Friday, June 5, 2026
More
    Home Blog Page 29

    Jejak Sunyi Seorang Dominikan

    Foto Anjeli: Foto bersama usai mewawancarai Romo Dominic di Kapelan San Agustin, Kampus II, Pontianak.

    Duta, Pontianak | “Menjadi kepanjangan tangan Tuhan”—itulah prinsip yang selalu dipegang oleh Romo Dominico Xaverio Budoyo Setiawan, OP (44) sejak awal memasuki kehidupan religius.

    Dalam wawancara yang berlangsung Sabtu, 18 Oktober 2025, Romo Dominic bercerita tentang keseharian, perjalanan panggilan, dan cara ia menemukan kehadiran Tuhan dalam hal-hal yang sederhana.

    Sebagai kapelan dan pendamping para frater di Seminari Tinggi Antonius Ventimiglia, tugasnya meliputi membantu Misa harian dan mingguan, mendampingi kegiatan para mahasiswa frater, sekaligus menyelesaikan tesis Licentiate Teologi Dogmatik di Universitas Santo Tomas, Filipina.

    Inspirasi panggilannya, kata Romo Dominic, berawal dari almarhum ayahnya yang dahulu seorang mualaf. “Ayah saya menjadi teladan terbesar. Namun keluarga dan teman-teman juga berperan besar dalam membentuk panggilan saya,” tuturnya.

    Kedua orang tuanya dulunya Muslim, lalu memutuskan menjadi Katolik, dan sejak lahir Romo Dominic sudah dibaptis secara Katolik.

    Satu kenangan masa kecil yang berkesan adalah ketika ia melihat ayahnya dengan penuh perhatian mengikuti siaran langsung Misa dari Vatikan melalui televisi. Peristiwa itu kemudian menjadi bahan renungannya di kemudian hari—bagaimana seseorang yang baru mengenal Kristus justru memiliki semangat iman yang begitu besar. Dari sanalah kesadaran akan imannya tumbuh dan membuatnya ingin semakin mendalami kekatolikan.

    “Gaya hidup saya sederhana,” ujarnya ketika ditanya tentang keseharian seorang imam. “Saya bukan tipe yang suka jalan-jalan. Kebanyakan waktu saya habiskan di kamar, membaca, menulis homili, dan melakukan riset.”

    Foto Anjeli: sedang mewawancarai Romo Dominic di Kapelan San Agustin Pontianak

    Selama studi di Filipina, ia menyadari bahwa homili yang baik lahir dari riset yang mendalam.

    Karena itu, ia banyak membaca buku teologi dan merenungkan pengalaman hidup, baik dirinya maupun orang lain.

    Namun yang paling bermakna bagi Romo Dominic adalah kehidupan komunitas di biara, karena di sanalah ia belajar menemukan Tuhan dalam setiap peristiwa kecil. “Kalau kita membuka mata dan hati, hal sederhana pun bisa menjadi tanda kehadiran Tuhan,” ujarnya.

    Sebagai religius, ia tidak mengenal hari libur. Harinya dimulai pukul 06.00 dengan doa pagi dan Misa bersama komunitas, lalu sarapan bersama.

    Setelah itu, ia memberi makan ikan di kolam biara—ikan yang nanti akan disantap bersama komunitas. Ia juga meluangkan waktu sekitar satu jam setiap hari belajar bahasa Spanyol, salah satu hobinya.

    Siang hingga sore diisi dengan membaca, menulis, menyelesaikan tesis, atau mengurus tugas sebagai sekretaris, archivist, dan chronicler di Biara Santo Dominikus, serta membantu pelayanan di Kapelan Universitas Santo Agustinus Hippo.

    Sore hari ia berolahraga ringan untuk menjaga stamina, dan malam harinya ia kembali membaca buku rohani atau mengulang pelajaran bahasa. Aplikasi seperti Duolingo menjadi sarana ia memperdalam kemampuan bahasa asing.

    Baginya, mempelajari bahasa baru berarti mengenal budaya lain dan memahami lebih luas keindahan ciptaan Tuhan.

    Dalam karya pastoral, Romo Dominic tidak menetap di paroki, tetapi membantu pelayanan Misa di Kuasi Paroki St. Petrus Kanisius Supadio, yang dilayani oleh Ordo Dominikan, serta melayani Misa bagi mahasiswa UNIKA Santo Agustinus Hippo.

    Pelayanan ini menuntutnya berhadapan dengan beragam orang dari berbagai latar belakang—tantangan yang justru ia syukuri sebagai kesempatan untuk belajar beradaptasi dan melayani dengan hati terbuka.

    “Memberi itu lebih baik daripada menerima,” katanya. “Maka, berikanlah senyummu kepada orang lain.”

    Perjalanan hidup religiusnya sendiri tidak direncanakan sejak awal. Setelah lulus dari SMA Pangudi Luhur Van Lith, Muntilan, ia kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, jurusan Akuntansi. Ia kemudian bekerja di Jakarta selama delapan tahun di bidang keuangan. Baru pada usia 32 tahun, ia memutuskan untuk masuk biara.

    Alasannya sederhana: sepanjang hidup ia merasa dilindungi dan dituntun oleh Tuhan, tetapi di balik kesuksesan dan kenyamanan hidup duniawi, ia merasakan kekosongan batin yang tidak bisa diisi oleh hiburan atau kesenangan sesaat.

    Pencarian itu membawanya menelusuri makna nama baptisnya, Dominico Xaverio, di internet. Di sana ia menemukan sosok Santo Dominikus de Guzman, pendiri Ordo Dominikan, yang hidupnya berfokus pada doa, pewartaan Sabda, dan penyelamatan jiwa-jiwa. Dari sanalah tumbuh keyakinan untuk mengikuti jalan hidup religius.

    Bagi Romo Dominic, hidup religius dan hidup berkeluarga sama-sama panggilan mulia. Keduanya merupakan jalan menuju kekudusan, tergantung bagaimana seseorang menjalani dengan kesetiaan dan cinta.

    Ia pun memutuskan masuk biara tanpa perlu meminta izin orang tua karena sudah yakin dan dewasa dalam pilihan hidupnya.

    Untuk menjaga keseimbangan hidup, ia memegang tiga prinsip: istirahat cukup, makan bergizi, dan memiliki hobi yang menumbuhkan semangat baru. Hobinya memelihara ikan, misalnya, mengajarkannya untuk memperhatikan hal-hal kecil—memberi makan, merawat, mengenal kebiasaan makhluk hidup—yang menjadi sarana belajar tentang kesetiaan dan kehadiran Tuhan dalam keseharian.

