Monday, May 4, 2026
More
    Home Blog Page 156

    PROFICIAT! 177 Th Kongregasi SFIC Merawat Spirit para Pendahulu (24 Juni 1844-2021)

    PROFICIAT! HUT SFIC Ke- 177 Tahun - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Pada kesempatan itu, para suster SFIC Provinsi Indonesia juga untuk mengenang spirit kelima suster misionaris muda SFIC van Veghel yang pada tanggal 28 November 1906 silam berhasil tiba berlabuh di Borneo  guna memulai karya monumental mereka di Singkawang.

    Baca Juga: Mgr. Agustinus Agus Ungkapkan Misi Pendidikan Keuskupan Harus ditangani dengan Serius

    Ke-5 suster perintis karya misi SFIC di Indonesia –tepatnya di Singkawang—ini adalah Sr. Rogeria Vissers SFIC, Sr. Silvestra van Grinsven SFIC, Sr. Alexia Helings SFIC, Sr. Emerentiana SFIC, dan Sr. Fidelia Grassens SIFC.

    Karya Misi SFIC

    Pada masa itu mereka sungguh sadar diri dan tahu, sekali berangkat ke Tanah Misi maka kemungkinan besar mereka takkan bisa kembali lagi pulang “mudik” ke Nederland. Entah karena sakit terkena virus penyakit khas wilayah tropis –malaria, kolera dan tifus—atau mengalami kecelakaan atau masalah lain.

    “Sampai berjumpa kembali di surga” demikian dikisahkan dalam format kronologis dalam sebuah buku sejarah rumah (historia domus).

    Baca Juga: Suster SFIC (Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei) dalam Karya Kerasulan di Lingkungan Gereja Paroki Pontianak

    Namun dengan motto “Demi Cinta Allah” inilah yang membangkitkan cinta besar mereka kepada Gereja melalui Kongregasi SFIC. Plus semangat muda ingin menjadi misionaris untuk merangkul jiwa-jiwa yang terlantar, menyembuhkan yang terluka, menyatukan yang remuk, dan memanggil kembali yang tersesat (Konstitusi Kongregasi SFIC Dasar Spiritualitas Bab 1, baris 25-35).

    Demi Cinta Allah

    Kelima suster perintis karya misi Kongregasi SFIC ke Indonesia ini sudah lama meninggal dunia. Kisah-kisah heroik mereka dan utamanya spirit mereka untuk berkarya dengan semangat “tahan banting” itulah yang ingin diperingati kembali.

    Mgr. Agustinus Agus Ungkapkan Misi Pendidikan Keuskupan Harus ditangani dengan Serius

    Pelantikan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta pada Senin, 21 Juni 2021-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Orang yang bekerja di dalam lembaga misi pendidikan milik Keuskupan Agung Pontianak harus serius dan mampu melihat kemungkinan perkembangan zaman. Hal ini diungkapkan Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus dalam sambutannya di Pelantikan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta pada Senin, 21 Juni 2021.

    Acara pelantikan direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta dilaksanakan di Gedung Akper dan Akbid yang dihadiri langsung oleh segenap pengurus Yayasan dan Imam yang bertugas dalam misi Pendidikan itu.

    Acara tersebut dimulai tepat pada Pukul 10.00 WIB yang didahuli dengan menyayikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, doa pembukaan yang dibawa oleh RP Mingdry Hanafi Tjipto, OP dan langsung dilanjutkan pembukaan sidang senat terbuka.

    Acara tersebut dilakukan dengan pembacaan surat keputusan dan dilanjutkan dengan pelantikan direksi Akper Dharma Insan dan Direksi Akbid Santa Benedicta untuk masa bakti 2021-2022. Adapun yang dilantik yakni Ns Florensius Andri, M.Kep sebagai direktur Akper Dharma Insan, Ns Lydia Moji Lautan, M.Kep sebagai W.K I, Ns Eben Haezer Kristian, M.Kep sebagai W.K II dan Ns Usu Sius, S.Kep, M. Biomed sebagai W.K III.

    Baca Juga: Para Imam di Mozambik mengecam penculikan “ratusan” anak-anak oleh para Jihadis

    Sedangkan untuk kepengurusan Akbid yaitu, Trivina, SST., M.Kes sebagai Direktur Akbid St. Benedicta, Agnes Dwiana Widi Astuti, S.Si.T.,M.Kes sebagai W.K I, Tri Maharani, SST., M.K.M sebagai W.K II dan Efrosina Ludovika Kalista, SST., M.K.M sebagai W.K III.

    Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus mengucapkan selamat kepada pengurus Direksi baru untuk Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta dan sekaligus berterima kasih kepada pengurus yang lama karena paling tidak sudah pernah mengambil andil dalam kepengurusan dan perkembangan pendidikan selama ini.

    Dalam sambutannya, Mgr. Agustinus Agus mendukung penuh langkah-langkah yang diambil oleh ketua Yayasan.

    “Jangan menoleh ke belakang, kedepan kita harus berani berubah, berani mengambil langkah-langkah yang tidak biasa. Karena yang kita hadapi ini sudah tidak biasa lagi. Maka jika kita mengambil langkah yang biasa lagi maka kita akan ketinggalan,” kata Uskup Agus.

    Baca Juga: Paus Fransiskus ungkapkan bahwa orang miskin memungkinkan manusia untuk menemukan wajah sejati Bapa

    Mgr. Agustinus Agus mengungkapkan bahwa hati nya sungguh ada untuk Akper dan Akbid selaras dengan mimpinya bahwa anak kampung pun bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

    “Saya tidak mau kembali pada politik masa lalu,” lanjut Uskup, “dan tolong mari kita bangkit bersama. Berani berubah dan berani mengambil langkah-langkah yang luar biasa. Agar eksistensi Akper dan Akbid sungguh-sungguh dirasakan semua orang.”

    Iman Katolik Harus Menjadi Inspirasi

    Sebagai pemilik Akper Dharma Insan dan Akbid St. Benedicta, Mgr. Agustinus Agus mengungkapkan bahwa seluruh karya gereja dimanapun ia berada, harus mengedepankan kepentingan orang banyak Akper dan Akbid ini jelas milik Katolik dengan nuansa Katolik.

