Monday, April 27, 2026
More
    Home Blog Page 4

    Literasi Keuangan Mahasiswa

    DUTA, Pontianak – Di tengah dinamika kehidupan kampus dan perkembangan teknologi finansial yang pesat, kemampuan mengelola keuangan menjadi keterampilan penting yang tak kalah penting dari kemampuan akademik. Mahasiswa baik yang tinggal jauh dari keluarga maupun yang menerima uang saku tetap dituntut untuk mampu mengambil keputusan finansial yang bijak agar tidak terjebak dalam konsumtifisme dan utang yang tidak produktif.

    Apa Itu Literasi Keuangan?

    Literasi keuangan adalah kemampuan memahami konsep dasar keuangan seperti pengetahuan anggaran, menabung, investasi, risiko, dan pengambilan keputusan finansial yang efektif. Literasi ini mencakup pengetahuan, keterampilan, serta sikap positif dalam menghadapi masalah keuangan.

    Kondisi Literasi Keuangan Mahasiswa di Indonesia

    Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemahaman keuangan mahasiswa di Indonesia masih belum optimal. Banyak mahasiswa belum benar-benar memahami cara mengatur uang, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memahami risiko dari utang dan layanan keuangan digital. Padahal, di kehidupan sehari-hari mahasiswa sangat dekat dengan dompet digital, promo belanja, dan sistem paylater.

    Penelitian juga menemukan bahwa tidak semua mahasiswa memiliki tingkat literasi keuangan yang sama. Mahasiswa dari jurusan ekonomi umumnya lebih paham soal keuangan dibandingkan jurusan lain. Namun secara umum, masih banyak mahasiswa yang belum terbiasa membuat anggaran bulanan, menabung secara rutin, atau merencanakan keuangan untuk jangka panjang.

    Rendahnya literasi keuangan ini berdampak pada perilaku keuangan yang kurang sehat, seperti pengeluaran impulsif dan penggunaan utang tanpa perhitungan. Karena itu, literasi keuangan sangat penting untuk dibangun sejak bangku kuliah agar mahasiswa lebih bijak mengelola uang, terhindar dari masalah keuangan, dan siap menghadapi dunia kerja di masa depan.

     Mengapa Literasi Keuangan Penting bagi Mahasiswa?

    1. Membantu Pengelolaan Uang Sehari-hari
      Mahasiswa yang paham literasi keuangan lebih mampu menyusun anggaran bulanan, memprioritaskan pengeluaran, dan menghindari pemborosan impulsif. Dengan demikian, mereka terbantu dalam menjalani masa studi tanpa stres berlebihan terkait masalah keuangan.
    1. Menghindari Utang Tidak Produktif
      Pengetahuan tentang bunga dan risiko kredit membuat mahasiswa lebih berhati-hati saat menggunakan fasilitas kredit seperti paylater atau pinjaman tanpa perencanaan yang jelas.
    1. Mendorong Kebiasaan Menabung & Investasi
      Memahami konsep tabungan dan investasi sejak dini dapat membantu mahasiswa memulai kebiasaan positif yang berujung pada kemandirian finansial di masa depan.
    1. Menguatkan Ketahanan Finansial di Dunia Kerja
      Saat memasuki dunia kerja, mahasiswa yang memiliki pemahaman kuat tentang keuangan pribadi akan lebih siap dalam mengatur gaji pertama mereka dan membuat perencanaan finansial jangka panjang.

    Dukungan Akademik dan Implementasi di Kampus

    Peran institusi pendidikan dalam menyediakan pengajaran literasi keuangan melalui mata kuliah, workshop, dan program edukatif sangat penting. Tidak hanya memberikan teori, tetapi juga praktik langsung melalui simulasi anggaran, investasi, hingga penggunaan teknologi finansial.

    Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa mahasiswa yang mendapat edukasi literasi keuangan akan memiliki perilaku finansial yang lebih baik, termasuk kebiasaan menabung, membuat anggaran, dan menghindari utang konsumtif.

    Literasi Keuangan sebagai Kunci Kemandirian Mahasiswa

    Pada akhirnya, literasi keuangan bukan sekadar kemampuan teknis, tapi juga bagian dari kemandirian pribadi mahasiswa. Mahasiswa yang melek finansial tidak hanya cerdas dalam perencanaan akademik, tetapi juga lebih bijak dalam mengambil keputusan kehidupan yang berdampak pada masa depan mereka.

    * Sumitro, S.M., M.M. (Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan)

    Positioning Produk Antara Citra Merek dan Realitas Pasar

    DUTA, Pontianak – Dalam dunia bisnis yang kompetitif, positioning sering dipandang sebagai strategi penting untuk membangun citra produk di benak konsumen. Berbagai literatur pemasaran menjelaskan positioning sebagai upaya perusahaan menciptakan persepsi tertentu agar produknya memiliki tempat khusus di pasar. Namun, dalam praktiknya, positioning tidak selalu berjalan seideal teori.

    Citra merek yang dibangun perusahaan kerap berhadapan dengan realitas pasar yang lebih kompleks, di mana pengalaman konsumen, perubahan tren, dan persaingan justru menentukan bagaimana sebuah produk benar-benar dipersepsikan. Di sinilah positioning produk berada di antara citra merek yang dirancang dan realitas pasar yang tidak selalu bisa dikendalikan.

    Menurut Kotler dan Keller, positioning merupakan aktivitas perusahaan dalam membentuk citra dan penawaran agar sesuai dengan target pasar yang dituju. Definisi ini menegaskan bahwa positioning berkaitan erat dengan bagaimana perusahaan ingin produknya dipersepsikan oleh konsumen.

    Namun, definisi tersebut juga mengandung asumsi bahwa citra yang dibangun dapat sepenuhnya diterima oleh pasar. Padahal, persepsi konsumen tidak hanya dibentuk oleh pesan pemasaran, tetapi juga oleh realitas pengalaman penggunaan produk di lapangan.

    Tujuan utama positioning adalah menciptakan citra yang spesifik dan diinginkan perusahaan agar produk memiliki keunggulan dibanding pesaing. Secara konseptual, tujuan ini terdengar ideal.

    Namun, ketika citra yang ditanamkan tidak sejalan dengan realitas kualitas produk atau layanan yang dirasakan konsumen, positioning justru berpotensi menimbulkan kekecewaan dan menurunkan kepercayaan pasar. Dengan demikian, keberhasilan positioning tidak hanya ditentukan oleh kejelasan citra, tetapi juga oleh kesesuaiannya dengan kondisi pasar yang sebenarnya.

    Berbagai jenis positioning seperti brand positioning, market positioning, dan product positioning menunjukkan bahwa perusahaan memiliki banyak cara untuk menempatkan produknya di benak konsumen.

    Namun, banyaknya pilihan strategi ini juga meningkatkan risiko kesalahan. Brand positioning yang terlalu menonjolkan citra tanpa didukung kualitas nyata, atau product positioning yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar, dapat menyebabkan kesenjangan antara janji merek dan realitas yang dirasakan konsumen.

    Salah satu contoh nyata kesenjangan antara citra merek dan realitas pasar dapat dilihat pada produk smartphone. Dalam iklan, sebuah smartphone sering ditampilkan memiliki performa yang cepat, kualitas kamera yang tajam, serta pengalaman penggunaan yang optimal. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit konsumen yang merasakan hal berbeda setelah beberapa bulan pemakaian.

    Performa perangkat mulai melambat, kualitas kamera tidak sebaik yang ditampilkan dalam iklan, bahkan hasil foto terlihat buram dalam kondisi tertentu. Ketidaksesuaian antara klaim pemasaran dan pengalaman nyata konsumen ini menunjukkan bahwa positioning yang dibangun lebih menekankan citra ideal dibandingkan kesiapan produk di pasar.

    Kondisi ini memperlihatkan bahwa positioning yang terlalu menonjolkan keunggulan visual dan klaim performa tanpa disertai transparansi mengenai batasan produk berpotensi menciptakan ekspektasi berlebihan di kalangan konsumen. Ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, kepercayaan terhadap merek pun menurun.

    Untuk menghindari kesenjangan tersebut, perusahaan perlu memastikan bahwa strategi positioning tidak hanya berfokus pada citra visual dalam iklan, tetapi juga selaras dengan kualitas dan daya tahan produk dalam jangka waktu penggunaan. Positioning yang jujur dan berbasis realitas pasar justru lebih berpotensi membangun loyalitas konsumen dibandingkan klaim berlebihan yang sulit dipertahankan.

    Oleh karena itu, positioning produk seharusnya tidak dipahami semata-mata sebagai upaya membangun citra yang menarik, melainkan sebagai proses berkelanjutan untuk menyesuaikan persepsi merek dengan realitas pasar.