    Dalam sesi wawancara, Romo Dominic juga menyampaikan pesan mendalam bagi kaum muda. Ia mengajak generasi muda untuk berani memulai hal baru dan menggunakan teknologi secara bijak. “Internet dan media sosial tidak bisa dihindari, tapi bisa digunakan untuk belajar dan mencari makna hidup,” ujarnya.

    Ia juga menasihati agar anak muda memilih teman yang baik, memiliki figur yang bisa dipercaya untuk membimbing kedewasaan, serta tidak terjebak pada gosip dan media sosial. “Gunakan waktumu untuk belajar, aktif di organisasi, pelayanan di gereja, atau belajar bahasa asing. Semua itu memperkaya hidupmu,” pesannya.

    Menurutnya, masa muda adalah saat terbaik untuk menghidupi nilai-nilai kebaikan Tuhan, bukan sekadar mencari popularitas atau “likes” di media sosial.

    Perjalanan hidup sederhana Romo Dominic diharapkannya dapat menjadi inspirasi—baik bagi mereka yang memilih hidup berkeluarga maupun selibat. Sebab, yang terpenting dari semua panggilan hidup adalah kesetiaan dan kesungguhan untuk menjalaninya setiap hari.

    *Anjeli adalah mahasiswa Keuangan dan Perbankan di Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II (S).

    Narasumber: RP. Dominico Xaverio Budoyo Setiawan, OP. 

    Cara Konkret Menghayati Yubelium dalam Kehidupan Gereja

    Foto bersama usai wawancara Sr.Louise Marie SFIC (29/09/25) di susteran SFIC

    Duta, Pontianak | Dalam kehidupan menggereja, peran seorang suster tidak hanya terbatas pada pelayanan rohani, tetapi juga meliputi pendampingan umat dalam berbagai kegiatan iman, termasuk dalam perayaan Yubelium.

    Yubelium menjadi momen istimewa bagi  gereja untuk memperbaharui iman dan mempererat kebersamaan antarumat.

    Melalui wawancara Bersama Sr.Louise Marie SFIC (29/09/2025), kami mencoba menggali lebih dalam bagimana peran suster dalam mendampinggi umat serta bagimana makna Yubelium dapat dihayati dalam kehidupan sehari-hari.

    Di dalam pendampingan umat di lingkungan, Suster berperan aktif untuk terlibat dalam kegiatan gerejawi.

    Dalam Gereja, keterlibatan tersebut tidak hanya terbatas pada perayaan misa atau kegiatan rohani lainnya, tetapi juga dalam membangun kebersamaan antarumat. Suster menekankan bahwa perayaan Yubelium bukan hanya milik para Suster atau Pastor, tetapi milik seluruh umat.

    Artinya, semua orang berperan dalam mewujudkan semangat persaudaraan dan pelayanan di dalam Gereja.

    Dalam Gereja secara universal, Suster juga merupakan bagian dari umat yang memiliki tanggung jawab untuk turut berpartisipasi dalam kehidupan menggereja.

    Baik dalam komunitas kecil maupun di lingkungan paroki, Suster ikut serta dalam berbagai kegiatan seperti devosi, doa bersama, dan pelayanan sosial.

    Suster menjelaskan bahwa penting bagi umat untuk saling melengkapi, saling mengajak, dan bekerja sama dalam semangat kebersamaan.

    Melalui keterlibatan aktif itu, umat dapat saling menopang dan membangun kembali semangat iman, terutama bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan atau kehilangan harapan.

    Beliau juga menyampaikan untuk menggugah yubelium pada kehidupan sehari-hari sebenarnya, semuanya kembali kepada diri kita masing-masing.

    Setelah krisis moneter tahun 1998 dan juga pandemi Covid-19, banyak orang mengalami keputusasaan ada yang kehilangan pekerjaan, ada yang putus sekolah. Akibatnya, banyak umat yang kehilangan rasa percaya diri untuk bangkit kembali.

    Di sinilah peran kita semua untuk mendampingi mereka agar kembali memiliki pengharapan kepada Tuhan. Caranya adalah dengan berdoa. Tapi doa bukan hanya membuat tanda salib, melainkan sungguh berbicara dengan Tuhan dengan hati yang tenang dan batin yang hening.

    Dalam keheningan itu, kita bisa menumbuhkan kembali harapan dan kekuatan untuk menjalani hidup seperti sedia kala.

    Sebagai seorang religius, suster memaknai Tahun Yubelium sebagai momen kembali kepada diri sendiri dan memperbarui pengharapan kepada Allah. Setiap orang tentu memiliki cara yang berbeda dalam menghayati Yubelium, misalnya melalui ziarah ke sembilan gereja yang telah ditunjuk.

    Menariknya, ziarah ini juga menjadi sarana untuk menghidupkan kembali semangat umat di berbagai daerah. Misalnya, ketika kami mengunjungi umat di Tiang Tanjung dan Ambawang, antusiasme mereka luar biasa.

    Umat yang jarang mendapat kunjungan merasa diperhatikan dan dikuatkan. Dari situ, kami belajar bahwa kehadiran Gereja membawa harapan baru bagi mereka yang mulai kehilangan semangat hidup.

    Tantangan terbesar umat saat ini dalam memahami dan menghayati tahun yubelium seperti kurangnya empati.

    Banyak orang lebih sibuk dengan dunia digitalnya sendiri handphone, media sosial hingga melupakan kehadiran sesama. Saat diajak berkumpul, sering kali masing-masing sibuk dengan ponselnya.

    Kondisi ini membuat hati tertutup, sehingga sulit memahami makna kebersamaan dan kasih. Padahal, empati adalah dasar dari kasih dan perhatian terhadap sesama. Jika empati mulai hilang, maka semangat Yubelium yang mengajarkan pengharapan dan persaudaraan juga akan pudar.

    Tahun Yubelium ini bukan hanya tentang perayaan semata, tetapi juga tentang perjalanan iman dan pengharapan yang terus berlanjut. Tahun ini disebut sebagai Tahun Ziarah Pengharapan, namun semangatnya tidak boleh berhenti di sini saja.

    Kita sedang mempersiapkan diri menuju Yubelium berikutnya di tahun 2050. Tema dan situasinya mungkin akan berbeda, tetapi tujuannya tetap sama yaitu menumbuhkan iman dan harapan umat. Maka dari itu, setiap pribadi baik suster, bruder, maupun umat awam perlu saling menguatkan.

    Jangan biarkan siapa pun kehilangan arah atau iman karena pengaruh zaman. Perkembangan teknologi memang cepat, tapi jangan sampai membuat kita “lupa” pada Tuhan.

