Friday, June 5, 2026
More
    Home Blog Page 31

    Cerita dan Motivasi di Balik Keaktifan UKM Voli San Agustin

    Nesa Ratna Anggela (20), mahasiswa semester lima dari Program Studi Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB)

    Duta, Pontianak | Di balik gemuruh suara bola memantul di lapangan dan teriakan semangat dari para pemain, tersimpan kisah sederhana namun penuh makna dari seorang mahasiswa yang aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Voli Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Pontianak (Unika San Agustin).

    Dia adalah Nesa Ratna Anggela (20), mahasiswa semester lima dari Program Studi Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB).

    Bagi Nesa, voli bukan hanya olahraga pengisi waktu luang, tetapi juga ruang untuk menyalurkan minat, menumbuhkan semangat kebersamaan, dan menjaga keseimbangan antara akademik dan kegiatan nonakademik.

    “Saya mengikuti UKM Voli ini awalnya hanya untuk mengisi waktu luang. Apalagi sekarang sudah masuk semester lima, pasti mulai sibuk dengan tugas akhir (TA). Tapi ternyata UKM ini jadi tempat yang menyenangkan buat saya,” ujarnya saat ditemui seusai latihan di Lapangan Voli Kampus II Santo Agustinus Hippo, Rabu (11/10/2025).

    Ribi tengah wawancarai Nela salah satu dari mahasiswa UKM Voli, di lapangan Voli Universitas Katolik San Agustin
    Kampus II Pontianak

    Meski awalnya sekadar mencari kegiatan tambahan, Nesa kini merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap UKM tersebut. Ia aktif dalam kegiatan rutin, termasuk proses rekrutmen anggota baru yang sedang berjalan saat ini.

    Namun, di balik semangat dan kekompakan para anggota, Nesa menyoroti satu hal penting yang menurutnya perlu mendapat perhatian serius dari pihak kampus — kondisi lapangan.

    “Kalau boleh saya kasih saran, hal yang paling mendesak itu kondisi lapangan voli kami. Jujur, garis-garis lapangannya sudah banyak yang hilang. Jadi sering bingung menentukan bola itu masuk atau keluar saat latihan. Saya berharap fasilitas dasar ini bisa segera diperbarui agar latihan kami lebih nyaman dan tertib,” ungkap Nesa.

    Latihan UKM voli dilaksanakan dua kali dalam seminggu, yakni hari Jumat untuk mahasiswa Fakultas Kesehatan (Fkes) dan hari Sabtu untuk mahasiswa AKUB.

    Masing-masing sesi difokuskan pada peningkatan teknik dasar dan kerja sama tim. Menurut Nesa, keberadaan pelatih utama, Mauri Arpin Arus, yang juga merupakan dosen olahraga di universitas tersebut, menjadi nilai tambah besar bagi UKM Voli.

    Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Voli Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Pontianak (Unika San Agustin).

    “Pak Mauri itu punya pengalaman panjang di dunia olahraga, terutama voli. Jadi setiap latihan pasti ada ilmu baru yang kami dapat. Tempat latihan di Kampus II juga mendukung banget, pencahayaannya bagus, jadi enak buat latihan sore sampai malam,” tuturnya.

    Namun, di balik jadwal latihan yang teratur, Nesa mengakui bahwa membagi waktu antara kuliah, tugas, dan kegiatan UKM bukan hal yang mudah.

    “Kalau waktu yang paling berat itu biasanya malam hari dari Senin sampai Kamis. Kuliah mulai jam 4 sore, pulangnya sudah malam, kadang sampai kos jam 8. Badan capek, tapi tugas masih banyak. Jadi, Sabtu itu waktu saya buat fokus latihan dan sekalian refreshing,” katanya.

    Bagi Nesa, voli memberikan banyak pelajaran berharga — bukan hanya tentang teknik atau fisik, tetapi juga soal mental dan karakter.

    “Voli itu olahraga tim. Kita enggak bisa menang sendiri. Di situ saya belajar kerja sama, disiplin, dan cepat ambil keputusan. Kadang capek banget, tapi di lapangan harus tetap fokus dan enggak boleh menyerah,” ujarnya.

    Selain itu, kegiatan UKM itu dapat menjadi sarana bagi Nesa untuk menjaga kesehatan mental.

    “Jujur, kadang stres juga sama angka-angka di prodi saya. Tapi voli ini jadi pelepas stres. Kalau lagi malas latihan, pasti ada teman yang ngajak. Itu yang bikin saya merasa UKM ini enggak cuma soal olahraga, tapi juga keluarga kecil tempat saya tumbuh,” tambah Nesa.

    Meski masih banyak keterbatasan fasilitas, semangat para anggota UKM Voli Santo Agustinus Hippo tidak surut. Mereka terus berlatih, mempersiapkan diri untuk kegiatan dan turnamen antaruniversitas yang akan datang.

    Di tengah tantangan akademik dan logistik, Nesa mengaku bahwa kegiatan tersebut menjadi bukti nyata bahwa sportivitas, semangat, dan solidaritas adalah nilai-nilai yang hidup di lapangan — nilai-nilai yang menjadi fondasi kuat bagi mahasiswa untuk berkembang, baik di dalam maupun di luar kampus.