    Positioning yang berhasil bukan yang paling persuasif secara komunikasi, tetapi yang paling jujur dan relevan dengan pengalaman konsumen. Tanpa keselarasan tersebut, citra merek hanya akan menjadi konstruksi semu yang mudah runtuh ketika diuji oleh pasar.

    SUMBER REFERENSI:
    Nursalamah, Arsidin Batubara, Fakhrurrozi, Imelda Marthauli Pardede & Edison Siregar (2025). Analisis Strategi Pemasaran Perusahaan Dagang Dalam Meningkatkan Penjualan. Jurnal Transformasi Pendidikan Indonesia (JTPI), Vol. 3 No. 3, Juli 2025, hlm. 338–340.
    https://instiki.ac.id/2024/03/04/mengenal-positioning-dalam-bisnis/

    * Martina Angelina_ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    Pemasaran Saat Daya Beli Masyarakat Menurun

    DUTA, Pontianak – Penurunaan daya beli masyarakat bukanlah hambatan yang harus dihindari, melainkan momentum bagi bisnis untuk melakukan reorientasi strategi secara radikal. Di tengah ketatnya anggaran konsumen, pemasaran tidak lagi bisa mengandalkan cara-cara konvensional fokus harus bergeser dari sekadar menjual produk menjadi menyediakan solusi yang bernilai nyata.

    Strategi yang efektif melibatkan kombinasi antara efisiensi biaya operasional, inovasi produk yang lebih terjangkau, dan penguatan loyalitas pelanggan. Alih-alih terjebak dalam perang harga yang destruktif, bisnis harus mampu mengomunikasikan relevansi produk mereka sebagai kebutuhan prioritas.

    Pada akhirnya, kemampuan untuk beradaptasi dengan lincah dan menjaga empati terhadap kondisi ekonomi konsumen adalah kunci untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga memenangkan pasar di masa sulit.

    Penurunan daya beli masyarakat sering kali dianggap sebagai masalah keterbatasan dana semata, padahal tantangan sesungguhnya jauh lebih kompleks: krisis kepercayaan diri konsumen dalam mengambil keputusan. Saat kondisi ekonomi tidak menentu, konsumen tidak hanya menjadi lebih hemat, mereka lebih takut melakukan kesalahan finansial daripada kehilangan peluang untuk memiliki sebuah produk.

    Dalam konteks ini, strategi pemasaran konvensional yang hanya mengandalkan “diskon besar-besaran” atau “dorongan penjualan yang agresif” justru bisa menjadi bumerang. Ketika daya beli menurun, desakan untuk membeli sering kali justru memperkuat mekanisme pertahanan diri konsumen, yang berujung pada pilihan untuk tidak membeli sama sekali.

    Di tengah merosotnya daya beli masyarakat, strategi pemasaran tidak boleh hanya terpaku pada taktik bertahan atau sekadar memotong harga. tantangan ini sebenarnya merupakan momentum bagi pemasar untuk memperkuat titik temu nilai antara kebutuhan mendesak pelanggan dan tujuan profitabilitas perusahaan. Saat anggaran konsumen mengetat, mereka tidak lagi mencari kemewahan melainkan nilai guna yang nyata dan efisiensi jangka panjang.

    Strategi yang efektif menuntut pemimpin pemasaran untuk bergerak melampaui sekadar promosi tradisional. Hal ini melibatkan kemampuan untuk menyelaraskan seluruh elemen internal perusahaan guna menciptakan efisiensi yang dapat dikonversi menjadi solusi yang lebih terjangkau bagi pelanggan tanpa mengorbankan kualitas.

    Pemasar harus mampu membuktikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan konsumen adalah keputusan yang cerdas dan memberikan dampak langsung bagi kehidupan mereka.

    Pada akhirnya, keberhasilan di masa sulit ini bergantung pada kepemimpinan pemasaran yang mampu menjembatani ekspektasi pasar dengan kemampuan organisasi. Dengan fokus pada penciptaan nilai yang jujur dan relevan, perusahaan tidak hanya sekadar bertahan dari penurunan ekonomi, tetapi juga membangun loyalitas yang lebih dalam karena hadir sebagai solusi di saat konsumen sangat membutuhkannya.

    Menghadapi fenomena penurunan daya beli masyarakat memerlukan pergeseran paradigma dari sekadar kompetisi harga menuju penciptaan nilai yang lebih mendalam strategi pemasaran di era daya beli rendah ini harus mampu menghadirkan nilai tambah melalui ekosistem yang lebih personal.

    Alih-alih hanya mengandalkan diskon yang sering kali menurunkan citra merek, perusahaan dapat memanfaatkan teknologi imersif untuk membantu konsumen melakukan validasi sebelum membeli.

    Dengan memberikan pengalaman “mencoba sebelum membeli” melalui simulasi digital atau interaksi yang lebih nyata di berbagai kanal, perusahaan secara efektif mengurangi kecemasan finansial konsumen. Hal ini menciptakan rasa aman dan keyakinan bahwa keputusan pembelian tersebut bukanlah sebuah pemborosan, melainkan investasi yang cerdas.

    Lebih jauh lagi, Marketing menekankan pentingnya keterhubungan yang konstan antara merek dan pelanggan. Dalam kondisi pasar yang lesu, bisnis harus hadir sebagai solusi yang terintegrasi dalam gaya hidup konsumen yang sedang melakukan efisiensi.

    Fokus pemasaran bergeser dari sekadar membujuk orang untuk membeli, menjadi upaya membangun loyalitas jangka panjang melalui kehadiran merek di setiap titik sentuh digital maupun fisik pelanggan. Dengan menciptakan pengalaman yang imersif dan bermakna, sebuah merek dapat memposisikan dirinya bukan sebagai beban pengeluaran tambahan, melainkan sebagai bagian penting dari solusi keseharian mereka.

    Pada akhirnya, memenangkan pasar saat daya beli menurun melalui pendekatan Marketing, berarti mengedepankan kualitas interaksi dan kedalaman hubungan. Ketika setiap rupiah yang dikeluarkan konsumen sangat diperhitungkan, perusahaan yang mampu menyuguhkan pengalaman yang transparan, mudah diakses, dan memberikan solusi nyata secara imersif akan menjadi pemenang.

    Ini adalah strategi untuk tetap kompetitif dengan cara menonjolkan keunikan nilai, memastikan bahwa merek tetap menjadi pilihan utama meskipun di tengah keterbatasan ekonomi yang menantang.

    DAFTAR REFERENSI:

    Strategi Bisnis untuk Menghadapi Penurunan Daya Beli Masyarakat
    https://uangonline.com/strategi-bisnis-untuk-menghadapi-penurunan-daya-beli-masyarakat/

    Buku
    1. The 12 Powers of a Marketing Leader
    https://www.elibrarynigeria.com.ng/files/books/0.529341001606904371The12PowersofaMarketingLeaderHowtoSucceedbyBuildingCustomerandCompanyValuebyThomasBarta%2CPatrickBarwise%28z-lib.org%29.epub.pdf
    2.The Joly Effect
    https://sellingsherpa.com/index.php/2022/09/29/the-jolt-effect-book-summary/

    3. Marketing
    https://www.google.co.id/books/edition/Marketing_6_0/K0s4EQAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=Marketing+6.0:+The+Future+is+Immersive+(2024)&pg=PT4&printsec=frontcover

    * Davit Septianto _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

     

    Opini Pribadi Mengenai Faktor Ekonomi dan Manajemen di Pontianak

    DUTA, Pontianak – Sebagai mahasiswa yang sedang belajar ekonomi dan manajemen, saya melihat bahwa kondisi ekonomi di Pontianak dipengaruhi oleh beberapa faktor penting seperti aktivitas perdagangan, perkembangan UMKM, dan kualitas manajemen di tingkat lokal. Kota ini memiliki potensi besar karena posisinya sebagai pusat ekonomi di Kalimantan Barat.

    Pertama, menurut Paul A. Samuelson dalam bukunya *Economics*, perkembangan ekonomi sebuah daerah sangat dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar. Di Pontianak, permintaan terhadap kebutuhan pokok dan barang konsumsi cukup tinggi karena kota ini menjadi pusat distribusi. Namun, tantangannya adalah biaya logistik yang masih relatif tinggi sehingga mempengaruhi harga barang.

    Kedua, dalam pandangan Michael Porter melalui teori daya saing yang dijelaskan di bukunya *Competitive Advantage*, kekuatan UMKM sangat berperan dalam meningkatkan perekonomian lokal. Di Pontianak, banyak UMKM kuliner, kerajinan, dan perdagangan yang sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi belum semua memiliki manajemen yang kuat terutama dalam hal pemasaran dan pengelolaan keuangan.

    Ketiga, menurut Philip Kotler dalam *Principles of Marketing*, manajemen pemasaran yang baik menentukan keberhasilan usaha. Banyak pelaku usaha di Pontianak masih menggunakan metode pemasaran tradisional. Padahal, peluang digital marketing di Pontianak cukup besar karena penggunaan internet dan media sosial yang semakin meningkat. Dengan memanfaatkan pemasaran digital, UMKM di Pontianak bisa memperluas pasar dengan biaya rendah.