    “Dan iman katolik harus menjadi inspirasi dan kita harus melaksanakannya terutama pelayanan untuk kepentingan orang banyak tetap menjadi fokus utama dan harus kita kedepankan,” lanjut Uskup. “Bukan hanya untuk kepentingan umat katolik saja, apalagi untuk karyawan-karyawan saja tetapi untuk banyak umat dan banyak orang, mohon maaf.”

    Baca juga: Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid Santa Benedicta Pintianak Periode 2021-2022

    Dalam sambutannya Uskup Agung Pontianak mengutip Gaudium et Spes nomor 1 dalam salah satu ensiklik yang diterbitkan setelah Konsili Vatikan ke II tahun 1965 dikatakan “kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia dewasa ini, terutama yang miskin dan terlantar adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan murid-murid Yesus.”

    Mgr. Agus menegaskan tidak pernah gereja Katolik hanya memperhatikan kelompoknya. “Ini harap diketahui,” tambah Uskup, Yang paling penting cara orang katolik berkarya harus didorong dari inspirasi iman katolik itu.

    Baca Juga: Tahta Suci: Tempat-tempat warisan budaya religius harus dilindungi dan dipromosikan

    Dalam sambutan itu, Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus juga mengungkapkan pentingnya belajar teknologi yang ada dewasa ini. “Memang sekarang zamannya kecepatan dan perkembangan Teknologi, maka dari itu pentingnya kita menghayati itu semua dan mempraktekkanya untuk kepentingan banyak orang dan pelayanan.”

    Inovasi adalah kata kunci

    Kesempatan yang sama itu pula, RP Johanes Robini Marianto, OP sebagai ketua Yayasan mengisahkan kisah tentang brand HP Nokia yang melegenda namun sangat kelam perjalanan bisnis Nokia tersebut.

    RP Robini mengisahkan “siapa dari kita yang tidak kenal brand HP Nokia? Merk ini melegenda di akhir 1990-an dan tahun 2000-an,” katanya. “Kita semua pasti pernah memegang HP Nokia. Tetapi sekarang: “Siapakah yang memakai HP merk Nokia?” Nokia bahkan dikabarkan bangkrut dan diakuisisi oleh Microsoft di tahun 2013. Dikatakan factor utama dari awal kehancuran Nokia adalah mulai adanya Apple di tahun 2007 dengan Iphone.”

    Ia juga mengutip Kompas.com yang mengatakan ada tiga (3) kesalahan Nokia; yaitu (1) kualitas teknologi, (2) arogansi manajemen yang tidak mau mendengar dan melihat perubahan, dan (3) lemahnya visi misi (Kompas.com 30 Maret 2021). Ketiga kesalahan ini membuat Nokia tidak bisa inovasi. Inovasi adalah kata kunci untuk perkembangan (kemajuan), mendengarkan pasar, dan kreativitas untuk selalu memunculkan hal baru yang menantang dan canggih. Kegagalan ini membuat Nokia tidak lagi menjadi “leading” (bahkan jatuh terperosok) di teknologi HP dunia,

    Tiga puluh (30) tahun yang lalu semua pasti mengenal SPK yang kemudian berevolusi menjadi AKPER dan AKBID. Saat itu kita ini “leading industry” (kalau boleh dikatakan demikian) di dunia Pendidikan keperawatan dan kebidanan. Mungkin saat itu kita satu-satunya yang ada dan masyarakat Kalbar tidak ada pilihan.

    Baca Juga: Mahasiswa STKIP Pamane Talino lakukan Bakti Pendidikan di Tumbang Raeng

    “Sepuluhan (10-an) tahun yang lalu mulai muncul AKPER/AKBID lainnya di kota Pontianak atau Kalbar,” lanjut Pastor Robini, “Mereka bahkan sudah mendahului kita di program studi yang bukan hanya D3, melainkan S1. tu sudah satu inovasi! Kita belum bicara, dan saya belum tahu juga, bagaimana dosen mereka (tentu ada hubungan dengan rekruitmen) dan juga visi-misi mereka serta jaringan yang mereka miliki. Sekarang kita berteriak kurang mahasiswa/mahasiswi dst dst. Indikator utama memang angka mahasiswa. Belum lagi isu-isu yang berkembang tentang kita. Saya katakana “isu” karena bisa benar/bisa tidak.”

    “Kita memang masih punya nama. Yes! Bupati Carolin mengatakan di depan umum dan kepada saya pribadi. Namun banyak yang mengingatnya sebagai kejayaan tempo doeloe,” tambah Pastor Robini.

    Business is NOT as usual

    Dalam sambutan itu, RP Johanes Robini Marianto, OP mengungkapkan bahwa masalah manajemen menjadi besar kalau saya katakan, secara alam bawah sadar, kita jatuh pada “arogansi manajemen” yang turut menghancurkan Nokia; yaitu tidak mau mendengar pasar, tidak mau berubah dan adaptasi serta inovasi, dan hanya mengandalkan kejayaan masa lalu. “Kita kalau tidak sadar dan terbuka mengakui masalah kita (bukan hanya menyangkal atau denial), saya khawatir kita akan menjadi Nokia baru!” tambahnya.

    “Ketika kita melantik direksi-direksi baru, sebagai Ketua Yayasan, saya mengingatkan beberapa hal,” kata Pastor Robini.

    Business is NOT as usual! Hal ini diperparah dengan pandemi Covid-19. Tidak ada yang paten lagi. Dahulu kita tidak kenal Zoom. Sekarang semua tahu dan terpaksa harus tahu Zoom. Prediksi ke depan, paling tidak lima (5) tahun ke depan, masalah Covis-19 masih akan menghantui kita. Dan bukan hanya itu saja, pola yang tercipta dengan pemakaian tehnologi di dunia Pendidikan sudah mulai memasuki generasi 4.0. Disrupsi, kata orang.

    “Maka kalau kita masih berpikir, sadar atau di bawah sadar, dunia masih kayak 3 tahun yang lalu, kita sudah sangat sangat salah,” katanya.

    Untuk itu inovasi dibutuhkan. Inovasi di dalam kurikulum, metode pengajaran dengan mengikutsertakan tehnologi, kebutuhan akan daya saing dengan para “competitor,” dan strategi marketing yang up to date. Kalau tidak ada, maka kita akan menjadi Nokia.

