Monday, April 27, 2026
More
    Home Blog Page 5

    Pergeseran Pemasaran Dari Menjual Barang Membangun nilai dan Identitas

    DUTA, Pontianak – Di tengah arus digital yang semakin padat, kita hidup dalam situasi di mana setiap hari konsumen dibombardir oleh ribuan pesan pemasaran. Iklan muncul di layar ponsel, menyelip di media sosial, bahkan hadir dalam bentuk konten yang tampak seperti hiburan.

    Namun, di balik intensitas promosi tersebut, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah pemasaran masih sekadar tentang menjual barang, atau telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks? Pengalaman sebagai konsumen di era ini menunjukkan bahwa keputusan membeli tidak lagi didorong semata oleh kebutuhan fungsional, melainkan oleh pencarian makna, identitas, dan rasa keterhubungan.

    Fenomena ini semakin terasa ketika kita menyadari bahwa banyak produk di pasaran memiliki fungsi yang hampir serupa. Perbedaan kualitas semakin tipis, harga semakin kompetitif, dan akses terhadap informasi semakin terbuka.

    Dalam kondisi seperti ini, konsumen mulai bergeser dari pertanyaan “apa yang saya beli?” menjadi “apa arti produk ini bagi saya?”. Merek tidak lagi dipandang sebagai sekadar penanda produk, tetapi sebagai simbol nilai, gaya hidup, dan bahkan sikap moral. Pilihan konsumsi menjadi cara individu mengekspresikan diri dan posisi sosialnya.

    Pergeseran inilah yang menandai perubahan besar dalam dunia pemasaran. Pemasaran tidak lagi hanya berfokus pada transaksi, tetapi pada relasi jangka panjang antara merek dan konsumen. Merek yang mampu bertahan bukanlah yang paling keras beriklan, melainkan yang paling konsisten membangun identitas dan nilai yang relevan dengan realitas konsumen.

    Di tahun 2026, ketika konsumen semakin kritis dan sadar, pemasaran dituntut untuk tidak hanya meyakinkan, tetapi juga jujur dan bermakna. Dari titik inilah opini ini mencoba melihat bagaimana pemasaran telah bergerak dari sekadar menjual barang menuju upaya membangun nilai dan identitas yang lebih dalam.

    Saya melihat bahwa pemasaran saat ini tidak lagi sesederhana menawarkan produk lalu berharap konsumen membeli. Di tahun 2026, pola konsumsi masyarakat telah berubah secara signifikan.

    Konsumen bukan hanya mempertimbangkan harga dan kualitas, tetapi juga mempertanyakan nilai apa yang dibawa oleh suatu merek. Pengalaman pribadi saya sebagai konsumen menunjukkan bahwa keputusan membeli sering kali dipengaruhi oleh apakah sebuah produk “mewakili” cara pandang, gaya hidup, atau prinsip tertentu yang saya yakini.

    Dulu, iklan yang gencar dan slogan yang menarik sudah cukup untuk mendorong penjualan. Namun kini, pendekatan tersebut terasa semakin kehilangan daya. Konsumen dibanjiri oleh promosi setiap hari, terutama melalui media sosial.

    Dalam kondisi seperti ini, saya berpendapat bahwa merek yang hanya fokus menjual produk tanpa membangun makna akan mudah dilupakan. Justru merek yang memiliki cerita, sikap, dan nilai yang jelas cenderung lebih diingat dan dipercaya.

    Pergeseran ini terlihat dari bagaimana perusahaan mulai berbicara tentang tujuan (purpose) dan identitas merek. Banyak merek tidak lagi sekadar mempromosikan fungsi produk, tetapi juga menonjolkan nilai-nilai seperti kepedulian lingkungan, pemberdayaan lokal, atau inklusivitas sosial.

    Menurut saya, hal ini mencerminkan perubahan ekspektasi konsumen. Kita tidak hanya membeli barang, tetapi juga “mendukung” nilai yang diwakili oleh merek tersebut. Dalam konteks ini, konsumsi menjadi bentuk ekspresi diri.

    Namun, saya juga melihat adanya sisi problematis dari tren ini. Tidak semua perusahaan benar-benar memahami makna membangun nilai. Sebagian hanya menjadikan isu sosial sebagai alat pemasaran.

    Mereka berbicara tentang keberlanjutan atau kepedulian sosial, tetapi praktik bisnisnya tidak mencerminkan hal tersebut. Sebagai konsumen, saya merasa pendekatan seperti ini justru menimbulkan kekecewaan dan ketidakpercayaan. Ketika nilai hanya dijadikan kemasan, pemasaran kehilangan integritasnya.

    Media sosial memperkuat dinamika ini. Di satu sisi, platform digital memberi ruang bagi merek untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumen. Di sisi lain, media sosial juga menjadi ruang kontrol publik.

    Konsumen dapat dengan mudah mengkritik, menyebarkan pengalaman negatif, bahkan mengorganisasi boikot. Menurut saya, kondisi ini memaksa perusahaan untuk lebih berhati-hati dan jujur. Identitas merek tidak lagi bisa direkayasa sepihak, tetapi dibentuk bersama konsumen.

    Dalam pengalaman saya mengamati UMKM dan merek lokal, pergeseran ke arah nilai dan identitas justru menjadi peluang. Banyak UMKM yang tidak memiliki anggaran iklan besar, tetapi mampu menarik perhatian karena keaslian cerita dan kedekatan emosional.

    Identitas lokal, proses produksi yang jujur, serta komunikasi yang sederhana sering kali terasa lebih meyakinkan dibandingkan kampanye besar yang terasa dibuat-buat. Hal ini menunjukkan bahwa pemasaran berbasis nilai tidak selalu identik dengan biaya tinggi.

    Saya juga berpendapat bahwa pergeseran ini menuntut konsistensi yang lebih besar dari perusahaan. Identitas bukan hanya ditampilkan dalam iklan, tetapi harus tercermin dalam pengalaman konsumen secara keseluruhan.

    Ketika pelayanan buruk atau kualitas produk tidak sejalan dengan citra yang dibangun, konsumen akan cepat kehilangan kepercayaan. Di era digital, reputasi bisa runtuh hanya karena satu pengalaman negatif yang viral.

    Lebih jauh, perubahan ini menunjukkan bahwa posisi konsumen semakin kuat. Konsumen tidak lagi sekadar objek pemasaran, melainkan aktor yang ikut menentukan arah merek. Keputusan membeli kini sering kali disertai pertimbangan etis dan emosional.

    Saya melihat hal ini sebagai tanda bahwa pemasaran tidak bisa lagi dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Perusahaan dituntut untuk tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat.

    Sebagai penutup, saya berpendapat bahwa pergeseran pemasaran dari sekadar menjual barang ke membangun nilai dan identitas adalah sebuah keniscayaan. Di tahun 2026, merek yang mampu bertahan adalah mereka yang memahami bahwa pemasaran bukan hanya soal menjual, tetapi tentang membangun kepercayaan dan makna.

    Bagi saya, pemasaran yang berhasil adalah pemasaran yang tidak hanya membuat konsumen membeli, tetapi juga membuat mereka merasa terhubung dan dihargai.Pada akhirnya, pergeseran pemasaran dari sekadar menjual barang menuju upaya membangun nilai dan identitas bukanlah tren sementara, melainkan cerminan perubahan cara manusia memaknai konsumsi.

    Di tahun 2026, konsumen semakin sadar bahwa pilihan membeli bukan hanya soal kebutuhan, tetapi juga soal sikap, kepercayaan, dan nilai yang ingin mereka dukung. Dalam konteks ini, pemasaran tidak lagi dapat dipisahkan dari tanggung jawab moral dan sosial. Merek yang berhasil bukanlah mereka yang paling agresif menawarkan produk, tetapi yang mampu membangun kepercayaan melalui konsistensi antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan.

    Menurut saya, masa depan pemasaran akan semakin ditentukan oleh kemampuan perusahaan memahami manusia, bukan hanya pasar. Teknologi dan data akan tetap penting, tetapi tanpa kejujuran, empati, dan pemahaman terhadap nilai-nilai konsumen, pemasaran akan kehilangan relevansinya.

    Identitas merek yang kuat lahir dari komitmen jangka panjang, bukan dari kampanye sesaat. Oleh karena itu, pemasaran yang berkelanjutan adalah pemasaran yang berani menempatkan nilai sebagai fondasi, bukan sekadar alat komunikasi. Di tengah persaingan yang semakin kompleks, hanya merek yang bermakna yang akan benar-benar bertahan dan diingat oleh konsumennya.

     

    DAFTAR REFERENSI:

    Kotler, P., Kartajaya, H., & Setiawan, I. (2023). Marketing 6.0: The Future Is Immersive. Hoboken: Wiley.

    Hery. (2024). Manajemen Pemasaran Modern dan Perilaku Konsumen Digital. Jakarta: Grasindo.

    Tjiptono, F. (2025). Branding dan Strategi Pemasaran di Era Digital. Yogyakarta: Andi.

    Sumber digital

    DataReportal. (2025). Digital 2025: Indonesia.

    We Are Social & Meltwater. (2025). Social Media and Consumer Identity Trends.

     

    * Enjelika Oktaviani Demitri _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    Kritik terhadap Ketergantungan Berlebihan pada Figur Publik Digital dalam Strategi Pemasaran Modern

    DUTA, Pontianak – Dalam satu dekade terakhir, lanskap pemasaran mengalami perubahan yang sangat signifikan seiring dengan berkembangnya platform digital dan media sosial. Strategi pemasaran yang dahulu bertumpu pada media konvensional kini bergeser ke ranah digital dengan memanfaatkan figur publik digital atau yang lebih dikenal sebagai digital influencers.

    Influencer diposisikan sebagai jembatan antara merek dan konsumen karena dianggap memiliki kedekatan emosional, kepercayaan, serta daya persuasi yang tinggi. Namun, di balik popularitas strategi ini, muncul persoalan serius terkait ketergantungan berlebihan terhadap figur publik digital sebagai alat utama pemasaran.

               Fenomena ini tidak hanya memengaruhi efektivitas pemasaran, tetapi juga berdampak pada kepercayaan konsumen, keberlanjutan merek, hingga etika pemasaran itu sendiri. Ketika pemasaran terlalu bergantung pada popularitas individu, maka nilai, kualitas, dan identitas merek berpotensi tereduksi menjadi sekadar “menempel” pada citra figur tersebut.

    Opini ini berupaya mengkritisi ketergantungan berlebihan pada figur publik digital dalam pemasaran modern serta menyoroti implikasi strategis, psikologis, dan etis yang muncul dari praktik tersebut.

    Fenomena Figur Publik Digital dalam Pemasaran

              Figur publik digital merujuk pada individu yang memiliki pengaruh signifikan di platform digital seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan Facebook. Berdasarkan laporan Digital Marketing Outlook Asia 2026, lebih dari 72% perusahaan di Asia Tenggara mengalokasikan anggaran pemasaran digital mereka pada influencer marketing, dengan Indonesia sebagai salah satu pasar terbesar.

