjadi perusahaan pada 15 April 2016 dengan nama PT Grafilin Desa Putera. Meskipun telah berbadan hukum perusahaan, percetakan ini tetap berfungsi sebagai sarana praktikum bagi siswa SMK Grafika Desa Putera.

    Seluruh karyawan keluarga besar PT Grafilin Desa Putera – Dokumentasi PT. Grafilin Desa Putera

    Saat ini, PT Grafilin Desa Putera terus menjalankan usaha di bidang percetakan, termasuk pencetakan buku, majalah, brosur, dan berbagai produk cetakan lainnya. Jasa ini didukung oleh teknologi percetakan modern, mulai dari proses Pre Press hingga Post Press, serta layanan print on demand.

    Tulisan: Felicia Permata Hanggu
    Editor: Julio Ronaldi (Diah Rosanti)

    PT Grafilin Desa Putera - Solusi Cetak Masa Kini
    PT Grafilin Desa Putera

    Buah Roh Tidak Memudar, Bahkan Berlipat Ganda

    Paus Fransiskus dalam Audiensi (2024)

    Duta, Vatikan – Dalam katekese lanjutannya pada Audiensi Umum mingguan tentang Roh Kudus dalam kehidupan Gereja, Paus Fransiskus merenungkan anugerah sukacita rohani, salah satu buah Roh Kudus.

    Laporan oleh Vatikan News, Thaddeus Jones dituliskan bahwa dalam katekese lanjutannya tentang Roh Kudus dalam kehidupan Gereja, Paus Fransiskus memfokuskan renungan Audiensi Umum minggu ini pada karunia sukacita rohani, salah satu buah Roh Kudus.

    Paus mengamati bahwa berbeda dengan sukacita duniawi yang bersifat sementara.

    “Roh Kudus menganugerahkan kepada kita sukacita yang mendalam dan abadi yang lahir dari kehadiran-Nya di hati kita, yang mengilhami kita untuk berbagi sukacita ini dengan orang lain,” kata Paus.

    Rahmat dan kebebasan

    Bapa Paus menjelaskan bagaimana buah-buah Roh merupakan hasil kerja sama manusia antara kasih karunia dan kebebasan, karena baginya buah-buah tersebut mengekspresikan kreativitas setiap orang di mana “iman bekerja melalui kasih” dalam cara-cara yang unik dan penuh sukacita.

    Paus Fransiskus menegaskan meskipun manusia memiliki karunia khusus, dan mereka semua tanpa kecuali, harus selalu menjadi “pekerja perdamaian yang beramal, sabar, dan rendah hati.”

    Sukacita yang merupakan buah Roh memberi manusia perasaan penuh dan terpenuhi, yang membuat seseorang berharap itu akan bertahan selamanya.

    Ia teringat kata-kata Santo Agustinus kepada Tuhan: “Engkau telah menciptakan kami untuk Diri-Mu sendiri, dan hati kami gelisah sampai kami beristirahat di dalam-Mu”.

    bapa Paus juga melanjutkan bahwa “Sukacita Injil, tidak seperti sukacita lainnya, dapat diperbarui setiap hari dan menular,” kata Paus.

    Baginya berkat perjumpaan yang terus-menerus dengan kasih Allah ini, yang berkembang menjadi persahabatan yang memperkaya, terbebas dari kesempitan dan keegoisan manusia.

    “Di sinilah kita menemukan “sumber dan inspirasi dari semua upaya kita dalam penginjilan,” karena sudah sewajarnya jika kita terinspirasi untuk berbagi sukacita ini dengan orang lain.

    Sukacita yang merupakan buah Roh tidak memudar dan “berlipat ganda ketika dibagikan kepada orang lain,” tegas Paus.

    Sebagai penutup, Paus mengenang kesaksian Santo Philip Neri yang hidup di Roma lima abad lalu dan dikenal sebagai “santo sukacita.”

    Paus mengenang bagaimana ia biasa berkata kepada anak-anak miskin dan terlantar di ruang doanya: “Anak-anakku, bergembiralah; aku tidak menghendaki keresahan atau kesedihan; cukuplah bagiku bahwa kamu tidak berbuat dosa”.

    Paus mengamati bahwa kegembiraannya adalah buah Roh dan ia menjadi seorang penginjil sejati melalui kegembiraan.

    Paus mengingatkan kata “Injil” berarti kabar baik, dan ia mendorong setiap orang untuk mencamkan nasihat Santo Paulus kepada umat beriman di Gereja Filipi, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! Hendaknya kebaikanmu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat” (Flp 4:4-5). (S).

    Prodi Kewirausahaan Institut Shanti Bhuana Menggelar kuliah Umum

    Sesi Foto Bersama (ISB: 2024)

    Duta, Bengkayang | Pada Selasa 26 November 2024, Program studi Kewirausahaan Institut Shanti Bhuana suskses melaksanakan kegiatan Kuliah Umum dengan tema Peran Investasi Dalam Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Bengkayang.

