Wednesday, April 29, 2026
More
    Home Blog Page 115

    Doa Pembawa Damai- Santo Fransiskus Dari Asissi

    Gambar Santo Fransiskus sedang berdoa

    MajalahDUTA.Com, DOA: TUHAN, jadikanlah aku pembawa damai.

    Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.

    Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.

    Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.

    Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.

    Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.

    Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan.

    Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.

    Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.

    Ya Tuhan Allah,

    ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur;

    mengerti daripada dimengerti;

    mengasihi daripada dikasihi;

    sebab dengan memberi kita menerima;

    dengan mengampuni kita diampuni,

    dan dengan mati suci kita dilahirkan ke dalam Hidup Kekal.

    Amin.

    Doa Malam Katolik sebelum Tidur

    Doa Malam Sebelum Tidur

    MajalahDUTA.Com, DOA- Tanda Salib Pembuka: Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin..

    Hening sejenak… 

    “Ya, Allah Bapa di surga, pencipta langit dan bumi, terima kasih untuk segala rahmat-Mu hari ini.

    Terima kasih sudah mencukupkan apa yang menjadi bagian dan berkat kami.

    Hanya karena berkat penyertaan Tuhan, aku dapat melewati hari dengan baik dan menyelesaikan segala pekerjaan dengan baik pula.

    Aku memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan atas semua berkat dan pemberian yang telah Engkau berikan.

    Sekalipun masalah sering datang serta hidup tidak mudah, aku tetap bersyukur karna aku tidak mempunyai alasan lain untuk tidak bersyukur atas segala berkat kebaikanMu.

    Malam ini, aku menyerahkan istirahat malamku ke dalam tanganMu.

    Ya, Allah Bapa, biarkan kiranya tidurku dari segala hal yang tidak baik.

    Jauhkan aku dari roh-roh jahat. Lindungilah aku dan orang-orang yang aku kasihi dengan kuasa darahMu.

    Biarkan kiranya kasih-Mu yang akan memberikan esok hari penuh harapan dan sukacita.

    Izinkanlah besok aku bisa bangun dalam tubuh yang sehat sehingga aku bisa memuliakan nama-Mu.

    Dalam nama Bapa dan Putera, dan Roh Kudus. Amin….

    Menemukan Kristus dengan Membaca Kembali Kehidupan Pribadi

    October 19 2022 General Audience Pope Francis

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Paus Fransiskus melanjutkan seri katekese tentang penegasan pada Audiensi Umum hari Rabu, dan mendesak kita masing-masing untuk memeriksa kisah hidup kita untuk menemukan jejak kaki Yesus yang tersembunyi. Ditulis oleh Devin Watkins dirilis pada 19 Oktober 2022, 09:20 waktu Vatikan.

    Bapa Paus mengajak audiensi untuk kembali menceritakan peristiwa-peristiwa dalam hidup pribadi yang bertujuan dan memungkinkan untuk memahami diri sendiri. Hal itu adalah nuansa dan detail penting yang dapat mengungkapkan siapa diri kita dan membuka gambaran diri sebagai hal yang berharga atau mengungkapkan sesuatu yang sampai sekarang tersembunyi.

    Baca juga: Sejarah berdirinya Seminari Tinggi Interdiosesan Antonino Ventimiglia

    Paus Fransiskus menyampaikan wawasan itu pada hari Rabu ketika dia berbicara kepada para peziarah di Lapangan Santo Petrus untuk Audiensi Umum mingguan.

    Melanjutkan katekese dengan tema penegasan, Paus memusatkan perhatiannya pada bagaimana kisah hidup kita dapat mengungkapkan tindakan tersembunyi Tuhan.

    “Hidup kita adalah ‘buku’ paling berharga yang diberikan kepada kita, sebuah buku yang sayangnya banyak orang tidak membacanya, atau lebih tepatnya mereka terlambat membacanya, sebelum meninggal,” kata Bapa Paus.

    (Our life is the most precious ‘book’ that is given to us, a book that unfortunately many do not read, or rather they do so too late, before dying.)

    Kebenaran berdiam di dalam

    Paus Fransiskus mengingat refleksi St Agustinus tentang topik dalam Pengakuannya, di mana Santo abad ke-5 itu menceritakan bagaimana dia menyadari bahwa dia telah mencari Tuhan di luar dirinya selama bertahun-tahun sebelum menemukan Dia di dalam.

    Seperti yang dikatakan Orang Suci yang agung, “Kembalilah ke dalam dirimu sendiri. Di dalam diri sendirilah Kebenaran berdiam,” lanjut Paus.

    Paus Fransiskus mencatat bahwa kita terlalu sering terjebak dalam penghukuman diri dan gagal melihat Tuhan bekerja di dalam kita.

    Dengan membaca ulang masa lalu kita sendiri, kita dapat belajar untuk mengesampingkan kebiasaan “beracun” dan menemukan makna yang lebih dalam dari peristiwa sehari-hari.

    Kita mampu, katanya, untuk “memperhatikan hal-hal lain, membuatnya lebih kaya, lebih menghormati kompleksitas, berhasil juga dalam memahami cara-cara bijaksana di mana Tuhan bertindak dalam hidup kita.”

    Mengungkap keheningan kebaikan yang tersembunyi

    Paus Fransiskus melanjutkan dengan mengatakan bahwa bahkan hal-hal yang pada saat ini tampaknya kurang penting dapat mengungkapkan kepada kita sesuatu yang lebih dalam setelah refleksi lebih lanjut.

