Saturday, May 2, 2026
More
    Home Blog Page 63

    Evaluasi Pasca Akreditasi Prodi Kebidanan DIII Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo

    Monitoring dan Evaluasi Falkutas Kebidanan DII Kampus II Pontianak. (2024)

    MajalahDUTA.Com- Pontianak, Jumat, 7 Juni 2024 – Hari Ini, Prodi DIII Kebidanan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo menggelar kegiatan Monitoring dan Evaluasi Pasca Akreditasi Tahun 2021. Acara ini bertujuan untuk mengevaluasi kemajuan dan penerapan rekomendasi dari proses akreditasi sebelumnya, sebagai persiapan untuk reakreditasi yang akan datang pada tahun 2027.

    Kegiatan yang dihadiri oleh seluruh Dosen Prodi DIII Kebidanan serta sejumlah pimpinan universitas, seperti WR Umum, WR I, WR II, WR III, LPPM, HRD, BPM, dan Tendik, berlangsung dengan lancar di bawah bimbingan Anggrita Sari sebagai asesor.

    Sebagai Ketua Program Studi DIII Kebidanan, Intanwati, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada semua pihak yang terlibat, terutama kepada Ibu Anggrita Sari atas kontribusi positifnya dalam pengembangan program studi ini. Dia juga mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan dari semua elemen universitas yang telah mendukung kelancaran kegiatan Monitoring dan Evaluasi ini.

    Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Kesehatan, Agnes, menyebutkan bahwa universitas mengalami perubahan signifikan dengan penyatuan tiga fakultas menjadi satu kesatuan, yaitu Falkutas Keguruan, Falkutas Kesehatan, dan Falkutas Teknik. Hal ini menjadi landasan bagi sinergi yang kuat dalam pengelolaan dan pengembangan program studi, termasuk Prodi DIII Kebidanan.

    Kaprodi Prodi DIII Kebidanan, Intan, juga memberikan gambaran mengenai kemajuan yang telah dicapai, seperti pengembangan kurikulum baru, peningkatan fasilitas kampus, dan kolaborasi internasional yang semakin luas. Dia menyebutkan bahwa prodi ini telah menghasilkan lulusan yang siap bersaing di tingkat nasional dan internasional dalam pelayanan kesehatan holistik.

    Di akhir acara, visi Falkutas Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo untuk menghasilkan lulusan unggul berdasarkan Tradisi Intelektual Dominican yang diterangi iman Kristiani, menjelang tahun 2027, menjadi sorotan utama sebagai komitmen universitas untuk masa depan yang lebih baik.

    Kegiatan Monitoring dan Evaluasi Pasca Akreditasi ini diharapkan dapat menjadi pijakan yang kokoh bagi perbaikan terus-menerus dan persiapan yang matang dalam menghadapi tantangan reakreditasi mendatang.

    “Hal ini menjadi sebuah pencapaian dan stimulus yang baik bagi langkah kami dalam mempersiapkan Reakreditasi mendatang,” kata Intan.

    Dalam kesempatan itu juga, sebagai wakil Rektor Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kunto menyampaikan tentang gambaran umum penggabungan dari 3 Falkutas di UNIKA San Agustin, dia menjelaskan adanya rencana strategis, untuk jangka Panjang yang berkelanjutan.

    “Kami berharap dengan progres ini bisa bersama-sama membangun dan memberikan dampak yang besar untuk Kalimantan Barat pada umumnya,” ujar Kunto.

    Kegiatan ini dilakukan dengan pola zoom bersama asesor dan bagi tim Falkutas Kesehatan mereka menggunakan ruang studio Media Center UNIKA San Agustin Kampus II Pontianak. Selanjutnya ditutup dengan foto bersama.

    By. Sam – Media Center San Agustin
    Sumber: Liputan Kampus

    Rekoleksi “Panggilan Menuju Kekudusan” Menguatkan Komitmen Para Pimpinan Umat di Paroki Darit

    Foto: Suasana dokumentasi peserta rekoleksi di Paroki Darit. (2024).

    MAJALAHDUTA.COM, DARIT, Selasa 21/5/2024 – Aula Paroki Santo Agustinus dan Matias Darit menjadi saksi keseriusan para pimpinan umat dalam menjalani perjalanan rohani mereka. Sebanyak 26 peserta yang terdiri dari pengurus umat dari berbagai Stasi serta pengurus lingkungan dari Pusat Paroki Darit telah mengikuti dengan penuh antusiasme rekoleksi yang bertajuk “Panggilan Menuju Kekudusan”.

    Kegiatan yang dipandu oleh Pastor Paroki, Pastor Hengki Ponamon MSC, menggugah kesadaran akan pentingnya mencari kekudusan dalam kehidupan sehari-hari. “Kita semua bisa dan berhak untuk menjadi orang kudus, karena bukan hanya kaum religius dan imam saja yang bisa menjadi orang kudus melainkan kita semua yang menjadi pengikut Kristus,” ungkap Pastor Hengki.

    Dalam rekoleksi ini, tema tersebut tidak hanya menjadi bahan renungan, tetapi juga menjadi panggilan untuk mengubah perilaku sehari-hari. Pastor Paroki menekankan bahwa proses menuju kekudusan adalah sebuah perjalanan panjang yang memerlukan ketekunan dan komitmen. “Proses ini diibaratkan seperti sepotong besi yang ditempa dan dibakar untuk menghasilkan parang yang berkualitas baik,” tambahnya.

