Friday, June 5, 2026
More
    Home Blog Page 30

    Dari Kesan Pertama Jadi Rasa Nyaman

    Nesa Sepriana (kiri), Lira Virna (kiri), lokasi di Unika San Agustin Kampus II, (2025).

    Duta, Pontianak | Suasana ramah dan lingkungan yang nyaman menjadi kesan pertama yang dirasakan oleh para mahasiswa baru di Kampus II Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Pontianak.

    Hal ini terungkap dari hasil wawancara yang dilakukan oleh Nesa Sepriana, mahasiswi Program Studi Keuangan dan Perbankan semester III B, dengan salah satu mahasiswa baru, Lira Virna (19 tahun).

    Dalam wawancara yang berlangsung di Kampus II Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Pontianak, Lira mengungkapkan rasa senangnya menjadi bagian dari lingkungan akademik yang menurutnya sangat mendukung proses belajar.

    “Selama menjadi mahasiswa baru di kampus ini, saya merasa sangat senang karena suasananya ramah dan mendukung. Lingkungannya nyaman dan bersih, membuat saya betah untuk belajar dan beraktivitas,” ujar Lira, (9/10/2025).

    Lira juga menuturkan bahwa para dosen di kampus ini memiliki sikap terbuka dan sabar dalam membimbing mahasiswa.

    “Dosen-dosennya menjelaskan materi dengan sabar dan mudah dipahami, bahkan mau membantu jika ada mahasiswa yang belum mengerti,” tambah Lira.

    Tak hanya itu, Lira juga merasa beruntung memiliki teman-teman sekelas yang kompak dan saling mendukung.

    Suasana kelas dengan pertemanan akrab, membuat proses adaptasi sebagai mahasiswa baru menjadi lebih mudah.

    “Teman-teman sekelas juga kompak dan saling mendukung, jadi saya cepat beradaptasi,” ujarnya.

    Selain fokus pada kegiatan perkuliahan, Lira mengaku mulai tertarik mengikuti organisasi kampus.

    Lira menilai kegiatan kemahasiswaan bisa memberikan banyak pengalaman baru serta menambah wawasan dan keterampilan di luar ruang kelas.

    Wawancara yang dilakukan penulis ini adalah bagian dari liputan seputar kehidupan kampus untuk tujuan menggali kesan dan pandangan mahasiswa terhadap lingkungan akademik dan sosial di kampus.

    Menurut Lira, dengan suasana yang bersahabat, tenaga pengajar yang peduli, serta lingkungan yang mendukung, Kampus II Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Pontianak semakin menunjukkan bahwa kampus tidak sekedar mengajar, tetapi mampu menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi para mahasiswa.

    *Nesa Sepriana, Mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II. (Sam).

    Kreativitas Mahasiswa AKUB dan Gantungan Kunci

    Tampak sedang wawancara bersama anggota project Grha Keychain (10/10/2025 – foto: Enjelika)

    Duta, Pontianak | Jumat (10 Oktober 2025) — Kreativitas mahasiswa kembali menjadi sorotan di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (AKUB) Kampus II Pontianak.

    Sekelompok mahasiswa kelas III C berhasil mengembangkan sebuah usaha kecil bernama “Mercendis Grha Keychain”, yang menghadirkan produk gantungan kunci bertema kampus AKUB sebagai simbol kebanggaan dan kenangan bagi sivitas akademika.

    Kegiatan wawancara dengan para anggota perusahaan mahasiswa ini berlangsung di lingkungan kampus.

    Mereka mengaku bahwa ide usaha ini lahir dari keinginan sederhana untuk menyalurkan kreativitas sekaligus mempererat kebersamaan di antara mahasiswa, bertepat dengan mata kuliah Manajemen Pemasaran pula.

    Wawancara bersama Windy anggota project Grha Keychain (10/10/2025 – foto: Enjelika)

    Dalam mata kuliah tersebut, ditekankan bahwa “teori tidak lengkap jika belum dipraktikkan” oleh karenanya, mata Kuliah Pemasaran tersebut mahasiswa diajak untuk membuat project sederhana dan menghasilkan.

    Disini dilatih untuk negosiasi, koodinasi segaligus mempraktikkan taktik dalam dunia pemasaran.

    “Usaha Grha Keychain lebih berfokus pada gantungan kunci bertema kampus AKUB Pontianak. Usaha ini baru kami bangun sekitar dua minggu lalu, dan kami ingin menjadikannya sebagai simbol kebanggaan serta kenangan bagi mahasiswa AKUB,” ujar Windy (19), salah satu anggota kelompok.

    Wawancara bersama Gustin anggota project Grha Keychain (10/10/2025 – foto: Enjelika)

    Sementara itu, Roy (24) menjelaskan alasan di balik pemilihan produk tersebut.

    “Melihat situasi di kampus, banyak kelompok lain yang membangun usaha dengan produk serupa. Kami akhirnya memilih gantungan kunci karena sifatnya yang serbaguna, bisa digunakan lama, dan mudah dibawa ke mana saja,” ungkapnya.

    Bagi Gustin (19), ide membuat gantungan kunci ini bukan sekadar bisnis, melainkan memiliki nilai sentimental.

    “Seperti yang kita tahu, AKUB akan berganti menjadi Fakultas Bisnis atau menjadi apa kedepan. Namun, kami tidak tahu apakah logo AKUB masih akan digunakan ke depannya, jadi kami ingin membuat sesuatu yang bisa menjadi kenangan terakhir bagi mahasiswa AKUB,” jelasnya.

