Friday, June 5, 2026
More
    Home Blog Page 28

    Bakat dan Prestasi Mahasiswa PJKR

    Gambar. Foto medali dan aktivitas (Sumber pribadi JYD)

    Duta, Landak | Tulisan ini mengungkapkan kesan tentang perjalanan bakat dan prestasi mahasiswa PJKR. Sempat bertemu bertanya tentang kisah singkat hingga ia berkuliah.

    Ternyata, saat masih di Sekolah Menengah Atas, ia menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk menekuni dunia bengkel, khususnya sepeda motor.

    Bengkel tersebut merupakan milik kakak ipar, tempat tinggal semasa sekolah SMA. Sambil belajar cara mengencangkan rantai, memperbaiki rem belakang, hingga membongkar mesin sepeda motor.

    Bakatnya terus berkembang, hingga akhirnya ditawari mengikuti kursus mesin sepeda motor selama tiga bulan.

    Sebagai seorang pekerja yang sudah mendapatkan hasil, mungkin merasa cukup dengan penghasilannya dan tidak mungkin berpikir melanjutkan pendidikan kejenjang lebih tinggi.

    Namun, tidak demikian halnya, dengan menyadari betapa pentingnya pengalaman dan wawasan yang lebih luas, sehingga memutuskan melanjutkan perkuliahan. Berpengalaman mendaftar mengikuti ujian Seleksi Bintara, namun gagal dari ketiga kalinya.

    Tawaran berkuliah di kampus Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (San Agustin) datang dari seorang sahabat yang mengajaknya. Keputusan ini diterima, ternyata membawanya semakin berprestasi di program studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi.

    Perjalanan tidak berhenti sampai di sini, karena berbagai prestasi yang membanggakan terus diraihnya di dunia sepak bola seperti Juara 1 HUT RI ke 78 leban cup 2023, Juara 3 Air Besar Cup HUT RI 78 2023, Juara 2 Maong Cup HUT RI ke 78 2023, Juara 3 Pade Hulu cup 2023, Juara 3 Natal Cup Kaniatan 2022, Juara 3 Roah Cup 2023, Juara 3 Naik Dango Cup Anyang 2024, Juara 1 Roah Cup Padang Saham 2024, Juara 2 HUT RI 79 Air Besar Cup 2024, Juara 2 HUT RI 79 Mprija Cup 2024, Juara 2 Natal Cup Merayuh 2024, Juara 2 Futsal Natal Sanagustin 2022 dan masih banyak lagi prestasi sepak bola tidak dapat dituliskan di tahun 2025 ini.

    Tak hanya sepak bola, ia juga menorehkan prestasi di dunia beladiri Muay Thai yaitu, seni bela diri dengan pertarungan asal Thailand beberapa kejuaran yang telah diraih seperti sebagai berikut,  Juara 1 Muaythai International Serawak Malaysia 2024, Juara 1 weng 2 Muaythai Championsip 2024, Juara 2 Wes Borneo Muaythai Championsip 2024, Kejuaran BCC Borneo Combat Championship Meraih perak 2025,  didampingi oleh coach Ibrah salah satu dosen Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi San Agustin.

    Begitu banyak medali yang diraih, sempat berbincang dengan ibu kandungnya bahwa ia merupakan anak keempat dari enam bersaudara, sang ibu tak menyangka dengan prestasi yang diraih, saat melihat pajangan di dinding banyak medali.

    Seorang anak petani mampu meraih prestasi di tingkat tarkam, kejuaraan desa dan internasional, serta menjadi mekanik bengkel sepeda motor panggilan. Sempat bertutur dari kata yang ia sampaikan, “jangan pernah panik saat menemui kesulitan menurut Harisubarno”.

     *Penulis (Jayadi) adalah Dosen PJKR di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan (Ngabang Kabupaten Landak).

    Ancaman Ganda Bonus Demografi

    Dosen Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, di Kampus II Pontianak – Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa.

    Duta, Pontianak | Jurang Kesenjangan Keterampilan, Quiet Quitting, dan Gen Z.  Hampir sebagaian bahkan mayoritas dari kita mengetahui bahwa Indonesia tengah berada dalam periode emas. Emas disini bukan berarti emas dalam bentuk logam mulia tapi emas yang diartikan sebagai sesuatu yang berharga dan bernilai.

    Indonesia saat ini hampir  70 persen penduduk berada di usia produktif yaitu kisaran 15 sampai 64 tahun, yang biasa disebut sebagai bonus demografi. Bonus Demografi pada hakekatnya merupakan kesempatan strategis untuk mencapai disebuah negara dan ini sejalan dengan Visi Indonesia Emas 2045 yang telah dicanangkan di periode pemerintahan sebelumnya.

    Namun, perlu kita pahami bersama bahwa potensi besar ini terancam oleh dua krisis nyata di lapangan kerja. Sesuatu hal yang paling ditakuti dan menjadi momok menakutkan bagi masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia. Lalu apa saja dua kiris nyata di lapangan kerja saat ini di lingkungan di Indonesia

    ​Yang pertama, kita bisa menyebutkanya sebagai bom Waktu Demografi. Ketika mengatakan kata “bom” selalu terlintas dalam pikiran kita bahwa hal ini berkonotasi negative, ini berarti akan ada hal  yang bakal atau akan muncul.

    Terus bagaimana dengan bom yang dimadsud dalam tulisan di atas. Yakni Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan, pada Agustus 2024 ada 8,99 juta anak muda Indonesia yang tergolong “not in education, employment, and training” (NEET), sekitar 20,30 persen dari pemuda Indonesia (usia 15–24 tahun).

    Mereka tidak bersekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan. Sesuatu hal yang tidak bisa dipandang remeh karena menyangkut masa depan negara.  Ini merupakan potensi produktif yang terbuang percuma, mengancam kestabilan jangka panjang.

    ​Kemudian yang kedua adalah krisis Keterlibatan (Engagement).  Di kalangan yang sudah bekerja, saat ini muncul fenomena Quiet Quitting (QQ) atau “bekerja seadanya” atau “ berhenti diam-diam”  situasi atau fenomena ini menjadi epidemi di Indonesia saat ini karena cepat sekali menyebar dan menciptakan fenomena bahkan gaya hidup baru bagi sebagai pekerja atau karyawan dalam perusahaan atau tempat bekerja.

    Terutama Gen Z dan Milenial, Quiet Quitting dapat diartinya secara sederhana tentang bagaimana seseorang karyawan atau pegawai yang memilih bekerja sebatas tugas minimum dan tanpa inisiatif tambahan. Bagaimana hal ini bisa muncul, jelas memiliki berbagai macam alasan yang kuat yang memengaruhi secara terus menerus.

    Salah satunya sebagai bentuk cermin penolakan terhadap budaya kerja keras berlebihan (hustle culture). Hustle Culture merupakan tren atau budaya atau gaya hidup pegawai atau pekerja yang mendorong kerja keras tanpa henti demi mencapai kesuksesan dan pencapaian target usaha atau perusahan tempat bekerja, Hustle Culture sering kali dianggap mengorbankan kesehatan fisik dan mental dari para pekerja atau pegawai dan hal ini merupakan sinyal kuat adanya kegagalan banyaknya Manajemen Sumber Daya Manusia di perusahaan atau tempat bekerja di Indonesia dalam menciptakan lingkungan kerja yang suportif dan nyaman.

    ​Banyak perusahaan kini berada di persimpangan jalan. Mereka dihadapkan pada tekanan biaya operasional seperti rencana kenaikan UMP 2025, sambil harus mengelola generasi muda yang menuntut fleksibilitas, keseimbangan hidup, dan tujuan yang lebih besar dari sekadar gaji. Kegagalan merespons tantangan ini akan mengubah Bonus Demografi dari aset menjadi kewajiban yang mahal dan masalah dimasa depan.

    Mengapa Krisis NEET Kini Lebih Berbahaya?

    ​Kita bisa melihat bahwa 20-30 tahun yang lalu, banyak orang atau individu mencapai kesuksesan finansial tanpa gelar universitas, paradigma ini tidak lagi berlaku saat ini. Urgensi untuk mengatasi Gen Z NEET sekarang berakar pada pergeseran struktural ekonomi global. ​

    Model kesuksesan 20–30 tahun lalu didukung oleh struktur ekonomi yang masih memiliki permintaan tinggi untuk pekerjaan yang bersifat manual, rutin, dan padat karya. Pekerjaan ini, seperti teknisi atau pengrajin adalah tangga yang aman bagi lulusan non-akademik untuk mencapai karir yang baik.

    Mulai muncul ancaman otomasi di sekitar kita membuat saat ini, pekerjaan yang bersifat rutin dan terprediksi, atau bahkan teratur dapat digantikan oleh robot dan Kecerdasan Buatan (AI). Di Indonesia, diprediksi hingga 23 juta pekerjaan berisiko hilang akibat otomatisasi, mengapa? Karena kecendrungan mayoritas masyarakat Indonesia bekerja pada level tersebut.

    Pekerjaan yang sifatnya rutin, dapat diprediksi, teratur sehingga bisa dingantikan suatu saaat oleh teknologi.  Ironisnya dari kita tidak terlalu menyadari hal tersebut dan menganggap masih banyak waktu untuk mempersiapkan diri, padahal situasi ini sudah didepan mata.

    Gen Z NEET kini menghadapi kondisi memprihatinkan karena mereka tidak memiliki keterampilan kognitif dan digital tingkat tinggi seperti yang dulu diperoleh dari pendidikan formal, sementara pekerjaan manual atau dasar yang mereka kuasai pun sudah tidak aman lagi atau dengan kata lain sudah mulai akan diganti dengan sesuatu yang lebih modern.

    Model kesuksesan yang mengandalkan keterampilan manual stabil kini telah berakhir dan mulai memudar. Generasi muda tidak bisa lagi mengandalkan jalur yang sama seperti orang tua mereka atau model kerja 20-30 tahun yang lalu.

    Globalisasi yang Eksklusif Memicu Kesenjangan Keterampilan

    ​Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini didorong oleh teknologi dan globalisasi. Namun, pertumbuhan ini tidak merata dan cenderung hanya menguntungkan pekerja terampil. Disatu sisi hal ini merupakan hal yang miris tetapi disis lain ini adalah fakta yang terjadi dimasyarakat.

    Masuknya teknologi canggih secara sistematis meningkatkan permintaan untuk pekerja yang sudah terdidik dan memiliki keterampilan sedangkan mereka yang tidak memiliki itu akan mengalami kesulitan dalam memilih pekerjaan saat ini dan bahkan dimasa depan nanti.