    Baca Juga: Paus kepada para imam: Jadilah “gembala dengan ‘bau domba'”

    Pandemi, sekali lagi, adalah “winter is coming!” Maka akan terjadi kompetisi hebat untuk bisa hidup; dan kompetisi kali ini bukan lagi dengan competitor melainkan dengan kenyataan pandemi dan pasca pandemi. Untuk menjadi inovatif, maka lepaskanlah arogansi masa lalu karena kenyataannya kita sudah jatuh banyak. Pengurus baru harus berani inovasi dan itu dibutuhkan bukan hanya keberanian melainkan kreativitas dan tidak bisa mengandalkan masa lalu.

    Pastor Robini mengingatkan pengurus agar perlu meredefinisikan masa depan institusi ini yang akan dituju. Untuk itu direvisi Statuta yang menekankan visi dan misi baru. Pendidikan kalau sekarang hanya mencari pemasukkan atau kasarnya uang; akan gagal. Institusi Pendidikan harus memberikan value (nilai).

    Nilai (value) ini akan menjadi uang! Value yang benar terletak pada efeknya dirasakan para mahasiswa-mahasiswi, masyarakat pengguna dan tentunya pemerintah daerah. Untuk meningkatkan value mereka harus mulai dengan Jaringan (supply chains) dan tentunya merupakan kerja berat tiga periode jabatan para direksi ini.

    Pengurus yang baru harus bisa membuat jaringan (supply chains), inovasi dan kerja keras. Ini tentu bukan hanya para direksi; melainkan semua. Sebenarnya, jujur, tugas Direktur adalah jalan-jalan membuka koneksi (connectedness). Kalau direktur selalu di kantor urus administrasi saja; maka anda semua bukan pemimpin.

    Baca Juga: Prajurit Yonzipur 6/SD Ikuti Uji Kenaikan Sabuk Hijau ke Putih

    Pengurus hanyalah “penjaga kendang/gawang.” Para Direktur haruslah menjadi leader yang bisa membuat koneksi dengan semua stakeholders untuk menaikkan nilai (value) kedua Lembaga ini dan menjadikan kedua Lembaga ini mempunyai reputasi. Koneksi yang pengurus bangun harus berbentuk program dan proyek yang, bisa mengembangkan kedua Lembaga ini. Pengurus dibantu para wakil direktur dan yayasan tambah lagi Sekjend. Itu artinya administrasi sudah ada yang urus. Tugas para direktur adalah bertemu dengan masyarakat, pemda dan users (pengguna lulusan).

    Maka Pastor Robini harap ini sungguh dipikirkan dan direnungkan.

    Pastor Robini mengharapkan dengan pelantikkan kali ini merupakan awal kebangkitan dari kedua Lembaga yang telah susah payah dirintis para Misionaris dalam Misi Gereja di Borneo.

    Baca Juga: Gedung Baru Semangat Baru STKIP Pamane Talino

    Sebagai Dewan Pembina Yayasan Landak Bersatu dan Anggota DPR RI, Dr. Adrianus Asia Sidot mendukung penuh misi pendidikan yang dimulai oleh Keuskupan Agung Pontianak.

    Ini adalah tonggak baru perkembangan pendidikan di Akademi Perawat Dharma Insan dan Akademi Kebidanan St. Benedicta.

    Ia berdoa dengan adanya tonggak baru dan sejarah baru ini, apa yang menjadi harapan oleh Uskup Agung Pontianak dan ketua yayasan harus betul diwujudkan, apalagi sekarang di era 4.0, atau barangkali di negara lain sudah 5.0.

    Kita sendiri masih berkutat pada 4.0 yang dimana kita sendiri juga masih belajar untuk menguasai perkembangan tersebut. Untuk itu harapan saya direksi yang baru ini harus responsive dan peka dengan perkembangan dunia yang terjadi, “ karena perubahan tidak bisa kita hindari.”-)*

    Prajurit Yonzipur 6/SD Ikuti Uji Kenaikan Sabuk Hijau ke Putih

    Prajurit Yonzipur 6/SD Ikuti Uji Kenaikan Sabuk Hijau ke Putih-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Mempawah – Dalam Rangka mengasah dan menguji  kemampuan beladiri sekaligus menjalin tali silaturahmi dengan masyarakat, Prajurit Satgas Yonzipur 6/SD (Kompi C) melaksanakan uji kenaikan sabuk Pencak Silat PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate) bertempat di Asmil 631/Antang, Kalimantan Tengah, Jumat (18/06/2021).

    Sebanyak 25 personel Yonzipur 6/SD yang berada di Kompi C bersama dengan 50 masyarakat  mengikuti ujian kenaikan sabuk dari hijau ke putih, sabuk putih adalah tingkatan tertinggi bagi siswa Setia Hati.

    Baca juga: Ethiopia: Genosida Sedang Terjadi di Tigray

    “Sabuk putih berarti bahwa seseorang yang telah mencapai tingkatan ini adalah orang yang telah mengerti arah yang sebenarnya dan telah mengetahui perbedaan antara benar dan salah. Pada tingkatan ini, seorang siswa akan menamatkan pelajaran SH Terate baik pelajaran olah kanuragan (beladiri) maupun pelajaran kerohanian, “ kata Letnan Satu Czi Agus Supriadi.

    Letnan Satu Czi Agus menambahkan, pelaksaan kegiatan kenaikan sabuk ini tetap mematuhi anjuran dari pemerintah yaitu Protokol Kesehatan karena masih dalam masa pandemi Covid-19.

    Baca juga: Vaksin Covid-19: NAKES RS. St.Vincentius Singkawang Terima Vaksin Perdana

    “Saya berharap untuk Prajurit Yonzipur 6/SD yang melaksanakan kenaikan sabuk meuju sabuk putih dapat bersikap tenang dalam bertindak, warna putih melambangkan kesucian, oleh karena itu sifat dan watak yg diharapkan dari siswa tingkat putih adalah siswa tersebut dapat bertindak berdasarkan prinsip kebenaran, dan bersikap tenang seperti air yg mengalir, “ tutup Letnan Satu Czi Agus.

     

    Para Imam di Mozambik mengecam penculikan “ratusan” anak-anak oleh para Jihadis

    Aid to the Church in Need Refugees after the recent attacks in Cabo Deldado province during COVID-19 pandemic.- KOmisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Mozambik- Anak laki-laki dan perempuan telah dipaksa menjadi pejuang anak dan “pengantin anak”.