    Peristiwa-peristiwa ini, katanya, seperti “mutiara-mutiara tersembunyi yang berharga yang telah Tuhan tabur” dalam kehidupan kita sehari-hari.

    Kebaikan itu tersembunyi, diam. Ini membutuhkan penggalian yang lambat dan terus menerus. Karena gaya Tuhan itu bijaksana, itu tidak memaksakan; itu seperti udara yang kita hirup. Kami tidak melihatnya tetapi itu memungkinkan kami untuk hidup, dan kami menyadari ini hanya ketika itu hilang,” tandasnya.

    Baca juga: Spiritualitas Imam Projo (Diosesan) adalah Yesus sendiri

    (Good is hidden, silent. It requires slow and continuous excavation. Because God’s style is discreet, it does not impose; it is like the air we breathe. We do not see it but it allows us to live, and we realize this only when it is missing).

    Menurut Paus semakin banyak kita membaca ulang kisah hidup kita, semakin halus persepsi kita, membuatnya lebih mudah untuk menemukan tindakan Tuhan dalam hidup kita.

    Pembicaraan dari hati ke hati

    Sebagai penutup, Paus Fransiskus mengajak umat Kristiani untuk menemukan seseorang yang kepadanya untuk menceritakan kisah hidup kita, yang membantu kita masuk ke dalam “salah satu bentuk komunikasi yang paling indah dan intim.”

    Kehidupan para Orang Suci menawarkan jalan lain untuk menjadi akrab dengan cara Tuhan berinteraksi dengan teman-teman-Nya.

    “Kebijaksanaan adalah pembacaan naratif dari penghiburan dan kesedihan yang kita alami dalam perjalanan hidup kita,” tutup Paus. “Hatilah yang berbicara kepada kita tentang Tuhan, dan kita harus belajar memahami bahasanya,” tungkasnya.

    Sejarah berdirinya Seminari Tinggi Interdiosesan Antonino Ventimiglia

    Sejarah berdirinya Seminari Tinggi Interdiosesan Antonino Ventimiglia

    MajalahDUTA.Com, Sejarah- Sampai pada tahun 1990-an satu-satunya provinsi Gerejawi yang tidak memiliki Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi adalah provinsi Gerejawi Pontianak, yang ketika itu meliputi seluruh keuskupan di Kalimantan (sekarang, Kalimantan terbagi dua provinsi gerejawi, yaitu Pontianak dan Samarinda).

    Sementara itu, jumlah umat semakin berkembang pesat. Oleh karena itu, Mgr. Pietro Sambi sebagai Nuntius untuk Indonesia mendorong Uskup se-regio Kalimantan mendirikan seminari tinggi.

    Baca Juga: Inti Pokok Konsili Vatikan II “Gaudium et Spes”

    Kemudian, di sela-sela sidang KWI pertengahan November 1996 di Wisma Klender, Nuntius menanyakan rencana kongkret pendirian seminari itu.

    Pembentukan panitia

    Dalam rapat para uskup region Kalimantan pada tanggal 24 Januari 1997 di Palangkaraya, disepakati untuk terlebih dahulu mendirikan Sekolah Tinggi Teologi (STT) yang menampung para mahasiswa calon iman yang telah menyelesaikan jenjang SI Filsafat dan Teologi di Jawa dan Sumatera.

    Maka, dibentuklah panitia persiapaan pendirian STT yang diketuai oleh Mgr. Giulio Mencuccini, Uskup Sanggau. Kemudian di Pontianak disusun panitia persiapaan yang lengkap:

    Mgr. Giulio Mencuccini (ketua), Pastor William Chang (sekretaris). Pastor Willy Wagcmarkes (bendahara), Pastor Bartolomeus (anggota), Pastor Priyo Utomo (anggota), Pastor Linus Alinus (anggota), dan Pastor Petrus Rustandy (anggota).

    Pada tanggal 17 Februari 1997, panitia mengadakan pertemuan di Sanggau.

    Tahun ajar pertama tahun 1998/1999

    Pada tanggal 23 April 1997 diselenggarakan di Jakarta pertemuan para Uskup se-regio Kalimantan dan para pemimpin tarekat yang berkarya di Kalimantan.

    Diputuskan bahwa tahun kuliah akan dimulai pada tahun ajaran 1998/1999 dengan program pendidikan selama dua tahun bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan studi SI dan telah menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP).

    Bertempat di Paroki Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD)-Pontianak, pada tanggal 15 September 1998 dilangsungkan Misa Pembukaan Tahun Kuliah yang dipimpin oleh Mgr. Hieronimus Bumbun (saat itu masih menjabat sebagai Uskup Keuskupan Agung Pontianak).

    Baca juga: Catatan Fransiskan: Sejarah Katolik di Keuskupan Agung Pontianak

    Pada tanggal 04 Oktober 1998 dilangsungkan Misa romulgatio Pendirian Seminari Tinggi Teologi Interdiosesan se-regio Kalimantan Antonio Ventimiglia.

    Pada tahun pertama hanya tiga frater di Antonio Ventimglia. Mereka tinggal disebuah sewaan di Jl. Dr. Wahidin, Gg.Sylva Jaya no. 3. Tahun 1999/2000 disewa lagi sebuah rumah karena jumlah calon imam menjadi 10 orang.

    Ketika itu rektor seminari adalah Pastor. J.T.C. Wismapranata, imam diosesan Keuskupan Agung Semarang.