    Pekerjaan masa depan menuntut kemampuan beradaptasi dan pembelajaran berkelanjutan (life-long learning), sesuatu yang sulit dibangun jika seseorang berada di luar sistem pendidikan dan pelatihan seperti mereka- mereka atau generasi yang masuk kategori NEET.

    Dari hal ini dapat kita garisbawahi bahwa  pertumbuhan ekonomi modern lambat laun akan meninggalkan Gen Z NEET di belakang, memperburuk ketimpangan, dan mengubah potensi aset menjadi masalah struktural.

    Konsekuensi Jangka Panjang

    ​Jika kita gagal mengintegrasikan 20,30 persen Gen Z yang masuk kategori NEET sekarang, konsekuensinya bukan hanya ekonomi tetapi banyak hal. Kegagalan ini berisiko menciptakan populasi besar yang memiliki produktivitas rendah dengan kualitas yang rendah.

    Dalam 20 tahun ke depan, kelompok ini akan mencapai usia paruh baya yang tidak produktif serta berpotensi membutuhkan dukungan sosial seumur hidup, alih-alih menjadi kekuatan produktif.

    Hal ini mengancam ketahanan fiskal dan visi Indonesia Emas 2045 sehingga malah memperburuk situasi negara di masa depan. Sulit membayangkan negara Indonesia yang saat ini saja masih berkembang harus menghadapi masalah seperti itu, jelas yang terlintas dalam benak dan pikiran hanyalah negara yang akan susah dan penuh masalah ekonomi.

    Dual Krisis yaitu NEET dan Quiet Quitting

    ​Krisis Gen Z NEET dan Quiet Quitting adalah dua sisi seperti mata uang yang sama. kegagalan sistem dalam mengelola potensi dan ekspektasi generasi muda. Bagaimana ini bisa terjadi? Ini bukan saja sekadar “Malas” untuk bersekolah atau berkuliah atau bekerja seperti opini yang sering diutarakan sebagaian dari kita ketika melihat generasi mudah yang tidak bersekolah atau kuliah , tapi juga adanya muncul krisis Struktural Fenomena gen Z yang masuk kategori NEET mencapai 8,9 juta jiwa pada tahun 2024, didorong oleh dua faktor utama diantaranya terkait biaya Pendidikan dan ​Kesenjangan Keterampilan (Skills Mismatch).

    Dan yang paling mengkhawatirkan adalah kenaikan signifikan jumlah pengangguran dari kalangan lulusan perguruan tinggi (mencapai 959 ribu orang pada 2023).

    Krisis Quiet Quitting (QQ) bentuk dari Cermin Kegagalan Kepemimpinan

    ​Singkatnya Quiet Quitting adalah penarikan diri pasif. Karyawan hanya bekerja sebatas deskripsi pekerjaan minimum, tanpa inisiatif, dan tanpa keterlibatan emosional dan terkesan tidak terlalu peduli dengan yang bukan menjadi urusan pekerja.

    Dari mana akarnya? Semua berakar dari ketidakseimbangan tuntutan kerja yang tinggi dan minimnya dukungan psikologis, pengakuan, atau feedback yang adil. Bagaimanapun juga karyawan adalah manusia yang secara biologis dan naluri membutuhkan pengakuan, rasa nyaman, dihargai serta diperlakukan adil seperti yang lain yang ada disekitarnya.

    Lalu bagaimana mengatasi atau meminimalisir hal tersebut, penelitian-penelitian banyak menunjukkan bahwa  quiet quitting dapat diatasi dengan meningkatkan kepuasan kerja melalui kepemimpinan yang memberdayakan (empowering leadership) dan budaya organisasi yang positif.

    Jika pemimpin gagal menciptakan ruang kerja yang inklusif, suportif, dan fleksibel, Gen Z akan memilih mode quiet quitting sebagai bentuk perlindungan diri di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu saat ini.

    Organisasi atau perusahaan harus apa terkait fenomena ini.

    ​Untuk mengatasi krisis ganda ini, Manajemen SDM ditiap perusahaan atau organisasi harus bertransformasi dari fungsi administratif menjadi mitra strategis yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis data (data-driven).

    Sederhananya adalah bahwa karyawan dipandang sebagai pusat nilai dan makna untuk organisasi atau perusahaan. Bagaimana aplikasi dari konsep ini bisa diterapkan , adalah seperti model Hybrid Working secara terstruktur. Fleksibilitas ini adalah salah satu kunci retensi atau mempertahankan talenta terbaik, tetapi harus disertai jaminan hak karyawan (gaji penuh, dukungan alat kerja).

    Dukungan terhadap kesehatan mental dan work-life balance harus menjadi perhatian utama untuk mengatasi pemicu quiet quitting. Jelas hal Ini wajib melibatkan pembangunan budaya kolaboratif dan peningkatan komunikasi dua arah antara atasan dan bawahan. Selain itu Perkuat proses onboarding (proses menyatukan karyawan baru dengan budaya organiasasi saat baru bergabung).

    Proses yang baik, yang berlanjut hingga karyawan mandiri, terbukti dapat meningkatkan tingkat retensi hingga 82% sehingga kecendrungan karyawan untuk resign atau quiet quitting bisa dikurangi.

    Perusahaan wajib berubah dan adapting tidak hanya karyawan, tetapi  membahas tentang Gen Z, maka mereka sendiri yang memegang kunci utama untuk mengatasi NEET itu sendiri dan menghindari terperangkap dari Quiet Quitting. ​

    Bagaimana dengan Gen Z?

    Yang harus dipahami dan dilakukan oleh Gen Z adalah membuat investasi pada keterampilan yang tidak bisa diotomasi. Gen Z harus berinvestasi pada keterampilan yang akan tetap relevan di tengah gempuran AI dan otomasi didunia pekerjaan saat ini dan masa depan.

    Memprioritaskan pada keterampilan teknis akan cepat usang atau ditelan teknologi, tetapi keunggulan kita di masa depan harus terletak pada soft skills.

    Karena banyak sekali kemampuan yang dibutuhkan oleh kita saat ini yang tidak sadari seperti ​kecerdasan emosional yaitu kemampuan memahami dan mengelola emosi diri dan orang lain, serta menunjukkan empati selain itu, komunikasi Interpersonal dan Presentasi selain itu keterampilan menyampaikan ide dengan percaya diri dan membangun kehadiran profesional yang kuat. Berpikir kritis dan pemecahan masalah merupakan hal yang juga  Gen Z pelajari untuk  menghadapi masalah secara strategis dan mendalam di organisasi atau dilingkungan kerja. Kemudian adapting terhadap lingkungan kerja dan inovatif.

    Selanjutnya  ​kuasai literasi digital professional karena keterampilan digital kini menjadi prasyarat. Gen Z perlu menguasai analisis data dasar, seperti Web Analytics atau SQL, untuk meningkatkan daya saing di pasar kerja.

    ​​Untuk menjembatani jurang skills mismatch, pengalaman praktis jauh lebih berharga daripada sekadar nilai akademik. Pengalaman magang dan kerja praktik sangat penting untuk meningkatkan keterampilan profesional. Magang memberikan kesempatan menggunakan pengetahuan kampus di dunia nyata, memahami dinamika kerja, dan membangun jaringan profesional.

    Gen Z harus melihat wirausaha atau side hustle (pekerjaan sampingan) sebagai jalur untuk membangun keterampilan manajerial dan finansial yang mandiri. ​Selain itu jangan lupa untuk memprioritaskan Keseimbangan dan Kesehatan Mental dalam menghadapi tekanan dunia kerja, menjaga kesehatan diri adalah fondasi utama.

    ​Gen Z harus secara proaktif menjaga kesehatan fisik, mengelola stres, dan tetap fokus pada tujuan jangka panjang agar dapat terus berkembang dan menjadi individu yang kompetitif. Perlu juga Gen Z harus melakukan refleksi mendalam mengenai tujuan karir mereka. Pilihlah perusahaan yang menawarkan budaya kerja inklusif, suportif, dan selaras dengan nilai-nilai pribadi, jangan mengejar  hustle culture berlebihan.

    Kesimpulan akan harapan dimasa depan

    ​Krisis Gen Z NEET dan Quiet Quitting adalah panggilan keras bagi Indonesia. Solusi tidak dapat datang dari satu pihak saja; dibutuhkan sinergi tiga pihak, pertama, pemerintah harus memfasilitasi pelatihan kerja digital intensif  dan memastikan pendidikan berkualitas lebih terjangkau dan relevan.

    Kedua , Perusahaan harus bertransformasi menjadi fungsi yang human-centered dan data-driven. Dan ketiga, Gen Z Harus proaktif menguasai soft skills, mencari pengalaman nyata, dan menjadi individu yang adaptif dan kompetitif di tengah disrupsi otomasi.

    ​Dengan kemauan untuk beradaptasi dari semua pihak, kita dapat mengubah jutaan anak muda yang masuk kategori NEET dari ancaman dan menjadikan mereka  kekuatan produktif yang akan benar-benar membawa Indonesia mencapai visi emas di tahun 2045.

    *Theodorus Yanzens, S.S., M.M. adalah Dosen Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, di Kampus II Pontianak – Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa.

    Kesaksian Iman Mahasiswa Katolik di Lingkungan Kampus

    Mahasiswa AKUB menimba pengalaman iman dari Frater Tomi di STT Pastor Bonus (04/11/2025)

    Duta, Pontianak | Dalam suasana kehidupan kampus yang dinamis dan penuh tantangan, kesaksian iman menjadi hal yang semakin penting bagi mahasiswa Katolik. Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi, mahasiswa ditantang untuk tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga teguh dalam nilai-nilai iman Kristiani.

    Dalam semangat itu, sekelompok mahasiswa AKUB berkesempatan berbincang dengan Frater Fransiskus Tomi Mapa di Seminari Pastor Bonus Siantan, Pontianak. Percakapan hangat pada awal November tersebut mengangkat tema Martyria: kesaksian iman di lingkungan kampus yang menjadi refleksi bersama tentang bagaimana menghadirkan wajah Kristus di tengah kehidupan akademik dan sosial yang majemuk.

    Frater Tomi dikenal aktif mendampingi kegiatan rohani kaum muda, khususnya mahasiswa Katolik. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan kategorial seperti rekoleksi, paduan suara, dan pembinaan iman yang membantu mahasiswa menemukan makna hidup beriman di tengah realitas kampus.

    Dengan pengalaman pastoral yang luas dan latar belakang akademik yang kuat, Frater Tomi berbagi pandangan mendalam mengenai bagaimana Martyria dapat diwujudkan bukan hanya melalui perkataan, melainkan juga lewat sikap hidup yang sederhana: tanggung jawab dalam belajar, kepedulian terhadap sesama, dan kesetiaan dalam iman. Ia menekankan bahwa menjadi saksi Kristus berarti menghadirkan kasih, kejujuran, dan sukacita dalam setiap aspek kehidupan kampus.

