Monday, June 15, 2026
More
    Home Blog Page 4

    Sibarani Soroti Maraknya PMI Non-Prosedural ke Malaysia Lewat Jalur Perbatasan Kalimantan

    Anggota Komisi XIII DPR RI, Franciscus Maria Agustinus Sibarani (2026)

    MajalahDUTA.Com | Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi Partai Golkar, Franciscus Maria Agustinus Sibarani, menyoroti masih maraknya praktik pemberangkatan calon pekerja migran Indonesia (CPMI) secara non-prosedural menuju Malaysia melalui wilayah perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara.

    Menurut Sibarani, persoalan pekerja migran ilegal tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran administrasi keimigrasian, tetapi juga menyangkut perlindungan hak dan keselamatan masyarakat yang rentan menjadi korban eksploitasi maupun tindak pidana perdagangan orang.

    “Fenomena PMI non-prosedural tidak bisa dipandang sebagai persoalan biasa. Di dalamnya ada risiko eksploitasi, kekerasan, hingga perdagangan orang yang harus dicegah secara serius,” kata Sibarani, Selasa (5/5/2026).

    Pernyataan tersebut disampaikan menyusul pengungkapan kasus oleh aparat kepolisian di Kabupaten Nunukan yang berhasil menggagalkan keberangkatan empat CPMI ke Malaysia melalui jalur ilegal.

    Kasus itu memperlihatkan bahwa praktik penggunaan “jalur tikus” dan keterlibatan perantara tidak resmi masih terus berlangsung di kawasan perbatasan.

    Berdasarkan data BP3MI Kalimantan Barat tahun 2026, sebanyak 334 PMI tercatat berangkat ke luar negeri dan 258 orang di antaranya memilih Malaysia sebagai negara tujuan. Kabupaten Sambas menjadi daerah dengan jumlah pekerja migran terbanyak, yakni mencapai 259 orang.

    Sibarani menilai tingginya angka keberangkatan PMI ke Malaysia menunjukkan masih besarnya ketergantungan masyarakat perbatasan terhadap sektor pekerjaan di luar negeri.

    Namun di sisi lain, kondisi itu juga membuka ruang bagi praktik perekrutan ilegal oleh oknum tertentu.

    Dia mengatakan banyak calon pekerja migran tergoda menggunakan jalur cepat non-prosedural karena dianggap lebih murah dan praktis. Situasi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh calo yang menjanjikan proses keberangkatan instan tanpa perlindungan hukum yang jelas.

    “Kurangnya pemahaman masyarakat tentang risiko bekerja secara ilegal membuat mereka mudah terjebak. Padahal ketika bermasalah di negara tujuan, posisi mereka menjadi sangat rentan,” ujarnya.

    Menurut Sibarani, penanganan PMI non-prosedural harus dilakukan secara menyeluruh melalui penguatan edukasi masyarakat, pengawasan di wilayah perbatasan, hingga peningkatan koordinasi antarinstansi.

    Dia menekankan bahwa pendekatan represif saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

    “Penegakan hukum penting, tetapi pencegahan juga harus diperkuat. Masyarakat perlu diberikan pemahaman yang memadai agar tidak mudah tergiur jalur ilegal,” katanya.

    Sibarani juga mendorong adanya keterlibatan masyarakat dalam sistem pengawasan berbasis komunitas di wilayah perbatasan. Menurutnya, masyarakat lokal dapat menjadi mitra pemerintah dalam memberikan informasi awal terkait aktivitas perekrutan ilegal.

    “Perbatasan bukan hanya soal pengamanan wilayah, tetapi juga soal perlindungan masyarakat yang hidup di sana. Karena itu pendekatan kolaboratif menjadi sangat penting,” pungkasnya.*S|M – Sumber: fraksigolkar. 

    Seminar Nasional PGD ke-40 Jadi Motivasi Generasi Muda Tingkatkan Kualitas Diri

    Data Angka Partisipasi Kasar (APK) tahun 2025 (Agusandi)

    MajalahDUTA.Com | Seminar Nasional dalam rangka Pekan Gawai Dayak (PGD) ke-40 di Rumah Radakng mendapat sambutan antusias dari peserta yang hadir. Kehadiran Prof. Dr. Fauzan sebagai keynote speaker dinilai memberikan motivasi besar bagi generasi muda untuk terus meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan.

    Salah satu peserta seminar, Agusandi, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi mahasiswa dan generasi muda Dayak untuk memperkuat semangat belajar di tengah tantangan perkembangan zaman dan teknologi.

    Menurut Agusandi, materi yang disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini yang dituntut tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter, disiplin, dan kesiapan menghadapi dunia kerja.

    Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menjabat sebagai Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Republik Indonesia dalam Kabinet Merah Putih (Sumber: Agusandi)

    “Beliau menyampaikan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh nilai atau gelar, tetapi juga oleh kebiasaan sehari-hari seperti disiplin, tanggung jawab, dan kemauan untuk terus belajar. Pesan ini sangat penting bagi mahasiswa dan generasi muda saat ini,” ujarnya.

    Seminar Nasional tersebut diikuti mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum yang tampak antusias mengikuti pemaparan materi.

    Tampaknya kehadiran Prof. Fauzan dinilai memberi energi positif sekaligus motivasi agar generasi muda terus belajar, berinovasi, dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa dan daerah.

    Agusandi menilai seminar tersebut memberikan inspirasi bahwa pendidikan harus menjadi jalan untuk membangun masa depan yang lebih baik sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang mampu bersaing tanpa meninggalkan identitas budaya lokal.

    Data pengangguran berdasarkan tingkat pendidikan (Sumber: Agusandi)

    “Seminar ini membuka wawasan bahwa generasi muda Dayak harus siap menghadapi perkembangan teknologi dan persaingan global, tetapi tetap menjaga nilai budaya dan jati diri daerah,” katanya.

    Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan Seminar Nasional dalam rangka PGD ke-40 karena dinilai mampu menghadirkan ruang edukasi di tengah perayaan budaya masyarakat Dayak.

    Menurutnya, perpaduan antara pelestarian budaya dan penguatan pendidikan menjadi langkah penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.

    “Pekan Gawai Dayak bukan hanya tentang budaya, tetapi juga menjadi ruang membangun kesadaran generasi muda akan pentingnya pendidikan dan pengembangan diri,” tambahnya.*Samuel – AKUB GAK Pontianak, San Agustin Kampus II. 

    Di Balik Jeruji, Mereka Tetap Milik Tuhan

    Minggu pagi, 17 Mei 2026 - Dominikan Awam Gelar Profes Pertama di Rutan Pontianak (Sumber: akurop)

    MajalahDUTA.Com | Perayaan penerimaan anggota baru dan Profes Pertama Dominikan Awam di Kapel Rutan Klas IIA Pontianak, Minggu, 17 Mei 2026, menjadi momen penuh haru yang menegaskan bahwa kasih Tuhan tetap hadir bagi siapa saja, termasuk mereka yang sedang menjalani masa pembinaan di balik jeruji besi.

    Dalam Perayaan Ekaristi tersebut, Romo Andrei, OP menyampaikan homili bertema “Tetap Milik Tuhan” yang diambil dari Injil Yohanes 17:1–11a.

    Melalui refleksinya, dia mengajak para penghuni rutan dan anggota Dominikan Awam untuk menyadari bahwa manusia tetap berharga di mata Tuhan, meskipun pernah jatuh dalam kesalahan dan kegagalan hidup.

    Mengutip doa Yesus kepada Bapa, “Mereka adalah milik-Mu,” Rm. Andrei OP menegaskan bahwa Yesus menyampaikan kalimat tersebut bukan kepada orang-orang sempurna, melainkan kepada para murid yang masih memiliki ketakutan, kelemahan, bahkan nantinya meninggalkan-Nya.

    “Para murid bukan orang sempurna. Mereka pernah takut, bingung, bahkan gagal memahami Yesus. Namun Tuhan tetap menyebut mereka milik-Nya. Itu berarti kasih Tuhan tidak berhenti hanya karena manusia pernah jatuh,” kata Romo Andrei.

    Menurut dia pesan Injil itu menjadi sangat relevan bagi mereka yang hidup di lingkungan rutan, tempat yang sering dipenuhi stigma dan penilaian negatif dari masyarakat.

    “Mungkin dunia memberi label, orang gagal, mantan narapidana, atau orang berdosa. Tetapi bagi Tuhan, kalian tetap berharga dan tetap milik-Nya,” katanya di hadapan umat yang hadir di kapel rutan.

    Dia menegaskan bahwa profes pertama dalam Dominikan Awam bukan tanda bahwa seseorang telah sempurna, melainkan keberanian untuk memulai hidup baru bersama Tuhan.

    “Profes bukan tanda bahwa hidup kita sudah suci dan tanpa dosa. Profes adalah keberanian untuk bangkit, berjalan kembali bersama Tuhan, dan terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.

    Dalam homilinya, Romo Andrei juga mengingatkan bahwa Tuhan dimuliakan bukan hanya melalui keberhasilan hidup manusia, tetapi juga melalui pertobatan dan perubahan hati.

    “Tuhan dimuliakan ketika seseorang yang pernah jatuh memilih berubah. Ketika hati yang putus asa mulai belajar berharap kembali. Di situlah rahmat Tuhan bekerja secara nyata,” katanya.

    Perayaan tersebut berlangsung dalam suasana sederhana namun penuh makna.

    Sebanyak empat orang diterima sebagai anggota baru Dominikan Awam, sementara sebelas orang lainnya mengucapkan Profes Pertama dalam komunitas baru St. Margaret Castello di lingkungan Rutan Klas IIA Pontianak.

    Komunitas itu mengambil nama St. Margaret of Castello, seorang santa Dominikan yang mengalami penolakan dan penderitaan sejak kecil karena keterbatasan fisiknya, namun tetap hidup dalam sukacita dan kasih kepada Tuhan.

    Baginya, kehadiran komunitas Dominikan Awam di rutan menjadi tanda bahwa Gereja tidak pernah meninggalkan siapa pun.

    “Di balik tembok dan jeruji, Tuhan tetap bekerja. Harapan masih hidup. Dan selama manusia mau membuka hati, selalu ada kesempatan untuk memulai kembali bersama Tuhan,” pungkasnya.*S – akuredop. 

    250 OMK Dekanat Barat Perkuat Solidaritas dan Iman di Pulau Datok

    Temu OMK Dekanat Barat Keuskupan Ketapang, Franciscus Sibarani Tekankan Solidaritas Tanpa Sekat di Tengah Tantangan Era Digital (2026)

    MajalahDUTA.Com | Sebanyak 250 Orang Muda Katolik (OMK) dari empat paroki di wilayah Dekanat Barat Keuskupan Ketapang mengikuti kegiatan Temu OMK yang berlangsung di kawasan Pulau Datok, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, pada 15–17 Mei 2027.

    Kegiatan selama tiga hari dua malam tersebut menjadi ruang penguatan persaudaraan, iman, dan karakter generasi muda Gereja di tengah tantangan zaman digital.

    Empat paroki yang terlibat dalam kegiatan ini yakni OMK Paroki St. Gemma Galgani Katedral Ketapang, OMK Paroki St. Agustinus Payak Kumang, OMK Paroki Emanuel Sukadana, dan OMK Paroki St. Stefanus Kendawangan.

    Selama kegiatan berlangsung, para peserta mengikuti berbagai agenda seperti dinamika kelompok, pendalaman iman, refleksi, diskusi, serta aktivitas kebersamaan lainnya guna mempererat persaudaraan antar-OMK lintas paroki di wilayah Dekanat Barat Keuskupan Ketapang.