    Keberlangsungan Hingga Kini

    Mulai pada tahun ajaran baru 2000/2001, tepatnya pada bulan Agustus tahun 2000 para calon iman mulai menempati gedung baru seminari di jalan 28 Oktober No.5 (dulu Jalan Kebangkitan Nasional No 5), Siantan Hulu, Pontianak.

    Sementara itu, terjadi pergantian rektor. Dari Pastor. J.T.C. Wismapranata diganti Pastor Stefanus Koko Pujiwahyusulisliyono, imam diosesan Keuskupan Agung Semarang).

    Pada hari Rabu pagi, tanggal 25 Oktober 2000, gedung baru tersebut diberkati dalam sebuah perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Hieronimus Bumbun sebagai selebran utama dan didampingi (konselebran) oleh Mgr. Prajasoeta (Uskup Banjarmasin), Mgr. Agustinus Agus (Uskup Sintang), dan Mgr. B. Pudjarahrdja (Uskup Ketapang) serta 13 iman dari berbagai ordo dan kongregasi yang berkarya di Kalimantan.

    Hadir dalam misa pemberkatan ini Dirjen Bimas Katolik Departemen Agama Stefanus Agus, para utusan dari Keuskupan Samarinda, Banjarmasin, Palangkaraya, Ketapang, Pontianak, Sanggau, Sintang dan umat lainnya.

    Baca juga: Part 2: Isi catatan Pastor Odorico Mattiuzzi melukiskan Kejayaan Jawa

    Seminari Tinggi Interdiosesan ini dinamai “ Antonio Ventimiglia”, karena ia adalah pastor misionaris pertama iman Katolik di Kalimantan. Ia merupakan anggota Ordo Rohaniwan Regulir Penyenggara Ilahi atau dikenal dengan nama “Pater-pater Theantin” . Ia tiba pertama kali di Banjarmasin pada tanggal 02 Februari 1688. Ia diperkirakan wafat di pedalaman, Karena dibunuh atau sebab lainnya.

    Pada tahun 1690. Sedangkan tujuan khas dari pendirian seminari adalah kontekstualisasi pendidikan calon iman. Tentu saja konteks yang dimaksud adalah situasi Kalimantan.

    Pada tahun 2002, Pastor Koko diganti oleh Pastor Dionisus Meligun (iman diosesan Keuskupan Sanggau) yang menjabat rektor sampai tahun 2005.

    Para rektor selanjutnya adalah Pastor Leonardus Miau (iman diosesan Keuskupan Sintang) pada tahun 2005-2007, Pastor Laurensius Sutadi (iman diosesan Keuskupan Ketapang) pada tahun 2007-2010 dan Pastor Edmund Nantes, OP pada tahun 2010 sampai sekarang, yang didampingi oleh Pastor Robertus Ambrosius Dhai Musa (iman diosesan Keuskupan Sintang).

    Sekarang, (tahun ajaran 2018/2019) jumlah frater yang tinggal di Seminari Antonio Ventimglia berjumlah duabelas orang.

    Spiritualitas Imam Projo (Diosesan) adalah Yesus sendiri

    Spritualitas Imam Projo adalah Yesus itu sendiri

    MajalahDUTA.Com, Spritualitas- Spiritualitas imam Projo (diosesan) dan efektivitas dalam pelayanannya ditemukan dari penunaian tugasnya dalam pelayanan imamat.

    Seorang imam menjadi dirinya melalui apa yang dikerjakannya, dia bertumbuh dalam spiritualitas menurut cara dia memenuhi pelayanan imamatnya.

    Dia menjadi kudus karena berhubungan dengan hal-hal yang kudus.Dalam hal ini diperlukan suatu semangat pelayanan yang sejati.

    Baca Juga: Doa adalah Akar Kehidupan Spiritual Katolik

    Tidaklah memadai kalau hanya puas dengan pewartaan Sabda Allah, namun pewartaan ini perlu diimbangi dengan hidup menurut Sabda Allah. Dia menghidupi apa yang dikotbahkannya.

    Pelayanan sakramen yang dilakukannya sungguh dijalankan dengan penuh perhatian, iman, dan cinta pastoral. Dia menjadikan hidupnya sebagai terang bagi sesama.

    Karisma Pastoral

    Watak sakramental menjiwai seorang imam Projo secara mendalam karena justru itulah seorang imam ditahbiskan. Tahbisan tidak lagi hanya penyerahan tugas, bukan lagi hanya pelimpahan hak dan kewajiban, bukan lagi hanya terkait dengan pembatasan peran dan fungsi seorang imam.

    Namun, watak sakramental ini melekat pada diri seorang imam selama-lamanya (in aeternum). Dia menjadi seorang pemimpin rohani dan moral, dan merawat hidup kerohanian. Dalam surat “Novo Incipiente Nostro”, Sri Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa imamat adalah menanamkan karisma pastoral, keserupaan dengan Kristus, Gembala Ilahi. Sifat ini kekhasan hidup seorang imam.

    Seorang imam diharapkan untuk berkarya demi keselamatan umat manusia secara khusus. Para imam diharapkan lebih peduli dengan kebutuhan keselamatan umat manusia, karena setiap imam mengambil bagian pada imamat Kristus (bdk Par. 5).

    Spiritualitas seorang imam Projo ditemukan dalam menjalankan pelayanan pastoral sebagai seorang imam.

    Ini terutama diwujudkan dalam perayaan Ekaristi Kudus, di mana seorang imam memasuki ruang dan waktu ketika Allah sendiri bertindak untuk keselamatan manusia. Pada waktu itulah seorang imam disatukan dengan Tuhan dan menjadi “satu roh dengan Dia” (1 Kor. 6:17).