    Kegiatan dilaksanakan di  Gedung Auditorium St.Yosef. Shanti Bhuana yang dihadiri oleh mahasiswa 4 Program Studi Kewirausahaan, Manajemen, Teknologi Informasi dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

    Kuliah umum ini menghadirkan narasumber yang merupakan tenaga profesional dan memiliki kompetensi dalam bidang ekonomi baik itu makro maupun mikro, yakni Markus Dalon, S.E, M.Si.

    Dia merupakan seorang Kepala Dinas Koperasi, UKM, Tenaga kerja, dan Transmigrasi.

    Markus Dalon membahas pentingnya peran investasi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, khususnya di Kabupaten Bengkayang, dengan berbagai potensi yang dapat dikembangkan untuk menciptakan lapangan kerja dan mendorong kesejahteraan masyarakat.

    Narasumber tengah memberikan paparan materi (2024)

    Dalam materinya, Markus Dalon juga menyampaikan berbagai strategi untuk menarik investor dan manfaat apa saja dalam berinvestasi.

    Kegiatan ini dihadiri oleh 240 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan beberapa dosen Program Studi Kewirausahaan, Kuliah umum ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa sehingga memiliki niat dalam mengembangkan diri, selain itu kuliah umum ini mau memperlihatkan kepada mahasiswa bagaimana pentingnya investasi dalam pembangunan daerah serta mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan juga selalu inovatif dalam menghadapi tantangan ekonomi.

    Acara berlangsung dengan lancar dan diakhiri dengan sesi tanya jawab yang memungkinkan peserta untuk lebih memahami topik yang dibahas serta menggali lebih lanjut mengenai peluang investasi yang ada di Kabupaten Bengkayang. S | Laporan: Mikael Sharon & Monica (Kewirausahaan semester 5).

    Kata-kata Mengungkapkan Sekaligus Menyembunyikan!

    Potret Dosen dan Tendik AKUB - San Agustin (2024)

    Duta, Pontianak | Buku Aristoteles yang berjudul Peri hermeneias mendefinisikan interpretasi sebagai “kegiatan mengabarkan”.  Definisi semacam itu merupakan arah pertama arti dari hermeneuein sebagai “mengatakan”  atau “mengabarkan”.

    Jika buku Aristoteles itu bisa lebih mendalam lagi seperti yang dipahami oleh para pembaca bahasa Inggrisnya berkat terjemahan baru buku dan disertai komentar luar St. Thomas Aquinas maka arah ‘kedua’ juga bisa berlaku (teks yang memberi pemahaman atau orang yang membaca teks yang mendapatkan pemahaman).

    Situasi teks diatas, saya kaitan dengan makna ‘kebermainan’ antara ‘teks’ (tulisan, politik, budaya, masyarakat, manajemen, organisasi) terhadap konteks seorang pemikir atau pengamat dalam upaya mem’preteli’ maksud dari sebuah fenomena (sesuatu yang tampak, hadir- bukan berarti terjadi dengan alami, bisa jadi karena pengaruh elemen lain).

    Elemen dari mekanisme perilaku organisasi memiliki ke-ter-ikat-an yang tanpa disadari maupun tersadari menciptakan ‘representasi’ khusus,  mungkin saja sengaja atau-pun ‘bias’ dari tindakan itu.

    Misalnya, seorang pejabat mengatakan bahwa sudah banyak hal yang dia lakukan untuk memajukan kelompok atau masyarakat yang dipimpinnya, apa lagi hal itu diperkuat dengan data-data statistik sebagai salah satu dasarnya untuk memberikan ‘argumentasi’ (alasan yang meyakinkan) kepada masyarakat. Mau atau tidak mau, mereka yang menjadi lawan argumentasi memiliki kesulitan untuk memberikan sanggahan atas argumentasinya. Tetapi, benarkah data tersebut merupakan repesentasi dari fenomena yang terjadi dalam masyarakat?

    Dalam buku Richard E. Palmer (buku asli 1965: terjemahan Indonesia 2022) berjudul Hermeneutika, hal 54 dituliskan pikiran Aristoteles yang mendefinisikan hermeneia sebagai operasi yang dilakukan oleh pikiran ketika membuat pernyataan yang terkait dengan benar atau kelirunya suatu perkara.

    “Interpretasi” dalam pengertian ini adalah operasi utama pikiran dalam merumuskan sebuah penilaian yang benar tentang suatu perkara. Misal, sebuah permintaan, perintah, pertanyaan, atau kalimat hinaan bukanlah sebuah pernyataan.

    Saya sempitkan lagi maksudnya, misalnya permintaan doa dan sebagainya merupakan bentuk sekunder kalimat yang diterapkan pada suatu situasi yang mula-mula ditangkap oleh pikiran dalam bentuk sebuah pertanyaan maka bagi Aristoteles biasanya pikiran ‘menangkap’ arti dari pertanyaan.

    Pertanyaan atau interpretasi paling awal, lebih dahulu ada daripada pernyataan apa pun yang mengungkapkan harapan atau pernyataan itu. Karenanya, ‘interpretasi’ bukan pernyataan yang dimaksudkan untuk digunakan – seperti suatu doa atau perintah – melainkan merupakan sebuah pertanyaan tentang suatu yang benar atau keliru.

