Wednesday, April 29, 2026
More
    Home Blog Page 114

    Ajaran Gereja: Empat Kebenaran Yang Utama

    Ajaran Gereja- Empat Kebenaran Yang Utama

    MajalahDUTA.Com, Gereja– Empat Kebenaran Yang Utama:

    1. Ada satu Allah.
    2. Ada tiga diri Ilahi:/Allah Bapa, / Allah Putera/ dan Allah Roh Kudus.
    3. Allah Putera menjadi manusia untuk kita/ dan wafat di salib.
    4. Allah membalas yang baik/dan menghukum yang jahat.

    Ajaran Gereja: Kelima Perintah Gereja

    Gambar Gereja Katedral Pontianak yang kedua

    MajalahDUTA.Com, Gereja Kelima Perintah Gereja:

    1. Rayakanlah Hari Raya yang disamakan dengan hari Minggu.
    2. Hadapilah Misa Kudus pada hari Minggu,/ dan pada hari pesta yang diwajibkan,/ dan janganlah melakukan pekerjaan yang dilarang.
    3. Jangan makan daging pada hari pantang,/ dan berpuasalah pada hari puasa.
    4. Akuilah dosamu sekurang-kurangnya setahun sekali.
    5. Sambut Tubuh Tuhan pada masa Paska.

    Ajaran Gereja: Kesepuluh Perintah Allah

    Ajaran Gereja

    MajalahDUTA.Com, Gereja- Tuhan bersabda: Akulah Allah, Tuhanmu.

    1. Jangan memuja berhala,/berbaktilah kepadaKu saja, / dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu.
    2. Jangan menyebut Nama Allah Tuhanmu tidak dengan hormat.
    3. Kuduskanlah hari Tuhan.
    4. Hormatilah ibu-bapamu.
    5. Jangan membunuh.
    6. Jangan berbuat cabul.
    7. Jangan mencuri.
    8. Jangan bersaksi dusta terhadap sesamamu manusia.
    9. Jangan ingin berbuat cabul.
    10. Jangan ingin akan milik sesamamu manusia secara tidak adil.

    Part 2: Mencerahkan wajah Gereja ‘kita’

    Cardinal Ravasi (L) and Cardinal Gambetti (C) at the Holy See Press Office

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Ada empat pertemuan, penunjukan pertama akan dipandu oleh Kardinal Gianfranco Ravasi, pada hari Selasa, 25 Oktober, pukul 18:30. Waktu Roma, di Basilika.

    Untuk pertemuan yang berjudul, “Kehidupan Santo Petrus. Selanjutnya, air mata dan kemartiran,’ Kardinal Ravasi akan mengajukan refleksi dan beberapa komentar tentang beberapa bagian Injil yang paling penting tentang Rasul dan panggilannya.

    Bacaan yang dipilih akan ditafsirkan oleh Alba Rohrwacher, seorang aktris terkenal dan diakui secara internasional.

    Bacaannya termasuk Matius 4:18-22 dan Matius 16:13-19 tentang keunggulan Petrus, serta Matius 26:69-75 tentang penyangkalan, dan Yohanes 21:1-19 tentang penampakan Yesus di pantai Laut Galilea.

    Acara ini juga akan diperkaya dengan pengenalan dan kesimpulan dari Kardinal Gambetti, dan penampilan kuartet gesek: Ave Verum Corpus dari Mozart, Cantate Domino dari Handel, dan Adagio dari Marcello dari Concert in C minor untuk Oboe and Strings.

    Pada hari Selasa, 22 November, seorang teolog Katolik, Protestan, dan Ortodoks akan berdebat bersama tentang tema Keutamaan Petrus, di sebuah acara yang berjudul “Di atas batu karang ini, aku akan membangun Gerejaku”.

