Friday, June 5, 2026
More
    Home Blog Page 27

    Fondasi Kurikulum, Sejarah Perkembangan, dan Standar Isi dalam Olahraga

    Gambar. Ilustrasi Fondasi Kurikulum (Sumber: gemini.google.com)

    Duta, Landak | Apa olahraga disekolah hanya sekdar senam dan permainan bola? ternyata, dibalik Gerakan fisik terdapat fondasi kurikulum yang membentuk karakter dan Kesehatan siswa .Menurut pandangan  (Bahsoan,agil et al 2025)  fondasi kurikulum olahraga dapat dilihat dari tiga dimensi  tujuan Pendidikan,  filosofi olahraga dan Kesehatan, serta kompetensi yang di harapkan siswa. Pertama, tujuan Pendidikan dalam olahraga mencakup pengembangan fisik, Kesehatan serta karakter siswa.

    Sebagaimana diungkapkan bahwa Pendidikan jasmani olahraga dan Kesehatan (PJOK) merupakan mata Pelajaran penting karena membantu siswa memahami pentingnya aktivitas fisik dan hidup sehat. Dalam pandangan (Hardi et al., 2025), kurkulum merupakan faktor penting yang mempengaruhi kualitas Pendidikan di Indonesia, harus disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan guru.

    Filosofi olahraga dalam Pendidikan menempatkan olahraga bukan hanya sebagai aktivitas jasmani, tetapi sebagi wadah pengembangan menyeluruh seperti fisik, mental, sosial. Sebagain contoh, suatu kajian menjelaskan bahwa Pendidikan jasmani beperan penting dalam pengembangan seluruh siswa, yang mencakup aspek – aspek fisik, mental dan sosial. Menurut (Hidayat et al., 2014) menyatakan PJOK merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan Gerak, keterampilan berpikir kritis ,keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, Tindakan moral, dan pola hidup sehat.

    Kompetensi yang diharapkan pada era abad 21 berbeda dengan masa lalu yang tidak hanya befokus keterampilan motorik, tetapi juga berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi. Misalnya sebuah artikel menyatakan bahwa dalam kurikurum Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan abad 21 yang di harapkan siswa mampu bepikir kritis, kreatif, dan dapat berkolaborasi selain aspek fisik.

    (Mustafa, 2020), menyatakan bahwa perkembangan kurikulum di Indonesia, terutama penerapan kurikulum 2013 yang kemudian direvisi tahun 2016, revisi ini menekankan pembentukan karakter serta keterampilan abad ke- 21 seperti berpikir kritis, kreatif, inovatif, berkolaborasi, dan berkomunikasi.

    Dengan demikan fondasi kurikurum olahraga harus dirancang agar sesuai dengan tujuan Pendidikan yang luas, mengintergrasikan filosofi Kesehatan dan pengembangan karakter, serta menyesuaikan kompentensi siswa di Zaman sekarang.

    Sejarah Perkembangan kurikulum olahraga di Indonesia tidak hanya berdiri sendiri, melainkan mengikuti evaluasi kurikulum nasional secara umum, kemudian mendapatkan perhatian khusus Ketika olahraga dan Kesehatan semangkin diakui perannya. Sebuah studi tentang perkembangan kurikulum secara umum mencatat bahwa kurikulum di Indonesia terus berubah karena harus beradaptasi dengan perkembangan era yang aktif atau dinamis.

    Menurut (Saat et al., 2020), kurikulum bersifat dinamis, selalu berubah mengikuti perkembangan zaman, teknologi, dan kebutuhan masyarakat. Setiap perubahan diharapak mebawa peningkatan kualitas pendidikan nasional, termasuk dalam pembentukan karakter, keterampilan, dan kompetensi peserta didik agar siap bersaing secara global.

    Pada tahap awal, pendidikan dan olahraga masih dipandang sebagai pelengkap, kurang mendapat perhatian strategis. Sebagi contoh, analisis Pendidikan jasmani di Indonesia menyebutkan bahwa, kurikulum yang di pergunakan sebaiknya dapat dipakai untuk jangka waktu lama, dan bahwa sarana -prasarana masih belum memadai.

    Menurut pandangan (Pendidikan et al., n.d.), Pendidikan jasmani dan olahraga tidak sekedar aktivitas fisik, tetapi fondasi untuk membangun manusia indonesia yang sehat, berkarakter, dan bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa.

    Kemudian dengan regulasi standar Nasional Pendidikan (SNP) muncul aspek standar yang harus dipenuhi dalam Pendidikan, termasuk olahraga. Sebuah artikel menyebut bahwa didalam standar nasional di Indonesia terdapat aspek-aspek tertentu, diantaranya standar isi, pembiayaan, pengelolaan, sarana dan prasarana, tenaga kependidikan (Jasmani & Keolahragaan, 2015).

    Lebih baru, dengan munculnya kurikulum yang lebih fleksibel seperti kurikulum Merdeka, Pelajaran PJOK mendapat ruang dalam implementasi inovatif. Misalnya, Implementasi kurikulum Merdeka pada pembelajaran PJOK guru menyatakan baik (Hardi et al., 2025).

    Mengutip (Pembelajaran et al., 2023), Pengelolaan Pembelajaran Berbasis Kurikulum Merdeka Bagi Guru Olahraga, menunjukan bahwa perubahan kurikulum memperoleh dorongan karena Programme for International Student Assessment (PISA) dan kebutuhan reformasi Pendidikan.   Dapat disimpulakan, Sejarah kurikulum olahraga di Indonesia bergerak dari tahap marginal kearah pengakuan lebih besar, serta regulasi dan standar nasional, hingga ke era pembelajaran yang lebih fleksibel dan responsif terhadap zaman ke zaman.

    Standar isi dalam kurikulum olahraga, standar isi dalam Pendidikan nasional berfungsi sebagai acuan bahan pembelajaran, kompetensi minimum, alokasi waktu. Pada PJOK, standar isi menjadi penting agar pembelajaran tidak hanya sisihan, tetapi terintegrasi secara sistematis.

    Standar isi membuat materi yang harus diajarkan. Sebuah kajian relevansi bahan ajar dengan standar isi menunjukan bahwa isi dari buku ajar kelas V sudah sesuai dengan standar isi kurikulum MI/SD, walaupun masih terdapat kekurangan-kekurangan namun buku ini sudah memenuhi unsur-unsur yang terdapat pada standar kurikulum 2013 (Fitriani, 2020). Dalam pembelajaran PJOK, evaluasi menyesuaikan standar isi dan lulusan.

    Sebuah evaluasi pembelajran di SMAN Yogyakarta menggunakan model (CIPP) Context, Process, Product Untuk melihat relevasi silabus PJOK dengan standar isi dan lulusan, (Kaloka & Kurniawan, 2022).

    Guru PJOK perlu mengolah pembelajaran berbasis standar dan mencapai literasi fisik. Sebuah penelitian menyoroti model asesmen literasi fisik guru PJOK di SD yang dikembangkan untuk memastikan validasi aspek isi, kualitas dari aspek psikometri butir-butir tes dan validasi kontrak tes, (Wibowo & Susongko, 2015).

    Implementasi kurikulum Merdeka pada PJOK menunjukan bahwa meskipun ATP (Alur Tujuan Pembelajaran) dan Modul ajar telah dibuat mengacu pada CP (Capaian Pembelajaran) dan SKL, namun kegiatan penilaian belum menunjukan evaluasi yang lengkap, guru hanya melaksanakan post-tes, sedangkan pre-test tidak dilaksanakan, (Fadriana et al., 2024).

    Konstruksi bahan ajar dan modul untuk guru PJOK mendapat perhatian khusus pelatihan untuk modul kurikulum Merdeka demi meningkatkan kualitas guru PJOK, (Darmawan et al., n.d.).

    Secara keseluruhan standar isi dalam kuriklum olahraga menuntut kualitas materi, proses pembelajaran, penilaian dan kompentensi guru yang selaras dengan tuntutan zaman. Jadi sebagai mahasiswa yang menekuni bidang Pendidikan atau kepelatihan olahraga, penting untuk memhami bahwa kurikulum PJOK bukan sekedar mata Pelajaran senam atau bola semata. Fondasi kurikulum olahraga harus merangkum tujuan Pendidikan, filosofi kesehtan dan karakter, serta kompentensi abad 21.

    Sejarah perekembangannya di Indonesia menunjukan perjalanan dari kurang diprioritaskan hingga kini memiliki standar nasional dan fleksibilitas yang lebih besar.

    Standar isi menjadi kerangka operasional yang memastikan bahwa pembelajaran olahraga bermakna, terstruktur, dan relevan. Dengan pemahaman yang baik terhadap fonasi, Sejarah, dan standar isi, maka pembelajaran olahraga dapat memberikan kontribusi optimal terhadap pengembangan siswa sebagai manusia yang aktif, sehat, berkarakter dan siap menghadapi dinamika masa depan.

    *Penulis (Raka Kalista, Mariani, Fernando Diansi) adalah Mahasiswa PJKR di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan (Ngabang Kabupaten Landak).