    Temu OMK hari itu tampaknya adalah momentum untuk memperkuat semangat solidaritas dan pelayanan orang muda agar tetap relevan menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan nilai kasih dan persaudaraan.

    Mengusung tema “Solidaritas Tanpa Sekat, Kasih Tanpa Tapi di Tengah Notifikasi”, kegiatan ini menjadi refleksi atas kehidupan orang muda yang saat ini berada di tengah arus globalisasi, perkembangan teknologi, dan derasnya informasi digital.

    Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Kalimantan Barat I, Franciscus Maria Agustinus Sibarani, turut memberikan perhatian dan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi generasi muda masa kini yang dihadapkan pada tantangan menjaga nilai persaudaraan di tengah kehidupan yang semakin cepat dan individual.

    “Orang Muda Katolik harus mampu menjaga solidaritas kepada sesama tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, maupun perbedaan lainnya. Kasih tidak boleh memiliki sekat dan tidak boleh hadir dengan syarat. Justru di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, nilai persaudaraan harus semakin kuat,” katanya.

    Sibarani menilai perkembangan teknologi dan derasnya notifikasi digital tidak boleh membuat generasi muda kehilangan kepedulian sosial maupun kedekatan dengan sesama.

    Sebaliknya, OMK diharapkan menjadi kelompok muda yang tetap relevan, adaptif terhadap perubahan zaman, namun tidak meninggalkan nilai kemanusiaan, solidaritas, dan semangat pelayanan.

    “Era digital menghadirkan banyak kemudahan, tetapi juga tantangan besar bagi orang muda. Jangan sampai dekat di media sosial, namun jauh dalam kepedulian nyata. Solidaritas dan kasih kepada sesama harus tetap menjadi identitas Orang Muda Katolik,” lanjut Sibarani.

    Sibarani menegaskan OMK tidak cukup hanya aktif di lingkungan Gereja, tetapi juga perlu hadir sebagai pribadi yang peduli terhadap persoalan sosial di tengah masyarakat.

    “Orang muda hari ini hidup dalam ruang yang penuh pilihan, penuh informasi, dan serba cepat. Karena itu OMK tidak cukup hanya aktif di lingkungan Gereja, tetapi juga harus hadir sebagai pribadi yang peduli terhadap persoalan sosial, memiliki empati, serta mampu menjadi pembawa damai di tengah masyarakat,” katanya.

    Menurutnya, solidaritas yang dibangun melalui kegiatan Temu OMK tidak boleh berhenti pada kebersamaan selama acara berlangsung, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari.

    “Solidaritas tanpa sekat berarti berani hadir untuk sesama tanpa melihat latar belakang. Ketika ada yang mengalami kesulitan, orang muda harus menjadi yang pertama hadir membantu. Kasih tanpa tapi berarti mengasihi tanpa syarat, tanpa memilih-milih, dan tanpa menunggu balasan,” tegasnya.

    Dia menilai OMK memiliki peran strategis sebagai generasi penerus Gereja sekaligus calon pemimpin masa depan yang akan menentukan arah kehidupan sosial masyarakat.

    “Saya berharap OMK tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang kuat secara iman, tetapi juga kuat dalam karakter, disiplin, mampu bekerja sama, dan berani mengambil peran. Gereja membutuhkan orang muda yang bukan hanya hadir di altar, tetapi juga mampu berkarya di tengah masyarakat,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Sibarani mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dengan relasi sosial secara nyata.

    “Notifikasi telepon genggam mungkin tidak pernah berhenti, tetapi kepedulian kepada keluarga, sesama, dan lingkungan sekitar tidak boleh ikut berhenti. Orang muda harus mampu menggunakan teknologi sebagai sarana kebaikan, bukan kehilangan rasa kemanusiaan karena terlalu sibuk dengan dunia digital,” tambahnya.

    Dia menilai kegiatan Temu OMK wilayah Dekanat Barat Keuskupan Ketapang menjadi ruang penting untuk memperkuat jejaring persaudaraan lintas paroki sekaligus membentuk generasi muda Gereja yang tangguh menghadapi perubahan zaman.

    “Saya melihat semangat dari 250 OMK yang hadir dari berbagai paroki menjadi tanda bahwa persaudaraan orang muda Katolik di Ketapang dan Kayong Utara tetap hidup dan perlu terus dirawat. Dari ruang-ruang seperti inilah lahir pemimpin masa depan yang berakar pada iman, bertumbuh dalam pelayanan, dan mampu memberi dampak bagi masyarakat,” pungkasnya. *S|M (Sumber: Team Sibarani). 

    Dominasi AI, Paus Leo XIV Ingatkan Bahaya Kehilangan Kemanusiaan

    Pesan Paus Leo XIV Untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60

    MajalahDUTA.Com | Pesan Leo XIV untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 tidak hanya berbicara tentang teknologi, tetapi juga tentang krisis kemanusiaan yang perlahan tumbuh di era digital.

    Dalam refleksinya yang berjudul “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”, Paus mengingatkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) dapat membuat manusia kehilangan kemampuan paling mendasar: berpikir, merasakan, dan berelasi secara autentik.

    Alih-alih memusatkan perhatian pada kecanggihan teknologi, Paus Leo XIV justru menyoroti dampak sosial dan spiritual dari budaya digital yang semakin menguasai kehidupan manusia.

    Menurutnya, manusia modern mulai hidup dalam dunia simulasi, ketika relasi nyata perlahan digantikan oleh interaksi artifisial.

    “Relasi dengan sesama manusia digantikan oleh relasi dengan kecerdasan buatan,” tulis Paus dalam pesannya yang diterbitkan di Vatikan, 24 Januari 2026.

    Bapa Paus menilai, situasi tersebut berbahaya karena manusia dapat kehilangan pengalaman dasar untuk bertemu dengan orang lain yang berbeda pandangan, berbeda karakter, dan berbeda pengalaman hidup.