    Justru di tengah dunia yang serba digital ini, iman dan empati harus semakin diperkuat agar semangat Yubelium tetap hidup dalam keseharian kita.

    *Martina dan Isni, Mahasiswi Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, San Agustin. – S. 

    SMAN 2 Sekadau Rayakan 16 Tahun dengan Semangat Sumpah Pemuda

    Sutimbang Ngawan, S.Pd., Ketua panitia Ultah SMAN 2 Sekadau ke-16 dan SMARTFest 2025.

    Duta, Sekadau | Dalam suasana kebangsaan, SMA Negeri 2 Sekadau memperingati ulang tahunnya yang ke-16 bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, Senin (28/10/2025).

    Perayaan ini dikemas dalam kegiatan SMARTFest 2025, sebuah festival yang menjadi wadah ekspresi kreativitas, kewirausahaan, dan kepedulian sosial bagi seluruh warga sekolah.

    SMARTFest, yang berlangsung selama lima hari sejak 27 hingga 31 Oktober, mengusung tema “Pemuda Peduli Budaya dan Lingkungan untuk SMAN 2 Sekadau Lebih Gemilang.” Kegiatan ini memadukan semangat peringatan Sumpah Pemuda dengan visi sekolah dalam menumbuhkan karakter siswa yang mandiri, kreatif, dan berjiwa sosial.

    Pemotongan tumpeng Ultah ke-16 SMAN 2 Sekadau dan pembukaan SMARTFest 2025 oleh Plt. Kepala SMAN 2 Sekadau didampingi oleh Kepala Desa Seberang Kapuas dan Babhinkamtibmas beserta dewan guru di lapangan SMAN 2 Sekadau, 28 Oktober 2025.

    Plt. Kepala SMA Negeri 2 Sekadau, Uci Puspitasari, S.Pd., menjelaskan bahwa SMARTFest merupakan bagian dari program kokurikuler yang kini menjadi agenda tahunan sekolah.

    “Kami ingin agar kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa untuk belajar berwirausaha dan mengasah keterampilan hidup. Dengan begitu, saat mereka lulus dan terjun ke masyarakat, mereka sudah siap dan percaya diri,” ujarnya.

    Ketua Panitia Sutimbang Ngawan, S.Pd., menambahkan bahwa kegiatan ini dirancang dengan melibatkan guru dan OSIS agar menjadi festival yang edukatif sekaligus menyenangkan.

    “Ada bazaar kuliner, talkshow kewirausahaan bersama Zulkifli Amsyah, pentas seni, fashion show dari bahan daur ulang, lomba mading, pameran sains, hingga kegiatan bakti sosial,” paparnya.

    Menurutnya, tahun ini menjadi kali pertama panitia mengajukan proposal kegiatan ke berbagai sponsor untuk mendukung pelaksanaan festival.

    “Dana yang terkumpul kami gunakan sepenuhnya untuk pengembangan kreativitas siswa. Kami berterima kasih atas dukungan sponsor dan donatur yang membuat kegiatan ini berjalan lancar,” tambahnya.

    SMARTFest 2025 menjadi bukti semangat kolaborasi antara guru, siswa, dan masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya memeriahkan ulang tahun sekolah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya menjaga budaya dan lingkungan.

    Berbagai pihak turut mendukung kegiatan ini, di antaranya KUD Tajur Harapan Hamparan VIII, Penerbit Erlangga, Bank Kalbar KC Sekadau, PT MPE Rayon Sebatri, Polsek Sekadau Hilir, Decoco, Toko Lavio, dan Alumni SMAN 2 Sekadau, serta sejumlah donatur pribadi seperti Tomy Has, Kandar, Ny. Buyung, Rangga, Adrianus, dan guru-guru SMAN 2 Sekadau.

    Dengan semangat Sumpah Pemuda yang menjadi latar perayaan, ulang tahun ke-16 SMAN 2 Sekadau bukan sekadar peringatan, tetapi juga ajakan untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat. Melalui SMARTFest, sekolah ini menunjukkan tekadnya untuk mencetak generasi muda yang cerdas, kreatif, peduli lingkungan, dan berjiwa wirausaha. *Timbang (Sam). 

    Mahasiswa San Agustin Belajar Bermasyarakat Wisata di Sanggau Ledo

    Mahasiswa PKL Unika San Agustin, 2025

    Duta, Pontianak | Fakultas Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Pontianak merupakan salah satu institusi pendidikan yang mimiliki program studi vokasi berfokus pada pengembangan tenaga kesehatan profesional.

    Program studi utama yang ditawarkan meliputi D-III Keperawatan dan D-III Kebidanan, keduanya telah memperoleh akreditasi dari lembaga resmi yang berwenang.

    Sebagai bagian dari komitmen terhadap mutu pendidikan, fakultas ini menjalin kerja sama strategis dengan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk rumah sakit dan institusi kesehatan lainnya di wilayah Kalimantan Barat, yaitu wilayah kerja Puskesmas.

    Ranto (Mahasiswa Keperawatan Semester 3) 2025

    Kolaborasi ini bertujuan untuk memperluas pengalaman klinis mahasiswa serta meningkatkan kualitas lulusan.

    Sanggau Ledo, salah satu kawasan yang kaya dengan sumber-sumber alam dan nilai-nilai budaya di Kabupaten Bengkayang, Dalam rangka mendukung promosi dan pengembangan sektor pariwisata di daerah ini, mahasiswa Program Studi Keperawatan dari Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo melaksanakan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) Tahun Akademik 2024/2025. Adapun kegiatan ini dilaksanakan di Desa Jesape.

    Implementasi Kegiatan Mahasiswa, 2025.

    Program yang ada di desa diantaranya memperkenalkan lokasi wisata, dengan mengunjungi daerah perbatasan Jagoi Babang.

    Aktivitas ini merupakan wujud dari pelaksanaan pembelajaran di lapangan yang mengintegrasikan institusi  pendidikan dalam promosi potensi pariwisata di daerah salah satunya di Kab. Bengkayang.

    Adapun kegiatan PKL, para mahasiswa berkesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan warga setempat melalui berbagai kegiatan seperti survei kesehatan, musyawarah bersama masyarakat, pemeriksaan kesehatan, edukasi kesehatan; gaya hidup sehat, dan  pola makan seimbang.

    Donatus Gatar Dwi P (Mahasiswa Keperawatan Semester 3) 2025

    Di sela waktu yang ada, mahasiswa berkesempatan berkunjung ke tempat-tempat  wisata alam lainnya. Hal ini untuk mendukung kemajuan ekonomi masyarakat setempat.