    Secara pribadi, saya menilai bahwa Pontianak memiliki peluang ekonomi yang kuat, tetapi peningkatan kualitas manajemen sangat diperlukan. Penguatan kemampuan SDM dalam manajemen, penerapan strategi pemasaran modern, dan perbaikan infrastruktur logistik adalah langkah yang menurut saya penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.

    Dengan menggabungkan pandangan Samuelson, Porter, dan Kotler, saya melihat bahwa perkembangan ekonomi di Pontianak akan lebih optimal jika pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat bekerja sama meningkatkan daya saing daerah melalui perbaikan manajemen dan strategi ekonomi yang lebih terarah.

    * Antonio Fabio Cannavaro _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    Jangan Sampai Iklan Digital Malah Bikin Kita Muak

    DUTA, Pontianak – Rasanya di tahun 2026 ini, HP kita sudah tidak ada bedanya dengan papan reklame berjalan yang menyala selama 24 jam. Setiap kali kita membuka Instagram, menonton video di TikTok, melihat marketplace, atau sekadar membaca berita pagi di portal online, yang muncul selalu saja iklan, endorsement, dan promosi yang tidak ada habisnya.

    Memang benar kalau pemasaran digital sekarang menjadi mesin utama yang menggerakkan ekonomi kita, tapi kalau polanya sudah berlebihan seperti ini, kita sebagai pengguna malah mulai merasa lelah. Fenomena banjir konten ini bukan lagi sekadar informasi yang berguna, melainkan sudah menjadi gangguan serius yang menurunkan kepercayaan kita terhadap pesan pemasaran.

    Kalau kita ingat-ingat lagi apa yang dijelaskan oleh Utomo, Risdwiyanto, dan Judijanto dalam buku Pemasaran Digital: Strategi dan Taktik, media sosial itu idealnya berfungsi untuk membangun kesadaran merek, keterlibatan, dan komunitas. Harapannya, media sosial menjadi ruang interaksi yang hangat antara merek dan kita sebagai konsumen. Tapi kenyataannya di lapangan pada tahun 2026 ini? Fungsi itu sudah melenceng jauh.

    Bukannya menjadi ruang dialog, media sosial lebih sering menjadi tempat pengeboman iklan yang muncul tanpa henti. Konten promosi terus muncul di feed, stories, reels, hingga masuk ke kolom komentar yang seharusnya menjadi tempat kita berdiskusi. Pengalaman kita sebagai pengguna pun berubah, dari yang tadinya mencari inspirasi menjadi perasaan jenuh dan penuh tekanan komersial yang seolah mengejar kita ke mana saja.

    Kondisi yang menyesakkan ini sebenarnya bisa kita pahami melalui teori yang disampaikan oleh Sudirman dalam buku The Art of Digital Marketing. Beliau menjelaskan bahwa kekuatan utama pemasaran digital memang terletak pada kemampuannya untuk menyasar orang dengan sangat tepat dan akurat. Namun, ada kelemahan besar yang menyertainya, yaitu persaingan yang sangat tinggi dan risiko kejenuhan audiens. Di tahun 2026, ramalan itu benar-benar menjadi kenyataan yang pahit.

    Karena hampir semua merek menggunakan strategi yang sama, yaitu membakar uang untuk iklan berbayar di media sosial dan mesin pencari, ruang digital kita menjadi sangat sesak dan padat. Akibatnya, alih-alih tertarik, otak kita secara otomatis mulai mengabaikan informasi tersebut sebagai “sampah visual”.

    Data dari LestariAds tahun 2026 pun memperlihatkan sebuah anomali yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Belanja iklan digital di Indonesia terus meningkat tajam, tetapi efektivitasnya justru semakin dipertanyakan. Banyak perusahaan mengeluarkan biaya miliaran rupiah agar bisa tampil di berbagai platform, tetapi kita sebagai konsumen justru semakin sulit untuk terpengaruh.

    Hal ini menunjukkan adanya jarak yang sangat lebar antara intensitas iklan yang muncul dengan tingkat kepercayaan kita. Logikanya sederhana saja: semakin sering sebuah iklan muncul secara paksa di depan mata kita, semakin besar pula kemungkinan kita merasa terganggu dan akhirnya memilih untuk mengabaikannya sama sekali, atau bahkan memblokir merek tersebut dari daftar belanja kita.

    Lebih dalam lagi, Sudirman dalam bukunya juga membedakan antara cara jualan inbound marketing dan outbound marketing. Inbound marketing itu seharusnya menarik konsumen melalui konten yang bernilai, edukatif, dan relevan. Sedangkan outbound marketing cenderung mendorong pesan promosi secara agresif kepada audiens. Sayangnya, realitas iklan digital tahun 2026 justru menunjukkan dominasi gaya jualan yang sangat agresif.

    Kita dipaksa menghadapi jendela pop-up yang tiba-tiba muncul, video iklan yang tidak bisa dilewati, hingga endorsement yang muncul di tengah-tengah konten hiburan yang sedang kita nikmati. Strategi ini mungkin berhasil meningkatkan angka tayangan secara teknis, tetapi sebenarnya justru merusak kepercayaan karena kita sebagai konsumen merasa sedang dimanipulasi secara psikologis.

    Masalah ini menjadi semakin serius ketika kita kaitkan dengan isu keamanan dan penipuan digital yang makin marak. Dalam buku  Digital Strategi dan Taktik, ditekankan berkali-kali bahwa kepercayaan dan keamanan adalah fondasi utama dalam dunia e-commerce. Tanpa rasa aman, tidak akan ada transaksi yang sehat.

    Namun, laporan dari Infobank News dan Kompas Money tahun 2026 menunjukkan fakta yang mengerikan. Ribuan orang Indonesia telah menjadi korban penipuan online dengan kerugian mencapai ratusan miliar rupiah. Ironisnya, banyak dari penipuan ini bermula dari iklan atau promosi digital yang terlihat sangat profesional dan meyakinkan di media sosial. Ini membuktikan bahwa banjir iklan digital sekarang bukan cuma mengganggu ketenangan, tapi juga bisa membahayakan keamanan data dan isi rekening kita.

    Jika dilihat dari pandangan komunikasi pemasaran yang ditulis oleh Widyastuti dalam buku Manajemen Komunikasi Pemasaran Terpadu, komunikasi pemasaran modern itu harusnya bersifat dialogis dan berorientasi pada hubungan jangka panjang. Prinsip utama dari komunikasi pemasaran terpadu adalah konsistensi pesan dan pembangunan kepercayaan. Namun, praktik pemasaran digital tahun 2026 justru menunjukkan hal yang sebaliknya.

    Banyak merek yang menyampaikan pesan berbeda-beda di setiap platform demi mengejar klik, memberikan diskon besar-besaran, atau sekadar ingin viral sesaat. Akibatnya, kita sebagai konsumen kesulitan untuk mempercayai identitas asli sebuah merek. Kita jadi ragu, apakah merek ini memang punya nilai yang bagus atau hanya jago jualan lewat iklan saja tanpa kualitas produk yang nyata.

    Selain itu, buku The Art of Digital Marketing juga mengingatkan pentingnya pemasaran media sosial yang berbasis pada interaksi dua arah dan mendengarkan apa yang diinginkan konsumen. Namun, karena adanya banjir iklan berbayar ini, interaksi organik yang jujur semakin terpinggirkan.

    Kita sebagai pengguna lebih sering melihat konten sponsor yang sudah diatur sedemikian rupa daripada konten komunitas yang asli. Dampaknya, hubungan emosional antara merek dan audiens pun semakin melemah, berganti menjadi hubungan transaksional yang dingin dan penuh kecurigaan.

    Menariknya, tren e-commerce tahun 2026 yang dilaporkan oleh WongKito menunjukkan bahwa kita sebagai konsumen sudah semakin kritis. Kita tidak lagi mudah percaya pada iklan dan promo yang muluk-muluk. Saat ini, orang lebih percaya pada ulasan jujur dari pengguna lain, diskusi di komunitas, dan pengalaman nyata orang di sekitar mereka dibanding klaim sepihak dari iklan.

    Ini adalah sinyal kuat bahwa kepercayaan telah menjadi mata uang utama dalam dunia pemasaran digital, menggantikan sekadar jumlah tayangan atau klik. Kita lebih butuh testimoni nyata daripada sekadar janji manis di caption Instagram.

    Sebagai penutup, banjir konten iklan digital di tahun 2026 ini memang telah menciptakan krisis kepercayaan publik yang cukup dalam. Teknologi memang memberi kita kemudahan untuk menjangkau siapa saja, namun tanpa etika, tanpa transparansi, dan tanpa pemahaman psikologis terhadap apa yang dirasakan konsumen, pemasaran digital justru akan kehilangan legitimasi atau harga dirinya.