    Padahal, perjumpaan dengan perbedaan adalah fondasi lahirnya dialog dan persahabatan sejati.

    Menurut Paus Leo XIV, teknologi digital saat ini tidak lagi sekadar alat bantu komunikasi, tetapi sudah masuk ke wilayah emosional manusia.

    Kehadiran chatbot, influencer virtual, dan sistem AI yang dirancang menyerupai manusia dinilai mampu menciptakan ilusi relasi yang semu.

    “Chatbot yang dibuat terlalu ‘penuh perhatian’ dapat menjadi pengatur tersembunyi emosi kita,” tegasnya.

    Dalam sudut pandang Paus, ancaman terbesar AI bukanlah robot yang menggantikan manusia secara fisik, melainkan ketika manusia secara sukarela menyerahkan daya pikir, kreativitas, bahkan kesadaran moralnya kepada mesin.

    Pesan Paus Leo XIV Untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60

    Ia mengkritik budaya digital yang membuat manusia semakin pasif menerima informasi tanpa proses refleksi mendalam. Algoritma media sosial, kata Paus, mendorong emosi sesaat dan kemarahan instan demi keterlibatan pengguna, sementara kemampuan berpikir kritis semakin melemah.

    “Algoritma ini melemahkan kemampuan mendengarkan dan berpikir kritis,” tulisnya.

    Paus Leo XIV juga memberi perhatian besar pada nasib dunia kreatif manusia. Ia mengingatkan bahwa karya seni, musik, sastra, dan tulisan manusia kini berisiko direduksi hanya sebagai “bahan pelatihan” bagi mesin kecerdasan buatan.

    Baginya, kreativitas bukan sekadar produksi konten, melainkan bagian dari perjalanan manusia untuk bertumbuh dalam relasi dengan Allah dan sesama. Karena itu, ketika manusia menyerahkan seluruh proses kreatif kepada mesin, manusia sebenarnya sedang “menyembunyikan wajahnya sendiri dan membungkam suaranya.”

    Di tengah kekhawatiran itu, Paus tidak mengajak manusia untuk menolak teknologi. Sebaliknya, ia mendorong penggunaan AI secara sadar, kritis, dan bertanggung jawab. Ia menilai teknologi tetap dapat menjadi sekutu manusia bila dikendalikan dengan etika dan orientasi pada kesejahteraan bersama.

    Karena itu, Paus menekankan pentingnya literasi digital dan pendidikan humaniora agar masyarakat tidak mudah dimanipulasi oleh algoritma dan disinformasi. Ia juga meminta negara, perusahaan teknologi, media, dan masyarakat sipil bekerja sama menjaga martabat manusia di era digital.

    Bagi Paus Leo XIV, persoalan AI pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi, tetapi persoalan tentang arah peradaban manusia. Apakah manusia tetap menjadi pribadi yang bebas, reflektif, dan penuh kasih, atau justru berubah menjadi konsumen pasif yang hidup dalam dunia buatan algoritma.

    “Kita membutuhkan agar wajah dan suara kembali mencerminkan pribadi manusia,” pungkasnya.*Samuel | Sumber: Pesan Paus Leo XIV Untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60. 

    Paus Leo XIV Serukan Perlindungan “Suara dan Wajah Manusia” di Era Kecerdasan Buatan

    Pesan Paus Leo XIV Untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60

    MajalahDUTA.Com | Leo XIV menyerukan pentingnya menjaga martabat manusia di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).

    Seruan itu disampaikan dalam Pesan untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 bertema “Menjaga Suara dan Wajah Manusia” yang diterbitkan di Vatikan pada 24 Januari 2026, bertepatan dengan Peringatan Santo Fransiskus de Sales.

    Dalam pesannya, Paus Leo XIV menegaskan bahwa wajah dan suara merupakan identitas khas manusia yang tidak dapat digantikan. Menurutnya, keduanya menjadi dasar relasi dan komunikasi antarmanusia.

    “Wajah dan suara adalah ciri khas setiap orang. Keduanya menunjukkan jati diri yang unik dan tidak tergantikan, serta menjadi dasar dari setiap perjumpaan antarmanusia,” tulis Paus Leo XIV.

    Ia menjelaskan bahwa wajah dan suara manusia memiliki nilai suci karena merupakan anugerah Allah. Karena itu, menjaga keduanya berarti menjaga tanda kasih Allah yang melekat dalam diri manusia.

    “Menjaga wajah dan suara manusia berarti menjaga martabat dan jati diri kita,” tegasnya.

    Dalam refleksinya, Paus Leo XIV menyoroti dampak perkembangan kecerdasan buatan terhadap kehidupan manusia, terutama dalam bidang komunikasi. Ia mengingatkan bahwa teknologi digital dapat mengubah secara mendasar relasi sosial bila tidak digunakan secara bijaksana.

    BACA JUGA: PESAN PAUS LEO XIV UNTUK HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-60

    Menurut Paus, algoritma media sosial saat ini cenderung mendorong emosi yang cepat dan dangkal, sekaligus melemahkan kemampuan berpikir kritis dan mendengarkan. Kondisi tersebut, katanya, memperbesar polarisasi dalam masyarakat.

    “Algoritma ini melemahkan kemampuan mendengarkan dan berpikir kritis, serta memperbesar polarisasi dalam masyarakat,” tulisnya.

    Ia juga mengkritik kecenderungan sebagian orang yang terlalu mempercayai kecerdasan buatan tanpa sikap kritis, seolah AI menjadi sumber seluruh pengetahuan dan jawaban hidup. Sikap demikian dinilai dapat mengikis kemampuan manusia untuk berpikir analitis, kreatif, dan memahami makna secara mendalam.

    Paus Leo XIV turut menyoroti penggunaan chatbot dan influencer virtual yang semakin menyerupai manusia. Menurutnya, teknologi yang mensimulasikan relasi manusia dapat menyesatkan, terutama bagi mereka yang rentan secara emosional.