    Dalam wawancara tersebut, Frater Tomi menegaskan bahwa martyria sejati tidak berhenti pada kata-kata, melainkan tampak dalam kesaksian hidup yang nyata. “Kesaksian iman di kampus tidak selalu harus dengan berkhotbah, tetapi dengan cara kita bersikap jujur, berempati, disiplin, berani membela kebenaran, dan hidup dalam doa,” ujarnya, (4 November 2025).

    Mozaik Mahasiswa AKUB menimba pengalaman iman dari Frater Tomi di STT Pastor Bonus (04/11/2025)

    Ia mengingatkan bahwa mahasiswa Katolik dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia, terutama di tengah keberagaman lingkungan kampus. “Kalau iman hanya disimpan dalam hati tanpa diwujudkan, maka dunia tidak akan melihat Kristus melalui kita,” tambahnya dengan penuh semangat.

    Lebih lanjut, Frater Tomi menjelaskan bahwa kesaksian iman berawal dari pembaruan diri yang digerakkan oleh Roh Kudus.

    Setelah itu, semangat kesaksian dapat berkembang dalam relasi dengan dosen, tenaga pendidik, serta rekan-rekan mahasiswa lainnya. Menurutnya, kampus juga menjadi ruang yang ideal untuk menumbuhkan iman, terlebih bila tersedia tempat khusus seperti kapel kecil yang dapat menjadi pusat doa dan persekutuan.

    Melalui tempat semacam itu, mahasiswa dapat menegaskan identitasnya sebagai pengikut Kristus yang hadir dan hidup di tengah dunia pendidikan.

    Frater Tomi juga menyoroti pentingnya partisipasi aktif mahasiswa dalam kegiatan rohani kampus, seperti perayaan Ekaristi, doa Rosario, atau kegiatan kategorial lainnya, baik di dalam maupun di luar kampus.

    Ia menegaskan, “Dengan terlibat aktif dalam kegiatan doa, kita sedang mewujudkan iman yang hidup dan memberi kesaksian bahwa Kristus sungguh hadir di antara kita.” Dalam penjelasannya, Frater Tomi menggarisbawahi dua makna Gereja. “Gereja dengan huruf ‘G’ besar berarti Persekutuan Umat Allah, sedangkan gereja dengan huruf ‘g’ kecil menunjuk pada bangunan fisik,” jelasnya.

    Oleh karena itu, dalam memberikan kesaksian iman di lingkungan kampus, mahasiswa dipanggil untuk menghidupkan Gereja yang kelihatan, yakni persekutuan umat yang nyata dalam kasih dan pelayanan. Melalui semangat ini, kegiatan rohani di kampus diharapkan mampu menumbuhkan iman yang dewasa, mempererat kebersamaan, dan menampilkan identitas Kristiani di tengah masyarakat akademik.

    Refleksi Iman Mahasiswa

    Sebagai refleksi dari wawancara ini, para mahasiswa menyadari bahwa menjadi saksi iman tidak harus dilakukan melalui hal-hal besar, melainkan dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih dan ketulusan. Mereka terinspirasi untuk lebih berani menunjukkan identitas sebagai mahasiswa Katolik, baik melalui tanggung jawab dalam belajar maupun dalam relasi dengan teman-teman lintas iman.

    Bagi mereka, Martyria berarti hidup dalam kebenaran dan kasih Kristus di mana pun berada. Kesaksian sederhana di kampus, seperti mengikuti kegiatan rohani, menghadiri Ekaristi harian dan mingguan, berdoa Rosario bersama, atau mengikuti rekoleksi menjadi wujud nyata kehadiran Allah yang hidup dalam komunitas akademik. Dari sana, mereka berharap semakin banyak hati yang mengenal dan mengalami kasih Kristus melalui kesaksian iman yang tulus.

    Tema Martyria atau kesaksian iman Katolik di lingkungan kampus menegaskan bahwa iman bukan hanya untuk dihayati secara pribadi, tetapi juga untuk diwujudkan dalam sikap, perkataan, dan perbuatan nyata.

    Di tengah kehidupan kampus yang penuh dinamika, mahasiswa Katolik dipanggil untuk menjadi saksi Kristus dengan menunjukkan kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan kasih kepada sesama tanpa memandang perbedaan. Melalui kesaksian hidup sehari-hari, iman menjadi sesuatu yang hidup dan menginspirasi orang lain.

    Dengan demikian, Martyria bukan sekadar berbicara tentang pengakuan iman, tetapi tentang bagaimana iman itu dihidupi dan memancarkan terang Kristus di lingkungan akademik serta masyarakat luas.

    *Penulis  : Margaretha, Rizky Jonatan S.S., Wipi, dan Yupi Susanti (Mahasiswa Prodi Keuangan dan Perbankan Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak)

    *Editor:    Vinsensius, S.Fil., M.M. (Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak) 

    Pengembangan Iman Melalui Pelayanan Liturgi

    Dokumentasi Pelayanan dari Narasumber di Katedral St. Yosef Pontianak (05/11/2025)

    Duta, Pontianak | Tidak semua orang menemukan Tuhan di ruang sunyi. Ada yang justru menemukan-Nya di tengah alunan lagu, denting gitar, atau bait Mazmur yang mengalir dari hati. Begitulah cara sebagian umat Katolik menghidupi imannya melalui pelayanan liturgi.

    Bagi banyak orang muda, terutama di lingkungan kampus dan paroki, pelayanan liturgi menjadi ruang belajar yang sangat istimewa. Di sana mereka tidak hanya bernyanyi atau membaca doa, tetapi juga belajar tentang kedisiplinan, kerja sama, dan cinta pada Tuhan yang diungkapkan lewat karya nyata.

    Tulisan ini terinspirasi dari pengalaman dua mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Katolik (STAKat) Pontianak yang setia melayani di altar Tuhan: Naca Hizkia Jrikho, seorang anggota koor, dan Octavianus Dicky, seorang pemazmur. Keduanya adalah contoh sederhana dari kaum muda yang menemukan sukacita iman lewat pelayanan liturgi.

    Mereka mengingatkan kita bahwa liturgi bukan sekadar serangkaian doa atau lagu yang diulang setiap Minggu, tetapi sebuah perjumpaan hidup antara Allah dan umat-Nya. Dalam liturgi, iman dipupuk, hati dipersatukan, dan cinta Allah dinyatakan nyata di tengah Gereja.

    Mengapa Memilih Pelayanan Koor dan Mazmur?

    Bagi Naca dan Dicky, pelayanan bukan sekadar kewajiban Mingguan, tetapi ungkapan cinta kepada Allah. Sejak awal kuliah di STAKat Pontianak, mereka sudah aktif melayani: Naca sebagai anggota koor dan Dicky sebagai pemazmur. Meski sibuk dengan tugas kuliah, keduanya tetap setia hadir di setiap latihan dan perayaan Ekaristi.

    “Melayani di koor itu seru,” kata Naca dengan senyum lebar. “Kami tidak hanya bernyanyi, tapi benar-benar memuji Tuhan dari hati. Rasanya seperti berdoa lewat lagu.”

    Hal yang sama dirasakan Dicky. Baginya, tugas sebagai pemazmur bukan soal tampil di depan umat, tetapi soal menyampaikan Sabda Tuhan melalui nyanyian. “Ketika bermazmur, saya merasa sedang berbicara langsung dengan Allah,” ujarnya.

    Keduanya sepakat: pelayanan liturgi menumbuhkan kedekatan pribadi dengan Tuhan dan membantu mengembangkan iman secara rohani. Melalui lagu, doa, dan kesetiaan melayani, mereka belajar menjadi pribadi yang lebih rendah hati dan peka terhadap kehadiran Allah.

    Mereka pun berharap agar semakin banyak kaum muda Katolik berani mengambil bagian dalam pelayanan Gereja, bukan hanya di altar, tapi juga di berbagai bidang hidup. Sebab, seperti mereka katakan, pelayanan bukan hanya terjadi di dalam gereja, tetapi juga dalam keseharian ketika kita menghadirkan kasih Kristus bagi sesama.

    Pelayanan liturgi, apa pun bentuknya, memiliki tujuan yang sama: memuliakan Tuhan, memperkuat iman umat, dan membangun komunitas Gereja yang hidup. Dalam pelayanan, umat belajar untuk bertumbuh dalam kasih, saling meneguhkan, dan semakin menyerupai Kristus yang datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani.

    Refleksi Iman: Melayani dengan Hati yang Bersih

    Melalui pengalaman sederhana ini, kita diingatkan kembali bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas atau kewajiban mingguan. Ibadah adalah perjumpaan hidup antara Allah dan umat-Nya. Dalam setiap liturgi, kita tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga diundang untuk berpartisipasi aktif dalam karya keselamatan Kristus.

    Pelayanan liturgi menuntut hati yang bersih, kerendahan hati, dan kesetiaan. Menjadi koor, pemazmur, lektor, atau pelayan altar bukan sekadar “tugas”, melainkan panggilan untuk mempersembahkan diri kepada Tuhan.

    Dari pengalaman Naca dan Dicky, kita belajar bahwa iman bertumbuh ketika diwujudkan dalam tindakan. Ketika kita mau bernyanyi dengan tulus, membaca mazmur dengan penuh doa, atau sekadar membantu di altar, di sanalah kasih Allah bekerja.

    Pada akhirnya, pelayanan liturgi bukan hanya tentang suara yang merdu atau penampilan yang rapi, tetapi tentang hati yang mau hadir, melayani, dan menyerahkan diri kepada Allah. Di situlah iman berkembang, sederhana, tetapi sungguh hidup.

    Mahasiswa AKUB mewawancarai 2 mahasiswa STAKAT Pontianak tentang pelayanan liturgi paroki (032/11/2025)

    Melayani, Tumbuh, dan Mengasihi

    Pelayanan liturgi bukan sekadar rutinitas gereja, tetapi jalan nyata untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Di dalamnya, umat Katolik diajak untuk mengalami perjumpaan dengan Allah melalui lagu, doa, dan tindakan sederhana yang penuh makna.

    Melalui pengalaman para pelayan muda seperti Naca dan Dicky, kita belajar bahwa pelayanan liturgi menjadi ruang di mana tradisi Gereja bertemu dengan semangat baru kaum muda. Di sanalah keseimbangan antara warisan iman dan kreativitas zaman ini dipelihara, demi memperdalam dan memperkuat iman umat Katolik.

    Liturgi yang dijalankan dengan hati yang tulus mampu menyalakan kembali semangat rohani umat dan menjadikan Gereja sebagai tempat hidup yang dinamis, terbuka, dan penuh sukacita.