    *Petronela Ribi, Mahasiswi Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II. (Sam).

    Fintech di Ujung Jari Mahasiswa, Peluang dan Tantangan Literasi Keuangan Era Digital

    Sumitro, S.M., M.M. - Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II.

    Duta, Pontianak | Perkembangan teknologi finansial atau fintech lending kini menjadi fenomena yang tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa di Kota Pontianak.

    Di tengah semangat digitalisasi dan kemudahan akses keuangan, muncul pula tantangan baru: bagaimana mahasiswa memahami dan mengelola layanan keuangan digital secara bijak?

    Sebuah penelitian yang dilakukan di kalangan mahasiswa Pontianak menemukan bahwa fintech lending dan literasi keuangan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap inklusi keuangan mahasiswa di era digital.

    Dengan kata lain, semakin tinggi pemahaman mahasiswa terhadap keuangan, semakin baik pula kemampuan mereka memanfaatkan layanan keuangan digital secara produktif.

    Fintech Lending

    Berdasarkan survei terhadap 150 mahasiswa di Pontianak, sekitar 65% responden mengaku pernah menggunakan layanan pinjaman online. Sebagian besar tertarik karena prosesnya cepat, tanpa agunan, dan bisa dilakukan hanya melalui ponsel.

    Namun, kemudahan ini sering kali membawa risiko. Menurut data Katadata Insight Center (2023), hanya 42% mahasiswa di Indonesia yang memahami sepenuhnya bunga dan risiko pinjaman fintech.

    Bahkan, 37% di antaranya mengalami keterlambatan pembayaran karena penggunaan dana untuk keperluan konsumtif seperti membeli gadget atau kebutuhan gaya hidup.

    Fenomena ini tampak nyata di kampus-kampus di Pontianak. Mahasiswa yang terbiasa dengan e-wallet, paylater, dan pinjaman instan kadang tidak menyadari konsekuensi jangka panjang dari keputusan keuangan mereka.

    Di sinilah pentingnya literasi keuangan digital — kemampuan memahami, mengelola, dan mengambil keputusan finansial yang cerdas.

    Kunci Mahasiswa Melek Finansial

    Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa literasi keuangan menjadi faktor paling dominan dalam meningkatkan inklusi keuangan mahasiswa.

    Mahasiswa yang memahami konsep dasar keuangan seperti bunga majemuk, inflasi, dan pengelolaan anggaran pribadi, cenderung lebih bijak dalam menggunakan layanan fintech.

    Sayangnya, sebagian mahasiswa di Kalimantan Barat masih memandang literasi keuangan sebagai hal yang “teknis” dan membosankan. Padahal, dalam konteks modern, literasi keuangan justru menyangkut kemampuan bertahan di dunia digital yang penuh tawaran konsumtif.

    Mengetahui cara memilih aplikasi keuangan yang aman, memahami bunga pinjaman, serta menghindari jebakan “pinjaman instan” menjadi keahlian dasar yang wajib dimiliki oleh generasi muda saat ini.

    Potret Mahasiswa Digital di Perbatasan

    Sebagai kota pendidikan yang berkembang pesat di Kalimantan Barat, Pontianak kini menjadi pusat aktivitas mahasiswa dari berbagai daerah, termasuk daerah perbatasan seperti Sambas, Bengkayang, dan Kapuas Hulu.

    Perpaduan antara latar belakang sosial ekonomi yang beragam dan arus digitalisasi keuangan menciptakan dinamika tersendiri.

    Platform fintech lending di kota ini banyak dimanfaatkan bukan hanya untuk kebutuhan konsumsi, tetapi juga untuk biaya pendidikan, modal usaha kecil, hingga kegiatan organisasi mahasiswa.

    Beberapa mahasiswa bahkan memanfaatkan fintech sebagai sarana belajar berwirausaha dengan membuka bisnis daring atau menjadi reseller produk lokal.

    Namun, masih diperlukan pendampingan dan edukasi keuangan yang berkelanjutan. Perguruan tinggi di Pontianak dapat memainkan peran strategis dengan mengintegrasikan edukasi literasi keuangan ke dalam kurikulum, seminar kampus, atau program pengabdian masyarakat.

    Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna fintech, tetapi juga pelaku ekonomi digital yang cerdas dan bertanggung jawab.

    Kegiatan Mahasiswa, Dokumentasi Kemahasiswaan AKUB, San Agustin.

    Budaya Finansial Cerdas Kalimantan Barat

    Dalam penelitian tersebut menegaskan bahwa kombinasi antara teknologi keuangan dan literasi keuangan adalah kunci dalam menciptakan inklusi keuangan yang sehat di kalangan mahasiswa.

    Di Pontianak, potensi ini sangat besar: mahasiswa yang terbiasa dengan teknologi digital dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah bila dibekali pemahaman keuangan yang kuat.

    Pemerintah daerah, OJK, dan perguruan tinggi perlu berkolaborasi dalam menyelenggarakan program literasi keuangan digital berbasis kampus. Kegiatan seperti “Fintech Day for Students” atau “Smart Financial Campus” bisa menjadi wadah interaktif bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari pelaku industri fintech dan regulator.