    “Chatbot yang dibuat terlalu ‘penuh perhatian’, selalu hadir dan selalu tersedia, dapat menjadi pengatur tersembunyi emosi kita dan masuk ke wilayah keintiman pribadi,” ungkapnya.

    Selain itu, ia mengingatkan bahaya manipulasi informasi, bias algoritma, dan penyebaran disinformasi yang dapat membentuk pemahaman realitas secara keliru. Paus menilai situasi ini semakin diperparah oleh lemahnya verifikasi fakta dan krisis jurnalisme lapangan.

    “Ketika verifikasi sumber diabaikan, ruang bagi disinformasi semakin luas, dan rasa tidak percaya, kebingungan, serta ketidakamanan pun meningkat,” katanya.

    Meski demikian, Paus Leo XIV tidak menolak perkembangan teknologi. Ia menegaskan bahwa tantangan utama bukan menghentikan inovasi digital, melainkan mengarahkannya demi kesejahteraan bersama.

    Ia menekankan tiga pilar penting agar teknologi menjadi sekutu manusia, yakni tanggung jawab, kerja sama, dan pendidikan.

    Menurut Paus, perusahaan teknologi harus memastikan strategi bisnis mereka tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada kesejahteraan masyarakat. Para pengembang AI juga diminta lebih transparan dalam merancang dan mengawasi algoritma yang mereka buat.

    Di bidang pendidikan, Paus menyerukan pentingnya literasi media, informasi, dan kecerdasan buatan sejak dini. Pendidikan tersebut diperlukan agar masyarakat mampu berpikir kritis, memeriksa sumber informasi, serta memahami cara kerja algoritma digital.

    “Revolusi digital menuntut literasi digital—bersama dengan pendidikan humaniora dan budaya—agar kita memahami bagaimana algoritma membentuk persepsi kita tentang realitas,” tulisnya.

    Secara khusus, Paus Leo XIV mengajak umat Katolik untuk membantu kaum muda bertumbuh dalam kebebasan batin dan kemampuan berpikir kritis di tengah derasnya arus teknologi digital.

    Menutup pesannya, Paus berharap wajah dan suara kembali mencerminkan pribadi manusia yang sejati, sehingga teknologi tetap berada dalam pelayanan terhadap martabat manusia, bukan sebaliknya.

    “Kita membutuhkan agar wajah dan suara kembali mencerminkan pribadi manusia,” tandasnya.*Samuel | Sumber: Pesan Paus Leo XIV Untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60. 

    Uskup Samuel Oton Sidin Ajak Umat Sukseskan PKSN XIII 2026 di Keuskupan Agung Pontianak

    Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap. (Sumber: KomsosKAP)

    MajalahDUTA.Com | Uskup Samuel Oton Sidin OFMCap mengajak seluruh umat Katolik untuk bersama-sama menyukseskan pelaksanaan PKSN XIII yang akan digelar pada 26–31 Mei 2026 di Keuskupan Agung Pontianak.

    Ajakan tersebut disampaikan Uskup Samuel Oton Sidin dalam wawancara singkat oleh tim Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak pada 17 Mei 2026.

    Dalam pesannya, Bapa Uskup mengimbau seluruh umat, mulai dari orang tua hingga anak-anak, agar menjadikan momentum PKSN sebagai kesempatan memperkuat kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama.

    “Ibu, Bapak, Saudara-saudari serta anak-anak yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Saya menghimbau agar kita semua mensukseskan pelaksanaan PKSN yang akan dilaksanakan di Keuskupan Agung Pontianak sebagai tuan rumah,” ujar Uskup Samuel.

    Uskup Samuel menegaskan bahwa pelaksanaan PKSN bukan sekadar agenda gerejawi, tetapi juga momentum untuk membangun kehidupan bersama yang lebih manusiawi dan penuh kesejahteraan.

    “Jangan diabaikan. Sungguh menjadi kesempatan bagi kita untuk menjaga suara dan wajah manusia sehingga kehidupan dalam kebersamaan pada masa-masa mendatang sungguh lebih membahagiakan dan mensejahterakan kita berkat Tuhan,” katanya.

    Menurut Bapa Uskup, seluruh umat diharapkan dapat berpartisipasi aktif dan mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut sesuai dengan semangat pelayanan dan kehendak Tuhan.

    “Mari kita berupaya agar PKSN kita laksanakan dengan baik seturut kehendak-Nya. Tuhan memberkati,” tuturnya.

    Pesan Paus Leo XIV Untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60

    Selain pesan resmi tersebut, Uskup Samuel juga menyampaikan sapaan penuh semangat kepada kaum muda dan seluruh peserta yang akan hadir dalam kegiatan PKSN XIII di Pontianak.

    Uskup Samuel mengundang masyarakat dan umat untuk datang serta memeriahkan kegiatan yang akan mempertemukan peserta dari berbagai daerah itu.

    PKSN XIII dijadwalkan berlangsung pada 26–31 Mei 2026 dengan Keuskupan Agung Pontianak sebagai tuan rumah pelaksanaan kegiatan tersebut.

    Menurut keterangan panitia momentum itu diharapkan dapat mempererat persaudaraan, pelayanan, dan semangat kebersamaan umat Katolik di Indonesia maupun di Keuskupan Agung Pontianak.*Samuel – Sumber: KomsosKAP. 

    Mahasiswa AKUB Harus Jadi Generasi Dayak Tangguh dan Berbudaya

    Dokumentasi Stanislaus Andes: Mahasiswa AKUB Harus Jadi Generasi Dayak yang Tangguh dan Berbudaya (2026)

    MajalahDUTA.Com | Wakil Ketua I Panitia Pekan Gawai Dayak (PGD) XL 2026,Stanislaus Andes, S.E., M.Pd., mengajak mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB) untuk tampil sebagai generasi muda Dayak yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kecintaan kuat terhadap budaya dan identitas leluhur.