    “Itu adalah luka yang akan sulit untuk disembuhkan,” kata Pastor Kwiriwi Fonseca dari Keuskupan Pemba di Mozambik utara. Dia berbicara kepada badan amal pastoral Katolik internasional dan yayasan kepausan Aid to the Church in Need (ACN International). Dirilis dari Aleteia oleh Paolo Aido-ACN – diterbitkan pada 17/06/21 dan diperbarui pada 16/06/21.

    ACN International memperkirakan bahwa selain lebih dari 2.500 orang tewas dan lebih dari 750.000 kehilangan tempat tinggal sejak serangan teroris dimulai pada Oktober 2017 di provinsi paling utara Mozambik, Cabo Delgado, sejumlah besar orang juga telah diculik, kebanyakan dari mereka adalah anak laki-laki dan perempuan.

    Baca juga: Bantu Warga Sakit, Personil Yonzipur 6/SD Donorkan Darah

    Tidak ada statistik resmi mengenai jumlah mereka, tetapi Pastor Fonseca tidak ragu-ragu untuk menegaskan bahwa “kita dapat berbicara tentang ratusan, karena jika kita memasukkan semua desa dari mana orang-orang telah diculik, kita pasti dapat menyatakan sebanyak ini.” Menurutnya, anak laki-laki telah diculik untuk tujuan yang sangat spesifik: “para teroris menggunakan anak-anak ini dan secara paksa melatih mereka untuk bertarung di barisan mereka, sedangkan anak perempuan diperkosa dan dipaksa menjadi ‘pengantin’ mereka. Dalam beberapa kasus, ketika mereka sudah bosan dengan mereka, gadis-gadis ini hanya ‘dibuang.’”

    Pastor Fonseca bertanggung jawab atas komunikasi di Keuskupan Pemba dan memelihara kontak dengan sejumlah korban yang mengungsi akibat kekerasan teroris.

    Ia juga terus berhubungan dengan para imam dan karya religius lainnya di provinsi Cabo Delgado.

    Baca juga: Media Harus Jadi Jembatan Komunikasi Aparat dan Masyarkat

    Biarawati di antara yang diculik Salah satu orang yang pertama kali memberitahunya tentang penculikan ini adalah religius Brasil, Suster Eliane da Costa. Dia berada di kota utara Mocímboa da Praia pada Agustus tahun lalu ketika kota pelabuhan ini jatuh ke tangan teroris, dan setelah itu lusinan orang diculik. Dia sendiri ada di antara mereka, bersama dengan religius lain, Suster Inés Ramos, keduanya berasal dari kongregasi yang sama dari Saint Joseph dari Chambéry.

    “Suster Eliane sendiri ditahan selama 24 hari oleh para teroris, di pegunungan, dan dia memohon kepada saya, ‘Padre Fonseca, tolong jangan lupakan orang-orang yang telah diculik, terutama anak-anak dan remaja, yang sedang dilatih untuk menjadi teroris,’” kenang Pastor Fonseca dalam sebuah wawancara melalui Zoom dengan ACN International.
    Mereka menculik putra-putranya dan menggorok leher suaminya.

    Kota lain yang menjadi saksi serangan teroris adalah Mucojo, sebuah pusat administrasi di pesisir di distrik Macomia. Tinggal di sana pada saat itu adalah Mina, seorang wanita yang sekarang benar-benar hancur oleh ingatannya yang mengerikan. Setiap kali dia mengingat apa yang terjadi pada dirinya dan keluarganya, pada suaminya, anak-anaknya dan saudara laki-lakinya, itu membuka kembali luka mengerikan yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan pernah sembuh.

    Pastor Fonseca pergi menemuinya dan mendengarkan kisah tragisnya.

    “Lima pria tiba-tiba muncul, mengejutkan mereka, dan penduduk setempat menyadari bahwa mereka adalah teroris Al-Shabaab. Para teroris menemukan Mina di rumah bersama suaminya, saudara laki-lakinya dan keempat anaknya. Mereka mengatakan kepadanya, ‘Kami akan mengambil dua anak laki-laki ini.’

    Pada akhirnya mereka mengambil tiga anak laki-laki, berusia 14, 12 dan baru berusia 10 tahun. Mereka mengikat suami dan saudara laki-lakinya dan menyuruhnya pergi karena mereka akan membunuh mereka.

    Baca juga: Gedung Baru Semangat Baru STKIP Pamane Talino

    Dia menolak untuk pergi. Jadi, dia terpaksa menonton saat mereka menggorok leher suaminya dan saudara laki-lakinya. Tidak hanya itu, gadis kecilnya sendiri yang berusia dua atau tiga tahun juga menyaksikan pembunuhan itu. Gadis kecil itu masih shock sampai hari ini dan terus bersikeras bahwa mereka kembali ke kota untuk melihat ayahnya. Dia menyaksikan seluruh adegan itu.”

    Masa depan seperti apa yang bisa diharapkan oleh anak-anak ini?

    Pastor Fonseca sama sekali tidak ragu bahwa anak-anak ini akan mengalami proses radikalisasi untuk merekrut mereka ke dalam barisan teroris. “Saya yakin objeknya adalah radikalisasi. Kita berbicara tentang anak-anak dan orang muda yang direnggut dari rumah mereka tahun lalu, atau tahun sebelumnya … Ini adalah waktu yang lama untuk berhubungan dengan kejahatan, dan seseorang akhirnya mengasimilasi kejahatan ini. Berinteraksi dengan mereka dapat mengubah mereka menjadi jenis teroris yang paling buruk.”

    Ini adalah situasi yang menimbulkan banyak pertanyaan, termasuk dari perspektif militer. Anak-anak dan remaja ini telah dipisahkan secara paksa dari keluarga mereka, desa mereka dan lingkungan yang akrab di mana mereka selalu tinggal.

    Baca juga: Bahas Polemik Penerimaan-CPNS dan PPPK Guru Agama, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Temui Gubernur Kalbar Sutarmidji

    “Jika mereka mengintensifkan perang ini dan sekutu internasional, pemerintah dan negara lain datang untuk mencoba dan membantu Mozambik melenyapkan teroris, apa artinya itu?” Pastor Fonseca bertanya pada dirinya sendiri. “Itu berarti banyak anak yang tidak bersalah juga bisa mati.”

    Bantu Warga Sakit, Personil Yonzipur 6/SD Donorkan Darah

    Personil Yonzipur 6/SD Donorkan Darah- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Mempawah – Bentuk kepedulian sesama, Personel Batalyon Zeni Tempur 6/SD donorkan darah untuk warga Desa Anjungan, Kecamatan Anjongan, Rabu (16/05/2021).