    Seperti yang diingatkan oleh Widyastuti dan Sudirman, komunikasi pemasaran seharusnya adalah alat untuk membangun hubungan manusiawi, bukan sekadar alat untuk menjual barang. Jika para pelaku usaha dan pengiklan tidak segera merubah cara mereka berinteraksi dengan audiens, jangan kaget jika konsumen akan semakin menutup diri dari pesan iklan dan memilih sumber informasi lain yang jauh lebih jujur dan bisa dipercaya. Sudah saatnya kita kembali ke cara-cara yang lebih tulus.

     

    DAFTAR REFERENSI:

    Utomo, S. B., Risdwiyanto, A., & Judijanto, L. (2024). Pemasaran digital: Strategi dan taktik.

    Widyastuti, S. (2017).Manajemen komunikasi pemasaran terpadu: Solusi menembus hati pelanggan.

    Jakarta: FEB-UP Press.Sudirman, A. (Ed.). (2022).

    The art of digital marketing: Strategi pemasaran generasi milenial. Bandung: Media Sains Indonesia.

    SUMBER INTERNET:

    Lestari Ads. (2026).

    Pergeseran belanja iklan di 2026: Di mana posisi OOH di Indonesia?

    https://www.lestariads.com/blog/ooh/pergeseran-belanja-iklan-di-2026-di-mana-posisi-ooh-di-indonesia.html

    WongKito.co. (2026).Cek 5 tren besar e-commerce Indonesia 2026.

    https://wongkito.co/read/cek-5-tren-besar-e-commerce-indonesia-2026

    Energy World Indonesia. (2026, 1 Januari).Outlook 2026: Media digital gagal dan bagaimana media Indonesia harus bertahan.

    https://energyworld.co.id/2026/01/01/outlook-2026-media-digital-gagal-dan-bagaimana-media-indonesia-harus-bertahan/

    Infobank News. (2026).Penipuan online kian mengkhawatirkan, OJK ungkap guru besar jadi korban.

    https://infobanknews.com/penipuan-online-kian-mengkhawatirkan-ojk-ungkap-guru-besar-jadi-korban/

    Kompas Money. (2026, 22 Januari).IASC kembalikan Rp161 miliar dana 1.070 korban penipuan digital.

    https://money.kompas.com/read/2026/01/22/061100326/iasc-kembalikan-rp-161-miliar-dana-1.070-korban-penipuan-digital

     

    * Jeremy Julius _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    Analisis Reflektif Saat Daya Beli Masyarakat Menurun Pasca Kebakaran Ruko

    DUTA, Pontianak – Kebakaran ruko merupakan bencana yang tidak hanya menghancurkan fisik bangunan, tetapi juga meruntuhkan kehidupan ekonomi Masyarakat di sekitarnya. Ruko (rumah took) di Indonesia sering menjadi tempat usaha kuliner, perdagangan kecil, layanan jasa, atau UMKM lainnya yang menjadi tumpuan hidup keluarga. Ketika sebuah ruko terbakar, kerugian finansial tidak hanya dialami pemilik, tetapi juga konsumen yang bergantung pada layanan dan barang yang disediakan.

    Dampak yang timbul bukan hanya menurunkan daya beli lokal, tetapi juga mengubah perilaku konsumen dan strategi pemasaran pelaku usaha. Artikel opini ini mengeksplorasi bagaimana strategi pemasaran harus direfleksikan dan diadaptasi Ketika daya beli Masyarakat menurun pasca kebakaran ruko, terutama dalam konteks Indonesia tahun 2026.

    Kebakaran ruko secara langsung mengguncang rantai ekonomi mikro.
    Menurut laporan terbaru diindonesia, jumlah kebakaran bangunan komersial meningkat beberapa persen dalam beberapa tahun terakhir karena kelalaian Listrik dan kurangnya sistem proteksi kebakaran yang memadai.

    Sementara statistik resmi terbaru 2026 masih dalam pengolahan, data media lokal melaporkan bahwa puluhan ruko di beberapa kota besar seperti Jakarta, bandung, dan Surabaya mengalami kebakaran sepanjang awal tahun 2026, menyebabkan ribuan pelaku UMKM kehilangan sumber penghasilan utama mereka ( Kompas,2026).

    Dampaknya terhadap daya beli Masyarakat lokal signifikan. Sebagai contoh, konsumen setempat yang biasa berbelanja harian di ruko yang terbakar harus memutar anggaran untuk mencari alternatif lain yang mungkin lebih mahal atau kurang nyaman.

    Begitu pula pada karyawan ruko tersebut, yang menghadapi pengurangan pendapatan atau PHK, secara otomatis mrngurangi pengeluaran konsumsi mereka. Teori ekonomi dasar menjelaskan bahwa Ketika pendapatan turun, permintaan barang dan jasa non-esensial cenderung turun secara proporsional, yang berarti pemasaran di waktu seperti ini harus lebih sensitif terhadap prioritas konsumen ( sukirno, 2023 ). 

    Reorientasi strategi pemasaran : sensitif terhadap keadaan konsumen dalam kondisi penurunan daya beli akibat kebakaran ruko, strategi pemasaran tidak lagi bisa sekadar mempromosikan produk atau layanan. Sebaliknya, pendekatan yang bersifat empatik dan solutif jauh lebih relevan.

    1.pendekatan komunitas & solidaritas social
    Pelaku usaha di lingkungan terdampak kebakaran perlu membangun strategi pemasaran berbasis komunitas, yang mengutamakan solidaritas. Misalnya, kolaborasi antar pengusaha untuk mengadakan pasar darurat, flash sale donasi, atau program pemulihan ekonomi lokal. Strategi ini tidak hanya meningkatkan visibilitas ditengah krisis, tetapi juga memperkuat hubungan emosional antara merek dan konsumen.

    Komunitas lokal yang kuat dapat menjadi fondasi pemasaran berkelanjutan karena mereka berbagi cinta pengalaman Bersama yang membentuk loyalitas – bukan melalui doskon semata, tetapi melalui nilai-nilai solidaritas dan gotong royong ( Kotler & keller, 2024 ).

    1. penekanan pada nilai dan bukan harga
      Dalam masa penurunan daya beli, konsumen lebih memperhatikan nilai yang mereka dapatkan daripada sekadar harga murah. Ini berarti strategi pemasaran perlu menonjolkan manfaat fungsional dan emosional dari produk. Misalnya, merchant yang ruko-nya terbakar dan kemudian beralih ke model layanan online atau kolaborasi pop-up store dapat menekankan bahwa membeli dari mereka berarti menbantu pemulihan usaha lokal, bukan hanya mendapatkan barang. Perubahan perilaku konsumen pasca krisis.

    Pasca kebakaran, konsumen cenderung mengutamakan kebutuhan dasar dan mengurangi pengeluaran pada barang non- esensial. Data pemasaran digital terbaru 2026 menunjukkan peningkatan pencarian konsumen untuk produk lokal yang terjangakau dan dukungan terhadap usaha kecil pasca bencana.

    Misalnya, indeks pencarian Google trends di Indonesia menunjukkan lonjakan tertinggi pada istilah seperti “ dukungan UMKM kebakaran” , “ donasi usaha lokal” , dan “ promo kuliner pasca bencana” sejak awal tahun ini ( Google Trends, 2026 ).

    Perubahan ini menuntut pemasar untuk menyesuaikan pesan mereka menjadi lebih empatik, informatif, dan berfokus pada kebutuhan nyata masyarakat. Teknik pemasaran yang terlalu agresif atau tidak sesuai konteks bisa berakhir sebagai gangguan, atau lebih buruk lagi, dianggap tidak peka sosial.

    Teknologi Digital sebagai Alat Adaptasi
    Pemasaran digital menawarkan alat penting untuk adaptasi di masa krisis. Media sosial, situs belanja lokal, dan platform pesan instan dapat membantu usaha yang terdampak kebakaran tetap terhubung dengan konsumen tanpa harus bergantung pada lokasi fisik.

    Instagram dan Facebook misalnya, sering digunakan oleh pelaku UMKM untuk mengumumkan pembukaan sementara di lokasi baru, penawaran khusus bagi konsumen setia, atau kampanye crowdfunding untuk pemulihan.

    Namun, penting diingat bahwa pemasaran digital harus dilakukan dengan etika — tanpa mengeksploitasi tragedi. Ini berarti memprioritaskan transparansi, kejujuran, dan integritas dalam setiap komunikasi pemasaran (Solomon, 2025). Misalnya, bukti visual kerusakan ruko sebaiknya disertakan hanya bila relevan dan sopan, serta diiringi pesan solusi atau kontribusi nyata.