    Pesan itu disampaikannya bertepatan dengan rangkaian Pekan Gawai Dayak (PGD) XL 2026 yang diawali dengan Misa Syukur pada Jumat (15/5/2026).

    Menurut Andes, perayaan PGD bukan sekadar agenda budaya tahunan atau pesta panen, tetapi momentum penting untuk memperkuat jati diri generasi muda Dayak di tengah tantangan zaman modern.

    “Ajang Bujang dan Dara bukan sekadar kompetisi untuk mencari siapa yang paling menonjol. Ini adalah panggung pembuktian diri sebagai generasi muda yang berakar kuat pada tradisi, namun tetap visioner menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.

    Secara khusus, Andes memberikan motivasi kepada mahasiswa AKUB yang mengikuti ajang Bujang dan Dara PGD XL 2026.

    Andes menilai keberanian para mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan budaya merupakan bentuk nyata bahwa intelektualitas harus berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap budaya lokal.

    Menurutnya, mahasiswa tidak boleh hanya mengejar pencapaian akademik semata, tetapi juga perlu memiliki kepedulian terhadap warisan budaya dan identitas masyarakat Dayak.

    “Kepada anak-anakku mahasiswa AKUB, saya menaruh harapan besar. Di AKUB, kita dididik untuk memiliki ketelitian, integritas, dan kecerdasan dalam mengelola masa depan. Bawalah semangat itu ke panggung Pekan Gawai Dayak ini,” katanya.

    Ia berharap mahasiswa AKUB mampu menjadi pribadi yang tidak hanya baik dalam penampilan dan komunikasi, tetapi juga memiliki wawasan mendalam tentang budaya Dayak yang luhur.

    “Jadilah sosok yang tidak hanya cakap dalam penampilan dan komunikasi, tetapi juga sosok yang memiliki kedalaman wawasan mengenai khazanah budaya Dayak,” pesannya.

    Andes melihat bahwa PGD XL 2026 adalah momentum sejarah bagi generasi muda Dayak untuk memperluas jejaring, membangun rasa percaya diri, dan memperkenalkan nilai-nilai positif budaya Dayak kepada masyarakat luas, termasuk di tingkat nasional maupun internasional.

    Andes bersama Istri dan mahasiswa/i AKUB Pontianak, Radangk Pontianak (2026)

    Menurutnya, mahasiswa memiliki peran penting sebagai wajah baru masyarakat Dayak yang modern, profesional, dan terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budaya.

    Dalam refleksinya mengenai Misa Syukur PGD XL 2026, Andes juga menegaskan bahwa budaya Dayak dan nilai-nilai Gereja dapat berjalan harmonis. Ia melihat liturgi inkulturatif dalam misa menjadi simbol bahwa adat dan iman saling menghidupi.

    Pandangan itu sejalan dengan pesan Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, yang menyebut bahwa di dalam budaya lokal terdapat benih-benih sabda Tuhan.

    Menurut Andes, nilai-nilai Dayak seperti gotong royong, penghormatan terhadap sesama, dan semangat kebersamaan merupakan modal penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan global.

    Ia juga mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dan generasi muda dalam seluruh rangkaian PGD XL 2026, mulai dari pelayanan liturgi, publikasi, hingga kegiatan budaya lainnya.

    “Keikutsertaan kalian adalah bukti keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan menunjukkan bahwa intelektualitas seorang mahasiswa harus berjalan selaras dengan kecintaan terhadap identitas budaya kita,” tuturnya.

    Meski kompetisi Bujang dan Dara menghadirkan persaingan, Andes mengingatkan bahwa menang atau kalah bukan tujuan utama. Baginya, proses belajar, kedisiplinan, kerendahan hati, dan keberanian untuk terus berkembang jauh lebih penting.

    “Menang atau kalah adalah bagian dari proses pendewasaan. Namun memberikan yang terbaik adalah sebuah keharusan,” tegasnya.

    Ia pun mengajak seluruh mahasiswa AKUB untuk terus melangkah maju dan menjaga nama baik kampus, keluarga, dan masyarakat Dayak melalui dedikasi dan prestasi yang dimiliki.

    “Teruslah melangkah, tunjukkan yang terbaik, dan buatlah orang tua, kampus, serta masyarakat bangga atas dedikasi kalian,” pungkas Andes.*Samuel – AKUB Pontianak. 

    Sharing Research Journey Mahasiswa Gen Z di San Agustin

    Arie ketika membersamai kelas PBI 24A (2026)

    MajalahDUTA.Com | Kalimat sederhana itu menjadi pembuka suasana dalam perkuliahan Research and Methodology in Education and Applied Linguistics semester 4 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo pada tanggal 18 dan 19 Mei 2026.

    Mata kuliah yang biasanya identik dengan jurnal tebal, revisi tanpa akhir, dan overthinking tentang skripsi, hari itu justru terasa lebih hidup, santai, dan surprisingly fun.

    Melalui sesi guest lecturing yang juga dari sesama mahasiswa ini, mereka tidak hanya belajar teori tentang research methodology, tetapi juga mendengar langsung realita perjalanan riset dari salah satu kakak tingkat mereka sendiri, Arie, mahasiswa semester 8 yang saat ini sedang menjalani jalur publikasi artikel ilmiah sebagai pengganti skripsi konvensional.

    Menariknya, kegiatan ini digagas oleh dosen pengampu mata kuliah, Anton, yang menyadari bahwa learning style mahasiswa Gen Z tentu berbeda dari generasi dosen milenial.

    Menurutnya, mahasiswa sering kali lebih mudah relate dengan pengalaman nyata yang dibagikan oleh sesama mahasiswa yang baru saja melewati proses tersebut. “Sometimes students need to hear the story from someone who has just survived the process,” ungkapnya.

    Melalui sesi sharing seperti ini, ia berharap mahasiswa tidak lagi memandang penelitian sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai proses belajar yang dapat dijalani bersama, bertahap, dan saling mendukung.