    Mengingat Kembali Era Awal Kurikulum Pra-Kemerdekaan dan Pembaharuan 1952

    Gambar. Ilustrasi kurikulum pendidikan nasional (Sumber: Kompasiana.com)

    Duta, Landak | Tulisan ini merupakan rangkuman dari perjalanan pendidikan dalam peristtiwa untuk mengingat kembali era awal kurikulum Pra-Kemerdekaan dan Pembaharuan 1952.

    1. Asal-usul Kolonial dan Kurikulum Awal Indonesia

    Pendidikan adalah cara membentuk pemikiran orang, sering dikaitkan dengan pandangan hidup, sikap atau perilaku, keterampilan hidup, atau kemampuan. Sejak Hindia Belanda, sistem sekolah Indonesia telah dijiwai dengan nilai-nilai dan struktur kolonial.

    Sekolah dibangun terutama untuk anak-anak dari kelas aristokrat atau Eropa untuk mendukung rezim kolonial. Selama kepemimpinannya sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van Devender membentuk sistem politik moral, yaitu sistem timbal balik, dengan prinsip hutang kehormatan (Lestari et al., 2013 ) (Fakhriansyah dan Patoni, 2019).

    Pendidikan penduduk asli biasanya sangat terbatas, hanya bangsawan Indonesia dan Belanda yang memiliki akses kependidikan, tetapi akses pendidikan penduduk asli dan Belanda berbeda, sehingga ada perbedaan kualitas pendidikan, pendidikan di antara penduduk asli lebih fokus pada keterampilan praktis dan kejuruan,  sementara Belanda memiliki akses ke pendidikan yang lebih komprehensif dan formal, sementara kebanyakan orang tidak dapat bersekolah, hanya mereka yang berpendidikan yang terbatas untuk menjadi karyawan setia pemerintah kolonial Belanda (Lutfiya et al., 2025).

    Menurut (Fuadi dan Anshori 2023), menjelaskan bahwa pendidikan menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam waktu singkat selama masa penjajahan Jepang, ketika pendidikan terbuka untuk semua kelas tanpa terkecuali, sekolah Jepang memiliki sistem pendidikan vokasi untuk menciptakan masyarakat berkualitas dan mandiri,  dengan istilah “Kakomin Gakko“.

    Tingkat pendidikan diubah menjadi sekolah umum (6 tahun), sekolah menengah pertama (3 tahun) dan perguruan tinggi (3 tahun). Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk menciptakan tenaga kerja gratis (romusa) untuk pelatihan militer, pendidikan jasmani, dan latihan yang dapat diajarkan di sekolah (Anam dan Soliha 2024).

    Ketika proklamasi 1945 muncul pemerintah baru segera membuat Kurikulum Nasional sebagai upaya untuk membalikkan warisan kolonial. Kurikulum nasional tahun 1947 dan 1952 bertujuan untuk mencapai nilai-nilai kewarganegaraan, identitas, dan pendidikan Indonesia.

    Dokumen resmi menyatakan bahwa kurikulum 1952 dirancang untuk meningkatkan pengembangan nilai-nilai nasional, identitas nasional dan rasa nasionalisme. Kurikulum ini sebenarnya dirancang untuk membangun karakter dan identitas nasional pasca-kolonial, karena Rentjana Pembelajaran 1952 dipandang sebagai upaya yang ditentukan untuk memelihara rasa kewarganegaraan dan cinta tanah air pada murid dengan menempatkan pelajaran tentang sejarah perjuangan dan budaya nasional sebagai inti pengajaran.

    1. Kesenjangan dalam pendidikan

    Tantangan terbesar di masa pra-kemerdekaan dan di awal kemerdekaan adalah kesenjangan yang sangat besar dalam akses pendidikan. Pendidikan pada saat itu terbatas pada kelas atas pribumi, menciptakan ketidaksetaraan dalam akses ke pendidikan (Zamhari et al, 2023). Kelas menengah atas di kota, atau aristokrasi muda, memiliki akses kependidikan lanjutan sementara sebagian besar penduduk tertinggal.

    Sistem sekolah kolonial sengaja memisahkan jalur pendidikan, institusi Belanda dan Sekolah Hoger Burger (HBS) hanya untuk orang Eropa/elit, sedangkan sekolah pribumi berhenti di tingkat dasar. Kebijakan moral politik Belanda, yang mulai mengembangkan sekolah untuk warga biasa, sebenarnya lebih dimotivasi oleh kepentingan kolonial (untuk membuat pekerja terdidik lebih murah) dan hanya terkonsentrasi di daerah-daerah tertentu. Akibatnya, hingga awal kemerdekaan, tingkat literasi dan akses kependidikan tinggi tetap sangat tidak merata antara kelompok sosial dan regional (Lestari et al., 2013).

    Setelah kemerdekaan, kesenjangan ini menyempit, dengan akses ke sekolah dasar gratis dimulai pada tahun 1945, tetapi kesenjangan baru muncul antar daerah. Bahkan sekarang, ketika ketimpangan dalam pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan dan antar pulau tetap menjadi masalah utama, banyak sektor masih kurang terwakili dalam pendidikan karena kurangnya infrastruktur yang memadai dan kurangnya guru yang kompeten di bidangnya (Zamhari et al, 2023).

    1. Tantangan identitas nasional

    Menurut (Arifin 2020), kurikulum kolonial berperan dalam mencegah pembentukan identitas nasional. Tema sejarah periode Hindia Belanda dirancang untuk melegitimasi kekuatan Eropa dan mengungkap kelemahan lokal. Buku-buku teks berisi cerita tentang supremasi Barat dan delegitimasi penguasa pulau-pulau, dan mendorong siswa terdidik untuk menerima kolonialisme.

    Bahasa pengantar dalam bahasa Belanda telah menjadi penghalang bagi siswa pribumi. Pada masa pendudukan Jepang, sistem pendidikan masih berjuang dengan pengaruh kolonialisme, simbol Belanda digantikan oleh Jepang, tetapi materi nasionalisme Indonesia masih ditekan. Akibatnya, identitas bangsa hampir tidak terwakili dalam pendidikan formal (Anam dan Soliha (2024), Sementara itu, para pendiri bangsa juga menyadari hal tersebut. Kurikulum 1947 dan 1952 menekankan mata pelajaran sejarah Indonesia, PPKN dan bahasa nasional (Indonesia) untuk menyatukan identitas bersama.

    Kurikulum 1952 adalah program solidaritas dan konsolidasi identitas nasional melalui sistem pendidikan formal. Integrasi nilai-nilai Pancasila, cerita perjuangan, sejarah, dan budaya lokal bertujuan untuk menciptakan generasi baru yang bangga menjadi warga negara Republik Indonesia. Namun, kenyataannya pelaksanaannya tidak mulus, kekurangan guru dibidangnya, buku ajar masih terbatas, dan latar belakang sosial ekonomi murid masih berbeda.

    1. Pelajaran dari masa lalu dan pelajaran masa kini

    Ditengah tantangan tersebut, ada beberapa solusi. Misalnya, pentingnya mengajar agar kurikulum baru benar-benar dapat diimplementasikan. Meningkatkan kapasitas guru sehingga guru dapat secara efektif menerapkan kurikulum 1947-1952. Pemerintah pertama Republik Indonesia memperkuat pendidikan, mengirim guru internal kedaerah terpencil, dan membangun sekolah umum (seperti gerakan Taman Siswa Ki Hajar Dewantara) untuk mendistribusikan pendidikan secara lebih merata.

    Masuknya nilai-nilai lokal dan agama dalam pengajaran juga telah diusulkan sebagai modifikasi pendekatan kolonial. Seperti yang disebutkan sebelumnya, kebijakan kolonial mendukung pendidikan agama dalam kurikulum Barat, sehingga kuncinya adalah memberikan kesempatan bagi lembaga keagamaan untuk membuat kurikulum nasional dengan perspektif yang beragam (Irwan et al., 2024).

    Menurut  (Yunianti 2020), pelajaran berharga yang dipetik dari era dulu juga berharga untuk era sekarang. Kurikulum modern harus inklusif dan holistik, tidak hanya standar akademik tetapi juga nilai-nilai budaya dan kesetaraan. Misalnya, studi sosial dan sastra Indonesia dapat bertujuan untuk mempromosikan semangat nasional dengan meningkatkan budaya lokal dan sejarah perjuangan, serta strategi untuk memperkuat karakter etnis disekolah-sekolah saat ini.

    Di dunia saat ini, kita dapat memperoleh manfaat dari pendekatan ini, misalnya dalam Kurikulum Merdeka, misalnya melalui pengajaran tematik yang menekankan kolaborasi timbal balik, keragaman, dan peran masyarakat lokal.

    Masalah kesenjangan akses yang sebelumnya kritis sekarang ditangani melalui pendidikan inklusif. Penelitian terbaru menyoroti perlunya kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat untuk memastikan bahwa semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar (Ahmad et al., 2025). Rencana induk pendidikan untuk anak-anak di daerah terpencil atau upaya seperti dukungan buku dan beasiswa adalah langkah berkelanjutan untuk memperluas aksesibilitas.