    Dengan langkah tersebut, Kalimantan Barat bukan hanya dikenal sebagai wilayah perbatasan yang strategis, tetapi juga sebagai pusat lahirnya generasi muda yang melek digital dan finansial — generasi yang tidak sekadar meminjam dari fintech, tetapi juga mampu menciptakan solusi keuangan digital bagi masyarakatnya sendiri.

    Catatan:
    Tulisan ini diadaptasi dari hasil penelitian “Peran Fintech Lending dan Literasi Keuangan dalam Inklusi Keuangan Mahasiswa di Era Digital”

    *Sumitro, S.M., M.M. – Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II.

    Mengalami Rahmat dan Harapan di Tahun Yubelium

    Foto bersama usai wawancara. "Mengalami Rahmat dan Harapan di Tahun Yubelium" 2025.

    Duta, Pontianak | “Yubelium adalah  Pintu Suci di tandai dengan Pengampunan Dosa dan akan dirayakan berulang selama 25 tahun 1 kali”ungkap Lusia Sedati.,S.E.,Ak. Salah satu dosen AKUB Jumat (26/9/2025).

    Dalam penjelasannya, Lusia menegaskan bahwa Tahun Yubelium membawa banyak berkat rohani bagi umat yang sungguh-sungguh menjalaninya.

    “Di Tahun Yubelium ini kita biasanya dapat pengampunan dosa secara penuh selama kita melalui dan menjalani Tahun Yubelium dengan benar-benar bertaubat dan meluangkan waktu untuk lebih banyak berdoa,” kata Lusia.

    Martina (kanan), Lusia (Kiri) – Mengalami Rahmat dan Harapan di Tahun Yubelium. (2025)

    Pendapatnya mengenai bagaimana cara sebaiknya Mahasiswa Katolik menjalankan Tahun Yubelium dalam kehidupan sehari-hari.

    Lusia kembali menegaskan Sebagai Orang Muda Katolik atau Mahasiawa seharusnya di Tahun Yubelium ini kalian bisa menggunakan waktu ini dengan lebih banyak mengeluarkan waktu untuk Tuhan.

    Membangun lagi relasi kalian dengan Tuhan lebih banyak bedoa ,peruli sesama dan melakukan kegiatan-kegiatan sosial dan mengenali diri sendiri seperti, Meditasi atau Refeksi mengenai diri sendiri.

    Sejalan dengan itu, Lusia juga berbagi pandangannya tentang fokus utama dalam memperingati Yubelium masa kini. Ia menjelaskan bahwa tema yang diangkat Gereja saat ini adalah “Ziarah Pengharapan.”

    Menurutnya fokus utama ada pada kaum muda, dengan berziarah ke gereja-gereja yang telah ditetapkan sebagai Porta Santa.

    Foto bersama usai wawancara. “Mengalami Rahmat dan Harapan di Tahun Yubelium” 2025

    “Kita semua adalah harapan bagi Gereja dan dunia,” ujarnya.

    Dalam tahun Yubelium ini umat diajak untuk berkunjung ke gereja yang termasuk porcta santa.

    Lusia memiliki pengalaman yang berkesan dalam kunungan Ziarah Pengharapan  ke berbagai gereja yang termasuk Porcta Santa. Ia membagikan pengalaman uniknya.

    “Puji Tuhan, untuk Gereja yang termasuk Porta Santa di Keuskupan Agung Pontianak sudah Ibu kunjungi semua. Pengalaman untuk setiap Gereja itu punya kesannya masing-masing. tapi, bagi ibu yang paling berkesan saat ibu mengunjungi Gereja Kristus di Sambas karena walaupun pada saat itu tidak tau letaknya Gereja tersebut Dimana,” katanya.

    Dalam wawancara itu pula, Lusia mengaku bahwa dalam salah waktu dan Lusia berkunjung ke Goa Maria Santo kemudian pada saat balik, ia bertemu dengan ibu-ibu yang memang berada di Gereja di sana dan menyambut baik kedatangannya bersama seorang rekan.

    “Walau hanya kami berdua saja mereka melakukan pelayanan sebaik mungkin. Selain tidak tau Gereja di sana sepertinya kita juga mendapatkan bahwa Gereja tidak hanya berbentuk Gedung tapi ada juga yang dalam bentuk manusia,” pungkasnya.

    *Martina Angelina, Mahasiswi Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II. (Sam).

    Sapu dan Keluarga

    Fransisika Kia: 15 Tahun Mengabdi, Kini Jadi Tulang Punggung Keluarga

    Duta, Pontianak | Setiap hari, sebelum kampus mulai ramai oleh langkah mahasiswa dan dosen, ada sosok sederhana yang sudah lebih dulu hadir.

    Dengan seragam kerja dan sapu di tangan, Fransisika Kia (52) memulai harinya dengan senyum dan semangat.

    Selama 15 tahun, ia menjadi bagian penting di balik bersih dan rapinya lingkungan Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Santo Katolik Agustinus Hippo.

    Akrab dipanggil Bu Siska memulai pekerjaannya di kampus ini sejak masih muda, tak lama setelah lulus SMA.

    Dari masa itu hingga kini, ia telah menyaksikan banyak perubahan — baik di lingkungan kampus maupun dalam kehidupannya sendiri.