    Kelompok kecil yang beranggotakan delapan mahasiswa ini juga telah menyiapkan strategi sederhana untuk pengembangan usaha. Menurut Roy, target penjualan utama mereka adalah mahasiswa baru.

    Tampak foto bersama anggota project Grha Keychain (10/10/2025 – foto: Enjelika)

    “Mahasiswa baru menjadi target kami agar mereka lebih mengenal AKUB dan merasa memiliki kebanggaan terhadap kampusnya,” tuturnya.

    Dari sisi permodalan, para anggota sepakat bahwa keuntungan bukanlah tujuan utama.

    “Modal awal kami gunakan seefisien mungkin. Keuntungan bukan tujuan utama, yang terpenting adalah bagaimana kami dapat mempraktikkan ilmu kewirausahaan dan menciptakan sesuatu yang bermakna,” tambah Gustin.

    Dalam hal promosi, Windy menuturkan bahwa mereka mengandalkan media sosial dan promosi langsung di lingkungan kampus.

    “Kami menggunakan platform seperti Instagram dan WhatsApp, serta promosi tatap muka di area kampus untuk memperkenalkan produk ini,” jelasnya.

    Melihat respons positif dari rekan-rekan mahasiswa, tim Grha Keychain berencana untuk terus berinovasi.

    “Melihat minat mahasiswa terhadap produk ini, kami berencana menambah desain baru dan meningkatkan kualitas agar lebih menarik dan tahan lama,” ujar Roy.

    Melalui Mercendis Grha Keychain, semangat kreativitas dan kebersamaan mahasiswa AKUB Pontianak menemukan bentuknya dalam karya sederhana namun sarat makna—sebuah simbol cinta terhadap almamater dan bukti nyata bahwa ide kecil pun dapat menumbuhkan rasa bangga dan solidaritas di antara mahasiswa.

    * Enjelika, Mahasiswi Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II. (Sam).

    Maksum, Mengajar dengan Cinta

    Maksum tengah diwawancarai Lira, (2025)

    Duta, Pontianak | Dengan senyum yang ramah dan tutur yang tenang, Maksum, S.E., M.M., dosen senior di Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB) Pontianak, menceritakan perjalanan panjangnya di dunia pendidikan.

    Di usianya yang kini menginjak 60 tahun, semangatnya untuk mendidik generasi muda tidak pernah surut.

    “Secara umum di AKUB, Bapak lihat semangat belajarnya cukup lumayan bagus, karena didorong oleh niat baik mahasiswa sendiri” ujar Maksum (60) saat wawancarai di kampus, Jumat(10/10/25).

    Baginya, perubahan generasi bukanlah hambatan, melainkan tantangan bagi pendidik untuk terus beradaptasi.

    “Mahasiswa sekarang lebih cepat tanggap karena teknologi, tapi mereka tetap perlu diarahkan agar semangatnya tetap terjaga,” tambahnya.

    Menjadi dosen bukan Keputusan tiba-tiba. Sejak muda, Maksum sudah merasa terpanggil untuk menjadi seorang pengajar.

    “Bapak memang dari dulu sebagai pengajar. Latar belakangnya dulu sekolah di keguruan. Sebelum jadi dosen, saya sudah pernah mengajar di SMP dan SMA, mengajar matematika dan komputer,” kisahnya.

    Karirnya di dunia pendidikan dimulai dari ruang kelas kecil hingga akhirnya mengabdi di dunia perguruan tinggi. Ia melanjutkan ke jenjang S2, dan sejak itu mengabdikan diri di AKUB.

    “Sambil mengembangkan diri, saya lanjutkan ke S2. Dunia perkuliahan ini tidak jauh berbeda, hanya cakup ilmunya lebih luas,” ungkapnya.

    Dalam perjalanannya, sosok Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, toko pendidikan Kalimantan Barat, menjadi salah satu inspirasi utamanya.

    “Beliau toko pendidikan yang sangat berpengaruh. Kalau di tingkat nasional, dulu banyak mentri Pendidikan  yang luar biasa di era Suharto, meskipun belakangan ini fokus pada pendidikan berkurang,” ucapnya dengan nada penuh harap.

    Selama bertahun-tahun mengajar, banyak pengalaman yang ia lalui. Namun, salah satu hal yang paling berkesan baginya adalah ketika menghadapi mahasiswa yang kurang pada pelajaran berhitung.

    “Semua pengalaman mengajar saya nyatakan berkesan. Tapi yang paling berkesan ketrika mengajar mahasiswa yang kemampuan berhitungnya masih lemah. Itu jadi tantangan tersendiri,” katanya.

    Menurutnya kualitas dasar seperti matematika menjadi fondasi penting dalam pendidikan. “Karena tidak ada ujian nasional, banyak yang jadi agak kendor belajarnya,” ujarnya.

    Dalam kesehariannya, Maksum menyiapkan materi kuliah di rumah. Di sanalah ia merasa paling fokus dan tenang.

    “Materi-materi saya sebenarnya sudah disusun beberapa tahun lalu. karena saya mengajar matematika dan statistika, prinsipnya materi itu tidak berubah,” Jelasnya.

    Ia percaya bahwa seorang dosen harus memperbaharui cara mengajar agar relevan dengan perkembangan zaman.

    Ketertarikannya pada bidang keuangan dan perbankan bermula dari kecintaannya pada angka.