    Data dari Meta Indonesia (2026) menunjukkan bahwa konten promosi yang melibatkan figur publik memiliki tingkat engagement 2,3 kali lebih tinggi dibandingkan iklan digital biasa.

              Hal ini menjelaskan mengapa banyak perusahaan—baik skala besar maupun UMKM—menjadikan figur publik digital sebagai strategi utama. Namun, tingginya angka penggunaan ini juga mengindikasikan adanya kecenderungan imitasi tanpa kajian strategis yang mendalam. Banyak organisasi mengikuti tren influencer marketing bukan karena relevansi dengan nilai merek, melainkan karena tekanan kompetitif dan ketakutan tertinggal (fear of missing out).

    Ketergantungan Berlebihan dan Risiko Strategis

             Ketergantungan berlebihan pada figur publik digital menimbulkan risiko strategis yang sering kali diabaikan. Pertama, merek menjadi rentan terhadap reputasi personal influencer. Ketika seorang figur publik terlibat dalam kontroversi, skandal, atau perilaku yang bertentangan dengan nilai sosial, dampaknya secara langsung merusak citra merek yang diasosiasikan dengannya.

    Kasus pemutusan kontrak beberapa brand besar dengan influencer Indonesia pada awal 2026 akibat kontroversi personal menjadi bukti nyata bahwa reputasi merek dapat runtuh akibat faktor eksternal yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.

             Kedua, ketergantungan ini menciptakan ilusi kepercayaan. Konsumen sering kali mempercayai produk bukan karena kualitas atau nilai yang ditawarkan, melainkan karena figur yang merekomendasikannya.

    Dalam jangka panjang, hal ini melemahkan loyalitas merek karena hubungan yang terbentuk bersifat transaksional dan temporer. Ketika influencer berpindah ke merek lain, konsumen pun mudah berpindah.

    Dampak terhadap Kepercayaan Publik

              Kepercayaan publik merupakan aset utama dalam pemasaran berkelanjutan. Namun, banjir konten promosi oleh figur publik digital justru berpotensi mengikis kepercayaan tersebut.

    Berdasarkan survei Consumer Trust Report Indonesia 2026 yang dirilis oleh Katadata Insight Center, sebanyak 61% responden menyatakan mulai meragukan kejujuran influencer dalam merekomendasikan produk, terutama ketika satu figur mempromosikan banyak merek dalam waktu singkat.

             Fenomena ini dikenal sebagai influencer fatigue, di mana konsumen merasa jenuh dan skeptis terhadap konten promosi yang terlalu sering muncul. Kepercayaan yang awalnya menjadi kekuatan utama influencer justru berubah menjadi kelemahan ketika autentisitas dipertanyakan. Dalam konteks ini, ketergantungan berlebihan pada figur publik digital tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga menciptakan krisis kredibilitas bagi merek.

    Dimensi Etika dan Tanggung Jawab Moral Pemasar

            Pemasaran tidak hanya berkaitan dengan penjualan, tetapi juga membawa tanggung jawab moral. Ketika pemasar memanfaatkan figur publik digital tanpa transparansi yang memadai, praktik ini dapat menjurus pada manipulasi konsumen. Banyak konten promosi yang tidak secara jelas mencantumkan label iklan atau kerja sama berbayar, sehingga konsumen sulit membedakan antara opini personal dan pesan komersial.

           Dalam buku Ethical Marketing in the Digital Era (Kotler & Kartajaya, 2024) menegaskan bahwa pemasaran etis harus menjunjung prinsip kejujuran, transparansi, dan keberlanjutan.

    Ketergantungan berlebihan pada figur publik digital yang menggabungkan batas antara promosi dan rekomendasi personal bertentangan dengan prinsip tersebut. Oleh karena itu, pemasar memiliki kewajiban moral untuk memastikan bahwa strategi influencer marketing tidak menyesatkan dan tetap menghormati hak konsumen atas informasi yang jujur.

    Ketimpangan Nilai antara Merek dan Influencer

            Masalah lain yang muncul adalah ketimpangan nilai antara merek dan figur publik digital. Dalam banyak kasus, influencer justru menjadi pusat perhatian utama, sementara merek hanya berfungsi sebagai “pendukung”. Hal ini berbahaya karena identitas merek menjadi lemah dan tidak mandiri. Merek yang kuat seharusnya memiliki nilai, cerita, dan positioning yang jelas tanpa harus bergantung sepenuhnya pada figur tertentu.

            Menurut buku Branding Beyond Endorsement (Keller, 2025), merek yang terlalu mengandalkan endorsement figur publik cenderung mengalami kesulitan dalam membangun ekuitas merek jangka panjang. Konsumen lebih mengingat siapa yang mempromosikan produk dibandingkan apa nilai yang ditawarkan produk tersebut. Akibatnya, merek menjadi mudah tergantikan dan tidak memiliki diferensiasi yang kuat di pasar.

    Alternatif Strategi: Dari Figur ke Komunitas

           Sebagai alternatif terhadap ketergantungan berlebihan pada figur publik digital, banyak pakar pemasaran merekomendasikan pendekatan berbasis komunitas. Komunitas konsumen yang loyal dan terlibat secara aktif memiliki potensi yang jauh lebih berkelanjutan dibandingkan popularitas sesaat influencer.

    Data dari laporan Community-Based Marketing Trends 2026 menunjukkan bahwa merek yang membangun komunitas memiliki tingkat retensi pelanggan 35% lebih tinggi dibandingkan merek yang hanya mengandalkan influencer marketing.

          Pendekatan ini menempatkan konsumen sebagai subjek aktif, bukan sekadar target promosi. Interaksi yang terbangun lebih autentik dan berbasis pengalaman nyata, sehingga kepercayaan dan loyalitas terbentuk secara organik. Dalam konteks ini, figur publik digital tetap dapat digunakan, tetapi hanya sebagai pendukung, bukan fondasi utama strategi pemasaran.

    Refleksi Kritis terhadap Praktik di Indonesia

            Di Indonesia, ketergantungan pada figur publik digital terlihat sangat dominan, terutama di sektor fesyen, kecantikan, dan produk gaya hidup. Banyak UMKM merasa “wajib” menggunakan influencer agar dianggap relevan di pasar digital. Padahal, tanpa strategi yang matang, penggunaan influencer justru dapat menjadi beban biaya tanpa dampak signifikan.

           Refleksi ini menunjukkan perlunya literasi pemasaran digital yang lebih kritis. Pemasar harus mampu menilai kapan influencer relevan, sejauh mana perannya, dan bagaimana menjaga keseimbangan antara popularitas figur publik dan kekuatan merek itu sendiri. Ketergantungan tanpa evaluasi hanya akan menciptakan pemasaran yang dangkal dan tidak berkelanjutan.

           Ketergantungan berlebihan pada figur publik digital dalam strategi pemasaran modern merupakan fenomena yang perlu dikritisi secara serius. Meskipun influencer marketing menawarkan keuntungan jangka pendek berupa peningkatan visibilitas dan engagement, risiko strategis, penurunan kepercayaan publik, serta persoalan etika tidak dapat diabaikan. Merek yang sehat dan berkelanjutan seharusnya dibangun di atas nilai, kualitas, dan hubungan autentik dengan konsumen, bukan semata-mata popularitas individu.

          Oleh karena itu, pemasar perlu mengadopsi pendekatan yang lebih seimbang dan reflektif, dengan menjadikan figur publik digital sebagai alat pendukung, bukan pusat strategi. Dengan demikian, pemasaran tidak hanya efektif secara komersial, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan moral.

    DAFTAR REFERENSI:

    Kotler, P., & Kartajaya, H. (2024). Ethical Marketing in the Digital Era. Wiley.

    Keller, K. L. (2025). Branding Beyond Endorsement. Pearson Education.

    Ryan, D. (2026). Digital Marketing Strategy and Consumer Trust. Routledge.

    Sumber Digital & Data 2026:

    Katadata Insight Center. (2026). Consumer Trust Report Indonesia 2026.

    Meta Indonesia. (2026). Digital Advertising and Influencer Engagement Report.

    We Are Social & Meltwater. (2026). Digital 2026 Indonesia.

    Instagram Business Indonesia. (2026). Influencer Marketing Performance Data.

    Facebook for Business Asia. (2026). Social Media Advertising Trends.

    * Anjeli _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    Strategi Pemasaran UMKM yang Tidak Selalu Bergantung pada Anggaran besar

    DUTA, Pontianak – Usaha mikro kecil dan menengah UMKM memiliki peran penting dalam perekonomia Indonesia menurut data terbaru tahun 2026 dari Kementerian koperasi dan UKM menyumbang lebih dari 60 % produk . Namun salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi UMKM adalah keterbatasan modal termasuk dalam hal anggaran pemasaran .

    Banyak pelaku UMKM beranggapan bahwa pemasaran yang efektif membutuhkan biaya besar seperti iklan digital bebrbayar endorsement selebritas, atau kampanye promosi berskala nasional. Padahal, realitanya strategi pemasaran yang sukses tidak selalu ditentukan oleh besarnya dana, melainkan oleh kreativitas, pemahaman pasar, konsistensi merek, dan kedekatan emosional dengan konsumen .

    Konsumen semakin kritis, selektif, dan lebih percaya pada rekomendasi autentik dibandingkan iklan yang terlalu agresif. Hal ini justru membuka peluang besar bagi UMKM untuk bersaing dengan brand besar tanpa harus mengeluarkan biaya pemasaran yang tinggi.

    Kreativitas Sebagai Modal UMKM 

    UMKM ini memliki keunggulan yang sering tidak dimiliki Perusahaan besar yaitu kedekatan dengan pelanggan denga kreativitas yang tepat UMKM dapat menciptakan strategi pemasran yang efektiv tanpa biaya besar misalnya pemfaatan medio sosial secara organik konten yang menarik edukatif dan relevan dengan target pasar .

    Banyak UMKM sukses di Instagram, Facebook, dan TikTok dengan mengandalkan storytelling yang kuat, seperti menceritakan proses produksi, kisah di balik usaha, hingga testimoni pelanggan secara jujur. Konten semacam ini tidak memerlukan anggaran iklan besar, tetapi mampu membangun kepercayaan dan kedekatan emosional dengan konsumen.

    Ini menunjukkan bahwa format konten yang tepat dapat menggantikan kebutuhan akan anggaran besar 

    Membangun komunitas pelanggan juga menjadi strategi penting. Grup WhatsApp pelanggan setia, komunitas online, serta kolaborasi dengan pelanggan loyal dapat menciptakan ekosistem pemasaran yang berkelanjutan. Ketika pelanggan merasa menjadi bagian dari brand, mereka secara sukarela menjadi “duta pemasaran”.