    Kini, di usia yang ke-52 tahun, ia telah menjadi seorang ibu dari dua anak, yang sulung berusia 18 tahun, sementara si bungsu masih duduk di bangku SMP.

    Sejak sang suami memasuki masa pensiun, Bu Siska menjadi tumpuan keluarga setelah suaminya.

    Meski pekerjaan sebagai petugas kebersihan tak mudah, ia menjalaninya dengan ketulusan dan rasa syukur.

    “Sampai sekarang saya masih giat bekerja karena saya punya keinginan dan harapan untuk hidup selalu stabil bersama orang-orang yang saya cintai,” ujarnya (12 Oktober 2025).

    Setiap hari ia datang lebih awal, memastikan ruang kuliah, lorong, dan taman tetap bersih.

    Namun bukan hanya kebersihan yang ia jaga, melainkan juga suasana hangat dan ramah di lingkungan kampus.

    Siapa pun yang berpapasan dengannya hampir pasti mendapat senyuman — sederhana, tapi cukup untuk memulai hari dengan perasaan baik.

    Bu Siska menunjukkan bahwa pekerjaan apa pun, sekecil apa pun tampaknya, bila dilakukan dengan cinta dan tanggung jawab, akan memberi makna besar bagi banyak orang.

    Sebagai penulis saya melihat bahwa kisahnya mengingatkan kita untuk tidak hanya menghargai yang tampak di depan, tetapi juga mereka yang bekerja diam-diam di balik layar — memastikan segala sesuatu berjalan tertib, bersih, dan nyaman.

    *Yuliana Lilifia, U.D. Mahasiswi Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II. (Sam)

    Dari Ruang Kelas ke Rimba Kalimantan

    AKUB - MAPALA, (2025)

    Duta, Pontianak | “Bukan Sekadar Kegiatan, Inilah Wujud Fasilitasi Kampus dalam Memenuhi Kebutuhan Pengembangan Mahasiswa”.

    Sebagai komponen yang cukup vital dalam struktur universitas, bagian kemahasiswaan memiliki mandat utama untuk memastikan bahwa segala kebutuhan mahasiswa dalam menjalani kehidupan kampus dapat terpenuhi secara optimal. Ini mencakup baik aspek akademis maupun non-akademis.

    Lebih lanjut, kemahasiswaan berkewajiban untuk memastikan bahwa berbagai kegiatan mahasiswa dapat berjalan dengan baik, lancar, dan berdampak positif.

    Keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini, meskipun hanya sekadar bersifat non-akademik, merupakan indikator penting bahwa Kampus berhasil dalam memfasilitasi kebutuhan pengembangan diri, minat, dan bakat mahasiswa di luar ruang kelas.

    Kegiatan non-akademik ini berfungsi sebagai sarana esensial untuk melengkapi pengalaman belajar dan memenuhi kebutuhan sosial serta psikologis mahasiswa.

    Sebagai contoh konkret dari peran fasilitasi ini, Kampus baru-baru ini Kampus AKUB secara aktif mendorong dan mendukung kegiatan mahasiswa pencinta alam (Mapala) yang merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) di lingkungan kampus AKUB.

    AKUB – MAPALA (2025)

    Dukungan ini diwujudkan dengan memfasilitasi kegiatan pendakian ke air terjun Terinting yang berlokasi di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

    Air Terjun Terinting yang berlokasi di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, dikenal karena keindahannya yang memukau namun medan tempuh yang sangat menantang (membutuhkan waktu trekking 6–7 jam melewati hutan lebat, menanjak, menuruni lembah, dan menyeberangi sungai).

    Perjalanan panjang dan berat (trekking 6-7 jam) menuju Air Terjun Terinting menguji dan meningkatkan kapasitas aerobik serta daya tahan kardiovaskular.

    Mendaki di medan yang tidak rata (hutan, tebing, menyeberangi sungai) adalah bentuk cardiovascular workout alami yang efektif, menguatkan otot kaki, paha, inti, dan punggung. Mahasiswa belajar mengenali dan mengatasi batas kemampuan fisik mereka sendiri, yang menumbuhkan ketahanan tubuh dan mental.

    Pendakian yang menantang menuntut koordinasi, komunikasi yang efektif, dan saling bantu antar anggota tim untuk melewati rintangan alam yang sulit.

    AKUB – Mapala, 2025

    Anggota Mapala, terutama yang bertugas sebagai leader atau sweeper, melatih kemampuan manajerial perjalanan, pengambilan keputusan cepat di lapangan (terutama dalam situasi sulit/darurat), dan navigasi.

    Perjuangan fisik yang melelahkan terbayarkan dengan keindahan alam di puncak/air terjun, mengajarkan nilai kesabaran, pantang menyerah, dan kepuasan batin setelah mencapai tujuan. Keberhasilan menaklukkan medan yang sulit di lingkungan yang liar memberikan kepuasan dan kepercayaan diri yang mendalam.

    Berinteraksi langsung dengan hutan hujan Kalimantan, yang merupakan rumah bagi flora dan fauna yang mempesona, secara langsung menumbuhkan rasa kepedulian terhadap kelestarian alam.