    Baca juga: Uskup Agustinus: “Ikut Yesus” karena Yesus adalah Gembala Utama- Part 2

    Tindakan Allah adalah hakiki: tindakan manusia mengambil bagian di dalamnya. Transformasi roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus mungkin karena seorang imam dengan kuasa sakramental mengubahnya.

    Paus Benediktus XVI mengingatkan bahwa pendidikan liturgi yang sejati tidak hanya mempelajari dan mengalaminya dengan kegiatan-kegiatan eksternal, namun sescorang sungguh dituntun untuk memasuki tindakan hakiki yang menjadikan liturgi sebagai bagian integral hidup rohani menuju kuasa transformasi Allah, yang ingin mengubah kita dan dunia melalui apa yang terjadi dalam liturgi (Joseph Ratzinger, The Spirit of the Liturgy, 2000 Ignatius Press, 175).

    Konteks Hidup Rohani

    Spiritualitas pada dasarnya terpusat pada sakramen-sakramen Gereja dengan suatu kerangka pelayanan dengan misi keselamatan yang terkait cinta kasih dan keadilan. Perjumpaan dengan Allah bisa langsung dan tidak langsung, karena peristiwa ini selalu terjadi lewat pengikut-pengikut Kristus.

    Konteks hidup rohani seorang imam Projo tampak dalam kegiatan-kegiatan pastoral yang dijalankan sebagai Gembala yang menuntun domba-domba menuju keselamatan. Apa pun yang direncanakan dan dilakukan selalu dalam nama Tuhan Yesus, Sang Imam Agung.

    Baca juga: Apasih Bedanya Imam Diosesan & Imam Religius?

    Tentu, spiritualitas ini tak terlepas dari pengalaman hidup seorang imam projo dalam bidang doa, hidup dengan rekan-rtekan seimamat, menghayati dan membarui janji-janji imamat, dan memberikan pelayanan pastoral terbaik bagi keselamatan sesama manusia.

    Yesus Kristus, Sang Imam Agung menjadi teladan dalam menghidupi spiritualitas sebagai imam Projo.

    Nilai Kesatuan dalam Pembaktian Diri

    Dirilis 19 Oktober 2022

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA- Sekitar 2500 tahun yang silam, Gautama Buddha, yang juga dikenal sebagai Siddharta Gautama (563 SM — 483 SM) menyampaikan intisari ajarannya berupa “Empat Kebenaran Luhur.”

    Di bawah pohon bodi, Buddha mencapai pengertian selama meditasi tentang keempat kebenaran ini: (1) Kebenaran tentang derita (dukkha): (2) Kebenaran tentang asal derita (samudaya): (3) Kebenaran tentang penghentian derita (nirodha): (4) Kebenaran tentang jalan menuju penghentian derita (magga).

    Baca juga: Part 2: Isi catatan Pastor Odorico Mattiuzzi melukiskan Kejayaan Jawa

    Buddha acapkali dibandingkan dengan seorang tabib. Dalam dua kebenaran pertama dia mendiagnosa masalah (derita) dan menunjukkan penyebabnya.

    Kebenaran luhur yang ketiga adalah perwujudan yang adalah suatu perawatan. Sedangkan kebenaran keempat yang mengandung delapan tahap adalah jalan untuk mencapai pembebasan dari derita.

    Menjadi seorang biksu pun perlu mengolah kebenaran ini supaya bisa mencapai nirwana.

    Pembaktian diri

    Pembaktian diri dalam dunia rohani pada hakikatnya menuntut penyangkalan diri. Manusia mengurung atau mengolah keimginan pribadi, sehingga sanggup memusatkan perhatian dan diri pada cara hidup yang telah dipilih.

    Mendahulukan tuntutan religius dan menggeser keinginan atau kepentingan pribadi dengan sendirinya akan mengubah seluruh pola hidup seseorang. Tidak semua orang a an memahami cara hidup yang dibarui ini.

    Cara Indup ini menyentuh perombak mentalitas atau tata pikir seseorang. Tidak semua orang akan mudah mencmp hidup yang dibarui. Meninggalkan dan membarui salah satu kecenderungan dalam hidup sehari-hari menuntut keterbukaan hati dan keberanian untuk memulainya dalam dalam hidup.

    Baca juga: TUBUH DAN DARAH KRISTUS – St. Agustinus

    Pembaktian diri sebagai pengikut Yesus Kristus pada hakikatnya memegang , Sabda, kehendak dan perintah Yesus sebagai pemandu hidup sehari-hari.

    Kedudukan dan peran Yesus didahulukan. Manusia yang membaktikan diri kepada Yesus. Seluruh hidup dan teladan-Nya menjadi pelajaran bagi seluruh hidup murid-Nya.

    Deretan pelajaran rohani yang sangat bermakna dapat ditimba dari Sang Guru. Dia memiliki warisan kekayaan yang menakjubkan dunia.

    Yesus membaktikan diri kepada Bapa surgawi melalui pemenuhan rencana dan kehendak Bapa surgawi hingga akhir hayat. Sejak kecil orang tua-Nya, Yosef dan Maria, telah mempersembahkan Yesus ke hadirat Bapa surgawi. Yesus mengarungi lingkungan hidup religius yang saleh.

    Tugas dan kewajiban sebagai orang beuman dipenulu di mana dan kapan pun. Dalam rencana dan tugas apa pun Yesus tetap mengingat kehendak Bapa surgawi.