    Etika & Tanggung Jawab Pemasar dalam Krisis
    Krisis seperti kebakaran ruko bukan hanya soal strategi pemasaran, tetapi juga tanggung jawab moral pemasar. Pelaku usaha yang memanfaatkan situasi tanpa sensitivitas bisa kehilangan kepercayaan publik. Oleh karena itu, etika pemasaran.

    pasca bencana harus mencakup:
    Tidak memperbesar tragedi demi promosi, Mengutamakan pesan dukungan dan solusi, Berkolaborasi dengan masyarakat terdampak, Menyampaikan informasi yang jujur dan dapat diverifikasi, Strategi berorientasi nilai seperti ini, selain membantu pemulihan usaha, juga berkontribusi pada reputasi jangka panjang merek di mata konsumen.

    KESIMPULAN
    Kebakaran ruko adalah tragedi yang mengguncang perekonomian mikro dan menurunkan daya beli masyarakat di daerah terdampak. Dalam situasi seperti ini, strategi pemasaran harus bertransisi dari sekadar menarik pembeli menjadi alat pemulihan sosial-ekonomi yang sensitif dan bertanggung jawab.

    Pemasar harus memahami bahwa pesan pemasaran yang empatik, kolaboratif dengan komunitas, dan berbasis nilai bukan hanya relevan, tetapi juga diperlukan untuk membangun kembali kepercayaan dan stabilitas konsumsi di tengah krisis.

    Dengan mengutamakan nilai dan kebutuhan konsumen pasca kebakaran ruko — serta tetap berlandaskan etika dan tanggung jawab sosial — pemasar dapat membantu mempercepat proses pemulihan sambil tetap mempertahankan relevansi dan hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

    SUMBER REFERENSI:
    Sukirno, Sadono. Mikroekonomi Teori Pengantar. 11th ed., Jakarta: Rajawali Pers, 2023.

    Kotler, Philip, & Kevin Lane Keller. Marketing Management. 16th ed., Pearson, 2024.

    Solomon, Michael R. Consumer Behavior: Buying, Having, and Being. 14th ed., Pearson, 2025.

    Sumber Online / Data 2026:
    Peningkatan Kebakaran Ruko di Indonesia – Tiga Ruko di Pontianak Selatan Hangus Terbakar – SUARAKALBAR.CO.ID https://share.google/W26qkFhOuBdmTquk0

    Pencarian Konsumen & Pemasaran Lokal di Google Trends. Google Trends, 2026. 

    * Kornelia Rani _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    Strategi Pemasaran di Tengah Penurunan Daya Beli Masyarakat

    DUTA, Pontianak – Dalam beberapa tahun terakhir, perekonomian Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat. Inflasi, kenaikan harga kebutuhan pokok, fluktuasi nilai tukar, serta ketidakpastian global menjadi faktor utama yang menekan kemampuan konsumsi rumah tangga.

    Kondisi ini menyebabkan perubahan perilaku konsumen, di mana masyarakat menjadi lebih selektif, rasional, dan berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya. Akibatnya, banyak perusahaan mengalami penurunan volume penjualan dan kesulitan mempertahankan pertumbuhan bisnis.

    Dalam situasi seperti ini, strategi pemasaran memegang peranan yang sangat penting. Perusahaan tidak dapat lagi mengandalkan pendekatan pemasaran konvensional yang berfokus semata-mata pada peningkatan volume penjualan.

    Sebaliknya, dibutuhkan strategi pemasaran yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada nilai guna agar perusahaan mampu bertahan dan bahkan berkembang di tengah melemahnya daya beli masyarakat.

    Strategi Pemasaran sebagai Kunci Keberlangsungan Usaha
    Menurut konsep dalam buku referensi strategi pemasaran, strategi pemasaran merupakan pendekatan terencana yang mengintegrasikan berbagai metode dan alat pemasaran untuk menciptakan nilai, menarik perhatian pelanggan, serta mencapai tujuan bisnis.

    Strategi pemasaran bukan hanya tentang promosi produk, melainkan mencakup analisis situasi pasar, penentuan target konsumen, perumusan bauran pemasaran, hingga evaluasi hasil pemasaran.

    Di tengah penurunan daya beli, peran strategi pemasaran menjadi semakin krusial. Perusahaan harus mampu memahami perubahan perilaku konsumen yang kini lebih sensitif terhadap harga, lebih mengutamakan manfaat produk, serta cenderung mengurangi pembelian impulsif. Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk merancang strategi pemasaran yang tidak hanya menarik secara promosi, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang nyata bagi konsumen.

    Perubahan Perilaku Konsumen di Masa Penurunan Daya Beli

    Penurunan daya beli menyebabkan perubahan signifikan dalam pola konsumsi masyarakat. Konsumen menjadi lebih fokus pada kebutuhan dasar dan mengurangi pengeluaran untuk barang sekunder maupun tersier. Produk yang sebelumnya dianggap penting kini menjadi barang yang bisa ditunda pembeliannya. Selain itu, konsumen juga semakin membandingkan harga, kualitas, dan manfaat sebelum memutuskan pembelian.

    Fenomena ini menuntut perusahaan untuk memahami kebutuhan utama konsumen dan menyesuaikan strategi produknya. Produk yang menawarkan manfaat nyata, harga terjangkau, serta kualitas yang memadai cenderung lebih diminati. Dengan demikian, strategi pemasaran harus diarahkan pada penciptaan nilai yang relevan dengan kondisi ekonomi konsumen.

    Strategi Penyesuaian Produk dan Harga
    Salah satu langkah strategis yang dapat diterapkan perusahaan adalah penyesuaian produk dan harga. Dalam kondisi daya beli menurun, perusahaan dapat menawarkan produk dengan ukuran lebih kecil, varian ekonomis, atau paket bundling yang lebih terjangkau. Strategi ini memungkinkan konsumen tetap dapat membeli produk meskipun dengan anggaran terbatas

     Penetapan harga juga perlu disesuaikan dengan kemampuan pasar. Strategi penetapan harga yang fleksibel, seperti diskon berkala, promo paket hemat, dan potongan harga loyalitas, dapat mendorong konsumen untuk tetap melakukan pembelian. Namun, perusahaan harus tetap menjaga keseimbangan antara harga dan kualitas agar kepercayaan konsumen tidak menurun.

    Optimalisasi Promosi yang Efektif dan Efisien
    Promosi menjadi elemen penting dalam strategi pemasaran di tengah penurunan daya beli. Namun, promosi yang dilakukan harus tepat sasaran dan efisien. Pemanfaatan media digital seperti media sosial, marketplace, dan platform e-commerce memungkinkan perusahaan menjangkau konsumen secara luas dengan biaya yang relatif rendah.

    Konten promosi juga perlu disesuaikan dengan kondisi konsumen. Pesan pemasaran sebaiknya menekankan manfaat produk, nilai ekonomis, serta solusi yang ditawarkan bagi kebutuhan sehari-hari. Promosi berbasis edukasi, testimoni pelanggan, dan pendekatan emosional yang relevan dapat meningkatkan kepercayaan serta minat beli konsumen.

    Peningkatan Layanan dan Hubungan Pelanggan
    Selain aspek produk dan promosi, kualitas layanan menjadi faktor penting dalam mempertahankan loyalitas pelanggan. Di tengah keterbatasan daya beli, konsumen cenderung memilih merek yang memberikan pelayanan terbaik, kemudahan transaksi, serta pengalaman berbelanja yang memuaskan.

    Perusahaan perlu membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan melalui komunikasi yang intensif, pelayanan responsif, dan program loyalitas. Hubungan yang baik dengan pelanggan dapat menciptakan kepercayaan dan meningkatkan kemungkinan pembelian ulang, meskipun kondisi ekonomi sedang kurang stabil.

    Inovasi sebagai Strategi Bertahan
    Inovasi merupakan kunci utama dalam menghadapi penurunan daya beli. Perusahaan harus mampu menciptakan produk baru, sistem distribusi yang lebih efisien, serta metode promosi yang kreatif. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan produk baru, tetapi juga dapat berupa perbaikan kemasan, peningkatan fitur, atau penyederhanaan proses produksi untuk menekan biaya.

    Perusahaan perlu membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan melalui komunikasi yang intensif, pelayanan responsif, dan program loyalitas. Hubungan yang baik dengan pelanggan dapat menciptakan kepercayaan dan meningkatkan kemungkinan pembelian ulang, meskipun kondisi ekonomi sedang kurang stabil.

    Inovasi sebagai Strategi Bertahan
    Inovasi merupakan kunci utama dalam menghadapi penurunan daya beli. Perusahaan harus mampu menciptakan produk baru, sistem distribusi yang lebih efisien, serta metode promosi yang kreatif. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan produk baru, tetapi juga dapat berupa perbaikan kemasan, peningkatan fitur, atau penyederhanaan proses produksi untuk menekan biaya.