    Kebenaran dan kekeliruan

    lebih jauh dari itu, saya mencoba untuk memberi sebuah pandangan lain, mulai sebuah data statistik ber-banding data faktual (masyakarat). Kedua ‘teks’ itu saling mempengaruhi dan memiliki bias.

    Kadang apa yang tampak bukanlah sebuah representasi sebenarnya, justru memiliki makna lain atau fakta lain yang masih tersembunyi. Aristoteles dalam buku Richard E Palmer (hal. 55) mengatakan bahwa pernyataan sebagai ‘perkataan yang di dalamnya terkandung kebenaran dan kekeliruan’.

    Akibat dari definisi semacam itu tentang interpretasi adalah retorika dan puitika  berada di luar pembicaraan tentang interpretasi, karena rekotika dan puitika ditujukan untuk menggerakkan pendengar (masyarakat, atau sang subjek yang melakukan proses penyerapan informasi). Biasanya, keterbiasaan tokoh (pemangku jabatan, kekuasaan) menggunakan diksi dan narasi ‘halus’ bisa juga  narasi yang menggiring ‘rasa’ pendengar dengan tujuan utama yakni mempengaruhi – agar – percaya pada setiap bahasa (general) mereka.

    Modal ‘data’ (seolah satu-satunya fakta), dalam konteks hermeneutika tidak lah cukup untuk mewakili kebenaran tersebut. Teks itu bisa saja terpisah jauh dari kata dalam urusan waktu, tempat, bahasa dan rintangan-rintangan yang menghalangi kita untuk memahaminya.

    Keterpisahan itu memberikan ruang lain untuk si subjek (bisa sebagai pembaca, pendengar) untuk melihat lebih jauh dan lebih esensial. Hal itu didasarkan karena perkataan lisan memang tampaknya mengandung kekuatan yang hampir magis (mereka yang ber-orasi, kampanye, atau kotbah), tetapi ketika yang ‘lisan’ itu menjadi visual maka perkataan lisan pun banyak sekali kehilangan kekuatannya.

    Ruang hening itulah yang memampukan sang pembaca atau pendengar untuk mengambil jarak sedemikian rupa untuk memaksimalkan kemampuan ‘mem-preteli’ kata-kata yang sudah mulai kering ketika diganti proses visual membaca.

    Membaca konteks, membaca ruang, waktu dan situasi dengan sendirinya interpretasi yang disajikan dengan ‘data’ mengalami pengeringan secara bertahap. Maka beda antara informasi dengan intrepretasi berdasarkan informasi (data). Informasi mengharuskan digunakannya kemampuan rasional dan tidak mengharuskan digunakannya seluruh personalitas.

    Artinya, kita tidak membutuhkan pengalaman personal atau harus mempertaruhkan keselamatan diri untuk memahami informasi, dan informasi tidak banyak mengalami kerugian ketika dibaca dalam batin (konteks ini saya maksud adalah membaca dalam jarak – renungan, ruang hening atau proses pencaharian kebenaran). Maka dalam kondisi ini, orang bisa saja mengungkapkan situasi tanpa menjelaskan situasi itu. Oleh karenanya, pesan tersembunyi adalah intrepretasi dari situasi.

    ‘Pesan’ (teks: konteks, situasi, data, fenomena, masyarakat, organisasi, dll), menjelaskan situasi, kadang dengan menggunakan kata-kata yang mengungkapkan, tetapi sekaligus menyembunyikan situasi tersebut. Pesan itu seolah mengatakan sesuatu tentang situasi, realitas, dengan menggunakan kata-kata. Sejalan dengan itu, pesan juga merupakan penjelasan dalam pengertian bahwa orang mengatakan sesuatu yang lain alias ada apa dibalik bakwan (metafor: ada apa dibalik kata-kata).

    Pertanyaannya untuk renungan intelektual kita bersama, apakah perkataan dan orasi mereka yang berkepentingan benar? Apakah data argumen yang mereka gunakan mewakili realitas masyarakat atau organisasi? Bagaimana melihat bias-bias dari setiap kata dapat diungkap secara terbuka?

    Dalam hal ini, kebenaran dan kekeliruan bisa ter-suguh-kan secara bersamaan, dalam satu waktu yang sama. Oleh karena itu, penting bagi kita masyarakat Kalimantan Barat secara umum dan masyarakat Pontianak secara khusus melihat fenomena (realitas, fakta lapangan) di sekitar kita atau bahkan yang paling dekat dengan kita secara masuk akal.

    Sebab, salah satu melihat ‘realitas’ yang mendekati se-sungguh-nya, dengan membandingkan apa yang didengar dengan situasi yang terjadi. Bisa saja, perkataan menghipnotis pikiran, tetapi jika diberi ruang dan jarak untuk melihat ‘teks’, sebuah argumentasi kata-kata itu bisa menjadi kering, dan perlahan proses menemukan realitas bisa saja semakin dekat. Semoga!!!