    Kegiatan donor darah ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian Personel Yonzipur 6/SD untuk salah satu warga Desa Anjungan, Ibu Domitila kristanti tina yang akan menjalankan operasi kanker servik.

    Baca juga: Ethiopia: Genosida Sedang Terjadi di Tigray

    “Kegiatan donor darah ini selain sebagai wujud kepedulian personel Yonzipur 6/SD juga untuk merespon kekurangan stok darah di PMI Cabang Mempawah sehingga darah yang kita donorkan dapat dimanfaatkan bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan darah di saat situasi pandemi sekarang ini,” ungkap Letnan Dua Czi Muhammad Dahir.

    Letnan Dua Muhammad Dahir mengatakan, Untuk donor darah di ikuti 10 personel dan sebelum mendonorkan darah personel di cek suhu dan tensi darah sebelum pengambilan darah.

    Lanjutnya ia mengatakan, darah yang terkumpul tersebut diperuntukan bagi Ibu Domittila kristanti tina yang terkena kanker servik.

    Baca juga: Peduli Kesehatan Warga, Yonzipur 6/ SD Bagikan Masker

    “Inisatif para anggota untuk melakukan donor, membantu warga yang sakit seperti Ibu Domitila ini, selain itu donor darah juga akan membuat badan lebih sehat dan stamina lebih terjaga, kalau di laksanakan secara rutin dan anjuran dari PMI,” tutupnya.

    Peduli Kesehatan Warga, Yonzipur 6/ SD Bagikan Masker

    Peduli Kesehatan Warga, Yonzipur 6/ SD Bagikan Masker - Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Mempawah – Batalyon Zeni Tempur 6/SD membagikan masker kepada pedagang di Desa Anjungan, Kecamatan Anjongan, Jumat (18/06/2021).

    Letnan Dua Czi Muhammad Dahir mengatakan, sasaran pembagian masker dan mensosialisasikan bahaya Covid-19 kali ini kepada para pedagang yang membuka lapak di tepi jalan karna para pedagang lebih sering berinteraksi dengan warga lainya.

    “Masker di bagikan ke pedagang, selain membagikan masker kami  juga tidak bosan untuk mengimbau kepada para pedagang untuk terus menerapkan protokol kesehatan,” kata Letnan Dua Czi Muhammad Dahir.

    Ia melanjutkan, imbauan kepada para pedagang disampaikan secara humanis. Dengan begitu, diharapkan dapat lebih menyentuh hati pedagang dan meningkatkan kesadarannya untuk lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan.

    “kita harus menerapkan protokol kesehatan di masa pandemi, karena dengan cara ini dapat memutus mata rantai penyebaran Covid-19, sehingga keluarga dan rekan kita tidak terjangkit virus corona,” tutup Letnan Dua Czi Muhammad Dahir.

    Paus Fransiskus ungkapkan bahwa orang miskin memungkinkan manusia untuk menemukan wajah sejati Bapa

    People in need wait in line for food - Vatikan News- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Paus Fransiskus merilis pesannya untuk Hari Orang Miskin Sedunia kelima. Dia menyoroti perlunya pertobatan dan pendekatan yang melawan bentuk-bentuk baru kemiskinan di dunia dan mempromosikan kebebasan yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang memuaskan sesuai dengan kemampuan setiap orang.

    Tema Hari Orang Miskin Sedunia yang kelima adalah “Orang miskin akan selalu ada bersamamu” yang diambil dari Injil Markus.

    Dirilis dari berita VatikanNews yang diolah oleh Staf penulis Berita Vatikan pada 14 Juni 2021, 11:30 waktu vatikan. Dalam berita tersebut dituliskan bahwa Paus Fransiskus merilis pesan untuk peringatan tahunan pada hari Senin, menjelang tanggal sebenarnya dari peringatannya yang dijadwalkan pada 14 November, hari Minggu ketiga puluh tiga dalam Waktu Biasa dalam kalender liturgi Gereja.

    Dua interpretasi

    Terinspirasi oleh tema dari Mrk 14: 7, Paus Fransiskus mencatat bahwa Yesus mengucapkan kata-kata itu pada saat makan di Betania di rumah Simon si penderita kusta, beberapa hari sebelum Paskah. Seorang wanita datang dengan sebotol alabaster berisi salep yang berharga dan menuangkannya ke atas kepala Yesus, menyebabkan keheranan besar dan menimbulkan dua interpretasi.

    Baca juga: Dua Tahun Kebersamaan Komisi Komunikasi Sosial Paroki Singkawang

    Yang pertama adalah kemarahan. Mengingat nilai minyak urapan itu, beberapa dari mereka yang hadir, termasuk para murid, merasa bahwa minyak itu seharusnya dijual dan hasilnya diberikan kepada orang miskin. Yudas, khususnya, sangat vokal, “bukan karena dia peduli dengan orang miskin, tetapi karena dia pencuri” dan ingin mengambil apa yang ada di dalam kotak uang.

    Penafsiran kedua adalah tentang Yesus yang membuat kita menghargai makna tindakan wanita itu. Dia meminta mereka untuk meninggalkannya sendirian karena dia melihat dalam tindakannya, “sebuah antisipasi dari pengurapan tubuhnya yang tak bernyawa sebelum ditempatkan di kubur.”

    “Yesus mengingatkan mereka bahwa dia adalah yang pertama dari yang miskin, yang termiskin dari yang miskin, karena dia mewakili mereka semua. Demi orang miskin, kesepian, terpinggirkan, dan korban diskriminasi, Putera Allah menerima sikap perempuan itu,” kata Paus Fransiskus.

    Baca juga: Uskup Agung Pontianak Berkati Rumah Dinas Bupati Kapuas Hulu, Ingatkan Bupati Milik Semua Orang

    Dia menambahkan bahwa wanita tanpa nama itu dimaksudkan untuk mewakili semua wanita selama berabad-abad “yang akan dibungkam dan menderita kekerasan.” Yesus kemudian menghubungkannya dengan misi besar penginjilan: “Amin, Aku berkata kepadamu, di mana pun Injil diberitakan ke seluruh dunia, apa yang telah dia lakukan akan diberitahukan untuk mengenang dia” (Mrk 14:9 ).