    Sebelum mengubah air menjadi anggur Yesus mengatakan bahwa waktu-Nya belum tiba. Pernyataan ini menunjukkan apapun yang dikerjakan Yesus selalu dalam kesatuan dengan Bapa surgawi. Setelah direstui, Yesus melakukan apa yang dikehendaki Bapa surgawi. Dalam doa pun Yesus mengutamakan kehendak Bapa surgawi.

    Nilai Kesatuan

    “Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga.” Kehendak Bapa surgawi yang harus terjadi. Keadaan di dalam surga hendaknya terjadi atas permukaan bumi. Dia mendambakan keadaan surga yang penuh kebahagiaan bagi umat manusia.

    Dalam doa, Dia senantiasa bersyukur kepada Bapa surgawi sebagai ungkapan kegembiraan hati dan terima kasih atas segala kasih-karunia-Nya.

    Baca juga: Eksotisme Bromo: Tempat Healing Religius

    Dia menyadari bahwa apapun yang diterima-Nya berasal dari kemurahan “Tuhan, hidup, keyaan dan hasil keyaan mencerminkan kemurahan Bapa surgawi bagi Yesus, Sang Juruselamat.

    Pembaktian diri Yesus tampak dalam penyerahan diri, kehendak dan seluruh keadaan hidup ke dalam tangan Bapa surgawi. Dia merasa aman dan bahagia dalam telapak tangan Bapa surgawi. Dia bersyukur atas semua keadaan yang harus dihadapi dalam menjalankan misi Bapa.

    Hanya dalam tangan Bapa surgawi datang ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan. Pembukaan diri Yesus tampak dalam pikiran, perkataan dan perbuatan Yesus. Dia dan Bapa surgawi adalah satu dan tak terpisahkan. Pembaktian diri menjadi nilai kesatuan dan penyatuan diri dengan Bapa surgawi, Yesus Kristus dan Roh Kudus.

    Penyelenggaraan Kasih Karunia Allah

    Refleksi Iman

    MajalahDUTA.Com, Renungan– Refleksi bersama pada 19 Oktober, Rabu Hari Biasa XXIX. Ditulis dari renungan grub rohani di Facebook (Grub Kekuatan Doa Rosario)  saya pikir baik untuk dibagikan, demikian isinya.

    Bacaan Sabda:

    Saudara saudara, kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku, demi kamu, yaitu bagaimana rahasianya telah dinyatakan kepadaku dengan wahyu seperti yang kutulis.. Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus, yang pada zaman dahulu tidak diberitakan kepada anak anak manusia.. Berkat pewartaan Injil orang orang bukan Yahudi pun, ikut menjadi ahli waris, menjadi anggota anggota tubuh serta peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus..Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan menghadap kepada Bapa dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya. (Ef 3: 2-12).

    Bersyukurlah kepada Tuhan, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan diantara bangsa bangsa, masyhurkanlah bahwa nama-Nya tinggi luhur. (Yes 12: 4)

    Bacaan Injil:

    Berkatalah Yesus.Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri datang, ia tidak membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan. Kata Petrus: Tuhan, Kamilah yang Engkau maksud kan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang? Jawab Tuhan:”Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberi kan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba hamba yang didapati tuannya melakukan tugas itu, ketika tuannya datang..Setiap yang kepadanya banyak diberi, dari padanya banyak dituntut.. Barangsiapa diberi banyak, banyak pula dituntut dari pada-nya..(Luk 12: 39-48)

    Menjadi Ahli Waris

    Yesus mengingatkan kembali para murid-Nya, supaya mereka siap sedia, karena Ia datang dengan tidak disangka sangka. Berbahagialah mereka, yang melakukan tugasnya, ketika tuannya datang. Setiap orang yang banyak diberi, dari padanya banyak dituntut.

    Seperti dialami Paulus, dia memberitakan rahasia Allah kepada bangsa bangsa bukan Yahudi, karena kasih karunia Allah. Sehingga mereka semua menjadi ahli waris dan anggota tubuh Kristus.

    Baca juga: Diutus Berdua-dua

    Saudara/i ku, “Barangsiapa diberi banyak, banyak pula yang dituntut dari padanya.” Yesus mengingatkan kepada kita semua, agar sadar bahwa berkat yang berasal dari Tuhan, hendaknya kita ikuti dengan tindakan kasih dengan rela berbagi berkat kepada keluarga dan sesama yang membutuhkan.

    Yesus berharap kita sebagai sarana, menyalurkan berkat kepada keluarga dan sesama. Karena banyak terjadi diantara kita, ketika masih hidup serba kekurangan, berdoa dengan khusuk dan sepenuh hati, supaya diberi jalan oleh Tuhan supaya sukses dalam hidup nya. Tetapi begitu sudah sukses dan serba berkecukupan, lupa kepada Tuhan. Bahkan berdoa pun sudah tidak ada waktu lagi.

    Senantiasa Bersyukur kepada Tuhan

    Maka Yesus dengan tidak jemu jemunya mengingatkan kepada kita, supaya tetap siap sedia menyambut kedatangan Yesus atau waktu Malaikat Tuhan menjemput kita. Sehingga kita dapat menjadi ahli waris dan anggota tubuh dan peserta janji yang diberikan Kristus Yesus.

    Beroleh keberanian dan jalan menghadap kepada Bapa dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada Yesus Kristus.

    Marilah menjadi hamba Allah yang selalu siap sedia melakukan tugas yang dipercayakan oleh Tuhan kepada kita.