    Penulis: Samuel, S.E., M.M.| Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo. 

    Ekspresi Institut Shanti Bhuana, Exhibition 2024 Bengkayang

    Stand UMKM (2024)

    Duta, Bengkayang | 16 November 2024- Institut Shanti Bhuana suskes menyelenggarakan acara seni luar biasa bertajuk Exhibition dengan tema  “Harmonisasi, Aksi, & Ekpresi”, yang berlangsung pada  Sabtu, 16 November 2024, dimulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB  di Auditorium St. Yosef.

    Acara ini menjadi ajang bagi para talent untuk menunjukan kemampuan mereka di bidang musik dan  ekspresi  seni di kabupaten Bengkayang.

    Exhibition merupakan agenda tahunan dari  program kerja  mahasiswa Institut Shanti Bhuana  Exhibition tahun ini cukup berbeda dengan tahun sebelumnya dimana pada tahun ini bukan hanya Lomba menyannyi dan lomba Band saja namun dilakukan Praise dan Worship dengan mengundang masyarakat Bengkayang dan sekitarnya.

    Pada kesempatan ini mahasiswa juga memasarkan produk dan berbagai jenis makanan hasil olahan dari mahasiswa/i serta  hasil kerajinan tangan prodi kewirausahaan.

    Exhibition bertujuan untuk memberikan pengalaman visual atau informasi yang mendalam kepada pengunjung tentang Institut Shanti Bhuana;  Kali ini Institut Shanti Bhuana Mengusung tema Harmonisi,Aksi dan Ekspresi, para peserta yang hadir merupakan siswa/i SMA & SMK serta masyarkat umum yang ingin mengembangkan bakat mereka dalam seni menyanyi kususnya.

    Pemenang juara 1 Lomba Band (2024)

    Acara ini menjadi wadah bagi masyarakat dari berbagai kalangan untuk menunjukkan bakat terbaik mereka. Dua kompetisi utama, yaitu Lomba Band dan Lomba Menyanyi Solo, menjadi magnet utama bagi para peserta yang ingin menampilkan keahlian mereka di atas panggung. Para peserta tampil sangat  memukau, menghibur ratusan penonton yang memenuhi auditorium. Suasana semakin semarak dengan sorakan dukungan dan tepuk tangan penonton yang antusias.

    Tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa dan dosen dari Institut Shanti Bhuana, tetapi juga masyarakat umum yang ada di sekitar Bengkayang. Mereka dengan antusias ikut memeriahkan Exhibition yang diadakan ISB tahun ini. Selain kompetisi, pengunjung juga dimanjakan dengan berbagai makanan yang dijual di stan.

    Sejak pagi, antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya pengunjung yang memadati area acara. Setiap penampilan di atas panggung mendapat tepuk tangan riuh dan dukungan penuh semangat dari para penonton.

    Tidak hanya itu, kehangatan acara ini terasa dari interaksi yang harmonis antara peserta, penonton, dan panitia.  “Kami sangat menikmati acara ini! Selain bisa mendukung teman yang ikut kompetisi, kami juga terhibur dengan penampilan seni lainnya,” ungkap salah satu pengunjung.

    Exhibition 2024 juga menghadirkan sesi Praise and Worship bersama para suster dan frater, memberikan pengalaman spiritual yang mendalam bagi semua peserta dan pengunjung. Dan begitu banyak persembahan  acara dari  mahasiswa Institut Shanti Bhuana dan persembahan  acara Trio dari SD Amkur Bengkayang yang sangat memukau penonton. Selain itu, pembagian doorprize menjadi daya tarik tersendiri, menambah semarak acara hingga penutup.

    Acara ini ditutup dengan pengumuman pemenang yang mendapat apresiasi atas bakat dan kerja keras mereka. Di kategori lomba menyanyi, M. Yemima Margharet Manoppo dari SMAN 3 Bengkayang berhasil meraih juara pertama dengan skor keseluruhan 2.659.

    Juara kedua diraih oleh Arnold Perdamaian Sirait dari SMAN 1 Bengkayang dengan skor 2.601, sementara Widia Damara dari SMAN 1 Bengkayang berhasil meraih posisi ketiga dengan total skor 2.566 sedangkan di kategori lomba band, Juara pertama lomba band diraih oleh Panorama dengan total skor keseluruhan mencapai 2.246. Sementara itu, juara kedua ditempati oleh Zello Band yang memperoleh skor 2.113, diikuti oleh Akbeth Band yang meraih posisi ketiga dengan skor 2.099.

    Dalam wawancara dengan yang menjadi juara lomba nyanyi solo mengatakan bahwah kegiatan Exhibition sangat bagus untuk memotivasi anak muda untuk terus berkarya dalam hal yang positif dan berharap event seperti ini untuk terus dilakukan  sehingga banyak anak mudah yang ikut berkompetisi.