    “Dulu saya dari bidang hitung-hitungan. Waktu itu saya juga mengajar matematika, kemudian ada jurusan Keuangan dan Perbankan, jadi saya melanjutkan S2 dibidang keuangan,” tuturnya.

    Menurutnya, kemampuan berhitung yang kuat sangat penting dalam dunia keuangan. “Kalau tidak paham hitungan, susah untuk menjelaskan secara detail agar mahasiswa bisa paham,” tegasnya.

    Bapak Maksum menilai jurusan Keuangan dan Perbankan memiliki prospek cerah di masa depan. “Jurusan ini termasuk langka, jadi peluang kerja masih sangat terbuka, terutama di Lembaga-lembaga keuangan seperti koprasi dan CU,” jelasnya.

    Ia berpesan agar mahasiswa tidak bergantung sepenuhnya pada dosen.

    “Mahasiswa harus banyak membaca dan menambah pengetahuan sendiri. Kalian harus kreatif menambah keahlian lewat buku, media sosial, dan internet,” ujarnya menutup pembicaraan dengan senyum.

    Dengan pengalaman dan dedikasi yang telah ia curahkan selama puluhan tahun, Maksum menjadi salah satu figure penting di lingkungan Akademik Keuangan dan Perbankan (AKUB).

    Komitmennya dalam dunia pendidikan membuktikan bahwa mengajar bukan sekedar profesi, melainkan panggilan hati yang berkompeten dan berintergritas di bidang keuangan dan perbankan.

    *Lira Virna adalah Mahasiswa Akademik Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pntianak Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak. (Sam).

    Tahun Yubelium adalah Momen Pembaruan Iman dan Solidaritas Sosial

    Nevty Inggrid Rai (kanan), Dendak (Kiri) Mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II.

    Duta, Pontianak | Kampus II Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kamis (9/10/2025) — Tahun Yubelium menjadi momen istimewa bagi umat Katolik untuk memperbarui kehidupan rohani, memperdalam relasi dengan Tuhan, dan memperkuat semangat solidaritas sosial di tengah masyarakat.

    Hal ini disampaikan oleh Dendak, Ketua Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK), dalam wawancara bersama Nevty Inggrid Rai di Kampus II Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.

    Menurut Dendak, Tahun Yubelium merupakan masa rahmat khusus yang ditetapkan oleh Gereja Katolik untuk mengajak umat beriman memperbaharui hidup rohani, bertobat, serta mengalami kasih dan belas kasih Allah secara lebih mendalam.

    Ia menjelaskan bahwa tradisi Yubelium berakar pada Kitab Imamat 25 dalam Perjanjian Lama, di mana setiap 50 tahun sekali dirayakan sebagai tahun kebebasan, pengampunan hutang, pembebasan budak, dan pemulihan tanah warisan.

    “Di dalam Gereja Katolik, Tahun Yubelium telah dirayakan sejak tahun 1300 dan biasanya diadakan setiap 25 tahun, atau secara khusus jika ditetapkan oleh Paus atau Uskup,” jelas Dendak.

    Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa makna spiritual Tahun Yubelium mencakup beberapa hal penting, antara lain pertobatan dan pengampunan dosa, pembebasan rohani dari beban dan luka batin, pengalaman akan belas kasih Allah, serta pembaruan hidup iman.

    Melalui sakramen tobat dan kehidupan yang lebih akrab dengan Kristus, umat diajak untuk kembali kepada Tuhan dan hidup dalam kasih.

    “Tahun Yubelium adalah waktu untuk melepas keterikatan pada dosa dan beban hidup, serta mengalami kerahiman Tuhan melalui indulgensi dan pengampunan,” tambahnya.

    Dendak menegaskan, pesan utama dari perayaan Tahun Yubelium adalah ajakan untuk kembali kepada Allah yang penuh belas kasih dan pengampunan.

    Ia berharap umat Katolik dapat menjadikan momen ini sebagai kesempatan untuk memperdalam iman dan memperkuat kepedulian terhadap sesama, khususnya mereka yang lemah dan tertindas.

    Sebagai penutup, ia menekankan bahwa Tahun Yubelium bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan waktu pembaruan iman dan tindakan nyata kasih dalam kehidupan sehari-hari.

    “Melalui Yubelium, kita diajak untuk bersyukur, bertobat, dan mempraktikkan cinta kasih dalam kehidupan nyata,” pungkas Dendak.

    * Nevty Inggrid Rai, Mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II. (Sam). 

    UMKM The Express, Inovasi Kuliner Mahasiswa AKUB Pontianak Usung Konsep Cepat dan Sehat

    Kelompok UMKM The Express - 2025 (AKUB)

    Duta, Pontianak | Semangat wirausaha di kalangan mahasiswa terus tumbuh, salah satunya tampak dari lahirnya The Express, sebuah usaha kuliner yang menawarkan menu nasi praktis dan salad buah segar dengan harga terjangkau.

    Dalam wawancara pada 12 Oktober 2025, Natalia Mila (20), salah satu anggota tim The Express, menjelaskan bahwa usaha ini berawal dari minat sekelompok mahasiswa di bidang kuliner.

    Mereka kemudian membentuk tim dengan pembagian tugas yang jelas, mulai dari produksi, promosi, hingga keuangan.

    Logo The Express. Usaha Praktik kewirausahan Digital dan Manajemen Pemasaran, Kelas III A. (2025)

    “The Express adalah usaha kuliner yang bergerak di bidang makanan nasi dan salad buah. Produk utama kami adalah berbagai menu nasi praktis serta salad buah segar dengan rasa enak dan harga terjangkau,” ujar Mila, (12/10).