    Strategi ini tidak membutuhkan biaya iklan besar, tetapi membutuhkan komitmen pada kualitas, konsistensi, dan hubungan jangka panjang.

    Pemanfaatan Konten Digital Berbiaya Rendah 

    Di tahun 2026, teknologi digital semakin terjangkau, memungkinkan UMKM untuk memproduksi konten pemasaran berkualitas dengan biaya minimal. Dengan smartphone dan aplikasi editing gratis, UMKM dapat membuat foto produk, video promosi, dan konten edukatif yang menarik.

    Tren pemasaran digital saat ini juga menunjukkan bahwa konten sederhana namun autentik sering kali lebih menarik daripada iklan yang terlalu profesional. Konten seperti video behind-the-scenes, tutorial penggunaan produk, atau cerita inspiratif tentang perjalanan usaha dapat meningkatkan engagement tanpa memerlukan biaya besar.

    KALOBORASI SEBAGAI ALTERNATIF ANGGARAN BESAR 

    Strategi pemasaran tanpa anggaran besar juga dapat dilakukan melalui kolaborasi. UMKM dapat bekerja sama dengan UMKM lain, kreator lokal, komunitas, atau influencer mikro (micro-influencer) yang memiliki audiens relevan  Kolaborasi semacam ini sering kali lebih terjangkau dibandingkan endorsement selebritas besar, namun tetap efektif karena audiens micro-influencer cenderung lebih loyal dan percaya.

    Selain itu, kolaborasi dengan event lokal, sekolah, kampus, atau komunitas dapat membantu memperluas jangkauan pemasaran tanpa biaya iklan besar. Pendekatan ini juga memberikan nilai tambah berupa peningkatan citra brand sebagai usaha yang peduli terhadap lingkungan sosial dan ekonomi lokal.

    Refleksi Kritis: Tantangan UMKM dalam Pemasaran Hemat

    Meski pemasaran murah menawarkan banyak peluang, UMKM tetap menghadapi tantangan, seperti Literasi digital yang belum merata, Konsistensi dalam produksi konten, Kurangnya analisis data pelanggan, Keterbatasan waktu dan sumber daya manusia.

    Namun, tantangan ini bukan alasan untuk menyerah, melainkan peluang untuk belajar dan beradaptasi. Dengan pelatihan digital, pendampingan pemerintah, dan akses teknologi yang semakin luas, UMKM memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan pemasaran hemat biaya.

    Fokus Pada Nilai dan Diferensiasi Produk

    Anggaran besar tidak akan efektif jika produk tidak memiliki nilai yang jelas. Oleh karena itu, UMKM perlu fokus pada diferensiasi dan keunikan produk. Nilai tersebut dapat berupa kualitas bahan, harga terjangkau, keunikan desain, konsep ramah lingkungan, atau cerita lokal yang kuat.

    Konsumen tahun 2026 semakin tertarik pada produk yang memiliki makna dan nilai sosial, seperti produk lokal, berkelanjutan, dan mendukung pemberdayaan masyarakat. UMKM yang mampu mengomunikasikan nilai ini secara konsisten dapat membangun citra merek yang kuat tanpa harus mengeluarkan biaya promosi besar.

    Tantangan dan Realita Dilapangan 

    Meskipun strategi pemasaran tanpa anggaran besar memiliki banyak peluang UMKM tetap menghadapi tantangan seperti keterbatasan sumber daya manusia kuranya literasi digital dan kesulitan dalam konsistensi konten oleh karane itu diperlukan dukungan dari pemerintah institusi Pendidikan dan komunitas bisnis untuk meningkatkan pemasaran UMKM. 

    Strategi pemasaran yang hemat biaya pelaku UMKM juga perlu memiliki polapikir adaptif (menyesuaikan diri ) dan terus belajar mengikuti perkembangan tren pasar .Strategi pemasaran UMKM tidak selalu harus bergantung pada anggaran besar. Di era digital 2026, kreativitas, keaslian, kedekatan dengan pelanggan, serta pemanfaatan teknologi secara efektif justru menjadi kunci keberhasilan pemasaran.

    UMKM memiliki peluang besar untuk bersaing dengan brand besar melalui konten autentik (nyata ) komunitas pelanggan, kolaborasi, dan diferensiasi produk. Dengan strategi yang tepat, keterbatasan dana bukanlah penghalang, melainkan tantangan yang dapat mendorong inovasi dan kreativitas.

    Pada akhirnya, pemasaran yang efektif bukan tentang siapa yang memiliki dana terbesar, tetapi tentang siapa yang paling memahami konsumennya dan mampu membangun hubungan jangka panjang yang bermakna.

     

     DAFTAR REFERENSI:

    Jurnal Ilmiah & Akademik (Indonesia)Wibowo, B. Y. (2025).Ekonomi Perilaku dan Pengambilan Keputusan Konsumen di Marketplace Digital.

    Jurnal Ilmiah Manajemen Kesatuan.Hidayati, N., dkk. (2024).Marketing Analytics dalam Strategi Pemasaran Digital.

    Jurnal Manajemen Pemasaran, Universitas Jambi.Sari, R. & Saputra, B. (2024).Peran Psikologi Konsumen dalam Efektivitas Iklan Digital.

    Jurnal Ilmu Manajemen dan Bisnis.

    Kusuma, J. (2025).Data Science dalam Pemasaran: Peluang dan Keterbatasan.Advances: Jurnal Ekonomi dan Bisnis.

    Portal Berita & Media Nasional Kompas.com (2025).

    Algoritma Media Sosial Tidak Selalu Memahami Perilaku Konsumen. Tempo.co (2024).

    Bahaya Ketergantungan Data Besar dalam Dunia Bisnis Digital.

    CNN Indonesia (2025). Bagaimana Data Konsumen Digunakan oleh Platform Digital?

    ANTARA News (2024).Pentingnya Etika dalam Pemanfaatan Data Konsumen.

    Bisnis.com (2025).Peran Psikologi Konsumen dalam Keberhasilan Pemasaran Digital.

     

    * Sese Selonika _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    Kekuatan Komunikasi Sebagai Fondasi Pemasaran Berkelanjutan

    DUTA,Pontianak Era digital dan kesadaran lingkungan yang semakin tinggi, pemasaran tidak lagi hanya soal mempromosikan produk secara tradisional, tetapi juga mengkomunikasikan nilai-nilai organisasi kepada konsumen,pemangku kepentingan(stakeholders), dan Masyarakat luas.

    Komunikasi pemasaran berkelanjutan menjadi landasan strategis dalam membangun hubungan jangka Panjang dengan konsumen sekaligus mendukung tujuan sosial dan lingkungan yang lebih luas. Pemasaran tidak hanya bertujuan untuk mencapai target penjualan,melainkan juga memperkuat citra merek yang bertanggung jawab dan relevan dimasa depan.

    Komunikasi Sebagai Kunci dalam Menanamkan Nilai Keberlanjutan

    Komunikasi bukan sekadar penyampaian pesan, tetapi juga dialog yang membangun hubungan antara brand dan konsumen. Dalam konteks pemasaran berkelanjutan, komunikasi berkualitas tidak hanya menyampaikan informasi produk, tetapi juga mengkomunikasikan komitmen terhadap isu sosial, lingkungan, etika, dan nilai-nilai jangka panjang.

    Dalam kajian literatur sustainability communication, Braga et al. menggarisbawahi bahwa komunikasi keberlanjutan (sustainability communication) merupakan kajian yang terus berkembang dalam ilmu pemasaran.

    Penelitian ini mengeksplorasi dasar-dasar serta arah riset komunikasi keberlanjutan dan bagaimana strategi komunikasi harus dirancang untuk menyampaikan nilai-nilai yang mencakup aspek sosial dan lingkungan secara efektif kepada berbagai pemangku kepentingan.

    Pendekatan ini menguatkan gagasan bahwa komunikasi menjadi fondasi dalam membentuk persepsi, sikap, dan perilaku konsumen terhadap upaya keberlanjutan suatu organisasi.

    Komunikasi Pemasaran Digital sebagai Pilar Utama

    Perkembangan teknologi informasi, khususnya media sosial, telah mengubah landscape komunikasi pemasaran secara signifikan. Platform digital tidak sekadar menjadi kanal distribusi pesan, tetapi juga ruang interaksi dua arah antara brand dan konsumen. Komunikasi digital memungkinkan merek untuk melakukan storytelling, edukasi, dan keterlibatan aktif (engagement) yang lebih kuat terhadap isu keberlanjutan.

    Studi oleh Alhidayatullah (2025) menunjukkan bahwa strategi komunikasi yang efektif di media sosial mampu memperkuat merek yang berkelanjutan serta meningkatkan performa bisnis. Dalam era digital, komunikasi yang berfokus pada keterlibatan konsumen, penguatan pesan nilai yang konsisten, serta narasi keberlanjutan yang autentik menjadi bagian penting dalam membangun loyalitas dan memperluas jangkauan pasar.

    Komunikasi yang two-way melalui media digital juga memberi kesempatan bagi perusahaan untuk mendengar langsung suara konsumen. Hal ini penting karena pemasaran berkelanjutan bukan lagi tentang menyampaikan apa yang perusahaan ingin sampaikan, tetapi juga tentang mendengarkan dan merespon kebutuhan serta harapan konsumen terhadap isu keberlanjutan.

    Membangun Kepercayaan Konsumen melalui Komunikasi yang Jelas dan Konsisten

    Kepercayaan merupakan faktor penting dalam keberhasilan pemasaran berkelanjutan. Tanpa kepercayaan, konsumen cenderung skeptis terhadap klaim-klaim keberlanjutan (greenwashing). Komunikasi yang transparan, jelas, dan konsisten membantu perusahaan menghindari kesalahpahaman serta membangun kredibilitas yang kuat.

    Dalam penelitian Bursan (2024), ditemukan bahwa komunikasi yang efektif mampu memengaruhi sustainable commitment atau komitmen ke berkelanjutan melalui penguatan kepercayaan merek (brand trust). Komunikasi yang baik menciptakan pemahaman konsumen terhadap nilai-nilai organisasi termasuk aktivitas tanggung jawab sosial dan lingkungansehingga konsumen merasa yakin untuk memilih dan tetap setia pada brand tersebut.

    Selain itu, transparansi dalam menyampaikan program keberlanjutan-misalnya praktik bisnis yang ramah lingkungan, kontribusi terhadap masyarakat lokal, serta tujuan sosial yang jelas dapat memperkuat posisi merek di benak konsumen.

    Konten komunikasi yang informatif dan berimbang tentang tantangan dan pencapaian perusahaan terkait keberlanjutan memperkuat persepsi bahwa perusahaan serius dalam menjalankan strategi sustainable marketing.

    Studi Kasus Komunikasi Nilai: Strategi Pemasaran Nilai Berkelanjutan

    Pengaplikasian komunikasi pemasaran dalam konteks value-based menunjukkan bagaimana komunikasi yang dirancang untuk menonjolkan nilai keberlanjutan mampu mendukung daya saing produk dan hubungan jangka panjang dengan konsumen.