    Selain itu, pertemuan tersebut juga menekankan pentingnya nilai-nilai seperti kepedulian terhadap sesama, pemberian pengampunan, kegiatan amal, serta pengakuan dosa sebagai bagian dari hukum cinta kasih. Pastor Paroki berharap bahwa dengan memperhatikan nilai-nilai tersebut, para pimpinan umat dapat menjadi teladan yang baik di tengah-tengah masyarakat.

    Komitmen untuk terus meningkatkan pemahaman akan kekudusan ini juga tercermin dari harapan Pastor Paroki untuk mengadakan rekoleksi semacam ini dengan frekuensi dan durasi yang lebih sering. Dengan demikian, diharapkan para Pengurus Lingkungan dan Stasi dapat tumbuh menjadi pewarta Sabda yang handal di tengah umat.

    Rekoleksi “Panggilan Menuju Kekudusan” tidak hanya menjadi momen refleksi bagi para peserta, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkokoh komitmen dalam menjalani hidup beragama secara lebih mendalam.

    By. Samuel- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak 
    Sumber: Rino – Umat Paroki Darit

    Misa Perdana RD. Andrianus di Stasi St. Yohanes Taum

    MAJALAHDUTA.COM – Taum, Kamis (23/5/2024) diadakan Misa Perdana RD. Andrianus Antonius Budi, satu di antara 5 imam baru diosesan Keuskupan Agung Pontianak yang ditahbiskan pada 7 Februari 2024 lalu di Nyarumkop.

    Perayaan ekarsiti yang dimulai pukul 09.30 WIB ini berlangsung hikmat di halaman depan gereja Stasi Santo Yohanes Stasi di Dusun Taum, Desa Sinar Tebudak, Kecamatan Tujuh Belas, Kabupaten bengkayang, Paroki Sanggau Ledo Keuskupan Agung Pontianak.

    kelompok Drum Band mengiringi perarakan rombongan Uskup menuju gerbang gereja (23/5/2024)

    Sebelum memasuki halaman gereja, Uskup, para imam, dan para tamu undangan mengikuti proses perarakan dari kediaman RD. Andrianus menuju pintu gerbang masuk halaman gereja. Sesampai di depan gerbang, rombongan disambut dengan uparaca adat, dan Mgr. Agus didaulat untuk memotong bambu sebelum memasuki area gereja. Selanjutnya rombongan Uskup diarak masuk dengan tarian tradisional sampai di depan altar.

    Para frater yang juga hadir dalam misa perdana (23/5/2024)

    Uskup Agus dalam kata pembuka mengawali misa mengucapkan terima kasih atas dukungan umat untuk para imam baru, khususnya lagi bagi keluarga yang telah merestui anaknya untuk menjadi seorang imam. Dukungan ini tentunnya menjadi pemicu bagi imam dalam melayani umat.

    “Misa Perdana ini menjadi titik awal dimulainya kerjasama yang baik  antara para imam dan umat. Berjalan bersama-sama membangun Gereja lokal di wilayah pelayanan Keuskupan Agung Pontianak,’ tandas Uskup Agus.

     

    Pemotongan bambu oleh Uskup Agustinus Agus sebelum memasuki area gereja (23/5/2024)

    Kata uskup Agus, kerjasama ini harus menjadi semangat dasar pelayanan para imam baru agar pelayanan kasih bagi semua dan sesama dapat berjalan lancar.

    Dikesempatan memberikan sambutan, RD. Andrianus mengatakan bahwa menjadi pastor bukanlah perjalanan mudah. Tantangan bisa datang dari mana saja. Dukungan keluarga pun tak kalah pentingnya.

    Uskup Agus dan Imam Baru, RD. Andrianus menuju ke lokasi misa (23/5/2024)

    “Saya sangat bersyukur keluarga (orang tua dan saudara-saudara) sangat mendukung, terutama dalam menanggapi panggilan menjadi seorang imam. Tanpa dukungan yang begitu besar dari keluarga, mungkin saya tidak bisa berdiri di sini sebagai seorang pastor,” ucap RD. Andrianus dengan terbata-bata karena haru sambil berlinang air mata mengenang pengorbanan dan dukungan dari orang tua dan saudara-saudaranya.

    Sementara Bupati Bengkayang dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekda menyampaikan selamat kepada RD. Andrinaus Antonius Budi yang telah ditahbiskan sebagai seorang imam.

    RD. Andrianus Antonius Budi memimpin misa (23/5/2024)

    “Kebanggaan ini juga turut dirasakan oleh Pemerintah, oleh karena bertambah lagi salah satu putra daerah Bengkayang yang boleh membantu kami di dalam melakukan pembinaan dan tuntunan secara spiritual dan rohani terhadap warga masyarakat terlebih khusus bagi umat Katolik yang berada di Kabupaten Bengkayang,” kata Bupati.

    Empat Imam Baru yang hadir menerima bingkisan dari umat (23/5/2024)

    Hadir dalam Misa Perdana ini, Mgr. Agustinus Agus, ketiga imam baru (RD. Johanes, RD. Ardi, dan RD. Martin), sejumlah imam-imam diosesan Keuskupan Agung Pontianak, Pastor Paroki Sanggau Ledo RP. Heribertus, OFMCap, Pastor Rekan RP. Rusli, OFMCap, Bupati Bengkayang yang diwakili oleh Sekda Kabupaten Bengkayang Yustianus, SE.,M.M., Danlanud Harry Hadisoemantri, anggota DPRD Provinsi Kalbar, Kapolsek Sanggau Ledo dan Tujuh Belas, Kades Sinar Tebudak, Forkopimcam Kecamatan Tujuh Belas, Anggota DPRD terpilih Provinsi Kalbar, para suster, frater, dan tokoh agama, takoh adat dam umat.