    Peserta Lomba Band (2024)

    Selaras dengan pendapat dari salah satu personil Panorama Band dimna mereka juga berharap agar kegiatan seperti ini untuk  sering dilakukan sehingga bisa menjalin Kerjasama mutualisme antara ISB dengan pihak eksternal sehingga bisa sama-sama berkembang untuk ideologi Bengkayang menjadi lebih baik dan lebih maju kedepanya.

    Acara ini diharapkan menjadi jembatan untuk menyatukan semangat berkesenian dan mempererat hubungan antar masyarakat dengan kampus, sehingga  harmoni bukan hanya tema, tetapi jiwa dari setiap kegiatan,” ujar salah satu panitia dengan penuh semangat. – Nurmala | Prodi Teknologi Informasi Semester 5.

    Bekerja, Pensiun dan Pelayanan? Hati yang Membentuk Maknanya!

    Paulus Mashuri, Ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak (2024)

    Duta, Pontianak | Selasa, 12 November 2024 saya bertemu Paulus Mashuri, S.Pd., M.Si. Beliau adalah Ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak atau yang sering disebut dengan KOMSOS KAP yang sejak bulan lalu (Oktober 2024) pensiun dari pekerjaannya di KOMSOS KAP. Dia meniti karirnya sejak SMA, kuliah, hingga berkeluarga. Dan beliau masih tetap setia di KOMSOS KAP.

    Pernah menjadi pelatih Sanggar Efata, menyiar dan memproduksi karya Radio Maria (waktu itu masih frekuensi AM), pernah menjadi Jurnalis di DUTA (sebuah majalah kategorial milik Keuskupan) yang masih eksis di online saat ini.

    Beliau juga pernah menjadi Dosen Metodologi Penelitian di Universitas Widya Dharma Pontianak (yang dulu masih Sekolah Tinggi Widya Dharma), beliau juga sering memberikan pelatihan terkait kepenulisan (esai), jurnalistik, maupun dunia radio.

    Dia juga pernah, menjadi guru sekaligus orang tua dari banyak anak-anak yang pernah menimba ilmu di KOMSOS KAP.

    Tahun 2014 awalnya saya coba-coba menulis di Majalah DUTA, ternyata tulisan itu diterbitkan pada rubrik pemberitaan Majalah DUTA cetak. Mulai sejak itu saya ketagihan  perlahan menulis hingga memproduksi tulisan-tulisan sembari kuliah dan bekerja sebagai pembina Pramuka di SMP Agape.

    Eh ternyata, beliau juga mengajar di Agape sebagai guru Bahasa Indonesia.

    “Kamu Samuel yang menulis di DUTA itu ya?” tanya beliau pada saya yang tidak kenal sama sekali dengan beliau.

    Saya jawab, “betul Pak, yang nulis itu saya dengan Bang Fransesco (kini frater Projo Ketapang).”

    “Nah kebetulan, ini kita ada perayaan natal di Sekolah Agape dan besok ada kegiatan di Keuskupan. Ini kamera (Canon 1000D) bisa kamu pakai dan kamu bawa saja ya,” katanya, meskipun saya tidak tahu bahwa beliau sedang mencoba meng-oper job-nya.

    Sejak itulah pertama kali saya mulai memegang kamera dengan penuh rasa haru dan bangga yang tak pernah saya sangka, ternyata saya mulai memegang kamera. Yah, walaupun asal jepret.

    Tapi senangnya tak ketulungan, sepanjang malam belajar ‘jepret’ yang penting asal ter-jepret dan gambar tidak blur, menurut saya sudah sip.

    Kamera Canon 1000D (2017)

    Mulai ikut Sang Pekerja

    Waktu itu, tidak tahu persis hari apa. Saya tiba-tiba diajak beliau untuk ikut ke Singkawang (lupa acara apa) momen itu masih hangat dalam ingatan.

    “Sam, besok kamu bisa ikut saya? Kita liputan. Temani saya saja,” katanya.

    Saya pikir hanya ikut-ikut saja, tau-tau diminta menjadi ‘kaki-tangan’nya dalam ‘akrobat’ di tengah keramaian manusia yang tak saya kenal sama sekali.

    Beliau hanya berikan kisi-kisi dan trik sepanjang jalan bagaimana meliput dan wawancara.

    Dia juga mengajarkan untuk membuat pertanyaan yang tak biasa dari wartawan lain. Ada juga ia mengajarkan tentang ber-kamuflase alias menyembunyikan atau menyamarkan diri dari yang lain dalam liputan.

    Menghibur hati yang masih beku dalam memulai perjalanan, sobek-an kardus-pun menjadi alas dada.

    “Ini cara orang pintar tetap bisa bekerja saat badai,” katanya sambil memasukan potongan kardus indomie itu di baju depannya.

    Meskipun kening saya agak mengkerut, tapi sebagai pemula saya tetap ikuti apa kata  ‘the master’ saja deh.