    Sebagai contoh, studi kasus oleh Nugroho & Nasution (2024) menunjukkan bahwa strategi komunikasi pemasaran berbasis nilai keberlanjutan (sustainable value-based online marketing) berhasil meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap produk Namira Ecoprint yang menonjolkan komitmen lingkungan.

    Hal ini membuktikan bahwa komunikasi nilai yang kuat bukan sekadar strategi penjualan, tetapi juga bagian penting dalam membangun hubungan jangka panjang yang berfokus pada manfaat shared value bagi kesejahteraan bersama.

    Tantangan dan Peluang dalam Komunikasi Pemasaran Berkelanjutan

    Walaupun daya komunikasi pemasaran sangat kuat dalam mendukung keberlanjutan, tantangan itu pasti ada. Tantangan utama antara lain Adalah:

    Kesenjangan antara klain dan realitas,ketika pesan pemasaran tidak didukung oleh praktik nyata, kredibilitas Perusahaan bisa runtuh.

    Kejenuhan pesan digital, dengan begitu banyaknya informasi dimedia digital, pesan yang tidak relevan atau terlalu”pemasaran” bisa terabaikan.

    Persepsi Konsumen yang semakin kritis,terhadap isu sosial dan lingkungan, menuntut komunikasi yang lebih autentik dan berbasis data.

    Di sisi lain, peluang besar muncul dengan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap isu keberlanjutan, terutama di kalangan milenial dan Gen Z. Konsumen modern cenderung memilih merek yang bukan hanya menawarkan kualitas produk, tetapi juga nilai sosial dan lingkungan yang selaras dengan prinsip mereka.

    Kesimpulan

    Komunikasi pemasaran bukan sekadar alat untuk mendorong transaksi, tetapi merupakan fondasi untuk membangun hubungan yang sustainable antara perusahaan, konsumen, dan masyarakat. Komunikasi yang efektif membantu organisasi:

    -Mengkomunikasikan nilai-nilai keberlanjutan dengan jelas dan autentik.

    -Membangun kepercayaan dan kredibilitas di mata konsumen.

    -Menggunakan kanal digital untuk memperkuat keterlibatan dan interaksi konsumen.

    -Menciptakan shared value yang memperkuat hubungan brand–konsumen jangka panjang.

    Dengan demikian, kekuatan komunikasi sebagai fondasi pemasaran berkelanjutan menjadi strategi penting yang harus diintegrasikan dalam setiap perencanaan pemasaran modern. Perusahaan tidak hanya berkompetisi di pasar produk, tetapi juga dalam “narasi nilai” yang mampu menjawab tuntutan sosial dan lingkungan di era sekarang.

     Daftar Referensi

    • Nugroho, G. A. P., & Nasution, A. H. (2024). “Memprediksi Komunikasi Pemasaran Berkelanjutan di Indonesia pada Tren 2023. Jurnal Studi Komunikasi
    • Yudhiasta, S., Andrea, G. A., & Rahmatin, L. S. (2023). Integrasi Komunikasi Pemasaran dalam Konsep Pariwisata Berkelanjutan “Kampung Adat Segunung”. Jurnal Riset Entrepreneurship, 6(2), 153–167.

    Penelitian yang mengaitkan komunikasi pemasaran terintegrasi dengan konsep keberlanjutan di sektor pariwisata.

    • Diawati, P., Mutalov, I. C., Kasmi, M., Abdullah, A., & Yuliastuti, H. (2023). “Memprediksi Tren Komunikasi Pemasaran Berkelanjutan Indonesia pada Tahun 2023”.

    *Yuliana Aling_ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. _Dosen Manajemen Pemasaran

    Pemasaran UMKM Efektif dengan Anggaran Terbatas di Era Digital

    DUTA, Pontianak – Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara UMKM memasarkan produk dan jasanya. Saat ini, masih banyak pelaku UMKM yang beranggapan bahwa pemasaran yang efektif harus ditopang oleh anggaran besar,  yaitu  seperti iklan berbayar atau kerja sama dengan influencer ternama.

    Namun, di era digital saat ini, keterbatasan anggaran tidak selalu menjadi penghalang utama bagi UMKM untuk membangun citra merek dan menjangkau konsumen. Hal ini sangat sejalan dengan pandangan Oktaviani : 2023 yang menekankan bahwa strategi digital branding dapat dijalankan secara mandiri dan efisien melalui pemanfaatan website sebagai media utama pemasaran. Namun demikian, tantangan besar masih dihadapi, terutama dalam aspek literasi digital, keterbatasan infrastruktur, dan minimnya dukungan kebijakan adaptif.

    Menurut Oktaviani : 2030, website mandiri memiliki peran penting dalam membangun identitas merek UMKM secara profesional, dengan biaya yang relatif terjangkau, UMKM dapat menampilkan informasi produk, nilai usaha, serta keunggulan yang membedakan mereka dari pesaing.

    ini menunjukkan bahwa efektivitas pemasaran tidak semata-mata diukur dari besarnya biaya promosi, tetapi dari kemampuan UMKM mengelola media digital secara konsisten dan terarah, Website juga menjadi aset jangka panjang yang mampu meningkatkan kredibilitas usaha, terutama di mata konsumen yang semakin kritis dalam mencari informasi sebelum melakukan pembelian.

    Namun demikian, tantangan utama dari pemasaran digital berbiaya rendah yaitu konsistensi dan literasi digital pelaku UMKM, disisi lain banyak juga UMKM yang telah memiliki website atau akun media sosial, tetapi tidak dikelola secara optimal, dari  sinilah pentingnya kesadaran bahwa pemasaran digital membutuhkan komitmen, meskipun tidak membutuhkan anggaran besar, tanpa perencanaan konten dan pemahaman target pasar, strategi digital yang murah sekalipun tidak akan berjalan efektif.

    Robby juga mengatakan : 2023, digital marketing memungkinkan UMKM memanfaatkan berbagai platform digital yang relatif murah bahkan gratis, seperti media sosial, marketplace, dan aplikasi pesan instan, ini menunjukkan bahwa efektivitas pemasaran tidak lagi bergantung pada besarnya dana promosi, melainkan pada kemampuan UMKM dalam memilih saluran pemasaran yang tepat dan memahami perilaku konsumennya, Dengan adanya strategi yang terarah, UMKM dapat menjangkau pasar yang lebih luas dibandingkan pemasaran konvensional yang biayanya cenderung lebih tinggi.

    Pemasaran digital juga memberikan ruang bagi UMKM untuk berinteraksi langsung dengan konsumen, karena Konten yang sederhana, autentik, dan relevan sering kali lebih menarik perhatian dibandingkan iklan formal yang mahal.

    Robby : 2023  menyoroti pentingnya konsistensi dan kreativitas dalam mengelola konten digital, UMKM yang mampu memanfaatkan cerita produk, testimoni pelanggan, dan komunikasi dua arah akan lebih mudah membangun kepercayaan konsumen, meskipun tanpa anggaran promosi besar.

    Namun, pemasaran UMKM dengan anggaran terbatas di era digital tidak lepas dari tantangan, Salah satu nya kendala utama adalah rendahnya literasi digital sebagian pelaku UMKM, Banyak yang telah memiliki akun media sosial, tetapi belum memahami strategi penggunaannya secara optimal, dari analisis Robby tersebut : 2023 menunjukkan bahwa digital marketing bukan sekadar kehadiran di platform online, melainkan membutuhkan perencanaan, pemahaman target pasar, serta evaluasi berkelanjutan agar benar-benar efektif.

    Selain itu digital marketing juga berperan penting dalam membantu UMKM melakukan evaluasi dan pengambilan keputusan pemasaran secara lebih tepat,  Melalui fitur analitik sederhana yang tersedia di media sosial dan marketplace, pelaku UMKM dapat melihat respons konsumen terhadap konten yang dibagikan, produk yang paling diminati, serta waktu interaksi yang paling efektif.

    Hal ini menunjukkan bahwa pemasaran UMKM di era digital tidak hanya berfokus pada penyebaran informasi, tetapi juga pada pemanfaatan data untuk meningkatkan strategi pemasaran tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan. Sejalan dengan pemikiran Robby: 2023 kemampuan UMKM dalam membaca dan memanfaatkan data digital secara sederhana dapat menjadi keunggulan kompetitif yang signifikan.

    Semakin jauh lagi, pemanfaatan digital marketing oleh UMKM dengan anggaran terbatas juga menuntut adanya perubahan sikap dalam mengelola usaha secara keseluruhan, UMKM juga perlu menyadari bahwa pemasaran digital bukanlah kegiatan sesaat, melainkan proses berkelanjutan yang membutuhkan konsistensi dan pembelajaran terus-menerus.

    Dengan memanfaatkan berbagai platform digital secara optimal, pelaku UMKM dapat membangun citra merek yang kuat dan relevan dengan kebutuhan pasar, meskipun tanpa dukungan biaya promosi yang besar, Robby juga mengatakan ,  keberhasilan strategi pemasaran digital sangat dipengaruhi oleh kemampuan UMKM dalam menyesuaikan konten, memahami karakteristik konsumen, serta merespons perubahan tren secara cepat.

    Oleh karena itu, digital marketing tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan penjualan, tetapi juga sebagai sarana bagi UMKM untuk meningkatkan profesionalisme, daya saing, dan keberlanjutan usaha di era digital.

    Namun di sisi lain juga, perkembangan teknologi digital membuka ruang pemasaran yang lebih luas dan terjangkau,  Zeptanus :2023 dalam mengenai strategi pemasaran digital UMKM ini menunjukkan bahwa pemanfaatan media digital mampu meningkatkan daya saing UMKM tanpa harus bergantung pada biaya promosi yang besar, ini menunjukan  sejalan dengan pandangan Oktaviani yang menekankan pentingnya strategi digital branding sebagai fondasi pemasaran UMKM yang berkelanjutan dan efisien.

    Zeptanus juga mengatakan : 2023, penggunaan media sosial dan platform digital memungkinkan UMKM menjangkau konsumen secara langsung, membangun interaksi, serta memperluas pasar dengan biaya minimal, ini sangat  memperkuat gagasan bahwa efektivitas pemasaran UMKM tidak lagi ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan oleh ketepatan strategi dan konsistensi pengelolaan media digital. 

    Sementara itu, Oktaviani juga mengatakani bahwa peran penting identitas merek dan kredibilitas usaha melalui pemanfaatan media digital secara mandiri,  Menurut pandangan oktaviani dan robby menunjukkan bahwa pemasaran digital yang efektif bagi UMKM harus berfokus pada penciptaan nilai, kepercayaan, dan kedekatan dengan konsumen, bukan sekadar pada intensitas promosi berbayar.