    Usai misa, semua yang hadir diajak untuk santap siang bersama. Menu makanan disajikan dari swadaya umat lingkungan-lingkungan terdekat. Kemeriahan pecah saat Mgr. Agus membuka sesi ramah-tamah dengan beberapa lagu bersama musik komsos KAP.

    PM

    Hari Raya Tritunggal Maha Kudus, 77 Lektor Paroki Katedral Pontianak Dilantik

    MAJALAHDUTA.COM –  Pada Hari Raya Tritunggal Maha Kudus, 26 Mei 2024, di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak 77 orang lektor dilantik oleh Pastor Paroki RD. Alexius Alex.

    Pelantikan ini dilakukan dalam Misa III yang dimulai pukul 08.30 WIB, menandai langkah penting dalam membangun komunitas lektor yang kuat dan berkualitas.

    Foto satu dari sekian banyak lektor yang dilantik (26/5/2024)

    Seleksi calon Lektor Paroki Katedral Santo Yosef sendiri diikut oleh peserta sebanyak 160 orang dan hanya dipilih 77 orang melalui beberapa tahapan seleksi serta pembekalan yang dilakukan sejak bulan Maret lalu.

    Lektor yang terpilih sendiri berasal dari Paroki Katedal, beberapa paroki lain di Dekanat Pontianak Raya bahkan dari Keuskupan lain.

    “Lektor yang berasal dari Paroki Katedral sebanyak kurang lebih dua puluhan, sisanya dari paroki lain di Dekanat Pontianak Raya, ada juga dari luar Kota Pontianak bahkan dari Keuskupan lain.” Ucap Pastor Alex.

    RD. Alexius Alex memberkati para lektor yang telah dilantik (26/5/2024)

    Pastor Alex mengatakan bahwa hal ini menarik karena para Lektor yang terpilih mau secara rendah hati melayani umat tanpa memandang asal dan latar belakang.

    Pastor Alex menjelaskan bahwa sebuah Gereja Katedral disebut Katedral bukan karena megah dan luasnya gereja tersebut, melainkan karena terdapat tahta uskup yang menjadikannya berbeda dengan gereja paroki lainnya di sebuah keuskupan. Dalam bahasa Latin, katedral disebut juga sebagai Mater Ecclesia yang berarti induk gereja.

    “Inilah induk Gereja Keuskupan Agung Pontianak, maka bukan hanya umat Paroki Katedral yang sembahyang dan melayani di sini, tetapi seluruh umat di wilayah Keuskupan Agung Pontianak boleh” tambah Pastor Alex.

    Para Lektor yang terpilih nantinya akan melayani dengan periode bakti tahun 2024 hingga 2027 atau selama tiga tahun kedepan.

    Para lektor yang dilantik (26/5/2024)

    Menurut Pastor Alex, pentingnya peran lektor dalam membacakan firman Tuhan selain Injil dan membantu umat untuk mendengarkan firman Tuhan dengan baik. Kata Pastor Alex, menjadi lektor bukan hanya tentang membaca, tetapi juga tentang memahami dan meresapi makna yang terkandung dalam Kitab Suci. Dengan demikian seorang lektor bukanlah orang-orang yang dipilih secara acak namun telah melalui proses persiapan.

    RD. Alexius Alex menyerahkan Kitab Suci kepada lektor yang bertugas pada hari Minggu, 26/5/2024

    Oleh karena itu, lanjut Pastor Alex, setiap orang beriman memiliki tugas dalam mewartakan sabda Allah sehingga di dalam pelantikan ini tidak memberikan peran istimewa kepada mereka yang dilantik, tetapi sekedar meneguhkan pelayanan yang telah dilakukan dengan baik.

    “Maka siapapun yang dipilih menjadi petugas liturgi harus siap dituntut untuk bertugas dengan benar, karena liturgi di Gereja Katolik itu selain sakral juga indah, tertata, anggun, dan tidak sembarangan” ucap Pastor Alex sebelum menutup misa dengan doa berkat.

    Rio – Komsos Katedral Pontianak (editor: PM)

    Hari Raya Pentakosta, 564 Umat Katolik Terima Sakramen Krisma di Katedral Pontianak

    MAJALAHDUTA.COM – Pontianak, Minggu (19/5/2024) bertepatan dengan Hari Raya Pentakosta, Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus berkenan menerimakan Sakramen Krisma kepada 564 umat yang berasal dari Paroki Katedral Santo Yosef Pontianak, dan Pastoral Mahasiswa.

    Misa penerimaan Sakramen Krisma ini dijadwalkan khusus oleh pihak gereja, yaitu pukul 11.00 WIB, dan disiarkan juga secara live streaming melalui channel youtube Paroki Katedral Pontianak.

    564 calon krisma, gabungan dari umat Paroki Katedral, dan Pastoral Mahasiswa (19/5/2024)

    Hadir mendampingi Bapak Uskup dalam perayaan ekaristi, RD. Alexius Alex, RP. Edmund Nantes, OP, RP. Gregorius Kukuh Nugroho, CM, dan RD. Serafikus Suwarno.

    Dalam kata pembuka, Uskup Agus mengatakan  Pentakosta artinya hari yang ke 50, dihitung dari Hari Raya Paskah. Bagi orang Yahudi, Pentakosta adalah hari raya pesta syukur atas panen.

    “Sama juga seperti kita di sini, merayakan gawai, naik dango, dan sebagainya”, tandas Uskup Agus.