    Melalui inovasi, perusahaan dapat menawarkan solusi yang relevan dengan kebutuhan konsumen, sehingga tetap memiliki daya saing di pasar. Inovasi yang tepat dapat menjadi keunggulan kompetitif yang memungkinkan perusahaan bertahan dan berkembang di tengah tekanan ekonomi.

    Peran Strategi Pemasaran dalam Menjaga Stabilitas Usaha
    Strategi pemasaran yang tepat tidak hanya berperan dalam meningkatkan penjualan, tetapi juga menjaga stabilitas keuangan perusahaan. Dengan memahami kondisi pasar dan perilaku konsumen, perusahaan dapat mengatur produksi, distribusi, dan promosi secara lebih efisien. Hal ini membantu mengurangi risiko kerugian serta menjaga arus kas tetap stabil.

    Kesimpulan
    Penurunan daya beli masyarakat merupakan tantangan besar bagi dunia usaha, namun juga menjadi peluang bagi perusahaan untuk mengembangkan strategi pemasaran yang lebih adaptif dan inovatif.

    Dengan memahami perubahan perilaku konsumen, menyesuaikan produk dan harga, mengoptimalkan promosi, meningkatkan kualitas layanan, serta menerapkan inovasi berkelanjutan, perusahaan dapat tetap bertahan dan bahkan berkembang di tengah kondisi ekonomi yang sulit.

    Strategi pemasaran bukan sekadar alat untuk meningkatkan penjualan, melainkan sarana untuk menciptakan nilai, membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan, serta menjaga keberlangsungan usaha. Oleh karena itu, perusahaan yang mampu merancang dan mengimplementasikan strategi pemasaran secara efektif akan memiliki keunggulan kompetitif yang kuat, meskipun berada dalam situasi penurunan daya beli masyarakat.

    DAFTAR REFERENSI:

    Sudirwo, Apriyanto, & Ohyver. (2025). Buku Referensi Strategi Pemasaran. Jambi: PT. Sonpedia Publishing Indonesia. ISBN 978-623-514-424-5 (PDF). file:///C:/Users/ADVAN/Downloads/mergeSudirwo-2025-Buku%20Strategi%20Pemasaran%20(1)%20(1)%20(1).pdf

    * Wihemina Niwin _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    Strategi Pemasaran UMKM Tanpa Anggaran Besar

    DUTA, Pontianak – Pertama, pemasaran masa kini lebih menekankan pada unsur kreativitas dibandingkan besarnya modal yang dimiliki. Kehadiran media sosial membuka peluang yang setara bagi UMKM maupun merek besar untuk menjangkau audiens yang sama, selama konten yang disajikan relevan dan dilakukan secara konsisten.

    Sebagai contoh, pembuatan konten video singkat yang kreatif dan diunggah secara rutin mampu meningkatkan jangkauan pemasaran secara organik tanpa harus mengeluarkan biaya iklan yang besar.

    Kedua, strategi pemasaran dengan biaya minimal umumnya lebih berorientasi pada pembangunan hubungan langsung dengan konsumen. Upaya seperti program rujukan, pemanfaatan testimoni pelanggan, kolaborasi dengan pelaku usaha lokal, hingga aktivitas berbasis komunitas dapat menumbuhkan kepercayaan dan loyalitas pelanggan. Pendekatan ini bahkan sering menghasilkan promosi dari mulut ke mulut yang lebih efektif dibandingkan iklan berbayar.

    Ketiga, UMKM memiliki keunggulan kompetitif yang tidak dapat diperoleh hanya melalui investasi finansial, yaitu pemahaman yang mendalam terhadap kebutuhan dan karakteristik konsumen lokal.

    Ketika strategi pemasaran didasarkan pada pemahaman tersebut misalnya dengan mengangkat cerita di balik produk, proses produksi, atau layanan yang bersifat personal UMKM tidak sekadar menawarkan produk, tetapi juga membangun narasi yang memiliki keterikatan emosional dengan konsumennya.

    Berdasarkan data dan laporan terbaru, UMKM kini mulai mengandalkan pendekatan pemasaran yang lebih efisien, seperti pemanfaatan media sosial, pemasaran berbasis komunitas, serta penggunaan teknologi digital berbiaya rendah. Fenomena ini sejalan dengan kondisi sebagian besar UMKM Indonesia yang memiliki keterbatasan modal, namun dituntut tetap kompetitif di era digital.

    Memasuki tahun 2026, sekitar 31 persen UMKM di Indonesia tercatat telah mengintegrasikan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI), untuk mendukung kegiatan usaha dan pemasaran. Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai mampu membantu pelaku UMKM memahami perilaku konsumen dan menyusun strategi promosi yang lebih tepat sasaran tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

    Strategi pemasaran UMKM
    Usaha Menengah adalah usaha ekonomi yang tumbuh secara mandiri, yang dilaksanakan oleh orang prorangan atau badan usaha yang di dalamnya tidak termasuk anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsing termasuk dalam Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan hasil kekayaan bersih atat hasil penjua Jan selama setahun

    Usaha Menengah adalah usaha ekonomi yang tumbuh secara mandiri, yang dilaksanakan oleh orang prorangan atau badan usaha yang di dalamnya tidak termasuk anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsing termasuk dalam Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan hasil kekayaan bersih atat hasil penjua Jan selama setahun

    Strategi pemasaran
    Strategi pemasaran akan melibatkan dua hal penting. Pertama adalah konsumen seperti apakah yang akan perusahaan layani, dalam hal ini rusahaan harus menentukan segmentasi pasar dan pasar sasaran yang akan dilayani, kemudian yang kedua adalah bagaimana cara perusahaan menciptakan nilai untuk sasaran pasar tersebut, dalam ini perusahaan harus dapat menentukan diferensasi dan positioning mereka bagi konsumen.

    Perumusan strategi adalah proses didalam level organisasi dengan menggabungkan berbagai jenis aktivitas proses bisnis untuk dapat memformulasikan misi dan tujuan strategis perusahaan. Aktivitas proses bisnis tersebut juga termasuk proses analisis, perencanaan, dan pengambilagkeputusan, dan manajemen yang mana hal terse but akan sering dipengaruhi oleh budaya dan sistem nilai yang ada di dalam organisas tersebut

    Dalam proses strategi pemasaran, pelaku UMKM harus dapat menentukan konsumen manakah yang dapat kita layani dan penuhi kebutuhannya dengan baik serta cara perusahaan untuk menginfor masikan nilai mereka ke konsumen tersebut Proses ini dapat dijelaskan dalam kastaniya dengan penentuan segmentasi pasar. penentuan para perusahaan 

    Tujuan strategi produk
    Tujuan strategi produk adalah mengarahkan pengembangan produk dan bauran produk. Berapa banyak variasi produk yang akan ditawarkan dan dalam bentuk konfigurasi yang bagaimana. Tujuan produk juga dapat fokus pada pengembangan produk dengan harga tertentu, tingkat kualitas, atau menarik bagi ceruk pasar.

    Meskipun keputusan dari sebuah manufaktur baik industri atau dalam kemasan biasanya tanggung jawab divisi produksi perusahaan, strategi untuk mencapai tujuan-tujuan ini biasanya mendorong biaya yang mungkin terjadi dan sering kali melibatkan perubahan spesifikasi atau bahan untuk mendapatkan produk lebih keras menyenangkan, lebih ringan, lebih cepat, lebih murah atau lebih estetis.

    Dalam perencanaan pemasaran, perlu mempertimbangkan fitur produk dan manfaat dalam segmentasi dan targeting. Hal yang tak kala penting adalah mendefinisikan business perusahaan.

    Meskipun keputusan dari sebuah manufaktur baik industri atau paket biasanya tanggung jawab devisi produksi perusahaan, departemen ini harus bekerja sama dengan marketing. Merupakan tanggung jawab pemasaran untuk mengidentifikasi apa yang pelanggan inginkan dan apa yang kompetitor lakukan

    Strategi harga
    Harga produk berdasarkan biaya. Mengantisipasi jumlah produk yang akan dibeli pada harga tertentu, perusahaan cenderung untuk mengadopsi formula penetapan harga berbasis biaya.

    Meskipun ini adalah sederhana dan mudah digunakan, eksekutif harus fleksibel dalam menerapkannya setiap situasi. Pemasar memulai proses penetapan harga berbasis biaya dengan total semua biaya yang terkait dengan penawaran produk di pasar, termasuk produksi, transportasi, distribusi dan biaya pemasaran. Mereka kemudian menambahkan sejumlah tertentu untuk keuntungan dan pengeluaran yang sebelumnya tidak dipertimbangkan.