    Dalam konteks ini, menurut pandangan  Oktaviani, menjadi relevan, bahwa digital branding dan pemasaran digital membutuhkan pemahaman jangka panjang serta komitmen dalam pengelolaannya, Oleh karena itu, pemasaran UMKM yang efektif bukan hanya soal penggunaan teknologi, tetapi juga perubahan pola pikir pelaku usaha agar lebih adaptif dan strategis.

    DAFTAR REFERENSI:

    1. Oktaviani, D. (2023). Strategi Digital Branding UMKM melalui Website Mandiri
    2. Robby. 2023. Penerapan Digital Marketing Sebagai Strategi Pemasaran UMKM
    3. Zeptanus. 2023. Strategi Pemasaran Digital Bagi UMKM Untuk Meningkatkan Daya Saing UMKM Daerah Istimewa Yogyakarta. 

      * Peronika Kristina Wilda _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

      *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    Idola Menjadi Panutan Gaya Hidup, Wajar atau Berlebihan?

    DUTA, Pontianak – Sebagai seorang freelance videographer, saya hidup di tengah dunia digital yang sangat dekat dengan kamera, visual, dan media sosial. Hampir setiap hari saya berurusan dengan konten, tren, dan algoritma.

    Dari pengalaman ini, saya melihat secara langsung bagaimana figur publik digitalseperti influencer, newsfluencer, YouTuber, dan selebritas media sosial memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat saat ini. Mereka bukan lagi sekadar hiburan, tetapi sudah menjadi rujukan dalam banyak hal, mulai dari gaya hidup, cara berpikir, hingga pandangan terhadap isu sosial dan politik.

    Media sosial membuat figur publik digital terasa sangat dekat dengan kehidupan kita semua. Lewat unggahan harian, video singkat, dan siaran langsung, seolah-olah kita mengenal mereka secara pribadi.

    Banyak orang merasa terhubung, merasa “satu frekuensi”, dan akhirnya menaruh kepercayaan besar pada apa pun yang disampaikan figur tersebut. Dari sisi manusiawi, ini sebenarnya wajar. Manusia memang makhluk sosial yang membutuhkan contoh, inspirasi, dan rasa keterhubungan. Namun, masalah mulai muncul ketika ketertarikan ini berubah menjadi ketergantungan yang berlebihan.

    Sebagai orang yang bekerja di balik layar, saya memahami bahwa konten digital tidak pernah sepenuhnya alami ya mungkin ada beberapa yang benar benar tanpa struktur dalam pembuatan konennya. Apa yang terlihat di layar adalah hasil dari proses yang panjang, ppembuatan ide sampai menjadi tulisan naskah, pengambilan sudut kamera yang tepat, penyuntingan, hingga narasi yang sudah direncanakan.

    Semua itu dibuat agar terlihat menarik dan mudah diterima. Sayangnya, banyak penonton lupa bahwa kehidupan yang mereka lihat hanyalah potongan kecil dari realitas, bukan gambaran utuh.

    Ketika kehidupan figur publik digital dijadikan standar hidup, muncul tekanan psikologis. Banyak orang mulai membandingkan dirinya dengan apa yang mereka lihat di media sosial. Hidup terasa kurang asik, kurang sukses, atau kurang bermakna.

    Perasaan ini sering muncul secara perlahan, tanpa disadari. Dari sini, ketergantungan emosional terbentuk. Media digital yang seharusnya menjadi sarana hiburan dan informasi justru menjadi sumber kecemasan dan rasa tidak puas terhadap diri sendiri.

    Pengalaman ini sangat terasa terutama pada generasi seperti saya yaitu gen Z. Kami tumbuh di lingkungan digital yang penuh visual sempurna dan pencitraan. Ketika validasi diri lebih banyak dicari dari jumlah likes, komentar, atau pengakuan figur publik digital, kesehatan mental menjadi rentan. Kecemasan, rasa takut tertinggal, dan tekanan untuk selalu mengikuti trend trend yang berbeda tiap minggu membuat hal itu menjadi hal yang umum dan harus diikuti

    Dari sudut pandang saya sebagai videographer, algoritma media sosial punya peran besar dalam memperkuat kondisi ini. Platform digital tidak bekerja secara netral. Konten yang memicu emosi cenderung lebih sering ditampilkan.

    Konten figur publik digital yang menarik perhatian akan terus muncul di FYP, membuat penonton merasa dekat dan terus ingin mengikuti. ,secara tidak disadari, figur ini menjadi bagian penting dalam kehidupan emosional penggunanya.

    Ketergantungan ini juga memengaruhi cara masyarakat menerima informasi. Banyak orang kini lebih percaya pada opini figur publik digital dibandingkan berita dari media yang terverifikasi atau pendapat para ahli.

    Padahal, tidak semua figur publik digital memiliki tanggung jawab untuk memeriksa kebenaran informasi yang mereka sampaikan. Hubungan emosional yang sudah terbangun membuat pengikut cenderung menerima informasi secara mentah, tanpa berpikir kritis.

    Media massa pun mulai menyoroti fenomena ini. Beberapa pemberitaan menunjukkan bahwa influencer memiliki potensi besar menyebarkan informasi yang keliru, terutama ketika mereka membahas isu sensitif seperti kesehatan, politik, atau ekonomi. Namun, karena figur tersebut sudah dipercaya, pengaruhnya tetap kuat. Ini menjadi tantangan serius dalam masyarakat yang semakin bergantung pada media sosial sebagai sumber utama informasi. 

    Sebagai pekerja kreatif, saya juga melihat bagaimana figur publik digital memengaruhi cara orang berbicara dan mengekspresikan diri. Banyak gaya bahasa, istilah, dan cara menyampaikan opini yang awalnya populer di media sosial kini digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa pengaruh figur publik digital tidak hanya pada perilaku, tetapi juga pada identitas dan budaya masyarakat.

    Selain itu, ketergantungan terhadap figur publik digital juga berdampak pada pola konsumsi. Banyak orang membeli produk atau mengikuti gaya hidup tertentu bukan karena kebutuhan, tetapi karena ingin meniru figur yang mereka kagumi.

    Media internasional melaporkan bagaimana konten media sosial mendorong budaya konsumsi berlebihan, terutama melalui video pendek yang menampilkan gaya hidup ideal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menimbulkan tekanan ekonomi dan kebiasaan konsumtif yang tidak sehat.

    Namun, menurut saya, figur publik digital tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Mereka adalah bagian dari sistem media digital yang memang dirancang untuk menarik perhatian. Sebagai kreator, saya juga memahami tekanan untuk mengikuti tren, mengejar algoritma, dan mempertahankan audiens. Dunia digital menuntut kecepatan dan konsistensi, dan tidak semua kreator punya panggung terhadap festivalnya sendiri.

    Masalah utamanya terletak pada cara kita sebagai masyarakat menyikapi konten digital. Mengikuti figur publik digital adalah hal yang wajar. Mengambil inspirasi juga tidak salah. Namun, kita perlu menjaga jarak emosional. Kita perlu menyadari bahwa apa yang kita lihat di layar bukanlah kehidupan nyata secara utuh dari setiap public figure yang kita lihat di platform media social.

    Pada akhirnya, ketergantungan berlebihan terhadap figur publik digital adalah soal keseimbangan. Media sosial bisa memberi manfaat besar jika digunakan dengan sadar. Namun, tanpa kontrol dan literasi digital yang baik, media tersebut justru dapat menggerus kesehatan mental, kemandirian berpikir, dan kualitas hubungan sosial kita. Dunia digital seharusnya membantu manusia berkembang, bukan membuat kita kehilangan kendali atas diri sendiri.

    DAFTAR REFERENSI:

    1. Haidt, J. (2024). The Anxious Generation.
      https://en.wikipedia.org/wiki/The_Anxious_Generation
    2. Ruckenstein, M. (2023). The Feel of Algorithms.
      https://en.wikipedia.org/wiki/The_Feel_of_Algorithms
    3. Aleksic, A. (2025). Algospeak: How Social Media Is Transforming the Future of Language.
      https://en.wikipedia.org/wiki/Algospeak_(book)
    4. Kompas.id –  Influencer Berpotensi Menyebarkan Informasi Salah, Saatnya Kembali ke Media
      https://www.kompas.id/artikel/influencer-berpotensi-menyebarkan-informasi-salah-saatnya-kembali-ke-media
    5. The Verge – Influencers, TikTok, and the Rise of Shopaganda
      https://www.theverge.com/cs/features/836456/influencers-tiktok-debt-shopaganda
    6. Fans Borong BTS Meal, McD Terpaksa Disegel Karena Picu Kerumunan Hingga Kericuhan Gaes  

      * Yendi Kurniawan _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

      *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

     

    Filosofis Tentang Perubahan Posisi Konsumen di Era Algoritma dan Platform Digital

    DUTA, Pontianak – Perkembangan platform digital telah mengubah cara manusia berinteraksi dengan mengolah  informasi, tren, dan pilihan konsumsi sehari-hari. Dalam ruang digital yang serba cepat, konsumen dihadapkan pada arus rekomendasi, ulasan, dan konten promosi yang terus menerus diproduksi oleh algoritma.

    Situasi ini secara perlahan membentuk pola konsumsi baru, di mana keputusan membeli tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan atau pertimbangan rasional, melainkan pada keinginan dan dorongan untuk mengikuti arus sehingga tidak tertinggal dari apa yang dianggap relevan secara sosial. 

    Fenomena Fear of Missing Out (FOMO)  menjadi salah satu ciri utama konsumsi di era digital, yang secara tidak langsung menggeser posisi konsumen dari subjek yang otonom menjadi subjek yang dipengaruhi oleh konstruksi informasi dan popularitas digital.

    Karena sekarang semua serba digital, konsumen sering kali lebih percaya algoritma, iklan, dan viralitas dibandingkan penilaian rasional dan otoritas resmi. Maka ini menimbualkan suatu pertanyaan mendasar mengenai, bagimana konsumen menilai suatu produk ditenggah dominasi algoritma dan arus informasi digita. 

    Ketika popularitas dan viralitas menjadi tolak ukur utama, aspek keamanan, kualitas, dan legistimasi formal produk berpotensi terabaikan. Konsumen seolah dihadapkan pada pilihan yang tampak bebas, tetapi sesungguhnya telah diarahkan oleh sistem digital yang menonjolkan apa yang paling banyak dilihat dan dibicarakan.

    Dalam konteks inilah, posisi konsumen perlu ditinjau Kembali secara kritis, bukan hanya sebagai pelaku ekonomi, tetapi sebagai subjek yang berada dalam struktur kekuasaan algoritma.

    Realitas tersebut tercermin dari temuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang masih menemukan peredaran produk kosmetik berbahaya di masyarakat meskipun telah dinyatakan melanggar ketentuan dan tidak memiliki izin edar.

    Fakta ini menunjukkan bahwa akses terhadap informasi resmi tidak serta merta menjamin konsumen bersikap rasional dalam mengambil keputusan konsumsi, terutama ketika produk tersebut telah lebih dulu memperoleh legitimasi sosial melalui platform digital.