    Baca juga: Part 1: ‘Lectio Petri’ untuk menjelajahi warisan Santo Petrus

    Penunjukan ketiga, yang disebut “Memperhitungkan Harapan yang Ada di Dalam Kita”, dijadwalkan pada Selasa, 17 Januari 2023, dan didedikasikan untuk analisis mendalam tentang sosok Santo dalam sejarah dan budaya.

    Kardinal Ravasi akan mengomentari dua Surat Petrus dan beberapa bagian dari Surat Pliny, salah satu sumber tertua yang menggambarkan kehidupan orang Kristen awal.

    Profesor Giuliano Amato, Presiden Courtyard of the Gentiles Foundation, akan menutup pertemuan dengan refleksi tentang hubungan antara iman dan masyarakat.

    Akhirnya, acara Lectio Petri terakhir, “Quo vadis,” dijadwalkan pada 7 Maret.

    Dengan partisipasi tokoh-tokoh terkemuka dari dunia budaya, akan menganalisis sosok Peter dalam seni, sastra dan musik.

    The Courtyard of the Gentiles adalah struktur Dicastery for Culture and Education, yang didirikan oleh Kardinal Gianfranco Ravasi untuk mempromosikan dialog antara orang percaya dan orang yang tidak percaya.

    Melalui acara, pertemuan, debat, penelitian dan kesempatan untuk berbagi, Courtyard of the Gentiles telah memantapkan dirinya sebagai tempat pertemuan bagi tokoh-tokoh terkemuka dari budaya sekuler dan Katolik, tentang isu-isu dan tantangan yang mempengaruhi masyarakat kontemporer – seperti etika, legalitas, sains, iman, olahraga, seni, pemuda dan teknologi baru.

    Part 1: ‘Lectio Petri’ untuk menjelajahi warisan Santo Petrus

    Ancient statue of St. Peter in the Vatican (Vatican Media)

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Vatikan akan menyelenggarakan acara ‘Lectio Petri’ untuk menjelajahi warisan Santo Petrus. Kantor Pers Tahta Suci menjadi tuan rumah bagi Kardinal Ravasi dan Gambetti untuk memamerkan prakarsa ‘Lectio Petris: Rasul Petrus dalam Sejarah, Seni dan Budaya’, yang berlangsung hingga Musim Semi 2023.

    Vatikan akan menjadi tuan rumah ‘Lectio Petri: Rasul Petrus dalam Sejarah, Seni dan Budaya,’ serangkaian pertemuan tentang kehidupan dan pelayanan santo, terbuka untuk umum di Basilika Santo Petrus.

    Baca juga: Menemukan Kristus dengan Membaca Kembali Kehidupan Pribadi

    Proyek baru ini dipresentasikan pada hari Kamis di Kantor Pers Takhta Suci oleh Kardinal Gianfranco Ravasi, Presiden Emeritus dari mantan Dewan Kepausan untuk Kebudayaan dan pendiri Courtyard of the Gentiles, dan Kardinal Mauro Gambetti, Vicar General for His Holiness for Vatican City, Imam Agung Basilika Santo Petrus, dan Presiden Kain Santo Petrus.

    Serial ini terdiri dari empat pertemuan, dalam latar yang menggugah di Basilika Vatikan dan dengan format yang belum pernah terjadi sebelumnya dan asli, untuk menjelajahi kehidupan dan Pelayanan Rasul Petrus dalam sejarah, seni dan budaya.

    Proyek ini diorganisir oleh Basilica, Fratelli tutti Foundation dan Courtyard of the Gentiles.

    Santo Petrus, ‘sosok yang menarik dan kompleks’

    Selama Konferensi Pers hari Kamis, Kardinal Ravasi menekankan relevansi Santo Petrus saat ini.

    “Petrus adalah sosok yang menarik dan kompleks, juga diceritakan dalam Injil, dengan kelemahan dan kelemahannya. Kisahnya dipenuhi dengan momen-momen yang berbeda, kita hampir bisa menyebutnya ‘fase’, sama seperti yang mungkin dialami orang percaya hari ini: panggilan, krisis – yang mengakibatkan pengkhianatan – dan kemudian pertobatan dan rehabilitasi akhir.”