    Harapan

    Kami berharap agar kaum muda Katolik: remaja, mahasiswa, dan generasi penerus Gereja tidak takut untuk terlibat dalam pelayanan. Gereja adalah rumah yang aman dan inspiratif, tempat di mana setiap orang dapat bertumbuh dalam iman dan menemukan jati diri sejatinya sebagai anak-anak Allah.

    Keterlibatan dalam pelayanan bukan hanya memberi manfaat bagi Gereja, tetapi juga bagi diri sendiri: melatih tanggung jawab, memperkuat relasi dengan sesama, dan menumbuhkan kedekatan dengan Tuhan.

    Maka, mari kita mulai dari hal kecil: bergabung dalam paduan suara, menjadi pemazmur, atau membantu di altar. Setiap langkah kecil menuju pelayanan adalah langkah besar menuju kasih Allah.

    Sebab, seperti yang diajarkan Kristus, “Barangsiapa melayani, dialah yang terbesar di antara kamu.” (bdk. Mat 23:11). Melalui pelayanan liturgi, iman kita bukan hanya dipelihara, tetapi juga dihidupkan agar Gereja terus bersinar sebagai tanda kasih Allah di tengah dunia.

    *Penulis  : Anas Tasya Fanggi,  Adito, Alexsa Gustia Putri, dan Charoline Tita Kaimabo (Mahasiswa Prodi Keuangan dan Perbankan Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak)

    *Editor:   Vinsensius, S.Fil., M.M. (Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak) 

    Ketika Layar Menjadi Musuh Tidur

    Di balik senyum kami, ada cerita tentang remaja yang mencoba berdamai dengan dunia digital. Maria Tuto Atu, Miranda, Aurelia Nopa Desinta, Indah Rusdiana, Andhini Siltya Agatha, Christy Vannysa Regita. Fakultas kesehatan prodi dIII Kebidanan Semester 3 (2025)

    Duta, Pontianak | Ini adalah “Krisis Kesehatan Remaja Di Era Digital”. Mengapa?

    Di era digital saat ini, gadget sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi remaja. Alat ini bukan hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk belajar, bermain, dan mencari hiburan.

    Sayangnya, kebiasaan menggunakan gadget secara berlebihan dan tanpa batas mulai menimbulkan banyak masalah. Kristana (2021) menyebutkan bahwa penggunaan gadget yang terlalu lama dapat memengaruhi pola tidur, kesehatan fisik, dan perilaku sosial remaja.

    Kini, banyak remaja yang hampir tidak bisa lepas dari gadget. Mereka menggunakannya kapan pun dan di mana pun, bahkan di saat yang tidak seharusnya, seperti saat makan, mandi, atau ketika di kamar mandi.

    Kebiasaan ini tentu tidak baik karena bisa berdampak pada kesehatan tubuh dan mental (Gustiawati & Marwani, 2020). Penggunaan gadget yang tidak terkontrol juga dapat menurunkan semangat belajar serta membuat remaja kurang peka terhadap lingkungan sekitar (Rahmadani, 2022).

    Perkembangan teknologi dan media sosial juga ikut memengaruhi pola hidup remaja. Salah satu contohnya adalah aplikasi TikTok yang sangat populer.

    Banyak remaja yang masih aktif menonton video, membuat konten, atau melakukan live streaming hingga larut malam. Kebiasaan ini bisa menimbulkan kecanduan dan membuat waktu tidur menjadi terganggu (Mawitjere et al., 2017).

    Padahal, gadget seharusnya bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti berkomunikasi dengan teman, belajar, atau menyalurkan kreativitas di media sosial (Montie et al., 2019).

    Namun, banyak remaja yang menjadikan gadget sebagai sarana hiburan utama. Mereka terlalu asik bermain game atau berselancar di media sosial sampai lupa waktu. Akibatnya, interaksi dengan orang-orang di sekitar berkurang dan pola tidur menjadi tidak teratur (Kristana, 2021). Kurang tidur membuat remaja sulit fokus dan rentan mengalami gangguan kesehatan (Gustiawati & Murwani, 2020).

    Berdasarkan laporan State of Mobile 2023 dari data.ai, rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu sekitar 5,7 jam per hari untuk bermain gadget pada tahun 2022. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya, yaitu 5,4 jam per hari (data.ai, 2023). Survei terhadap anak-anak di 34 provinsi di Indonesia juga menunjukkan bahwa lebih dari 19% remaja mengalami kecanduan gadget.

    Padahal, remaja berusia 12–18 tahun seharusnya tidur selama 8–9 jam setiap malam agar tubuh dan pikiran tetap sehat (Gustiawati & Murwani, 2020). Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa sekitar 2.933 remaja menggunakan gadget selama lebih dari 11 jam per hari, meningkat hingga 59,7% (Kristana, 2021).

    Remaja yang sering bermain gadget pada malam hari biasanya tidur lebih larut. Menurut penelitian, mereka membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih lama untuk tertidur dibandingkan dengan yang jarang menggunakan gadget (Mawitjere et al., 2017).

    Kebiasaan ini membuat mereka sering bangun kesiangan dan merasa lelah sepanjang hari. Walau gadget memberi hiburan dan kemudahan, jika digunakan berlebihan, hal itu bisa membuat tubuh dan pikiran cepat letih.

    Bergadang karena bermain gadget juga bisa memicu berbagai keluhan, seperti sulit berkonsentrasi, mudah marah, kepala terasa berat, dan mata perih. Tak jarang muncul kantung mata atau lingkaran hitam di bawah mata (Mawitjere et al., 2017).

    Kurang tidur yang terus-menerus juga bisa menyebabkan stres, cemas, bahkan depresi. Dalam jangka panjang, hal ini bisa mengganggu hubungan sosial dan keharmonisan keluarga (Montie et al., 2019).

    Untuk menghindari dampak buruk tersebut, remaja perlu belajar mengatur waktu dalam menggunakan gadget. Misalnya, tidak menggunakan gadget satu jam sebelum tidur, membatasi penggunaannya di malam hari, dan menggantinya dengan kegiatan lain seperti berolahraga, membaca, atau mengobrol bersama keluarga.

    Peran orang tua dan guru juga sangat penting untuk mengingatkan dan membimbing agar remaja bisa menggunakan gadget secara bijak. Dengan begitu, mereka tetap bisa menikmati manfaat teknologi tanpa mengorbankan kesehatan dan waktu istirahat.

    Pada akhirnya, gadget memang membawa banyak manfaat jika digunakan dengan benar. Namun, penggunaan yang berlebihan bisa membuat seseorang lupa waktu dan berdampak buruk bagi tubuh serta pikiran. Karena itu, penting bagi remaja untuk lebih bijak mengatur waktu, agar tetap bisa menikmati kemajuan teknologi tanpa kehilangan keseimbangan hidup dan kesehatan diri.

    Sumber:
    Kristiana, (2021). Kecanduan Internet di RI Meningkat Lima Kali Lipat Selama Pandemi Corona, https://health.detik.com.
    Mawitjere, O. T., Onibala, F., & Ismanto, Y. A. (2017). Hubungan Lama Penggunaan Gadget         Dengan Kejadian Insomnia Pada Siswi Di SMA Negeri Kawangkoan. E-Journal
    Keperawatan
    , 5, 1–6. https://jurnal.stikes-ibnusina.ac.id/index.php/jumkes/article/download/227/244
    https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/download/1389/1118/9504https://www.perplexity.ai/search/penyalahgunaan-gadget-sebagai-ODizRbhoTXWYNItjtz33og
    https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/manuju/article/download/9867/Download%20Artikel

    *Penulis: Maria Tuto Atu, Miranda, Aurelia Nopa Desinta, Indah Rusdiana, Andhini Siltya Agatha, Christy Vannysa Regita, Falkutas Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II Pontianak. 

    Iman Bertumbuh dengan Kasih dan Perbuatan

    Mahasiswa AKUB mewawancarai anggota OMK aktif di Paroki Pahuman (01/11/2025)

    Duta, Pontianak | Pada awal November 2025, sekelompok mahasiswa AKUB Pontianak melakukan wawancara dengan Delvina Aullia Citra, seorang anggota orang muda Katolik (OMK) yang aktif di Paroki Santo Yohanes Pemandi Pahuman.

    Pertemuan yang berlangsung di Asrama St. Gemma Galgani, Pontianak, ini menjadi kesempatan berharga untuk menggali makna menjadi saksi Kristus (Martyria) dalam kehidupan sehari-hari — terutama bagaimana iman dapat dihidupi melalui tindakan nyata di tengah dunia modern.

    Dalam setiap langkah hidup, kita semua dipanggil untuk menjadi saksi kasih Tuhan — bukan hanya melalui kata-kata indah, tetapi lewat perbuatan kasih yang tulus. Dunia saat ini haus akan aksi nyata yang memancarkan kasih Allah, bukan sekadar wacana iman yang berhenti di bibir.

    Potret senyuman manis Delvina saat menceritakan kegiatan OMK Paroki Pahuman (01/11/2025)

    Dalam kehidupan Gereja Katolik, kaum muda memiliki peran yang amat penting sebagai penerus iman dan penggerak harapan.

    Mereka diharapkan menjadi terang dan garam bagi dunia (bdk. Mat 5:13–14), menghadirkan wajah Kristus di mana pun mereka berada: di kampus, tempat kerja, lingkungan sosial, maupun ruang digital.

    Namun, di tengah arus zaman yang serba cepat, banyak kaum muda mulai kehilangan semangat rohani dan pelayanan. Tantangan seperti gaya hidup instan, tekanan akademik, serta derasnya pengaruh teknologi kerap membuat iman terasa memudar dan pelayanan terabaikan.

    Menyadari kenyataan itu, Gereja dipanggil untuk terus menumbuhkan semangat iman di kalangan Orang Muda Katolik (OMK), agar mereka tetap setia pada panggilan sebagai saksi Kristus.

    Salah satu cara yang sederhana namun bermakna ialah dengan berbagi kisah nyata tentang kaum muda yang tetap berpegang pada imannya dan berani menghidupinya dalam tindakan kasih sehari-hari.

    Salah satu di antaranya adalah Delvina, seorang mahasiswi keperawatan sekaligus anggota aktif OMK di Paroki Santo Yohanes Pemandi Pahuman, Keuskupan Agung Pontianak. Dalam kesehariannya, Delvina berusaha menjawab panggilan iman melalui kepedulian, pelayanan, dan ketekunan dalam studi.

    Meski dihadapkan pada berbagai tantangan — mulai dari padatnya jadwal kuliah hingga godaan dunia digital — ia tetap berusaha menghadirkan kasih Kristus lewat sikap sederhana dan nyata.