    Fenomena tersebut tidak dapat dilepaskan dari cara kerja pemasaran digital yang secara sistematis membentuk presepsi, preferensi, dan keputusan konsumen melalui berbagai kanal platfrom.

    Menurut Sanjaya dan Tarigas (2019), digital marketing merupakan kegiatan pemasaran yang menggunakan berbagai media yang memungkinkan bagi Perusahaan. Contohnya, melalui media berupa blog, website, e-mail, adwords, dan berbagai macam jaringan media sosial lain. Digital marketing merupakan suatu proses perencanaan dan pelaksanaan dari konsep terkait ide, harga, promosi, dan distribusi produk prusahaan. 

    Uraian ini menjelaskan bahwa digital marketing  adalah proses pemasaran yang memanfaatkan media digital untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan pemasaran secara menyeluruh, mulai dari ide produk, penetapan harga, promosi, hingga distribusi, dengan tujuan menjangkau dan memengaruhi konsumen melalui platfrom digital. (Ayesha, 2022).

    Dalam praktiknya, penerapan digital marketing tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi antara perusahaan dan konsumen, tetapi juga menjadi mekanisme pembentukan preferensi dan persepsi konsumen.

    Ketika promosi, harga, dan distribusi dikemas secara strategis melalui platform digital, konsumen sering kali tidak menyadari bahwa pilihan yang mereka anggap sebagai hasil pertimbangan pribadi sesungguhnya telah dibingkai oleh sistem pemasaran digital yang bekerja secara terstruktur. Kondisi ini menunjukkan bahwa digital marketing tidak lagi sekadar alat pemasaran, melainkan ruang kekuasaan baru yang memengaruhi cara konsumen memaknai kebutuhan, keinginan, dan nilai suatu produk.

    Selain itu, perilaku konsumen dalam sebuah  proses pengambilan keputusan sangat penting bukan hanya sekedar tindakan membeli. Engel, Blackwell, dan Miniar menjelaskan, perilaku konsumen adalah tindakan produk dan jasa, termasuk didalamnya adalah proses keputusan yang mengawali/mengikuti tindakan pembelian tersebut, yakni terlibat langsung dalam proses memperoleh, mengkonsumsi, bahkan membuang atau tidak jadi menggunakan suatu produk atau jas tersebut. (Rahmawati 2023).

    Di era algoritma dan platform digital, konsumen tidak lagi menilai produk secara utuh, melainkan terdorong oleh rasa takut tertinggal dari tren yang sedang viral. Dorongan untuk “ikut mencoba” sering kali mengalahkan pertimbangan rasional mengenai kebutuhan, keamanan, maupun legitimasi produk.

    Akibatnya, proses konsumsi yang seharusnya bersifat reflektif berubah menjadi reaktif terhadap arus informasi digital yang terus bergerak cepat. Maka fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dapat dilihat sebagai gangguan dalam tahapan evaluasi informasi tersebut.

    Saat ini, nilai suatu produk tidak hanya ditentukan oleh kualitas objektif, tetapi juga oleh persepsi yang dibentuk oleh ulasan, popularitas, dan interaksi sosial di platform digital. Produk yang viral atau “trending” sering dianggap bernilai lebih tinggi, meski aspek keamanan atau legalitasnya masih meragukan.

    Michael E. Porter, 1996, dari Harvard menggambarkan rantai nilai (value chain) sebagai sarana mengidentifikasi cara untuk menciptakan lebih banyak nilai pelanggan. Setiap perusahan menggabungkan sejumblah desain produk, produksi, pemasaran, kegiatan pemgiriman dan dukungan. (Rahmawati 2023).

    Setiap elemen rantai nilai, tidak hanya bertujuan menciptakan efisiensi atau profit, tetapi juga membentuk presepsi konsumen. Misalnya, strategi promosi digital yang terintegrasi dengan desain produk dan distribusi cepat dapat menimbulkan Kesan bahwa suatu produk lebih populer dan bernilai. Akibatnya konsumen seringkali menilai  produk berdasarkan legitimasi sosial dan visibilitas digital, bukan semata kualitas objektif dan kebutuhan pribadi.

    Melibatkan konsumen dalam cara yang jujur dan informatif tidak hanya membangun kepercayaan tetapi juga menciptakan hubungan jangka panjang yang bermanfaat. Dr. Darly Koehn menyatakan, “Etika pemasaran bukan hanya tentang nilai bagi pemegang saham, tetapi juga menciptakan nilai bagi seluruh masyarakat.” Ini menunjukan bahwa praktik pemasaran etis bukan hanya tentang keuntungan finansial tetapi juga memberikan konrtibusi positif pada masyarakat  secara keseluruhan.

    Hal ini menunjukkan bahwa posisi konsumen tidak lagi murni sebagai subjek otonom yang menilai produk berdasarkan kebutuhan dan pertimbangan rasional. Sebaliknya, konsumen berada dalam struktur di mana nilai produk dibentuk secara strategis oleh perusahaan dan sistem digital, sehingga keputusan konsumsi sering kali merupakan hasil dari interaksi kompleks antara nilai objektif, legitimasi sosial, dan tekanan psikologis digital.

    Perspektif etika pemasaran mengingatkan bahwa pemasar memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan informasi yang jujur dan tidak menyesatkan. Dalam konteks algoritma dan FOMO, ketidakjujuran atau manipulasi informasi dapat menggeser posisi konsumen dari subjek rasional menjadi subjek yang dikendalikan arus digital.

    Kasus kosmetik berbahaya yang tetap beredar meski tidak memiliki izin edar menunjukkan bahwa digital marketing, karakteristik konsumen, dan desain produk dapat menciptakan legitimasi sosial di luar mekanisme resmi, sehingga konsumen sering kali menilai produk berdasarkan popularitas daripada keamanan. Maka dari itu BPOM menghimbau agar lebih teliti dalam memilih produk kosmetik dengan selalu memriksa kemasan, label, izin edar, serta tanggal kadaluwarsa.

     

    DAFTAR REFERENSI:

    Buku:

    • Rahmawati, E. D. Manajemen Pemasaran. Pustakabaru Press, 2023.
    • Marjun, M., S. Bachri, dan M. Sutomo. Manajemen Pemasaran dalam Ekonomi dan Bisnis. Litnus, 2024.
    • I. Ayesha, I. W. A. Pratama, S. Hasan, Amaliyah, N. I. Effendi, T. Yusnanto, N. D. M. S. Diwyarthi, R. D.  Utami, A. Firdaus, M. Mulyana, Fitriana, Norhayati, A. S. Egim. Digital Marketing (Tinjauan Konseptual). GET PRESS, 2022

    Sumber Internet/Media Sosial:

    • Tribun Pontianak. “ BPOM Temukan 26 Kosmetik Berbahaya Mengandung Zat Dilarang, Masyarakat Diimbau Waspada.” Instagram, 17 Januari 2026. 

      * Veneranda Isni_ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

      *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    Refleksi Strategi Pemasaran UMKM yang Tidak Selalu Bergantung pada Anggaran Besar

    DUTA, Pontianak – Dalam dunia bisnis modern, pemasaran sering kali dianggap sebagai aktivitas yang membutuhkan biaya besar. Banyak orang beranggapan bahwa semakin besar anggaran pemasaran yang dimiliki suatu usaha, maka semakin besar pula peluang produk tersebut dikenal oleh masyarakat.

    Pandangan ini umumnya muncul karena pengaruh perusahaan besar yang mampu melakukan promosi secara masif melalui iklan televisi, billboard, hingga kampanye digital berskala nasional. Namun, jika ditinjau dari perspektif Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), anggapan tersebut tidak selalu benar. Justru, keterbatasan anggaran dapat menjadi pemicu lahirnya strategi pemasaran yang kreatif, inovatif, dan lebih dekat dengan konsumen.

    Sebagai mahasiswa yang mempelajari konsep pemasaran dan kewirausahaan, saya melihat bahwa UMKM memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari perusahaan besar. UMKM umumnya dikelola secara langsung oleh pemilik usaha, sehingga hubungan antara produsen dan konsumen menjadi lebih personal.

    Kedekatan ini merupakan modal sosial yang sangat berharga dalam strategi pemasaran. Dengan memahami kebutuhan dan keinginan konsumen secara langsung, UMKM dapat menciptakan pendekatan pemasaran yang lebih tepat sasaran tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

    Salah satu contoh strategi pemasaran UMKM yang tidak bergantung pada anggaran besar adalah pemanfaatan media sosial. Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi alat pemasaran yang sangat efektif dan relatif murah.

    Platform seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan WhatsApp Business dapat digunakan secara gratis oleh pelaku UMKM. Dengan kreativitas dalam membuat konten, UMKM dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.

    Konten sederhana seperti foto produk, video proses produksi, cerita di balik usaha, atau ulasan pelanggan sering kali lebih menarik dibandingkan iklan berbayar yang terkesan formal dan kaku. Hal ini menunjukkan bahwa keaslian dan kedekatan emosional dapat menjadi daya tarik utama dalam pemasaran UMKM.

    Selain media sosial, strategi pemasaran dari mulut ke mulut atau word of mouth juga memiliki peran penting bagi UMKM. Konsumen cenderung lebih percaya pada rekomendasi dari teman, keluarga, atau orang terdekat dibandingkan iklan. Oleh karena itu, menjaga kualitas produk dan pelayanan menjadi kunci utama.

    Ketika konsumen merasa puas, mereka akan dengan sukarela merekomendasikan produk tersebut kepada orang lain. Strategi ini memang tidak membutuhkan biaya besar, tetapi membutuhkan konsistensi dan komitmen pelaku usaha dalam menjaga kepuasan pelanggan

    Dari sudut pandang mahasiswa, strategi word of mouth ini juga mencerminkan pentingnya etika bisnis dalam UMKM. Pelayanan yang ramah, kejujuran dalam berjualan, serta tanggung jawab terhadap konsumen akan membangun kepercayaan jangka panjang. Kepercayaan inilah yang menjadi aset penting dalam pemasaran UMKM. Dengan adanya kepercayaan, konsumen tidak hanya membeli produk sekali, tetapi juga menjadi pelanggan tetap yang loyal.

    Strategi lain yang dapat diterapkan UMKM tanpa anggaran besar adalah kolaborasi. Kolaborasi dapat dilakukan dengan sesama pelaku UMKM, komunitas lokal, maupun pelaku usaha kreatif lainnya.

    Misalnya, UMKM makanan dapat berkolaborasi dengan UMKM minuman atau usaha kemasan untuk membuat paket produk bersama. Kolaborasi semacam ini tidak hanya memperluas jangkauan pasar, tetapi juga memperkuat jaringan usaha. Bagi UMKM, jaringan dan relasi sering kali lebih berharga daripada modal finansial yang besar.