    Baca juga: Renungan Natal Paus: Kenangan dan doa untuk masa depan kita

    Dengan senantiasa bersyukur kepada Tuhan, memanggil nama-Nya, memberitahukan karya-Nya diantara bangsa bangsa dan memasyhurkan bahwa nama-Nya tinggi dan luhur. Karena Tuhan itu keselamatan kita. Seperti dikatakan oleh pemazmur.

    Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang setia dan selalu siap sedia menantikan kedatangan Yesus Putera-Mu, agar beroleh keselamatan sekarang sampai selama lamanya. Amin.

    Mari kita refleksikan disepanjang hari dan malam ini… Tuhan Yesus Memberkati.

    Santo Paulus dari Salib: Bunda Maria Berpesan Agar Mendirikan Sebuah Tarekat

    Gambar: Santo Paulus dari Salib

    MajalahDUTA.Com, Spritualitas- “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku. . .” (Luk 9:23).

    Kata-kata Yesus ini dihayati benar-benar oleh Santo Paulus dari Salib dan menjadi spiritualitas dasar dari tarekat religius. yang didirikannya: (bahasa Latin: Congregatio Passionis Iesu Christi) atau yang disebut sebagai Kongregasi Passionis, Salib dan peristiwa sengsara Yesus menjadi semangat hidup dan landasan karya dari tarekat misionaris ini.

    Paulus Fransiskus – demikian nama kecil Santo Paulus dari Salib – lahir di Ovada, Genoa, Italia Utara pada tanggal 3 Januari 1694.

    Baca juga: Mengasah Spritualitas, SD Santa Klara Misa Bersama Umat Paroki St Maria Nyarumkop

    Beliau adalah anak kedua dari 16 orang anak Lukas Danei, seorang pedagang kain yang kaya raya. Ayah dan ibunya dikenal sangat baik dan menjadi teladan bagi keluarga-keluarga Kristen di Ovada.

    Di bawah bimbingan orangtuanya, Paulus bertumbuh dewasa menjadi seorang yang beriman teguh. Cara hidupnya di kemudian hari sebagai seorang orang kudus – kiranya sudah ditempa ibunya semenjak kecil. Semenjak kecil ia sudah diarahkan ibunya untuk menghayati penderitaan Kristus. Apabila ia menangis karena luka-luka kecil di badannya, ibunya selalu mengatakan bahwa Yesus dahulu menderita luka-luka yang jauh lebih berat.

    Penampakan Bunda Maria

    Ketika berusia 15 tahun, ia terpaksa, berhenti sekolah karena harus membantu ayahnya dalam usaha dagang mereka. Waktu-waktu luang biasanya dimanfaatkannya untuk berdoa. Kemudian pengalaman rohaninya itu mendorong dia membentuk sebuah perkumpulan doa untuk para pemuda.

    Pada usia 20 tahun, ia menjadi tentara sukarelawan dalam peperangan melawan tentara-tentara Turki. Namun tak lama kemudian ia keluar lagi dari dinas ketentaraan itu, karena merasa bahwa itu bukanlah panggilan hidupnya. Lalu ia lebih banyak berdoa dan bermatiraga.

    Pada tahun 1720, ia mengalami penampakan ajaib: selembar jubah hitam yang di bagian dadanya tertera nama Yesus dengan huruf putih dan sebuah salib. Penampakan ajaib itu terjadi tiga kali.

    Baca juga: Buah, Keutamaan dan Semangat dalam menyelami Spritualitas Bruder Maria Tak Bernoda (MTB)

    Pada penampakan ketiga, Bunda Maria berpesan supaya ia mendirikan sebuah tarekat religius yang khusus untuk menghayati Sengsara Kristus dan memajukan kebaktian padanya. Anggota-anggota tarekat itu harus berpakaian seperti yang tampak dalam penglihatan di atas.

    Paulus melaporkan semua kejadian ajaib itu kepada uskup. Dan setelah diadakan penyelidikan mendalam atas kejadian-kejadian itu, ia diizinkan uskup untuk mendirikan tarekat itu.

    Paulus mulai mendirikan tarekatnya di Castellazo pada tanggal 20 Nopember 1720. Ia sendiri mulai mengganti namanya menjadi Paulus dari Salib.

    Tahbisan Imam

    Pengikutnya yang pertama ialah adik kandungnya sendiri, Yohanes Baptis. Beberapa pemuda lain meninggalkan dia karena tidak bisa tahan hidup tapa seperti yang dituntut. Kemudian bersama adiknya, Paulus pergi ke Monte Argentaro untuk berdoa dan bertapa.

    Pada tahun 1727 Paulus ditahbiskan menjadi imam. Ia ternyata menjadi seorang pengkotbah yang disukai umat. Biaranya yang pertama didirikannya di Monte Argentaro.

    Setelah lama berjuang untuk mewujudkan pesan Bunda Maria, tarekatnya diakui sah oleh Takhta Suci. Setelah itu Paulus giat mendirikan biaranya di berbagai tempat. Ia sendiri mendirikan 11 buah biara.

    Selain tarekat untuk para imam, Paulus pun mendirikan Tarekat Suster-suster Passionis pada tahun 1771. Semuanya dikerjakan di bawah bimbingan Allah. Ia wafat pada tanggal 18 Oktober 1775 di Roma.

    Inti Pokok Konsili Vatikan II “Gaudium et Spes”

    Konsili Vatikan II- Gaudium et Spes

    MajalahDUTA.Com, GEREJA- Dalam tulisan Pengantar Marcel Beding (Jakarta, 12 April 1967) dalam buku saku “Konsili Vatikan II, Konstitusi Pastoral, Gaudium et Spes, Tentang Geredja Dalam Dunia Modern” yang dicetak di percetakan Arnoldus Ende- Flores mengulas pandangan pokok dan inti dari Konsili Vatikan II.