    Total dari keseluruhan menjadi harga. Banyak perusahaan kecil menghitung mark-up sebagai persentase dari biaya total. Ada dua perhitungan harga berbasis biaya, mark-up dan marjin keuntungan. Harga markup didasarkan pada biaya item dan margin keuntungan didasarkan pada harga jual. Sebagai contoh: Sebuah UKM yang memproduksi produk berbahan rotan memproduksi 200 kursi rotan dengan biaya per unit Rp. 100.000

    Kesimpulan
    strategi pemasaran UMKM tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya anggaran yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan pelaku usaha dalam memanfaatkan kreativitas, membangun hubungan dengan pelanggan, serta memahami kebutuhan konsumen secara mendalam.

    Perkembangan media sosial memberikan peluang yang setara bagi UMKM untuk meningkatkan visibilitas produk melalui konten yang relevan dan konsisten tanpa harus mengandalkan biaya promosi yang besar. Selain itu, pendekatan pemasaran yang berfokus pada hubungan jangka panjang, kepercayaan, dan loyalitas pelanggan terbukti mampu menciptakan promosi dari mulut ke mulut yang lebih efektif dan berkelanjutan.

    Dengan memanfaatkan pemahaman autentik terhadap konsumen lokal dan membangun narasi yang kuat, UMKM tidak hanya menjual produk, tetapi juga menciptakan nilai dan keterikatan emosional, sehingga mampu bersaing dan bertahan di tengah persaingan pasar yang semakin kompetitif.

    DAFTAR REFERENSI:
    Buku ajar strategi pemasaran akurani tadion Badak No.: 2.Sc
    Sitio Arifin & Simamora Saur
    Strategi Pemasaran UMKM
    Oleh Prof. Dr. Arifin Sitio, M. Sc. & Saur Costanius Simamora, SP, MM
    Edisi Kedua, Cet 1 Pandeglang Permata Banten, 2019

    * Marselina Anjelina _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    Refleksi Tentang Strategi Pemasaran UMKM yang Tidak Selalu Tergantung pada Anggaran besar

    DUTA, Pontianak – Memasuki mingu keempat januari 2026 lanskap ekonomi Indonesia menghadapi tantantangan yang unik berdasar kan data tersebut dari badan pusat stastitik (BPA) awal tahun ini meski kontribusi UMKM terhadap PDB TETAP ADIL DIANGKA 61% daya beli Masyarakat menunjukan pergeseran kearah komsumsi yang lebih selektif dan berbasis nilai.

    Di ditengah gemparan iklan digital yang semakin mahal dan algrotima platform yang kian sulit ditebak , muncul sebuah relefleksi penting apakah suksesnya pemasaran UMKM hanya ditentukan oleh angaran iklan? Banyak organisasi besar dalam perlombaan bakar uang melalui iklan berbayar massif.

    Namun bagi umkm kererbatasan angaran justru menjadi katalisator lahirnya strategi pemasaran gerilya yang lebih organic manusiwai, dan berkelanjutan. Ini akan mengulas mengapa di tahun 2026 ini keberhasilanpemasaran UMKM justru lebih ditentui oleh keratifitas nerasi yang otentik dan pemanfaatan tekologi yang evefisien dari pada sekedar saldo didesbor mediasosial.

    Narasi Otentik sebagai Pengganti Iklan Mahal Salah satu kekuatan utama UMKM di tahun 2026 adalah kemampuannya membangun narasi otentik. Dalam buku “Marketing 6.0: The Future is Immersive” (2024) karya Philip Kotler dkk, ditekankan bahwa konsumen masa kini mulai mengalami “kelelahan digital” terhadap iklan yang terlalu terpoles.

    Mereka lebih mencari keterhubungan emosional. UMKM tidak memerlukan studio megah; mereka hanya membutuhkan kejujuran dalam bercerita tentang proses produksi atau nilai di balik produk mereka.

    Strategi ini terbukti efektif secara data. Berdasarkan laporan DataReportal: Digital 2026 Indonesia, konten video pendek organik (seperti Reels atau TikTok) yang bersifat “behind the scene” memiliki tingkat kepercayaan 3 kali lebih tinggi dibandingkan konten iklan bersponsor.

    Hal ini membuktikan bahwa algoritma platform tahun 2026 lebih memihak pada konten yang memicu interaksi nyata, bukan sekadar konten yang didorong oleh anggaran tinggi. Ketika anggaran terbatas, UMKM dipaksa untuk berpikir lebih dalam tentang “apa yang diinginkan audiens” daripada “berapa banyak orang yang bisa saya jangkau dengan uang,

    Membangun Komunitas: Pemasaran Tanpa Biaya Akuisisi Jika perusahaan besar membeli audiens, UMKM memenangkan pasar melalui komunitas. Mengutip buku “How to Grow Your Small Business” (2023) karya Donald Miller, pemasaran masa depan bukan lagi tentang menyiarkan pesan ke massa, melainkan tentang membangun dialog di dalam lingkaran kecil yang loyal. Strategi ini sangat relevan untuk UMKM yang beroperasi dengan anggaran minim.

    Di Indonesia, fenomena “Local Brand Community” di platform seperti WhatsApp dan Telegram telah menggantikan fungsi iklan koran atau baliho. UMKM yang mampu merawat 100 pelanggan setia yang melakukan word-of-mouth secara digital jauh lebih stabil daripada UMKM yang mendapatkan ribuan pengikut dari iklan tetapi tidak memiliki loyalitas.

    Loyalitas ini adalah aset yang tidak bisa dibeli dengan anggaran iklan sebesar apa pun. Data dari CNBC Indonesia pada Januari 2026 menyebutkan bahwa UMKM yang mengandalkan komunitas memiliki retensi pelanggan 40% lebih tinggi di tengah penurunan daya beli awal tahun ini.

    Produk Sebagai Instrumen Pemasaran UtamaSeringkali, kesalahan berpikir pemasar adalah menganggap pemasaran sebagai entitas yang terpisah dari produk. Padahal, produk yang inovatif adalah instrumen pemasaran terbaik.

    Dalam buku “Digital Transformation of SMEs” (2023), dijelaskan bahwa efisiensi biaya pemasaran dapat dicapai jika produk tersebut memiliki nilai unik yang kuat (Unique Selling Proposition).

    Di tahun 2026, konsumen lebih menghargai aspek keberlanjutan dan transparansi. UMKM yang menonjolkan aspek ramah lingkungan atau pemberdayaan lokal secara jujur tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk meyakinkan pasar. Produk yang berkualitas dengan cerita yang kuat akan memasarkan dirinya sendiri melalui ulasan sukarela konsumen di media sosial. Ini adalah bentuk pemasaran paling efektif karena berbasis kepercayaan, bukan manipulasi visual iklan.

    Tanggung Jawab Moral dalam Pemasaran Murah, Namun, strategi pemasaran tanpa anggaran besar ini bukan tanpa risiko. Kritik sering muncul terkait manipulasi konsumen melalui testimoni palsu atau penggunaan micro-influencer yang tidak transparan.

    UMKM memiliki tanggung jawab moral untuk tetap jujur. Di era algoritma 2026, sekali sebuah merek ketahuan melakukan kebohongan publik, “pembatalan” (cancel culture) oleh netizen dapat menghancurkan bisnis tersebut dalam sekejap, jauh lebih cepat daripada efek iklan mana pun. Oleh karena itu, strategi tanpa anggaran besar wajib dibarengi dengan integritas produk yang tinggi.

    UMKM juga dapat memanfaatkan analisis data untuk meningkatkan strategi pemasaran mereka. Dengan menganalisis data tentang perilaku konsumen, UMKM dapat memahami apa yang dibutuhkan oleh konsumen dan membuat strategi pemasaran yang lebih efektif. Misalnya, UMKM dapat menggunakan data tentang demografi konsumen, perilaku pembelian, dan preferensi produk untuk membuat konten yang lebih relevan dan menarik bagi konsumen.

    UMKM juga dapat meningkatkan kepercayaan konsumen dengan memberikan layanan pelanggan yang baik. Dengan memberikan layanan pelanggan yang ramah, responsif, dan profesional, UMKM dapat meningkatkan kepercayaan konsumen dan membuat mereka lebih loyal. Misalnya, UMKM dapat menggunakan media sosial untuk memberikan layanan pelanggan yang cepat dan efektif, atau membuat program loyalitas untuk menghargai konsumen yang setia.

    Refleksi atas strategi pemasaran UMKM di tahun 2026 membawa kita pada satu kesimpulan: modal finansial bukanlah penentu tunggal kesuksesan. Strategi pemasaran yang cerdas adalah tentang bagaimana mengelola modal sosial, kreativitas konten, dan kepercayaan konsumen.

    UMKM yang mampu bertahan di tahun 2026 adalah mereka yang menyadari bahwa pemasaran bukan tentang seberapa keras kita berteriak di ruang digital, melainkan seberapa dalam kita mampu menyentuh kebutuhan dan emosi pelanggan kita tanpa harus membebani biaya produksi dengan anggaran iklan yang membengkak. Seperti kata pepatah bisnis modern, “Uang bisa membeli jangkauan, tapi kreativitas memenangkan hati.