    Melalui kisah Delvina, kita diajak menyadari bahwa menjadi saksi Kristus tidak selalu berarti berkhotbah di mimbar atau melayani di altar.

    Kesaksian iman justru tumbuh dan berakar dalam keseharian — ketika seseorang memilih untuk mengasihi, melayani, dan bertahan dalam kebaikan, walau kecil dan tersembunyi.

    Foto kegiatan Turnei yang diikuti oleh Delvina di wilayah Sidas (24/08/2025)

    Profil Narasumber

    Delvina Aullia Citra adalah seorang OMK yang aktif melayani di Paroki Santo Yohanes Pemandi Pahuman, Kabupaten Landak. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan pastoral, seperti turnei ke stasi-stasi, doa bersama, serta pelayanan dalam perayaan Ekaristi.

    Bagi Delvina, pelayanan bukan sekadar rutinitas gerejawi, melainkan ungkapan kasih kepada Tuhan. Ia percaya bahwa melalui tindakan sederhana dan ketulusan hati, setiap orang dapat menghadirkan kasih Allah di tengah kehidupan sehari-hari.

    Kisah dan Kesaksian Iman

    Melalui sosok muda seperti Delvina, kita diajak melihat bahwa iman tidak tumbuh hanya lewat pengetahuan, melainkan melalui perbuatan kasih yang nyata. Dalam keseharian, Delvina dikenal bersemangat melayani meski berbagai tantangan sering ia hadapi.

    “Kegiatan turnei ke stasi-stasi lain membuat saya banyak belajar dan bersosialisasi dengan umat sekitar,” tuturnya sambil tersenyum. “Dari situ saya mengenal lebih banyak orang dan bisa ikut membantu pelayanan di tempat-tempat yang membutuhkan.”

    Pelayanan itu biasanya dilakukan hampir setiap bulan di Paroki Pahuman. Bagi Delvina, pelayanan bukanlah beban, tetapi panggilan.

    “Yang sulit itu bukan pelayanannya,” katanya jujur, “tetapi menyiapkan hati untuk melayani.”

    Kesetiaan dalam hal kecil menjadi semangat hidupnya. Delvina sering menghadapi hambatan sederhana namun nyata: jalan yang licin karena hujan atau cuaca yang tidak bersahabat.

    “Sering kali kalau mau ikut kegiatan OMK, saya terkendala hujan. Tapi saya tetap berangkat, karena saya yakin Tuhan selalu menyertai,” ujarnya mantap.

    Bagi Delvina, setiap langkah menuju pelayanan adalah bagian dari persembahan iman — sebuah salib kecil yang harus dipikul dengan setia. Ayat Mazmur 23:4 menjadi sumber penghiburannya:

    “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”

    Delvina menegaskan bahwa pelayanan bukan soal mencari pujian, melainkan tentang kesetiaan dan kasih yang konsisten. Ia berusaha hadir saat dibutuhkan, mendoakan teman-teman OMK, dan aktif dalam kegiatan paroki.

    Menurutnya, semangat pelayanan OMK tidak akan tumbuh tanpa dukungan dari berbagai pihak — mulai dari pastor paroki, pengurus umat, hingga seluruh komunitas Gereja. Dukungan sederhana seperti sapaan dan doa dapat menumbuhkan semangat kaum muda untuk tetap terlibat.

    Ia juga menyadari tantangan zaman digital yang membuat banyak teman-temannya jarang aktif di kegiatan gereja. Namun, Delvina mencoba menjadikan teknologi sebagai sarana iman.

    “Saya pakai aplikasi e-Katolik, di situ saya pasang alarm doa Angelus dan Kerahiman Ilahi. Jadi setiap hari saya diingatkan untuk berdoa,” katanya sambil tersenyum.

    Langkah kecil itu menjadi bukti bahwa teknologi tidak selalu menjauhkan anak muda dari Tuhan. Ketika digunakan dengan bijak, teknologi justru bisa menjadi jembatan baru untuk bersaksi. Seperti tertulis dalam Matius 10:32:

    “Barangsiapa mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku di surga.”

    Selain pelayanan rutin di paroki, Delvina juga aktif mengikuti kegiatan rohani kaum muda seperti Capuchin Camp, Ekaristi Kaum Muda (EKM), dan Temu Orang Muda Katolik (TOMKA).

    Mahasiswa AKUB foto bersama narasumber usai wawancara di Asrama St. Gemma Galgani (01/11/2025)

    “Di kegiatan TOMKA, saya bisa bertemu teman-teman dari berbagai wilayah. Kami belajar membangun kekompakan, saling memahami, bahkan ada yang menemukan pasangan hidup,” katanya sambil tertawa kecil.

    Bagi Delvina, kegiatan OMK bukan hanya ajang berdoa, tetapi juga ruang untuk bertumbuh dalam kasih dan persaudaraan. Ia percaya bahwa cinta sejati berakar dari pelayanan kasih yang berlandaskan Tuhan, dan berbuah dalam kehidupan bersama.

    “Di kampus, di kelas, bahkan di dunia digital pun kita bisa bersaksi. Asal dilakukan dengan kasih, jujur, dan peduli, itu sudah bentuk iman yang nyata,” ujarnya penuh keyakinan.

    Ketika ditanya tentang harapannya bagi kaum muda Katolik di Kalimantan Barat, Delvina menjawab dengan antusias:

    “Saya berharap semua OMK bisa ikut kegiatan dengan sepenuh hati dan tetap aktif dalam pelayanan. Karena Gereja butuh semangat muda untuk terus hidup.”

    Bagi Delvina, dunia tidak membutuhkan banyak kata, tetapi tindakan penuh cinta yang nyata. Dari dirinya kita belajar bahwa kesaksian iman tidak selalu muncul dari hal besar, tetapi dari senyum yang menenangkan, tangan yang membantu, dan hati yang mau melayani.

    Refleksi Iman Mahasiswa

    Dari kisah Delvina, kami belajar bahwa iman sejati tidak berhenti pada kata-kata, melainkan tumbuh dalam langkah-langkah kecil yang dijalani dengan kasih. Pelayanan bukan hanya soal hadir di altar, tetapi tentang kesediaan hadir bagi sesama — di kampus, di rumah, di komunitas, bahkan di ruang digital tempat kita hidup setiap hari.

    Menjadi saksi Kristus berarti berani setia meski lelah, tetap melangkah meski hujan, dan terus mengasihi meski dunia kadang tak peduli. Dalam setiap tindakan sederhana, Tuhan bekerja diam-diam, menumbuhkan kasih dan harapan di hati kita.

    Melalui semangat Delvina, kami diingatkan bahwa iman yang hidup selalu berbuah dalam kasih: dalam senyum yang tulus, tangan yang mau menolong, dan hati yang melayani tanpa pamrih. Iman bukan sekadar keyakinan yang diucapkan, tetapi kehidupan yang dibagikan.

    Kami pun ingin melangkah seperti dia — menjadi saksi Kristus dalam kehidupan kami sendiri: di ruang belajar, di tengah keluarga, dan di dunia digital yang sering bising oleh kata-kata. Sebab dunia tidak selalu membutuhkan banyak bicara, melainkan cinta yang nyata.

    Dampak dan Harapan

    Dari kisah dan pelayanan Delvina, kami belajar bahwa menjadi saksi Kristus tidak harus melalui hal-hal besar, tetapi melalui ketulusan hati dalam hal-hal sederhana.

    Kesetiaan dalam pelayanan, kerelaan membantu sesama, dan penggunaan teknologi secara bijak menjadi wujud nyata dari iman yang hidup.

    Foto kegiatan Tomka yang dilakukan oleh Delvina di Agak Samih Landak (27/06/2025)

    Pelayanan Delvina mengajarkan bahwa iman bukan hanya diucapkan, melainkan dihidupi — dalam tindakan kasih yang membawa kehadiran Tuhan bagi orang di sekitar. Dari sana kami merasakan dampak rohani yang mendalam: bahwa iman dapat tumbuh di tengah kesibukan dan tantangan zaman modern, asalkan hati tetap terarah kepada Kristus.

    Semangat Delvina menjadi cermin bagi generasi muda Katolik untuk terus berani bersaksi lewat tindakan kasih, baik di gereja, di kampus, maupun di dunia digital. Ia menunjukkan bahwa setiap langkah kecil dalam pelayanan adalah bagian dari karya besar Allah.

    Harapan kami, kisah ini dapat menginspirasi para pembaca — terutama kaum muda — agar tidak ragu membawa terang Kristus ke mana pun mereka pergi. Semoga api iman terus menyala di hati setiap Orang Muda Katolik, sehingga kasih Kristus semakin nyata di dunia yang haus akan cinta dan kebaikan.

    *Penulis: Jatipati Da Rossi, Klaudia Lestari, Lira Virna, dan Marisstella (Mahasiswa Prodi Keuangan dan Perbankan Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak)

    *Editor:   Vinsensius, S.Fil., M.M. (Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak) 

    Pelayanan Kasih Yesus Hadir di Tengah Orang Lemah

    Mahasiswa AKUB mewawancarai Suster Charitas, KFS di Panti Jompo Graha Werdha Marie (29/10/2025)

    Duta, Pontianak | Di sebuah rumah sederhana di Jalan Budi Utomo, Siantan Hulu, Kota Pontianak, kehangatan kasih terasa begitu nyata. Di Panti Jompo Graha Werdha Marie Joseph, Suster Charitas, KFS, bersama para pendamping rohani, dengan penuh kasih merawat dan menemani para lansia yang menjalani hari-hari senjanya.

    Di tengah dunia yang semakin sibuk dan individualistis, tempat ini menjadi oase kasih — tempat di mana wajah belas kasih Kristus sungguh hadir di antara mereka yang lemah dan membutuhkan perhatian.

    Pelayanan kasih, atau diakonia, merupakan salah satu wujud nyata kehadiran Kristus di tengah umat manusia. Gereja tidak hanya berkarya melalui pewartaan dan liturgi, tetapi juga melalui tindakan kasih yang konkret bagi sesama. Dalam kehidupan modern, tidak sedikit orang lanjut usia yang menghadapi kesepian karena ditinggalkan oleh keluarga, keterbatasan ekonomi, atau kesibukan zaman yang membuat relasi antargenerasi semakin renggang.

    Melalui karya pelayanan diakonia, Gereja diundang untuk menjembatani kesenjangan itu dengan menghadirkan kasih yang menyembuhkan dan menguatkan.

    Di Graha Werdha Marie Joseph, kasih itu tampak dalam hal-hal sederhana — sapaan lembut Suster Charitas, doa bersama di ruang kapel, hingga tawa kecil yang muncul di sela percakapan dengan para lansia.