    1. Kesimpulan

    Ketimpangan akses dan lemahnya identitas nasional dalam kurikulum menjadi pusat sejarah pendidikan Indonesia sebelum tahun 1952. Untuk menghindari hal ini, solusi pada saat itu melibatkan distribusi pendidikan yang merata (sekolah dasar dan guru terlatih), serta pembuatan kurikulum nasional berdasarkan Pancasila. Pengalaman ini mengajarkan kita saat ini untuk selalu mengkritik kurikulum kerangka kerja secara komprehensif dan lokal-nasional.

    Jadi, meski klaster politik dan teknologi telah banyak berubah, prinsip pendidikan harus setara dan nasionalis tetap berlaku. Menafsirkan kembali ajaran masa lalu bukan hanya tugas sejarah, tetapi juga kunci untuk membangun sistem pendidikan Indonesia yang merata, berbudaya, dan siap menghadapi tantangan global.

    *Penulis (Junaydi,) adalah Mahasiswa PJKR di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan (Ngabang Kabupaten Landak).

    Olahraga Sebagai Identitas Baru Generasi Muda

    Gambar. Ilustrasi Generasi Muda (Sumber: gemini.google.com)

    Duta, Landak | Di Tengah arus cepat dan visual era digitasl, generasi muda menemukan kanvas baru untuk melukis jati mereka. Bukan hanya melalui media sosial, mode, atau musik, tetapi kini, melalui keringat dan daya juang dilapngan (atau di depan layar).

    Fenomena running community, gym culture, hingga esport athlete menunjukkan bahwa olahraga telah berkembang menjadi identitas baru bagi generasi muda.

    Menurut (Mahmud et al., 2024), olahraga tidak lagi sekadar kegiatan jasmani, melainkan sarana pembentukan kepribadian dan pengembangan positive youth development.

    Identitas diri dan olahraga Adalah cara seseorang memahami dan menampilkan dirinya dihadapan dunia. Generasi muda masa kini membentuk identitas tidak hanya dari Pendidikan atau perkerjaan, tetapi juga dari peran sosial dalam dunia olahraga. Menurut (Worley & Smith, 2026) , keterlibatan dalam olahraga membentuk identitas sosial positif karena menumbuhkan rasa kebersamaan, kepercayaan diri, dan tujuan hidup.

    Misalnya, seorang remaja yang rutin mengiikuti olahraga futsal atau menjadi pelari marathon, mulai dikenali melalui peran olahraganya.

    Label seperti “pelari’, “gym-goer”, atau “esport player” menjadi bagian dari cara mereka memaknai diri. Kajian (Skilbred et al., 2024), menunjukan bahwa atlet muda menggunakan aktivitas olahraga untuk membangun citra diri dan keanggota sosial.

    Olahraga sebagai budaya dan komunitas olahraga menciptakan budaya baru. Di kota-kota besar Indonesia, muncul tren komunitas olahraga seperti Jakarta runners, Bali Fit Club, dan Healthy Campus Movement.

    Menurut (Alamsyah et al., 2025), olahraga berperan membentuk nilai sosial berbeda antar remaja kota dan desa bagia remaja kota, olahraga adalah gaya hidup modern sedangkan di desa ia masih menjadi media kebersamaan. Hal ini menunjukan bahwa olahraga juga menjadi cermin kesetaraan sosial dan transformasi budaya.

    Kajian (Menentukan et al., 2025), menegaskan bahwa olahraga berkontribusi dalam positive youth development karena menumbuhkan tanggung jawab, empati, serta kepemimpinan. Dalam konteks Indonesia, komunitas lari, yoga, dan futsal bukan hanya ajang latihan fisik, tetapi juga ruang sosial dimana nilai solodaritas dan kerja sama dibangun.

    Identitas olahraga di era digital, media sosial memperkuat pembentukan identitas olahraga. Foto gym, catatan strava, atau sorotan pertandingan menjadi bagian dari “narasi diri digital” generasi muda. Menurut (Ugras et al., 2024), memandang olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga sebagai sarana pembentukan identitas baru bagi generasi muda tempat belajar didikasi, semangat, dan nilai-nilai melalui keterlibatan aktif dalam dunia olahraga.

    Lebih dari itu, olahraga kini juga memasuki dunia virtual seperti e-sprots. Kajian (Ismail et al., 2025), mengungkapkan bahwa olahraga digital berperan besar dalam membentuk identitas nasional dan kebanggan generasi muda Indonesia. Artinya, baik olahraga fisik maupun digital sama-sama menjadi sarana ekspresi diri yang kuat.

    Tantangan identitas olahraga, identitas olahraga tidak selalu positif. Ada risiko ketika seseorang terlalu melekat pada peran atletik hingga kehilangan keseimbangan. Studi (Skilbred et al., 2024), mencatat bahwa Sebagian remaja sulit menyesuaikan diri ketika cedera atau gagal berprestasi karena identitasnya terlalu terkait dengan performa. Hal ini menuntut adanya pendekatan Pendidikan olahraga yang menekankan growth mindset bahwa nilai olahraga bukan hanya kemenangan, tetapi proses dan karakter.

    Selain itu, ketimbangan akses juga menjadi isu penting. Banyak remaja didaerah yang belum memiliki fasilitas olahraga memadai. Penelitian (Worley & Smith, 2026), menyoroti pentingnya kebijakan yang merata agar olahraga sebagai identitas tidak hanya menjadi milik kelas menengah kota. Pemerataan fasilitas dan pembinaan menjadi faktor penting agar semua remaja dapat mengakses makna sosial dari olahraga.

    Olahraga, Pendidikan, dan pembentukan karakter dalam konteks Pendidikan olahraga memiliki fungsi strategis. Menurut (Mahmud et al., 2024), pembelajaran PJOK tidak hanya bertujuan meningkatkan kebugaran, tetapi juga menanamkan nilai moral, kerja sama, dan tanggung jawab. Sementara (Menentukan et al., 2025),  menegaskan pentingnya pelatihan guru dalam menerapkan kurikulum Merdeka agar mampu mengembangkan literasi fisik dan karakter siswa.

    Keterlibatan sekolah dan universitas dalam membentuk budaya olahraga juga menjadi krusial. Ketika siswa di ajak melihat olahraga sebagai bagian dari diri dan bukan sekadar mata Pelajaran, maka lahirlah generasi yang aktif dan tangguh secara mental.

    Olahraga Sebagai Cermin Diri Generasi Z, Generasi Z menjadikan olahraga sebagai bentuk ekspresi diri modern. Mereka menolak pola pikir lama bahwa olahraga hanya untuk prestasi. Kajian,  (Parker et al., 2023), menjelaskan bahwa bagi remaja masa kini, olahraga Adalah “bahasa tubuh” untuk menyampaikan identitas spiritual, sosial,dan emosional. Dari gaya berpakaian hingga komunitas digital, olahraga menjadi ruang ekspresi otentik.

    Disisi lain, (Sanchez & Benitez-, 2021), menekankan bahwa interaksi sosial dalam olahraga membentuk pola relasi yang sehat, mengurangi isolasi, dan memperkuat kesejahteraan mental. Hal ini sangat relevan mengingat tantangan mental health di kalangan muda kian meningkat, dalam pandangan (Erdman et al., 2024), melalui olahraga generasi muda dapat menemukan rasa kepemilikan dan tujuan, yang dapat memperkuat identitas mereka sebagai individu.

    Bergerak menjadi diri sendiri olahraga kini telah menjadi lebih dari sekadar aktivitas fisik ia adalah narasi identitas generasi muda. Melalui olahraga, anak muda belajar di Siplin, solidaritas, dan keberanian menghadapi tantangan. Namun, lebih dari itu, olahraga menjadi sarana bagi mereka untuk memahami diri, membangun komunitas, dan menyebarkan energi positif.

    Sebagaimana ditegaskan oleh (Mahmud et al., 2024), olahraga Adalah cermin Pembangunan karakter dan masa depan bangsa. Maka, sudah saatnya generasi muda Indonesia tidak hanya bergerak, tetapi juga menemukan dirinya dalam Gerak itu menjadikan olahraga bukan sekadar hobi, melainkan identitas yang hidup, bermakna, dan mempersatukan.

    *Penulis (Fernando Diansi) adalah Mahasiswa PJKR di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan (Ngabang Kabupaten Landak).

    Membangun Persaudaraan Sejati dalam Komunitas Umat Basis

    Komunitas Umat Basis yang diikuti oleh Vino Januarius (03/11/2025)

    Duta, Pontianak | Di tengah dinamika kehidupan umat beriman di zaman modern, semangat kebersamaan dan komunikasi yang penuh kasih menjadi kunci dalam menjaga keutuhan Gereja sebagai persekutuan umat Allah.