    Selain itu, UMKM juga dapat memanfaatkan peran komunitas dan lingkungan sekitar sebagai media pemasaran. Kegiatan seperti bazar lokal, acara kampus, atau kegiatan sosial di lingkungan masyarakat dapat menjadi sarana promosi yang efektif.

    Meskipun jangkauannya tidak sebesar iklan nasional, pendekatan ini lebih tepat sasaran karena langsung menyentuh konsumen potensial. Dari perspektif mahasiswa, pemasaran berbasis komunitas ini mencerminkan konsep pemasaran yang berorientasi pada hubungan (relationship marketing), di mana hubungan jangka panjang dengan konsumen lebih diutamakan daripada sekadar transaksi sesaat.

    Strategi pemasaran berbasis nilai juga menjadi alternatif yang sangat relevan bagi UMKM. Konsumen saat ini tidak hanya membeli produk karena harga atau kualitas, tetapi juga karena nilai dan cerita di balik produk tersebut.

    UMKM dapat menonjolkan nilai lokal, kearifan budaya, atau proses produksi yang ramah lingkungan. Misalnya, UMKM keripik pisang dapat menonjolkan penggunaan bahan baku lokal dan proses produksi rumahan sebagai ciri khas. Pendekatan ini tidak memerlukan biaya besar, tetapi membutuhkan kemampuan komunikasi dan storytelling yang baik.

    Namun, dalam praktiknya, tidak semua UMKM mampu langsung menerapkan strategi pemasaran yang efektif. Keterbatasan pengetahuan dan pengalaman sering menjadi kendala utama. Banyak pelaku UMKM yang masih mengandalkan cara pemasaran tradisional tanpa memanfaatkan teknologi digital secara optimal.

    Di sinilah peran pendidikan, termasuk peran mahasiswa dan perguruan tinggi, menjadi sangat penting. Mahasiswa dapat berkontribusi melalui kegiatan pendampingan UMKM, program kewirausahaan, atau pengabdian kepada masyarakat untuk membantu UMKM memahami strategi pemasaran yang sederhana namun efektif.

    Dari refleksi ini, saya menyadari bahwa anggaran besar bukanlah satu-satunya penentu keberhasilan pemasaran. Bahkan, dalam banyak kasus, UMKM yang memiliki anggaran terbatas justru mampu bertahan dan berkembang karena lebih kreatif dan adaptif.

    Keterbatasan dana memaksa pelaku UMKM untuk berpikir kritis dan inovatif dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. Hal ini sejalan dengan konsep pemasaran modern yang menekankan efisiensi, kreativitas, dan orientasi pada konsumen.

    Meskipun demikian, bukan berarti anggaran pemasaran tidak penting sama sekali. Anggaran tetap dibutuhkan sebagai penunjang, terutama ketika UMKM ingin memperluas pasar atau meningkatkan skala usaha.

    Namun, yang lebih penting adalah bagaimana anggaran tersebut digunakan secara efektif dan tepat sasaran. Tanpa strategi yang jelas, anggaran besar pun tidak akan memberikan hasil yang optimal. Oleh karena itu, UMKM perlu memiliki perencanaan pemasaran yang matang sesuai dengan kemampuan dan karakteristik usahanya.

    Sebagai mahasiswa, refleksi ini memberikan pemahaman bahwa pemasaran bukan sekadar soal uang, tetapi soal strategi dan pemahaman terhadap konsumen. UMKM dapat menjadi contoh nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkembang. Dengan kreativitas, inovasi, dan pemanfaatan teknologi yang tepat, UMKM mampu bersaing dan bertahan di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat.

    DAFTAR REFERENSI:

    1. Majid, A., & Nur Faizah, E. (2023). Analisis Strategi Pemasaran dalam Meningkatkan Daya Saing UMKM (Studi UMKM Wingko Dapur Fira Lamongan). Jurnal Media Komunikasi Ilmu Ekonomi, 40(2), 52–63.  
    2. Sulistiyani, S., Pratama, A., & Setiyanto, S. (2025). Analisis Strategi Pemasaran Dalam Upaya Peningkatan Daya Saing UMKM. Jurnal Pemasaran Kompetitif.  
    3. Putra, I. E. Y., & Meliana, M. (2025). Penerapan Strategi Pemasaran pada UMKM Minimarket Bintang Jaya. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara. 
    4. Yusmalina, A. E., & Dharmawan, A. (2025). Komunikasi Pemasaran Produk UMKM pada Aplikasi E-Peken di Surabaya. The Commercium. 

      *Rendi_ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

      *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.

    Pengeseran Pemasaran Dari Transaksi ke Identitas dan Rlevansinya bagi Umkm Indonesia

    DUTA,Pontianak Tulisan opini ini dibuat oleh Carlos Lievanus Saputra, mahasiswa aktif program studi Diploma III Keuangan dan Perbankan. Identitas penulis dicantumkan untuk menunjukkan bahwa karya ini merupakan hasil pemikiran dan analisis pribadi, sekaligus bentuk pertanggungjawaban akademik atas isi tulisan.

    Penulis berusaha menyampaikan opini secara jujur dan berdasarkan pengamatan terhadap fenomena pemasaran dan perilaku konsumen di Indonesia, tanpa menyalin atau mengambil karya orang lain.

    Dalam opini ini, penulis membahas tentang pergeseran pemasaran dari pendekatan transaksi menuju pendekatan berbasis identitas, serta relevansinya bagi UMKM di Indonesia. Topik ini dianggap penting karena konsumen modern tidak hanya menilai produk dari fungsi atau harga, tetapi juga dari nilai, cerita, dan identitas yang dikomunikasikan oleh brand.

    lUMKM yang mampu memahami dan menerapkan strategi pemasaran berbasis identitas dapat lebih efektif membangun hubungan dengan konsumen, meningkatkan loyalitas, dan membedakan diri dari pesaing.

    Melalui tulisan ini, penulis berharap dapat memberikan perspektif yang sederhana namun relevan bagi mahasiswa, praktisi UMKM, dan pembaca umum, tentang bagaimana dinamika pemasaran modern memengaruhi cara UMKM menghadapi pasar dan membangun citra yang kuat di tengah persaingan yang semakin kompetitif. 

    Dalam dua dekade terakhir, pendekatan pemasaran mengalami perubahan struktural yang signifikan. Jika pada era sebelumnya pemasaran berorientasi pada transaksi dan penjualan berbasis fitur produk, maka pada era kontemporer pemasaran bergerak menuju penciptaan nilai, narasi, dan identitas.

    Transformasi ini tidak hanya terjadi pada perusahaan multinasional, melainkan juga terlihat pada geliat UMKM di Indonesia yang berupaya menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen digital. Konsumen saat ini tidak hanya membeli produk karena kebutuhan fungsional, tetapi karena alasan emosional dan simbolik: produk dipilih sebagai bentuk ekspresi diri, afiliasi budaya, serta proyeksi identitas.Kotler (2023) menjelaskan bahwa tahap terbaru dalam pemasaran adalah human-centered marketing yang mengintegrasikan teknologi dengan pemahaman nilai-nilai kemanusiaan.

    Pada Marketing 5.0 versi Indonesia (Gramedia, 2023) dijelaskan bahwa pemasaran modern memfasilitasi pembentukan hubungan yang lebih dalam antara brand dan konsumen (Bab 2, hlm. 41–62). Di samping itu, strategi pemasaran tidak lagi bertumpu pada diferensiasi produk, tetapi pada diferensiasi nilai dan pengalaman (experience).

    Dalam konteks Indonesia, fenomena ini tampak pada pertumbuhan UMKM di sektor fashion, skincare, F&B, dan kerajinan. UMKM tidak lagi mengandalkan harga murah sebagai keunggulan, tetapi memanfaatkan narasi budaya, kreativitas, dan nilai komunitas.

    Contoh kasus dapat dilihat pada UMKM fashion batik modern yang berhasil membangun identitas hybrid — memadukan tradisi lokal dengan gaya urban. Hal serupa terjadi pada brand kopi lokal seperti Janji Jiwa dan Kopi Kenangan yang menciptakan ekosistem gaya hidup urban, bukan sekadar industri minuman.

    Di sisi lain, brand skincare lokal seperti Somethinc dan Avoskin berhasil membangun narasi pemberdayaan, self-care, dan kepercayaan diri yang sangat resonan dengan konsumen muda digital.Perubahan ini juga sejalan dengan konsep consumer identity sebagaimana diuraikan Solomon (2022) yang menyatakan bahwa konsumsi adalah bagian dari konstruksi identitas diri (Bab 6, hlm. 179–209). Konsumen membeli produk bukan hanya untuk “memiliki” melainkan untuk “menjadi.”

    Perspektif ini diperkuat oleh penelitian-penelitian terbaru dalam bidang psikologi konsumen dan perilaku digital yang menunjukkan bahwa motif konsumsi kini semakin berkaitan dengan autentisitas dan nilai moral seperti keberlanjutan, inklusivitas, serta kesetaraan sosial.

    Bagi UMKM Indonesia, orientasi pemasaran berbasis identitas menciptakan peluang. UMKM dapat menciptakan keunggulan kompetitif melalui cultural meaning yang khas Indonesia. Brand UMKM berbasis lokal seperti produk eco-fashion, wastra Nusantara, dan kosmetik herbal menampilkan nilai-nilai keberlanjutan dan kearifan lokal.

    Tambunan (2023) mencatat bahwa UMKM Indonesia memiliki basis diferensiasi kuat berbasis nilai budaya (Bab 4, hlm. 97–120). Hal ini memperlihatkan bahwa identitas tidak hanya menjadi nilai simbolik, tetapi juga menjadi aset ekonomi.

    Namun demikian, terdapat tantangan yang mengiringi perubahan tersebut. Ketika identitas dan nilai menjadi komoditas, risiko purpose washing meningkat. Brand mengklaim nilai sosial atau keberlanjutan, tetapi tidak disertai implementasi substantif. Fenomena ini juga terjadi di Indonesia, terutama pada kampanye digital dan kolaborasi influencer yang menekankan citra tanpa membangun dampak nyata.Chaffey (2022) dalam Digital Marketing Strategy menekankan bahwa konsistensi narasi merupakan parameter utama dalam pemasaran berbasis identitas (Bab 7, hlm. 223–250).

    Selain itu, komunitas digital memainkan peran penting dalam memperkuat pemasaran berbasis nilai. Yuswohady (2023) menyebut bahwa community branding menjadi mekanisme sosial bagi brand untuk membangun afinitas jangka panjang (Bab 3, hlm. 65–88). Hal ini relevan pada UMKM yang memasarkan produk melalui TikTok, Instagram, dan marketplace. Identitas konsumen diperkuat melalui partisipasi komunitas, user-generated content, dan social proof.