    Penerimaan Sakramen Krisma oleh Uskup Agus (19/5/2024)

    Kata Uskup Agus, sekarang kita merayakan Pestakosta untuk mengenangkan peristiwa turunnya roh kudus atas para rasul. Turunnya roh kudus itu ditandai dengan angin ribut, angin kencang, dan turunnya lidah-lidah api.

    Lebih lanjut, Uskup Agus mengatakan, hembusan angin selalu melambangkan semangat, kehidupan. Dengan adanya hembusan angin, dan diterangi oleh lidah-lidah api, para rasul yang sebelumya takut, yang sebelumnya tidak berani mengakui Yesus sebagai penyelamat, dan yang selalu bersembunyi, takut ditangkap, sekarang menjadi berani.

    Urapan Minyak Krisma di dahi, dan tamparan halus di pipi kiri oleh Uskup Agus ke tiap calon krisma (19/5/2024)

    “Sejak peristiwa Pentakosta para rasul menjadi berani tampil mewartakan Yesus. Ibarat diutus secara khusus, apa pun resikonya. Dan sejak itu mereka menyadari bahwa pengikut-pengikut Yesus harus bersekutu, bersatu, satu dengan yang lain,” ujar Uskup Agus

    Oleh karena itu, lanjut Uskup Agus, Hari Raya Pentakosta untuk kita juga merupkan hari lahirnya gereja. Karena sebelumnya, sampai dengan hari Pentakosta, tidak ada kegiatan apa-apa dari para rasul. Dan baru setelah peristiwa Pentakosta para rasul bersekutu dengan yang lain untuk mewartakan Injil.

    Koor yang menyemarakan peerayaan ekaristi (19/5/2024)

    “Hari ini diterimakannya Sakramen Krisma kepada 564 umat yang berasal dari berbagai daerah di kalimantan Barat, menandakan bahwa Gereja menyatukan berbagai suku, dan bahasa,” tandas Uskup Agus.

    Menurut Uskup Agus, penerimaan Sakramen Krisma menunjukan bahwa kita mengakui, kalau kita ini manusia lemah, dan tidak mungkin bisa mengatasi kesulitan hidup dengan kekuatan sendiri, tanpa campur tangan Tuhan. Sama seperti para rasul yang baru berani mengakui Tuhan sebagai Juruselamat, setelah Tuhan campur tangan dalam hidup mereka melalui peristiwa Pentakosta.

    Komuni Kudus (19/5/2024)

    “Hari ini kalian akan diurapi dengan minyak krisma. Semoga dengan menerima Sakramen Krisma, iman kalian semakin dikuatkan, dan berani bersaksi tentang Yesus dalam hidup keseharian di keluarga, dan di tengah masyarakat,” ujar Uskup Agus.

    PM

    Pembinaan Keluarga Katolik Se-Kota Singkawang 2024

    MAJALAHDUTA.COM – Singkawang, (18/5/24)  bertempat di Resort Bukit Batu Singkawang, telah dilangsungkan kegiatan Pembinaan Keluarga Katolik Se- Kota Singkawang.

    Kegiatan ini difasilitasi oleh Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik  Kementerian Agama (Kemenag) Kota Singkawang. Sebanyak 44 pasangan (suami/istri) hadir dalam kegiatan ini.

    Panitia mengemas pembinaan ini dalam bentuk rekoleksi. Tema yang diusung : “Menjadi Keluarga Katolik Sejati Berbagi Iman, Cinta, dan Harapan”.

    Menurut Elisabet Eli Yohanis selaku Penyelenggara Bimas Katolik Kemenag Kota Singkawang, rekoleksi pembinaan keluarga Katolik merupakan agenda rutin tiap tahunnya dengan mementingkan pada arti dan makna perkawinan Katolik sejati.

    “Melalui rekoleksi ini diharapkan para pasangan Katolik memiliki kesetaraan pandangan (terutama dalam status, hak dan kesempatan) dalam hidup berumah tangga dengan berbagai masalah yang menyertainya”, ungkap Elisabet.

    Selain itu, kegiatan juga dimaksudkan untuk memberikan pemahaman dan pembinaan kepada keluarga Katolik dalam memperkokoh dan memperdalam iman, cinta, dan harapan dalam kehidupan sehari-hari.

    Dengan demikian diharapkan keluarga Katolik dapat menjadi tulang punggung dalam membangun fondasi yang kuat bagi kehidupan beriman dan kerukunan di tengah tantangan zaman yang terus berkembang.

    Keluarga adalah tempat menabur benih iman, cinta, dan harapan. Dengan memilih hidup berkeluarga, berarti wajib menghadapi segala konsekuensinya.

    Tentunya bimbingan keluarga Katolik ini memberikan wawasan dan panduan praktis, memperkuat ikatan keluarga menghadapi segala macam persoalan yang mungkin muncul dalam keluarga.

    Rekoleksi ini menghadirkan beberapa narasumber seperti Pastor Damian Doraman, OFM Cap, Pastor Frederick Samsir,  OFM Cap,  Aji Prayoga, dan Susana Suryati.

    Andreas Oyent (editor : PM)

    Peletakan Batu Pertama Pembangunan Aula Paroki Sta. Sesilia Pontianak

    MAJALAHDUTA.COM – Pontianak, Sabtu (18/5/2024) telah dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan aula paroki Santa (Sta) Sesilia Pontianak yang terletak di Jalan A. Yani (komplek Persekolahan Gembala Baik).