    (Peter is a fascinating and complex figure, also narrated in the Gospels, with his weaknesses and frailties. His story is studded with different moments, we could almost call them ‘phases’, the same that a believer might go through today: vocation, crisis – resulting in betrayal – and then conversion and final rehabilitation).

    Kardinal, yang baru berusia 80 tahun minggu ini menjelaskan bahwa Peter adalah “karakter yang agak modern,” yang layak untuk dieksplorasi secara mendalam dan relevan dengan zaman kontemporer.

    “Dia adalah seorang penengah antara Gereja-Gereja Yahudi-Kristen dan pagan dan, menurut Rasul Paulus, dia adalah saksi resmi pertama kebangkitan Kristus, yang berdampak tidak hanya pada iman dan tradisi Katolik.”

    Mencerahkan Gereja 

    Demikian pula, Kardinal Gambetti menggambarkan program itu bermanfaat.

    “Kami melihat para Rasul pertama dengan rasa syukur dan hormat,” dia merenungkan, “karena menyeberangi Laut Tengah dan tiba di Roma, di kota yang disebut penyair Tibullus ‘kekal,’ dan menjadi saksi cintanya kepada Yesus.”

    “Petrus,” lanjut Presiden Kain St. Petrus, “mengikuti Guru, menjadi seperti Dia dalam segala hal.”

    Baca juga: Uskup Agustinus Dukung Peresmian dan Dedikasi Gereja Mendalam

    Warisan ini, katanya, “diduplikasi dengan mulus oleh Tradisi Kerasulan sampai hari ini.”

    “In the light of Peter’s faith, we want to enlighten the face of ‘our’ Church and better understand the Way that the Magisterium points out to all peoples in this Third Millennium”, from the Second Vatican Council to Pope Francis.”

    “Dalam terang iman Petrus, kami ingin mencerahkan wajah Gereja ‘kami’ dan lebih memahami Jalan yang ditunjukkan Magisterium kepada semua orang di Milenium Ketiga ini”, dari Konsili Vatikan Kedua hingga Paus Fransiskus.”

    Berlanjut Part 2…

    Part 2: Slogan “Be a brother for all”

    Para saudara yang mengikuti retret tahunan gelombang I 2019- Sumber Foto https://www.ofmcappontianak.org/formasi/

    MajalahDUTA.Com, Sejarah- Slogan “Be a brother for all”  diharapkan semakin  menggema melalui cara hidup kapusin yang hari demi hari diarahkan kepada kekudusan dan pelayanan yang dilaksanakan dengan setia.

    Gema ini kiranya menjadi tawaran spritual dalam dunia milenial yang dengannya Ordo Saudara Dina Kapusin Pontianak mengambil bagian dalam misi Gereja universal yang menguduskan.

    Baca juga: Part 1: “KAPUSIN di Pontianak, (OFM Cap)”

    Gema ini diaharapkan membumi dalam setiap bentuk pelayanan para saudara Kapusin Pontianak yang melayani bidang parokial dan kategorial, baik milik ordo maupun keuskupan di mana para saudara Kapusin hadir.

    1. Keuskupan Agung Pontianak

    Parokial:

      • Paroki Gembala Baik Pontianak
      • Paroki St. Sesilia Pontianak
      • Paroki St. Theresia Delta Kapuas-Kubu Raya
      • Paroki St. Fransiskus Assisi Singkawang
      • Paroki St. Maria Nyarumkop
      • Paroki Kristus Raja Paroki Sambas
      • Paroki St. Petrus Sanggau Ledo
      • Paroki St. Mikhael Jagoi Babang
      • Paroki Salib Suci Ngabang
      • Paroki St. Yohanes Pemandi Pahauman

    Kategorial:

      • Rumah Retret St. Fransiskus Tirta Ria Pontianak
      • Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) dan Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC).
      • Konservasi Alam Rumah Pelangi, Gunung Banuah
      • Yayasan Pendidikan Maniamas Ngabang (TK hingga SMA Maniamas)
      • Yayasan Gembala Baik Pontianak (TK hingga SMA Gembala Baik)
      • Yayasan Widya Dharma Pontianak (Universitas)
      • Yayasan Sabatu Pontianak (Pusat Rehabilitasi Orang Cacat)
      • Yayasan Santo Joseph Pontianak (Keuskupan Agung Pontianak)
      • Persekolahan Katolik Nyarumkop (Keuskupan Agung Pontianak)
      • Sekolah tinggi Teologi (STT) Pastor Bonus Siantan (Uskup se- Kalimantan)
      • Rumah Sakit St. Antonius Pontianak (Keuskupan Agung Pontianak)
    1. Keuskupan Sanggau

    Parokial:

      • Paroki St. Maria Tak Bernoda Pusat Damai
      • Paroki St. Maria Diangkat Ke Surga Jangkang/Balai Sebut
      • Paroki Gembala Yang Baik Kuala Dua
      • Paroki St. Paulus Rasul Sekayam/Balai Karangan

    Kategorial:

      • Rumah Retret Laverna Sanggau Kapuas
      • Yayasan Pendidikan Helvetia Sanggau Kapuas (SMP Don Bosco dan SMA Soegiopranoto)

    3. Keuskupan Sintang

    Parokial:

    Paroki St. Dismas Lanjak/ Putussibau

    Kategorial: Biara Gubbio Bejabang/Putussibau (Pelayanan Spritual untuk OSCCap)

    1. Keuskupan Palangka Raya

    Parokial:

      • Paroki Raja Semesta Alam Nanga Bulik
      • Paroki St. Paulus Pangkalan Bun

    5. Keuskupan Agung Jakarta

    Parokial:

    Paroki St. Fransiskus Asisi Tebet, Jakarta Selatan

    Kategorial:

    Yayasan St. Fransiskus Asisi Tebet, Jakarta Selatan

    1. Keuskupan Agung Medan

    Kategorial:

    • Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi St. Yohanes, Pematangsiantar.

    Di Indonesia, mayoritas suadara Kapusin Pontianak melayani di wilayah Keuskupan Agung Pontianak. Selain di Indonesia, Kapusin Pontianak ambil bagian juga dalam misi Ordo dan Gereja yang lebih luas yakni di Tiongkok, Timor L’este, Malaysia, Australia, Selandia Baru, dan Italia. Ini termasuk bagian tak terpisahkan dari kehadiran Ordo Kapusin (OFMCap: Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum) internasional yang melayani sesama di 110 negara.

    Yang berminat bergabung dengan Ordo Kapusin, silahkan menghubungi:

    Provinsialat ORDO KAPUSIN PONTIANAK Provinsi St. Maria Ratu Para Malaikat, Jl. Adisucipto Km 9,6 – Tirta Ria – Kubu Raya, Kotak Pos 6300 PONTIANAK 78391 Kalimantan Barat Indonesia.

    Phone: 0561-722430

    E-mail: kapusin.pontianak@kapusin.org

    Site: https://www.ofmcappontianak.org/

     

    Part 1: “KAPUSIN di Pontianak, (OFM Cap)”

    Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Sejarah- Kehadiran Ordo Saudara-saudara Dina Kapusin selama lebih dari satu abad di Indonesia, secara khusus di bumi Kalimantan ini bukanlah waktu yang singkat. Kenyataan ini menghantar para saudara kapusin Provinsi Pontianak kepada ucapan syukur dan terimakasih kepada Allah, yang menyelenggarakan karya agung-Nya, lewat para misionaris awal, para waligereja di mana para saudara kapusin Provinsi Pontianak berkarya.