    Dengan semangat pengabdian dan kepedulian, aktivitas ini tidak hanya menambah pengetahuan mahasiswa tentang keperawatan, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta terhadap daerah asal dan komitmen untuk berkontribusi dalam pengembangan kesehatan dan sektor pariwisata di tingkat lokal.

    Dengan kerjasama antara mahasiswa, dan pemerintah desa diharapkan bisa meningkatkan pemahaman tentang pentingnya kesehatan.

    Sinergisitas Institusi Pendidikan dan Pariwisata

    Kegiatan study tour dan PKL ini menjadi bagian dari pembelajaran praktik mahasiswa keperawatan yang menggunakan pendekatan yang meliputi berbagai disiplin ilmu, tidak hanya terfokus pada kesehatan tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial dan ekonomi masyarakat setempat.

    Kegiatan Positif untuk Masyarakat di Sanggau Ledo, (2025)

    Aktivitas di Sanggau Ledo menyatukan pengamatan mengenai kondisi kesehatan penduduk dengan pengenalan serta pemasaran potensi wisata seperti Air Terjun Jugan, Gua Kumpe, dan berbagai objek wisata alam serta budaya lain yang mudah dijangkau dan memiliki daya tarik yang tinggi bagi pengunjung.

    Mahasiswa melakukan pengamatan langsung terhadap kondisi layanan kesehatan yang terdapat di sekitar area wisata, sembari memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat dan penggiat pariwisata.

    Dengan cara ini, mereka berupaya menciptakan destinasi wisata yang tidak hanya mempesona secara alamiah, tetapi juga sehat dan aman untuk para wisatawan. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong partisipasi aktif mahasiswa dalam menjaga lingkungan serta melestarikan budaya lokal.

    Harapan untuk Pengembangan Wisata (2025)

    Promosi Wisata Melalui Media dan Kegiatan Kreatif

    Salah satu aktivitas utama dalam study tour ini adalah senam bersama Dosen, pembuatan dokumentasi yang mencakup foto, video, dan artikel yang bertujuan untuk menjadi sarana promosi demi menarik minat wisatawan baik lokal maupun nasional agar lebih mengenal Sanggau Ledo.

    Geri (Mahasiswa Keperawatan Semester 3) 2025

    Para mahasiswa aktif menggunakan media sosial dan saluran digital lainnya untuk menyebarluaskan informasi tentang keindahan destinasi wisata ini secara luas.

    Kegiatan promosi yang dilakukan oleh mahasiswa juga melibatkan kolaborasi dengan komunitas masyarakat sadar wisata (Pokdarwis) melalui perguruan tinggi yaitu San Agustin sebagai dukungan  pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.

    Hingga saat ini, beberapa tempat wisata seperti Riam Jugan.

    Perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di Jagoi Babang berada dalam Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. (2025)

    Dampak Positif bagi Masyarakat dan Mahasiswa

    Kegiatan ini memberikan manfaat ganda  masyarakat sekitar memperoleh perhatian lebih terhadap kesehatan dan kualitas layanan wisata, sedangkan mahasiswa mendapatkan pengalaman praktis yang memperluas pemahaman mereka tentang hubungan antara kesehatan jiwa lingkungan, dan pariwisata.

    Rekreasi bagi bagi masyarakat merupakan implementasi bagi kesehatan mental.

    Harapan untuk Pengembangan Wisata

    Harapan untuk kemajuan wisata bagi mahasiswa PKL di Sanggau Ledo meliputi keinginan agar pengembangan destinasi wisata, khususnya di area Rumah adat bidayuh dan Air Terjun Riam Jugan yang terletak di Desa Lembang, bisa lebih maksimal dengan perbaikan fasilitas, layanan, dan infrastruktur jalan, serta dukungan yang kuat dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

    Di samping itu, diinginkan adanya pelatihan khusus dan pembentukan kelompok yang peduli terhadap wisata untuk meningkatkan pengelolaan dan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan pariwisata.  

    Melalui langkah-langkah strategis yang melibatkan mahasiswa sebagai agen perubahan, Sanggau Ledo memiliki potensi untuk menjadi tujuan wisata yang populer sekaligus menjadi contoh pengembangan pariwisata yang sehat, aman, dan ramah lingkungan di Kalimantan Barat.

    Perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di Jagoi Babang berada dalam Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

    Jagoi Babang menjadi lokasi Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang berfungsi sebagai gerbang resmi bagi orang dan barang yang bergerak masuk maupun keluar antara Indonesia dan Malaysia, khususnya berbatasan langsung dengan negara bagian Sarawak, Malaysia.

    Kegiatan PKL ini tidak hanya berkaitan dengan pembelajaran kesehatan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperluas pengetahuan budaya dan sosial mahasiswa di daerah perbatasan yang menarik ini.

    *Ranto, Donatus, Geri, Usu, Tim C’san – Mahasiswa Falkutas Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.

    Aula Santo Leonardus dari Porto Mauritio: Wujud Iman dan Kebersamaan Umat Paroki Santa Sesilia

    Mgr. Agus pimpin ibadat pemberkatan Aula Paroki Santa Sesilia (22/10/2025)

    Duta, Pontianak | Rabu, 22 Oktober 2025, hujan yang mengguyur tidak menyurutkan sukacita umat Paroki Santa Sesilia Pontianak. Di tengah rintik hujan, senyum dan rasa syukur mengiringi momen bersejarah: peresmian dan pemberkatan Aula Paroki Santa Sesilia yang diberi nama Santo Leonardus dari Porto Mauritio, pelindung misi-misi paroki.

    Bangunan megah ini menjadi buah nyata dari kerja sama, ketulusan, dan semangat iman umat yang selama hampir 19 tahun menantikan hadirnya sebuah aula paroki. Proyek ini menelan biaya sekitar Rp 5 miliar, yang seluruhnya berasal dari dukungan umat, para donatur, dan mitra yang berhati tulus.

    Peresmian dan pemberkatan dipimpin oleh Mgr. Agustinus Agus, serta dihadiri oleh Bupati Kabupaten Kubu Raya H. Sujiwo, SE., M.Sos, perwakilan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, anggota DPRD Kota Pontianak, pastor, suster, frater, tokoh umat, dan para ketua lingkungan.

    Ungkapan Syukur dan Apresiasi

    Ketua Panitia, Albertus Tjiu, menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada Mgr. Agus yang tak henti-hentinya memberi semangat dan bimbingan. Ia juga menuturkan terima kasih kepada Pastor Paroki Pastor Fransiskus Yosnianto, OMFCap, Pastor Provinsial Kapusin Pontianak, Pastor Bagara Darmawan, OFMCap, penggagas ide pembangunan aula paroki Pastor Harmoko, OPFMCap, pastor rekan paroki Santa Sesilia Pastor Nandung, OFMCap  serta seluruh panitia yang telah bekerja dengan penuh dedikasi selama 17 bulan.

