DUTA, Pontianak – Rasanya di tahun 2026 ini, HP kita sudah tidak ada bedanya dengan papan reklame berjalan yang menyala selama 24 jam. Setiap kali kita membuka Instagram, menonton video di TikTok, melihat marketplace, atau sekadar membaca berita pagi di portal online, yang muncul selalu saja iklan, endorsement, dan promosi yang tidak ada habisnya.
Memang benar kalau pemasaran digital sekarang menjadi mesin utama yang menggerakkan ekonomi kita, tapi kalau polanya sudah berlebihan seperti ini, kita sebagai pengguna malah mulai merasa lelah. Fenomena banjir konten ini bukan lagi sekadar informasi yang berguna, melainkan sudah menjadi gangguan serius yang menurunkan kepercayaan kita terhadap pesan pemasaran.
Kalau kita ingat-ingat lagi apa yang dijelaskan oleh Utomo, Risdwiyanto, dan Judijanto dalam buku Pemasaran Digital: Strategi dan Taktik, media sosial itu idealnya berfungsi untuk membangun kesadaran merek, keterlibatan, dan komunitas. Harapannya, media sosial menjadi ruang interaksi yang hangat antara merek dan kita sebagai konsumen. Tapi kenyataannya di lapangan pada tahun 2026 ini? Fungsi itu sudah melenceng jauh.
Bukannya menjadi ruang dialog, media sosial lebih sering menjadi tempat pengeboman iklan yang muncul tanpa henti. Konten promosi terus muncul di feed, stories, reels, hingga masuk ke kolom komentar yang seharusnya menjadi tempat kita berdiskusi. Pengalaman kita sebagai pengguna pun berubah, dari yang tadinya mencari inspirasi menjadi perasaan jenuh dan penuh tekanan komersial yang seolah mengejar kita ke mana saja.

Kondisi yang menyesakkan ini sebenarnya bisa kita pahami melalui teori yang disampaikan oleh Sudirman dalam buku The Art of Digital Marketing. Beliau menjelaskan bahwa kekuatan utama pemasaran digital memang terletak pada kemampuannya untuk menyasar orang dengan sangat tepat dan akurat. Namun, ada kelemahan besar yang menyertainya, yaitu persaingan yang sangat tinggi dan risiko kejenuhan audiens. Di tahun 2026, ramalan itu benar-benar menjadi kenyataan yang pahit.
Karena hampir semua merek menggunakan strategi yang sama, yaitu membakar uang untuk iklan berbayar di media sosial dan mesin pencari, ruang digital kita menjadi sangat sesak dan padat. Akibatnya, alih-alih tertarik, otak kita secara otomatis mulai mengabaikan informasi tersebut sebagai “sampah visual”.
Data dari LestariAds tahun 2026 pun memperlihatkan sebuah anomali yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Belanja iklan digital di Indonesia terus meningkat tajam, tetapi efektivitasnya justru semakin dipertanyakan. Banyak perusahaan mengeluarkan biaya miliaran rupiah agar bisa tampil di berbagai platform, tetapi kita sebagai konsumen justru semakin sulit untuk terpengaruh.
Hal ini menunjukkan adanya jarak yang sangat lebar antara intensitas iklan yang muncul dengan tingkat kepercayaan kita. Logikanya sederhana saja: semakin sering sebuah iklan muncul secara paksa di depan mata kita, semakin besar pula kemungkinan kita merasa terganggu dan akhirnya memilih untuk mengabaikannya sama sekali, atau bahkan memblokir merek tersebut dari daftar belanja kita.
Lebih dalam lagi, Sudirman dalam bukunya juga membedakan antara cara jualan inbound marketing dan outbound marketing. Inbound marketing itu seharusnya menarik konsumen melalui konten yang bernilai, edukatif, dan relevan. Sedangkan outbound marketing cenderung mendorong pesan promosi secara agresif kepada audiens. Sayangnya, realitas iklan digital tahun 2026 justru menunjukkan dominasi gaya jualan yang sangat agresif.