    Mahasiswa AKUB mempraktikkan prinsip-prinsip “Leave No Trace” (tidak meninggalkan jejak) dan konservasi, menjadikan pendakian sebagai wujud kecintaan (respek) terhadap alam. Kegiatan ini bisa menjadi sarana bagi Mapala untuk melakukan pendataan sederhana (eksplorasi) kondisi lingkungan, jalur, atau potensi masalah konservasi di sekitar Air Terjun Terinting.

    AKUB- MAPALA (2025)

    Air Terjun Terinting dikenal dengan julukan “Negeri di Atas Awan” karena berada di ketinggian (400−600 mdpl). Mahasiswa dapat menikmati pemandangan hamparan awan, kabut, dan sunrise yang indah dari tebing air terjun, memberikan pengalaman estetika yang tak terlupakan.

    Jauh dari polusi kota, kegiatan ini memberikan kesempatan untuk menyegarkan pikiran dan menghirup udara yang bersih dan sejuk khas hutan primer. Berada di alam terbuka yang damai, dengan suara gemuruh air terjun, membantu mengurangi stres akademik dan rutinitas digital.

    Kesimpulannya adalah kegiatan ini bukan sekadar upaya untuk mengisi waktu luang atau menyediakan aktivitas fisik semata, melainkan memiliki makna yang lebih dalam. Pendakian ini merupakan wujud nyata dari pendidikan karakter dan kecintaan (respek) terhadap alam.

    Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan, mempraktikkan konservasi, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif terhadap kelestarian alam, yang sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keberlanjutan.

    *Paulinus Jang, S.E.,M.M, Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II.  

    Belajar Sambil Bekerja, Alasan Jesika Pilih San Agustin

    Jesika (Kiri), Wilda (Kanan) - Suasana wawancara. (2025)

    Duta, Pontianak | Dalam kegiatan wawancara yang dilakukan oleh reporter, Peronika Kristina Wilda, mahasiswi semester 3B Program Studi Akuntansi dan Keuangan Bisnis (AKUB) Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, Jesika, mahasiswi baru semester 1A, membagikan pengalamannya menjalani kehidupan perkuliahan di kampus tersebut.

    Hasil wawancara tersebut bahwa Jesika mengaku memilih Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (AKUB) karena sistem perkuliahannya yang fleksibel, memungkinkan mahasiswa untuk kuliah sambil bekerja.

    Ia merasa bahwa kuliah di sore hari memberinya kesempatan lebih luas untuk mengatur waktu antara belajar dan bekerja.

    “Kampus ini sangat menarik bagi saya, karena di Akademi Keuangan dan Perbankan di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo kita bisa kuliah sambil bekerja. Kuliahnya sore hari, jadi banyak peluang dan waktu bagi mahasiswa yang bekerja. Bagi saya, kuliah sore lebih menyenangkan daripada pagi hari karena tidak mengganggu fokus saat dosen memberikan materi,” ujar Jesika, (10/10/2025).

    Selain membicarakan alasan memilih kampus, Jesika juga mengungkapkan tantangan yang dihadapinya sebagai mahasiswa baru. Ia mengaku kesulitan dalam menghafal dan merasa gugup saat diminta berbicara di depan kelas.

    “Tantangan terbesar saya adalah saat dosen menyuruh menghafal atau maju ke depan untuk menjelaskan kembali materi. Saya agak pemalu, jadi kadang merasa gugup saat berbicara di depan banyak orang,” katanya dengan jujur.

    Meski demikian, Jesika tetap menikmati suasana belajar di kampus. Ia menuturkan bahwa ruang kelas menjadi tempat favoritnya karena memberikan kenyamanan dan suasana belajar yang mendukung.

    “Saya paling nyaman di ruang kelas. Tempatnya dingin dan tenang, jadi tidak mengganggu saat perkuliahan berlangsung. Di sana juga saya banyak dapat pengalaman, baik dari dosen maupun teman-teman. Teman-teman di San Agustin juga sangat baik dan mendukung,” tuturnya.

    Jesika menambahkan, suasana kampus ramah dan kondusif membuatnya semakin yakin telah memilih tempat yang tepat untuk mengembangkan potensi dirinya.

    “Saya merasa sangat nyaman berkuliah di San Agustin. Orang-orangnya baik dan saling mendukung, jadi saya merasa cocok untuk belajar dan mengembangkan bakat serta minat saya di sini,” pungkasnya.

    *Peronika Kristina Wilda, Mahasiswi Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II. (Sam).

    Suasana Nyaman, Dosen Aktif dan ini Ciri Khas Unika San Agustin

    Noviana (kiri), Rendi (Kanan) - Wawancara Persepsi Mahasiswa di UNIKA San Agustin.

    Duta, Pontianak | Sistem perkuliahan di Kampus Unika San Agustin Pontianak dinilai semakin baik oleh mahasiswa.

    Hal ini diungkapkan oleh Noviana Elsa (18), mahasiswa semester 3 Program Studi Kebidanan, saat ditemui oleh reporter Mahasiswa AKUB Semeseter 3.

    Menurut Noviana, sistem pembelajaran di kampusnya kini sudah mengikuti perkembangan teknologi.