    Mesti cuaca mendung dan akhirnya turun rintik-rintik hujan di lokasi, tetapi tidak menyurutkan niat setiap orang yang hadir mendukung rencana pembangunan aula, dan mewujudkan keinginan untuk  memiliki aula yang menunjang segala aktivitas pelayanan di paroki Sta. Sesilia.

    Mgr. Agus, memimpin ibadat singkat peletakan batu pertama pembangunan aula paroki Sta. Sesilia Pontianak (18/5/2024)

    Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus berkenan memimpin ibadat singkat peletakan batu pertama. Hadir mendampingi dalam ibadat ini, Minister Provinsial Kapusin Provinsi Pontianak, RP. Faustus Bagara, OFMCap, Pastor Kepala Paroki Sta. Sesilia, RP. Fransiskus Yosnianto, OFMCap, Penggagas pembangunan aula, RP. Andreas Harmoko, OFMCap, RP. Athanasius Nandung, OFMCap.

    “Kita dapat belajar dari bacaan yang baru saja kita dengar hari ini, perumpamaan Yesus tentang membangun rumah di atas pasir dan di atas batu,” ujar Uskup Agus memulai renungannya.

    Tapi bagus juga simbol batu dan pasir, lanjut Uskup Agus. Pasir tidak ada gunanya kalau hanya sebagai pasir. Tapi semen tanpa pasir, juga tidak berguna. Besi sangat kuat, tapi tidak lekat kalau tidak ada pasir dan semen, juga tidak ada gunanya. Intinya adalah bangunan yang kokoh tidak bisa dibangun hanya dengan satu komponen saja.

    Mgr. Agus memberkati lokasi peletakan batu pertama pembangunan aula (18/5/2024)

    Sekilas Uskup Agus lalu mereview kembali kegiatan yang baru saja diikutinya, yaitu sidang KWI tahap I sehubungan dengan 100 tahun berdirinya Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), pada tanggal 14 Mei 2024, dan sekaligus peresmian gedung KWI.

    Temanya adalah berjalan bersama-sama, lanjut Uskup Agus.  Karena berjalan bersama-sama kita menjadi kokoh.

    Pada tanggal itu, cerita Uskup Agus, semua tokoh agama dan aliran kepercayaan hadir, dan semuanya menyadari bahwa kalau mau membuat bangsa menjadi kuat dan kokoh, harus bersatu padu, bekerjasama satu dengan yang lainnya. Sama seperti bangunan tadi, kalau hanya mengunakan satu komponen saja, tidak akan jadi.

    “Oleh karena itu, satu kekuatan kita, dan saya melihat Keuskupan Agung Pontianak ini luar biasa potensinya. Tapi kelemahan terjadi ketika tidak ada persatuan,”tegasnya Uskup Agus.

    Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak, meletakan batu pertama (18/5/2024)

    Kata Uskup Agus, untuk bersatu, tidak harus sama. Ada yang pasir, ada yang batu, ada yang semen, dan ada yang besi. Kualitasnya pun berbeda-beda.

    “Yesus pun mengumpamakan, yang punya 5 talenta ya gunakanlah 5 talenta. Yang punya 3 talenta, ya gunakanlah itu. Yang punya 1 talenta jangan pula tidak dipakai. Mungkin kita hanya bisa menyumbang sepuluh ribu saja, bahkan mungkin hanya seribu. Tapi itu punya nilai, berarti di hadapan Tuhan,” tandas Uakup Agus.

    Uskup Agus kembali menguatkan tekad dan niat semua yang hadir dengan mengemukakan contoh 3 wilayah yang akan dimekarkannya menjadi paroki dengan cara berjalan bersama.

    RP. Faustus Bagara, OFMCap, Minister Provinsial Ordo Kapusin Pontianak, turutserta meletakan batu pertama (18/5/2024)

    Tahun ini akan dimekarkan 3 paroki baru ; Senakin, Kuala Behe, dan Meranti, papar uskup Agus.

    “Meranti langsung jadi paroki, kenapa? Karena mereka sudah mendirikan pastoran, gereja, aula, dan bahkan susteran. Sehingga tanggal 21 Juli 2024 mendatang, diresmikan parokinya lengkap dengan pelayanan dari suster Bunda Hati Kudus. Karena bagi kongregasi MSC, kalau ada asrama putri, tidak boleh tidak ada suster sebagai pengelolanya,” kata Uskup Agus.

    Selanjutnya Senakin, jelas Uskup Agus melanjutkan.

    “Saya katakan kalau mau jadi paroki, silahkan. Mereka bangun pastoran, dengan 2 kamar. Dan pembangunannya ini tidak menggunakan dana dari keuskupan, tapi memang ada sedikit bantuan dari Paroki Katedral,” cerita Uskup Agus.

    Khusus Kuala Behe, kata Uskup Agus, melalui Pastor Alexius Alex (Paroki Katedral) akan  menjadi bapak asuh dari paroki baru ini.

    RP. Andreas Harmoko, OFMCap penggagas ide pembangunan aula, turutserta meletakan batu pertama (18/5/2024)

    Beberapa waktu lalu, kata Uskup Agus, Pastor Alex sudah meninjau lokasi, dan akan dipersiapkan pastoran sederhana, serta bantuan tenaga dari paroki Katedral. Inilah namanya berjalan bersama-sama. Bukan keuskupan tidak mau campur tangan, tapi banyak potensi yang bisa membantu.

    Menurut Uskup Agus, di Keuskupan Agung Pontianak hal ini bisa terjadi.