    Bupati Kubu Raya H. Sujiwo hadir dalam peresmian aula paroki Santa Sesilia (22/10/2025)

    “Terima kasih kepada para donatur dan seluruh umat paroki Santa Sesilia atas dukungan moril dan materiilnya. Kami juga bersyukur atas bantuan PT. Karya Agung Perkasa yang dengan ketulusan hati tetap bekerja menyelesaikan pembangunan, bahkan saat dana belum sepenuhnya tersedia,” ujarnya.

    Didorong untuk Mandiri

    Pastor Paroki, RP. Fransiskus Yosnianto, OMFCap, mengungkapkan rasa syukur dan bangga atas kebijakan keuskupan yang mendorong paroki untuk berani mandiri.

    “Melalui dorongan Mgr. Agus, kami belajar untuk tidak takut memulai. Bahkan ketika dana belum cukup, beliau memperkenalkan kami dengan kontraktor yang berani bekerja dengan tulus hati. Itulah awal keberanian kami,” ungkapnya.

    Penekanan tombol Sirene tanda peresmian aula paroki Santa Sesilia (22/10/2025)

    Ia menambahkan, “Aula ini akan menjadi rumah bersama bagi kegiatan paroki, kelompok kategorial, dan nantinya diupayakan juga untuk masyarakat umum. Semoga umat sungguh merasa memiliki, dan menggunakan tempat ini untuk memuliakan Tuhan melalui pelayanan.”

    Pastor Yosnianto juga menyampaikan terima kasih kepada umat dari 23 lingkungan yang dengan tekun sudah mulai mengupayakan sumbangan rutin minimal satu juta rupiah per bulan.

    “Kalau melihat kondisi umat, rasanya mustahil kami bisa membangun aula semegah ini. Tapi Roh Kudus bekerja melalui hati banyak orang baik,” ujarnya penuh haru.

    Dukungan Pemerintah dan Apresiasi Keuskupan

    Bupati Kubu Raya, H. Sujiwo, menyampaikan dukungan dan apresiasinya atas berdirinya aula ini.

    “Pemerintah Kabupaten Kubu Raya siap membantu kelanjutan kebutuhan aula ini. Jangan ragu menyampaikan jika masih ada yang perlu didukung,” katanya.

    Penyerahan Cinderamata dari Pastor Paroki kepada Mgr. Agus (22/10/2025)

    Ia juga mengaku baru mengetahui bahwa sebagian warga Kubu Raya merupakan bagian dari umat Paroki Santa Sesilia.

    Sementara itu, Staf Ahli Bidang Sosial dan Sumber Daya Manusia Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Alex Rombonang, menyampaikan bahwa pemerintah provinsi sangat mendukung keberadaan aula paroki ini.

    “Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mendukung kehadiran aula ini karena akan menjadi sarana penting dalam mendukung pelayanan pastoral Gereja, membina hubungan sosial, dan membimbing kehidupan umat beriman,” katanya.

    Alex Rombonang mewakili Pemda Prov. Kalbar (22/10/2025)

    Ia menambahkan bahwa pemerintah siap bersinergi dengan Gereja dalam kegiatan yang menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan di tengah masyarakat.

    Pesan Uskup Agung Pontianak

    Dalam sambutannya, Mgr. Agustinus Agus mengungkapkan kegembiraannya atas keberhasilan umat dan pastor paroki yang bekerja bersama dalam semangat persaudaraan.

    Ibadat Pemberkatan Aula dipimpin oleh Mgr. Agus didampingi Pastor Bagara Darmawan, OFMCap, dan Pastor Fransiskus Yosnianto, OFMCap (22/10/2025)

    “Saya senang melihat bagaimana umat dan pastor berjalan bersama. Jadikan Paroki Santa Sesilia sebagai contoh bahwa karya besar dapat terwujud bila kita bersatu hati,” ujarnya.

    Beliau juga menegaskan makna kebersamaan dalam hal sekecil apa pun.

    “Semen walaupun mahal, tak ada artinya tanpa pasir. Sekecil apa pun kontribusi umat, itulah yang membuat aula ini berdiri. Semua punya peran masing-masing,” pesan Mgr. Agus.

    Undangan dan umat yang hadir dalam peresmian dan pemberkatan aula (22/10/2025)

    Ia menutup dengan ucapan hangat,

    “Terima kasih dan selamat kepada umat Paroki Santa Sesilia yang kini memiliki aula baru. Semoga tempat ini menjadi ruang perjumpaan kasih dan pelayanan.”

    Aula Santo Leonardus dari Porto Mauritio kini berdiri sebagai simbol iman, kerja sama, dan kasih dalam pelayanan. Sebuah bukti bahwa ketika umat dan gembala berjalan bersama, tidak ada karya yang mustahil bagi Tuhan. # Paul

    Catholic Youth Fest, Ruang Tumbuh Harapan bagi OMK

    Pastor Gregorius Kukuh Nugroho, CM – Pastor Moderator Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Pontianak, (2025)

    Duta, Pontianak | Minggu, 19 Oktober 2025,-Catholic Youth Fest menjadi wadah bagi Orang Muda Katolik (OMK) untuk menumbuhkan harapan, berkreasi, dan bertumbuh bersama dalam iman.

    Acara yang akan diselenggarakan di Rumah Radang, Pontianak itu akan dihadiri ribuan peserta dari berbagai daerah mulai dari Keuskupan Agung Pontianak hingga di luar keuskupan agung pontianak.

    Catholic Youth Fest menjadi ruang tumbuh harapan bagi OMK. Ini menjadi ajang kreasi dan tempat bertumbuh bersama, terutama bagi mahasiswa yang sebelumnya tidak tahu di mana bisa menyalurkan bakat dan kreativitasnya. Semua kegiatan ini bertujuan untuk melatih perkembangan manusiawi,” ujar Pastor Gregorius Kukuh Nugroho, CM, salah satu pastor moderator Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Pontianak. Minggu (19/10/2025).

    Dalam penjelasannya, Pastor Greg menyampaikan bahwa Catholic Youth Fest menjadi ajang untuk membangun kepercayaan diri, tidak mudah menyerah dengan kelemahan, dan berani melangkah meski dalam keterbatasan.

    Foto bersama usai wawancara. “Ruang tumbuh harapan bagi OMK” 2025

    “Catholic Youth Fest ini sebenarnya seperti Gawai-nya Orang Muda Katolik. Awalnya banyak yang tidak menyangka acara sebesar ini bisa diwujudkan, tetapi nyatanya, dengan semangat bersama, semua bisa terlaksana,” ungkapnya.