    Kesadaran ini menginspirasi sekelompok mahasiswa Katolik di Pontianak untuk menimba pengalaman pastoral bersama sesama muda Katolik di lingkungan akademik.

    Pada awal November 2025, sekelompok mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak (AKUB) berkesempatan berdialog dengan mahasiswa  Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri (STAKAT) Pontianak.

    Pertemuan sederhana di ruang kelas STAKAT itu berkembang menjadi percakapan hangat tentang bagaimana umat beriman dapat membangun koinonia — persatuan sejati — di dalam Komunitas Umat Basis (KUB).

    Dalam suasana yang bersahabat, mereka saling berbagi pandangan mengenai arti komunikasi yang terbuka, saling mendukung, dan berakar pada kasih Kristus. Dari percakapan tersebut muncul kesadaran bersama bahwa koinonia bukan hanya sekadar kebersamaan sosial, melainkan perwujudan nyata dari kasih Allah yang mengikat setiap pribadi dalam satu tubuh Kristus.

    Sebagaimana diajarkan dalam Kitab Suci, “Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan” (Flp 2:2). Persaudaraan sejati yang berakar pada Kristus menjadi fondasi hidup Gereja dan dasar bagi setiap komunitas umat untuk bertumbuh dalam iman dan kasih.

    Menemukan Makna Komunikasi dalam Iman

    Komunikasi adalah jantung dari setiap relasi manusia, termasuk dalam kehidupan menggereja. Di dalam Komunitas Umat Basis (KUB), komunikasi yang baik menjadi jalan untuk menumbuhkan rasa saling percaya dan memperkuat persaudaraan sejati.

    Melalui komunikasi yang jujur dan terbuka, umat diajak untuk saling memahami, mendukung, dan meneguhkan satu sama lain dalam kasih Kristus.

    Berangkat dari semangat itulah, para mahasiswa Katolik di Pontianak mengadakan dialog pastoral untuk mendalami bagaimana komunikasi dapat menjadi sarana membangun koinonia — persatuan yang sejati di antara umat.

    Tujuan kegiatan ini bukan sekadar belajar teori, melainkan menemukan pengalaman nyata tentang bagaimana iman dihidupi di tengah kebersamaan.

    Mahasiswa AKUB foto bersama narasumber usai wawancara (03/11/2025)

    Vino Januarius dan Semangat Keterbukaan

    Dalam dialog tersebut, hadir Vino Januarius, mahasiswa aktif Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri (STAKAT) Pontianak yang juga terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan. Dengan rendah hati, ia berbagi pengalaman tentang bagaimana semangat komunikasi yang penuh kasih menjadi dasar kebersamaan di komunitas umat.

    “Persaudaraan sejati dalam umat basis tumbuh dari komunikasi yang jujur dan saling mendengarkan,” ujar Vino dengan mantap.

    “Kami berusaha membangun keterbukaan lewat doa bersama, kunjungan umat, dan kegiatan sosial. Di sanalah kami belajar bahwa kasih tidak berhenti pada kata-kata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.”

    Bagi Vino, keterbukaan bukan hanya soal berbicara, tetapi juga mendengarkan dengan hati. Ia menegaskan pentingnya menghargai perbedaan dan memperkuat semangat gotong royong sebagai wujud nyata kasih Kristus di tengah umat.

    Belajar Membangun Koinonia dalam Kehidupan Sehari-hari

    Dari pengalaman wawancara ini, para mahasiswa menyadari bahwa koinonia bukan sekadar konsep teologis, tetapi panggilan hidup setiap orang Katolik. Persaudaraan sejati tumbuh ketika setiap anggota komunitas bersedia melayani dengan kasih, mendengarkan tanpa menghakimi, dan bekerja bersama demi kesejahteraan bersama.

    Komunikasi yang dilandasi kasih menciptakan ruang bagi kedamaian, pengampunan, dan pertumbuhan iman. Di dalamnya, umat belajar melihat wajah Kristus dalam diri sesama dan mengalami bahwa Gereja sungguh adalah persekutuan yang hidup.

    Sebagaimana dikatakan Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium, “Komunitas Kristen adalah tempat di mana setiap orang belajar mengampuni, berbagi, dan berjalan bersama.” Itulah wajah Gereja yang diimpikan: Gereja yang bersaudara, bersukacita, dan hidup dalam kasih yang nyata.

    Menumbuhkan Persaudaraan Sejati dalam Kasih Kristus

    Melalui perjumpaan sederhana namun sarat makna ini, para mahasiswa belajar bahwa komunikasi bukan sekadar kemampuan berbicara, melainkan jalan menuju persaudaraan sejati yang dikehendaki Kristus.

    Wawancara bersama mahasiswa STAKAT Pontianak menjadi ruang refleksi bersama untuk menyadari bahwa koinonia bukan hanya soal kebersamaan manusiawi, melainkan persekutuan kasih yang berakar pada iman dan kejujuran hati.

    Semangat ini diharapkan dapat menginspirasi setiap umat di Komunitas Umat Basis agar semakin menyadari pentingnya membangun komunikasi yang mencerminkan kasih Kristus — komunikasi yang menghidupkan, meneguhkan, dan mempersatukan.

    Persaudaraan sejati adalah fondasi kehidupan menggereja yang penuh damai dan kebersamaan. Ketika umat saling mendengarkan, saling menghargai, dan melayani dengan kasih, Gereja sungguh tampil sebagai tanda nyata kasih Allah di tengah dunia.

    Sebagaimana sabda Tuhan Yesus, “Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”(Yohanes 13:35)

    *Penulis: Gregorius Marcel Zevito, Cindi Rella Ari Yanti, Erika Rika, Edo Setiawan (Mahasiswa Prodi Keuangan dan Perbankan Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak)

    *Editor: Vinsensius, S.Fil., M.M. (Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak)

     

    Menjadi Wajah Kristus di Era Digital

    Potret kegiatan Turnei yang diikuti Willy bersama Frater di Sebadok (09 /10/2022)

    Duta, Pontianak | Di tengah derasnya arus digitalisasi yang mengubah cara manusia berinteraksi, bekerja, dan beriman, Orang Muda Katolik (OMK) ditantang untuk tetap menjadi saksi Kristus di dunia maya maupun di kehidupan nyata. Dalam konteks Gereja yang senantiasa berkembang, kehadiran OMK bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian vital dari tubuh Gereja yang hidup dan dinamis.

    Salah satu contoh nyata dari semangat pelayanan OMK dapat ditemukan di Paroki Mater Dolorosa Jelimpo, khususnya di wilayah Stasi Sebadok.

    Di tempat inilah tumbuh seorang muda Katolik bernama Willy, yang dengan kesederhanaan dan ketekunan menjalani panggilan pelayanannya. Melalui berbagai kegiatan dan karya di tengah umat, Willy menampilkan wajah Gereja yang muda, aktif, dan penuh sukacita Injil.

    Potret kegiatan Turnei yang diikuti Willy bersama Frater di Sebadok (09 /10/2022)

    Pelayanannya menjadi cermin bagaimana Sabda Allah — Kerygma, pewartaan kabar gembira Kristus — dapat dihidupi dalam keseharian, bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata.

    Di era ketika media sosial dan teknologi sering mendominasi perhatian banyak orang, teladan seperti Willy menunjukkan bahwa iman tetap bisa tumbuh dan berbuah, bahkan di tengah dunia digital yang serba cepat dan penuh tantangan.

    Jejak Pelayanan Seorang OMK

    Suasana malam itu terasa hangat di teras rumah sederhana di Pontianak. Di bawah temaram lampu, beberapa orang muda duduk melingkar, berbincang santai tentang hal yang jarang menjadi topik ringan: “Pewartaan Sabda Allah di zaman digital”. Di antara mereka, ada sosok muda yang penuh semangat, Willy, anggota aktif Orang Muda Katolik (OMK) Stasi Sebadok, Paroki Mater Dolorosa Jelimpo.

    Dengan mata berbinar dan suara yang mantap, Willy mengisahkan panggilan pelayanannya. “Pelayanan itu kasih yang tidak punya batas,” ujarnya. “Dengan ketulusan hati, cinta, dan harapan, semuanya bisa menjadi persembahan bagi umat dan bagi Allah.”

    Bagi Willy, pewartaan Sabda Allah bukan sekadar rutinitas rohani, melainkan bentuk nyata dari kasih Tuhan yang terus hidup dalam diri umat-Nya.

    Ia menyadari bahwa zaman telah berubah — generasi muda kini hidup di dunia yang sangat digital dan serba cepat. “Pewartaan Sabda Allah tetap sama dalam isinya, tetapi cara menyampaikannya harus beradaptasi,” katanya.

    Sebagai lektor, Willy merasakan kedekatan khusus dengan Sabda Tuhan. “Setiap kali saya membaca Kitab Suci di depan umat, saya merasa menjadi saluran suara Tuhan sendiri. Itu tanggung jawab yang luar biasa.” Baginya, pewartaan tidak berhenti di mimbar. “Pewartaan itu bisa terjadi di mana saja — bahkan di media sosial,” ujarnya sambil tersenyum.