    Empati yang dibangun antara Yesus dan wanita itu, interpretasinya tentang urapannya berbeda dengan kemarahan Yudas dan murid-murid lainnya, “dapat menghasilkan refleksi yang bermanfaat tentang hubungan tak terpisahkan antara Yesus, orang miskin dan pewartaan Injil,” kata Paus.

    Kepedulian terhadap orang miskin

    “Wajah Tuhan yang diungkapkan oleh Yesus adalah wajah seorang Bapa yang peduli dan dekat dengan orang miskin,” kata Paus Fransiskus. “Dalam segala hal, Yesus mengajarkan bahwa kemiskinan bukanlah hasil dari takdir, tetapi sebuah tanda nyata yang menunjukkan kehadiran-Nya di antara kita.”

    Oleh karena itu, “orang miskin, selalu dan di mana-mana, menginjili kita, karena mereka memungkinkan kita menemukan dengan cara baru wajah Bapa yang sebenarnya.” Jadi, kita dipanggil untuk menemukan Kristus di dalam mereka, memberikan suara kita untuk tujuan mereka, mendengarkan dan memahami mereka, dan menyambut mereka karena “Yesus tidak hanya berpihak pada orang miskin tetapi juga berbagi bagian mereka.”

    Baca juga: Mengapa Santa Perawan Maria Menangis di La Salette?

    Kembali ke tema pesannya, Paus Fransiskus memperingatkan bahwa kehadiran orang miskin yang terus-menerus seharusnya tidak membuat kita acuh tak acuh, “tetapi memanggil kita untuk saling berbagi kehidupan yang tidak mengizinkan proxy.”

    Dia bersikeras bahwa komitmen kami “tidak hanya terdiri dari kegiatan atau program promosi dan bantuan; karena apa yang dimobilisasi Roh Kudus bukanlah aktivisme yang tidak terkendali, tetapi di atas semua itu, perhatian yang menganggap orang lain dalam arti tertentu sebagai satu dengan diri kita sendiri.”

    Menciptakan perbedaan antara tindakan amal dan saling berbagi, dia mengatakan bahwa tindakan amal mengandaikan pemberi dan penerima, sedangkan saling berbagi menghasilkan persaudaraan. Dalam hal ini, sedekah adalah sesekali sementara saling berbagi itu abadi. Yang pertama berisiko memuaskan mereka yang melakukannya dan dapat terbukti merendahkan mereka yang menerimanya; yang terakhir memperkuat solidaritas dan meletakkan dasar yang diperlukan untuk mencapai keadilan.

    Konversi

    Bapa Suci melanjutkan dengan menekankan perlunya kita mengikuti undangan Tuhan untuk “bertobat dan percaya kepada Injil” (Mrk 1:15). Dia menambahkan bahwa pertobatan ini terdiri dari “membuka hati kita untuk mengenali berbagai bentuk kemiskinan dan mewujudkan Kerajaan Allah melalui gaya hidup yang konsisten dengan iman yang kita anut.”

    Menjelaskan lebih lanjut, dia mengatakan bahwa pemuridan Kristen memerlukan keputusan untuk tidak mengumpulkan harta duniawi yang memberikan ilusi keamanan melainkan mengadopsi kesediaan “untuk dibebaskan dari semua yang menghalangi kita untuk mencapai kebahagiaan dan kebahagiaan sejati, untuk mengenali apa yang ada. abadi, apa yang tidak dapat dihancurkan oleh siapa pun atau apa pun.”

    Baca juga: Dalam Waktu Dekat Keuskupan Agung Pontianak akan Memiliki Universitas Katolik

    Dalam hal ini, “Injil Kristus memanggil kita untuk menunjukkan perhatian khusus kepada orang miskin dan untuk mengenali bentuk-bentuk kekacauan moral dan sosial yang beragam dan berlebihan yang menghasilkan bentuk-bentuk kemiskinan yang selalu baru,” kata Paus, menambahkan bahwa kita sekarang melihat penciptaan jebakan kemiskinan dan pengucilan baru “yang dibuat oleh pelaku ekonomi dan keuangan yang tidak bermoral yang tidak memiliki rasa kemanusiaan dan tanggung jawab sosial.”

    Pandemi covid-19

    Dalam menghadapi kesulitan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 – sebuah “pertanda kemiskinan – yang terus mempengaruhi jutaan orang, khususnya orang miskin dengan cara yang tidak proporsional, Paus Fransiskus menyoroti “kebutuhan yang jelas untuk menemukan cara yang paling cocok untuk memerangi virus di tingkat global tanpa mempromosikan kepentingan partisan.”

    “Sangat mendesak untuk menawarkan tanggapan konkret kepada mereka yang menganggur, yang jumlahnya mencakup banyak ayah, ibu, dan orang muda,” kata Paus, menunjukkan bahwa beberapa negara menderita konsekuensi yang sangat parah dari pandemi, sehingga yang paling masyarakatnya yang rentan kekurangan kebutuhan dasar dan “antrean panjang di depan dapur umum adalah tanda nyata dari kemerosotan ini.”

    Tanggapan konkret

    “Bagaimana kita bisa memberikan respon yang nyata kepada jutaan orang miskin yang seringkali hanya menghadapi ketidakpedulian, jika bukan kebencian? Paus bertanya. “Jalan keadilan apa yang harus diikuti agar ketidaksetaraan sosial dapat diatasi dan martabat manusia, yang sering diinjak-injak, dapat dipulihkan?”

    Mengusulkan langkah-langkah konkrit, ia mengatakan bahwa perlu untuk menghasilkan “proses pembangunan di mana kemampuan semua dihargai sehingga keterampilan yang saling melengkapi dan keragaman peran dapat mengarah pada sumber daya bersama untuk partisipasi bersama” karena “kemiskinan bukanlah hasil dari nasib tetapi itu adalah hasil dari keegoisan” dan “gaya hidup individualistis terlibat dalam menghasilkan kemiskinan, dan sering membebani orang miskin dengan tanggung jawab atas kondisi mereka.”

    Paus Fransiskus kemudian menggarisbawahi perlunya pendekatan yang berbeda terhadap kemiskinan yang seharusnya memotivasi kita “untuk perencanaan kreatif, yang bertujuan untuk meningkatkan kebebasan yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang terpenuhi sesuai dengan kemampuan setiap orang,” daripada berbicara tentang orang miskin. dalam abstrak dan dalam hal statistik.

