Terbaliknya hidup antara sekolah dan praktek hidup ditengah masyarakat selalu menimbulkan kontroversi. Ada yang mengatakan bahwa di sekolah umumnya kita dikasih teori, baru dikasih contoh, PR, ujian, atau praktek di lab.

Sebaliknya kalau di hidup kita, ‘ditonjok’ baru dikasih tahu kenapa.

Kita harus jatuh dulu baru tahu apa yang salah dari kita. Kadang kita harus diuji dulu, baru disuruh belajar teorinya.Orang yang banyak belajar pun harus tetap diberi pelajaran oleh hidup.

Lalu apa Bedanya? Justru itu, semakin banyak belajar dari pengalaman dan berubah maka pelajaran dari kehidupan semakin minim sakit dan letihnya. Karena yang belajar terus juga terus GROW alias berkembang.

Mereka yang terus belajar akan tambah kuat dan pintar. Kalau sudah sering belajar maka pelajaran berat dari hidup lebih mampu dihadapi.

Lalu bagaimana kehidupan Religius? Ini beda halnya belajar teori maupun sekedar hidup. Menjadi kaum religius diajari untuk belajar dari apapun, menyangkal diri dan meninggalkan kemewahan untuk memuliakan Tuhan. Melalui keahlian yang sang religius itu punya.

Salah satunya adalah Kongregasi Bruder Maria Tak Bernoda. Mereka adalah kongregasi  para Bruder yang melayani kaum muda dalam hal pendidikan dan boleh dikatakan kongregasi ini konsentrasinya pada perkembangan intelektual.

Hal ini terbukti sejak tahun 1921 bruder MTB mendarat di Indonesia persisnya di Singkawang, Kalimantan Barat. Saat itu mereka (para bruder MTB) sudah memikirkan pendidikan kaum muda jauh kedepan. Mulailah mereka dengan sekolah dari tingkat paling bawah sampai pada tingkat remaja, SMA.

Singkat cerita, kehidupan Bruder MTB yang religius ini, justru didapat dari kombinasi antara hidup praktek dan teori yang mereka mulai dari Aspiran, Postulan, Novis, Kaul Sementara dan Sampai Kaul Kekal. Setelah masa pendidikan spritualitas yang dipelajari dalam biara, mereka juga diarahkan untuk mengambil bidang-bidang kuliah sesuai dengan karya yang mereka tekuni.

Maka jangan heran, khususnya untuk bruder MTB banyak yang ahli dibidangnya. Oleh sebab itu, jika anda kaum muda yang mungkin tertarik dengan cara hidup religius seorang Bruder MTB boleh luangkan waktu untuk baca artikel terkait Bruder MTB dan karyanya. Sudah banyak kok di internet, ketik saja Bruder Maria Tak Bernoda alias MTB.

Saat ini Bruder MTB hadir di dua negara, yaitu : Indonesia dan Belanda, khususnya di Indonesia Para Bruder MTB berkarya di Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Sintang, Keuskupan Agung Semarang dan Keuskupan Merauke.

Karya yang mereka miliki antara lain  Bidang Pendidikan Formal dari Paud sampai SMA. Ada juga Pendidikan Luar Sekolah contohnya LPK, pelatihan pengembangan karakter anak atau remaja, dan menangani Asrama.

Selain itu bruder MTB juga bergerak di bidang Karya Sosial dan Pengembangan Masyarakat misalnya JPIC, Pertanian-Peternakan dan Rehabilitasi Kusta.

Bagaimana? Apakah Anda Seorang Pemuda yang Sudah dibaptis dalam Gereja Katolik sekurang-kurangnya selama tiga tahun yang berkisar dari Umur 17-30 tahun? Sehat jasmani dan rohani? Berkepribadian mantap dan seimbang? Bersemangat mengabdi sesama? Mampu hidup dan bekerja bersama orang lain dalam persaudaraan ?

Kemudian apakah anda bisa untuk berusaha untuk bertumbuh dan mengembangkan diri? Berpendidikan minimal SLTA? Tidak terikat oleh perkawinan ataupun dengan Kongregasi/Lembaga/Badan Sosial lain? Dan Berkemauan bebas untuk mengembangkan karya intelektual untuk kemuliaan Tuhan secara religius?

Maka jangan ragu untuk langsung menghubungi Pimpinan Umum Kongregasi Bruder MTB yang berlokasi di Jalan Sepakat II-A. Yani Blok P No 123, Pontianak – Kalimantan Barat.  Hp : Br. Rafael Donatus, MTB (0812 5615 4610)

IG : @maria_takbernoda

Dalam kesempatan bincang bersama Br. Rafael Donatus, MTB ia mengatakan bahwa justru karya menjadi bruder merupakan kesempatan mereka untuk mengajarkan, mewartakan, melakukan lebih banyak karya. Baik itu karya kemanusiaan, pendidikan, serta pelayanan untuk mewartakan karya Tuhan.

” Kami para Bruder MTB, melayani Tuhan dengan cara kami. Yaitu turun langsung dan menangani langsung karya-karya kemanusiaan dan mencerdaskan kaum muda,” katanya, (Rabu, 8 Juli 2020).

Ia juga mengatakan bahwa, dalam gereja tidak ada istilahnya bahwa pastor itu kelas satu dan kaum bruder kelas dua, semuanya sama. Hanya tugasnya yang berbeda.

“Kami mewartakan kasih dan ajaran Tuhan tidak melalui kotbah, atau tidak hanya sekedar berbincang tentang iman saja. Namun yang paling pasti adalah dengan tindakan moral dan hidup, untuk menampung mereka yang tersingkirkan atau dianggap sebagai sampah masyarkat (contohnya orang kusta, anak cacat yang tidak diterima di sekolah-sekolah lain),” katanya.

Bruder Rafael juga menegaskan bahwa karya pelayanan bruder MTB, tidak hanya sekedar kata-kata indah saja, melainkan tindakan nyata dan kekuatan komunitas yang saling mendoakan.

“Itulah yang kami sebut sebagai kesaksian iman yang nyata dan pelayanan yang tak pandang bulu, dalam mewartakan kasih Tuhan sebagaimana pendahulu kami sudah lakukan,” tambahnya Br. Rafael Donatus, MTB menutup perbincangan di Rabu Sore, 08 Juli 2020, di Rumah Betang Bruderan Sepakat II Pontianak.

-Samuel_Penakatolik/KomsosKAP.