    Mulai perjalanan subuh yang masih gelap gulita dimana jalan hanya di sinari lampu, sampai matahari terbit ocehan kami tak terasa menghabiskan banyak cerita. Dari cerita mantannya, cara liputan, mencari sorotan berita yang unik, menulis deep news sampai trik jitu nembak wanita (kebetulan saat itu saya masih PDKT dengan Istri).

    Semuanya ampuh dan joss. Saya perlahan diajarkannya menulis dengan mendalam. Namun semua jurus yang beliau ajarkan, satu hal yang benar-benar saya pahami mengapa begitu kecanduan untuk menulis. Tak lain dan tak bukan ilmu yang beliau ajarkan adalah melakukannya dengan ‘hati’.

    Saya masih ingat dia pernah bercerita tentang pesan seorang Pastor Belanda pada saat beliau masih muda. Dia mengisahkan itu kembali persis waktu kami singgah di Warkop favorit Sungai Pinyuh.

    “Sam, ada pesan Pastor Belanda yang pernah di KOMSOSKAP dan masih saya ingat sampai saat ini. Tau apa?” tanyanya saat saya sedang menyeruput kopi.

    Begini, “Paulus, orang yang bekerja di KOMSOS, mereka dituntut untuk bisa melakukan semuanya. Mulai dari bersih-bersih, liputan, menulis, angkut-angkut barang, melakukan hal teknis, siaran, mengajar, mendengar, bahkan ada saatnya mereka seolah-olah tidak pernah dipandang. Tetapi saat dibutuhkan mereka selalu siap. Orang bekerja di KOMSOS haruslah mereka yang memiliki ‘hati’. Hanya kekuatan hati yang bisa melampaui semua keterbatasan bahkan keterbatasan kita saat sulit menerima perkara,” kata Pak Paulus, sejenak hal tersebut tercatat diingatan tanpa perlu saya mengeluarkan pena dan kertas ditangan.

    Hal di atas merupakan secuplik singkat yang bisa saya ‘bagikan’ dari pesan beliau saat pertama saya belajar banyak tentang dunia ‘kewartawanan’.

    Dari berangkat gelap hingga gelap sudah menjadi makanan kami berdua, sepanjang proses belajar dengan ‘kebermainan’ dalam peristiwa seolah mengajar dan membuka mata saya untuk melihat lebih banyak yang tak ter-sadari.

    Pembersihan Gedung KOMSOS (2018)

    Terima Kasih Bos

    Rasanya dari ‘ingusan’ sampai ‘ingus’ menjadi karya, akhirnya saya menyelesaikan pendidikan strata satu di Universitas Widya Dharma Pontianak.

    Jujur, saat masuk kuliah saya mesti berpikir keras untuk bekerja sambil kuliah. Tetapi berkat menulis dan konsisten di Majalah DUTA, akhirnya beliau (Pak Paulus) dengan Ce Surianti waktu itu mengusahakan saya bayar SPP setiap semester sampai selesai kuliah.

    Saya menggarisbawahi poin ini untuk saya ingat sampai seumur hidup. Saya pernah mengalami masa ‘ketidak-tauan’ dan di dalam itu saya menemukan ‘keterkejutan’ berkat yang boleh saya lalui hingga hari ini.

    Di samping menulis saya juga bekerja di tempat lain, pernah di gudang Apotik Tanjung Raya hingga jadi sales, mengajar dan membina Pramuka di SMP Agape Siantan, menjadi penjaga Perpustakaan Widya Dharma, bekerja sebagai orang kebersihan dan penjaga di gedung Pusat Pastoral (PUSPAS), mengajar Sape’, dan membuka kedai kopi bersama orang tua asuh saya Roemah Tjawan Serdam, sebenarnya masih banyak lagi.

    Setiap perpindahan kerja ini, tidak terlepas dari kebersamaan saya dengan si bos (Pak Paulus), mengajak melalang buana kemana-mana. Meskipun motor pernah mogok (tampaknya sudah dijual, ‘miris’), tapi gass terus.

    Terima kasih Pak Paulus, salam hormat dari saya. Terima kasih sudah menjadi teman di motor, kamera, kertas, catatan, dan akhir-akhir ini menjadi saudara penghibur membawa sound setiap kali kita berpergian, meskipun saat anda bicara di atas motor dahulu mengundang hujan air ludah membasahi wajah, tapi tak masalah.

    Basahnya wajah tak sebanding dengan ilmu yang saya peroleh. Thanks bos.

    Eits, ini bukan berarti Pak Paulus sudah selesai lho, meskipun pensiun, bukannya mesti menuntaskan semangat pelayanan, sebagaimana yang Pak Paulus mau abdikan bersamaan dengan karya Bapa Uskup Agustinus dan Romo Andre yang telah banyak membantu kita?!

    Tenang, saya akan lanjutkan semangat ‘hati’ itu (meskipun mesti berjuang, hee). Tapi jangan buru-buru mau pensiun ye… Happy sekali sepertinya.. Hemm….

    Salam…. Boss…. Masih banyak arsip foto-foto lama dengan saya, hehe. 

    By. Samuel – Anak didik dari Kampung.