    Lebih lanjut, Pastor Greg menegaskan bahwa keterlibatan anak muda dalam karya pelayanan bukan soal waktu, melainkan soal kemauan.

    “Anak muda dapat terlibat aktif dalam pelayanan kapan pun. Persoalannya bukan soal waktu yang tepat, tapi mau atau tidak. Pilihan terbaik itu selalu berasal dari diri kita sendiri, mau melangkah atau tidak. Apa yang bisa kita kerjakan hari ini, kerjakanlah. Kalau hanya menunggu orang lain, tidak akan pernah terjadi apa-apa,” tegasnya.

    Pastor Greg juga menyoroti pentingnya membimbing diri bersama Tuhan.

    “Setiap orang dikaruniai hati nurani untuk bertumbuh. Persoalannya, apakah kita mau digerakkan oleh hati nurani itu? Jika kita bersedia bekerja sama dengan Tuhan, Ia akan menunjukkan jalan dan menghadirkan orang-orang yang dapat menjadi mentor dan penuntun dalam hidup kita,” tambahnya.

    Terkait lokasi acara, Pastor Greg menjelaskan alasan pemilihan Rumah Radang sebagai tempat penyelenggaraan.

    “Rumah Radang dipilih karena tempatnya luas, mampu menampung hingga 10.000 orang.

    Selain itu, tempat ini juga menjadi ikon budaya Kalimantan Barat. Menariknya, Catholic Youth Fest kali ini tidak hanya terbuka bagi umat Katolik, tetapi juga dihadiri oleh berbagai kalangan dan agama. Ada pula Panggung Inspirasi dan Aksi Panggilan yang diadakan untuk menggerakkan semangat pelayanan,” jelasnya.

    Sejalan dengan itu Pastor Greg menegaskan bahwa gereja tidak akan pernah bisa berjalan sendiri.

    “Gereja adalah kita semua. Bukan hanya para pemimpin, tetapi seluruh umat. Karena itu, penting bagi kita untuk saling mendengarkan. Pertanyaannya, apakah kita juga mendengarkan suara Roh Tuhan yang ingin menggerakkan kita untuk terlibat? Kalau tidak ada tugas, apakah kita tetap mau hadir dan berpartisipasi? Itu juga tantangan besar bagi orang muda masa kini,” ujarnya.

    Ia juga menambahkan bahwa Catholic Youth Fest bukan sekadar acara tahunan, tetapi gerakan yang akan terus berlanjut. Catholic Youth Fest menurutnya, tidak akan berhenti di sini. Tahun depan sudah direncanakan acara yang lebih besar.

    Di Paroki Keluarga Kudus, setiap minggu malam mahasiswa se-Kota Pontianak selalu dilibatkan dalam pelayanan.

    “Kami juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk ikut dalam proyek-proyek kecil, kami menyebutnya leadership by project dan learning by project. Melalui kegiatan ini, kita belajar bekerja sama menuju satu tujuan yang sama dan tumbuh bersama,” terangnya.

    Ia menekankan pentingnya konsistensi dan penerapan keterampilan, bukan sekadar teori.

    Baginya, percuma memiliki keterampilan tetapi tidak pernah digunakan. Karena itu, mereka terus melakukan rekrutmen dan pembinaan agar semangat ini tetap konsisten dan berkelanjutan.

    Menutup wawancara, Pastor Greg menyampaikan harapan besarnya bagi seluruh komunitas mahasiswa Katolik.

    “Harapan kami, baik di Biak maupun KMK, semuanya dapat berjalan seirama. Tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi bergandeng tangan menuju satu tujuan bersama. Catholic Youth Fest ini menjadi simbol tumbuhnya harapan agar kita tidak menyerah dan terus melangkah bersama Tuhan,” pungkasnya.

    * Enjelika Oktaviani, Mahasiswi Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II. (S).

     

    Akses Ekonomi Terancam, Pemerintah Masih Bungkam

    Jembatan Penghubung Bengkayang–Sambas di Dusun Marong Nyaris Ambruk, Warga & Truk Sawit Terancam (2025)

    Duta, Pontianak | Dusun Marong, Desa Tebuah Marong, Kecamatan Ledo — sebuah jembatan penghubung antara Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas kini dalam kondisi kritis; warga dan pengendara truk sawit khawatir terjadi kecelakaan sebelum perbaikan dilakukan.

    LEDO (22 Oktober 2025) – Jembatan yang menghubungkan Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas di lokasi Dusun Marong, Desa Tebuah Marong, Kecamatan Ledo, Kabupaten Bengkayang dilaporkan mengalami kerusakan parah dan asal-tanda bahaya hanya berupa batang pohon yang ditancapkan oleh warga.

    Menurut pengamatan beberapa media local salahsatunya mnctvano.com, bagian aspal pada jembatan sudah terbelah, fondasi mulai amblas, dan konstruksi penyangga terlihat miring.

    Kondisi tersebut membuat kendaraan berat, termasuk truk sawit, harus melintas dengan kecepatan sangat rendah untuk mengantisipasi keruntuhan. Warga setempat menuturkan bahwa kondisi telah dilaporkan berulang kali ke instansi terkait, namun hingga saat ini belum ada tindakan signifikan.

    “Kami khawatir jembatan ini roboh saat malam hari ketika pengendara tidak sadar kondisi,” ujar seorang warga yang enggan disebut identitasnya.

    Kerusakan ini tak hanya mengancam keselamatan, tetapi juga ekonomi lokal. Jalur ini merupakan akses utama bagi pemilik kebun sawit, petani, dan warga yang aktif mengangkut hasil ke pasar.

    Jika jembatan ini putus, masyarakat akan menghadapi kerugian dan keterisolasian yang serius.

    Pihak instansi yang bertanggung jawab, termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Bengkayang dan pemerintah Kabupaten Bengkayang hingga berita ini diturunkan, belum merilis tanggapan resmi terkait jadwal perbaikan. Warga berharap agar pemerintah segera mengambil langkah tanggap darurat sebelum tragedi terjadi.

    Di Dusun Marong, Desa Tebuah Marong, Kecamatan Ledo, Kabupaten Bengkayang, sebuah jembatan yang menghubungkan Bengkayang dan Sambas kini menjadi simbol ketidakpedulian. Jembatan ini bukan sekadar konstruksi. Ia adalah urat nadi kehidupan, akses ekonomi, dan jalan pendidikan bagi warga. Saat ia nyaris ambruk dan hanya disinyalir oleh ranting pohon sebagai rambu bahaya, maka ada kegagalan sistemik yang tengah berlangsung.