    Usaha ini resmi berdiri pada 16 September 2025.

    Jessi tengah wawancarai salah satu anggota The Express, (2025)

    Ide bisnisnya muncul beberapa bulan sebelumnya, saat para pendirinya melihat peluang besar dari tren makanan sehat dan praktis di kalangan anak muda, bertepatan dengan Mata Kuliah Manajemen Pemasaran dan Kewirausahaan Digital.

    “Kami melihat banyak anak muda sekarang lebih suka makanan yang cepat disajikan, tapi tetap sehat. Dari situ kami terpikir untuk menggabungkan konsep kecepatan dan kesehatan dalam satu merek, yaitu The Express,” tambahnya.

    Tim The Express tengah antar pesanan ke Konsumen diluar kampus, (2025)

    Nama “The Express” sendiri dipilih karena mencerminkan layanan yang cepat, praktis, dan mudah diakses oleh pelanggan.

    Usaha ini berlokasi di Pontianak dan dijalankan sepenuhnya secara online, dengan fokus promosi serta penjualan melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok.

    Mila juga menceritakan proses awal berdirinya The Express.

    Tim mereka memulai dengan membuat konsep menu, melakukan berbagai uji resep nasi dan salad buah, hingga menyiapkan peralatan produksi di rumah.

    “Kami aktif membagikan konten promosi menarik di media sosial agar The Express semakin dikenal masyarakat, terutama kalangan muda,” ungkapnya.

    Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, The Express menjadi contoh nyata bagaimana mahasiswa dapat mengubah ide sederhana menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.

    *Jessi, Mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, kampus II. (Sam). 

    Sedap Betul, Bermula dari Kampus ke Pasar Digital Pontianak

    Seselia Sesi tengah wawancarai Carla (3 A), 2025.

    Duta, Pontianak | Industri kuliner di Pontianak kembali mendapat warna baru dengan hadirnya UMKM Sedap Betul, sebuah usaha rintisan yang bergerak di bidang makanan ringan atau cemilan.

    Didirikan pada 16 September 2025, UMKM ini berlokasi di Jalan Merdeka, Pontianak, dan dijalankan oleh sekelompok anak muda kreatif yang memiliki minat kuat di dunia kuliner, sekaligus juga project mata kuliah Kewirausahaan Digital dan Manajemen Pemasaran semester 3 Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II.

    Sedap Betul dipimpin oleh Aldri Sadewa selaku ketua project.

    Logo Sedap Betul, (UMKM) Mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak. (2025)

    Salah satu anggota tim, Carla Septriana (19 tahun), menjelaskan bahwa ide pendirian usaha ini muncul dari kebutuhan masyarakat, khususnya mahasiswa dan warga sekitar kampus, akan cemilan yang praktis, enak, dan terjangkau.

    “Kami melihat banyak mahasiswa dan pekerja yang membutuhkan makanan ringan yang bisa dinikmati di sela-sela kesibukan. Dari situ muncul gagasan untuk menghadirkan produk yang tidak hanya lezat, tetapi juga mudah diakses,” ujar Carla saat diwawancarai di Asrama Katarina, Kamis (9/10/2025).

    UMKM Sedap Betul menawarkan beragam produk unggulan yang dikembangkan dengan memperhatikan cita rasa dan kualitas bahan baku.

    Sampel Konsumen yang memesan produk dari UMKM Sedap Betul, (2025).

    Tiga produk andalannya adalah Cireng Isi Pedas dengan tekstur renyah dan rasa gurih, Roti Fla Coklat yang lembut dengan isian manis yang lumer di mulut, serta Lumpia Pisang Coklat yang memadukan sensasi manis dan garing di setiap gigitan.

    Dalam pengembangan pasar, Sedap Betul menargetkan remaja, mahasiswa, dan keluarga muda sebagai segmen utama.

    Sampel Konsumen yang memesan produk dari UMKM Sedap Betul, (2025).

    Selain itu, kalangan pekerja kantoran dan pelajar juga menjadi sasaran karena kebutuhan mereka akan cemilan cepat saji yang dapat menemani aktivitas sehari-hari.

    Menurut Carla, fokus perusahaan pada produk makanan ringan dilatarbelakangi oleh tren konsumsi masyarakat yang semakin meningkat terhadap cemilan praktis.

    “Cemilan bisa dinikmati kapan saja dan di mana saja. Permintaan yang terus tumbuh ini menjadi peluang besar untuk inovasi di sektor kuliner lokal,” kata Carla.

    UMKM Sedap Betul juga aktif memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk promosi dan penjualan produk.

    Strategi digital ini dinilai efektif untuk menjangkau pasar yang lebih luas, terutama di kalangan anak muda yang akrab dengan dunia daring.

    Adapun visi perusahaan ini adalah “menjadi usaha kuliner cemilan yang enak, berkualitas, dan mudah dijangkau secara online.”

    Sementara misi yang diusung meliputi: Menyediakan cemilan dengan rasa enak dan harga terjangkau. Memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi dan penjualan utama. Menjaga kualitas produk agar tetap higienis dan konsisten. Memberikan pelayanan cepat dan ramah kepada pelanggan.

    Dengan semangat wirausaha dan kreativitas generasi muda, UMKM Sedap Betul diharapkan mampu menjadi contoh positif bagi pelaku usaha kuliner di Pontianak.