    “Saya tanpa ragu dengan pembangunan aula paroki Sta. Sesilia. Inilah berjalan berjalan bersama-sama. Keuskupan tidak bisa bantu, tapi ada pemborong yang mau membangun dulu, nanti panitia menyicil ke pemborong. Inikan bantu, kerjasama dengan pihak lain,” pungkas Uskup Agus.

    Sr. Ruth Tondang, SFD mewakili komunitas biarawan/biarawati turutserta meletakan batu pertama (18/5/2024)

    Di akhir renungannya, Uskup Agus menyampaikan ucapan terima kasih.

    “Saya senang dengan usaha pastor, panitia dan umat di sini. Terima kasih. Mari jadikan paroki ini menjadi contoh bahwa umat dan pastor paroki berjalan bersama-sama dan bisa mendirikan aula paroki,” harap Uskup Agus.

    Prosesi meletakan batu pertama diawali oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, dilanjutkan berturut-turut oleh Provinsial Ordo Kapusin Propinsi Pontianak, RP. Fautus Bagara, OFMCap, Penggagas aula, RP. Andreas Harmoko, OFMCap, Perwakilan Komunitas biarawan/biarawati, Sr. Ruth Tondang, SFD, Perwakilan ketua lingkungan, Martinus Marthin, Perwakilan dari pemerintah (RT lingkungan paroki Sta. Sesilia), Andrew Sutanto, dan terakhir ketua panitia pembangunan, Albertus Tjiu.

    Ketua Panita Pembangunan Aula, Albertus Tjiu turutserta meletakan batu pertama (18/5/2024)

    Tampak hadir dalam acara ini, RP. Kosmas Jang, OFMCap, kontraktor pembangunan aula dari PT. Karya Agung Perkasa, Devi Gunawan dan Ignatia Ester, para pastor, bruder, dan suster, pengurus DPP harian dan pleno, para ketua lingkungan, umat utusan dari lingkungan, para ketua kelompok kategorial, serta para tamu undangan, dan juga para donatur.

    Usai ibadat peletakan batu pertama pembangunan aula, semua yang hadir diajak pindah ke teras gereja untuk mengikuti acara selanjutnya, yaitu sambutan-sambutan dan ramah-tamah.

    Umat yang mengikuti ibadat peletakan batu pertama pembangunan aula (18/5/2024)

    Dikesempatan memberikan kata sambutannya, Pastor Kepala Paroki Sta. Sesilia Pontianak, RP. Fransiskus Yosnianto, OFMCap mengatakan, tahun ini (2024), paroki genap berusia 17 tahun. Dan dalam kurun waktu 17 tahun ini perkembangan umat begitu pesat. Posisi strategis paroki yang berbatasan antara Kotamadya Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya, membawa implikasi sendiri, karena banyak dibangun perumahan-perumahan baru. Ini artinya, banyak juga warga masyarakat Katolik yang memilih untuk tinggal di wilayah paroki Sta. Sesilia.

    Berdasarkan data terakhir, 31 Mei 2023, lanjutnya,  jumlah umat paroki Sta. Sesilia tercatat 3.677 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 983 yang tersebar ke dalam 4 wilayah dan 15 lingkungan. Ada kurang lebih 10 kelompok kategorial yang menjadi bagian integral dari paroki. Umumnya kegiatan kelompok ini dilakukan diteras geraja, atau di salah satu ruangan di pastoran. Paroki menyiapkan satu ruangan yang dipakai secara bergiliran.

    Memperhatikan hal ini, ungkap RP. Yanto, maka dari paroki sangat merindukan memiliki gedung aula khusus yang representatif sehingga bisa digunakan oleh macam-macam kelompok yang ada. Apakah untuk kegiatan berdoa, pertemuan, latihan koor, rapat, dan sebagainya.

    Andreas Harmoko yang saat itu sebagai Pastor Kepala Paroki, lanjut RP. Yanto menjelaskan, melemparkan gagasan ke pengurus DPP harian dan pleno untuk membangun aula paroki. Selanjutnya, dibuatlah perencanaan pembangunan aula paroki, kurang lebih hampir satu tahun hingga hari ini diletakannya batu pertama pembangunan.

    RP. Yanto berharap, peristiwa hari ini (peletakan batu pertama) menjadi titik awal mewujudkan impian umat paroki Santa Sesilia, memiliki gedung aula yang baru.

    “Izinkan kami mengucapkan terima kasih atas perhatian, kebijakan, dan dukungan yang sangat besar dari Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, untuk rencana pembangunan aula ini. Bapak Uskup sangat peduli, dan berharap supaya aula ini dapat segera dibangun dan selesai pada waktunya, kata RP. Yanto.

    Secara singkat ketua panitia pembangunan, Albertus Tjiu mereview apa yang sudah dilakukan pengurus DPP harian dan pleno serta panitia, mulai dari mengakomodir gagasan RP. Andreas Harmoko, OFMCap pada Desember  2022, lalu per Januari 2023 pembentukan panitia dan membuat perencanaan pembangunan aula

    Selanjutnya, Ujar Albertus,  Panitia mendapat masukan, termasuk jugas dari dewan keuangan Keuskupan, serta setelah beberapa kali melakukan audiensi dengan Mgr. Agus, maka semakin jelas arah pembangunan aula.

    Panitia lalu menyiapkan dokumen untuk pengurusan IMB, hingga panitia diminta untuk melaksanakan peletakan batu pertama pembangunan dari pihak pemerintah.

    Albertus berharap dukungan akan terus berlanjut setelah peletakan batu pertama ini.

    “Trima kasih untuk semua pihak yang sudah terlibat dalam proses ini,” ujarnya.