    Pose Pak Paulus sedang mual-mual di Pesawat- Perjalanan menuju Palangkaraya (2018).

    Mahasiswa AKUB San Agustin Ambil Bagian dalam Gotong Royong di Taman Makam Pahlawan (TMP) Dharma Patria Jaya, Pontianak

    Mahasiswi AKUB San Agustin (2024)

    Duta, Media Center San Agustin, Pontianak |  Komando Daerah Militer (Kodam) XII/Tanjungpura menggelar kegiatan memperingati Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Dharma Patria Jaya, Pontianak pada Jumat, 8 November 2024.

    Kegiatan ini bertujuan untuk mengobarkan semangat patriotisme di kalangan generasi muda Pontianak.

    Dalam acara ini, sekitar 210 mahasiswa dari 21 perguruan tinggi di Kota Pontianak turut serta dalam berbagai kegiatan yang melibatkan gotong royong, olahraga kepaskibraan, dan upacara tabur bunga di makam para pahlawan.

    Dari Akademi Keuangan dan Perbankan Graha Arta Khatulistiwa (AKUB), hadir 10 mahasiswa yang didampingi oleh dua dosen pembimbing, yaitu Samuel, S.E., M.M., dan Agusandi, S.E., M.E.

    Sepuluh mahasiswa tersebut adalah Damianus Buat, Patricia Utari Tarigas, Fitria Amara Joti, Imanuel Noparis Sinaga, Antonius Awen, Dewi Angela M.L., Sry Fania Mayang, Vany Meilinda, Yosua Apriandi, dan Yakobus Egi.

    Mereka turut berpartisipasi dalam kegiatan pembersihan TMP dengan membawa perlengkapan kebersihan seperti sapu lidi dan parang, sesuai dengan arahan dari Kodam XII/Tanjungpura.

    Foto bersama Kepala Hukum Kodam XII/Tanjungpura, Kolonel Dr. Drs. Imam Syafei, S.H., M.H (2024)

    Partisipasi dan Kolaborasi

    Samuel, S.E., M.M., salah satu dosen pendamping dari AKUB, menyatakan bahwa kegiatan ini memiliki makna yang mendalam bagi para mahasiswa.

    “Kehadiran dan partisipasi mahasiswa adalah bagian integral dari bentuk kerjasama antar lembaga. Dalam konteks ini, mereka mengenang jasa-jasa pahlawan yang telah berkorban demi masa depan generasi sekarang,” ujar Sam.

    Sam juga menambahkan selain kerjasama, mahasiswa juga bisa memiliki peluang untuk belajar dari semangat juang para pahlawan yang turut ambil bagian penting untuk kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

    “Saya berharap kegiatan kolaborasi ini dapat terus dilanjutkan agar semangat persaudaraan semakin mengakar tanpa melupakan jasa para pahlawan. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan menjadi pendorong bagi mahasiswa untuk lebih mencintai Negara Republik Indonesia,” tambah Sam.

    Hal senada juga diungkapkan oleh Agusandi, S.E., M.E., yang turut mendampingi mahasiswa AKUB dalam kegiatan tersebut, Agus mengatakan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini adalah bentuk penghargaan terhadap jasa para pahlawan.

    “Semoga semangat yang ditunjukkan oleh para pahlawan dapat mengalir ke dalam diri mahasiswa, sehingga mereka lebih serius dalam pendidikan dan dapat meneruskan semangat kebersamaan dan kolaborasi ini dalam dunia kerja nanti,” kata Agus.

    Agus berharap agar melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat lebih mencintai Indonesia dan menjadikan semangat persatuan sebagai dasar untuk berkontribusi di masa depan.

    Wawancara Kepala Hukum Kodam XII/Tanjungpura, Kolonel Dr. Drs. Imam Syafei, S.H., M.H (2024)

    Dukungan dari Kepala Hukum Kodam XII/Tanjungpura

    Kepala Hukum Kodam XII/Tanjungpura, Kolonel Dr. Drs. Imam Syafei, S.H., M.H., yang memimpin acara ini, juga memberikan apresiasi terhadap kehadiran para mahasiswa. Dalam wawancaranya, Kolonel Imam menyatakan pentingnya peran generasi muda dalam menghargai perjuangan para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

    “Kami mengajak seluruh mahasiswa generasi muda untuk bersama-sama memperingati hari perjuangan ini. Kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui perjuangan panjang yang mempertaruhkan harta dan nyawa. Hal ini yang ingin kami sampaikan kepada generasi muda, agar mereka dapat meneladani apa yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan kita,” tuturnya.

    Kolonel Imam juga menambahkan bahwa pendidikan yang kini dinikmati para mahasiswa adalah hasil dari pengorbanan para pahlawan.

    “Tanpa mereka, para mahasiswa ini mungkin tidak akan bisa mengenyam pendidikan sejauh ini. Tugas mahasiswa saat ini adalah serius dalam kuliah dan belajar agar dapat meraih masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

    Suasana dan Kegiatan di TMP

    Kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB  yang dipandu oleh personel Kodam XII/Tanjungpura, diikuti dengan kegiatan gotong royong membersihkan area makam pahlawan.