    Secara keseluruhan, pergeseran pemasaran ke arah pembangunan nilai dan identitas merupakan konsekuensi dari perubahan kultur konsumsi. Konsumen modern ingin terhubung, tidak hanya terlayani. Mereka menginginkan produk yang memiliki makna. Oleh karena itu, pemasaran kini bukan sekadar proses menjual barang, tetapi proses penciptaan makna, narasi, dan pengalaman yang relevan dengan identitas konsumen. UMKM Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan daya tawar, memperluas pasar, dan memperkuat basis loyalitas dengan diferensiasi berbasis nilai budaya dan kontekstual.

    Daftar Referensi

    • Kotler, Philip; Kartajaya, H.; Setiawan, I. (2023). Marketing 5.0: Technology for Humanity. Jakarta: Gramedia.

     Bab 2: Human-Centered Marketing, hlm. 41–62.

    • Kotler, Philip (2022). Brand Activism: Dari Purpose Menuju Aksi. Jakarta: Gramedia.

     Bab 3: Nilai dan Aktivisme Konsumen, hlm. 75–104.

    • Solomon, Michael (2022). Perilaku Konsumen (Consumer Behavior) Edisi Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.

     Bab 6: Konsumsi dan Identitas, hlm. 179–209.

    • Tambunan, Tulus (2023). Strategi Branding UMKM di Indonesia. Jakarta: LP3ES.

     Bab 4: Branding Berbasis Budaya, hlm. 97–120.

    • Chaffey, Dave (2022). Digital Marketing Strategy (Edisi Indonesia). Jakarta: Kencana.

     Bab 7: Konsistensi Nilai & Komunikasi, hlm. 223–250

    Refensi Jurnal

    1. Journal of Consumer Research (2023): Identity Signaling in Digital Consumption.
    2. Journal of Brand Management (2022): Purpose-Driven Branding and Moral Integration.
    3. Journal of Marketing Research (2023): Community-Based Loyalty and Meaning-Making.
    4. Harvard Business Review (2022): Brand Identity and Cultural Relevance.
    5. Indonesian Journal of Business and Entrepreneurship (2024): Branding UMKM Berbasis Nilai Budaya

    *Carlos Lievanus Saputra_ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. _Dosen Manajemen

    Pergeseran Pemasaran Dari Menjual Produk ke Membangun Nilai dan Identitas Merek

    DUTA, Pontianak – Pemasaran pada masa kini tidak lagi dapat dimaknai semata-mata sebagai proses menjual produk kepada konsumen. Kemajuan teknologi digital dan perubahan pola perilaku masyarakat telah mendorong terjadinya pergeseran besar dalam praktik pemasaran.

    Jika pada masa lalu perusahaan mengukur keberhasilan pada jumlah produk yang terjual, kini perhatian tersebut beralih pada upaya membangun nilai serta identitas merek yang bermakna. Perubahan ini menandai perubahan dari pendekatan pemasaran yang bersifat transaksi sekali beli menuju pendekatan yang menekankan hubungan jangka panjang dengan konsumen.

    Dalam konteks tersebut, merek tidak lagi sekadar berfungsi sebagai penanda atau simbol pembeda suatu produk. Kodrat (2020/2021) melalui Manajemen Merek dan Strategi E-Commerce: Pendekatan Praktis memandang merek sebagai aset strategis yang merepresentasikan komitmen perusahaan kepada konsumennya.

    Merek berperan penting dalam menciptakan kepercayaan sekaligus menjadi pembeda utama di tengah persaingan pasar yang semakin ketat. Hal ini semakin relevan dalam ekosistem e-commerce, di mana konsumen tidak memiliki kesempatan untuk melihat atau mencoba produk secara langsung. Oleh karena itu, identitas dan reputasi merek menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan konsumen.

    Lingkungan digital juga telah mengubah cara konsumen berinteraksi dengan merek. Konsumen kini lebih aktif mencari informasi, membandingkan berbagai alternatif produk, serta menilai kredibilitas merek melalui ulasan daring dan media sosial. Dalam situasi ini, strategi pemasaran yang hanya menekankan keunggulan produk dan harga tidak lagi memadai.

    Lusina (2025) dalam Manajemen Merek: Membangun Identitas dan Nilai Strategis dalam Era Digital menegaskan bahwa identitas merek yang kokoh harus dibangun melalui keselarasan antara visi perusahaan, pengalaman pelanggan, dan pesan yang disampaikan secara konsisten di berbagai platform digital. Dengan demikian, pembentukan identitas merek tidak hanya ditentukan oleh perusahaan, tetapi juga oleh persepsi serta pengalaman konsumen.

    Pergeseran pemasaran ini mencerminkan perubahan nilai yang dianut oleh konsumen modern. Konsumen masa kini tidak hanya mempertimbangkan kualitas produk, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, etika bisnis, dan dampak lingkungan dari merek yang mereka konsumsi.

    Banyak konsumen, terutama generasi muda, cenderung memilih merek yang dianggap sejalan dengan nilai-nilai pribadi mereka. Fenomena ini menunjukkan bahwa pemasaran telah melampaui ranah ekonomi semata dan memasuki wilayah sosial serta budaya. Merek kini berperan sebagai simbol identitas diri, bukan sekadar alat pemuas kebutuhan fungsional.

    Pandangan tersebut diperkuat dalam buku Branding Strategy di Era Digital (Egim, 2024) yang menekankan pentingnya strategi branding yang berorientasi pada pengalaman dan hubungan jangka panjang. Para penulis dalam buku ini menyoroti perlunya keterlibatan (engagement) yang nyata antara merek dan konsumen melalui media sosial, platform digital, dan komunitas daring.

    Komunikasi pemasaran tidak lagi bersifat satu arah, melainkan menjadi interaksi dua arah yang memungkinkan konsumen turut berpartisipasi dalam membentuk citra merek. Dalam konteks ini, konsumen tidak hanya diposisikan sebagai sasaran pasar, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam penciptaan nilai merek.

    Transformasi tersebut tampak jelas dalam praktik pemasaran berbagai perusahaan, baik skala besar maupun UMKM. Banyak merek kini memanfaatkan storytelling sebagai sarana untuk menyampaikan nilai dan identitasnya. Cerita mengenai asal-usul merek, komitmen terhadap keberlanjutan, atau upaya pemberdayaan masyarakat menjadi bagian penting dari komunikasi pemasaran.

    Pendekatan ini bertujuan menciptakan ikatan emosional antara merek dan konsumen. Sejalan dengan pemikiran Kodrat (2020/2021), ikatan emosional tersebut merupakan fondasi utama bagi terbentuknya loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.

    Meskipun demikian, pergeseran ini juga menghadirkan berbagai tantangan. Masih banyak perusahaan yang terjebak dalam pola pikir lama yang menempatkan penjualan sebagai tujuan utama. Strategi promosi yang agresif dan diskon besar-besaran memang dapat mendorong peningkatan penjualan dalam jangka pendek, tetapi sering kali berdampak negatif terhadap citra merek dan persepsi nilai di mata konsumen.

    Lusina (2025) mengingatkan bahwa merek yang hanya bersaing melalui harga akan sulit membangun diferensiasi serta identitas yang berkelanjutan. Tanpa identitas yang kuat, sebuah merek akan mudah tergeser oleh pesaing yang menawarkan harga lebih rendah.

    Selain itu, pembangunan nilai dan identitas merek menuntut konsistensi serta komitmen jangka panjang. Perusahaan perlu memiliki pemahaman yang jelas mengenai siapa target konsumennya, nilai apa yang ingin diusung, serta bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam produk, layanan, dan komunikasi merek.

    Dalam Branding Strategy di Era Digital (Egim, 2024), ditegaskan bahwa keberhasilan branding tidak dapat dicapai melalui kampanye sesaat, melainkan melalui strategi yang terintegrasi dan dijalankan secara berkelanjutan. Hal ini menuntut keselarasan seluruh elemen organisasi, mulai dari manajemen puncak hingga lini operasional, agar identitas merek dapat diwujudkan secara konsisten.

    Di sisi lain, perubahan ini justru membuka peluang besar, terutama bagi UMKM. Dengan biaya pemasaran digital yang relatif terjangkau, pelaku usaha kecil memiliki kesempatan untuk membangun identitas merek yang kuat tanpa harus bersaing langsung dengan perusahaan besar dalam hal anggaran iklan.

    Media sosial dan marketplace memungkinkan UMKM menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus membangun hubungan yang lebih personal dengan pelanggan. Kodrat (2020/2021) menekankan bahwa strategi e-commerce yang efektif seharusnya mengintegrasikan aspek merek dan pengalaman pelanggan, bukan hanya berfokus pada transaksi penjualan.

    Peran konsumen dalam membentuk identitas merek juga semakin signifikan. Ulasan pelanggan, komentar di media sosial, serta konten buatan pengguna (user-generated content) dapat memperkuat atau bahkan merusak citra merek. Dalam era digital, reputasi merek bersifat sangat rapuh dan dapat berubah dengan cepat.

    Oleh karena itu, perusahaan perlu mengelola komunikasi merek secara proaktif dan transparan. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Lusina (2025) bahwa kepercayaan konsumen merupakan fondasi utama dalam membangun nilai merek di era digital.

    Pada akhirnya, pergeseran pemasaran dari sekadar menjual produk menuju pembangunan nilai dan identitas merek mencerminkan perubahan mendasar dalam cara perusahaan memandang perannya di tengah masyarakat.

    Merek tidak lagi diposisikan hanya sebagai alat komersial, tetapi juga sebagai entitas sosial yang memiliki tanggung jawab terhadap konsumennya. Sebagaimana ditegaskan oleh Kodrat (2020/2021), Lusina (2025), dan Egim (2024), merek kini menempati posisi sentral dalam strategi pemasaran, bukan sekadar pelengkap.

    Sebagai penegasan, Kodrat (2020/2021) menyatakan bahwa “merek merupakan aset strategis yang harus dikelola secara konsisten untuk menciptakan kepercayaan dan loyalitas pelanggan”.

    Kutipan ini merangkum esensi pergeseran pemasaran modern, bahwa keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh jumlah produk yang terjual, melainkan oleh kekuatan nilai dan identitas merek di benak konsumen.

    Dengan demikian, pemasaran modern menuntut perusahaan untuk lebih reflektif dan strategis dalam membangun makna di balik setiap produk yang ditawarkan. Konsumen tidak hanya membeli apa yang diproduksi perusahaan, tetapi juga mempercayai apa yang diwakili oleh merek tersebut. Pergeseran ini menegaskan bahwa masa depan pemasaran terletak pada kemampuan merek dalam membangun nilai bersama serta identitas yang asli.

    DAFTAR REFERENSI:

    Egim, A. S. (Ed.). (2024). Branding strategy di era digital. CV. Eureka Media Aksara.

    Kodrat, D. S. (2021). Manajemen merek dan strategi e-commerce: Pendekatan praktis. Prenada Media.

    Lusina, D. (2025). Manajemen merek: Membangun identitas dan nilai strategis dalam era digital. Penerbit NEM.

    *Emi_ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M.

    TERBARU

    TERPOPULER