    Usaha ini tidak hanya menunjukkan potensi bisnis kuliner lokal, tetapi juga menggambarkan peran penting inovasi digital dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif di kalangan mahasiswa.

    *Seselia Sesi, Mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II. (Sam). 

    The Express, Rasa dan Waktu dalam Satu Genggaman

    Santa (Kanan), Fero (Kiri) - momen wawancara. Lokasi: San Agustin, Kampus II Pontianak. 2025.

    Duta, Pontianak | Di tengah padatnya jadwal kuliah dan rutinitas kampus yang tiada henti, sebagian mahasiswa mungkin lebih memilih menghabiskan waktu untuk belajar atau beristirahat.

    Namun, bagi sekelompok mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB) Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, kesibukan bukanlah alasan untuk berhenti berkreasi. Ini dimulai dari Mata Kuliah Kewirausahaan Digital dan Manajemen Pemasaran yang ‘memantik’ semangat dan kerja keras mereka.

    Logo The Express. Usaha Praktik Kewirausahan Digital dan Manajemen Pemasaran, Kelas III A. (2025)

    Alhasil, lahirlah sebuah usaha kuliner yang kini ramai diperbincangkan di lingkungan kampus — The Express.

    Bisnis ini resmi berdiri pada 16 September 2025, diprakarsai oleh sekelompok mahasiswa muda yang ingin menghadirkan solusi praktis untuk kebutuhan makan di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum.

    Salah satu anggota tim, Santa Aprilia (20), menceritakan kisah di balik berdirinya usaha ini saat ditemui pada Sabtu, 11 Oktober 2025.

    Tim The Express tengah mengolah pesanan. (2025)

    “Awalnya kami hanya ingin membuat makanan cepat saji yang enak dan bisa diantar langsung ke pelanggan. Dari situ muncul ide The Express — pengiriman cepat untuk berbagai makanan yang kami produksi sendiri,” ungkap Santa, (11/10/2025).

    Sejak awal, The Express hadir dengan dua menu utama: rice bowl dan nasi kuning.

    Dua hidangan ini dipilih karena mudah dibuat, disukai banyak orang, dan cocok untuk semua kalangan.

    Namun seiring berjalannya waktu, tim The Express mulai berinovasi dengan menghadirkan beragam menu baru — dari lauk-pauk khas rumahan hingga variasi modern yang mengikuti tren kuliner kekinian.

    “Kami ingin pelanggan punya banyak pilihan. Jadi, setiap minggu kami melakukan evaluasi dan mencoba menambahkan varian baru sesuai selera pasar,” jelas Santa.

    Target pasar mereka pun cukup luas — mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga orang tua.

    Meski berbasis di Siantan Ulu, The Express juga aktif berjualan di kampus Santo Agustinus Hippo dan berbagai tempat ramai di Pontianak.

    Dengan memanfaatkan media sosial seperti WhatsApp, TikTok, dan Instagram, mereka mempromosikan produk dengan gaya kekinian yang dekat dengan generasi muda.

    Lebih dari Sekadar Makanan Cepat Saji

    Bagi Santa dan timnya, The Express bukan hanya tentang bisnis dan keuntungan.

    Di balik setiap porsi makanan yang dikirim, ada nilai kerja keras, semangat belajar, dan komitmen untuk memberikan yang terbaik.

    “Kami ingin pelanggan merasakan bukan hanya kelezatan, tapi juga pelayanan yang ramah dan tulus. Kami berusaha cepat, sopan, dan terbuka terhadap masukan,” kata Santa.

    Mereka menerapkan sistem evaluasi berkala setiap minggu untuk memastikan kualitas rasa tetap konsisten, harga stabil, dan pelayanan semakin baik. Menurut Santa, tantangan terbesar yang dihadapi adalah memahami kebutuhan pelanggan yang terus berubah.

    “Selera orang itu dinamis. Hari ini suka pedas, besok bisa bosan. Karena itu kami harus selalu berinovasi, baik dalam rasa, tampilan, maupun pelayanan,” ujarnya sambil tertawa kecil.

     

    Strategi Bertahan di Tengah Persaingan

    Dalam dunia bisnis kuliner yang kompetitif, tim The Express memiliki sejumlah strategi untuk mempertahankan dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Mereka menempatkan pelayanan ramah dan cepat sebagai prioritas utama.

    Selain itu, setiap kritik dan saran pelanggan ditanggapi dengan sikap positif dan dijadikan bahan evaluasi untuk perbaikan.

    Mereka juga menjaga kualitas produk dengan memperhatikan rasa, kebersihan, dan tampilan makanan agar selalu menarik.

    Tak hanya itu, The Express memberikan nilai tambah bagi pelanggan setia dengan promo menarik, bonus kecil, dan diskon khusus.

    “Kami juga ingin menciptakan pengalaman yang menyenangkan bagi pelanggan. Jadi, kami pastikan tempat transaksi bersih dan nyaman, agar mereka betah dan ingin kembali lagi,” tutur Santa.

    Belajar dari Lapangan, Bukan Sekadar dari Buku

    Bagi para anggota The Express, pengalaman menjalankan bisnis ini menjadi pelajaran berharga di luar kelas.

    Mereka belajar bekerja dalam tim, mengatur keuangan, memahami pasar, dan menghadapi pelanggan dengan profesional. Semua itu tidak mereka dapatkan hanya dari teori di bangku kuliah.