Kita dipaksa menghadapi jendela pop-up yang tiba-tiba muncul, video iklan yang tidak bisa dilewati, hingga endorsement yang muncul di tengah-tengah konten hiburan yang sedang kita nikmati. Strategi ini mungkin berhasil meningkatkan angka tayangan secara teknis, tetapi sebenarnya justru merusak kepercayaan karena kita sebagai konsumen merasa sedang dimanipulasi secara psikologis.
Masalah ini menjadi semakin serius ketika kita kaitkan dengan isu keamanan dan penipuan digital yang makin marak. Dalam buku Digital Strategi dan Taktik, ditekankan berkali-kali bahwa kepercayaan dan keamanan adalah fondasi utama dalam dunia e-commerce. Tanpa rasa aman, tidak akan ada transaksi yang sehat.
Namun, laporan dari Infobank News dan Kompas Money tahun 2026 menunjukkan fakta yang mengerikan. Ribuan orang Indonesia telah menjadi korban penipuan online dengan kerugian mencapai ratusan miliar rupiah. Ironisnya, banyak dari penipuan ini bermula dari iklan atau promosi digital yang terlihat sangat profesional dan meyakinkan di media sosial. Ini membuktikan bahwa banjir iklan digital sekarang bukan cuma mengganggu ketenangan, tapi juga bisa membahayakan keamanan data dan isi rekening kita.
Jika dilihat dari pandangan komunikasi pemasaran yang ditulis oleh Widyastuti dalam buku Manajemen Komunikasi Pemasaran Terpadu, komunikasi pemasaran modern itu harusnya bersifat dialogis dan berorientasi pada hubungan jangka panjang. Prinsip utama dari komunikasi pemasaran terpadu adalah konsistensi pesan dan pembangunan kepercayaan. Namun, praktik pemasaran digital tahun 2026 justru menunjukkan hal yang sebaliknya.
Banyak merek yang menyampaikan pesan berbeda-beda di setiap platform demi mengejar klik, memberikan diskon besar-besaran, atau sekadar ingin viral sesaat. Akibatnya, kita sebagai konsumen kesulitan untuk mempercayai identitas asli sebuah merek. Kita jadi ragu, apakah merek ini memang punya nilai yang bagus atau hanya jago jualan lewat iklan saja tanpa kualitas produk yang nyata.
Selain itu, buku The Art of Digital Marketing juga mengingatkan pentingnya pemasaran media sosial yang berbasis pada interaksi dua arah dan mendengarkan apa yang diinginkan konsumen. Namun, karena adanya banjir iklan berbayar ini, interaksi organik yang jujur semakin terpinggirkan.
Kita sebagai pengguna lebih sering melihat konten sponsor yang sudah diatur sedemikian rupa daripada konten komunitas yang asli. Dampaknya, hubungan emosional antara merek dan audiens pun semakin melemah, berganti menjadi hubungan transaksional yang dingin dan penuh kecurigaan.
Menariknya, tren e-commerce tahun 2026 yang dilaporkan oleh WongKito menunjukkan bahwa kita sebagai konsumen sudah semakin kritis. Kita tidak lagi mudah percaya pada iklan dan promo yang muluk-muluk. Saat ini, orang lebih percaya pada ulasan jujur dari pengguna lain, diskusi di komunitas, dan pengalaman nyata orang di sekitar mereka dibanding klaim sepihak dari iklan.
Ini adalah sinyal kuat bahwa kepercayaan telah menjadi mata uang utama dalam dunia pemasaran digital, menggantikan sekadar jumlah tayangan atau klik. Kita lebih butuh testimoni nyata daripada sekadar janji manis di caption Instagram.
Sebagai penutup, banjir konten iklan digital di tahun 2026 ini memang telah menciptakan krisis kepercayaan publik yang cukup dalam. Teknologi memang memberi kita kemudahan untuk menjangkau siapa saja, namun tanpa etika, tanpa transparansi, dan tanpa pemahaman psikologis terhadap apa yang dirasakan konsumen, pemasaran digital justru akan kehilangan legitimasi atau harga dirinya.
Seperti yang diingatkan oleh Widyastuti dan Sudirman, komunikasi pemasaran seharusnya adalah alat untuk membangun hubungan manusiawi, bukan sekadar alat untuk menjual barang. Jika para pelaku usaha dan pengiklan tidak segera merubah cara mereka berinteraksi dengan audiens, jangan kaget jika konsumen akan semakin menutup diri dari pesan iklan dan memilih sumber informasi lain yang jauh lebih jujur dan bisa dipercaya. Sudah saatnya kita kembali ke cara-cara yang lebih tulus.

DAFTAR REFERENSI:
Utomo, S. B., Risdwiyanto, A., & Judijanto, L. (2024). Pemasaran digital: Strategi dan taktik.
Widyastuti, S. (2017).Manajemen komunikasi pemasaran terpadu: Solusi menembus hati pelanggan.
Jakarta: FEB-UP Press.Sudirman, A. (Ed.). (2022).
The art of digital marketing: Strategi pemasaran generasi milenial. Bandung: Media Sains Indonesia.
SUMBER INTERNET:
Lestari Ads. (2026).
Pergeseran belanja iklan di 2026: Di mana posisi OOH di Indonesia?
https://www.lestariads.com/blog/ooh/pergeseran-belanja-iklan-di-2026-di-mana-posisi-ooh-di-indonesia.html
WongKito.co. (2026).Cek 5 tren besar e-commerce Indonesia 2026.
https://wongkito.co/read/cek-5-tren-besar-e-commerce-indonesia-2026
Energy World Indonesia. (2026, 1 Januari).Outlook 2026: Media digital gagal dan bagaimana media Indonesia harus bertahan.
https://energyworld.co.id/2026/01/01/outlook-2026-media-digital-gagal-dan-bagaimana-media-indonesia-harus-bertahan/
Infobank News. (2026).Penipuan online kian mengkhawatirkan, OJK ungkap guru besar jadi korban.
https://infobanknews.com/penipuan-online-kian-mengkhawatirkan-ojk-ungkap-guru-besar-jadi-korban/
Kompas Money. (2026, 22 Januari).IASC kembalikan Rp161 miliar dana 1.070 korban penipuan digital.
https://money.kompas.com/read/2026/01/22/061100326/iasc-kembalikan-rp-161-miliar-dana-1.070-korban-penipuan-digital
* Jeremy Julius _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak
*Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.