    Harapan besarnya sederhana namun bermakna: semakin banyak mahasiswa yang mampu menyelesaikan tugas akhir mereka dengan lebih lancar, lebih percaya diri, dan lulus tepat waktu pada semester 8.

    Dan ternyata, pilihan untuk menghadirkan Arie memang terasa tepat. Arie tidak hanya berbicara sebagai mahasiswa yang sedang menjalani proses penelitian, tetapi juga sebagai seseorang yang memahami cara berpikir generasi mereka sendiri.

    Hal itu terlihat dari topik riset yang sedang ia kerjakan tentang motivasi Gen Z menjadi guru bahasa Inggris di daerah dengan keterbatasan fasilitas pendidikan di Kalimantan Barat.

    Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa mahasiswa Gen Z tidak semata-mata digerakkan oleh motivasi eksternal seperti gaji atau pekerjaan tetap, tetapi juga oleh nilai, makna, keinginan untuk berkembang, dan keinginan untuk memberi dampak pada lingkungan sekitar.

    Karena itulah, selama sesi sharing berlangsung, Arie terlihat sangat antusias membagikan pengalaman, tips, dan realitas perjalanan riset yang menurutnya perlu didengar oleh sesama mahasiswa Gen Z dengan pendekatan yang lebih dekat dan realistis.

    Dan justru di situlah sisi paling menariknya. Mahasiswa merasa sedang mendengar cerita dari “versi masa depan” dari diri mereka sendiri.

    Arie bukan sekadar mahasiswa biasa. Ia merupakan mahasiswa yang memilih jalur publikasi artikel ilmiah sebagai pengganti skripsi konvensional.

    Pada semester genap 2025–2026 ini, ia menjadi mahasiswa pertama yang maju ke Seminar Proposal (Sempro). Bahkan belum genap satu bulan setelah perkuliahan semester berakhir, ia sudah berhasil mendaftarkan diri untuk ujian Sempro dan mengirimkan full paper ke salah satu jurnal pendidikan terakreditasi SINTA 3.

    Bagi mahasiswa semester 4 yang baru mulai mengenal dunia penelitian akademik, pencapaian itu terasa inspiratif sekaligus membuka perspektif baru. Ternyata riset tidak harus menunggu semester akhir atau merasa “pintar” dulu. Research can start from curiosity.

    Arie membuka presentasinya dengan judul yang sangat Gen Z banget: “How I Turn a Complex Research Journey into Something That I’m Passionate About. Sejak awal sesi, atmosfer kelas langsung cair.

    Tidak ada kesan menggurui atau terlalu akademik. Yang ada justru cerita-cerita yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa: bingung menentukan topik, takut memulai menulis, revisi berkali-kali, sampai kebiasaan procrastinating yang ternyata dialami hampir semua orang di kelas.

    Salah satu bagian yang paling membuat mahasiswa tertawa sekaligus mengangguk setuju adalah ketika Arie membahas bagaimana Gen Z “survive” dalam proses penulisan riset. Menurutnya, banyak mahasiswa mengalami burnout bukan karena tidak mampu, melainkan karena memasang target yang terlalu besar dalam waktu singkat.

    Karena itu, ia memilih membuat small achievable targets seperti menyelesaikan satu halaman, membaca dua jurnal, atau memperbaiki satu bagian revisi dalam sehari.

    And yes, he also talked about self-reward. Setelah target kecil tercapai, ia memberi dirinya waktu untuk rebahan, menonton film, bermain game, atau nongkrong sebentar agar tidak kehilangan motivasi di tengah proses panjang penelitian.

    Namun, satu kalimatnya langsung menjadi quote favorit kelas hari itu: “Procrastinating boleh… tapi waktunya harus terukur. Jangan sampai niat istirahat berubah menjadi kehilangan semangat.” Simple, relatable, and painfully true.

    Diskusi kemudian berkembang semakin menarik ketika mahasiswa mulai bertanya tentang hal-hal yang selama ini sering membuat mereka merasa anxious dalam dunia penelitian.

    Mulai dari cara mencari referensi yang bagus, menentukan topik yang tepat, menggunakan Mendeley, hingga strategi memilih jurnal tujuan publikasi.

    Salah satu pertanyaan paling menarik datang dari seorang mahasiswa bernama Muti yang bertanya apakah topik penelitian sebaiknya dipilih berdasarkan bidang keahlian atau berdasarkan research interest.

    Pertanyaan itu langsung membuat suasana kelas menjadi lebih serius. Arie menjawab dengan membagikan pengalaman pribadinya. Menurutnya, meneliti sesuatu yang benar-benar membuat seseorang bersemangat justru membuka ruang pertumbuhan yang lebih besar.

    Ketika seseorang genuinely interested dengan topiknya, proses membaca jurnal, berdiskusi dengan dosen pembimbing, hingga melakukan revisi berkali-kali terasa lebih meaningful. “Research is tiring, but it becomes different when you love what you are learning,” jelasnya.

    Ia juga mengakui bahwa rasa penasaran terhadap suatu topik membuatnya lebih ingin membaca, lebih aktif berkonsultasi dengan dosen pembimbing, dan lebih tahan menghadapi revisi.

    Yang juga menarik perhatian mahasiswa adalah ketika Arie secara terbuka membahas bagaimana ia memanfaatkan AI dalam perjalanan risetnya.

    Namun, ia menegaskan bahwa AI bukan alat untuk menggantikan proses berpikir, melainkan partner untuk membantu mempersiapkan diri sebelum berkonsultasi dengan dosen pembimbing.

    Ia menggunakan AI untuk membantu memahami feedback revisi, merapikan ide, mengecek struktur tulisan, hingga menyiapkan pertanyaan sebelum bimbingan. And, surprisingly, many students looked relieved to hear that.