    Baca juga: Paus Fransiskus mendorong jurnalis untuk selalu mencari kebenaran

    “Kita perlu terbuka untuk membaca tanda-tanda zaman yang meminta kita menemukan cara baru untuk menjadi penginjil di dunia kontemporer,” desak Paus Fransiskus, memperingatkan bahwa bantuan segera dalam menanggapi kebutuhan orang miskin tidak boleh menghalangi kita dari menunjukkan kejelian dalam menerapkan tanda-tanda baru cinta dan kasih Kristen sebagai tanggapan terhadap bentuk-bentuk baru kemiskinan yang dialami umat manusia saat ini.

    Baca juga: Suster SFIC (Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei) dalam Karya Kerasulan di Lingkungan Gereja Paroki Pontianak

    Mengakhiri pesannya, Bapa Suci mengungkapkan harapan bahwa Hari Sedunia akan tumbuh di Gereja-Gereja lokal kita dan “mengilhami gerakan evangelisasi yang bertemu secara pribadi dengan orang miskin di mana pun mereka berada.”

    Dia mendesak semua orang untuk tidak menunggu orang miskin mengetuk pintu kami, tetapi untuk segera menjangkau mereka di rumah, rumah sakit, di jalanan.

    Persit Kartika Candra Kirana Cabang LVIII PD XII/Tanjungpura Yonzipur 6/SD Laksanakan Suntik Vaksin Tahap Pertama

    Persit Kartika Candra Kirana Cabang LVIII PD XII/Tanjungpura Yonzipur 6/SD Laksanakan Suntik Vaksin Tahap Pertama- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Mempawah – Batalyon Zeni Tempur 6/SD melakasanakan Vaksinasi tahap pertama bagi Ibu-ibu Persit untuk mencegah penularan Covid-19 di Aula Yonzipur 6/SD, Senin (14/06/2021).

    Kegiatan Vaksinasi ini di khususkan untuk Ibu-ibu Persit yang berada di Kesatuan Yon Zipur 6/SD,  agar semuanya mendapatkan suntik vaksin tahap pertama. Kegiatan ini bertujuan agar Ibu-ibu Persit Yonzipur 6/SD seluruhnya mendapatkan haknya untuk memperoleh vaksin dari pemerintah.

    Baca juga: Yonzipur 6/SD Rutin Laksanakan Patroli Protokol Kesehatan

    Ketua Persit KCK Cabang LVIII mengatakan, vaksinasi memiliki pengaruh yang lebih besar ketimbang efek samping yang di timbulkan setelah vaksin dilakukan, vaksinasi ini untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar lebih kebal terhadap virus Covid-19.

    ”Meskipun telah di vaksin tidak menutup kemungkinan masih akan terpapar virus Covid-19, namun untuk reaksi dan gejalanya tidak akan separah orang yang belum mendapatkan suntik Vaksin, ” ujar Ketua Persit KCK Cabang LVII.

    Baca juga: Mengapa Santa Perawan Maria Menangis di La Salette?

    Dengan melaksanakan protokol yang ditetapkan oleh pemerintah kita akan terhindar dari virus Covid-19 ini, saya berpesan kepada Ibu-ibu Persit meskipun telah di vaksin tetap terus menjaga kesehatan tubuh sesuai anjuran dari pemerintah, “ tutup Ibu  Ketua Persit KCK Cabang LVIII.

    Tahta Suci: Tempat-tempat warisan budaya religius harus dilindungi dan dipromosikan

    The transfiguration of Christ, mosaic in the Basilica of Sant'Apollinare in Ravenna, Italy - a UNESCO world heritage site (© Maurizio Rovati - Tutti i diritti riservati - riproduzione vietata)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Pengamat Takhta Suci untuk UNESCO, Mgr. Francesco Follo, menyoroti pentingnya upaya kolaboratif dalam melindungi situs warisan budaya keagamaan sambil melestarikan signifikansi dan nilai sejarah, budaya dan agama mereka untuk generasi mendatang.

    Dirilis dari VatikanNews yang ditulis oleh Staf penulis Berita Vatikan pada 11 Juni 2021, 12:05 waktu Vatikan.

    Dalam berita tersebut Mgr Francesco Follo mengungkapkan pentingnya melestarikan warisan budaya-agama, baik nasional maupun internasional terutama yang dimiliki masing-masing agama. Untuk jenis warisan itu, perlu untuk menciptakan bentuk-bentuk penilaian dan penggunaan yang inovatif melalui kerja sama yang erat dengan badan-badan publik negara bagian, regional dan kota.

    Baca juga: Mahasiswa STKIP Pamane Talino lakukan Bakti Pendidikan di Tumbang Raeng

    Pengamat Takhta Suci untuk UNESCO membuat panggilan ini pada hari Kamis di sebuah pertemuan antarbudaya yang diadakan secara online, yang diselenggarakan oleh PRERICO, Komite Ilmiah Internasional ICOMOS tentang Tempat-tempat Agama dan Ritual.

    Webinar bertema: “Penggunaan Kembali dan Regenerasi Warisan Budaya Agama di Dunia – Perbandingan Antar Budaya,” bertujuan untuk memulai kerja kolektif dengan dokumen bersama tentang warisan budaya-agama.

    Baca juga: Gedung Baru Semangat Baru STKIP Pamane Talino

    Dalam berita tersebut dibahas pula makna bersama dan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi landasan bangsa-bangsa harus membangun kebijakan budaya dalam hubungannya dengan negara lain untuk melestarikan warisan budaya-agama.

    ICOMOS – Dewan Internasional untuk Monumen dan Situs, adalah organisasi non-pemerintah yang bekerja untuk melestarikan dan melindungi tempat-tempat warisan budaya.

    Melestarikan warisan agama-budaya

    Dalam intervensinya Mgr. Follo menekankan bahwa pelestarian warisan budaya agama memberikan kontribusi yang signifikan terhadap tujuan mendidik generasi baru, mewariskan kepada mereka, melalui akar budaya-agama ini, “keamanan masa lalu yang dapat menjadi dasar masa kini dan panduan di masa depan. masa depan.”

    Dalam hal ini, ia menyoroti empat rekomendasi dari Takhta Suci yang meliputi: mengidentifikasi secara jelas warisan budaya-agama untuk dipulihkan, dijaga, dikatalogkan dan dipromosikan; membangun “filsafat” barang-barang budaya yang mendukung pengetahuan yang lebih baik dan menggunakannya dalam pengajaran agama, ritus dan budaya; mendukung pembentukan seniman pada isi teologis, liturgi dan ikonografi tempat-tempat suci, dan mempromosikan kerjasama antara pemimpin sipil dan agama tanpa melupakan pemilik barang-barang agama-budaya.