    Mahasiswa AKUB mewawancarai anggota OMK Stasi Sebadok, Paroki Mater Dolorosa Jelimpo ( 03/11/2025 )

    Melalui akun media sosialnya, Willy sering membagikan kutipan Kitab Suci, refleksi singkat, atau pengalaman pelayanan di lapangan.

    Ia percaya bahwa platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube dapat menjadi sarana baru pewartaan.

    “Kita harus hadir di ‘tempat nongkrong digital’ umat,” katanya. “Tapi bukan untuk menjadi influencer rohani yang hanya ikut tren. Kita hadir untuk membawa pesan kasih yang tulus.”

    Menurut Willy, teknologi hanyalah alat. Yang utama tetaplah perjumpaan hati dengan hati. “Live streaming misa, video renungan, atau podcast rohani itu bagus. Tapi jangan sampai kita lupa: iman tumbuh dalam relasi nyata, dalam sapaan langsung dan kebersamaan yang tulus.”

    Tantangan dan Semangat di Jalan Pelayanan

    Perjalanan pelayanan tidak selalu mudah. “Kadang jalannya rusak, sinyal susah, atau hati yang malas,” katanya jujur sambil tertawa kecil. Namun di balik kelelahan itu, Willy menemukan kekuatan dalam komunitas OMK. “Kami saling mengingatkan. Kalau satu jatuh semangat, yang lain bantu angkat. Itulah indahnya persaudaraan OMK.”

    Ia juga menegaskan pentingnya dukungan dari para gembala Gereja. “Kami, OMK, bukan hanya masa depan Gereja — kami adalah masa kini Tuhan,” ucapnya tegas, mengutip salah satu dokumen Gereja yang pernah ia baca. “Kami butuh ruang untuk berekspresi dan berkreasi. Gereja perlu terbuka terhadap gaya dan metode baru yang bisa menjangkau kami.”

    Bagi Willy, pelayanan adalah sekolah kehidupan. Ia belajar rendah hati, belajar mengasihi tanpa pamrih, dan belajar melihat Kristus dalam diri sesama. “Ketika saya melayani di stasi-stasi, saya selalu kagum,” kenangnya. “Umat di sana sederhana, tapi semangat imannya luar biasa. Walau akses jalan sulit dan listrik terbatas, mereka menyambut kami dengan tawa dan hati terbuka. Di situlah saya melihat Ekaristi sejati — persekutuan kasih yang lahir dari kesederhanaan.”

    Pesan Iman untuk Umat dan Kaum Muda

    Di akhir perbincangan, Willy menyampaikan pesan sederhana namun dalam maknanya.
    “Untuk umat di stasi, saya ingin berkata: jangan pernah biarkan keterbatasan menghalangi kekayaan iman kalian. Tetaplah menjadi saksi Kristus yang kuat di tengah tantangan hidup.”

    “Untuk kami para pelayan,” lanjutnya, “ingatlah bahwa kita datang untuk melayani, bukan untuk dilayani. Setiap kunjungan ke stasi adalah kesempatan untuk belajar kerendahan hati dan merasakan iman umat yang hidup.”

    Harapannya pun mengalir tulus: “Saya ingin semakin banyak OMK yang berani melangkah maju. Kita semua dipanggil untuk menjadi saksi Kristus yang hidup di dunia ini — dengan cara kita sendiri, dengan semangat khas orang muda Katolik.”

    Refleksi Iman

    Kisah Willy adalah cermin bagi banyak orang muda Katolik masa kini. Melalui pelayanannya, kita diingatkan bahwa pewartaan Sabda Allah tidak pernah kehilangan relevansinya — hanya caranya yang berubah.

    Dalam wajah-wajah muda seperti Willy, kita melihat Roh Kudus yang terus bekerja, menginspirasi Gereja untuk tetap hidup dan dinamis. Di tengah keterbatasan, mereka tetap setia berkarya. Di tengah dunia digital yang kadang bising, mereka tetap bersuara tentang kasih Kristus.

    Pelayanan mereka bukan beban, melainkan jawaban atas kasih Allah yang lebih dulu mencintai. Gereja diajak untuk terus mendampingi, membimbing, dan memberi ruang bagi semangat muda yang membara ini.

    Semoga semakin banyak OMK yang berani menjadi “wajah Kristus” di dunia digital — dengan iman yang cerdas, hati yang hangat, dan tindakan yang nyata. Karena di setiap jari yang mengetik pesan kasih, di setiap video yang menebarkan harapan, dan di setiap senyum yang tulus di medan pelayanan, Kristus sendiri hadir dan bekerja di tengah dunia ini.

    Dampak dan Harapan

    Kisah pelayanan Willy dan teman-teman OMK Stasi Sebadok bukan hanya sebuah narasi pribadi, melainkan cerminan hidup Gereja yang bertumbuh di tengah kesederhanaan dan keterbatasan. Dari pengalaman mereka, kita belajar bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menjadi penghalang bagi karya Roh Kudus yang bekerja dalam hati orang muda.

    Pesan utama yang lahir dari wawancara ini jelas: OMK di stasi-stasi memiliki semangat dan potensi besar untuk menjadi pelaku aktif dalam kehidupan menggereja, terutama dalam pewartaan Sabda Allah. Semangat mereka terwujud dalam berbagai bentuk nyata:

    • Partisipasi Langsung: OMK ambil bagian dalam pelayanan liturgi, menjadi lektor, pemazmur, petugas koor, hingga pemandu ibadat di stasi. Dalam tugas-tugas sederhana itu, mereka menjadi suara dan wajah Gereja yang hidup.
    • Inisiatif Mandiri: Di luar perayaan liturgi, mereka menghidupkan iman dengan mengadakan pendalaman Kitab Suci, membentuk kelompok doa, serta memanfaatkan media sosial untuk mewartakan Injil dengan cara yang kreatif dan relevan.
    • Peran Strategis: OMK adalah kekuatan Gereja masa kini sekaligus masa depan. Dengan pendampingan dan kepercayaan dari para imam, katekis, dan dewan pastoral, mereka dapat menjadi saksi Kristus yang tangguh dan inspiratif di tengah dunia modern.

    Bagi para pembaca — umat Katolik, para gembala, pembina OMK, maupun kaum muda sendiri — kisah ini menghadirkan ajakan dan pengharapan:

    • Apresiasi dan Dukungan: Mari semakin menghargai dan mendukung karya OMK, baik secara moral maupun material, agar mereka dapat terus bertumbuh dalam semangat pelayanan yang sejati.
    • Pemberdayaan: Para pemimpin Gereja diharapkan memberi ruang dan kepercayaan kepada kaum muda untuk memimpin dan berkarya, serta menyediakan pembinaan iman yang memadai bagi mereka.
    • Inspirasi: Kesaksian Willy menjadi pengingat bahwa setiap orang muda Katolik dipanggil untuk berani melangkah, menghidupi imannya secara nyata, dan menjadi saksi kasih Kristus di manapun berada.
    • Kesinambungan Misi: Semoga semangat ini tidak berhenti pada satu generasi saja, melainkan terus menyala, memastikan bahwa pewartaan Injil tetap hidup — bahkan di stasi-stasi kecil dan terpencil — karena di sanalah Gereja berdenyut dengan penuh kasih.

    Akhirnya, Gereja menaruh harapan besar kepada kaum muda seperti Willy: bahwa di tangan dan hati mereka, masa depan iman tetap terjaga. Di tengah tantangan zaman digital, mereka dipanggil untuk tetap setia menjadi wajah Kristus — yang hadir, mendengarkan, dan mencintai — dalam setiap ruang kehidupan.

    “Biarlah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.”
    (Matius 5:16)

    *Penulis: Ronaldo Stenuli Dinata, Vitalus Agestario Da Costra, Winda, dan Stefanus Aryanto  (Mahasiswa Prodi Keuangan dan Perbankan Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak)

    *Editor: Vinsensius, S.Fil., M.M. (Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak)

    Kuliah Sambil Bekerja

    Sumitro, S.M., M.M. - Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II.

    Duta, Pontianak | Ini adalah tentang ‘antara Tantangan dan Peluang Masa Depan”. Menempuh pendidikan tinggi sambil bekerja bukan lagi hal yang langka di era sekarang. Banyak mahasiswa memilih jalan ini untuk berbagai alasan mulai dari membantu perekonomian keluarga, menambah pengalaman, hingga mempersiapkan karier yang lebih matang di masa depan.

    Namun, di balik semangat dan cita-cita besar itu, terdapat perjuangan yang tidak ringan. Kuliah sambil bekerja adalah perjalanan yang menuntut kedisiplinan, manajemen waktu, dan komitmen yang kuat.

    Tantangan di Balik Dua Peran

    Menjadi mahasiswa sekaligus pekerja berarti harus membagi waktu dan energi antara dunia akademik dan dunia kerja. Tugas kuliah, ujian, laporan kerja, hingga tanggung jawab profesional sering kali saling bertabrakan. Tak jarang, kelelahan fisik dan mental menjadi teman sehari-hari.