    Ordo Kapusin masuk Indonesia melalui para misionaris Kapusin dari Belanda, Swis dan Jerman (untuk Nias dan Sibolga).

    Pada 10 Oktober 1905, setelah Prefek Apostolik Pasifikus Bos dengan 5 Kapusin asal Negeri Belanda mengadakan perpisahan dengan umat setempat, mereka meninggalkan Tilburg melalui Paris ke Marseille.

    Baca juga: Doa Pembawa Damai- Santo Fransiskus Dari Asissi

    Kemudian, menuju Singapura dengan kapal laut Perancis. Pada tanggal 30 November 1905 enam Kapusin asal Belanda (Pacificus J. Bos, Eugenius, Beatus, Carmillus, Wilhelmus, Theodoricus) menginjakkan kaki di Singkawang.

    Mereka disambut umat Katolik Tionghoa Setempat. Rumah sakit, sekolah, kebun dan karya sosial kemanusiaan mereka galakkan. Buah-buah karya kemanusiaan dapat dinikmati oleh masyarakat Kalimantan Barat dewasa ini.

    Awalnya 300-an Umat Katolik

    Kedatangan para Kapusin pertama menoreh lembaran sejarah baru di tanah Kalimantan. Sekitar 300-an umat katolik mendapat pelayanan pastoral.

    Dengan bantuan seorang guru agama Katolik, yang sekaligus berperan sebagai juru bahasa, Tshang A Kang, pindahan Penang, mereka mulai mengunjungi umat di daerah Singkawang, Hoklonam, Nyarumkop, Samalantan dan sekitarnya.

    Mereka mula-mula bergerak di bidang agama. Kemudian menembus dunia pendidikan umum. Persekolahan Katolik Nyarumkop termasuk salah satu warisan berharga misionaris Kapusin.

    Baca juga: Menemukan Kristus dengan Membaca Kembali Kehidupan Pribadi

    Sistem pendidikan yang menyatukan wujud pendidikan formal dan nonformal ternyata mendatangkan dampak positif bagi anakanak didik jebolan Nyarumkop. Asrama berpengaruh bagi pembinaan kepribadian anak didik. Dalam asrama diperkenalkan tata tertib dan disiplin tinggi.

    Hasil didikan asrama tampak dari munculnya tokohtokoh masyarakat dalam bidang keagamaan maupun pemerintahan. Hingga kini mereka masih menekuni bidang pelayanan di asrama, seperti di Nyarumkop, Pahauman, Ngabang, Pusat Damai dan Sanggau.

    Ketika stasi (paroki) Pontianak dibuka pada tahun 1909, pusat pelayanan dan tempat tinggal Prefek pun dipindahkan ke Pontianak pada tahun yang sama.

    Dongkrak Kekuatan Kapusin

    Misionaris Kapusin tidak hanya memusatkan perhatian dan pelayanan di kawasan pantai, tapi tak lama kemudian mereka mengincar daerah Pelanjau sebagai pangkalan untuk pelayanan karya misi di daerah pedalaman.

    Rencana ini gagal sehingga mereka membidik Sejiram (Keuskupan Sintang) sebagai kawasan pengembangan karya misi Gereja. Segera mereka mengembangkan hidup sosial ekonomi masyarakat dan memperkenalkan dunia pendidikan formal. Mesin penggiling karet didatangkan dari Belanda Sekolah dibuka.

    Tenaga-tenaga pengajar diusahakan walaupun masih sangat terbatas. Dongkrakan kuat Kapusin dalam bidang-bidang tersebut ternyata mendatangkan perubahan dan perbaikan sosial.

    Baca juga: Pastor Luigi Maria Epicoco: Dua hal yang harus dilakukan setiap murid

    Mereka tidak hanya berhenti di Sejiram, tapi juga merambah tanah Kalimantan hingga ke kawasan Lanjak, Benua Martinus dan bahkan sampai di Laham (Kalimantan Timur). Semangat dasar sebagai perantau Fransiskan sangat terasa.