    “Dosen-dosennya aktif dalam memberikan materi, dan metode pembelajarannya sudah mengikuti perkembangan teknologi. Sekarang banyak kelas yang menggunakan sistem hybrid, jadi mahasiswa bisa memilih hadir langsung atau daring,” ungkapnya, (10/10/2025).

    Ia juga menilai suasana kampus yang nyaman dan keterbukaan dosen dalam berdiskusi menjadi salah satu daya tarik utama dalam kegiatan perkuliahan.

    “Saya suka karena suasana kampusnya nyaman dan dosennya terbuka untuk diskusi. Selain itu, banyak kegiatan tambahan seperti seminar dan pelatihan kewirausahaan yang membantu kami menambah wawasan di luar kelas,” tambahnya.

    Meski demikian, Noviana tidak menampik adanya beberapa kendala dalam pelaksanaan perkuliahan.

    Ia menyebutkan bahwa jaringan internet yang kadang tidak stabil menjadi hambatan saat mengikuti kuliah daring.

    “Selain itu, beberapa mata kuliah masih menggunakan metode lama yang kurang efektif,” ujarnya.

    Terkait fasilitas kampus, mayoritas mahasiswa, menurutnya, merasa cukup puas. “Fasilitas seperti ruang kelas, laboratorium, dan perpustakaan sudah cukup lengkap. Tapi mungkin akan lebih baik kalau ada ruang belajar bersama yang lebih luas,” katanya.

    Ke depan, Noviana berharap Unika San Agustin dapat menambah kegiatan praktik langsung serta memperluas kerja sama dengan dunia industri.

    “Saya rasa perlu lebih banyak praktik langsung dan kolaborasi dengan dunia industri agar mahasiswa lebih siap menghadapi dunia kerja,” ujarnya.

    Ia juga berharap kampus terus berupaya meningkatkan kualitas dosen dan memperluas jejaring kerja sama.

    “Harapan saya, kampus terus meningkatkan kualitas dosen dan memperluas kerja sama dengan perusahaan atau lembaga lain supaya lulusan Kampus lebih kompetitif,” tutupnya.

    Dari hasil wawancara tersebut dapat Noviana melihat bahwa perkuliahan di Unika San Agustin berjalan dengan baik dan didukung oleh tenaga pengajar yang kompeten serta fasilitas yang memadai.

    Namun, peningkatan dalam aspek pembelajaran praktis dan pemanfaatan teknologi masih diperlukan agar kualitas pendidikan di kampus ini semakin optimal.

    *Rendi – Mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II. (Sam).

    Dari Kampus, Menata Mimpi Finansial

    Emi (Kanan), Stella (kiri) - Lokasi Kampus AKUB - San Agustin, Pontianak.

    Duta, Pontianak | Semangat dan kebanggaan terpancar dari wajah para mahasiswa baru Akademi Keuangan dan Perbankan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Pontianak.

    Mereka memulai perjalanan akademik dengan tekad kuat untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan di bidang keuangan sebagai bekal menuju masa depan yang gemilang.

    Salah satu mahasiswa baru, Stela, mahasiswi semester 1 jurusan Keuangan dan Perbankan, mengungkapkan rasa bangganya menjadi bagian dari kampus yang dikenal dengan suasana akademik yang hangat dan disiplin tinggi tersebut.

    “Saya sangat bangga bisa menjadi bagian dari Kampus Santo Agustinus Hippo Pontianak. Sejak pertama kali datang, saya sudah merasakan suasana yang positif. Dosen dan senior di sini sangat ramah dan membantu mahasiswa baru untuk beradaptasi,” ujar Stela (11/10/2025).

    Menurutnya, alasan utama memilih jurusan Keuangan dan Perbankan adalah karena ketertarikannya terhadap dunia perbankan sejak duduk di bangku sekolah menengah.

    “Saya ingin memahami cara kerja lembaga keuangan dan berharap bisa berkarier di bank atau lembaga keuangan lainnya setelah lulus nanti,” tambahnya.

    Dalam proses pengambilan keputusan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dukungan keluarga menjadi faktor penting.

    “Orang tua saya sangat mendukung, terutama bapak yang selalu memotivasi saya untuk terus belajar dan tidak menyerah,” tuturnya.

    Baginya, dukungan orang tua memberikan semangat dan rasa percaya diri untuk terus berjuang meraih kesuksesan. Ia meyakini bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, tetapi melalui kerja keras, konsistensi, serta sikap pantang menyerah.

    “Menjadi sukses memang tidak mudah, tapi kita harus berani mencoba hal-hal baru dan tidak takut gagal. Dari kegagalanlah kita belajar menjadi lebih baik,” katanya.

    Selain aktif mengikuti perkuliahan, Stela juga berusaha memperluas wawasannya melalui berbagai sumber tambahan seperti internet, media sosial pendidikan, dan perpustakaan kampus. Menurutnya, pengetahuan tidak hanya diperoleh dari ruang kelas, tetapi juga dari berbagai kegiatan di luar perkuliahan.

    Mengenai proses adaptasi di lingkungan kampus, Stela mengaku mulai merasa nyaman dan terbiasa dengan suasana barunya.

    “Saya beradaptasi dengan ikut bersosialisasi dan mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan kampus. Sekarang rasanya menyenangkan karena sudah mulai mengenal banyak teman dan lebih memahami lingkungan kampus,” pungkas Stela.