    “Kadang kami harus bangun pagi untuk menyiapkan bahan, lalu siang kuliah, dan sore mengantar pesanan. Capek, tapi menyenangkan karena kami belajar langsung dari pengalaman nyata,” cerita Santa.

    Usaha ini juga mempererat solidaritas di antara anggota tim.

    Mereka belajar saling mendukung dan menghargai peran masing-masing. Setiap keberhasilan kecil — entah itu pelanggan baru atau ulasan positif di media sosial — menjadi sumber kebanggaan tersendiri.

    Meski masih baru dan dijalankan oleh mahasiswa yang minim pengalaman, The Express menunjukkan bahwa semangat, kreativitas, dan kerja keras bisa menjadi modal utama kesuksesan.

    Di tengah tantangan dan keterbatasan tampaknya mereka terus berusaha memberikan pelayanan terbaik.

    “Kami ingin usaha ini jadi kenangan berharga. Siapa tahu nanti bisa berkembang jadi bisnis yang lebih besar,” harap Santa.

    The Express bukan sekadar proyek kampus atau tugas kewirausahaan. Ia adalah cerminan semangat generasi muda yang berani mencoba, berani gagal, dan terus belajar untuk bangkit.

    Dari dapur kecil di Siantan Ulu, aroma nasi kuning dan rice bowl buatan mereka kini menjadi simbol bahwa setiap langkah kecil bisa membawa perubahan besar — asal dijalani dengan hati dan tekad yang kuat.

    *Feronika, Mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II. (Sam).

    Seminar dan Sosialisasi San Agustin adalah Wadah Mahasiswa Mengasah Wawasan

    Kristian Toti (jaket merah kiri), Genta (Alamamater AKUB , Kanan) - 2025, Lokasi Parkiran Unika San Agsutin Kampus II Pontianak, 2025

    Duta, Pontianak | Kegiatan seminar dan sosialisasi menjadi bagian penting dalam pengembangan diri mahasiswa di luar ruang kelas.

    Melalui kegiatan semacam ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan tambahan, tetapi juga mengasah kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, serta memperluas jaringan sosial.

    Hal tersebut diungkapkan oleh Shiril Kayam Genta (21), mahasiswa Program Studi Keuangan dan Perbankan (AKUB), Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, dalam wawancara yang dilakukan oleh Kristian Toti, mahasiswa kelas 3B, pada Senin, 13 Oktober 2025.

    Kristian Toti (jaket merah kiri), Genta (Alamamater AKUB , Kanan) – 2025, Lokasi Parkiran Unika San Agsutin Kampus II Pontianak, 2025

    Menurut Genta, seminar dan sosialisasi merupakan sarana yang sangat efektif untuk memperkaya wawasan mahasiswa.

    “Seminar dan sosialisasi adalah tempat kita mendapat pengetahuan yang tidak selalu didapat di perkuliahan, terutama dalam hal pengalaman praktis dan pemahaman dunia kerja,” kata Genta.

    Ia menambahkan bahwa kegiatan semacam ini membuka peluang besar bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan orang-orang berpengalaman dan membangun jejaring profesional sejak dini.

    Mengikuti seminar di luar kampus juga melatih rasa percaya diri karena mahasiswa berhadapan dengan lingkungan baru dan beragam latar belakang peserta.

    “Saya merasa lebih terbuka terhadap hal-hal baru dan berani menyampaikan pendapat di depan umum. Saya juga jadi lebih memahami arah karier dan pentingnya pengembangan diri sejak dini,” tutur Genta.

    Agar lebih banyak mahasiswa tertarik mengikuti seminar dan sosialisasi, Genta mengusulkan agar kampus menghadirkan pembicara inspiratif dengan tema yang relevan bagi mahasiswa.

    Selain itu, pemberian sertifikat partisipasi juga bisa menjadi motivasi tambahan.

    “Kampus bisa membuat kegiatan lebih menarik dan bermakna. Sertifikat juga bisa jadi dorongan agar mahasiswa lebih semangat mengikuti kegiatan seperti ini,” tambahnya.

    Sebagai penutup, Genta berpesan agar mahasiswa tidak menunggu kesempatan datang, melainkan aktif menciptakannya.

    “Seminar bukan hanya acara formal, tapi wadah untuk membuka pikiran dan memperluas masa depan,” harap Genta.

    Tampaknya kegiatan seminar dan sosialisasi berperan penting dalam membentuk karakter, wawasan, serta keterampilan mahasiswa.

    Dengan semangat belajar yang tinggi dan partisipasi aktif, mahasiswa dapat menciptakan lingkungan kampus yang dinamis, berkembang, dan inspiratif.

    *Kristian Toti, Mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II. (Sam).

    Mahasiswa AKUB 3C Luncurkan “Phoenix” — Proyek Baju Angkatan

    Foto bersama, usai wawancara 11/10/25 Priana Inka (Gita Pewawancara) di Asrama Katarina Siena (2025)

    Duta, Pontianak | Mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB) Pontianak, kelas 3C, meluncurkan proyek kreatif bertajuk Perusahaan Phoenix, sebuah inisiatif yang dirancang khusus untuk membuat baju angkatan 2024.

    Proyek ini menjadi bagian dari tradisi tahunan di kampus, di mana setiap angkatan membentuk tim usaha sementara guna menghasilkan karya simbolik yang mencerminkan identitas dan semangat kebersamaan mereka.