    Saya, sebagai pendidik dan warga Kalimantan Barat, melihat bahwa kondisi ini mengundang kemarahan sekaligus ajakan. Marah, karena setiap hari warga melintasi tanpa jaminan keselamatan. Ajakan, karena saatnya kita tak hanya menunggu, tetapi bertindak. Kondisi ini bukan baru beberapa hari.

    Laporan media lokal telah menunjukkan kerusakan sejak Maret 2025 bahkan Oktober kini kondisi makin parah. Tapi respon dari pemerintah daerah tampak lamban. Warga mengadu, instansi belum bersuara. Sementara kendaraan berat, truk pengangkut sawit, masih melintas, menambah beban pada jembatan yang nyaris roboh.

    Apa arti sebuah jembatan? Ia adalah simbol pemerataan pembangunan—bahwa setiap dusun, setiap warga, setiap truk usaha rakyat punya hak untuk jalan layak dan aman.

    Ketika itu terancam, maka keadilan dan pembangunan setara dicederai. Kami mendesak pemerintah Kabupaten Bengkayang dan Sambas, Dinas PUPR, DPRD harus bersikap sekarang.

    Lakukan penanganan darurat: pasang rambu pengalihan, kurangi beban kendaraan berat sementara perbaikan menyeluruh dilaksanakan. Jangan menunggu korban jiwa baru bertindak. Generasi muda Bengkayang, Sambas Ayo bangkitlah! Suara Anda penting.

    Foto kondisi jembatan, sebarkan ke publik, dorong pemangku kebijakan agar bertanggung jawab. Karena pembangunan bukan sekadar papan nama proyek, tapi jalan aman yang bisa dilewati rakyatnya. Saatnya menunjukkan bahwa Kalimantan Barat bisa maju dengan infrastruktur yang layak dan manusia yang berani menuntut haknya. Jangan tunggu ambruknya jembatan ini untuk kita bersuara. Bertindaklah hari ini.

    *Oxtapianus Tawarik, M.Pd – Dosen Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Landak – Kalimantan Barat.

    Kuliah Sore di AKUB – Unika San Agustin

    Claudia) mahasiswi semester 1 AKUB yang menyampaikan isi wawancara seputar perkuliahan di kampus II Pontianak.

    Duta, Pontianak | Suasana perkuliahan di Kampus II Pontianak Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (Unika San Agustin) terasa menyenangkan bagi para mahasiswa baru.

    Hal ini diungkapkan oleh Claudia (18), mahasiswi semester I Akademi Keuangan dan Perbankan, dalam wawancara di kantin lokasi kantin Unika San Agustin kampus II Pontianak pada 11 Oktober 2025.

    Claudia menceritakan alasan awal ia memilih berkuliah di Akub.

    “Saya memilih Akub karena sesuai dengan jurusan saya waktu di SMK, yaitu akuntansi. Program studinya juga relevan dengan minat saya,” kata Claudia.

    Ia mengenal AKUB melalui promosi kampus yang dilakukan di gereja parokinya.

    (Marselina) tengah wawancara seputar kampus II Pontianak, lokasi di Kantin Unika San Agustin, Kampus II.

    “Saat itu diperkenalkan tentang Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo dan program studinya, salah satunya keuangan. Dari situ saya merasa tertarik untuk melanjutkan pendidikan di sini,” tambahnya.

    Selama satu bulan pertama berkuliah, Claudia merasakan pengalaman belajar yang menyenangkan.

    “Dosen-dosennya baik dan ramah, jadi suasana kelas terasa santai tapi tetap serius. Teman-teman juga menyenangkan, jadi banyak hal baru yang saya pelajari,” ujarnya.

    Menurut Claudia, jadwal kuliah AKUB yang dimulai pukul 16.00 hingga 20.40 memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk beraktivitas di pagi dan siang hari.

    “Biasanya kami ikut kegiatan UKM atau kegiatan kampus lainnya. Tapi memang tantangannya ada pada manajemen waktu, karena tugas kuliah juga cukup banyak. Tapi justru di situlah serunya jadi mahasiswa Akub — belajar mengatur waktu antara kuliah, kegiatan, dan tugas,” tambah Claudia.

    Claudia berharap setelah lulus nanti ia akan lanjut bekerja, namun jika ada lanjutan S1 di Unika San Agustin dengan jurusan serupa, ia akan melanjutkan di kampus yang sama yakni San Agustin.

    “Setelah lulus D3 nanti, saya ingin langsung bekerja. Namun kalau di AKUB ada lanjutan untuk S1, saya juga ingin melanjutkannya,” katanya.

    * Marselina Anjelina, Mahasiswi Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II. (Sam).

    Mimpi Calon Bidan Muda dari Kampus Unika San Agustin

    Maria Gabriella mahasiswi D3 Kebidanan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (11/10/25)

    Duta, Pontianak | Semangat dan kepedulian terhadap kesehatan ibu dan anak menjadi alasan utama bagi Maria Gabriella (19), mahasiswi D3 Kebidanan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (Unika San Agustin) Kampus II Pontianak, dalam menempuh pendidikan di kampus tersebut.

    Dalam wawancara itu Gabriella menceritakan awal mula ia memilih prodi kebidanan di Unika San Agustin.

    “Saya memilih kampus ini karena rekomendasi dari pastor, dan saya memang sudah tertarik dengan kebidanan sejak SMA. Saya ingin membantu ibu melahirkan dengan selamat serta memberikan layanan kesehatan yang berkualitas bagi ibu dan anak.” ungkap Gabriella, (11/10/2025).

    Maria Gabriella (19) sebagai narasumber (11/10/2025) Foto ini diambil saat proses wawancara.

    Gabriella menjelaskan, metode pembelajaran di program studi Kebidanan Unika San Agustin sangat beragam.

    Mahasiswa tidak hanya mengikuti kuliah tatap muka, tetapi juga praktik di laboratorium dan simulasi klinik.

    “Kami juga sering praktik lapangan di rumah sakit dan puskesmas untuk menerapkan teori secara langsung,” jelasnya.

    Namun, proses pembelajaran tidak lepas dari tantangan. Gabriella mengaku tantangan terbesar muncul saat menghadapi kasus nyata di lapangan.

    “Perlu ketenangan, ketelitian, dan empati yang tinggi. Selain itu, manajemen waktu juga penting karena harus membagi antara kuliah, praktik, dan tugas,” ujarnya.