     

    DAFTAR REFERENSI:

    Kotler, P., Kartajaya, H., & Setiawan, I. (2024). Marketing 6.0: The Future is Immersive. John Wiley & Sons. Akses di Google Books

    Miller, D. (2023). How to Grow Your Small Business: A 6-Step Plan to Help Your Business Take Off. HarperCollins Leadership. Akses di Google Books

    Portal Berita & Data (Tahun 2026):

    1. Badan Pusat Statistik. (2024). Profil Bisnis Usaha Mikro Kecil 2024. Diakses pada 21 Januari 2026, dari www.bps.go.id
    2. CNBC Indonesia. (2026, Januari 15). Strategi UMKM Menghadapi Tantangan Ekonomi Awal 2026. Diakses dari www.cnbcindonesia.com
    3. DataReportal. (2026). Digital 2026: Indonesia Statistical Report. Diakses pada 21 Januari 2026, dari datareportal.com

    * Gita _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

     

    Refleksi tentang Strategi Pemasaran UMKM yang Tidak Selalu Bergantung pada Anggaran Besar

    DUTA, Pontianak – UMKM sering diposisikan sebagai sektor yang “serba terbatas”, terutama dalam hal modal dan promosi. Dalam banyak diskusi, keterbatasan anggaran sering dianggap sebagai alasan utama mengapa UMKM sulit berkembang.

    Padahal, jika melihat praktik di lapangan sepanjang 2025 hingga 2026, anggapan tersebut tidak selalu benar. Justru banyak UMKM yang mampu bertahan dan berkembang tanpa dukungan anggaran pemasaran yang besar. Dari sini muncul pertanyaan penting: apakah pemasaran selalu harus mahal?

    Ketika membaca berbagai artikel tentang UMKM dan mengamati langsung praktik pemasaran di media sosial, terlihat bahwa keberhasilan pemasaran UMKM lebih sering ditentukan oleh cara pelaku usaha memahami konsumennya, bukan oleh besarnya biaya promosi.

    Banyak pelaku UMKM memanfaatkan media sosial secara sederhana, bahkan tanpa iklan berbayar, tetapi tetap mampu menjangkau pasar yang luas. Hal ini menunjukkan adanya perubahan mendasar dalam pola pemasaran.

    Perubahan Cara Konsumen Menilai Produk

    Konsumen saat ini tidak mudah lagi terpengaruh oleh iklan yang bersifat formal dan berlebihan. Mereka lebih tertarik pada pengalaman nyata, testimoni, dan cerita di balik sebuah produk.

    Artikel “7 Langkah Digitalisasi UMKM 2026, Saatnya Maju!” yang dimuat di idstar.co.id menggambarkan bahwa konsumen digital cenderung mencari kedekatan dan keaslian. Mereka ingin tahu siapa pembuat produk, bagaimana prosesnya, dan apa nilai yang dibawa oleh usaha tersebut.

    Kondisi ini sejalan dengan pembahasan alam Buku Ajar Strategi Pemasaran karya Sari dkk. (2025), yang menekankan pentingnya hubungan jangka panjang antara pelaku usaha dan konsumen. Hubungan ini tidak dibangun melalui promosi besar-besaran, melainkan melalui komunikasi yang konsisten dan dapat dipercaya. Bagi UMKM, pendekatan ini justru lebih realistis karena tidak menuntut biaya besar.

    Digital Sebagai Alat, Bukan Beban

    Sering kali digitalisasi dianggap sebagai sesuatu yang rumit dan mahal. Padahal, dampak praktiknya, digitalisasi bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Membuat akun media sosial, mengunggah konten secara rutin, dan membalas komentar pelanggan sudah merupakan bentuk pemasaran digital.

    Artikel dari majoo.id berjudul “Arah Baru UMKM Lebih Digital, Lebih Terukur” (22 Januari 2026) menunjukkan bahwa banyak UMKM mulai memanfaatkan media digital untuk memahami konsumennya.

    Dengan melihat respons sederhana seperti komentar dan pesan langsung, pelaku usaha dapat mengetahui apa yang disukai pasar. Proses ini jauh lebih murah dibandingkan promosi komvensional yang tidak terukur hasilnya.

    Buku Manajemen Pemasaran UMKM: Strateg Digital Marketing dan Studi Kasus karya Hakim dan Artopo (2025) juga menegaskan bahwa pemasaran digital memberikan fleksibilitas bagi UMKM.

    Pelaku usaha tidak harus mengeluarkan biaya besar di awal, tetapi bisa menyesuaikan strategi seiring berjalannya waktu. Pendekatan seperti ini membuat pemasaran menjadi lebih adaptif.

    Tren Pemasaran 2026: Sederhana tapi Relevan

    Artikel “10 Tren Marketing 2026 yang Wajib UKM Tahu!” dari isellercommerce.com menyoroti bahwa tren pemasaran UMKM ke depan lebih menekankan pada relevansi konten. Konten yang sederhana, jujur, dan sesuai dengan keseharian konsumen justru lebih mudah diterima. Dalam banyak kasus, video pendek yang dibuat secara spontan mampu menarik perhatian lebih besar dibandingkan iklan yang diproduksi secara profesional.

    Fenomena ini memperlihatkan bahwa kreativitas sering kali lebih berpengaruh daripada anggaran. UMKM yang mampu membaca tren dan menyesuaikan gaya komunikasinya dengan audiens memiliki peluang lebih besar untuk dikenal. Hal ini juga ditegaskan oleh Nugroho (2024) dalam bukunya Strategi Pemasaran UMKM di Era Digital, yang menyebutkan bahwa kejelasan identitas usaha jauh lebih penting daripada intensitas promosi.

    Fokus Pasar Mengurangi Pemborosan Biaya

    Kesalahan yang sering terjadi dalam pemasaran UMKM adalah keinginan untuk menjangkau semua orang. Akibatnya, pesan yang disampaikan menjadi tidak fokus dan biaya promosi terasa sia-sia. Padahal, dengan segmentasi pasar yang jelas, UMKM dapat menyampaikan pesan yang lebih tepat sasaran.

    Sari dkk. (2025) menjelaskan bahwa strategi pemasaran yang terarah akan membantu pelaku usaha menggunakan sumber daya secara lebih efisien. Dengan mengetahui siapa konsumennya, UMKM tidak perlu melakukan promosi berlebihan. Dalam konteks ini, keterbatasan anggaran justru mendorong pelaku usaha untuk lebih selektif dan strategis.

    Media Sosial dan Kepercayaan Konsumen

    Media sosial bukan hanya alat promosi, tetapi juga ruang interaksi. Ketika UMKM aktif membalas komentar, mengunggah testimoni, dan membagikan aktivitas usahanya, konsumen merasa lebih dekat. Kedekatan ini sering kali berujung pada loyalitas.

    Artikel di majoo.id menegaskan bahwa loyalitas pelanggan memiliki dampak jangka Panjang bagi UMKM. Pelanggan yang puas tidak hanya membeli ulang, tetapi juga merekomendasikan produk kepada orang lain. Rekomendasi semacam ini sering kali lebih efektif dibandingkan iklan berbayar.

    Dari berbagai pengamatan dan kajian, terlihat bahwa strategi pemasaran UMKM tidak selalu bergantung pada anggaran besar. Di tahun 2026, pemasaran lebih ditentukan oleh pemahaman konsumen, kemampuan beradaptasi, dan konsistensi pelaku usaha dalam membangun kepercayaan.

    Anggaran tetap dibutuhkan, tetapi bukan sebagai faktor utama. UMKM yang mampu memanfaatkan media digital secara sederhana, memahami pasarnya, dan menjaga hubungan dengan konsumen justru memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang. Pada akhirnya, pemasaran UMKM bukan soal seberapa besar dana yang dikeluarkan, melainkan seberapa tepat cara yang digunakan.

    DAFTAR REFERENSI:

    Sari, D. K., dkk. (2025). Buku Ajar Strategi Pemasaran. Umsida Press.

    Hakim, S. E., & Artopo, A. (2025) Manajemen Pemasaran UMKM: Strategi Digital Marketing dan Studi Kasus. Deepublish.

    Nugroho, A. (2024). Strategi Pemasaran UMKM di Era Digital. Prenadamedia Group.

    Portal & Media Digital

    “7 Langkah Digitalisasi UMKM 2026, Saatnya Maju!”. idstar.co.id, 31 Des 2025. https://idstar.co.id

    “10 Tren Marketing 2026 yang Wajib UKM Tahu!”. isellercommerce.com,11 Des 2025.https://www.isellercommerce.com

    “Arah Baru UMKM Lebih Digital, Lebih Terukur”. majoo.id, 22 Jan 2026.https://majoo.id

    * Lira Virna _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    TERBARU

    TERPOPULER