    Di tengah perkembangan teknologi saat ini, pendekatan seperti ini terasa jauh lebih realistis dibandingkan sekadar melarang penggunaan AI tanpa membangun literasi AI yang sehat.

    Di balik perjalanan akademiknya, Arie ternyata juga merupakan salah satu mahasiswa San Agustin yang pernah mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa Kampus Merdeka yang digagas oleh Nadiem Makarim.

    Selama satu semester, ia belajar di Universitas Sanata Dharma dan merasakan atmosfer belajar yang berbeda, lebih menantang. Sebagai mahasiswa dari daerah, ia mengaku sempat merasa minder saat menghadapi kultur akademik di kampus yang besar.

    Namun, pengalaman itulah yang justru membentuk dirinya menjadi lebih disiplin, mandiri, dan terbiasa dengan budaya belajar kolaboratif. He learned that good academic culture is not about competing harshly, but about growing together.

    Menariknya, semua pengalaman belajar yang ia dapatkan di luar Kalimantan Barat tidak berhenti menjadi pengalaman pribadi semata. Ia membawanya kembali pulang ke San Agustin dan membagikannya kepada teman-teman serta adik tingkatnya, salah satunya melalui sesi sharing ini.

    Dan mungkin di situlah letak yang paling penting dari kegiatan tersebut. Mahasiswa tidak hanya belajar tentang research methodology, tetapi juga melihat bahwa kesempatan untuk berkembang sebenarnya terbuka di kampus sendiri.

    San Agustin terus berupaya menghadirkan ruang belajar yang suportif, kolaboratif, dan memberi mahasiswa kesempatan untuk bertumbuh melalui riset, publikasi ilmiah, pertukaran mahasiswa, dan berbagai pengalaman akademik lainnya tanpa merasa tertinggal hanya karena mereka menempuh studi di kampus daerah.

    Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Ms. Upa, juga menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini.

    Menurutnya, pengalaman yang dibagikan Arie menjadi pembelajaran yang sangat berharga karena disampaikan dari sudut pandang yang dekat dengan kehidupan mahasiswa.

    “The tips and tricks are very helpful for students, especially for those who are just starting their research journey,” ungkapnya. Beliau juga berharap kegiatan sharing seperti ini dapat terus dilakukan, tidak hanya pada mata kuliah penelitian, tetapi juga pada mata kuliah lain agar mahasiswa semakin termotivasi untuk belajar dari pengalaman nyata sesama mahasiswa.

    Pada akhirnya, sesi guest lecturing ini memperlihatkan satu hal sederhana: kuliah riset ternyata tidak selalu membosankan.

    Kadang, research journey hanya perlu dimulai dari satu rasa penasaran, satu keberanian untuk mencoba, dan satu lingkungan belajar yang membuat mahasiswa merasa didukung untuk berkembang. *Anton. 

    Bujang Dara Dayak Didorong Melek Finansial

    Bujang Dara Dayak Didorong Melek Finansial. (Agusandi) 2026.

    MajalahDUTA.Com | Literasi keuangan dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Hal itu disampaikan dosen Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB) Pontianak, Agusandi, S.E., M.E., saat memberikan materi edukasi keuangan kepada para finalis Bujang Dara Pekan Gawai Dayak ke-40 Tahun 2026.

    Menurut Agusandi, peran finalis Bujang Dara tidak cukup hanya sebagai representasi budaya Dayak, tetapi juga harus mampu menjadi generasi muda yang memberi pengaruh positif di tengah masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial.

    Foto bersama Pak Didit Kepala Bank Kalbar Cabang Utama dan Pak Andes Direktur Akademi Keuangan dan Perbankan Pontianak (2026)

    Dalam paparannya, ia menyinggung data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kalimantan Barat yang masih menunjukkan ketimpangan antarwilayah. IPM Kalbar tercatat berada pada angka 72,09, sementara beberapa daerah seperti Kayong Utara, Sekadau, dan Kapuas Hulu masih berada di bawah rata-rata provinsi. Di sisi lain, Kota Pontianak mencatat angka tertinggi dengan IPM 82,80.

    Agusandi menilai peningkatan kualitas kesehatan, pendidikan, dan pendapatan masyarakat menjadi faktor utama untuk memperkuat daya saing masyarakat Dayak di masa depan.

    Foto bersama dengan Finalis Bujang dan Dara Pekan Gawai Dayak ke 40 Tahun 2026

    Ia juga menyoroti keterbatasan anggaran pemerintah daerah yang membuat masyarakat perlu membangun kemandirian ekonomi. Menurutnya, generasi muda harus mulai kreatif dan produktif agar mampu menciptakan peluang usaha sendiri tanpa selalu bergantung pada bantuan pemerintah.

    Dalam sesi tersebut, Agusandi memperkenalkan konsep sederhana pengelolaan keuangan melalui rumus:

    Y = I + S + C

    Ia menjelaskan bahwa pendapatan sebaiknya tidak hanya digunakan untuk konsumsi, tetapi juga dialokasikan untuk tabungan dan investasi guna menciptakan ketahanan ekonomi jangka panjang.

    Selain isu ekonomi, Agusandi turut menyoroti persoalan ketenagakerjaan. Ia menilai masih banyak pekerja menerima upah di bawah standar dan berstatus harian lepas dalam waktu lama, sehingga perlindungan tenaga kerja belum berjalan optimal.

    Pemaparan materi Financial Literacy dengan Konsep Ilmu Ekonomi (Agusandi)

    Tak hanya itu, ia juga mengingatkan bahaya penyalahgunaan narkoba yang kini mulai menjangkau wilayah pedalaman dan mengancam masa depan generasi muda Dayak.

    Agusandi berharap para finalis Bujang Dara dapat menjadi penyambung suara masyarakat sekaligus agen perubahan yang mampu mengedukasi dan memotivasi generasi Dayak agar semakin maju dalam bidang budaya, ekonomi, dan sosial.*Samuel, AKUB Pontianak. 

    TERBARU

    TERPOPULER