    Semua itu menjadi tanda bahwa kasih Kristus tetap hidup dan bekerja melalui tangan-tangan manusia yang rela melayani.

    Mahasiswa AKUB berkunjung ke Panti Jompo Graha Werdha Marie Joseph (29/10/2025)

    Kunjungan dan dialog bersama Suster Charitas menjadi kesempatan berharga untuk menimba makna pelayanan kasih sebagai bagian dari perutusan Gereja.

    Melalui kesaksiannya, kita diingatkan bahwa iman sejati selalu menuntun kita untuk keluar dari diri sendiri dan hadir bagi mereka yang menderita, lemah, dan terlupakan.

    Di sanalah kasih Yesus menjadi nyata — di tengah orang-orang sederhana yang menantikan sentuhan cinta dari sesamanya.

    14 Pedoman di Panti Jompo Graha Werdha Marie Joseph (29/10/2025)

    Profil Para Pelayan Kasih

    Di balik suasana tenang Panti Jompo Graha Werdha Marie Joseph, ada banyak pribadi yang dengan tulus mempersembahkan waktu dan tenaganya bagi para lansia. Mereka bukan hanya pekerja, tetapi juga pelayan kasih yang menghadirkan wajah Kristus lewat tugas sederhana sehari-hari.

    Suster Charitas, KFS

    Suster Charitas adalah pengurus utama di Panti Jompo Graha Werdha Marie Joseph Pontianak. Dengan penuh kelembutan, ia memimpin para suster dan staf dalam melayani para lansia yang tinggal di panti tersebut.

    Tanggung jawabnya mencakup pemenuhan kebutuhan harian, perhatian terhadap kesehatan, serta menciptakan suasana yang hangat dan penuh kasih. Dalam kesaksian hidupnya, Suster Charitas memperlihatkan bahwa melayani bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan untuk mewujudkan kasih Kristus yang hadir bagi mereka yang lemah dan terlupakan.

    Di Panti Jompo Graha Werdha Marie Joseph terdapat ruang laundry (29/10/2025)

    Frater Silvanus Purnomo, S.Fil.

    Frater Silvanus Purnomo saat ini menjalani masa studi teologi di Sekolah Tinggi Teologi Pastor Bonus Pontianak, dan tinggal di Seminari Antonino Ventimiglia. Meski tidak bertugas secara tetap di panti, ia beberapa kali datang secara pribadi untuk mengunjungi para lansia — berbagi cerita, memberi semangat, dan menjadi sahabat dalam kesendirian mereka.

    Kehadiran seorang frater muda seperti Silvanus membawa suasana segar dan penuh harapan, seolah mengingatkan bahwa pelayanan kasih melintasi batas usia dan status, karena kasih Allah bersifat universal.

    Mahasiswa AKUB sedang bercerita dengan lansia di Panti Jompo Graha Werdha Marie Joseph (29/10/2025)

    Maximilianus Beni

    Di sisi lain, ada sosok sederhana namun penting: Maximilianus Beni, petugas keamanan di Panti Jompo Graha Werdha Marie Joseph. Setiap hari, ia memastikan lingkungan panti aman dan nyaman bagi semua penghuni.

    Namun, bagi Beni, tugasnya tidak berhenti pada menjaga gerbang atau mengatur lalu lintas tamu — ia juga kerap membantu para lansia berjalan, menemani mereka berbincang, atau sekadar tersenyum menyapa.

    Dalam caranya sendiri, Beni menjadi saksi kecil tentang bagaimana pelayanan kasih dapat diwujudkan lewat tindakan sederhana yang lahir dari hati.

    Panti Jompo Graha Werdha Marie Joseph didirikan oleh kongregasi suster PR (29/10/2025)

    Menabur Kasih di Rumah Senja

    Pada tanggal 29 Oktober 2025, suasana di Panti Jompo Graha Werdha Marie Joseph terasa hangat dan bersahabat. Di balik bangunan sederhana di kawasan Siantan Hulu itu, tersimpan kisah pelayanan kasih yang menyentuh hati.

    Suster Charitas, KFS, pengurus utama panti, menyambut kami dengan senyum lembut dan bercerita tentang perjalanan panjang karya ini. Panti jompo tersebut berdiri sejak tahun 2008, berawal dari dorongan hati para suster yang sebelumnya mengelola panti asuhan.

    “Banyak orang datang mengusulkan agar kami juga menampung para lansia,” tutur Suster Charitas.

    “Kami melihat sendiri ada banyak orang tua yang terlantar dan tidak memiliki siapa-siapa. Dari sanalah kami merasa tergerak untuk membuka rumah ini.”

    Kini, panti ini menjadi rumah bagi 41 orang lansia — terdiri atas 21 opa dan 20 oma — dengan latar belakang yang beragam, baik dari segi suku maupun agama. Sebagian besar berasal dari komunitas Tionghoa, ada pula yang beragama Katolik, Protestan, dan Buddha. Beberapa tahun lalu, bahkan ada seorang lansia beragama Islam yang sempat tinggal di sana. “Kami menerima semua dengan kasih,” kata Suster Charitas.

    Selain empat suster yang tinggal tetap, panti ini juga dibantu oleh seorang ibu juru masak serta beberapa anak muda yang masih bersekolah atau kuliah dan ikut membantu kegiatan harian. Seorang petugas keamanan turut menjaga kenyamanan dan ketenangan para penghuni panti.

    Di Panti Jompo Graha Werdha Marie Joseph, untuk saat ini terdapat 21 opa dan 20 oma, dengan suster dan karyawan, serta anak panti. Total jumlah 53 orang (29/10/2025)

    Setiap hari, kegiatan di panti berlangsung teratur dan penuh makna. Pukul lima pagi, para lansia sudah bangun dan bersiap untuk mandi.

    Pukul enam, mereka berolahraga ringan di halaman depan. Setelah sarapan, ada waktu santai sambil menikmati kopi atau teh, lalu makan siang pada pukul dua belas. Sore hari diisi dengan istirahat, terapi, atau bermain bersama. Setelah makan malam pukul lima sore, para lansia biasanya berdoa bersama sebelum tidur sekitar pukul tujuh malam.

    Beberapa lansia senang membantu menyiram bunga, menata halaman, atau menonton acara bersama di aula tengah. Di aula itu juga tersedia alat terapi sederhana. Seorang dokter datang secara berkala untuk memeriksa kesehatan mereka, sementara perawat kadang melakukan terapi fisik bagi yang membutuhkan.

    Sumber makanan di panti sebagian besar berasal dari sumbangan para donatur dan umat yang tergerak hatinya. “Kadang kami mendapat telepon dari orang yang ingin mengantar nasi atau bahan makanan,” cerita Suster Charitas. “Semua itu menjadi tanda bahwa Tuhan selalu mencukupkan.”

    Kebahagiaan para lansia biasanya bertambah ketika kelompok pelayanan — seperti mahasiswa, umat paroki, atau relawan — datang berkunjung. Mereka bernyanyi, berdoa, dan bermain bersama.

    Suasana penuh tawa dan kehangatan itu menjadi pengingat bahwa kasih dapat menghapus kesepian. Kunjungan paling meriah biasanya terjadi saat Natal dan Tahun Baru Imlek, ketika sebagian dari mereka dijemput keluarga untuk merayakan bersama di rumah.

    Suster Charitas mengakui, pelayanan di panti jompo tidak selalu mudah. “Ada saat-saat sulit, seperti ketika lansia jatuh sakit parah atau bahkan berpulang,” ujarnya dengan suara lirih. “Tapi kami percaya, setiap tindakan kecil yang kami lakukan — memandikan, memberi makan, atau sekadar mendengarkan cerita mereka — adalah wujud nyata kasih Kristus yang hidup di antara kami.”

    Bagi Frater Silvanus Purnomo, S.Fil, yang beberapa kali datang mengunjungi panti, karya pelayanan ini adalah perpanjangan tangan Kristus sendiri. “Yesus selalu hadir di tengah orang sakit, miskin, dan tersingkir. Melayani mereka berarti melayani Yesus,” katanya. Ia menambahkan, setiap kali datang ke panti, ia merasa imannya diperbarui. “Melihat wajah-wajah lansia yang tersenyum saat kita datang itu seperti melihat wajah Kristus yang hidup di antara kita.”

    Sementara itu, Maximilianus Beni, petugas keamanan di panti, mengaku bangga bisa menjadi bagian dari keluarga besar Graha Werdha Marie Joseph. “Saya merasa bukan hanya bekerja, tapi juga ikut melayani,” ujarnya. “Di sini saya belajar bahwa kasih bisa hadir dalam hal-hal kecil — menyapa, membantu berjalan, atau sekadar menemani mereka duduk sore-sore.”

    Harapan sederhana pun mengalir dari para pelayan kasih ini: agar setiap opa dan oma di panti tetap merasa dicintai, dihargai, dan tidak kesepian. Dalam keseharian yang mungkin tampak biasa, sesungguhnya mereka sedang menjalani panggilan luar biasa — menjadi saksi kasih Kristus di tengah dunia yang haus akan perhatian dan belas kasih.

    Di Panti Jompo Graha Werdha Marie Joseph terdapat 4 ruang Kamar yang diisi 20 bed, di masing-masing ruangan (29/10/2025)

    Kasih yang Menghidupkan Iman

    Kunjungan ke Panti Jompo Graha Werdha Marie Joseph menjadi pengalaman rohani yang membekas di hati. Bagi para mahasiswa, perjumpaan dengan para lansia, suster, dan para pelayan kasih di sana bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan ziarah iman — sebuah perjalanan untuk menemukan Kristus yang hadir dalam diri sesama yang lemah dan membutuhkan.

    Melalui kegiatan wawancara dan kunjungan ini, para mahasiswa memperoleh pengalaman berharga tentang arti pelayanan kasih yang sesungguhnya. Mereka menyaksikan dengan mata sendiri bagaimana para suster di panti melayani dengan penuh kasih, kesabaran, dan ketulusan kepada para lansia yang membutuhkan perhatian. Pelayanan yang dilakukan bukan hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga memberi dukungan batin dan spiritual, agar setiap lansia tetap merasa berharga, dicintai, dan tidak sendirian dalam perjalanan hidupnya.

    Dari pengalaman itu, para mahasiswa belajar bahwa pelayanan kasih — atau diakonia — bukan sekadar memberi bantuan, tetapi hadir dan menyapa dengan hati yang penuh cinta. Kasih Kristus tampak dalam tindakan-tindakan kecil: mendengarkan dengan sabar, menyuapi dengan lembut, menuntun langkah yang mulai rapuh, dan tersenyum di tengah kepenatan. Semua itu menjadi tanda nyata bahwa kasih Allah bekerja melalui tangan-tangan manusia yang mau melayani.

    Kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran baru bahwa setiap tindakan kasih, sekecil apa pun, memiliki makna besar bagi mereka yang menerimanya. Doa dan iman menjadi hidup ketika diwujudkan dalam perbuatan konkret bagi sesama.

    Dalam diri para lansia yang ditemui, para mahasiswa menemukan wajah Kristus sendiri — Kristus yang mengajar untuk mencintai tanpa batas, menghargai setiap kehidupan, dan hadir bagi mereka yang sering dilupakan.

    Kasih Tuhan sungguh nyata melalui orang-orang yang rela melayani tanpa pamrih. Karena itu, para mahasiswa berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan dan menginspirasi banyak generasi muda untuk tergerak hatinya peduli terhadap sesama, terutama bagi mereka yang lemah dan terlupakan.

    Akhirnya, pengalaman di panti ini menjadi pengingat bahwa iman tidak hanya diungkapkan lewat doa atau kata-kata, tetapi melalui tindakan kasih yang nyata.

    Dengan hati yang terbuka dan semangat pelayanan yang tulus, kita semua dipanggil untuk menjadi perpanjangan tangan Kristus, menghadirkan terang dan pengharapan di tengah dunia yang haus akan kasih dan kepedulian.

    *Penulis: Nelly Christiany, Oktavius Olga, Pero, dan Rizky (Mahasiswa Prodi Keuangan dan Perbankan Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak)

    *Editor: Vinsensius, S.Fil., M.M. (Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak)

    Mahasiswa di Era AI

    Sumitro, S.M., M.M. – Dosen Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa.
    Duta, Pontianak | Ini adalah tentang artificial intelligence (AI). Belajar, Berpikir, dan Berkarya dengan Kecerdasan Buatan.
    1. Mengapa AI Penting bagi Mahasiswa

    Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bukan lagi sekadar tren teknologi global, melainkan sudah menjadi bagian nyata dari kehidupan sehari-hari mahasiswa. Kini, AI mulai mengubah cara belajar, berpikir, bahkan cara mahasiswa berkarya.

    Namun, masih banyak mahasiswa yang baru berada di tahap sebagai “pengguna teknologi”, belum sampai menjadi “pengembang” atau “pengkritik teknologi”.

    Padahal, AI memiliki potensi besar untuk menjadi alat pemberdayaan intelektual yang bisa membantu mahasiswa memahami data, memecahkan masalah sosial, hingga menciptakan inovasi di berbagai bidang, termasuk bisnis dan kewirausahaan.

    AI sebenarnya membuka ruang yang luas bagi mahasiswa untuk berpikir lebih cepat, kritis, dan kontekstual.

    Melalui teknologi ini, mahasiswa tidak hanya mengikuti perkembangan global, tetapi juga bisa menciptakan solusi untuk permasalahan di sekitar mereka.

    Dengan memahami dan memanfaatkan AI secara tepat, mahasiswa bisa menjadi agen perubahan yang membawa dampak nyata, bukan hanya sekadar pengguna pasif teknologi.

    2. Belajar dengan AI: Mengubah Cara Mahasiswa Menyerap Pengetahuan

    AI kini telah menjadi “asisten belajar” baru bagi mahasiswa. Aplikasi seperti ChatGPT, Grammarly, Quillbot, atau Perplexity AI sudah sering digunakan untuk membantu menyusun tugas, menulis esai, hingga mencari referensi penelitian. Kehadiran AI membuat proses belajar menjadi lebih mudah dan efisien.

    Melalui AI, mahasiswa bisa menikmati pembelajaran yang lebih adaptif. Sistem AI mampu menyesuaikan materi berdasarkan kemampuan masing-masing individu, sehingga mahasiswa yang merasa tertinggal bisa mengejar ketertinggalannya.

    Selain itu, AI juga membuka akses ke berbagai sumber global, sehingga mahasiswa dapat belajar langsung dari literatur dan penelitian internasional tanpa batas geografis.

    Dalam hal penelitian, AI dapat membantu menelusuri referensi, menganalisis data, dan menyusun ide, terutama bagi mereka yang masih belum terbiasa menulis karya ilmiah.

    Namun, ada pula tantangan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah ketergantungan berlebihan terhadap AI.

    Banyak mahasiswa yang menjadikan AI sebagai jalan pintas tanpa mau berpikir sendiri, sehingga kemampuan reflektif dan daya kritis berkurang. Selain itu, ada risiko pelanggaran etika akademik jika mahasiswa menggunakan AI untuk menulis tanpa memahami isi tulisannya.

    Karena itu, belajar dengan AI seharusnya bukan berarti menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin, tetapi menjadikannya sebagai mitra yang membantu, bukan menggantikan peran manusia.

    3. Berpikir dengan AI: Membangun Pola Pikir Kritis, Kreatif, dan Kontekstual

    Bagian ini adalah yang paling penting. AI seharusnya tidak hanya mengubah cara mahasiswa mengerjakan tugas, tetapi juga cara mereka berpikir.

    AI memang memiliki kemampuan luar biasa untuk memproses data, mengenali pola, dan memberi rekomendasi.

    Namun, kemampuan untuk berpikir kritis, memahami konteks sosial, dan menilai secara etis tetaplah milik manusia.

    Mahasiswa perlu memandang AI bukan sebagai mesin jawaban, tetapi sebagai partner berpikir.

    Saat mengerjakan tugas, misalnya, mahasiswa bisa menggunakan AI untuk mencari sudut pandang lain, lalu membandingkannya dengan pendapat pribadi.

    Dalam penelitian sosial, AI dapat membantu menganalisis data, sementara interpretasi hasilnya tetap harus dilakukan oleh mahasiswa berdasarkan pemahaman terhadap konteks sosial dan budaya.

    Di sinilah letak pentingnya peran intelektual manusia—AI bisa membantu memberi data, tetapi hanya manusia yang bisa memberi makna pada data itu.

    Selain itu, berpikir dengan AI menuntut mahasiswa memiliki literasi kritis dan etika digital.

    Mahasiswa perlu menyadari bahwa hasil dari AI tidak selalu benar atau netral karena sistemnya bisa dipengaruhi oleh data yang bias.

    Maka, penting bagi mahasiswa untuk selalu bertanya: dari mana AI mendapatkan datanya? Apakah informasi yang diberikan relevan dan dapat dipercaya? Apakah penggunaan AI dalam karya ilmiah sudah dilakukan dengan cara yang etis dan transparan?

    Kemampuan untuk bertanya dan berpikir kritis seperti ini sangat penting agar mahasiswa tidak hanya pintar menggunakan AI, tetapi juga mampu memahami dan mengarahkan penggunaannya secara bertanggung jawab.

    Dengan begitu, AI tidak hanya menjadi alat bantu teknologi, tetapi juga menjadi sarana untuk mengasah nalar dan memperkuat karakter intelektual mahasiswa di era digital ini.

    *Sumitro, S.M., M.M. – Dosen Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa.

     

    San Agustin Kembangkan Sport Massage, Siapkan Tenaga Terapis Olahraga Profesional untuk Kalbar

    San Agustin Kembangkan Sport Massage, Siapkan Tenaga Terapis Olahraga Profesional untuk Kalbar, Sumber: Sumirat. 31 Oktober 2025.

    Duta, Landak | Di tengah semakin kompetitifnya dunia olahraga modern, kebutuhan akan pemeliharaan fisik atlet tidak lagi hanya bertumpu pada pelatih dan tim medis.

    Satu profesi yang kini semakin diperhitungkan dalam dunia keolahragaan adalah terapis sport massage—sebuah bidang yang secara ilmiah terbukti mampu mempercepat pemulihan otot, mencegah cedera, dan menopang performa atlet saat bertanding.

    Kesadaran inilah yang mendorong Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (San Agustin) di Ngabang, Kabupaten Landak, untuk memasukkan mata kuliah Sport Massage sebagai bagian kurikulum resmi.

    Langkah itu sekaligus menjadikan San Agustin sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi di Kalimantan Barat yang secara sistematis menyiapkan tenaga terapis olahraga profesional.

    Tradisi Kuno ke Ilmu Modern

    Secara historis, olahraga berkembang dari aktivitas bertahan hidup pada era manusia purba menjadi cabang ilmu yang diajarkan secara akademik di perguruan tinggi.

    Dari tombak berburu yang kini menjadi cabang lempar lembing, hingga lari maraton yang berakar dari kisah lari prajurit Yunani bernama Pheidippides.

    Hal yang sama terjadi pada massage. Kata massage berasal dari akar kata Yunani masso atau massein yang berarti menyentuh atau meremas, berkembang melalui bahasa Latin, Arab (mass’h), hingga Sansekerta (makeh) yang semuanya bermakna menekan lembut untuk tujuan kesehatan.

    Dalam sains modern, massage didefinisikan sebagai manipulasi jaringan lunak tubuh dengan tangan untuk tujuan terapeutik (Mark F., 2011).

    Olahraga kompetitif membuat tubuh atlet bekerja melampaui batas normal. Pemanasan buruk, beban latihan berlebih, benturan fisik, hingga stres akibat tuntutan prestasi, semuanya berpotensi memicu cedera otot, sendi, atau sistem saraf (Delaune & Lac, 2012).

    Ketika ketegangan otot terakumulasi, pemulihan melambat, dan performa atlet menurun. Dalam banyak kasus, cedera kronis bahkan membuat atlet gagal bertanding dan mengakhiri karier lebih cepat dari seharusnya. Di sinilah posisi sport massage menjadi krusial.

    San Agustin Kembangkan Sport Massage, Siapkan Tenaga Terapis Olahraga Profesional untuk Kalbar, Sumber: Sumirat, (31 Oktober 2025)

    Tiga Jenis Sport Massage untuk Atlet

    Dalam dunia pembinaan atlet, sport massage terbagi dalam beberapa kategori strategis, masing-masing memiliki fungsi berbeda:

    1. Pra-pertandingan
      Dilakukan 3 hari sebelum bertanding selama 10–15 menit, bertujuan meningkatkan sirkulasi darah, melemaskan otot, tanpa menimbulkan rasa sakit.
    2. Saat jeda pertandingan
      Diberikan pada waktu istirahat, fokus pada otot yang bekerja dominan untuk menjaga performa tanpa mengurangi kekuatan.
    3. Pasca-pertandingan (recovery massage)
      Digunakan sebagai terapi pemulihan cedera, rehabilitasi otot, dan perawatan pasca kompetisi, termasuk untuk kasus medis, ortopedi, dan fisioterapi.