    Menurut penelitian Creed, French, dan Hood (2015) dari Griffith University, mahasiswa yang bekerja sambil kuliah menghadapi konflik antara tuntutan pekerjaan dan studi yang dapat menurunkan tingkat keterlibatan akademik serta kesejahteraan psikologis. Sementara studi lokal oleh Arif dkk. (2022) menunjukkan bahwa pekerjaan paruh waktu memiliki pengaruh signifikan terhadap aktivitas belajar mahasiswa di Indonesia.

    Beban finansial memang sedikit berkurang dengan adanya penghasilan, tetapi konsekuensinya adalah waktu belajar yang berkurang dan risiko turunnya prestasi akademik. Beberapa mahasiswa mengaku sulit menjaga fokus di kelas setelah seharian bekerja, sementara yang lain harus menunda kelulusan demi tetap bisa menyeimbangkan keduanya.

    Meski terlihat berat, banyak mahasiswa pekerja justru menunjukkan prestasi yang luar biasa. Kemandirian finansial dan kedewasaan berpikir sering membuat mereka lebih disiplin, tangguh, dan fokus pada tujuan. Tekanan waktu justru melatih efisiensi belajar, belajar bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan untuk mencapai masa depan yang lebih baik.

    Penelitian yang dilakukan oleh Douglas dkk. (2019) menunjukkan bahwa mahasiswa yang bekerja selama kuliah justru memperoleh penghasilan yang lebih tinggi setelah lulus dibanding mereka yang tidak bekerja sama sekali, bahkan setelah memperhitungkan prestasi akademik dan faktor sosial ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman kerja selama kuliah dapat meningkatkan kesiapan karier dan daya saing lulusan di dunia kerja.

    Membangun Kemandirian

    Dari sisi ekonomi, bekerja sambil kuliah dapat menjadi solusi nyata bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan finansial. Penghasilan yang diperoleh, meskipun tidak besar, mampu membantu biaya kuliah, transportasi, dan kebutuhan harian.

    Data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2023) menunjukkan bahwa sekitar 27,5% mahasiswa di Indonesia bekerja sambil kuliah, sebagian besar untuk membantu keuangan keluarga.

    Pengalaman ini tidak hanya meringankan beban finansial, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kemandirian finansial sejak dini.

    Namun, penting untuk tetap realistis, pendapatan tambahan tidak boleh mengorbankan tujuan utama, menyelesaikan pendidikan dengan baik.

    Salah satu keuntungan terbesar dari kuliah sambil bekerja adalah kesempatan untuk membangun jejaring profesional sejak dini. Mahasiswa yang memiliki pengalaman kerja lebih awal umumnya lebih mudah beradaptasi di dunia industri setelah lulus.

    Mereka tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga pengalaman nyata yang menjadi nilai tambah di mata perusahaan.

    Hasil survei oleh National Association of Colleges and Employers (NACE, 2022) menunjukkan bahwa 72% lulusan yang memiliki pengalaman kerja saat kuliah lebih cepat mendapatkan pekerjaan dibanding mereka yang tidak memiliki pengalaman sama sekali.

    Ini menegaskan bahwa kombinasi antara teori akademik dan praktik lapangan menjadi modal penting untuk bersaing di pasar kerja yang semakin kompetitif.

    Menjadikan Tantangan sebagai Batu Loncatan

    Kunci sukses kuliah sambil bekerja terletak pada kemampuan mengelola waktu, menjaga kesehatan, dan menetapkan prioritas. Dukungan dari keluarga, dosen, dan tempat kerja juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan mahasiswa dalam menjalani peran ganda ini.

    Tantangan memang berat, tetapi di baliknya tersimpan peluang besar untuk membentuk pribadi yang tangguh, mandiri, dan siap menghadapi dinamika dunia kerja. Seperti pepatah, “Tidak ada hasil besar tanpa perjuangan besar.”

    Mahasiswa yang mampu menyeimbangkan dua peran ini tidak hanya sedang menempuh pendidikan formal, tetapi juga sedang belajar tentang kehidupan sesungguhnya, tentang disiplin, tanggung jawab, dan ketekunan.

    Kuliah sambil bekerja bukan sekadar perjuangan untuk bertahan, melainkan proses pembentukan karakter dan kesiapan masa depan.

    Di tengah tekanan dan kesibukan, ada semangat belajar, tanggung jawab, dan cita-cita yang tumbuh semakin kuat. Mereka yang mampu menaklukkan tantangan ini tak hanya meraih gelar, tetapi juga mendapatkan pelajaran hidup yang jauh lebih berharga.

    * Sumitro, S.M., M.M. – Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II.

    Analogi Manajemen dari Naik Tangga dan Meluncur

    Penulis: Samuel_Dosen Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa.

    Duta, Pontianak | Ada sebuah kisah dari negeri Tiongkok tentang perosotan dan tangga. Di malam yang sunyi, setelah seharian “melayani” anak-anak di taman bermain, keduanya berbincang panjang.

    Perosotan merasa dirinya paling dicintai, kemudian tak segan ia membawa anak-anak meluncur cepat dengan tawa riang. Sementara tangga, dalam pikirnya  hanya membuat orang kelelahan.

    “Setiap hari banyak anak yang memanjat dirimu, dan semuanya kelelahan dan bercucuran keringat. Sedangkan anak-anak yang merosot di atas tubuhku, mereka penuh tawa gembira. Engkau bisa lihat betapa besar jasa yang kuberikan kepada umat manusia. Betapa mereka mencintai saya!”

    Mendengar ucapan perosotan yang penuh dengan nada sombong, tangga hanya tertawa kecil, sedikit pun tidak membela diri. Perosotan pun tidak melanjutkan keponggahannya. Keduanya sejenak diam, menunggu kantuk yang belum juga datang.

    Karena tidak ada kegiatan lain, mereka berdua sepakat untuk berjalan-jalan ke luar. Ketiga tiba di dekat sebuah gedung tinggi, tangga menunjuk anak-anak tangga di tengah gedung dan berkata kepada perosotan, “apakah engkau lihat tangga yang ada di pinggir gedung tinggi itu?”

    “Ya, saya melihatnya,” jawab perosotan.

    “Itu kakak tertua saya, Anak Tangga. Dengan melalui tubuhnya , orang bisa naik ke atas dan sampai di tingkat yang mereka inginkan,” demikian tangga menjelaskan.

    Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah gunung. Mereka melihat undak-undakan (semacam tangga) yang panjang sampai ke puncak gunung. Tangga pun angkat suara, “apakah engkau lihat undak-undakan itu? Itulah tangga yang bisa mengantarmu sampai ke puncak gunung.”

    Perosotan pun mengangguk tanpa bersuara. Matanya membaca tulisan peringatan di pinggir jalan; “kalau hendak sampai di puncak gunung, berjalanlah melalui undak-undakan atau anak tangga ini.”

    Mereka terus melanjutkan perjalanan sampai jauh malam. Di sepanjang perjalanan, ditemui tangga di mana-mana. Melalui perjalanan ini, perosotan akhirnya menyadari bahwa tangga ada di mana-mana, sedangkan perosotan jarang sekali terlihat.

    “Sekarang saya mengerti, orang-orang yang merosot di atas diriku hanya anak-anak kecil yang masih ingusan, Tetapi ketika beranjak dewasa, mereka mulai mendaki tangga kalau mau menuju puncak. Sedikit orang yang mau merosot ke bawah.”

    Perosotan pun melanjutkan, “saya telah gegabah dengan meninggikan diri sendiri, maafkan saya. Kalian para tangga jauh lebih berguna daripada saya.”

    Mendengar pengakuan perosotan, tangga pun berkomentar, “Kita semua bisa dibuat istimewa dan memiliki satu tujuan, jadi tidak perlu saling membandingkan. Hal itu hanya memicu kesombongan atau perasaan rendah diri semata.”

    Namun, dalam perjalanan malam itu, perosotan sadar bahwa tangga hadir di mana-mana — di rumah, gedung, bahkan gunung. Semua tangga memiliki satu fungsi, membantu manusia naik ke tempat yang lebih tinggi. Ia pun akhirnya menyesal atas kesombongannya. “Anak-anak memang bermain denganku,” katanya lirih, “tapi orang dewasa memilih menaiki tangga untuk mencapai puncak.”

    Evaluasi dan pengendalian

    Kisah sederhana ini sesungguhnya menyimpan pelajaran besar bagi dunia ekonomi dan manajemen modern. Dalam kehidupan bisnis, banyak orang ingin menjadi “perosotan” — ingin cepat terkenal, cepat untung, dan cepat sampai di puncak.

    Namun, mereka lupa bahwa kemajuan yang sejati membutuhkan tangga langkah demi langkah yang terukur, terencana, dan diawasi secara berkelanjutan. Di sinilah pentingnya ‘evaluasi dan pengendalian’ dalam dunia marketing, ekonomi, dan manajemen.