    Perjalanan Stela dan mahasiswa baru lainnya di dunia perkuliahan baru saja dimulai. Namun ia semangat, optimis dan rasa bangga yang Stella miliki menjadi modal berharga untuk menapaki masa depan di dunia finansial.

    Menurutnya, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Pontianak tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu, tetapi juga rumah bagi generasi muda untuk tumbuh, belajar, dan menggapai cita-cita.

    *Emi, Mahasiswi Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II. (Sam).

    Latar Belakang Bukan Halangan untuk Berprestasi

    Megel Steven berhasil masuk dalam 6 besar, dan akhirnya berhasil meraih juara 3 ( Pendamping Ijang Gawai Dayak Kabupaten Melawi 2025 ) - AKUB

    Duta, Pontianak | Dalam dunia pendidikan tinggi, sering kali muncul stigma tak tertulis bahwa kesempatan emas dan panggung prestasi hanya dimiliki oleh mereka yang berasal dari pusat kota atau institusi ternama. Namun, narasi ini harus dirombak.

    Pernyataan bahwa “Berasal dari daerah bukan halangan untuk berprestasi menunjukkan bakat sebagai seorang mahasiswa” adalah sebuah seruan untuk mengakui kekuatan laten yang dibawa oleh setiap individu, terlepas dari daerah asal mereka.

    Mahasiswa yang datang dari berbagai daerah membawa serta kekayaan yang tak ternilai: perspektif budaya yang unik, solusi kreatif yang terasah oleh keterbatasan, dan semangat juang yang ditempa oleh kerasnya tantangan di daerah asal.

    Dokumentasi, Megel Steven berhasil masuk dalam 6 besar, dan akhirnya berhasil meraih juara 3 ( Pendamping Ijang Gawai Dayak Kabupaten Melawi 2025 )

    Mereka bukan sekadar “pendatang”; mereka adalah duta yang membawa perspektif baru ke kampus.

    Bakat yang sejati—entah itu kecerdasan analitis, kemampuan kepemimpinan, atau keahlian artistik—tidak pernah peduli di mana ia pertama kali ditemukan.

    Bakat itu adalah universal. Seorang mahasiswa dari desa terpencil bisa memiliki pemahaman mendalam tentang kearifan lokal yang mampu menginspirasi proyek konservasi tingkat nasional.

    Seorang yang dibesarkan jauh dari fasilitas canggih mungkin mengembangkan inovasi sederhana namun brilian yang memecahkan masalah komunitas.

    Dokumentasi Megel Steven berhasil masuk dalam 6 besar, dan akhirnya berhasil meraih juara 3 ( Pendamping Ijang Gawai Dayak Kabupaten Melawi 2025)

    Justru, latar belakang yang dianggap “terbatas” seringkali menjadi katalis terkuat untuk berprestasi. Mahasiswa dari daerah mungkin memiliki motivasi ekstra untuk membuktikan diri, mengubah kerinduan pada keluarga menjadi fokus belajar, dan menggunakan kesempatan yang ada dengan maksimal karena mereka tahu betapa berharganya setiap detik waktu di bangku kuliah.

    Mereka telah melewati batas geografis; membuktikan diri di kancah akademik, seni, atau olahraga kampus hanyalah langkah logis berikutnya.

    Kampus adalah tempat peleburan ide. Ia tidak meminta akreditasi asal daerah, tetapi menuntut dedikasi, kerja keras, dan orisinalitas. Setiap mahasiswa, terlepas dari latar belakang, memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk bersinar.

    Jadi, buang keraguan itu. Jadikan akar daerah Anda sebagai pondasi yang kokoh, bukan sebagai belenggu. Tunjukkan pada dunia bahwa bakat dan prestasi sejati tidak dibatasi oleh garis imajiner di peta, melainkan oleh ketekunan dan keberanian untuk melangkah maju.

    Di bulan Agustus yang lalu Mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan Pontianak yang dikenal dengan AKUB Pontianak cukup berbangga atas prestasi yang diraih oleh salah satu mahasiswanya yang berhasil meraih juara 3 (Pendamping 2) dalam ajang pemilihan Ijang dan Inau Gawai Dayak Kabupaten Melawi tahun 2025.

    Mahasiswa Semester V AKUB yang bernama Megel Steven, dia adalah mahasiswa berasal dari daerah, awalnya mencoba untuk berpartisipasi dalam ajang ini berbekal pengalaman akademik dan yang lainnya dia percaya diri dalam mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari karantina, latihan dan lainnya.

    Syukur kepada Tuhan setelah berjuang mengikuti setiap prosesnya, Megel Steven berhasil masuk dalam 6 besar, dan akhirnya berhasil meraih juara 3 ( Pendamping Ijang Gawai Dayak Kabupaten Melawi 2025 ).

    Atas prestasi ini tentunya memberi kebanggaan baik untuk individu Megel Steven sendiri maupun untuk Kampus AKUB Pontianak. Pihak kampus mengucapkan selamat dan menyampaikan rasa bangganya kepada Megel Steven atas prestasinya.