    Kedatangan mereka diterima dengan baik karena kemampuan mereka menyesuaikan diri dengan masyarakat dan budaya lokal. Daya adaptasi para misionaris pantas dikagumi dan semangat kerasulan mereka menyentuh hati banyak orang.

    Sejak awal Kapusin mencari keseimbangan dalam pelayanan bagi umat Katolik yang tersebar di kawasan kota dan pedalaman. Metode pelayanan ‘ disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.

    Kerasulan dalam masyarakat

    Jenis kerasulan yang ditangani Kapusin waktu itu adalah mengunjungi masyarakat yang tersebar dari kawasan kota dan daerah.

    Di samping  menjalankan pastoral di paroki, misionaris Kapusin juga mendirikan sekolah-sekolah, seperti sekolah formal (Nyarumkop — 1907, Sekolah Pertukangan di Singkawang dan Pontianak, serta Sekolah Pertanian di Nyarumkop).

    Selain itu, mereka juga mendirikan asrama sebagai tempat tinggal anak-anak yang ingin menuntut ilmu di sekolah. Seminari Menengah dimulai di Pontianak. Kemudian, dipindahkan ke Nyarumkop pada tahun 1949.

    Baca juga: Jenazah Para Kudus yang Tidak Rusak

    Pada waktu itu, anak-anak seminari diwajibkan tinggal di asrama dengan jadwal hidup yang menolong mereka menjadi seorang imam. Perhatian bagi orang-orang sakit juga besar.

    Mereka ikut mendirikan klinik dan rumah sakit untuk menjawab kebutuhan masyarakat setempat. Ketika misionaris Belanda sulit memasuki Indonesia (karena masalah Irian Jaya), didatangkanlah misionaris asal Swiss yang juga berkarya dalam bidang pelayanan rohani umat, sekolah, rumah retret dan karya sosial. Sampai saat ini, mereka masih meneruskan pelayanan yang dapat mereka lakukan di tengahtengah umat.

    Kerjasama baik dengan umat

    Pada Februari 1994, berdirilah Provinsi Kapusin Pontianak. Sebagian dari anggota provinsi baru ini masih menjalani pendidikan.

    Sampai sekarang, Kapusin di Kalimantan masih menangani kerasulan parokial, pendidikan formal, serta karya kategorial yang menjunjung keadilan, kedamaian, dan keutuhan Ciptaan (Justice, Peace and Integrity of Creation).

    Kerja sama yang baik dengan umat sangat terasa sehingga cita-cita meningkatkan hidup rohani dapat diwujudkan tahap per tahap.

    Kapusin hadir untuk melayani dan menolong mereka yang memerlukan pertolongan. Kesediaan untuk memajukan kehidupan menggereja menjadi salah satu ciri hidup fransiskan.

    Disamping itu, tanpa melupakan cita-cita dasar hidup panggilan fransiskan-kapusin, setiap saudara perlu terus-menerus membenahi dan mengembangkan diri secara profesional dalam menanggapi dan menjawab tanda-tanda zaman.

    Bagaimanakah Kapusin dapat hidup dan berkembang di tengah keadaan zaman yang berubah dengan Kiprah para misionaris awal menjadi pijakan bagi para kapusin masa sekarang untuk terus 1 berupaya menerjemahkan karisma kekapusinan dalam era milenial ini.

    Lanjut Part 2….

    Makna Logo Kongregasi Fransiskanes Sambas

    Logo KFS- Kongregasi Fransiskanes Sambas

    MajalahDUTA.Com, Spritualitas- Sebagian orang mungkin tak asing dengan Suster-suster Kongregasi Frasiskanes Sambas atau disingkat KFS. Nama Belanda KFS ini disebut Peniten Rekolektinen yang didirikan Mere Marie Joseph Etten Leur, 19 Maret 1820.