    Ramah-tamah di teras gereja (18/5/2024)

    Julius Judhi, arsitek dari bangunan aula, kepada MajalahDuta.com (18/5/2024), mengatakan pembangunan aula 2 lantai ini memakan biaya kurang lebih 4,3 milyar. Luas lahan 30m X 50m, dengan luas bangunan 960 meter persegi.

    Aula utama berada di lantai 2, jelasnya. Dan diperkirakan bisa menampung sekitar 300 orang. Lantai dasar akan disekat-sekat menjadi 4 – 5 ruangan untuk fasilitas kegiatan kelompok kategorial. Target pembangunan kurang lebih delapan bulan sampai satu tahun.

    Setelah sambutan-sambutan, ada waktu khusus untuk penggalangan dana. Panitia menyebarkan daftar list kebutuhan pembangunan aula baik material maupun financial. Uskup Agus tergugah hatinya untuk membantu dengan melelang lagu yang dinyanyikannya.

    Serangkaian acara peletakan batu pertama pembangunan aula diakhiri dengan santap siang bersama, sembari menyaksikan hiburan live music orgen tunggal.

    PM

    Misa Syukur Awali Serangkaian Kegiatan Gawai Dayak XXXVIII

    “Selama kita sudah menjadi orang Katolik, tidak ada ritual lain selain secara iman Katolik. Dan  bagi agama lain yang juga ingin merayakan sesuai dengan imannya, dipersilahkan,”

    Demikian ungkap Mgr. Agustinus Agus saat memimpin Misa Syukur Gawai Dayak XXXVIII di aula Rumah Radakng Pontianak, Jumat (17/5/2024).

    Misa Syukur Gawai Dayak dipimpin Mgr. Agustinus Agus (17/5/2024)

    Menurut Mgr. Agus, gawai bukan hanya ungkapan syukur untuk hasil panen, tapi juga ungkapkan syukur atas berkat yang boleh diterima dalam kurun satu tahun.

    “Jadi inti gawai adalah syukur kepada Tuhan dan syukur kepada sesama manusia,” tandas Mgr. Agus.

    Kata Mgr. Agus, kenapa kita harus bersyukur kepada Tuhan? Karena tanpa Tuhan, segalanya tidak berarti apa-apa. Syukur kepada sesama manusia adalah sebagai ungkapan terima kasih, karena tanpa bantuan saudara atau orang lain, seseorang  tidak akan mampu membuat ladang. Mulai dari menyiapkan lahan, bercocok tanam, sampai panen.

    “Syukur kepada Tuhan kita ungkapkan melalui perayaan ekaristi atau melalui ibadat sabda. Syukur kepada sesama yang merupakan seremonial kita rayakan dengan cara makan bersama,” ujar Mgr. Agus.

    Umat menerima Komuni Kudus (17/5/2024)

    Lebih jauh Mgr. Agus mengatakan, sejak dikeluarkannya surat edaran Nostra Aetate tahun 1965 oleh Paus, yang bunyinya : Gereja Katolik menghormati apapun nilai-nilai yang baik pada agama apapun, dan dalam budaya apapun.

    “Oleh karena itu sejak beberapa tahun lalu, saya bersama Pastor Alexius Alex mengatakan mari rayakann gawai secara Katolik sesuai dengan iman kita,” kata Mgr. Agus.

    Umat yang hadir, tampak paling depan para finalis Bujang dan Dara Gawai Dayak XXXVIII tahun 2024 (17/5/2024)

    Selain itu, bagi Mgr. Agus gawai adalah bentuk penghormatan kepada nenek moyang, dan juga moment berkumpulnya keluarga besar yang saling bercengkrama menikmati makanan dan minuman khas masyarakat Dayak.

    “Gawai adalah berhenti sementara hidup dengan cara modern, dan kembali ke masa lalu seperti nenek moyang dulu. Saya berharap gawai juga dapat menjadi moment menyatukan masyarakat Dayak. Bagi saya inilah wadah pertemuan kita, pemersatu, satu saudara sebagai orang Dayak,” tuturnya.

    Perarakan masuk dan persembahan oleh para penari (17/5/2024)

    Di sisi lain, Ketua Panitia Gawai Dayak XXXVIII, Yulius Aho berharap, dengan adanya misa syukur ini serangkaian acara gawai dapat berjalan dengan lancar.

    Kata Yulius Aho, gawai merupakan perayaan panen raya masyarakat Dayak, dan dengan misa syukur ini pihaknya berdoa kepada Tuhan agar hasil panen masyarakat Dayak di Kalimantan Barat menjadi berkah untuk semua.

    Ketua Panitia Gawai Dayak XXXVIII Tahun 2024, Yulius Aho (17/5/2024)

    Dalam misa syukur ini, Mgr. Agustinus Agus sebagai selebran utama didampingi oleh RP. Faustus Bagara, OFMCap, RD. Fidelis Sajimin, RP. Donatus Jensi, CDD, RD. Andrianus, dan RD. Martin. Hadir juga para suster, frater, 50 orang finalis Bujang dan Dara Gawai tahun 2024, serta umat yang datang dari pelbagai paroki yang ada di Kota Pontianak.

    Misa disemarakan pula oleh kelompok koor gabungan dari beberapa paroki di Kota Pontianak, serta tarian perarakan dan persembahan. Misa syukur ini juga disiarkan secara live streaming melalui channel youtube Pekan Budaya Dayak Official.

    Usai misa, diadakan makan bersama dengan gaya lesehan alias melantai yang menandai kebersamaan dan kekeluargaan. Menu masakan disiapkan oleh beberapa paroki yang ada di Kota Pontianak.