    Dalam wawancara yang dilakukan di Asrama Katarina Siena, Priana Inka, mahasiswa semester 3C sekaligus perwakilan kelompok, menjelaskan bahwa nama Phoenix diambil dari burung mitologis Mesir, Yunani, dan Romawi kuno yang dikenal sebagai lambang keabadian dan semangat untuk bangkit dari keterpurukan.\

    Logo baju Angkatan 2024 – AKUB.

    “Kami memilih nama Phoenix karena ingin menunjukkan bahwa meskipun menghadapi tantangan dalam perkuliahan, kami tetap bisa bangkit, bersatu, dan terus berproses dengan semangat baru,” ujar Priana Inka, (11/10/2025).

    Inka menambahkan, proyek ini bukan sekadar kegiatan bisnis atau tugas akademik semata, tetapi juga wadah untuk mengembangkan bakat kewirausahaan, melatih kerja sama tim, serta menumbuhkan semangat pantang menyerah di antara mahasiswa.

    Lebih dari sekadar pakaian, baju angkatan Phoenix dirancang agar memiliki nilai estetika, kualitas, dan makna simbolis bagi para mahasiswa angkatan 2024.

    Gambar Baju Angkatan 2024

    Desain yang unik diharapkan dapat menjadi kenangan berharga selama masa studi mereka di AKUB, sekaligus dapat digunakan untuk berbagai kegiatan seperti kegiatan kerohanian, magang, maupun kuliah pada hari Jumat.

    “Kami merasa angkatan 2024 belum memiliki baju angkatan sendiri, jadi tim Phoenix berinisiatif membuatnya. Kami ingin sesuatu yang bisa dikenang, tapi juga multifungsi,” jelasnya.

    Antusiasme terhadap proyek ini cukup tinggi. Sejumlah mahasiswa dari kelas A, B, dan C semester 3 telah memesan baju tersebut, menunjukkan dukungan dan rasa memiliki terhadap inisiatif ini.

    Meskipun tim Phoenix mengakui masih minim pengalaman dalam dunia bisnis, mereka berharap proyek ini dapat menjadi langkah awal untuk belajar dan mungkin dikembangkan lagi di masa depan.

    “Harapan kami, proyek ini bisa menjadi pengalaman berharga, bukan hanya bagi tim, tetapi juga bagi seluruh angkatan tahun ini. Semoga menjadi kenangan yang bermakna dan membangkitkan semangat kami untuk terus maju,” tutup Inka.

    *Gita, Mahasiswi Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II. (Sam).

    Menjadi Pelajar yang Orisinal

    Misa Syukur Rekoleksi Mahasiswa AKUB & FKES di Kampus II San Agustin Pontianak (18/10/2025)

    Duta, Pontianak | “Rekoleksi Mahasiswa AKUB dan San Agustin Kampus II” Suasana hening menyelimuti ruang pertemuan di lantai 1 Wisma Keuskupan Agung Pontianak, ketika para mahasiswa baru Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB) Grha Arta Khatulistiwa Pontianak dan Fakultas Kesehatan (FKES) Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo memulai rekoleksi dengan doa.

    Di tengah kesibukan dunia akademik yang baru mereka masuki, kegiatan rohani bertema “Menjadi Pelajar Universitas Santo Agustinus Hippo yang Orisinal, Jujur, dan Cerdas” menjadi ruang istimewa bagi mereka untuk berhenti sejenak dan memandang ke dalam diri.

    Rekoleksi ini bukan sekadar kegiatan rohani rutin, melainkan momen perjumpaan pribadi dengan Tuhan dan sesama, yang membantu mahasiswa memahami siapa diri mereka dan bagaimana seharusnya hidup sebagai pelajar Katolik yang berintegritas.

    Suasana Rekoleksi Mahasiswa AKUB & FKES di Kampus II San Agustin Pontianak (18/10/2025)

    Mengenal Diri dalam Terang Iman

    Dalam rekoleksi yang dibimbing oleh Fr. Fransiskus Tomi Mapa, para peserta diajak untuk menyadari bahwa keaslian diri merupakan anugerah yang harus dijaga dengan kejujuran dan kasih.

    “Banyak orang kehilangan dirinya karena ingin menjadi seperti orang lain. Padahal Tuhan memanggil kita untuk menjadi diri sendiri yang merupakan versi terbaik dari ciptaan-Nya,” ujar Fr. Tomi dalam salah satu sesi.

    Kata-kata itu membekas di hati Margaretha, mahasiswi semester pertama yang mengaku awalnya datang hanya untuk memenuhi kewajiban kampus. Namun, sesi demi sesi membuatnya terdiam dan merenung. “Saya sangat terkesan dengan materi yang diberikan,” tulisnya dalam refleksi. “Saya belajar bahwa menjadi pelajar Katolik bukan hanya soal mengejar nilai, tetapi tentang hidup dalam kasih, kebenaran, dan tanggung jawab.”

    Bagi Klaudia Lestari, rekoleksi ini menjadi cermin yang menyingkapkan sisi terdalam dirinya. “Hal yang paling berkesan adalah ketika kami diajak untuk berani jujur terhadap diri sendiri. Kadang kita terlalu sibuk memperlihatkan sisi baik di depan orang lain, tapi lupa memperbaiki hati,” tulisnya.

    Ia menyadari bahwa kejujuran adalah dasar dari semua relasi yang sehat, baik dengan Tuhan, sesama, maupun dunia akademik.