    Untuk menghadapi ujian dan praktik, Gabriella memiliki strategi tersendiri. Ia rutin membaca ulang materi, membuat rangkuman, berdiskusi dengan teman, serta mengikuti simulasi praktik. “Saya juga menjaga kesehatan fisik dan mental agar tetap fokus,” tambahnya.

    Ia mengakui peran besar dosen dan teman-teman dalam mendukung proses belajarnya.

    “Dosen selalu memberikan arahan dan motivasi, sementara teman-teman menjadi tempat berdiskusi dan saling berbagi pengalaman,” kata Gabriella.

    Salah satu pengalaman kampus yang paling berkesan bagi Gabriella adalah perayaan Yuletide pada Desember 2024.

    “Waktu itu saya merasa sangat dekat dengan teman-teman. Walaupun jauh dari keluarga, saya seperti merayakan Natal bersama keluarga sendiri,” kenangnya.

    Ke depan, Gabriella berharap dapat menjadi bidan yang kompeten dan berdedikasi untuk masyarakat, terutama di daerah asalnya, Melawi.

    “Saya ingin berkontribusi meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak di daerah saya, dan semoga bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” pungkasnya.

    * Septiani Niken, Mahasiswi Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II. (Sam).

    Dewan Pers dan Unika Santo Agustinus Hippo Dorong Mahasiswa Menjadi Intelektual Muda yang Kritis, Etis, dan Visioner di Era Kebebasan Informasi

    Kuliah Umu Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Landak (2025)

    Duta, Ngabang, 21 Oktober 2025 |  Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo menyelenggarakan Kuliah Umum Tahun Akademik 2025/2026 dengan tema “Intelektual Muda San Agustin yang Kritis, Etis, dan Visioner di Era Kebebasan Informasi”, bertempat di Aula Kantor Bupati Landak, dengan format hybrid yang melibatkan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan dari tiga kampus Unika Santo Agustinus Hippo.

    Kegiatan ini menghadirkan Prof. Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Republik Indonesia, sebagai pembicara kunci (keynote speaker) yang menyampaikan paparan secara virtual dari Jakarta.

    Dalam kuliah utamanya, Prof. Komaruddin menekankan pentingnya membangun ekosistem informasi yang sehat di tengah derasnya arus digitalisasi. Menurutnya, kebebasan informasi tidak boleh menjadi ruang tanpa etika, melainkan harus disertai dengan tanggung jawab moral, literasi digital, dan kesadaran publik terhadap nilai kebenaran.

    “Mahasiswa adalah garda depan peradaban digital. Mereka harus mampu membedakan antara kebebasan berpendapat dan penyebaran disinformasi. Literasi moral menjadi fondasi penting bagi masa depan demokrasi informasi kita,” ujar Prof. Komaruddin.

    Screenshot, Youtube San Agustin Official. Kuliah Umum – Landak, 2025

    Usai pemaparan utama, kegiatan dilanjutkan dengan Diskusi Panel yang menghadirkan Ibu Niken Widiastuti (Anggota Dewan Pers) sebagai pemateri utama, serta Rendra Oxtora (Ketua AJI Pontianak) dan Trio Kurniawan, M.Fil. (Kepala Media Center Unika Santo Agustinus Hippo) sebagai penanggap.

    Diskusi dipandu oleh Michael Carlos Kodoati, S.Fil., S.H., M.Fil., Kepala Lembaga Pengembangan Humaniora dan Religiusitas (LENTERA) Unika Santo Agustinus Hippo, yang juga dikenal sebagai mantan jurnalis dan news anchor BeritaSatu TV.

    Dalam diskusi yang berlangsung interaktif tersebut, para panelis mengulas berbagai dimensi etika dan tanggung jawab dalam ruang publik digital.

    Screenshot, Youtube San Agustin Official. Kuliah Umum – Landak, 2025

    Niken Widiastuti menyoroti peran generasi muda sebagai penggerak perubahan di ruang media.

    “Kita tidak bisa hanya menjadi pengguna informasi. Mahasiswa harus menjadi produsen wacana publik yang jujur, bermakna, dan membangun kepercayaan,” tegas Niken.

    Sementara itu, Rendra Oxtora menambahkan pentingnya menjaga independensi jurnalisme dan partisipasi aktif masyarakat dalam melawan hoaks serta ujaran kebencian.

    Tonton selengkapnya: Youtube San Agustin Official

    “Tanggung jawab publik di era media sosial tidak hanya milik wartawan, tapi juga milik setiap warga digital,” ujarnya.

    Kegiatan ini dihadiri secara luring oleh sekitar 250 peserta yang terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, dan perwakilan mahasiswa dari berbagai program studi di Kampus I dan III Landak, sementara peserta dari Kampus II Kota Pontianak mengikuti secara daring.

    Hadir pula pejabat pemerintah daerah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Landak, serta perwakilan media dan organisasi pekerja media.

    Dalam sambutannya, Wakil Rektor Umum Unika Santo Agustinus Hippo, Brigjen Pol (Purn) Drs. Sumirat Dwiyanto, M.Si., menegaskan bahwa kuliah umum ini menjadi momentum untuk meneguhkan nilai-nilai dasar universitas yang terangkum dalam semangat OBOR (Orisinalitas–Berani–Opurtunitas–Refleksi).

    Nilai-nilai tersebut menjadi panduan dalam membentuk karakter mahasiswa agar berpikir kritis, bertindak etis, dan memiliki orientasi pelayanan publik yang berakar pada refleksi moral dan spiritualitas.

    Selain memberikan wawasan akademik, kegiatan ini juga menjadi wadah silaturahmi civitas akademika lintas kampus Unika Santo Agustinus Hippo serta memperkuat jejaring kolaborasi dengan Dewan Pers.

    Acara ditutup dengan penyerahan cinderamata, doa bersama, dan sesi foto dengan seluruh narasumber serta peserta. Moderator Diskusi yang juga merupakan Ketua Panitia Acara, Michael Carlos Kodoati, S.Fil., S.H., M.Fil., menyampaikan harapannya agar kegiatan ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan diri sebagai intelektual muda yang berpikir kritis dan berkomitmen pada etika kemanusiaan.

    “Kita hidup di zaman di mana informasi bisa membebaskan, tapi juga bisa menyesatkan. Maka, tanggung jawab intelektual tidak lagi cukup dengan berpikir logis, tapi juga harus berpikir dengan hati nurani,” ujarnya.

    Kontak Media:
    Panitia Pelaksana Kuliah Umum 2025 – Universitas Katolik St. Agustinus Hippo
    email: m.kodoati@sanagustin.ac.id

    *Ditandatangani, Sekretaris Jendral Unika San Agustin, RD Rupinus Kehi.

    TERBARU

    TERPOPULER