    Dalam tulisan itu, masih menggunakan bahasa Indonesia ejaan lama dengan DJ = J, J = Y, TJ = C, OE = U, NJ = NY, SJ = SY, CH = KH dan yang disebut dengan ejaan Van Ophuijsen yang berlaku kurang lebih dari tahun 1901 sampai dengan tahun 1947, serta sebagian lagi masih digunakan pada standar ejaan Republik alias ejaan Soewandi / Suwandi yang berlaku sejak tahun 1947 sampai dengan tahun 1972. Setelah tahun 1972 negara kita menggunakan standar Ejaan yang Disempurnakan (EYD).

    Isi kata pengantar itu kurang lebih menjelaskan tentang Konsili Ekumenis Vatikan Kedua telah mengakui dan menerima dunia sekarang ini seperti apa adanya.

    Baca juga: Part 1: “Goresan Pena Pastor Italia Tentang Kejayaan Majapahit”

    Konstitusi GAUDIUM ET SPES ini dalam bagian permulaannya secara ringkas melukiskan dunia moderen sekarang ini.

    Pertama-tama, dan yang paling menarik, ialah bahwa dunia sekarang ini adalah suatu dunia yang sedang berubah.

    Suatu dunia yang penuh pengharapan besar, tetapi juga penuh keputusasaan, penuh masalah-masalah yang tak terpecahkan, penuh pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban.

    Suatu dunia yang penuh pertentangan, dimana kemakmuran yang melimpah berdampingan dengan kemelaratan yang makin hari makin bertambah besar. Sistim ekonomi yang lebih banyak berlaku sekarang malahan menyebabkan yang miskin makin tambah miskin sedangkan yang kaya makin bertambah kaya.

    Dunia sendiri mengetahui lebih banyak

    Dokumen ini pada mulanya tidak luput dari jaman ke jaman. Ada sementara orang mengatakan, Ah, ini bukan barang baru. Semua orang sudah tahu. Buka saja suatu majalah atau surat kabar, buku-buku tentang sosiologi, ekonomi atau politik, hadiri saja sesuatu kongres Aksi Katolik atau Kerasulan Awam, maka pastilah perlukisan tentang dunia seperti ini akan anda jumpai -—dan barangkali disajikan dengan istilah-istilah yang lebih tepat.”

    Pendapat ini mungkin benar juga. Akan tetapi hal yang menarik dari bagian pendahuluan dokumen ini bukanlah kenyataan bahwa bagian tersebut itu dimaksudkan untuk mengajarkan sesuatu hal baru kepada dunia — karena memang dunia sendiri mengetahui lebih baik keadaannya sendiri daripada Gereja — melainkan kenyataan bahwa Gereja melukiskan keadaan dunia dewasa ini dengan cara yang tepat sekali: bukan baru melainkan tepat, itulah soalnya.

    Gereja berkata: Saya mengakui dunia ini, saya mencintai menerima dunia ini seperti adanya.” Inilah yang sebenarnya baru dan amat penting sekali. ,,Inilah dunia yang diberikan Allah kepada saya untuk dicintai,” begitu kata Geredja, ,,setelah Allah sendiri memberikan kepada Putera-Nya. Saja menerima dunia ini dan ingin berdialog dengannya. Seraja ia sendiri berhadapan dengan harapan-harapan serta rencana-rencananya, saja tidak akan mengambil sikap mengecam, menggerutu dan negatif terhadap dunia ini.”

    Dan sesungguhnya kenyataan-kenyataan aktual dalam dunia sekarang inilah yang memungkinkan adanya sesuatu dialog. Pada dasarnya Gereja dan dunia merupakan hal yang sama saja, terutama masing-masing mempunyai cara sendiri dan memiliki sumber-sumber yang berlainan.

    Kepenuhan dan kesempurnaan

    Dunia mengolah sumber-sumber duniawiannya yang banyak tetapi terbatas: sedangkan Gereja menimba kekayaannya dari terang dan rahmat Allah.

    Tetapi sesungguhnya Gereja dan dunia mengejar satu hal yang sama. Gereja dan dunia menjurus kesatu sasaran tunggal, ialah kepenuhan atau kesempurnaan manusia.

    Dokumen pastoral ini, yang teks Latinnya terdiri dari 30.000 kata terbagi dalam dua bagian besar. Bagian pertama melukiskan keadaan dunia dan manusia sekarang, dan memberikan sejumlah prinsip-prinsip pokok untuk menggauli kedua hal itu.

    Baca juga: Part 2: Isi catatan Pastor Odorico Mattiuzzi melukiskan Kejayaan Jawa

    Bagian kedua menerapkan prinsip-prinsip itu atas masalah-masalah yang mendesak bagi dunia dan manusia sekarang ini.

    Ditandaskan bahwa Gereja hidup dalam dunia ini dan pada zaman sekarang ini, dan bahwa Gereja harus kokoh berdirinya menghadapi segala gelombang perubahan yang dialami dunia dan manusia sekarang.

    Tetapi Gereja harus juga mengambil peranan yang aktif dalam mencari penyelesaian masalah-masalah jang beranekaragam menjangkut manusia seluruhnya.

