DUTA, Pontianak – Di tengah arus digital yang semakin padat, kita hidup dalam situasi di mana setiap hari konsumen dibombardir oleh ribuan pesan pemasaran. Iklan muncul di layar ponsel, menyelip di media sosial, bahkan hadir dalam bentuk konten yang tampak seperti hiburan.
Namun, di balik intensitas promosi tersebut, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah pemasaran masih sekadar tentang menjual barang, atau telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks? Pengalaman sebagai konsumen di era ini menunjukkan bahwa keputusan membeli tidak lagi didorong semata oleh kebutuhan fungsional, melainkan oleh pencarian makna, identitas, dan rasa keterhubungan.
Fenomena ini semakin terasa ketika kita menyadari bahwa banyak produk di pasaran memiliki fungsi yang hampir serupa. Perbedaan kualitas semakin tipis, harga semakin kompetitif, dan akses terhadap informasi semakin terbuka.
Dalam kondisi seperti ini, konsumen mulai bergeser dari pertanyaan “apa yang saya beli?” menjadi “apa arti produk ini bagi saya?”. Merek tidak lagi dipandang sebagai sekadar penanda produk, tetapi sebagai simbol nilai, gaya hidup, dan bahkan sikap moral. Pilihan konsumsi menjadi cara individu mengekspresikan diri dan posisi sosialnya.

Pergeseran inilah yang menandai perubahan besar dalam dunia pemasaran. Pemasaran tidak lagi hanya berfokus pada transaksi, tetapi pada relasi jangka panjang antara merek dan konsumen. Merek yang mampu bertahan bukanlah yang paling keras beriklan, melainkan yang paling konsisten membangun identitas dan nilai yang relevan dengan realitas konsumen.
Di tahun 2026, ketika konsumen semakin kritis dan sadar, pemasaran dituntut untuk tidak hanya meyakinkan, tetapi juga jujur dan bermakna. Dari titik inilah opini ini mencoba melihat bagaimana pemasaran telah bergerak dari sekadar menjual barang menuju upaya membangun nilai dan identitas yang lebih dalam.
Saya melihat bahwa pemasaran saat ini tidak lagi sesederhana menawarkan produk lalu berharap konsumen membeli. Di tahun 2026, pola konsumsi masyarakat telah berubah secara signifikan.
Konsumen bukan hanya mempertimbangkan harga dan kualitas, tetapi juga mempertanyakan nilai apa yang dibawa oleh suatu merek. Pengalaman pribadi saya sebagai konsumen menunjukkan bahwa keputusan membeli sering kali dipengaruhi oleh apakah sebuah produk “mewakili” cara pandang, gaya hidup, atau prinsip tertentu yang saya yakini.
Dulu, iklan yang gencar dan slogan yang menarik sudah cukup untuk mendorong penjualan. Namun kini, pendekatan tersebut terasa semakin kehilangan daya. Konsumen dibanjiri oleh promosi setiap hari, terutama melalui media sosial.
Dalam kondisi seperti ini, saya berpendapat bahwa merek yang hanya fokus menjual produk tanpa membangun makna akan mudah dilupakan. Justru merek yang memiliki cerita, sikap, dan nilai yang jelas cenderung lebih diingat dan dipercaya.
Pergeseran ini terlihat dari bagaimana perusahaan mulai berbicara tentang tujuan (purpose) dan identitas merek. Banyak merek tidak lagi sekadar mempromosikan fungsi produk, tetapi juga menonjolkan nilai-nilai seperti kepedulian lingkungan, pemberdayaan lokal, atau inklusivitas sosial.
Menurut saya, hal ini mencerminkan perubahan ekspektasi konsumen. Kita tidak hanya membeli barang, tetapi juga “mendukung” nilai yang diwakili oleh merek tersebut. Dalam konteks ini, konsumsi menjadi bentuk ekspresi diri.
Namun, saya juga melihat adanya sisi problematis dari tren ini. Tidak semua perusahaan benar-benar memahami makna membangun nilai. Sebagian hanya menjadikan isu sosial sebagai alat pemasaran.