    Nah dari semunya itu maka dapat disimpulkan bahwa “Daerah adalah identitas, bukan batasan.” Bukan halangan untuk meraih prestasi. Sekarang saatnya menunjukkan siapa Anda.

    *Paulinus Jang, S.E.,M.M, Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II.  

    Ilmu Pengetahuan Tidak Monoton Hanya Didapat di Bangku Kuliah

    Kegiatan Mahasiswa, Dokumentasi Kemahasiswaan AKUB, San Agustin.

    Duta, Pontianak | Universitas atau kampus memang merupakan tempat mendapatkan ilmu pengetahuan, tapi walaupun institusi pendidikan formal seperti universitas dan perguruan tinggi memiliki peran krusial dan tak tergantikan, mereka bukanlah satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan hanya satu komponen—meskipun signifikan—dari sebuah ekosistem pembelajaran yang jauh lebih luas.

    Menyandarkan seluruh proses pembelajaran hanya pada “bangku kuliah” berisiko menciptakan pemahaman yang teoretis dan terisolasi.

    Sebaliknya, memanfaatkan sumber pengetahuan “luar kampus” memungkinkan individu untuk mengintegrasikan teori dengan praktik, memperluas wawasan sosial dan profesional, serta mengembangkan keterampilan yang lebih relevan dengan tuntutan dunia nyata yang terus berubah.

    Pembelajaran di lingkungan formal seperti kampus seringkali memiliki batasan inheren yang perlu diimbangi dengan pengalaman luar.

    Kurikulum akademik cenderung berfokus pada dasar-dasar teoretis dan penelitian akademis. Meskipun penting, fokus ini kadang mengesampingkan nuansa dan kompleksitas aplikasi praktis di lapangan.

    Kegiatan LIKE IT (Literasi Keuangan Indonesia Terdepan) oleh Bank Indonesia

    Kampus adalah lingkungan yang terstruktur dan prediktif. Hal ini kontras dengan dunia profesional yang sering kali ambigu, cepat berubah, dan penuh ketidakpastian. Keterampilan memecahkan masalah di bawah tekanan nyata sulit diajarkan hanya melalui studi kasus di kelas.

    Pengetahuan dan pengalaman seorang dosen, meskipun mendalam, tetap terbatas pada bidang spesifik dan pengalaman kerjanya.

    Dunia luar menawarkan akses tak terbatas kepada ribuan praktisi dan ahli di berbagai bidang. Perubahan di dunia industri dan teknologi sering kali jauh lebih cepat daripada proses peninjauan dan pembaruan kurikulum akademik.

    Dokumentasi Kegiatan LIKE IT (Literasi Keuangan Indonesia Terdepan) oleh Bank Indonesia

    Baru-baru ini Kampus Akademi Keuangan dan Perbankan yang familiar dikenal dengan AKUB melalui bagian kemahasiswaan menugaskan beberapa mahasiswa untuk mengikuti kegiatan permbelajaran di luar kampus yang di selenggarakan oleh Bank Indonesia, kegiatan ini dinamakan  LIKE IT yaitu Literasi Keuangan Indonesia Terdepan.

    Adapun Tujuan utama kegiatan LIKE IT (Literasi Keuangan Indonesia Terdepan) oleh Bank Indonesia dan mitranya adalah untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di masyarakat, terutama generasi muda, agar mereka dapat menjadi investor ritel yang terinformasi, cakap secara finansial, dan dapat membiayai pembangunan nasional melalui investasi yang terukur.

    Kegiatan Memberikan edukasi dan informasi yang komprehensif tentang investasi dan pengelolaan keuangan agar masyarakat memiliki pemahaman yang baik.

    Mengubah investasi dari sekadar minat menjadi kebiasaan dan life skill bagi generasi muda untuk bekal masa depan, memperluas jumlah investor ritel di pasar keuangan domestik yang berkontribusi pada pembiayaan pembangunan.

    Dengan banyaknya investor yang cerdas dan terencana, ekonomi Indonesia diharapkan lebih kuat dan maju.

    Kegiatan ini juga membantu generasi muda, khususnya pelaku usaha, dan bahkan mahasiswa agar dapat mengelola keuangan dengan baik dan membuat keputusan investasi yang terencana dan terukur serta menyiapkan generasi muda agar mampu membuat keputusan keuangan yang baik untuk merencanakan masa depan yang lebih cerah.

    Perwakilan Mahasiswa AKUB dalam acara LIKE IT (Literasi Keuangan Indonesia Terdepan) oleh Bank Indonesia

    Nah, kesimpulannya ilmu pengetahuan yang didapat dari kampus memberikan fondasi teoretis dan kredibilitas, sementara ilmu pengetahuan yang didapat dari luar kampus menyediakan relevansi praktis, keterampilan soft skill, dan kemampuan adaptasi.

    Seseorang yang menggabungkan keduanya—rajin di kelas namun proaktif dalam mencari pengalaman di luar—akan menjadi individu yang lebih utuh, kompeten, dan siap menghadapi kompleksitas dan tantangan di dunia nyata.

    Ilmu adalah sebuah perjalanan tanpa batas, bukan hanya sebuah destinasi yang berujung di wisuda.

    *Paulinus Jang, S.E.,M.M, Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II.  

    TERBARU

    TERPOPULER