    Nilai warisan budaya religius

    Lebih lanjut menjelaskan, Mgr. Follo mengatakan bahwa situs warisan budaya-agama penting untuk nilai-nilai budaya atau sejarah mereka dan nilai-nilai agama dan saat ini. Oleh karena itu, mereka diberkahi dengan nilai-nilai agama yang memberi mereka karakter khusus yang layak mendapatkan disiplin dan perlindungan khusus.

    Baca juga: Paus saat Audiensi: Yesus model doa bagi murid-murid-Nya

    Dia mencatat bahwa situs budaya adalah, dan bisa lebih dari itu, “jembatan antara negara dan masyarakat yang berbeda, mempromosikan budaya perjumpaan dalam damai,” melalui referensi mereka pada transendensi Tuhan, yang merupakan sumber persaudaraan.

    Oleh karena itu, pendekatan yang harus kita lakukan terhadap warisan budaya tidak hanya dalam upaya melestarikan karya seni sebagai pembawa keindahan, “tetapi juga dan terutama dalam menyoroti makna dan nilai budaya-religius dari berbagai elemen yang menjadi bagian. sebuah situs, identitas budayanya, perjumpaan dengan komunitas tempat mereka berasal, dengan menempatkannya dalam konteks arsitektur, geografis, dan perkotaannya.”

    Melindungi warisan budaya, lanjutnya, “berarti menjamin dialog inklusif, pertemuan permanen dengan masyarakat untuk mendukung regenerasi sejati, menghormati nilai-nilai properti yang akan dilindungi.”

    Tahta Suci mendukung perlindungan warisan budaya-agama

    Mgr. Follo melanjutkan untuk menegaskan kembali dukungan Takhta Suci untuk inisiatif yang bertujuan mempromosikan budaya dan barang-barang yang dihasilkannya “sehingga kehidupan pribadi dan sosial dapat berkembang dalam kebaikan, kebenaran dan keindahan.”

    Dia menekankan bahwa ini adalah masalah membantu melestarikan ingatan sejarah untuk diteruskan ke generasi baru, dengan elemen-elemen yang telah membentuk identitas suatu bangsa, dan yang membawa “komponen harmoni, keindahan, dan rasa kebersamaan”. kebenaran” yang membantu setiap pria dan wanita tumbuh dalam kemanusiaan integral mereka sendiri.

    Nilai penting

    Menarik perhatian pada rencana pekerjaan restorasi dan rekonstruksi gereja, sinagoga, masjid dan kuil, serta tempat-tempat keagamaan lainnya yang dilindungi oleh UNESCO, Mgr Follo menyoroti bahwa pekerjaan restorasi dan rekonstruksi menyiratkan “menyusun kembali asal-usul sebuah karya” dan menemukan “fakta pembangkit yang menciptakan signifikansinya.”

    Ia mengatakan bahwa nilai kebermaknaan merupakan prioritas yang memperhatikan kebutuhan ibadah dan amalan-amalan yang terkait dengannya yang harus terus dijalankan di sana. Oleh karena itu, penting untuk melindungi “makna” ini di tempat-tempat ibadah dan merekonstruksi elemen-elemen yang sesuai dengan tujuan didirikannya bangunan tersebut.

    Baca juga: Paus kepada para imam: Jadilah “gembala dengan ‘bau domba'”

    “Bentuk mempertahankan dan mentransmisikan keindahannya hanya jika sesuai dengan tujuannya, untuk melestarikan persepsi identitasnya,” tegasnya.

    Mgr. Follo selanjutnya menyerukan upaya untuk mengidentifikasi dan menganalisis berbagai bentuk perusakan tempat ibadah, mencatat bahwa hanya “pengetahuan tentang alasan, konteks, dan niat dari proses penghancuran warisan agama yang memungkinkan kita untuk mendefinisikan tanggung jawab dalam jangka pendek, menengah dan panjang dan untuk mengembangkan dan menerapkan strategi perlindungan yang berkelanjutan.”

    Baca juga: Dalam Waktu Dekat Keuskupan Agung Pontianak akan Memiliki Universitas Katolik

    Terakhir, ia menegaskan kembali keinginan Takhta Suci agar tempat-tempat ibadah diserahkan kepada umat beriman, tidak beriman, dan generasi mendatang sesuai dengan pelestarian warisan budaya dan dimensi keagamaan fundamentalnya.)*

    Yonzipur 6/SD Rutin Laksanakan Patroli Protokol Kesehatan

    Yonzipur 6/SD Rutin Laksanakan Patroli Protokol Kesehatan- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Mempawah – Personel Batalyon Zeni Tempur 6/SD bersama Polsek Anjungan  melaksanakan penegakan disiplin protokol kesehatan dan meberikan edukasi kepada warga  tentang bahaya dan pencegahan penularan Covid-19 di Desa Anjungan, Kecamatan Anjongan, Sabtu (12/06/2021).

    “Penegakan prokes rutin kita laksanakan  guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19 diwilayah Anjongan, kita juga memberikan edukasi ke masyarakat  pentingnya menerapkan protokol kesehatan dengan menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan,” ungkap letnan Dua Czi  Muhammad Dahir.

    Baca juga: Paus kepada para imam: Jadilah “gembala dengan ‘bau domba'”

    Letnan Dua Czi Muhammad Dahir mengatakan, bila ingin pandemi segera berakhir maka masyarakat harus disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

    “kita melaksanakan penegakan Prokes di kedai-kedai yang ada di wilayah anjongan dimana masih banyak didapat masyarakat yang tidak menerapkan protokol kesehatan dan kita  menpampaikan bahaya Covid-19 kepada masyrakat agar kedepanya bisa lebih disiplin untuk menerapkan protokol kesehatan,” kata Letnan Dua Czi Muhammad Dahir.

    Baca juga: Mahasiswa STKIP Pamane Talino lakukan Bakti Pendidikan di Tumbang Raeng

    “Kegiatan ini juga harus didukung semua pihak termasuk masyarakat itu sendiri. Dan masyarakat harus disiplin dalam menjalankan protokol covid – 19 jika masalah ini mau secepatnya berakhir,” tutup Letnan Dua Czi Muhammad Dahir.

    TERBARU

    TERPOPULER