Mereka berbicara tentang keberlanjutan atau kepedulian sosial, tetapi praktik bisnisnya tidak mencerminkan hal tersebut. Sebagai konsumen, saya merasa pendekatan seperti ini justru menimbulkan kekecewaan dan ketidakpercayaan. Ketika nilai hanya dijadikan kemasan, pemasaran kehilangan integritasnya.
Media sosial memperkuat dinamika ini. Di satu sisi, platform digital memberi ruang bagi merek untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumen. Di sisi lain, media sosial juga menjadi ruang kontrol publik.
Konsumen dapat dengan mudah mengkritik, menyebarkan pengalaman negatif, bahkan mengorganisasi boikot. Menurut saya, kondisi ini memaksa perusahaan untuk lebih berhati-hati dan jujur. Identitas merek tidak lagi bisa direkayasa sepihak, tetapi dibentuk bersama konsumen.
Dalam pengalaman saya mengamati UMKM dan merek lokal, pergeseran ke arah nilai dan identitas justru menjadi peluang. Banyak UMKM yang tidak memiliki anggaran iklan besar, tetapi mampu menarik perhatian karena keaslian cerita dan kedekatan emosional.
Identitas lokal, proses produksi yang jujur, serta komunikasi yang sederhana sering kali terasa lebih meyakinkan dibandingkan kampanye besar yang terasa dibuat-buat. Hal ini menunjukkan bahwa pemasaran berbasis nilai tidak selalu identik dengan biaya tinggi.
Saya juga berpendapat bahwa pergeseran ini menuntut konsistensi yang lebih besar dari perusahaan. Identitas bukan hanya ditampilkan dalam iklan, tetapi harus tercermin dalam pengalaman konsumen secara keseluruhan.
Ketika pelayanan buruk atau kualitas produk tidak sejalan dengan citra yang dibangun, konsumen akan cepat kehilangan kepercayaan. Di era digital, reputasi bisa runtuh hanya karena satu pengalaman negatif yang viral.
Lebih jauh, perubahan ini menunjukkan bahwa posisi konsumen semakin kuat. Konsumen tidak lagi sekadar objek pemasaran, melainkan aktor yang ikut menentukan arah merek. Keputusan membeli kini sering kali disertai pertimbangan etis dan emosional.
Saya melihat hal ini sebagai tanda bahwa pemasaran tidak bisa lagi dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Perusahaan dituntut untuk tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat.
Sebagai penutup, saya berpendapat bahwa pergeseran pemasaran dari sekadar menjual barang ke membangun nilai dan identitas adalah sebuah keniscayaan. Di tahun 2026, merek yang mampu bertahan adalah mereka yang memahami bahwa pemasaran bukan hanya soal menjual, tetapi tentang membangun kepercayaan dan makna.
Bagi saya, pemasaran yang berhasil adalah pemasaran yang tidak hanya membuat konsumen membeli, tetapi juga membuat mereka merasa terhubung dan dihargai.Pada akhirnya, pergeseran pemasaran dari sekadar menjual barang menuju upaya membangun nilai dan identitas bukanlah tren sementara, melainkan cerminan perubahan cara manusia memaknai konsumsi.
Di tahun 2026, konsumen semakin sadar bahwa pilihan membeli bukan hanya soal kebutuhan, tetapi juga soal sikap, kepercayaan, dan nilai yang ingin mereka dukung. Dalam konteks ini, pemasaran tidak lagi dapat dipisahkan dari tanggung jawab moral dan sosial. Merek yang berhasil bukanlah mereka yang paling agresif menawarkan produk, tetapi yang mampu membangun kepercayaan melalui konsistensi antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan.
Menurut saya, masa depan pemasaran akan semakin ditentukan oleh kemampuan perusahaan memahami manusia, bukan hanya pasar. Teknologi dan data akan tetap penting, tetapi tanpa kejujuran, empati, dan pemahaman terhadap nilai-nilai konsumen, pemasaran akan kehilangan relevansinya.
Identitas merek yang kuat lahir dari komitmen jangka panjang, bukan dari kampanye sesaat. Oleh karena itu, pemasaran yang berkelanjutan adalah pemasaran yang berani menempatkan nilai sebagai fondasi, bukan sekadar alat komunikasi. Di tengah persaingan yang semakin kompleks, hanya merek yang bermakna yang akan benar-benar bertahan dan diingat oleh konsumennya.

DAFTAR REFERENSI:
Kotler, P., Kartajaya, H., & Setiawan, I. (2023). Marketing 6.0: The Future Is Immersive. Hoboken: Wiley.
Hery. (2024). Manajemen Pemasaran Modern dan Perilaku Konsumen Digital. Jakarta: Grasindo.
Tjiptono, F. (2025). Branding dan Strategi Pemasaran di Era Digital. Yogyakarta: Andi.
Sumber digital
DataReportal. (2025). Digital 2025: Indonesia.
We Are Social & Meltwater. (2025). Social Media and Consumer Identity Trends.
* Enjelika Oktaviani Demitri _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak
*Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.