    Berupaya menjawab persoalan

    Gereja di dalam dokumen ini berusaha memberikan jawab atas beberapa persoalan yang penting dan mendesak dewasa ini: soal perkawinan dan keluarga, Gereja dan kebudayaan, ekonomi dan perdagangan, perdamaian dunia, perang nuklir, perserikatan bangsa-bangsa, dll.

    Memang belum semua persoalan itu diberi jawaban terakhir dan secara resmi. Karena itu juga telah ditunjuk beberapa komisi yang harus meneliti lebih jauh dan mempelajari lebih mendalam lagi beberapa persoalan yang sulit dan rumit.

    Dokumen konsili ini harus acapkali menyibukkan semua anggota Gereja, rohaniwan maupun awam, agar kita sekalian dalam masa sesudah konsili ini dapat bertindak atau berkelakuan sebagai orang katolik sejati didalam karya-kerasulan kita, dengan kesetiaan yang besar kepada Gereja sesuai dengan semangat ,,aggiornamento” yang telah dihembuskan keseluruh tubuh Gereja melalui Konsili Ekumenis Vatikan Kedua itu.

    “Inilah intisari pokok dokumen konsili ini, Semoga bermanfaatlah buku kecil ini! ” tulis Marcel Beding , Jakarta, 12 April 1967.

    Part 2: Isi catatan Pastor Odorico Mattiuzzi melukiskan Kejayaan Jawa

    Part 2: Isi catatan Pastor Odorico Mattiuzzi melukiskan Kejayaan Jawa

    MajalahDUTA.Com, Sejarah- Di Padua, tepatnya di biara St. Antonius, ia menemui teman sejawatnya, William de Solona. Kepada kawannya itu ia meminta untuk mencatat kisah-kisahnya. Salah satunya, kisah mengagumkan dari Jawa.

    Dicatatnya demikian:

    “Saya pergi ke sebuah pulau lain bernama Jawa yang memiliki garis keliling pantai sepanjang 3.000 mil dan raja Jawa memiliki tujuh raja lain di bawah kekuasaan utamanya. Pulau ini dianggap sebagai salah satu pulau terbesar di dunia dan sepenuhnya dihuni; berlimpahan cengkih, kemukus dan buah pala serta segala macam rempah lain juga banyak, jenis makanan lain dalam jumlah besar, kecuali anggur.

    Baca juga: Part 1: “Goresan Pena Pastor Italia Tentang Kejayaan Majapahit”

    Raja Jawa memiliki sebuah istana besar dan mewah paling menakjubkan yang pernah saya lihat, dengan tangga lebar dan megah ke arah ruangan di bagian atas, semua anak tangga secara bergantian terbuat dari emas dan perak. Seluruh dinding bagian dalam dilapisi oleh lapisan emas dan perak. Seluruh dinding bagian dalam dilapisi oleh lapisan emas tempa, di mana gambar-gambar ksatria diukirkan pada lapisan emas tersebut.

    Setiap ksatria berhiaskan sebuah mahkota emas kecil yang dihias dengan beragam batu mulia. Atap istana ini terbuat dari emas murni dan seluruh ruangan di bawah dilapisi berselingan oleh lempeng-lempeng berbentuk kotak yang terbuat dari emas dan perak. Khan yang agung, atau Kaisar China, sering mengadakan peperangan dengan Raja Jawa, tetapi serangannya selalu berhasil dipatahka dan dipukul mundur.”

    Setelah Pastor Odorico Mattiuzzi menceritakan semua yang dialami. Lantas, ia pun berpamitan melanjutkan perjalanan ke Friuli. Setahun kemudian, ia meninggal di Udine dalam usia 66 tahun.

    Buku I Viaggi di Frate Odorico

    Sepeninggalannya, catatan perjalanan itu kemudian dicetak dalam buku I viaggi di Frate Odorico. Oleh James D. Rush, dalam bukunya A Java Travellers Antology, catatan ini dijadikan catatan penting yang menyingkap kejayaan Majapahit pada masa itu.

    Apalagi, kunjungan Odorico Mattiuzzi dilakukan dalam kurun tahun 1321-1322 Masehi. Itu artinya, semasa dengan pemerintahan Prabu Sri Jayanagara. Sebelumnya, pada era Kertarajasa Jayawardhana, kisah mengenai kekalahan pasukan Kublai Khan telah menjadi kisah heroik di Jawa.

    Dengan segala daya upaya, Kertarajasa Jayawardhana telah mengubah serangan pasukan Kublai Khan menjadi keuntungan bagi kekuasaannya. Di sisi lain, catatan Odorico dengan gamblang mengungkapkan betapa masa itu menjadi masa kejayaan Majapahit.

    Baca juga: Catatan Fransiskan: Sejarah Katolik di Keuskupan Agung Pontianak

    Terlebih dengan ditunjukkannya hasil rempah-rempah dan bangunan istana Raja. Meski begitu, James D. Rush meragukan apakah catatan Odorico masih otentik atau sudah ada penambahan di sana-sini. Sebab, menurut James D. Rush, Odorico memiliki daya ingat yang tak begitu tajam. Namun paling tidak catatan Pastor Odorico menandakan bahwa peristiwa yang dilihat dan dialami hendaknya dituliskan agar gambaran masa lalu masih bisa dinikmati masa kini.

    Cara Pastor Odorico mengemban misi ini pun menunjukkan ketaatan pada panggilannya menjadi biarawan Fransiskan sekaligus mengemban tugas mulia untuk menjelajahi dunia untuk menyebarkan kabar Suka Cita dan keselamatan.

    (disari berbagai sumber)

    TERBARU

    TERPOPULER