    Teknik yang diajarkan di San Agustin meliputi effleurage, petrissage, frictions, stripping, tapotement, cupping, pounding, hingga skin rolling. Seluruhnya menggunakan standar ilmiah yang berlaku pada profesi terapis olahraga profesional (Jayadi, 2024).

    Dibutuhkan di POPDA, PORPROV, hingga PON, Tapi Tenaga Ahli Terbatas

    Kebutuhan tenaga terapis sport massage meningkat drastis dalam ajang-ajang olahraga resmi seperti POPDA, PORPROV, hingga PON. Namun, jumlah tenaga ahli yang kompeten, tersertifikasi, dan memahami aspek biomekanik olahraga masih belum mencukupi—terutama di tingkat daerah.

    Hal itu diungkapkan Brigadir Jenderal (Purn) Drs. Sumirat, M.Si., yang turut hadir dalam diskusi bersama Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Landak.

    Sport massage harus lebih diperkenalkan lagi. Selama ini di setiap event olahraga besar, kita sangat membutuhkan ahli terapi, tetapi jumlahnya minim. San Agustin bisa jadi pusat pengembangan tenaga sport massage di Kalbar,” tegasnya, (31/10/2025).

    Ia menambahkan, keberadaan kampus San Agustin menjadi peluang strategis untuk membangun kemandirian daerah dalam penyediaan tenaga pendukung atlet.

    Atlet Bukan Mesin Prestasi

    Di balik gagasan akademik ini, terdapat pesan moral yang lebih luas, atlet bukan robot, bukan objek eksperimen, dan bukan sekadar alat mencapai medali.

    Kurikulum sport massage di San Agustin dirancang bukan hanya untuk memberi keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan etika kemanusiaan, kesejahteraan atlet adalah fondasi prestasi, bukan penghambatnya.

    Bukan rahasia lagi bahwa banyak atlet dipaksa tampil meski tubuh belum pulih. Program latihan ekstrem kadang dilakukan tanpa evaluasi kesehatan. Di sinilah profesi terapis sport massage menjadi jembatan antara kebutuhan prestasi dan perawatan tubuh.

    Perbedaan terbesar sport massage dengan pijat konvensional terletak pada aspek ilmiahnya. Terapis harus memahami:

    • anatomi otot dan persendian
    • biomekanika gerak tubuh
    • sistem saraf dan sinyal cedera
    • tingkat strain otot (ringan, sedang, berat)
    • metode rehabilitasi pasca cedera
    • teknik manipulasi jaringan lunak berbasis penelitian

    Dengan demikian, sport massage bukan “pijat sembarangan”, melainkan modalitas terapi berbasis riset yang diakui dalam dunia kedokteran olahraga global.

    Arena Olahraga

    San Agustin berharap banyak pihak ikut mendukung, mulai dari KONI Kalbar, klub olahraga, rumah sakit, hingga pemerintah daerah. Jika sinergi berjalan baik, Kalbar bisa memiliki:

    ✅ Tenaga terapis sport massage dari daerah sendiri
    ✅ Atlet yang lebih sehat dan berprestasi jangka panjang
    ✅ Kemandirian SDM untuk event olahraga resmi
    ✅ Pengembangan profesi baru di bidang kesehatan olahraga

    Menurut Brigadir Jenderal (Purn) Drs. Sumirat, M.Si. langkah Universitas San Agustin Ngabang membuka mata kuliah sport massage adalah kontribusi bagi masa depan olahraga di Kalimantan Barat.

    Dengan semakin dipahaminya bahwa prestasi lahir dari tubuh yang terawat dan pikiran yang tenang, profesi terapis sport massage bukan lagi pelengkap—melainkan bagian inti dari dunia olahraga modern.

    “Intinya, pertemuan saya dengan Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Landak memunculkan ide bahwa sport massage harus lebih dikenalkan lagi. Selama ini setiap pekan olahraga seperti Popda, Porprov, hingga PON sangat membutuhkan ahli sport massage, dan salah satunya ada di Kampus San Agustin,” kata Sumirat, (31/10/2025).

    * Sam | Sumber: Brigadir Jenderal (Purn) Drs. Sumirat, M.Si & Jayadi, S.Pd., M.Or. 

    Program Nyata yang Terinspirasi dari Yubelium

    Foto bersama dengan Vinsensius, usai wawancara. 2025.

    Duta, Pontianak | Direktur AKUB, Vinsensius, S.Fil.,M.M (20/09/25) berbagi pandangan dan refleksi pribadi tentang makna Yubelium, perjalanan kampus, serta harapan bagi generasi muda Katolik di masa mendatang.

    Yubelium dalam Gereja Katolik merupakan tahun yang suci, dan hanya dirayakan 25 tahun sekali bukan setiap tahun. Pada saat ini tahun 2025, berarti terakhir tahun 2000,dan akan dirayakan kembali pada tahun 2050.

    Tanda yang terlihat dari Yubelium adalah pembukaan Pintu Suci di Basilika Santo Petrus di Roma.  pintu  itu sudah ada sejak berabad-abad lamanya, dijadikan pintu Basilika Santo Petrus, dan pintu tersebut dibuka  selama masa Yubelium — 25 tahun sekali sebagai tanda yang terlihat.

    Makna Yubelium

    Makna tahun Yubelium ini sebagai kesempatan untuk hidup dalam belas kasih Tuhan.

    Jadi, kita dapat merasakan bagaimana belas kasih Allah yang mengampuni lewat perayaan Yubelium ini. Pertama, pribadi menekankan ini kepada Tuhan lewat doa yang lebih sungguh-sungguh. Yang kedua, mengampuni dan berdamai dengan orang lain.

    Maka ini kesempatan yang baik, karena di tahun Yubelium ini kita diberikan kesempatan untuk pengakuan dosa dan meminta pengampunan Tuhan. Ini juga menjadi kesempatan yang baik untuk bisa berdamai dengan Tuhan dan sesama.

    Kemudian sebagai pimpinan di kampus, beliau juga didorong untuk menjadi pemimpin dengan hati yang penuh belas kasih, sama seperti Yesus yang memimpin dengan belas kasih kepada murid-murid-Nya. Jadi maknanya sangat mendalam.

    Rasa Syukur atas Perjalanan Kampus

    Sebagai penyelenggara Tuhan, tahun Yubelium juga dari 25 tahun kemudian  25 tahun lagi, barulah kita bisa merefleksikan perkembangan dari dalam Gereja dan dari kampus. dengan melihat perubahan dari tahun ketahun

    Misalnya, AKUB ini dulu berasal dari yayasan lama, lalu beralih ke yayasan baru, kemudian nanti akan menyatu dengan Unika San Agustin. Hal tersebut merupakan suatu penyelenggaraan Tuhan. Kita perlu bersyukur bahwa dalam setiap masa, setiap waktu tetap ada karya Tuhan di situ.

    Perubahan-perubahan yang patut disyukuri antara lain; bagaimana kesetiaan dan perjuangan para pendiri dan dosen dalam mengajar di sini, itu bukti nyata dari penyelenggaraan Tuhan. Membentuk kaum muda di kampus ini, dan juga kesetiaan mahasiswa di sini, hal tersebut juga perlu kita syukuri sebagai bagian dari Yubelium. Kepercayaan orang tua yang mempercayakan anak-anaknya berkuliah di sini juga patut kita syukuri.

    Terinspirasi dari Yubelium

    Sesuatu yang paling relevan sebenarnya jika kita diberi kesempatan untuk merayakan Yubelium di kampus, misalnya di Keuskupan meminta kita bisa membuat Program Kampus Berbelas Kasih dan Kepedulian Sosial. Itu akan sangat berdampak bagi orang  luar.

    Contohnya, yang kita lakukan adalah memberikan beasiswa kepada anak-anak KIP. Beasiswa yang diberikan dari Ordo Dominikan juga itu dari belas kasih.

    Dan kepada sesama juga bisa misalnya kita mengadakan kegiatan sosial, bakti sosial ke panti asuhan, anak-anak jalanan itu juga merupakan suatu bentuk kepedulian kita pada sesama. Kemudian ada lagi gerakan rekonsiliasi dan persaudaraan, misalnya kita mengadakan rekoleksi gabungan dengan kampus lain.

    Dalam wawancara pak vinsen menyampaikan pesan untuk mensyukuri perjalanan kita Bersama, itu yang harus kita tanamkan karena di Tahun Yubelium ini kita merayakan belas kasih Allah. Karena Allah mengasihi kita, mengampuni kita, maka kita harus bersyukur atas perjalanan kita di kampus sejak peralihan hingga bergabung dengan San Agustin, yang membawa banyak perubahan positif.

    Dengan memperbaharui hati dan cara hidup kita ini menjadi kesempatan baik dalam Yubelium untuk memperbaharui diri, melihat kekurangan, dan memperbaikinya; mengubah cara hidup kita dari yang lama ke yang baru. Membangun semangat persaudaraan juga sangat penting, karena Yubelium bukan hanya untuk orang Katolik, tapi untuk semua orang.

    Kita membangun semangat persaudaraan dengan siapa saja tanpa batas agama atau suku. Serta menjadi saluran kasih Allah, artinya Allah menyuruh kita menolong sesama; kita menjadi tangan kanan Allah bagi sesama kita.

    Dengan merayakan Yubelium yang sangat langka ini, yang hanya 25 tahun sekali. Mungkin kalau usia manusia hanya bisa merayakan paling tiga kali saja, karena umur 75 tahun mungkin yang keempat kita tidak bisa ikut lagi. Maka karena ini momen yang sangat penting, kita jangan berhenti hanya pada perayaan saja.

    Kita harus menerapkan pada kehidupan dengan cara pertama: hidup dalam rasa syukur dan pertobatan.

    Jadi meskipun sudah lewat masa Yubelium, kita tetap bersyukur dan tetap harus punya semangat pertobatan. belas kasih yang sudah dirayakan pada Yubelium ini tetap kita bawa terus sampai Yubelium berikutnya. Jangan sampai hilang karena tidak merayakan lagi, tapi harus selalu dihidupi nilai belas kasih itu.

    Menjadi agen perdamaian di tengah lingkungan kita harus bisa menjadi pembawa perdamaian.

    Ketika teman bertengkar, kita harus bisa mendamaikan mereka. Atau ketika di jalan bertemu orang bertengkar, kita juga bisa mendamaikan mereka. Maka dengan membawa semangat Yubelium ke dalam profesi masing-masing  ketika  sudah lulus nanti, dalam pekerjaan masing-masing harus ada semangat Yubelium: semangat belas kasih, pengampunan, dan perdamaian.

    *Martina Angelina & Veneranda Isni, Mahasiswi Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II Pontianak. 

    TERBARU

    TERPOPULER