    Rekoleksi Mahasiswa AKUB & FKES San Agustin di Wisma Keuskupan Agung Pontinak (18/10/2025)

    Belajar Iman dari Kehidupan Sehari-hari

    Tema keaslian dan kejujuran juga dirasakan oleh Edo Setiawan, yang menuliskan pengalaman reflektifnya dengan kalimat sederhana namun dalam maknanya. “Saya berkesan karena saya dapat mengetahui diri saya lebih dalam lagi. Saya belajar untuk hidup penuh kejujuran dan transparansi,” ungkapnya.

    Rekoleksi ini, menurut Edo, bukan hanya berbicara soal teori iman, tetapi soal praktik nyata di kehidupan kampus. “Saya belajar bahwa iman tidak terpisah dari cara saya belajar, bekerja sama, dan menghadapi teman-teman,” tambahnya.

    Sementara itu, Olga Oktavius mengaku menemukan semangat baru dalam belajar. “Saya sangat senang, apalagi kita bisa memahami makna kasih dalam kehidupan kampus. Saya belajar mengasihi dan memahami refleksi diri,” tulisnya.

    Bagi Olga, kegiatan ini membantu melihat kampus bukan sekadar tempat belajar ekonomi dan perbankan, melainkan juga tempat tumbuh dalam iman dan karakter.

    Nilai Kristiani dalam Dunia Akademik

    Dalam refleksi yang dikumpulkan, para mahasiswa sepakat bahwa rekoleksi ini menanamkan nilai-nilai Kristiani yang sangat relevan bagi kehidupan akademik masa kini. Nilai-nilai seperti kasih, kejujuran, kebijaksanaan, dan tanggung jawab muncul berulang kali dalam tulisan mereka.

    “Kasih, kebenaran, kebijaksanaan, dan tanggung jawab, itulah yang saya pelajari,” tulis Margaretha. Sedangkan Lira Virna menambahkan, “Menjadi pelajar yang otentik berarti berani hidup jujur, adil dalam iman, dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.”

    Melalui kegiatan ini, iman Katolik dihayati bukan sebagai dogma yang jauh dari realitas, tetapi sebagai pedoman hidup yang konkret. Fr. Tomi mengingatkan bahwa menjadi pelajar Katolik berarti berani berpikir kritis namun tetap berakar pada kasih dan nurani.

    “Rekoleksi ini membantu saya memahami iman Katolik melalui tindakan nyata,” tulis Klaudia. “Ternyata iman bisa dihidupi dalam hal-hal kecil, seperti cara saya memperlakukan teman atau mengerjakan tugas dengan jujur.”

    Komitmen Konkret

    Setelah kegiatan usai, setiap mahasiswa diminta menuliskan satu komitmen konkret yang akan mereka jalankan. Jawaban mereka menunjukkan kesungguhan hati untuk berubah.

    “Saya akan lebih berempati dengan sesama,” tulis Margaretha. “Belajar mencari kebenaran,” kata Olga singkat namun kuat. Edo menulis dengan penuh tekad, “Saya ingin hidup penuh kejujuran dan transparansi.”

    Klaudia menambahkan, “Saya ingin tetap menjadi diri sendiri, jujur dalam perkataan dan tindakan.” Sementara Lira menulis, “Menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih setia dalam iman.”

    Komitmen-komitmen sederhana ini adalah tanda nyata bahwa rekoleksi bukan berhenti di ruang doa, tetapi terus berlanjut dalam keseharian di kampus.

    Iman yang Menghidupkan dan Membentuk Karakter

    Bagi mahasiswa AKUB, kegiatan ini juga menjadi ajang untuk menegaskan bahwa iman dan dunia akademik bukanlah dua hal yang terpisah. Justru keduanya saling melengkapi.

    Rekoleksi menjadi sarana formasi karakter, di mana setiap peserta belajar untuk berpikir cerdas sekaligus bertindak dengan hati nurani.

    “Menjadi mahasiswa yang cerdas tidak cukup hanya dengan otak,” kata Fr. Tomi dalam salah satu sesi.

    “Kita juga harus punya hati yang jujur dan terbuka terhadap kasih.”

    Kegiatan ini menumbuhkan rasa kebersamaan dan semangat baru di antara para mahasiswa baru. Banyak yang mengaku pulang dengan hati yang lebih damai dan semangat untuk menjadi pribadi yang orisinal di tengah dunia yang seragam.

     Rekoleksi sebagai Perjalanan Iman

    Di akhir kegiatan, para mahasiswa menyadari bahwa menjadi pelajar Katolik bukan hanya tentang menguasai teori, melainkan tentang membangun integritas dan keaslian diri. “Mulai hari ini, saya ingin hidup dengan jujur dan transparan. Itu cara saya menjadi pelajar sejati,” tulis salah satu peserta dalam refleksinya. Kata-kata sederhana itu mencerminkan roh sejati dari kegiatan ini, bahwa iman bukan hanya dipelajari, tetapi dihidupi.

    Rekoleksi kampus AKUB dan San Agustin tahun ini menjadi pengalaman rohani yang berharga, menanamkan benih kejujuran, kasih, dan keaslian di hati para mahasiswa muda. Dalam semangat Santo Agustinus Hippo, mereka belajar bahwa mencari kebenaran sejati berarti menemukan Tuhan yang hadir dalam diri sendiri dan sesama.

    *Vinsensius, S.Fil., M.M, Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II.

    TERBARU

    TERPOPULER