    PM

    Mgr. Agus Bicara Kebhinekaan Lewat Destinasi Wisata Rohani di Sidang KWI

    MAJALAHDUTA.COM – Jakarta, Uskup Agung Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus bersama para uskup Indonesia mengikuti sidang Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), di aula sidang kantor KWI  di Jalan RP. Soeroso, Cikini, Kec. Menteng, Jakarta Pusat, Senin (13-16/5/2024).

    Sidang kali ini bertepatan dengan perayaan 100 tahun kehadiran Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), dan pemberkatan gedung baru KWI.

    Berfoto bersama dalam sidang KWI (13/5/2024, Foto : dok. Mgr. Agus)

    Tema yang diusung “ Berjalan Bersama Membangun Gereja dan Bangsa”.

    Di kesempatan ini, Mgr. Agus diberi kesempatan untuk bicara soal kebhinekaan lewat destinasi wisata rohani, khususnya yang ada di wilayah Keuskupan Agung Pontianak.

    Terkait dengan hal ini, Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KAP diserahi tugas oleh Mgr. Agus untuk mendokumentasikan secara singkat gambaran destinasi wisata rohani yang bertema kebhinekaan yang dimiliki oleh Keuskupan Agung Pontianak (KAP).

    Mgr. Agus mengatakan wisata religi dan wisata budaya menjadi salah satu langkah untuk mempromosikan kebhinekaan Indonesia. Gua Maria Anjongan dan Komplek Rumah Retret Santo Johanes Paulus II Anjongan memiliki konsep yang sarat dengan tema kebhinekaan.

    “Apalagi bila kita menelisik sejarah berdirinya Gua Maria Anjongan, yang menjadi simbol perdamaian antara etnis Dayak dan Tionghoa yang pernah bertikai”, ujar Mgr. Agus seraya membacakan sejarah singkat berdirinya Gua Maria Anjongan sesuai yang tertulis di batu prasasti.

    Para Uskup berfoto bersama (13/5/2024, Foto: dok. Mgr. Agus)

    Menurut Mgr. Agus, dibangunnya replika rumah betang adat Dayak, replika rumah adat  Tionghoa, replika rumah adat Melayu, replika rumah joglo ciri khas Jawa, replika lumbung berkat yang menyerupai lumbung padi suku Dayak, replika tempayan, replika rumah sandung, replika gong, replika tugu khatuliswa, replika peta kepulauan Indonesia, dan bahkan replika gereja Katedral Pontianak yang lama di kawasan Gua Maria Anjongan adalah  menjadi cara bagaimana berwisata religi dengan menghormati leluhur dan berziarah serta menghormati keberagaman yang ada.

    Mgr. Agus juga memaparkan tentang Gua Maria Anjongan yang memiliki Jalan Salib unik karena korpus yang menggambarkan tiap-tiap peristiwa jalan salib,  tempat kedudukannya terbuat dari replika batang pohon yang berlobang.

    “Di dalam lobang batang pohon inilah, korpus yang menggambarkan tiap peristiwa jalan salib diletakan”, kata Mgr. Agus.

    Diakhir pemaparannya, Mgr. Agus memberi gambaran mengenai wisata rohani plaza Maria Dong Lu yang ada di Paroki Santo Yosef Pemangkat, dan uniknya Kapel Dua Belas Rasul yang ada di dalam komplek gedung Keuskupan Agung Pontianak yang baru.

    PM

    Rayakan Hari Komunikasi Sedunia ke-58, Ini kata Uskup Sintang…

    “Gunakanlah media komunikasi yang ada sebagai sarana untuk melakukan kritik sosial,”

    Demikian ungkap Uskup Keuskupan Sintang, Mgr. Valentinus Saeng, CP saat menyampaikan renungan pada Misa Pemberkatan Kapel Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), dan sekaligus merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-58, Minggu (12/5/2024).

    Mgr. Valentinus Saeng, CP saat menyampaikan renungan di Kapel KWI (12/5/2024, Foto : tangkap layar youtube)

    Ungkapan Mgr. Valentinus ini didasari atas keprihatinannya dengan situasi yang terjadi saat ini. Adanya peperangan, kekerasan, pembunuhan, dan persekusi sebagai akibat dari sebuah kompetisi yang tidak lagi ber- etika., dan tak lagi dijiwai oleh semangat persaudaraan.

    Kata Mgr. Valentinus, dalam situasi tak menentu seperti ini, panggilan sebagai orang katolik menjadi sangat mendesak. Umat katolik harus mampu mengkomunikasikan Allah yang adalah kasih.

    “Kita harus menggunakan media sosial untuk mewartakan Allah yang penuh Kasih dan memperjuangkan nilai nilai yang etis, benar & adil bagi banyak orang,”kata Mgr. Valentinus

    Mgr. Valentinus Saeng, CP memberkati kapel KWI (12/5/2024, Foto : tangkap layar youtube)

    Mgr. Valentinus mengatakan, umat Katolik dipanggil untuk menerangi dunia lewat nilai-nilai kebaikan, kejujuran, kebenaran, persaudaraan, semangat berdemokrasi, dan sikap-sikap toleran antara yamg satu dengan yang lainnya.

    Pertarungan kita di dunia ini, kata Mgr. Valentinus adalah perang antara kekuatan baik dan kekuatan jahat. Dalam situasi ini, umat Katolik harus mampu menjadi pembimbing orang lain yang tersesat dan memberikan pengharapan, nasihat, serta motivasi.

    PM

    TERBARU

    TERPOPULER