    Dalam marketing, godaan untuk menjadi “perosotan” sangat lah besar. Perusahaan tergoda meluncur cepat lewat promosi sensasional, potongan harga besar-besaran, atau ekspansi mendadak tanpa perhitungan.

    Hasilnya memang cepat terasa — seperti tawa anak-anak di taman bermain — tapi sering kali hanya sesaat. Tanpa evaluasi yang matang, strategi itu bisa membuat bisnis kehilangan arah, reputasi, bahkan kepercayaan pelanggan.

    Evaluasi dalam marketing bukan sekadar mengukur angka penjualan, tetapi meninjau kembali apa yang sebenarnya terjadi di pasar. Apakah produk benar-benar menjawab kebutuhan konsumen?

    Apakah pesan yang disampaikan mencerminkan nilai perusahaan? Evaluasi memberi cermin, dan pengendalian menjadi pegangan agar tidak tergelincir di perosotan keserakahan dan euforia sesaat.

    Tangga dalam kisah tadi menggambarkan proses disiplin. Setiap anak tangga itu dianalogikan seperti tahap evaluasi dan pengendalian mulai dari riset pasar, uji coba produk, perbaikan layanan, penguatan SDM, dan kontrol anggaran. Dengan melewati semua itu, sebuah organisasi tidak hanya naik, tetapi juga bertumbuh dengan pijakan yang kokoh.

    Perosotan itu Licin

    Dalam manajemen organisasi, terutama di sektor ekonomi rakyat seperti koperasi, evaluasi dan pengendalian bukan sekadar tugas administratif. Semua itu diibaratkan seperti napas keberlanjutan. Banyak koperasi gagal bukan karena kurang modal, melainkan karena pengurusnya tak punya sistem pengendalian yang jelas, uang keluar tanpa rencana, laporan tidak diaudit, keputusan diambil tanpa data.

    Evaluasi dan pengendalian dalam manajemen serupa dengan bentuk tangga yang menopang kepercayaan. Setiap langkah ke atas dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pelaporan harus bisa dipertanggungjawabkan. Dalam bahasa ekonomi, ini disebut accountability dan transparency.

    Pemerintah yang membangun program ekonomi seperti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) pun membutuhkan dua hal itu.

    Sebagus apa pun visi pemberdayaan masyarakat, tanpa evaluasi berkala dan mekanisme pengendalian keuangan yang kuat, KDMP hanya akan jadi perosotan yang licin, cepat meluncur di awal, tapi sulit bangkit ketika tergelincir.

    Diklat Diskumindak Kabupaten Landak tentang Koperasi Simpan Pinjam, Kemitraan dan Jual Beli bersama Pengurus KDMP, Kampus I Landak San Agustin. (Sumber: Agusandi, S.E., M.E)

    Evaluasi Sebagai Budaya Naik Tangga

    Evaluasi bukan berarti mencari kesalahan, melainkan mencari kebenaran yang lebih dalam. Kebiasaan ini merupakan budaya naik tangga dengan perlahan, konsisten dan terarah. Dalam dunia pasar maupun pemerintahan, evaluasi merupakan proses untuk mencegah kesalahan terulang dan mengarahkan organisasi pada efisiensi serta inovasi.

    Demikian pula dengan pengendalian, perspektif ekonomi melihat bahwa pengendalian bukanlah pembatasan yang mengekang, tetapi pagar yang menjaga agar energi organisasi tidak terbuang percuma.

    Kita hidup di era yang memuja kecepatan. Semua ingin viral, laris, dan sukses instan. Namun seperti perosotan dalam kisah Tiongkok tadi, kecepatan tanpa arah hanya akan membawa kita turun.

    Zaman memang menuntut kita bergerak cepat, tetapi bukan tanpa kendali. Tangga mengajarkan kita arti kemajuan yang sejati bahwa naik ke puncak memerlukan kesabaran, pengukuran, dan pengendalian. Evaluasi memberi arah, dan pengendalian menjaga keseimbangan.

    Dalam ekonomi dan manajemen, mereka yang memilih menjadi “tangga” mungkin tidak selalu tampak gemerlap. Tetapi merekalah yang membuat organisasi, perusahaan, dan masyarakat bisa naik perlahan, namun pasti, menuju kesejahteraan yang berkelanjutan. Semoga

    *Samuel – Dosen Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa.

    Koperasi Modern untuk Wujudkan Kemandirian Ekonomi Desa

    Diklat Diskumindak Kabupaten Landak tentang Koperasi Simpan Pinjam, Kemitraan dan Jual Beli bersama Pengurus KDMP, Kampus I Landak San Agustin. (Agusandi, S.E., M.E)

    Duta, Landak | Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) merupakan program nasional pemerintah yang bertujuan membentuk koperasi modern di tingkat desa dan kelurahan. Melalui semangat gotong royong, KDMP diharapkan menjadi motor penggerak pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.

    Program ini menyediakan berbagai layanan ekonomi dan sosial, mulai dari simpan pinjam, apotek, kios pangan, logistik, hingga layanan kesehatan. Dengan pengelolaan yang transparan dan partisipasi masyarakat, kesejahteraan bukan lagi sekadar mimpi bagi anggota KDMP.

    KDMP harus menjadi tanggung jawab bersama. Jika pengurus dan masyarakat memiliki pikiran dan konsep yang sama, koperasi ini akan tumbuh sehat dan berkelanjutan.

    Prinsip dasar pengelolaan KDMP adalah pemanfaatan dana talangan secara penuh untuk usaha produktif. Pengurus diharapkan bekerja dengan semangat pelayanan, bukan menuntut gaji.

    Barang siapa bekerja keras, cerdas, dan benar, maka upah yang diharapkan akan datang dengan sendirinya.

    Agusandi, S.E., M.E.- Dosen Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa.

    Pengelolaan Dana dan Kemitraan

    Rumus pengelolaan dana KDMP yang ideal meliputi:

    • 70–80% dari total aset dialokasikan untuk tabungan sukarela dan pinjaman beredar,
    • 15–20% untuk modal lembaga dan dana likuiditas,
    • Maksimal 5% untuk aset tidak produktif seperti gedung, kendaraan, atau piutang macet.

    Agar berjalan efektif, pengurus KDMP perlu menjalin kerja sama dengan berbagai pihak—tokoh masyarakat, pemuda, lembaga agama, sekolah, perusahaan, lembaga keuangan, UMKM, dan tokoh adat—berdasarkan kesepakatan dan potensi lokal masing-masing.

    Kreativitas dalam Penghimpunan Dana

    Koperasi Simpan Pinjam di bawah KDMP bahkan bisa berjalan tanpa dana talangan, asalkan kreatif menggalang partisipasi masyarakat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

    • Mengakomodasi tabungan hari raya bekerja sama dengan tokoh agama,
    • Menggerakkan program menabung di sekolah mulai dari PAUD,
    • Membentuk dana solidaritas untuk kesehatan dan kematian melalui musyawarah antar-RT,
    • Menghimpun dana pemuda lewat kegiatan olahraga solidaritas,
    • Melibatkan aparatur desa melalui kontribusi penghasilan dan kegiatan sosial ekonomi lainnya.

    Usaha Produktif dan Potensi Daerah

    KDMP juga diharapkan mengembangkan usaha-usaha produktif berbasis potensi lokal. Beberapa sektor yang dianggap aman dan cepat berkembang antara lain:

    • Hilirisasi beras, jagung, dan ubi, dengan membeli bahan baku langsung dari masyarakat dengan harga bersaing,
    • Produksi air kemasan dan produk turunan lain yang dipasarkan melalui pelaku UMKM setempat.

    Pemerintah diharapkan aktif dalam memperkuat kemitraan KDMP dengan berbagai lembaga, mempercepat birokrasi, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM) pengurus koperasi.

    Peran Adat dan Tanggung Jawab Pengurus

    Lembaga adat juga perlu dilibatkan untuk membantu pencegahan kredit bermasalah melalui pendekatan hukum adat yang disepakati bersama masyarakat dan diketahui oleh lembaga hukum pemerintah.

    Karena nilai dana penyertaan KDMP maksimal mencapai Rp3 miliar, pengurus wajib memperhitungkan kemampuan pembayaran cicilan usaha—hanya boleh antara 30–40 persen dari perkiraan pendapatan. Oleh karena itu, pemetaan sumber-sumber ekonomi lokal serta peluang usaha baru sangat penting untuk memastikan KDMP benar-benar menjadi pilar kemandirian dan kesejahteraan desa.

    *Penulis (Agusandi, S.E., M.E) adalah Dosen Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, kampus II Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa. 

    Gubernur Kalbar Sambut Baik Kegiatan Pesparani Katolik I Kalbar

    Pengurus LP3KD Kalimantan Barat Bersama Panitia Pesparani Katolik I ber-audiensi ke Gubernur, Ria Norsan (Foto : Adpim)

    Duta, Pontianak | Gubernur Kalimantan Barat, Drs. H. Ria Norsan, M.M., M.H. menerima audiensi dari Panitia Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Tingkat Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2025 di Ruang Kerja Gubernur Kalimantan Barat, Rabu (5/11/2025).

    Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Kalimantan Barat, Drs. H. Ria Norsan, M.M., M.H. menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada panitia Pesparani Katolik atas pelaksanaan Pesparani tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang akan dilaksanakan di Kota Pontianak pada tanggal 7 – 8 November 2025.

    “Pada prinsipnya saya selaku Gubernur Kalimantan Barat menyambut baik atas terselenggaranya kegiatan ini, mudah -mudahan dengan adanya kegiatan ini umat Katolik dapat merajut persaudaraan satu dengan yang lain semakin akrab, semakin kuat dan kokoh sehingga dapat memberikan kontribusi bagi Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Mari kita bersama-sama membangun Kalimantan Barat. Insya Allah pada pembukaan nanti saya akan hadir,” ungkap Norsan.

    Sementara itu, Ketua Panitia Pesparani Katolik, Yohanes Budiman mengatakan bahwa kegiatan yang diselenggarakan ini dalam upaya memperkuat persatuan dan kesatuan umat Katolik di seluruh wilayah Kalimantan Barat serta menjadi wadah pelestarian kebudayaan lokal di Kalimantan Barat.

    “Kita berharap agar semangat dan nilai-nilai yang dibawa oleh Pesparani Katolik tidak berhenti setelah acara selesai, tetapi harus terus ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari umat, baik di lingkungan gereja maupun masyarakat umum,” harap Yohanes.

    Sebagai informasi, Pesparani adalah Pesta Paduan Suara Gerejani yang merupakan ajang pembinaan mental, spiritual, dan budaya umat Katolik. Kegiatan ini mencakup berbagai perlombaan, seperti paduan suara, cerdas cermat rohani, mazmur, dan bertutur Kitab Suci. Pesparani juga berfungsi sebagai sarana untuk memperkuat iman, melestarikan nilai budaya, serta membangun kerukunan dan toleransi antarumat beragama.(* Adpim – Pemprov Kalbar)

    PESPARANI KATOLIK I KALBAR 2025 SIAP DIGELAR

    Pesparani Katolik I Kalbar 2025 siap digelar

    Duta, Pontianak | Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Daerah (LP3KD) Kalimantan Barat akan menggelar gawai besar, yakni Pesparani Katolik I Tingkat Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, 7-8 November 2025

    Gawai akbar Umat Katolik Kalbar tersebut akan dibuka resmi oleh Gubernur Kalbar, H. Ria Norsan. Tema yang diangkat dalam Pesparani Katolik I Kalbar ini adalah “Cor Unum et Anima Una ad Aedificandum Ecclesiam et Patriam” (Satu Hati Satu Jiwa Membangun Gereja dan Bangsa).

    Rapat Pleno Panitia Pesparani Katolik I Kalbar 2025

    Ketua Panitia Pesparani Katolik I Provinsi Kalbar Tahun 2025, Yohanes Budiman mengatakan, bahwa Pesparani Katolik I Kalbar ini diadakan untuk merespon saran dan masukan dari LP3KD Kabupaten/Kota yang ada di Kalimantan Barat, selain memang program kerja dari LP3KD Kalbar sendiri.

    Budiman mengungkapkan, karena keterbatasan dana, Pesparani Katolik I Kalbar ini akan diselenggarakan secara terbatas. Namun begitu, dari 14 Kabupaten/Kota di Kalbar, 13 kabupaten/kota sudah menyatakan siap berpartisipasi, kecuali Kabupaten Kayong Utara. Hal tersebut karena LP3KD Kayong Utara belum terbentuk.

    Sebanyak empat cabang dengan delapan kategori akan dilombakan, di antaranya Lomba Menyanyi Mazmur Kategori Anak, Remaja, OMK, dan Dewasa (4 kategori), Lomba Bertutur Kitab Suci (1 karegori), Lomba Cerdas Cermat Rohani SD dan SMP/SMA (2 kategori), dan Lomba Paduan Suara Dewasa Campuran (PSDC, I kategori). Jumlah total peserta lomba -termasuk official– sebanyak kurang lebih 500 orang.

    Budiman berharap, meskipun diselenggarakan terbatas, hal tersebut tidak mengurangi makna kebersamaan dari LP3KD Kabupaten/Kota yang ikut ajang ini.

    Mengenai kesiapan Panitia dalam pelaksanaan Pesparani ini, Budiman mengatakan sudah cukup maksimal, tinggal pemantapan kesiapan akhir dan pelaksanaannya.

    “Hingga saat ini perkembangannya sangat positif dan kesiapan panitia sudah mencapai 90an persen. Kita sudah melakukan technical meeting dengan daerah-daerah peserta lomba dan berkoordinasi dengan dewan juri, tinggal pematangan akhir menjelang hari-H. Ini adalah Pesparani Katolik Provinsi Kalbar yang pertama diadakan, bertujuan mempersiapkan Kalbar menuju Pesparani Nasional 2027. Tentu ada kriteria penilaian yang harus dicapai peserta lomba. Kami harap, dari Pesparani ini muncul tim-tim terbaik untuk mewakili daerah Kalbar”, ungkap Budiman.

    Selain melakukan pematangan hal-hal teknis, LP3KD Kalbar dan Panitia Pesparani Katolik I Kalbar juga telah melakukan audiensi dengan beberapa pihak. Audiensi pertama dilakukan dengan Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin OFM.Cap., Sabtu (25/10).

    Perwakilan Pengurus LP3KD Kalbar Bersama Panitia Pesparani Katolik I Kalbar, Audiensi dengan Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak Mgr. Samuel Oton Sidin OFMCap

    Dalam audiensi itu, Mgr. Samuel memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Pesparani Katolik pertama di tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Katanya, meskipun dilaksanakan di tengah keterbatasan ekonomi, namun makna iman dan nilai rohani Pesparani harus tetap diutamakan.

    Mgr. Samuel juga mengajak Umat untuk berdoa, berpartisipasi dan menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung.

    “Saya menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Pesparani Katolik tingkat Provinsi Kalimantan Barat pertama ini. Walaupun dilaksanakan dengan keterbatasan, terutama karena kondisi ekonomi yang belum baik, namun hal itu tidak mengurangi makna iman dan mutu rohani Pesparani sebagai ungkapan iman Umat Katolik. Saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras menyiapkan kegiatan ini. Harapan saya, Pesparani ini dapat berjalan lancar dengan dukungan pemerintah daerah, aparat keamanan dan seluruh masyarakat. Mari kita berdoa bersama agar pelaksanaannya dapat memberi kepuasan bagi semua pihak dan menjadi pujian serta kemuliaan bagi Allah. Semoga segala sesuatu berjalan dengan baik, dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus”, katanya seraya memberi berkat.

    Sementara itu, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono juga menyatakan apresiasi dan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Pesparani Katolik I Provinsi Kalbar. Kegiatan ini diharapkannya berjalan lancar, sukses, dan menjadi ajang kebersamaan Umat Katolik, serta penguat keharmonisan antar Umat beragama.

    “Kegiatan ini dapat menjadi ajang silaturahmi dan meningkatkan keakraban, terutama bagi Umat Katolik. Kita tahu, di Kalimantan Barat hubungan antar Umat beragama cukup harmonis dan penuh toleransi. Saya berharap Pesparani ini semakin menguatkan kebersamaan dan keharmonisan tersebut. Sukses untuk Pesparani”, katanya dalam audiensi Pengurus LP3KD Kalbar dan Panitia Pesparani Katolik I Kalbar di Kantor Wali Kota, Jumat (31/10) lalu.

    Setelah beraudiensi dengan Administrator Apostolik KA. Pontianak dan Wali Kota Pontianak, Pengurus LP3KD Kalbar dan Panitia Pesparani Katolik I Kalbar tak lupa juga beraudiensi dengan Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan, Senin siang (3/11) di ruang kerjanya di kantor Gubernur Kalbar.

    Dalam audiensi tersebut Wagub Krisantus mengajak seluruh masyarakat Kalbar untuk mendukung dan mendoakan kegiatan rohani Umat Katolik ini. “Melalui pesparani ini, mari kita rawat harmoni dan kerukunan antar Umat beragama, demi Kalimantan Barat yang semakin maju, rukun, dan berkeadaban”, ajaknya.

    Sekretaris Umum LP3KD Kalbar, Ignatius IK, memohon doa restu kepada seluruh masyarakat Kalbar, terutama Umat Katolik, agar pelaksanaan Pesparani Katolik I Kalbar ini berlangsung sukses, meskipun diadakan penuh kesederhanaan.

    “Mengingat keterbatasan tempat, kami berharap Umat dapat memakluminya. Namun Umat yang ingin tetap hadir dipersilakan untuk memberikan dukungan. Semoga Pesparani Katolik I Kalbar ini menjadi awal yang baik dan semakin mempererat persaudaraan Umat Katolik di Kalimantan Barat”, pungkas Ignasius.*

    TERBARU

    TERPOPULER