    Pada tahun 1924 kongregasi di Belanda mengutus enam suster misionarisnya yang pertama ke Indonesia (Hindia Belanda pada waktu itu), yaitu Muder Sophie, Sr. Leontine, Sr. Elizabeth, Sr. Rosa, Sr. Eudoxia dan Sr. Aguina.

    Keenam orang suster misionaris ini adalah para perintis atau pelopor untuk perkembangan selanjutnya dari kongregasi ini.

    Baca juga: Secuplik Tentang Kongregasi Fransiskanes Sambas (KFS)

    Kongregasi ini di Indonesia berpusat di Sambas, Kalimantan Barat. Itulah memang tempat tinggal mereka yang pertama ketika menginjakkan kaki di bumi Indonesia.

    Logo Sekarang yang digunakan merupakan logo yang dipakai oleh Kongregasi Fransiskanes Sambas (KFS). Mari kita tilik lebih dalam apa makna logo tersebut.

    Makna Logo:

    1. Roh Kudus : KFS berkarya sesuai dengan tuntunan dan bimbingan Roh Kudus sehingga seluruh karya dikuduskan dan menjadi pujian serta kemuliaan bagi Tuhan.\

    2. Kitab Suci : Pola hidup Ordo ketiga Regular St.Fransiskus Assisi ialah menepati Injil suci Tuhan kita Yesus Kristus, dengan hidup dalam ketaatan, dalam kemiskinan dan kemurnian.

    3. Lingkaran atau bulatan pada Salib TAU melambangkan dunia tempat para suster KFS berkarya melayani.

    4. TAU : Lambang Hidup Pertobatan
    : Tidak boleh bermegah-megah atas, Apa yang dimiliki selain salib Tuhan, kita Yesus Kristus (Gal 4 : 16)

    5. Pelita yang bernyala: Semangat doa dan Karya yang berkobar-kobar dengan menggunakan hati dan budi untuk mempertimbangkan segala sesuatu dengan baik dan menjadikan seorang Biarawati lebih bijaksana

    6. Maria Bunda Allah: Pelindung KFS.

    Doa Cinta

    Doa Cinta- Komisi Komunikasi Sosial Keuskuapan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, DOA- Ada yang putus Cinta? Yuk doakan ini dalam keseharian hidup mu..

    (Tanda Salib Pembuka)- Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin…

    Tuhan, asal segala cinta, aku mencintai Engkau/ lebih dari segala sesuatu/ dan dengan segenap hatiku/ sebab Engkau mahabaik dan pantas dicintai.

    Karena cinta akan Dikau,/ maka aku pun cinta akan semua orang,/ sebagaimana aku cinta akan diriku . gendiri./ Tuhan, tambahlah selalu cintaku.

    Bapa Kami ….
    Salam Maria 3x…

    (Tanda Salib Penutup)- Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin…

    Doa Pengharapan

    Doa Pengharapan-Dokumen Foto Uskup Agustinus bersama anak-anak Papua

    MajalahDUTA.Com, DOA- Mungkin kita pernah kecewa dengan orang, bahkan apa yang kita lakukan tampaknya tidak membuahkan hasil atas perubahan dalam hidup.

    Untuk itu mari kita berdoa dengan doa ini untuk lebih kuat dalam pengharapan …

    (Tanda Salib Pembuka)- Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin…

    Tuhan yang mahamurah,/ karena jasa Yesus Kristus,/ aku mengharap menerima dari padaMu,/ bahagia kekal,/ serta semua rahmat yang perlu untuk menerimanya./

    Aku mengharap semuanya itu dengan harapan penuh,/ sebab yang berjanji Engkau sendiri Tuhan yang Mahakuasa,/ Mahamurah untuk kami dan setia pada janjiMu./

    Tuhan, kuatkanlah pengharapanku!.

    Bapa Kami ….
    Salam Maria 3x…

    (Tanda Salib Penutup)- Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin…

    TERBARU

    TERPOPULER