    Setelah itu, para mahasiswa melakukan pembersihan makam sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang gugur.

    Suasana hening dan semangat patriotisme mewarnai upacara tersebut. Para mahasiswa terlihat antusias dalam mengikuti seluruh rangkaian acara, sekaligus mendapatkan pelajaran tentang pentingnya mengingat dan menghargai jasa para pahlawan.

    Kolaborasi yang melibatkan 21 perguruan tinggi di Pontianak ini juga menjadi bukti nyata bahwa penghargaan terhadap jasa pahlawan tetap relevan dan penting dalam membangun karakter serta wawasan kebangsaan bagi generasi muda.

    Acara yang berlangsung hingga siang hari ini berjalan lancar dan penuh khidmat, mencerminkan semangat kebersamaan dan patriotisme yang tinggi dari para peserta.

    Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat hubungan antara institusi pendidikan dan Kodam XII/Tanjungpura, serta menanamkan semangat nasionalisme di kalangan mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa. (S)

    Mahasiswa KKN ISB Menggandeng BNN Melakukan Sosialisasi Bahaya Narkoba Bagi Generasi Muda Di SMAN 2 Teriak

    Foto bersama peserta sosialisasi Narkoba (2024)

    Duta, Bengkayang | Pada 8 November 2024, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di dampingi oleh Usman,S.E.,M.M dosen  Institut Shanti Bhuana, berkolaborasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Bengkayang menyelenggarakan sosialisasi bahaya narkotika di aula SMA Negeri 2 Teriak.

    Institut Shanti Bhuana sebagai salah satu perguruan tinggi di Kabupaten Bengkayang tentunya sangat mendukung adanya program dari BNN untuk memberikan sosisalisasi bahaya Narkoba bagi generasi muda.

    Kegiatan yang dihadiri ratusan siswa ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran generasi muda mengenai dampak buruk narkotika dan pentingnya menolak segala bentuk godaan narkoba. Para siswa menyimak materi dari dua narasumber BNN, yaitu Mery Susanti, SE, dan Meli Mayuni, SH, yang memberikan pengetahuan dan motivasi bagi para pelajar untuk menjaga diri dari bahaya narkoba.

    Mery Susanti membuka sesi sosialisasi dengan menekankan betapa pentingnya sikap tegas dalam menghadapi ancaman narkoba yang semakin menyasar remaja. Ia menyampaikan data terkini terkait kasus narkotika di kalangan remaja pada tahun 2023 dan menjelaskan berbagai ciri-ciri yang menandai seseorang telah menjadi pecandu.

    “Katakan Tidak pada Narkoba!” menjadi moto kuat yang ia sampaikan kepada para siswa, diiringi ajakan untuk lebih berhati-hati terhadap lingkungan pergaulan. Mery berharap para siswa dapat menjaga masa depan mereka dengan menjauhi narkoba, yang dapat menghancurkan masa depan generasi muda secara cepat.

    Pemaparan materi oleh narasumber dari BNN (2024)

    Meli Mayuni sebagai narasumber ke-2 melanjutkan dengan penjelasan mendetail tentang jenis-jenis narkotika dan aturan hukum yang mengaturnya. Berdasarkan Undang-Undang No. 35 Tahun 2009, Meli memaparkan bahwa narkotika dibagi menjadi tiga golongan.

    Golongan I, seperti ganja dan opium, sangat berbahaya dan dilarang keras untuk digunakan dalam bidang kesehatan. Sementara itu, narkotika Golongan II dan III masih memiliki fungsi medis tetapi dengan potensi adiksi yang tetap tinggi.

    Ia juga menjelaskan ancaman pidana yang berat bagi pengguna, pengedar, dan produsen narkoba, yang dapat dikenai hukuman hingga 15 tahun penjara atau bahkan hukuman seumur hidup, bergantung pada jenis pelanggarannya.

    Para siswa terlibat aktif dalam sesi tanya jawab, menunjukkan rasa ingin tahu yang besar terhadap cara-cara menolak ajakan penggunaan narkoba dan langkah yang harus diambil jika mengetahui adanya penyalahgunaan narkotika di lingkungan sekitar mereka. Beberapa siswa juga bertanya mengenai cara melaporkan jika melihat teman atau kerabat yang berpotensi menjadi korban narkotika.

    Dengan sesi yang interaktif, para siswa diajak berpikir kritis dan mendapatkan pengetahuan praktis yang bisa mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Sosialisasi ini tidak hanya memperkuat pengetahuan para siswa tentang dampak buruk narkoba, tetapi juga mendorong mereka untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.

    Dengan pembekalan informasi dan dukungan moral yang kuat dari pihak BNN dan mahasiswa KKN, diharapkan para pelajar di SMA Negeri 2 Teriak dapat menyebarkan kesadaran tentang bahaya narkoba, melindungi diri mereka sendiri, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan mereka. (S | Nurmala, Ria Izanami)

    TERBARU

    TERPOPULER